Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..
Sri pulang dari sekolah dengan wajah ceria,
dia menghampiri ibunya setelah mengucap salam dan cium tangan ibunya.
“Minho ndi,
Bu’e?? Aku gawa mainan kanggo Minho,” katanya dengan suara ceria. Ternyata
dia membawa mainan mobil-mobilan yang dia buat sendiri dari kulit jeruk bali.
Juminah bilang kalau Minho sedang tidur
siang sehabis kenyang makan tadi. Juminah lalu bicara padanya tentang kakek
angkat Sri, yaitu Pakde Paijo yang meninggal pagi ini dan langsung dimakamkan
siang itu juga. Sri sedih mendengarnya. Paijo memang baik dengannya, suka
membelikannya baju karena memang Sri anak perempuan kecil yang penurut dan
tidak banyak minta. Dia sadar diri kalau orangtuanya kurang mampu sehingga
tidak mau membebani kedua orangtuanya. Sikap itulah yang membuat almarhum Paijo
dan isterinya suka dengan anak perempuan sederhana itu dan dianggap cucu mereka
sendiri.
Sri pun menyusul ke rumah Paijo dan ikut
ke makam orangtua itu, berziarah. Ketika pulang, dia menemukan Yudi sedang
memarahi Minho. Sementara Juminah masih berada di rumah almarhum Paijo untuk
membantu isterinya Paijo menyiapkan keperluan berdoa nanti malam.
“Mbak’e..
naneun geu jangnangam-eul wonhaneun,
huhuhuhu (aku mau mainan itu-red),” Minho merengek pada Sri untuk minta pinjam
mobilan tamiya yang ada di tangan Yudi. dia berjinjit dan mau merebut tamiya
yang ada ditangan Yudi kakak angkatnya itu. Sri tidak faham dengan bahasa
Minho, dia hanya melihat ekspresi adik angkatnya itu ingin merebut mainan dari
tangan adiknya sendiri.
“Ora
olih! Enak wae ngarep mainan ku!,” bentak Yudi pada Minho, dia tidak
ijinkan adik angkatnya itu meminjam mainannya. Minho jelas tidak faham dengan
bahasa Yudi, dia hanya mau pinjam mainan kakaknya itu.
Yudi mengangkat mainannya tinggi-tinggi,
Minho masih berteriak berjinjit, ingin merebut tamiya dari tangan Yudi,”naega wonhaneun, Abang! (aku mau,
abang-red)”.
“di
kasih wae, Yud.. sebentar pinjam,” kata Sri.
“Ora
sudi! Tuku dewek! Duwe dewek!,”
kata Yudi marah pada Sri dan Minho, menyuruh Sri membeli sendiri mainan yang
seperti dia punya untuk Minho. Dia lalu mencubit dan mendorong Minho. Minho
jatuh lalu dia menangis, pantatnya sakit karena jatuh terdorong.
“kowe
ojo galak karo Minho..!,”
Sri marah pada adiknya sendiri. Sri berusaha mendiamkannya dengan memberikannya
mainan mobilan kulit jeruk bali yang dia buat di sekolah, tapi Minho masih
menangis kesakitan dicubit.
“dia badung.. mobilan ku mau direbut!,”
bela Yudi pada dirinya sendiri. Dia juga sayang pada mainan tamiya nya.
Ternyata Minho berteriak pinjam tamiya itu dengan bahasa yang tidak dimengerti
Yudi, Minho berusaha merebut dari tangan Yudi sehingga dia mencubit dan
mendorong Minho.
Sri menggendongnya,”ojo nangis, dek.. dolan karo Mbak’e wae.. yuk,” sambil mengelus
kepala Minho yang masih menangis. Minho masih teriak minta pinjam Tamiya punya
Yudi.
“Mbak manjain dia.. mengko dia dadi musuh aku!,” teriak Yudi pada Sri.
“Ojo
ngono, Yud.. ndak baik koyo ngono,” bela Sri pada Minho,”lagian.. dia kan
masih cilik.. ora ngarti kowe omong opo”
Yudi masih marah pada kakaknya sendiri,”alah.. ndak Mbak, ndak Bu’e, ndak Pak’e.. podho bae.. manjain dia!”. Yudi marah diperlakukan tidak adil.
Selama hampir sebulan ini memang mereka kelihatannya konsentrasi merawat Minho:
membelikannya susu, baju, mainan sederhana sehingga Yudi ternyata iri dengan
perlakuan mereka.
“kasian
Minho, Yudi.. mengko aku bilang Pak’e sama Bu’e kalau kowe wes nyubit dia,”
kata Sri, dia jadi mengancam adiknya sendiri
“sana
bilang karo Pak’e Bu’e.. aku ora wedi.. ,” balas Yudi. Dia lalu berkacak
pinggang.
“Ojo
pengaduan, Mbak...diperhatikaken yo, Mbak’e... kata-kataku.. aku ndak suka sama
Minho ki.. ben dia arep opo opo meneh barang barang ku.. aku ora sudi
setitikpun! (jangan pengaduan, Kak... kakak perhatikan ya, kata-kataku..
aku gak suka sama Minho.. kalau dia mau barang-barangku apa saja.. aku gak rela
setitikpun-red),” katanya lagi pada Sri. Yudi terlihat matanya dendam menyorot
pada Minho yang masih berurai air mata minta pinjam tamiya nya.
Sri hanya mengelus-elus kepala Minho
sambil memberikan dia mobil kulit jeruk, masih menggendongnya.
“ndak
salah toh.. kalau aku ngadu??,” kata Sri lagi. Ternyata dia bisa sengit
juga pada adiknya itu.
“ben
aku dadi Pak’e.. wes ta’ usir Minho ki dari omah ku... (kalau aku jadi bapak, sudah aku usir Minho
dari rumahku sendiri-red)“, kata Yudi. Dia marah, dia tidak ingin melihat wajah
Minho lagi.
“ojo
purik.. Minho cuma arep minjem tamiya mu.. bentaran wae ndak mau nggai.. pelit
(jangan ngambek, Minho cuma mau pinjam mobil tamiya kamu sementar gak mau
kasih, pelit-red),” ejek Sri. Dia tidak suka adiknya sampai marahnya meledak
hanya karena adik angkatnya ingin pinjam mainan sebentar saja.
“Ta’
bilang karo Pak’e supaya Minho pergi aja dari rumah... ben dadi pengemis.. ngegelandang!!,” kata Yudi lagi. Dia lalu
mengambil gelas dari atas meja makan dan membantingnya.
“PYAR!!”, suara gelas milik ayahnya
sendiri yang dibanting.
“iku
punya Pak’e.. dimarahi kamu nanti,” kata Sri, kesal dengan kelakuan
adiknya.
Minho yang tidak mengerti mereka bicara
apa, karena melihat mereka dengan nada seperti marah-marah, akhirnya dia merasa
dirinya dimarahin keduanya, padahal tidak, jadi malah menangis lagi.
“bocah cengeng,” kata Yudi, dia mau
menonjok Minho, tapi Sri buru buru menepis tangan adiknya.
“kowe
nakal tenan, Yud!,”
teriak Sri, akhirnya dia bisa marah juga.
Yudi cuma mengacungkan tinjunya pada Sri,
lalu dia pergi membawa tamiya nya.
“ta’
bilangin Pak’e, kowe.. ,”
kata Sri. Lalu dia menurunkan Minho dan membersihkan pecahan gelas dengan
bersih dan hati-hati supaya tidak terkena kaki orang nanti.
Rumah masih sepi, Sri hanya mengajak Minho
main dan makan sama-sama. Sri nangis ketika dia membayangkan kenapa kok adiknya
jadi nakal sekali dan pendendam.
“Mbak’e ...,” Minho tiba-tiba berdiri di
depannya yang sedang duduk mengerjakan PR, lalu memeluknya.
Sri malah tertawa kecil,”Mbak lagi gawe PR.. disuruh guru.. mengko kalau selesai.. mbak dolan maneh karo
Minho.. yo??,”
Minho masih saja memeluk kakak angkatnya
itu, Sri merasa Minho mengerti perasaan nya yang lagi sedih. Sri jadi menunda
mengerjakan PR nya dan malah mengajak dia main ke rumah Nur, teman akrabnya.
“wes
gawe PR’e, Nur??,” kata Sri. Dia jadi membawa Minho dan buku PR nya kerumah
Nur. Nur menggeleng, lalu mereka mengerjakan PR bersama.
Dilihatnya, Sri ternyata membawa buku
gambar dan juga krayon murah yang dia beli di abang penjual mainan untuk Minho,
supaya adiknya itu tidak mengganggu kalau mereka sedang belajar.
“adek
mu ora iso ngomong bahasa endonesah
tah, Sri?? Klemen??”, kata Nur dengan logat bahasa jawa yang lain, bertanya
kenapa Minho tidak bisa berbahasa indonesia.
“kui
Minho asale nang Jakarta, Nur.. bibi ku bojo ne mangkat,” Sri malah jadi
berbohong pada Nur, bilang kalau Minho anak dari bibi nya yang suaminya
meninggal dan dia mengaku kalau pamannya itu yang meninggal orang korea dan
Minho jadi susah bicara bahasa Indonesia karena terbiasanya pakai bahasa korea.
“bibi
mu orang iso nguripi Minho kui.. dadi
dikasih ke bapak mu??,” tanya Nur lagi, kenapa tante nya Sri memberikan
Minho pada keluarga Suparno supaya terus bisa mencukupi kebutuhan hidup anak
itu.
Sri berbohong lagi kalau tante/bibi nya
itu di jakarta lebih susah dari keluarganya dan anaknya banyak sehingga Minho
harus ikut keluarganya. Nur yang dijelaskan akhirnya jadi biasa saja, tidak
bertanya macam-macam.
Minho asik mewarnai, mencorat coret buku
gambar yang diberikan Sri sementara Sri dan Nur masih membuat PR bersama.
Setelah PR selesai, Sri pun pulang sambil menuntun Minho, berjalan kaki sampai
ke rumah.
“darimana, Sri??,” kata Suparno di depan
rumah mereka, dia baru sampai dari Kota untuk mengurus surat wasiat dari Paijo.
Sri cium tangan pada ayahnya yang memang hampir seharian itu belum bertemu.
Minho langsung berlari kecil menghampiri
Suparno dan minta duduk di pangkuannya.
“Pak’e..,” katanya ramah dengan senyum
pada Suparno. Suparno membalas senyumnya lalu memangkunya.
“habis ngerjain PR nang omahe Nur, Pak’e,” jawab Sri ramah.
“Pak’e.. tadi aku tuku krayon sama buku gambar untuk Minho.. ganti uang ku ya,
Pak’e.. aku arep nabung buat pergi nang Kraton Jogja.. liburan sekolah,”
pinta Sri, dia ingin ayahnya mengganti uang saku yang dia belikan crayon dan
buku gambar bertema untuk Minho.
“Ibu
mu durung mulih??,” tanya Suparno pada anaknya, apa isterinya sudah kembali
dari rumah Paijo atau belum. Sri menggeleng.
“Pak’e dari mana toh?,” tanya Sri dengan
mimik polos. Dia meletakkan bukunya di atas meja depan,”arep minum teh?? Tapi gelas’e di pecahin Yudi,”
Suparno bertanya kenapa Yudi kok bisa
memecahkan gelas kesayangannya. Akhirnya Sri cerita kalau awalnya Minho
bermaksud meminjam mobil tamiya Yudi tapi tidak dikasih. Lalu Minho memaksa
minta. Dia juga cerita kalau Minho dicubit dan di dorong Yudi sampai jatuh. Sri
menunjukkan bekas cubitan Yudi pada lengan atas Minho.
“ndak
sakit kan, Lek?? Barangkali memang
abang mu marah karena kamu maksa ya, Lek??
Mengko Pak’e tuku mobilan buat kamu,”
Suparno pelan-pelan mengusap bekas cubitan Yudi pada lengan Minho. Suparno
memang tergolong orangtua penyabar dengan sikap orang lain, termasuk anaknya
kalau nakal. Dia sudah tahu kalau Yudi memang tidak sama sifatnya dengan Sri.
Dan ketika tadi Sri cerita kalau Yudi bilang iri pada Minho, dalam hatinya dia
berjanji akan memperhatikan Yudi.
“sekarang Yudi kemana??,” tanya Suparno
lagi pada Sri.
“kurang tahu aku, Pak’e.. mungkin dolan nang omahe si Amat,” jawab
Sri, menunjuk pada teman akrab adiknya itu.
“Bapak
arep pergi nang omahe Pakde Paijo.. kamu disini sama Minho wae yo.. wes sore
ki.. diajak adus,” pesan Suparno supaya nanti kalau sudah sore Minho tolong
dimandikan Sri. Sri mengangguk menuruti perintah ayahnya lalu Suparno pun pergi
ke rumah almarhum Paijo, persiapan pengajian.
“Bude..
iki surat wasiatne Pakde,” kata Suparno menyerahkan sebundel map yang
berisi kertas. Setelah pengajian hari pertama meninggalnya Paijo, mereka
berkumpul bertiga saja diruang tengah malam itu.
Isteri Paijo, Tuminah membuka map hijau
itu, dilihatnya ada beberapa surat yang ternyata sudah dilaminating dan
dibubuhi tanda tangan almarhum suami dan kuasa hukumnya.
Tuminah membaca itu,”dengan ini aku
berikan seluruh harta ku berupa kebun, ladang, sawah kepada Suparno bin Adam
dan sedangkan rumahku aku berikan kepada isteri ku, Tuminah binti Parto. Jika
suatu hari Suparno tidak bisa mengurus nya, maka akan dikembalikan lagi kepada
Tuminah binti Parto. Demikian surat wasiat dan kuasa ini aku buat dengan
kesadaran penuh dan tidak dipaksa oleh siapapun. Tertanda : Paijo”
“Dadi
bojo ku ingin kowe sing ngurus semua ladang, sawah karo kebun jengkol tah??,”
tanya Tuminah pada Suparno
“Inggih,
Bude.. piye??,” Suparno
malah bertanya balik. Dia tidak enak karena Almarhum Paijo begitu baik padanya
dan dia sangat berhutang budi pada almarhum dan isterinya.
“yo
wes.. kui wasiat lan amanat.. dijalanken
wae,” jawab Tuminah
Suparno mencium tangan ibu angkatnya itu,
dia mengucapkan terima kasih dan berusaha tetap akan amanat menjalankan
wasiatnya Paijo. Lalu dia bertanya apa ibu angkatnya itu mau tinggal di
rumahnya atau tetap dirumah itu saja.
Tuminah memutuskan justru keluarga Suparno
sebaiknya tinggal bersama dia dirumah besar ini dan biar saja rumah mereka yang
sekarang dikontrakkan kepada orang lain. Rumah Paijo memang besar sekali, kalau
isinya hanya Tuminah saja memang kasihan sekali. Suparno menyanggupinya dan
bilang kalau besok pagi dia sudah akan menyewa truck kecil untuk memindahkan segala
barang yang ada dirumahnya ke rumah Tuminah. Suparno dan Juminah lalu pamit dan
cium tangan pada Tuminah, kembali ke rumah.
“ya ampun, nduk... dadi Yudi durung
mulih dari sore tadi?,” tanya Suparno pada Sri. Juminah sedang menyiapkan
Minho susu. Malam itu sudah jam 10 lewat, sebenarnya sudah waktunya anak-anak
tidur kalau tinggal di kampung, tapi Yudi malah belum pulang sama sekali. Sri
menggelengkan kepalanya, Suparno lalu pergi mencari Yudi. Dilihatnya memang
anak itu sedang main di rumah Amat, sama sekali tidak pulang, asik main saja.
Suparno lalu menyuruhkan pulang. Dengan wajah cemberut, Yudi pulang menurut apa
kata ayahnya.
Dia melihat Minho dengan tatapan berbeda,
dirasakan Suparno dengan tatapan benci. Suparno masih diam saja, belum
menasehati anaknya itu. Ketika Yudi melihat Minho dan Minho melihatnya juga,
Minho senyum padanya.
“Abang.. pulang,” kata Minho polos. Dia
malah memberikan gelas yang masih ada sisa susu yang dia minum pada Yudi,
maksudnya menawarkan kakak angkatnya itu minum susu.
Dia lalu menghampiri Yudi dan memberikan
gelasnya,“ini..,” katanya lagi, dengan senyum polos.
Suparno senyum dengan tingkah Minho,”abang’e ora gelem susu bekas gelasmu, Lek..”,
Juminah tertawa dengan tingkah Minho yang berbaik hati dan tidak pelit. Tapi
justru Yudi malah mendorong Minho dan anak kecil itupun jatuh.
“RASAKNO!
(rasakan-red),” teriak Yudi.
Minho jatuh terduduk lalu menangis,
pantatnya sakit lagi karena Yudi mendorongnya dengan keras.
Suparno kaget dengan tingkah anaknya itu,
dia langsung menghampiri Minho dan menggendongnya.
“kenapa kamu, Lek?? Kenapa jahat sama adek
mu sendiri??,” kata Suparno. Minho masih menangis digendong olehnya dan
menjerit-jerit kesakitan.
“sudah, Lek.. sudah.. abang mu marah.. pean
jangan nangis ya,” Suparno mengusap-usap rambut Minho supaya anak itu tenang.
“PAK’E, BU’E, SI SRI.. CUMA SAYANG DIA
AJA.. KALIAN PILIH KASIH! POKOK’E MINHO
DADI MUSUHKU...DUDU ADEKKU!!,” teriak Yudi, dia marah merasa diperlakukan
pilih kasih oleh kedua orangtuanya dan kakaknya. Dia lalu membanting mainan
tamiya nya sendiri didepan kedua orangtuanya lalu pergi membanting pintu kamar
tidurnya.
Suparno dan Juminah geleng kepala dan
menarik nafas melihat tingkah anaknya. Mainan tamiya yang sudah dibanting pecah
berantakan di depan mereka.
“opo
iyo, Bu’e.. kita ini pilih kasih sama Yudi??,” tanya Suparno pada isterinya
sendiri.
Sri keluar dari kamarnya, kaget dengan
teriakan Yudi,“ono opo, Pak’e.. Bu’e??,”
“adekmu
nesu karo Minho, nduk,” jawab Suparno pelan.
“aku
wes bilang Pak’e.. tadi Yudi juga
nesu karo Minho.. Pak’e ra percoyo
aku,” jawab Sri. Dia minta menggendong Minho dari ayahnya. Suparno sore
lalu memang seakan tidak percaya dengan cerita Sri kalau Yudi bisa mencubit dan
mendorong anak angkatnya itu walau dia memang melihat bekas cubitan anaknya di
tangan Minho. Dia pikir Yudi mungkin hanya bercanda, ternyata apa yang dia
lihat sendiri seperti apa yang dikatakan Sri.
“iya,
nduk.. Pak’e nyuwun pangapunten,” balas Suparno. Dia minta maaf dan mengaku salah tidak mempercayai anaknya
sendiri, tapi Sri bukan anak yang pendendam, dia malah senyum sama ayahnya,
mungkin ayahnya capek habis mengurusi segala hal tentang kematian kakek
angkatnya, Paijo itu.
“tidur
sana, Nduk.. besok pean ijin sama wali kelas.. ojo masuk sekolah dulu sakdino...
kita arep pindah nang omahe Bude Tuminah,”
“kita
arep pindah, Pak’e??,”
tanya Sri
“iyo..
kasian Bude.. awake sendirian nang omah
besar kui.. almarhum Pakde mu minta kita tinggal disana,” jawab Suparno.
“wes,
Minho.. kita turu... sesok kita pindah.. omahe gede.. kamu bisa dolan sana sini
lari,” Sri melihat wajah Minho dengan ceria, kalau mereka pindah, Minho
bisa lari-lari main di dalam rumah besar itu. Minho yang tadinya menangis jadi
tertawa lihat wajah Sri, dia mengelus pipi kakak angkatnya itu. Sri lalu pamit
masuk kamar, Minho tidur bersama nya.
Juminah dan Suparno berfikir tentang Yudi,
berdua saja di ruang depan.
“apa memang Yudi itu benar-benar marah
karena kita sudah terlalu sayang pada Minho ya, Bu’e?? Padahal aku sama rata.. ndak bedakan dia karo cah cilik kui,”
kata Suparno pada isterinya,” Sri bilang, gelasku dipecahken karo Yudi”
“aku
bakalan ngobrol karo Yudi sesuk, Pak’e,” jawab Juminah. Dia juga jadi
berfikir kasihan kalau memang anaknya itu ternyata merasa jadi korban pilih
kasih.
“jangan dulu, Bu’e.. besok kita sibuk
pindah.. belum lagi tahlilan hari ke 2 Pakde Paijo,” jawab Suparno.
“aku deg-degan sebenarnya ngurusin semua
kepunyaannya Almarhum.. amanat itu berat,” lanjut Suparno lagi.
“Pakde almarhum hanya percaya karo Pak’e..
mau diapakan lagi??,” tanya Juminah.
“hati-hati saja lah, Bu’e... harta bisa
bikin kalap.. aku akan perhatikaken opo
sing Pakde almarhum pesan: ojo dumeh,” kata Suparno lagi. Ojo dumeh adalah
istilah jawa untuk tidak bertindak sombong sebagai manusia, jangan
mentang-mentang punya lantas bisa melakukan apa saja seenaknya. Dia ingat kisah
lamanya yang sebatang kara. Sebenarnya dia adalah korban dari rebutan harta
keluarga besar. Ketika kakek-neneknya sudah tidak ada, dalam keluarga besarnya
terjadi rebutan harta. Ayah Suparno yang bijak jadi korban salahseorang
pamannya sehingga mendapatkan perlakuan tidak adil dan akhirnya meninggal dalam
penderitaan. Suparno memang bukan orang yang terlalu banyak menuntut ini-itu
alias dia orang yang nrimo. Pamannya
yang rakus itu lantas menguasai semua harta keluarga besar dan dia beserta
Juminah waktu itu pun diusir. Mereka luntang lantung sana sini sampai akhirnya
dipertemukan Tuhan dengan Paijo yang baik hati.
“aku pikir Pakde almarhum bakalan ngasih
semua hartane ke Bude Tuminah..,” kata Suparno lagi,” Harta ora digawa mati,”
“kita harus bisa laksanakaken opo sing
Pakde almarhum bilang, Pak’e... Bude Tuminah harus kita bahagiaken,” balas
Juminah.
“kita wes anggap Bude seperti ibu
sendiri.. jadi, Bude ndak boleh tinggal sendirian, kasihan,” lanjut Juminah
lagi.
“dadi..
sesuk aku urus semuanya, Bu’e.. aku wes ora dodolan jengkol nang pasar meneh,”
kata Suparno,”ingatkan aku dadi wong ojo
dumeh, yo, Bu’e.. amanat kui berat tenan,”. Dia akan selalu ingat apa pesan
dari Paijo almarhum. Sehingga hari ini, Suparno resmi jadi Juragan jengkol dan
juga sawah, semua harta benda berupa usaha Paijo almarhum diberikan pada
Suparno.
Di kantor kuasa hukum..
“ealah..
iki semua hartane Pakde Paijo??,” kata Suparno kaget dengan list harta yang diberikan kuasa hukum Paijo
kepada Suparno siang itu setelah dia mengurusi pemakaman Paijo, dia pergi ke
kota, ke kuasa hukumnya Paijo. Martono, kuasa hukum Paijo almarhum mengangguk
mengiyakan.
“sampean
kaya mendadak,” kata Martono. Dilihatnya oleh Suparno memang banyak sekali
harta usahanya: ladang jengkol 25 hektar, sawah 5 hektar, belum lagi ladang
sayuran, kerbau, traktor olahan, sapi perah dan juga emas simpanan Tuminah di
bank dan pastinya uang. Suparno hampir pingsan dengan apa yang dia lihat. Dia
hanya tahu memang Paijo orang yang sangat sederhana. Pakaian kesehariannya saja
kalau tidak ada undangan hanya berupa kaos singlet putih dengan sarung, asik
duduk santai di depan rumah sambil ngopi dan ngobrol sama tetangga. Pesan Paijo
padanya ketika lelaki itu masih hidup,”irup
kui ibaratne wong ngumbe, mampir sik....datang sebentar.. lalu pergi lagi..
kalaupun kaya.. ojo ditunjukaken ke wong liane,”
Maksudnya kalau hidup ini hanya sebentar
saja, kemudian kita akan pergi ke tempat yang sangat lama sekali, jadi kalaupun
kita diberikan kelebihan apapun, misalnya kaya, jangan sampai banyak orang tahu
sehingga sifat kita jadi sombong merasa punya ini itu.
“ki..
almarhum juga suka nyumbang nang panti asuhan.. sampean kudu ngurus,” Martono memperlihatkan sebuah klaim rekening
sumbangan Paijo ke yayasan yatim piatu.
“kenapa Pakde almarhum ndak mau angkat
anak??,” tanya Suparno dalam hatinya, lalu dia tanyakan pada Martono.
“aku
ora weru... tapi Pakde Paijo almarhum itu pernah punya anak satu.. tapi
meninggal waktu kecil, katanya karena miskin itu, ndak punya duit buat ke dokter, anaknya sakit ndak ketolong,” cerita Martono. Suparno hanya mendengar saja cerita
Martono.
“aku
kie dudu keluargane Pakde Paijo, Pak Martono.. aku kie cuma anak buahe,”
cerita Suparno pada Martono. Martono kaget, sebab Paijo sebelum memberikan
semua wasiat itu, dia membawa sebuah surat ntah dari mana dia urus, kalau ada
surat keterangan kartu keluarga kalau Suparno anak nya yang lain.
“beneran
kui, Pak Martono.. aku dudu anake
Pakde Paijo,” aku Suparno.
“lah..
ki piye?? Yo wes lah.. Almarhum wes ngasih kuasa karo sampean.. di tandatangani
wae..,” Martono tidak mau ambil pusing, dia lalu memberikan beberapa puluh
lembar surat pernyataan yang harus ditanda tangani oleh Suparno yang sebelumnya
ditandatangani Paijo semasa dia hidup. Suparno masih bengong saja melihat
banyaknya harta yang dipercayakan padanya mulai hari itu.
Sri bernyanyi-nyanyi sebelum tidur sambil
dia menepuk-nepuk pantat Minho supaya adik angkatnya itu segera tidur. Tapi
Minho malah belajar ikut Sri bernyanyi.
“ealah,
Dek.. aku wes ngantuk.. ayo turu,” kata Sri, dia sibuk menguap, sudah capek
sekali dia hari itu. Dia malah jadi melamun ingat kejadian siang menjelang sore
itu, Yudi memarahi Minho.
Tapi Minho diatas tempat tidur malah
berguling-guling dan mengajak Sri bercanda.
“Mbak’e..
Eonni,” katanya malah iseng dia mencubit-cubit pipinya Sri yang sudah
mengantuk
“ojo
ngomong boso korea wae toh, Dek.. aku ora ngarti.. pean wes ta’ ajari boso
indonesia, masih ora ngarti juga,” jawab Sri.
Minho malah meledek Sri, dia menjulurkan
lidahnya, lalu melotot bercanda dan mentertawakan Sri.
“pean
iseng yo, hehe,” kata Sri, lalu malah menggelitik Minho sampai adiknya itu
tertawa renyah.
“wes
turu... Aku wes ngantuk ki,” kata Sri lagi, dia mengelus-elus kepala Minho
supaya tidur.
“Pak’e
wes dadi juragan loh.. Pak’e bilang, kui karena kita duwe pean,” kata Sri
mengulang pembicaraan ayahnya malam sebelum mereka masuk kamar.
“duwe...,”
Minho mengulang kata yang hanya dia ingat saja dari Sri.
Sri lalu mengajarkan padanya,”duwe.. punya,”
“punyaaaaaaa,” Minho malah menjawab dengan
panjang sambil mengangkat kedua tangannya, teriak senang.
Sri mencubit pipinya,”pintar.. besok kita
pindah ke rumah Bude Tuminah.. jadi harus tidur.. ayo tidur”, dia membaringkan
Minho yang daritadi duduk, menepuk-nepuk pantatnya lagi supaya tidur. Malam
berlalu, suasana semakin sepi.
Paginya Suparno sudah bersama dengan seorang
supir truck sedang, membawa barang-barang mereka buat pindah ke rumah Tuminah. Yudi
cemberut saja ketika dia disuruh menjaga Minho, sementara yang lain sedang
membereskan barang-barang.
“kamu
ndak mau kan.. gawa barang barang mu dewek?? Yo bantu jagain Minho kalau
begitu,” kata Sri, dia membawa kotak berisi buku-buku sekolahnya sendiri dari
kamarnya, menuju mobil truck. Yudi bilang pada kedua orangtuanya kalau dia
malas membantu, Suparno tidak banyak bicara pada anaknya itu, tapi ketika Sri
minta Yudi menjaga Minho, Suparno meminta tolong anak lelakinya itu ikut
membantu menjaga.
Minho main main saja, mengitar-ngitar
halaman rumah sambil dia menarik-narik mainan mobil jeruk bali yang sudah
diberi tali rafia, yang kemarin di berikan Sri padanya. Sementara Yudi
memperhatikannya dari jauh.
“engggg.........enggggg!,” Minho teriak
teriak seolah-olah mobil jeruk bali itu mobilnya beneran. Dia cuek duduk di
halaman yang bertanah itu dan memutar mutar mobil-mobilannya.
“mobil, Pak’e!,” katanya teriak dengan
suara mungilnya pada Suparno.
Suparno yang sedang mengangkat kursi
senyum padanya,”baik-baik yo, Lek.. Pak’e angkat barang sik! Kita arep pindah nang
omahe mbah putri Tuminah”
Minho masih belum mengerti panjang kalimat
mereka, dia lalu cuek lagi main. Juminah, Sri dan juga kenek supir sibuk
membantu Suparno angkat barang-barang supaya hari itu mereka bisa beres
pindahan. Yudi hanya mengawasi Minho, tatapan matanya tajam pada adik angkatnya
itu.
“dimanja
Pak’e terus.. dasar cah cengeng,” gerutu Yudi pada Minho.
Minho sempat menoleh padanya, senyum dan
bilang,”Abang.. Main!!”. Ternyata dia ingin sekali main mobil-mobilan dengan
Yudi. Dia lalu berlari menghampiri Yudi.
“sana..
pergi.. ora sudi aku dolan karo kowe!,” teriak Yudi pada Minho, dia menolak
main dengan Minho. Minho masih belum mengerti, dia tetap saja berlari menuju
kakaknya itu.
“main..,” katanya pada Yudi, dia
memberikan mainan mobil kulit jeruknya itu pada Yudi.
Tak disangka, Yudi menepis mobil kulit
jeruk itu dan jatuh ke tanah. Minho diam saja, dia belum faham arti benci. Dia
lalu memungut lagi dan memberikannya lagi pada Yudi.
“aku
wes bilang kowe.. aku ora sudi dolan karo kowe..!!,” Yudi marah lagi. Dia
lalu merebut mobilan itu, dijatuhkannya dan diinjak-injak nya di depan Minho.
Juminah ternyata memperhatikan itu, dia
langsung berlari menuju mereka berdua, takut Yudi mencelakakan Minho lagi
seperti kemarin.
“Ono
opo sih, Lek?? Kenapa nesu terus karo adikmu??,” tanya Juminah. Dia
mengelus kepala Minho supaya anak itu tidak nangis ketakutan kalau Yudi sedang
marah padanya.
“dia
dudu adikku, Bu’e...dia orang laen buat aku...aku ora
nesu, Bu’e.. dia yang ngajak berantem duluan,” kata Yudi dengan suara
menantang, membantah perkataan ibunya sendiri kalau dia sedang marah dan Minho
bukan adiknya.
“jangan begitu, Lek..dia itu adikmu walau
angkat... dia cuma mau main sama kamu,” kata Juminah lagi dengan sabar.
“main,” kata Minho pada ibu angkatnya itu.
Juminah mengangguk.
Sri menghampiri mereka, bertanya ada apa.
Lalu dia melihat mobil kulit jeruk mainan yang dia berikan pada Minho, sudah
rusak, dia kaget.
“kowe apakan mainan buatan ku??,” tanya
Sri pada Yudi.
Yudi diam saja, dia cemberut pada
semuanya.
“kowe apakan??,” tanya Sri lagi
“wes,
nduk.. ntar kamu bisa buat lagi,” kata Juminah, melerai, takut anak-anaknya
berkelahi.
“dia
cuma wani karo Minho, Bu’e.. ora wani
karo aku,” kata Sri.
“sopo
ora wani karo kowe?? Aku wani!,” Yudi menghampiri Sri, lalu menyenggol badan kakaknya sendiri.
Juminah melerai, memisahkan keduanya,”ojo pada ribut!”
Minho diam saja memperhatikan mereka. Dia
lalu mengambil mobil kulit jeruk yang sudah rusak itu dan diberikan pada Sri.
“main.. Mbak’e..,” katanya pada Sri.
“mengko
ta’ buat sing anyar.. ayo,” Sri menuntut Minho dan meninggalkan ibu dan
adiknya.
“cah cengeng di bela,” gerutu Yudi.
“jangan gitu, Lek..dia adikmu,” kata
Juminah dengan lembut, dia elus kepala anaknya supaya tidak marah lagi dengan
adik angkatnya itu
“ora
sudi aku ben dia dadi adikku.. pantes’e dadi musuhku,” balas Yudi masih
terasa bencinya,”Bu’e selalu bela dia”
“ora,
Lek.. ndak ono sing bela Minho.. ben dia salah..bakalan ta’ omeli juga,”
balas Juminah.
“pada
ngapusi aku,” gerutu Yudi, lalu dia berjalan saja, pergi tanpa
memperhatikan ibunya.
“arep
kemana toh??,” Juminah setengah teriak pada Yudi, sebab mereka mau pindah
rumah, jadi Yudi harus bantu
“kemana
aja, Bu’e ra sah tau!,”
jawab Yudi tanpa menoleh pada ibunya. Juminah sedih anaknya semakin melawan
padanya.
Bersambung ke part 5...