“Apa kamu percaya kalau yang menjadi
dalang semua ini Yudha??,” tanya Kwon pada Minho
Terang saja Minho kaget dengan apa yang
dikatakan Kwon barusan. Mana bisa dia percaya sementara Yudha mengerjakan semua
tugas dan pekerjaannya dengan penuh dedikasi.
“aku sangat tidak percaya,” kata Minho
singkat. Dahinya berkerut lagi. Dia berfikir apa memang benar karena apa yang
Kwon katakan benar-benar 180 derajat berbeda dengan pikirannya.
“kamu bukannya susah banget percaya pada
orang lain ya?,” tanya Kwon dengan tatapan mata serius juga.
“Gila.. lantas siapa??? Kamu masih menuduh
pacarku??,” tanya Kwon. Minho mengangguk. Yang dimaksud jelas Tina.
“dan aku semakin curiga, semua ini ada
hubungannya dengan urusan bisnis,” lanjut Minho lagi
Kwon malah jadi aneh, jadi bersebrangan
dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan Minho.
“kalau otakmu berfikir panjang.. masak iya
kamu tidak melihat keanehan.. kenapa pacar palsu mu itu mengatakan sampai
detail pada kita tentang Yudha??”
Kwon jadi sensitif, sepertinya dia malah
jadi punya perasaan pada Tina dan Minho menangkap hal itu walau dia juga masih
cukup hanya curiga saja.
“ingat.. jangan sampai kamu jatuh cinta
padanya.. aku tidak suka,” kata Minho memperingatkan.
“bahas saja pabrik kalau begitu,” ujar
Kwon
Minho menggerakkan tangannya, seolah dia
mengatakan kalau dia tidak suka sepupunya itu mengelak dari pembicaraan.
“apa kamu akan tetap mau jebak cewek
itu??,” tanya Kwon.
Minho setengah berdiri, melihat kaca luar,
ke arah ruangan Tina yang bersama Rima sekarang, berbagi ruangan.
“Melihat siapa?? Isterimu??,” tanya Kwon
lagi
“kalau memang benar Yudha yang melakukan..
akan aku jebak juga keduanya.. mengerti??,” kata Minho mendekatkan wajahnya
pada Kwon.
“kamu jadi seperti penjahat perusahaan,”
timpal Kwon dengan sedikit wajah aneh.
“wae??
Wajar bukan?? Aku tidak ingin terancam dimana-mana.. aku berhak curiga,” balas
Minho, dia menjauhkan lagi wajahnya dari Kwon, duduk seperti biasa.
“curiga juga tidak baik, Lee Minho... ,”
gerutu Kwon.
Minho malah senyum tipis,”orang yang baik
tentunya bisa aku endus,” katanya menyindir sepupunya itu,”kalau Yudha orang
yang baik, tentu dia tidak akan mengkhianati perusahaan ini dan tidak akan
mudah disuap atau apapun yang menggunakan fasilitas atau uang perusahaan.. aku
akan test dia”
“Lee Minho sadis,” ujar Kwon.
Minho masih senyum tipis,”itu kan
permintaan pacar palsu mu sendiri... jadi.. aku berhak melakukannya juga”
“aku tahu pekerjaan akan semakin banyak..
kamu tidak pikir itu?? Atau...kamu memang sudah terjebak dengan pacar palsumu
itu??,” tanya Minho lagi
Kwon mengelak mentah-mentah,”hey... aku
ini cowok playboy.. mana bisa jatuh di tangan cewek.. Tina bukan cewek kelas
ku”
“Terserah... tapi aku tidak ingin malah
kamu yang akan dijadikan bonekanya.. buktinya.. kamu lama bekerja”, senyum
licik Minho
“Lee Minho.. jadi.. kamu mau apa dengan
dia??,” tanya Kwon dengan tatapan sinis sedikit.
“pasang penyadap.. jebak dengan baik..,”
senyum Minho.
“aku akan minta staf kantor berikan dia
gadget yang baru...,” lanjutnya
“nice
try..,” kata Kwon,”tapi aku tidak ikutan”. Dia lalu berdiri.
“aku curiga.. kamu suka padanya,” kata
Minho masih menyindir, dia ikutan berdiri.
“Ani..,”
jawab Kwon singkat. Dia masih sembunyikan perasaannya.
“sepertinya Tina biasa saja,” kata hatinya
Kwon, dia melihat cewek itu dari balik kaca ruangan Minho.
“sana pergi ke ruangan Il sung samchon.. aku mau bertemu isteriku,”
senyum Minho.
“sucks,”
jawab Kwon, dia membuka pintu lalu keluar ke ruangan Il sung.
Minho memanggil Rima dan Tina. Mereka
duduk bersama di ruang meeting kecil di dalam ruangan Minho. Dia lalu bercerita
kalau ada beberapa rencana sejauh ini yang harus mereka lakukan berkaitan
dengan kunjungan berikutnya ke pabrik karoseri mobil.
“i
want Tina going with me tomorrow,” kata Minho. Rima mengangguk saja menuruti.
Tina menoleh sedikit pada Rima,”kok cewek
munafik ini sama sekali enggak cemburu ya.. kalau laki nya bilang mau pergi
sama gue??”, katanya dalam hati.
“but
i havent finished my report yet from Mr Kwon, Mr Lee,” kilah Tina
“I
order you not to challenge me,” Minho merasa tersinggung karena Tina kurang mematuhi perintahnya. Tina
langsung minta maaf dan mengiyakan kalau dia akan berusaha menyelesaikan laporan
gabungan dari Kwon secepatnya dan besok bisa pergi bersama Minho mengawasi kegiatan karoseri dan
pembicaraan lanjutan dengan Leo dan partner.
“dia sudah mulai berani membantah,” gerutu
hatinya Minho. Dia jadi berfikir, apa nanti memang semuanya ada hubungan dengan
penggulingan perusahaan??
“susah sekali untuk menjebak beberapa
orang..sepertinya aku belum menemukan kecurigaanku”
Lalu Minho meminta Tina keluar ruangan
lagi karena dia akan memberikan tugas pada Rima.
“kalau kamu ditelepon Appa, jangan pernah
bilang sekarang kamu kerja padaku,” senyum Minho pada Rima.
Rima mengangguk.
“tetapi aku masih curiga, kenapa Appa bisa
tahu beberapa hal tentang kita.. padahal aku tidak bicara panjang lebar, bahkan
sudah malas bicara tentang pekerjaan kecuali urusan dengan komisaris. Waktunya
semakin dekat,”
Dia lalu memaparkan rencananya kalau besok
ingin mengeluarkan seri baru mobil lagi dengan Leo. Dia meminta pertimbangan
Rima apakah kemungkinan seperti ada pengkhianatan dalam usaha dengan orang itu?
Minho malah jadi berfikir keras, kenapa
dia belum bisa membuktikan kecurigaannya dengan mendapatkan bukti? Dia
bisa-bisa gagal dan pulang kembali ke negaranya.
“aku akan bicarakan dengan paman Sung,”
kata Rima padanya.
“aku sungguh tidak mau kembali...aku tidak
bisa tinggalkan kamu begitu saja..,” kata Minho dengan mimik wajah serius. Dia
memang takut kehilangan dan hari ini sudah masuk -2 dekat dengan deadline.
Rima hanya bisa tersenyum. Dalam dirinya
ada sesal kenapa dia bisa jatuh cinta dengan cowok di depannya ini dan jika dia
pergi, dia akan sangat kecewa pada Minho.
Dia lalu ijin keluar ruangan dan bicara
dengan Il Sung.
“dari laporan tidak ada masalah, tidak ada
yang perlu dicurigai,” kata Il Sung ketika sudah memeriksa segala jenis
pemasukan, penjualan, neraca dan dia tunjukkan pada Rima.
“kenapa Minho bisa berpikiran seperti
itu??,” lanjutnya lagi
“tidak tahu.. aku rasa, Minho terlalu
curiga?,” kata Rima.
“wanita itu biasa saja.. Minho kadang
terlalu berlebihan,” ujar Il Sung,”aku tahu keponakanku yang satu itu..
kecemasannya kadang tidak bisa dibendung.. kadang dia simpan sendiri.. kadang
mengesalkan sendiri.. kadang mengesalkan bagi orang lain”
“bolehkan.. aku memeriksa dulu
sebentar??,” tanya Rima. Il Sung memberikannya dan Rima minta ijin apakah boleh
dibawa pulang atau tidak?
“kalaupun dibawa pulang, tidak bisa 1-2
hari saja menyelidikinya.. butuh 1 minggu, ini aku berikan data dalam bentuk
yang sudah terformat detail dan tidak bisa diubah,” Il Sung memberikan CD kecil
isinya adalah semua data keuangan. Rima bingung, sebab setahu dia, Minho sama
sekali pelit soal seperti ini, sementara Il Sung malah ceroboh memberikan data perusahaan
keluarga itu padanya. Tapi Rima diam saja, dia tidak ingin bertanya apapun
supaya Il Sung tidak berubah pikirannya. Data itupun dia akan bawa pulang.
Sampai dirumah, dia sibuk dengan laptopnya
dikamar, sama sekali dia tidak ingin Minho tahu apa yang dia lakukan. Kalau
cowok itu tahu, kemungkinan dia bisa marah karena itu adalah rahasia diantara
mereka saja. Dia membukanya pun ketika Minho sedang tidur. Pelan-pelan Rima
menyelidiki laporan itu supaya Minho tidak bangun. Ketika Minho bergerak dalam
tidurnya, dengan maksud akan memeluk Rima, tangannya tidak menemukan tubuh Rima
disampingnya, ternyata dia bangun. Dia melihat wanitanya itu sedang bekerja
tengah malam, pelan sekali Minho menghampiri, karena dilihatnya sangat serius,
tanpa Rima sadari. Dia langsung memeluk Rima dari belakang.
“sedang apa, sayang??,” katanya dengan
lembut. Rima kaget.
“ah.. ini.. ada laporan yang belum
selesai, “ dia langsung menutup window laporan itu.
“kenapa ditutup?? Tentang perusahaan
bukan??,” kata Minho lagi. Dia masih setengah mengantuk
Rima mengangguk saja, lalu menoleh pada
Minho dan senyum,”aku mengantuk.. tidur saja yuk??”, kata Minho dengan suara
manja.
Minho sebenarnya agak curiga, seperti Rima
menyembunyikan sesuatu. Rima menurut saja apa kata Minho, dia lalu menemani
lelaki itu tidur, tapi sebenarnya tidak tidur.
Minho tidur memeluknya, tapi Rima masih
berfikir lagi.
“kagak mungkin kalu Yudha yang pernah buat
curang... sebab die bukan bagian keuangan. Kenapa bisa ade tanda tangan atas
nama die ye?? Apa diperlakukan curang seperti aye dulu??”
Dia masih mengingat laporan yang dia lihat
tadi. Minho hanya bergumam dalam tidurnya. Rima tersenyum saja lihat
tingkahnya, lalu berfikir lagi.
“eh.. kalau aye bisa membongkar ini..
otomatis Minho kagak jadi pulang”, dia malah membelai kepalanya Minho.
“sayang.. ayo tidur,” kata Minho.
Rima mengangguk saja dan mencoba tidur,
padahal dia berfikir lagi,”pasti ade nyang salah”
“kapan kita tinggal dirumah kamu lagi,
Minho??,” tanya Rima pagi itu ketika mereka makan pagi.
“kemungkinan bukan bulan ini..aku masih
takut dan kamu masih belum sembuh benar,” senyum Minho sambil membelai pipi
Rima.
Beh Hamid minta diterjemahkan apa kata
mereka, lalu dia ambil suara,”Elu pade pacaran awet bener ye?? Eh..kagak usah
lah lu, tinggal disono lagi..gue bikinin rumah aje deket sini..pegimane??”.
Mereka semua sedang makan pagi diruang tengah.
“kagak Beh ah..apa apaan babeh
nih..terlalu deh.. kite kan bisa aje tinggal dirumah sewa nyang kemaren.. pan
Pak Suryanto ame Bu Suminah masih disono..,” jawab Rima.
“kagak..takut ni anak kenape-nape lagi
gitu,” balas beh Hamid,”lu juga..gue kawatiran.. udah dua kali lu mau
meninggal..”
Rima senyum pada ayahnya,”itu pan
sebenernye mereka ngincer laki aye, Beh.. ya aye bela dong”
“lu mah keterlaluan.. kalu dulu kecil maen
aja..temen-temen lu lindungin..ampun..wadon tapi laku kayak lanang”, timpal beh
Hamid. Rima cuma tertawa.
“tapi kan.. babeh seneng punya anak kayak
aye... bisa belain laki.. iya kan??,” canda Rima. Minho minta diterjemahkan.
“Benar, bapak babeh.. kalau kondisi sudah
aman.. baru kami tinggal dirumah kembali..jadi kami belum mau bapak babeh membuatkan
kami rumah,” balas Minho serius.
Beh Hamid menepuk pundaknya Minho,”lu tu
ye.. kayaknya segenan aje ame gue.. ape emang dah watak orang sonoh??”, dan
diterjemahkan oleh Rima.
“Rumah itu..sebenarnya sudah saya beli,
bapak Babeh.. Rima..dengan uang gaji saja,” kata Minho. Beh Hamid kaget, dia
pikir orang tipe Minho bukan dapat gaji dan suka-suka saja mau pakai uang laba
perusahaan, tapi ternyata di kehidupan keluarga Minho tidak seperti itu, bahkan
Minho cerita kalau dia sudah membeli beberapa saham untuk anak mereka.
“cieileee.. eh.. kayak orang udah jadi
bapak aje lu, Minho.. pake entaran cucu gue lu kasih saham saham gitu..emang
kebanyakan duit lu ye??,” ledek beh Hamid pada mantunya itu.
“disono gitu, Beh.. ape ape mahal..
sekolah mahal, rumah sakit mahal, baju juge mahal.. jadinye dia pikir anak
mesti disimpenin duit dari kecil,” kata Rima. Beh Hamid mengangguk-angguk saja.
“babeh lu bilang ape, Minho..pas die tau
lu mesti tinggal disini??,” tanya beh Hamid penasaran. Dia memang suka ngobrol
dengan ayahnya Minho yang bisa berbahasa indonesia, tapi dia mikirnya orangtua
itu di Korea sana pasti sibuk cari uang terus, jadi segan kalau mau ngobrol terus
sama besan.
“ayahku hanya katakan terima kasih kalian
mau membantu dan menjaga ku,” jawab Minho kalem.
“Babeh lu kayaknye keras kepale ye?? Nurun
ke lu,” ujar beh Hamid tanpa basa basi.
Minho senyum ketika diterjemahkan
kata-kata beh Hamid itu oleh Rima.
Dia harus mengambil banyak keputusan dalam
waktu dekat dan dengan kejadian terakhir dia hampir terbunuh dan Rima dilukai,
pastinya dia semakin berhati-hati.
“Hari ini jadi pergi ke pabrik??,” tanya
Rima di dalam kamar, membantu Minho memasang dasinya.
“ya harus.. walaupun hari minggu,”
balasnya singkat.
Minho lalu meminta Rima tidak membantunya,
dia menurunkan tangan isterinya itu.
“tadi malam lagi apa??,” tanya dia.
“mengolah data untuk auditing,” jawab Rima
jujur. Minho tidak perlu dibilang dia harus jujur atau tidak, dia cenderung
bisa mencium ketidakjujuran.
“apa ada yang dicurigai??,” tanya Minho lagi.
Sepertinya dia tidak tahu kalau data yang diselidiki Rima adalah data aset
keseluruhan dan juga transaksi.
Rima menjawabnya kalau sampai tadi malam
dia periksa, sepertinya semuanya baik-baik saja. Minho lalu pamit padanya dan
yang lain untuk pergi tambahan kerja di hari minggu itu.
Tina yang menjadi sekretarisnya
mendampinginya laporan dan juga rapat sedikit dengan Leo. Sama sekali Minho
tidak banyak cerewet hari itu.
“sebaiknya memang kita sudah laksanakan
kerjasama hampir di setahun ini, Mr Lee.. semuanya baik dan kemajuan cukup
berarti,” kata Leo memulai pembicaraan.
Mereka lalu membuka data laporan keuangan.
Minho memperhatikan, memang ada kenaikan dari bulan ke bulan tetapi dia seperti
melihat kejanggalan.
Tina sudah mulai curiga dengan tatapan mata
Minho yang memperhatikan jumlah uang dan aliran keluar masuk usaha yang dia
pegang.
“jangan sampai si Minho ini tahu dimana
letak kecurangan Leo padanya,” kata hatinya Tina.
Leo curang bukan dari sisi pabriknya
sendiri yang langsung dia tangani, tetapi dari pabrik dibawahnya yang memakai
atas nama orang lain sebenarnya dia juga yang punya.
Leo senyum pada Minho,”apa ada masalah, Mr
Lee?? Kalau kami sudah melihat hal ini yang patut diusahakan ke depannya”
“sebaiknya memang begitu,” balas
Minho,”kami sudah punya rancangan baru..tetapi..apa ini tidak ganjil seperti
yang lalu?? Kami berhak saja memutuskan kerjasama,”
Sikap tegasnya Minho muncul, dia memang
terkadang kekanak-kanakan di depan orang yang sudah dia sayang, tapi akan bisa
berubah sangar kalau “dicolek” orang yang belum mengerti dia.
Leo berkilah dengan bercanda,”ah, Mr
Lee...jangan begitu...saya dan ayah Anda sudah bekerja sama lama”
“tapi perusahaan dibawah koordinasi Anda
sepertinya tidak becus, Mr Leo,” balas Minho, sikapnya jadi jutek,”kami tidak
hanya ingin profit, tetapi jelas kualitas kami cari juga”
Tina kesal dengan cara bicaranya Minho
yang terkesan ngotot dan sok ngatur,”belagu banget si Minho ini,” katanya dalam
hati.
Minho malah berfikir, dia mesti bisa
mengorek hasil penjualan dan semua kualitas bahan yang dalam pikirannya, turun
naik tidak menentu.
Dia akhirnya malah berfikir, dia harus
bicara dengan Yudha besok dan kalau lelaki itu tidak mau membuka suara juga,
akan dipaksa Minho atau diancam pecat. Minho pulang dengan perasaan bete yang
tinggi karena ketidakpuasannya dalam meeting, dia lalu meminta data dari
perusahaan Leo. Dia diam saja sepanjang pulang kembali ke rumah Rima. Tina juga
tidak banyak bicara, tapi dia mencari akal supaya Minho tidak curiga dengan Leo
yang sebenarnya adalah teman dalam menjatuhkan Minho.
“aku sakit hati dengan Lee Hyeon itu,”
kata seorang tua duduk di sebuah kursi sederhana dari jati.
“papa tidak usah khawatir, bagaimanapun,
orang itu tidak akan tahu aku akan masuk ke dalam perusahaannya.. nama perusahaan
kita juga sudah ganti,” kata Leo menanggapi bicara orangtuanya.
“usahaku kandas, Hyeon hanya bisa tertawa...
kurang ajar,” kata orangtua itu lagi
“papa jangan sedih.. aku dengan Hyeon
diganti anaknya dan pastinya, kita hajar usahanya sampai bangkrut,” jawab Leo.
“kamu lihat kan sekarang? Kita harus mulai
dari bawah lagi karena orang itu... jadi kamu harus bantu papa hancurkan segala
usahanya,”
Leo mengangguk mengiyakan dan menyanggupi
permintaan orangtuanya.
“apa yang dia bicarakan tadi dengan kamu
dijalan, Tin??,” tanya Leo pada Tina.
“dia hanya mengeluh sebaiknya ada laporan
khusus dari usaha mu, Leo.. dia ternyata sama galaknya dengan Hyeon itu,” jawab
Tina
“kamu harus berhati-hati, sepertinya
sih... dia bisa lebih licik dari kamu.. isterinya juga pintar,”
“kita lihat saja.. perusahaan baby food
nya juga tidak lepas dari pandanganku.. aku sudah kerjasama dengan orang
supplier packing nya...,” balas Leo.
“aku hanya bilang terakhir kali pada Kwon,
sepupunya itu kalau Yudha dulu pernah salah.. jadi.. kita seret orang itu saja
sekalian..,” ujar Tina.
“dan.. sebaiknya kamu jadikan Kwon itu
sasaran berikutnya untuk jebakan antar keluarga,” balas Leo. Tina hanya
mengiyakan.
“gue ngarep si Minho keluarganya hancur
sekalian”, ujar Tina dalam hatinya. Lalu dia hanya melihat Kwon membuka pintu
rumah sewa mereka.
Hari itu, Kwon tidak bicara dengan Minho,
sehingga Tina tidak bisa tahu apa yang terjadi dengan dia dalam percakapan
telepon.
“semoga cowok ini gak curiga sama gue..
hari ini kayaknya ni cowok memang gak ngehubungin sepupunya itu,” kata Tina
dalam hatinya. Dia melihat HP nya dan memang tidak ada tanda masuk informasi
telepon Kwon pada Minho dan sebaliknya.
Kwon masuk ke rumah sewa mereka dengan senang
hati.
“hi sayang.. bagaimana kerjamu dengan
Minho hari ini??,”dia senyum dan mencium Tina.
“
All is well,
sayang,”jawab Tina dengan wajah sumringah. Dia seperti sedang berfikir menyusun
rencana.
Kwon membersihkan badannya lalu dia dan
Tina duduk di ruang makan. Tina mencoba memasak untuknya.
“Apa Minho mau mengembangkan usaha
otomotifnya lagi?? Terakhir dia berniat
mau kembangkan mobil khusus yang nyaman untuk wanita modern,” kata Kwon membuka
pembicaraannya.
“tadi memang sekilas ada bicara itu dengan
Pak Leo.. tapi aku tidak tahu lagi.. apa nanti rencana itu bisa jalan atau
tidak,” balas Tina dengan senyum
Tina lalu bercerita pada Kwon kalau tadi
mereka membahas tentang keinginan Minho mengaudit dan meminjam laporan keuangan
dari pihak perusahaan Leo dan rekan-rekannya.
“sepertinya sepupu mu itu sangat curiga
kepada Leo,” kata Tina pada Kwon
“Umm.. Minho itu memang tegas sekali dan
seperti itu.. sayang sekali, dia tidak suka ada percobaan penipuan setitikpun..
baginya kepercayaan pekerjaan itu penting,” balas Kwon dengan mimik serius.
“aku rasa Pak Leo dan rekan kerja
perusahaannya tidak seperti itu,” kata Tina,”sepupu mu itu terlalu berlebihan”
Kwon hanya tertawa saja dengan pikiran
Tina,”tapi memang begitulah Minho sedari dulu.. kalian kurang mengenalnya”
Tina berpura-pura cengengesan saja, dalam
hatinya dia bilang,”kalian pasti akan hancur.. tinggal menunggu waktu saja
kok.. bye bye Lee Minho.. Lee Kwon Yun”
Kwon beristirahat sampai sore itu, tetapi
dia bilang pada Tina kalau dia sudah ada janji hang out dengan Il Sung. Minho
tidak ikut karena dia janji mau jalan-jalan dengan Rima juga sore itu, pergi
membeli baju baru untuk isterinya itu.
“apa tadi begitu berat meetingnya dengan
Leo dan partner??,” tanya Rima pada Minho dikamar mereka.
Minho menggeleng,”tidak terlalu.. hanya
saja..sekali lagi..aku seperti berada dalam kecurigaan”, katanya sambil
mengganti baju.
Dia lalu menoleh pada isterinya itu,”apa
ada kejanggalan dengan laporan??”
“aku baru menelaah seperempatnya.. sangat
banyak sekali.. hanya saja.. seperti belum ada yang patut dicurigakan sih,”
balas Rima santai. Dia membantu Minho mengganti baju dan persiapan pergi
belanja.
“Paman Il Sung bilang apa??,” tanya Minho
lagi.
“tidak ada.. dia bilang tidak ada yang
mencurigakan,” balas Rima dengan senyum
Minho memeluk pinggang Rima,”aku dikejar
target oleh Appa (ayah-red)”
“ya.. aku mengerti,” senyum Rima
“aku tidak seperti dia,” kata Minho
tiba-tiba. Rima heran, siapa dia yang Minho sebut??
“lelaki yang pernah kamu sebut..,” kata
Minho lagi. Dia lupa dengan nama Bang Thoyib.
Rima heran, dia jadi berfikir: siapa sih..
lelaki itu?? lalu dia tanya lagi pada suaminya itu.
“Lelaki yang tidak pernah pulang itu,”
kata Minho lagi
Rima lalu tertawa, dia akhirnya ingat
kalau itu adalah Bang Thoyib. Minho jadi ikut tertawa, lalu dia memeluk Rima.
“aku bukanlah Bang Thoyib itu,” katanya
pada Rima.
“Aku yakin.. kamu tidak akan tinggalkan
aku,” balas Rima, dia senyum setelah melepas pelukan Minho.
“aku romantis kan? Hehe,” kata Minho
iseng.
Rima mengangguk,”more than just romantic.. Minho lelaki yang..umm.. pokoknya seksi
deh”, lalu dia tertawa kecil.
“aku tidak akan menjadi bang Thoyib itu..
aku tidak akan kembali sampai urusan selesai.. dan..aku tetap akan menghadirkan
kamu disisi ku, Rima,” kata Minho dengan senyumnya.
“walau mungkin.. ayah memaksamu??,” Rima
tanya balik. Dia tahu Lee Hyeon dan isterinya belum 100% setuju mereka menikah
karena terlalu banyak perbedaan yang dianggap sangat kentara dan jurangnya
dalam.
“Aku sudah buktikan satu hal pada Appa dan
Eomma.. aku bisa menikah dengan pilihanku.. dia wanita kuat..dan itu kamu,”
balas Minho. Dia menatap Rima dalam tetapi tidak galak.
“terima kasih, Minho.. aku sangat cinta
padamu,” senyum Rima.
“belum ada kiss hari ini ya??,” senyum genit Minho padanya. Rima hanya
tertawa. Minho memang sok romantis.
Mereka jalan setelah pamit pada Beh
Hamid..
“Kwon.. kamu dimana??,” tanya Il Sung pada
Kwon. Ternyata Kwon sedang dijalan menuju sebuah tempat hang out. Dua orang,
paman dan keponakan itu memang suka sekali dugem dan hang out, beda sekali
dengan Minho yang lebih suka banyak diam di rumah.
“si Minho tidak bisa kumpul dengan
kita..dia asik belanja dengan Rima,” jawab Kwon santai sambil menyetir. Il Sung
tidak banyak bicara, menyuruh dia lekas sampai disebuah Club.
Sementara, Minho sedang asik berbelanja
dengan Rima.
Kwon sampai didepan sebuah Club, dia
langsung masuk dan mencari Il Sung. Dilihatnya pamannya itu sudah gabung dengan
beberapa cowok dan cewek kenalan mereka. Kwon menghampiri lalu berkenalan
dengan mereka dan asik ngobrol bersama.
Iringan musik semakin malam semakin keras
saja. DJ terus memutar house music tidak henti-hentinya. Kwon lebih memilih
ngobrol dengan teman-teman Il Sung malam itu, entah kenapa, rasanya dia malas
melantai sementara sebenarnya house music semakin menggoda.
Il Sung dan beberapa kawan langsung turun
melantai. Kwon hanya melihat mereka saja, sambil santai minum bir dan juga
merokok
“kamu sudah berapa lama di Indonesia??,”
tanya teman barunya, seorang cewek bule dengan bahasa inggris.
“baru 6 bulan..aku guru bahasa inggris
disini,” jawab cewek itu ramah. Mereka bicara saling dekat. Pakaiannya cewek
itu seksi sekali.
“kamu sendiri??,” tanya cewek itu, dia
memberikan minum pada Kwon.
Kwon berterima kasih padanya,”aku sudah
hampir 3tahun disini.. bantu pamanku”
“oo,” balas cewek itu singkat,”kamu tidak
mau melantai??”
Kwon menggeleng. Ternyata cewek itu ingin
melantai dan Kwon mempersilahkan dia pergi sendiri saja. Kwon hanya mau minum
dan merokok santai.
Dia asik saja melihat Il Sung yang gila
dance dan juga teman-teman pamannya itu. Lalu dia iseng membuka HP nya,
ternyata ada pesan dari Minho.
“kamu sudah pulang? Ada yang mau aku
bicarakan tentang pabrik gabungan Mr Leo dan rekannya”, ternyata Minho sudah
selesai belanja, sudah pulang lagi ke rumah beh Hamid.
“masih di club, nanti aku hubungi kalau
sudah selesai,” balas ketikan Kwon. Setelah itu, tidak ada balasan lagi dari
Minho.
Kwon lalu berdiri dan dia pergi ke toilet.
“sreeeekkkk,” suara tombol air toilet
ditekan Kwon, lalu dia keluar dari toilet dan berdiri di depan kaca besar,
mencuci tangan, lalu menyisir rambutnya dengan jari. Dia melihat dari kaca ada
seorang cowok juga sedang masuk toilet lantas keluar dan berdiri lagi disampingnya,
ikut berkaca. Kwon malah senyum pada lelaki itu. Lelaki itu diam saja, juga
menyisir rambutnya. Kwon ingin keluar dari toilet, tetapi ternyata cowok itu
menghampirinya dari belakang, dan.......... menusuknya dengan sebilah pisau!!
Kwon jatuh di depan kamar mandi toilet
yang belum sempat dia buka. Lelaki itu mencoba menusuknya lagi, tetapi dia
melawan. Dia pegang pisaunya dan telapak tangannya berdarah menahan pisau
tersebut supaya tidak dihunus lelaki itu padanya lagi.
Terjadi dorong-dorongan, telapak tangan
Kwon sudah sangat terluka parah, dia lalu menendang lelaki itu.
“Bug!,” suara tendangan dan lelaki itu pun
jatuh, tubuhnya tergeser sampai menabrak tembok di depannya dan jatuh diatas
tong sampah toilet. Kwon berusaha membuka pintu dan lari sambil memegang
punggungnya yang ditusuk.. tembus sampai perut.. dia benar-benar terluka parah.
“Tolong!,” teriaknya berjalan gontai di
lorong menuju toilet, tangannya menggapai dinding agak dia tidak limbung dan
bisa tetap berjalan...tapi tidak ada orang dan tidak ada yang mendengar
teriakannya, karena suara sangat bising oleh house music yang makin tengah
malam makin kencang saja.
Darah berceceran dilantai. Lelaki itu
ternyata sama sekali tidak pingsan dan mengejarnya. Dia berlari mengejar, Kwon
yang tahu dikejar berusaha lari dengan darah masih berceceran di lantai.. dan..
dia tertusuk lagi!
Lelaki itu membalikkan tubuh Kwon sehingga
mereka saling berhadapan dan dia menusuk Kwon dua kali.
“argh!!!,” Kwon mengerang kesakitan, dia
terpepet di dinding, dinding jadi berlumurah darah karena sebelumnya dia juga
tertusuk di punggung. Lalu.. dia pun ambruk..tidak bergerak sama sekali..
Lelaki itu menggoyang-goyangkan tubuh Kwon
dengan kakinya. Sama sekali Kwon tidak bergerak. Bersimbah darah.
Lalu, lelaki itu menelepon
seseorang,”beres.. Lee Kwon Yun.. mati”, entah dia menelepon siapa. Lalu dia
berjalan santai, keluar dari lorong toilet yang panjang itu dan pergi entah
kemana, keluar dari club itu.
Il Sung ternyata lelah, lalu dia kembali
duduk, tapi tidak menemukan Kwon disofa tempat mereka kumpul. Dia pun bingung.
“kemana tadi keponakanku, Miss??,” tanya
Il Sung pada wanita bule yang terakhir kali ngobrol dengan Kwon. Wanita itu
bilang tidak tahu.
Il Sung berfikir, mungkin dia ke toilet,
lalu mengirimkannya pesan. Teman-temannya mereka pulang duluan.
Beberapa menit, tidak terjawab juga.
Akhirnya Il Sung tidak sabar, lalu mencoba meneleponnya.
“tut....tut...tut....,” suara telepon
masih aktif tetapi tidak diangkat.
“loh.. kemana dia?? Apa pulang duluan?
Kenapa tidak bilang bilang sih??,” Il Sung jadi kesal dengan keponakannya itu.
Berkali-kali dia coba telepon..tidak diangkat juga.
“Kwon menyebalkan.. kenapa dia??,” gumam
Il Sung dalam hatinya, dia makin kesal.
Tiba-tiba, salah seorang penjaga Club
berbisik pada salah seorang yang ternyata manager Club itu,”ada mayat terkapar
di lorong toilet”
Mata manager itu terbelalak kaget. Il Sung
tidak sengaja mendengar hal itu, dia jadi galau, malah ketakutan sendiri.
Tak berapa lama, ada telepon.. ternyata
dari Kwon!
“Samchon... to..long..a..ku,” kata suara
Kwon yang kesakitan.
Il Sung kaget dengar suara keponakannya
yang kesakitan,”hai Kwon.. kamu dimana?? Cepat katakan!!”
“tuttttttttttttttt...................,”
telepon pun mati. Il Sung makin panik. Dia berteriak,”KWON.. KAMU DIMANA??!!”
Dia lekas bangun dan samar tadi mendengar
ada mayat di lorong toilet, dia jadi panik,”jangan jangan Kwon celaka!!”, dia
lalu berjalan terburu-buru menuju toilet.
Dilihatnya... sosok Kwon terkapar..
bersimbah darah..dengan HP yang ada ditangannya.. dia tertelungkup bersimbah
darah..
Di sana sudah ada seorang jaga Club dan
juga manager.
“KWON!!,” Il Sung berteriak dan
menghampiri nya. Penjaga dan manager Club ketakutan.
“tolong..dia keponakan saya! Tolong bantu
bawa ke rumah sakit,” teriak Il Sung pada mereka. Security, manager Club
langsung menelepon rumah sakit terdekat.
“Kwon.. bertahan Kwon.. kamu tidak akan
mati!,” teriak Il Sung. Dia memegang dan memeluk tubuh keponakannya yang dingin
kehabisan darah.
Minho, Rima dan beh Hamid pergi ke RS
segera setelah Il Sung telepon Minho memberitahukan berita duka itu. Mereka
langsung pergi ke kamar dimana Kwon langsung ditangani.
Ketika mereka masuk ruangan.. mereka
menemukan Il Sung menangis...
Minho mencoba mendekati pamannya.. Suster
dan dokter sudah membereskan alat.. Minho, Beh Hamid dan Rima melihat wajah
Kwon sudah ditutup kain putih.. Kwon meninggal...tidak dapat tertolong karena
tiga luka tusukan yang parah..
“KWONNNNNNN...........!!!,” Minho langsung
menangis mengguncang tubuh sepupu karibnya itu sejak mereka masih kecil. Tapi
tubuh Kwon sudah tidak bergerak. Para Suster dan Dokter mengucapkan bela sungkawa
pada mereka.
“Innalillahi,” kata beh Hamid pelan. Rima
menangis pelan, lalu memeluk ayahnya, beh Hamid.
Minho masih mengguncang-guncang tubuh
sepupunya itu,”KWON.. BANGUN!!”
Il Sung menahan Minho yang terus menangis
memanggil nama sepupunya itu,”Sudah Minho.. dia sudah tidak ada lagi”
“aku tidak tahu kalau dia ditusuk orang
dilorong toilet,” kata Il Sung, bicara dan berurai air mata.
“Kwon.. aku gak sangka.. siapa yang tega
sama kamu??,” kata Rima menangis pelan, air matanya jatuh.
“AKU TIDAK PERCAYA KWON MENINGGAL!,” Minho
masih berteriak,”PANGGIL LAGI DOKTER.. PASTI KWON BELUM MENINGGAL!!!,” dia
mengguncang badan sepupunya itu yang sudah terbujur mulai kaku. Lalu
mengguncang kedua bahu Il Sung yang berdiri disampingnya, masih menangis tanpa
suara dan berurai air mata.
“sudah Minho..dia sudah meninggal,” kata
Il Sung dengan suara pelan.
“ANIEYO..
INI PASTI CUMA BOHONG BELAKA...KWON.. AYO BANGUN! INI AKU.. MINHO!!,” Minho
lalu mengguncang tubuh Kwon lagi.
Rima menangis tersedu sedu melihat Minho
belum bisa menerima kenyataan kalau sepupunya sudah tiada lagi,“sudah, Minho..
sudah.. dia sudah tiada lagi,” katanya pada Minho.
Minho jatuh terduduk, tepat disamping
jenazah Kwon, dia menangis kencang sampai suaranya serak,”KWONNN!!” teriaknya
lagi.
Dia terduduk lemas. Rima berjongkok di
depannya, lalu memeluk Minho.
“Kwon sudah pergi, Minho.. relakan saja..
dia tidak akan bisa kembali,” peluk Rima padanya.
Minho menangis,”aku tidak percaya.. kenapa
Kwon begini”
Sementara beh Hamid mematung, dia juga
sedih. Dia ingat Kwon sebagai orang yang ramah padanya.
Rima masih memeluk Minho,”kita akan usut
tuntas ini semuanya, Minho.. polisi pasti tidak akan tinggal diam.. “
“Kwon..,” Minho terus menangis dipelukan
Rima dan menyebut nama sepupunya itu berkali-kali. Rima hanya mampu memeluk
Minho dan mengusap punggungnya agar dia tenang.
Il Sung terus bercucuran air mata melihat
keponakannya, dia menangis tanpa suara.
Beh Hamid masih berdiri mematung.
“kita harus bawa dia pulang kembali ke
Korea,” kata Il Sung, pelan. Suaranya berat akibat menangis, bicara pada Minho,
Rima dan anggota keluarga beh Hamid yang hadir. Kwon dibawa pulang ke rumah
sewa Il Sung untuk disemayamkan. Ratusan karyawan memberikan penghormatan
terakhir padanya. Rencananya jenazah Kwon akan dikremasi dan dipulangkan.
Lee Hyeon dan orangtua Kwon yang
mengetahui itu sangat terpukul. Berkali-kali ibunya Kwon menangis dan pingsan
mengetahui anaknya pulang hanya akan tinggal jadi abu.
Minho masih menangis walau dia tahan atau
menangis pelan dan dalam. Dia benar-benar kehilangan sosok sepupu akrabnya
sejak mereka kecil. Banyak sudah kenangan indah atau yang menurut Minho
menyebalkan karena Kwon sering jahil padanya, tapi sama sekali Minho tidak bisa
membencinya.
“kalau kamu nikah dengan Rima.. kamu bikin
aku iri,” tawa Kwon pada Minho ketika Minho pertama kali bilang, dia suka
dengan sekretarisnya yang sederhana dan pintar itu.
“itu karena kamu terlalu genit jadi lelaki..
Rima tidak suka lelaki yang terlalu overacting,”
balas Minho dengan menepuk pundak Kwon dengan majalah.
Kwon hanya tertawa saja,”ingat ya.. aku
sainganmu.. bisa saja aku merebut pacarmu itu kalau kamu tidak perhatian
padanya!”
Minho memukul kepala Kwon dengan tidak
keras,”mau nya kamu... langkahi dulu mayatku”
Kwon hanya tertawa saat itu dan mengatakan,”bisa
jadi.. aku duluan yang menjadi mayat dan kamu langkahi.. jadi kamu bisa dapat
sekretarismu itu”
Minho tidak menyangka..ternyata canda Kwon
menjadi kenyataan.. kini Kwon sudah benar-benar tinggal jadi abu jenazah saja.
Rima sibuk menenangkan Minho, memegang
tangannya, sesekali memeluknya dan mengusap punggungnya. Dia tahu Minho sangat
terpukul dan hanya terus menunduk berurai air mata.
Rencananya Il Sung yang akan membawa abu
jenazah Kwon kembali ke Korea, sementara Minho tetap tinggal di Indonesia dan
menjadikan 3 hari sebagai hari berkabung di seluruh perusahaan mereka.
“Mampus kalian.. keluarga Lee.. hahaha,”
tawa seorang lelaki tua dengan sangat keras.
Seorang lain yang juga lelaki muda dan
seorang wanita muda ikut tertawa.
“Tinggal Lee Minho sendirian, papa.. Il
Sung sedang menemani abu mayat Kwon ke Korea...kita jalankan rencana
selanjutnya,” kata lelaki muda itu.
“haaahh.. kenapa jadi Kwon yang harus
dikorbankan?? Padahal dia cowok seksi,” kata wanita muda.
Lelaki muda itu menepuk pundak wanita muda
itu,“kalau kamu bisa taklukkan Lee Minho.. kamu bisa tidur dengannya tiap
hari..aku yakin itu, hahaha,”
“sepertinya..dia tidak pernah suka
padaku..dia hanya cinta dengan isterinya si Rima perempuan munafik dan sok suci
itu,” kata wanita muda itu.
“tenang saja..aku sudah punya rencana
lebih untuk perempuan munafik itu.. lihat saja,” kata wanita muda itu
“terserah kalian mau lakukan apa saja..
yang penting.. kita harus bisa menjatuhkan perusahaan keluarga Lee yang sudah
menjatuhkan perusahaan keluarga kita,” ujar lelaki tua itu.
Lelaki muda itu mengangguk, lalu disusul
dengan anggukan wanita muda.
Mereka menuang wine lalu mabuk
tertawa-tawa, puas dengan kematian Lee Kwon Yun.
Saat itu juga, Minho mengantarkan abu
jenazah Kwon untuk terakhir kalinya.
“tto
bwayo.. sampai ketemu lagi, Kwon.. aku tidak akan pernah melupakan kamu..,”
Minho menangis di depan abu jenazah Kwon yang dibawa Il Sung, sebelum Il Sung boarding dan harus masuk ruang tunggu.
Abu jenazah Kwon dimasukkan dalam sebuah kotak yang cukup besar.
Rima menunduk hormat pada abu Kwon, dia
menitikkan air mata,”terima kasih, Kwon.. telah menjadi sahabat untuk Minho dan
aku... “
Beh Hamid sedih. Salma menangis. Dia juga
mengenang Kwon sebagai lelaki muda yang baik dan ramah padanya.
Il Sung berjalan ke ruang tunggu. Minho,
Rima menunduk hormat dalam-dalam yang terakhir pada kotak abu Kwon. Sampai Il
Sung tidak terlihat lagi, naik ke eskalator yang membawa dia ke ruang tunggu...
Bersambung ke part 35...