Cerita ini cuma iseng saja, jangan dimasukin ke hati.. kalau masih serius
juga.. tanggung sendiri deh..
Malam itu, Minho masih tidak pulang ke
rumah, tetap berada di Rumah Sakit Eisei, menjaga Chie. Dia masih duduk di
ruangannya sendiri, memikirkan banyak hal. Dia lalu menelepon kakaknya, Marisa.
“Kasihan sekali, Chie chan,” ujar Marisa.
Minho mengangguk saja. Dia lalu bercerita
soal hubungan dia dengan ibu mereka yang sudah mulai merenggang.
Marisa kaget mengetahui itu semua karena
sebuah perjanjian, dia tidak menyangka Minho tega melakukan itu.
“ah... kamu gila sekali, Minho... buruk
sekali!,” ujar Marisa spontan, dia kaget adiknya bisa senekat itu.
“Tolong aku, Eonni.. aku bingung,” iba Minho.
Marisa mengeluh, menyatakan bahwa sikap
Minho mulai lagi tidak dewasanya. Seharusnya dia bisa nekat tidak menuruti
kemauan ibu mereka dan tidak sepatutnya menyetujui perjanjian seperti itu.
“kembali ke sini, secepatnya..,” kata
Marisa,” akan kita bicarakan bersama.. aku tidak ingin membiarkan ibu seperti
itu mencampuri urusan rumahtangga kalian”
Minho mendesah saja,” ayah mertua juga
akan ikut”
“Ibu.. kenapa jadi nekat begitu??,” Marisa
tidak habis pikir dengan semuanya itu. Jika memang semuanya berjalan lancar..
jika tidak?? Bisa bubar rumahtangga adiknya itu.
“Ayah mertuamu pasti sakit hati ketika
kamu menceritakan ini. Aku hargai kamu sudah mau menceritakan ini padanya,”
kata Marisa.
“aku hanya berfikir, ketika Chie menjadi Hypergravida ini lantas dia sama sekali
kehabisan energy dan juga kekurangan gizi, kekhawatiranku menjadi-jadi... ,”
keluh Minho.
“Ibu tidak jahat, tapi kamu juga sebaiknya
mengerti.. ibu kita itu penderita anxiety
disorder (kelainan kecemasan tingkat tinggi),” ujar Marisa yang seorang
psikolog.
Minho mengangguk mengiyakan. Dia sudah
berfikir dari awal, pasti Ibunya meminta lebih dari diri Chie.
“Aku akan bicara pada Ibu.. mau ayah
setuju atau tidak.. pasti ayah juga tidak akan setuju,” kata Marisa.
“berusahalah yang terbaik untuk
membatalkan perjanjian ini, Minho.. aku tidak habis pikir.. kenapa semuanya
jadi berantakan.. kasihan sekali Chie-chan itu,” tambahnya lagi.
Minho makin galau saja. Dia harus menunggu kepulangan Jerry kembali dari
Amerika, harus menyusun jadwal ulangnya agar tidak bentrok dengan dokter lain.
Tentu saja, menunggu ini akan memakan waktu, sedang Minho mengutak-atik jadwal
dan dia belum menemukan waktu yang pas. Anak-anak dengan disorder (kelainan) itu tidak bisa ditinggalkan begitu saja,
begitu juga para dokter yang berada di divisinya. Dia tetap harus bertekad
untuk menjadwalkan liburannya, khusus membahas semua yang berhubungan dengan
kesehatan Chie.
......................................
Tengah malam, Minho pergi ke ruangan
tempat Chie dirawat inap. Sebelumnya, dia bicara dengan Suzuki tentang
pengaturan makan isterinya itu.
“saya sudah resepkan kepada Higa-san apa
saja yang bisa dimakan oleh isteri Anda, Lee-Sensei (dokter),” kata Suzuki, membuka pembicaraan pada Minho. Higa
adalah kepala juru masak Rumah sakit Eisei itu.
Minho sengaja datang ke ruangannya malam
itu, untuk memastikan bantuan Suzuki pada isterinya.
Suzuki memberikan kertas yang isinya
berupa susunan menu dan gizi bagi Chie. Minho menerima dan memperhatikannya.
“Isteri Anda kurang gizi sekali.. ,” kata
Suzuki, datar.
Minho jadi menghela nafasnya. Daftar itu
panjang sekali.
“Ini laporan dari Rhi-sensei,” kata Suzuki
lagi, menyerahkan sebuah file isinya test darah.
Minho bergumam. Dia melihat test darah
yang umum pada ibu hamil, mulai dari test Hb (hemoglobin untuk mengetahui
apakah sel darah merah kurang atau tidak), TORCH (apakah janin akan terserang
virus misalnya toxoplasma, citomegalo virus), test gula darah, dll.
“semua normal.. hanya saja.. darahnya..
nilai test antioksidan dalam tubuhnya
sangat rendah.. kadar radikal bebasnya
tinggi...yang akhirnya malah mempengaruhi darahnya,” kata Suzuki.
Antioksidan adalah senyawa/molekul yang
menghambat proses kerusakan senyawa/molekul lain. Radikal bebas adalah senyawa
oksigen reakstif yang dapat menyebabkan kerusakan sel tubuh.
Sama seperti apa yang dikatakan
sebelumnya, selain kelainan darah anemia nya, ternyata juga punya Polycythemia vera,” lanjut Suzuki lagi.
Polychytemia vera adalah sebuah kondisi
penyakit kelainan darah dimana tulang belakang membuat terlalu banyak sel darah
merah, sehingga kelebihan produksi sel darah putih dan platelet (keping darah). Gejala bisa ditandai dengan sensasi panas
pada tangan dan kaki dengan lebam kemerahan atau kebiruan pada kulit, lelah,
sering sakit kepala.
“pantas saja dia sering merasa lelah,
capek dan sakit kepala.. aku pikir, hanya sekedar ngidam,” balas Minho pada
Suzuki. Tangannya masih memegang hasil test lab.
“LED
nya juga tinggi... kami belum bisa memberikan aspirin.. tapi aku berikan saja
suplemen pengencer darah,” balas Suzuki.
“tentu saja aku serahkan perawatan pada
Rhi-Sensei,” ujar Minho. Karena memang itu sudah bagian dari tugas Rhi, bukan
Suzuki dalam pengobatan.
“Aku kurang percaya dengan aspirin... Chie
tidak boleh sembarangan minum obat karena kondisinya itu,” lanjut Minho lagi.
Suzuki bergumam saja,” kalau begitu, phlebotomy lah yang tepat... hanya saja,
harus berhati-hati dengan anemia nya juga.. kondisi yang ekstrim, Lee-sensei..
satu kurang, satu lebih”
Phlebotomy adalah sebuah tehnik perawatan kombinasi.
Pembuangan darah dari tubuh akan menurunkan volume darah dan hematokrit, serta
mengurangi penggumpalan/kekentalan darah.
“Phlebotomy ini diharapkan juga ada
perubahan perbaikan kognitif (daya
pikir) pada isteri Anda, Lee-sensei”, lanjut Suzuki lagi
“semoga ini tidak mengkhawatirkanku,” kata
Minho. Aslinya dia khawatir, karena jika tidak terkontrol, maka bisa
menimbulkan AML (Acute Myelogenous
Leukemia atau kanker darah).
“Kita tidak perlu berfikir sampai sejauh
itu dulu, Lee-sensei.. sepertinya kondisi isteri Anda masih bisa dikontrol,”
balas Suzuki lagi, menyemangati Minho.
Minho hanya menunduk hormat, berterima
kasih dengan bantuan para sejawatnya itu kepada isterinya.
.......................................
Di ruang rawat inap...
Minho masuk ke ruangan yang harum karena
ada beberapa tangkai mawar di dalamnya. Sengaja Minho tidak meminta pengharum
ruangan sintetik untuk kamar Chie, mengingat dia sangat sensitive terhadap
aroma yang harum sekalipun jika buatan/sintetik. Dilihatnya, Chie ternyata
terpejam.
Minho mendekatinya, duduk disampingnya,
hanya memandang, cukup lama.
Chie membuka matanya pelan-pelan.
“Minho kun.. kenapa masih disini??,”
katanya mengucek matanya.
Minho senyum padanya,” aku janji malam ini
menginap disini.. supaya kamu dan aka-chan
(bayi) senang”
Lalu dia menggenggam tangan Chie,
mengelusnya.
“Tadi aku bermimpi.. kalau Aka-chan marah
dengan ku”, kata Chie.
Mungkin dia memang bermimpi, mungkin saja
hanya alam bawah sadarnya yang mempengaruhinya dalam tidur, karena persoalan
mereka akhir-akhir ini memang tentang kasus kesehatannya.
Minho senyum manis padanya,” aka-chan
bilang apa pada Chie-chan?? Kenapa marah??”
“aku sakit, dia marah,” kata Chie dengan
tatapan yang datar dan kosong pada Minho.
Minho senyum lagi padanya,” mungkin karena
aka-chan lapar dan Chie-chan tidak mau makan, lalu sakit, makanya dia marah”
Chie mengangguk dengan mantap. Dia katakan
dalam mimpinya itu, Minho juga memarahinya karena dia tidak mau makan. Dia
merasa tidak ada yang membelanya.
“Tapi kan itu hanya mimpi, Chie-chan.. aku
tidak marah sama sekali dengan kamu soal makanan,” jawab Minho dengan lembut.
Minho membujuknya agar dia tidur lagi,
tetapi Chie tidak mau. Dia malah kembali bercerita mimpi itu lagi beberapa
kali. Minho hanya senyum saja, lalu menjawab juga dengan redaksi yang mirip
dengan perkataan sebelumnya.
“Kalau Chie chan cerita ini terus, nanti
aka-chan bisa marah... ,” kata Minho, berusaha menyetop perkataan Chie yang
berulang-ulang tanpa henti itu lagi yang diceritakan.
“Aka-chan itu memang marah padaku,
Minho-kun.. aku tahu itu,” jawabnya dengan suara yang sudah mulai lemas.
Minho melonggarkan sedikit katup infus
agar cairan tidak cepat hilang dari tubuh Chie. Lalu dia duduk lagi disamping
isterinya itu.
“Tidak kok.. dia sudah tidak marah lagi..
apa Chie chan tidak lapar??,” tanya Minho.
Chie mengangguk, dia meminta Minho
membantunya untuk membuka pisang yang ada didalam refrigator di ruangan rawat
inap itu.
Minho mengambil, mengupas dan membantu
menyuapinya.
Chie makan dengan lahap dan tertawa pada
Minho. Dia senang bisa ditemani.
“Minho kun.. sepertinya aka-chan bergerak
lagi!,”
Dia mendadak duduk dan memegang perutnya,
membuka baju atasnya, menarik tangan Minho dan menyuruhnya memegang perutnya.
Minho meraba perutnya Chie dengan pelan,
merasakan, apa benar yang dikatakan isterinya itu.
Chie malah tertawa-tawa dengan tingkah
Minho yang sampai mendekatkan telinga dan tangannya pelan-pelan ke perut Chie.
Minho serius mencoba meraba tanpa bantuan alat, tapi dipikir Chie, lelaki itu
hanya bercanda.
“Umm.. benar-benar sudah terasa
pergerakannya walau masih halus,” raba Minho.
Minho lalu duduk dengan posisi biasa lagi,
dia senyum pada Chie.
“Mau kan.. makan yang banyak untuk
Aka-chan?? Aka-chan sudah bisa menendang loh.. kalau Okaachan (ibu) nya nakal,” lanjut Minho lagi.
“Chu,” bujuk Minho sambil mencium pipi
kanannya Chie.
Chie tertawa-tawa diperlakukan manja oleh
Minho.
“Aku janji, Minho kun.. aku akan makan
banyak untuk aka-chan..,”
Dia melahap pisang yang sudah dikupas oleh
Minho dengan penuh semangat. Satu buah pisang ukuran besar pun habis.
Minho senyum padanya, mengusap-usap
pipinya.
“Janji loh.. tidak berbohong lagi seperti
kemarin.. “
“dua hari yang lalu, bilang pada ku kalau
mau makan bubur kacang merahnya.. tapi kenyataannya.. kata Matsuda-san.. kamu
tidak makan sama sekali..,”
Chie mengelak,” aku makan, Minho-kun.. aku
makan”
Gerak-geriknya persis seperti anak-anak
yang sedang bermain drama. Minho tahu dia berbohong.
“Ibu asuh tidak mungkin bohong, Chie-chan..
aku tahu itu.. Chie chan yang bohong padaku,” balas Minho, santai, menatap
matanya Chie.
Chie diam saja, pura-pura cuek, sambil
asik makan pisang.
“Ayo.. bohong kan??,” tanya Minho,
memastikan kalau yang dibilang Chie baru saja, hanya angannya saja.
“Iie..
uso jya nai desu yo (tidak.. tidak bohong),” elak Chie, dia malah terkekeh.
“Ah.. kok dia malah jadi berbohong sih??
Apa benar yang dibilang Suzuki-sensei baru saja.. karena kondisi darahnya ini,
dia mengalami penurunan kognitif??,” tanya hatinya Minho pada dirinya sendiri.
Minho memang tidak pernah menemukan Chie
berbohong padanya. Sikap dan sifatnya selalu jujur dalam kondisi apapun. Bisa
jadi teori yang dipaparkan Suzuki, rekan sejawatnya, itu benar.
“Kalau Chie-chan berbohong.. enaknya Minho-kun
apakan??,” tanya Minho pada Chie, dengan wajah serius.
Chie selalu takut kalau wajah Minho yang
berubah dari senyum menjadi serius, atau bahkan tegas dan terkesan marah. Dia
selalu menyangka Minho akan menjahatinya, walau kenyataan, Minho hanya bersikap
tegas untuk membedakan perasaan serta untuk mengajari Chie, supaya bisa
membedakan, mana yang benar, mana yang salah.
Sebenarnya Minho selalu ingin tertawa
kalau dia sudah bersikap tegas. Sama sekali tidak ada maksud menyakiti hati
Chie.
“Berbohong kan??,” tanya Minho, masih
memasang wajah tegasnya.
Minho tetap menunggu Chie mengeluarkan
jawaban “Ya”, keluar dari mulutnya.
Chie diam, Minho tetap menunggu
jawabannya.
Chie masih saja diam dan Minho tetap
menunggu jawabannya dengan sabar.
Tiba-tiba, Chie malah tertawa
terbahak-bahak.
Minho menaikkan aliasnya, takutnya,
pasangannya itu bocor lagi pola makannya, sehingga perilakunya jadi aneh.
“Aku tidak suka kalau Chie-chan
berbohong.. menurutku, itu tidak baik... ingat tidak?? Betapa aku tahu Chie-chan
tidak pernah berbohong padaku.. “
“aku yang justru takut kalau aku berbohong
padamu,”
Chie masih tertawa-tawa di depan Minho.
Minho menyuruhnya menutup mulutnya, agar tidak berisik karena ini bukan rumah,
tapi rumah sakit.
“ssst... aku takut nanti yang lain
terbangun..ini sudah malam sekali,” kata Minho.
“Ya, baik.. aku berhenti mentertawakan
Minho-kun,” balas Chie. Dia berhenti tertawa.
“Lalu?? ,” tanya Minho.
“Lalu.. sekarang aku makan lagi,” senyum
genit Chie.
“janji padaku tidak berbohong lagi... aku
sedih,” kata Minho.
Chie mengangguk,” aku berjanji... “, lalu
dia terkekeh.
Minho memandangnya dengan senyum manisnya.
“selamanya aku cinta kamu,” ujar Minho,
sambil mengusap pipinya.
Chie senyum, memandang mata Minho, lalu
dia mencium lelaki itu.
“Chu,” suara ciumannya sampai terdengar.
“Besok..aku pulang kan???,”
Minho senyum,” belum boleh besok, Suzuki-sensei
ingin bicara denganmu... begitu juga Rhi-sensei,”
“Minho-kun... ,” kata Chie mendadak
wajahnya berubah jadi memelas.
“ya?,” jawab Minho lembut.
Chie malah memeluk Minho dengan erat.
“aku sakit apa?? Apa aku akan mati??”
“kata siapa Chie-chan akan mati??,” Minho
membalas pelukannya dengan lembut. Dia tidak ingin Chie berkata aneh-aneh dalam
imajinasinya.
Chie diam. Minho sabar menunggu jawabannya.
Akhirnya, Minho membuka kembali
pembicaraannya,” Chie-chan akan selalu bersama ku...dan anak kita”
Chie menitikkan air matanya, dia merangkul
leher Minho dengan erat dalam pelukannya.
“aku tidak ingin berpisah dari
Minho-kun... tidak ingin juga dari aka-chan...,”
“aku juga tidak ingin,” balas Minho
lembut.
Dia lalu meminta Chie melepaskan
pelukannya.
Minho senyum padanya.
“itu sebabnya, kamu harus sehat... makan
yang banyak, dan besok bicara dengan Rhi-sensei semua tentang sakitnya kamu”
“aku hanya pusing, perutku sakit, aku
capek,” keluh Chie.
Minho membenarkan lagi jarum infus, takut
ada darah naik ke bagian selang.
“Chie-chan memang sakit... jadi harus
berobat...sudah berapa kali sedari tadi mual dan muntah,” balas Minho.
Chie mengangguk, dia mengeluh tidak mau
lagi punya bayi, karena dia merasa lelah. Minho memberikannya pengertian, kalau
besok nanti bicara dengan Dokter Rhi dan Suzuki, maka mereka akan tahu apa yang
sebenarnya penyakit Chie.
“jangan berbicara tentang kematian, aku
tidak suka,” kata Minho dengan agak sedikit judes.
Dia memang takut membicarakan hal itu. Dia
membayangkan hal itu terjadi karena proses kelahiran yang akan di hadapi Chie.
“Tidak, aku hanya bercanda, Minho-kun,”
Chie mendadak memukul pundak Minho dan tertawa-tawa lagi.
Minho memberikan sinyal agar dia
menghentikan tawanya, takut mengganggu yang lain.
“Apa ibu masih membenci aku??,” Chie
bertanya lagi hal itu.
Minho menggeleng,”Ibu sama sekali tidak
benci denganmu. Hanya hari ini, kita memang belum dapat telepon dari ibu”
“aku terpaksa tidak mengatakan pada Ibu,
takut nanti dia khawatir tentang kamu yang sakit”
Chie lalu menjauhkan dirinya dari Minho,
minta Minho membentangkan selimut kembali untuknya.
“Minho kun.,” katanya menerawang
“Ya?,” jawab Minho dengan lembut.
Kemungkinan memang Chie akan tidur.
“semua dokter bilang.. aku ini autistik..
Minho kun pun bilang begitu sewaktu kita pertama kali bertemu... sewaktu Minho
kun membantu ku sembuh,” katanya memulai pembicaraan yang wajahnya terlihat
menatap Minho dengan ekspresi kosong.
Minho sedih kalau Chie sudah menatapnya
dengan seperti itu. Dalam hatinya, dia tidak ingin melihat Chie menderita
perasaannya, karena apapun. Apakah itu karena tersinggung oleh ibunya, atau
ejekan lingkungan karena keanehan tingkah laku Chie.
“Ingat tidak??,” kata Chie lagi.
Minho mengangguk, senyum.
“Ya.. aku ingat sekali... Waktu itu, kamu
tidak bisa bicara sama sekali, lalu kamu bohong padaku... katanya cuma satu
kali tidak bisa bicara kalau pusing... kamu bilang.. Kaito-san memaksamu harus
rekaman”
“dasar Chie-chan nakal,” Minho memencet
hidungnya, bercanda padanya.
Tapi ternyata Chie tidak merespon candaan
Minho. Matanya masih menerawang saja.
“Menurut Minho-kun.. apa orang autistik
itu manusia juga??”,
“apa aku manusia juga?,” tanya Chie, masih
dengan tatapan mata yang kosong.
Minho diam. Kali ini suasana berganti,
Chie yang meminta jawaban dari Minho.
Lalu Minho bercanda padanya, mencubit
kedua pipinya.
“Tentu saja Chie chan manusia.. bukan
boneka.. buktinya Chie-chan bisa bicara dengan ku... dengan ayah, dengan ibu,
dengan Matsuda-san, Endo-sensei, Kaito-san.. siapa saja... iya kan??”
“terkadang aku merasa lelah, Minho-kun,”
mata Chie masih menerawang. Tanpa dirinya sadari, air mata jatuh menetes di
pipinya.
Minho ingin menangis, tapi dia tidak ingin
menangis dihadapan Chie.
Lalu dia hanya memeluk saja perempuan itu.
“Siapa yang bilang Chie-chan bukan
manusia.. apa ada yang meledek lagi??”, tanya Minho, masih memeluk Chie
Chie menggeleng saja.
Lalu Minho senyum, dari suaranya, dia
tunjukkan bicara pada Chie sambil tersenyum.
“Kalau ada yang bilang Chie-chan bukan
manusia.. orang itu sebenarnya yang bukan manusia.. dia hantu..”
Lalu Minho tertawa kecil, masih memeluk
Chie.
“Chie chan takut hantu kan??,” tanya Minho
lagi.
Chie mengangguk. Minho memang kalau iseng
suka sekali menggodanya dengan cerita hantu, supaya dia cepat tidur.
“Nah.. kalau hantu buat apa dijadikan
teman? Biarkan saja.. kalau dulu aku kecil mendengar cerita hantu dari kedua
orangtuaku.. mereka tidak patut ditemani”
Minho terus mengusap-usap rambut Chie yang
panjang dan lembut. Berusaha mengalihkan pikirannya.
“Lalu.. kenapa banyak hantu diluar sana..
seperti membenciku?? Padahal mereka manusia??,” tanya Chie lagi.
Minho melepaskan pelukannya.
“Karena Chie-chan itu malaikat untukku..
hantu, youkai, mononoke (setan jahat)
kan tidak pernah suka dengan para malaikat yang baik...”
“Jadi mereka iri.. kenapa aku sayang Chie,
tetapi tidak sayang mereka”
“Chie-chan manusia spesial untukku..
anugerah terindah untukku..,” senyum Minho.
Dia ingin menahan air matanya supaya tidak
jatuh ketika mengatakan itu.
“Apa Minho kun katakan itu.. dari sini??,”
tanya Chie. Yang dimaksud adalah, apakah Minho mengatakan itu, dari lubuk
hatinya sendiri yang paling dalam?
Minho senyum, mengangkat telapak tangan
kanannya seperti ekspresi bersumpah, lalu mengatakan dengan mantap.
“Iya.. aku, Lee Minho.. bersumpah.. aku
cinta Chie-chan dengan sepenuh hati”
Lalu dia memegang dadanya sendiri.
Chie yang tatapan matanya tadi menerawang
kosong, berubah menjadi berbinar. Dia memegang dada Minho.
“aku bisa merasakan.. Minho kun begitu
tulus cinta padaku... jadi.. aku manusia kan??”
Minho menggeleng,”Bukan.. tapi Chie chan
itu manusia, sekaligus malaikat untukku”
“Untuk hidupku... dan untuk aka-chan,”
Bersambung ke part 7....