This is me....

Kamis, Januari 22, 2015

My 3 Supernatural Beloved Kids (Part 13: Anak-Anakku...)

Starring: Lee Minho, Park Minseo, Lee Jin Ho, Lee Young Joon, Lee Hana.

Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..

Minho sangat bahagia kehidupannya terasa sempurna dengan kehadiran 3 orang anak kembarnya. Enam bulan sudah usia mereka berlalu. Minseo masih menyembunyikan keanehan yang terjadi pada masing-masing anak. Dia tidak ingin Minho mengetahuinya, sebab walau Minho orang yang percaya dengan ramalan, dia tetap tidak suka dengan orang yang menurutnya aneh kalau punya kemampuan supernatural. Minseo harus tetap menjaga agar diri dan 3 anaknya tidak terbongkar di depan Minho.
Park dan isterinya berencana membantu Minseo mengasuh 3 anak mereka yang sudah mulai bisa bubbling (istilah untuk bayi yang suka tertawa dan mencoba bicara) dan mulai bisa berguling-guling. Park takut ketiga cucunya bisa celaka, jadi dia dan isteri memutuskan beberapa hari dalam satu minggu tinggal mengasuh mereka.


“Kyaaa.... ayo sini.. sini Jin Ho... sama hal abeoji (kakek) digendong,” gaya ceria Park ingin menggendong cucunya dari tangan Minho. Mereka akan sarapan pagi.
“Pagi, Appa (ayah),” senyum Minho sambil menyerahkan Jin Ho pada Park.
Sementara Young Joon dan Hana sedang berada di box bayi. Minseo dibantu ibunya menyiapkan sarapan pagi.
“anak-anak kalian hebat sekali.. aku sebagai kakek bangga punya mereka,” kata Park pada Minho. Dia mengangkat-angkat Jin Ho dan anak kecil itu tertawa-tawa senang.
Minho senang keluarga kecilnya dibantu oleh mertuanya. Dia memang melihat Minseo sangat kelelahan setiap hari harus mengurus tiga anak yang ceria dan aktif sekali.
Minseo dan ibunya mengobrol di dapur. Ibunya berdiri disamping dan berbisik padanya.


“Minho...belum tahu kalau kamu ini bisa supernatural kan?? Jangan sampai dia tahu..”
Minseo menoleh pada ibunya. Dia bercerita padanya sewaktu kemarin mengadakan pesta kecil-kecilan 100 hari kesehatan anak-anak mereka, Jin Ho menurutnya sudah mewarisi salahsatu kemampuannya: telekinetik. Lalu dia juga katakan pada ibunya, kalau Nyonya Bong, isteri salahsatu kolega bisnis Minho sempat kaget dan ketakutan kenapa vas bunga bergerak sendiri. Untungnya, Minseo langsung sigap menyadari begitu dia melihat mata anak kembar yang paling tua itu juga sedang menatap vas bunga dan getaran gelombang energy nya tertangkap olehnya.
“Gawat sekali Jin Ho kalau begitu,” bisik ibunya lagi
Minseo menarik nafasnya sebentar, mengeluh,” begitulah, Eomma.. aku takut Minho tahu hal ini.. untungnya aku tidak bekerja... mengurus satu saja susah sekali..,”
“tidak ada keluarga besar kita dari perempuan yang harus bekerja kalau sudah punya anak, Minseo.. jadi, Eomma tidak akan setuju.. apalagi ini ada tiga,” kata ibunya sambil mengiris sayur
Minseo memang mematuhi keinginan kedua orangtuanya, menantu dan juga Minho, untuk melepaskan pekerjaannya menjadi manager, sebelum mereka menikah. Sebenarnya atasannya Minseo menyesal juga anak buahnya yang berdedikasi akhirnya keluar, tetapi dia memang mempertimbangkan hatinya untuk keluarga besarnya.

Dari dapur, dia melirik sebentar apa yang dilakukan Minho dan ayahnya. Dilihatnya, mereka sedang ngobrol asik sambil mengawasi si kembar tiga.
“Minho sendiri.. bagaimana menurut mu? Dia bisa menjadi ayah yang baik kan??,” tanya ibunya Minseo lagi
“dia masih suka pergi ke peramal Kang,” keluh Minseo lagi. Minho memang percaya banget dengan ramalan Kang itu. Sudah beberapa kali dalam enam bulan terakhir ini, dia pergi lagi ke sana, baik untuk urusan bisnis, atau sekedar bertanya apa ketiga anak kembarnya ini sehat-sehat saja dan hidup nyaman.
Minho memang termasuk ayah yang khawatir dan panik kalau keluarganya tidak nyaman atau ada kebutuhan hidup dasarnya yang kurang. Pernah Hana sakit panas saja belum ada dua hari, Minho panik sendiri sana sini telepon kedua orangtuanya dan dokter anak sewaktu dia kecil. Ketika Hana sudah panasnya benar-benar turun, dia baru bisa tersenyum.
“Minho itu memang termasuk lelaki yang khawatir soal kesehatan anak-anak, Eomma..kadang aku suka katakan kalau dia kendorkan sedikit kekhawatirannya itu.. tapi nanti dia malah cemberut dan bisa mengomel.. ingat kan.. waktu aku terlambat membawa Hana?? Dia mengomel sepanjang hari di klinik anak.. aku jadi kesal juga”

Ibunya Minseo bukan marah anaknya diomelin menantunya, malah tertawa kecil.
“Tapi.. Eomma bangga sekali dengan Minho.. berarti dia termasuk ayah yang bertanggung jawab loh”, lalu mengerling pada Minseo.
Minseo mengangguk, dia memang menganggap Minho sudah dewasa dan bertanggungjawab. Satu masalah pada diri suaminya itu: percaya ramalan, apa saja bisa dia tanyakan kepada peramal Kang, supaya mendapatkan petunjuk.
Ibunya lantas bertanya, apalagi tingkah Minho yang berhubungan dengan ramalan. Minseo mencoba mengingat-ingatnya lagi.
“aku sampai harus menghipnotisnya, Eomma.. Minho keterlaluan”
Ibunya tertawa kecil,” ternyata.. tapi.. sebaiknya kamu cari jawaban yang tepat supaya Minho tidak selalu percaya itu”
Minseo mengangguk. Mereka terus masak sampai selesai.

Minseo menghampiri Minho dan ayahnya, menghidangkan makan pagi.
“wah.. harum sekali nih,” basa basi Minho, dia mencium pipi Minseo. Sementara Jin Ho masih dipangku ayahnya Minseo.
Ibunya Minseo juga membantu membawa makanan. Minseo masuk ke kamarnya sebentar. Minho tanpa ragu menggotong kursi kecil tiga buah supaya anak-anak mereka bisa mengobrol bersama di waktu makan pagi dengan kakek-nenek mereka.
“Minho lelaki yang romantis ya, Nampyeon.. padahal dia lebih muda dari Minseo,” bisik isterinya Park.
“Tapi sensitif,” sambung Park, juga sambil berbisik tapi hanya cengar-cengir.
Tak berapa lama, Minho sudah membawa tiga kursi itu dan menggendong satu persatu anak mereka, mendudukkan dikursi tersebut.
Park dan isterinya senang sekali melihat mereka bertiga sehat-sehat saja.
Hana memperhatikan kakeknya dengan mata yang tajam. Park menyadari kalau cucu perempuannya ini memang berbeda. Dia tidak ingin Minho tahu.
“aku ingin menyuapi cucu ku, Hana.. sini ...anak manis...,” Park meminta Minseo memberikan mangkuk makan cucunya itu.
Minho tertawa kecil melihat mertuanya memanjakan anak perempuannya, tanpa disadarinya kalau Park mengalihkan perhatian Hana dan hanya ingin bicara dengan cucunya itu. Park memegang mangkuk, menyuapinya.
“Appa sayang sekali sepertinya dengan Hana,” ujar Minho polos.
Hana memperhatikan mata Minho dengan tatapan dalam, lalu dia mengoceh ala bayi sambil mengambil sendok dan ingin memukul kepala ayahnya sendiri.
“ba...ba..ba.. hag ..hag..hag!,” tawa Hana menggema diruang makan itu, sambil dia mencoba memukul Minho dengan sendok plastik kecil.
Park tertawa-tawa dengan tingkah Hana.
“dia bilang.. kalau kamu ayah yang aneh,” celetuk Park.
Minho menoleh pada mertuanya, dia tidak pernah punya pikiran kalau Hana memang akan berperasaan seperti itu... darimana Park tahu?
Park lekas menarik perkataannya lagi dengan tertawa,” begini loh, Minho.... bayi itu walau belum bisa bicara, dia bisa membaca pikiran orangtuanya...”
Lalu dia menoleh pada Hana,”iya kan??”
Hana kembali tertawa, seperti mengerti obrolan antar ayah dan kakek. Minho jadi heran, kenapa sepertinya mertuanya tahu pikiran Hana, bagaimanapun, untuk orang biasa, hal itu sepertinya mustahil.
“Ah.. Appa ini bercanda sekali.. mana bisa sih... kita tahu pikiran bayi yang belum bisa bicara?? Ya kan, Hana??,”
Hana menoleh pada Minho, dia senyum lalu mulai lagi bubbling nya.
Minseo tidak ingin nanti hal ini jadi pembicaraan lebar, lalu dia memotong situasi,” ah.. sudahlah, Nampyeon.. nanti kamu terlambat kerja loh.. pagi di musim ini cepat sekali”
Minho mengangguk. Mereka semua diam, menikmati makan pagi mereka.

“Ah, Minseo.. hari ini aku mau pulang sedikit terlambat... harus pergi ke peramal Kang,” kata Minho di sela makan paginya.
“Moeus?? Pergi lagi ke sana?? Untuk apa lagi, Nampyeon??,” Minseo mulai lagi gusarnya, dia memang malas kalau Minho sudah bicara soal peramal itu lagi.
Minseo langsung berhenti menyuapi Young Joon begitu mendengar itu. Orangtuanya hanya mengikuti alur pembicaraan suami-isteri itu.
“urusan bisnis...,” jawab Minho singkat
“dengan Nam-ssi itu lagi?? Bukankah aku sudah bilang.. kalau dia cenderung curang?? Dahulu dia curang soal kualitas kain.. sekarang dia mau curang apa lagi... pembayaran??,” Minseo jadi agak panas juga, jadi dia main tebak lagi.
“darimana kamu tahu, sayang?,” tanya Minho heran. Dia berhentikan makannya.
Minseo agak gugup,”ah, tidak.. aku hanya tebak-tebakan saja”, lalu dia menoleh pada Young Joon dan menyuapinya lagi.
Park tertawa dengan pertengkaran kecil itu,” kalian ini.. haha.. yang satu percaya peramal.. yang satu menentang..”
“Ini penting sekali, Appa..,” ujar Minho pada mertuanya itu. Dia lalu katakan, kenapa Minseo bisa tepat menebak urusannya dengan Nam tepat sekali.
Minseo berkilah sekali lagi, kalau itu hanya tebakan dia saja karena kesal Minho terlalu bergantung soal keputusan kepada peramal itu dan dia tidak suka. Park memperhatikan lagi mereka berdebat.

Minho membela dirinya kalau tindakannya pergi ke peramal Kang itu tidak ada masalah.
“Minseo sendiri selalu bisa menebak apa yang terjadi dengan bisnisku, Appa.. apa aku tidak heran kalau begitu??,”
Park jadi bergumam dengan pembelaan Minho pada dirinya sendiri itu, lalu dia jadi terkekeh pada Minho.
“Kalau begitu.. semestinya kamu tidak perlu percaya ramalan Kang-ssi... kalau isterimu sendiri bisa menebaknya,”
“Dan itu juga menghemat pengeluaran,” sindir Minseo, sambil menyuapi Jin Ho dan Hana.
“aaam... ayo makan yang baik, Hana.. Jin Ho,” lanjutnya lagi, mengalihkan perhatian Minho padanya.
Minho menggerutu dalam hatinya dikritik isterinya lagi soal yang sama. Sedari mereka pacaran, masalah memang berputar disitu-situ saja. Minseo berulang kali pula mencoba mempengaruhi pikiran Minho agar tidak percaya pada peramal itu, tetap saja sepertinya sudah terpatri di dalam pikiran Minho sendiri, dia tidak bisa tidak bergantung dengan Kang itu.

Jin Ho bubbling dengan Minseo. Minseo mengajaknya bercanda karena dia menumpahkan mangkuk buburnya.
“Ya.. aku akan berusaha mengurangi nya, Appa,” kata Minho dengan nada yang sebenarnya tidak puas.
“Aduh Jin Ho.. sebaiknya kamu tidak tumpahkan buburmu, sayang,” ibunya Minseo membantu merapikan lap makan di leher Jin Ho.
Jin Ho malah tertawa dengan perkataan neneknya itu. Minseo mengawasi mata anak sulungnya itu, dilihatnya, mata anaknya tertuju malah pada gelas yang ada di depan Minho.
Minseo sigap langsung mengalihkan mata Jin Ho, dia bertindak duluan membaca pikiran anaknya itu supaya tidak iseng dan tidak diketahui Minho.
“Merepotkan sekali Jin Ho ini.. sepertinya sifat isengnya meniru dari Minho.. tapi kemampuannya seperti ku,” keluh hatinya Minseo.
Minho malah senyum dengan Jin Ho, dia lalu menghampiri anak itu dan berjongkok di depan kursi makan bayi.
“Appa belum suapi kamu.. makan dengan Appa ya??,”
Minho mengambil mangkuk bubur dari tangan ibu mertuanya, lalu menyuapi Jin Ho. Minseo memantau anak sulungnya itu. Jin Ho mendadak tertawa-tawa dan ditanggapi oleh Minho dengan biasa saja. Minho berfikir kalau anaknya itu ingin bermain dengannya.

Park melihat tingkah Jin Ho. Begitu Jin Ho juga mulai melihat benda-benda sekeliling dan sedikit bergerak, Park membantu Minseo menghalangi keisengan cucunya itu.
“ssst... kamu, Jin Ho.. ternyata,” gumam hatinya Park. Minho yang sedang asik menyuapi Jin Ho tidak menyadari, sebenarnya mata anaknya itu sedang berusaha menggerakkan alat makan diatas meja.
Park berusaha menahan energi yang dikeluarkan cucunya itu. Jin Ho malah tertawa tergelak-gelak. Dia berfikir kakeknya bermain-main dengannya. Minho heran, kenapa anaknya itu diberi makan olehnya, tapi tertawa.
Park melihat Jin Ho mengangat sendok yang berada di atas meja makan dengan matanya, tanpa Minho ketahui. Park memantau, sejauh mana tenaga Jin Ho untuk mengangkat benda yang sekitar 2 meter jauh dari badan mungilnya itu.
“Kekuatannya cukup bagus,” gumam hatinya Park.
Minho yang melihat mata Jin Ho terlihat aneh melihat belakang badannya, lalu dia menoleh ke meja makan. Park dengan sigap langsung menahan energi Jin Ho agar Minho tidak tahu, anak itu sedang berusaha menggerakkan sendok.
Jin Ho malah masih tergelak-gelak, tertawa ringan dan kencang, ala khas anak-anak. Minho malah melayaninya dengan mengajaknya bernyanyi. Minseo menegurnya, mengatakan kalau Minho sebaiknya lekas berangkat supaya tidak terlambat.  

Minho sama sekali tidak menaruh curiga dengan apa yang dikatakan Minseo. Park juga mengompori supaya dia cepat pergi kerja dan melupakan masalah tadi bertengkar soal ramalan, memintanya untuk menunda dulu saja pergi ke peramal Kang itu.
“tidak ada salahnya ditunda.. karena aku juga berfikir.. sebenarnya lebih baik kamu menunda kerjasama dengan orang semacam Nam itu,”
Minho makin heran, karena Park seperti tahu sifat Nam.
“Ya.. aku berterima kasih sekali Appa mau memperingatkanku...sebaiknya aku tunda keduanya..,”
Minho lalu berdiri dan mencium ketiga anak kembarnya, satu per satu.
Young Joon biasa saja ketika dicium pipinya, dia memang sepertinya mewarisi sifat pendiamnya Minseo. Jin Ho tertawa tergelak, tetapi membuat Park waspada karena sepertinya anak ini sedikit iseng dan Hana juga tertawa tetapi melihat Minho dengan tatapan yang dalam.
Minho mengusap kepala anak perempuannya itu,” cara melihatmu aneh sekali padaku...seperti membaca pikiranku”
Hana malah tertawa dan bubbling mendengar Minho berkata itu. Minho sekali lagi tidak sama sekali berfikir bahwa anaknya punya “sesuatu”
Dia lalu pamit pergi ke pabrik tempat usahanya.

Minseo menarik nafasnya di depan ayah dan ibunya. Sementara ketiga anak kembarnya masih duduk di kursi bayi.
“Jin Ho benar-benar mudah menunjukkan kemampuannya.. kamu harus mudah juga mengendalikannya,” kata Park memulai pembicaraan.
Jin Ho yang sedang dibicarakan hanya tertawa tergelak-gelak. Park memberikan sebuah sendok di depan matanya. Dia menunggu reaksi anak bayi itu terhadap sendok.
“Lihat....,” katanya kepada Minseo dan isterinya.
Mereka menunggu reaksi Jin Ho yang terus melihat sendok itu. Tak berapa lama, Minseo melihat, sendok kecil bertangkai panjang yang diberikan Park di depan wajah Jin Ho perlahan-lahan pengangannya bengkok.
Minseo kaget anaknya bisa melakukan itu. Hana malah tertawa melihat ibunya berekspresi seperti itu.
“Hana pun sepertinya mewarisi kemampuan mu...,” kata Park lagi
“hanya saja, dia belum dapat berbicara... tetapi cara menatapnya sudah berbeda....,”
“yang belum tahu adalah Young Joon,” kata Minseo
“bisa jadi, Young Joon juga memilikinya... hanya saja.. aku belum tahu,” ujar Park.
“Haaaah.. aku dari awal 100 hari sudah gundah, Appa... Jin Ho memainkan vas bunga dan membuat Nyonya Bong bingung”, keluh Minseo.
Park hanya cengar-cengir saja melihat cucu nya seperti itu.
“wajar saja..dia kan anak pertama kalian.. dia bisa jadi pelindung untuk kedua adik dan ayahnya,”
Minseo khawatir, jika Jin Ho tidak dikontrol, Minho akan cepat tahu, lalu bisa saja terjadi keributan karena Minho memang tidak pernah suka dengan hal-hal seperti ini. Park mengatakan kalau Minseo tidak perlu khawatir.
“Namun.. entah kenapa...,” kata Park
“ada apa, Nampyeon??,” tanya isterinya, penasaran
“Minho memang tidak menyukai semua ini... hanya saja, lambat laun dia akan dipertemukan dengan masalah besar.. dan waktunya ketiga anak mu menunjukkan kemampuannya”, jawab Park.
Minseo kaget, dia malah jadi bingung jika hal itu terjadi. Pikirannya bergayut pada masa depan dia dan ketiga anaknya itu jika Minho cepat tahu.
“jangan terlalu khawatir .... Minho sangat sayang dengan kalian... hanya saja..dia memang tidak suka segala sesuatu yang aneh...itu wajar saja,” kata Park.

Hana memperhatikan wajah kakeknya dalam-dalam lagi. Park senyum padanya.
“apa kamu mau mengatakan padaku..kalau kamu juga sama dengan ibumu, Hana??”
Park menoleh pada Minseo,” dia juga akan sama denganmu...ketiga anakmu akan mewarisi semua kemampuanmu... hanya saja, aku belum melihat itu pada Young Joon”
Minseo jadi tambah khawatir. Kali ini, dia benar-benar gundah. Selama bertahun-tahun dia menutupi dirinya dari Minho, dan jika suatu kali dia akan tahu, Minseo akan pasrah total dengan kenyataan Minho bisa saja membencinya.
“kamu pasti khawatir...hidup itu mestinya ada tantangan, Minseo...tidak perlu takut ...”, kata ibunya, menyemangati.
“Minho yang lebih dulu takut...itu makanya dia terlalu percaya pada ramalan... tugasmu untuk mengalihkannya... bagaimana bisa kamu memiliki kemampuan, tetapi dia tidak suka?? Kamu harus merebut hatinya...dia baiknya menerima kenyataan kalau yang seperti ini ada,” kata Park
Hana bubbling dan tertawa, Park menoleh lagi padanya.
“Lihat saja...seakan dia tahu apa yang kita bicarakan walau belum bisa bocara, hehe”
“Aduh, Appa...aku khawatir kalau semua ini akan berbalik arah... menjadi lebih buruk”, Minseo gusar. Park meyakinkan lagi kalau tugas Minseo untuk membantu Minho dalam rumahtangga mereka, dan mengarahkan 3 anak mereka.
                                                ...................................................
Di kantor........
“Apa...ada yang harus dibicarakan lagi soal harga?? Anda berfikir saja, Nam-ssi..kesepakatan kita sudah diatas perjanjian... bagaimana mungkin kalau harus ada biaya tambahan?? Semestinya Anda yang menanggungnya...bukan dari pihak saya,” kata Minho ditelepon. Dia kecewa dengan sikap rekan bisnisnya itu.
Nam lalu berkata kalau hal tersebut tidak terduga, tapi Minho tidak mau tahu. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, kalau biaya tambahan atas kenaikan Dollar terhadap ₩on akan ditanggung pihak Nam dan sekarang Minho merasa dicurangi.
“Tidak bisa seperti itu, jika ini terus berlanjut.. saya tidak bisa mempertahankan kerjasama kita. Anda tidak pandai mengatur harga,” Minho langsung marah men-judge parrtner bisnisnya itu berbuat curang dan tidak konsisten dengan perjanjian.
“Bagaimanapun, kalau memang akan putus sampai setengah jalan saja usaha ini.. sebaiknya Anda juga menanggung kelebihan biaya kirim dan juga produksi, Lee-ssi,” kata Nam pada Minho.
Jelas Minho tidak menerima. Dia memang orang yang keras dengan bisnisnya. Jika sesuai dengan perjanjian, ya seperti itu. Dia bernegosiasi terus dengan Nam, pemilik salah satu perusahaan kapas dan kain. Sampai akhirnya Minho mengabil keputusan.
“Saya akan setengah jalan saja dengan Anda, Nam-ssi... sisanya keputusan pengambilan kain itu akan saya stop dan saya akan membayar sisa ongkos pengiriman,” kata Minho tegas.
Nam tidak setuju karena kontrak sudah ditandatangani. Minho tidak peduli karena Nam bukan satu-satunya partner usaha dia, sementara masih banyak juga yang bisa mengirimkan model kain yang lebih bagus dari punya Nam.
“saya kecewa dengan Anda... kualitas barang pun sebenarnya tidak lah bagus sekali... saya sudah dikecewakan dengan Anda dua kali dengan yang ini.. jadi.. saya minta maaf,” ujar Minho lagi dan dia menutup teleponnya.

“Menyebalkan,” gerutu Minho. Dia duduk lagi dan meletakkan handphone nya, lalu berfikir.
“Minseo berkata tentang Nam-ssi tadi pagi.. umm.. kenapa Minseo bisa lebih pintar dalam meramal dibandingkan Kang-ssi?? Apa... isteriku itu sebenarnya seorang supernaturalis??,” Minho jadi bertanya-tanya sendiri dalam hatinya. Semenjak pacaran, putus, nikah dan punya anak.. apa-apa yang menurutnya seperti ramalan bagi Minho dari mulut Minseo, terjadi terus pada dia dan keluarganya.
“Ah.. bagaimana bisa? Tidak mungkin Minseo berbohong padaku...,” katanya lagi.
Dia mengingat sebuah peristiwa, sewaktu mereka mau putus waktu Minho masih mau naik kelas 11. Dia ingat waktu ditaman, Minseo ngobrol seorang diri sebelum Minho menyapanya dari belakang.
“Ah.. waktu itu... Minseo bilang padaku kalau dia cewek aneh.. aku tidak pernah berfikir Minseo seperti itu.. apa iya???,”
Pikirannya jadi melayang-layang tentang peristiwa masa lalu beberapa kali kejadian aneh yang menimpa Minho selalu dapat diprediksi oleh Minseo.
“Termasuk juga ada hantu di rumahku... seperti yang dibilang Nyonya Bong??”
“Ah.. masak iya??,”

Minho akhirnya menelepon Minseo lagi siang itu.
“Sayang.. perkiraanmu benar lagi,”
Minseo tertawa kecil, dia pura-pura tidak tahu kenapa Minho berkata seperti itu,”yang mana, Minho sayang? Tadi pagi..bukannya pembicaraan kita tentang peramal Kang??”
“Tidak, sayang... tadi pagi.. tentang Nam-ssi.. dia memang bukan partner bisnis yang baik.. menyusahkanku.. menyebalkan... dan kamu benar.. ,” Minho cemberut
Minseo tertawa kecil padanya, dia bilang pada Minho, kalau itu hanya prediksinya saja. Tapi Minho penasaran, kenapa apa-apa yang berhubungan dengan prediksi, Minseo selalu lebih tepat dibandingkan dengan peramal Kang. Minseo bercanda padanya, lebih baik tidak usah ke peramal itu lagi dan uangnya disimpan saja untuk masa depan ketiga anak mereka. Karena sekali mendatangi peramal itu, harga jasanya cukup mahal.
“Lagi pula.. Appa dan Eomma kamu kan sudah juga tidak setuju kalau kamu rajin ke sana, sayang,” ujar Minseo.
“Terutama Appa,” lanjutnya lagi.
Minho memang cowok yang susah dilarang kecuali terjadi akhirnya pada dirinya. Dia sepertinya berfikir memang dia akan berusaha berhenti pergi ke peramal itu. Tapi pikirannya masih plin-plan. Sore ini, dia akan kembali lagi kesana.
Minseo jadi setengah kesal padanya, tapi Minho tetap bersikeras pergi. Akhirnya, Minseo tidak bisa melarangnya, Minho bilang, dia harus tahu, siapa-siapa lagi rekan bisnisnya yang akan berbuat curang dan yang akan langgeng berbisnis dengannya.

“Lihat, Appa.. dia mau pergi lagi kesana.. menyebalkan sekali Minho itu... benar-benar masih kekanak-kanakan,” Minseo mengeluh lagi di depan ayahnya.
Tak disangka, Hana malah tertawa-tawa.
Minseo senyum padanya, lalu menggendongnya,” Kenapa?? Kamu tertawakan Eomma karena tidak bisa melarang Appa mu ya?? Appa mu begitu... terlalu percaya ramalan... jadi Eomma kesal deh”
Hana mendadak memberhentikan tawanya, lalu bubbling pada Minseo.
“haw... haw.. haw...”, suaranya bubblingnya membuat Minseo berfikir. Tatapan mata anak itu melihat ibunya dengan tajam. Lalu tertawa lagi.
“mentertawakan Appa mu ya? Hehe,” canda Park pada Hana dan Minseo.
Hana menoleh pada kakeknya lalu tertawa-tawa.
“ Hana mungkin berfikir kalau Minho lucu sekali, hehe,” canda Park lagi pada Minseo.
“aku sudah pernah menghipnotisnya sebelum tidur.. tapi tampaknya alam bawah sadarnya memang sudah sangat terpengaruh pada dia,”
“Pernah terpikirkan kalau Kang mempunyai hipnotis juga??,” tanya Park, memancing anaknya
Minseo memandang ayahnya dengan sedikit heran,” apa iya??”
well.. sebagian peramal memakainya... sebagai bagian usaha.. kamu kan tahu.. persaingan ada dimana saja,” jawab Park dengan mimik santainya
“Darimana Appa tahu??,” tanya Minseo.
“Appa kan dulu suka iseng pergi ke peramal juga... karena Appa juga memiliki kemampuan supernatural.. jadi Appa merasakan beberapa peramal ada yang janggal... menggunakan mind power atau hipnotis lebih parahnya untuk mempengaruhi para klien mereka,” kata Park lagi masih dengan mimik santainya
Hana tersenyum pada kakeknya itu.
Park membalas lagi dengan senyum, “Iya kan, Hana?? Mungkin kalau kamu sudah bisa bicara... kamu lebih cerdas dari ibu mu soal ayahmu itu,”
Minseo jadi berfikir... apa benar Kang menggunakan tehnik lain? Malam itu... selepas nanti Minho pulang.. dia akan mulai lagi menggoyang pikiran Kang, si peramal itu. Dia benar-benar tidak suka Minho bergantung pada orang itu.

Park santai saja menyikapi semuanya. Sore itu, dia asik bermain dengan ketiga cucu kembarnya, menggunakan kemampuan telekinetik nya untuk memudahkan bermain-main dengan mereka. Minseo mempunyai kemampuan supernatural dari 3 anak Park, memang dari dirinya. Hanya saja, Park dan isterinya, sedari kecil selalu mengingatkannya lebih baik tidak digunakan di depan banyak orang. Dan sekarang, Minseo memiliki suami yang tidak suka dengan hal tersebut. Dengan Jin Ho yang sudah mulai aneh, Park merasa, dia harus membantu Minseo menjaga anaknya itu.
“Hei Jin Ho sayang... kamu sebaiknya tidak membuat ibu mu khawatir ... aku tahu kamu seperti dia.. hanya saja.. aku sebagai kakek khawatir, ayahmu akan marah terhadap ibumu dan kalian bisa saja berpisah dengan ayah kalian,” kata Park, mengobrol pada ketiganya yang ditaruh di box bayi besar, di ruang belakang.
Hana tertawa-tawa. Park juga akhirnya tertawa dengan tingkah cucu perempuannya itu yang sepertinya sok kenal sok dekat dan bisa membaca pikiran orang di depannya.
“Kamu juga, cucuku yang cantik, Hana.. kalau kamu seperti Eomma mu... kamu harus lindungi ayahmu suatu hari nanti,” kata Park padanya.
Hana membalas dengan bubbling nya.
Park menatap Young Joon. Anak itu memang terlihat kalem dibanding Hana dan Jin Ho.

“Matamu bagus, Young Joon... seperti kristal,” senyum Park padanya.
Young Joon diam saja. Park masih menatapnya.
“Mata yang cocok untuk bisa hipnotis dan mempengaruhi orang lain,” senyum Park lagi, lalu dia mengelus kepala Young Joon, cucu yang tengah itu.
Young Joon senyum padanya. Park mengangkatnya dari Box bayi dan menggendongnya.
“Kamu anak tengah.. kalau kamu sudah besar.. kamu sebaiknya bisa mengimbangi kakakmu Jin Ho yang sepertinya iseng ini... ya??,” tatap Park pada Young Joon.
Anak itu diam sejenak, lalu tersenyum pada kakeknya itu.
“Aku tahu.. kalian akan menjadi anak-anak hebat suatu hari nanti.. tidak lama lagi.. bahkan sebelum kalian sekolah dasar.. jadi.. kalian lindungi ayah dan ibu kalian ya... terutama kamu, Jin Ho.. kamu anak paling tua”
Park menatap wajah Jin Ho dan anak kecil itu berani menggoyang-goyangkan box bayi yang dia sendiri ada di dalamnya dengan tenaga telekinetiknya. Hana rewel, tidak suka dan menangis. Tapi Jin Ho malah tertawa melihat Hana rewel.
Minseo yang mendengar Hana menangis lalu menuju ke belakang rumah.

Park malah tertawa-tawa bersama Jin Ho, sama sekali dia tidak menghentikan Hana yang menangis.
“Jin Ho benar-benar iseng... aku suka cucuku ini, hahaha!,” tawa Park.
“Jin Ho.. nanti adikmu nangis terus, sayang,” Minseo menggendong Hana. Sedang Jin Ho malah sibuk belajar menggoyang-goyang box bayi dengan keras.
Park hanya tertawa, sama sekali tidak marah dengan kelakuan cucunya yang memang sudah terlihat iseng itu.
“Yang paling akan kamu awasi memang Jin Ho.. paling aman Young Joon,” kata Park pada Minseo.
“Ya, Appa..tapi aku masih tidak ingin Minho tahu tentang ini,” balas Minseo.
“Minho akan tahu juga...dan itu akan membuat dia berfikir.. kalau dia harus menerima kamu dan anak-anak ini apa adanya... tanpa benci dengan hal-hal supernatural yang ada pada kamu dan anak-anak kalian,” kata Park, santai masih menggendong Young Joon. Sementara, Jin Ho tertawa-tawa senang dan kencang, berhasil menggoyang-goyang box bayi sampai keras. Park sama sekali tidak marah, dia malah tertawa bersama Jin Ho. Minseo hanya geleng-geleng kepala sambil mendiamkan Hana yang rewel karena diganggu kakaknya.

Bersambung ke part 14....