Cerita ini cuma iseng saja, jangan dimasukkan ke hati.. kalau masih
serius juga.. tanggung sendiri deh..
“aku
kangen Minho ,” kata Takako yang sekarang sudah
berganti nama menjadi Tae Young, kepada salah seorang pembantu perempuan di
istana. Dalam tradisi, 3 hari ke depan menjelang pernikahan, memang pasangan
yang akan menikah tidak boleh bertemu sampai semua upacara pernikahan selesai
satu persatu, walau itu upacara pernikahan ulang, karena mereka sudah menikah
terlebih dulu di Tsushima dengan adat istiadat
Jepang.
Pembantu
istana tersenyum padanya,” Tapi Tuan Puteri Tae Young memang tidak bisa bertemu
Jendral Lee.. ini sudah tradisi… lebih baik tidak melanggarnya,” sambil dia
membantu Takako menyisir rambutnya yang panjang sekali.
”bertemu mukapun sekilas tidak boleh??
Haaa.. taihen tsumaranai da yoooo... (membosankan banget),” keluh dia lagi. Tae
Young alias Takako memang suka isengin Minho dan lebih seperti anak-anak untuk
Minho yang harus dipaksa jadi dewasa dalam kondisi menjadi seorang Jendral muda
yang baru menanjak karirnya.
”Tuan Puteri harus bersabar.. melanggar
tradisi itu berat,” kata pembantu istana itu lagi.
”wakatta
wa yo (ya aku mengerti),” jawab Tae Young, judes. Sang pembantu tidak
mengerti bahasa jepang, jadi dia diam saja.
”aku bosan.. bagaimana kalau kamu jadi
teman ku berlatih??,” dia menoleh pada pembantu itu.
Pembantu itu menjawab, dia tidak bisa bela
diri. Takako semakin bosan
saja dengan semua itu. Tidak
ada yang bisa dia ajak bicara, bahkan sampai berlatih ilmu beladiri. Lingkungan
istana sangat membosankan baginya. Lebih baik dia tinggal bersama Minho
ditemani juga banyak prajurit bawahannya dan pembantu Minho yang cewek, Han
Hye. Dia menggerutu saja
kerjanya, lalu keluar ruangan tanpa permisi pada pembantu itu.
Dia berjalan melalui lorong kerajaan,
beberapa pengawal melihat baju dan ornamen nya, walau tidak mengenal, langsung
menunduk hormat padanya ketika bertemu.
Dengan cueknya, dia bertanya pada seorang
prajurit yang sedang berjaga disebuah lorong,” hai.. kamu bisa bertarung kan??
Mau berlatih dengan ku pagi ini??,”
”Biasanya Minho berlatih denganku.. tapi
aku malah harus tinggal disini.. huh,” lanjutnya.
Prajurit itu menunduk hormat dengan dalam
pada Takako,” ah.. saya mohon
maaf, Puteri Tae Young.. saya
tidak bisa menemani Anda.. saya harus jaga,” dengan suara sedikit gemetar
”kamu bukan bawahan Jendral Muda Lee
ya??,” tanya Takako
Prajurit itu mengangguk,” ya.. saya
bawahan Jendral Muda Park”
Takako tanpa ragu tertawa di hadapannya,”
ah hahaha.. jadi.. kamu boleh
berlatih dengan ku dong?? Aku kenal sekali dengan Jendral Muda Park.. dia yang
juga ikut ke Tsushima..”
Prajurit itu menunduk hormat,”Ya..”,
katanya singkat, tidak berani melawan kata-kata Takako.
”Tapi.. kamu tidak berani berlatih dengan
ku?? Menyebalkan,” kata
Takako
”saya mohon maaf.. tidak bisa, Tuan
Puteri.. tugas saya berjaga disini,” kata prajurit itu sambil terus menunduk
hormat, tidak berani mengangkat kepalanya sebelum Takako pergi.
”ah.. sudahlah.. menyebalkan tinggal
disini,” keluh Takako, dia main pergi meninggalkan prajurit itu yang masih
menunduk hormat padanya sampai dia berjalan beberapa puluh langkah, baru
berdiri tegak lagi, berjaga lagi.
Minho sendiri pagi itu tetap harus
bertugas. Dia mengendarai kudanya lalu menuju istana. Hari itu, dia ada pertemuan
lagi dengan Jendral Muda Kwon, membahas persiapan keberangkatannya ke Liao
Ning. Minho sengaja tidak memberitahukan pada Takako kalau dia akan ke istana,
menghindari pertemuan yang tidak disukai adat setempat. Jadi, dia langsung saja ke barak Jendral Kwon yang
masih diseputar lingkungan istana.
Sementara Takako masih keliling-keliling
kompleks istana, sampai capek sekali karena dia belum makan. Pikirannya tetap
menuju Minho: apa yang sedang dia lakukan? Lalu dia duduk saja sendirian di
taman yang sepi dipagi hari itu. Angin masih cukup dingin, dia tidak peduli,
yang dilihatnya hanya banyak warna-warni bunga bermekaran dan suara
burung-burung bernyanyi indah di pagi hari.
”menyebalkan sekali..aku jadi malas makan
kalau tidak ada teman berlatih,” dia mengepal-ngepalkan tangannya saja.
”seharusnya Han Hye ikut bersamaku.. kalau
memang dia seperti kunoichi (ninja
wanita), harusnya dia bisa bertarung,”
Takako lalu bangun dan melihat kolam yang
penuh dengan ikan, hanya memandang mereka sedang berenang lincah di air yang
dingin.
”Tuan puteri...tidak makan??,” sapa
seseorang. Dia lalu menoleh.
”Han Hye!,” Takako mendadak senang, karena
ternyata yang dia lihat adalah pembantu Minho. Langsung dia memeluk Han Hye dengan
wajah ceria.
”Han Hye.. aduh.. aku kangen banget ingin
ke rumah Minho! Baru saja aku pikir kenapa Minho tidak kirim kamu kesini!,”
katanya dengan suara ceria masih memeluk Han Hye.
Perempuan itu hanya tersenyum,” saya minta
maaf, Tuan puteri Tae Young... Jendral Lee yang memerintahkan saya kesini
supaya bisa menemani Tuan Puteri”
Takako melepaskan pelukannya pada Han Hye,
dia lalu cemberut, membelakangi perempuan itu.
”Menyebalkan sekali adat ini... aku kangen
Minho,”
Lalu dia menoleh lagi,” apa Minho tadi
malam tidur nyenyak..dan pagi ini makan enak??”
Han Hye mengangguk dan sedikit menunduk
hormat padanya.
”Jendral Lee tapi sepertinya tadi malam
kurang tidur.. entah berfikir apa.. mungkin soal keberangkatan ke Liao Ning”
Takako jadi kepikiran tentang Minho. Kalau
dia memilih, dia ingin Minho tidak usah menjadi Jendral dengan karir yang
tinggi dan cukup tinggal dilingkungan istana saja, tapi tidak akan pernah bisa,
dia sudah terlanjur jadi abdi istana yang cukup diperhitungkan raja.
”Kenapa Minho?,” pikir Takako dalam hatinya.
Tadi malam memang Minho tidak
bisa tidur karena berfikir tentang nama baru Takako-Tae Young- yang sama dengan
nama cinta pertamanya yang terbunuh dalam pemberontakan melawan Raja. Han Hye
tidak menceritakannya, dia memang tidak tahu.
”Liao Ning.. itu jauh sekali bukan??,”
tanya Takako lagi pada Han Hye.
Han Hye mengangguk, dia bercerita kalau
Liao Ning sebenarnya bukan perbatasan antara Joseon dan Han, masih jauh lagi,
tetapi merupakan pusat perekonomian banyak rakyat Joseon sehingga Raja Jeok
Seok menganggapnya penting ketika ada berita miring kalau kerajaan Manchuria
akan memaksa rakyat Joseon keluar dari wilayahnya.
”Jendral Lee hanya sebentar mengawasi
situasi dan bertemu dengan ketua kelompok pedagang disana, Tuan Puteri.. lalu
mungkin akan kembali dalam waktu paling cepat dua minggu,”
Takako kaget, dia tidak mau Minho akan
pergi selama itu, menurutnya: apa-apaan baru menikah langsung akan pergi lagi? Bisa
menderita dia jika seperti itu. Hari itu dia berfikir bagaimana caranya
melanggar adat: dia ingin bertemu Minho.
Han Hye menjawab tidak tahu ketika Takako
bertanya apa Minho akan ke istana atau tidak, mungkin pergi ke tempat lain,
karena dia tidak berhak mengetahui kemana dan dimana Tuannya berada. Takako cemberut saja.
”Tapi...saya diminta Jendral Lee untuk
menemani Anda,” senyum Han Hye.
”ya, baiklah,” balas Takako, singkat. Lalu
Han Hye pun menuju pusat istana, meminta ijin kepada petugas administrasi
negara kalau dia akan membantu Takako mempersiapkan dirinya untuk upacara pernikahan
ulang tersebut.
”Lalu... apa Liao Ning itu aman?? Kamu
sudah pernah ke sana?,” tanya Takako ketika mereka makan pagi
”belum, Tuan Puteri,” jawab Han Hye
singkat, sambil dia makan.
”seharusnya kamu yang pergi, bukan Minho,”
ujar Takako. Dia memberhentikan makannya, manjanya mulai lagi.
”Mian
habnida, Tuan Puteri...sepertinya Yang Mulia Raja yang menginginkan Jendral
Lee langsung turun,” jawab Han Hye dengan lembut. Dia mengatakan jika memang
ada pertemuan rahasia, tidak bisa diberikan pada abdi kerajaan dengan tingkat
biasa.
”Ya.. aku mengerti.. bahkan mungkin juga
Minho akan pergi dengan pakaian rumah,” balas Takako dengan nada agak judes
sambil dia tetap mengunyah makanan.
Han Hye senyum padanya,” aku tidak bisa
diterjunkan kesana.. walau
mungkin Yang Mulia Raja bisa saja menginginkannya... Tapi.. Jendral Lee
mengatakan, sehabis pernikahan, saya ditugaskan untuk menemani Tuan puteri,”
Takako sangat tidak puas dengan perkataan
Han Hye. Dia tahu bahwa Minho seorang yang sangat sibuk. Dia seperti menyesali
dirinya menjadi korban dalam pertukaran politik antara kerajaan dan keshogunan
itu.
Akhirnya, dia malah terdiam di depan Han
Hye. Dia membayangkan hidup disini enak, Minho akan mencintainya, tidak sibuk
dengan urusan pekerjaannya yang semakin menguras waktu antara dia dan dirinya,
ternyata berbeda. Tapi apalah daya, dia harus bisa bersikap dewasa dan
mengikuti saja alur hidup yang diinginkan oleh ayahnya kepadanya, tidak ada
pilihan lain.
”kenapa Puteri??,” tanya Han Hye mendadak
melihat Takako masih memegang mangkuk nasinya, tapi malah termenung.
”Bagaimana perasaanmu.. ketika kamu jauh
dari keluargamu??,” tanya Takako masih dengan sedikit termenung, tatapan mata
seperti kosong.
Han Hye menaruh mangkuknya sendiri lalu
tersenyum,”aku sejak kecil tidak mengerti apa itu kasih sayang orang tua.....
semenjak aku berumur 5 tahun..aku sudah harus bekerja membantu orang lain”
Takako jadi terharu dengan perkataan
prajurit yang sekaligus pesuruh wanita itu.
”Lalu.. kemana kedua orangtuamu??,”
”mereka masih ada.. mereka bekerja di
ladang tuan tanah di tempat yang jauh sekali.. jauh dari Hanyang ini.. bisa satu minggu berkuda,” jawab Han Hye
dengan senyumnya lagi
”Saya beruntung Tuan Lee Dae Woo
mengangkatku sebagai pembantu beliau,” lanjutnya lagi.
”Jadi bukan Minho yang pertama kali kamu
kenal??,” tanya Takako penasaran.
Han Hye menggeleng, dia lalu jujur berkata
pada Takako kalau dia sebenarnya terlebih dahulu kenal Minho sudah agak lama.
Ketika Lee Dae Woo ayah Minho berperang untuk menghabisi para pemberontak yang
ingin berafiliasi dengan Ilbon (jepang
kala itu) dihabisi dan dia terpisah dari kedua orangtuanya. Kemudian setelah
pemberontakan itu habis, Dae Woo melihatnya dan mengangkatnya sebagai anak.
Kemudian setelah dia mau dibawa jendral itu, kedua orangtua Han Hye melihatnya
dan meminta kembali anak mereka tetapi Dae Woo lebih suka kalau dia tinggal
bersamanya menjadi pembantu dirumah nya yang besar. Dae Woo merasa, Han Hye adalah gadis kecil yang
baik dan penurut.
”Baik sekali ternyata ayah mertua ku,”
kata Takako, matanya sudah mulai bersinar.
Han Hye mengangguk senyum,” tetapi.. aku ingin sekali dulu menjadi mata-mata
karena melihat Jendral Lee Minho itu”
Takako cemberut, dia merasa cemburu pada
Han Hye.
”Jadi.. kamu suka Minho, begitu??,” tatapan
matanya berubah lagi jadi menyebalkan.
Han Hye tertawa kecil, cekikikan pada
Takako,”Tidak seperti itu, Tuan Puteri... Jendral Lee itu bukan lelaki yang
mudah menyukai seorang perempuan”
”Lalu??,” tanya Takako, masih penasaran
dengan cerita pembantu itu.
”Suatu hari.. aku melihat Jendral Lee yang
waktu itu masih jadi prajurit biasa, pulang ke rumah.. dia begitu baik padaku,”
Takako menyimak cerita Han Hye. Kedua tangannya ditaruh di atas meja,
seperti pelajar yang sedang memperhatikan guru mengajar. Han Hye bercerita
kalau Tuannya, Jendral Lee Dae Woo, dan kedua anaknya, termasuk Minho walau
seorang prajurit yang keras, tetap memperlakukan dia, yang walau seorang
pembantu dan bahkan bisa dianggap budak, dengan baik. Lalu ketika tanpa sengaja
Han Hye yang berumur 10 tahun itu sedang menghidangkan minuman kepada tiga
orang itu, mendengar bahwa kerajaan akan menggunakan prajurit perempuan sebagai
mata-mata, lalu dia pun memberanikan diri bicara kepada Lee Dae Woo yang waktu
itu masih menjadi Jendral di kerajaan sebelum akhirnya menjabat sebagai
Gubernur di NamYang.
Reaksi Dae Woo waktu itu sangat kaget,
karena dia belum menemukan Han Hye sebenarnya perempuan kecil yang berani.
Tetapi dengan adanya dua anak Dae Woo yang dilihat oleh perempuan itu memberikannya
semangat menjadi seorang prajurit yang jujur, Han Hye menjadi tertantang dan
ingin menjadi prajurit juga, terutama di bagian mata-mata. Lalu.. ketika dia mulai berusia 11 tahun..
Dae Woo mengirimkannya ke dalam pelatihan bela diri untuk wanita kerajaan. Han Hye pun belajar dengan giat dan masuk
menjadi prajurit wanita. Dae
Woo melihat kesetiaan dan ketaatannya justru menganggap dia bisa menjadi
prajurit wanita mata-mata. Sehingga ketika Han Hye berusia sekitar 14 tahun an, dia meminta pelatih
prajurit di bidang mata-mata untuk melatihnya menjadi pasukan mata-mata wanita.
Ketika Minho menjadi Jendral, Dae Woo
meminta usulan kepada kerajaan agar Han Hye berada di bawah anaknya itu dan
diterima. Selama bergelar pasukan mata-mata, Han Hye memang belum jauh sekali
bertugas, paling tidak seputar Han Yang dan beberapa daerah kecil lainnya,
mengamati yang mencurigakan.
”jadi...kamu memang sudah hampir 5 tahun
dengan Minho??,” tanya Takako
Han Hye mengangguk, lalu dia bercerita
lagi suka dukanya menjadi prajurit wanita mata-mata.
”aku hampir pernah ditangkap musuh...
hehe,”
Takako tertawa menutupi mulutnya, membalas
tawa Han Hye.
”Kamu tahu tidak, Han Hye?? Sebenarnya aku
benci sekali dengan Minho,”
”apa? Kenapa bisa begitu??,” wajah Han Hye
berubah jadi heran, penasaran dengan cerita selanjutnya.
Takako lalu bercerita panjang lebar proses
dia dijodohkan dengan Minho dan hubungannya dengan politik kerajaan. Han Hye
mendengarkan dengan seksama dan serius.
”awalnya aku sangat tidak mencintai
dia..tetapi karena Minho melindungiku...bahkan membuat aku tidak dicelakai
kekasihku sendiri...aku jadi percaya padanya”
Han Hye tersenyum. Dia memang sedari awal
beruntung memiliki Tuan dan anaknya yang bisa menghargai dia sebagai orang
kelas rendah yang tetap dihargai sebagai manusia.
”Jadi.. Tuan Puteri awalnya sebenarnya
tidak cinta dengan Jendral Lee??,” tanya Han Hye, mengulang kepastian jawabannya
dari Takako
Takako mengangguk,” Ya.. bahkan aku benci
sekali.. Minho lelaki yang terkesan tidak peduli dan aku bingung.. bagaimana
aku bisa hidup dengannya??”
Han Hye lalu bergumam,”umm..mungkin juga
sebenarnya Jendral Lee bingung pada awalnya..sebab dia sudah punya kekasih... Tuan Puteri pasti tahu”
Takako menghela nafas, dia jadi ingat
kejadian 2 hari pertama disini, melihat Minho berpelukan dengan Hee Kyung,
mantan kekasihnya itu, dia langsung sedih dan ketakutan di negeri orang.
Han Hye tersenyum,” tetapi Jendral Lee
selalu berpesan padaku...agar aku menjaga Puteri.. walau dia berkata ” Puteri
Tae Young itu hebat.... kamu bisa kalah dengannya jika bertarung”, hehe...
tetapi..aku harus tetap berbakti padanya,”
”Haaaah.. aku jadi mencintai Minho pada
akhirnya,” Takako menghela nafas
Han Hye tertawa kecil padanya,” mungkin
kalau aku menjadi wanita terhormat..aku bersedia menjadi isterinya dengan
senang hati, hihi”
”Hieeeh...,” balas Takako heran
”aku belum pernah melihat Jendral Lee
kasar kepada setiap wanita.. sepertinya dia memang lembut pada setiap wanita
ya??,” bisik Han Hye.
Takako dan Han Hye memang jadi sangat
akrab. Mereka malah jadi tertawa-tawa menggosip tentang Minho.
”aku senang Minho bilang kamu bisa jadi
temanku...pastinya...aku akan kesepian kalau dia sedang bertugas,”
Han Hye tersenyum. Hari itu, dia
ditugaskan Minho untuk melayani Takako sampai semuanya, sampai lusa mereka
menikah, agar Takako tidak kesepian lagi.
...................................................
”Kami sudah menghubungi Gim-ssi... kita akan pergi ke sana sekitar
tanggal 10 bulan ini dan kita akan sampai disana sekitar 4 hari jika tidak ada
aral. Gim-ssi sudah menunggu disana,” kata Kwon dalam pembicaraannya dengan
Minho dan ketiga anak buah mereka.
”yang perlu dikhawatirkan adalah...kita
bertemu mata-mata lain di Jillain,” kata Minho.
”mata-mata kita sudah tersebar, Jendral
Lee.. aku sudah mengirimkan
sampai 5 orang disana.. Anda akan bertemu dengan Jin Suk,”
Minho mengangguk. Sebab, Sim Hwang akan
pergi dahulu selepas ini, barulah dirinya.
”Jin Suk memberikan laporan terakhir,
kalau Jillain aman, tidak ada masalah antara masyarakat joseon dan manchuria
yang ada di sana.... tetapi
sebenarnya yang aku inginkan adalah... Yang Mulia Raja memasukkan mata-mata ke
dalam istana Manchu,” kata Kwon lagi
Minho serius mendengarkan usulan Kwon,
sampai dahinya sedikit berkerut,” sebenarnya seperti itu.. hanya saja.. siapa
yang bisa? Jendral sekarang cenderung lebih mudah dikenal orang..dan.. entah
mengapa.. aku berfikir, sebaiknya diantara kita pun, Yang Mulia Raja lebih baik
menjadikan kita pasukan rahasia untuk beliau.. di dalam istana sendiri...”
”Maksud mu, Jendral Lee?,” tanya Jendral
Kwon
”semenjak aku pulang dari Ilbon lalu mengabarkan pada Yang Mulia
Raja, Yang Mulia mempunyai pemikiran, bahwa baik Ilbon atau Manchuria masih ingin menguasai Joseon,” kata Minho. Dia
berbicara menatap mata Kwon.
”Lalu... menurut ku.. dengan adanya kasus
ini.. sedari dulu kita pahami, sebenarnya manchuria hampir tidak memiliki
masalah dengan Joseon dan begitu juga sebaliknya.. dalam pandanganku.. apakah ada kekacauan informasi
sendiri dalam tubuh kita..??? ”
”mata-mata maksudku... seorang Joseon
pengkhianat,” lanjut Minho lagi.
Kwon kaget dengan perkataan Minho baru
saja dan bertanya, kenapa Minho sesegera itu mengambil kesimpulan bahwa ada
rakyat Joseon sendiri yang menjadi pengkhianat dalam kerajaan ini.
”Ingat kasus Jendral Ryung? Dia diperdaya
seorang keturunan Manchuria bukan??,” tanya Minho lagi pada Kwon. Ryung adalah
orangtua Tae Young, cinta pertama Minho.
Kwon mengangguk,”hanya saja..apa ini ada
hubungannya dengan pengkhianatan lagi?? Jika iya.. siapa??”
”Aku masih belum juga mendapatkan petunjuk
lebih jauh.. kita bicara dulu dengan Gim-ssi di Liao Ning.. ,” jawab Minho
”orang terdekat pun bisa menjadi
pengkhianat,” lanjutnya lagi.
.................................
Siangnya, Takako mengatakan pada Han Hye
kalau dia ingin jalan-jalan keluar istana, pergi ke pasar, melihat banyak orang
dan berbelanja. Dia pun lalu memakai hanbok biasa saja yang sederhana, berjalan
bersama pembantu Minho itu.
Suasana pasar sangat ramai.. sepertinya
ada sebuah acara meriah nanti malam.
”Menjelang berakhir musim semi..memasuki
musim panas... pasar memang sering ramai,” senyum Han Hye.
”ramai sekali..aku ingin membeli baju
rumah untuk Minho,” kata Takako. Dia melihat ada sebuah toko yang depannya terbuka lebar dan ada banyak baju
lelaki bergantungan.
”Tapi biasanya Jendral Lee pesan baju
sendiri, Puteri... ,” ujar Han Hye, mengingat memang tinggi badan Minho yang
berbeda, lebih tinggi dari banyak pria.
Takako tidak mendengarkan kata-katanya,
dia pun masuk toko besar itu. Sang pemilik toko melayaninya dengan ramah.
”annyeong
haseyo, agassi.. silahkan melihat-lihat,”
Takako berbisik pada Han Hye,”aku tidak
bisa menawar, bantu aku”, dia menunjuk pada sebuah baju yang memang terlihat
panjang dan besar, berwarna biru tua.
”Minho..suka bukan..dengan warna biru
tua??,” bisiknya lagi pada Han Hye. Perempuan itu mengangguk saja.
”Kainnya bagus nona...aku mengirimnya dari
Nam Yang,” kata penjual itu.
Han Hye pun lalu tawar menawar setelah
Takako mengatakan, kalau baju rumah biasa itu bagus, tinggi dan cocok untuk
dipakai Minho. Dalam bayangannya, Minho pasti akan makin cinta padanya ketika
nanti dia memberikan baju itu.
Mereka lalu keluar dari toko itu dengan
puas, setelah berhasil membeli baju itu.
”sebenarnya kita tidak boleh berlama-lama
keluar rumah, Puteri Tae Young... kita bisa melanggar adat,” kata Han Hye
berjalan disampingnya.
”membosankan sekali berada di istana,
tanpa ada teman bicara,” jawab Takako. Dia memang bukan tipe perempuan yang full pendiam.
”aku harap Jendral Lee tidak tahu kita
sedang keluar.. beliau bisa
saja marah padaku,”
Takako menoleh pada Han Hye, lalu dia
tertawa kecil,”Kalau Minho nakal dan jahat kepadamu.. aku enggak ragu untuk
menolak tidur dengannya... Minho itu.. masih suka tertidur diusap pipinya,
hihihi”
Dia membuka sendiri rahasia Minho pada
pembantunya. Han Hye membalas
dengan tertawa lagi. Dia tidak menyangka ada sisi seperti anak-anak pada
tuannya. Mereka kembali berjalan-jalan dipasar yang ramai itu, melihat-lihat
pernak pernik di pinggir jalan, Takako menjadi tertarik juga.
”eh...lihat penjepit rambut ini...bagus
kan??,” tanya Takako. Dia memegang jepit rambut perak yang dijual dipinggir
jalan
Han Hye mengangguk,” iya... tapi..rasanya
tidak pantas dipakai Puteri...,”
Belum selesai perempuan itu melanjutkan
kata-katanya, Takako memotong, dia tidak ingin Han Hye menyebutnya ”puteri”.
Minho melarangnya untuk bersikap seperti seorang puteri bangsawan jika berada
di depan umum dan sepertinya Han Hye belum mengetahui itu.
”aku suka yang ini... harganya berapa??,”
Takako memegang jepit rambut perak yang bergambar burung merak itu.
”10 koin perak, Nona,” jawab si penjual.
”bagus kan?,” tanya dia pada Han Hye. Han
hanya mengangguk saja. Takako mengeluarkan kantong uang dan membayarnya.
”gambsahabnida,”
balas si penjual dengan ramah.
”belanjaku habis banyak.. semoga Minho
tidak marah,” katanya pada Han Hye.
”Jendral Lee memang tidak suka
menghabiskan banyak uang, Tuan Puteri... Tuan puteri belum pernah melihat
Jendral Lee memakai baju yang bagus sekali kecuali seragam resmi kerajaan
bukan??,” jawab Han.
Takako mengangguk. Dia sempat heran juga
ketika melihat Minho dalam kesehariannya biasa saja, seperti rakyat biasa, tapi
ketika membelikan beberapa pasukannya makanan dan juga membelikannya baju
bagus, baru terlihat banyak koin emasnya.
”Mungkin dia pelit sekali pada dirinya
sendiri, hihi,” Takako malah jadi menggosip suaminya sendiri.
”Makan pun Jendral Lee sederhana saja,
Tuan puteri.. hampir tidak pernah melempar makanan atau marah besar kalau kami
memasak kurang memuaskan hatinya,” jawab Han.
”Mungkin diberi racun pun, dia tidak
marah, hihi,” balas Takako lagi dengan tawanya. Dia bercerita pada Han, walau
Takako berusaha meracuni nya di malam pertama mereka menikah di Tsushima, Minho
malah nekat menyedot ludah sampai tenggorokan Takako agar tidak teracuni. Han
Hye terkesan dengan cerita itu, dia jadi sangat akrab dengan isteri tuannya
itu, jadi ikut tertawa.
Mereka terus melihat-lihat pasar itu, apa
saja barang yang ada.
Mereka tidak menyadari, sebenarnya sedari
di toko baju, mereka sedang dibuntuti dua orang lelaki tidak dikenal. Kedua
orang itu gerak-geriknya memang seperti biasa saja. Ketika Takako dan Han
berhenti melihat-lihat, kedua orang itu berhenti juga sejenak dari beberapa
meter melihat-lihat barang dagangan lain dipinggir jalan, seolah-olah ikut
menawar, sehingga tidak ada rasa orang yang sedang di dekat mereka menjadi
penuh curiga.
”PENCURI!!!
TOLONG... UANG KU DICURI!!,” teriak seorang wanita mendadak, ketika ada seorang
lelaki berlari cepat mengambil kantung uangnya, diantara jalan pasar yang ramai
itu.
Takako sigap malah berlari mengejar
pencuri itu.
“TUAN PUTERI.. TUNGGU!!,” teriak Han. Dia kalah cepat berlari
dengan Takako yang mengejar pencopet itu. Ternyata kedua lelaki yang membuntuti
mereka juga ikut berlari.
”HAI.. KEMBALIKAN UANGNYA!”, teriak Takako
dengan lantang sambil tetap mengejar. Lelaki pencopet itu menoleh padanya, lalu
disaat sudah keluar dari kompleks pasar dan ditempat yang sangat sepi, dia
berhenti.
Takako juga berhenti mengejar. Dia
berhadapan dengan lelaki pencopet itu hanya sekitar 3 meter saja.
”TUAN PUTERI TAE YOUNG... TUNGGU!”, teriak Han Hye, menghampirinya. Dari
beberapa meter, dua lelaki yang juga mengejarnya jadi saling berhadapan dengan
Takako
”akhirnya... terpancing juga isteri
Jendral Lee,” kata salah seorang lelaki setengah baya dengan wajah berjanggut
dan kumis, memakai topi yang sedikit menutup wajahnya.
Han Hye langsung berlari mendekat pada
Takako.
”Siapa kalian??!!??,” teriak Han Hye pada mereka.
Dia lekas mengeluarkan pisau dari balik bajunya yang longgar.
”kami hanya ingin berkenalan dengan isteri
Jendral Lee.. dengar-dengar.. dia dari ilbon,”
seru seorang dari mereka, dengan nada yang meremehkan Takako. Orang itu
tersenyum menyindir pada mereka berdua
”Mereka sepertinya bukan orang baik, Tuan
puteri,” Han Hye setengah berbisik. Dia tetap waspada dengan pisau kecil masih
ditangannya.
Takako berdiri disamping Han Hye.
”Kenapa aku punya musuh disini?? Apa
karena Minho??,” pikirnya dalam hati
”Siapa kalian?!! Aku memang isteri Jendral Muda Lee...!! mau apa kalian??,” teriak Takako dengan
lantang. Dia juga hanya membawa tantou
(pisau kecil dari jepang), mengeluarkannya dan bersiap siaga.
”Kami hanya ingin berkenalan dengan Anda,
Nyonya,” senyum lelaki yang lain, yang usianya lebih muda dari awal.
”Kalian pasti ingin Tuan puteri celaka!,”
teriak Han Hye
Lelaki yang ketiga angkat
bicara,”Hieehh... kenapa kamu berfikir begitu, Nona?? Kamu siapa?? Pembantu
nya??,”
”Bukan urusanmu!,” jawab Han Hye dengan
ketus.
Lelaki yang pertama berkata lagi dengan
ekspresi yang seperti meremehkan Han Hye,” ya.. baiklah.. ”
Mendengar itu, Han Hye bersiap siaga.
Lelaki yang tadi pun menggerakkan
tangannya...
”serang,” ujarnya dengan santai, kepada
kedua lelaki yang lain.
”Hiattt!,” kedua lelaki itu lantas
menyerang Takako dan Han Hye. Mereka berdua pun membalas serangan kedua lelaki
itu.
Seperti tidak seimbang, karena pisau kecil
melawan pedang.
”Tring!,” tantou milik Takako beradu
dengan salahsatu pedang lelaki penyerang itu.
”Menyerahlah, Nyonya Lee.. kami tidak
ingin mencelakai Anda,” kata lelaki yang memakai baju berwarna abu-abu itu,
yang sedang berhadapan dengan Takako.
”Menyerah katamu?? Tidak ada dalam hidupku
kata-kata itu...!,” jawab Takako, dia menggeser pedang itu dengan tantou nya,
berusaha mendekat pada tubuh lelaki itu dan berusaha ingin menjatuhkan nya.
Sementara di sisi lain, Han Hye sedang
diserbu oleh dua lelaki yang lain.
”Hiat!! Hiat!!,” suara Han Hye mengelak dan menyerang kedua
lelaki itu dengan garang, dia mengamuk. Lalu setelah mengambil peluang untuk
bisa dekat dengan Takako, dia berdiri disampingnya.
”Trang!,” Han Hye nekat menyerang lelaki
yang sedang menyerang Takako.
Takako lalu mundur, sementara dua lelaki
yang lain malah menyerangnya.
Han Hye tahu, mereka terdesak, lalu dia
malah mundur, berdiri memasang kuda-kuda di belakang punggung Takako.
”Kenapa, Nona?? Sudah lelah bermain dengan
kami? Hahaha!” tawa salah
seorang dari mereka.
”Cih!,” balas Han Hye, galak. Dia ternyata
mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya... ternyata sebuah senjata yang
berbentuk cakram.
Takako kaget, ternyata memang dalam
dunianya, Han Hye lebih mirip seorang kunoichi (ninja wanita).
Han Hye memegang cakram yang bentuknya
seperti gergaji setengah bulat itu.
”Pisau kecilku rasanya tidak mempan bagi
kalian.. kami bisa kalah,” senyum dingin Han Hye keluar juga.
”ternyata Han Hye memang seorang prajurit
perempuan,” kata salahseorang lelaki yang lebih tua, dengan baju hitamnya dan
memakai caping/topi anyaman seperti petani.
”Dari mana kau tahu namaku??!!??!,” teriak
Han Hye.
”Tidak perlu tahu, Nona.. tapi kami bukan
sembarangan asal menilai,” jawab salahsatu lelaki.
Lelaki yang paling tua lalu menggerakkan
tangannya lagi, memberi aba-aba.
”serang mereka,” kata lelaki itu santai.
Dua lelaki yang lain kembali berlari menyerbu mereka berdua.
”Trang!,”
”Tring!”
”Hiat!!,”
”Ciat!!”
Suara saling adu senjata terdengar. Han
Hye dan Takako masih keras melawan. Sepertinya dua orang lelaki itu mengincar
sesuatu.
”Crash!,” rambut Takako berhasil ditarik
dan kemudian diambil oleh satu dari lelaki itu dengan pedang mereka.
”Kabur!,” teriak lelaki yang paling tua.
Mendengar itu, dua lelaki yang lain langsung menuruti perintahnya dan mereka
berlari.
Han Hye mengejar mereka, tapi mereka cepat
menghilang dibalik pepohonan, lari masuk ke wilayah hutan.
”Han Hye.. sudah!,” teriak Takako dari
beberapa meter ketika Han Hye berusaha mengajar mereka.
”Tuan puteri.. baik-baik saja kan??,” kata
Han Hye, menoleh pada Takako yang menghampirinya.
Takako tersenyum,” ya.. jangan khawatir..
tetapi.. rambutku..,”
Dia menunjukkan rambutnya yang 10 cm
hilang, tidak rata, terpotong oleh pedang salahsatu dari para lelaki itu.
Han Hye kaget,” kenapa mereka??”
Takako menggeleng,” aku juga tidak tahu”
”Haaaahhh.... semoga saja Minho tidak tahu
kalau rambutku diambil mereka,” keluhnya.
”aneh sekali,” gumam Han Hye. Kalaupun misalnya mereka jahat, kenapa
hanya menginginkan rambut tuannya??
Takako melihat rambut panjangnya yang
terpotong, dia mengeluh lagi, semoga Minho tidak tahu tentang ini.
”Terpaksa Tuan puteri rambutnya harus aku
potong sedikit agar rata... semoga Jendral Lee tidak marah,” ujar Han Hye.
Takako bercanda pada Han Hye kalau tidak
mungkin Minho akan tahu, karena selama 2 hari kedepan, dia dan Minho tidak
boleh bertemu... jadi akan aman-aman saja.
Han Hye masih khawatir apa Takako terluka.
Takako hanya menjawab kalau dia baik-baik saja dan sebaiknya mereka pulang
karena hari sudah mulai terang dan waktunya makan siang.
Di lain tempat....
”Umm.. jadi ini ternyata rambut isterinya
Jendral Lee... halus sekali,” kata salah seorang wanita setengah baya, memegang
rambut Takako. Lelaki yang
tadi menyerang Takako dan Han Hye, menyerahkan rambut itu.
”mau Imo
(bibi-red) apakan rambut itu??,” Tanya salah seorang wanita cantik yang duduk
di depan wanita setengah baya itu.
Wanita yang sudah rambutnya penuh dengan
uban itu pun mengeluarkan pisau kecil dan balik bajunya. Wanita cantik yang
berdiri di depannya kaget, begitu juga dengan ketiga lelaki yang mengambil
rambut Takako.
”Cresh,” suara pisau kecil, lalu darahpun
mengucur dari telapak tangan wanita itu dan dia menaruh tetesan darah diatas
rambut Takako.
Wanita muda itu tidak mengerti apa maksud
dari wanita setengah baya itu.
Lalu, wanita setengah baya itu mengambil
air dari sebuah botol terbuat dari tanah liat.
”Ini
adalah air sungai Hanseong.... dia
akan mati bersama sungai ini,” kata wanita itu.
”Maksud Imo??,” tanya wanita muda masih heran melihat itu.
”aku akan membuatnya mati tenggelam
setelah dia menikah dengan mantan kekasihmu itu,” jawab wanita tua itu.
Wanita muda itu lalu air wajahnya berubah
menjadi senang dengan mendengar kata kematian. Dia membayangkan, malam pertama
Takako dan Minho resmi menikah dengan adat Joseon, Takako akan mati tenggelam
bersama dalamnya sungai besar itu.
Malam semakin larut... Minho sama sekali
tidak mengunjungi Takako, dia sungguh menghormati adat dan tradisi.
Takako malam itu hanya termenung di meja
dekat tempat tidurnya, sementara Han Hye tidur di kamar sebelah. Dia menarik
nafasnya, merasa kesepian.
Sambil menopang dagunya, dia hanya bisa
berkata ,”Minho sedang apa ya.. disana??,”
Dia memainkan saja jari-jarinya, dia
ketuk-ketuk, pikirannya bosan sekali, ingin sekali pergi ke luar lingkup
istana, ke rumah Minho. Dia
lalu minum-minum sedikit dan berbaring dan berusaha tidur.
”Minho??,” Takako senang sekali tak berapa
lama, dia merasa bertemu Minho.
Minho tersenyum, lalu menghampiri dan
memeluknya. Takako merasakan
pelukan itu tidak hangat, tetapi panas seperti api.
”Minho.. kamu.. kenapa??,” Takako melepas
pelukan Minho. Dia heran. Dilihatnya mata Minho memang sayu.. tetapi pupilnya,
bola matanya terlihat merah menyala. Senyuman Minho pun berubah yang awalnya
manis, menjadi menyeringai dingin.
Takako mundur darinya. Dia kaget sekali,
seluruh kulit Minho juga berubah jadi merah menyala seperti api.
Ditangan Minho, seperti ada rambutnya yang
tadi pagi menjelang siang diambil oleh tiga lelaki yang Takako belum
mengenalnya.
”Rambutku!,” kata Takako kaget.
Minho menggenggam rambut itu, yang juga
disertai darah.
”Minho.. kamu kenapa??,” Takako masih
terheran-heran. Tapi Minho hanya diam saja.....
Takako ingin sekali menghampirinya dan
memeluknya... akan tetapi... lalu...
Minho mengeluarkan sebilah pisau tajam
dari balik bajunya dan menyerang Takako...
”Minho!!,” Takako langsung bangun dari
tidurnya.. ternyata dia bermimpi..
Dia duduk, masih berfikir tentang mimpi
tadi... nafasnya kencang...
”Minho.. aku takut sekali.. kenapa
mimpinya seperti nyata??,” keluh Takako, dia mengusap wajahnya, lalu mencoba
kembali tidur, sama sekali tidak minta Han Hye menemaninya.
Sementara, Minho disana tidur seperti
biasa.. kelelahan karena
bekerja dari pagi sampai malam..
Di
lain tempat... rambut-rambut Takako yang terpotong tadi, mendadak saling
bersambung, membentuk sepeti tali, yang menuju sungai Hanseong...
Bersambung ke part 10...