This is me....

Selasa, Januari 20, 2015

Aku Isteri Jendral Lee! (Part 9: Tenung??...)

Cerita ini cuma iseng saja, jangan dimasukkan ke hati.. kalau masih serius juga.. tanggung sendiri deh..

“aku kangen Minho,” kata Takako yang sekarang sudah berganti nama menjadi Tae Young, kepada salah seorang pembantu perempuan di istana. Dalam tradisi, 3 hari ke depan menjelang pernikahan, memang pasangan yang akan menikah tidak boleh bertemu sampai semua upacara pernikahan selesai satu persatu, walau itu upacara pernikahan ulang, karena mereka sudah menikah terlebih dulu di Tsushima dengan adat istiadat Jepang.
Pembantu istana tersenyum padanya,” Tapi Tuan Puteri Tae Young memang tidak bisa bertemu Jendral Lee.. ini sudah tradisi… lebih baik tidak melanggarnya,” sambil dia membantu Takako menyisir rambutnya yang panjang sekali.
”bertemu mukapun sekilas tidak boleh?? Haaa.. taihen tsumaranai da yoooo... (membosankan banget),” keluh dia lagi. Tae Young alias Takako memang suka isengin Minho dan lebih seperti anak-anak untuk Minho yang harus dipaksa jadi dewasa dalam kondisi menjadi seorang Jendral muda yang baru menanjak karirnya.
”Tuan Puteri harus bersabar.. melanggar tradisi itu berat,” kata pembantu istana itu lagi.
wakatta wa yo (ya aku mengerti),” jawab Tae Young, judes. Sang pembantu tidak mengerti bahasa jepang, jadi dia diam saja.
”aku bosan.. bagaimana kalau kamu jadi teman ku berlatih??,” dia menoleh pada pembantu itu.
Pembantu itu menjawab, dia tidak bisa bela diri. Takako semakin bosan saja dengan semua itu. Tidak ada yang bisa dia ajak bicara, bahkan sampai berlatih ilmu beladiri. Lingkungan istana sangat membosankan baginya. Lebih baik dia tinggal bersama Minho ditemani juga banyak prajurit bawahannya dan pembantu Minho yang cewek, Han Hye. Dia menggerutu saja kerjanya, lalu keluar ruangan tanpa permisi pada pembantu itu.


Dia berjalan melalui lorong kerajaan, beberapa pengawal melihat baju dan ornamen nya, walau tidak mengenal, langsung menunduk hormat padanya ketika bertemu.
Dengan cueknya, dia bertanya pada seorang prajurit yang sedang berjaga disebuah lorong,” hai.. kamu bisa bertarung kan?? Mau berlatih dengan ku pagi ini??,”
”Biasanya Minho berlatih denganku.. tapi aku malah harus tinggal disini.. huh,” lanjutnya.
Prajurit itu menunduk hormat dengan dalam pada Takako,” ah.. saya mohon maaf, Puteri Tae Young.. saya tidak bisa menemani Anda.. saya harus jaga,” dengan suara sedikit gemetar
”kamu bukan bawahan Jendral Muda Lee ya??,” tanya Takako
Prajurit itu mengangguk,” ya.. saya bawahan Jendral Muda Park”
Takako tanpa ragu tertawa di hadapannya,” ah hahaha.. jadi.. kamu boleh berlatih dengan ku dong?? Aku kenal sekali dengan Jendral Muda Park.. dia yang juga ikut ke Tsushima..”
Prajurit itu menunduk hormat,”Ya..”, katanya singkat, tidak berani melawan kata-kata Takako.
”Tapi.. kamu tidak berani berlatih dengan ku?? Menyebalkan,” kata Takako
”saya mohon maaf.. tidak bisa, Tuan Puteri.. tugas saya berjaga disini,” kata prajurit itu sambil terus menunduk hormat, tidak berani mengangkat kepalanya sebelum Takako pergi.
”ah.. sudahlah.. menyebalkan tinggal disini,” keluh Takako, dia main pergi meninggalkan prajurit itu yang masih menunduk hormat padanya sampai dia berjalan beberapa puluh langkah, baru berdiri tegak lagi, berjaga lagi.

Minho sendiri pagi itu tetap harus bertugas. Dia mengendarai kudanya lalu menuju istana. Hari itu, dia ada pertemuan lagi dengan Jendral Muda Kwon, membahas persiapan keberangkatannya ke Liao Ning. Minho sengaja tidak memberitahukan pada Takako kalau dia akan ke istana, menghindari pertemuan yang tidak disukai adat setempat. Jadi, dia langsung saja ke barak Jendral Kwon yang masih diseputar lingkungan istana.
Sementara Takako masih keliling-keliling kompleks istana, sampai capek sekali karena dia belum makan. Pikirannya tetap menuju Minho: apa yang sedang dia lakukan? Lalu dia duduk saja sendirian di taman yang sepi dipagi hari itu. Angin masih cukup dingin, dia tidak peduli, yang dilihatnya hanya banyak warna-warni bunga bermekaran dan suara burung-burung bernyanyi indah di pagi hari.
”menyebalkan sekali..aku jadi malas makan kalau tidak ada teman berlatih,” dia mengepal-ngepalkan tangannya saja.
”seharusnya Han Hye ikut bersamaku.. kalau memang dia seperti kunoichi (ninja wanita), harusnya dia bisa bertarung,”
Takako lalu bangun dan melihat kolam yang penuh dengan ikan, hanya memandang mereka sedang berenang lincah di air yang dingin.

”Tuan puteri...tidak makan??,” sapa seseorang. Dia lalu menoleh.
”Han Hye!,” Takako mendadak senang, karena ternyata yang dia lihat adalah pembantu Minho. Langsung dia memeluk Han Hye dengan wajah ceria.
”Han Hye.. aduh.. aku kangen banget ingin ke rumah Minho! Baru saja aku pikir kenapa Minho tidak kirim kamu kesini!,” katanya dengan suara ceria masih memeluk Han Hye.
Perempuan itu hanya tersenyum,” saya minta maaf, Tuan puteri Tae Young... Jendral Lee yang memerintahkan saya kesini supaya bisa menemani Tuan Puteri”
Takako melepaskan pelukannya pada Han Hye, dia lalu cemberut, membelakangi perempuan itu.
”Menyebalkan sekali adat ini... aku kangen Minho,”
Lalu dia menoleh lagi,” apa Minho tadi malam tidur nyenyak..dan pagi ini makan enak??”
Han Hye mengangguk dan sedikit menunduk hormat padanya.
”Jendral Lee tapi sepertinya tadi malam kurang tidur.. entah berfikir apa.. mungkin soal keberangkatan ke Liao Ning”
Takako jadi kepikiran tentang Minho. Kalau dia memilih, dia ingin Minho tidak usah menjadi Jendral dengan karir yang tinggi dan cukup tinggal dilingkungan istana saja, tapi tidak akan pernah bisa, dia sudah terlanjur jadi abdi istana yang cukup diperhitungkan raja.

”Kenapa Minho?,” pikir Takako dalam hatinya. Tadi malam memang Minho tidak bisa tidur karena berfikir tentang nama baru Takako-Tae Young- yang sama dengan nama cinta pertamanya yang terbunuh dalam pemberontakan melawan Raja. Han Hye tidak menceritakannya, dia memang tidak tahu.  
”Liao Ning.. itu jauh sekali bukan??,” tanya Takako lagi pada Han Hye.
Han Hye mengangguk, dia bercerita kalau Liao Ning sebenarnya bukan perbatasan antara Joseon dan Han, masih jauh lagi, tetapi merupakan pusat perekonomian banyak rakyat Joseon sehingga Raja Jeok Seok menganggapnya penting ketika ada berita miring kalau kerajaan Manchuria akan memaksa rakyat Joseon keluar dari wilayahnya.
”Jendral Lee hanya sebentar mengawasi situasi dan bertemu dengan ketua kelompok pedagang disana, Tuan Puteri.. lalu mungkin akan kembali dalam waktu paling cepat dua minggu,”
Takako kaget, dia tidak mau Minho akan pergi selama itu, menurutnya: apa-apaan baru menikah langsung akan pergi lagi? Bisa menderita dia jika seperti itu. Hari itu dia berfikir bagaimana caranya melanggar adat: dia ingin bertemu Minho.  
Han Hye menjawab tidak tahu ketika Takako bertanya apa Minho akan ke istana atau tidak, mungkin pergi ke tempat lain, karena dia tidak berhak mengetahui kemana dan dimana Tuannya berada. Takako cemberut saja.
”Tapi...saya diminta Jendral Lee untuk menemani Anda,” senyum Han Hye.
”ya, baiklah,” balas Takako, singkat. Lalu Han Hye pun menuju pusat istana, meminta ijin kepada petugas administrasi negara kalau dia akan membantu Takako mempersiapkan dirinya untuk upacara pernikahan ulang tersebut.

”Lalu... apa Liao Ning itu aman?? Kamu sudah pernah ke sana?,” tanya Takako ketika mereka makan pagi
”belum, Tuan Puteri,” jawab Han Hye singkat, sambil dia makan.
”seharusnya kamu yang pergi, bukan Minho,” ujar Takako. Dia memberhentikan makannya, manjanya mulai lagi.
Mian habnida, Tuan Puteri...sepertinya Yang Mulia Raja yang menginginkan Jendral Lee langsung turun,” jawab Han Hye dengan lembut. Dia mengatakan jika memang ada pertemuan rahasia, tidak bisa diberikan pada abdi kerajaan dengan tingkat biasa.
”Ya.. aku mengerti.. bahkan mungkin juga Minho akan pergi dengan pakaian rumah,” balas Takako dengan nada agak judes sambil dia tetap mengunyah makanan.
Han Hye senyum padanya,” aku tidak bisa diterjunkan kesana.. walau mungkin Yang Mulia Raja bisa saja menginginkannya... Tapi.. Jendral Lee mengatakan, sehabis pernikahan, saya ditugaskan untuk menemani Tuan puteri,”
Takako sangat tidak puas dengan perkataan Han Hye. Dia tahu bahwa Minho seorang yang sangat sibuk. Dia seperti menyesali dirinya menjadi korban dalam pertukaran politik antara kerajaan dan keshogunan itu.

Akhirnya, dia malah terdiam di depan Han Hye. Dia membayangkan hidup disini enak, Minho akan mencintainya, tidak sibuk dengan urusan pekerjaannya yang semakin menguras waktu antara dia dan dirinya, ternyata berbeda. Tapi apalah daya, dia harus bisa bersikap dewasa dan mengikuti saja alur hidup yang diinginkan oleh ayahnya kepadanya, tidak ada pilihan lain.
”kenapa Puteri??,” tanya Han Hye mendadak melihat Takako masih memegang mangkuk nasinya, tapi malah termenung.
”Bagaimana perasaanmu.. ketika kamu jauh dari keluargamu??,” tanya Takako masih dengan sedikit termenung, tatapan mata seperti kosong.
Han Hye menaruh mangkuknya sendiri lalu tersenyum,”aku sejak kecil tidak mengerti apa itu kasih sayang orang tua..... semenjak aku berumur 5 tahun..aku sudah harus bekerja membantu orang lain”
Takako jadi terharu dengan perkataan prajurit yang sekaligus pesuruh wanita itu.
”Lalu.. kemana kedua orangtuamu??,”
”mereka masih ada.. mereka bekerja di ladang tuan tanah di tempat yang jauh sekali.. jauh dari Hanyang ini.. bisa satu minggu berkuda,” jawab Han Hye dengan senyumnya lagi
”Saya beruntung Tuan Lee Dae Woo mengangkatku sebagai pembantu beliau,” lanjutnya lagi.
”Jadi bukan Minho yang pertama kali kamu kenal??,” tanya Takako penasaran.
Han Hye menggeleng, dia lalu jujur berkata pada Takako kalau dia sebenarnya terlebih dahulu kenal Minho sudah agak lama. Ketika Lee Dae Woo ayah Minho berperang untuk menghabisi para pemberontak yang ingin berafiliasi dengan Ilbon (jepang kala itu) dihabisi dan dia terpisah dari kedua orangtuanya. Kemudian setelah pemberontakan itu habis, Dae Woo melihatnya dan mengangkatnya sebagai anak. Kemudian setelah dia mau dibawa jendral itu, kedua orangtua Han Hye melihatnya dan meminta kembali anak mereka tetapi Dae Woo lebih suka kalau dia tinggal bersamanya menjadi pembantu dirumah nya yang besar. Dae Woo merasa, Han Hye adalah gadis kecil yang baik dan penurut.

”Baik sekali ternyata ayah mertua ku,” kata Takako, matanya sudah mulai bersinar.
Han Hye mengangguk senyum,” tetapi.. aku ingin sekali dulu menjadi mata-mata karena melihat Jendral Lee Minho itu”
Takako cemberut, dia merasa cemburu pada Han Hye.
”Jadi.. kamu suka Minho, begitu??,” tatapan matanya berubah lagi jadi menyebalkan.
Han Hye tertawa kecil, cekikikan pada Takako,”Tidak seperti itu, Tuan Puteri... Jendral Lee itu bukan lelaki yang mudah menyukai seorang perempuan”
”Lalu??,” tanya Takako, masih penasaran dengan cerita pembantu itu.
”Suatu hari.. aku melihat Jendral Lee yang waktu itu masih jadi prajurit biasa, pulang ke rumah.. dia begitu baik padaku,”
Takako menyimak cerita Han Hye. Kedua tangannya ditaruh di atas meja, seperti pelajar yang sedang memperhatikan guru mengajar. Han Hye bercerita kalau Tuannya, Jendral Lee Dae Woo, dan kedua anaknya, termasuk Minho walau seorang prajurit yang keras, tetap memperlakukan dia, yang walau seorang pembantu dan bahkan bisa dianggap budak, dengan baik. Lalu ketika tanpa sengaja Han Hye yang berumur 10 tahun itu sedang menghidangkan minuman kepada tiga orang itu, mendengar bahwa kerajaan akan menggunakan prajurit perempuan sebagai mata-mata, lalu dia pun memberanikan diri bicara kepada Lee Dae Woo yang waktu itu masih menjadi Jendral di kerajaan sebelum akhirnya menjabat sebagai Gubernur di NamYang.
Reaksi Dae Woo waktu itu sangat kaget, karena dia belum menemukan Han Hye sebenarnya perempuan kecil yang berani. Tetapi dengan adanya dua anak Dae Woo yang dilihat oleh perempuan itu memberikannya semangat menjadi seorang prajurit yang jujur, Han Hye menjadi tertantang dan ingin menjadi prajurit juga, terutama di bagian mata-mata. Lalu.. ketika dia mulai berusia 11 tahun.. Dae Woo mengirimkannya ke dalam pelatihan bela diri untuk wanita kerajaan. Han Hye pun belajar dengan giat dan masuk menjadi prajurit wanita. Dae Woo melihat kesetiaan dan ketaatannya justru menganggap dia bisa menjadi prajurit wanita mata-mata. Sehingga ketika Han Hye berusia  sekitar 14 tahun an, dia meminta pelatih prajurit di bidang mata-mata untuk melatihnya menjadi pasukan mata-mata wanita.
Ketika Minho menjadi Jendral, Dae Woo meminta usulan kepada kerajaan agar Han Hye berada di bawah anaknya itu dan diterima. Selama bergelar pasukan mata-mata, Han Hye memang belum jauh sekali bertugas, paling tidak seputar Han Yang dan beberapa daerah kecil lainnya, mengamati yang mencurigakan.

”jadi...kamu memang sudah hampir 5 tahun dengan Minho??,” tanya Takako
Han Hye mengangguk, lalu dia bercerita lagi suka dukanya menjadi prajurit wanita mata-mata.
”aku hampir pernah ditangkap musuh... hehe,”
Takako tertawa menutupi mulutnya, membalas tawa Han Hye.
”Kamu tahu tidak, Han Hye?? Sebenarnya aku benci sekali dengan Minho,”
”apa? Kenapa bisa begitu??,” wajah Han Hye berubah jadi heran, penasaran dengan cerita selanjutnya.
Takako lalu bercerita panjang lebar proses dia dijodohkan dengan Minho dan hubungannya dengan politik kerajaan. Han Hye mendengarkan dengan seksama dan serius.
”awalnya aku sangat tidak mencintai dia..tetapi karena Minho melindungiku...bahkan membuat aku tidak dicelakai kekasihku sendiri...aku jadi percaya padanya”
Han Hye tersenyum. Dia memang sedari awal beruntung memiliki Tuan dan anaknya yang bisa menghargai dia sebagai orang kelas rendah yang tetap dihargai sebagai manusia.
”Jadi.. Tuan Puteri awalnya sebenarnya tidak cinta dengan Jendral Lee??,” tanya Han Hye, mengulang kepastian jawabannya dari Takako
Takako mengangguk,” Ya.. bahkan aku benci sekali.. Minho lelaki yang terkesan tidak peduli dan aku bingung.. bagaimana aku bisa hidup dengannya??”
Han Hye lalu bergumam,”umm..mungkin juga sebenarnya Jendral Lee bingung pada awalnya..sebab dia sudah punya kekasih... Tuan Puteri pasti tahu”
Takako menghela nafas, dia jadi ingat kejadian 2 hari pertama disini, melihat Minho berpelukan dengan Hee Kyung, mantan kekasihnya itu, dia langsung sedih dan ketakutan di negeri orang.
Han Hye tersenyum,” tetapi Jendral Lee selalu berpesan padaku...agar aku menjaga Puteri.. walau dia berkata ” Puteri Tae Young itu hebat.... kamu bisa kalah dengannya jika bertarung”, hehe... tetapi..aku harus tetap berbakti padanya,”
”Haaaah.. aku jadi mencintai Minho pada akhirnya,” Takako menghela nafas
Han Hye tertawa kecil padanya,” mungkin kalau aku menjadi wanita terhormat..aku bersedia menjadi isterinya dengan senang hati, hihi”
”Hieeeh...,” balas Takako heran
”aku belum pernah melihat Jendral Lee kasar kepada setiap wanita.. sepertinya dia memang lembut pada setiap wanita ya??,” bisik Han Hye.
Takako dan Han Hye memang jadi sangat akrab. Mereka malah jadi tertawa-tawa menggosip tentang Minho.
”aku senang Minho bilang kamu bisa jadi temanku...pastinya...aku akan kesepian kalau dia sedang bertugas,”
Han Hye tersenyum. Hari itu, dia ditugaskan Minho untuk melayani Takako sampai semuanya, sampai lusa mereka menikah, agar Takako tidak kesepian lagi.

                                    ...................................................
”Kami sudah menghubungi Gim-ssi... kita akan pergi ke sana sekitar tanggal 10 bulan ini dan kita akan sampai disana sekitar 4 hari jika tidak ada aral. Gim-ssi sudah menunggu disana,” kata Kwon dalam pembicaraannya dengan Minho dan ketiga anak buah mereka.
”yang perlu dikhawatirkan adalah...kita bertemu mata-mata lain di Jillain,” kata Minho.
”mata-mata kita sudah tersebar, Jendral Lee.. aku sudah mengirimkan sampai 5 orang disana.. Anda akan bertemu dengan Jin Suk,”
Minho mengangguk. Sebab, Sim Hwang akan pergi dahulu selepas ini, barulah dirinya.
”Jin Suk memberikan laporan terakhir, kalau Jillain aman, tidak ada masalah antara masyarakat joseon dan manchuria yang ada di sana.... tetapi sebenarnya yang aku inginkan adalah... Yang Mulia Raja memasukkan mata-mata ke dalam istana Manchu,” kata Kwon lagi
Minho serius mendengarkan usulan Kwon, sampai dahinya sedikit berkerut,” sebenarnya seperti itu.. hanya saja.. siapa yang bisa? Jendral sekarang cenderung lebih mudah dikenal orang..dan.. entah mengapa.. aku berfikir, sebaiknya diantara kita pun, Yang Mulia Raja lebih baik menjadikan kita pasukan rahasia untuk beliau.. di dalam istana sendiri...”
”Maksud mu, Jendral Lee?,” tanya Jendral Kwon
”semenjak aku pulang dari Ilbon lalu mengabarkan pada Yang Mulia Raja, Yang Mulia mempunyai pemikiran, bahwa baik Ilbon atau Manchuria masih ingin menguasai Joseon,” kata Minho. Dia berbicara menatap mata Kwon.
”Lalu... menurut ku.. dengan adanya kasus ini.. sedari dulu kita pahami, sebenarnya manchuria hampir tidak memiliki masalah dengan Joseon dan begitu juga sebaliknya.. dalam pandanganku.. apakah ada kekacauan informasi sendiri dalam tubuh kita..??? ”
”mata-mata maksudku... seorang Joseon pengkhianat,” lanjut Minho lagi.
Kwon kaget dengan perkataan Minho baru saja dan bertanya, kenapa Minho sesegera itu mengambil kesimpulan bahwa ada rakyat Joseon sendiri yang menjadi pengkhianat dalam kerajaan ini.
”Ingat kasus Jendral Ryung? Dia diperdaya seorang keturunan Manchuria bukan??,” tanya Minho lagi pada Kwon. Ryung adalah orangtua Tae Young, cinta pertama Minho.
Kwon mengangguk,”hanya saja..apa ini ada hubungannya dengan pengkhianatan lagi?? Jika iya.. siapa??”
”Aku masih belum juga mendapatkan petunjuk lebih jauh.. kita bicara dulu dengan Gim-ssi di Liao Ning.. ,” jawab Minho
”orang terdekat pun bisa menjadi pengkhianat,” lanjutnya lagi.

                                                .................................
Siangnya, Takako mengatakan pada Han Hye kalau dia ingin jalan-jalan keluar istana, pergi ke pasar, melihat banyak orang dan berbelanja. Dia pun lalu memakai hanbok biasa saja yang sederhana, berjalan bersama pembantu Minho itu.
Suasana pasar sangat ramai.. sepertinya ada sebuah acara meriah nanti malam.
”Menjelang berakhir musim semi..memasuki musim panas... pasar memang sering ramai,” senyum Han Hye.
”ramai sekali..aku ingin membeli baju rumah untuk Minho,” kata Takako. Dia melihat ada sebuah toko yang depannya terbuka lebar dan ada banyak baju lelaki bergantungan.
”Tapi biasanya Jendral Lee pesan baju sendiri, Puteri... ,” ujar Han Hye, mengingat memang tinggi badan Minho yang berbeda, lebih tinggi dari banyak pria.
Takako tidak mendengarkan kata-katanya, dia pun masuk toko besar itu. Sang pemilik toko melayaninya dengan ramah.
annyeong haseyo, agassi.. silahkan melihat-lihat,”
Takako berbisik pada Han Hye,”aku tidak bisa menawar, bantu aku”, dia menunjuk pada sebuah baju yang memang terlihat panjang dan besar, berwarna biru tua.
”Minho..suka bukan..dengan warna biru tua??,” bisiknya lagi pada Han Hye. Perempuan itu mengangguk saja.
”Kainnya bagus nona...aku mengirimnya dari Nam Yang,” kata penjual itu.
Han Hye pun lalu tawar menawar setelah Takako mengatakan, kalau baju rumah biasa itu bagus, tinggi dan cocok untuk dipakai Minho. Dalam bayangannya, Minho pasti akan makin cinta padanya ketika nanti dia memberikan baju itu.
Mereka lalu keluar dari toko itu dengan puas, setelah berhasil membeli baju itu.
”sebenarnya kita tidak boleh berlama-lama keluar rumah, Puteri Tae Young... kita bisa melanggar adat,” kata Han Hye berjalan disampingnya.
”membosankan sekali berada di istana, tanpa ada teman bicara,” jawab Takako. Dia memang bukan tipe perempuan yang full pendiam.
”aku harap Jendral Lee tidak tahu kita sedang keluar.. beliau bisa saja marah padaku,”
Takako menoleh pada Han Hye, lalu dia tertawa kecil,”Kalau Minho nakal dan jahat kepadamu.. aku enggak ragu untuk menolak tidur dengannya... Minho itu.. masih suka tertidur diusap pipinya, hihihi”
Dia membuka sendiri rahasia Minho pada pembantunya. Han Hye membalas dengan tertawa lagi. Dia tidak menyangka ada sisi seperti anak-anak pada tuannya. Mereka kembali berjalan-jalan dipasar yang ramai itu, melihat-lihat pernak pernik di pinggir jalan, Takako menjadi tertarik juga.

”eh...lihat penjepit rambut ini...bagus kan??,” tanya Takako. Dia memegang jepit rambut perak yang dijual dipinggir jalan
Han Hye mengangguk,” iya... tapi..rasanya tidak pantas dipakai Puteri...,”
Belum selesai perempuan itu melanjutkan kata-katanya, Takako memotong, dia tidak ingin Han Hye menyebutnya ”puteri”. Minho melarangnya untuk bersikap seperti seorang puteri bangsawan jika berada di depan umum dan sepertinya Han Hye belum mengetahui itu.
”aku suka yang ini... harganya berapa??,” Takako memegang jepit rambut perak yang bergambar burung merak itu.
”10 koin perak, Nona,” jawab si penjual.
”bagus kan?,” tanya dia pada Han Hye. Han hanya mengangguk saja. Takako mengeluarkan kantong uang dan membayarnya.
gambsahabnida,” balas si penjual dengan ramah.
”belanjaku habis banyak.. semoga Minho tidak marah,” katanya pada Han Hye.
”Jendral Lee memang tidak suka menghabiskan banyak uang, Tuan Puteri... Tuan puteri belum pernah melihat Jendral Lee memakai baju yang bagus sekali kecuali seragam resmi kerajaan bukan??,” jawab Han.
Takako mengangguk. Dia sempat heran juga ketika melihat Minho dalam kesehariannya biasa saja, seperti rakyat biasa, tapi ketika membelikan beberapa pasukannya makanan dan juga membelikannya baju bagus, baru terlihat banyak koin emasnya.
”Mungkin dia pelit sekali pada dirinya sendiri, hihi,” Takako malah jadi menggosip suaminya sendiri.
”Makan pun Jendral Lee sederhana saja, Tuan puteri.. hampir tidak pernah melempar makanan atau marah besar kalau kami memasak kurang memuaskan hatinya,” jawab Han.
”Mungkin diberi racun pun, dia tidak marah, hihi,” balas Takako lagi dengan tawanya. Dia bercerita pada Han, walau Takako berusaha meracuni nya di malam pertama mereka menikah di Tsushima, Minho malah nekat menyedot ludah sampai tenggorokan Takako agar tidak teracuni. Han Hye terkesan dengan cerita itu, dia jadi sangat akrab dengan isteri tuannya itu, jadi ikut tertawa.

Mereka terus melihat-lihat pasar itu, apa saja barang yang ada.
Mereka tidak menyadari, sebenarnya sedari di toko baju, mereka sedang dibuntuti dua orang lelaki tidak dikenal. Kedua orang itu gerak-geriknya memang seperti biasa saja. Ketika Takako dan Han berhenti melihat-lihat, kedua orang itu berhenti juga sejenak dari beberapa meter melihat-lihat barang dagangan lain dipinggir jalan, seolah-olah ikut menawar, sehingga tidak ada rasa orang yang sedang di dekat mereka menjadi penuh curiga.
”PENCURI!!! TOLONG... UANG KU DICURI!!,” teriak seorang wanita mendadak, ketika ada seorang lelaki berlari cepat mengambil kantung uangnya, diantara jalan pasar yang ramai itu.
Takako sigap malah berlari mengejar pencuri itu.
“TUAN PUTERI.. TUNGGU!!,” teriak Han. Dia kalah cepat berlari dengan Takako yang mengejar pencopet itu. Ternyata kedua lelaki yang membuntuti mereka juga ikut berlari.

”HAI.. KEMBALIKAN UANGNYA!”, teriak Takako dengan lantang sambil tetap mengejar. Lelaki pencopet itu menoleh padanya, lalu disaat sudah keluar dari kompleks pasar dan ditempat yang sangat sepi, dia berhenti.
Takako juga berhenti mengejar. Dia berhadapan dengan lelaki pencopet itu hanya sekitar 3 meter saja.
”TUAN PUTERI TAE YOUNG... TUNGGU!”, teriak Han Hye, menghampirinya. Dari beberapa meter, dua lelaki yang juga mengejarnya jadi saling berhadapan dengan Takako
”akhirnya... terpancing juga isteri Jendral Lee,” kata salah seorang lelaki setengah baya dengan wajah berjanggut dan kumis, memakai topi yang sedikit menutup wajahnya.
Han Hye langsung berlari mendekat pada Takako.
”Siapa kalian??!!??,” teriak Han Hye pada mereka. Dia lekas mengeluarkan pisau dari balik bajunya yang longgar.
”kami hanya ingin berkenalan dengan isteri Jendral Lee.. dengar-dengar.. dia dari ilbon,” seru seorang dari mereka, dengan nada yang meremehkan Takako. Orang itu tersenyum menyindir pada mereka berdua
”Mereka sepertinya bukan orang baik, Tuan puteri,” Han Hye setengah berbisik. Dia tetap waspada dengan pisau kecil masih ditangannya.

Takako berdiri disamping Han Hye.
”Kenapa aku punya musuh disini?? Apa karena Minho??,” pikirnya dalam hati
”Siapa kalian?!! Aku memang isteri Jendral Muda Lee...!! mau apa kalian??,” teriak Takako dengan lantang. Dia juga hanya membawa tantou (pisau kecil dari jepang), mengeluarkannya dan bersiap siaga.
”Kami hanya ingin berkenalan dengan Anda, Nyonya,” senyum lelaki yang lain, yang usianya lebih muda dari awal.
”Kalian pasti ingin Tuan puteri celaka!,” teriak Han Hye
Lelaki yang ketiga angkat bicara,”Hieehh... kenapa kamu berfikir begitu, Nona?? Kamu siapa?? Pembantu nya??,”
”Bukan urusanmu!,” jawab Han Hye dengan ketus.
Lelaki yang pertama berkata lagi dengan ekspresi yang seperti meremehkan Han Hye,” ya.. baiklah.. ”
Mendengar itu, Han Hye bersiap siaga.
Lelaki yang tadi pun menggerakkan tangannya...
”serang,” ujarnya dengan santai, kepada kedua lelaki yang lain.

”Hiattt!,” kedua lelaki itu lantas menyerang Takako dan Han Hye. Mereka berdua pun membalas serangan kedua lelaki itu.
Seperti tidak seimbang, karena pisau kecil melawan pedang.
”Tring!,” tantou milik Takako beradu dengan salahsatu pedang lelaki penyerang itu.
”Menyerahlah, Nyonya Lee.. kami tidak ingin mencelakai Anda,” kata lelaki yang memakai baju berwarna abu-abu itu, yang sedang berhadapan dengan Takako.
”Menyerah katamu?? Tidak ada dalam hidupku kata-kata itu...!,” jawab Takako, dia menggeser pedang itu dengan tantou nya, berusaha mendekat pada tubuh lelaki itu dan berusaha ingin menjatuhkan nya.
Sementara di sisi lain, Han Hye sedang diserbu oleh dua lelaki yang lain.
”Hiat!! Hiat!!,” suara Han Hye mengelak dan menyerang kedua lelaki itu dengan garang, dia mengamuk. Lalu setelah mengambil peluang untuk bisa dekat dengan Takako, dia berdiri disampingnya.

”Trang!,” Han Hye nekat menyerang lelaki yang sedang menyerang Takako.
Takako lalu mundur, sementara dua lelaki yang lain malah menyerangnya.
Han Hye tahu, mereka terdesak, lalu dia malah mundur, berdiri memasang kuda-kuda di belakang punggung Takako.
”Kenapa, Nona?? Sudah lelah bermain dengan kami? Hahaha!” tawa salah seorang dari mereka.
”Cih!,” balas Han Hye, galak. Dia ternyata mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya... ternyata sebuah senjata yang berbentuk cakram.
Takako kaget, ternyata memang dalam dunianya, Han Hye lebih mirip seorang kunoichi (ninja wanita).
Han Hye memegang cakram yang bentuknya seperti gergaji setengah bulat itu.
”Pisau kecilku rasanya tidak mempan bagi kalian.. kami bisa kalah,” senyum dingin Han Hye keluar juga.
”ternyata Han Hye memang seorang prajurit perempuan,” kata salahseorang lelaki yang lebih tua, dengan baju hitamnya dan memakai caping/topi anyaman seperti petani.
”Dari mana kau tahu namaku??!!??!,” teriak Han Hye.
”Tidak perlu tahu, Nona.. tapi kami bukan sembarangan asal menilai,” jawab salahsatu lelaki.
Lelaki yang paling tua lalu menggerakkan tangannya lagi, memberi aba-aba.
”serang mereka,” kata lelaki itu santai. Dua lelaki yang lain kembali berlari menyerbu mereka berdua.

”Trang!,”
”Tring!”
”Hiat!!,”
”Ciat!!”
Suara saling adu senjata terdengar. Han Hye dan Takako masih keras melawan. Sepertinya dua orang lelaki itu mengincar sesuatu.
”Crash!,” rambut Takako berhasil ditarik dan kemudian diambil oleh satu dari lelaki itu dengan pedang mereka.
”Kabur!,” teriak lelaki yang paling tua. Mendengar itu, dua lelaki yang lain langsung menuruti perintahnya dan mereka berlari.
Han Hye mengejar mereka, tapi mereka cepat menghilang dibalik pepohonan, lari masuk ke wilayah hutan.
”Han Hye.. sudah!,” teriak Takako dari beberapa meter ketika Han Hye berusaha mengajar mereka.

”Tuan puteri.. baik-baik saja kan??,” kata Han Hye, menoleh pada Takako yang menghampirinya.
Takako tersenyum,” ya.. jangan khawatir.. tetapi.. rambutku..,”
Dia menunjukkan rambutnya yang 10 cm hilang, tidak rata, terpotong oleh pedang salahsatu dari para lelaki itu.
Han Hye kaget,” kenapa mereka??”
Takako menggeleng,” aku juga tidak tahu”
”Haaaahhh.... semoga saja Minho tidak tahu kalau rambutku diambil mereka,” keluhnya.
”aneh sekali,” gumam Han Hye. Kalaupun misalnya mereka jahat, kenapa hanya menginginkan rambut tuannya??
Takako melihat rambut panjangnya yang terpotong, dia mengeluh lagi, semoga Minho tidak tahu tentang ini.
”Terpaksa Tuan puteri rambutnya harus aku potong sedikit agar rata... semoga Jendral Lee tidak marah,” ujar Han Hye.
Takako bercanda pada Han Hye kalau tidak mungkin Minho akan tahu, karena selama 2 hari kedepan, dia dan Minho tidak boleh bertemu... jadi akan aman-aman saja.
Han Hye masih khawatir apa Takako terluka. Takako hanya menjawab kalau dia baik-baik saja dan sebaiknya mereka pulang karena hari sudah mulai terang dan waktunya makan siang.

Di lain tempat....
”Umm.. jadi ini ternyata rambut isterinya Jendral Lee... halus sekali,” kata salah seorang wanita setengah baya, memegang rambut Takako. Lelaki yang tadi menyerang Takako dan Han Hye, menyerahkan rambut itu.
”mau Imo (bibi-red) apakan rambut itu??,” Tanya salah seorang wanita cantik yang duduk di depan wanita setengah baya itu.
Wanita yang sudah rambutnya penuh dengan uban itu pun mengeluarkan pisau kecil dan balik bajunya. Wanita cantik yang berdiri di depannya kaget, begitu juga dengan ketiga lelaki yang mengambil rambut Takako.
”Cresh,” suara pisau kecil, lalu darahpun mengucur dari telapak tangan wanita itu dan dia menaruh tetesan darah diatas rambut Takako.
Wanita muda itu tidak mengerti apa maksud dari wanita setengah baya itu.
Lalu, wanita setengah baya itu mengambil air dari sebuah botol terbuat dari tanah liat.
”Ini adalah air sungai Hanseong.... dia akan mati bersama sungai ini,” kata wanita itu.
”Maksud Imo??,” tanya wanita muda masih heran melihat itu.
”aku akan membuatnya mati tenggelam setelah dia menikah dengan mantan kekasihmu itu,” jawab wanita tua itu.
Wanita muda itu lalu air wajahnya berubah menjadi senang dengan mendengar kata kematian. Dia membayangkan, malam pertama Takako dan Minho resmi menikah dengan adat Joseon, Takako akan mati tenggelam bersama dalamnya sungai besar itu.

Malam semakin larut... Minho sama sekali tidak mengunjungi Takako, dia sungguh menghormati adat dan tradisi.
Takako malam itu hanya termenung di meja dekat tempat tidurnya, sementara Han Hye tidur di kamar sebelah. Dia menarik nafasnya, merasa kesepian.
Sambil menopang dagunya, dia hanya bisa berkata ,”Minho sedang apa ya.. disana??,”
Dia memainkan saja jari-jarinya, dia ketuk-ketuk, pikirannya bosan sekali, ingin sekali pergi ke luar lingkup istana, ke rumah Minho. Dia lalu minum-minum sedikit dan berbaring dan berusaha tidur.
”Minho??,” Takako senang sekali tak berapa lama, dia merasa bertemu Minho.
Minho tersenyum, lalu menghampiri dan memeluknya. Takako merasakan pelukan itu tidak hangat, tetapi panas seperti api.
”Minho.. kamu.. kenapa??,” Takako melepas pelukan Minho. Dia heran. Dilihatnya mata Minho memang sayu.. tetapi pupilnya, bola matanya terlihat merah menyala. Senyuman Minho pun berubah yang awalnya manis, menjadi menyeringai dingin.
Takako mundur darinya. Dia kaget sekali, seluruh kulit Minho juga berubah jadi merah menyala seperti api.
Ditangan Minho, seperti ada rambutnya yang tadi pagi menjelang siang diambil oleh tiga lelaki yang Takako belum mengenalnya.
”Rambutku!,” kata Takako kaget.
Minho menggenggam rambut itu, yang juga disertai darah.
”Minho.. kamu kenapa??,” Takako masih terheran-heran. Tapi Minho hanya diam saja.....
Takako ingin sekali menghampirinya dan memeluknya... akan tetapi... lalu...
Minho mengeluarkan sebilah pisau tajam dari balik bajunya dan menyerang Takako...
”Minho!!,” Takako langsung bangun dari tidurnya.. ternyata dia bermimpi..
Dia duduk, masih berfikir tentang mimpi tadi... nafasnya kencang...
”Minho.. aku takut sekali.. kenapa mimpinya seperti nyata??,” keluh Takako, dia mengusap wajahnya, lalu mencoba kembali tidur, sama sekali tidak minta Han Hye menemaninya.
Sementara, Minho disana tidur seperti biasa.. kelelahan karena bekerja dari pagi sampai malam..
 Di lain tempat... rambut-rambut Takako yang terpotong tadi, mendadak saling bersambung, membentuk sepeti tali, yang menuju sungai Hanseong...

Bersambung ke part 10...