This is me....

Sabtu, Januari 03, 2015

Heal Me, Doc II (Part 4: Ibu Mertua Tidak Suka Padaku)

Cerita ini cuma iseng saja, jangan dimasukin ke hati.. kalau masih serius juga.. tanggung sendiri deh..

Pagi itu hari libur. Minho mendapatkan libur juga setelah seminggu lebih dia bekerja tanpa henti dari pagi sampai malam. Dia masih berfikir tentang ibunya yang memaksanya memberikan perhatian yang sangat dalam soal kesehatan calon bayi mereka. Minho hanya bisa mengadu pada Matsuda, seperti biasanya.
“Kalau Tuan Lee masih saja selalu khawatir… sebenarnya, saya pun lebih khawatir lagi akan kesehatan Nyonya,” kata Matsuda
Minho menyandarkan tubuhnya di kursi makan, mereka baru saja makan pagi. Matsuda naik ke atas, ke lantai dua, membantu Chie makan karena ternyata dia mual lagi. Setelah selesai, barulah dia bicara dengan Minho.
”Matsuda-san tahu.. apa yang Chie-chan rasakan kepada ibuku?? Sepertinya dia merasa.. kalau ibuku tidak suka padanya..,” kata Minho, dia sedikit menghela nafas.
”Aku tidak bisa memaksa dia harus seperti perfect woman, wanita sempurna.. sementara ibuku menginginkannya,” lanjutnya lagi
”Saya menyarankan.. Tuan dan Nyonya pergi bersama lagi ke rumah Tuan.. liburan,” kata Matsuda dengan lembut
Minho lalu menjelaskan, kalau dia semakin sibuk saja semenjak menjadi kepala divisi. Agak sulit baginya mencari liburan. Ini saja, dia meluangkan waktunya sebisa mungkin nanti untuk mengunjungi Endo-uisa (dokter) untuk berkonsultasi bersama dengan Chie.


”Menurut Matsuda-san.. apa rumah tanggaku dapat bertahan baik??,”
Matsuda kaget dengan pertanyaan Minho baru saja. Rasanya mereka baru menikah kurang dari 3 bulan, kenapa secepat ini tuannya bicara hal itu?
”Aku tidak suka banyak orang mencampuri rumahtanggaku,” kata Minho. Dia memang aslinya tipe sensitif yang ingin mandiri dan tidak ingin orang turut campur keputusan dia, termasuk dia tidak suka ketika ibunya terkesan mengatur rumahtangga mereka.
”Aku tahu.. Chie-chan merasakan itu.. tapi.. aku sudah berbohong dihadapannya.. dia ternyata lebih peka dariku,” Minho baru menegakkan tubuhnya dari bersandar di kursi makan, lalu melipat kedua telapak tangannya.
”Saya yakin Tuan Lee sama sekali tidak ingin biduk rumahtangga ini hancur.. saya bisa merasakan bagaimana perjuangan Tuan yang lalu untuk mendapatkan Nyonya.. jangan sampai hal itu terjadi,”
Minho yang tidak mau diatur juga pada dasarnya tipe orang yang patuh pada kedua orangtuanya. Dia sulit membantah, tapi juga disatu sisi keras kepala. Kemarin-kemarin itu, dia berhasil menikahi Chie Nakamura dengan keras kepalanya. Ternyata ibunya menginginkan hal yang lebih dari Minho bayangkan.
”Lebih baik kita berusaha sekeras mungkin daripada memikirkan hal yang akan terjadi, itu menurut pandangan saya, Tuan,” ujar Matsuda
”Ya,” jawab Minho singkat, lalu dia meminta tolong pada Matsuda supaya membantu menyiapkan Chie untuk pergi bersamanya mengunjungi Endo.
                                                            ...................
Di rumah sakit...
Endo berdiri, tersenyum pada Chie dan menunduk hormat padanya.
”Hello, Nakamura-san.. apa kabar??,”
Chie membalas tundukan hormat Endo,” aku baik... aku harap, Endo-sensei (dokter) juga baik”, katanya sambil terkekeh. Moodnya bagus. Minho memintanya duduk.
”Aku dengar.. Nakamura-san masih mual dan muntah.. apa vitamin dari ku.. diminum rutin??,” senyum Endo, memulai pembicaraan. Dia memberikan tanda pada Minho supaya tidak ikut campur menjawab, ingin kejujuran langsung dari Chie.
Chie mengangguk mengiyakan. Lalu Endo bertanya, apa saja yang masih dirasakan dia dalam proses kehamilannya itu.
”Aku masih sangat mual.. aku ingin muntah,” jawab Chie memelas.
Sumimasen (maaf), Endo-sensei.. pagi ini, dia sampai muntah tiga kali,” ujar Minho. Dia bilang kalau khawatir sekali, karena sudah mau masuk bulan ke empat, belum ada perubahan juga, sama sekali belum berkurang.
”Kamu tidak memberi makanan yang membuat dia berubah sikap kan, Lee-sensei??,” tanya Endo dengan mimik serius. Sebab kasus seperti Nakamura butuh perhatian khusus.
Minho menggeleng,” tidak, aku sesuai dengan apa yang ku pelajari.. tetapi mungkin darahnya memang harus di test lagi. Sepertinya vitamin gabungan dari mu belum efektif, Sensei,
Endo berfikir, kasus seperti memang penuh kehati-hatian,”aku memberikan resep ini.. sedikit lebih tinggi kombinasinya, masih sama dengan yang kemarin,”
Dilihatnya ada beberapa jejeran tambahan asam amino, Vitamin B kompleks, Folat, Selenium dan Zink. Minho berkenyit, sebab dosisnya sedikit naik. Lalu dia bertanya, apa hal ini aman untuknya atau tidak.
”Makannya memang malas, kadang aku paksa,” keluh Minho.
”Itu yang saya pikirkan, Lee-sensei.. sebab kebutuhan pribadinya saja tinggi,” balas Endo,”semestinya proses nya sudah selesai..bulan depan sudah memasuki tahap ke dua.. dan sebenarnya tidak ada lagi mual atau bahkan muntah.. ,”
”Aku terkadang pingsan,” celetuk Chie
Endo kaget,”benarkah??,”
Chie mengangguk, Minho menjelaskan,”Tapi.. itu kalau dia sedang banyak pikiran..sebenarnya tepatnya bukan pingsan..dia hanya lelah,” jawab Minho
”wah... Lee-sensei.. membuat aku kaget.. bisa jadi, karena karbohidratnya itu tidak terserap baik,” ujar Endo.
”tidak ada salahnya saya tambahkan dosis itu,” lanjutnya lagi
Minho lalu membicarakan tentang apa yang harus dilakukan jika sampai bulan ke empat dan enam masih ada morning sickness seperti bulan sebelumnya.
”Apakah Nakamura-san merasa sangat lemas?,” tanya Endo pada Chie
Dia mengangguk. Lalu Endo bertanya lagi apakah dia sampai tidak bisa bangun, hanya mau berbaring saja seharian, tidak makan, atau bahkan ingin melakukan sesuatu/makan sesuatu yang tidak biasa.

”Crayon, kertas, plastik,” ujar Minho dengan keluhan.
Tapi Chie malah tertawa lihat Minho mengeluh. Minho menoleh padanya, sementara Endo malah senyum, berusaha mengerti psikologis Chie.
”Aku tidak makan itu.. yang makan bayi kita, Minho-kun.. ,” tawa Chie pada Minho
”Alasan kamu, Chie-chan.. sebenarnya tidak seperti itu,” balas Minho ketus.
”Itu sebabnya aku menambahkan Iron dan folatnya, Lee-sensei.. semoga bisa lebih dikurangi,” ujar Endo, lalu dia senyum pada Chie,”Hal seperti itu tidak baik, Nakamura-san... walau bayi kalian yang meminta”
”Tidak ada permintaan seperti itu.. bayi kita pintar,” ujar Minho, menatap wajah Chie
Chie pasang wajah memelas dan sedih,”Ya.. baiklah Minho-kun.. aku janji tidak akan memakan itu lagi”
Endo tersenyum melihat itu, lalu,”Kalau sudah diminum vitamin dengan baik, harap Nakamura-san tidak ragu hubungi saya kalau merasakan sakit lagi”
Chie mengangguk pada Endo. Minho lalu bicara dengan Endo bagaimana seharusnya dia memperlakukan Chie. Dia memang khawatir isterinya itu kalau sudah muntah berkali-kali dan ingin makan atau mengunyah yang aneh-aneh. Endo memberikan bimbingan pada Minho soal kesehatan hormon dan juga semuanya, termasuk kemungkinan bayi mereka akan sehat fisik dan mental. Agak lama mereka disana sampai akhirnya pulang kembali.
                                                            .............................

Minho dijalan hanya berfikir saja, dia merasa belum ada perubahan yang berarti dalam diri Chie soal kehamilannya. Dia tetap selalu ingat akan janji dengan ibunya. Kegusarannya makin tajam kalau dia mengingat itu, dimanapun.
Chie sepertinya merasa Minho sedang galau, dia melihat Minho dengan tajam.
Minho malah membalas dengan senyum,” ada apa??”
”Aku merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman pada Minho-kun,” jawabnya santai.
Minho mencoba menyembunyikannya, dia masih saja tersenyum,” Ah.. aku tadi berfikir bersama dokter Endo tentang kesehatanmu, Chie-chan.. semestinya mual mu sudah selesai bulan ini”
”Tapi.. Endo-sensei akan memberikan aku tadi obat bukan??,” tanya Chie
Iie.. bukan obat.. tapi vitamin.. supaya Chie-chan tidak selalu mual dan muntah..,” jawab Minho
”Baik, Minho-kun... tapi.. apa ibu sudah tahu, kalau aku sudah mau sembuh??,” mendadak Chie malah bertanya tentang ibu.. yang tentu saja ibunya Minho.
Minho masih melihat jalan, masih menyetir, dia berbicara pada Chie tanpa melihatnya,” Ibu sudah tahu.. dan itu sebabnya, Ibu ingin Chie-chan sehat,”
”Apa ibu bicara tentang bayi kita lagi??,”
Minho mengangguk dengan jawaban Chie,” Ibu meminta Chie-chan menjaga bayi kita”. Minho menoleh sebentar dan senyum, lalu kembali konsentrasi menyetir.
”Tapi.. entah mengapa, Minho-kun...,” ujar Chie lagi. Seperti dia ragu ingin mengucapkan sesuatu.
”kenapa??,” Minho penasaran, dia teringat lagi perkataan Chie beberapa waktu lalu soal sepertinya ibunya Minho tidak suka padanya. Apakah Chie akan membahas hal ini lagi?

Ternyata benar! Dia berkata lagi pada Minho dengan polosnya,” sepertinya... Okaasan..tidak menyukaiku,”
Minho berhenti, dia mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya.
Lalu, dia memandang Chie,” kata siapa Chie-chan berkata itu??,” padahal, Minho sudah tahu jawabannya waktu itu. Dia pura-pura lupa.
”aku dan bayi kita, Minho-kun,” lagi-lagi jawabannya sama dengan apa yang pernah dia ucapkan dulu.
Minho mengelus kepalanya,” ah.. hahaha.. itu bohong... Okaasan tetap cinta dengan Chie-chan dan bayi kita.. percaya aku”, dan dia tersenyum padanya.
Minho lalu mengatakan padanya, kalau memang ibunya khawatir sekali dengan kesehatan Chie dan bayinya, tapi bukan berarti benci.
”sepertinya.. Minho-kun tidak mempercayaiku lagi,” ujar Chie, dia benar-benar polos menyampaikan perasaannya.
Minho menoleh dengan mata yang sedikit terbelalak dan heran, kenapa pasangannya itu semakin hari semakin seperti bisa membaca perasaan hubungan dia dengan ibunya dan ibunya dengan Chie.
”percaya padaku, Chie-chan.. okaasan tidak seperti itu.. aku sedang mencari waktu yang tepat untuk kita kembali ke rumah beliau.. seperti waktu itu..kita berlibur lagi,” kata Minho dengan senyum manisnya.

Chie minta Minho mencium pipinya, dia itu menurut saja. Lalu, Chie memeluk Minho di dalam mobil itu. Ternyata dia menangis.
Minho berusaha mendiamkannya, Chie kalau sudah menangis suka lama dan kadang terlalu dibuat drama. Dia menyadari kesabaran dan keteguhan hidupnya bertambah bersama dengan perempuan itu, suatu hal yang mungkin lelaki biasa akan malas jika hidup bersama dengan perempuan berkepribadian seperti Chie Nakamura.
ii yo.. sudah.. sudah.. tidak perlu khawatir lagi, Chie-chan.. Eomma.. Okaasan tidak seperti itu,” bujuk Minho padanya. Chie masih dipelukannya tersedu-sedu.
Minho tidak bisa senyum atau tertawa. Semakin lama Chie memeluknya, dia semakin memang merasakan, kalau perempuan itu memang sedang merasakan ketidaksukaan ibunya atas hubungan mereka. Walaupun Chie mengatakan itu adalah karena perasaan si bayi, tetap saja, Minho merasa.. sebenarnya Chie lah yang merasakan itu dengan sangat terbaca olehnya.
”Kalau Chie-chan menangis terus.. kasihan bayi kita..dia bisa ikut sedih di dalam sini,” bujuk Minho berkali-kali. Walau begitu, dia tetap menangis. Minho mendiamkan saja sambil terus mengelus kepalanya.
Hampir 1 jam berlalu, barulah Chie diam. Minho melepaskan pelukannya dan senyum.
”sudah tenang?,” tanya Minho dengan lembut. Chie mengangguk saja. Minho mengambil tissue organik dan menyeka air matanya.
Nakanaide kudasai (jangan menangis lagi)... ,” lanjutnya lagi
”setelah dirumah... aku mau melukis, Minho-kun,” pinta Chie, wajahnya masih pucat dan sembab hasil dari menangis hampir 1 jam tadi.
Minho mengangguk menyanggupi. Lalu dia lanjutkan menyetir pulang.
                                                            .............................

”aku tidak bisa bercerita yang lain soal ini kecuali kepadamu, Matsuda-san.. dan aku sungguh khawatir Chie-chan dapat makin gelisah tentang ibuku sendiri,” kata Minho pada pengasuhnya Chie, mereka sedang duduk di ruang keluarga. Minho memang hanya bisa bercerita padanya segala keluhan interaksinya pada perempuan separuh baya itu, karena dia yang dianggap paling mengerti tentang Chie.
”Aku akan bantu Tuan supaya Nyonya tetap tenang.. sewaktu Nyonya kecil, kalau dia marah memang hanya ada dua pilihan, mengamuk terus atau menangis tanpa henti... dua-duanya dapat membuat bayi kalian sakit,”
”Yeah.. aku khawatir sekali, Matsuda-san.. ini pertaruhan besar sepanjang hidupku,” ujar Minho. Dia duduk dengan melipat kedua tangannya, satu telapak tangan menutup mulutnya, berfikir keras.
”Apa yang Lee-san lakukan terhadap Nyonya sudah sangat benar dalam pandanganku.. tidak mudah bagi kita untuk memahami jiwanya.. beruntung Nyonya mendapatkan Tuan,” kata Matsuda.
Minho senyum tipis dengan perkataan Matsuda,” sebenarnya aku lebih mengkhawatirkan ibu ku lagi...dan juga hidupku.. aku tidak ingin berpisah dari anakku nanti.. apapun kondisinya..,”
”Tetapi.. jika ibuku memaksa begini.. jika nanti aku bersikeras hati dengan pendirianku..dan ternyata... anak ku akan bermasalah di sisi kejiwaannya.. aku tidak tahu harus bagaimana.. aku sendiri.. tidak tega menyakiti keduanya.. menyakiti orangtuaku.. juga Chie-chan”
”Sabar, Lee-san.. kita hanya menunggu waktu sambil berusaha.. dan.. sudah kita lihat.. banyak sekali perubahan pada Nakamura-san..,” ujar Matsuda.
Minho mengangguk, mengiyakan. Hal ini harus ia yakinkan lagi kepada ibunya, agar ibunya tidak terlalu negative kepada Chie dan percaya, menantunya itu akan melahirkan anak sehat dan normal.

Di kamar...
” Ah... telepon Minho-kun berbunyi,” Chie mendengar suara panggilan dari HP Minho. Dia lekas menghampiri dan melihat.
”Ibu??,” tanya dirinya sendiri, yang dimaksud memang ibunya Minho.
Minho tidak akan mendengar memang kalau dia ada di bawah. Chie masih melihat HP itu agak bergetar dan berputar karena getarannya, sambil juga berdering lemah.
”Apa aku harus mengangkatnya?,” katanya masih melihat.
Lalu, dia pun nekad mengangkat panggilan itu.
Moshi-moshi,” katanya ramah, tertawa kecil.
”Chie-chan??,” Tanya ibunya Minho.
Chie mengangguk.
”kemana Minho kun?? Aku ingin bicara dengannya,” kata ibunya Minho lagi.
Chie diam.
”Hello?? Apa Minho-kun ada, Chie-chan??,” tanya ibunya Minho lagi
Chie langsung menjawab,” mengapa ibu tidak ingin bicara denganku? Salahku apa??”
Mayuko-ibunya Minho- kaget dengan penuturan menantunya itu.
Tapi Chie langsung memberondong dengan pertanyaan lain,” Apa ibu tidak suka aku?? Tapi aku dan bayi kami, cinta dengan ibu,”
”Aku ingin ibu cinta kami..,” lanjutnya lagi
”Ibu cinta dengan kamu, Chie-chan.. juga dengan anak kalian,” jawab Mayuko dengan tanpa ragu, dia sembunyikan ketidak sukaannya.
Chie diam sejenak, lalu,”aku tidak merasakan itu... bayiku juga berbicara padaku seperti itu, Ibu.. kenapa?? Kenapa ibu benci aku dan bayi ku??,”
Dia malah akhirnya menangis kencang. Mayuko bingung dengan tingkah laku Chie.

Minho yang sedang berada di lantai bawah yang mendengar Chie menangis keras, langsung kaget dan dia berlari menaiki tangga, takut isterinya itu celaka atau mencelakakan dirinya.
Minho langsung membuka pintu,” ada apa, Chie chan??”
Dilihatnya, Chie sedang menangis, tapi salah satu tangannya sedang memegang handphone nya, sedang satunya lagi sedang memegang perutnya yang sudah mulai terlihat hamil.
”Minho-kun.. ibu... jahat, huhuhuhuhu,” dia langsung melempar Hp Minho, Minho lekas menangkapnya agar tidak jatuh, terbanting ke lantai dan rusak.
”Chie-chan.. dengar ibu dulu!,” teriak Mayuko di telepon dari kejauhan sana.
Minho langsung melangkah mendekati Chie dan memeluknya, sambil tangan satunya lagi tetap memegang handphone.
”Sudah.. sudah.. Ibu tidak jahat, Chie-chan,” kata Minho. Suaranya itu terdengar oleh Mayuko.
”Minho-kun.. aku tidak bisa menduga sikap isterimu itu,” kata Mayuko, membuka pembicaraan dengan Minho.
Mian habnida, Eomma.. aku benar-benar minta maaf.. aku tidak sangka kalau Chie-chan yang mengangkat teleponnya.. maaf,” kata Minho. Dia masih berusaha memeluk Chie dengan juga mengelus kepalanya agar tenang.
”Kenapa dia bisa bilang seperti itu? Apa semua wanita dengan ASD itu begitu kacau jiwanya??,”
Minho merasa tersinggung dengan ibunya sendiri yang berkata seperti itu, tetapi, dia mencoba tahan, dia tidak ingin semuanya membuat kepalanya pusing dan jadi sulit berfikir.
”Chie-chan memang sedikit cengeng kalau moodnya sedang sedih, ibu..,” jawab Minho,”Tapi.. ibu tidak usah khawatir.. ini masih bisa diatasi”
Sementara, ibunya dari kejauhan justru malah mendengar Chie menangis tanpa henti.
Minho sibuk mengusap kepalanya supaya diam.
”Dia sampai berkata, kenapa aku benci dengannya dan juga anak kalian..,” kata ibunya lagi

”Aku minta maaf, Ibu.. memang terkadang ada yang sangat sensitif,” jawab Minho
”keterlaluan.. ,” balas ibunya, lalu,”apa dia sehat dan tidak ada yang membuat dia sakit akhir-akhir ini??”
Minho mengangguk, dia katakan Chie baik-baik saja. Dia berbohong supaya ibunya tidak lama bertanya ini-itu. Tapi hal itu tidak membuat ibunya puas.
”kenapa dia tidak selesai juga menangisnya??”,
Minho lupa, dia tidak lekas mengakhiri pembicaraannya dengan sang ibu.
”hari ini kami baru saja konsultasi dengan Endo-sensei, Ibu.. sensei bilang.. Chie-chan agak kurang vitamin dan mineralnya.. mungkin itu sebabnya agak sedikit sedih,”
”Haahh.. apa kamu  tidak pernah kepikiran dulu sedari awal, Minho-kun.. kamu terlalu beresiko mencintai dan hidup bersama seseorang yang begini,” keluh ibunya
Minho merasa banget kalau memang dia selalu dikritik ibunya tentang hubungannya. Dia tetap ingin cuek, bukan berarti menentang, tapi..dia ingin menjalani hidupnya tanpa bisa dicampuri dengan oranglain, walau itu termasuk kedua orangtuanya. Ayahnya justru yang mengerti tentangnya, dan juga tentang Chie.
Chie masih menangis, sementara Minho jadi pusing juga dengar ocehan ibunya di telepon.
”Iya, baik ibu.. aku sadar itu..aku sadar tentang perjanjian kita..aku akan usahakan yang terbaik,”
”Apa iya.. kamu bisa hidup begini dengan isteri yang sering menangis seperti itu?? Bagaimana nanti anak mu ke depannya??,”
Minho tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya baru saja. Dia hanya menjawab dengan,” aku usahakan yang terbaik untuk semuanya”
Akhirnya, ibunya pun menutup telepon.

Minho memeluk Chie yang masih menangis,” sudah.. kenapa sih.. kamu sedih sekali hari ini?? Ibu tidak marah denganmu, Chie-chan.. ibu hanya ingin kamu dan bayi kita sehat”
Chie menjawab dengan terisak-isak,” sama sekali aku tidak merasakan itu, Minho-kun.. aku merasakan ketidaksukaan ibu tentang ku..”
Minho sibuk saja terus mengelus-elus kepala isterinya itu. Dia tidak habis pikir, kenapa justru perasaan Chie terhadap ibunya makin benar. Minho tidak ingin berpisah darinya. Baginya, ada banyak pelajaran hidup dia dapat ketika bersama perempuan ini.
”Tidak, Chie-chan.. ibu tidak seperti itu.. aku mengerti kamu sedih.. tetapi.. ibu tidak seperti itu,” jawab Minho, senyum dan tetap memeluknya dengan lembut.
Chie memeluk pinggang Minho erat-erat, dia merasa ketakutan kalau nanti Ibunya Minho tetap tidak sayang padanya. Minho berkali-kali dengan redaksi yang sama mengatakan dengan sabar dan lembut, kalau itu semua tidak benar, itu semua tanda sayang ibunya kepadanya, juga kepada bayinya.
”aku..tidak akan dipisahkan dengan bayi kita kan... Minho-kun??,” tanya Chie lagi ketika mereka sejenak hening. Minho masih sabar memeluknya, membiarkan Chie memeluk pinggangnya sambil menyembunyikan wajahnya di dada Minho dan terisak.
”Tidak, Chie-chan.. ibu tidak punya pikiran seperti itu, sayang,” jawab Minho.
Dia menghela nafas sedikit, dia sudah berbohong pada Chie. Satu sisi, itulah rasa bersalahnya, berbohong pada orang yang dicintainya.
”Bagaimana kalau itu terjadi, Minho-kun??,”
Ani.. Iie (tidak).. tidak akan terjadi, Chie-chan.. aku juga cinta bayi kita.. kalau dipisahkan.. berarti aku juga akan dipisahkan dari bayi kita.. itu tidak boleh terjadi,” senyum Minho. Padahal, hatinya sudah sangat sedih dengan perkataan Chie.
”dia begitu memahami perasaannya sendiri.. Chie-chan.. maafkan.. aku sudah berbohong padamu,” dalam hatinya Minho, dia menangis.
Minho memeluk kepalanya dengan lembut, mencium puncak kepala Chie. Merasakan hangatnya suhu tubuh perempuan itu. Tak terasa bagi Chie, sebenarnya, air mata Minho mengalir. Dia membayangkan, bagaimana masa depannya dengan perempuan itu. Sama sekali tidak ada dipikiran Minho selintas pun, kalau dia akan menyakiti Chie suatu hari nanti. Cinta yang menurutnya bisa dia korbankan, hanya untuk perempuan itu. Cinta Minho sudah terpatri pada diri perempuan itu. Kekurangan Chie yang bertubi-tubi justru malah menjadikan semangat hidup Minho makin menjadi.
Di tempat kerjanya, Minho semakin dihargai rekan kerja. Dia sering membawa Chie untuk berbicara dengan para rekan kerja dari satu Rumah sakit ataupun beda rumahsakit. Dia bangga memiliki Chie dalam ketidaksempurnaannya. Minho merasa, justru hidupnya tidak lengkap jika tidak ada Chie disampingnya, seperti ketika dulu, Chie harus pergi ke Paris untuk belajar. Minho terus memeluk kepalanya dan mencium puncak kepalanya Chie, rasa sayangnya semakin bertambah.

Matsuda berada di depan pintu kamar yang sedari tadi terbuka.
”Lee-san.. apa yang terjadi??,” katanya dengan pelan
Minho mendongakkan kepalanya yang tadi tertunduk, mencoba mengusap air matanya sendiri.
”Ah..sumimasen, Matsuda-san.. tidak ada apa-apa”, jawab Minho
Matsuda mengatakan permisi lalu dia masuk ke kamar mereka.
”sepertinya.. ibu Tuan Lee memaksa kembali?,”
Minho mengangguk,” aku tidak bisa melawan kehendak Ibuku, Matsuda-san”, jawab Minho, pelan
Matsuda lalu membujuk Chie supaya melepaskan pelukannya dari Minho.
”Nyonya.. harus istirahat..aku sudah buatkan makan malam yang enak untuk Tuan dan Nyonya.. ada juga kue kesukaan Nyonya Chie.. dengan strawberry,” senyum Matsuda lembut pada Chie
Chia malah memeluk Matsuda dan menangis,” Ibu.. tidak cinta aku dan bayi ku,”
Matsuda kembali mengelus kepalanya,” tidak begitu, Nyonya.. Ibunya Tuan Lee sangat sayang dengan Nyonya Chie.. makanya memperhatikan Nyonya sekali.. ibunya Tuan Lee..ingin nyonya sehat, bayi juga sehat... itu namanya perhatian.. bukan tidak cinta”
”Ibu memarahiku.. rasanya.. aku ingin pergi saja,” kata Chie lagi

Minho membujuknya supaya tidak menangis lagi dan makan kue bersamanya.
”Chie-chan ingat kan... kalau kita suka makan kue sama-sama?? Aku suapi ya?? Mau kan??,” bujuk Minho, dia mencium pipinya Chie
Matsuda senyum,” Tuan Lee cinta loh..dengan Nyonya Chie.. ayo..jangan sampai kue nya jadi tidak enak..”
Minho memegang tangannya Chie dengan lembut, lalu dia berjongkok,” aku dengar dulu ya... Aka-chan (bayi) kita bicara apa dengan ku??”, bujuk Minho lagi.
Chie mengangguk walau air matanya masih menetes. Minho seperti orang yang sedang bicara dengan seseorang bayi hidup diluar kandungan. Dia mengepalkan tangannya, membuat seperti stetoskop yang ditempelkan ke perut Chie.
”Oh.. hallo?? Iya.. Aka-chan bilang... Chie-chan jangan menangis.. aka-chan ikut sedih loh,”
Matsuda senyum dengan tingkah Minho yang menghibur Chie.
Chie lalu tertawa kecil, terkekeh melihat tingkah Minho,” aka-chan.. berbicara apa tentangku, Minho-kun?? Sepertinya, dia lebih dekat dengan Minho-kun..”
”Iya kan.. ibu Matsuda??,” dia menoleh pada Matsuda dan Matsuda membalas dengan mengiyakan. Moodnya berubah lagi jadi lebih gembira setelah Minho mencoba bercanda.
”sebentar.. ,” jawab Minho. Lalu dia mendekatkan kupingnya pada perut Chie
” Aka-chan.. ingin Chie Eomma (ibu) tetap senang dan bahagia.. aka-chan tidak suka Chie Eomma sedih.. aka-chan jadi ikut sedih,” senyum Minho.
”Benar kah??,” tanya Chie dengan wajah serius.
Minho mengangguk mengiyakan.
”Apa aka-chan suka juga dengan kue strawberry??,” tawa kecil Chie ada lagi
Minho lagi-lagi mendekatkan kupingnya pada perutnya Chie. Matsuda jadi ikutan tertawa, menutupi mulutnya, menahan tawanya.
”Tuan Lee benar-benar suami dan ayah yang baik.. yokatta desu ne (syukurlah),” kata Matsuda
Minho senyum pada Matsuda. Lalu dia berdiri lagi, tetap di depan Chie, senyum di depannya.
”Aka-chan lapar loh.. ayo kita makan... jangan sampai Aka-chan nanti tidak mau makan.. jadi.. Chie-chan harus makan,”
”Aka-chan..suka juga kue strawberry buatan Matsuda-san??,” tanya Chie dengan wajah polos.
Minho mengangguk,” suka sekali.. aka-chan..suka dengan apa yang dimakan Chie-chan”
Chie menoleh pada Matsuda, lalu senyum senang degan penuh semangat,” baiklah, Matsuda-san..aku mau makan.. walau perutku mual.. aku mau makan bersama Aka-chan!”
Minho malah mengucek-kucek kepalanya,” Begitu.. aka-chan pasti akan senang makan juga”. Dia menggandeng tangan Chie dan mengajaknya menuruni tangga untuk makan.

Chie bernyanyi-nyanyi menuruni tangga. Dia duduk di depan meja makan dengan senang hati. Minho memang menepati janjinya untuk menyuapi dia makan. Matsuda senang sekali Tuan dan Nyonya nya bahagia.
”Aku mau ini lagi!,” teriak Chie menunjuk pada kue strawberry itu
Minho memotong lagi dan menyuapinya,” enak kan?? Hehe”
Chie mengangguk senang,” aku rasa.. aka-chan bahagia sekali bisa makan juga bersama kita, Minho-kun”, imajinasinya jalan lagi.
Minho mengangguk,” itu sebabnya..aku tidak ingin Chie-chan terlalu sedih.. kasihan Aka-chan nanti.. dia bisa sakit loh”
Chie serius memperhatikan Minho,” benarkah??”
Minho mengangguk serius menanggapi ekspresinya Chie,” iya... benar.. Chie-chan jadi harus bahagia selalu.. berjalan pagi, olahraga, menari, melukis.. apa saja yang membuat Chie-chan dan aka-chan juga senang”
Chie memperhatikan nasehat Minho dengan mata yang berbinar. Minho sebenarnya ingin tertawa kalau sudah seperti itu. Tapi, mengingat daritadi dia sibuk mendiamkan dan menenangkan Chie, dia ingin serius.
”Jadi..aku harus bahagia selalu.. aku bahagia dengan Minho-kun.. juga ibu Matsuda.. iya kan?,”
Matsuda mengangguk,” dan aku senang bisa membantu Nyonya”
”Kalau begitu.. aku mau makan yang banyak,” kata Chie dengan semangat. Dia membuka mulutnya, meminta Minho menyuapinya.
Akhirnya Minho tertawa juga, sampai menggema di seluruh ruang makan itu.
”aku senang, Minho-kun,” kata Chie, sambil mengunyah kue.
Minho terus tertawa melihat tingkah laku Chie yang lucu, mengunyah dan cream dimana-mana di wajahnya. Minho mulai lagi isengnya. Dia menaruh-naruh krim strawberry itu di wajah Chie.
Matsuda tertawa kecil melihat mereka bercanda.
”Minho-kun.. ini penuh semua.. kamu jahat,” ujar Chie, tapi Minho hanya membalas dengan tawa keras, sampai matanya tidak terlihat.
”Hahahaha.. aku suka! Naega joh-a...!,” tawa dan teriak Minho, tawanya sangat lebar, gigi-gigi putihnya terlihat.
”Nyonya cantik sekali dengan wajah penuh cream,” canda Matsuda.
Chie bukan marah, dia malah jadi tertawa-tawa sampai terpingkal-pingkal. Dia lalu ngerjain Minho dengan memotong kue dan langsung menempelkan potongan kue itu ke wajah Minho dengan cepat!
”Hahahaha.. Minho-kun lucu,” dia terus tertawa terbahak-bahak melihat wajah Minho sudah penuh dengan kue dan juga cream nya
”Aigoo.. nakal sekali.. iseng,” ujar Minho. Lalu dia bukan marah, malah membalas Chie lagi,”Ini.. uh.. Nakal! Hahaha!”
Chie malah tertawa wajahnya sudah ikut penuh dengan kue dan creamnya. Tanpa dinyana, dia menoleh pada Matsuda dan menorehkan cream ke wajah pengasuhnya itu
”Aduh, Nyonya..,” ujar Matsuda. Chie malah terus tertawa.
”Chie-chan.. kamu senang??,” senyum Minho, masih wajahnya penuh cream dan kue.
Chie mengangguk pasti,”ee.. hontou ni taihen tanoshii (sungguh senang sekali), Minho-kun”
Minho senyum padanya, mengelus-elus kepalanya,” aku juga senang... bahagia hari ini”
Dalam hatinya, Minho berkata, semoga dia selalu bisa bersama Chie dan anak mereka suatu hari nanti.. tidak dipisahkan oleh kendala psikologi suatu hari nanti.
”Chie-chan.. tetap harus bahagia... semuanya demi keluarga kita,” senyum Minho lagi.
Matsuda senyum pada Chie,”Nyonya pasti bahagia, Tuan Lee.. Nyonya senang sekali hidup bersama Tuan”
Minho menoleh pada Matsuda dan senyum kepada perempuan separuh baya itu. Dalam hatinya, Minho akan tetap bertahan sebisa mungkin dengan segala yang dia upayakan.. dia yakin, hanya ibunya saja yang bermasalah dengannya, tidak dengan ayah dan kedua kakaknya, apalagi dengan keluarga Nakamura.
Chie memegang telapak tangan Minho, yang mengelus kepalanya. Dia lalu nekat mencium Minho di depan Matsuda.
”aku cinta Minho-kun.. aku ingin sekali tidak menangis lagi,”
Minho membalasnya dengan senyum, mengelap wajah dan bibirnya Chie yang penuh cream. Matsuda tersenyum, dia berharap, anak asuhnya itu bahagia dengan apapun kondisinya.

Bersambung ke part 5....