Cerita ini cuma iseng saja, jangan dimasukin ke hati.. kalau masih serius
juga.. tanggung sendiri deh..
Pagi
itu hari libur. Minho mendapatkan libur juga
setelah seminggu lebih dia bekerja tanpa henti dari pagi sampai malam. Dia
masih berfikir tentang ibunya yang memaksanya memberikan perhatian yang sangat
dalam soal kesehatan calon bayi mereka. Minho
hanya bisa mengadu pada Matsuda, seperti biasanya.
“Kalau
Tuan Lee masih saja selalu khawatir… sebenarnya, saya pun lebih khawatir lagi
akan kesehatan Nyonya,” kata Matsuda
Minho menyandarkan tubuhnya di kursi
makan, mereka baru saja makan pagi. Matsuda naik ke atas, ke lantai dua,
membantu Chie makan karena ternyata dia mual lagi. Setelah selesai, barulah dia
bicara dengan Minho.
”Matsuda-san tahu.. apa yang Chie-chan
rasakan kepada ibuku?? Sepertinya dia merasa.. kalau ibuku tidak suka
padanya..,” kata Minho, dia sedikit menghela nafas.
”Aku tidak bisa memaksa dia harus seperti perfect woman, wanita sempurna..
sementara ibuku menginginkannya,” lanjutnya lagi
”Saya menyarankan.. Tuan dan Nyonya pergi
bersama lagi ke rumah Tuan.. liburan,” kata Matsuda dengan lembut
Minho lalu menjelaskan, kalau dia semakin
sibuk saja semenjak menjadi kepala divisi. Agak sulit baginya mencari liburan.
Ini saja, dia meluangkan waktunya sebisa mungkin nanti untuk mengunjungi Endo-uisa (dokter) untuk berkonsultasi
bersama dengan Chie.
”Menurut Matsuda-san.. apa rumah tanggaku
dapat bertahan baik??,”
Matsuda kaget dengan pertanyaan Minho baru
saja. Rasanya mereka baru menikah kurang dari 3 bulan, kenapa secepat ini
tuannya bicara hal itu?
”Aku tidak suka banyak orang mencampuri
rumahtanggaku,” kata Minho. Dia memang aslinya tipe sensitif yang ingin mandiri
dan tidak ingin orang turut campur keputusan dia, termasuk dia tidak suka
ketika ibunya terkesan mengatur rumahtangga mereka.
”Aku tahu.. Chie-chan merasakan itu..
tapi.. aku sudah berbohong dihadapannya.. dia ternyata lebih peka dariku,”
Minho baru menegakkan tubuhnya dari bersandar di kursi makan, lalu melipat
kedua telapak tangannya.
”Saya yakin Tuan Lee sama sekali tidak
ingin biduk rumahtangga ini hancur.. saya bisa merasakan bagaimana perjuangan
Tuan yang lalu untuk mendapatkan Nyonya.. jangan sampai hal itu terjadi,”
Minho yang tidak mau diatur juga pada
dasarnya tipe orang yang patuh pada kedua orangtuanya. Dia sulit membantah, tapi juga disatu sisi keras
kepala. Kemarin-kemarin itu, dia berhasil menikahi Chie Nakamura dengan keras
kepalanya. Ternyata ibunya menginginkan hal yang lebih dari Minho bayangkan.
”Lebih baik kita berusaha sekeras mungkin
daripada memikirkan hal yang akan terjadi, itu menurut pandangan saya, Tuan,”
ujar Matsuda
”Ya,” jawab Minho singkat, lalu dia
meminta tolong pada Matsuda supaya membantu menyiapkan Chie untuk pergi
bersamanya mengunjungi Endo.
...................
Di rumah sakit...
Endo berdiri, tersenyum pada Chie dan
menunduk hormat padanya.
”Hello, Nakamura-san.. apa kabar??,”
Chie membalas tundukan hormat Endo,” aku
baik... aku harap, Endo-sensei
(dokter) juga baik”, katanya sambil terkekeh. Moodnya bagus. Minho memintanya
duduk.
”Aku dengar.. Nakamura-san masih mual dan
muntah.. apa vitamin dari
ku.. diminum rutin??,” senyum Endo, memulai pembicaraan. Dia memberikan tanda
pada Minho supaya tidak ikut campur menjawab, ingin kejujuran langsung dari
Chie.
Chie mengangguk mengiyakan. Lalu Endo
bertanya, apa saja yang masih dirasakan dia dalam proses kehamilannya itu.
”Aku masih sangat mual.. aku ingin
muntah,” jawab Chie memelas.
”Sumimasen
(maaf), Endo-sensei.. pagi
ini, dia sampai muntah tiga kali,” ujar Minho. Dia bilang kalau khawatir
sekali, karena sudah mau masuk bulan ke empat, belum ada perubahan juga, sama
sekali belum berkurang.
”Kamu tidak memberi makanan yang membuat
dia berubah sikap kan, Lee-sensei??,” tanya Endo dengan mimik serius. Sebab
kasus seperti Nakamura butuh perhatian khusus.
Minho menggeleng,” tidak, aku sesuai
dengan apa yang ku pelajari.. tetapi mungkin darahnya memang harus di test
lagi. Sepertinya vitamin gabungan dari mu belum efektif, Sensei,”
Endo berfikir, kasus seperti memang penuh
kehati-hatian,”aku memberikan resep ini.. sedikit lebih tinggi kombinasinya,
masih sama dengan yang kemarin,”
Dilihatnya ada beberapa jejeran tambahan
asam amino, Vitamin B kompleks, Folat, Selenium dan Zink. Minho berkenyit,
sebab dosisnya sedikit naik. Lalu dia bertanya, apa hal ini aman untuknya atau
tidak.
”Makannya memang malas, kadang aku paksa,”
keluh Minho.
”Itu yang saya pikirkan, Lee-sensei.. sebab
kebutuhan pribadinya saja tinggi,” balas Endo,”semestinya proses nya sudah
selesai..bulan depan sudah memasuki tahap ke dua.. dan sebenarnya tidak ada lagi mual atau bahkan
muntah.. ,”
”Aku terkadang pingsan,” celetuk Chie
Endo kaget,”benarkah??,”
Chie mengangguk, Minho menjelaskan,”Tapi..
itu kalau dia sedang banyak pikiran..sebenarnya tepatnya bukan pingsan..dia
hanya lelah,” jawab Minho
”wah... Lee-sensei.. membuat aku kaget..
bisa jadi, karena karbohidratnya itu tidak terserap baik,” ujar Endo.
”tidak ada salahnya saya tambahkan dosis
itu,” lanjutnya lagi
Minho lalu membicarakan tentang apa yang
harus dilakukan jika sampai bulan ke empat dan enam masih ada morning sickness seperti bulan
sebelumnya.
”Apakah Nakamura-san merasa sangat lemas?,”
tanya Endo pada Chie
Dia mengangguk. Lalu Endo bertanya lagi
apakah dia sampai tidak bisa bangun, hanya mau berbaring saja seharian, tidak
makan, atau bahkan ingin melakukan sesuatu/makan sesuatu yang tidak biasa.
”Crayon, kertas, plastik,” ujar Minho
dengan keluhan.
Tapi Chie malah tertawa lihat Minho
mengeluh. Minho menoleh padanya, sementara Endo malah senyum, berusaha mengerti
psikologis Chie.
”Aku tidak makan itu.. yang makan bayi
kita, Minho-kun.. ,” tawa Chie pada Minho
”Alasan kamu, Chie-chan.. sebenarnya tidak
seperti itu,” balas Minho ketus.
”Itu sebabnya aku menambahkan Iron dan
folatnya, Lee-sensei.. semoga bisa lebih dikurangi,” ujar Endo, lalu dia senyum
pada Chie,”Hal seperti itu tidak baik, Nakamura-san... walau bayi kalian yang
meminta”
”Tidak ada permintaan seperti itu.. bayi
kita pintar,” ujar Minho, menatap wajah Chie
Chie pasang wajah memelas dan sedih,”Ya.. baiklah Minho-kun.. aku janji tidak akan memakan itu lagi”
Endo tersenyum melihat itu, lalu,”Kalau
sudah diminum vitamin dengan baik, harap Nakamura-san tidak ragu hubungi saya
kalau merasakan sakit lagi”
Chie mengangguk pada Endo. Minho lalu
bicara dengan Endo bagaimana seharusnya dia memperlakukan Chie. Dia memang
khawatir isterinya itu kalau sudah muntah berkali-kali dan ingin makan atau
mengunyah yang aneh-aneh. Endo memberikan bimbingan pada Minho soal kesehatan
hormon dan juga semuanya, termasuk kemungkinan bayi mereka akan sehat fisik dan
mental. Agak lama mereka disana sampai akhirnya pulang kembali.
.............................
Minho dijalan hanya berfikir saja, dia
merasa belum ada perubahan yang berarti dalam diri Chie soal kehamilannya. Dia
tetap selalu ingat akan janji dengan ibunya. Kegusarannya makin tajam kalau dia
mengingat itu, dimanapun.
Chie sepertinya merasa Minho sedang galau, dia melihat Minho dengan tajam.
Minho malah membalas dengan senyum,” ada
apa??”
”Aku merasakan sesuatu yang sangat tidak
nyaman pada Minho-kun,” jawabnya santai.
Minho mencoba menyembunyikannya, dia masih
saja tersenyum,” Ah.. aku tadi berfikir bersama dokter Endo tentang
kesehatanmu, Chie-chan.. semestinya mual mu sudah selesai bulan ini”
”Tapi.. Endo-sensei akan memberikan aku tadi obat bukan??,” tanya Chie
”Iie..
bukan obat.. tapi vitamin.. supaya Chie-chan tidak selalu mual dan muntah..,”
jawab Minho
”Baik, Minho-kun... tapi.. apa ibu sudah
tahu, kalau aku sudah mau sembuh??,” mendadak Chie malah bertanya tentang ibu..
yang tentu saja ibunya Minho.
Minho masih melihat jalan, masih menyetir,
dia berbicara pada Chie tanpa melihatnya,” Ibu sudah tahu.. dan itu sebabnya,
Ibu ingin Chie-chan sehat,”
”Apa ibu bicara tentang bayi kita lagi??,”
Minho mengangguk dengan jawaban Chie,” Ibu
meminta Chie-chan menjaga bayi kita”. Minho menoleh sebentar dan senyum, lalu
kembali konsentrasi menyetir.
”Tapi.. entah mengapa, Minho-kun...,” ujar
Chie lagi. Seperti dia ragu ingin mengucapkan sesuatu.
”kenapa??,” Minho penasaran, dia teringat
lagi perkataan Chie beberapa waktu lalu soal sepertinya ibunya Minho tidak suka
padanya. Apakah Chie akan membahas hal ini lagi?
Ternyata benar! Dia berkata lagi pada
Minho dengan polosnya,” sepertinya... Okaasan..tidak menyukaiku,”
Minho berhenti, dia mencari tempat untuk
memarkirkan mobilnya.
Lalu, dia memandang Chie,” kata siapa
Chie-chan berkata itu??,” padahal, Minho sudah tahu jawabannya waktu itu. Dia pura-pura lupa.
”aku dan bayi kita, Minho-kun,” lagi-lagi
jawabannya sama dengan apa yang pernah dia ucapkan dulu.
Minho mengelus kepalanya,” ah.. hahaha..
itu bohong... Okaasan tetap
cinta dengan Chie-chan dan bayi kita.. percaya aku”, dan dia tersenyum padanya.
Minho lalu mengatakan padanya, kalau
memang ibunya khawatir sekali dengan kesehatan Chie dan bayinya, tapi bukan
berarti benci.
”sepertinya.. Minho-kun tidak
mempercayaiku lagi,” ujar Chie, dia benar-benar polos menyampaikan perasaannya.
Minho menoleh dengan mata yang sedikit
terbelalak dan heran, kenapa pasangannya itu semakin hari semakin seperti bisa
membaca perasaan hubungan dia dengan ibunya dan ibunya dengan Chie.
”percaya padaku, Chie-chan.. okaasan tidak
seperti itu.. aku sedang mencari waktu yang tepat untuk kita kembali ke rumah
beliau.. seperti waktu itu..kita berlibur lagi,” kata Minho dengan senyum
manisnya.
Chie minta Minho mencium pipinya, dia itu
menurut saja. Lalu, Chie memeluk Minho
di dalam mobil itu. Ternyata dia
menangis.
Minho berusaha mendiamkannya, Chie kalau
sudah menangis suka lama dan kadang terlalu dibuat drama. Dia menyadari
kesabaran dan keteguhan hidupnya bertambah bersama dengan perempuan itu, suatu
hal yang mungkin lelaki biasa akan malas jika hidup bersama dengan perempuan
berkepribadian seperti Chie Nakamura.
”ii
yo.. sudah.. sudah.. tidak perlu khawatir lagi, Chie-chan.. Eomma.. Okaasan tidak seperti itu,”
bujuk Minho padanya. Chie masih dipelukannya tersedu-sedu.
Minho tidak bisa senyum atau tertawa. Semakin
lama Chie memeluknya, dia semakin memang merasakan, kalau perempuan itu memang
sedang merasakan ketidaksukaan ibunya atas hubungan mereka. Walaupun Chie mengatakan itu adalah karena
perasaan si bayi, tetap saja, Minho merasa.. sebenarnya Chie lah yang merasakan itu dengan
sangat terbaca olehnya.
”Kalau Chie-chan menangis terus.. kasihan
bayi kita..dia bisa ikut sedih di dalam sini,” bujuk Minho berkali-kali. Walau
begitu, dia tetap menangis. Minho mendiamkan saja sambil terus mengelus
kepalanya.
Hampir 1 jam berlalu, barulah Chie diam. Minho melepaskan pelukannya dan senyum.
”sudah tenang?,” tanya Minho dengan
lembut. Chie mengangguk saja. Minho mengambil tissue organik dan menyeka air
matanya.
”Nakanaide
kudasai (jangan menangis lagi)... ,” lanjutnya lagi
”setelah dirumah... aku mau melukis,
Minho-kun,” pinta Chie, wajahnya masih pucat dan sembab hasil dari menangis
hampir 1 jam tadi.
Minho mengangguk menyanggupi. Lalu dia
lanjutkan menyetir pulang.
.............................
”aku tidak bisa bercerita yang lain soal
ini kecuali kepadamu, Matsuda-san.. dan aku sungguh khawatir Chie-chan dapat
makin gelisah tentang ibuku sendiri,” kata Minho pada pengasuhnya Chie, mereka
sedang duduk di ruang keluarga. Minho memang hanya bisa bercerita padanya segala
keluhan interaksinya pada perempuan separuh baya itu, karena dia yang dianggap
paling mengerti tentang Chie.
”Aku akan bantu Tuan supaya Nyonya tetap
tenang.. sewaktu Nyonya kecil, kalau dia marah memang hanya ada dua pilihan,
mengamuk terus atau menangis tanpa henti... dua-duanya dapat membuat bayi
kalian sakit,”
”Yeah.. aku khawatir sekali, Matsuda-san..
ini pertaruhan besar sepanjang hidupku,” ujar Minho. Dia duduk dengan melipat
kedua tangannya, satu telapak tangan menutup mulutnya, berfikir keras.
”Apa yang Lee-san lakukan terhadap Nyonya
sudah sangat benar dalam pandanganku.. tidak mudah bagi kita untuk memahami
jiwanya.. beruntung Nyonya mendapatkan Tuan,” kata Matsuda.
Minho senyum tipis dengan perkataan
Matsuda,” sebenarnya aku lebih mengkhawatirkan ibu ku lagi...dan juga hidupku..
aku tidak ingin berpisah dari anakku nanti.. apapun kondisinya..,”
”Tetapi.. jika ibuku memaksa begini.. jika
nanti aku bersikeras hati dengan pendirianku..dan ternyata... anak ku akan
bermasalah di sisi kejiwaannya.. aku tidak tahu harus bagaimana.. aku sendiri..
tidak tega menyakiti keduanya.. menyakiti orangtuaku.. juga Chie-chan”
”Sabar, Lee-san.. kita hanya menunggu
waktu sambil berusaha.. dan..
sudah kita lihat.. banyak sekali perubahan pada Nakamura-san..,” ujar Matsuda.
Minho mengangguk, mengiyakan. Hal ini
harus ia yakinkan lagi kepada ibunya, agar ibunya tidak terlalu negative kepada
Chie dan percaya, menantunya itu akan melahirkan anak sehat dan normal.
Di kamar...
” Ah... telepon Minho-kun berbunyi,” Chie
mendengar suara panggilan dari HP Minho. Dia lekas menghampiri dan melihat.
”Ibu??,” tanya dirinya sendiri, yang
dimaksud memang ibunya Minho.
Minho tidak akan mendengar memang kalau
dia ada di bawah. Chie masih melihat HP itu agak bergetar dan berputar karena
getarannya, sambil juga berdering lemah.
”Apa aku harus mengangkatnya?,” katanya
masih melihat.
Lalu, dia pun nekad mengangkat panggilan
itu.
”Moshi-moshi,” katanya ramah, tertawa
kecil.
”Chie-chan??,” Tanya ibunya Minho.
Chie mengangguk.
”kemana Minho kun?? Aku ingin bicara
dengannya,” kata ibunya Minho lagi.
Chie diam.
”Hello?? Apa Minho-kun ada, Chie-chan??,”
tanya ibunya Minho lagi
Chie langsung menjawab,” mengapa ibu tidak
ingin bicara denganku? Salahku apa??”
Mayuko-ibunya Minho- kaget dengan penuturan
menantunya itu.
Tapi Chie langsung memberondong dengan
pertanyaan lain,” Apa ibu tidak suka aku?? Tapi aku dan bayi kami, cinta dengan
ibu,”
”Aku ingin ibu cinta kami..,” lanjutnya
lagi
”Ibu cinta dengan kamu, Chie-chan.. juga
dengan anak kalian,” jawab Mayuko dengan tanpa ragu, dia sembunyikan ketidak
sukaannya.
Chie diam sejenak, lalu,”aku tidak
merasakan itu... bayiku juga berbicara padaku seperti itu, Ibu.. kenapa??
Kenapa ibu benci aku dan bayi ku??,”
Dia malah akhirnya menangis kencang. Mayuko
bingung dengan tingkah laku Chie.
Minho yang sedang berada di lantai bawah
yang mendengar Chie menangis keras, langsung kaget dan dia berlari menaiki
tangga, takut isterinya itu celaka atau mencelakakan dirinya.
Minho langsung membuka pintu,” ada apa, Chie
chan??”
Dilihatnya, Chie sedang menangis, tapi
salah satu tangannya sedang memegang handphone nya, sedang satunya lagi sedang
memegang perutnya yang sudah mulai terlihat hamil.
”Minho-kun.. ibu... jahat, huhuhuhuhu,”
dia langsung melempar Hp Minho, Minho lekas menangkapnya agar tidak jatuh,
terbanting ke lantai dan rusak.
”Chie-chan.. dengar ibu dulu!,” teriak
Mayuko di telepon dari kejauhan sana.
Minho langsung melangkah mendekati Chie
dan memeluknya, sambil tangan satunya lagi tetap memegang handphone.
”Sudah..
sudah.. Ibu tidak jahat, Chie-chan,”
kata Minho. Suaranya itu terdengar oleh Mayuko.
”Minho-kun.. aku tidak bisa menduga sikap
isterimu itu,” kata Mayuko, membuka pembicaraan dengan Minho.
”Mian
habnida, Eomma.. aku benar-benar minta maaf.. aku tidak sangka kalau
Chie-chan yang mengangkat teleponnya.. maaf,” kata Minho. Dia masih berusaha
memeluk Chie dengan juga mengelus kepalanya agar tenang.
”Kenapa dia bisa bilang seperti itu? Apa
semua wanita dengan ASD itu begitu kacau jiwanya??,”
Minho merasa tersinggung dengan ibunya
sendiri yang berkata seperti itu, tetapi, dia mencoba tahan, dia tidak ingin
semuanya membuat kepalanya pusing dan jadi sulit berfikir.
”Chie-chan memang sedikit cengeng kalau
moodnya sedang sedih, ibu..,” jawab Minho,”Tapi.. ibu tidak usah khawatir.. ini
masih bisa diatasi”
Sementara, ibunya dari kejauhan justru
malah mendengar Chie menangis tanpa henti.
Minho sibuk mengusap kepalanya supaya
diam.
”Dia sampai berkata, kenapa aku benci
dengannya dan juga anak kalian..,” kata ibunya lagi
”Aku minta maaf, Ibu.. memang terkadang
ada yang sangat sensitif,” jawab Minho
”keterlaluan.. ,” balas ibunya, lalu,”apa
dia sehat dan tidak ada yang membuat dia sakit akhir-akhir ini??”
Minho mengangguk, dia katakan Chie
baik-baik saja. Dia berbohong supaya ibunya tidak lama bertanya ini-itu. Tapi
hal itu tidak membuat ibunya puas.
”kenapa dia tidak selesai juga
menangisnya??”,
Minho lupa, dia tidak lekas mengakhiri
pembicaraannya dengan sang ibu.
”hari ini kami baru saja konsultasi dengan
Endo-sensei, Ibu.. sensei bilang.. Chie-chan agak kurang vitamin dan
mineralnya.. mungkin itu sebabnya agak sedikit sedih,”
”Haahh.. apa kamu tidak pernah kepikiran dulu sedari awal,
Minho-kun.. kamu terlalu beresiko mencintai dan hidup bersama seseorang yang
begini,” keluh ibunya
Minho merasa banget kalau memang dia
selalu dikritik ibunya tentang hubungannya. Dia tetap ingin cuek, bukan berarti
menentang, tapi..dia ingin menjalani hidupnya tanpa bisa dicampuri dengan
oranglain, walau itu termasuk kedua orangtuanya. Ayahnya justru yang mengerti
tentangnya, dan juga tentang Chie.
Chie masih menangis, sementara Minho jadi
pusing juga dengar ocehan ibunya di telepon.
”Iya, baik ibu.. aku sadar itu..aku sadar
tentang perjanjian kita..aku akan usahakan yang terbaik,”
”Apa iya.. kamu bisa hidup begini dengan
isteri yang sering menangis seperti itu?? Bagaimana nanti anak mu ke
depannya??,”
Minho tidak bisa menjawab pertanyaan
ibunya baru saja. Dia hanya menjawab dengan,” aku usahakan yang terbaik untuk
semuanya”
Akhirnya, ibunya pun menutup telepon.
Chie menjawab dengan terisak-isak,” sama
sekali aku tidak merasakan itu, Minho-kun.. aku merasakan ketidaksukaan ibu
tentang ku..”
Minho sibuk saja terus mengelus-elus
kepala isterinya itu. Dia tidak habis pikir, kenapa justru perasaan Chie
terhadap ibunya makin benar. Minho tidak ingin berpisah darinya. Baginya, ada
banyak pelajaran hidup dia dapat ketika bersama perempuan ini.
”Tidak, Chie-chan.. ibu tidak seperti
itu.. aku mengerti kamu
sedih.. tetapi.. ibu tidak seperti itu,” jawab Minho, senyum dan tetap
memeluknya dengan lembut.
Chie memeluk pinggang Minho erat-erat, dia
merasa ketakutan kalau nanti Ibunya Minho tetap tidak sayang padanya. Minho
berkali-kali dengan redaksi yang sama mengatakan dengan sabar dan lembut, kalau
itu semua tidak benar, itu semua tanda sayang ibunya kepadanya, juga kepada bayinya.
”aku..tidak akan dipisahkan dengan bayi
kita kan... Minho-kun??,” tanya Chie lagi ketika mereka sejenak hening. Minho
masih sabar memeluknya, membiarkan Chie memeluk pinggangnya sambil
menyembunyikan wajahnya di dada Minho dan terisak.
”Tidak, Chie-chan.. ibu tidak punya
pikiran seperti itu, sayang,” jawab Minho.
Dia menghela nafas sedikit, dia sudah
berbohong pada Chie. Satu sisi, itulah rasa bersalahnya, berbohong pada orang
yang dicintainya.
”Bagaimana kalau itu terjadi, Minho-kun??,”
”Ani..
Iie (tidak).. tidak akan terjadi, Chie-chan.. aku juga cinta bayi kita..
kalau dipisahkan.. berarti aku juga akan dipisahkan dari bayi kita.. itu tidak
boleh terjadi,” senyum Minho. Padahal, hatinya sudah sangat sedih dengan
perkataan Chie.
”dia begitu memahami perasaannya sendiri..
Chie-chan.. maafkan.. aku sudah berbohong padamu,” dalam hatinya Minho, dia
menangis.
Minho memeluk kepalanya dengan lembut,
mencium puncak kepala Chie. Merasakan hangatnya suhu tubuh perempuan itu. Tak
terasa bagi Chie, sebenarnya, air mata Minho mengalir. Dia membayangkan,
bagaimana masa depannya dengan perempuan itu. Sama sekali tidak ada dipikiran
Minho selintas pun, kalau dia akan menyakiti Chie suatu hari nanti. Cinta yang
menurutnya bisa dia korbankan, hanya untuk perempuan itu. Cinta Minho sudah
terpatri pada diri perempuan itu. Kekurangan Chie yang bertubi-tubi justru
malah menjadikan semangat hidup Minho makin menjadi.
Di tempat kerjanya, Minho semakin dihargai
rekan kerja. Dia sering membawa Chie untuk berbicara dengan para rekan kerja
dari satu Rumah sakit ataupun beda rumahsakit. Dia bangga memiliki Chie dalam
ketidaksempurnaannya. Minho merasa, justru hidupnya tidak lengkap jika tidak
ada Chie disampingnya, seperti ketika dulu, Chie harus pergi ke Paris untuk
belajar. Minho terus memeluk kepalanya dan mencium puncak kepalanya Chie, rasa
sayangnya semakin bertambah.
Matsuda berada di depan pintu kamar yang
sedari tadi terbuka.
”Lee-san.. apa yang terjadi??,” katanya dengan pelan
Minho mendongakkan kepalanya yang tadi tertunduk,
mencoba mengusap air matanya sendiri.
”Ah..sumimasen,
Matsuda-san.. tidak ada apa-apa”, jawab Minho
Matsuda mengatakan permisi lalu dia masuk
ke kamar mereka.
”sepertinya.. ibu Tuan Lee memaksa
kembali?,”
Minho mengangguk,” aku tidak bisa melawan
kehendak Ibuku, Matsuda-san”, jawab Minho, pelan
Matsuda lalu membujuk Chie supaya
melepaskan pelukannya dari Minho.
”Nyonya.. harus istirahat..aku sudah
buatkan makan malam yang enak untuk Tuan dan Nyonya.. ada juga kue kesukaan
Nyonya Chie.. dengan strawberry,” senyum Matsuda lembut pada Chie
Chia malah memeluk Matsuda dan menangis,”
Ibu.. tidak cinta aku dan bayi ku,”
Matsuda kembali mengelus kepalanya,” tidak
begitu, Nyonya.. Ibunya Tuan Lee sangat sayang dengan Nyonya Chie.. makanya
memperhatikan Nyonya sekali.. ibunya Tuan Lee..ingin nyonya sehat, bayi juga
sehat... itu namanya perhatian.. bukan tidak cinta”
”Ibu memarahiku.. rasanya.. aku ingin
pergi saja,” kata Chie lagi
Minho membujuknya supaya tidak menangis
lagi dan makan kue bersamanya.
”Chie-chan ingat kan... kalau kita suka
makan kue sama-sama?? Aku suapi ya?? Mau kan??,” bujuk Minho, dia mencium
pipinya Chie
Matsuda senyum,” Tuan Lee cinta
loh..dengan Nyonya Chie.. ayo..jangan
sampai kue nya jadi tidak enak..”
Minho memegang tangannya Chie dengan
lembut, lalu dia berjongkok,” aku dengar dulu ya... Aka-chan (bayi) kita bicara apa dengan ku??”, bujuk Minho lagi.
Chie
mengangguk walau air matanya masih menetes. Minho seperti orang yang sedang bicara dengan seseorang bayi hidup diluar
kandungan. Dia mengepalkan tangannya, membuat seperti stetoskop yang
ditempelkan ke perut Chie.
”Oh.. hallo?? Iya.. Aka-chan bilang...
Chie-chan jangan menangis.. aka-chan ikut sedih loh,”
Matsuda senyum dengan tingkah Minho yang
menghibur Chie.
Chie lalu tertawa kecil, terkekeh melihat
tingkah Minho,” aka-chan.. berbicara apa tentangku, Minho-kun?? Sepertinya, dia
lebih dekat dengan Minho-kun..”
”Iya kan.. ibu Matsuda??,” dia menoleh
pada Matsuda dan Matsuda membalas dengan mengiyakan. Moodnya berubah lagi jadi
lebih gembira setelah Minho mencoba bercanda.
”sebentar.. ,” jawab Minho. Lalu dia
mendekatkan kupingnya pada perut Chie
” Aka-chan.. ingin Chie Eomma (ibu) tetap senang dan bahagia..
aka-chan tidak suka Chie Eomma sedih.. aka-chan jadi ikut sedih,” senyum Minho.
”Benar kah??,” tanya Chie dengan wajah
serius.
Minho mengangguk mengiyakan.
”Apa aka-chan suka juga dengan kue
strawberry??,” tawa kecil Chie ada lagi
Minho lagi-lagi mendekatkan kupingnya pada
perutnya Chie. Matsuda jadi
ikutan tertawa, menutupi mulutnya, menahan tawanya.
”Tuan Lee benar-benar suami dan ayah yang
baik.. yokatta desu ne (syukurlah),”
kata Matsuda
Minho senyum pada Matsuda. Lalu dia berdiri
lagi, tetap di depan Chie, senyum di depannya.
”Aka-chan lapar loh.. ayo kita makan...
jangan sampai Aka-chan nanti tidak mau makan.. jadi.. Chie-chan harus makan,”
”Aka-chan..suka juga kue strawberry buatan
Matsuda-san??,” tanya Chie dengan wajah polos.
Minho mengangguk,” suka sekali..
aka-chan..suka dengan apa yang dimakan Chie-chan”
Chie menoleh pada Matsuda, lalu senyum
senang degan penuh semangat,” baiklah, Matsuda-san..aku mau makan.. walau
perutku mual.. aku mau makan bersama Aka-chan!”
Minho malah mengucek-kucek kepalanya,”
Begitu.. aka-chan pasti akan senang makan juga”. Dia menggandeng tangan Chie
dan mengajaknya menuruni tangga untuk makan.
Chie bernyanyi-nyanyi menuruni tangga. Dia
duduk di depan meja makan dengan senang hati. Minho memang menepati janjinya
untuk menyuapi dia makan. Matsuda senang sekali Tuan dan Nyonya nya bahagia.
”Aku mau ini lagi!,” teriak Chie menunjuk
pada kue strawberry itu
Minho memotong lagi dan menyuapinya,” enak
kan?? Hehe”
Chie mengangguk senang,” aku rasa.. aka-chan bahagia sekali bisa makan juga
bersama kita, Minho-kun”, imajinasinya jalan lagi.
Minho mengangguk,” itu sebabnya..aku tidak
ingin Chie-chan terlalu sedih.. kasihan Aka-chan nanti.. dia bisa sakit loh”
Chie serius memperhatikan Minho,”
benarkah??”
Minho mengangguk serius menanggapi
ekspresinya Chie,” iya... benar.. Chie-chan jadi harus bahagia selalu..
berjalan pagi, olahraga, menari, melukis.. apa saja yang membuat Chie-chan dan
aka-chan juga senang”
Chie memperhatikan nasehat Minho dengan
mata yang berbinar. Minho sebenarnya
ingin tertawa kalau sudah seperti itu. Tapi, mengingat daritadi dia sibuk mendiamkan dan menenangkan Chie, dia
ingin serius.
”Jadi..aku harus bahagia selalu.. aku bahagia dengan Minho-kun.. juga ibu
Matsuda.. iya kan?,”
Matsuda mengangguk,” dan aku senang bisa
membantu Nyonya”
”Kalau begitu.. aku mau makan yang
banyak,” kata Chie dengan semangat. Dia membuka mulutnya, meminta Minho
menyuapinya.
Akhirnya Minho tertawa juga, sampai
menggema di seluruh ruang makan itu.
”aku senang, Minho-kun,” kata Chie, sambil
mengunyah kue.
Minho terus tertawa melihat tingkah laku
Chie yang lucu, mengunyah dan cream dimana-mana di wajahnya. Minho mulai lagi
isengnya. Dia menaruh-naruh krim strawberry itu di wajah Chie.
Matsuda tertawa kecil melihat mereka
bercanda.
”Minho-kun.. ini penuh semua.. kamu
jahat,” ujar Chie, tapi Minho hanya membalas dengan tawa keras, sampai matanya
tidak terlihat.
”Hahahaha.. aku suka! Naega joh-a...!,” tawa dan teriak Minho, tawanya sangat lebar,
gigi-gigi putihnya terlihat.
”Nyonya cantik sekali dengan wajah penuh
cream,” canda Matsuda.
Chie bukan marah, dia malah jadi
tertawa-tawa sampai terpingkal-pingkal. Dia lalu ngerjain Minho dengan memotong
kue dan langsung menempelkan potongan kue itu ke wajah Minho dengan cepat!
”Hahahaha.. Minho-kun lucu,” dia terus
tertawa terbahak-bahak melihat wajah Minho sudah penuh dengan kue dan juga
cream nya
”Aigoo.. nakal sekali.. iseng,” ujar
Minho. Lalu dia bukan marah, malah membalas Chie lagi,”Ini.. uh.. Nakal!
Hahaha!”
Chie malah tertawa wajahnya sudah ikut
penuh dengan kue dan creamnya. Tanpa dinyana, dia menoleh pada Matsuda dan
menorehkan cream ke wajah pengasuhnya itu
”Aduh, Nyonya..,” ujar Matsuda. Chie
malah terus tertawa.
”Chie-chan..
kamu senang??,” senyum Minho , masih wajahnya
penuh cream dan kue.
Chie mengangguk pasti,”ee.. hontou
ni taihen tanoshii (sungguh senang sekali), Minho-kun”
Minho senyum padanya, mengelus-elus
kepalanya,” aku juga senang... bahagia hari ini”
Dalam hatinya, Minho berkata, semoga dia
selalu bisa bersama Chie dan anak mereka suatu hari nanti.. tidak dipisahkan
oleh kendala psikologi suatu hari nanti.
”Chie-chan.. tetap harus bahagia...
semuanya demi keluarga kita,” senyum Minho lagi.
Matsuda senyum pada Chie,”Nyonya pasti
bahagia, Tuan Lee.. Nyonya senang sekali hidup bersama Tuan”
Minho menoleh pada Matsuda dan senyum
kepada perempuan separuh baya itu. Dalam hatinya, Minho akan tetap bertahan
sebisa mungkin dengan segala yang dia upayakan.. dia yakin, hanya ibunya saja
yang bermasalah dengannya, tidak dengan ayah dan kedua kakaknya, apalagi dengan
keluarga Nakamura.
Chie memegang telapak tangan Minho, yang
mengelus kepalanya. Dia lalu nekat mencium Minho di depan Matsuda.
”aku cinta Minho-kun.. aku ingin sekali
tidak menangis lagi,”
Minho membalasnya dengan senyum, mengelap
wajah dan bibirnya Chie yang penuh cream. Matsuda tersenyum, dia berharap, anak
asuhnya itu bahagia dengan apapun kondisinya.
Bersambung ke part 5....