Namanya juga cerita imajinasi... jangan pernah dimasukkan ke hati..
Perasaan Minho sangat kusut di dalam rumah
susun. Ruangan begitu kosong. Biasanya dia dan Aiko bercanda, saling membantu
mengerjakan tugas kuliah atau bahkan sampai Minho cemberut padanya pun.. di
ruangan depan ini.
Minho duduk di pojok ruangan, dia pusing
sekali, menundukkan wajahnya, menekuk kakinya. Angin dingin diluar seperti
tidak peduli dengan permasalahan rumahtangga mereka.
“Aiko-chan.. aku itu tidak bisa hidup
tanpa mu.. tapi.. ternyata.. kita belum siap untuk semua ini,” keluhnya.
Lalu dia diam. Pikirannya penuh dengan
bayangan banyak peristiwa bersama. Baginya, dia memang tidak tahan dengan
segala permasalahan ini. Emosinya jelas masih labil dan belum dewasa menentukan
sikap, bagaimana bisa melangkahkan kaki di masa depan bersama. Dia masih bisa berfikir
hidup untuk hari itu saja.
“Maafkan aku, Aiko-chan.. aku sudah
bersalah banyak padamu,” katanya lagi, masih dengan wajah yang tertunduk dalam.
Minho menangis, dia tidak mau hal buruk
terjadi dalam hidupnya. Kuliahnya masih lama, tapi juga masih ingin bersama
Aiko. Dia tidak ingin semuanya hancur.
Smartphone nya berdering. Dilihatnya,
ternyata ibunya menelepon. Dia diamkan saja walau berkali-kali ibunya mencoba
menghubunginya.
Malah.. akhirnya, dia lemparkan saja Hp
nya itu ke dinding dengan keras, hingga penutup nya pecah. Dia langsung berjalan
ke kamar dan berusaha tidur, membiarkan Hp nya tergeletak begitu di lantai.
................................
Pagi kembali datang. Aiko berusaha membuka
matanya setelah tadi malam menangis, lalu berusaha bangkit dari tempat
tidurnya. Dia sudah mulai malas.
Dia membuka jendela kamar.
“Aku harus kuliah... tidak boleh
membolos,” katanya dengan suara yang sangat pelan. Lalu dia berdiri melamun di
pinggiran jendela.
“aku harus kuat dengan semua ini,”
Dia menerawang ke luar jendela. Air
matanya mulai jatuh lagi.
“Aku harus kuat... aku tidak boleh
menangis,”
Dia menyeka air matanya yang jatuh tetes
demi tetes di pipinya. Dia dongakkan kepalanya, berani melihat matahari pagi.
“Apa kamu tidak kangen dengan Appa (ayah) mu, dik??,”
Aiko bicara dengan anaknya dalam kandungan
sambil tersedu-sedu.
“Ibu kangen dengan ayahmu... padahal baru
kemarin malam kami berantem,”
Dia lalu duduk dekat jendela, menangisnya
makin menjadi.
“Aku tidak tahan lagi, huhuhuhu”
Ternyata, Kumiko, mendengar tangisan Aiko
dari balik pintu kamar. Dia menghela nafasnya.
“Kasihan sekali mereka, tapi, kalau sudah
begini.. ayah sudah marah besar.. hidup kalian masih seperti anak-anak”
Kumiko mengundurkan waktunya untuk
mengetuk pintu kamar Aiko, padahal tangannya sudah mau mengetuk.
“kasihan Aiko-chan..,”
Dia mendengar lagi suara Aiko berkeluh
kesah dan menangis di dalam kamarnya sendiri.
“Dik.. kalau nanti Ibu dan Ayah tidak bisa
bersama lagi.. jangan sedih ya?,”
“Ibu tetap akan temani kamu kok...”
Kumiko mendengar itu jadi ingin menangis.
Dia merasakan, kalau adiknya itu akan sangat sedih jika mereka benar-benar
bercerai. Bisa saja Aiko trauma berat dan malah jadi depresi.
Kumiko jadi ikut menitikkan air mata. Dia
diam saja di depan pintu, terus mendengar kata-kata adiknya itu kepada bayi
dalam kandungannya.
....................................
“Jelas aku mengkhawatirkan ini semua..
salah langkah dari awal,” tegas Kohashi, duduk di hadapan isterinya. Dia makan
pagi bersama sebelum ingin berangkat tugas.
“aku kan sudah kesal sebelumnya dengan
orang itu, Otoosan.. aku sama sekali
tidak setuju dan kaku dengannya,” kata Akira yang ikut makan.
“semua sudah terjadi.. mau diapakan lagi?
Aku harus bicara dengan kedua orangtuanya,” kata Kohashi lagi. Maksudnya adalah
orangtua Minho.
Isteri Kohashi menghela nafasnya. Sebagai
seorang ibu, sudah tentu dia tidak ingin anak perempuannya punya rumahtangga
berantakan. Di jaman seperti ini memang banyak sekali kasus perceraian terjadi.
Hanya saja, dia pikir, tidak semua harus terjadi seperti itu kan? Dia pun berpikir
keras, supaya anaknya tetap tegar dan kehidupan rumahtangganya tetap berjalan.
“Apa perlu kita memanggil mereka?,” tanya
isteri Kohashi.
“aku yang akan bicara..aku tidak mau semua
ditunda-tunda,” jawab Kohashi.
Mereka semua diam, tidak dapat melawan
Kohashi kalau sudah begitu.
Kumiko kembali dari kamar Aiko, dia tidak
jadi mengetuk pintu. Lalu duduk bergabung makan dengan keluarganya.
“apa dia tidak makan?,” tanya Kohashi.
“aku belum mengetuk pintunya,” jawab
Kumiko.
Tak berapa lama, Aiko keluar dari kamarnya
dan menuju ruang makan, bergabung juga dengan mereka.
Kohashi menyapanya, apa dia sudah merasa
baik-baik saja.
Anak itu diam saja, sudah pasti sebenarnya
dia stress dengan kondisi keluarga kecilnya itu. Kohashi tidak memaksa anaknya
untuk membuka mulutnya, bicara dengan semua yang sedang ada di ruangan itu.
“Kalau kamu masih sedih, itu wajar,” kata
Kohashi padanya.
Aiko masih diam, dia makan saja,
benar-benar tidak bicara sepatah katapun.
Kohashi selesai makan, dia lalu berdiri.
Disusul kemudian, isterinya juga berdiri, bersiap mengantarkannya sampai depan.
Barulah Aiko menghentikan makannya.
“aku tidak ingin bercerai dengan
Minho-kun,” katanya,pada ayahnya itu.
“kalau memang tidak ingin... aku harapkan
Minho serius.. ,” jawab Kohashi ringan. Dia lalu pamit pada semuanya. Kumiko,
Akira dan Aiko berdiri, menunduk hormat pada ayahnya itu.
“apa dia menghubungimu pagi ini??,” tanya
Akira.
Aiko hanya menggeleng saja. Dia pikir,
Minho masih berfikir tentang egonya. Padahal sementara, di sana, Minho malas
makan, malas minum, termasuk malas kuliah.
“Payah,” kata Akira, sudah negative
thinking duluan pada Minho disana.
Aiko diam saja. Setelah selesai makan, dia
pergi begitu saja, meninggalkan kedua kakaknya.
Dia tetap kuliah. Bagaimanapun, kedokteran
itu sudah susah, sehingga dia tetap harus belajar dengan rajin, mendapatkan
nilai sebagus mungkin dan menyingkirkan masalahnya ketika sedang kuliah.
..........................
Di kampus........
Aiko dan yang lainnya melewati kuliah per
mata kuliah hari itu. lalu, siangnya, dia duduk di taman seperti biasa.
Seorang cowok berlari menuju tempat Aiko
duduk. Ternyata Ken.
Aiko heran, kenapa bisa sampai Ken
menghampirinya dengan berlari sampai ngos-ngosan.
“Minho kun.. memang.. hari ini.. kamu
tidak bersama dia??,” tanya Ken, dengan suara masih ngos-ngosan, mengatur
nafasnya
Aiko hanya menjawab santai,” tidak,” lalu
dia tersenyum. Dia berusaha menyembunyikan masalahnya di depan Ken.
“kalian ada apa lagi??,” tanya Ken, heran.
“hari ini aku menghubungi dia.. sama
sekali tidak di angkat.. dia tidak kuliah hari ini,”
Aiko jadi khawatir, jangan-jangan Minho
sakit. Tapi, dia sembunyikan lagi ke khawatirannya.
“dari kemarin aku memang tidak
menghubunginya.. mungkin sibuk bekerja untuk Tachibana-san,” jawab Aiko,
mencoba santai
Ken memandang temannya itu dengan dalam.
“Kamu pasti bohong, Aiko-chan.. aku kenal
Minho kun tidak begitu”
Aiko berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Minho kun sibuk.. aku tahu, dia sedang
mengerjakan pekerjaan sisanya dari Tachibana san, Ken-kun”
“Aku juga tahu Minho tidak begitu,
Aiko-chan.. apa iya dia sampai sama sekali tidak mengaktifkan handphone nya??
Rasanya dia enggak gitu,” jawab Ken, mencurigai apa kata Aiko.
Cewek itu mengelak, dia malas masalah
rumahtangganya dicampuri oleh orang lain, walau itu teman akrabnya sendiri.
“Apa kalian berantem lagi ya??,” Ken masih
saja kepo dengan kehidupan mereka.
Aiko lalu bangun, meninggalkan Ken.
Ken berlari menghampirinya.
“OI.. TUNGGU!!”
Lalu dia berhasil bediri di hadapan Aiko
lagi.
“sebenarnya... ada apa??”
“Apa kalian berantem lagi??,”
Aiko berjalan saja, meninggalkan Ken lagi.
Ken berkacak pinggang, dia cukup kesal dengan sifat Minho dan Aiko.
“Oi Aiko chan.. ingat ya.. aku ini
temanmu.. kalau Minho kun menjahatimu.. tanda nya, dia juga bermasalah
denganku!!,” teriaknya
Sementara Aiko jalan santai saja,
meninggalkannya.
“Terserah kalian deh.. mau ribut.. mau
perang dunia.. bukan urusanku!!,” Ken menendang kakinya, walau tidak ada objek
yang dia tendang. Dia kesal sekali.
........................................
Aiko tidak ingin masalahnya diketahui oleh
teman-temannya.
Hari itu, ketika sore, dia mendatangi Myo,
meminta tolong dengannya untuk berbagi flat bersama.
“Jadi.. kalian pisah??,” tanya Myo
Aiko hanya mengangguk saja.
“aku minta tolong berbagi flat.. rumahku
terlalu jauh.. dan aku rasa.. aku enggak sanggup kalau setiap hari sejauh itu
naik kereta ke kampus, Myo-chan..”
Myo mempersilahkan saja temannya itu
tinggal bersamanya, malah dia senang ada teman.
“Lalu.. Minho kun sendiri.. bagaimana??,”
“aku tidak tahu,” jawab Aiko singkat. Dia
meletakkan buku-bukunya setelah Myo melowongkan lemarinya untuk berbagi.
Myo duduk di depan meja kecil, lalu
menopang dagu.
“kalian ini... kalian sebenarnya belum
siap berumahtangga.. aku khawatir sekali kalau kalian bercerai,”
Aiko diam saja, dia masih sibuk menyusun
buku-bukunya.
“Ne.. Aiko chan..,” kata Myo lagi
“Ya??,” barulah Aiko menoleh lalu duduk
berhadapan dengan Myo.
Myo menegakkan punggungnya.
“Memang kamu siap.. kalau bercerai
dengannya??,”
Aiko melihat wajah Myo dengan tatapan
sendunya.
Myo lalu memeluknya. Aiko pun akhirnya
menangis.
“aku ngerti.. kamu pasti sedih banget
kalau sudah seperti ini..,” kata Myo, mencoba menghibur sahabatnya itu.
“aku tidak tahu.. apa kami masih bisa
mempertahankan keutuhan ini nanti,” keluh Aiko pada Myo.
“Aku yakin.. kalian bisa mengatasi
semuanya.. mungkin.. memang Minho kun butuh waktu berfikir lama untuk kalian
bisa kembali lagi.. tertawa bersama lagi,” masih kata Myo lagi.
Aiko tidak ingin membayangkan hal buruk
bisa terjadi.
“Aku tidak ingin kehidupan Minho kun
berantakan...,” katanya pada Myo
“Ken-kun sepertinya marah padaku...,”
Aiko lalu bercerita tentang apa yang Ken
ungkapkan padanya tadi sewaktu di kampus. Myo memang tidak bersama dia hari ini
karena ada perbedaan mata kuliah.
“Ken kun itu.. benar.. dia hanya ingin
membantu.. dan dia khawatir dengan Minho kun,” kata Myo
Lalu Myo senyum pada Aiko,” apa.. kamu
tidak berniat malam ini pergi ke rumah susun kalian?? Kan dekat..”
“aku tidak tahu,” jawab Aiko, singkat. Dia
lalu berdiri lagi dan mengambil minum.
Lalu menoleh pada Myo,” aku janji akan
bantu membayar sewa flat ini... aku sudah katakan pada Ibu dan ayahku.. dan
mereka sepakat mau membantuku”
Myo hanya tersenyum dan mempersilahkan
saja jika itu memang kemauan temannya.
..................................
Ternyata, tanpa Aiko ketahui, Myo
menghubungi Minho. Mereka bertemu disebuah taman yang tidak terlalu ramai.
Minho berdiri saja, dia malas duduk.
Wajahnya ketika ditemui Myo, kusut sekali.
“Jadi.. orangtua mu juga belum membahas
ini??,” tanya Myo
“Belum..,” balas Minho.
“Lagipula.. aku tidak ingin mereka tahu,”
lanjutnya lagi
Myo kaget, dipikirnya, Minho tipe cowok
yang bergantung pada orangtuanya untuk setiap masalah pelik.
“Apa.. kalian sudah tidak saling cinta
lagi??,” tanya Myo
Minho menaikkan alisnya,” kata siapa?? Aku
bahkan tidak tahu bagaimana caranya berpisah dengannya..”
Myo menghela nafasnya, dia lalu cerita
kalau Aiko kini tinggal satu flat dengannya.
Minho kaget,” serius?? “
Tandanya, dia masih bisa melihat isterinya
itu, walau jaraknya tidak terlalu dekat.
Myo mengangguk.
“Tapi...sepertinya.. dia sedang belum mau
bertemu denganmu.. andai pun kamu pergi ke tempatku”
“Yang penting... dia tidak sedih dan tetap
sehat... ,” kata Minho, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
Myo berdiri di hadapannya, yang awalnya
duduk.
“Kalian yakin kan.. kalian akan tetap
bersama lagi..suatu hari nanti??”
“Ini.. hanya sebuah perenungan saja kan??”
Minho diam. Baginya, memang ini sebuah
perenungan. Dia berharap, pikirannya tidak berubah menjadi perceraian ketika
masa perenungan ini dijalani.
“aku hanya mencoba jalani yang terbaik,”
kata Minho, membuka suaranya setelah suasana senyap beberapa menit.
“O, begitu,” balas Myo.
Mereka diam lagi.
“Tapi Minho-kun.. aku sebagai teman
Aiko-chan.. berharap semuanya akan baik-baik saja..,” lanjut Myo lagi.
Minho senyum pada Myo.
“Andai Aiko-chan ada di depanku.. pasti
dia sudah kupeluk dan ku bawa pulang ke rumah susun kami..,”
Myo menyadari kata-kata itu.. artinya,
Minho pada dasarnya tidak ingin berpisah dari Aiko.
“Tolong bantu aku jaga dia... ,” senyum
Minho.
Myo mengangguk mantap,” hai (ya).. aku tahu.. kalian pada
dasarnya masih saling cinta”
Minho senyum lagi mendengar perkataan Myo
baru saja. Myo ternyata faham, apa maksud Minho seperti itu.
.....................
“Mueos??
Dangsin eun neomu bujuui, Minho!!,” ibunya Minho begitu kaget ketika malam
berikutnya, Minho akhirnya menelepon orangtuanya, berkata jujur, akan apa yang
sedang terjadi. Dia anggap anaknya itu terlalu ceroboh memutuskan untuk pisah
sementara.
“mian habnida, Eomma.. aku harus lakukan
ini supaya aku bisa berfikir,” Minho meminta maaf juga pada ibunya. Rasa
bersalahnya jadi tinggi. Dia membayangkan, mungkin saja Kohashi sudah menelepon
kedua orangtuanya, meminta pertanggung jawaban sesuai dengan perjanjian.
“Apa kamu tidak ingat, Minho.. kamu bisa
dipenjara kalau bercerai,” ibunya masih panik mengingat itu semua.
“aku tidak akan bercerai, Eomma.. aku
hanya butuh berfikir..,” balas Minho
“aku tidak ingin ayahmu tahu dulu..
pikirkan baik-baik, Minho.. aku tidak ingin kamu masuk penjara.. ,”
Ibunya memang cemas dengan anak
kesayangannya itu. Kalau saja Kohashi bisa nekat, anaknya itu memang bisa
diseret ke pengadilan karena dianggap tidak bertanggung jawab.
Tapi... sudah dua hari berlalu.. belum ada
telepon dari pihak Kohashi kepada mereka. Apa memang perjanjian itu hanya
sebuah gertak sambal??
Minho meminta kepada orangtuanya, jika
memang Kohashi menelepon, dia ingin agar dirinya saja yang berusaha
menyelesaikan masalah ini sendirian.
Ibunya kaget, kenapa anaknya mendadak
dewasa.
“Aku tidak ingin menyeret Appa dan Eomma
dalam urusan ini.. aku ingin dewasa,” kata Minho
Ibunya begitu terharu dengan apa yang
dikatakan anaknya baru saja. Antara yakin dan tidak yakin, dia sebaiknya
memberikan kesempatan pada Minho untuk berfikir di usia 19 tahun anaknya itu.
Ya.. Minho berfikir dalam dua hari
kemarin.. dia tidak ingin lagi melibatkan kedua orangtuanya, dia tidak ingin
menjadi cowok cengeng. Dia tidak ingin para orangtua akan turut campur dengan
urusan rumahtangganya. Dia ingin membuktikan, dia bisa dewasa, bisa tahu
bagaimana caranya menjadi pemimpin keluarga.
............................................
Setelah dia menelepon ibunya, dia
termenung lagi. Di tinggalkannya kerjanya dari Tachibana tentang mengedit komik.
“Aiko-chan.. semoga kamu dan anak kita
baik-baik saja.. aku minta maaf.. belum dapat penuh menjaga mu..,”
Ternyata.. dia menangis lagi..
Sementara, ketika Aiko sedang mengambil
gelas minum, gelasnya jatuh.
Myo yang mendengar suara gelas pecah lalu
lekas keluar dari kamar tidurnya.
“ada apa, Aiko chan??,” tanya dia, sambil
membantu Aiko menyingkirkan pecahan gelas.
“aku.. teringat lagi dengan Minho-kun..
maaf.. gelasmu, pecah...,” jawab Aiko
dengan suaranya yang sedih.
Myo hanya senyum, lalu tetap membantunya
menyingkirkan beling itu.
“Lebih baik.. kalian tinggal satu atap
lagi,” kata Myo, mereka duduk saja diruang depan.
“kamu tahu tidak.. aku bertemu Minho kun
kemarin malam,”
Aiko kaget. Dia tidak menyangka Myo bisa
bertemu Minho. padahal, ketika Aiko beberapa kali mencoba meneleponnya, sama
sekali tidak diangkat.
“Aku rasa, Aiko-chan.. dia akan menjadi
cowok dewasa untuk mu..,” senyum lebar Myo mengembang.
Aiko malah semakin sedih dengan apa yang
Myo katakan baru saja. Dia ingin sekali Minho menjemputnya, membawa kembali ke
rumah susun mereka.
“Belum saatnya, Aiko-chan... tapi aku
yakin, Minho-kun sulit melepasmu,”
“Aku takut makannya tidak teratur,
Myo-chan.. Minho-kun itu.. kalau makan, harus dilayani,” Aiko malah jadi
menunduk lesu.
Ternyata dia menangis lagi. Biasanya
memang Minho kalau makan maunya ditemani, dilayani, makan bersama sampai
selesai.
Myo malah jadi tertawa kecil dengan cerita
Aiko soal makan Minho yang cerewet.
“Kalian sebenarnya cocok sekali... yang
satu cerewet, yang satu melayani.. aku malah jadi iri,” tawa Myo.
“semoga semuanya bisa selesai dengan
cepat, Myo-chan.. aku tidak ingin menyusahkannya.. juga.. aku tidak ingin kedua
orangtuaku marah berkepanjangan dengannya,” kata Aiko.
Myo mengangguk mantap,” aku juga ingin
begitu.. aku ingin kalian bahagia”
Bersambung ke part 33...