This is me....

Senin, Juli 08, 2013

Doctor's Heart Part 6: Why Should I Meet Her Again?

Pagi ini cuaca Hakone walau berangin dingin sekitar 18 derajat celcius, tapi tetaplah segar.. aroma segar pegunungan sangat mengesankan.. seperti kesegaran bunga-bunga yang sedang mekar di musim semi setelah salju dan udara dingin menusuk hari-hari sebelumnya..
Seperti biasa, aktivitas banyak orang sudah mulai terlihat jam 5 pagi.. begitu juga di Yutaka Medical School University. Para perawat jaga memang masuk terlebih dahulu dibanding dokter yang baru satu jam kemudian. Dilihat pula ada cukup banyak pasien yang masih bisa jalan sedang jalan-jalan pagi ditemani para perawat jaga. Dan beberapa bahkan ada yang senam agar walau sakit, kondisi sel-sel tubuh bisa terbantu dengan oksigenasi alami olahraga. Hari itu sangat terkesan damai di pagi hari...

Meja kerja ...

Shiori sudah datang sedari pagi, satu jam terlebih dahulu. Dia berbicara sendiri dengan boneka barbie nya, hari itu dia datang jam 7, lebih cepat 1 jam dari jadwal ganti jaga, jam 8. 
Ohayou gozaimasu (selamat pagi),” sapanya pada mereka.
Dia memegang dua boneka barbie, satu barbie yang berseragam dokter cewek dan satu lagi Ken, boneka cowok yang juga berseragam dokter
Shiori lalu meniru suara Minho,"ohayou"
Shiori masih meniru suara bermain boneka,"Gomen.. anata no namae?” (maaf,namanya?)
"Ri Mino.. anta wa?"
"atashi no namae wa, Shiori.. Shiori Fujita...hajimemashite,,yoroshiku ne, Ri Mino sensei", sambil dia menggerakkan barbie nya

Shiori lalu meniru suara Minho, "ini mejamu...kamu jangan suka bawa-bawa barbie mu ke sini ya? faham?"
"baik, Lee sensei.. tapi Lee sensei jangan galak-galak sama aku ya?"
"okay..."
"Lee sensei... boleh tanya lagi??" 
"apa??"
"apa Minho sensei itu g..a..??"
Belum selesai bicara, ternyata Minho ada dibelakangnya memotong pembicaraan permainan boneka nya.

"mau tanya apa?", Minho lalu merebut Ken, boneka cowok, dari tangan cewek dokter yang manja itu.
Shiori cemberut,"sensei... kembalikan boneka ku..."
Minho menyindirnya, masih memegang boneka itu.
"ini bukan rumah, ini rumah sakit... kamu mirip Ran rin deh..adik ku yang paling kecil..tadi mau tanya apa?"
Shiori tidak suka, "gak jadi..tolong kembalikan boneka ku", dia meminta Minho mengembalikan bonekanya, ingin merebut dari tangan cowok itu.

Shiori hanya berkata dalam hatinya, "gawat kalau aku tanya apa dia gay atau bukan... bahaya buat kerja ku nanti kalau dia tersinggung...ah...nanti saja"
Minho duduk di kursi tugasnya, mulai menyalakan pc, dia memberikan lagi boneka itu pada Shiori.
”nih..jangan main seperti ini lagi.. malu tau dilihat para perawat nanti”

”sensei janji hari ini mau antar ke depertement obgyn?”, tanya Shiori pada Minho.
Minho duduk minum,”bersemangat sekali ke obgyn.. ada apa? Sudah minta ijin dari Kamui-sensei?”
Shiori wajahnya senang sekali memandang Minho.
”Kamui sensei pasti kasih dong, hehehehe.. karena aku kan disini harus dilindungi sama Lee-sensei”
Minho ketus lagi, dia memang kurang suka bercanda dengan orang baru.
”gaya mu bagus... dan kamu sudah besar, gak perlu pakai dilindungi..”, sindirnya.

joudan da yo, sensei.. (bercanda lagi,dok)... jangan tersinggung,” balas Shiori, jadi sedikit emosi.
”trus..proposal penelitian bagaimana? Ini sudah mau masuk hari ke dua”, balas Minho. Dia sudah mulai memeriksa daftar nama pasien yang diberikan suster pagi itu.
Shiori kaget,”senseeeiii..kan diundur... apa sensei tidak tahu??”
Minho membalikkan tubuhnya, sehingga berhadapan dengan cewek dokter itu.
”gak bagus mengundur-undur pekerjaan.. kalau saya ada waktu akan saya antar, kalau tidak, jalan sendiri, jangan maunya diantar sana sini...aku gak enak sama yang lain”

Shiori masih berpikir, kalau hal itu tidak masalah.
”sama yang lain.. siapa?? Kan aku junior sensei.. bukan yang lain”
Minho menjawab singkat,”perawat”
Shiori mengeluh, ”uhhh.. sensei tampaknya gak suka aku jadi junior sensei ya?”
Minho masih jawab singkat,sambil mengatur tampilan monitor pc,“gak juga, biasa”
”yah..baiklah..aku akan minta Yamada-san temani..itu juga kalau dia gak sibuk”, balas Shiori.
”yah..mudah-mudahan”, balas Minho, sambil dia mencari artikel-artikel dan kembali membuka buku statistik penelitian.
”menurut mu..lebih baik dibuka hipotesa pada p <0,01 atau p< 0,1?Kalau bisa, hipotesa kita sama dalam angka probabilitas”, ujarnya lagi, sambil membuka buku.

Shiori berfikir,”uhmmm... sukanya sih pada p<0,01..apa gak lebih detail ya?”
”kamu suka yang detail juga?? Ya kalau gitu kita ujinya samakan saja.. ”, ujar Minho.
Shiori senang,”waah..asik nih kalau sama.. jadi aku gak perlu repot-repot hitung nanti”
Minho meliriknya dengan agak judes, ”kamu pikir hasil penelitian bisa sama walau hipotesa probabilitasnya pada p yang sama?”
Shiori cemberut, ”Lee-sensei... sepertinya sebel banget sama aku dari hari pertama masuk....memangnya aku bodoh banget ya?”
Minho jawab santai,”gak..tapi kekanak kanakan... jadi dokter yang dewasa dong, bagaimana kalau nanti kamu diberikan tanggungjawab tuk memimpin sebuah rumahsakit?”

i will take my own responsibility..and if you seem i am a very childish woman, it has nothing to do with you,” kata Shiori sambil dia membaca soal infra red.

Lantas dia bergumam sambil mengetik,”jadi jika hipotesa awal bahwa pemberian infra red pada makanan pasien dengan minimal 5 bahan antioksidan yang terpisah dengan sedikit bumbu dapat menurunkan kadar lemak jahat dan meningkatkan aktivitas sel pada guinea pig sekitar 40%, maka hipotesa berikutnya tidak berlaku??”
“atau apakah jika pemberian infra red pada makanan pasien dengan 5 bahan atau lebih ,uhm..aku ambil berapa jenis bahan ya??”

Minho nyeletuk,“10 saja…dengan kadar antioksidan tinggi masing-masingnya, hitung dulu atau caritau dulu nilai ORAC nya”
Shiori jawab balik sambil tetap mencari di internet, “aku gak tanya Sensei”
Minho nyeletuk lagi,”pasti 5 menit lagi juga tanya..aku kan pintar.. bisa menebak seseorang”
”sombong banget Sensei”, timpal Shiori.
Minho tidak ingin berpanjang lebar meladeni cewek manja itu. Lantas mereka diam-diaman di depan pc masing-masing, membuka berkas dan mencari literatur.

Shiori memulai duluan lagi setelah itu, ”ne, Senpai (senior)... sepertinya memang bagus kalau bahan tinggi antioksidan diatas 5 jenis dalam satu piring makanan kita ya? Itu karena walau mereka segar, tidak bisa 100% masuk dan dimanfaatkan tubuh, kecuali lewat suntikan..”
Minho menggeser tempat duduknya dekat Shiori dan menyindir ”tadi siapa duluan yang bilang ”gak tanya?””
Shiori jaga jarak..dia agak sedikit menggeser kursinya, ”eeehh...ya..aku minta maaf.. uh”
Minho heran,”kenapa??kok geser??memang aku mau nempel sama kamu?? Gak minat aku sama perempuan ke kanak-kanakan”
Shiori balas mencibir, ”gak minat juga aku sama cowok judes biarpun dokter.. aku enggak suka, ekh...”

”Ini loh.. maksud ku..jika teori awal kamu dengan penggunaan satu bahan yang tetap diberikan perlakuan sinar infra merah akan memberikan manfaat, maka teori kedua kamu gugur dengan pemberian 5 bahan”, jelas Minho, dia membuka buku catatannya.
”jadi harus ada dua hipotesa?”, tanya Shiori.
Minho mengangguk,”bagusnya tiga: kontrol plasebo diberi makan 5 bahan tapi tidak diberikan sinar,  5 bahan dan 10 bahan diberikan sinar.. mana yang lebih bekerja..gimana?? 135 bagi 3 kelompok”
”aha.. bagus juga tuh! Sensei emang pintar ya!”, Shiori setengah teriak spontan.
Minho senyum lebar.

Shiori agak tertegun.
”Sensei..coba senyum yang seperti tadi lagi deh.. sensei manis banget loh..” sambil lihat wajah Minho.
Minho malah jadi terkesan malu, wajahnya sedikit memerah,”apa-apaan kamu ini... ayo lanjutin kerjanya”
”uh..sebel..dipuji malah ngeles”, gerutu Shiori. Dia membuka juga lembar per lembar riset.
Minho menengok lagi,”kenapa?”
Shiori ngeles,”gak apa-apa sensei.. ini mudah-mudahan gak susah ya?”
Lalu Minho ngedumel dalam bahasa korea yang Shiori gak faham sama sekali..
”sensei ngomong apa sih?? Aku sama sekali enggak ngerti bahasa kamu”, ujar Shiori.
Minho menoleh lagi, ”gak semua dari aku perlu kamu tahu”, sambil senyum licik.

Tak berapa lama, Kamui memasuki ruangan.
Shiori dan Minho spontan berdiri, menunduk hormat padanya, ”Kamui sensei...ohayou
Kamui senyum pada mereka,”ohayou...wah,sepagi ini kalian sudah kompak rajin..saya suka”
Minho ngeles lagi.
”ah..biasa saja sensei...karena waktu lowong, lebih baik kami pakai buat berfikir soal hipotesa”
Kamui mengangkat jempolnya.
good job...saya sendiri agak khawatir karena diundur.. tapi ke khawatiran ini kan bisa diganti dengan kita memulai lebih dulu pada manusia saja...”

Shiori kaget,”Nani, Sensei?? bukankah nanti ada hubungan juga dengan obat kemoterapi??”
”itulah yang masih aku pikirkan..pada dasarnya aku mencoba tidak ingin lagi ada bahan kimia dalam kemoterapi”, balas Kamui.
Minho juga ikut heran, karena setahu dia, memang kalau percobaan pertama tidak bisa langsung dengan objek manusia, kecuali sudah pernah ada sebelumnya dengan objek hewan percobaan dan sudah teruji hasilnya.
”apa bisa, Sensei??kita juga terikat dengan perusahaan farmasi. Selama ini perusahaan farmasi bersikap terhadap kemoterapi sebagai sasaran tembak yang enak untuk pemasukan uang mereka, dan seperti kita tahu,kita juga mendapatkan bonus dari obat,kan??walau ini juga sebenarnya tidak saya sukai, tetapi kita akan berbenturan keras dengan mereka”

Kamui bergumam,”akan kita pikirkan bertiga atau saya sendiri??”
Shiori langsung menyambar menjawab, ”bertiga, sensei..bagaimanapun kita team”
Kamui senyum, ”bagus,saya suka... silahkan kalian berfikir apakah pendapat saya benar atau tidak..jika kalian tidak suka, bantah saja... saya bukan orang kaku di medis”
Shiori dan Minho menunduk hormat,”baik,sensei”
”saya akan mencoba berdiskusi panjang dengan Takahashi sensei...jika memang bisa tanpa kemoterapi kimia atau kita memanfaatkan Nano Gold atau silver untuk pengobatan kanker sebagai kemoterapi, apa reaksi Takahashi sensei..”, kata Kamui.
Shiori lagi-lagi membalas spontan,”saya akan berusaha melobi...”
Minho menoleh pada Shiori. Dalam pikirannya, apa bisa.. dokter biasa melobi atasan??

Shiori menggerakkan tangannya seperti seorang yang sedang menolak sesuatu.
”eeehh??enggak kok..Cuma iseng bercanda ditengah keseriusan..Lee sensei gitu deh.. serius sekali”, balasnya ketika melihat wajah Minho yang seperti menyelidikinya.
Minho jawab singkat,”o gitu...”
”iya,hehehe”, balas Shiori, cepat.
Kamui hanya senyum, lalu menyudahi pembicaraan kedua dokter muda itu.
”oh... Lee- sensei…tadi pagi Akimoto-san telepon saya..katanya dia punya pasien tumor rahim dan dia meminta saya untuk menangani.. tapi saya berikan saja pada sensei untuk ditangani”
Shiori senang,”wow.. obgyn”
Kamui heran,”ada apa dengan obgyn, Fujita sensei??”
Shiori menjawab santai,”ah..enggak...tapi Lee- sensei sudah janji mau antar saya ke sana”
”ooo...sekalian saja kalau begitu”, ujar Kamui, ”Iya kan.. Lee sensei??”.

Minho agak sedikit gugup menjawab, ”kapan harus bicara dengan Akimoto sensei, Kamui sensei??”
”secepatnya dong...sudah..saya harus rapat dengan Takahashi sensei pagi ini..untuk penyampaian rencana dua mingguan, bersama rekan sejawat bedah kanker lainnya”, jawab Kamui.
Shiori menepuk-nepuk pundak Minho dengan santai, seperti tanpa dosa.
”ahhhh..naaahh...secepatnya itu sensei... pagi ini yuukk?”.
Minho menengok pada Shiori,”tangan mu..”, dia memang agak sensitif kalau ada rekan cewek yang terkesan menggodanya.
Shiori spontan melepaskan tepukan ke bahunya,”gomen,sensei...”
Kamui malah tertawa dengan kejadian barusan,”ah,sudah...nanti saya terlambat,”, dan dia pun keluar ruangan, bersegera ke ruang meeting, bertemu dengan Takahashi-sensei.

Telepon berdering di atas meja Minho
moshi moshi (hallo)”
Suara dari jauh menjawab perkataan Minho,”maaf…ini dengan Lee-sensei…asisten Kamui-sensei?saya akimoto, bagian obgyn”
Suara Akimoto chiaki terdengar oleh Shiori..buru-buru Shiori merebut telepon dari tangan Minho
”Akimoto-senseeiiii...kita ketemu nanti yaaaa”
Chiaki senang dan tertawa di telepon,”what??eh..kamu dengan dia ya?hahahaha… gimana gimana??kapan mau ketemu aku??kita kangen kangenan..sudah lama gak ngobrol..”

Minho merebut telepon kembali, ”kapan sensei ada waktu?”
”sekarang.. kasus ini sudah 1minggu yang lalu diketahui... tumornya sangat banyak...dan pasien sudah tidak bisa ditangani dengan transfusi darah dan juga pemberian progesteron”, jawab Chiaki.
Minho datar menjawab, dia menunduk hormat sedikit, walau hanya ditelepon, ”ah,baiklah..saya segera ke sana... mohon tunggu kami”
”jangan lupa bawa asistenmu, Lee sensei”, canda Chiaki.
Minho hanya menjawab datar lagi, sedikit ekspresi,”baik, Akimoto-sensei”
Chiaki senyum pada Minho dari ruangannya, ”terima kasih, saya tunggu”
Chiaki menutup teleponnya. Terlihat wajah Minho agak sedikit tegang dan pucat.

Shiori bingung, kenapa air muka Minho sedikit berubah, ”sensei... apa kamu sakit??”, dia mencoba jinjit lagi dan meraba dahi Minho.
Minho menepis tangannya,”gak..gak apa.. saya baik-baik saja”
Shiori masih keheranan,”ah..sensei sakit nih..tuh lihat wajahnya agak pucat”,  ia menggeser tubuh Minho ke kaca ruangan.
Minho tidak suka itu,”eeh..apa-apaan sih ini??gak enak nanti dilihat dokter lain yang lewat”
Shiori sebal dengan tingkah Minho yang juga tidak mempercayainya,”ih...sensei ini..selalu memaksa diri... apa.. yang seperti itu.. bagus untukmu??”
Minho risih, ”bukan urusan mu”, sambil kembali duduk di mejanya..mencari pulpen dan phone tabletnya, untuk bergegas pergi ke ruangan Akimoto.
Shiori hanya tersenyum, sama sekali dia tidak marah dengan Minho.
”urusan ku juga..sensei kan senior ku.. kalau satu team.. tandanya kita ini juga teman..”
Minho diam saja membelakangi Shiori.
Tak berapa lama, dia berdiri,” mau ke ruang Obgyn kan?? Ayo sama-sama”
Shiori mengangguk, senyum mantap... Dia lalu mengikuti langkah Minho keluar ruangan...


Bersambung….