“Apa kamu percaya kalau yang menjadi
dalang semua ini Yudha??,” tanya Kwon pada Minho
Terang saja Minho kaget dengan apa yang
dikatakan Kwon barusan. Mana bisa dia percaya sementara Yudha mengerjakan semua
tugas dan pekerjaannya dengan penuh dedikasi.
“aku sangat tidak percaya,” kata Minho
singkat. Dahinya berkerut lagi. Dia berfikir apa memang benar karena apa yang
Kwon katakan benar-benar 180 derajat berbeda dengan pikirannya.
“kamu bukannya susah banget percaya pada
orang lain ya?,” tanya Kwon dengan tatapan mata serius juga.
“Gila.. lantas siapa??? Kamu masih menuduh
pacarku??,” tanya Kwon. Minho mengangguk. Yang dimaksud jelas Tina.
“dan aku semakin curiga, semua ini ada
hubungannya dengan urusan bisnis,” lanjut Minho lagi
Kwon malah jadi aneh, jadi bersebrangan
dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan Minho.
“kalau otakmu berfikir panjang.. masak iya
kamu tidak melihat keanehan.. kenapa pacar palsu mu itu mengatakan sampai
detail pada kita tentang Yudha??”
Kwon jadi sensitif, sepertinya dia malah
jadi punya perasaan pada Tina dan Minho menangkap hal itu walau dia juga masih
cukup hanya curiga saja.
“ingat.. jangan sampai kamu jatuh cinta
padanya.. aku tidak suka,” kata Minho memperingatkan.
“bahas saja pabrik kalau begitu,” ujar
Kwon
Minho menggerakkan tangannya, seolah dia
mengatakan kalau dia tidak suka sepupunya itu mengelak dari pembicaraan.
“apa kamu akan tetap mau jebak cewek
itu??,” tanya Kwon.
Minho setengah berdiri, melihat kaca luar,
ke arah ruangan Tina yang bersama Rima sekarang, berbagi ruangan.
“Melihat siapa?? Isterimu??,” tanya Kwon
lagi
Minho mengangguk, tapi pikirannya berbeda
dengan anggukannya, pada dasarnya dia mengawasi Tina.