This is me....

Jumat, Oktober 24, 2014

Salang Itu Cinta (Part 7: Aku Berusaha Mengertimu)

Kisah diriku sendiri..

Aisha berjalan tidak semangat hari itu, keputusannya tetap ingin dia putus dengan Shin. Rasanya dia sudah benar-benar trauma dan sakit hati, yang menurutnya semua lelaki sama saja.
“Lu terlalu banget deh traumanya, cyn.. bisa jadi dia gak sejahat itu,” kata Risa.
“gua gak mau lagi tahu dan dengar dia lagi,” gerutu Aisha, menopang dagunya, tampangnya sama sekali tidak semangat.
“ngerti banget gue.. kalau memang lu trauma banget,” kata Risa lagi,”tapi entah kenapa, gue merasa dia bukan orang yang jahat.. andai lu dan dia pisah.. semuanya bisa baik baik aja”
Aisha melihat Risa dengan tatapan pesimisnya,”yakin lu??”
Risa menepuk-nepuk pundaknya,”sabar dong, cyn.. hidup itu gak sesulit yang lu bayangkan... orang mungkin mikir kayaknya kok lu kasian banget ya.. punya kisah cinta gak selesai-selesai.. tapi kan Tuhan gak pernah mikir begitu”
“yeah.. yeah,” keluh Aisha di hari itu pada Risa. Dia merasa sudah malas memikirkan semua soal hubungan. Dia bilang pada Risa mau berhenti saja pikirkan semuanya, supaya dia bisa tenang hidup dan menjalani semua apa adanya bak air mengalir.
“gue hargai banget usaha lu cari jodoh, cyn... gak semudah itu memang bayangan orang tentang jodoh.. ada banyak orang mencibir orang-orang susah jodoh.. padahal kalau dia menjalani seperti apa yang lu jalani.. belum tentu juga mereka sanggup.. so, gue gak akan berpikir buruk tentang hubungan lu dan dia... dan feeling gue, cowok itu baik.. cowok itu gak akan macam-macam sama lu.. gak akan dia nyakitin fisik dan hati lu”
Aisha terkesan dengan apa yang dikatakan Risa. Kalau boleh dipikir, Risa sebenarnya sebelum menikah tipe cewek playgirl. Semua cowok tipe apapun dia keruk sampai bangkrut minta traktir atau dia jahilin: pacaran cukup 2 minggu habis itu diputusin kalau sudah dapat uang dari cowok itu. Tapi beda dengan Aisha yang segannya sangat tinggi ketika kenal cowok. Dia tidak mengerti kenapa rasanya takdir temannya yang justru bersungguh cari jodoh malah seringnya dipermainkan cowok. Tapi ketika Risa menemukan cowok yang benar-benar sayang dia apa adanya, cowok itupun cepat jadi suaminya, cowok yang tidak peduli dengan masa lalu Risa yang playgirl abis.


“Lu gak usah putus asa gitu, cyn.. gue yakin banget all is well.. semua tuh akan baik-baik aja dan lu bisa hidup punya cinta lebih baik dari gue,” kata Risa menyemangati Aisha.
“gue selalu berharap dan berdoa seperti itu.. tapi rasanya lama kelamaan gue putus asa ketika pengen serius, yang datang malah yang enggak serius bahkan cenderung permainkan perasaan dan hati gue.. mereka cowok egois yang gak bisa ngerti betapa gue serius dalam menyikapi sebuah hubungan,” ujar Aisha.
Risa mengerti. Sebelum dengan Shin, bagaimana dia menderita dengan seorang cowok yang menurut Risa juga egois, setelah masalah cowok itu selesai dengan isterinya, sahabatnya ini ditinggalkan begitu saja. Sementara, sebenarnya dia juga punya kekhawatiran yang sama: takutnya Shin akan meninggalkan sahabatnya itu dan trauma dia makin menjadi-jadi.
“Lu dah tanya kan.. sama Tuhan tentang hubungan ini??,” tanya Risa.
“sedang berusaha,” jawab Aisha.
“jangan sedih, cyn.. semua tuh pasti ada jalan keluarnya.. kalau gue jadi lu.. belum tentu juga gue tahan dengan semua cobaan gue.. padahal lu tahu, gue bejad banget memperlakukan cowok semena-mena.. ternyata malah gue yang lebih cepet nikah dan lu yang gak punya niat permainkan cowok malah dipermainkan mereka.. Tapi kan Tuhan itu Adil, cyn.. gue yakin suatu kali nanti.. mereka akan ketemu hasil perbuatan mereka”, kata Risa, dia lalu memeluk Aisha
“makasih ya.. cuma dengan lu , gue cerita hubungan gue.. ntah.. kenapa gue depresi banget kalau sudah masuk ke masalah hubungan.. rasanya mau bunuh diri aja bawaannya,” keluh Aisha
“jangan gitu, cyn.. semua manusia ada cobaannya masing-masing.. lu tuh baik.. mungkin Tuhan punya rencana lain yang kita gak pernah tahu,” kata Risa lagi. Aisha menitikkan air mata.. apa benar.. Tuhan punya rencana lain untuknya??

Shin bilang, dia hanya 1 bulan di indonesia. Aisha berfikir, biarkan saja menggantungnya sampai cowok itu akan memutuskannya. Dia sama sekali tidak berinteraksi dengan cowok itu. Lalu kemudian, ketika dia ada perlu dengan seseorang menggunakan skype lagi, Shin masuk lagi.
“apa kamu sudah merasa tenang, Aisha??,” ketiknya dengan icon senyum
Aisha ingin sekali menjawab,”bukan urusanmu”, tetapi hatinya bilang, kalau cowok ini sebenarnya baik dan memang peduli padanya, bukan cuma berpura-pura mengambil hatinya demi kepentingan sesaat.
Aisha termenung di depan laptop. Dia berusaha mengerjakan tugas kerjanya walau pikirannya galau tentang cowok itu.
Saat makan siang, dia memberanikan dirinya menyapa kembali,”ya.. terima kasih”, jawabnya pada Shin
Shin merasa senang disapa lagi,”hi.. apa kamu sudah tenang?? Aku ingin meminta maaf”
“aku sudah maafkan.. hanya saja.. aku tidak ingin kamu mengulangi nya lagi.. mohon mengerti aku,” ketik Aisha sebagai jawaban.
Shin mengetik dengan icon senyumnya,”sepertinya ada yang ingin aku bicarakan lagi.. boleh kan bertemu?? I miss you alot
“modus??,” dalam hatinya Aisha. Dia mendiamkan sejenak dan menggantungnya karena harus makan siang.

he said he misses me alot,” kata Aisha pada Risa lagi
he really does it,” jawab Risa,”kalau dia mau ketemu lu.. ketemu aja, cyn.. gue yakin, dia hanya membahas masalah penting.. sepertinya dia memang tipe cowok yang bicaranya cuma penting-penting aja”
“modus gak sih dia mau ketemuan lagi?? Gue asli sulit percaya lagi...antara logika dan hati gue sudah mulai bersebrangan, Ris,” kata Aisha
Risa senyum,”coba dulu, cyn.. kalau macam-macam.. jangan ragu hajar dia.. lu kan teakwondoin.. berani dong??”
“jelas berani.. terakhir aja gue gampar, hoho,” jawab Aisha. Dia pun menerima tawaran Shin untuk bertemu.

“aku minta maaf atas tingkahku yang lalu,” kata Shin ketika bertemu.
Aisha hanya bisa menggaruk kepalanya, aslinya dia sebel banget sama cowok itu, tapi entah kenapa sebelnya itu dia urungkan juga.
“aku maafkan,” jawab Aisha
Shin tersenyum dan mengatakan terima kasih padanya.
“apa yang ingin dibicarakan??,” tanya Aisha padanya.
“tentang apa yang kamu percayai,” jawab Shin dengan senyum manisnya.
“what do you mean??,”
your belief,” jawab Shin santai
my belief?? As a muslim you mean??,” tentu saja Aisha heran, dia tidak punya kepercayaan lain.
Shin mengangguk saja. Aisha malah menggaruk kepalanya, bingung mau mulai dari mana.
where start to??,” tanya Aisha, bingung mau mulai dari mana.
as you wish.. i just wanna know,” balas Shin.
are you intend to?? Or?? Perhaps you will ask some persons nearby you,” kata Aisha
Shin mengangguk,”actually i can ask some indonesian workers here
Aisha mengangguk. Shin lalu bertanya banyak tentang kepercayaan nya Aisha. Apa yang dilakukan dalam hubungan serius.
so.. should i follow your belief??,” tanya Shin setelah lama mereka bicara
Aisha mengangguk,”but i wont push you.. it must come from your own heart”, sama sekali dia tidak ingin memaksa cowok itu untuk masuk ke dalamnya, tetapi lebih setuju kalau belajar dahulu.
“hal seperti ini menjadi serius dan aku tidak ingin memaksakan kehendak ku... lebih baik belajar mencari dahulu,” kata Aisha.
Shin lalu menjawab kalau dia akan mencari tahu dan belajar.
“lalu.. kenapa kemarin menggampar ku??,” tanya dia.
you cant treat me like that.. i just could be touched by my husband,” jawab Aisha terus terang.
I try to respect it,” jawab Shin
I am so sorry.. but that’s my principle, Shin... i must take care of my own self,” balas Aisha. Dia ingin menjaga diri dengan baik sehingga tidak mudah dilecehkan siapapun.
“aku tidak tahu kalau ada yang seperti itu, Aisha... ,” Shin menjawab jujur karena interaksinya memang sedikit dengan bangsa dan kepercayaan lain.
“kamu..tidak putuskan aku jadi pacar.. karena tidak mau kamu kiss??,” tanya Aisha, mengetest dia
Shin malah jadi tertawa,”untuk apa? Apa aku sejahat itu? hihi”
Aisha malah menunduk hormat,”terima kasih...mau menghargai prinsipku”
Shin malah senyum,”menyenangkan jika bisa punya pacar yang punya prinsip..sebenarnya seperti itu..aku sendiri egoist”
Aisha agak membelalakkan matanya, heran,”eh?? Really?? Aku pikir lelaki tidak suka itu loh?”
“kamu pikir semua lelaki bajingan??,” senyum Shin
“aku minta maaf.. karena yang kutemui seperti itu,” Aisha menunduk
i understand your trauma.. it’s okay for me,” Shin senyum lagi,”so Aisha.. kamu harus mengajarkan saya sedikit demi sedikit, mau kan??”
Aisha mengangguk. Shin mengajukan beberapa pertanyaan tentang hidup dan dia jawab semuanya dengan bahasa yang dimudahkan agar cowok itu faham dasarnya.
“ibadah setiap hari tidak membosankan??,” tanya Shin. Aisha menggeleng.
“hidup memang terlihat sulit ya? Tetapi kalau dijalani..tidak juga.. kita kerja bisa 10 jam perhari..sedang bertemu Dia tidak lebih dari itu,” jawab Aisha
“lalu.. kenapa Tuhanmu tidak terlihat?? Sedang yang lain terlihat,”
“aduh..cowok ini.. super banget tanya nya deh...,” kata hatinya Aisha. Dia lalu menjelaskan dari prinsip fisika materi, immateri, berpadu dengan apa yang dia buka dari kitab.
“memang aneh sekali... tetapi masih aku rasakan masuk akal.. ,” jawab Shin,”aku akan coba mencari lebih jauh”
“aku tidak akan paksa kamu untuk harus mengerti apa yang aku percaya,” balas Aisha.

“Shin..,” kata Aisha lagi. Dia hanya menjawab ya.
“aku hanya takut isterimu tahu,” katanya lagi,”aku tidak mau menyakiti hatinya”
Shin menarik nafas dan menghembuskannya, lalu cemberut,”aku harus bagaimana?? Aku memang suka kamu”
Aisha hanya menopang dagu,”disini tidak bisa begitu”
“sama.. di sana juga,” timpal Shin,”terkadang kamu memiliki kebosanan jika sudah terlalu banyak permintaan”
Aisha bingung ada apa dengan Shin, lantas dia jujur menceritakan kalau dia sudah mulai bosan dengan perempuan banyak meminta. Dia hanya akan penuhi kalau sanggup penuhi dan dia bilang pada Aisha kalau dia lebih suka mengutamakan anak daripada pasangan.
Aisha malah menopang dagu tapi senyum padanya, lalu,”kita sama.. aku berfikiran ..kalau semua harus untuk anak”
Shin juga jadi ikutan tertawa, malah tertawanya lembut sekali,”jadi..mungkin kita ada jalan kesana.. aku fikirkan bagaimana mengurusi semuanya..”
“aku jadi ingin banyak tahu tentang Aisha,” Shin agak mendekat wajahnya pada Aisha.
Aisha malah menjauhkan wajahnya dari cowok itu, sedikit kaget, tapi Shin malah senyum.
“senyumnya bikin gue luluh,” kata hatinya Aisha.
“jadi...tolong aku diajarkan.. aku hanya berusaha menyesuaikan saja,” kata Shin lagi.
Aisha seperti melihat kesungguhannya dalam hubungan itu, tetapi satu sisi dia juga galau, bagaimana prosesnya mereka bisa serius??

“jadi..selama ini..apa yang kamu pikirkan tentang aku??,” tanya Shin padanya. Mereka pindah ngobrol kembali di taman.
Aisha bingung kalau ditanya seperti itu, dia menjawab,”kamu baik.. aku sudah mulai suka kamu”
Shin ternyata berfikir dengan pernyataan “mulai suka”, dia pikir “sama sama suka”.
“padahal aku suka pikirkan kamu sedari berbulan-bulan lalu.. kamu sederhana, manis dan sepertinya bukan suka banyak meminta,” balas Shin
“aku hanya tidak tahu harus bagaimana berhadapan dengan orang yang menyukaiku, Shin,” balas Aisha dengan tatapan aneh padanya.
“dan untuk sekarang..yang coba mengerti tentang kamu adalah aku,” jawab Shin dengan suara lembutnya

Aisha bertanya, kenapa Shin begitu jadi cowok lembut, apa memang sudah dari kecil seperti itu..dan kenapa suka sekali berdandan lama??
“jangan marah.. aku hanya ingin tahu,” lanjutnya lagi.
Shin lalu menjelaskan memang trend disana cowok suka berdandan. Sebenarnya bukan trend baru, sudah agak lama ada istilah seperti cowok metroseksual, memperhatikan penampilan, harus wangi dan elegan. Kalau tidak begitu, apalagi seperti dia yang bekerjanya dibidang marketing dan komunikasi perusahaan, akan jadi hal yang sulit kalau penampilan tidak wangi dan rapi.
“apa dibawa juga ke seharian kamu??,” tanya Aisha masih penasaran,”dan... berapa jam kamu berdandan??”
Shin tidak marah dengan pertanyaan Aisha, dia malah bilang,”jadi... kamu memang tidak pernah dandan lama??”
Aisha menunjukkan angka 5,”lima menit.. aku hanya butuh pakai uv screen karena kulitku kepanasan dan body lotion”
Shin malah tertawa,”what a simple make up... sederhana sekali.. tidak takut dilihat orang jadi terlihat kesannya tidak cantik??”
Aisha menggeleng,”no.. aku tidak takut dibilang jelek... aku tidak mau merepotkan diri terlalu banyak peralatan lenong sih”
peralatan lenong??,” Shin bingung dengan kata itu
Aisha tertawa kecil,”itu artinya.. terlalu banyak membawa alat yang sebenarnya tidak perlu di bawa”

Shin jadi tertawa, dia bilang kalau dia belajar bahasa baru: peralatan lenong. Aisha meledeknya lalu tertawa,”iya.. peralatan lenong mu banyak sekali, Shin Hyu, hahaha”. Tertawanya sangat lepas. Mereka tertawa bersama.
Tapi berikutnya Shin malah diam dan menatapnya.
“mau apa??,” tanya Aisha bingung dengan tatapan mata cowok itu.
no.. tidak jadi.. ah,” jawabnya menoleh, lalu dia ngedumel bahasa korea yang gak dimengerti Aisha.
“kenapa?? Apa yang tidak jadi??,”
no need.. later i am afraid i can’t control it,” jawab Shin. Dia takut lepas kontrol seperti kemarin.
“can’t control like last time??,” tanya Aisha
Shin mengangguk,”sometimes i feel i am hard to control it...last time i imagined myself i slept with you
“that’s why i dont like quite place if i am gonna be with you.. i am also afraid,” senyum Aisha.
Shin mengangguk, tapi dia bicara lagi ngedumel dalam bahasa korea. Aisha bertanya apa yang sedang dibicarakan dia sendirian, karena memang tidak faham bahasa itu.

“apa artinya kalau aku boleh tahu??,” tanya Aisha sangat penasaran
Shin mencoba senyum,”artinya.. mendapatkan kamu penuh perjuangan..susah sekali.. memegang tangan pun mungkin tidak boleh ya? Hehe”
Aisha menggeleng,”tidak boleh juga..”
Shin malah tertawa,”haha.. iya sudah.. tidak mengapa.. aku mencoba mengerti kamu”
“terima kasih,” Aisha menunduk hormat padanya,”terima kasih mau menjaga aku”
“sulit sekali menjaga keinginan untuk kamu,” kata Shin.
Aisha tidak melihat padanya, melihat beberapa orang yang lewat,”itu prinsipku.. aku tidak mau prinsip ku goyah hanya karena aku mungkin saja.. suatu hari nanti belum beruntung mendapatkan siapapun.. aku mungkin pernah salah.. tapi aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama”
“itu baik.. tetapi mungkin kalau lelaki nya tidak mengerti.. mereka akan pergi darimu,” balas Shin.
Aisha mencoba menoleh dan melihat wajahnya,”well.. Shin.. jika memang kamu juga akan pergi.. aku tidak perlu menyesal... dan tidak mau menyesal.. dan aku berpikir.. kemungkinan jika kita terpisah.. bukan salah kita”
“kamu bisa memprediksi hubungan kita??,” tanya Shin, dahinya agak berkerut
“seperti kakek kakek.. dahi mu berkerut,” Aisha malah meledeknya
“Aigoo.. jangan meledek ya.. itu tidak sopan.. aku masih lebih muda dari kamu, sayang,” gerutu balasan Shin. Dia lalu bertanya lagi apa Aisha bisa memprediksi karena kelihaiannya sebagai cewek supranatural.
“aku tidak mau melihat apa yang terjadi dimasa depan.. baik atau buruk.. ,” jawab Aisha tenang, dia mencoba melihat mata Shin.
dont look at me like that.. i am lustful,” jawab Shin. Dia malah jadi berpaling dan melihat banyak bunga di taman umum itu.
“ya ampun.. cowok ini bilang nafsu?? Ckckck,” kata hatinya Aisha.
“tapi.. memang lebih baik tidak melihatnya,” kata Shin lagi,”sebab aku takut.. takut aku merasa sulit mendapatkan semuanya”

“jika aku tidak serius.. aku pasti tidak akan mungkin membiarkan diriku ada disini.. di apartment saja santai bicara dengan isteriku yang jauh,” katanya lagi
Aisha sensitif dengan kata itu, dia tahu bahwa sebenarnya baginya tidak masalah dengan hal itu, tetapi dia heran, kenapa bisa dia diberikan hubungan dengan lelaki sudah beristeri??
Aisha diam saja, dia asli sensitif dengan kata isteri. Mereka diam sejenak.
“ada yang membuat kamu marah??,” toleh Shin padanya
“isteri,” balas Aisha singkat.
Mian habnida.. i am so sorry,” balas nya. Dia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
“apa nasib gue??,” tanya hatinya Aisha,”apa nasib gue.. kalau suka sama dia??”
“tidak mengapa,” balas Aisha,”aku mau pulang.. aku harus pulang.. “, dia berdiri, lalu cowok itu juga berdiri.
“aku minta maaf.. tetapi..aku ingin belajar mengerti kamu dan semuanya.. memperlajari apa yang kamu suka dan tidak suka, itu tidak mudah,” kata Shin
Aisha senyum padanya,”terima kasih.. kamu sangat baik.. entah aku bisa balas apa??”
“aku tidak minta balasan,” jawab Shin santai
Aisha cuma bisa menatap jalan paving di taman itu, otaknya terus berfikir.

Pulang, dia ingin sekali sebenarnya banyak mengobrol dengan Shin tapi hari sudah malam, mungkin esoknya dia akan sibuk sekali dan tidak punya waktu untuk mereka ngobrol. Tapi malam itu, Shin memberikan pesan nya via skype,”esok kita bicara ya.. sekarang aku mengantuk.. mimpi yang indah”
Aisha senyum dengan kalimatnya,”dia memang sepertinya baik.. tapi... apa kamu tidak tahu, Shin?? Kalau aku merasa berdosa dengan isteri mu?”
“kalau lu single, jelas tidak masalah bagi gue..gue akan terima dengan tangan terbuka.. sepertinya gue masih ragu dengan lu pada banyak sisi.. entah.. apa gue rendah kepercayaan pada lu.. apa karena gue memprediksi lagi hubungan kita.. gak tahu.. tapi Shin.. kalau lu terlalu baik sama gue.. gue makin merasa berdosa rasanya sama bini lu”
Sebenarnya dia ingin sekali cerita pada orangtuanya, tapi dia urungkan karena dalam bayangannya, dia takut orangtuanya tidak suka, apalagi karena hubungan yang lalu dengan lelaki yang sudah punya isteri juga. Bisa dibayangkan, orangtua bisa jadi hanya bilang “kamu cuma jadi mainan saja”, seperti pengalaman yang lalu. Iya.. seperti yang lalu.. betapa sakit hatinya Aisha yang sudah berharap lelaki yang dia suka akan serius sekali dengannya, tapi malah ditinggalkan tanpa alasan jelas. Hal itu lah yang membuat traumanya menumpuk, malas untuk membicarakan hal itu dan lebih lagi, terkesan benci dengan mereka. Dia yang serius merasa dikhianati habis-habisan sehingga tidak tahu lagi harus bagaimana jika ada orang baru masuk dalam hatinya.
Dia berdoa, andai memang Shin akan menjadi miliknya, dia akan sangat bersyukur dan jika tidak, dia sama sekali tidak ingin memiliki kebencian setitikpun pada cowok itu karena dia melihat kesungguhan dan keseriusan Shin walau masih harus belajar dari apa yang dia percaya. Aisha juga berfikir tentang kepercayaan yang berbeda, apakah Shin siap memasuki nya dan... kemungkinan dia akan meminta cowok itu menceraikan isterinya?? Aisha jadi berfikir ulang.. apa dia tega? Tega membiarkan pastinya wanita yang sudah memiliki orang yang dicintainya akan dia rebut?? Apa jadinya kalau dia yang menjadi isteri Shin lalu ada yang merebut lelaki itu dari tangannya?? Semakin banyak yang ia pikirkan, semakin galau tak tentu arah.. ketakutannya pada hubungan-hubungan yang telah lalu hanya menambah kerak traumanya... semakin menjadi-jadi...

Bersambung ke part 8....