Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..
Waktu-waktu berlalu... kehidupan terus
berjalan.. pagi berganti siang..siang berganti malam.. dan begitu juga
kehidupan manusia.. Pagi hari begitu indahnya. Burung-burung berkicauan dengan
merdunya, tanda menyambut pagi yang ceria.
Kehidupan berlalu... 15 tahun kemudian...
“Ibu..Bapak.. aku mau pergi sekolah
dulu...!,” teriak Minho. Dia sudah besar, sudah jadi cowok usia 17 tahun, tetap
tinggal dengan bapak angkatnya, Suparno dan juga ibu angkatnya, Juminah.
Pagi itu setiap sekolah, dia berangkat
dengan sepeda nya. Setelah puas mencium tangan dan pipi kedua orangtua
angkatnya itu, dia pun pamit.
“Hati-hati naik sepedanya ya, Nak.. jangan
ngebut,” teriak Juminah dari ruang tamu.
“Iya, bu..!,” Minho melambaikan tangan,
senyum pada ibunya lalu dia pergi ke sekolah dengan mengayuh sepeda.
Juminah menghidangkan teh manis pada
Suparno di depan samping rumah yang dipakai untuk mengumpulkan hasil panen jengkol
yang sudah dipendam tanah, siap untuk dipasarkan.
“Minho sudah angkat sekolah, Bué?,” tanya Suparno pada isterinya
Juminah menjawab sudah, sambil dia menaruh
piring yang berisi ubi dan singkong rebus di depan Suparno dan para anak
buahnya. Lalu dia duduk disamping suaminya.
“sekolahne
apik.. nilai apik... ndak nyesel
kita angkat dia dadi anak, Paké ... nurut,”
“syukurlah, Bué.. ndak nyusahin.. aku masih ingat apa kata almarhumah Bude Tuminah..
kalau masalahnya kita ini di Yudi..,”
Semua para pekerjanya pamit pergi
berjualan. Mereka melambaikan tangan, pamit pada Suparno. Pembicaraan mereka
tertunda dengan Suparno bicara dulu dengan para pekerjanya sebelum mereka pergi
memasarkan jengkol dan sayuran harian.
Suparno dan Juminah lalu melanjutkan pembicaraan
mereka, duduk lagi di tempat yang sama.
“aku wes
habis pikiran karo Yudi.. sekolahhe ora
beres (sekolahnya tidak beres),” keluh Suparno. Dia sudah menghabiskan banyak
uang untuk sekolah Yudi, tapi tampaknya masih saja belum ada kemajuan dalam
mendidik anak kandung mereka itu. Malah yang jadi anak adopsi yang lebih
berbakti pada mereka. Yudi menjadi tinggal kelas dan dia jadi satu tahun lebih
tua dari Minho di kelas. Minho sudah kelas 11 sekarang, Yudi kelas 12.
“Sing
sabar wae, Paké.. kita kan wes usaha...
apa.. salah kita juga? Minho wes
gede.. apa.. kita balikin saja ke kedua orangtuanya??,” kata Juminah
“Kita durung
bilang dia.. kalau dia itu cah pungut,”
kata Suparno, menerawang.
“Opo
iki cobaan hidup kita ya, Bué?? Satu sisi... kita kaya.. satu sisi... kita
harus terima Yudi .. anak dewek..
dadi nakal ndak karuan,” lanjutnya lagi
“ndak
boleh nyesel begitu, Paké.. wes semua iku
suratan Gusti Allah,” kata Juminah, mengangkat piring umbi dan Suparno pun
mengambil ubi dan memakannya.
“Ndak
habis pikir kalau Minho kita pulangken meneh
(lagi),” kata Suparno
“sampeyan
(kamu) ikhlas, Paké.. kalau Minho dipulangken meneh nang korea sana?,” tanya
Juminah, apakah suaminya ikhlas jika anak adopsinya itu dikembalikan lagi. Dulu
mereka terasa tidak ikhlas Minho dipulangkan ke sana karena Sri bergitu sayang
dengan anak ini. Sekarang Sri sudah menikah dan dibawa suaminya walau masih
satu kampung.
“kadung
sayang, Bué (terlanjur sayang),” jawab Suparno. Mereka sepertinya memang
daridulu sayang-sayang kalau ingin mengembalikan Minho. Lagipula, mereka memang
tidak merasakan selama 15 tahun mengasuh anak ini, dia membawa masalah.
“Aku ingat bener apa kata Bude Tuminah...
supaya Minho kita lepaskeun aja.. tapi.. entah kenapa.. aku ndak rela.. biarpun
si Sri juga ndak mau..sebenarnya bukan itu... perasaanku bilang...ndak rela aja,” tambah Suparno lagi
“podho
wae karo aku, Paké (sama saja denganku),” tambah Juminah.
Mereka malah kembali termenung lagi. Ada
banyak peristiwa yang membuat pertentangan Yudi sebagai anak kandung mereka
dengan memaksanya Minho tidak ada dirumah mereka. Sebelum Tuminah meninggal,
Minho memang terkesan dibela wanita tua itu, selebihnya.. ketika tahun kemarin
akhirnya Tuminah pergi juga, rasanya Yudi semakin garang dengan Minho, semakin
tidak sukanya ditunjukkan agar adik angkatnya itu benar-benar angkat kaki dari
rumah besar itu. Sri yang juga memang sayang Minho dari kecil, membela anak
cowok itu dari Yudi, mengajaknya tinggal dirumah barunya bersama suami dan
anaknya yang masih kecil, tetapi Suparno dan Juminah melarangnya, dengan
alasan, tidak ada yang membantu mereka.
Di sekolah...
Minho satu sekolah dengan kakak angkatnya,
Yudi. Yudi tinggal kelas bertahun-tahun di SMP dan SMA, sehingga akhirnya malah
jadi 1 tingkat lebih tinggi dari Minho. Minho kelas 11, Yudi kelas 12. Hari
itu, saat jam istirahat, Minho dipanggil ke ruang guru wali kelasnya.
“Siang, bu...,” kata Minho ramah, mengetuk
pintu ruangan wali kelasnya, dia lalu masuk. Wali kelasnya mempersilahkan duduk
di depannya.
“Ada berita bagus untuk kamu, Minho..
Kamu.. mau kan.. dapat pertukaran pelajar ke Seoul? Setiap kelas 11 mengajukan
satu orang anak untuk kandidat, diambil dari para juara kelas.. ibu pilih
kamu,” kata bu Wati membuka pembicaraan.
Minho wajahnya senang sekali, menurutnya,
ini berita bagus, dia ingin sekali rasanya ke luar negeri belajar.
“Iya, bu.. terima kasih.. aku mau..,”
jawab Minho senang, wajahnya sumringah dengar itu.
“Lusa... kamu akan dikumpulkan dengan
perwakilan anak-anak kelas 11 yang lain.. jadi.. persiapkan diri kamu..
terutama di bahasa inggris dan pelajaran eksakta.. semangat.. ibu ingin kamu
yang pergi ke sana,” senyum bu Wati padanya
Minho mengangguk pasti. Dia sudah
membayangkan kalau dia yang dapat, pasti akan membanggakan kedua orangtuanya.
Dia keluar ruangan wali kelas dengan
senang hati, lalu masuk ke ruang kelasnya.
“weseh...
ceria tenanan rai mu, Minho?? ono opo (wajahmu cerah sekali, ada apa)??,”
kata Dhani, teman sebangkunya yang sedang duduk diatas meja guru.
“Aku akan jadi perwakilan kelas.. supaya
bisa ke korea, hehehe,” jawab Minho santai
Teman-temannya yang lain yang sedang
nimbrung di kelas langsung kompak bilang “waaah”
“Iya, hehe.. barusan bu Wati bilang
begitu,” katanya lagi
“wah.. hebat kowe (kamu), Minho.. kowe juara kelas sih yo!,” tepuk Dhani pada
pundak Minho.
“rai
mu kui mirip wong korea, Minho,” kata Siti, bercanda padanya, kalau wajah
Minho memang seperti orang korea.
Minho cuma cengengesan, dia tidak ingat
akan siapa dirinya lagi. Di kelas, sedari dulu dia memang suka dikatakan orang
korea nyasar dan dia anggap perkataan itu hanya candaan teman-temannya saja.
Tubuhnya memang tinggi, belum lagi matanya kecil, sipit melebar diujung,
kelopak mata kecil dan kulitnya putih pucat. Sama sekali dia tidak ingat
dirinya memang sebenarnya orang sana. Suparno dan Juminah, serta Sri
menyembunyikan jati dirinya. Walau Yudi sering teriak dan jika marah mengomel
padanya dengan bilang “Kamu itu anak pungut dari korea sana.. bukan anak Paké
dan Bué!”, tetap Suparno mengatakan kalau Minho anak mereka dan jangan percaya
dengan candaan abangnya itu. Minho percaya sekali dengan perkataan kedua
orangtua angkatnya dan Sri, kakak angkatnya, kalau dia sama sekali bukan anak
angkat, tapi anak kandung.
“Pokoke kalau kamu lunga (pergi jalan) nang
(ke) korea sana, Minho.. kita-kita di traktir yo,” kata Amir salah seorang
temannya
“hadeh... belum juga aku pergi ke sana,
haha,” tawa Minho menggema se ruangan kelas.
“Yo wes..
traktir kita risoles dulu.. ono pangan
(ada makanan) enak ning (di) koperasi,”
Amir merangkul bahu Minho, mengajaknya ke kantin koperasi
“Modus... ayo deh,” Minho berekspresi merangkul
balik temannya dan menggerakkan tangannya supaya temannya yang lain ikut ke
kantin.
Mereka memang tahu kalau Minho anak
Suparno juragan jengkol dadakan itu. Kadang Minho memang tanpa ragu membawa
main teman-temannya ke rumahnya. Dia termasuk yang pendiam tapi cukup akrab.
Di kantin koperasi sekolah, Minho dan
teman-temannya duduk sambil makan gorengan, sambil ngobrol-ngobrol dan
bercanda.
Amir setengah berbisik padanya,”Ono abang mu tuh,”
Minho melihat Yudi masuk ke kantin
koperasi. Dia lalu menghampiri kakaknya itu.
“Abang mau jajan?,” sikapnya sedari dulu
memang tidak berubah, tetap ramah. Sama ketika sewaktu kecil dia suka ajak main
Yudi dengan bilang “Abang mau main??”, dan sehabis itu.. pasti Yudi lebih pilih
diam dan meninggalkannya.
“ndak
usah pura-pura baik,” jawab Yudi langsung ketus.
Amir si anak badung malah menghampiri
mereka, dia tidak suka dengan sikap Yudi.
“Dadi
kakang kok gawe ne nyinyir adikne wae
(kakak kerjaannya sinis sama adiknya terus),” sindir Amir, santai sambil
mengambil gorengan.
Yudi langsung panas dengan perkataan Amir,
dia mengangkat kerah kemeja sekolah anak itu.
“Kowe
wani yo?? Arep digebuki?? (kamu berani ya? Mau dikeroyok?),” ancam Yudi
Amir malah santai menjawab,”Gebuki.. ben wani.. aku wes duwe geng dewek
(keroyok aja kalau berani..aku juga punya geng sendiri),”
Yudi tahu, Amir memang anak pemberani pada
para kakak kelas. Dia emang terkenal badung, walau di satu sisi, suka kepergok
sedang membela temannya.
Bu kantin penjaga sekolah marah, tidak
suka mereka akan berantem atau nanti dilaporkan guru bimbingan. Yudi lalu
melepaskan kerah Amir dan Amir duduk santai lagi. Minho masih berdiri.
“Aku cuma tawarkan Abang jajan.. takut
uang abang gak cukup,” jawab Minho polos
“ndak
usah.. ndak butuh uangmu,” jawab Yudi
tanpa melihat wajah Minho. Dia malah membalikkan badannya dan mengambil kertas,
lalu membeli gorengan dan dibawa keluar kantin. Jalan tanpa melihat Minho.
Minho lalu duduk lagi, bergabung dengan
teman-temannya.
“kamu kok punya kakang (kakak cowok), begitu banget sih, Minho?? beda banget sama
kamu,” ujar Siti sambil makan bakwan yang sudah dilapisi sambal.
“Aku enggak tahu.. kenapa Abang benci sama
aku sedari kecil,” jawab Minho polos. Lalu dia cerita pada teman-teman dimeja
melingkar itu sedari kecil memang Yudi terlihat selalu tidak suka padanya. Dia
pernah dipukul juga karena pernah meminjam mainan kakaknya itu.
“Hampir ta’ layanin tarung (berkelahi),” ujar Amir
Minho malah yang jadi minta maaf pada
Amir, dia merasa gak enak Yudi memperlakukan temannya dengan buruk. Amir sih
biasa saja, dia memang tipe anak panasan dan badung, tapi kesetiakawanannya
tinggi.
“Tapi kamu beda banget sih, Minho.. masak
kamu pinter banget..dia bodo banget,” rumpi Siti pada Minho.
“ho oh, Minho...kowe ndak nyadar po??,” kata Dhani menambahkan.
Memang mereka melihat Minho seperti
berbeda 180º dari Yudi, baik secara fisik dan juga sikap. Minho pernah bertanya
itu suatu kali kepada Juminah, tapi sang ibu angkat bercanda padanya,” Bué ini
waktu mengidam kamu..suka sekali lihat orang sana.. lihat yang kulitnya
putih-putih.. matanya kecil-kecil..Makanya Minho putih, matanya kecil.. tapi
Minho anak Bué kok.. bukan anak pungut.. abang Yudi kalau bercanda memang
kasar.. “
Juminah berbohong padanya untuk
menyenangkan hatinya. Tapi Minho percaya saja, sebab selama ini dia tidak
merasa dipilih kasih. Pernah dia badung sekali main dengan Amir, menyolong
panenan buah mangga kebun pak Rahmad dan pelintir kuping si Ireng, sapi Pakde
Slamet, sampai sapi itu mengamuk. Suparno dan Juminah marah juga padanya. Begitu
juga mendiang Tuminah, yang dia panggil mbah
puteri (nenek), pernah memarahinya karena dia nakal mandi hujan sepulang
sekolah dan baju sekolahnya kotor semua. Yang hampir tidak pernah memarahi dia
justru Sri, yang akhirnya sampai berumur 17 tahun, Minho sering cerita
masalahnya dengan kakak angkatnya itu.
Dia juga pernah bertanya pada Sri apakah
dia anak kandung kedua orangtuanya, tapi Sri juga menyembunyikan itu dan
mengatakan kalau Minho anak kandung Suparno dan Juminah. Dia selalu bertanya
itu beberapa kali dan umurnya yang sudah 17 tahun ini karena melihat Yudi yang
terang-terangan benci padanya dan pernah bilang langsung “Kamu ini anak pungut
Paké dan Bué..!”, saat dia sudah mulai mengerti, apa artinya “anak pungut”.
Minho jadi sensitif dan berfikir, tetapi dan tetapi, Suparno dan yang lainnya
menutupinya.
“Aku enggak tahu.. kenapa aku beda,” jawab
Minho pada teman-temannya itu. Dia lantas cerita apa yang sudah pernah dia
tanyakan itu, jawaban dari orang-orang terdekatnya.
“Tapi... kenapa abang mu itu segitu
jahatnya sih.. sama kamu?,” tanya Rahma.
Minho menggeleng saja,”aku juga enggak
tahu”
“Mungkin dia iri karo kowe, Minho.. kowe
ki pinter, cakep... kakang mu kui ireng
(hitam), elek (jelek), bodo pula,” Siti malah menjelek-jelekkan
dan membandingkan antara keduanya
“hush.. gosip wae kowe, Sit,” timpal Dhani
Minho malah tertawa, katanya, justru kalau
dirumah, sebenarnya abangnya yang lebih suka diperhatikan keluarganya daripada
dia. Dia pernah bertanya itu juga pada kedua orangtuanya, tapi Suparno
bilang,”tanpa kami perhatikan kamu... kamu justru lebih mandiri, Lek..dibanding abang mu”
“Abangku kalau minta sesuatu... pasti
cepat dikasih,” kata Minho dengan sedikit cemberut.
“Kamu ndak marah??,” tanya Rahma
Minho menggeleng,” kadang kesal sih..
kenapa abang kok bisa apa-apa minta.. Ibu dan Bapakku kasih..tapi aku enggak
boleh iri”, dia malah jadi curhat pada teman-temannya.
Amir manggut-manggut,”Iyo... si Yudi anggo
(pakai) motor.. kowe cuma sepeda
onthel”
“Tapi mbak Sri bilang...aku enggak boleh
iri.. aku harus mengerti abang,” kata Minho lagi.
“Sing
penting Bapak karo Ibu mu sayang karo kamu... lah aku?? Aku ndak pernah lihat
bapakku,” kata Amir, dia asik menaikkan kakinya ke atas kursi, gaya duduk
ala di warteg. Amir memang anak yang ditinggal bapaknya, pergi entah kemana.
Makanya dia jadi anak badung, namun begitu, Minho juga tidak menjauh dari Amir,
karena dia sebenarnya baik, hanya kurang perhatian dari orangtua yang cuma
tinggal dengan ibu dan saudaranya.
Minho mengangguk saja teman-temannya
ngobrol menasehati dia, sampai jam istirahat selesai dan mereka masuk kelas
kembali.
Pulang dari sekolah, ternyata Minho tidak
pulang ke rumah, tapi ke rumah Sri, kakaknya....
Dengan berwajah senang sambil menumpang
makan siang di rumah kakaknya itu, dia cerita kalau lusa dia ada kesempatan
bersaing dengan para perwakilan kelas 11 lainnya untuk ke korea.
Sri malah jadi mikir, “ korea?? Korea
mana??,”
“Korea selatan, Mbak Sri... Seoul.. Mbak
enggak tahu??,” tanya Minho polos, masih sambil makan siang, ngobrol dengan
kakak angkatnya itu.
Sri mengingat kembali bagaimana dulu
sewaktu kelas 5 SD, dia bertanya pada gurunya, dimana Seoul itu, nama kota yang
ada di gelang Minho.
“kenapa, Mbak??,” tanya Minho heran, sebab
kakaknya itu agak sedikit melamun.
Sri sadar dari lamunannya,” Ora opo-opo.. kamu makan yang banyak ya?
Mbak masak soto yang enak.. sengaja mbak bikin banyak buat kamu”, senyumnya
pada Minho
Minho mengangguk saja dan dia lahap makan,
disuguhkan oleh Sri.
Sri meninggalkannya sebentar, dia masuk ke
dalam kamarnya.
“Lama-lama Minho tahu..kalau dia bukan
anak Paké dan Bué... gimana ya??,” gumam Sri.
“Kalau dia yang bisa ke korea sana.. sudah
pasti bisa saja dia tahu,” lanjutnya lagi.
Dia benar-benar gusar, lalu keluar kamar
lagi sambil menggendong anaknya yang masih kecil.
“ikut
aku wae nang umah Paké... aku arep mampir,” kata Sri pada Minho,
menyuruhnya ikut di mobilnya saja, dia mau pergi ke rumah orangtuanya.
Minho mengangguk saja, dia lalu mengangkat
sepedanya masuk bagasi belakang mobil. Dia duduk di depan dengan menggendong
keponakannya.
Sri cukup galau juga dengan berita yang
dianggap Minho malah kesempatan bagus, dia berusaha sembunyikan kegalauannya itu.
“Apa usahanya abang Rafa bagus, Mbak??,”
tanya Minho kepada Sri, bertanya tentang kakak iparnya
Sambil masih menyetir, Sri menjawab iya. Dia
mengalihkan pembicaraan supaya Minho tidak mengungkit lagi tentang keinginannya
mau ikut pertukaran pelajar di Seoul.
Sampai dirumah Suparno, Sri dan Minho
langsung menemui ayahnya itu yang sedang berada di beranda belakang, harus
mengawasi usaha mereka. Sri dan Minho mencium tangan ayahnya itu
“Piye
kabarmu, nduk.. apik??,” tanya Suparno pada Sri
“Apik..
aku arep ngobrol karo Paké.. saiki”, jawab Sri. Dia lalu meminta Minho
pergi menggendong anaknya, mengajak main. Sri hanya mau ngobrol berdua dengan
ayahnya itu. Minho pun meninggalkan mereka berdua, pergi ke dalam rumah.
Suparno langsung duduk tenang menuju dipan
teras belakang, yang tadinya dia sedang melihat kebun sayurnya yang sedang
disiram.
“Paké sudah tahu kalau Minho lusa mau ikut
pertukaran pelajar ke Seoul? Masih baru mau coba sih, Paké.. tapi kan Paké
tahu.. Minho kui asalne dari mana,”
kata Sri membuka pembicaraan.
“durung
dibilang, Sri,” jawab Suparno, masih belum tahu kalau ada kabar itu
“dadi
maksudne.. kalau dapat.. Minho belajar nang
kana (disana)??,” lanjutnya lagi
Sri mengangguk,”Iyo.. opo meneh (apalagi)?? Minho bakalan belajar disana.. di kampungnya
dewek”
Suparno jadi mikir lagi,” Opo.. memang wes waktune.. Minho kui kembali ke orangtuane, Sri?? Paké
lan Bué baru saja ngobrolin ini,”
“Kalau memang semua sudah waktunya, Paké..
ya aku ikhlas.. biar Minho pulang ke sana.. asal orangtuane masih ngakuin dia
jadi anak mereka,” jawab Sri.
“Pean
wes pasrah, nduk?? Dari
kecil, pertama kali Paké nemuin dia ngikut ning
buri (di belakang), kamu wes suka karo dia.. kamu anggap kayak adikmu
sendiri,” renung Suparno
“Paké sendiri.. rela ndak.. kalau Minho
bisa aja ketemu lagi sama orangtuanya??,” Sri malah bertanya balik.
Suparno senyum pada Sri,”waktu itu kan...
Paké mu ini sudah bilang.. kalau Minho kita pulangkeun saja.. tapi kamu bilang
jangan,”
Sri jadi punya rasa sedikit menyesal, dia
memang suka Minho jadi adiknya. Setiap hari dia main dengan anak itu..anggap
seperti adiknya sendiri.
“Pean
harus ikhlas yo, nduk.. kalau nanti Gusti Pangeran mau Minho balik kampungnya,”
ujar Suparno lagi
Sri malah jadi sedih, dia membayangkan
akan kehilangan adiknya itu, walau cuma adik angkat.
Sri lalu masuk rumah besar itu lagi. Dia
tidak menemukan ibunya, ternyata sedang ada pengajian antar kampung.
“ada yang penting dibahas, Mbak??,” tanya
Minho pada Sri ketika duduk di ruang keluarga.
Sri mengelak dari Minho,”aku mau minta
Paké bantu abang Rafa... abang mau luaskan usahanya,”
“jualan tahu??,” tanya Minho
Sri mengangguk senyum,”Bué kapan pulang??”
Minho jawab kalau biasanya ibunya pulang
nanti sore, apa Sri mau menunggu ibunya atau tidak.
“sekolah abangmu.. bagaimana?? Kamu ndak dipanggil lagi kan, gara-gara abang
mu kui??,”
Terakhir Yudi berantem dengan Amir karena
Yudi sengaja meledek Amir dengan panggilan “anak haram”, padahal Amir teman
baik Minho walau dia nakal. Jadinya, wali kelas Yudi pun memanggil Minho.
“Enggak, mbak.. tapi tadi hampir
berantem.. abang enggak mau aku kasih uang jajan,” jawab Minho kalem.
“Abangmu kui.. nyusahin Paké lan
Bué.. ,” keluh Sri.
“Durung
mulih dia (belum pulang)??,” tanya Sri lagi
Minho menggeleng, dia bilang kalau Yudi
biasa pulang nanti sore, tidak tahu main ke siapa lagi.
Minho lalu berdiri, memberikan
keponakannya pada Sri lagi. Sri bilang kalau dia mau menidurkan anaknya di
kamar ibunya saja.
“Aku mau bantu Paké ngitung kilo sayuran,”
kata Minho, dia langsung ke kebun belakang yang luas sekali, membantu Suparno.
Hari berlalu sampai sore.. Juminah baru
pulang dari pengajian antar kampung.. bertepatan juga Yudi pulang ke rumah..
Yudi pulang langsung duduk di ruang tamu
dan cemberut. Minho yang melihat dia malah senyum.
“Abang dicari ibu..,” katanya ramah pada
Yudi.
Yudi bete
berat, dia lalu berdiri, langsung menuju kamarnya, tanpa memperhatikan
perkataan Minho.
Dia lalu mengambil handuk dari gantungan
di dekat dapur dan ingin pergi mandi. Tiba-tiba, dia malah mendengar sesuatu..
ternyata obrolan antara ibunya dengan Sri.
Dia diam-diam mendekati pintu, mengintip
sedikit.
“Ndak usah kamu beritahu Minho kalau dia
itu bukan anak Paké Bué, Sri.. takutnya Minho bakalan sedih,” kata Juminah.
“Tapi.. lama-kelamaan pastine Minho
bakalan tau juga, Bué.. apalagi, dia mau ikutan pertukaran pelajar gitu ke
Seoul.. Bué ngerti kan maksud ku??,” tanya Sri. Mereka duduk di atas tempat
tidur ibunya.
Yudi senyum licik, dia merasa tahu dan
akan merencanakan sesuatu,”Mampus deh kowe, Minho.. kualat kowe karo aku”
Dia tetap menguping dan mengintip. Lalu
Juminah jalan menuju Lemari bajunya. Yudi agak kepinggir dekat engsel pintu,
takut ketahuan ibunya kalau mengintip.
Juminah mengeluarkan sebuah kotak, yang
ternyata kotak perhiasan. Tapi di dalamnya juga ada gelang plastik Minho yang
dibungkus plastik lagi. Gelang yang pertama kali mereka temukan dan akhirnya
mereka lepas, supaya Minho tidak ingat lagi, siapa dirinya.
Yudi senang banget dengan intipannya itu,
dia terkekeh dan tertawa jahat dalam hatinya.
“Mampus
kowe, Minho..kowe anak pungut aja belagu,” kata
hatinya Yudi.
“Gelangne masih ibu simpan??,” tanya Sri.
Juminah menunjukkannya pada Sri,”masih
bagus, Sri.. ibu rawat.. kalau memang Minho bakalan balik lagi nang korea
sana.. Bué ikhlas..,”
“Iyo, Bué.. aku juga kudu pasrah..,” kata
Sri, tapi dia memelas
“Ojo
ngono (jangan begitu), Sri.. itu belum ikhlas namanya,” kata Juminah senyum
pada anaknya, melihat Sri masih berwajah sedih kalau Minho akan kembali ke
kedua orangtua aslinya.
“Ta’sayang-sayang sampe gede, Bué... aku
lebih sayang dia dibanding Yudi,” jawab Sri
“Sabar, Nduk.. lagipula.. kasian
orangtuane disana kalau masih ono (ada),” jawab Juminah dengan senyum
“Biar.. itu anak pungut harus keluar dari
omah (rumah) ini,” kata hatinya Yudi, ketus.
“Ta’colong mengko itu gelang (aku akan
curi gelang itu)..,” lanjutnya lagi dalam hati
Sri melihat lagi gelang itu, bertuliskan
dua bahasa: inggris dan hagul (korea).
“ndak
terasa ya, Bué.. ,” senyum Sri, tapi dia malah berkaca-kaca.. membayangkan
duluan kalau dia bisa saja berpisah dengan adik kesayangannya itu.
Juminah malah memeluk Sri, mengatakan
kalau segalanya sudah diatur Yang Maha Kuasa, apapun itu.
Yudi dibalik pintu malah terkekeh hatinya,
dia punya rencana jahat, ingin mencuri gelang itu...
Minho mendadak berdiri di belakang
Yudi,”Abang.. katanya mau mandi?? Aku juga mau mandi”, dia sudah membawa handuk
dan perlengkapan mandi yang lain
“Aku dulu.. seenake wae nyerobot (seenaknya saja menyerobot),” jawab Yudi
ketus.
“Iya.. Abang duluan aja.. Aku mau lihat
Paké di belakang.. barangkali Paké mau minum,” jawab Minho. Dia lalu pergi ke
belakang rumah.
Yudi mengelus dadanya, takut ketahuan
kalau dia tadi mengintip, sementara Minho memang tidak mau perduli dengan apa
yang dibicarakan ibu dan kakaknya di kamar ibunya itu. Minho pergi saja ke
belakang, membantu Suparno.
Waktu magrib sudah hampir datang... Yudi
di kamar mandi sibuk merencanakan sesuatu jahat pada Minho...
Bersambung ke part 8...