Cerita ini cuma iseng saja, jangan dimasukin ke hati.. kalau masih serius
juga.. tanggung sendiri deh..
Pagi
itu hari libur. Minho mendapatkan libur juga
setelah seminggu lebih dia bekerja tanpa henti dari pagi sampai malam. Dia
masih berfikir tentang ibunya yang memaksanya memberikan perhatian yang sangat
dalam soal kesehatan calon bayi mereka. Minho
hanya bisa mengadu pada Matsuda, seperti biasanya.
“Kalau
Tuan Lee masih saja selalu khawatir… sebenarnya, saya pun lebih khawatir lagi
akan kesehatan Nyonya,” kata Matsuda
Minho menyandarkan tubuhnya di kursi
makan, mereka baru saja makan pagi. Matsuda naik ke atas, ke lantai dua,
membantu Chie makan karena ternyata dia mual lagi. Setelah selesai, barulah dia
bicara dengan Minho.
”Matsuda-san tahu.. apa yang Chie-chan
rasakan kepada ibuku?? Sepertinya dia merasa.. kalau ibuku tidak suka
padanya..,” kata Minho, dia sedikit menghela nafas.
”Aku tidak bisa memaksa dia harus seperti perfect woman, wanita sempurna..
sementara ibuku menginginkannya,” lanjutnya lagi
”Saya menyarankan.. Tuan dan Nyonya pergi
bersama lagi ke rumah Tuan.. liburan,” kata Matsuda dengan lembut
Minho lalu menjelaskan, kalau dia semakin
sibuk saja semenjak menjadi kepala divisi. Agak sulit baginya mencari liburan.
Ini saja, dia meluangkan waktunya sebisa mungkin nanti untuk mengunjungi Endo-uisa (dokter) untuk berkonsultasi
bersama dengan Chie.