This is me....

Kamis, Oktober 23, 2014

The Jengkol Heirs (Part 4: Kamu Jadi Musuhku..Bukan Adikku, Minho!)

Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..

Sri pulang dari sekolah dengan wajah ceria, dia menghampiri ibunya setelah mengucap salam dan cium tangan ibunya.
“Minho ndi, Bu’e?? Aku gawa mainan kanggo Minho,” katanya dengan suara ceria. Ternyata dia membawa mainan mobil-mobilan yang dia buat sendiri dari kulit jeruk bali.
Juminah bilang kalau Minho sedang tidur siang sehabis kenyang makan tadi. Juminah lalu bicara padanya tentang kakek angkat Sri, yaitu Pakde Paijo yang meninggal pagi ini dan langsung dimakamkan siang itu juga. Sri sedih mendengarnya. Paijo memang baik dengannya, suka membelikannya baju karena memang Sri anak perempuan kecil yang penurut dan tidak banyak minta. Dia sadar diri kalau orangtuanya kurang mampu sehingga tidak mau membebani kedua orangtuanya. Sikap itulah yang membuat almarhum Paijo dan isterinya suka dengan anak perempuan sederhana itu dan dianggap cucu mereka sendiri.
Sri pun menyusul ke rumah Paijo dan ikut ke makam orangtua itu, berziarah. Ketika pulang, dia menemukan Yudi sedang memarahi Minho. Sementara Juminah masih berada di rumah almarhum Paijo untuk membantu isterinya Paijo menyiapkan keperluan berdoa nanti malam.


Mbak’e.. naneun geu jangnangam-eul wonhaneun, huhuhuhu (aku mau mainan itu-red),” Minho merengek pada Sri untuk minta pinjam mobilan tamiya yang ada di tangan Yudi. dia berjinjit dan mau merebut tamiya yang ada ditangan Yudi kakak angkatnya itu. Sri tidak faham dengan bahasa Minho, dia hanya melihat ekspresi adik angkatnya itu ingin merebut mainan dari tangan adiknya sendiri.
Ora olih! Enak wae ngarep mainan ku!,” bentak Yudi pada Minho, dia tidak ijinkan adik angkatnya itu meminjam mainannya. Minho jelas tidak faham dengan bahasa Yudi, dia hanya mau pinjam mainan kakaknya itu.
Yudi mengangkat mainannya tinggi-tinggi, Minho masih berteriak berjinjit, ingin merebut tamiya dari tangan Yudi,”naega wonhaneun, Abang! (aku mau, abang-red)”.
di kasih wae, Yud.. sebentar pinjam,” kata Sri.
Ora sudi! Tuku dewek! Duwe dewek!,” kata Yudi marah pada Sri dan Minho, menyuruh Sri membeli sendiri mainan yang seperti dia punya untuk Minho. Dia lalu mencubit dan mendorong Minho. Minho jatuh lalu dia menangis, pantatnya sakit karena jatuh terdorong.
“kowe ojo galak karo Minho..!,” Sri marah pada adiknya sendiri. Sri berusaha mendiamkannya dengan memberikannya mainan mobilan kulit jeruk bali yang dia buat di sekolah, tapi Minho masih menangis kesakitan dicubit.
“dia badung.. mobilan ku mau direbut!,” bela Yudi pada dirinya sendiri. Dia juga sayang pada mainan tamiya nya. Ternyata Minho berteriak pinjam tamiya itu dengan bahasa yang tidak dimengerti Yudi, Minho berusaha merebut dari tangan Yudi sehingga dia mencubit dan mendorong Minho.
Sri menggendongnya,”ojo nangis, dek.. dolan karo Mbak’e wae.. yuk,” sambil mengelus kepala Minho yang masih menangis. Minho masih teriak minta pinjam Tamiya punya Yudi.

“Mbak manjain dia.. mengko dia dadi musuh aku!,” teriak Yudi pada Sri.
Ojo ngono, Yud.. ndak baik koyo ngono,” bela Sri pada Minho,”lagian.. dia kan masih cilik.. ora ngarti kowe omong opo
Yudi masih marah pada kakaknya sendiri,”alah.. ndak Mbak, ndak Bu’e, ndak Pak’e.. podho bae.. manjain dia!”. Yudi marah diperlakukan tidak adil. Selama hampir sebulan ini memang mereka kelihatannya konsentrasi merawat Minho: membelikannya susu, baju, mainan sederhana sehingga Yudi ternyata iri dengan perlakuan mereka.
kasian Minho, Yudi.. mengko aku bilang Pak’e sama Bu’e kalau kowe wes nyubit dia,” kata Sri, dia jadi mengancam adiknya sendiri
sana bilang karo Pak’e Bu’e.. aku ora wedi.. ,” balas Yudi. Dia lalu berkacak pinggang.
Ojo pengaduan, Mbak...diperhatikaken yo, Mbak’e... kata-kataku.. aku ndak suka sama Minho ki.. ben dia arep opo opo meneh barang barang ku.. aku ora sudi setitikpun! (jangan pengaduan, Kak... kakak perhatikan ya, kata-kataku.. aku gak suka sama Minho.. kalau dia mau barang-barangku apa saja.. aku gak rela setitikpun-red),” katanya lagi pada Sri. Yudi terlihat matanya dendam menyorot pada Minho yang masih berurai air mata minta pinjam tamiya nya.

Sri hanya mengelus-elus kepala Minho sambil memberikan dia mobil kulit jeruk, masih menggendongnya.
ndak salah toh.. kalau aku ngadu??,” kata Sri lagi. Ternyata dia bisa sengit juga pada adiknya itu.
“ben aku dadi Pak’e.. wes ta’ usir Minho ki dari omah ku... (kalau aku jadi bapak, sudah aku usir Minho dari rumahku sendiri-red)“, kata Yudi. Dia marah, dia tidak ingin melihat wajah Minho lagi.
ojo purik.. Minho cuma arep minjem tamiya mu.. bentaran wae ndak mau nggai.. pelit (jangan ngambek, Minho cuma mau pinjam mobil tamiya kamu sementar gak mau kasih, pelit-red),” ejek Sri. Dia tidak suka adiknya sampai marahnya meledak hanya karena adik angkatnya ingin pinjam mainan sebentar saja.

Ta’ bilang karo Pak’e supaya Minho pergi aja dari rumah... ben dadi pengemis.. ngegelandang!!,” kata Yudi lagi. Dia lalu mengambil gelas dari atas meja makan dan membantingnya.
“PYAR!!”, suara gelas milik ayahnya sendiri yang dibanting.
iku punya Pak’e.. dimarahi kamu nanti,” kata Sri, kesal dengan kelakuan adiknya.
Minho yang tidak mengerti mereka bicara apa, karena melihat mereka dengan nada seperti marah-marah, akhirnya dia merasa dirinya dimarahin keduanya, padahal tidak, jadi malah menangis lagi.
“bocah cengeng,” kata Yudi, dia mau menonjok Minho, tapi Sri buru buru menepis tangan adiknya.
“kowe nakal tenan, Yud!,” teriak Sri, akhirnya dia bisa marah juga.
Yudi cuma mengacungkan tinjunya pada Sri, lalu dia pergi membawa tamiya nya.
“ta’ bilangin Pak’e, kowe.. ,” kata Sri. Lalu dia menurunkan Minho dan membersihkan pecahan gelas dengan bersih dan hati-hati supaya tidak terkena kaki orang nanti.
Rumah masih sepi, Sri hanya mengajak Minho main dan makan sama-sama. Sri nangis ketika dia membayangkan kenapa kok adiknya jadi nakal sekali dan pendendam.
“Mbak’e ...,” Minho tiba-tiba berdiri di depannya yang sedang duduk mengerjakan PR, lalu memeluknya.
Sri malah tertawa kecil,”Mbak lagi gawe PR.. disuruh guru.. mengko kalau selesai.. mbak dolan maneh karo Minho.. yo??,”
Minho masih saja memeluk kakak angkatnya itu, Sri merasa Minho mengerti perasaan nya yang lagi sedih. Sri jadi menunda mengerjakan PR nya dan malah mengajak dia main ke rumah Nur, teman akrabnya.

wes gawe PR’e, Nur??,” kata Sri. Dia jadi membawa Minho dan buku PR nya kerumah Nur. Nur menggeleng, lalu mereka mengerjakan PR bersama.
Dilihatnya, Sri ternyata membawa buku gambar dan juga krayon murah yang dia beli di abang penjual mainan untuk Minho, supaya adiknya itu tidak mengganggu kalau mereka sedang belajar.
adek mu ora iso ngomong bahasa endonesah tah, Sri?? Klemen??”, kata Nur dengan logat bahasa jawa yang lain, bertanya kenapa Minho tidak bisa berbahasa indonesia.
kui Minho asale nang Jakarta, Nur.. bibi ku bojo ne mangkat,” Sri malah jadi berbohong pada Nur, bilang kalau Minho anak dari bibi nya yang suaminya meninggal dan dia mengaku kalau pamannya itu yang meninggal orang korea dan Minho jadi susah bicara bahasa Indonesia karena terbiasanya pakai bahasa korea.
bibi mu orang iso nguripi Minho kui.. dadi dikasih ke bapak mu??,” tanya Nur lagi, kenapa tante nya Sri memberikan Minho pada keluarga Suparno supaya terus bisa mencukupi kebutuhan hidup anak itu.
Sri berbohong lagi kalau tante/bibi nya itu di jakarta lebih susah dari keluarganya dan anaknya banyak sehingga Minho harus ikut keluarganya. Nur yang dijelaskan akhirnya jadi biasa saja, tidak bertanya macam-macam.
Minho asik mewarnai, mencorat coret buku gambar yang diberikan Sri sementara Sri dan Nur masih membuat PR bersama. Setelah PR selesai, Sri pun pulang sambil menuntun Minho, berjalan kaki sampai ke rumah.

“darimana, Sri??,” kata Suparno di depan rumah mereka, dia baru sampai dari Kota untuk mengurus surat wasiat dari Paijo. Sri cium tangan pada ayahnya yang memang hampir seharian itu belum bertemu.
Minho langsung berlari kecil menghampiri Suparno dan minta duduk di pangkuannya.
“Pak’e..,” katanya ramah dengan senyum pada Suparno. Suparno membalas senyumnya lalu memangkunya.
“habis ngerjain PR nang omahe Nur, Pak’e,” jawab Sri ramah.
“Pak’e.. tadi aku tuku krayon sama buku gambar untuk Minho.. ganti uang ku ya, Pak’e.. aku arep nabung buat pergi nang Kraton Jogja.. liburan sekolah,” pinta Sri, dia ingin ayahnya mengganti uang saku yang dia belikan crayon dan buku gambar bertema untuk Minho.
Ibu mu durung mulih??,” tanya Suparno pada anaknya, apa isterinya sudah kembali dari rumah Paijo atau belum. Sri menggeleng.
“Pak’e dari mana toh?,” tanya Sri dengan mimik polos. Dia meletakkan bukunya di atas meja depan,”arep minum teh?? Tapi gelas’e di pecahin Yudi,”
Suparno bertanya kenapa Yudi kok bisa memecahkan gelas kesayangannya. Akhirnya Sri cerita kalau awalnya Minho bermaksud meminjam mobil tamiya Yudi tapi tidak dikasih. Lalu Minho memaksa minta. Dia juga cerita kalau Minho dicubit dan di dorong Yudi sampai jatuh. Sri menunjukkan bekas cubitan Yudi pada lengan atas Minho.
ndak sakit kan, Lek?? Barangkali memang abang mu marah karena kamu maksa ya, Lek?? Mengko Pak’e tuku mobilan buat kamu,” Suparno pelan-pelan mengusap bekas cubitan Yudi pada lengan Minho. Suparno memang tergolong orangtua penyabar dengan sikap orang lain, termasuk anaknya kalau nakal. Dia sudah tahu kalau Yudi memang tidak sama sifatnya dengan Sri. Dan ketika tadi Sri cerita kalau Yudi bilang iri pada Minho, dalam hatinya dia berjanji akan memperhatikan Yudi.
“sekarang Yudi kemana??,” tanya Suparno lagi pada Sri.
“kurang tahu aku, Pak’e.. mungkin dolan nang omahe si Amat,” jawab Sri, menunjuk pada teman akrab adiknya itu.
Bapak arep pergi nang omahe Pakde Paijo.. kamu disini sama Minho wae yo.. wes sore ki.. diajak adus,” pesan Suparno supaya nanti kalau sudah sore Minho tolong dimandikan Sri. Sri mengangguk menuruti perintah ayahnya lalu Suparno pun pergi ke rumah almarhum Paijo, persiapan pengajian.

“Bude.. iki surat wasiatne Pakde,” kata Suparno menyerahkan sebundel map yang berisi kertas. Setelah pengajian hari pertama meninggalnya Paijo, mereka berkumpul bertiga saja diruang tengah malam itu.
Isteri Paijo, Tuminah membuka map hijau itu, dilihatnya ada beberapa surat yang ternyata sudah dilaminating dan dibubuhi tanda tangan almarhum suami dan kuasa hukumnya.
Tuminah membaca itu,”dengan ini aku berikan seluruh harta ku berupa kebun, ladang, sawah kepada Suparno bin Adam dan sedangkan rumahku aku berikan kepada isteri ku, Tuminah binti Parto. Jika suatu hari Suparno tidak bisa mengurus nya, maka akan dikembalikan lagi kepada Tuminah binti Parto. Demikian surat wasiat dan kuasa ini aku buat dengan kesadaran penuh dan tidak dipaksa oleh siapapun. Tertanda : Paijo”
Dadi bojo ku ingin kowe sing ngurus semua ladang, sawah karo kebun jengkol tah??,” tanya Tuminah pada Suparno
“Inggih, Bude.. piye??,” Suparno malah bertanya balik. Dia tidak enak karena Almarhum Paijo begitu baik padanya dan dia sangat berhutang budi pada almarhum dan isterinya.
yo wes.. kui wasiat lan amanat.. dijalanken wae,” jawab Tuminah
Suparno mencium tangan ibu angkatnya itu, dia mengucapkan terima kasih dan berusaha tetap akan amanat menjalankan wasiatnya Paijo. Lalu dia bertanya apa ibu angkatnya itu mau tinggal di rumahnya atau tetap dirumah itu saja.
Tuminah memutuskan justru keluarga Suparno sebaiknya tinggal bersama dia dirumah besar ini dan biar saja rumah mereka yang sekarang dikontrakkan kepada orang lain. Rumah Paijo memang besar sekali, kalau isinya hanya Tuminah saja memang kasihan sekali. Suparno menyanggupinya dan bilang kalau besok pagi dia sudah akan menyewa truck kecil untuk memindahkan segala barang yang ada dirumahnya ke rumah Tuminah. Suparno dan Juminah lalu pamit dan cium tangan pada Tuminah, kembali ke rumah.

“ya ampun, nduk... dadi Yudi durung mulih dari sore tadi?,” tanya Suparno pada Sri. Juminah sedang menyiapkan Minho susu. Malam itu sudah jam 10 lewat, sebenarnya sudah waktunya anak-anak tidur kalau tinggal di kampung, tapi Yudi malah belum pulang sama sekali. Sri menggelengkan kepalanya, Suparno lalu pergi mencari Yudi. Dilihatnya memang anak itu sedang main di rumah Amat, sama sekali tidak pulang, asik main saja. Suparno lalu menyuruhkan pulang. Dengan wajah cemberut, Yudi pulang menurut apa kata ayahnya.
Dia melihat Minho dengan tatapan berbeda, dirasakan Suparno dengan tatapan benci. Suparno masih diam saja, belum menasehati anaknya itu. Ketika Yudi melihat Minho dan Minho melihatnya juga, Minho senyum padanya.
“Abang.. pulang,” kata Minho polos. Dia malah memberikan gelas yang masih ada sisa susu yang dia minum pada Yudi, maksudnya menawarkan kakak angkatnya itu minum susu.
Dia lalu menghampiri Yudi dan memberikan gelasnya,“ini..,” katanya lagi, dengan senyum polos.
Suparno senyum dengan tingkah Minho,”abang’e ora gelem susu bekas gelasmu, Lek..”, Juminah tertawa dengan tingkah Minho yang berbaik hati dan tidak pelit. Tapi justru Yudi malah mendorong Minho dan anak kecil itupun jatuh.
RASAKNO! (rasakan-red),” teriak Yudi.
Minho jatuh terduduk lalu menangis, pantatnya sakit lagi karena Yudi mendorongnya dengan keras.
Suparno kaget dengan tingkah anaknya itu, dia langsung menghampiri Minho dan menggendongnya.
“kenapa kamu, Lek?? Kenapa jahat sama adek mu sendiri??,” kata Suparno. Minho masih menangis digendong olehnya dan menjerit-jerit kesakitan.
“sudah, Lek.. sudah.. abang mu marah.. pean jangan nangis ya,” Suparno mengusap-usap rambut Minho supaya anak itu tenang.
“PAK’E, BU’E, SI SRI.. CUMA SAYANG DIA AJA.. KALIAN PILIH KASIH! POKOK’E MINHO DADI MUSUHKU...DUDU ADEKKU!!,” teriak Yudi, dia marah merasa diperlakukan pilih kasih oleh kedua orangtuanya dan kakaknya. Dia lalu membanting mainan tamiya nya sendiri didepan kedua orangtuanya lalu pergi membanting pintu kamar tidurnya.
Suparno dan Juminah geleng kepala dan menarik nafas melihat tingkah anaknya. Mainan tamiya yang sudah dibanting pecah berantakan di depan mereka.

opo iyo, Bu’e.. kita ini pilih kasih sama Yudi??,” tanya Suparno pada isterinya sendiri.
Sri keluar dari kamarnya, kaget dengan teriakan Yudi,“ono opo, Pak’e.. Bu’e??,”
adekmu nesu karo Minho, nduk,” jawab Suparno pelan.
aku wes bilang Pak’e.. tadi Yudi juga nesu karo Minho.. Pak’e ra percoyo aku,” jawab Sri. Dia minta menggendong Minho dari ayahnya. Suparno sore lalu memang seakan tidak percaya dengan cerita Sri kalau Yudi bisa mencubit dan mendorong anak angkatnya itu walau dia memang melihat bekas cubitan anaknya di tangan Minho. Dia pikir Yudi mungkin hanya bercanda, ternyata apa yang dia lihat sendiri seperti apa yang dikatakan Sri.
“iya, nduk.. Pak’e nyuwun pangapunten,” balas Suparno. Dia minta maaf dan mengaku salah tidak mempercayai anaknya sendiri, tapi Sri bukan anak yang pendendam, dia malah senyum sama ayahnya, mungkin ayahnya capek habis mengurusi segala hal tentang kematian kakek angkatnya, Paijo itu.
“tidur sana, Nduk.. besok pean ijin sama wali kelas.. ojo masuk sekolah dulu sakdino... kita arep pindah nang omahe Bude Tuminah,”
“kita arep pindah, Pak’e??,” tanya Sri
iyo.. kasian Bude.. awake sendirian nang omah besar kui.. almarhum Pakde mu minta kita tinggal disana,” jawab Suparno.
wes, Minho.. kita turu... sesok kita pindah.. omahe gede.. kamu bisa dolan sana sini lari,” Sri melihat wajah Minho dengan ceria, kalau mereka pindah, Minho bisa lari-lari main di dalam rumah besar itu. Minho yang tadinya menangis jadi tertawa lihat wajah Sri, dia mengelus pipi kakak angkatnya itu. Sri lalu pamit masuk kamar, Minho tidur bersama nya.

Juminah dan Suparno berfikir tentang Yudi, berdua saja di ruang depan.
“apa memang Yudi itu benar-benar marah karena kita sudah terlalu sayang pada Minho ya, Bu’e?? Padahal aku sama rata.. ndak bedakan dia karo cah cilik kui,” kata Suparno pada isterinya,” Sri bilang, gelasku dipecahken karo Yudi”
aku bakalan ngobrol karo Yudi sesuk, Pak’e,” jawab Juminah. Dia juga jadi berfikir kasihan kalau memang anaknya itu ternyata merasa jadi korban pilih kasih.
“jangan dulu, Bu’e.. besok kita sibuk pindah.. belum lagi tahlilan hari ke 2 Pakde Paijo,” jawab Suparno.
“aku deg-degan sebenarnya ngurusin semua kepunyaannya Almarhum.. amanat itu berat,” lanjut Suparno lagi.
“Pakde almarhum hanya percaya karo Pak’e.. mau diapakan lagi??,” tanya Juminah.
“hati-hati saja lah, Bu’e... harta bisa bikin kalap.. aku akan perhatikaken opo sing Pakde almarhum pesan: ojo dumeh,” kata Suparno lagi. Ojo dumeh adalah istilah jawa untuk tidak bertindak sombong sebagai manusia, jangan mentang-mentang punya lantas bisa melakukan apa saja seenaknya. Dia ingat kisah lamanya yang sebatang kara. Sebenarnya dia adalah korban dari rebutan harta keluarga besar. Ketika kakek-neneknya sudah tidak ada, dalam keluarga besarnya terjadi rebutan harta. Ayah Suparno yang bijak jadi korban salahseorang pamannya sehingga mendapatkan perlakuan tidak adil dan akhirnya meninggal dalam penderitaan. Suparno memang bukan orang yang terlalu banyak menuntut ini-itu alias dia orang yang nrimo. Pamannya yang rakus itu lantas menguasai semua harta keluarga besar dan dia beserta Juminah waktu itu pun diusir. Mereka luntang lantung sana sini sampai akhirnya dipertemukan Tuhan dengan Paijo yang baik hati.

“aku pikir Pakde almarhum bakalan ngasih semua hartane ke Bude Tuminah..,” kata Suparno lagi,” Harta ora digawa mati,”
“kita harus bisa laksanakaken opo sing Pakde almarhum bilang, Pak’e... Bude Tuminah harus kita bahagiaken,” balas Juminah.
“kita wes anggap Bude seperti ibu sendiri.. jadi, Bude ndak boleh tinggal sendirian, kasihan,” lanjut Juminah lagi.
dadi.. sesuk aku urus semuanya, Bu’e.. aku wes ora dodolan jengkol nang pasar meneh,” kata Suparno,”ingatkan aku dadi wong ojo dumeh, yo, Bu’e.. amanat kui berat tenan,”. Dia akan selalu ingat apa pesan dari Paijo almarhum. Sehingga hari ini, Suparno resmi jadi Juragan jengkol dan juga sawah, semua harta benda berupa usaha Paijo almarhum diberikan pada Suparno.

Di kantor kuasa hukum..
“ealah.. iki semua hartane Pakde Paijo??,” kata Suparno kaget dengan list harta yang diberikan kuasa hukum Paijo kepada Suparno siang itu setelah dia mengurusi pemakaman Paijo, dia pergi ke kota, ke kuasa hukumnya Paijo. Martono, kuasa hukum Paijo almarhum mengangguk mengiyakan.
sampean kaya mendadak,” kata Martono. Dilihatnya oleh Suparno memang banyak sekali harta usahanya: ladang jengkol 25 hektar, sawah 5 hektar, belum lagi ladang sayuran, kerbau, traktor olahan, sapi perah dan juga emas simpanan Tuminah di bank dan pastinya uang. Suparno hampir pingsan dengan apa yang dia lihat. Dia hanya tahu memang Paijo orang yang sangat sederhana. Pakaian kesehariannya saja kalau tidak ada undangan hanya berupa kaos singlet putih dengan sarung, asik duduk santai di depan rumah sambil ngopi dan ngobrol sama tetangga. Pesan Paijo padanya ketika lelaki itu masih hidup,”irup kui ibaratne wong ngumbe, mampir sik....datang sebentar.. lalu pergi lagi.. kalaupun kaya.. ojo ditunjukaken ke wong liane,”
Maksudnya kalau hidup ini hanya sebentar saja, kemudian kita akan pergi ke tempat yang sangat lama sekali, jadi kalaupun kita diberikan kelebihan apapun, misalnya kaya, jangan sampai banyak orang tahu sehingga sifat kita jadi sombong merasa punya ini itu.
ki.. almarhum juga suka nyumbang nang panti asuhan.. sampean kudu ngurus,” Martono memperlihatkan sebuah klaim rekening sumbangan Paijo ke yayasan yatim piatu.
“kenapa Pakde almarhum ndak mau angkat anak??,” tanya Suparno dalam hatinya, lalu dia tanyakan pada Martono.
aku ora weru... tapi Pakde Paijo almarhum itu pernah punya anak satu.. tapi meninggal waktu kecil, katanya karena miskin itu, ndak punya duit buat ke dokter, anaknya sakit ndak ketolong,” cerita Martono. Suparno hanya mendengar saja cerita Martono.
aku kie dudu keluargane Pakde Paijo, Pak Martono.. aku kie cuma anak buahe,” cerita Suparno pada Martono. Martono kaget, sebab Paijo sebelum memberikan semua wasiat itu, dia membawa sebuah surat ntah dari mana dia urus, kalau ada surat keterangan kartu keluarga kalau Suparno anak nya yang lain.
beneran kui, Pak Martono.. aku dudu anake Pakde Paijo,” aku Suparno.
lah.. ki piye?? Yo wes lah.. Almarhum wes ngasih kuasa karo sampean.. di tandatangani wae..,” Martono tidak mau ambil pusing, dia lalu memberikan beberapa puluh lembar surat pernyataan yang harus ditanda tangani oleh Suparno yang sebelumnya ditandatangani Paijo semasa dia hidup. Suparno masih bengong saja melihat banyaknya harta yang dipercayakan padanya mulai hari itu.

Sri bernyanyi-nyanyi sebelum tidur sambil dia menepuk-nepuk pantat Minho supaya adik angkatnya itu segera tidur. Tapi Minho malah belajar ikut Sri bernyanyi.
ealah, Dek.. aku wes ngantuk.. ayo turu,” kata Sri, dia sibuk menguap, sudah capek sekali dia hari itu. Dia malah jadi melamun ingat kejadian siang menjelang sore itu, Yudi memarahi Minho.
Tapi Minho diatas tempat tidur malah berguling-guling dan mengajak Sri bercanda.
Mbak’e.. Eonni,” katanya malah iseng dia mencubit-cubit pipinya Sri yang sudah mengantuk
“ojo ngomong boso korea wae toh, Dek.. aku ora ngarti.. pean wes ta’ ajari boso indonesia, masih ora ngarti juga,” jawab Sri.
Minho malah meledek Sri, dia menjulurkan lidahnya, lalu melotot bercanda dan mentertawakan Sri.
pean iseng yo, hehe,” kata Sri, lalu malah menggelitik Minho sampai adiknya itu tertawa renyah.
wes turu... Aku wes ngantuk ki,” kata Sri lagi, dia mengelus-elus kepala Minho supaya tidur.
Pak’e wes dadi juragan loh.. Pak’e bilang, kui karena kita duwe pean,” kata Sri mengulang pembicaraan ayahnya malam sebelum mereka masuk kamar.
duwe...,” Minho mengulang kata yang hanya dia ingat saja dari Sri.
Sri lalu mengajarkan padanya,”duwe.. punya,”
“punyaaaaaaa,” Minho malah menjawab dengan panjang sambil mengangkat kedua tangannya, teriak senang.
Sri mencubit pipinya,”pintar.. besok kita pindah ke rumah Bude Tuminah.. jadi harus tidur.. ayo tidur”, dia membaringkan Minho yang daritadi duduk, menepuk-nepuk pantatnya lagi supaya tidur. Malam berlalu, suasana semakin sepi.

Paginya Suparno sudah bersama dengan seorang supir truck sedang, membawa barang-barang mereka buat pindah ke rumah Tuminah. Yudi cemberut saja ketika dia disuruh menjaga Minho, sementara yang lain sedang membereskan barang-barang.
kamu ndak mau kan.. gawa barang barang mu dewek?? Yo bantu jagain Minho kalau begitu,” kata Sri, dia membawa kotak berisi buku-buku sekolahnya sendiri dari kamarnya, menuju mobil truck. Yudi bilang pada kedua orangtuanya kalau dia malas membantu, Suparno tidak banyak bicara pada anaknya itu, tapi ketika Sri minta Yudi menjaga Minho, Suparno meminta tolong anak lelakinya itu ikut membantu menjaga.
Minho main main saja, mengitar-ngitar halaman rumah sambil dia menarik-narik mainan mobil jeruk bali yang sudah diberi tali rafia, yang kemarin di berikan Sri padanya. Sementara Yudi memperhatikannya dari jauh.
“engggg.........enggggg!,” Minho teriak teriak seolah-olah mobil jeruk bali itu mobilnya beneran. Dia cuek duduk di halaman yang bertanah itu dan memutar mutar mobil-mobilannya.
“mobil, Pak’e!,” katanya teriak dengan suara mungilnya pada Suparno.
Suparno yang sedang mengangkat kursi senyum padanya,”baik-baik yo, Lek.. Pak’e angkat barang sik! Kita arep pindah nang omahe mbah putri Tuminah
Minho masih belum mengerti panjang kalimat mereka, dia lalu cuek lagi main. Juminah, Sri dan juga kenek supir sibuk membantu Suparno angkat barang-barang supaya hari itu mereka bisa beres pindahan. Yudi hanya mengawasi Minho, tatapan matanya tajam pada adik angkatnya itu.

dimanja Pak’e terus.. dasar cah cengeng,” gerutu Yudi pada Minho.
Minho sempat menoleh padanya, senyum dan bilang,”Abang.. Main!!”. Ternyata dia ingin sekali main mobil-mobilan dengan Yudi. Dia lalu berlari menghampiri Yudi.
sana.. pergi.. ora sudi aku dolan karo kowe!,” teriak Yudi pada Minho, dia menolak main dengan Minho. Minho masih belum mengerti, dia tetap saja berlari menuju kakaknya itu.
“main..,” katanya pada Yudi, dia memberikan mainan mobil kulit jeruknya itu pada Yudi.
Tak disangka, Yudi menepis mobil kulit jeruk itu dan jatuh ke tanah. Minho diam saja, dia belum faham arti benci. Dia lalu memungut lagi dan memberikannya lagi pada Yudi.
aku wes bilang kowe.. aku ora sudi dolan karo kowe..!!,” Yudi marah lagi. Dia lalu merebut mobilan itu, dijatuhkannya dan diinjak-injak nya di depan Minho.
Juminah ternyata memperhatikan itu, dia langsung berlari menuju mereka berdua, takut Yudi mencelakakan Minho lagi seperti kemarin.
Ono opo sih, Lek?? Kenapa nesu terus karo adikmu??,” tanya Juminah. Dia mengelus kepala Minho supaya anak itu tidak nangis ketakutan kalau Yudi sedang marah padanya.
“dia dudu adikku, Bu’e...dia orang laen buat aku...aku ora nesu, Bu’e.. dia yang ngajak berantem duluan,” kata Yudi dengan suara menantang, membantah perkataan ibunya sendiri kalau dia sedang marah dan Minho bukan adiknya.
“jangan begitu, Lek..dia itu adikmu walau angkat... dia cuma mau main sama kamu,” kata Juminah lagi dengan sabar.
“main,” kata Minho pada ibu angkatnya itu. Juminah mengangguk.

Sri menghampiri mereka, bertanya ada apa. Lalu dia melihat mobil kulit jeruk mainan yang dia berikan pada Minho, sudah rusak, dia kaget.
“kowe apakan mainan buatan ku??,” tanya Sri pada Yudi.
Yudi diam saja, dia cemberut pada semuanya.
“kowe apakan??,” tanya Sri lagi
wes, nduk.. ntar kamu bisa buat lagi,” kata Juminah, melerai, takut anak-anaknya berkelahi.
dia cuma wani karo Minho, Bu’e.. ora wani karo aku,” kata Sri.
“sopo ora wani karo kowe?? Aku wani!,” Yudi menghampiri Sri, lalu menyenggol badan kakaknya sendiri.
Juminah melerai, memisahkan keduanya,”ojo pada ribut!”
Minho diam saja memperhatikan mereka. Dia lalu mengambil mobil kulit jeruk yang sudah rusak itu dan diberikan pada Sri.
“main.. Mbak’e..,” katanya pada Sri.
mengko ta’ buat sing anyar.. ayo,” Sri menuntut Minho dan meninggalkan ibu dan adiknya.
“cah cengeng di bela,” gerutu Yudi.
“jangan gitu, Lek..dia adikmu,” kata Juminah dengan lembut, dia elus kepala anaknya supaya tidak marah lagi dengan adik angkatnya itu
ora sudi aku ben dia dadi adikku.. pantes’e dadi musuhku,” balas Yudi masih terasa bencinya,”Bu’e selalu bela dia”
ora, Lek.. ndak ono sing bela Minho.. ben dia salah..bakalan ta’ omeli juga,” balas Juminah.
pada ngapusi aku,” gerutu Yudi, lalu dia berjalan saja, pergi tanpa memperhatikan ibunya.
arep kemana toh??,” Juminah setengah teriak pada Yudi, sebab mereka mau pindah rumah, jadi Yudi harus bantu
“kemana aja, Bu’e ra sah tau!,” jawab Yudi tanpa menoleh pada ibunya. Juminah sedih anaknya semakin melawan padanya.

Bersambung ke part 5...