This is me....

Sabtu, Maret 14, 2015

Pernikahan ½ (Part 32: Aku Ingin Jadi Dewasa)

Namanya juga cerita imajinasi... jangan pernah dimasukkan ke hati..

Perasaan Minho sangat kusut di dalam rumah susun. Ruangan begitu kosong. Biasanya dia dan Aiko bercanda, saling membantu mengerjakan tugas kuliah atau bahkan sampai Minho cemberut padanya pun.. di ruangan depan ini.
Minho duduk di pojok ruangan, dia pusing sekali, menundukkan wajahnya, menekuk kakinya. Angin dingin diluar seperti tidak peduli dengan permasalahan rumahtangga mereka.


“Aiko-chan.. aku itu tidak bisa hidup tanpa mu.. tapi.. ternyata.. kita belum siap untuk semua ini,” keluhnya.
Lalu dia diam. Pikirannya penuh dengan bayangan banyak peristiwa bersama. Baginya, dia memang tidak tahan dengan segala permasalahan ini. Emosinya jelas masih labil dan belum dewasa menentukan sikap, bagaimana bisa melangkahkan kaki di masa depan bersama. Dia masih bisa berfikir hidup untuk hari itu saja.

“Maafkan aku, Aiko-chan.. aku sudah bersalah banyak padamu,” katanya lagi, masih dengan wajah yang tertunduk dalam.
Minho menangis, dia tidak mau hal buruk terjadi dalam hidupnya. Kuliahnya masih lama, tapi juga masih ingin bersama Aiko. Dia tidak ingin semuanya hancur.

Smartphone nya berdering. Dilihatnya, ternyata ibunya menelepon. Dia diamkan saja walau berkali-kali ibunya mencoba menghubunginya.
Malah.. akhirnya, dia lemparkan saja Hp nya itu ke dinding dengan keras, hingga penutup nya pecah. Dia langsung berjalan ke kamar dan berusaha tidur, membiarkan Hp nya tergeletak begitu di lantai.
                                                ................................
Pagi kembali datang. Aiko berusaha membuka matanya setelah tadi malam menangis, lalu berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Dia sudah mulai malas.
Dia membuka jendela kamar.
“Aku harus kuliah... tidak boleh membolos,” katanya dengan suara yang sangat pelan. Lalu dia berdiri melamun di pinggiran jendela.
“aku harus kuat dengan semua ini,”

Dia menerawang ke luar jendela. Air matanya mulai jatuh lagi.
“Aku harus kuat... aku tidak boleh menangis,”
Dia menyeka air matanya yang jatuh tetes demi tetes di pipinya. Dia dongakkan kepalanya, berani melihat matahari pagi.

“Apa kamu tidak kangen dengan Appa (ayah) mu, dik??,”
Aiko bicara dengan anaknya dalam kandungan sambil tersedu-sedu.
“Ibu kangen dengan ayahmu... padahal baru kemarin malam kami berantem,”
Dia lalu duduk dekat jendela, menangisnya makin menjadi.
“Aku tidak tahan lagi, huhuhuhu”

Ternyata, Kumiko, mendengar tangisan Aiko dari balik pintu kamar. Dia menghela nafasnya.
“Kasihan sekali mereka, tapi, kalau sudah begini.. ayah sudah marah besar.. hidup kalian masih seperti anak-anak”
Kumiko mengundurkan waktunya untuk mengetuk pintu kamar Aiko, padahal tangannya sudah mau mengetuk.
“kasihan Aiko-chan..,”

Dia mendengar lagi suara Aiko berkeluh kesah dan menangis di dalam kamarnya sendiri.
“Dik.. kalau nanti Ibu dan Ayah tidak bisa bersama lagi.. jangan sedih ya?,”
“Ibu tetap akan temani kamu kok...”
Kumiko mendengar itu jadi ingin menangis. Dia merasakan, kalau adiknya itu akan sangat sedih jika mereka benar-benar bercerai. Bisa saja Aiko trauma berat dan malah jadi depresi.
Kumiko jadi ikut menitikkan air mata. Dia diam saja di depan pintu, terus mendengar kata-kata adiknya itu kepada bayi dalam kandungannya.
                                                ....................................
“Jelas aku mengkhawatirkan ini semua.. salah langkah dari awal,” tegas Kohashi, duduk di hadapan isterinya. Dia makan pagi bersama sebelum ingin berangkat tugas.
“aku kan sudah kesal sebelumnya dengan orang itu, Otoosan.. aku sama sekali tidak setuju dan kaku dengannya,” kata Akira yang ikut makan.
“semua sudah terjadi.. mau diapakan lagi? Aku harus bicara dengan kedua orangtuanya,” kata Kohashi lagi. Maksudnya adalah orangtua Minho.

Isteri Kohashi menghela nafasnya. Sebagai seorang ibu, sudah tentu dia tidak ingin anak perempuannya punya rumahtangga berantakan. Di jaman seperti ini memang banyak sekali kasus perceraian terjadi. Hanya saja, dia pikir, tidak semua harus terjadi seperti itu kan? Dia pun berpikir keras, supaya anaknya tetap tegar dan kehidupan rumahtangganya tetap berjalan.
“Apa perlu kita memanggil mereka?,” tanya isteri Kohashi.
“aku yang akan bicara..aku tidak mau semua ditunda-tunda,” jawab Kohashi.
Mereka semua diam, tidak dapat melawan Kohashi kalau sudah begitu.

Kumiko kembali dari kamar Aiko, dia tidak jadi mengetuk pintu. Lalu duduk bergabung makan dengan keluarganya.
“apa dia tidak makan?,” tanya Kohashi.
“aku belum mengetuk pintunya,” jawab Kumiko.

Tak berapa lama, Aiko keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan, bergabung juga dengan mereka.
Kohashi menyapanya, apa dia sudah merasa baik-baik saja.
Anak itu diam saja, sudah pasti sebenarnya dia stress dengan kondisi keluarga kecilnya itu. Kohashi tidak memaksa anaknya untuk membuka mulutnya, bicara dengan semua yang sedang ada di ruangan itu.
“Kalau kamu masih sedih, itu wajar,” kata Kohashi padanya.
Aiko masih diam, dia makan saja, benar-benar tidak bicara sepatah katapun.

Kohashi selesai makan, dia lalu berdiri. Disusul kemudian, isterinya juga berdiri, bersiap mengantarkannya sampai depan. Barulah Aiko menghentikan makannya.
“aku tidak ingin bercerai dengan Minho-kun,” katanya,pada ayahnya itu.
“kalau memang tidak ingin... aku harapkan Minho serius.. ,” jawab Kohashi ringan. Dia lalu pamit pada semuanya. Kumiko, Akira dan Aiko berdiri, menunduk hormat pada ayahnya itu.

“apa dia menghubungimu pagi ini??,” tanya Akira.
Aiko hanya menggeleng saja. Dia pikir, Minho masih berfikir tentang egonya. Padahal sementara, di sana, Minho malas makan, malas minum, termasuk malas kuliah.
“Payah,” kata Akira, sudah negative thinking duluan pada Minho disana.
Aiko diam saja. Setelah selesai makan, dia pergi begitu saja, meninggalkan kedua kakaknya.
Dia tetap kuliah. Bagaimanapun, kedokteran itu sudah susah, sehingga dia tetap harus belajar dengan rajin, mendapatkan nilai sebagus mungkin dan menyingkirkan masalahnya ketika sedang kuliah.
                                                ..........................
Di kampus........
Aiko dan yang lainnya melewati kuliah per mata kuliah hari itu. lalu, siangnya, dia duduk di taman seperti biasa.
Seorang cowok berlari menuju tempat Aiko duduk. Ternyata Ken.
Aiko heran, kenapa bisa sampai Ken menghampirinya dengan berlari sampai ngos-ngosan.

“Minho kun.. memang.. hari ini.. kamu tidak bersama dia??,” tanya Ken, dengan suara masih ngos-ngosan, mengatur nafasnya
Aiko hanya menjawab santai,” tidak,” lalu dia tersenyum. Dia berusaha menyembunyikan masalahnya di depan Ken.
“kalian ada apa lagi??,” tanya Ken, heran.
“hari ini aku menghubungi dia.. sama sekali tidak di angkat.. dia tidak kuliah hari ini,”

Aiko jadi khawatir, jangan-jangan Minho sakit. Tapi, dia sembunyikan lagi ke khawatirannya.
“dari kemarin aku memang tidak menghubunginya.. mungkin sibuk bekerja untuk Tachibana-san,” jawab Aiko, mencoba santai

Ken memandang temannya itu dengan dalam.
“Kamu pasti bohong, Aiko-chan.. aku kenal Minho kun tidak begitu”
Aiko berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Minho kun sibuk.. aku tahu, dia sedang mengerjakan pekerjaan sisanya dari Tachibana san, Ken-kun”

“Aku juga tahu Minho tidak begitu, Aiko-chan.. apa iya dia sampai sama sekali tidak mengaktifkan handphone nya?? Rasanya dia enggak gitu,” jawab Ken, mencurigai apa kata Aiko.
Cewek itu mengelak, dia malas masalah rumahtangganya dicampuri oleh orang lain, walau itu teman akrabnya sendiri.

“Apa kalian berantem lagi ya??,” Ken masih saja kepo dengan kehidupan mereka.
Aiko lalu bangun, meninggalkan Ken.
Ken berlari menghampirinya.
“OI.. TUNGGU!!”
Lalu dia berhasil bediri di hadapan Aiko lagi.
“sebenarnya... ada apa??”
“Apa kalian berantem lagi??,”

Aiko berjalan saja, meninggalkan Ken lagi. Ken berkacak pinggang, dia cukup kesal dengan sifat Minho dan Aiko.
“Oi Aiko chan.. ingat ya.. aku ini temanmu.. kalau Minho kun menjahatimu.. tanda nya, dia juga bermasalah denganku!!,” teriaknya
Sementara Aiko jalan santai saja, meninggalkannya.
“Terserah kalian deh.. mau ribut.. mau perang dunia.. bukan urusanku!!,” Ken menendang kakinya, walau tidak ada objek yang dia tendang. Dia kesal sekali.
                                                ........................................
Aiko tidak ingin masalahnya diketahui oleh teman-temannya.
Hari itu, ketika sore, dia mendatangi Myo, meminta tolong dengannya untuk berbagi flat bersama.

“Jadi.. kalian pisah??,” tanya Myo
Aiko hanya mengangguk saja.
“aku minta tolong berbagi flat.. rumahku terlalu jauh.. dan aku rasa.. aku enggak sanggup kalau setiap hari sejauh itu naik kereta ke kampus, Myo-chan..”
Myo mempersilahkan saja temannya itu tinggal bersamanya, malah dia senang ada teman.
“Lalu.. Minho kun sendiri.. bagaimana??,”
“aku tidak tahu,” jawab Aiko singkat. Dia meletakkan buku-bukunya setelah Myo melowongkan lemarinya untuk berbagi.

Myo duduk di depan meja kecil, lalu menopang dagu.
“kalian ini... kalian sebenarnya belum siap berumahtangga.. aku khawatir sekali kalau kalian bercerai,”
Aiko diam saja, dia masih sibuk menyusun buku-bukunya.

“Ne.. Aiko chan..,” kata Myo lagi
“Ya??,” barulah Aiko menoleh lalu duduk berhadapan dengan Myo.
Myo menegakkan punggungnya.
“Memang kamu siap.. kalau bercerai dengannya??,”

Aiko melihat wajah Myo dengan tatapan sendunya.
Myo lalu memeluknya. Aiko pun akhirnya menangis.
“aku ngerti.. kamu pasti sedih banget kalau sudah seperti ini..,” kata Myo, mencoba menghibur sahabatnya itu.
“aku tidak tahu.. apa kami masih bisa mempertahankan keutuhan ini nanti,” keluh Aiko pada Myo.

“Aku yakin.. kalian bisa mengatasi semuanya.. mungkin.. memang Minho kun butuh waktu berfikir lama untuk kalian bisa kembali lagi.. tertawa bersama lagi,” masih kata Myo lagi.
Aiko tidak ingin membayangkan hal buruk bisa terjadi.
“Aku tidak ingin kehidupan Minho kun berantakan...,” katanya pada Myo
“Ken-kun sepertinya marah padaku...,”
Aiko lalu bercerita tentang apa yang Ken ungkapkan padanya tadi sewaktu di kampus. Myo memang tidak bersama dia hari ini karena ada perbedaan mata kuliah.

“Ken kun itu.. benar.. dia hanya ingin membantu.. dan dia khawatir dengan Minho kun,” kata Myo
Lalu Myo senyum pada Aiko,” apa.. kamu tidak berniat malam ini pergi ke rumah susun kalian?? Kan dekat..”
“aku tidak tahu,” jawab Aiko, singkat. Dia lalu berdiri lagi dan mengambil minum.
Lalu menoleh pada Myo,” aku janji akan bantu membayar sewa flat ini... aku sudah katakan pada Ibu dan ayahku.. dan mereka sepakat mau membantuku”
Myo hanya tersenyum dan mempersilahkan saja jika itu memang kemauan temannya.
                                                ..................................
Ternyata, tanpa Aiko ketahui, Myo menghubungi Minho. Mereka bertemu disebuah taman yang tidak terlalu ramai.
Minho berdiri saja, dia malas duduk. Wajahnya ketika ditemui Myo, kusut sekali.
“Jadi.. orangtua mu juga belum membahas ini??,” tanya Myo
“Belum..,” balas Minho.
“Lagipula.. aku tidak ingin mereka tahu,” lanjutnya lagi

Myo kaget, dipikirnya, Minho tipe cowok yang bergantung pada orangtuanya untuk setiap masalah pelik.
“Apa.. kalian sudah tidak saling cinta lagi??,” tanya Myo
Minho menaikkan alisnya,” kata siapa?? Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya berpisah dengannya..”

Myo menghela nafasnya, dia lalu cerita kalau Aiko kini tinggal satu flat dengannya.
Minho kaget,” serius?? “
Tandanya, dia masih bisa melihat isterinya itu, walau jaraknya tidak terlalu dekat.
Myo mengangguk.
“Tapi...sepertinya.. dia sedang belum mau bertemu denganmu.. andai pun kamu pergi ke tempatku”

“Yang penting... dia tidak sedih dan tetap sehat... ,” kata Minho, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
Myo berdiri di hadapannya, yang awalnya duduk.
“Kalian yakin kan.. kalian akan tetap bersama lagi..suatu hari nanti??”
“Ini.. hanya sebuah perenungan saja kan??”

Minho diam. Baginya, memang ini sebuah perenungan. Dia berharap, pikirannya tidak berubah menjadi perceraian ketika masa perenungan ini dijalani.
“aku hanya mencoba jalani yang terbaik,” kata Minho, membuka suaranya setelah suasana senyap beberapa menit.
“O, begitu,” balas Myo.
Mereka diam lagi.

“Tapi Minho-kun.. aku sebagai teman Aiko-chan.. berharap semuanya akan baik-baik saja..,” lanjut Myo lagi.
Minho senyum pada Myo.
“Andai Aiko-chan ada di depanku.. pasti dia sudah kupeluk dan ku bawa pulang ke rumah susun kami..,”
Myo menyadari kata-kata itu.. artinya, Minho pada dasarnya tidak ingin berpisah dari Aiko.

“Tolong bantu aku jaga dia... ,” senyum Minho.
Myo mengangguk mantap,” hai (ya).. aku tahu.. kalian pada dasarnya masih saling cinta”
Minho senyum lagi mendengar perkataan Myo baru saja. Myo ternyata faham, apa maksud Minho seperti itu.
                                                .....................
Mueos?? Dangsin eun neomu bujuui, Minho!!,” ibunya Minho begitu kaget ketika malam berikutnya, Minho akhirnya menelepon orangtuanya, berkata jujur, akan apa yang sedang terjadi. Dia anggap anaknya itu terlalu ceroboh memutuskan untuk pisah sementara.
“mian habnida, Eomma.. aku harus lakukan ini supaya aku bisa berfikir,” Minho meminta maaf juga pada ibunya. Rasa bersalahnya jadi tinggi. Dia membayangkan, mungkin saja Kohashi sudah menelepon kedua orangtuanya, meminta pertanggung jawaban sesuai dengan perjanjian.

“Apa kamu tidak ingat, Minho.. kamu bisa dipenjara kalau bercerai,” ibunya masih panik mengingat itu semua.
“aku tidak akan bercerai, Eomma.. aku hanya butuh berfikir..,” balas Minho
“aku tidak ingin ayahmu tahu dulu.. pikirkan baik-baik, Minho.. aku tidak ingin kamu masuk penjara.. ,”
Ibunya memang cemas dengan anak kesayangannya itu. Kalau saja Kohashi bisa nekat, anaknya itu memang bisa diseret ke pengadilan karena dianggap tidak bertanggung jawab.
Tapi... sudah dua hari berlalu.. belum ada telepon dari pihak Kohashi kepada mereka. Apa memang perjanjian itu hanya sebuah gertak sambal??

Minho meminta kepada orangtuanya, jika memang Kohashi menelepon, dia ingin agar dirinya saja yang berusaha menyelesaikan masalah ini sendirian.
Ibunya kaget, kenapa anaknya mendadak dewasa.
“Aku tidak ingin menyeret Appa dan Eomma dalam urusan ini.. aku ingin dewasa,” kata Minho
Ibunya begitu terharu dengan apa yang dikatakan anaknya baru saja. Antara yakin dan tidak yakin, dia sebaiknya memberikan kesempatan pada Minho untuk berfikir di usia 19 tahun anaknya itu.

Ya.. Minho berfikir dalam dua hari kemarin.. dia tidak ingin lagi melibatkan kedua orangtuanya, dia tidak ingin menjadi cowok cengeng. Dia tidak ingin para orangtua akan turut campur dengan urusan rumahtangganya. Dia ingin membuktikan, dia bisa dewasa, bisa tahu bagaimana caranya menjadi pemimpin keluarga.
                                    ............................................
Setelah dia menelepon ibunya, dia termenung lagi. Di tinggalkannya kerjanya dari Tachibana tentang mengedit komik.
“Aiko-chan.. semoga kamu dan anak kita baik-baik saja.. aku minta maaf.. belum dapat penuh menjaga mu..,”
Ternyata.. dia menangis lagi..

Sementara, ketika Aiko sedang mengambil gelas minum, gelasnya jatuh.
Myo yang mendengar suara gelas pecah lalu lekas keluar dari kamar tidurnya.
“ada apa, Aiko chan??,” tanya dia, sambil membantu Aiko menyingkirkan pecahan gelas.

“aku.. teringat lagi dengan Minho-kun.. maaf.. gelasmu, pecah...,”  jawab Aiko dengan suaranya yang sedih.
Myo hanya senyum, lalu tetap membantunya menyingkirkan beling itu.

“Lebih baik.. kalian tinggal satu atap lagi,” kata Myo, mereka duduk saja diruang depan.
“kamu tahu tidak.. aku bertemu Minho kun kemarin malam,”
Aiko kaget. Dia tidak menyangka Myo bisa bertemu Minho. padahal, ketika Aiko beberapa kali mencoba meneleponnya, sama sekali tidak diangkat.

“Aku rasa, Aiko-chan.. dia akan menjadi cowok dewasa untuk mu..,” senyum lebar Myo mengembang.
Aiko malah semakin sedih dengan apa yang Myo katakan baru saja. Dia ingin sekali Minho menjemputnya, membawa kembali ke rumah susun mereka.
“Belum saatnya, Aiko-chan... tapi aku yakin, Minho-kun sulit melepasmu,”

“Aku takut makannya tidak teratur, Myo-chan.. Minho-kun itu.. kalau makan, harus dilayani,” Aiko malah jadi menunduk lesu.
Ternyata dia menangis lagi. Biasanya memang Minho kalau makan maunya ditemani, dilayani, makan bersama sampai selesai.
Myo malah jadi tertawa kecil dengan cerita Aiko soal makan Minho yang cerewet.

“Kalian sebenarnya cocok sekali... yang satu cerewet, yang satu melayani.. aku malah jadi iri,” tawa Myo.
“semoga semuanya bisa selesai dengan cepat, Myo-chan.. aku tidak ingin menyusahkannya.. juga.. aku tidak ingin kedua orangtuaku marah berkepanjangan dengannya,” kata Aiko.
Myo mengangguk mantap,” aku juga ingin begitu.. aku ingin kalian bahagia”


Bersambung ke part 33...