This is me....

Kamis, Oktober 23, 2014

Heal Me, Doc II (Part 2: Aku Hanya Berusaha, Minho kun)

Minho dibangunkan Matsuda karena sudah janji dia dan Chie harus pergi ke pameran karena isterinya itu sebagai ketua penyelenggara. Matsuda tersenyum pada Minho yang masih tidur karena wajahnya acak-acakan diwarnai crayon oleh isterinya sendiri.
“Lee san.. okite kudasai (bangun-red),” Matsuda mengguncang-guncang tubuhnya tetapi ingin tertawa.
Minho bangun, dia santai saja lalu menuju kaca yang ada di wastafel dan kaget,”Nani?? Erghh... pasti ini kerjaan Chie chan!”, dia kesal tapi tidak bisa kesal karena tahu kekurangan isterinya.
Matsuda tertawa,”sumimasen deshita (mohon maaf-red).. Chie chan memang suka jahil sejak kecil”
Minho membangunkan isterinya itu,”ayo Chie chan.. kamu harus lebih pagi datang, kan ketua pameran”
Chie membuka matanya, langsung dia tertawa kencang sekali, Minho cemberut padanya, lalu berjongkok di depannya yang masih berbaring.
“ini pasti kerjaan kamu, dasar Chie chan,” Minho memencet hidungnya tapi tidak keras sampai supaya isterinya tidak hipoksia atau kurang oksigen. Chie tertawa-tawa keras. Minho melarangnya supaya kepalanya tidak terlalu pusing.
“Nyonya kalau iseng terus nanti Tuan Lee marah loh,” senyum Matsuda. Dia membantu membangunkan Chie.
“aku bosan, Ibu asuh.. Minho kun kadang suka marah padaku,” dia malah memeluk ibu asuhnya itu.
Minho hanya nyengir kuda, dia tidak mempermasalahkan hal itu, menurutnya, Chie memang terkadang terlalu lebay menyikapi sikap tegas nya.
“kita harus bisa cepat dipagi ini, Chie chan,” kata Minho.


Chie lalu berusaha bangun menuju lemari baju dan menggeser tubuh Minho dan melihat-lihat baju.
Minho melihat saja apa yang dilakukan isterinya itu. Chie lalu ternyata sibuk melihat lihat baju yang menggantung, ternyata itu baju Minho.
Matsuda membiarkannya saja, begitu juga Minho.
“ingin memilih baju untukku??,” tanya Minho menatap wajahnya Chie. Cewek itu cuek saja suaminya memandangnya, hanya menjawab iya.
Minho mendiamkan saja, dia ingin tahu apa Chie sudah pantas memasangkan baju sesuai dengan seleranya.
“ini saja!,” katanya ceria tertawa lalu memberikannya pada Minho. Minho memandangnya dengan sedikit aneh.
“jadi.. aku harus pakai ini??,” ternyata malah dipilihkan kaus dan celana jeans serta cardigan
“aku kan mau ke acara resmi, Chie chan?? Apa perlu pakai ini??,” Minho tanya balik.
“tolong dipilihkan lagi yang pantas untukku.. aku mandi dulu.. and eww... jangan begini lagi ya??,” Minho menunjuk wajahnya yang habis tadi malam di corat coret Chie dengan crayon.
Chie malah tertawa kencang, terbahak-bahak, dia pikir itu sangat lucu sekali, tapi Minho malah cemberut dan mengambil sabun pencuci wajah dari kaca di wastafel.
“tolong diawasi, Ibu.. dia pilih baju apa,” pinta Minho pada ibu asuhnya Chie. Lalu dia masuk ke kamar mandi.

“sebaiknya Nyonya tidak seperti itu lagi pada Tuan Lee,” kata Matsuda ketika melihat Chie masih memilih pakaian.
“habis.. Minho kun jahat.. tadi malam aku belum mengantuk, Ibu,” jawab Chie masih memilih baju tanpa menoleh. Matsuda tetap memperhatikannya.
“apakah ini bagus??,” ternyata dia memilih yang lain lagi, masih agak aneh, kalau celana jeans dipadukan dengan jas dan dasi. Matsuda hanya senyum saja, ingin meminta pendapat anak asuhnya itu.
“menurut Nyonya.. apa Tuan Lee bisa pakai itu??,”
Chie berfikir,”aku rasa bisa.. Minho kun cakep sekali.. dia bisa pakai apa saja, warna apa saja, dan aku memilih ini,” dia juga memilih baju untuk dirinya sendiri yang berupa lengan setengah berwarna abu kembang kecil ¾ dress.
“oh.. tidak apa Nyonya pakai ini... tapi sebaiknya untuk pakaian Tuan Lee.. kita tunggu saja apakah beliau setuju atau tidak,” senyum Matsuda.
“dan.. Tuan Lee kurang suka Nyonya mencorat-coret wajahnya,” lanjutnya lagi
Chie baru menatap mata Matsuda,”kenapa begitu?? Itu hukumannya karena dia tidak mau memperhatikan aku.. aku kan sedih kalau begitu, Ibu asuh”
“saya mengerti, Nyonya.. mungkin juga Tuan Lee lelah karena bekerja seharian penuh loh,” jawab Matsuda dengan suara lembut.
“Minho kun tidak memperhatikanku! Padahal aku capek!,” Chie malah jadi emosi.
Minho dari dalam kamar mandi mendengar suara Chie yang tinggi,”doushite, Chie chan?? Naze okoru?? (kenapa marah??-red),” teriak Minho dari dalam.
“sssttt... sudah, nanti Tuan Lee marah loh,” bisik Matsuda pada Chie.

Chie malah berjongkok lalu menangis, dia batuk batuk dan muntah dilantai.
Minho keluar dari kamar mandi,”kenapa lagi?”, katanya heran, melihat Matsuda membersihkan muntahan dan Chie berbaring lagi.
“mual lagi, Lee san.. dan marah dengan Anda,” jawab Matsuda kalem.
“marah dengan ku?? Memang kenapa??,” tanya Minho lalu menghampiri Chie.
“kalau marah denganku.. jangan lampiaskan marah dengan Ibu asuh,” katanya pada Chie.
Chie lalu mengomel katanya dia kesal kalau dilarang mencorat-coret wajah Minho kalau Minho tidur duluan. Minho menatap matanya dengan tajam.
“lihat aku.. itu kurang baik.. kalau nanti nyawa ku tidak kembali karena dia pikir itu bukan aku.. gimana??,” tanya Minho pada Chie. Disana ada dongeng mitos kalau misalnya ada orang sedang tidur wajahnya di coret-coret maka arwah orang itu bisa kebingungan ketika dia mau bangun tidur lalu bisa tersasar di alam arwah dan tidak bisa kembali lagi. Orang tersebut akan tidur selamanya alias mati karena arwahnya mengembara. Chie ketakutan dengan mitos yang diceritakan Minho.
“apa benar nanti Minho kun bisa tersasar ke alam arwah??,” tanya dia dengan wajah serius dan takut, tangannya dikepal dan memegang Minho dengan kuat.
Minho mengangguk, padahal aslinya dia mau tertawa, sama sekali dia tidak percaya dengan mitos seperti itu.
“ah.. kalau begitu.. bisa aku jadikan lukisan.. iya kan, Ibu asuh??,” Chie menoleh pada Matsuda. Matsuda hanya mengangguk.
“ah.. sudah sudah.. sana mandi.. kita harus cepat.. melukisnya nanti saja,” Minho membangunkannya, lalu menggendongnya dan menurunkannya di depan kamar mandi.
“Tapi aku mau melukis dulu, Minho kun,” katanya memberontak ketika di gendong Minho.
dekimasen , kita harus lekas pergi,” balas Minho dengan tatapan mata tegas, lalu Chie pun menuruti apa katanya.

Ketika di lantai bawah di ruang makan, Hp nya Minho berbunyi, ternyata ada sms masuk dari ibunya.
“kalau ada waktu, lekas telepon ibu,” begitu pesan sms dari ibunya. Minho cuek saja, dipikirnya nanti saja dia menjawabnya karena harus segera pergi.
Tak berapa lama, Chie turun sudah dengan lengkap berdandan dan membawa tas kecil. Matsuda menyiapkan makan pagi.
Mereka makan pagi tidak banyak bicara. Minho beberapa kali memperhatikan Chie makan, dia takut isterinya itu mual lagi dan tidak mau makan pagi.
“hari ini muntahnya satu kali saja ya? Kalau bisa, jangan sampai muntah nanti di pameran,” kata Minho pada Chie. Matsuda harus ikut mereka supaya kalau ada apa-apa, bisa membantu Minho.
“kamu sudah persiapkan semuanya kan.. termasuk pidatonya??,” tanya Minho lagi. Chie hanya mengangguk saja tanpa melihat Minho,”aku sudah letakkan di map putih”
Minho senyum padanya dan mereka berangkat.

Ketika sampai di acara tersebut, ibunya Minho telepon, tetapi sengaja tidak dia angkat sebab dia harus memperhatikan Chie apakah bisa berinteraksi dengan lebih banyak orang kali ini. Chie masih suka menderita anxiety disorder, kecemasan yang tinggi dan melakukan hal berulang-ulang ketika cemas dia berhadapan dengan banyak orang atau tempat yang ramai atau diharuskan untuk melihat mata banyak orang disekelilingnya.
“Dan.. sekarang kami persilahkan kepada Nyonya Lee Chie agar memberikan sambutannya sebagai ketua pameran seni lukis dengan tema “Kami dengan autistik bagi semua”, kepada Nyonya Lee Chie kami persilahkan,” kata pembawa acara.
“Minho kun.. aku cemas,” katanya memegang tangan Minho ketika semua orang sudah bertepuk tangan dan mengharapkan dia berjalan dan berdiri menuju serta berbicara di podium.
shinpai shinaide kure... tsubete ga daijyoubu desu yo.. iku zo (jangan khawatir, semua baik baik saja kok, lekas sana-red),” jawab Minho dengan lembut, lalu dia mengelus tangan Chie
“ayo maju.. anggap saja mereka itu semua tidak ada.. ayo, ganbatte.. hwaiting,” support Minho padanya.
Chie masih ragu, lalu Minho membisikkan kata semangat padanya,”pejamkan mata tarik nafas sebentar, lalu hembuskan.. dan katakan “chie pasti bisa”..”
Sementara pembawa acara memanggil sekali lagi nama nya.
Chie melakukannya dengan sangat berhati hati, lalu dia berdiri.
Minho lekas berdiri dan bertepuk tangan padanya, yang lain akhirnya ikut berdiri, standing applause, yang awalnya hanya bertepuk tangan sambil duduk.

Chie maju ke depan podium dengan pedenya, dia lalu menunduk hormat pada semuanya. Mereka duduk dan dilihatnya Minho senyum padanya.
“Minho kun senyum untukku,” katanya dalam hati, lalu dia menarik nafas, menghembuskan lagi dan..
“Selamat pagi semuanya.. senang sekali, saya Lee Chie Nakamura menjadi ketua panitia dari penyelenggaraan acara Lukisan amal bagi semua dengan tema “Kami dengan autistik bagi semua”. Kerjasama acara ini dari yayasan autistik yang ada di perancis bekerja sama dengan yang ada di jepang. Perlu diketahui, bahwa sebenarnya orang dengan autistik bukan menjadi hal yang memalukan bagi keluarga, atau orang orang yang dekat dengan kami. Aku pribadi bersyukur memiliki orang-orang penuh kasih yang menyayangiku, termasuk suamiku, Lee Minho...,” dia lalu melihat Minho dan senyum. Minho membalas dengan senyum manisnya.
“begitu pula dengan teman-teman yang sekarang sedang memberikan yang terbaik untuk semua. Melalui goresan cat yang bermakna dalam kanvas kanvas, kami mencoba mengungkapkan isi hati kami, sebagai yang dikatakan orang dengan autistik.. dari hasil penjualan lukisan ini, akan kami donasikan bagi yayasan untuk autistik sedunia.. karena kami juga bisa saling membagi cinta. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada berbagai pihak yang sudah mendukung acara ini... terima kasih atas peran serta semuanya sehingga acara ini terlaksana juga.. terima kasih”. Chie lalu menunduk hormat, semua orang memperhatikannya berdiri di podium dan ketika selesai, mereka standing applause, berdiri bertepuk tangan menghormat padanya. Lalu dia kembali duduk di samping Minho.

Tapi ternyata setelah duduk, dia malah pingsan. Minho kaget dan sedikit panik. Orang semua sudah bubar dan melihat hasil lukisan. Minho menepuk-nepuk pipi Chie agak keras.
Matsuda heran,”ada apa, Lee san??”
“dia pingsan.. mungkin tadi kita terlalu memaksa dia untuk bicara panjang lebar, Ibu.. sebelumnya tadi dia panik,” jawab Minho. Lalu dia meminta tolong petugas emergency untuk menyediakan ruangan bagi Chie. Minho lekas membopongnya ke ruangan yang memang cadangan khusus ruang kesehatan.
“wah.. kacau sekali, aku gak sangka dia bisa sampai pingsan, aku pikir hanya akan kepusingan dengan banyak orang,” keluh Minho. Dia sibuk menyadarkan Chie dengan peppermint oil.
“eeeuhhh,” Chie sudah hampir sadar, Minho lekas menepuk pipinya lagi supaya dia bangun.
“bangun, Chie chan.. aku disini,” senyum Minho. Chie melihat wajah Minho masih samar-samar, kepalanya sakit dan jantungnya berdetak keras sekali.
“nafasku sesak, Minho kun.. kepalaku sakit.. perutku mual sekali,” keluhnya mencoba membuka mata.
Minho senyum dan menggenggam tangannya dengan lembut,”tidak ada orang disini.. hanya kita bertiga saja.. Chie chan hebat  tadi loh”
Minho mencoba membangunkannya, Chie pun duduk dan diberikan minum oleh Matsuda. Dia langsung memeluk Minho.
“aku gemetaran.. jantungku berdetak keras,” katanya dalam memeluk Minho.

Minho mengelus punggungnya. Isterinya memang mantan artist, tapi ketika dia harus syuting dan menghadapi banyak orang, biasanya dalam syuting tidak langsung banyak berkerumun, jadi masih bisa mengatasi rasa cemasnya. Tadi itu ratusan orang yang ada dalam ruangan itu sehingga dia merasa terganggu, panik dan seperti diserbu banyak orang.
“sambutannya sukses loh.. semua menghargai Chie chan.. aku bangga punya isteri seperti kamu,” kata Minho masih mengelus punggungnya, sementara Chie masih mengeluh kesakitan dan dia malah menangis.
Minho sama sekali tidak marah, itu memang dia anggap gejala biasa saja jika memang anxiety nya sudah muncul, asalkan tidak merusak barang atau yang bersifat destruktif lainnya.
“Sehabis ini.. kita pulang ya?? Chie chan pasti lelah. Jadi nanti aku minta tolong ibu asuh buatkan jus strawberry,” hibur Minho lagi.
Chie masih saja menangis dan muntah-muntah. Matsuda dan Minho menemaninya.
“ini sudah masuk bulan ke 3 masih saja muntah.. aku harus konsultasi dengan dokter Endo,” kata hatinya Minho. Dia jadi ikutan cemas kalau misalnya anak dalam kandungannya itu bermasalah suatu hari nanti. Minho jadi ingat perjanjian antara dia dan ibunya sebelum dia nikah dengan Chie.
Selesai Chie agak tenang, panitia berbicara padanya kalau di hari pertama itu sebaiknya dia pulang sore karena biasanya suka ada beberapa pihak yang membeli lukisan sehingga dia sebaiknya ngobrol dengan para kolektor atau pembeli lukisan. Awalnya Minho ragu, takut isterinya itu semakin panik, gemetaran dan tidak kuat. Lantas dia bertanya pada Chie apakah dia bersedia atau tidak. Chie diam saja, sepertinya dia memang teler berat dan takut berhadapan dengan banyak orang.

“Apa Tuan Lee bersedia membantu kami menemani Nyonya?,” tanya Ikeda sang pembawa acara dan juga pendamping acara.
Minho ramah padanya dan menunduk hormat pada Ikeda,”hari ini kebetulan memang saya tidak ada jam praktek dan yang pasti, saya bisa menemani isteri saya sampai acara selesai untuk hari ini. Hanya saja, saya mohon pengertian dari semua, jika memang kecemasannya mulai datang lagi, lebih baik kami pulang saja.. akan makan waktu lama untuk memulihkannya, bisa satu minggu lebih,”
Ikeda memaklumi kondisi psikologis Chie, dia menyanggupi dan Minho pun membujuk Chie supaya bisa bertahan dan mau membantu mereka tidak sebatas hanya memberi sambutan saja, tetapi juga menemani orang-orang yang tertarik membeli lukisan.
“Minho kun temani aku.. aku takut,” kata Chie dengan mimik agak cemas.
“kok bisa sih.. sampai cemas banget.. apa dia ada kemunduran lagi??,” tanya Minho dalam hatinya sendiri.
“ah.. iya kok.. aku akan temani Chie chan.. sudah ada yang menunggu loh.. jangan biarkan orang lain menunggu.. nanti lukisan teman-teman Chie chan tidak ada yang terjual deh,” bujuk Minho padanya, dia mengelus kepala Chie.
“sudah tidak mual lagi kan??,” tanya Minho lagi. Chie menggeleng.
Minho berdiri lagi, berhadapan dengan Ikeda,”saya minta maaf.. Chie chan kebetulan sedang hamil.. jadi mungkin cepat lelah juga”
Ikeda malah senang mengetahui hal itu, sebab Ikeda salahseorang yang dulu mempromosikan Chie supaya bisa pergi mendapatkan beasiswa ke Paris.
Chie berdiri lalu kembali ke ruang hall pameran. Dilihatnya memang banyak orang, kepalanya sudah berputar-putar lagi pusing.
Minho membantunya berjalan sambil digandeng,”masih pusing??”
Chie hanya mengangguk, tidak melihat mata Minho. Ikeda lalu mengarahkan mereka untuk bertemu beberapa orang.

Hi, Nakamura san.. it’s nice to meet you,” kata seorang bule pada Chie. Wajah Chie langsung sedikit berubah, orang itu tahu dan memakluminya ketika Ikeda berbicara padanya. Ikeda lalu memperkenalkan Minho pada bule tersebut.
“So, Mr Lee.. you are her husband.. it’s great that a woman like her could make a cooperation with our foundation,” ternyata Mr Pieter berasal dari prancis yang memang suka bekerja sama dengan yayasan sosial.
Minho senang dengan pujian yang diberikan Pieter pada Chie. Sementara Chie berbicara pada Pieter sedikit sedikit dengan bahasa prancis yang kaku.
“eh.. wah.. ternyata dia pintar berbahasa prancis.. aku sendiri belum pernah dengar,” kata Minho dalam hatinya.
“well, Mr Lee.. after this, we will have some guests who like to attend this expo and perhaps they will be interested in their paintings.. so.. you might help Mrs Nakamura to communicate with them,” kata Pieter lagi. Memang dia melihat sepertinya wajah Chie masih menyimpan kecemasan, jadi dia meminta tolong Minho membantunya.
Minho dengan senang hati menerima tawaran dari Pieter.
Tak berapa lama, benar saja... sepuluh orang bule mendatangi pameran lukisan itu. Chie menarik –narik tangan Minho minta pulang, tetapi Minho berusaha mengatakan padanya kalau moment ini penting dan dia akan berusaha membantu Chie berbicara dengan mereka. Chie merengek, Pieter tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Minho lalu minta ijin pada Pieter dan Ikeda, menarik Chie ke pojokan hall.

“ini kesempatan Chie chan supaya bisa lebih banyak dikenal teman-teman dan juga pameran Chie chan akan sukses,” senyum Minho padanya.
Chie menangis, dia ketakutan, Minho berusaha menenangkannya.
“apa mereka akan memarahiku??,” kata Chie
Minho malah tertawa kecil,”tidak akan ada yang memarahi mu.. justru mereka senang dengan pameran lukisan ini.. tidak ada kok yang akan memarahi Chie chan.. itu hanya pikiran sesaat saja.. tidak usah takut”
“tapi aku gemetaran, Minho kun,” keluhnya lagi.
“kan aku temani Chie chan.. nanti kalau Chie chan bingung.. aku akan coba membantu,” senyum Minho lagi,” Chie chan mau kan.. bayi kita punya okaachan (ibu-red) yang hebat??”
Minho mengelus perutnya yang masih belum terlalu besar terlihat hamil.
hontou desu ka?? (beneran-red),” wajah Chie berubah berbinar.
hontou da yo.. uso shinai (benar,aku gak bohong-red),” jawab Minho mantap, dia menatap wajah Chie dalam tapi tersenyum, sehingga Chie tidak takut dengannya.
“kalau begitu.. jadi aku harus bicara dengan mereka baik-baik kan??,” tanya Chie, wajahnya berubah jadi tidak panik lagi.
“oh.. ternyata minat dia pada anak kita,” kata hatinya Minho.
Minho mengangguk mantap,”iya dong.. Chie chan isteri ku yang pintar.. tadi saja Mr Pieter memuji Chie chan.. iya kan?? Apalagi nanti bayi kita.. pasti bangga dengan okaachan nya”
Chie malah jadi mengelus perutnya sendiri,” kamu.. pasti bahagia ya??,”
Minho mengeluh sendiri dalam hatinya,”huff.. dia punya minat baru.. minatnya karena bayi”
“aku bersedia..!,” kata Chie mantap. Minho senyum padanya lalu menarik tangannya lagi menuju ke Pieter, Ikeda dan lainnya.

“I am sorry for a bit longer,” ujar Minho pada semuanya, meminta maaf waktu mereka terpakai cukup lama karena Minho harus menenangkan Chie agar dia tetap semangat.
Pieter dan Ikeda mengerti dengan kejadian itu. Chie, Minho lalu berhadapan dengan sepuluh bule yang datang di hadapan mereka.
Chie memang masih gugup dan bahasa inggrisnya jadi terbata-bata dan Minho pun membantunya. Mereka minum bersama-sama, kecuali hanya Chie saja yang diberi jus tanpa gula atau pemanis buatan.
so, Mrs Nakamura is actually your apprentice for painting, Mr Pieter?? It’s great and she can subordinate many people with autistic here.. so amazing,” kata Mr Welsh yang memuji kreasi dan kerja Chie pada Pieter yang merupakan dosen bimbingan Chie dulu sewaktu di Paris.
“apa mereka memuji ku??,” Chie berbisik pada Minho dan Minho mengangguk saja.
well.. Mr Lee.. as in fact, this Mr Welsh is a millioner who also a collector, he is very interested in so abtract paintings, so when he found many of her friends have that skills, he is really amazed,” kata Pieter pada Minho. Welsh adalah seorang milyuner yang juga kolektor dan suka dengan lukisan abstrak hasil karya mereka dan berniat membeli yang menurutnya paling unik.
“as i am a psychiatrist, i actually am amazed with some of them,” senyum Minho,”well said, Mr Welsh and all.. there are many people with autistic are actually smart than we thought before... developed with high IQ level and might come into high emotional quotien level.. we might not think about it.. but we can find it”
you know what?? Actually this Mr Lee was her boyfriend who supported her to go to Paris to get scholarship from our foundation,” kata Pieter kepada Welsh and yang lainnya. Welsh terperangah dengan cerita Pieter kalau Minho lah yang mendorong Chie untuk menerima beasiswa dari yayasan yang dikelola Pieter.
so.. you are a great doctor, Mr Lee.. i salute you,” kata Mrs Anderson, dia lalu juga senyum pada Chie,”and you have a great husband, Mrs Nakamura
Chie senyum pada semuanya, “ well ...this Minho kun ...really helps me to be a real girl, Mrs Anderson and all.. and i ....apparently can’t live... without him,”
Minho menoleh saja mendengar Chie mengatakan itu. Dia memuji Minho di depan banyak orang.
Yang lain tertawa dengan ucapan Chie barusan, manggut-manggut dan memang mereka ingin Chie bahagia. Lalu mereka saling berkeliling melihat banyak lukisan dan membeli lukisan teman-teman Chie dan Mrs Anderson malah meminta Chie untuk menjual lukisannya.

Chie hanya melihat wajah Minho, lalu dia menarik tangan Minho, seperti anak kecil yang menarik tangan ayahnya.
well please excuse us,” kata Minho permisi pada semuanya. Pieter hanya tersenyum saja.
“Minho kun.. itu bagaimana?? Apa aku harus memberikan lukisan bayi kita pada Mrs Anderson??,” kata Chie dengan mimik wajah serius sekali.
Minho berusaha serius juga, walau dalam pikirannya, hal seperti ini tidak perlu terlalu diseriusi,”menurut Chie chan sendiri.. bagaimana?? Apa Chie chan ingin menjualnya??”
“aku rasa.. aku sedih kalau tidak bisa melihat lukisan ini setiap hari, Minho kun.. tapi aku takut nanti Mrs Anderson akan memukulku kalau aku tidak menjual lukisan itu padanya,” jawab Chie, imajinasinya terbang lagi enggak nyambung. Minho ingin sekali tertawa, mana ada yang memaksa orang harus menjual lukisan sampai memukul segala?? Tetapi dia coba hargai Chie dan tetap berwajah serius.
“aku yakin.. Mrs anderson tidak akan seperti itu, Chie chan.. lihat.. dia ramah,” Minho menolehkan wajah Chie untuk melihat Anderson yang sedang tertawa tawa sambil melihat lukisan, bersama yang lain.
“lalu.. kalau aku menangis nanti tidak ada lukisan ini.. bagaimana??,” tanya Chie lagi.
Minho menjawab dengan sabar,”bagaimana perasaan hati Chie chan sendiri terhadap lukisan ini ketika membuatnya dan sekarang melihatnya??”, sambil dia memegang dada Chie.
“aku merasakan.. lukisan ini hidup, Minho kun.. aku merasakan ketika aku bisa menyentuh dan melihatnya.. rasanya aku merasa.. ini hidup dan bayi kita berbicara lewat lukisan ini,” kata Chie dengan mimik masih serius.
“lalu?? Apakah dari dalam hati.. Chie chan akan menjualnya??,” tanya Minho.
Chie menggeleng,”aku tidak mau, tidak akan, Minho kun.. aku tidak bisa menjualnya.. ini kan lukisan tentang bayi kita.. apa mau.. Minho kun menjual bayi kita??”
Minho senyum,”aku tidak akan pernah menjual bayi kita...coba katakan saja pada Mrs Anderson kalau Chie chan tidak akan menjualnya.. aku yakin, Mrs Anderson tidak akan marah, apalagi sampai memukul”
Chie masih saja ragu, apakah dia mau mengatakan keinginan hatinya terhadap lukisannya sendiri atau tidak pada Anderson. Minho malah memeluknya.
“tadi.. sewaktu Chie chan berbicara di podium dengan lancar.. aku terpesona.. Chie chan segalanya bagiku,” kata Minho dengan lembut membelai rambut isterinya yang dikuncir kuda.
“jadi.. kalau nanti Chie chan juga tidak ingin menjual lukisan itu.. karena itu adalah lukisan bayi kita.. aku juga tetap bangga pada Chie chan,” lanjutnya lagi.
“benarkah Minho kun cinta padaku??,” tanya Chie.
Minho menaruh dagunya di puncak kepala Chie, lalu mengangguk,”Iya dong.. itu pasti..”, lalu dia melepas pelukannya.
“nah.. lekas katakan pada Mrs Anderson.. apa yang Chie chan rasakan tentang lukisan itu.. Chie chan pasti bisa.. Minho percaya itu”

Chie hanya menoleh pada Minho ketika dia ingin mengungkapkan hatinya kepada Anderson supaya tidak marah padanya ketika mengatakan, kalau dia tidak ingin menjual lukisannya.
“I am so sorry,” Chie menunduk di hadapan Anderson,” i.. cant sell my own painting.. i just talk with Minho kun... and i said to him.. i.. will never sell it.. it’s because... that baby in painting is our baby.. and.. i will never sell my baby to all..whoever she is...i hope.. you will not be.. angry with me.. and.. also will not.. hit me..”, katanya terbata-bata pada Anderson.
Anderson senyum dengan kalimat terakhir Chie, yang dia takut Anderson akan memukul dirinya jika tidak menjual lukisan tersebut. Lantas dia malah memeluk Chie,”dont worry, Mrs Nakamura.. i understand that you are gonna be a very good mother.. and i respect.. perhaps i could buy your another great painting... i’ll find other
Minho senyum melihat Chie bisa dan berani menyampaikan kata hatinya pada Anderson.
but, Mrs Nakamura.. we will buy some of those paintings..we have asked Mr Pieter for the price details.. and.. it’s really a great expo.. you and your friends have done very well, Mrs Nakamura.. great ,” kata Mr Clooney, dia menjabat tangan Chie. Tapi Chie malah agak gugup.
Pieter bertepuk tangan untuk Chie, lalu Minho pun menyusul bertepuk tangan.
excellent Mrs Nakamura.. I like it,” kata Pieter.
thank you, all,” wajah Chie jadi merona, dia malu dipuji. Minho malah senyum melihat isterinya pemalu begitu.

“aku harus kabarkan pada keluarga di Hiroshima kalau Chie chan sangat hebat hari ini,” kata Minho lembut memeluk Chie di kamar mereka malam itu sehabis makan malam. Menurut Minho, acara nya sangat sukses dan dia bahagia isterinya punya banyak kemajuan.
“apa.. Minho kun cinta padaku??,” tanya Chie masih di pelukan Minho. Minho menatap matanya dari kaca lemari, dia menyandarkan dagunya di pundak Chie, terus menatap Chie lewat kaca lemari yang besar.
“Iya.. aku cinta Chie chan.. aku bahagia,” jawab Minho dengan lembut dan manis, lalu membelai perut Chie.
“bayi kita pasti senang.. kalau Minho kun jadi otoochan nya,” kata Chie.
Minho mengangguk,”dia akan lebih senang kalau Chie chan jadi okaachan nya”
Chie lalu meminta Minho melepas pelukannya dan berhadapan dengan Minho.
“apa.. Minho kun tidak mual??,” tanya dia.
Minho heran dan bertanya kenapa? Ternyata Chie merasa lelah dengan dia mual terus. Sehabis makan tadi, dia mual lagi dan Minho menyuruhnya meminum vitamin pengurang mual.

Minho menyuruhnya duduk, dia akan berusaha menjelaskan pada isterinya itu kenapa harus ada mual, kenapa Minho tidak mual. Minho menjelaskan padanya dengan pelan-pelan dan dengan bahasa yang mudah dimengerti bagaimana ikatan antara ibu dan anak lebih kuat dan bagaimana Chie sebaiknya bahagia dengan ikatan tersebut.
“tanda sayang bayi kita seperti itu kepada Chie chan.. dia katakan pada Chie chan: “okaachan.. aku sehat loh.. aku hidup”, artinya.. Chie chan disayang oleh bayi kita,” senyum Minho pada Chie. Chie asik menyimak apa yang Minho ceritakan padanya.
“apakah semua ibu hamil akan mual?? Kalau tidak mual lagi.. apa bayi kita tidak cinta aku lagi??,” tanya Chie. Minho merasa terjebak dengan pertanyaan terakhir, sebab nanti kalau sudah masuk bulan ke empat dan seterusnya, kemungkinan memang tidak akan terjadi mual dan muntah lagi.
“karena perkenalannya sudah terlalu lama.. maka bayi kita tidak ingin menyusahkan Chie chan.. dia akan bilang “sudah cukup deh.. aku memberatkan okaachan dengan mual ini.. jadi besok besok.. aku janji pada okaachan tidak akan membuat okaachan ku mual lagi, atau muntah lagi”, begitu katanya nanti, Chie chan,” Minho membelai-belai pipi isterinya itu.
“Minho kun baik.. bayi kita juga baik.. aku cinta Minho kun dan bayi kita,” Chie malah mendadak memeluk Minho dan dia menangis tersedu-sedu.
Minho jadi tidak menganggap isterinya yang lebay malam itu. Dia harus mengerti bahwa apapun kondisi psikologis isterinya, pada dasarnya, Chie juga bisa memiliki perasaan yang lembut.

Malah jadi Minho terhanyut dalam perasaan harunya ketika memeluk Chie yang masih menangis tersedu-sedu, menyatakan berkali-kali padanya kalau dia cinta pada Minho dan bayi mereka.
“dia perempuan yang lembut, Chie chan benar-benar cintaku,” kata hatinya Minho. Dia ingat apa pesan ibunya agar kalau ada waktu hari itu, dia telepon ibunya. Tetapi belum dia balas juga. Dia sudah membayangkan bahwa topik yang akan dibahas pastinya seputar perkembangan kehamilan Chie dan keharusan Minho membuat Chie bisa melahirkan anak normal sesuai dengan perjanjian diam-diam antara ibu dan anak itu.
Dia hanya mengelus-elus kepala Chie, membiarkan Chie mengulang kata-kata cinta untuknya dan bayi mereka. Minho berfikir panjang, apa yang akan dia lakukan untuk mempertahankan rumahtangga mereka yang belum seumur jagung itu. Pikirannya menerawang kalau dia sama sekali tidak akan menyerahkan buah hati mereka suatu hari nanti kepada siapapun, apapun akan coba dia hadapi dengan berani.
“aku sudah merasakan kebahagiaanku disini.. bersama mu, Chie chan,” kata hatinya Minho. Sementara Chie masih saja berkata,”aku cinta Minho kun.. aku cinta bayi kita”, sambil tetap tersedu-sedu. Minho membiarkan saja dia mengatakan itu terus, padahal biasanya Minho suka melarang dia kalau berbicara berulang kali dengan kalimat yang sama atau topik yang sama. Dia tetap terus lama memeluk Chie di tempat tidur itu.
“ini tidak kurasakan pada Young Im atau pada Mizuki,” kata hatinya Minho lagi. Dia hanya bicara pada hatinya sendiri,“mereka pikir.. kamu banyak sekali kekurangannya.. kamu dianggap aneh, beban mental bagiku.. tapi kenyataannya.. kamu membuat aku seperti berada di surga ku”
“Chie cinta Minho kun.. Chie juga cinta bayi kita,” kata Chie lagi, dia mengubah kata dengan redaksi yang sama. Tanpa Chie sadari, Minho menitikkan air mata, masih memeluk isterinya itu.
“aku mencintaimu seperti rasanya setiap hari aku meminum embun pagi yang segar dari rerumputan.. bisa saja mereka melihat rumput itu kering tak segar sama sekali.. tetapi rumput itu ternyata membawa butiran embun yang membuat dahaga ku hilang,” kata hatinya Minho.

“aku cinta Chie chan.. dan bayi kita,” kata Minho, menjawab kata-kata Chie yang berulang-ulang itu. Minho lekas menghapus air matanya dengan tangannya yang satu lagi, agar dia tidak ketahuan Chie sehabis menangis.
Chie ternyata melepas pelukan Minho darinya,”Minho kun sungguh baik padaku.. aku ingin menulis lagu cinta lagi untuk Minho kun dan bayi kita,” dia senyum pada Minho.
“tapi ini sudah malam, Chie chan.. besok saja ya?? Kita harus tidur,” senyum Minho padanya.
“Chie chan sebaiknya tidur.. bayi kita juga lelah loh.. coba sini aku dengar,” Minho lalu menundukkan badannya mendekat pada perut Chie, mengepal jari tangannya sehingga membentuk seperti stetoskop dan mendekatkan kupingnya pada perut Chie. Chie tertawa kencang dan kegelian.
“tuh.. dengar kan.. katanya dia lelah loh.. kalau nanti Chie chan tidak tidur.. bayi kita nanti sakit.. Chie chan tidak mau dia sakit kan??,”
“benarkah??,”
Minho mengangguk mengiyakan,”tidak ingin bayi kita sakit kan? Jadi..Chie chan harus tidur”
Chie menggeleng,”Iie.. Aku harus buat dia sehat, Minho kun”. Dia mengelus rambut Minho.
“ayo kita tidur,” Minho berbaring, Chie lalu ikut berbaring. Dia memeluk Minho sepanjang malam itu...

Bersambung ke part 3..........