This is me....

Senin, Desember 29, 2014

The Jengkol Heirs (Part7: Tanda Gelang Minho)

Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..

Waktu-waktu berlalu... kehidupan terus berjalan.. pagi berganti siang..siang berganti malam.. dan begitu juga kehidupan manusia.. Pagi hari begitu indahnya. Burung-burung berkicauan dengan merdunya, tanda menyambut pagi yang ceria.

Kehidupan berlalu... 15 tahun kemudian...
“Ibu..Bapak.. aku mau pergi sekolah dulu...!,” teriak Minho. Dia sudah besar, sudah jadi cowok usia 17 tahun, tetap tinggal dengan bapak angkatnya, Suparno dan juga ibu angkatnya, Juminah.
Pagi itu setiap sekolah, dia berangkat dengan sepeda nya. Setelah puas mencium tangan dan pipi kedua orangtua angkatnya itu, dia pun pamit.
“Hati-hati naik sepedanya ya, Nak.. jangan ngebut,” teriak Juminah dari ruang tamu.
“Iya, bu..!,” Minho melambaikan tangan, senyum pada ibunya lalu dia pergi ke sekolah dengan mengayuh sepeda.
Juminah menghidangkan teh manis pada Suparno di depan samping rumah yang dipakai untuk mengumpulkan hasil panen jengkol yang sudah dipendam tanah, siap untuk dipasarkan.


“Minho sudah angkat sekolah, Bué?,” tanya Suparno pada isterinya
Juminah menjawab sudah, sambil dia menaruh piring yang berisi ubi dan singkong rebus di depan Suparno dan para anak buahnya. Lalu dia duduk disamping suaminya.
sekolahne apik.. nilai apik... ndak nyesel kita angkat dia dadi anak, Paké ... nurut,”
“syukurlah, Bué.. ndak nyusahin.. aku masih ingat apa kata almarhumah Bude Tuminah.. kalau masalahnya kita ini di Yudi..,”
Semua para pekerjanya pamit pergi berjualan. Mereka melambaikan tangan, pamit pada Suparno. Pembicaraan mereka tertunda dengan Suparno bicara dulu dengan para pekerjanya sebelum mereka pergi memasarkan jengkol dan sayuran harian.
Suparno dan Juminah lalu melanjutkan pembicaraan mereka, duduk lagi di tempat yang sama.
“aku wes habis pikiran karo Yudi.. sekolahhe ora beres (sekolahnya tidak beres),” keluh Suparno. Dia sudah menghabiskan banyak uang untuk sekolah Yudi, tapi tampaknya masih saja belum ada kemajuan dalam mendidik anak kandung mereka itu. Malah yang jadi anak adopsi yang lebih berbakti pada mereka. Yudi menjadi tinggal kelas dan dia jadi satu tahun lebih tua dari Minho di kelas. Minho sudah kelas 11 sekarang, Yudi kelas 12.

Sing sabar wae, Paké.. kita kan wes usaha... apa.. salah kita juga? Minho wes gede.. apa.. kita balikin saja ke kedua orangtuanya??,” kata Juminah
“Kita durung bilang dia.. kalau dia itu cah pungut,” kata Suparno, menerawang.
Opo iki cobaan hidup kita ya, Bué?? Satu sisi... kita kaya.. satu sisi... kita harus terima Yudi .. anak dewek.. dadi nakal ndak karuan,” lanjutnya lagi
ndak boleh nyesel begitu, Paké.. wes semua iku suratan Gusti Allah,” kata Juminah, mengangkat piring umbi dan Suparno pun mengambil ubi dan memakannya.
Ndak habis pikir kalau Minho kita pulangken meneh (lagi),” kata Suparno
sampeyan (kamu) ikhlas, Paké.. kalau Minho dipulangken meneh nang korea sana?,” tanya Juminah, apakah suaminya ikhlas jika anak adopsinya itu dikembalikan lagi. Dulu mereka terasa tidak ikhlas Minho dipulangkan ke sana karena Sri bergitu sayang dengan anak ini. Sekarang Sri sudah menikah dan dibawa suaminya walau masih satu kampung.

kadung sayang, Bué (terlanjur sayang),” jawab Suparno. Mereka sepertinya memang daridulu sayang-sayang kalau ingin mengembalikan Minho. Lagipula, mereka memang tidak merasakan selama 15 tahun mengasuh anak ini, dia membawa masalah.
“Aku ingat bener apa kata Bude Tuminah... supaya Minho kita lepaskeun aja.. tapi.. entah kenapa.. aku ndak rela.. biarpun si Sri juga ndak mau..sebenarnya bukan itu... perasaanku bilang...ndak rela aja,” tambah Suparno lagi
podho wae karo aku, Paké (sama saja denganku),” tambah Juminah.
Mereka malah kembali termenung lagi. Ada banyak peristiwa yang membuat pertentangan Yudi sebagai anak kandung mereka dengan memaksanya Minho tidak ada dirumah mereka. Sebelum Tuminah meninggal, Minho memang terkesan dibela wanita tua itu, selebihnya.. ketika tahun kemarin akhirnya Tuminah pergi juga, rasanya Yudi semakin garang dengan Minho, semakin tidak sukanya ditunjukkan agar adik angkatnya itu benar-benar angkat kaki dari rumah besar itu. Sri yang juga memang sayang Minho dari kecil, membela anak cowok itu dari Yudi, mengajaknya tinggal dirumah barunya bersama suami dan anaknya yang masih kecil, tetapi Suparno dan Juminah melarangnya, dengan alasan, tidak ada yang membantu mereka.

Di sekolah...

Minho satu sekolah dengan kakak angkatnya, Yudi. Yudi tinggal kelas bertahun-tahun di SMP dan SMA, sehingga akhirnya malah jadi 1 tingkat lebih tinggi dari Minho. Minho kelas 11, Yudi kelas 12. Hari itu, saat jam istirahat, Minho dipanggil ke ruang guru wali kelasnya.
“Siang, bu...,” kata Minho ramah, mengetuk pintu ruangan wali kelasnya, dia lalu masuk. Wali kelasnya mempersilahkan duduk di depannya.
“Ada berita bagus untuk kamu, Minho.. Kamu.. mau kan.. dapat pertukaran pelajar ke Seoul? Setiap kelas 11 mengajukan satu orang anak untuk kandidat, diambil dari para juara kelas.. ibu pilih kamu,” kata bu Wati membuka pembicaraan.
Minho wajahnya senang sekali, menurutnya, ini berita bagus, dia ingin sekali rasanya ke luar negeri belajar.
“Iya, bu.. terima kasih.. aku mau..,” jawab Minho senang, wajahnya sumringah dengar itu.
“Lusa... kamu akan dikumpulkan dengan perwakilan anak-anak kelas 11 yang lain.. jadi.. persiapkan diri kamu.. terutama di bahasa inggris dan pelajaran eksakta.. semangat.. ibu ingin kamu yang pergi ke sana,” senyum bu Wati padanya
Minho mengangguk pasti. Dia sudah membayangkan kalau dia yang dapat, pasti akan membanggakan kedua orangtuanya.
Dia keluar ruangan wali kelas dengan senang hati, lalu masuk ke ruang kelasnya.

weseh... ceria tenanan rai mu, Minho?? ono opo (wajahmu cerah sekali, ada apa)??,” kata Dhani, teman sebangkunya yang sedang duduk diatas meja guru.
“Aku akan jadi perwakilan kelas.. supaya bisa ke korea, hehehe,” jawab Minho santai
Teman-temannya yang lain yang sedang nimbrung di kelas langsung kompak bilang “waaah”
“Iya, hehe.. barusan bu Wati bilang begitu,” katanya lagi
“wah.. hebat kowe (kamu), Minho.. kowe juara kelas sih yo!,” tepuk Dhani pada pundak Minho.
rai mu kui mirip wong korea, Minho,” kata Siti, bercanda padanya, kalau wajah Minho memang seperti orang korea.
Minho cuma cengengesan, dia tidak ingat akan siapa dirinya lagi. Di kelas, sedari dulu dia memang suka dikatakan orang korea nyasar dan dia anggap perkataan itu hanya candaan teman-temannya saja. Tubuhnya memang tinggi, belum lagi matanya kecil, sipit melebar diujung, kelopak mata kecil dan kulitnya putih pucat. Sama sekali dia tidak ingat dirinya memang sebenarnya orang sana. Suparno dan Juminah, serta Sri menyembunyikan jati dirinya. Walau Yudi sering teriak dan jika marah mengomel padanya dengan bilang “Kamu itu anak pungut dari korea sana.. bukan anak Paké dan Bué!”, tetap Suparno mengatakan kalau Minho anak mereka dan jangan percaya dengan candaan abangnya itu. Minho percaya sekali dengan perkataan kedua orangtua angkatnya dan Sri, kakak angkatnya, kalau dia sama sekali bukan anak angkat, tapi anak kandung.

“Pokoke kalau kamu lunga (pergi jalan) nang (ke) korea sana, Minho.. kita-kita di traktir yo,” kata Amir salah seorang temannya
“hadeh... belum juga aku pergi ke sana, haha,” tawa Minho menggema se ruangan kelas.
“Yo wes.. traktir kita risoles dulu.. ono pangan (ada makanan) enak ning (di) koperasi,” Amir merangkul bahu Minho, mengajaknya ke kantin koperasi
“Modus... ayo deh,” Minho berekspresi merangkul balik temannya dan menggerakkan tangannya supaya temannya yang lain ikut ke kantin.
Mereka memang tahu kalau Minho anak Suparno juragan jengkol dadakan itu. Kadang Minho memang tanpa ragu membawa main teman-temannya ke rumahnya. Dia termasuk yang pendiam tapi cukup akrab.

Di kantin koperasi sekolah, Minho dan teman-temannya duduk sambil makan gorengan, sambil ngobrol-ngobrol dan bercanda.
Amir setengah berbisik padanya,”Ono abang mu tuh,”
Minho melihat Yudi masuk ke kantin koperasi. Dia lalu menghampiri kakaknya itu.
“Abang mau jajan?,” sikapnya sedari dulu memang tidak berubah, tetap ramah. Sama ketika sewaktu kecil dia suka ajak main Yudi dengan bilang “Abang mau main??”, dan sehabis itu.. pasti Yudi lebih pilih diam dan meninggalkannya.
ndak usah pura-pura baik,” jawab Yudi langsung ketus.
Amir si anak badung malah menghampiri mereka, dia tidak suka dengan sikap Yudi.
Dadi kakang kok gawe ne nyinyir adikne wae (kakak kerjaannya sinis sama adiknya terus),” sindir Amir, santai sambil mengambil gorengan.
Yudi langsung panas dengan perkataan Amir, dia mengangkat kerah kemeja sekolah anak itu.
Kowe wani yo?? Arep digebuki?? (kamu berani ya? Mau dikeroyok?),” ancam Yudi
Amir malah santai menjawab,”Gebuki.. ben wani.. aku wes duwe geng dewek (keroyok aja kalau berani..aku juga punya geng sendiri),”
Yudi tahu, Amir memang anak pemberani pada para kakak kelas. Dia emang terkenal badung, walau di satu sisi, suka kepergok sedang membela temannya.
Bu kantin penjaga sekolah marah, tidak suka mereka akan berantem atau nanti dilaporkan guru bimbingan. Yudi lalu melepaskan kerah Amir dan Amir duduk santai lagi. Minho masih berdiri.
“Aku cuma tawarkan Abang jajan.. takut uang abang gak cukup,” jawab Minho polos
ndak usah.. ndak butuh uangmu,” jawab Yudi tanpa melihat wajah Minho. Dia malah membalikkan badannya dan mengambil kertas, lalu membeli gorengan dan dibawa keluar kantin. Jalan tanpa melihat Minho.

Minho lalu duduk lagi, bergabung dengan teman-temannya.
“kamu kok punya kakang (kakak cowok), begitu banget sih, Minho?? beda banget sama kamu,” ujar Siti sambil makan bakwan yang sudah dilapisi sambal.
“Aku enggak tahu.. kenapa Abang benci sama aku sedari kecil,” jawab Minho polos. Lalu dia cerita pada teman-teman dimeja melingkar itu sedari kecil memang Yudi terlihat selalu tidak suka padanya. Dia pernah dipukul juga karena pernah meminjam mainan kakaknya itu.
“Hampir ta’ layanin tarung (berkelahi),” ujar Amir
Minho malah yang jadi minta maaf pada Amir, dia merasa gak enak Yudi memperlakukan temannya dengan buruk. Amir sih biasa saja, dia memang tipe anak panasan dan badung, tapi kesetiakawanannya tinggi.
“Tapi kamu beda banget sih, Minho.. masak kamu pinter banget..dia bodo banget,” rumpi Siti pada Minho.
“ho oh, Minho...kowe ndak nyadar po??,” kata Dhani menambahkan.

Memang mereka melihat Minho seperti berbeda 180º dari Yudi, baik secara fisik dan juga sikap. Minho pernah bertanya itu suatu kali kepada Juminah, tapi sang ibu angkat bercanda padanya,” Bué ini waktu mengidam kamu..suka sekali lihat orang sana.. lihat yang kulitnya putih-putih.. matanya kecil-kecil..Makanya Minho putih, matanya kecil.. tapi Minho anak Bué kok.. bukan anak pungut.. abang Yudi kalau bercanda memang kasar.. “
Juminah berbohong padanya untuk menyenangkan hatinya. Tapi Minho percaya saja, sebab selama ini dia tidak merasa dipilih kasih. Pernah dia badung sekali main dengan Amir, menyolong panenan buah mangga kebun pak Rahmad dan pelintir kuping si Ireng, sapi Pakde Slamet, sampai sapi itu mengamuk. Suparno dan Juminah marah juga padanya. Begitu juga mendiang Tuminah, yang dia panggil mbah puteri (nenek), pernah memarahinya karena dia nakal mandi hujan sepulang sekolah dan baju sekolahnya kotor semua. Yang hampir tidak pernah memarahi dia justru Sri, yang akhirnya sampai berumur 17 tahun, Minho sering cerita masalahnya dengan kakak angkatnya itu.
Dia juga pernah bertanya pada Sri apakah dia anak kandung kedua orangtuanya, tapi Sri juga menyembunyikan itu dan mengatakan kalau Minho anak kandung Suparno dan Juminah. Dia selalu bertanya itu beberapa kali dan umurnya yang sudah 17 tahun ini karena melihat Yudi yang terang-terangan benci padanya dan pernah bilang langsung “Kamu ini anak pungut Paké dan Bué..!”, saat dia sudah mulai mengerti, apa artinya “anak pungut”. Minho jadi sensitif dan berfikir, tetapi dan tetapi, Suparno dan yang lainnya menutupinya.

“Aku enggak tahu.. kenapa aku beda,” jawab Minho pada teman-temannya itu. Dia lantas cerita apa yang sudah pernah dia tanyakan itu, jawaban dari orang-orang terdekatnya.
“Tapi... kenapa abang mu itu segitu jahatnya sih.. sama kamu?,” tanya Rahma.
Minho menggeleng saja,”aku juga enggak tahu”
“Mungkin dia iri karo kowe, Minho.. kowe ki pinter, cakep... kakang mu kui ireng (hitam), elek (jelek), bodo pula,” Siti malah menjelek-jelekkan dan membandingkan antara keduanya
“hush.. gosip wae kowe, Sit,” timpal Dhani
Minho malah tertawa, katanya, justru kalau dirumah, sebenarnya abangnya yang lebih suka diperhatikan keluarganya daripada dia. Dia pernah bertanya itu juga pada kedua orangtuanya, tapi Suparno bilang,”tanpa kami perhatikan kamu... kamu justru lebih mandiri, Lek..dibanding abang mu”
“Abangku kalau minta sesuatu... pasti cepat dikasih,” kata Minho dengan sedikit cemberut.
“Kamu ndak marah??,” tanya Rahma
Minho menggeleng,” kadang kesal sih.. kenapa abang kok bisa apa-apa minta.. Ibu dan Bapakku kasih..tapi aku enggak boleh iri”, dia malah jadi curhat pada teman-temannya.
Amir manggut-manggut,”Iyo... si Yudi anggo (pakai) motor.. kowe cuma sepeda onthel”
“Tapi mbak Sri bilang...aku enggak boleh iri.. aku harus mengerti abang,” kata Minho lagi.
Sing penting Bapak karo Ibu mu sayang karo kamu... lah aku?? Aku ndak pernah lihat bapakku,” kata Amir, dia asik menaikkan kakinya ke atas kursi, gaya duduk ala di warteg. Amir memang anak yang ditinggal bapaknya, pergi entah kemana. Makanya dia jadi anak badung, namun begitu, Minho juga tidak menjauh dari Amir, karena dia sebenarnya baik, hanya kurang perhatian dari orangtua yang cuma tinggal dengan ibu dan saudaranya.
Minho mengangguk saja teman-temannya ngobrol menasehati dia, sampai jam istirahat selesai dan mereka masuk kelas kembali.

Pulang dari sekolah, ternyata Minho tidak pulang ke rumah, tapi ke rumah Sri, kakaknya....
Dengan berwajah senang sambil menumpang makan siang di rumah kakaknya itu, dia cerita kalau lusa dia ada kesempatan bersaing dengan para perwakilan kelas 11 lainnya untuk ke korea.
Sri malah jadi mikir, “ korea?? Korea mana??,”
“Korea selatan, Mbak Sri... Seoul.. Mbak enggak tahu??,” tanya Minho polos, masih sambil makan siang, ngobrol dengan kakak angkatnya itu.
Sri mengingat kembali bagaimana dulu sewaktu kelas 5 SD, dia bertanya pada gurunya, dimana Seoul itu, nama kota yang ada di gelang Minho.
“kenapa, Mbak??,” tanya Minho heran, sebab kakaknya itu agak sedikit melamun.
Sri sadar dari lamunannya,” Ora opo-opo.. kamu makan yang banyak ya? Mbak masak soto yang enak.. sengaja mbak bikin banyak buat kamu”, senyumnya pada Minho
Minho mengangguk saja dan dia lahap makan, disuguhkan oleh Sri.
Sri meninggalkannya sebentar, dia masuk ke dalam kamarnya.
“Lama-lama Minho tahu..kalau dia bukan anak Paké dan Bué... gimana ya??,” gumam Sri.
“Kalau dia yang bisa ke korea sana.. sudah pasti bisa saja dia tahu,” lanjutnya lagi.
Dia benar-benar gusar, lalu keluar kamar lagi sambil menggendong anaknya yang masih kecil.

ikut aku wae nang umah Paké... aku arep mampir,” kata Sri pada Minho, menyuruhnya ikut di mobilnya saja, dia mau pergi ke rumah orangtuanya.
Minho mengangguk saja, dia lalu mengangkat sepedanya masuk bagasi belakang mobil. Dia duduk di depan dengan menggendong keponakannya.
Sri cukup galau juga dengan berita yang dianggap Minho malah kesempatan bagus, dia berusaha sembunyikan kegalauannya itu.
“Apa usahanya abang Rafa bagus, Mbak??,” tanya Minho kepada Sri, bertanya tentang kakak iparnya
Sambil masih menyetir, Sri menjawab iya. Dia mengalihkan pembicaraan supaya Minho tidak mengungkit lagi tentang keinginannya mau ikut pertukaran pelajar di Seoul.

Sampai dirumah Suparno, Sri dan Minho langsung menemui ayahnya itu yang sedang berada di beranda belakang, harus mengawasi usaha mereka. Sri dan Minho mencium tangan ayahnya itu
Piye kabarmu, nduk.. apik??,” tanya Suparno pada Sri
Apik.. aku arep ngobrol karo Paké.. saiki”, jawab Sri. Dia lalu meminta Minho pergi menggendong anaknya, mengajak main. Sri hanya mau ngobrol berdua dengan ayahnya itu. Minho pun meninggalkan mereka berdua, pergi ke dalam rumah.
Suparno langsung duduk tenang menuju dipan teras belakang, yang tadinya dia sedang melihat kebun sayurnya yang sedang disiram.
“Paké sudah tahu kalau Minho lusa mau ikut pertukaran pelajar ke Seoul? Masih baru mau coba sih, Paké.. tapi kan Paké tahu.. Minho kui asalne dari mana,” kata Sri membuka pembicaraan.
durung dibilang, Sri,” jawab Suparno, masih belum tahu kalau ada kabar itu
dadi maksudne.. kalau dapat.. Minho belajar nang kana (disana)??,” lanjutnya lagi
Sri mengangguk,”Iyo.. opo meneh (apalagi)?? Minho bakalan belajar disana.. di kampungnya dewek
Suparno jadi mikir lagi,” Opo.. memang wes waktune.. Minho kui kembali ke orangtuane, Sri?? Paké lan Bué baru saja ngobrolin ini,”
“Kalau memang semua sudah waktunya, Paké.. ya aku ikhlas.. biar Minho pulang ke sana.. asal orangtuane masih ngakuin dia jadi anak mereka,” jawab Sri.
“Pean wes pasrah, nduk?? Dari kecil, pertama kali Paké nemuin dia ngikut ning buri (di belakang), kamu wes suka karo dia.. kamu anggap kayak adikmu sendiri,” renung Suparno
“Paké sendiri.. rela ndak.. kalau Minho bisa aja ketemu lagi sama orangtuanya??,” Sri malah bertanya balik.
Suparno senyum pada Sri,”waktu itu kan... Paké mu ini sudah bilang.. kalau Minho kita pulangkeun saja.. tapi kamu bilang jangan,”
Sri jadi punya rasa sedikit menyesal, dia memang suka Minho jadi adiknya. Setiap hari dia main dengan anak itu..anggap seperti adiknya sendiri.
Pean harus ikhlas yo, nduk.. kalau nanti Gusti Pangeran mau Minho balik kampungnya,” ujar Suparno lagi
Sri malah jadi sedih, dia membayangkan akan kehilangan adiknya itu, walau cuma adik angkat.

Sri lalu masuk rumah besar itu lagi. Dia tidak menemukan ibunya, ternyata sedang ada pengajian antar kampung.
“ada yang penting dibahas, Mbak??,” tanya Minho pada Sri ketika duduk di ruang keluarga.
Sri mengelak dari Minho,”aku mau minta Paké bantu abang Rafa... abang mau luaskan usahanya,”
“jualan tahu??,” tanya Minho
Sri mengangguk senyum,”Bué kapan pulang??”
Minho jawab kalau biasanya ibunya pulang nanti sore, apa Sri mau menunggu ibunya atau tidak.
“sekolah abangmu.. bagaimana?? Kamu ndak dipanggil lagi kan, gara-gara abang mu kui??,”
Terakhir Yudi berantem dengan Amir karena Yudi sengaja meledek Amir dengan panggilan “anak haram”, padahal Amir teman baik Minho walau dia nakal. Jadinya, wali kelas Yudi pun memanggil Minho.
“Enggak, mbak.. tapi tadi hampir berantem.. abang enggak mau aku kasih uang jajan,” jawab Minho kalem.
“Abangmu kui.. nyusahin Paké lan Bué.. ,” keluh Sri.
Durung mulih dia (belum pulang)??,” tanya Sri lagi
Minho menggeleng, dia bilang kalau Yudi biasa pulang nanti sore, tidak tahu main ke siapa lagi.
Minho lalu berdiri, memberikan keponakannya pada Sri lagi. Sri bilang kalau dia mau menidurkan anaknya di kamar ibunya saja.
“Aku mau bantu Paké ngitung kilo sayuran,” kata Minho, dia langsung ke kebun belakang yang luas sekali, membantu Suparno.

Hari berlalu sampai sore.. Juminah baru pulang dari pengajian antar kampung.. bertepatan juga Yudi pulang ke rumah..
Yudi pulang langsung duduk di ruang tamu dan cemberut. Minho yang melihat dia malah senyum.
“Abang dicari ibu..,” katanya ramah pada Yudi.
Yudi bete berat, dia lalu berdiri, langsung menuju kamarnya, tanpa memperhatikan perkataan Minho.
Dia lalu mengambil handuk dari gantungan di dekat dapur dan ingin pergi mandi. Tiba-tiba, dia malah mendengar sesuatu.. ternyata obrolan antara ibunya dengan Sri.
Dia diam-diam mendekati pintu, mengintip sedikit.
“Ndak usah kamu beritahu Minho kalau dia itu bukan anak Paké Bué, Sri.. takutnya Minho bakalan sedih,” kata Juminah.
“Tapi.. lama-kelamaan pastine Minho bakalan tau juga, Bué.. apalagi, dia mau ikutan pertukaran pelajar gitu ke Seoul.. Bué ngerti kan maksud ku??,” tanya Sri. Mereka duduk di atas tempat tidur ibunya.
Yudi senyum licik, dia merasa tahu dan akan merencanakan sesuatu,”Mampus deh kowe, Minho.. kualat kowe karo aku
Dia tetap menguping dan mengintip. Lalu Juminah jalan menuju Lemari bajunya. Yudi agak kepinggir dekat engsel pintu, takut ketahuan ibunya kalau mengintip.
Juminah mengeluarkan sebuah kotak, yang ternyata kotak perhiasan. Tapi di dalamnya juga ada gelang plastik Minho yang dibungkus plastik lagi. Gelang yang pertama kali mereka temukan dan akhirnya mereka lepas, supaya Minho tidak ingat lagi, siapa dirinya.
Yudi senang banget dengan intipannya itu, dia terkekeh dan tertawa jahat dalam hatinya.
“Mampus kowe, Minho..kowe anak pungut aja belagu,” kata hatinya Yudi.

“Gelangne masih ibu simpan??,” tanya Sri.
Juminah menunjukkannya pada Sri,”masih bagus, Sri.. ibu rawat.. kalau memang Minho bakalan balik lagi nang korea sana.. Bué ikhlas..,”
“Iyo, Bué.. aku juga kudu pasrah..,” kata Sri, tapi dia memelas
Ojo ngono (jangan begitu), Sri.. itu belum ikhlas namanya,” kata Juminah senyum pada anaknya, melihat Sri masih berwajah sedih kalau Minho akan kembali ke kedua orangtua aslinya.
“Ta’sayang-sayang sampe gede, Bué... aku lebih sayang dia dibanding Yudi,” jawab Sri
“Sabar, Nduk.. lagipula.. kasian orangtuane disana kalau masih ono (ada),” jawab Juminah dengan senyum
“Biar.. itu anak pungut harus keluar dari omah (rumah) ini,” kata hatinya Yudi, ketus.
“Ta’colong mengko itu gelang (aku akan curi gelang itu)..,” lanjutnya lagi dalam hati
Sri melihat lagi gelang itu, bertuliskan dua bahasa: inggris dan hagul (korea).
ndak terasa ya, Bué.. ,” senyum Sri, tapi dia malah berkaca-kaca.. membayangkan duluan kalau dia bisa saja berpisah dengan adik kesayangannya itu.
Juminah malah memeluk Sri, mengatakan kalau segalanya sudah diatur Yang Maha Kuasa, apapun itu.
Yudi dibalik pintu malah terkekeh hatinya, dia punya rencana jahat, ingin mencuri gelang itu...

Minho mendadak berdiri di belakang Yudi,”Abang.. katanya mau mandi?? Aku juga mau mandi”, dia sudah membawa handuk dan perlengkapan mandi yang lain
“Aku dulu.. seenake wae nyerobot (seenaknya saja menyerobot),” jawab Yudi ketus.
“Iya.. Abang duluan aja.. Aku mau lihat Paké di belakang.. barangkali Paké mau minum,” jawab Minho. Dia lalu pergi ke belakang rumah.
Yudi mengelus dadanya, takut ketahuan kalau dia tadi mengintip, sementara Minho memang tidak mau perduli dengan apa yang dibicarakan ibu dan kakaknya di kamar ibunya itu. Minho pergi saja ke belakang, membantu Suparno.
Waktu magrib sudah hampir datang... Yudi di kamar mandi sibuk merencanakan sesuatu jahat pada Minho...


Bersambung ke part 8...