Minho dibangunkan Matsuda karena sudah
janji dia dan Chie harus pergi ke pameran karena isterinya itu sebagai ketua
penyelenggara. Matsuda tersenyum pada Minho yang masih tidur karena wajahnya
acak-acakan diwarnai crayon oleh isterinya sendiri.
“Lee san.. okite kudasai (bangun-red),” Matsuda mengguncang-guncang tubuhnya
tetapi ingin tertawa.
Minho bangun, dia santai saja lalu menuju
kaca yang ada di wastafel dan kaget,”Nani??
Erghh... pasti ini kerjaan Chie chan!”, dia kesal tapi tidak bisa kesal karena
tahu kekurangan isterinya.
Matsuda tertawa,”sumimasen deshita (mohon maaf-red).. Chie chan memang suka jahil
sejak kecil”
Minho membangunkan isterinya itu,”ayo Chie
chan.. kamu harus lebih pagi datang, kan ketua pameran”
Chie membuka matanya, langsung dia tertawa
kencang sekali, Minho cemberut padanya, lalu berjongkok di depannya yang masih
berbaring.
“ini pasti kerjaan kamu, dasar Chie chan,”
Minho memencet hidungnya tapi tidak keras sampai supaya isterinya tidak
hipoksia atau kurang oksigen. Chie tertawa-tawa keras. Minho melarangnya supaya
kepalanya tidak terlalu pusing.
“Nyonya kalau iseng terus nanti Tuan Lee
marah loh,” senyum Matsuda. Dia membantu membangunkan Chie.
“aku bosan, Ibu asuh.. Minho kun kadang
suka marah padaku,” dia malah memeluk ibu asuhnya itu.
Minho hanya nyengir kuda, dia tidak mempermasalahkan hal itu, menurutnya, Chie
memang terkadang terlalu lebay
menyikapi sikap tegas nya.
“kita harus bisa cepat dipagi ini, Chie
chan,” kata Minho.
Chie lalu berusaha bangun menuju lemari
baju dan menggeser tubuh Minho dan melihat-lihat baju.
Minho melihat saja apa yang dilakukan
isterinya itu. Chie lalu ternyata sibuk melihat lihat baju yang menggantung,
ternyata itu baju Minho.
Matsuda membiarkannya saja, begitu juga
Minho.
“ingin memilih baju untukku??,” tanya
Minho menatap wajahnya Chie. Cewek itu cuek saja suaminya memandangnya, hanya
menjawab iya.
Minho mendiamkan saja, dia ingin tahu apa
Chie sudah pantas memasangkan baju sesuai dengan seleranya.
“ini saja!,” katanya ceria tertawa lalu
memberikannya pada Minho. Minho memandangnya dengan sedikit aneh.
“jadi.. aku harus pakai ini??,” ternyata
malah dipilihkan kaus dan celana jeans serta cardigan
“aku kan mau ke acara resmi, Chie chan??
Apa perlu pakai ini??,” Minho tanya balik.
“tolong dipilihkan lagi yang pantas
untukku.. aku mandi dulu.. and eww...
jangan begini lagi ya??,” Minho menunjuk wajahnya yang habis tadi malam di
corat coret Chie dengan crayon.
Chie malah tertawa kencang, terbahak-bahak,
dia pikir itu sangat lucu sekali, tapi Minho malah cemberut dan mengambil sabun
pencuci wajah dari kaca di wastafel.
“tolong diawasi, Ibu.. dia pilih baju
apa,” pinta Minho pada ibu asuhnya Chie. Lalu dia masuk ke kamar mandi.
“sebaiknya Nyonya tidak seperti itu lagi
pada Tuan Lee,” kata Matsuda ketika melihat Chie masih memilih pakaian.
“habis.. Minho kun jahat.. tadi malam aku
belum mengantuk, Ibu,” jawab Chie masih memilih baju tanpa menoleh. Matsuda
tetap memperhatikannya.
“apakah ini bagus??,” ternyata dia memilih
yang lain lagi, masih agak aneh, kalau celana jeans dipadukan dengan jas dan
dasi. Matsuda hanya senyum saja, ingin meminta pendapat anak asuhnya itu.
“menurut Nyonya.. apa Tuan Lee bisa pakai
itu??,”
Chie berfikir,”aku rasa bisa.. Minho kun
cakep sekali.. dia bisa pakai apa saja, warna apa saja, dan aku memilih ini,”
dia juga memilih baju untuk dirinya sendiri yang berupa lengan setengah
berwarna abu kembang kecil ¾ dress.
“oh.. tidak apa Nyonya pakai ini... tapi
sebaiknya untuk pakaian Tuan Lee.. kita tunggu saja apakah beliau setuju atau
tidak,” senyum Matsuda.
“dan.. Tuan Lee kurang suka Nyonya
mencorat-coret wajahnya,” lanjutnya lagi
Chie baru menatap mata Matsuda,”kenapa
begitu?? Itu hukumannya karena dia tidak mau memperhatikan aku.. aku kan sedih
kalau begitu, Ibu asuh”
“saya mengerti, Nyonya.. mungkin juga Tuan
Lee lelah karena bekerja seharian penuh loh,” jawab Matsuda dengan suara
lembut.
“Minho kun tidak memperhatikanku! Padahal
aku capek!,” Chie malah jadi emosi.
Minho dari dalam kamar mandi mendengar
suara Chie yang tinggi,”doushite, Chie
chan?? Naze okoru?? (kenapa marah??-red),” teriak Minho dari dalam.
“sssttt... sudah, nanti Tuan Lee marah
loh,” bisik Matsuda pada Chie.
Chie malah berjongkok lalu menangis, dia
batuk batuk dan muntah dilantai.
Minho keluar dari kamar mandi,”kenapa
lagi?”, katanya heran, melihat Matsuda membersihkan muntahan dan Chie berbaring
lagi.
“mual lagi, Lee san.. dan marah dengan
Anda,” jawab Matsuda kalem.
“marah dengan ku?? Memang kenapa??,” tanya
Minho lalu menghampiri Chie.
“kalau marah denganku.. jangan lampiaskan
marah dengan Ibu asuh,” katanya pada Chie.
Chie lalu mengomel katanya dia kesal kalau
dilarang mencorat-coret wajah Minho kalau Minho tidur duluan. Minho menatap
matanya dengan tajam.
“lihat aku.. itu kurang baik.. kalau nanti
nyawa ku tidak kembali karena dia pikir itu bukan aku.. gimana??,” tanya Minho
pada Chie. Disana ada dongeng mitos kalau misalnya ada orang sedang tidur
wajahnya di coret-coret maka arwah orang itu bisa kebingungan ketika dia mau
bangun tidur lalu bisa tersasar di alam arwah dan tidak bisa kembali lagi.
Orang tersebut akan tidur selamanya alias mati karena arwahnya mengembara. Chie
ketakutan dengan mitos yang diceritakan Minho.
“apa benar nanti Minho kun bisa tersasar
ke alam arwah??,” tanya dia dengan wajah serius dan takut, tangannya dikepal
dan memegang Minho dengan kuat.
Minho mengangguk, padahal aslinya dia mau
tertawa, sama sekali dia tidak percaya dengan mitos seperti itu.
“ah.. kalau begitu.. bisa aku jadikan
lukisan.. iya kan, Ibu asuh??,” Chie menoleh pada Matsuda. Matsuda hanya
mengangguk.
“ah.. sudah sudah.. sana mandi.. kita
harus cepat.. melukisnya nanti saja,” Minho membangunkannya, lalu
menggendongnya dan menurunkannya di depan kamar mandi.
“Tapi aku mau melukis dulu, Minho kun,”
katanya memberontak ketika di gendong Minho.
“dekimasen
, kita harus lekas pergi,” balas Minho dengan tatapan mata tegas, lalu Chie pun
menuruti apa katanya.
Ketika di lantai bawah di ruang makan, Hp
nya Minho berbunyi, ternyata ada sms masuk dari ibunya.
“kalau ada waktu, lekas telepon ibu,”
begitu pesan sms dari ibunya. Minho cuek saja, dipikirnya nanti saja dia
menjawabnya karena harus segera pergi.
Tak berapa lama, Chie turun sudah dengan
lengkap berdandan dan membawa tas kecil. Matsuda menyiapkan makan pagi.
Mereka makan pagi tidak banyak bicara.
Minho beberapa kali memperhatikan Chie makan, dia takut isterinya itu mual lagi
dan tidak mau makan pagi.
“hari ini muntahnya satu kali saja ya?
Kalau bisa, jangan sampai muntah nanti di pameran,” kata Minho pada Chie.
Matsuda harus ikut mereka supaya kalau ada apa-apa, bisa membantu Minho.
“kamu sudah persiapkan semuanya kan..
termasuk pidatonya??,” tanya Minho lagi. Chie hanya mengangguk saja tanpa
melihat Minho,”aku sudah letakkan di map putih”
Minho senyum padanya dan mereka berangkat.
Ketika sampai di acara tersebut, ibunya
Minho telepon, tetapi sengaja tidak dia angkat sebab dia harus memperhatikan
Chie apakah bisa berinteraksi dengan lebih banyak orang kali ini. Chie masih
suka menderita anxiety disorder, kecemasan
yang tinggi dan melakukan hal berulang-ulang ketika cemas dia berhadapan dengan
banyak orang atau tempat yang ramai atau diharuskan untuk melihat mata banyak
orang disekelilingnya.
“Dan.. sekarang kami persilahkan kepada
Nyonya Lee Chie agar memberikan sambutannya sebagai ketua pameran seni lukis dengan
tema “Kami dengan autistik bagi semua”, kepada Nyonya Lee Chie kami
persilahkan,” kata pembawa acara.
“Minho kun.. aku cemas,” katanya memegang
tangan Minho ketika semua orang sudah bertepuk tangan dan mengharapkan dia
berjalan dan berdiri menuju serta berbicara di podium.
“shinpai
shinaide kure... tsubete ga daijyoubu desu yo.. iku zo (jangan khawatir,
semua baik baik saja kok, lekas sana-red),” jawab Minho dengan lembut, lalu dia
mengelus tangan Chie
“ayo maju.. anggap saja mereka itu semua
tidak ada.. ayo, ganbatte.. hwaiting,”
support Minho padanya.
Chie masih ragu, lalu Minho membisikkan
kata semangat padanya,”pejamkan mata tarik nafas sebentar, lalu hembuskan.. dan
katakan “chie pasti bisa”..”
Sementara pembawa acara memanggil sekali
lagi nama nya.
Chie melakukannya dengan sangat berhati
hati, lalu dia berdiri.
Minho lekas berdiri dan bertepuk tangan
padanya, yang lain akhirnya ikut berdiri, standing
applause, yang awalnya hanya bertepuk tangan sambil duduk.
Chie maju ke depan podium dengan pedenya,
dia lalu menunduk hormat pada semuanya. Mereka duduk dan dilihatnya Minho
senyum padanya.
“Minho kun senyum untukku,” katanya dalam
hati, lalu dia menarik nafas, menghembuskan lagi dan..
“Selamat pagi semuanya.. senang sekali,
saya Lee Chie Nakamura menjadi ketua panitia dari penyelenggaraan acara Lukisan
amal bagi semua dengan tema “Kami dengan autistik bagi semua”. Kerjasama acara
ini dari yayasan autistik yang ada di perancis bekerja sama dengan yang ada di
jepang. Perlu diketahui, bahwa sebenarnya orang dengan autistik bukan menjadi
hal yang memalukan bagi keluarga, atau orang orang yang dekat dengan kami. Aku
pribadi bersyukur memiliki orang-orang penuh kasih yang menyayangiku, termasuk
suamiku, Lee Minho...,” dia lalu melihat Minho dan senyum. Minho membalas
dengan senyum manisnya.
“begitu pula dengan teman-teman yang
sekarang sedang memberikan yang terbaik untuk semua. Melalui goresan cat yang
bermakna dalam kanvas kanvas, kami mencoba mengungkapkan isi hati kami, sebagai
yang dikatakan orang dengan autistik.. dari hasil penjualan lukisan ini, akan
kami donasikan bagi yayasan untuk autistik sedunia.. karena kami juga bisa
saling membagi cinta. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada berbagai pihak
yang sudah mendukung acara ini... terima kasih atas peran serta semuanya
sehingga acara ini terlaksana juga.. terima kasih”. Chie lalu menunduk hormat,
semua orang memperhatikannya berdiri di podium dan ketika selesai, mereka standing applause, berdiri bertepuk
tangan menghormat padanya. Lalu dia kembali duduk di samping Minho.
Tapi ternyata setelah duduk, dia malah
pingsan. Minho kaget dan sedikit panik. Orang semua sudah bubar dan melihat
hasil lukisan. Minho menepuk-nepuk pipi Chie agak keras.
Matsuda heran,”ada apa, Lee san??”
“dia pingsan.. mungkin tadi kita terlalu
memaksa dia untuk bicara panjang lebar, Ibu.. sebelumnya tadi dia panik,” jawab
Minho. Lalu dia meminta tolong petugas emergency untuk menyediakan ruangan bagi
Chie. Minho lekas membopongnya ke ruangan yang memang cadangan khusus ruang
kesehatan.
“wah.. kacau sekali, aku gak sangka dia
bisa sampai pingsan, aku pikir hanya akan kepusingan dengan banyak orang,”
keluh Minho. Dia sibuk menyadarkan Chie dengan peppermint oil.
“eeeuhhh,” Chie sudah hampir sadar, Minho
lekas menepuk pipinya lagi supaya dia bangun.
“bangun, Chie chan.. aku disini,” senyum
Minho. Chie melihat wajah Minho masih samar-samar, kepalanya sakit dan
jantungnya berdetak keras sekali.
“nafasku sesak, Minho kun.. kepalaku
sakit.. perutku mual sekali,” keluhnya mencoba membuka mata.
Minho senyum dan menggenggam tangannya
dengan lembut,”tidak ada orang disini.. hanya kita bertiga saja.. Chie chan
hebat tadi loh”
Minho mencoba membangunkannya, Chie pun
duduk dan diberikan minum oleh Matsuda. Dia langsung memeluk Minho.
“aku gemetaran.. jantungku berdetak
keras,” katanya dalam memeluk Minho.
Minho mengelus punggungnya. Isterinya
memang mantan artist, tapi ketika dia harus syuting dan menghadapi banyak
orang, biasanya dalam syuting tidak langsung banyak berkerumun, jadi masih bisa
mengatasi rasa cemasnya. Tadi itu ratusan orang yang ada dalam ruangan itu
sehingga dia merasa terganggu, panik dan seperti diserbu banyak orang.
“sambutannya sukses loh.. semua menghargai
Chie chan.. aku bangga punya isteri seperti kamu,” kata Minho masih mengelus
punggungnya, sementara Chie masih mengeluh kesakitan dan dia malah menangis.
Minho sama sekali tidak marah, itu memang
dia anggap gejala biasa saja jika memang anxiety
nya sudah muncul, asalkan tidak merusak barang atau yang bersifat destruktif
lainnya.
“Sehabis ini.. kita pulang ya?? Chie chan
pasti lelah. Jadi nanti aku minta tolong ibu asuh buatkan jus strawberry,” hibur
Minho lagi.
Chie masih saja menangis dan
muntah-muntah. Matsuda dan Minho menemaninya.
“ini sudah masuk bulan ke 3 masih saja
muntah.. aku harus konsultasi dengan dokter Endo,” kata hatinya Minho. Dia jadi
ikutan cemas kalau misalnya anak dalam kandungannya itu bermasalah suatu hari
nanti. Minho jadi ingat perjanjian antara dia dan ibunya sebelum dia nikah
dengan Chie.
Selesai Chie agak tenang, panitia
berbicara padanya kalau di hari pertama itu sebaiknya dia pulang sore karena
biasanya suka ada beberapa pihak yang membeli lukisan sehingga dia sebaiknya
ngobrol dengan para kolektor atau pembeli lukisan. Awalnya Minho ragu, takut
isterinya itu semakin panik, gemetaran dan tidak kuat. Lantas dia bertanya pada
Chie apakah dia bersedia atau tidak. Chie diam saja, sepertinya dia memang
teler berat dan takut berhadapan dengan banyak orang.
“Apa Tuan Lee bersedia membantu kami
menemani Nyonya?,” tanya Ikeda sang pembawa acara dan juga pendamping acara.
Minho ramah padanya dan menunduk hormat
pada Ikeda,”hari ini kebetulan memang saya tidak ada jam praktek dan yang
pasti, saya bisa menemani isteri saya sampai acara selesai untuk hari ini.
Hanya saja, saya mohon pengertian dari semua, jika memang kecemasannya mulai
datang lagi, lebih baik kami pulang saja.. akan makan waktu lama untuk
memulihkannya, bisa satu minggu lebih,”
Ikeda memaklumi kondisi psikologis Chie,
dia menyanggupi dan Minho pun membujuk Chie supaya bisa bertahan dan mau
membantu mereka tidak sebatas hanya memberi sambutan saja, tetapi juga menemani
orang-orang yang tertarik membeli lukisan.
“Minho kun temani aku.. aku takut,” kata
Chie dengan mimik agak cemas.
“kok bisa sih.. sampai cemas banget.. apa
dia ada kemunduran lagi??,” tanya Minho dalam hatinya sendiri.
“ah.. iya kok.. aku akan temani Chie
chan.. sudah ada yang menunggu loh.. jangan biarkan orang lain menunggu.. nanti
lukisan teman-teman Chie chan tidak ada yang terjual deh,” bujuk Minho padanya,
dia mengelus kepala Chie.
“sudah tidak mual lagi kan??,” tanya Minho
lagi. Chie menggeleng.
Minho berdiri lagi, berhadapan dengan Ikeda,”saya
minta maaf.. Chie chan kebetulan sedang hamil.. jadi mungkin cepat lelah juga”
Ikeda malah senang mengetahui hal itu,
sebab Ikeda salahseorang yang dulu mempromosikan Chie supaya bisa pergi
mendapatkan beasiswa ke Paris.
Chie berdiri lalu kembali ke ruang hall
pameran. Dilihatnya memang banyak orang, kepalanya sudah berputar-putar lagi
pusing.
Minho membantunya berjalan sambil
digandeng,”masih pusing??”
Chie hanya mengangguk, tidak melihat mata
Minho. Ikeda lalu mengarahkan mereka untuk bertemu beberapa orang.
“Hi,
Nakamura san.. it’s nice to meet you,” kata seorang bule pada Chie. Wajah
Chie langsung sedikit berubah, orang itu tahu dan memakluminya ketika Ikeda
berbicara padanya. Ikeda lalu memperkenalkan Minho pada bule tersebut.
“So,
Mr Lee.. you are her husband.. it’s great that a woman like her could make a
cooperation with our foundation,” ternyata Mr Pieter berasal dari prancis yang memang suka bekerja sama
dengan yayasan sosial.
Minho senang dengan pujian yang diberikan
Pieter pada Chie. Sementara Chie berbicara pada Pieter sedikit sedikit dengan
bahasa prancis yang kaku.
“eh.. wah.. ternyata dia pintar berbahasa
prancis.. aku sendiri belum pernah dengar,” kata Minho dalam hatinya.
“well,
Mr Lee.. after this, we will have some guests who like to attend this expo and
perhaps they will be interested in their paintings.. so.. you might help Mrs
Nakamura to communicate with them,” kata Pieter lagi. Memang dia melihat sepertinya wajah Chie masih menyimpan
kecemasan, jadi dia meminta tolong Minho membantunya.
Minho dengan senang hati menerima tawaran
dari Pieter.
Tak berapa lama, benar saja... sepuluh
orang bule mendatangi pameran lukisan itu. Chie menarik –narik tangan Minho
minta pulang, tetapi Minho berusaha mengatakan padanya kalau moment ini penting
dan dia akan berusaha membantu Chie berbicara dengan mereka. Chie merengek,
Pieter tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Minho lalu minta ijin pada Pieter dan
Ikeda, menarik Chie ke pojokan hall.
“ini kesempatan Chie chan supaya bisa
lebih banyak dikenal teman-teman dan juga pameran Chie chan akan sukses,”
senyum Minho padanya.
Chie menangis, dia ketakutan, Minho
berusaha menenangkannya.
“apa mereka akan memarahiku??,” kata Chie
Minho malah tertawa kecil,”tidak akan ada
yang memarahi mu.. justru mereka senang dengan pameran lukisan ini.. tidak ada
kok yang akan memarahi Chie chan.. itu hanya pikiran sesaat saja.. tidak usah
takut”
“tapi aku gemetaran, Minho kun,” keluhnya
lagi.
“kan aku temani Chie chan.. nanti kalau
Chie chan bingung.. aku akan coba membantu,” senyum Minho lagi,” Chie chan mau
kan.. bayi kita punya okaachan (ibu-red)
yang hebat??”
Minho mengelus perutnya yang masih belum
terlalu besar terlihat hamil.
“hontou
desu ka?? (beneran-red),” wajah Chie berubah berbinar.
“hontou
da yo.. uso shinai (benar,aku gak bohong-red),” jawab Minho mantap, dia
menatap wajah Chie dalam tapi tersenyum, sehingga Chie tidak takut dengannya.
“kalau begitu.. jadi aku harus bicara
dengan mereka baik-baik kan??,” tanya Chie, wajahnya berubah jadi tidak panik
lagi.
“oh.. ternyata minat dia pada anak kita,”
kata hatinya Minho.
Minho mengangguk mantap,”iya dong.. Chie
chan isteri ku yang pintar.. tadi saja Mr Pieter memuji Chie chan.. iya kan??
Apalagi nanti bayi kita.. pasti bangga dengan okaachan nya”
Chie malah jadi mengelus perutnya
sendiri,” kamu.. pasti bahagia ya??,”
Minho mengeluh sendiri dalam
hatinya,”huff.. dia punya minat baru.. minatnya karena bayi”
“aku bersedia..!,” kata Chie mantap. Minho
senyum padanya lalu menarik tangannya lagi menuju ke Pieter, Ikeda dan lainnya.
“I
am sorry for a bit longer,” ujar Minho pada semuanya, meminta maaf waktu mereka terpakai cukup lama
karena Minho harus menenangkan Chie agar dia tetap semangat.
Pieter dan Ikeda mengerti dengan kejadian
itu. Chie, Minho lalu berhadapan dengan sepuluh bule yang datang di hadapan
mereka.
Chie memang masih gugup dan bahasa
inggrisnya jadi terbata-bata dan Minho pun membantunya. Mereka minum
bersama-sama, kecuali hanya Chie saja yang diberi jus tanpa gula atau pemanis
buatan.
“so,
Mrs Nakamura is actually your apprentice for painting, Mr Pieter?? It’s great
and she can subordinate many people with autistic here.. so amazing,” kata
Mr Welsh yang memuji kreasi dan kerja Chie pada Pieter yang merupakan dosen
bimbingan Chie dulu sewaktu di Paris.
“apa mereka memuji ku??,” Chie berbisik
pada Minho dan Minho mengangguk saja.
“well..
Mr Lee.. as in fact, this Mr Welsh is a millioner who also a collector, he is very
interested in so abtract paintings, so when he found many of her friends have
that skills, he is really amazed,” kata Pieter pada Minho. Welsh adalah
seorang milyuner yang juga kolektor dan suka dengan lukisan abstrak hasil karya
mereka dan berniat membeli yang menurutnya paling unik.
“as
i am a psychiatrist, i actually am amazed with some of them,” senyum Minho,”well said, Mr Welsh and all.. there are many people with autistic are
actually smart than we thought before... developed with high IQ level and might
come into high emotional quotien level.. we might not think about it.. but we
can find it”
“you
know what?? Actually this Mr Lee was her boyfriend who supported her to go to
Paris to get scholarship from our foundation,” kata Pieter kepada Welsh and
yang lainnya. Welsh terperangah dengan cerita Pieter kalau Minho lah yang
mendorong Chie untuk menerima beasiswa dari yayasan yang dikelola Pieter.
“so..
you are a great doctor, Mr Lee.. i salute you,” kata Mrs Anderson, dia lalu
juga senyum pada Chie,”and you have a
great husband, Mrs Nakamura”
Chie senyum pada semuanya, “ well ...this Minho kun ...really helps me to
be a real girl, Mrs Anderson and all.. and i ....apparently can’t live...
without him,”
Minho menoleh saja mendengar Chie
mengatakan itu. Dia memuji Minho di depan banyak orang.
Yang lain tertawa dengan ucapan Chie
barusan, manggut-manggut dan memang mereka ingin Chie bahagia. Lalu mereka
saling berkeliling melihat banyak lukisan dan membeli lukisan teman-teman Chie
dan Mrs Anderson malah meminta Chie untuk menjual lukisannya.
Chie hanya melihat wajah Minho, lalu dia
menarik tangan Minho, seperti anak kecil yang menarik tangan ayahnya.
“well
please excuse us,” kata Minho permisi pada semuanya. Pieter hanya tersenyum
saja.
“Minho kun.. itu bagaimana?? Apa aku harus
memberikan lukisan bayi kita pada Mrs Anderson??,” kata Chie dengan mimik wajah
serius sekali.
Minho berusaha serius juga, walau dalam
pikirannya, hal seperti ini tidak perlu terlalu diseriusi,”menurut Chie chan
sendiri.. bagaimana?? Apa Chie chan ingin menjualnya??”
“aku rasa.. aku sedih kalau tidak bisa
melihat lukisan ini setiap hari, Minho kun.. tapi aku takut nanti Mrs Anderson
akan memukulku kalau aku tidak menjual lukisan itu padanya,” jawab Chie,
imajinasinya terbang lagi enggak nyambung. Minho ingin sekali tertawa, mana ada
yang memaksa orang harus menjual lukisan sampai memukul segala?? Tetapi dia
coba hargai Chie dan tetap berwajah serius.
“aku yakin.. Mrs anderson tidak akan
seperti itu, Chie chan.. lihat.. dia ramah,” Minho menolehkan wajah Chie untuk
melihat Anderson yang sedang tertawa tawa sambil melihat lukisan, bersama yang
lain.
“lalu.. kalau aku menangis nanti tidak ada
lukisan ini.. bagaimana??,” tanya Chie lagi.
Minho menjawab dengan sabar,”bagaimana
perasaan hati Chie chan sendiri terhadap lukisan ini ketika membuatnya dan
sekarang melihatnya??”, sambil dia memegang dada Chie.
“aku merasakan.. lukisan ini hidup, Minho
kun.. aku merasakan ketika aku bisa menyentuh dan melihatnya.. rasanya aku
merasa.. ini hidup dan bayi kita berbicara lewat lukisan ini,” kata Chie dengan
mimik masih serius.
“lalu?? Apakah dari dalam hati.. Chie chan
akan menjualnya??,” tanya Minho.
Chie menggeleng,”aku tidak mau, tidak
akan, Minho kun.. aku tidak bisa menjualnya.. ini kan lukisan tentang bayi
kita.. apa mau.. Minho kun menjual bayi kita??”
Minho senyum,”aku tidak akan pernah
menjual bayi kita...coba katakan saja pada Mrs Anderson kalau Chie chan tidak
akan menjualnya.. aku yakin, Mrs Anderson tidak akan marah, apalagi sampai
memukul”
Chie masih saja ragu, apakah dia mau
mengatakan keinginan hatinya terhadap lukisannya sendiri atau tidak pada
Anderson. Minho malah memeluknya.
“tadi.. sewaktu Chie chan berbicara di
podium dengan lancar.. aku terpesona.. Chie chan segalanya bagiku,” kata Minho
dengan lembut membelai rambut isterinya yang dikuncir kuda.
“jadi.. kalau nanti Chie chan juga tidak
ingin menjual lukisan itu.. karena itu adalah lukisan bayi kita.. aku juga
tetap bangga pada Chie chan,” lanjutnya lagi.
“benarkah Minho kun cinta padaku??,” tanya
Chie.
Minho menaruh dagunya di puncak kepala
Chie, lalu mengangguk,”Iya dong.. itu pasti..”, lalu dia melepas pelukannya.
“nah.. lekas katakan pada Mrs Anderson..
apa yang Chie chan rasakan tentang lukisan itu.. Chie chan pasti bisa.. Minho
percaya itu”
Chie hanya menoleh pada Minho ketika dia
ingin mengungkapkan hatinya kepada Anderson supaya tidak marah padanya ketika
mengatakan, kalau dia tidak ingin menjual lukisannya.
“I
am so sorry,” Chie
menunduk di hadapan Anderson,” i.. cant
sell my own painting.. i just talk with Minho kun... and i said to him.. i..
will never sell it.. it’s because... that baby in painting is our baby.. and..
i will never sell my baby to all..whoever she is...i hope.. you will not be..
angry with me.. and.. also will not.. hit me..”, katanya terbata-bata pada
Anderson.
Anderson senyum dengan kalimat terakhir
Chie, yang dia takut Anderson akan memukul dirinya jika tidak menjual lukisan
tersebut. Lantas dia malah memeluk Chie,”dont
worry, Mrs Nakamura.. i understand that you are gonna be a very good mother..
and i respect.. perhaps i could buy your another great painting... i’ll find
other”
Minho senyum melihat Chie bisa dan berani
menyampaikan kata hatinya pada Anderson.
“but,
Mrs Nakamura.. we will buy some of those paintings..we have asked Mr Pieter for the price details.. and.. it’s really a
great expo.. you and your friends have done very well, Mrs Nakamura.. great
,” kata Mr Clooney, dia menjabat tangan Chie. Tapi Chie malah agak gugup.
Pieter bertepuk tangan untuk Chie, lalu
Minho pun menyusul bertepuk tangan.
“excellent
Mrs Nakamura.. I like it,” kata Pieter.
“thank
you, all,” wajah Chie jadi merona, dia malu dipuji. Minho malah senyum
melihat isterinya pemalu begitu.
“aku harus kabarkan pada keluarga di
Hiroshima kalau Chie chan sangat hebat hari ini,” kata Minho lembut memeluk
Chie di kamar mereka malam itu sehabis makan malam. Menurut Minho, acara nya
sangat sukses dan dia bahagia isterinya punya banyak kemajuan.
“apa.. Minho kun cinta padaku??,” tanya
Chie masih di pelukan Minho. Minho menatap matanya dari kaca lemari, dia
menyandarkan dagunya di pundak Chie, terus menatap Chie lewat kaca lemari yang
besar.
“Iya.. aku cinta Chie chan.. aku bahagia,”
jawab Minho dengan lembut dan manis, lalu membelai perut Chie.
“bayi kita pasti senang.. kalau Minho kun
jadi otoochan nya,” kata Chie.
Minho mengangguk,”dia akan lebih senang
kalau Chie chan jadi okaachan nya”
Chie lalu meminta Minho melepas pelukannya
dan berhadapan dengan Minho.
“apa.. Minho kun tidak mual??,” tanya dia.
Minho heran dan bertanya kenapa? Ternyata
Chie merasa lelah dengan dia mual terus. Sehabis makan tadi, dia mual lagi dan
Minho menyuruhnya meminum vitamin pengurang mual.
Minho menyuruhnya duduk, dia akan berusaha
menjelaskan pada isterinya itu kenapa harus ada mual, kenapa Minho tidak mual.
Minho menjelaskan padanya dengan pelan-pelan dan dengan bahasa yang mudah
dimengerti bagaimana ikatan antara ibu dan anak lebih kuat dan bagaimana Chie
sebaiknya bahagia dengan ikatan tersebut.
“tanda sayang bayi kita seperti itu kepada
Chie chan.. dia katakan pada Chie chan: “okaachan.. aku sehat loh.. aku hidup”,
artinya.. Chie chan disayang oleh bayi kita,” senyum Minho pada Chie. Chie asik
menyimak apa yang Minho ceritakan padanya.
“apakah semua ibu hamil akan mual?? Kalau
tidak mual lagi.. apa bayi kita tidak cinta aku lagi??,” tanya Chie. Minho
merasa terjebak dengan pertanyaan terakhir, sebab nanti kalau sudah masuk bulan
ke empat dan seterusnya, kemungkinan memang tidak akan terjadi mual dan muntah
lagi.
“karena perkenalannya sudah terlalu lama..
maka bayi kita tidak ingin menyusahkan Chie chan.. dia akan bilang “sudah cukup
deh.. aku memberatkan okaachan dengan mual ini.. jadi besok besok.. aku janji
pada okaachan tidak akan membuat okaachan ku mual lagi, atau muntah lagi”,
begitu katanya nanti, Chie chan,” Minho membelai-belai pipi isterinya itu.
“Minho kun baik.. bayi kita juga baik..
aku cinta Minho kun dan bayi kita,” Chie malah mendadak memeluk Minho dan dia
menangis tersedu-sedu.
Minho jadi tidak menganggap isterinya yang
lebay malam itu. Dia harus mengerti
bahwa apapun kondisi psikologis isterinya, pada dasarnya, Chie juga bisa
memiliki perasaan yang lembut.
Malah jadi Minho terhanyut dalam perasaan
harunya ketika memeluk Chie yang masih menangis tersedu-sedu, menyatakan
berkali-kali padanya kalau dia cinta pada Minho dan bayi mereka.
“dia perempuan yang lembut, Chie chan
benar-benar cintaku,” kata hatinya Minho. Dia ingat apa pesan ibunya agar kalau
ada waktu hari itu, dia telepon ibunya. Tetapi belum dia balas juga. Dia sudah
membayangkan bahwa topik yang akan dibahas pastinya seputar perkembangan kehamilan
Chie dan keharusan Minho membuat Chie bisa melahirkan anak normal sesuai dengan
perjanjian diam-diam antara ibu dan anak itu.
Dia hanya mengelus-elus kepala Chie,
membiarkan Chie mengulang kata-kata cinta untuknya dan bayi mereka. Minho
berfikir panjang, apa yang akan dia lakukan untuk mempertahankan rumahtangga
mereka yang belum seumur jagung itu. Pikirannya menerawang kalau dia sama
sekali tidak akan menyerahkan buah hati mereka suatu hari nanti kepada
siapapun, apapun akan coba dia hadapi dengan berani.
“aku sudah merasakan kebahagiaanku
disini.. bersama mu, Chie chan,” kata hatinya Minho. Sementara Chie masih saja
berkata,”aku cinta Minho kun.. aku cinta bayi kita”, sambil tetap tersedu-sedu.
Minho membiarkan saja dia mengatakan itu terus, padahal biasanya Minho suka
melarang dia kalau berbicara berulang kali dengan kalimat yang sama atau topik
yang sama. Dia tetap terus lama memeluk Chie di tempat tidur itu.
“ini tidak kurasakan pada Young Im atau
pada Mizuki,” kata hatinya Minho lagi. Dia hanya bicara pada hatinya
sendiri,“mereka pikir.. kamu banyak sekali kekurangannya.. kamu dianggap aneh,
beban mental bagiku.. tapi kenyataannya.. kamu membuat aku seperti berada di
surga ku”
“Chie cinta Minho kun.. Chie juga cinta
bayi kita,” kata Chie lagi, dia mengubah kata dengan redaksi yang sama. Tanpa
Chie sadari, Minho menitikkan air mata, masih memeluk isterinya itu.
“aku mencintaimu seperti rasanya setiap
hari aku meminum embun pagi yang segar dari rerumputan.. bisa saja mereka melihat
rumput itu kering tak segar sama sekali.. tetapi rumput itu ternyata membawa
butiran embun yang membuat dahaga ku hilang,” kata hatinya Minho.
“aku cinta Chie chan.. dan bayi kita,”
kata Minho, menjawab kata-kata Chie yang berulang-ulang itu. Minho lekas
menghapus air matanya dengan tangannya yang satu lagi, agar dia tidak ketahuan
Chie sehabis menangis.
Chie ternyata melepas pelukan Minho
darinya,”Minho kun sungguh baik padaku.. aku ingin menulis lagu cinta lagi
untuk Minho kun dan bayi kita,” dia senyum pada Minho.
“tapi ini sudah malam, Chie chan.. besok
saja ya?? Kita harus tidur,” senyum Minho padanya.
“Chie chan sebaiknya tidur.. bayi kita
juga lelah loh.. coba sini aku dengar,” Minho lalu menundukkan badannya
mendekat pada perut Chie, mengepal jari tangannya sehingga membentuk seperti
stetoskop dan mendekatkan kupingnya pada perut Chie. Chie tertawa kencang dan kegelian.
“tuh.. dengar kan.. katanya dia lelah
loh.. kalau nanti Chie chan tidak tidur.. bayi kita nanti sakit.. Chie chan
tidak mau dia sakit kan??,”
“benarkah??,”
Minho mengangguk mengiyakan,”tidak ingin
bayi kita sakit kan? Jadi..Chie chan harus tidur”
Chie menggeleng,”Iie.. Aku harus buat dia sehat, Minho kun”. Dia mengelus rambut
Minho.
“ayo kita tidur,” Minho berbaring, Chie
lalu ikut berbaring. Dia memeluk Minho sepanjang malam itu...
Bersambung ke part 3..........