Kisah diriku sendiri..
“so.. jadi kamu akan lama tinggal di Indonesia??,” tanya Aisha pada Shin dengan skype nya dalam bahasa Inggris. Walau Shin sudah banyak hafal kosakata Indonesia, dia masih memilih bahasa inggris menjadi bahasa komunikasinya.
“sekitar satu bulan lagi.. begitulah,”
jawab Shin dengan senyum
Aisha hanya bergumam, entah jika memang
dia mau sebulan lagi disini.. mau apa mereka?? Dia begitu bingung dan memang
bingung sekali jika punya hubungan khusus dengan seorang lelaki. Kebingungannya
itulah yang pada akhirnya membuat dirinya banyak gagal. Belum lagi jika memang
diri egoisnya muncul dan menurut mereka, keegoisan itulah yang membuat mereka
tidak tahan berhubungan dengan Aisha. Belum lagi dengan kemampuan supernatural
Aisha yang bisa melihat dimana saja mereka tanpa mesti mengkonfirmasi.
“Shin..,” kata Aisha dengan ragu. Dia
ingin mengatakan sesuatu dan mungkin itu bisa membuat Shin semakin dekat
dengannya, atau bahkan berfikir ulang tentang hubungan mereka.
Shin hanya menjawab dengan kata ya dan
suarannya lembut.
“ah...tidak jadi deh,” kata Aisha lagi
“kamu sedang bingung, sayang?,” tanya Shin
Aisha hanya menggeleng saja di skype nya
“dont
lie to me..,” kata Shin lagi, dia bisa membaca kalau ada sesuatu yang
disembunyikan Aisha darinya
Shin malah tertawa,”oh.. jadi ini tentang
hantu ya?? Tidak usah ya? Haha.. nanti aku ketakutan loh”
Aisha jadi tertawa, dia bingung ingin
katakan banyak hal tentang dirinya pada cowok itu, tapi sampai detik ini tidak
bisa dia ungkapkan semuanya.
“kamu seperti sedang bingung, Aisha.. itu
yang sedang aku baca,” kata Shin berikutnya. Aisha tetap mengelak... rasanya
seperti belum waktunya menceritakan tentang dirinya pada cowok itu
“kamu tidak percaya padaku??,” ternyata
Shin malah melontarkan pertanyaan yang dia tambah malas untuk menjawabnya.
Aisha diam saja.. dia berpura-pura
cemberut supaya Shin tidak membahasnya, tapi ternyata cowok itu malah meminta
jawaban.
“ya.. aku percaya,” jawab Aisha
“lalu.. apa yang mengganggu pikiran
mu..kenapa tidak cerita??,” tanya Shin lagi
“aku tidak mau ganggu kamu.. pasti kamu
sibuk,” jawab Aisha senyum terpaksa.
“Pacarku ternyata masih tidak enakan
padaku ya? Hehe,” Shin malah membalas dengan nada menyindir. Mata Aisha jadi
agak terbuka lebar.
“kenapa? Aku pacar mu, kan??,” tanya Shin
lagi.
Aisha diam saja, dia malah menutup skype
nya.
“menyebalkan orang itu,” keluh Aisha, hari
itu sampai malam dia sengaja tidak membuka internetnya sama sekali. Tidak ingin
bicara dengan siapapun.
Kerjanya Aisha malah itu hanya termenung
saja dan kutak-katik netbooknya, membuat sesuatu tulisan dan membaca buku.
“ah...aman gak ya.. kalau gue log on
internet lagi??,” pikir Aisha. Dilihatnya sudah jam 11 lewat. Dia memang
terbiasa tidur malam bahkan tidak tidur sama sekali. Akhirnya, dia berani nekad
menghidupkan akses internetnya lagi.
Dan.. begitu dia log on.. Shin ternyata
masuk lagi
“capek deh,” keluh Aisha. Tapi dia diamkan
saja icon senyum itu,”tidur aja gua deh ah.. males banget”
Dia langsung melanjutkan tidurnya, dia
tinggalkan saja Shin yang mungkin disana sebenarnya ingin sekali mencoba chat
dengannya.
Hari terlewati sampai siang lagi, Shin
kembali masuk.
“malam ini aku ingin bertemu,” kata Shin
pada Aisha, kembali di skype nya
“untuk apa??,” Aisha tanya balik.
Sebenarnya dia ragu dengan hubungan ini. Dia benar-benar ragu, apalagi
segalanya begitu berbeda.
“ingin bicara saja dengan kamu..
segalanya,” balas Shin lagi,”dan aku harap, kamu tidak menghindar dariku”
Aisha hanya sibuk menggaruk kepalanya, dia
sungguh ingin cepat mengakhiri, tetapi kurang dari satu bulan.. apa kesannya
seperti mempermainkan seseorang jika secepat itu diakhiri?? Akhirnya dia
membiarkan Shin bertemu dengannya malam itu disebuah tempat.
Shin senyum padanya, mereka sudah memesan
tempat disebuah restaurant.
“kali ini.. restaurant kesukaanmu..
masakan jepang,” senyumnya pada Aisha. Aisha masih terasa kaku padanya, hanya
membalas senyumnya lalu menunduk hormat padanya.
“aku seperti serasa ditempat pekerjaan,”
canda Shin sambil tertawa kecil di depan Aisha.
Mereka duduk saling berhadapan.
“apa yang membuat kamu jadi kaku lagi
padaku??,” tanya Shin langsung to the
point.
Aisha diam sejenak, dia berfikir ingin
mengatakan sesuatu.
“aku kan pacarmu.. jadi jangan terlalu
kaku padaku,” kata Shin lagi, dia mencoba senyum manis.
“kamu.. sabar sekali menghadapi perempuan
seperti aku,” jawab Aisha tiba-tiba.
“lelaki seperti itu di hadapan perempuan
yang dia suka, hehe,” balas Shin,”aku hanya berusaha menghibur hatimu”
“ada yang salah dengan hubungan kita??,”
tanya Shin lagi.
Aisha ingin sekali mengungkapkan semuanya,
agar dia tidak ingin ada beban perasaan lagi, tetapi, Aisha tetaplah Aisha,
orang yang sebenarnya banyak sungkannya dan berfikir apakah orang di hadapannya
akan tersinggung atau sensitif dengan perkataannya.
“aku memang peragu,” katanya pada cowok
itu
“tentang apa hubungan kita bisa berlanjut
atau tidak??,” Shin tanya balik. Aisha mengangguk.
“lalu.. keberatanmu dimana?? Aku sedari
awal tidak bisa memaksakan kamu, walau kenyataannya ingin memaksa,” lanjutnya.
“statusmu,” jawab Aisha singkat.
Shin menegakkan duduknya, bersandar pada
kursi,”aku mengerti”
Aisha malah menunduk, malas menatap
matanya,”ya.. begitu.. aku sangat ragu tentang hal itu”
“aku berusaha yang terbaik,” kata Shin
lagi.
“maksudmu???,” Aisha bertanya balik
“memikirkan hubungan ini..bagaimana yang
terbaiknya,” balas dan senyumnya,”jujur saja..kamu takut berakhir karena aku
sudah berkeluarga, bukan??”
Aisha mengangguk mantap.
“kamu takut ditinggalkan??,”
Aisha mengangguk lagi. Shin malah senyum
manis dan tertawa kecil. Dia tidak lagi bersandar di punggung kursi.
“jadi..karena takut ditinggalkan ya??
Hehe”
Aisha mengangguk lagi. Shin malah tertawa.
“kamu lucu sekali.. aku kan tidak
tinggalkan kamu”
“tapi aku takut,” jawab Aisha spontan.
“ya.. aku mengerti,” senyum Shin,”isteriku
memang belum tahu.. tapi bukan berarti aku berniat main-main”
Aisha mengangguk saja.
“kamu boleh membenciku kalau memang aku
main-main,” kata Shin lagi,”jadi..tolong percaya aku”
Aisha berusaha percaya,
tetapi,”aku...termasuk lama mempercayai orang, aku trauma”
Shin senyum,”aku mengerti..hal itu memang
tidak mudah”
“aku minta maaf,” Aisha menunduk.
Shin memintanya menegakkan kepalanya,”ini
untukmu”
“kamu suka coklat kan??”, senyumnya, dia
berusaha menghafal makanan kesukaan Aisha.
“terima kasih... kamu baik sekali,” balas
Aisha.
“aku merasa belum memberikan yang terbaik
untuk siapapun,” kata Shin memulai pembicaraan lagi
“tapi...sepertinya kamu gak gitu deh..
kamu perfect banget,” balas Aisha.
Dia masih mencoba membuka hatinya.
“belum,” jawab Shin lagi
“tapi untukku..kamu ini hebat loh.. kamu
sepertinya bisa segalanya deh,” puji Aisha padanya.
Shin ingin memegang pipinya, tapi dia
mengelak,”tidak boleh..aku tidak bisa diperlakukan seperti itu..kamu gak bisa
pegang aku”
Shin heran dengan pemahaman yang dipakai
Aisha, dia melihat banyak yang seperti dirinya, tapi dia melihatnya biasa saja.
Aisha bilang, kalau dia harus keras pada prinsipnya sendiri dan memang itu yang
dia usahakan pegang.
“aku belajar mengerti budaya mu,” jawab
Shin, dia meminta maaf kalau berbeda.
Aisha menjelaskan kalau itu bukan budaya,
tapi prinsip yang dianut dan jika cowok itu tidak setuju, lebih baik bubar
saja, karena dia ingin menjaga prinsip yang sudah dia pegang.
“aku tidak marah sama sekali,” senyum
Shin.
Aisha bertanya apa itu beneran dari
hatinya atau tidak, cowok itu mengangguk.
“terima kasih... kamu baik sekali,” kata
Aisha lagi padanya.
“tapi...aku pencemburu,” senyum dan
tertawa kecil Shin
Aisha kaget,”o yeah?? Beneran?? Sepertinya
kamu cowok manis loh.. aku gak sangka”
“kamu...tidak masalah dengan seperti itu
kan??,”
Aisha menggeleng, tapi dia serasa tidak
percaya,”really?? Cant believe it”
Shin malah tertawa,”why dont believe me.. i am opened myself to you.. aku pendiam tapi
pencemburu”
“begitu juga pada isterimu??,”
Cowok itu mengangguk,”ya...begitulah”
“aaa...ummm... bagus sih...tapi...enggak
parah kan? Maksud aku...tidak memukul dan yang jahat lainnya??,” tanya Aisha
keheranan. Dia memang tidak suka kalau ada cowok suka memukul pasangannya.
Shin menggeleng,”aku bukan pshyco, Aisha..
tapi aku memang pencemburu, hehe”
“itu karena sifatmu sensitif sekali
kan??,” senyum Aisha
“lalu...bagi kamu.. kalau ada lelaki bisa
memakai make up...aneh tidak??,”
Aisha berfikir sejenak, lalu,”biasa
saja..tapi aku gak bisa bermake up”
Shin senyum, lalu tertawa,”kamu terlalu
polos... masih ada ya... perempuan seperti kamu?? Tidak suka make up??”
Aisha menggeleng,”aku enggak suka yang
bikin lama...”, dia menggeleng berkali-kali.
“oh... jadi kemarin kemarin aku pergi ke
toilet sehabis makan.. lama dong??,” tanya Shin balik.
Aisha mengangguk,”tapi belum menggangguku
kok..santai saja”
“kamu lucu dan manis ya?,” senyum Shin
pada nya. Aisha hanya menggaruk kepalanya, dia sungguh bingung mau apa. Tapi
Shin malah tertawa padanya.
“Aku masih jauh memikirkan tentang
statusmu,” kata Aisha lagi, dia mengulang topik sebelumnya.
“aku minta maaf.. tetapi memang aku tidak
berani katakan pada isteriku kalau aku suka seseorang sekarang,” balas Shin.
“I
know.. dan biar bagaimanapun.. pastinya tidak ada satu perempuan dimanapun
yang mau diduakan.. iya kan??,” tanya Aisha dengan mata yang tidak melihat mata
cowok itu dan sedikit menerawang.
“Lalu.. sampai kapan aku bisa berfikir
jauh???,” lanjutnya lagi
“aku rasanya rakus sekali.. ingin
isteriku.. ingin juga kamu,” jawab Shin
“apa kamu sedang dalam masalah?? Biasanya
lelaki seperti itu.. jujur saja.. maaf.. bukan bermaksud mengorek pribadi
kamu,”
Shin mengelak, dia mengatakan tidak ada
masalah sama sekali. Pekerjaannya terbilang sukses dan dia memang jujur berada
diambang masalah lelaki yang rasanya ingin mencari perempuan yang menurutnya
lebih baik dari isterinya. Aisha menghela nafas, dia bilang kalau dia tidak mau
jadi korban cowok itu. Itu sebabnya dia hanya berfikir bukan sebagai pacar,
teman saja sudah cukup.
“ada banyak hal yang tidak ada di isteriku
ada dikamu.. termasuk cara penampilan, sifat apa adanya dan kesederhanaanmu,”
kata Shin pada Aisha
“tetapi.. itu hanya akan menghancurkan
ku.. karena sebelumnya.. aku juga sudah pernah mengalami hal seperti ini,
Shin.. i am in trauma,” balas Aisha
dengan mata yang sepertinya tidak lagi percaya pada cowok itu.
“kenapa gue harus bilang kalau semua
lelaki sama belangnya ketika dia ada masalah dengan isterinya?? Kenapa??,”
keluh hatinya Aisha ketika dia mencoba melihat mata cowok itu.
“aku minta maaf.. tetapi aku memang suka
kamu dari sisi yang berbeda, Aisha.. sisi yang sama sekali tidak bisa
kudapatkan dari isteriku..,” balas Shin padanya.
Rasanya Aisha mau menangis saja.. dia
bingung, dia juga dillema.. satu sisi, dia sudah mulai ada perasaan karena
cowok itu memang baik, satu sisi, dia sudah benci dengan yang namanya poligami
dan masalah pria berumahtangga di balik itu.. apapun masalahnya, menurut dia
tidak berhak mencari perempuan lain sebagai pelampiasan. Dia hanya merasa
akhirnya Shin menjadikannya sebagai pelampiasan ketidakpuasan sikapnya kepada
isterinya. Kepala Aisha pusing, dia tidak tahan dan akhirnya malah menangis
pelan di depan Shin.
“aku minta maaf kalau aku salah.. tetapi
aku janji akan lakukan apa yang kamu suka,” kata Shin. Aisha diam saja, air
matanya masih jatuh, dia menunduk saja, tidak enak di restaurant, takut ada
banyak orang melihatnya menangis.
“aku harus berfikir ulang,” kata Aisha
setelah mereka diam.
Shin hanya senyum saja,”sepertinya aku
masih susah masuk ke hati mu ya??”
Aisha diam saja. Tapi kemudian Shin malah
bangun,”let’s go home”
Tapi di tengah jalan, Shin malah mengajak
Aisha main.
“disini??,” Aisha heran kenapa Shin mau
main mainan anak kecil
Mereka malah main ayunan dan Shin berdiri
di atas papan ayunan dan mengayun dirinya sendiri. Aisha takut cowok itu jatuh.
“you
shouldn’t stand up...but sit,” teriak Aisha, dia juga mengayunkan kursi
ayunannya sendiri.
Shin malah teriak senang,”I like this!”, dia berani sekali main
ayunan dengan berdiri.
“it’s
dangerous...you might fall down!,” teriak Aisha lagi, takut cowok itu jatuh.
Tapi dia cuek saja, tak mendengar apa kata
Aisha, tetap bermain ayunan dengan berdiri.
“aduh.. nekad banget sih cowok ini..
kulitnya lecet nanti kalau jatuh,” keluh Aisha, yang melihat Shin terus saja
cuek bermain ayunan seperti itu. ketika Aisha menoleh padanya, Shin hanya senyum.
“nanti kamu jatuh!,” teriak Aisha lagi.
Tapi Shin malah semakin senang, merasa diperhatikan.
Lalu mendadak dia berhenti. Aisha ikutan
berhenti dan berdiri.
“sudah capek ya?? Aku mau pulang,” kata
Aisha.
Mereka saling berdiri berhadapan. Shin
malah menatap matanya.
“ada apa??,” tanya Aisha bingung
Shin mendekatkan wajahnya ke Aisha, dia
ingin mencium cewek itu. Tapi..
“Plak!,” Aisha sudah terlebih dahulu
menggampar Shin sebelum dia berhasil menciumnya
“i
hate you!,” teriak Aisha
lalu dia langsung berlari, tidak lagi menoleh, meninggalkan cowok itu, naik
bus.
Di bus, wajah Aisha tegang, antara marah
dan mau nangis dia gak sangka Shin mau berbuat buruk padanya. Dia matikan HP
nya dan hanya diam saja, memandang keluar jendela. Sampai dirumah pun, dia masih
matikan HP nya, berdoa dan tidur.
Sabtu tidak ada yang dia lakukan, pergi ke
suatu tempat, hanya diam dirumah, mengerjakan tugas rumah dan membaca buku. Dia
berfikir sebaiknya dia diamkan saja Shin dan anggap saja putus dengan cowok
yang menurutnya tadi malam sudah tidak sopan itu.
Risa meng sms nya dengan no Hp yang
lain,”oi..gue BBM lu kok gak nyampe, cyn? Ada apa?? Masalah lagi sama cowok
itu??”
Aisha membalas,”iya..bete gue”
Aisha lalu bercerita di sms apa yang telah
terjadi. Risa kaget, gak sangka cowok itu berbuat aneh pada teman akrabnya ini.
“gue putus aja... gue benci cara begini,”
Aisha curhat di telepon sambil menangis.
“sabar,cyn...sabar...udah besok besok lu
gak usah terima telepon dia dan sebagainya,” kata Risa.
“dia mungkin emang suka sama lu...tapi
caranya salah..dia beda sama kita,” lanjut Risa lagi.
“gue gak mau terusin ini..dia sama cowok
yang lain sama aja..gak ada bedanya.. kebanyakan cowok pada mesum aja bisanya..”,
kesal Aisha.
“ya udah...sabar aja.. kalau lu gak jawab
dia.. yakin deh..dia gak bakalan nguber lu lagi..,” balas Risa. Dia mencoba
terus menenangkan teman baiknya itu.
Aisha berusaha tenang, mencoba tidak ingat
lagi yang kemarin. Dia terus saja tutup internet nomor yang satunya lagi.
Satu minggu tidak dia buka..ketika dia
membuka internet, dilihatnya ada pesan dari Shin.
“aku minta maaf..aku bersalah,” ketik Shin
dalam pesan seminggu yang lalu.
Aisha membiarkan saja. Dia terus saja
bekerja, ingin membiarkan semuanya berlalu tanpa ada lagi yang diingat.
Dia diamkan saja, dia tetap bekerja, tidak
mau semuanya terganggu karena cowok itu. Pesan Shin masuk lagi,”Aisha.. aku
menyesal..aku minta maaf”
Aisha masih saja cuek dengannya,”bete..
gue blokir juga nih cowok”, wajahnya murung sekali dengan permintaan maaf Shin
yang berkali kali
Dia chat lagi dengan Risa sambil kerja.
“dah.. diemin aja, cyn.. ntar juga dia
bosen sendiri,” jawab Risa. Aisha mengangguk saja.
Shin malah nekad telepon via skype.
“erghhh... lagi kerja begini!,” Aisha
marah padanya, dia lari ke toilet langsung melabrak cowok itu
“Kalau lu mau main-main sama gua.. lu salah
banget.. dasar cowok sialan!!,” teriaknya dengan kencang
Shin kaget, sebab dia memang tidak faham
bahasa gaul,”what do you mean?? Are you
angry with me??”
“ya iya lah gue marah sama lu.. dasar
cowok genit.. dimana-mana sama aja, resek lu!,” teriak Aisha lagi
“i
am sorry.. ,” jawab Shin lagi, dia enggak ngerti apa maksud omelan Aisha
“baka
(bodoh-bahasa jepang)... resek!,” omel Aisha lagi
“Aisha
please listen to me.. last time.. i am so sorry.. i promise my self not do it
no more for next time,”
jawab cowok itu, suaranya berharap dia dimaafkan.
Aisha menggeram marah, tapi Shin masih
saja minta maaf.
“I
am sorry Aisha.. i realise i am wrong,” katanya lagi.
Pikiran Aisha kusut, dia tidak bisa terlalu
marah atau kepalanya pusing dan dia bisa melempar barang apa saja di dekatnya.
Punggung nya sudah panas dan kepalanya jadi pusing berat. Dia malah terduduk.
“nyebelin.. kenapa semua cowok
nyebelin??,” dia coba tahan air matanya supaya gak keluar, supaya gak nangis
lagi.
“ya..
you are really wrong if you think that i am same as many girls outside that you
can play with,” jawab
Aisha dengan tegas, dia tidak mau dipermainkan dalam hal apapun, termasuk dalam
kontak fisik.
“I
know.. i am sorry,” jawab Shin,”forgive
me”
“and
you know.. i am sick with guys who just want to play girls.. you just wake my
anger up,” balas Aisha
lagi dengan kesal. Dia memang kesal banget dengan cowok itu.
“you
are same with those playful guys outside,” katanya lagi
“I
am not Aisha.. i am not,” balas Shin.
Aisha menarik nafas nya, mencoba bersabar
dan tidak marah.
“i
just want to be alone..
,” pintanya pada Shin
“I
am so sorry.. but i will call you again after you will be calm down.. i hope
you forgive me and i promise myself i wont do it nomore,” jawab Shin.
Aisha langsung menutup skype nya tanpa
basa basi, mengakhiri akses internetnya. Kepalanya sakit, badannya panas.
Bersambung ke part 7.....