This is me....

Rabu, Oktober 22, 2014

Salang Itu Cinta (Part 6: Kamu Menyebalkan!)

Kisah diriku sendiri..

“so.. jadi kamu akan lama tinggal di Indonesia??,” tanya Aisha pada Shin dengan skype nya dalam bahasa Inggris. Walau Shin sudah banyak hafal kosakata Indonesia, dia masih memilih bahasa inggris menjadi bahasa komunikasinya.
“sekitar satu bulan lagi.. begitulah,” jawab Shin dengan senyum
Aisha hanya bergumam, entah jika memang dia mau sebulan lagi disini.. mau apa mereka?? Dia begitu bingung dan memang bingung sekali jika punya hubungan khusus dengan seorang lelaki. Kebingungannya itulah yang pada akhirnya membuat dirinya banyak gagal. Belum lagi jika memang diri egoisnya muncul dan menurut mereka, keegoisan itulah yang membuat mereka tidak tahan berhubungan dengan Aisha. Belum lagi dengan kemampuan supernatural Aisha yang bisa melihat dimana saja mereka tanpa mesti mengkonfirmasi.
“Shin..,” kata Aisha dengan ragu. Dia ingin mengatakan sesuatu dan mungkin itu bisa membuat Shin semakin dekat dengannya, atau bahkan berfikir ulang tentang hubungan mereka.
Shin hanya menjawab dengan kata ya dan suarannya lembut.
“ah...tidak jadi deh,” kata Aisha lagi
“kamu sedang bingung, sayang?,” tanya Shin
Aisha hanya menggeleng saja di skype nya
dont lie to me..,” kata Shin lagi, dia bisa membaca kalau ada sesuatu yang disembunyikan Aisha darinya
Aisha bercanda padanya,”nanti kalau aku kasih tahu.. kamu takut hantu loh, hehe”
Shin malah tertawa,”oh.. jadi ini tentang hantu ya?? Tidak usah ya? Haha.. nanti aku ketakutan loh”
Aisha jadi tertawa, dia bingung ingin katakan banyak hal tentang dirinya pada cowok itu, tapi sampai detik ini tidak bisa dia ungkapkan semuanya.

“kamu seperti sedang bingung, Aisha.. itu yang sedang aku baca,” kata Shin berikutnya. Aisha tetap mengelak... rasanya seperti belum waktunya menceritakan tentang dirinya pada cowok itu
“kamu tidak percaya padaku??,” ternyata Shin malah melontarkan pertanyaan yang dia tambah malas untuk menjawabnya.
Aisha diam saja.. dia berpura-pura cemberut supaya Shin tidak membahasnya, tapi ternyata cowok itu malah meminta jawaban.
“ya.. aku percaya,” jawab Aisha
“lalu.. apa yang mengganggu pikiran mu..kenapa tidak cerita??,” tanya Shin lagi
“aku tidak mau ganggu kamu.. pasti kamu sibuk,” jawab Aisha senyum terpaksa.
“Pacarku ternyata masih tidak enakan padaku ya? Hehe,” Shin malah membalas dengan nada menyindir. Mata Aisha jadi agak terbuka lebar.
“kenapa? Aku pacar mu, kan??,” tanya Shin lagi.
Aisha diam saja, dia malah menutup skype nya.
“menyebalkan orang itu,” keluh Aisha, hari itu sampai malam dia sengaja tidak membuka internetnya sama sekali. Tidak ingin bicara dengan siapapun.

Kerjanya Aisha malah itu hanya termenung saja dan kutak-katik netbooknya, membuat sesuatu tulisan dan membaca buku.
“ah...aman gak ya.. kalau gue log on internet lagi??,” pikir Aisha. Dilihatnya sudah jam 11 lewat. Dia memang terbiasa tidur malam bahkan tidak tidur sama sekali. Akhirnya, dia berani nekad menghidupkan akses internetnya lagi.
Dan.. begitu dia log on.. Shin ternyata masuk lagi
“capek deh,” keluh Aisha. Tapi dia diamkan saja icon senyum itu,”tidur aja gua deh ah.. males banget”
Dia langsung melanjutkan tidurnya, dia tinggalkan saja Shin yang mungkin disana sebenarnya ingin sekali mencoba chat dengannya.

Hari terlewati sampai siang lagi, Shin kembali masuk.
“malam ini aku ingin bertemu,” kata Shin pada Aisha, kembali di skype nya
“untuk apa??,” Aisha tanya balik. Sebenarnya dia ragu dengan hubungan ini. Dia benar-benar ragu, apalagi segalanya begitu berbeda.
“ingin bicara saja dengan kamu.. segalanya,” balas Shin lagi,”dan aku harap, kamu tidak menghindar dariku”
Aisha hanya sibuk menggaruk kepalanya, dia sungguh ingin cepat mengakhiri, tetapi kurang dari satu bulan.. apa kesannya seperti mempermainkan seseorang jika secepat itu diakhiri?? Akhirnya dia membiarkan Shin bertemu dengannya malam itu disebuah tempat.

Shin senyum padanya, mereka sudah memesan tempat disebuah restaurant.
“kali ini.. restaurant kesukaanmu.. masakan jepang,” senyumnya pada Aisha. Aisha masih terasa kaku padanya, hanya membalas senyumnya lalu menunduk hormat padanya.
“aku seperti serasa ditempat pekerjaan,” canda Shin sambil tertawa kecil di depan Aisha.
Mereka duduk saling berhadapan.
“apa yang membuat kamu jadi kaku lagi padaku??,” tanya Shin langsung to the point.
Aisha diam sejenak, dia berfikir ingin mengatakan sesuatu.
“aku kan pacarmu.. jadi jangan terlalu kaku padaku,” kata Shin lagi, dia mencoba senyum manis.
“kamu.. sabar sekali menghadapi perempuan seperti aku,” jawab Aisha tiba-tiba.
“lelaki seperti itu di hadapan perempuan yang dia suka, hehe,” balas Shin,”aku hanya berusaha menghibur hatimu”
“ada yang salah dengan hubungan kita??,” tanya Shin lagi.
Aisha ingin sekali mengungkapkan semuanya, agar dia tidak ingin ada beban perasaan lagi, tetapi, Aisha tetaplah Aisha, orang yang sebenarnya banyak sungkannya dan berfikir apakah orang di hadapannya akan tersinggung atau sensitif dengan perkataannya.

“aku memang peragu,” katanya pada cowok itu
“tentang apa hubungan kita bisa berlanjut atau tidak??,” Shin tanya balik. Aisha mengangguk.
“lalu.. keberatanmu dimana?? Aku sedari awal tidak bisa memaksakan kamu, walau kenyataannya ingin memaksa,” lanjutnya.
“statusmu,” jawab Aisha singkat.
Shin menegakkan duduknya, bersandar pada kursi,”aku mengerti”
Aisha malah menunduk, malas menatap matanya,”ya.. begitu.. aku sangat ragu tentang hal itu”
“aku berusaha yang terbaik,” kata Shin lagi.
“maksudmu???,” Aisha bertanya balik
“memikirkan hubungan ini..bagaimana yang terbaiknya,” balas dan senyumnya,”jujur saja..kamu takut berakhir karena aku sudah berkeluarga, bukan??”
Aisha mengangguk mantap.
“kamu takut ditinggalkan??,”
Aisha mengangguk lagi. Shin malah senyum manis dan tertawa kecil. Dia tidak lagi bersandar di punggung kursi.
“jadi..karena takut ditinggalkan ya?? Hehe”
Aisha mengangguk lagi. Shin malah tertawa.
“kamu lucu sekali.. aku kan tidak tinggalkan kamu”
“tapi aku takut,” jawab Aisha spontan.
“ya.. aku mengerti,” senyum Shin,”isteriku memang belum tahu.. tapi bukan berarti aku berniat main-main”
Aisha mengangguk saja.
“kamu boleh membenciku kalau memang aku main-main,” kata Shin lagi,”jadi..tolong percaya aku”
Aisha berusaha percaya, tetapi,”aku...termasuk lama mempercayai orang, aku trauma”
Shin senyum,”aku mengerti..hal itu memang tidak mudah”
“aku minta maaf,” Aisha menunduk.
Shin memintanya menegakkan kepalanya,”ini untukmu”
“kamu suka coklat kan??”, senyumnya, dia berusaha menghafal makanan kesukaan Aisha.
“terima kasih... kamu baik sekali,” balas Aisha.

“aku merasa belum memberikan yang terbaik untuk siapapun,” kata Shin memulai pembicaraan lagi
“tapi...sepertinya kamu gak gitu deh.. kamu perfect banget,” balas Aisha. Dia masih mencoba membuka hatinya.
“belum,” jawab Shin lagi
“tapi untukku..kamu ini hebat loh.. kamu sepertinya bisa segalanya deh,” puji Aisha padanya.
Shin ingin memegang pipinya, tapi dia mengelak,”tidak boleh..aku tidak bisa diperlakukan seperti itu..kamu gak bisa pegang aku”
Shin heran dengan pemahaman yang dipakai Aisha, dia melihat banyak yang seperti dirinya, tapi dia melihatnya biasa saja. Aisha bilang, kalau dia harus keras pada prinsipnya sendiri dan memang itu yang dia usahakan pegang.
“aku belajar mengerti budaya mu,” jawab Shin, dia meminta maaf kalau berbeda.
Aisha menjelaskan kalau itu bukan budaya, tapi prinsip yang dianut dan jika cowok itu tidak setuju, lebih baik bubar saja, karena dia ingin menjaga prinsip yang sudah dia pegang.
“aku tidak marah sama sekali,” senyum Shin.
Aisha bertanya apa itu beneran dari hatinya atau tidak, cowok itu mengangguk.
“terima kasih... kamu baik sekali,” kata Aisha lagi padanya.
“tapi...aku pencemburu,” senyum dan tertawa kecil Shin
Aisha kaget,”o yeah?? Beneran?? Sepertinya kamu cowok manis loh.. aku gak sangka”

“kamu...tidak masalah dengan seperti itu kan??,”
Aisha menggeleng, tapi dia serasa tidak percaya,”really?? Cant believe it
Shin malah tertawa,”why dont believe me.. i am opened myself to you.. aku pendiam tapi pencemburu”
“begitu juga pada isterimu??,”
Cowok itu mengangguk,”ya...begitulah”
“aaa...ummm... bagus sih...tapi...enggak parah kan? Maksud aku...tidak memukul dan yang jahat lainnya??,” tanya Aisha keheranan. Dia memang tidak suka kalau ada cowok suka memukul pasangannya.
Shin menggeleng,”aku bukan pshyco, Aisha.. tapi aku memang pencemburu, hehe”
“itu karena sifatmu sensitif sekali kan??,” senyum Aisha
“lalu...bagi kamu.. kalau ada lelaki bisa memakai make up...aneh tidak??,”
Aisha berfikir sejenak, lalu,”biasa saja..tapi aku gak bisa bermake up”
Shin senyum, lalu tertawa,”kamu terlalu polos... masih ada ya... perempuan seperti kamu?? Tidak suka make up??”
Aisha menggeleng,”aku enggak suka yang bikin lama...”, dia menggeleng berkali-kali.
“oh... jadi kemarin kemarin aku pergi ke toilet sehabis makan.. lama dong??,” tanya Shin balik.
Aisha mengangguk,”tapi belum menggangguku kok..santai saja”
“kamu lucu dan manis ya?,” senyum Shin pada nya. Aisha hanya menggaruk kepalanya, dia sungguh bingung mau apa. Tapi Shin malah tertawa padanya.

“Aku masih jauh memikirkan tentang statusmu,” kata Aisha lagi, dia mengulang topik sebelumnya.
“aku minta maaf.. tetapi memang aku tidak berani katakan pada isteriku kalau aku suka seseorang sekarang,” balas Shin.
I know.. dan biar bagaimanapun.. pastinya tidak ada satu perempuan dimanapun yang mau diduakan.. iya kan??,” tanya Aisha dengan mata yang tidak melihat mata cowok itu dan sedikit menerawang.
“Lalu.. sampai kapan aku bisa berfikir jauh???,” lanjutnya lagi
“aku rasanya rakus sekali.. ingin isteriku.. ingin juga kamu,” jawab Shin
“apa kamu sedang dalam masalah?? Biasanya lelaki seperti itu.. jujur saja.. maaf.. bukan bermaksud mengorek pribadi kamu,”
Shin mengelak, dia mengatakan tidak ada masalah sama sekali. Pekerjaannya terbilang sukses dan dia memang jujur berada diambang masalah lelaki yang rasanya ingin mencari perempuan yang menurutnya lebih baik dari isterinya. Aisha menghela nafas, dia bilang kalau dia tidak mau jadi korban cowok itu. Itu sebabnya dia hanya berfikir bukan sebagai pacar, teman saja sudah cukup.
“ada banyak hal yang tidak ada di isteriku ada dikamu.. termasuk cara penampilan, sifat apa adanya dan kesederhanaanmu,” kata Shin pada Aisha
“tetapi.. itu hanya akan menghancurkan ku.. karena sebelumnya.. aku juga sudah pernah mengalami hal seperti ini, Shin.. i am in trauma,” balas Aisha dengan mata yang sepertinya tidak lagi percaya pada cowok itu.
“kenapa gue harus bilang kalau semua lelaki sama belangnya ketika dia ada masalah dengan isterinya?? Kenapa??,” keluh hatinya Aisha ketika dia mencoba melihat mata cowok itu.

“aku minta maaf.. tetapi aku memang suka kamu dari sisi yang berbeda, Aisha.. sisi yang sama sekali tidak bisa kudapatkan dari isteriku..,” balas Shin padanya.
Rasanya Aisha mau menangis saja.. dia bingung, dia juga dillema.. satu sisi, dia sudah mulai ada perasaan karena cowok itu memang baik, satu sisi, dia sudah benci dengan yang namanya poligami dan masalah pria berumahtangga di balik itu.. apapun masalahnya, menurut dia tidak berhak mencari perempuan lain sebagai pelampiasan. Dia hanya merasa akhirnya Shin menjadikannya sebagai pelampiasan ketidakpuasan sikapnya kepada isterinya. Kepala Aisha pusing, dia tidak tahan dan akhirnya malah menangis pelan di depan Shin.
“aku minta maaf kalau aku salah.. tetapi aku janji akan lakukan apa yang kamu suka,” kata Shin. Aisha diam saja, air matanya masih jatuh, dia menunduk saja, tidak enak di restaurant, takut ada banyak orang melihatnya menangis.
“aku harus berfikir ulang,” kata Aisha setelah mereka diam.
Shin hanya senyum saja,”sepertinya aku masih susah masuk ke hati mu ya??”
Aisha diam saja. Tapi kemudian Shin malah bangun,”let’s go home

Tapi di tengah jalan, Shin malah mengajak Aisha main.
“disini??,” Aisha heran kenapa Shin mau main mainan anak kecil
Mereka malah main ayunan dan Shin berdiri di atas papan ayunan dan mengayun dirinya sendiri. Aisha takut cowok itu jatuh.
you shouldn’t stand up...but sit,” teriak Aisha, dia juga mengayunkan kursi ayunannya sendiri.
Shin malah teriak senang,”I like this!”, dia berani sekali main ayunan dengan berdiri.
“it’s dangerous...you might fall down!,” teriak Aisha lagi, takut cowok itu jatuh.
Tapi dia cuek saja, tak mendengar apa kata Aisha, tetap bermain ayunan dengan berdiri.
“aduh.. nekad banget sih cowok ini.. kulitnya lecet nanti kalau jatuh,” keluh Aisha, yang melihat Shin terus saja cuek bermain ayunan seperti itu. ketika Aisha menoleh padanya, Shin hanya senyum.
“nanti kamu jatuh!,” teriak Aisha lagi. Tapi Shin malah semakin senang, merasa diperhatikan.
Lalu mendadak dia berhenti. Aisha ikutan berhenti dan berdiri.
“sudah capek ya?? Aku mau pulang,” kata Aisha.
Mereka saling berdiri berhadapan. Shin malah menatap matanya.
“ada apa??,” tanya Aisha bingung
Shin mendekatkan wajahnya ke Aisha, dia ingin mencium cewek itu. Tapi..
“Plak!,” Aisha sudah terlebih dahulu menggampar Shin sebelum dia berhasil menciumnya
“i hate you!,” teriak Aisha lalu dia langsung berlari, tidak lagi menoleh, meninggalkan cowok itu, naik bus.

Di bus, wajah Aisha tegang, antara marah dan mau nangis dia gak sangka Shin mau berbuat buruk padanya. Dia matikan HP nya dan hanya diam saja, memandang keluar jendela. Sampai dirumah pun, dia masih matikan HP nya, berdoa dan tidur.
Sabtu tidak ada yang dia lakukan, pergi ke suatu tempat, hanya diam dirumah, mengerjakan tugas rumah dan membaca buku. Dia berfikir sebaiknya dia diamkan saja Shin dan anggap saja putus dengan cowok yang menurutnya tadi malam sudah tidak sopan itu.
Risa meng sms nya dengan no Hp yang lain,”oi..gue BBM lu kok gak nyampe, cyn? Ada apa?? Masalah lagi sama cowok itu??”
Aisha membalas,”iya..bete gue”
Aisha lalu bercerita di sms apa yang telah terjadi. Risa kaget, gak sangka cowok itu berbuat aneh pada teman akrabnya ini.
“gue putus aja... gue benci cara begini,” Aisha curhat di telepon sambil menangis.
“sabar,cyn...sabar...udah besok besok lu gak usah terima telepon dia dan sebagainya,” kata Risa.
“dia mungkin emang suka sama lu...tapi caranya salah..dia beda sama kita,” lanjut Risa lagi.
“gue gak mau terusin ini..dia sama cowok yang lain sama aja..gak ada bedanya.. kebanyakan cowok pada mesum aja bisanya..”, kesal Aisha.
“ya udah...sabar aja.. kalau lu gak jawab dia.. yakin deh..dia gak bakalan nguber lu lagi..,” balas Risa. Dia mencoba terus menenangkan teman baiknya itu.
Aisha berusaha tenang, mencoba tidak ingat lagi yang kemarin. Dia terus saja tutup internet nomor yang satunya lagi.

Satu minggu tidak dia buka..ketika dia membuka internet, dilihatnya ada pesan dari Shin.
“aku minta maaf..aku bersalah,” ketik Shin dalam pesan seminggu yang lalu.
Aisha membiarkan saja. Dia terus saja bekerja, ingin membiarkan semuanya berlalu tanpa ada lagi yang diingat.
Dia diamkan saja, dia tetap bekerja, tidak mau semuanya terganggu karena cowok itu. Pesan Shin masuk lagi,”Aisha.. aku menyesal..aku minta maaf”
Aisha masih saja cuek dengannya,”bete.. gue blokir juga nih cowok”, wajahnya murung sekali dengan permintaan maaf Shin yang berkali kali
Dia chat lagi dengan Risa sambil kerja.
“dah.. diemin aja, cyn.. ntar juga dia bosen sendiri,” jawab Risa. Aisha mengangguk saja.
Shin malah nekad telepon via skype.
“erghhh... lagi kerja begini!,” Aisha marah padanya, dia lari ke toilet langsung melabrak cowok itu

“Kalau lu mau main-main sama gua.. lu salah banget.. dasar cowok sialan!!,” teriaknya dengan kencang
Shin kaget, sebab dia memang tidak faham bahasa gaul,”what do you mean?? Are you angry with me??”
“ya iya lah gue marah sama lu.. dasar cowok genit.. dimana-mana sama aja, resek lu!,” teriak Aisha lagi
i am sorry.. ,” jawab Shin lagi, dia enggak ngerti apa maksud omelan Aisha
baka (bodoh-bahasa jepang)... resek!,” omel Aisha lagi
“Aisha please listen to me.. last time.. i am so sorry.. i promise my self not do it no more for next time,” jawab cowok itu, suaranya berharap dia dimaafkan.
Aisha menggeram marah, tapi Shin masih saja minta maaf.
I am sorry Aisha.. i realise i am wrong,” katanya lagi.
Pikiran Aisha kusut, dia tidak bisa terlalu marah atau kepalanya pusing dan dia bisa melempar barang apa saja di dekatnya. Punggung nya sudah panas dan kepalanya jadi pusing berat. Dia malah terduduk.
“nyebelin.. kenapa semua cowok nyebelin??,” dia coba tahan air matanya supaya gak keluar, supaya gak nangis lagi.
“ya.. you are really wrong if you think that i am same as many girls outside that you can play with,” jawab Aisha dengan tegas, dia tidak mau dipermainkan dalam hal apapun, termasuk dalam kontak fisik.
I know.. i am sorry,” jawab Shin,”forgive me
“and you know.. i am sick with guys who just want to play girls.. you just wake my anger up,” balas Aisha lagi dengan kesal. Dia memang kesal banget dengan cowok itu.
you are same with those playful guys outside,” katanya lagi
I am not Aisha.. i am not,” balas Shin.
Aisha menarik nafas nya, mencoba bersabar dan tidak marah.
“i just want to be alone.. ,” pintanya pada Shin
“I am so sorry.. but i will call you again after you will be calm down.. i hope you forgive me and i promise myself i wont do it nomore,” jawab Shin.
Aisha langsung menutup skype nya tanpa basa basi, mengakhiri akses internetnya. Kepalanya sakit, badannya panas.

Bersambung ke part 7.....