This is me....

Jumat, Oktober 24, 2014

Aku Bukan Bang Thoyib (Part 34: Kwon....)

“Apa kamu percaya kalau yang menjadi dalang semua ini Yudha??,” tanya Kwon pada Minho
Terang saja Minho kaget dengan apa yang dikatakan Kwon barusan. Mana bisa dia percaya sementara Yudha mengerjakan semua tugas dan pekerjaannya dengan penuh dedikasi.
“aku sangat tidak percaya,” kata Minho singkat. Dahinya berkerut lagi. Dia berfikir apa memang benar karena apa yang Kwon katakan benar-benar 180 derajat berbeda dengan pikirannya.
“kamu bukannya susah banget percaya pada orang lain ya?,” tanya Kwon dengan tatapan mata serius juga.
“Gila.. lantas siapa??? Kamu masih menuduh pacarku??,” tanya Kwon. Minho mengangguk. Yang dimaksud jelas Tina.
“dan aku semakin curiga, semua ini ada hubungannya dengan urusan bisnis,” lanjut Minho lagi
Kwon malah jadi aneh, jadi bersebrangan dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan Minho.
“kalau otakmu berfikir panjang.. masak iya kamu tidak melihat keanehan.. kenapa pacar palsu mu itu mengatakan sampai detail pada kita tentang Yudha??”
Kwon jadi sensitif, sepertinya dia malah jadi punya perasaan pada Tina dan Minho menangkap hal itu walau dia juga masih cukup hanya curiga saja.
“ingat.. jangan sampai kamu jatuh cinta padanya.. aku tidak suka,” kata Minho memperingatkan.
“bahas saja pabrik kalau begitu,” ujar Kwon
Minho menggerakkan tangannya, seolah dia mengatakan kalau dia tidak suka sepupunya itu mengelak dari pembicaraan.
“apa kamu akan tetap mau jebak cewek itu??,” tanya Kwon.
Minho setengah berdiri, melihat kaca luar, ke arah ruangan Tina yang bersama Rima sekarang, berbagi ruangan.
“Melihat siapa?? Isterimu??,” tanya Kwon lagi
Minho mengangguk, tapi pikirannya berbeda dengan anggukannya, pada dasarnya dia mengawasi Tina.
“kalau memang benar Yudha yang melakukan.. akan aku jebak juga keduanya.. mengerti??,” kata Minho mendekatkan wajahnya pada Kwon.
“kamu jadi seperti penjahat perusahaan,” timpal Kwon dengan sedikit wajah aneh.
wae?? Wajar bukan?? Aku tidak ingin terancam dimana-mana.. aku berhak curiga,” balas Minho, dia menjauhkan lagi wajahnya dari Kwon, duduk seperti biasa.
“curiga juga tidak baik, Lee Minho... ,” gerutu Kwon.
Minho malah senyum tipis,”orang yang baik tentunya bisa aku endus,” katanya menyindir sepupunya itu,”kalau Yudha orang yang baik, tentu dia tidak akan mengkhianati perusahaan ini dan tidak akan mudah disuap atau apapun yang menggunakan fasilitas atau uang perusahaan.. aku akan test dia”


“Lee Minho sadis,” ujar Kwon.
Minho masih senyum tipis,”itu kan permintaan pacar palsu mu sendiri... jadi.. aku berhak melakukannya juga”
“aku tahu pekerjaan akan semakin banyak.. kamu tidak pikir itu?? Atau...kamu memang sudah terjebak dengan pacar palsumu itu??,” tanya Minho lagi
Kwon mengelak mentah-mentah,”hey... aku ini cowok playboy.. mana bisa jatuh di tangan cewek.. Tina bukan cewek kelas ku”
“Terserah... tapi aku tidak ingin malah kamu yang akan dijadikan bonekanya.. buktinya.. kamu lama bekerja”, senyum licik Minho
“Lee Minho.. jadi.. kamu mau apa dengan dia??,” tanya Kwon dengan tatapan sinis sedikit.
“pasang penyadap.. jebak dengan baik..,” senyum Minho.
“aku akan minta staf kantor berikan dia gadget yang baru...,” lanjutnya
nice try..,” kata Kwon,”tapi aku tidak ikutan”. Dia lalu berdiri.
“aku curiga.. kamu suka padanya,” kata Minho masih menyindir, dia ikutan berdiri.
Ani..,” jawab Kwon singkat. Dia masih sembunyikan perasaannya.
“sepertinya Tina biasa saja,” kata hatinya Kwon, dia melihat cewek itu dari balik kaca ruangan Minho.
“sana pergi ke ruangan Il sung samchon.. aku mau bertemu isteriku,” senyum Minho.
sucks,” jawab Kwon, dia membuka pintu lalu keluar ke ruangan Il sung.

Minho memanggil Rima dan Tina. Mereka duduk bersama di ruang meeting kecil di dalam ruangan Minho. Dia lalu bercerita kalau ada beberapa rencana sejauh ini yang harus mereka lakukan berkaitan dengan kunjungan berikutnya ke pabrik karoseri mobil.
“i want Tina going with me tomorrow,” kata Minho. Rima mengangguk saja menuruti.
Tina menoleh sedikit pada Rima,”kok cewek munafik ini sama sekali enggak cemburu ya.. kalau laki nya bilang mau pergi sama gue??”, katanya dalam hati.
but i havent finished my report yet from Mr Kwon, Mr Lee,” kilah Tina
“I order you not to challenge me,” Minho merasa tersinggung karena Tina kurang mematuhi perintahnya. Tina langsung minta maaf dan mengiyakan kalau dia akan berusaha menyelesaikan laporan gabungan dari Kwon secepatnya dan besok bisa pergi  bersama Minho mengawasi kegiatan karoseri dan pembicaraan lanjutan dengan Leo dan partner.

“dia sudah mulai berani membantah,” gerutu hatinya Minho. Dia jadi berfikir, apa nanti memang semuanya ada hubungan dengan penggulingan perusahaan??
“susah sekali untuk menjebak beberapa orang..sepertinya aku belum menemukan kecurigaanku”
Lalu Minho meminta Tina keluar ruangan lagi karena dia akan memberikan tugas pada Rima.
“kalau kamu ditelepon Appa, jangan pernah bilang sekarang kamu kerja padaku,” senyum Minho pada Rima.
Rima mengangguk.
“tetapi aku masih curiga, kenapa Appa bisa tahu beberapa hal tentang kita.. padahal aku tidak bicara panjang lebar, bahkan sudah malas bicara tentang pekerjaan kecuali urusan dengan komisaris. Waktunya semakin dekat,”
Dia lalu memaparkan rencananya kalau besok ingin mengeluarkan seri baru mobil lagi dengan Leo. Dia meminta pertimbangan Rima apakah kemungkinan seperti ada pengkhianatan dalam usaha dengan orang itu?
Minho malah jadi berfikir keras, kenapa dia belum bisa membuktikan kecurigaannya dengan mendapatkan bukti? Dia bisa-bisa gagal dan pulang kembali ke negaranya.
“aku akan bicarakan dengan paman Sung,” kata Rima padanya.
“aku sungguh tidak mau kembali...aku tidak bisa tinggalkan kamu begitu saja..,” kata Minho dengan mimik wajah serius. Dia memang takut kehilangan dan hari ini sudah masuk -2 dekat dengan deadline.
Rima hanya bisa tersenyum. Dalam dirinya ada sesal kenapa dia bisa jatuh cinta dengan cowok di depannya ini dan jika dia pergi, dia akan sangat kecewa pada Minho.
Dia lalu ijin keluar ruangan dan bicara dengan Il Sung.

“dari laporan tidak ada masalah, tidak ada yang perlu dicurigai,” kata Il Sung ketika sudah memeriksa segala jenis pemasukan, penjualan, neraca dan dia tunjukkan pada Rima.
“kenapa Minho bisa berpikiran seperti itu??,” lanjutnya lagi
“tidak tahu.. aku rasa, Minho terlalu curiga?,” kata Rima.
“wanita itu biasa saja.. Minho kadang terlalu berlebihan,” ujar Il Sung,”aku tahu keponakanku yang satu itu.. kecemasannya kadang tidak bisa dibendung.. kadang dia simpan sendiri.. kadang mengesalkan sendiri.. kadang mengesalkan bagi orang lain”
“bolehkan.. aku memeriksa dulu sebentar??,” tanya Rima. Il Sung memberikannya dan Rima minta ijin apakah boleh dibawa pulang atau tidak?
“kalaupun dibawa pulang, tidak bisa 1-2 hari saja menyelidikinya.. butuh 1 minggu, ini aku berikan data dalam bentuk yang sudah terformat detail dan tidak bisa diubah,” Il Sung memberikan CD kecil isinya adalah semua data keuangan. Rima bingung, sebab setahu dia, Minho sama sekali pelit soal seperti ini, sementara Il Sung malah ceroboh memberikan data perusahaan keluarga itu padanya. Tapi Rima diam saja, dia tidak ingin bertanya apapun supaya Il Sung tidak berubah pikirannya. Data itupun dia akan bawa pulang.

Sampai dirumah, dia sibuk dengan laptopnya dikamar, sama sekali dia tidak ingin Minho tahu apa yang dia lakukan. Kalau cowok itu tahu, kemungkinan dia bisa marah karena itu adalah rahasia diantara mereka saja. Dia membukanya pun ketika Minho sedang tidur. Pelan-pelan Rima menyelidiki laporan itu supaya Minho tidak bangun. Ketika Minho bergerak dalam tidurnya, dengan maksud akan memeluk Rima, tangannya tidak menemukan tubuh Rima disampingnya, ternyata dia bangun. Dia melihat wanitanya itu sedang bekerja tengah malam, pelan sekali Minho menghampiri, karena dilihatnya sangat serius, tanpa Rima sadari. Dia langsung memeluk Rima dari belakang.
“sedang apa, sayang??,” katanya dengan lembut. Rima kaget.
“ah.. ini.. ada laporan yang belum selesai, “ dia langsung menutup window laporan itu.
“kenapa ditutup?? Tentang perusahaan bukan??,” kata Minho lagi. Dia masih setengah mengantuk
Rima mengangguk saja, lalu menoleh pada Minho dan senyum,”aku mengantuk.. tidur saja yuk??”, kata Minho dengan suara manja.
Minho sebenarnya agak curiga, seperti Rima menyembunyikan sesuatu. Rima menurut saja apa kata Minho, dia lalu menemani lelaki itu tidur, tapi sebenarnya tidak tidur.
Minho tidur memeluknya, tapi Rima masih berfikir lagi.
“kagak mungkin kalu Yudha yang pernah buat curang... sebab die bukan bagian keuangan. Kenapa bisa ade tanda tangan atas nama die ye?? Apa diperlakukan curang seperti aye dulu??”
Dia masih mengingat laporan yang dia lihat tadi. Minho hanya bergumam dalam tidurnya. Rima tersenyum saja lihat tingkahnya, lalu berfikir lagi.
“eh.. kalau aye bisa membongkar ini.. otomatis Minho kagak jadi pulang”, dia malah membelai kepalanya Minho.
“sayang.. ayo tidur,” kata Minho.
Rima mengangguk saja dan mencoba tidur, padahal dia berfikir lagi,”pasti ade nyang salah”

“kapan kita tinggal dirumah kamu lagi, Minho??,” tanya Rima pagi itu ketika mereka makan pagi.
“kemungkinan bukan bulan ini..aku masih takut dan kamu masih belum sembuh benar,” senyum Minho sambil membelai pipi Rima.
Beh Hamid minta diterjemahkan apa kata mereka, lalu dia ambil suara,”Elu pade pacaran awet bener ye?? Eh..kagak usah lah lu, tinggal disono lagi..gue bikinin rumah aje deket sini..pegimane??”. Mereka semua sedang makan pagi diruang tengah.
“kagak Beh ah..apa apaan babeh nih..terlalu deh.. kite kan bisa aje tinggal dirumah sewa nyang kemaren.. pan Pak Suryanto ame Bu Suminah masih disono..,” jawab Rima.
“kagak..takut ni anak kenape-nape lagi gitu,” balas beh Hamid,”lu juga..gue kawatiran.. udah dua kali lu mau meninggal..”
Rima senyum pada ayahnya,”itu pan sebenernye mereka ngincer laki aye, Beh.. ya aye bela dong”
“lu mah keterlaluan.. kalu dulu kecil maen aja..temen-temen lu lindungin..ampun..wadon tapi laku kayak lanang”, timpal beh Hamid. Rima cuma tertawa.
“tapi kan.. babeh seneng punya anak kayak aye... bisa belain laki.. iya kan??,” canda Rima. Minho minta diterjemahkan.
“Benar, bapak babeh.. kalau kondisi sudah aman.. baru kami tinggal dirumah kembali..jadi kami belum mau bapak babeh membuatkan kami rumah,” balas Minho serius.
Beh Hamid menepuk pundaknya Minho,”lu tu ye.. kayaknya segenan aje ame gue.. ape emang dah watak orang sonoh??”, dan diterjemahkan oleh Rima.
“Rumah itu..sebenarnya sudah saya beli, bapak Babeh.. Rima..dengan uang gaji saja,” kata Minho. Beh Hamid kaget, dia pikir orang tipe Minho bukan dapat gaji dan suka-suka saja mau pakai uang laba perusahaan, tapi ternyata di kehidupan keluarga Minho tidak seperti itu, bahkan Minho cerita kalau dia sudah membeli beberapa saham untuk anak mereka.
“cieileee.. eh.. kayak orang udah jadi bapak aje lu, Minho.. pake entaran cucu gue lu kasih saham saham gitu..emang kebanyakan duit lu ye??,” ledek beh Hamid pada mantunya itu.
“disono gitu, Beh.. ape ape mahal.. sekolah mahal, rumah sakit mahal, baju juge mahal.. jadinye dia pikir anak mesti disimpenin duit dari kecil,” kata Rima. Beh Hamid mengangguk-angguk saja.
“babeh lu bilang ape, Minho..pas die tau lu mesti tinggal disini??,” tanya beh Hamid penasaran. Dia memang suka ngobrol dengan ayahnya Minho yang bisa berbahasa indonesia, tapi dia mikirnya orangtua itu di Korea sana pasti sibuk cari uang terus, jadi segan kalau mau ngobrol terus sama besan.
“ayahku hanya katakan terima kasih kalian mau membantu dan menjaga ku,” jawab Minho kalem.
“Babeh lu kayaknye keras kepale ye?? Nurun ke lu,” ujar beh Hamid tanpa basa basi.
Minho senyum ketika diterjemahkan kata-kata beh Hamid itu oleh Rima.
Dia harus mengambil banyak keputusan dalam waktu dekat dan dengan kejadian terakhir dia hampir terbunuh dan Rima dilukai, pastinya dia semakin berhati-hati.

“Hari ini jadi pergi ke pabrik??,” tanya Rima di dalam kamar, membantu Minho memasang dasinya.
“ya harus.. walaupun hari minggu,” balasnya singkat.
Minho lalu meminta Rima tidak membantunya, dia menurunkan tangan isterinya itu.
“tadi malam lagi apa??,” tanya dia.
“mengolah data untuk auditing,” jawab Rima jujur. Minho tidak perlu dibilang dia harus jujur atau tidak, dia cenderung bisa mencium ketidakjujuran.
“apa ada yang dicurigai??,” tanya Minho lagi. Sepertinya dia tidak tahu kalau data yang diselidiki Rima adalah data aset keseluruhan dan juga transaksi.
Rima menjawabnya kalau sampai tadi malam dia periksa, sepertinya semuanya baik-baik saja. Minho lalu pamit padanya dan yang lain untuk pergi tambahan kerja di hari minggu itu.

Tina yang menjadi sekretarisnya mendampinginya laporan dan juga rapat sedikit dengan Leo. Sama sekali Minho tidak banyak cerewet hari itu.
“sebaiknya memang kita sudah laksanakan kerjasama hampir di setahun ini, Mr Lee.. semuanya baik dan kemajuan cukup berarti,” kata Leo memulai pembicaraan.
Mereka lalu membuka data laporan keuangan. Minho memperhatikan, memang ada kenaikan dari bulan ke bulan tetapi dia seperti melihat kejanggalan.
Tina sudah mulai curiga dengan tatapan mata Minho yang memperhatikan jumlah uang dan aliran keluar masuk usaha yang dia pegang.
“jangan sampai si Minho ini tahu dimana letak kecurangan Leo padanya,” kata hatinya Tina.
Leo curang bukan dari sisi pabriknya sendiri yang langsung dia tangani, tetapi dari pabrik dibawahnya yang memakai atas nama orang lain sebenarnya dia juga yang punya.
Leo senyum pada Minho,”apa ada masalah, Mr Lee?? Kalau kami sudah melihat hal ini yang patut diusahakan ke depannya”

“sebaiknya memang begitu,” balas Minho,”kami sudah punya rancangan baru..tetapi..apa ini tidak ganjil seperti yang lalu?? Kami berhak saja memutuskan kerjasama,”
Sikap tegasnya Minho muncul, dia memang terkadang kekanak-kanakan di depan orang yang sudah dia sayang, tapi akan bisa berubah sangar kalau “dicolek” orang yang belum mengerti dia.
Leo berkilah dengan bercanda,”ah, Mr Lee...jangan begitu...saya dan ayah Anda sudah bekerja sama lama”
“tapi perusahaan dibawah koordinasi Anda sepertinya tidak becus, Mr Leo,” balas Minho, sikapnya jadi jutek,”kami tidak hanya ingin profit, tetapi jelas kualitas kami cari juga”
Tina kesal dengan cara bicaranya Minho yang terkesan ngotot dan sok ngatur,”belagu banget si Minho ini,” katanya dalam hati.
Minho malah berfikir, dia mesti bisa mengorek hasil penjualan dan semua kualitas bahan yang dalam pikirannya, turun naik tidak menentu.
Dia akhirnya malah berfikir, dia harus bicara dengan Yudha besok dan kalau lelaki itu tidak mau membuka suara juga, akan dipaksa Minho atau diancam pecat. Minho pulang dengan perasaan bete yang tinggi karena ketidakpuasannya dalam meeting, dia lalu meminta data dari perusahaan Leo. Dia diam saja sepanjang pulang kembali ke rumah Rima. Tina juga tidak banyak bicara, tapi dia mencari akal supaya Minho tidak curiga dengan Leo yang sebenarnya adalah teman dalam menjatuhkan Minho.
“aku sakit hati dengan Lee Hyeon itu,” kata seorang tua duduk di sebuah kursi sederhana dari jati.
“papa tidak usah khawatir, bagaimanapun, orang itu tidak akan tahu aku akan masuk ke dalam perusahaannya.. nama perusahaan kita juga sudah ganti,” kata Leo menanggapi bicara orangtuanya.
“usahaku kandas, Hyeon hanya bisa tertawa... kurang ajar,” kata orangtua itu lagi
“papa jangan sedih.. aku dengan Hyeon diganti anaknya dan pastinya, kita hajar usahanya sampai bangkrut,” jawab Leo.
“kamu lihat kan sekarang? Kita harus mulai dari bawah lagi karena orang itu... jadi kamu harus bantu papa hancurkan segala usahanya,”
Leo mengangguk mengiyakan dan menyanggupi permintaan orangtuanya.

“apa yang dia bicarakan tadi dengan kamu dijalan, Tin??,” tanya Leo pada Tina.
“dia hanya mengeluh sebaiknya ada laporan khusus dari usaha mu, Leo.. dia ternyata sama galaknya dengan Hyeon itu,” jawab Tina
“kamu harus berhati-hati, sepertinya sih... dia bisa lebih licik dari kamu.. isterinya juga pintar,”
“kita lihat saja.. perusahaan baby food nya juga tidak lepas dari pandanganku.. aku sudah kerjasama dengan orang supplier packing nya...,” balas Leo.
“aku hanya bilang terakhir kali pada Kwon, sepupunya itu kalau Yudha dulu pernah salah.. jadi.. kita seret orang itu saja sekalian..,” ujar Tina.
“dan.. sebaiknya kamu jadikan Kwon itu sasaran berikutnya untuk jebakan antar keluarga,” balas Leo. Tina hanya mengiyakan.
“gue ngarep si Minho keluarganya hancur sekalian”, ujar Tina dalam hatinya. Lalu dia hanya melihat Kwon membuka pintu rumah sewa mereka.
Hari itu, Kwon tidak bicara dengan Minho, sehingga Tina tidak bisa tahu apa yang terjadi dengan dia dalam percakapan telepon.
“semoga cowok ini gak curiga sama gue.. hari ini kayaknya ni cowok memang gak ngehubungin sepupunya itu,” kata Tina dalam hatinya. Dia melihat HP nya dan memang tidak ada tanda masuk informasi telepon Kwon pada Minho dan sebaliknya.

Kwon masuk ke rumah sewa mereka dengan senang hati.
“hi sayang.. bagaimana kerjamu dengan Minho hari ini??,”dia senyum dan mencium Tina.
“ All is well, sayang,”jawab Tina dengan wajah sumringah. Dia seperti sedang berfikir menyusun rencana.
Kwon membersihkan badannya lalu dia dan Tina duduk di ruang makan. Tina mencoba memasak untuknya.
“Apa Minho mau mengembangkan usaha otomotifnya lagi??  Terakhir dia berniat mau kembangkan mobil khusus yang nyaman untuk wanita modern,” kata Kwon membuka pembicaraannya.
“tadi memang sekilas ada bicara itu dengan Pak Leo.. tapi aku tidak tahu lagi.. apa nanti rencana itu bisa jalan atau tidak,” balas Tina dengan senyum
Tina lalu bercerita pada Kwon kalau tadi mereka membahas tentang keinginan Minho mengaudit dan meminjam laporan keuangan dari pihak perusahaan Leo dan rekan-rekannya.
“sepertinya sepupu mu itu sangat curiga kepada Leo,” kata Tina pada Kwon
“Umm.. Minho itu memang tegas sekali dan seperti itu.. sayang sekali, dia tidak suka ada percobaan penipuan setitikpun.. baginya kepercayaan pekerjaan itu penting,” balas Kwon dengan mimik serius.
“aku rasa Pak Leo dan rekan kerja perusahaannya tidak seperti itu,” kata Tina,”sepupu mu itu terlalu berlebihan”
Kwon hanya tertawa saja dengan pikiran Tina,”tapi memang begitulah Minho sedari dulu.. kalian kurang mengenalnya”
Tina berpura-pura cengengesan saja, dalam hatinya dia bilang,”kalian pasti akan hancur.. tinggal menunggu waktu saja kok.. bye bye Lee Minho.. Lee Kwon Yun”
Kwon beristirahat sampai sore itu, tetapi dia bilang pada Tina kalau dia sudah ada janji hang out dengan Il Sung. Minho tidak ikut karena dia janji mau jalan-jalan dengan Rima juga sore itu, pergi membeli baju baru untuk isterinya itu.

“apa tadi begitu berat meetingnya dengan Leo dan partner??,” tanya Rima pada Minho dikamar mereka.
Minho menggeleng,”tidak terlalu.. hanya saja..sekali lagi..aku seperti berada dalam kecurigaan”, katanya sambil mengganti baju.
Dia lalu menoleh pada isterinya itu,”apa ada kejanggalan dengan laporan??”
“aku baru menelaah seperempatnya.. sangat banyak sekali.. hanya saja.. seperti belum ada yang patut dicurigakan sih,” balas Rima santai. Dia membantu Minho mengganti baju dan persiapan pergi belanja.
“Paman Il Sung bilang apa??,” tanya Minho lagi.
“tidak ada.. dia bilang tidak ada yang mencurigakan,” balas Rima dengan senyum
Minho memeluk pinggang Rima,”aku dikejar target oleh Appa (ayah-red)”
“ya.. aku mengerti,” senyum Rima
“aku tidak seperti dia,” kata Minho tiba-tiba. Rima heran, siapa dia yang Minho sebut??
“lelaki yang pernah kamu sebut..,” kata Minho lagi. Dia lupa dengan nama Bang Thoyib.
Rima heran, dia jadi berfikir: siapa sih.. lelaki itu?? lalu dia tanya lagi pada suaminya itu.
“Lelaki yang tidak pernah pulang itu,” kata Minho lagi
Rima lalu tertawa, dia akhirnya ingat kalau itu adalah Bang Thoyib. Minho jadi ikut tertawa, lalu dia memeluk Rima.
“aku bukanlah Bang Thoyib itu,” katanya pada Rima.
“Aku yakin.. kamu tidak akan tinggalkan aku,” balas Rima, dia senyum setelah melepas pelukan Minho.
“aku romantis kan? Hehe,” kata Minho iseng.
Rima mengangguk,”more than just romantic.. Minho lelaki yang..umm.. pokoknya seksi deh”, lalu dia tertawa kecil.
“aku tidak akan menjadi bang Thoyib itu.. aku tidak akan kembali sampai urusan selesai.. dan..aku tetap akan menghadirkan kamu disisi ku, Rima,” kata Minho dengan senyumnya.
“walau mungkin.. ayah memaksamu??,” Rima tanya balik. Dia tahu Lee Hyeon dan isterinya belum 100% setuju mereka menikah karena terlalu banyak perbedaan yang dianggap sangat kentara dan jurangnya dalam.
“Aku sudah buktikan satu hal pada Appa dan Eomma.. aku bisa menikah dengan pilihanku.. dia wanita kuat..dan itu kamu,” balas Minho. Dia menatap Rima dalam tetapi tidak galak.
“terima kasih, Minho.. aku sangat cinta padamu,” senyum Rima.
“belum ada kiss hari ini ya??,” senyum genit Minho padanya. Rima hanya tertawa. Minho memang sok romantis.
Mereka jalan setelah pamit pada Beh Hamid..

“Kwon.. kamu dimana??,” tanya Il Sung pada Kwon. Ternyata Kwon sedang dijalan menuju sebuah tempat hang out. Dua orang, paman dan keponakan itu memang suka sekali dugem dan hang out, beda sekali dengan Minho yang lebih suka banyak diam di rumah.
“si Minho tidak bisa kumpul dengan kita..dia asik belanja dengan Rima,” jawab Kwon santai sambil menyetir. Il Sung tidak banyak bicara, menyuruh dia lekas sampai disebuah Club.
Sementara, Minho sedang asik berbelanja dengan Rima.
Kwon sampai didepan sebuah Club, dia langsung masuk dan mencari Il Sung. Dilihatnya pamannya itu sudah gabung dengan beberapa cowok dan cewek kenalan mereka. Kwon menghampiri lalu berkenalan dengan mereka dan asik ngobrol bersama.
Iringan musik semakin malam semakin keras saja. DJ terus memutar house music tidak henti-hentinya. Kwon lebih memilih ngobrol dengan teman-teman Il Sung malam itu, entah kenapa, rasanya dia malas melantai sementara sebenarnya house music semakin menggoda.
Il Sung dan beberapa kawan langsung turun melantai. Kwon hanya melihat mereka saja, sambil santai minum bir dan juga merokok

“kamu sudah berapa lama di Indonesia??,” tanya teman barunya, seorang cewek bule dengan bahasa inggris.
“baru 6 bulan..aku guru bahasa inggris disini,” jawab cewek itu ramah. Mereka bicara saling dekat. Pakaiannya cewek itu seksi sekali.
“kamu sendiri??,” tanya cewek itu, dia memberikan minum pada Kwon.
Kwon berterima kasih padanya,”aku sudah hampir 3tahun disini.. bantu pamanku”
“oo,” balas cewek itu singkat,”kamu tidak mau melantai??”
Kwon menggeleng. Ternyata cewek itu ingin melantai dan Kwon mempersilahkan dia pergi sendiri saja. Kwon hanya mau minum dan merokok santai.
Dia asik saja melihat Il Sung yang gila dance dan juga teman-teman pamannya itu. Lalu dia iseng membuka HP nya, ternyata ada pesan dari Minho.
“kamu sudah pulang? Ada yang mau aku bicarakan tentang pabrik gabungan Mr Leo dan rekannya”, ternyata Minho sudah selesai belanja, sudah pulang lagi ke rumah beh Hamid.
“masih di club, nanti aku hubungi kalau sudah selesai,” balas ketikan Kwon. Setelah itu, tidak ada balasan lagi dari Minho.
Kwon lalu berdiri dan dia pergi ke toilet.

“sreeeekkkk,” suara tombol air toilet ditekan Kwon, lalu dia keluar dari toilet dan berdiri di depan kaca besar, mencuci tangan, lalu menyisir rambutnya dengan jari. Dia melihat dari kaca ada seorang cowok juga sedang masuk toilet lantas keluar dan berdiri lagi disampingnya, ikut berkaca. Kwon malah senyum pada lelaki itu. Lelaki itu diam saja, juga menyisir rambutnya. Kwon ingin keluar dari toilet, tetapi ternyata cowok itu menghampirinya dari belakang, dan.......... menusuknya dengan sebilah pisau!!
Kwon jatuh di depan kamar mandi toilet yang belum sempat dia buka. Lelaki itu mencoba menusuknya lagi, tetapi dia melawan. Dia pegang pisaunya dan telapak tangannya berdarah menahan pisau tersebut supaya tidak dihunus lelaki itu padanya lagi.
Terjadi dorong-dorongan, telapak tangan Kwon sudah sangat terluka parah, dia lalu menendang lelaki itu.
“Bug!,” suara tendangan dan lelaki itu pun jatuh, tubuhnya tergeser sampai menabrak tembok di depannya dan jatuh diatas tong sampah toilet. Kwon berusaha membuka pintu dan lari sambil memegang punggungnya yang ditusuk.. tembus sampai perut.. dia benar-benar terluka parah.
“Tolong!,” teriaknya berjalan gontai di lorong menuju toilet, tangannya menggapai dinding agak dia tidak limbung dan bisa tetap berjalan...tapi tidak ada orang dan tidak ada yang mendengar teriakannya, karena suara sangat bising oleh house music yang makin tengah malam makin kencang saja.

Darah berceceran dilantai. Lelaki itu ternyata sama sekali tidak pingsan dan mengejarnya. Dia berlari mengejar, Kwon yang tahu dikejar berusaha lari dengan darah masih berceceran di lantai.. dan.. dia tertusuk lagi!
Lelaki itu membalikkan tubuh Kwon sehingga mereka saling berhadapan dan dia menusuk Kwon dua kali.
“argh!!!,” Kwon mengerang kesakitan, dia terpepet di dinding, dinding jadi berlumurah darah karena sebelumnya dia juga tertusuk di punggung. Lalu.. dia pun ambruk..tidak bergerak sama sekali..
Lelaki itu menggoyang-goyangkan tubuh Kwon dengan kakinya. Sama sekali Kwon tidak bergerak. Bersimbah darah.
Lalu, lelaki itu menelepon seseorang,”beres.. Lee Kwon Yun.. mati”, entah dia menelepon siapa. Lalu dia berjalan santai, keluar dari lorong toilet yang panjang itu dan pergi entah kemana, keluar dari club itu.

Il Sung ternyata lelah, lalu dia kembali duduk, tapi tidak menemukan Kwon disofa tempat mereka kumpul. Dia pun bingung.
“kemana tadi keponakanku, Miss??,” tanya Il Sung pada wanita bule yang terakhir kali ngobrol dengan Kwon. Wanita itu bilang tidak tahu.
Il Sung berfikir, mungkin dia ke toilet, lalu mengirimkannya pesan. Teman-temannya mereka pulang duluan.
Beberapa menit, tidak terjawab juga. Akhirnya Il Sung tidak sabar, lalu mencoba meneleponnya.
“tut....tut...tut....,” suara telepon masih aktif tetapi tidak diangkat.
“loh.. kemana dia?? Apa pulang duluan? Kenapa tidak bilang bilang sih??,” Il Sung jadi kesal dengan keponakannya itu. Berkali-kali dia coba telepon..tidak diangkat juga.
“Kwon menyebalkan.. kenapa dia??,” gumam Il Sung dalam hatinya, dia makin kesal.
Tiba-tiba, salah seorang penjaga Club berbisik pada salah seorang yang ternyata manager Club itu,”ada mayat terkapar di lorong toilet”
Mata manager itu terbelalak kaget. Il Sung tidak sengaja mendengar hal itu, dia jadi galau, malah ketakutan sendiri.
Tak berapa lama, ada telepon.. ternyata dari Kwon!
“Samchon... to..long..a..ku,” kata suara Kwon yang kesakitan.
Il Sung kaget dengar suara keponakannya yang kesakitan,”hai Kwon.. kamu dimana?? Cepat katakan!!”
“tuttttttttttttttt...................,” telepon pun mati. Il Sung makin panik. Dia berteriak,”KWON.. KAMU DIMANA??!!”
Dia lekas bangun dan samar tadi mendengar ada mayat di lorong toilet, dia jadi panik,”jangan jangan Kwon celaka!!”, dia lalu berjalan terburu-buru menuju toilet.
Dilihatnya... sosok Kwon terkapar.. bersimbah darah..dengan HP yang ada ditangannya.. dia tertelungkup bersimbah darah..
Di sana sudah ada seorang jaga Club dan juga manager.
“KWON!!,” Il Sung berteriak dan menghampiri nya. Penjaga dan manager Club ketakutan.
“tolong..dia keponakan saya! Tolong bantu bawa ke rumah sakit,” teriak Il Sung pada mereka. Security, manager Club langsung menelepon rumah sakit terdekat.
“Kwon.. bertahan Kwon.. kamu tidak akan mati!,” teriak Il Sung. Dia memegang dan memeluk tubuh keponakannya yang dingin kehabisan darah.

Minho, Rima dan beh Hamid pergi ke RS segera setelah Il Sung telepon Minho memberitahukan berita duka itu. Mereka langsung pergi ke kamar dimana Kwon langsung ditangani.
Ketika mereka masuk ruangan.. mereka menemukan Il Sung menangis...
Minho mencoba mendekati pamannya.. Suster dan dokter sudah membereskan alat.. Minho, Beh Hamid dan Rima melihat wajah Kwon sudah ditutup kain putih.. Kwon meninggal...tidak dapat tertolong karena tiga luka tusukan yang parah..
“KWONNNNNNN...........!!!,” Minho langsung menangis mengguncang tubuh sepupu karibnya itu sejak mereka masih kecil. Tapi tubuh Kwon sudah tidak bergerak. Para Suster dan Dokter mengucapkan bela sungkawa pada mereka.
“Innalillahi,” kata beh Hamid pelan. Rima menangis pelan, lalu memeluk ayahnya, beh Hamid.
Minho masih mengguncang-guncang tubuh sepupunya itu,”KWON.. BANGUN!!”
Il Sung menahan Minho yang terus menangis memanggil nama sepupunya itu,”Sudah Minho.. dia sudah tidak ada lagi”
“aku tidak tahu kalau dia ditusuk orang dilorong toilet,” kata Il Sung, bicara dan berurai air mata.
“Kwon.. aku gak sangka.. siapa yang tega sama kamu??,” kata Rima menangis pelan, air matanya jatuh.
“AKU TIDAK PERCAYA KWON MENINGGAL!,” Minho masih berteriak,”PANGGIL LAGI DOKTER.. PASTI KWON BELUM MENINGGAL!!!,” dia mengguncang badan sepupunya itu yang sudah terbujur mulai kaku. Lalu mengguncang kedua bahu Il Sung yang berdiri disampingnya, masih menangis tanpa suara dan berurai air mata.
“sudah Minho..dia sudah meninggal,” kata Il Sung dengan suara pelan.
ANIEYO.. INI PASTI CUMA BOHONG BELAKA...KWON.. AYO BANGUN! INI AKU.. MINHO!!,” Minho lalu mengguncang tubuh Kwon lagi.
Rima menangis tersedu sedu melihat Minho belum bisa menerima kenyataan kalau sepupunya sudah tiada lagi,“sudah, Minho.. sudah.. dia sudah tiada lagi,” katanya pada Minho.
Minho jatuh terduduk, tepat disamping jenazah Kwon, dia menangis kencang sampai suaranya serak,”KWONNN!!” teriaknya lagi.
Dia terduduk lemas. Rima berjongkok di depannya, lalu memeluk Minho.
“Kwon sudah pergi, Minho.. relakan saja.. dia tidak akan bisa kembali,” peluk Rima padanya.
Minho menangis,”aku tidak percaya.. kenapa Kwon begini”
Sementara beh Hamid mematung, dia juga sedih. Dia ingat Kwon sebagai orang yang ramah padanya.
Rima masih memeluk Minho,”kita akan usut tuntas ini semuanya, Minho.. polisi pasti tidak akan tinggal diam.. “
“Kwon..,” Minho terus menangis dipelukan Rima dan menyebut nama sepupunya itu berkali-kali. Rima hanya mampu memeluk Minho dan mengusap punggungnya agar dia tenang.
Il Sung terus bercucuran air mata melihat keponakannya, dia menangis tanpa suara.
Beh Hamid masih berdiri mematung.

“kita harus bawa dia pulang kembali ke Korea,” kata Il Sung, pelan. Suaranya berat akibat menangis, bicara pada Minho, Rima dan anggota keluarga beh Hamid yang hadir. Kwon dibawa pulang ke rumah sewa Il Sung untuk disemayamkan. Ratusan karyawan memberikan penghormatan terakhir padanya. Rencananya jenazah Kwon akan dikremasi dan dipulangkan.
Lee Hyeon dan orangtua Kwon yang mengetahui itu sangat terpukul. Berkali-kali ibunya Kwon menangis dan pingsan mengetahui anaknya pulang hanya akan tinggal jadi abu.
Minho masih menangis walau dia tahan atau menangis pelan dan dalam. Dia benar-benar kehilangan sosok sepupu akrabnya sejak mereka kecil. Banyak sudah kenangan indah atau yang menurut Minho menyebalkan karena Kwon sering jahil padanya, tapi sama sekali Minho tidak bisa membencinya.

“kalau kamu nikah dengan Rima.. kamu bikin aku iri,” tawa Kwon pada Minho ketika Minho pertama kali bilang, dia suka dengan sekretarisnya yang sederhana dan pintar itu.
“itu karena kamu terlalu genit jadi lelaki.. Rima tidak suka lelaki yang terlalu overacting,” balas Minho dengan menepuk pundak Kwon dengan majalah.
Kwon hanya tertawa saja,”ingat ya.. aku sainganmu.. bisa saja aku merebut pacarmu itu kalau kamu tidak perhatian padanya!”
Minho memukul kepala Kwon dengan tidak keras,”mau nya kamu... langkahi dulu mayatku”
Kwon hanya tertawa saat itu dan mengatakan,”bisa jadi.. aku duluan yang menjadi mayat dan kamu langkahi.. jadi kamu bisa dapat sekretarismu itu”
Minho tidak menyangka..ternyata canda Kwon menjadi kenyataan.. kini Kwon sudah benar-benar tinggal jadi abu jenazah saja.
Rima sibuk menenangkan Minho, memegang tangannya, sesekali memeluknya dan mengusap punggungnya. Dia tahu Minho sangat terpukul dan hanya terus menunduk berurai air mata.
Rencananya Il Sung yang akan membawa abu jenazah Kwon kembali ke Korea, sementara Minho tetap tinggal di Indonesia dan menjadikan 3 hari sebagai hari berkabung di seluruh perusahaan mereka.

“Mampus kalian.. keluarga Lee.. hahaha,” tawa seorang lelaki tua dengan sangat keras.
Seorang lain yang juga lelaki muda dan seorang wanita muda ikut tertawa.
“Tinggal Lee Minho sendirian, papa.. Il Sung sedang menemani abu mayat Kwon ke Korea...kita jalankan rencana selanjutnya,” kata lelaki muda itu.
“haaahh.. kenapa jadi Kwon yang harus dikorbankan?? Padahal dia cowok seksi,” kata wanita muda.
Lelaki muda itu menepuk pundak wanita muda itu,“kalau kamu bisa taklukkan Lee Minho.. kamu bisa tidur dengannya tiap hari..aku yakin itu, hahaha,”
“sepertinya..dia tidak pernah suka padaku..dia hanya cinta dengan isterinya si Rima perempuan munafik dan sok suci itu,” kata wanita muda itu.
“tenang saja..aku sudah punya rencana lebih untuk perempuan munafik itu.. lihat saja,” kata wanita muda itu
“terserah kalian mau lakukan apa saja.. yang penting.. kita harus bisa menjatuhkan perusahaan keluarga Lee yang sudah menjatuhkan perusahaan keluarga kita,” ujar lelaki tua itu.
Lelaki muda itu mengangguk, lalu disusul dengan anggukan wanita muda.
Mereka menuang wine lalu mabuk tertawa-tawa, puas dengan kematian Lee Kwon Yun.
Saat itu juga, Minho mengantarkan abu jenazah Kwon untuk terakhir kalinya.
tto bwayo.. sampai ketemu lagi, Kwon.. aku tidak akan pernah melupakan kamu..,” Minho menangis di depan abu jenazah Kwon yang dibawa Il Sung, sebelum Il Sung boarding dan harus masuk ruang tunggu. Abu jenazah Kwon dimasukkan dalam sebuah kotak yang cukup besar.
Rima menunduk hormat pada abu Kwon, dia menitikkan air mata,”terima kasih, Kwon.. telah menjadi sahabat untuk Minho dan aku... “
Beh Hamid sedih. Salma menangis. Dia juga mengenang Kwon sebagai lelaki muda yang baik dan ramah padanya.
Il Sung berjalan ke ruang tunggu. Minho, Rima menunduk hormat dalam-dalam yang terakhir pada kotak abu Kwon. Sampai Il Sung tidak terlihat lagi, naik ke eskalator yang membawa dia ke ruang tunggu...

Bersambung ke part 35...