This is me....

Senin, Maret 09, 2015

Heal Me, Doc II (Part 6: Aku Ini.. Manusia Seperti Kalian Juga, Kan?)

Cerita ini cuma iseng saja, jangan dimasukin ke hati.. kalau masih serius juga.. tanggung sendiri deh..

Malam itu, Minho masih tidak pulang ke rumah, tetap berada di Rumah Sakit Eisei, menjaga Chie. Dia masih duduk di ruangannya sendiri, memikirkan banyak hal. Dia lalu menelepon kakaknya, Marisa.
“Kasihan sekali, Chie chan,” ujar Marisa.
Minho mengangguk saja. Dia lalu bercerita soal hubungan dia dengan ibu mereka yang sudah mulai merenggang.
Marisa kaget mengetahui itu semua karena sebuah perjanjian, dia tidak menyangka Minho tega melakukan itu.


“ah... kamu gila sekali, Minho... buruk sekali!,” ujar Marisa spontan, dia kaget adiknya bisa senekat itu.
“Tolong aku, Eonni.. aku bingung,” iba Minho.
Marisa mengeluh, menyatakan bahwa sikap Minho mulai lagi tidak dewasanya. Seharusnya dia bisa nekat tidak menuruti kemauan ibu mereka dan tidak sepatutnya menyetujui perjanjian seperti itu.

“kembali ke sini, secepatnya..,” kata Marisa,” akan kita bicarakan bersama.. aku tidak ingin membiarkan ibu seperti itu mencampuri urusan rumahtangga kalian”
Minho mendesah saja,” ayah mertua juga akan ikut”
“Ibu.. kenapa jadi nekat begitu??,” Marisa tidak habis pikir dengan semuanya itu. Jika memang semuanya berjalan lancar.. jika tidak?? Bisa bubar rumahtangga adiknya itu.
“Ayah mertuamu pasti sakit hati ketika kamu menceritakan ini. Aku hargai kamu sudah mau menceritakan ini padanya,” kata Marisa.
“aku hanya berfikir, ketika Chie menjadi Hypergravida ini lantas dia sama sekali kehabisan energy dan juga kekurangan gizi, kekhawatiranku menjadi-jadi... ,” keluh Minho.
“Ibu tidak jahat, tapi kamu juga sebaiknya mengerti.. ibu kita itu penderita anxiety disorder (kelainan kecemasan tingkat tinggi),” ujar Marisa yang seorang psikolog.

Minho mengangguk mengiyakan. Dia sudah berfikir dari awal, pasti Ibunya meminta lebih dari diri Chie.
“Aku akan bicara pada Ibu.. mau ayah setuju atau tidak.. pasti ayah juga tidak akan setuju,” kata Marisa.
“berusahalah yang terbaik untuk membatalkan perjanjian ini, Minho.. aku tidak habis pikir.. kenapa semuanya jadi berantakan.. kasihan sekali Chie-chan itu,” tambahnya lagi.

Minho makin galau saja. Dia harus menunggu kepulangan Jerry kembali dari Amerika, harus menyusun jadwal ulangnya agar tidak bentrok dengan dokter lain. Tentu saja, menunggu ini akan memakan waktu, sedang Minho mengutak-atik jadwal dan dia belum menemukan waktu yang pas. Anak-anak dengan disorder (kelainan) itu tidak bisa ditinggalkan begitu saja, begitu juga para dokter yang berada di divisinya. Dia tetap harus bertekad untuk menjadwalkan liburannya, khusus membahas semua yang berhubungan dengan kesehatan Chie.
                                                ......................................
Tengah malam, Minho pergi ke ruangan tempat Chie dirawat inap. Sebelumnya, dia bicara dengan Suzuki tentang pengaturan makan isterinya itu.

“saya sudah resepkan kepada Higa-san apa saja yang bisa dimakan oleh isteri Anda, Lee-Sensei (dokter),” kata Suzuki, membuka pembicaraan pada Minho. Higa adalah kepala juru masak Rumah sakit Eisei itu.
Minho sengaja datang ke ruangannya malam itu, untuk memastikan bantuan Suzuki pada isterinya.
Suzuki memberikan kertas yang isinya berupa susunan menu dan gizi bagi Chie. Minho menerima dan memperhatikannya.
“Isteri Anda kurang gizi sekali.. ,” kata Suzuki, datar.
Minho jadi menghela nafasnya. Daftar itu panjang sekali.

“Ini laporan dari Rhi-sensei,” kata Suzuki lagi, menyerahkan sebuah file isinya test darah.
Minho bergumam. Dia melihat test darah yang umum pada ibu hamil, mulai dari test Hb (hemoglobin untuk mengetahui apakah sel darah merah kurang atau tidak), TORCH (apakah janin akan terserang virus misalnya toxoplasma, citomegalo virus), test gula darah, dll.

“semua normal.. hanya saja.. darahnya.. nilai test antioksidan dalam tubuhnya sangat rendah.. kadar radikal bebasnya tinggi...yang akhirnya malah mempengaruhi darahnya,” kata Suzuki.
Antioksidan adalah senyawa/molekul yang menghambat proses kerusakan senyawa/molekul lain. Radikal bebas adalah senyawa oksigen reakstif yang dapat menyebabkan kerusakan sel tubuh.
Sama seperti apa yang dikatakan sebelumnya, selain kelainan darah anemia nya, ternyata juga punya Polycythemia vera,” lanjut Suzuki lagi.
Polychytemia vera adalah sebuah kondisi penyakit kelainan darah dimana tulang belakang membuat terlalu banyak sel darah merah, sehingga kelebihan produksi sel darah putih dan platelet (keping darah). Gejala bisa ditandai dengan sensasi panas pada tangan dan kaki dengan lebam kemerahan atau kebiruan pada kulit, lelah, sering sakit kepala.

“pantas saja dia sering merasa lelah, capek dan sakit kepala.. aku pikir, hanya sekedar ngidam,” balas Minho pada Suzuki. Tangannya masih memegang hasil test lab.
LED nya juga tinggi... kami belum bisa memberikan aspirin.. tapi aku berikan saja suplemen pengencer darah,” balas Suzuki.
“tentu saja aku serahkan perawatan pada Rhi-Sensei,” ujar Minho. Karena memang itu sudah bagian dari tugas Rhi, bukan Suzuki dalam pengobatan.
“Aku kurang percaya dengan aspirin... Chie tidak boleh sembarangan minum obat karena kondisinya itu,” lanjut Minho lagi.

Suzuki bergumam saja,” kalau begitu, phlebotomy lah yang tepat... hanya saja, harus berhati-hati dengan anemia nya juga.. kondisi yang ekstrim, Lee-sensei.. satu kurang, satu lebih”
Phlebotomy adalah sebuah tehnik perawatan kombinasi. Pembuangan darah dari tubuh akan menurunkan volume darah dan hematokrit, serta mengurangi penggumpalan/kekentalan darah.
“Phlebotomy ini diharapkan juga ada perubahan perbaikan kognitif (daya pikir) pada isteri Anda, Lee-sensei”, lanjut Suzuki lagi

“semoga ini tidak mengkhawatirkanku,” kata Minho. Aslinya dia khawatir, karena jika tidak terkontrol, maka bisa menimbulkan AML (Acute Myelogenous Leukemia atau kanker darah).
“Kita tidak perlu berfikir sampai sejauh itu dulu, Lee-sensei.. sepertinya kondisi isteri Anda masih bisa dikontrol,” balas Suzuki lagi, menyemangati Minho.
Minho hanya menunduk hormat, berterima kasih dengan bantuan para sejawatnya itu kepada isterinya.
                                                .......................................
Di ruang rawat inap...
Minho masuk ke ruangan yang harum karena ada beberapa tangkai mawar di dalamnya. Sengaja Minho tidak meminta pengharum ruangan sintetik untuk kamar Chie, mengingat dia sangat sensitive terhadap aroma yang harum sekalipun jika buatan/sintetik. Dilihatnya, Chie ternyata terpejam.
Minho mendekatinya, duduk disampingnya, hanya memandang, cukup lama.

Chie membuka matanya pelan-pelan.
“Minho kun.. kenapa masih disini??,” katanya mengucek matanya.
Minho senyum padanya,” aku janji malam ini menginap disini.. supaya kamu dan aka-chan (bayi) senang”
Lalu dia menggenggam tangan Chie, mengelusnya.

“Tadi aku bermimpi.. kalau Aka-chan marah dengan ku”, kata Chie.
Mungkin dia memang bermimpi, mungkin saja hanya alam bawah sadarnya yang mempengaruhinya dalam tidur, karena persoalan mereka akhir-akhir ini memang tentang kasus kesehatannya.

Minho senyum manis padanya,” aka-chan bilang apa pada Chie-chan?? Kenapa marah??”
“aku sakit, dia marah,” kata Chie dengan tatapan yang datar dan kosong pada Minho.
Minho senyum lagi padanya,” mungkin karena aka-chan lapar dan Chie-chan tidak mau makan, lalu sakit, makanya dia marah”
Chie mengangguk dengan mantap. Dia katakan dalam mimpinya itu, Minho juga memarahinya karena dia tidak mau makan. Dia merasa tidak ada yang membelanya.

“Tapi kan itu hanya mimpi, Chie-chan.. aku tidak marah sama sekali dengan kamu soal makanan,” jawab Minho dengan lembut.
Minho membujuknya agar dia tidur lagi, tetapi Chie tidak mau. Dia malah kembali bercerita mimpi itu lagi beberapa kali. Minho hanya senyum saja, lalu menjawab juga dengan redaksi yang mirip dengan perkataan sebelumnya.

“Kalau Chie chan cerita ini terus, nanti aka-chan bisa marah... ,” kata Minho, berusaha menyetop perkataan Chie yang berulang-ulang tanpa henti itu lagi yang diceritakan.
“Aka-chan itu memang marah padaku, Minho-kun.. aku tahu itu,” jawabnya dengan suara yang sudah mulai lemas.
Minho melonggarkan sedikit katup infus agar cairan tidak cepat hilang dari tubuh Chie. Lalu dia duduk lagi disamping isterinya itu.

“Tidak kok.. dia sudah tidak marah lagi.. apa Chie chan tidak lapar??,” tanya Minho.
Chie mengangguk, dia meminta Minho membantunya untuk membuka pisang yang ada didalam refrigator di ruangan rawat inap itu.
Minho mengambil, mengupas dan membantu menyuapinya.

Chie makan dengan lahap dan tertawa pada Minho. Dia senang bisa ditemani.
“Minho kun.. sepertinya aka-chan bergerak lagi!,”
Dia mendadak duduk dan memegang perutnya, membuka baju atasnya, menarik tangan Minho dan menyuruhnya memegang perutnya.

Minho meraba perutnya Chie dengan pelan, merasakan, apa benar yang dikatakan isterinya itu.
Chie malah tertawa-tawa dengan tingkah Minho yang sampai mendekatkan telinga dan tangannya pelan-pelan ke perut Chie. Minho serius mencoba meraba tanpa bantuan alat, tapi dipikir Chie, lelaki itu hanya bercanda.

“Umm.. benar-benar sudah terasa pergerakannya walau masih halus,” raba Minho.
Minho lalu duduk dengan posisi biasa lagi, dia senyum pada Chie.
“Mau kan.. makan yang banyak untuk Aka-chan?? Aka-chan sudah bisa menendang loh.. kalau Okaachan (ibu) nya nakal,” lanjut Minho lagi.
“Chu,” bujuk Minho sambil mencium pipi kanannya Chie.

Chie tertawa-tawa diperlakukan manja oleh Minho.
“Aku janji, Minho kun.. aku akan makan banyak untuk aka-chan..,”
Dia melahap pisang yang sudah dikupas oleh Minho dengan penuh semangat. Satu buah pisang ukuran besar pun habis.
Minho senyum padanya, mengusap-usap pipinya.
“Janji loh.. tidak berbohong lagi seperti kemarin.. “
“dua hari yang lalu, bilang pada ku kalau mau makan bubur kacang merahnya.. tapi kenyataannya.. kata Matsuda-san.. kamu tidak makan sama sekali..,”

Chie mengelak,” aku makan, Minho-kun.. aku makan”
Gerak-geriknya persis seperti anak-anak yang sedang bermain drama. Minho tahu dia berbohong.
“Ibu asuh tidak mungkin bohong, Chie-chan.. aku tahu itu.. Chie chan yang bohong padaku,” balas Minho, santai, menatap matanya Chie.
Chie diam saja, pura-pura cuek, sambil asik makan pisang.

“Ayo.. bohong kan??,” tanya Minho, memastikan kalau yang dibilang Chie baru saja, hanya angannya saja.
Iie.. uso jya nai desu yo (tidak.. tidak bohong),” elak Chie, dia malah terkekeh.
“Ah.. kok dia malah jadi berbohong sih?? Apa benar yang dibilang Suzuki-sensei baru saja.. karena kondisi darahnya ini, dia mengalami penurunan kognitif??,” tanya hatinya Minho pada dirinya sendiri.

Minho memang tidak pernah menemukan Chie berbohong padanya. Sikap dan sifatnya selalu jujur dalam kondisi apapun. Bisa jadi teori yang dipaparkan Suzuki, rekan sejawatnya, itu benar.
“Kalau Chie-chan berbohong.. enaknya Minho-kun apakan??,” tanya Minho pada Chie, dengan wajah serius.

Chie selalu takut kalau wajah Minho yang berubah dari senyum menjadi serius, atau bahkan tegas dan terkesan marah. Dia selalu menyangka Minho akan menjahatinya, walau kenyataan, Minho hanya bersikap tegas untuk membedakan perasaan serta untuk mengajari Chie, supaya bisa membedakan, mana yang benar, mana yang salah.
Sebenarnya Minho selalu ingin tertawa kalau dia sudah bersikap tegas. Sama sekali tidak ada maksud menyakiti hati Chie.

“Berbohong kan??,” tanya Minho, masih memasang wajah tegasnya.
Minho tetap menunggu Chie mengeluarkan jawaban “Ya”, keluar dari mulutnya.
Chie diam, Minho tetap menunggu jawabannya.
Chie masih saja diam dan Minho tetap menunggu jawabannya dengan sabar.

Tiba-tiba, Chie malah tertawa terbahak-bahak.
Minho menaikkan aliasnya, takutnya, pasangannya itu bocor lagi pola makannya, sehingga perilakunya jadi aneh.
“Aku tidak suka kalau Chie-chan berbohong.. menurutku, itu tidak baik... ingat tidak?? Betapa aku tahu Chie-chan tidak pernah berbohong padaku.. “
“aku yang justru takut kalau aku berbohong padamu,”

Chie masih tertawa-tawa di depan Minho. Minho menyuruhnya menutup mulutnya, agar tidak berisik karena ini bukan rumah, tapi rumah sakit.
“ssst... aku takut nanti yang lain terbangun..ini sudah malam sekali,” kata Minho.
“Ya, baik.. aku berhenti mentertawakan Minho-kun,” balas Chie. Dia berhenti tertawa.

“Lalu?? ,” tanya Minho.
“Lalu.. sekarang aku makan lagi,” senyum genit Chie.
“janji padaku tidak berbohong lagi... aku sedih,” kata Minho.
Chie mengangguk,” aku berjanji... “, lalu dia terkekeh.
Minho memandangnya dengan senyum manisnya.
“selamanya aku cinta kamu,” ujar Minho, sambil mengusap pipinya.

Chie senyum, memandang mata Minho, lalu dia mencium lelaki itu.
“Chu,” suara ciumannya sampai terdengar.
“Besok..aku pulang kan???,”
Minho senyum,” belum boleh besok, Suzuki-sensei ingin bicara denganmu... begitu juga Rhi-sensei,”

“Minho-kun... ,” kata Chie mendadak wajahnya berubah jadi memelas.
“ya?,” jawab Minho lembut.
Chie malah memeluk Minho dengan erat.
“aku sakit apa?? Apa aku akan mati??”

“kata siapa Chie-chan akan mati??,” Minho membalas pelukannya dengan lembut. Dia tidak ingin Chie berkata aneh-aneh dalam imajinasinya.
Chie diam. Minho sabar menunggu jawabannya.
Akhirnya, Minho membuka kembali pembicaraannya,” Chie-chan akan selalu bersama ku...dan anak kita”

Chie menitikkan air matanya, dia merangkul leher Minho dengan erat dalam pelukannya.
“aku tidak ingin berpisah dari Minho-kun... tidak ingin juga dari aka-chan...,”
“aku juga tidak ingin,” balas Minho lembut.
Dia lalu meminta Chie melepaskan pelukannya.
Minho senyum padanya.
“itu sebabnya, kamu harus sehat... makan yang banyak, dan besok bicara dengan Rhi-sensei semua tentang sakitnya kamu”

“aku hanya pusing, perutku sakit, aku capek,” keluh Chie.
Minho membenarkan lagi jarum infus, takut ada darah naik ke bagian selang.
“Chie-chan memang sakit... jadi harus berobat...sudah berapa kali sedari tadi mual dan muntah,” balas Minho.
Chie mengangguk, dia mengeluh tidak mau lagi punya bayi, karena dia merasa lelah. Minho memberikannya pengertian, kalau besok nanti bicara dengan Dokter Rhi dan Suzuki, maka mereka akan tahu apa yang sebenarnya penyakit Chie.

“jangan berbicara tentang kematian, aku tidak suka,” kata Minho dengan agak sedikit judes.
Dia memang takut membicarakan hal itu. Dia membayangkan hal itu terjadi karena proses kelahiran yang akan di hadapi Chie.
“Tidak, aku hanya bercanda, Minho-kun,” Chie mendadak memukul pundak Minho dan tertawa-tawa lagi.
Minho memberikan sinyal agar dia menghentikan tawanya, takut mengganggu yang lain.

“Apa ibu masih membenci aku??,” Chie bertanya lagi hal itu.
Minho menggeleng,”Ibu sama sekali tidak benci denganmu. Hanya hari ini, kita memang belum dapat telepon dari ibu”
“aku terpaksa tidak mengatakan pada Ibu, takut nanti dia khawatir tentang kamu yang sakit”
Chie lalu menjauhkan dirinya dari Minho, minta Minho membentangkan selimut kembali untuknya.

“Minho kun.,” katanya menerawang
“Ya?,” jawab Minho dengan lembut. Kemungkinan memang Chie akan tidur.
“semua dokter bilang.. aku ini autistik.. Minho kun pun bilang begitu sewaktu kita pertama kali bertemu... sewaktu Minho kun membantu ku sembuh,” katanya memulai pembicaraan yang wajahnya terlihat menatap Minho dengan ekspresi kosong.
Minho sedih kalau Chie sudah menatapnya dengan seperti itu. Dalam hatinya, dia tidak ingin melihat Chie menderita perasaannya, karena apapun. Apakah itu karena tersinggung oleh ibunya, atau ejekan lingkungan karena keanehan tingkah laku Chie.

“Ingat tidak??,” kata Chie lagi.
Minho mengangguk, senyum.
“Ya.. aku ingat sekali... Waktu itu, kamu tidak bisa bicara sama sekali, lalu kamu bohong padaku... katanya cuma satu kali tidak bisa bicara kalau pusing... kamu bilang.. Kaito-san memaksamu harus rekaman”
“dasar Chie-chan nakal,” Minho memencet hidungnya, bercanda padanya.
Tapi ternyata Chie tidak merespon candaan Minho. Matanya masih menerawang saja.

“Menurut Minho-kun.. apa orang autistik itu manusia juga??”,
“apa aku manusia juga?,” tanya Chie, masih dengan tatapan mata yang kosong.
Minho diam. Kali ini suasana berganti, Chie yang meminta jawaban dari Minho.
Lalu Minho bercanda padanya, mencubit kedua pipinya.
“Tentu saja Chie chan manusia.. bukan boneka.. buktinya Chie-chan bisa bicara dengan ku... dengan ayah, dengan ibu, dengan Matsuda-san, Endo-sensei, Kaito-san.. siapa saja... iya kan??”

“terkadang aku merasa lelah, Minho-kun,” mata Chie masih menerawang. Tanpa dirinya sadari, air mata jatuh menetes di pipinya.
Minho ingin menangis, tapi dia tidak ingin menangis dihadapan Chie.
Lalu dia hanya memeluk saja perempuan itu.

“Siapa yang bilang Chie-chan bukan manusia.. apa ada yang meledek lagi??”, tanya Minho, masih memeluk Chie
Chie menggeleng saja.
Lalu Minho senyum, dari suaranya, dia tunjukkan bicara pada Chie sambil tersenyum.
“Kalau ada yang bilang Chie-chan bukan manusia.. orang itu sebenarnya yang bukan manusia.. dia hantu..”

Lalu Minho tertawa kecil, masih memeluk Chie.
“Chie chan takut hantu kan??,” tanya Minho lagi.
Chie mengangguk. Minho memang kalau iseng suka sekali menggodanya dengan cerita hantu, supaya dia cepat tidur.
“Nah.. kalau hantu buat apa dijadikan teman? Biarkan saja.. kalau dulu aku kecil mendengar cerita hantu dari kedua orangtuaku.. mereka tidak patut ditemani”

Minho terus mengusap-usap rambut Chie yang panjang dan lembut. Berusaha mengalihkan pikirannya.
“Lalu.. kenapa banyak hantu diluar sana.. seperti membenciku?? Padahal mereka manusia??,” tanya Chie lagi.
Minho melepaskan pelukannya.
“Karena Chie-chan itu malaikat untukku.. hantu, youkai, mononoke (setan jahat) kan tidak pernah suka dengan para malaikat yang baik...”
“Jadi mereka iri.. kenapa aku sayang Chie, tetapi tidak sayang mereka”

“Chie-chan manusia spesial untukku.. anugerah terindah untukku..,” senyum Minho.
Dia ingin menahan air matanya supaya tidak jatuh ketika mengatakan itu.
“Apa Minho kun katakan itu.. dari sini??,” tanya Chie. Yang dimaksud adalah, apakah Minho mengatakan itu, dari lubuk hatinya sendiri yang paling dalam?

Minho senyum, mengangkat telapak tangan kanannya seperti ekspresi bersumpah, lalu mengatakan dengan mantap.
“Iya.. aku, Lee Minho.. bersumpah.. aku cinta Chie-chan dengan sepenuh hati”
Lalu dia memegang dadanya sendiri.

Chie yang tatapan matanya tadi menerawang kosong, berubah menjadi berbinar. Dia memegang dada Minho.
“aku bisa merasakan.. Minho kun begitu tulus cinta padaku... jadi.. aku manusia kan??”
Minho menggeleng,”Bukan.. tapi Chie chan itu manusia, sekaligus malaikat untukku”
“Untuk hidupku... dan untuk aka-chan,”


Bersambung ke part 7....