This is me....

Tampilkan postingan dengan label The Jengkol Heirs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Jengkol Heirs. Tampilkan semua postingan

Rabu, Maret 11, 2015

The Jengkol Heirs (Part 9: Yes.. Ke Korea!!)

Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget.. namanya juga cuma imajinasi..

“Bapak..! Ibu...! Aku pulang!!,” teriak Minho di depan rumah besar mendiang Paijo yang sudah jadi milik keluarga Suparno.
Dia menaruh sepeda ontelnya di samping rumah, menguncinya dengan rantai. Sama sekali dia tidak mendengar sapaannya dari kedua orangtuanya dijawab di dalam rumah.
Tiba-tiba.. masih di depan teras, pandangannya terpaku pada sebuah sepeda motor berwarna hijau, bermerek terkenal dari jepang, motor balap. Selain itu, ada juga beberapa motor lainnya yang diparkir.
Minho melihat motor itu, mengelus-elus bagian sayap motor.
“wah... keren banget...ini pasti motor baru.. mungkin punya abang Yudi?? atau temannya,”

Sabtu, Januari 24, 2015

The Jengkol Heirs (Part 8: Namamu Minho? Artinya: Terang dan Kebaikan.. Itu Nama Orang Korea)

Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..

Minho belajar di kamarnya malam itu selepas dia membantu Suparno mengolah buku keuangan usaha. Tetapi tak berapa lama dia belajar, ayah angkatnya itu memanggilnya lagi. Dia pun menghampiri lagi.
“Ada apa, Bapak??,” katanya lalu duduk di samping Suparno, di teras luar di belakang.
Suparno senyum padanya,”Bantu aku ngitung ini loh, Lek... bapak mu ini sudah susah hitung-hitungan kalau angkanya banyak tenan (sekali),”
Minho melihat kembali buku keuangan usaha ayah angkatnya itu. Dilihatnya memang ada semacam bentuk tabel baru. Dia lalu bertanya, dari siapa ayahnya tahu model mengatur keuangan tabel seperti itu.
“Dari mas mu, Rafa... ta’ tanyain, tapine dia belum mau ajarin aku,” kata Suparno, tertawa,” Bapak mu ini kan cuma lulusan SD, Lek.. ora (tidak) ngerti yang begini-begini”
“Aku lihat dulu deh, Pak.. ini sih sebenarnya enggak susah.. tapi Bapak butuh dua buku.. yang satu buku tebal besar.. yang satu buku tipis,” ujar Minho ketika Suparno menyerahkan lembar cara membuat buku besar dan buku pengeluaran-pemasukan.
“Ora ngarti aku, Lek... Mas mu bilang, kalau pakai buku ini.. nanti Pak’e mu ini bisa lebih gampang ngitung... begitu katanya,”

Senin, Desember 29, 2014

The Jengkol Heirs (Part7: Tanda Gelang Minho)

Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..

Waktu-waktu berlalu... kehidupan terus berjalan.. pagi berganti siang..siang berganti malam.. dan begitu juga kehidupan manusia.. Pagi hari begitu indahnya. Burung-burung berkicauan dengan merdunya, tanda menyambut pagi yang ceria.

Kehidupan berlalu... 15 tahun kemudian...
“Ibu..Bapak.. aku mau pergi sekolah dulu...!,” teriak Minho. Dia sudah besar, sudah jadi cowok usia 17 tahun, tetap tinggal dengan bapak angkatnya, Suparno dan juga ibu angkatnya, Juminah.
Pagi itu setiap sekolah, dia berangkat dengan sepeda nya. Setelah puas mencium tangan dan pipi kedua orangtua angkatnya itu, dia pun pamit.
“Hati-hati naik sepedanya ya, Nak.. jangan ngebut,” teriak Juminah dari ruang tamu.
“Iya, bu..!,” Minho melambaikan tangan, senyum pada ibunya lalu dia pergi ke sekolah dengan mengayuh sepeda.
Juminah menghidangkan teh manis pada Suparno di depan samping rumah yang dipakai untuk mengumpulkan hasil panen jengkol yang sudah dipendam tanah, siap untuk dipasarkan.

Kamis, November 27, 2014

The Jengkol Heirs (Part 6: Aku Sayang Kakak Sri)



Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..

Suparno malam itu masih mencari Yudi. Anak itu baru pulang jam 23.00 malam dan mengkhawatirkan kedua orangtuanya. Tanpa bicara lagi dan tanpa salam, dia main masuk saja rumah besar itu. Tuminah menggeleng kepalanya.
“Lek.. duduk sini karo mbah,” kata Tuminah memanggil Yudi
“aku wes ngantuk, Mbah...sesuk wae.,” balas Yudi malas, dia sudah merasa mengantuk dan harus tidur.
Tuminah yang akhirnya menghampiri Yudi yang masih berdiri di depan pintu.
“Bapak mu masih ono di luar.. dia cari kamu dari magrib ndak ketemu juga.. main di mana kamu, Lek??”
Yudi diam saja, dia main PS sampai lupa waktu.
“kenapa ndak mau jawab?,” tanya Tuminah lagi,” kasian bapak mu cari-cari kamu.. belum pulang juga sampai sekarang”
Tuminah lalu menasehati Yudi supaya tidak menyusahkan kedua orangtuanya dan tidak main terlalu lama. Boleh anak itu bermain tapi jangan sampai lupa waktu.
yo wes, mbah... aku arep sare,” jawabnya dengan wajah tidak enak hati.
Tuminah mempersilahkannya tidur.

Minggu, November 02, 2014

The Jengkol Heirs (Part 5: Memulai Hari Menjadi Anak Juragan Jengkol)

Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..

Mereka hari itu resmi pindah ke rumah mendiang Paijo setelah 3 hari kematian lelaki itu. Ketika sampai dirumah yang besar itu, Minho malah senang sekali, dia berteriak-teriak pada Sri, kakak angkatnya itu.
“Mbak’e.. Eotteon keun jib!! Manse! (rumahnya besar banget... hore!-red),” dia malah bicara pada kakak angkatnya itu dengan bahasa korea, senang kalau rumah barunya besar sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi karena kesenangan.
Jaesaenghal su isseoyo, Mbak’e (aku bisa bebas main-red) ,” kata Minho senang. Dia langsung mengeluarkan mobil-mobilan kulit jeruk walau sudah rusak dan ada yang hilang rodanya, tetap dia berwajah ceria, main dan langsung berlari-lari di ruangan tengah yang besar itu.
Sri tetap tidak faham apa maksud perkataan Minho kecil itu, dia hanya melihat adik angkatnya itu asik berputar-putar bermain dengan mobil-mobilan yang sudah rusak itu.
pean dolan dewek ya, dek.. aku sibuk beres kamar ku dewek,” kata Sri bicara padanya, kalau dia hari itu sibuk harus bereskan kamarnya sendiri, tapi Minho hanya memandang dia, tidak mengerti lalu melanjutkan mainnya.

Kamis, Oktober 23, 2014

The Jengkol Heirs (Part 4: Kamu Jadi Musuhku..Bukan Adikku, Minho!)

Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..

Sri pulang dari sekolah dengan wajah ceria, dia menghampiri ibunya setelah mengucap salam dan cium tangan ibunya.
“Minho ndi, Bu’e?? Aku gawa mainan kanggo Minho,” katanya dengan suara ceria. Ternyata dia membawa mainan mobil-mobilan yang dia buat sendiri dari kulit jeruk bali.
Juminah bilang kalau Minho sedang tidur siang sehabis kenyang makan tadi. Juminah lalu bicara padanya tentang kakek angkat Sri, yaitu Pakde Paijo yang meninggal pagi ini dan langsung dimakamkan siang itu juga. Sri sedih mendengarnya. Paijo memang baik dengannya, suka membelikannya baju karena memang Sri anak perempuan kecil yang penurut dan tidak banyak minta. Dia sadar diri kalau orangtuanya kurang mampu sehingga tidak mau membebani kedua orangtuanya. Sikap itulah yang membuat almarhum Paijo dan isterinya suka dengan anak perempuan sederhana itu dan dianggap cucu mereka sendiri.
Sri pun menyusul ke rumah Paijo dan ikut ke makam orangtua itu, berziarah. Ketika pulang, dia menemukan Yudi sedang memarahi Minho. Sementara Juminah masih berada di rumah almarhum Paijo untuk membantu isterinya Paijo menyiapkan keperluan berdoa nanti malam.

Rabu, Oktober 08, 2014

The Jengkol Heirs (Part 3: Minho Bawa Rejeki Yo, Bu’e)

Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..

“habis sudah harapan kita.. Minho sama sekali tidak ditemukan,” keluh Lee di telepon kedua orangtuanya. Dia dan isterinya masih di kota itu.
Kedua orangtua Lee yang kakek dan neneknya Minho menangis, mereka tidak bisa membayangkan cucu kesayangan mereka hilang di negara yang tidak mereka kenal.
“lalu.. bagaimana lagi kita temukan Minho??,” tanya ibunya Lee, neneknya Minho kepada anaknya itu.
Lee juga bingung dengan nasib anaknya sendiri,”mian habnida.. Appa.. Eomma.. kepolisian di sini sudah menyatakan Minho hilang.. tetapi bukan berarti kasus ini tidak diteruskan.. kedutaan akan tetap membantu kita”
Ibunya Lee shock berat.. dia pingsan.. Ayahnya Lee-kakek Minho- juga hanya terduduk, stress dan sedih dengan berita itu.
“aku minta maaf.. aku lalai menjaga anakku sendiri,” Lee juga akhirnya menangis tersedu-sedu. Dia membayangkan jika dia dan isterinya kembali lagi ke Korea, bagaimana Minho nanti di indonesia?? Apa dia bisa bertahan? Atau akan menjadi korban penculikan dan human traficking/perdagangan manusia?? Dia tidak bisa bayangkan.. rasanya ingin bunuh diri dengan kegagalannya.
Seluruh keluarga Lee sangat sedih, tetapi Lee dan isterinya tetap harus pulang.

Selasa, September 30, 2014

The Jengkol Heirs (Part 2: Pak’e.. Bu’e.. Mbak’e..)

Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..

Esok paginya, Suparno siap-siap berangkat pagi sekali jam 4 subuh untuk pergi bawa gerobak jengkolnya ke rumah juragan jengkol-Paijo- mengambil berkarung-karung jengkol yang sudah dikubur supaya tidak bau dan siap dijual. Tapi dia pesan pada isterinya, Juminah supaya hati-hati menjaga Minho, yang mereka belum tahu siapa nama aslinya.
iki ono gelang nang tangannya, Pak’e.. opo iki jeneng ya??,” tanya Juminah keheranan.
Dilihat mereka ada dua jenis tulisan, satu huruf keriting yang gak mereka tahu artinya dan satu lagi huruf alfabet. Suparno membacanya: “Minho Lee,Seoul,South Korea”. Dia membaca dengan bahasa jawanya yang kental.
“Seoul iku nang ndi, Bu’e??,” tanya Suparno keheranan, ketika dia diberikan gelang itu oleh isterinya dan dibacanya, gelang yang berasal dari plastik dan disegel plastik untuk nama Minho. Seperti gelang untuk anak kecil yang ada di rumah sakit. Sebenarnya itu gelang pertanda supaya ketika anak kecil hilang, bisa tahu namanya siapa dan apa nasionaliti nya.

Rabu, September 24, 2014

The Jengkol Heirs (Part 1: Eommaneun Eodi Isseubnikka?)

Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..

“kamu yakin Nampyeon.. kita akan menikmati liburan indah di Indonesia??,” kata salah seorang isteri lelaki korea di rumahnya di Seoul
Suaminya mengangguk,”aku sudah siapkan visa dan passport kita bertiga.. Minho harus ikut kita.. kasihan dong dia kalau hanya di jaga Eomma dan Appa.. jangan merepotkan mereka.. lagipula.. Minho anak manis.. dia gak rewel kalau kita bawa jalan kemana-mana,”
“tapi Minho baru dua tahun.. berapa lama kita akan liburan disana?? Apa nanti dia tidak mabuk perjalanan??,” tanya isterinya lagi, khawatir anak mereka satu-satunya yang masih kecil itu sakit diperjalanan antar negara yang jauh dan butuh sekitar 10 jam lebih.
“aku rasa tidak.. dia termasuk anak yang kuat.. iya kan, Minho??,” suaminya mencubit pipi anak kecil yang cakep dan manis, yang sedang bermain mobil mobilan remote di ruangan itu