Starring: Lee Minho, Park Minseo, Lee Jin Ho, Lee Young Joon, Lee Hana.
Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..
Minho sangat bahagia kehidupannya terasa
sempurna dengan kehadiran 3 orang anak kembarnya. Enam bulan sudah usia mereka
berlalu. Minseo masih menyembunyikan keanehan yang terjadi pada masing-masing
anak. Dia tidak ingin Minho mengetahuinya, sebab walau Minho orang yang percaya
dengan ramalan, dia tetap tidak suka dengan orang yang menurutnya aneh kalau
punya kemampuan supernatural. Minseo harus tetap menjaga agar diri dan 3
anaknya tidak terbongkar di depan Minho.
Park dan isterinya berencana membantu
Minseo mengasuh 3 anak mereka yang sudah mulai bisa bubbling (istilah untuk bayi yang suka tertawa dan mencoba bicara)
dan mulai bisa berguling-guling. Park takut ketiga cucunya bisa celaka, jadi
dia dan isteri memutuskan beberapa hari dalam satu minggu tinggal mengasuh
mereka.
“Kyaaa.... ayo sini.. sini Jin Ho... sama hal abeoji (kakek) digendong,” gaya
ceria Park ingin menggendong cucunya dari tangan Minho. Mereka akan sarapan
pagi.
“Pagi, Appa
(ayah),” senyum Minho sambil menyerahkan Jin Ho pada Park.
Sementara Young Joon dan Hana sedang
berada di box bayi. Minseo dibantu ibunya menyiapkan sarapan pagi.
“anak-anak kalian hebat sekali.. aku
sebagai kakek bangga punya mereka,” kata Park pada Minho. Dia mengangkat-angkat
Jin Ho dan anak kecil itu tertawa-tawa senang.
Minho senang keluarga kecilnya dibantu
oleh mertuanya. Dia memang melihat Minseo sangat kelelahan setiap hari harus
mengurus tiga anak yang ceria dan aktif sekali.
Minseo dan ibunya mengobrol di dapur. Ibunya
berdiri disamping dan berbisik padanya.
“Minho...belum tahu kalau kamu ini bisa
supernatural kan?? Jangan sampai dia tahu..”
Minseo menoleh pada ibunya. Dia bercerita
padanya sewaktu kemarin mengadakan pesta kecil-kecilan 100 hari kesehatan
anak-anak mereka, Jin Ho menurutnya sudah mewarisi salahsatu kemampuannya:
telekinetik. Lalu dia juga katakan pada ibunya, kalau Nyonya Bong, isteri
salahsatu kolega bisnis Minho sempat kaget dan ketakutan kenapa vas bunga
bergerak sendiri. Untungnya, Minseo langsung sigap menyadari begitu dia melihat
mata anak kembar yang paling tua itu juga sedang menatap vas bunga dan getaran
gelombang energy nya tertangkap olehnya.
“Gawat sekali Jin Ho kalau begitu,” bisik
ibunya lagi
Minseo menarik nafasnya sebentar,
mengeluh,” begitulah, Eomma.. aku takut Minho tahu hal ini.. untungnya aku
tidak bekerja... mengurus satu saja susah sekali..,”
“tidak ada keluarga besar kita dari
perempuan yang harus bekerja kalau sudah punya anak, Minseo.. jadi, Eomma tidak
akan setuju.. apalagi ini ada tiga,” kata ibunya sambil mengiris sayur
Minseo memang mematuhi keinginan kedua
orangtuanya, menantu dan juga Minho, untuk melepaskan pekerjaannya menjadi
manager, sebelum mereka menikah. Sebenarnya atasannya Minseo menyesal juga anak
buahnya yang berdedikasi akhirnya keluar, tetapi dia memang mempertimbangkan
hatinya untuk keluarga besarnya.
Dari dapur, dia melirik sebentar apa yang
dilakukan Minho dan ayahnya. Dilihatnya, mereka sedang ngobrol asik sambil
mengawasi si kembar tiga.
“Minho sendiri.. bagaimana menurut mu? Dia
bisa menjadi ayah yang baik kan??,” tanya ibunya Minseo lagi
“dia masih suka pergi ke peramal Kang,”
keluh Minseo lagi. Minho memang percaya banget dengan ramalan Kang itu. Sudah
beberapa kali dalam enam bulan terakhir ini, dia pergi lagi ke sana, baik untuk
urusan bisnis, atau sekedar bertanya apa ketiga anak kembarnya ini sehat-sehat
saja dan hidup nyaman.
Minho memang termasuk ayah yang khawatir
dan panik kalau keluarganya tidak nyaman atau ada kebutuhan hidup dasarnya yang
kurang. Pernah Hana sakit panas saja belum ada dua hari, Minho panik sendiri
sana sini telepon kedua orangtuanya dan dokter anak sewaktu dia kecil. Ketika
Hana sudah panasnya benar-benar turun, dia baru bisa tersenyum.
“Minho itu memang termasuk lelaki yang
khawatir soal kesehatan anak-anak, Eomma..kadang aku suka katakan kalau dia
kendorkan sedikit kekhawatirannya itu.. tapi nanti dia malah cemberut dan bisa
mengomel.. ingat kan.. waktu aku terlambat membawa Hana?? Dia mengomel
sepanjang hari di klinik anak.. aku jadi kesal juga”
Ibunya Minseo bukan marah anaknya diomelin
menantunya, malah tertawa kecil.
“Tapi.. Eomma bangga sekali dengan Minho..
berarti dia termasuk ayah yang bertanggung jawab loh”, lalu mengerling pada
Minseo.
Minseo mengangguk, dia memang menganggap
Minho sudah dewasa dan bertanggungjawab. Satu masalah pada diri suaminya itu:
percaya ramalan, apa saja bisa dia tanyakan kepada peramal Kang, supaya
mendapatkan petunjuk.
Ibunya lantas bertanya, apalagi tingkah
Minho yang berhubungan dengan ramalan. Minseo mencoba mengingat-ingatnya lagi.
“aku sampai harus menghipnotisnya, Eomma..
Minho keterlaluan”
Ibunya tertawa kecil,” ternyata.. tapi..
sebaiknya kamu cari jawaban yang tepat supaya Minho tidak selalu percaya itu”
Minseo mengangguk. Mereka terus masak
sampai selesai.
Minseo menghampiri Minho dan ayahnya,
menghidangkan makan pagi.
“wah.. harum sekali nih,” basa basi Minho,
dia mencium pipi Minseo. Sementara Jin Ho masih dipangku ayahnya Minseo.
Ibunya Minseo juga membantu membawa
makanan. Minseo masuk ke kamarnya sebentar. Minho tanpa ragu menggotong kursi
kecil tiga buah supaya anak-anak mereka bisa mengobrol bersama di waktu makan
pagi dengan kakek-nenek mereka.
“Minho lelaki yang romantis ya, Nampyeon.. padahal dia lebih muda dari
Minseo,” bisik isterinya Park.
“Tapi sensitif,” sambung Park, juga sambil
berbisik tapi hanya cengar-cengir.
Tak berapa lama, Minho sudah membawa tiga
kursi itu dan menggendong satu persatu anak mereka, mendudukkan dikursi
tersebut.
Park dan isterinya senang sekali melihat
mereka bertiga sehat-sehat saja.
Hana memperhatikan kakeknya dengan mata
yang tajam. Park menyadari kalau cucu perempuannya ini memang berbeda. Dia
tidak ingin Minho tahu.
“aku ingin menyuapi cucu ku, Hana.. sini
...anak manis...,” Park meminta Minseo memberikan mangkuk makan cucunya itu.
Minho tertawa kecil melihat mertuanya
memanjakan anak perempuannya, tanpa disadarinya kalau Park mengalihkan
perhatian Hana dan hanya ingin bicara dengan cucunya itu. Park memegang
mangkuk, menyuapinya.
“Appa sayang sekali sepertinya dengan
Hana,” ujar Minho polos.
Hana memperhatikan mata Minho dengan tatapan
dalam, lalu dia mengoceh ala bayi sambil mengambil sendok dan ingin memukul
kepala ayahnya sendiri.
“ba...ba..ba.. hag ..hag..hag!,” tawa Hana
menggema diruang makan itu, sambil dia mencoba memukul Minho dengan sendok
plastik kecil.
Park tertawa-tawa dengan tingkah Hana.
“dia bilang.. kalau kamu ayah yang aneh,”
celetuk Park.
Minho menoleh pada mertuanya, dia tidak
pernah punya pikiran kalau Hana memang akan berperasaan seperti itu... darimana
Park tahu?
Park lekas menarik perkataannya lagi
dengan tertawa,” begini loh, Minho.... bayi itu walau belum bisa bicara, dia
bisa membaca pikiran orangtuanya...”
Lalu dia menoleh pada Hana,”iya kan??”
Hana kembali tertawa, seperti mengerti
obrolan antar ayah dan kakek. Minho jadi heran, kenapa sepertinya mertuanya tahu
pikiran Hana, bagaimanapun, untuk orang biasa, hal itu sepertinya mustahil.
“Ah.. Appa ini bercanda sekali.. mana bisa
sih... kita tahu pikiran bayi yang belum bisa bicara?? Ya kan, Hana??,”
Hana menoleh pada Minho, dia senyum lalu
mulai lagi bubbling nya.
Minseo tidak ingin nanti hal ini jadi
pembicaraan lebar, lalu dia memotong situasi,” ah.. sudahlah, Nampyeon.. nanti kamu terlambat kerja
loh.. pagi di musim ini cepat sekali”
Minho mengangguk. Mereka semua diam,
menikmati makan pagi mereka.
“Ah, Minseo.. hari ini aku mau pulang
sedikit terlambat... harus pergi ke peramal Kang,” kata Minho di sela makan
paginya.
“Moeus?? Pergi lagi ke sana?? Untuk apa lagi,
Nampyeon??,” Minseo mulai lagi gusarnya, dia memang malas kalau Minho sudah
bicara soal peramal itu lagi.
Minseo langsung berhenti menyuapi Young
Joon begitu mendengar itu. Orangtuanya hanya mengikuti alur pembicaraan
suami-isteri itu.
“urusan bisnis...,” jawab Minho singkat
“dengan Nam-ssi itu lagi?? Bukankah aku sudah bilang.. kalau dia cenderung
curang?? Dahulu dia curang soal kualitas kain.. sekarang dia mau curang apa
lagi... pembayaran??,” Minseo jadi agak panas juga, jadi dia main tebak lagi.
“darimana kamu tahu, sayang?,” tanya Minho
heran. Dia berhentikan makannya.
Minseo agak gugup,”ah, tidak.. aku hanya
tebak-tebakan saja”, lalu dia menoleh pada Young Joon dan menyuapinya lagi.
Park tertawa dengan pertengkaran kecil
itu,” kalian ini.. haha.. yang satu percaya peramal.. yang satu menentang..”
“Ini penting sekali, Appa..,” ujar Minho
pada mertuanya itu. Dia lalu katakan, kenapa Minseo bisa tepat menebak
urusannya dengan Nam tepat sekali.
Minseo berkilah sekali lagi, kalau itu
hanya tebakan dia saja karena kesal Minho terlalu bergantung soal keputusan
kepada peramal itu dan dia tidak suka. Park memperhatikan lagi mereka berdebat.
Minho membela dirinya kalau tindakannya
pergi ke peramal Kang itu tidak ada masalah.
“Minseo sendiri selalu bisa menebak apa
yang terjadi dengan bisnisku, Appa.. apa aku tidak heran kalau begitu??,”
Park jadi bergumam dengan pembelaan Minho
pada dirinya sendiri itu, lalu dia jadi terkekeh pada Minho.
“Kalau begitu.. semestinya kamu tidak
perlu percaya ramalan Kang-ssi...
kalau isterimu sendiri bisa menebaknya,”
“Dan itu juga menghemat pengeluaran,”
sindir Minseo, sambil menyuapi Jin Ho dan Hana.
“aaam... ayo makan yang baik, Hana.. Jin
Ho,” lanjutnya lagi, mengalihkan perhatian Minho padanya.
Minho menggerutu dalam hatinya dikritik
isterinya lagi soal yang sama. Sedari mereka pacaran, masalah memang berputar
disitu-situ saja. Minseo berulang kali pula mencoba mempengaruhi pikiran Minho
agar tidak percaya pada peramal itu, tetap saja sepertinya sudah terpatri di
dalam pikiran Minho sendiri, dia tidak bisa tidak bergantung dengan Kang itu.
Jin Ho bubbling
dengan Minseo. Minseo mengajaknya bercanda karena dia menumpahkan mangkuk buburnya.
“Ya.. aku akan berusaha mengurangi nya,
Appa,” kata Minho dengan nada yang sebenarnya tidak puas.
“Aduh Jin Ho.. sebaiknya kamu tidak
tumpahkan buburmu, sayang,” ibunya Minseo membantu merapikan lap makan di leher
Jin Ho.
Jin Ho malah tertawa dengan perkataan
neneknya itu. Minseo mengawasi mata anak sulungnya itu, dilihatnya, mata
anaknya tertuju malah pada gelas yang ada di depan Minho.
Minseo sigap langsung mengalihkan mata Jin
Ho, dia bertindak duluan membaca pikiran anaknya itu supaya tidak iseng dan
tidak diketahui Minho.
“Merepotkan sekali Jin Ho ini.. sepertinya
sifat isengnya meniru dari Minho.. tapi kemampuannya seperti ku,” keluh hatinya
Minseo.
Minho malah senyum dengan Jin Ho, dia lalu
menghampiri anak itu dan berjongkok di depan kursi makan bayi.
“Appa belum suapi kamu.. makan dengan Appa
ya??,”
Minho mengambil mangkuk bubur dari tangan
ibu mertuanya, lalu menyuapi Jin Ho. Minseo memantau anak sulungnya itu. Jin Ho
mendadak tertawa-tawa dan ditanggapi oleh Minho dengan biasa saja. Minho
berfikir kalau anaknya itu ingin bermain dengannya.
Park melihat tingkah Jin Ho. Begitu Jin Ho
juga mulai melihat benda-benda sekeliling dan sedikit bergerak, Park membantu
Minseo menghalangi keisengan cucunya itu.
“ssst... kamu, Jin Ho.. ternyata,” gumam
hatinya Park. Minho yang sedang asik menyuapi Jin Ho tidak menyadari,
sebenarnya mata anaknya itu sedang berusaha menggerakkan alat makan diatas
meja.
Park berusaha menahan energi yang dikeluarkan
cucunya itu. Jin Ho malah tertawa tergelak-gelak. Dia berfikir kakeknya
bermain-main dengannya. Minho heran, kenapa anaknya itu diberi makan olehnya,
tapi tertawa.
Park melihat Jin Ho mengangat sendok yang
berada di atas meja makan dengan matanya, tanpa Minho ketahui. Park memantau,
sejauh mana tenaga Jin Ho untuk mengangkat benda yang sekitar 2 meter jauh dari
badan mungilnya itu.
“Kekuatannya cukup bagus,” gumam hatinya
Park.
Minho yang melihat mata Jin Ho terlihat
aneh melihat belakang badannya, lalu dia menoleh ke meja makan. Park dengan
sigap langsung menahan energi Jin Ho agar Minho tidak tahu, anak itu sedang
berusaha menggerakkan sendok.
Jin Ho malah masih tergelak-gelak, tertawa
ringan dan kencang, ala khas anak-anak. Minho malah melayaninya dengan
mengajaknya bernyanyi. Minseo menegurnya, mengatakan kalau Minho sebaiknya
lekas berangkat supaya tidak terlambat.
Minho sama sekali tidak menaruh curiga
dengan apa yang dikatakan Minseo. Park juga mengompori supaya dia cepat pergi
kerja dan melupakan masalah tadi bertengkar soal ramalan, memintanya untuk
menunda dulu saja pergi ke peramal Kang itu.
“tidak ada salahnya ditunda.. karena aku
juga berfikir.. sebenarnya lebih baik kamu menunda kerjasama dengan orang
semacam Nam itu,”
Minho makin heran, karena Park seperti
tahu sifat Nam.
“Ya.. aku berterima kasih sekali Appa mau
memperingatkanku...sebaiknya aku tunda keduanya..,”
Minho lalu berdiri dan mencium ketiga anak
kembarnya, satu per satu.
Young Joon biasa saja ketika dicium
pipinya, dia memang sepertinya mewarisi sifat pendiamnya Minseo. Jin Ho tertawa
tergelak, tetapi membuat Park waspada karena sepertinya anak ini sedikit iseng
dan Hana juga tertawa tetapi melihat Minho dengan tatapan yang dalam.
Minho mengusap kepala anak perempuannya
itu,” cara melihatmu aneh sekali padaku...seperti membaca pikiranku”
Hana malah tertawa dan bubbling mendengar
Minho berkata itu. Minho sekali lagi tidak sama sekali berfikir bahwa anaknya
punya “sesuatu”
Dia lalu pamit pergi ke pabrik tempat
usahanya.
Minseo menarik nafasnya di depan ayah dan
ibunya. Sementara ketiga anak kembarnya masih duduk di kursi bayi.
“Jin Ho benar-benar mudah menunjukkan kemampuannya..
kamu harus mudah juga mengendalikannya,” kata Park memulai pembicaraan.
Jin Ho yang sedang dibicarakan hanya
tertawa tergelak-gelak. Park memberikan sebuah sendok di depan matanya. Dia
menunggu reaksi anak bayi itu terhadap sendok.
“Lihat....,” katanya kepada Minseo dan
isterinya.
Mereka menunggu reaksi Jin Ho yang terus
melihat sendok itu. Tak berapa lama, Minseo melihat, sendok kecil bertangkai
panjang yang diberikan Park di depan wajah Jin Ho perlahan-lahan pengangannya
bengkok.
Minseo kaget anaknya bisa melakukan itu.
Hana malah tertawa melihat ibunya berekspresi seperti itu.
“Hana pun sepertinya mewarisi kemampuan
mu...,” kata Park lagi
“hanya saja, dia belum dapat berbicara...
tetapi cara menatapnya sudah berbeda....,”
“yang belum tahu adalah Young Joon,” kata
Minseo
“bisa jadi, Young Joon juga memilikinya...
hanya saja.. aku belum tahu,” ujar Park.
“Haaaah.. aku dari awal 100 hari sudah
gundah, Appa... Jin Ho memainkan vas bunga dan membuat Nyonya Bong bingung”,
keluh Minseo.
Park hanya cengar-cengir saja melihat cucu
nya seperti itu.
“wajar saja..dia kan anak pertama kalian..
dia bisa jadi pelindung untuk kedua adik dan ayahnya,”
Minseo khawatir, jika Jin Ho tidak
dikontrol, Minho akan cepat tahu, lalu bisa saja terjadi keributan karena Minho
memang tidak pernah suka dengan hal-hal seperti ini. Park mengatakan kalau
Minseo tidak perlu khawatir.
“Namun.. entah kenapa...,” kata Park
“ada apa, Nampyeon??,” tanya isterinya,
penasaran
“Minho memang tidak menyukai semua ini...
hanya saja, lambat laun dia akan dipertemukan dengan masalah besar.. dan
waktunya ketiga anak mu menunjukkan kemampuannya”, jawab Park.
Minseo kaget, dia malah jadi bingung jika
hal itu terjadi. Pikirannya bergayut pada masa depan dia dan ketiga anaknya itu
jika Minho cepat tahu.
“jangan terlalu khawatir .... Minho sangat
sayang dengan kalian... hanya saja..dia memang tidak suka segala sesuatu yang
aneh...itu wajar saja,” kata Park.
Hana memperhatikan wajah kakeknya
dalam-dalam lagi. Park senyum padanya.
“apa kamu mau mengatakan padaku..kalau
kamu juga sama dengan ibumu, Hana??”
Park menoleh pada Minseo,” dia juga akan
sama denganmu...ketiga anakmu akan mewarisi semua kemampuanmu... hanya saja,
aku belum melihat itu pada Young Joon”
Minseo jadi tambah khawatir. Kali ini, dia
benar-benar gundah. Selama bertahun-tahun dia menutupi dirinya dari Minho, dan
jika suatu kali dia akan tahu, Minseo akan pasrah total dengan kenyataan Minho
bisa saja membencinya.
“kamu pasti khawatir...hidup itu mestinya
ada tantangan, Minseo...tidak perlu takut ...”, kata ibunya, menyemangati.
“Minho yang lebih dulu takut...itu makanya
dia terlalu percaya pada ramalan... tugasmu untuk mengalihkannya... bagaimana
bisa kamu memiliki kemampuan, tetapi dia tidak suka?? Kamu harus merebut
hatinya...dia baiknya menerima kenyataan kalau yang seperti ini ada,” kata Park
Hana bubbling dan tertawa, Park menoleh
lagi padanya.
“Lihat saja...seakan dia tahu apa yang
kita bicarakan walau belum bisa bocara, hehe”
“Aduh, Appa...aku khawatir kalau semua ini
akan berbalik arah... menjadi lebih buruk”, Minseo gusar. Park meyakinkan lagi
kalau tugas Minseo untuk membantu Minho dalam rumahtangga mereka, dan
mengarahkan 3 anak mereka.
...................................................
Di kantor........
“Apa...ada yang harus dibicarakan lagi
soal harga?? Anda berfikir saja, Nam-ssi..kesepakatan
kita sudah diatas perjanjian... bagaimana mungkin kalau harus ada biaya
tambahan?? Semestinya Anda yang menanggungnya...bukan dari pihak saya,” kata
Minho ditelepon. Dia kecewa dengan sikap rekan bisnisnya itu.
Nam lalu berkata kalau hal tersebut tidak
terduga, tapi Minho tidak mau tahu. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, kalau
biaya tambahan atas kenaikan Dollar terhadap ₩on akan ditanggung pihak Nam dan
sekarang Minho merasa dicurangi.
“Tidak bisa seperti itu, jika ini terus
berlanjut.. saya tidak bisa mempertahankan kerjasama kita. Anda tidak pandai
mengatur harga,” Minho langsung marah men-judge
parrtner bisnisnya itu berbuat curang dan tidak konsisten dengan
perjanjian.
“Bagaimanapun, kalau memang akan putus
sampai setengah jalan saja usaha ini.. sebaiknya Anda juga menanggung kelebihan
biaya kirim dan juga produksi, Lee-ssi,”
kata Nam pada Minho.
Jelas Minho tidak menerima. Dia memang
orang yang keras dengan bisnisnya. Jika sesuai dengan perjanjian, ya seperti
itu. Dia bernegosiasi terus dengan Nam, pemilik salah satu perusahaan kapas dan
kain. Sampai akhirnya Minho mengabil keputusan.
“Saya akan setengah jalan saja dengan
Anda, Nam-ssi... sisanya keputusan pengambilan kain itu akan saya stop dan saya
akan membayar sisa ongkos pengiriman,” kata Minho tegas.
Nam tidak setuju karena kontrak sudah
ditandatangani. Minho tidak peduli karena Nam bukan satu-satunya partner usaha
dia, sementara masih banyak juga yang bisa mengirimkan model kain yang lebih
bagus dari punya Nam.
“saya kecewa dengan Anda... kualitas
barang pun sebenarnya tidak lah bagus sekali... saya sudah dikecewakan dengan
Anda dua kali dengan yang ini.. jadi.. saya minta maaf,” ujar Minho lagi dan
dia menutup teleponnya.
“Menyebalkan,” gerutu Minho. Dia duduk
lagi dan meletakkan handphone nya, lalu berfikir.
“Minseo berkata tentang Nam-ssi tadi
pagi.. umm.. kenapa Minseo bisa lebih pintar dalam meramal dibandingkan
Kang-ssi?? Apa... isteriku itu sebenarnya seorang supernaturalis??,” Minho jadi
bertanya-tanya sendiri dalam hatinya. Semenjak pacaran, putus, nikah dan punya
anak.. apa-apa yang menurutnya seperti ramalan bagi Minho dari mulut Minseo,
terjadi terus pada dia dan keluarganya.
“Ah.. bagaimana bisa? Tidak mungkin Minseo
berbohong padaku...,” katanya lagi.
Dia mengingat sebuah peristiwa, sewaktu
mereka mau putus waktu Minho masih mau naik kelas 11. Dia ingat waktu ditaman,
Minseo ngobrol seorang diri sebelum Minho menyapanya dari belakang.
“Ah.. waktu itu... Minseo bilang padaku
kalau dia cewek aneh.. aku tidak pernah berfikir Minseo seperti itu.. apa
iya???,”
Pikirannya jadi melayang-layang tentang
peristiwa masa lalu beberapa kali kejadian aneh yang menimpa Minho selalu dapat
diprediksi oleh Minseo.
“Termasuk juga ada hantu di rumahku...
seperti yang dibilang Nyonya Bong??”
“Ah.. masak iya??,”
Minho akhirnya menelepon Minseo lagi siang
itu.
“Sayang.. perkiraanmu benar lagi,”
Minseo tertawa kecil, dia pura-pura tidak
tahu kenapa Minho berkata seperti itu,”yang mana, Minho sayang? Tadi
pagi..bukannya pembicaraan kita tentang peramal Kang??”
“Tidak, sayang... tadi pagi.. tentang
Nam-ssi.. dia memang bukan partner bisnis yang baik.. menyusahkanku..
menyebalkan... dan kamu benar.. ,” Minho cemberut
Minseo tertawa kecil padanya, dia bilang
pada Minho, kalau itu hanya prediksinya saja. Tapi Minho penasaran, kenapa
apa-apa yang berhubungan dengan prediksi, Minseo selalu lebih tepat
dibandingkan dengan peramal Kang. Minseo bercanda padanya, lebih baik tidak
usah ke peramal itu lagi dan uangnya disimpan saja untuk masa depan ketiga anak
mereka. Karena sekali mendatangi peramal itu, harga jasanya cukup mahal.
“Lagi pula.. Appa dan Eomma kamu kan sudah
juga tidak setuju kalau kamu rajin ke sana, sayang,” ujar Minseo.
“Terutama Appa,” lanjutnya lagi.
Minho memang cowok yang susah dilarang
kecuali terjadi akhirnya pada dirinya. Dia sepertinya berfikir memang dia akan
berusaha berhenti pergi ke peramal itu. Tapi pikirannya masih plin-plan. Sore
ini, dia akan kembali lagi kesana.
Minseo jadi setengah kesal padanya, tapi
Minho tetap bersikeras pergi. Akhirnya, Minseo tidak bisa melarangnya, Minho
bilang, dia harus tahu, siapa-siapa lagi rekan bisnisnya yang akan berbuat
curang dan yang akan langgeng berbisnis dengannya.
“Lihat, Appa.. dia mau pergi lagi kesana..
menyebalkan sekali Minho itu... benar-benar masih kekanak-kanakan,” Minseo
mengeluh lagi di depan ayahnya.
Tak disangka, Hana malah tertawa-tawa.
Minseo senyum padanya, lalu
menggendongnya,” Kenapa?? Kamu tertawakan Eomma karena tidak bisa melarang Appa
mu ya?? Appa mu begitu... terlalu percaya ramalan... jadi Eomma kesal deh”
Hana mendadak memberhentikan tawanya, lalu
bubbling pada Minseo.
“haw... haw.. haw...”, suaranya
bubblingnya membuat Minseo berfikir. Tatapan mata anak itu melihat ibunya
dengan tajam. Lalu tertawa lagi.
“mentertawakan Appa mu ya? Hehe,” canda
Park pada Hana dan Minseo.
Hana menoleh pada kakeknya lalu
tertawa-tawa.
“ Hana mungkin berfikir kalau Minho lucu
sekali, hehe,” canda Park lagi pada Minseo.
“aku sudah pernah menghipnotisnya sebelum
tidur.. tapi tampaknya alam bawah sadarnya memang sudah sangat terpengaruh pada
dia,”
“Pernah terpikirkan kalau Kang mempunyai
hipnotis juga??,” tanya Park, memancing anaknya
Minseo memandang ayahnya dengan sedikit
heran,” apa iya??”
“well..
sebagian peramal memakainya... sebagai bagian usaha.. kamu kan tahu.. persaingan
ada dimana saja,” jawab Park dengan mimik santainya
“Darimana Appa tahu??,” tanya Minseo.
“Appa kan dulu suka iseng pergi ke peramal
juga... karena Appa juga memiliki kemampuan supernatural.. jadi Appa merasakan
beberapa peramal ada yang janggal... menggunakan mind power atau hipnotis lebih
parahnya untuk mempengaruhi para klien mereka,” kata Park lagi masih dengan
mimik santainya
Hana tersenyum pada kakeknya itu.
Park membalas lagi dengan senyum, “Iya
kan, Hana?? Mungkin kalau kamu sudah bisa bicara... kamu lebih cerdas dari ibu
mu soal ayahmu itu,”
Minseo jadi berfikir... apa benar Kang
menggunakan tehnik lain? Malam itu... selepas nanti Minho pulang.. dia akan
mulai lagi menggoyang pikiran Kang, si peramal itu. Dia benar-benar tidak suka
Minho bergantung pada orang itu.
Park santai saja menyikapi semuanya. Sore
itu, dia asik bermain dengan ketiga cucu kembarnya, menggunakan kemampuan
telekinetik nya untuk memudahkan bermain-main dengan mereka. Minseo mempunyai
kemampuan supernatural dari 3 anak Park, memang dari dirinya. Hanya saja, Park
dan isterinya, sedari kecil selalu mengingatkannya lebih baik tidak digunakan
di depan banyak orang. Dan sekarang, Minseo memiliki suami yang tidak suka
dengan hal tersebut. Dengan Jin Ho yang sudah mulai aneh, Park merasa, dia
harus membantu Minseo menjaga anaknya itu.
“Hei Jin Ho sayang... kamu sebaiknya tidak
membuat ibu mu khawatir ... aku tahu kamu seperti dia.. hanya saja.. aku
sebagai kakek khawatir, ayahmu akan marah terhadap ibumu dan kalian bisa saja
berpisah dengan ayah kalian,” kata Park, mengobrol pada ketiganya yang ditaruh
di box bayi besar, di ruang belakang.
Hana tertawa-tawa. Park juga akhirnya
tertawa dengan tingkah cucu perempuannya itu yang sepertinya sok kenal sok
dekat dan bisa membaca pikiran orang di depannya.
“Kamu juga, cucuku yang cantik, Hana..
kalau kamu seperti Eomma mu... kamu harus lindungi ayahmu suatu hari nanti,”
kata Park padanya.
Hana membalas dengan bubbling nya.
Park menatap Young Joon. Anak itu memang
terlihat kalem dibanding Hana dan Jin Ho.
“Matamu bagus, Young Joon... seperti
kristal,” senyum Park padanya.
Young Joon diam saja. Park masih
menatapnya.
“Mata yang cocok untuk bisa hipnotis dan
mempengaruhi orang lain,” senyum Park lagi, lalu dia mengelus kepala Young
Joon, cucu yang tengah itu.
Young Joon senyum padanya. Park
mengangkatnya dari Box bayi dan menggendongnya.
“Kamu anak tengah.. kalau kamu sudah
besar.. kamu sebaiknya bisa mengimbangi kakakmu Jin Ho yang sepertinya iseng
ini... ya??,” tatap Park pada Young Joon.
Anak itu diam sejenak, lalu tersenyum pada
kakeknya itu.
“Aku tahu.. kalian akan menjadi anak-anak
hebat suatu hari nanti.. tidak lama lagi.. bahkan sebelum kalian sekolah
dasar.. jadi.. kalian lindungi ayah dan ibu kalian ya... terutama kamu, Jin
Ho.. kamu anak paling tua”
Park menatap wajah Jin Ho dan anak kecil
itu berani menggoyang-goyangkan box bayi yang dia sendiri ada di dalamnya
dengan tenaga telekinetiknya. Hana rewel, tidak suka dan menangis. Tapi Jin Ho
malah tertawa melihat Hana rewel.
Minseo yang mendengar Hana menangis lalu
menuju ke belakang rumah.
Park malah tertawa-tawa bersama Jin Ho,
sama sekali dia tidak menghentikan Hana yang menangis.
“Jin Ho benar-benar iseng... aku suka
cucuku ini, hahaha!,” tawa Park.
“Jin Ho.. nanti adikmu nangis terus,
sayang,” Minseo menggendong Hana. Sedang Jin Ho malah sibuk belajar
menggoyang-goyang box bayi dengan keras.
Park hanya tertawa, sama sekali tidak
marah dengan kelakuan cucunya yang memang sudah terlihat iseng itu.
“Yang paling akan kamu awasi memang Jin
Ho.. paling aman Young Joon,” kata Park pada Minseo.
“Ya, Appa..tapi aku masih tidak ingin
Minho tahu tentang ini,” balas Minseo.
“Minho akan tahu juga...dan itu akan
membuat dia berfikir.. kalau dia harus menerima kamu dan anak-anak ini apa
adanya... tanpa benci dengan hal-hal supernatural yang ada pada kamu dan
anak-anak kalian,” kata Park, santai masih menggendong Young Joon. Sementara,
Jin Ho tertawa-tawa senang dan kencang, berhasil menggoyang-goyang box bayi
sampai keras. Park sama sekali tidak marah, dia malah tertawa bersama Jin Ho.
Minseo hanya geleng-geleng kepala sambil mendiamkan Hana yang rewel karena
diganggu kakaknya.
Bersambung ke part 14....