Kisah diriku sendiri..
Aisha berjalan tidak semangat hari itu,
keputusannya tetap ingin dia putus dengan Shin. Rasanya dia sudah benar-benar
trauma dan sakit hati, yang menurutnya semua lelaki sama saja.
“Lu terlalu banget deh traumanya, cyn..
bisa jadi dia gak sejahat itu,” kata Risa.
“gua gak mau lagi tahu dan dengar dia
lagi,” gerutu Aisha, menopang dagunya, tampangnya sama sekali tidak semangat.
“ngerti banget gue.. kalau memang lu
trauma banget,” kata Risa lagi,”tapi entah kenapa, gue merasa dia bukan orang
yang jahat.. andai lu dan dia pisah.. semuanya bisa baik baik aja”
Aisha melihat Risa dengan tatapan
pesimisnya,”yakin lu??”
Risa menepuk-nepuk pundaknya,”sabar dong,
cyn.. hidup itu gak sesulit yang lu bayangkan... orang mungkin mikir kayaknya
kok lu kasian banget ya.. punya kisah cinta gak selesai-selesai.. tapi kan
Tuhan gak pernah mikir begitu”
“yeah.. yeah,” keluh Aisha di hari itu
pada Risa. Dia merasa sudah malas memikirkan semua soal hubungan. Dia bilang
pada Risa mau berhenti saja pikirkan semuanya, supaya dia bisa tenang hidup dan
menjalani semua apa adanya bak air mengalir.
“gue hargai banget usaha lu cari jodoh,
cyn... gak semudah itu memang bayangan orang tentang jodoh.. ada banyak orang
mencibir orang-orang susah jodoh.. padahal kalau dia menjalani seperti apa yang
lu jalani.. belum tentu juga mereka sanggup.. so, gue gak akan berpikir buruk tentang hubungan lu dan dia... dan
feeling gue, cowok itu baik.. cowok itu gak akan macam-macam sama lu.. gak akan
dia nyakitin fisik dan hati lu”
Aisha terkesan dengan apa yang dikatakan
Risa. Kalau boleh dipikir, Risa sebenarnya sebelum menikah tipe cewek playgirl.
Semua cowok tipe apapun dia keruk sampai bangkrut minta traktir atau dia
jahilin: pacaran cukup 2 minggu habis itu diputusin kalau sudah dapat uang dari
cowok itu. Tapi beda dengan Aisha yang segannya sangat tinggi ketika kenal
cowok. Dia tidak mengerti kenapa rasanya takdir temannya yang justru bersungguh
cari jodoh malah seringnya dipermainkan cowok. Tapi ketika Risa menemukan cowok
yang benar-benar sayang dia apa adanya, cowok itupun cepat jadi suaminya, cowok
yang tidak peduli dengan masa lalu Risa yang playgirl abis.
“Lu gak usah putus asa gitu, cyn.. gue
yakin banget all is well.. semua tuh akan baik-baik aja dan lu bisa hidup punya
cinta lebih baik dari gue,” kata Risa menyemangati Aisha.
“gue selalu berharap dan berdoa seperti
itu.. tapi rasanya lama kelamaan gue putus asa ketika pengen serius, yang
datang malah yang enggak serius bahkan cenderung permainkan perasaan dan hati
gue.. mereka cowok egois yang gak bisa ngerti betapa gue serius dalam menyikapi
sebuah hubungan,” ujar Aisha.
Risa mengerti. Sebelum dengan Shin,
bagaimana dia menderita dengan seorang cowok yang menurut Risa juga egois,
setelah masalah cowok itu selesai dengan isterinya, sahabatnya ini ditinggalkan
begitu saja. Sementara, sebenarnya dia juga punya kekhawatiran yang sama:
takutnya Shin akan meninggalkan sahabatnya itu dan trauma dia makin
menjadi-jadi.
“Lu dah tanya kan.. sama Tuhan tentang
hubungan ini??,” tanya Risa.
“sedang berusaha,” jawab Aisha.
“jangan sedih, cyn.. semua tuh pasti ada
jalan keluarnya.. kalau gue jadi lu.. belum tentu juga gue tahan dengan semua
cobaan gue.. padahal lu tahu, gue bejad banget memperlakukan cowok
semena-mena.. ternyata malah gue yang lebih cepet nikah dan lu yang gak punya
niat permainkan cowok malah dipermainkan mereka.. Tapi kan Tuhan itu Adil,
cyn.. gue yakin suatu kali nanti.. mereka akan ketemu hasil perbuatan mereka”,
kata Risa, dia lalu memeluk Aisha
“makasih ya.. cuma dengan lu , gue cerita
hubungan gue.. ntah.. kenapa gue depresi banget kalau sudah masuk ke masalah
hubungan.. rasanya mau bunuh diri aja bawaannya,” keluh Aisha
“jangan gitu, cyn.. semua manusia ada
cobaannya masing-masing.. lu tuh baik.. mungkin Tuhan punya rencana lain yang
kita gak pernah tahu,” kata Risa lagi. Aisha menitikkan air mata.. apa benar..
Tuhan punya rencana lain untuknya??
Shin bilang, dia hanya 1 bulan di
indonesia. Aisha berfikir, biarkan saja menggantungnya sampai cowok itu akan
memutuskannya. Dia sama sekali tidak berinteraksi dengan cowok itu. Lalu
kemudian, ketika dia ada perlu dengan seseorang menggunakan skype lagi, Shin
masuk lagi.
“apa kamu sudah merasa tenang, Aisha??,”
ketiknya dengan icon senyum
Aisha ingin sekali menjawab,”bukan
urusanmu”, tetapi hatinya bilang, kalau cowok ini sebenarnya baik dan memang
peduli padanya, bukan cuma berpura-pura mengambil hatinya demi kepentingan
sesaat.
Aisha termenung di depan laptop. Dia
berusaha mengerjakan tugas kerjanya walau pikirannya galau tentang cowok itu.
Saat makan siang, dia memberanikan dirinya
menyapa kembali,”ya.. terima kasih”, jawabnya pada Shin
Shin merasa senang disapa lagi,”hi.. apa
kamu sudah tenang?? Aku ingin meminta maaf”
“aku sudah maafkan.. hanya saja.. aku
tidak ingin kamu mengulangi nya lagi.. mohon mengerti aku,” ketik Aisha sebagai
jawaban.
Shin mengetik dengan icon
senyumnya,”sepertinya ada yang ingin aku bicarakan lagi.. boleh kan bertemu?? I miss you alot”
“modus??,” dalam hatinya Aisha. Dia
mendiamkan sejenak dan menggantungnya karena harus makan siang.
“he
said he misses me alot,” kata Aisha pada Risa lagi
“he
really does it,” jawab Risa,”kalau dia mau ketemu lu.. ketemu aja, cyn..
gue yakin, dia hanya membahas masalah penting.. sepertinya dia memang tipe
cowok yang bicaranya cuma penting-penting aja”
“modus gak sih dia mau ketemuan lagi?? Gue
asli sulit percaya lagi...antara logika dan hati gue sudah mulai bersebrangan,
Ris,” kata Aisha
Risa senyum,”coba dulu, cyn.. kalau
macam-macam.. jangan ragu hajar dia.. lu kan teakwondoin.. berani dong??”
“jelas berani.. terakhir aja gue gampar,
hoho,” jawab Aisha. Dia pun menerima tawaran Shin untuk bertemu.
“aku minta maaf atas tingkahku yang lalu,”
kata Shin ketika bertemu.
Aisha hanya bisa menggaruk kepalanya,
aslinya dia sebel banget sama cowok itu, tapi entah kenapa sebelnya itu dia
urungkan juga.
“aku maafkan,” jawab Aisha
Shin tersenyum dan mengatakan terima kasih
padanya.
“apa yang ingin dibicarakan??,” tanya
Aisha padanya.
“tentang apa yang kamu percayai,” jawab
Shin dengan senyum manisnya.
“what
do you mean??,”
“your
belief,” jawab Shin santai
“my
belief?? As a muslim you mean??,” tentu saja Aisha heran, dia tidak punya
kepercayaan lain.
Shin mengangguk saja. Aisha malah
menggaruk kepalanya, bingung mau mulai dari mana.
“where
start to??,” tanya Aisha, bingung mau mulai dari mana.
“as
you wish.. i just wanna know,” balas Shin.
“are
you intend to?? Or?? Perhaps you will ask some persons nearby you,” kata
Aisha
Shin mengangguk,”actually i can ask some indonesian workers here”
Aisha mengangguk. Shin lalu bertanya
banyak tentang kepercayaan nya Aisha. Apa yang dilakukan dalam hubungan serius.
“so..
should i follow your belief??,” tanya Shin setelah lama mereka bicara
Aisha mengangguk,”but i wont push you.. it must come from your own heart”, sama
sekali dia tidak ingin memaksa cowok itu untuk masuk ke dalamnya, tetapi lebih
setuju kalau belajar dahulu.
“hal seperti ini menjadi serius dan aku
tidak ingin memaksakan kehendak ku... lebih baik belajar mencari dahulu,” kata
Aisha.
Shin lalu menjawab kalau dia akan mencari
tahu dan belajar.
“lalu.. kenapa kemarin menggampar ku??,”
tanya dia.
“you
cant treat me like that.. i just could be touched by my husband,” jawab
Aisha terus terang.
“I
try to respect it,” jawab Shin
“I
am so sorry.. but that’s my principle, Shin... i must take care of my own self,”
balas Aisha. Dia ingin menjaga diri dengan baik sehingga tidak mudah dilecehkan
siapapun.
“aku tidak tahu kalau ada yang seperti
itu, Aisha... ,” Shin menjawab jujur karena interaksinya memang sedikit dengan
bangsa dan kepercayaan lain.
“kamu..tidak putuskan aku jadi pacar..
karena tidak mau kamu kiss??,” tanya Aisha, mengetest dia
Shin malah jadi tertawa,”untuk apa? Apa
aku sejahat itu? hihi”
Aisha malah menunduk hormat,”terima
kasih...mau menghargai prinsipku”
Shin malah senyum,”menyenangkan jika bisa
punya pacar yang punya prinsip..sebenarnya seperti itu..aku sendiri egoist”
Aisha agak membelalakkan matanya,
heran,”eh?? Really?? Aku pikir lelaki
tidak suka itu loh?”
“kamu pikir semua lelaki bajingan??,”
senyum Shin
“aku minta maaf.. karena yang kutemui
seperti itu,” Aisha menunduk
“i
understand your trauma.. it’s okay for me,” Shin senyum lagi,”so Aisha..
kamu harus mengajarkan saya sedikit demi sedikit, mau kan??”
Aisha mengangguk. Shin mengajukan beberapa
pertanyaan tentang hidup dan dia jawab semuanya dengan bahasa yang dimudahkan
agar cowok itu faham dasarnya.
“ibadah setiap hari tidak membosankan??,”
tanya Shin. Aisha menggeleng.
“hidup memang terlihat sulit ya? Tetapi
kalau dijalani..tidak juga.. kita kerja bisa 10 jam perhari..sedang bertemu Dia
tidak lebih dari itu,” jawab Aisha
“lalu.. kenapa Tuhanmu tidak terlihat??
Sedang yang lain terlihat,”
“aduh..cowok ini.. super banget tanya nya
deh...,” kata hatinya Aisha. Dia lalu menjelaskan dari prinsip fisika materi,
immateri, berpadu dengan apa yang dia buka dari kitab.
“memang aneh sekali... tetapi masih aku
rasakan masuk akal.. ,” jawab Shin,”aku akan coba mencari lebih jauh”
“aku tidak akan paksa kamu untuk harus
mengerti apa yang aku percaya,” balas Aisha.
“Shin..,” kata Aisha lagi. Dia hanya
menjawab ya.
“aku hanya takut isterimu tahu,” katanya
lagi,”aku tidak mau menyakiti hatinya”
Shin menarik nafas dan menghembuskannya,
lalu cemberut,”aku harus bagaimana?? Aku memang suka kamu”
Aisha hanya menopang dagu,”disini tidak
bisa begitu”
“sama.. di sana juga,” timpal
Shin,”terkadang kamu memiliki kebosanan jika sudah terlalu banyak permintaan”
Aisha bingung ada apa dengan Shin, lantas
dia jujur menceritakan kalau dia sudah mulai bosan dengan perempuan banyak
meminta. Dia hanya akan penuhi kalau sanggup penuhi dan dia bilang pada Aisha
kalau dia lebih suka mengutamakan anak daripada pasangan.
Aisha malah menopang dagu tapi senyum
padanya, lalu,”kita sama.. aku berfikiran ..kalau semua harus untuk anak”
Shin juga jadi ikutan tertawa, malah
tertawanya lembut sekali,”jadi..mungkin kita ada jalan kesana.. aku fikirkan
bagaimana mengurusi semuanya..”
“aku jadi ingin banyak tahu tentang
Aisha,” Shin agak mendekat wajahnya pada Aisha.
Aisha malah menjauhkan wajahnya dari cowok
itu, sedikit kaget, tapi Shin malah senyum.
“senyumnya bikin gue luluh,” kata hatinya
Aisha.
“jadi...tolong aku diajarkan.. aku hanya
berusaha menyesuaikan saja,” kata Shin lagi.
Aisha seperti melihat kesungguhannya dalam
hubungan itu, tetapi satu sisi dia juga galau, bagaimana prosesnya mereka bisa
serius??
“jadi..selama ini..apa yang kamu pikirkan
tentang aku??,” tanya Shin padanya. Mereka pindah ngobrol kembali di taman.
Aisha bingung kalau ditanya seperti itu,
dia menjawab,”kamu baik.. aku sudah mulai suka kamu”
Shin ternyata berfikir dengan pernyataan
“mulai suka”, dia pikir “sama sama suka”.
“padahal aku suka pikirkan kamu sedari
berbulan-bulan lalu.. kamu sederhana, manis dan sepertinya bukan suka banyak
meminta,” balas Shin
“aku hanya tidak tahu harus bagaimana
berhadapan dengan orang yang menyukaiku, Shin,” balas Aisha dengan tatapan aneh
padanya.
“dan untuk sekarang..yang coba mengerti
tentang kamu adalah aku,” jawab Shin dengan suara lembutnya
Aisha bertanya, kenapa Shin begitu jadi
cowok lembut, apa memang sudah dari kecil seperti itu..dan kenapa suka sekali
berdandan lama??
“jangan marah.. aku hanya ingin tahu,” lanjutnya
lagi.
Shin lalu menjelaskan memang trend disana
cowok suka berdandan. Sebenarnya bukan trend baru, sudah agak lama ada istilah
seperti cowok metroseksual, memperhatikan penampilan, harus wangi dan elegan. Kalau
tidak begitu, apalagi seperti dia yang bekerjanya dibidang marketing dan komunikasi
perusahaan, akan jadi hal yang sulit kalau penampilan tidak wangi dan rapi.
“apa dibawa juga ke seharian kamu??,”
tanya Aisha masih penasaran,”dan... berapa jam kamu berdandan??”
Shin tidak marah dengan pertanyaan Aisha,
dia malah bilang,”jadi... kamu memang tidak pernah dandan lama??”
Aisha menunjukkan angka 5,”lima menit..
aku hanya butuh pakai uv screen karena kulitku kepanasan dan body lotion”
Shin malah tertawa,”what a simple make
up... sederhana sekali.. tidak takut dilihat orang jadi terlihat kesannya tidak
cantik??”
Aisha menggeleng,”no.. aku tidak takut
dibilang jelek... aku tidak mau merepotkan diri terlalu banyak peralatan lenong
sih”
“peralatan
lenong??,” Shin bingung dengan kata itu
Aisha tertawa kecil,”itu artinya.. terlalu
banyak membawa alat yang sebenarnya tidak perlu di bawa”
Shin jadi tertawa, dia bilang kalau dia
belajar bahasa baru: peralatan lenong. Aisha meledeknya lalu tertawa,”iya..
peralatan lenong mu banyak sekali, Shin Hyu, hahaha”. Tertawanya sangat lepas.
Mereka tertawa bersama.
Tapi berikutnya Shin malah diam dan
menatapnya.
“mau apa??,” tanya Aisha bingung dengan
tatapan mata cowok itu.
“no..
tidak jadi.. ah,” jawabnya menoleh, lalu dia ngedumel bahasa korea yang gak
dimengerti Aisha.
“kenapa?? Apa yang tidak jadi??,”
“no
need.. later i am afraid i can’t control it,” jawab Shin. Dia takut lepas
kontrol seperti kemarin.
“can’t
control like last time??,” tanya Aisha
Shin mengangguk,”sometimes i feel i am hard to control it...last time i imagined myself
i slept with you”
“that’s
why i dont like quite place if i am gonna be with you.. i am also afraid,” senyum Aisha.
Shin mengangguk, tapi dia bicara lagi
ngedumel dalam bahasa korea. Aisha bertanya apa yang sedang dibicarakan dia
sendirian, karena memang tidak faham bahasa itu.
“apa artinya kalau aku boleh tahu??,”
tanya Aisha sangat penasaran
Shin mencoba senyum,”artinya.. mendapatkan
kamu penuh perjuangan..susah sekali.. memegang tangan pun mungkin tidak boleh
ya? Hehe”
Aisha menggeleng,”tidak boleh juga..”
Shin malah tertawa,”haha.. iya sudah..
tidak mengapa.. aku mencoba mengerti kamu”
“terima kasih,” Aisha menunduk hormat
padanya,”terima kasih mau menjaga aku”
“sulit sekali menjaga keinginan untuk
kamu,” kata Shin.
Aisha tidak melihat padanya, melihat
beberapa orang yang lewat,”itu prinsipku.. aku tidak mau prinsip ku goyah hanya
karena aku mungkin saja.. suatu hari nanti belum beruntung mendapatkan
siapapun.. aku mungkin pernah salah.. tapi aku tidak mau mengulang kesalahan
yang sama”
“itu baik.. tetapi mungkin kalau lelaki
nya tidak mengerti.. mereka akan pergi darimu,” balas Shin.
Aisha mencoba menoleh dan melihat
wajahnya,”well.. Shin.. jika memang
kamu juga akan pergi.. aku tidak perlu menyesal... dan tidak mau menyesal.. dan
aku berpikir.. kemungkinan jika kita terpisah.. bukan salah kita”
“kamu bisa memprediksi hubungan kita??,”
tanya Shin, dahinya agak berkerut
“seperti kakek kakek.. dahi mu berkerut,”
Aisha malah meledeknya
“Aigoo.. jangan meledek ya.. itu tidak
sopan.. aku masih lebih muda dari kamu, sayang,” gerutu balasan Shin. Dia lalu
bertanya lagi apa Aisha bisa memprediksi karena kelihaiannya sebagai cewek
supranatural.
“aku tidak mau melihat apa yang terjadi
dimasa depan.. baik atau buruk.. ,” jawab Aisha tenang, dia mencoba melihat
mata Shin.
“dont
look at me like that.. i am lustful,” jawab Shin. Dia malah jadi berpaling
dan melihat banyak bunga di taman umum itu.
“ya ampun.. cowok ini bilang nafsu??
Ckckck,” kata hatinya Aisha.
“tapi.. memang lebih baik tidak
melihatnya,” kata Shin lagi,”sebab aku takut.. takut aku merasa sulit
mendapatkan semuanya”
“jika aku tidak serius.. aku pasti tidak
akan mungkin membiarkan diriku ada disini.. di apartment saja santai bicara
dengan isteriku yang jauh,” katanya lagi
Aisha sensitif dengan kata itu, dia tahu
bahwa sebenarnya baginya tidak masalah dengan hal itu, tetapi dia heran, kenapa
bisa dia diberikan hubungan dengan lelaki sudah beristeri??
Aisha diam saja, dia asli sensitif dengan
kata isteri. Mereka diam sejenak.
“ada yang membuat kamu marah??,” toleh
Shin padanya
“isteri,” balas Aisha singkat.
“Mian
habnida.. i am so sorry,” balas nya. Dia menutup mulutnya dengan kedua
telapak tangannya.
“apa nasib gue??,” tanya hatinya
Aisha,”apa nasib gue.. kalau suka sama dia??”
“tidak mengapa,” balas Aisha,”aku mau
pulang.. aku harus pulang.. “, dia berdiri, lalu cowok itu juga berdiri.
“aku minta maaf.. tetapi..aku ingin
belajar mengerti kamu dan semuanya.. memperlajari apa yang kamu suka dan tidak
suka, itu tidak mudah,” kata Shin
Aisha senyum padanya,”terima kasih.. kamu
sangat baik.. entah aku bisa balas apa??”
“aku tidak minta balasan,” jawab Shin
santai
Aisha cuma bisa menatap jalan paving di
taman itu, otaknya terus berfikir.
Pulang, dia ingin sekali sebenarnya banyak
mengobrol dengan Shin tapi hari sudah malam, mungkin esoknya dia akan sibuk
sekali dan tidak punya waktu untuk mereka ngobrol. Tapi malam itu, Shin
memberikan pesan nya via skype,”esok kita bicara ya.. sekarang aku mengantuk..
mimpi yang indah”
Aisha senyum dengan kalimatnya,”dia memang
sepertinya baik.. tapi... apa kamu tidak tahu, Shin?? Kalau aku merasa berdosa
dengan isteri mu?”
“kalau lu single, jelas tidak masalah bagi
gue..gue akan terima dengan tangan terbuka.. sepertinya gue masih ragu dengan
lu pada banyak sisi.. entah.. apa gue rendah kepercayaan pada lu.. apa karena
gue memprediksi lagi hubungan kita.. gak tahu.. tapi Shin.. kalau lu terlalu
baik sama gue.. gue makin merasa berdosa rasanya sama bini lu”
Sebenarnya dia ingin sekali cerita pada
orangtuanya, tapi dia urungkan karena dalam bayangannya, dia takut orangtuanya
tidak suka, apalagi karena hubungan yang lalu dengan lelaki yang sudah punya
isteri juga. Bisa dibayangkan, orangtua bisa jadi hanya bilang “kamu cuma jadi
mainan saja”, seperti pengalaman yang lalu. Iya.. seperti yang lalu.. betapa sakit
hatinya Aisha yang sudah berharap lelaki yang dia suka akan serius sekali
dengannya, tapi malah ditinggalkan tanpa alasan jelas. Hal itu lah yang membuat
traumanya menumpuk, malas untuk membicarakan hal itu dan lebih lagi, terkesan
benci dengan mereka. Dia yang serius merasa dikhianati habis-habisan sehingga
tidak tahu lagi harus bagaimana jika ada orang baru masuk dalam hatinya.
Dia berdoa, andai memang Shin akan menjadi
miliknya, dia akan sangat bersyukur dan jika tidak, dia sama sekali tidak ingin
memiliki kebencian setitikpun pada cowok itu karena dia melihat kesungguhan dan
keseriusan Shin walau masih harus belajar dari apa yang dia percaya. Aisha juga
berfikir tentang kepercayaan yang berbeda, apakah Shin siap memasuki nya dan...
kemungkinan dia akan meminta cowok itu menceraikan isterinya?? Aisha jadi
berfikir ulang.. apa dia tega? Tega membiarkan pastinya wanita yang sudah
memiliki orang yang dicintainya akan dia rebut?? Apa jadinya kalau dia yang
menjadi isteri Shin lalu ada yang merebut lelaki itu dari tangannya?? Semakin
banyak yang ia pikirkan, semakin galau tak tentu arah.. ketakutannya pada
hubungan-hubungan yang telah lalu hanya menambah kerak traumanya... semakin
menjadi-jadi...
Bersambung ke part 8....