Kamui sudah sampai ke ruangannya sendiri,
dia menelepon bagian manajemen rumah sakit supaya bisa mengatur peralatan
berupa meja, kursi dan yang lainnya untuk Shiori.
Dia lalu meminta Minho membantunya.
“aku sudah punya meja sendiri, ruangan
sendiri.. Lee- sensei.. bisa tolong
berbagi meja mu dan minta kursi tambahan ke staff operasional..15 menit lagi ke
ruanganku”, kata Kamui.
Minho menunduk hormat, “baik,
Kamui-sensei”, lalu dia berjalan keluar ruangan.
Lantas dia langsung membagi mejanya yang
lebar, menelepon staff operasional dan mendatangkan kursi baru. Staff itu pun
datang membantunya menyediakan segala peralatan untuk Fujita, juniornya.
“komputer besok menyusul..aku sudah minta
mereka mengurus semua kebutuhan mu..sampai dengan alat tulis”, kata Minho
serius pada Shiori.
Shiori senyum saja padanya, “no problemo..aku bisa pakai laptop
ku..bisa kutinggalkan disini”
Minho masih serius bicara dengannya, “
yakin kamu tidak membutuh pc? Bukannya laptop kamu butuhkan ditempat tinggalmu
juga?”
“ya sudah, senpai..saya turut saja apa kata senpai”, jawab Shiori, agar
tidakenak hatinya selesai terhadap Minho.
Minho menggeser satu kursi baru lagi
disampingnya, “okay..ini kursimu”
Shiori menunduk hormat, senyum padanya,“thanks, senpai...”
Minho dengan santai
menjawab,”Kamui-sensei.. ingin
kita duduk bersebelahan, bukan kamu ada di belakangku.. ”
Shiori mengerti memang seperti apa yang
dikatakan ayahnya tentang Kamui, bahwa dokter yang satu itu sikapnya memang
santai, tapi bukan berarti dia harus kurang ajar kepada atasannya itu
dikemudian hari.
"oh,
nice.. that would be very great.. aku akan suka sekali bekerjasama dibawah bimbingan Kamui sensei",
katanya, basa basi pada Minho.
Minho sebal begitu melihat kotak yang di
bawa oleh Shiori. Dilihatnya, ada beberapa Barbie dan teddy bear kecil.
Baginya, itu seperti anak-anak saja.
"ya.. tapi jangan cerewet dan jangan
bawa-bawa boneka barbie atau teddy bear di pajang di meja kerja, ini bukan meja
belajar waktu SD", katanya, cuek bicara tanpa basa basi pada Shiori.
Shiori
mulai ketus dan sedikit sensitive dengan perkataan Minho
itu.
"aku
mengerti, Lee-sensei.. tenang saja.. aku tidak akan bermain boneka disini.. aku suka pergi ke ruang anak, untuk
menghibur mereka yang sedih”
Dilihat Shiori, meja Minho memang rapi,
hanya dengan sedikit tumpukan kertas. Sisanya, dia melihat banyak file tersusun
rapi di lemari sebelahnya. Minho
memang tipe cowok rapi dan tidak suka mejanya berantakan atau file ada di
sembarang tempat.
Shiori menggerutu, "meja saja harus
diatur-atur, huh"
Minho mendengar itu walau menatapnya lama
Shiori buru-buru pura-pura gak melihat
wajah juteknya.
Minho menaruh banyak berkas diatas meja Shiori.
"Ini berkas-berkas pasien yang selama
ini aku dan Kamui-sensei tangani.. kalau ada 30 pasien kanker selama ini yang
paling urgent ditangani, jadi sekarang Kamui-sensei tetap membawahi 15 pasien,
kamu dan saya berbagi sama-sama 15 juga.. ditangani bersama. Ini berkas mereka,
dipelajari dulu selanjutnya. Aku juga mau kamu bisa menangani mereka dari segi
pemberian makanan. Bisa berkonsultasi dengan Kitamura-sensei"
Shiori mengambil berkas itu dan
melihat-lihat banyaknya tumpukan file itu.
“bukannya pasien lain masih banyak ya?
Kenapa Cuma 30 orang ini saja yang dianggap penting, sensei?”
Minho menatap Shiori dengan serius.
” mereka yang akan jadi volunteer buat
penelitian kita.”
Shiori langsung matanya terbelalak pada
Minho, kaget sekali.
”what?? Volunteer?? Ini Gila!”
Minho malah otomatis pula menutup mulut
perempuan itu, ”diam ah.. berisik”
Shiori berusaha melepaskan tangan Minho
dari mulutnya.
”pfghagetggffhhttttt...nhseywujdiowpwowhiyb!!!!”
Minho pun melepas tangannya, ”bicara itu
jangan kencang-kencang... tidak baik main asal bicara”
Shiori jelas saja masih kaget, karena
memang biasanya pertama kali dicobakan adalah kepada hewan percobaan misalnya
marmut, tikus, kelinci... bukan dengan manusia.
“Ini kan melanggar aturan, Lee sensei..
kita tidak bisa begitu”
Tapi Minho diam saja, tidak menanggapi
perkataanya.
Agak lama mereka diam, sibuk dengan urusan
masing-masing, akhirnya Shiori angkat bicara juga.
"lalu aku harus mencari apa dulu?
mencari literatur khusus tentang Nano technology dalam pencegahan kanker.. atau?"
Minho menoleh padanya,"itu bagian
ku.. tapi kalau kamu mau mengambil bagian... ya bagus juga..aku merasa
terbantu", sambil senyum tipis
Shiori bergumam saja.
"Nah.. Lee-sensei.. menurutmu apa
bisa.. nano technology digunakan untuk kanker??sebab selama ini kebanyakan
digunakan hanya untuk anti virus atau anti bakteri atau bahkan di
estetika"
Minho menatap yang duduk disampingnya,
"gak percaya kalau nano technology bisa? dimana-mana coba dulu, baru kita
tahu hasilnya..dasar pesimis"
Di katakan seperti itu, Shiori tersinggung
padanya.
"siapa yang pesimis..aku kan cuma
tanya... lagipula, penelitian kita ini terbilang baru kan??"
Minho senyum sinis padanya.
"kamu pesimis.. baca ulang
jurnal-jurnal yang ku berikan tentang nano technology dan kemungkinan untuk
anti kanker jika benar-benar bisa dimasukkan dengan obat kemoterapi.. selama
ribuan tahun saja bisa untuk logam kok..masak untuk kedokteran tehniknya gak
bisa..ngaco"
Shiori rasanya tidak bisa dikalahkan
pendapatnya oleh Minho.
“Aku lebih setuju dengan infra red (sinar
merah)... bagaimanapun, buah-buahan ber fotosintesis dan juga mengalami perkembangan
pada tahapan sinar ini"
Minho malah jadi seperti mengecilkan hati Shiori.
"nano technology.. menurutku lebih
canggih dengan ukuran molekul yang sangat kecil, bahkan kemoterapi saja aku
yakin tidak akan secepat ini nantinya"
Shiori membantah perkataan Minho, "
bagiku tetap infra red..sudah banyak jurnal yang membuktikan"
Minho juga ngotot,"bagiku teknologi
nano.. walau memang belum ada risetnya, tetapi ada jaminan kalau teknologi Nano
bisa untuk membunuh sel abnormal dan tidak bisa apoptosis (membunuh dirinya
sendiri).."
Shiori membalas lagi, "infra
red..bergabung dengan tehnik kemoterapi pemberian panas pada sel kanker dan sel
yang terdekat dengan kanker"
Minho juga membalas lagi, "kemoterapi
dengan nano teknologi tidak mengganggu sel sebelahnya atau yang akan
terkena"
Shiori masih ngotot dengannya sekaligus
menunjukkan ekspresinya, "menurutku masih bagus infra red"
Minho mengalah akhirnya, baginya,
perempuan itu masih seperti anak-anak.
"sudah ah.. sana kamu cari sendiri
bahannya.."
Shiori malah jadi tertawa kecil ketika
Minho akhirnya mengalah padanya.
"hehehehe..akhirnya menang aku..
siap, senpai! (senior)"
Minho memberikan saja literatur banyak
padanya tentang Nano teknologi dan juga penggunaan Infra red. Shiori membacanya
dengan semangat.
Tiba-tiba, telepon berdering.
Minho hanya berkata,“ah.. baik, sensei..”
“Kamui-sensei minta kita masuk ruangannya”,
lanjutnya pada Shiori.
Dan mereka pun masuk, lalu duduk di ruang
meeting kecil..
Kamui berbicara sangat santai dengan
mereka. Pertemuan hanya dengan tiga orang saja.
”bekerja dengan saya harus serius, tetapi
ketika di luar RS ini silahkan kita menjadi seperti kakak adik.. saya tidak
alergi.. tetapi di dalam RS, kita adalah teman sejawat”
Shiori dan Minho mengangguk
bersama,”baiklah, sensei.. terima kasih”
”Shiori-sensei.. tadi Lee sensei sudah
cerita kan.. kalau sensei akan bantu saya dan Lee-sensei untuk penelitian saya.
Penelitian ini bermanfaat bukan untuk saya saja, tapi untuk Lee sensei..dia
bisa naik cepat menjadi dokter spesialis bedah kanker dan untuk Fujita sensei
akan mendapatkan sertifikat nasional khusus untuk management rumah sakit..”
Shiori dan Minho menunduk hormat..
“terima kasih, Kamui-sensei,” jawab Shiori.
”Jadi.. untuk bahan presentasi penelitian
ini, saya lebih berfokus kepada 2 hal.. pertama, akan ada pengujian kepada
pasien tentang penggunaan kemoterapi dengan nano technologi, agar percepatan
kesembuhan pasien lebih dari waktu kemoterapi biasa.. ukuran molekul bisa kita
coba kecilkan sampai dengan 15 nano meter,atau bahkan lebih kecil..saya masih
tunggu penjelasan dari ahli nano teknologi.. beliau memang lebih ke pakar
kecantikan, tetapi saya pikir, bahwa nano tech juga bisa diaplikasikan untuk
pengobatan anti kanker. Kedua... bahwa saya juga tertarik dengan pengobatan
anti kanker dengan tehnik sinar infra merah yang digabung dengan cryosurgeri
tetapi bukan dengan uranium atau bahan radiasi lainnya.. jujur saja, saya anti
bahan kimia yang bersifat radioaktif, seperti untuk penelusuran aliran kanker
di titik-titik getah bening.. membuat saya berfikir bahwa kita memasukkan
radiasi pada pasien... ”, Kamui menjelaskan.
Shiori sepertinya kurang setuju dengan
pemaparan Kamui, lantas dia bertanya lagi, kenapa langsung penggunaan pada
manusia, tidak dicobakan dengan hewan dulu.
Kamui tersenyum dan berusaha menjawab
dengan santai.
”tenang..saya bukan orang sadis yang mau
menggunakan sesama manusia sebagai bahan penelitian saya.. setelah kita
mengajukan proposal kepada kepala RS, Takahashi-sensei, saya merencanakan
menggunakan marmut sebagai bahan, bukan manusia.. manusia akan benar-benar
diaplikasikan ketika keberhasilan terlihat di para marmut tersebut”
”sou
desu ne.. (o jadi begitu ya?)”, balas Shiori.
Kamui mengangguk dan tersenyum
Minho lalu angkat bicara, ”tapi sensei..
bukankah kita juga harus bisa menggunakan obat-obat kemoterapi baru? Padahal
antar pasien kanker juga obat kemoterapinya berbeda, maka akan banyak rentang
penelitian yang akan kita amati”
Kamui tersenyum, ”begitulah.. tetapi kita
harus membatasi.. menurut kalian, kanker apa yang akan kita bahas?”
Shiori menunjuk tangan, Minho meliriknya
lalu senyum tipis
”ca mamae (payudara), Ca pulmo (paru) dan
Ca serviks (leher rahim)?”, jawabnya
Minho malah menyindir,”itu sih maunya
kamu... ”
Shiori meledek seperti anak-anak,
baginya... itu memang angka yang menakjubkan untuk jumlah penderitanya.
”berdasarkan data kesehatan nasional tahun
lalu tentang kanker,maka yang kemungkinan akan menjadi prioritas kita adalah:
ca serviks, ca mamae dan ca pulmo..”, Minho memaparkan data, lalu senyum
melirik Shiori
Shiori tercengang sendiri, ternyata
tebakannya benar,”eh..benar ya ternyata? Hehehehe”
Kamui malah jadi tertawa.
”benar.. jadi sasaran kita adalah 3 pasien
kanker tersebut yang akan dijadikan volunteer atau relawan.. tetapi, ini belum
final.. karena mungkin saja ada perubahan...maka dari itu, kita harus siap
dengan proposal.. tetapi seperti perkiraan saya sebelumnya, saya yakin Takahashi-sensei
akan menyetujui proposal kita karena belum pernah ada disini sebelumnya.”
Minho menunduk hormat,”baik,sensei.. akan
kami usahakan”
Kamui malah terkesan bercanda dengan Shiori.
”Fujita sensei... sering melakukan
percobaan dengan marmut bukan?”
Shiori mengangguk,”biasa, sensei”
Kamui bercanda lagi, ”bagus.. saya pikir
kamu takut.. biar nanti kalau kamu takut, Lee- sensei yang pegang-pegang para
marmut nya,hahahaha”
Minho garuk-garuk kepala yang tidak gatal,
dia memang tidak bisa melawan apa-apa kalau sudah atasannya bercanda.
”ah..baiklah.. kita punya waktu dua minggu
untuk menulis proposal. Lee sensei akan menulis tentang nano teknologi, Fujita-sensei
tentang infra merah.. jadi persiapkan diri kalian.. aku gimana?? Saya akan
mengoreksi proposal kalian dalam satu minggu ini dan akan menambahkan data-data
jika kurang”
Minho dan Shiori mengangguk,
”baik,sensei.. wakarimashita (kami
mengerti)”
Kamui bertanya, sampai jam berapa hari itu
mereka bertugas. Minho dan Shiori sama-sama menjawab sampai jam 8 malam.
”sekarang masih jam 3 sore.. masih banyak
waktu tangani pasien.. Lee- sensei, tolong bantu Fujita sensei kenalan dengan
pasien-pasien di bawah tanggung jawabku...juga dengan divisi-divisi lain yang
berkaitan dengan ku”, pinta Kamui
Minho menunduk hormat,”baik, sensei..”
Kamui senyum,”ok..meeting kali ini
selesai.. sampai jumpa 3 hari lagi dengan kepustakaan, analisis hipotesis dan
metode”
Mereka semua berdiri, menunduk hormat pada
Kamui, lalu keluar ruangan..
“Aku akan temani Fujita-sensei berkeliling
antar divisi,” kata Minho pada Shiori, dengan wajah datar, tanpa senyum.
Shiori mengangguk saja, mengikuti langkah
Minho...
Bersambung...