This is me....

Senin, Juli 08, 2013

DOCTOR'S HEART Part 2: I love being a doctor!

Kamui sudah sampai ke ruangannya sendiri, dia menelepon bagian manajemen rumah sakit supaya bisa mengatur peralatan berupa meja, kursi dan yang lainnya untuk Shiori.
Dia lalu meminta Minho membantunya.
“aku sudah punya meja sendiri, ruangan sendiri.. Lee- sensei.. bisa tolong berbagi meja mu dan minta kursi tambahan ke staff operasional..15 menit lagi ke ruanganku”, kata Kamui.
Minho menunduk hormat, “baik, Kamui-sensei”, lalu dia berjalan keluar ruangan.


Lantas dia langsung membagi mejanya yang lebar, menelepon staff operasional dan mendatangkan kursi baru. Staff itu pun datang membantunya menyediakan segala peralatan untuk Fujita, juniornya.
“komputer besok menyusul..aku sudah minta mereka mengurus semua kebutuhan mu..sampai dengan alat tulis”, kata Minho serius pada Shiori.

Shiori senyum saja padanya, “no problemo..aku bisa pakai laptop ku..bisa kutinggalkan disini”
Minho masih serius bicara dengannya, “ yakin kamu tidak membutuh pc? Bukannya laptop kamu butuhkan ditempat tinggalmu juga?”
“ya sudah, senpai..saya turut saja apa kata senpai”, jawab Shiori, agar tidakenak hatinya selesai terhadap Minho.
Minho menggeser satu kursi baru lagi disampingnya, “okay..ini kursimu”
Shiori menunduk hormat, senyum padanya,“thanks, senpai...”

Minho dengan santai menjawab,”Kamui-sensei.. ingin kita duduk bersebelahan, bukan kamu ada di belakangku.. ”
Shiori mengerti memang seperti apa yang dikatakan ayahnya tentang Kamui, bahwa dokter yang satu itu sikapnya memang santai, tapi bukan berarti dia harus kurang ajar kepada atasannya itu dikemudian hari.
"oh, nice.. that would be very great.. aku akan suka sekali bekerjasama dibawah bimbingan Kamui sensei", katanya, basa basi pada Minho.

Minho sebal begitu melihat kotak yang di bawa oleh Shiori. Dilihatnya, ada beberapa Barbie dan teddy bear kecil. Baginya, itu seperti anak-anak saja.
"ya.. tapi jangan cerewet dan jangan bawa-bawa boneka barbie atau teddy bear di pajang di meja kerja, ini bukan meja belajar waktu SD", katanya, cuek bicara tanpa basa basi pada Shiori.
Shiori mulai ketus dan sedikit sensitive dengan perkataan Minho itu.
"aku mengerti, Lee-sensei.. tenang saja.. aku tidak akan bermain boneka disini.. aku suka pergi ke ruang anak, untuk menghibur mereka yang sedih”

Dilihat Shiori, meja Minho memang rapi, hanya dengan sedikit tumpukan kertas. Sisanya, dia melihat banyak file tersusun rapi di lemari sebelahnya. Minho memang tipe cowok rapi dan tidak suka mejanya berantakan atau file ada di sembarang tempat.
Shiori menggerutu, "meja saja harus diatur-atur, huh"
Minho mendengar itu walau  menatapnya lama
Shiori buru-buru pura-pura gak melihat wajah juteknya.
Minho menaruh banyak berkas diatas meja Shiori.
"Ini berkas-berkas pasien yang selama ini aku dan Kamui-sensei tangani.. kalau ada 30 pasien kanker selama ini yang paling urgent ditangani, jadi sekarang Kamui-sensei tetap membawahi 15 pasien, kamu dan saya berbagi sama-sama 15 juga.. ditangani bersama. Ini berkas mereka, dipelajari dulu selanjutnya. Aku juga mau kamu bisa menangani mereka dari segi pemberian makanan. Bisa berkonsultasi dengan Kitamura-sensei"

Shiori mengambil berkas itu dan melihat-lihat banyaknya tumpukan file itu.
“bukannya pasien lain masih banyak ya? Kenapa Cuma 30 orang ini saja yang dianggap penting, sensei?”
Minho menatap Shiori dengan serius.
” mereka yang akan jadi volunteer buat penelitian kita.”
Shiori langsung matanya terbelalak pada Minho, kaget sekali.
 ”what?? Volunteer?? Ini Gila!”

Minho malah otomatis pula menutup mulut perempuan itu, ”diam ah.. berisik”
Shiori berusaha melepaskan tangan Minho dari mulutnya.
”pfghagetggffhhttttt...nhseywujdiowpwowhiyb!!!!”
Minho pun melepas tangannya, ”bicara itu jangan kencang-kencang... tidak baik main asal bicara”
Shiori jelas saja masih kaget, karena memang biasanya pertama kali dicobakan adalah kepada hewan percobaan misalnya marmut, tikus, kelinci... bukan dengan manusia.
“Ini kan melanggar aturan, Lee sensei.. kita tidak bisa begitu”
Tapi Minho diam saja, tidak menanggapi perkataanya.

Agak lama mereka diam, sibuk dengan urusan masing-masing, akhirnya Shiori angkat bicara juga.
"lalu aku harus mencari apa dulu? mencari literatur khusus tentang Nano technology dalam pencegahan kanker.. atau?"
Minho menoleh padanya,"itu bagian ku.. tapi kalau kamu mau mengambil bagian... ya bagus juga..aku merasa terbantu", sambil senyum tipis
Shiori bergumam saja.
"Nah.. Lee-sensei.. menurutmu apa bisa.. nano technology digunakan untuk kanker??sebab selama ini kebanyakan digunakan hanya untuk anti virus atau anti bakteri atau bahkan di estetika"

Minho menatap yang duduk disampingnya, "gak percaya kalau nano technology bisa? dimana-mana coba dulu, baru kita tahu hasilnya..dasar pesimis"
Di katakan seperti itu, Shiori tersinggung padanya.
"siapa yang pesimis..aku kan cuma tanya... lagipula, penelitian kita ini terbilang baru kan??"
Minho senyum sinis padanya.
"kamu pesimis.. baca ulang jurnal-jurnal yang ku berikan tentang nano technology dan kemungkinan untuk anti kanker jika benar-benar bisa dimasukkan dengan obat kemoterapi.. selama ribuan tahun saja bisa untuk logam kok..masak untuk kedokteran tehniknya gak bisa..ngaco"

Shiori rasanya tidak bisa dikalahkan pendapatnya oleh Minho.
“Aku lebih setuju dengan infra red (sinar merah)... bagaimanapun, buah-buahan ber fotosintesis dan juga mengalami perkembangan pada tahapan sinar ini"
Minho malah jadi seperti mengecilkan hati Shiori.
"nano technology.. menurutku lebih canggih dengan ukuran molekul yang sangat kecil, bahkan kemoterapi saja aku yakin tidak akan secepat ini nantinya"

Shiori membantah perkataan Minho, " bagiku tetap infra red..sudah banyak jurnal yang membuktikan"
Minho juga ngotot,"bagiku teknologi nano.. walau memang belum ada risetnya, tetapi ada jaminan kalau teknologi Nano bisa untuk membunuh sel abnormal dan tidak bisa apoptosis (membunuh dirinya sendiri).."
Shiori membalas lagi, "infra red..bergabung dengan tehnik kemoterapi pemberian panas pada sel kanker dan sel yang terdekat dengan kanker"
Minho juga membalas lagi, "kemoterapi dengan nano teknologi tidak mengganggu sel sebelahnya atau yang akan terkena"

Shiori masih ngotot dengannya sekaligus menunjukkan ekspresinya, "menurutku masih bagus infra red"
Minho mengalah akhirnya, baginya, perempuan itu masih seperti anak-anak.
"sudah ah.. sana kamu cari sendiri bahannya.."
Shiori malah jadi tertawa kecil ketika Minho akhirnya mengalah padanya.
"hehehehe..akhirnya menang aku.. siap, senpai! (senior)"
Minho memberikan saja literatur banyak padanya tentang Nano teknologi dan juga penggunaan Infra red. Shiori membacanya dengan semangat.

Tiba-tiba, telepon berdering.
Minho hanya berkata,“ah.. baik, sensei..”
“Kamui-sensei minta kita masuk ruangannya”, lanjutnya pada Shiori.
Dan mereka pun masuk, lalu duduk di ruang meeting kecil..

Kamui berbicara sangat santai dengan mereka. Pertemuan hanya dengan tiga orang saja.
”bekerja dengan saya harus serius, tetapi ketika di luar RS ini silahkan kita menjadi seperti kakak adik.. saya tidak alergi.. tetapi di dalam RS, kita adalah teman sejawat”
Shiori dan Minho mengangguk bersama,”baiklah, sensei.. terima kasih”
”Shiori-sensei.. tadi Lee sensei sudah cerita kan.. kalau sensei akan bantu saya dan Lee-sensei untuk penelitian saya. Penelitian ini bermanfaat bukan untuk saya saja, tapi untuk Lee sensei..dia bisa naik cepat menjadi dokter spesialis bedah kanker dan untuk Fujita sensei akan mendapatkan sertifikat nasional khusus untuk management rumah sakit..”

Shiori dan Minho menunduk hormat..
“terima kasih, Kamui-sensei,” jawab Shiori.
”Jadi.. untuk bahan presentasi penelitian ini, saya lebih berfokus kepada 2 hal.. pertama, akan ada pengujian kepada pasien tentang penggunaan kemoterapi dengan nano technologi, agar percepatan kesembuhan pasien lebih dari waktu kemoterapi biasa.. ukuran molekul bisa kita coba kecilkan sampai dengan 15 nano meter,atau bahkan lebih kecil..saya masih tunggu penjelasan dari ahli nano teknologi.. beliau memang lebih ke pakar kecantikan, tetapi saya pikir, bahwa nano tech juga bisa diaplikasikan untuk pengobatan anti kanker. Kedua... bahwa saya juga tertarik dengan pengobatan anti kanker dengan tehnik sinar infra merah yang digabung dengan cryosurgeri tetapi bukan dengan uranium atau bahan radiasi lainnya.. jujur saja, saya anti bahan kimia yang bersifat radioaktif, seperti untuk penelusuran aliran kanker di titik-titik getah bening.. membuat saya berfikir bahwa kita memasukkan radiasi pada pasien... ”, Kamui menjelaskan.

Shiori sepertinya kurang setuju dengan pemaparan Kamui, lantas dia bertanya lagi, kenapa langsung penggunaan pada manusia, tidak dicobakan dengan hewan dulu.
Kamui tersenyum dan berusaha menjawab dengan santai.
”tenang..saya bukan orang sadis yang mau menggunakan sesama manusia sebagai bahan penelitian saya.. setelah kita mengajukan proposal kepada kepala RS, Takahashi-sensei, saya merencanakan menggunakan marmut sebagai bahan, bukan manusia.. manusia akan benar-benar diaplikasikan ketika keberhasilan terlihat di para marmut tersebut”
sou desu ne.. (o jadi begitu ya?)”, balas Shiori.
Kamui mengangguk dan tersenyum

Minho lalu angkat bicara, ”tapi sensei.. bukankah kita juga harus bisa menggunakan obat-obat kemoterapi baru? Padahal antar pasien kanker juga obat kemoterapinya berbeda, maka akan banyak rentang penelitian yang akan kita amati”
Kamui tersenyum, ”begitulah.. tetapi kita harus membatasi.. menurut kalian, kanker apa yang akan kita bahas?”
Shiori menunjuk tangan, Minho meliriknya lalu senyum tipis
”ca mamae (payudara), Ca pulmo (paru) dan Ca serviks (leher rahim)?”, jawabnya
Minho malah menyindir,”itu sih maunya kamu... ”
Shiori meledek seperti anak-anak, baginya... itu memang angka yang menakjubkan untuk jumlah penderitanya.

”berdasarkan data kesehatan nasional tahun lalu tentang kanker,maka yang kemungkinan akan menjadi prioritas kita adalah: ca serviks, ca mamae dan ca pulmo..”, Minho memaparkan data, lalu senyum melirik Shiori
Shiori tercengang sendiri, ternyata tebakannya benar,”eh..benar ya ternyata? Hehehehe”
Kamui malah jadi tertawa.
”benar.. jadi sasaran kita adalah 3 pasien kanker tersebut yang akan dijadikan volunteer atau relawan.. tetapi, ini belum final.. karena mungkin saja ada perubahan...maka dari itu, kita harus siap dengan proposal.. tetapi seperti perkiraan saya sebelumnya, saya yakin Takahashi-sensei akan menyetujui proposal kita karena belum pernah ada disini sebelumnya.”
Minho menunduk hormat,”baik,sensei.. akan kami usahakan”

Kamui malah terkesan bercanda dengan Shiori.
”Fujita sensei... sering melakukan percobaan dengan marmut bukan?”
Shiori mengangguk,”biasa, sensei”
Kamui bercanda lagi, ”bagus.. saya pikir kamu takut.. biar nanti kalau kamu takut, Lee- sensei yang pegang-pegang para marmut nya,hahahaha”
Minho garuk-garuk kepala yang tidak gatal, dia memang tidak bisa melawan apa-apa kalau sudah atasannya bercanda.
”ah..baiklah.. kita punya waktu dua minggu untuk menulis proposal. Lee sensei akan menulis tentang nano teknologi, Fujita-sensei tentang infra merah.. jadi persiapkan diri kalian.. aku gimana?? Saya akan mengoreksi proposal kalian dalam satu minggu ini dan akan menambahkan data-data jika kurang”

Minho dan Shiori mengangguk, ”baik,sensei.. wakarimashita (kami mengerti)”
Kamui bertanya, sampai jam berapa hari itu mereka bertugas. Minho dan Shiori sama-sama menjawab sampai jam 8 malam.
”sekarang masih jam 3 sore.. masih banyak waktu tangani pasien.. Lee- sensei, tolong bantu Fujita sensei kenalan dengan pasien-pasien di bawah tanggung jawabku...juga dengan divisi-divisi lain yang berkaitan dengan ku”, pinta Kamui
Minho menunduk hormat,”baik, sensei..”
Kamui senyum,”ok..meeting kali ini selesai.. sampai jumpa 3 hari lagi dengan kepustakaan, analisis hipotesis dan metode”
Mereka semua berdiri, menunduk hormat pada Kamui, lalu keluar ruangan..
“Aku akan temani Fujita-sensei berkeliling antar divisi,” kata Minho pada Shiori, dengan wajah datar, tanpa senyum.
Shiori mengangguk saja, mengikuti langkah Minho...


Bersambung...