This is me....

Rabu, Desember 31, 2014

Pernikahan ½ (Part 31: Mengapa, Minho?)

Cerita ini cuma iseng saja, jangan dimasukin ke hati.. kalau masih serius juga.. tanggung sendiri deh..

Kumiko kaget ketika membuka pintu malam itu, Aiko adiknya sudah berdiri di depannya. Kumiko tidak ingin membuatnya sedih, dia tetap mempersilahkan adiknya itu masuk rumah. Aiko langsung menubruk kakaknya dan menangis.
“Minho-kun.. jahat sekali.. rasanya..aku ingin bercerai saja dengannya,” katanya menangis tersedu-sedu sambil memeluk Kumiko.
Kumiko mengajaknya masuk ke kamar dia dahulu. Sambil berjalan menuju kamar, Aiko masih saja menangis.
Mereka lalu duduk diatas tempat tidur. Kumiko meminta Aiko menceritakan apa yang sudah terjadi dalam kehidupan rumahtangga mereka akhir-akhir ini. Aiko menceritakan saja peristiwa terakhir hari ini ketika Minho membicarakan rencana perpisahan dan sangat cemburu padanya, padahal dia hanya merasa kasihan dengan Ichirou yang sakitnya sudah semakin parah.
Kumiko menghela nafasnya, dia melihat baik Minho atau Aiko memang masih belum bisa menjalankan pernikahan yang serius.. alias masih “pernikahan ½”.
“Ini akibat kalian terlalu cepat memutuskan sebuah pernikahan... yang kasihan adalah bayi kalian.. bagaimana sih??,” kata Kumiko, kesal dengan keduanya
Aiko tidak ingin kedua orangtuanya tahu, bisa-bisa mereka berdua dimarahi habis-habisan, terutama oleh sang ayah.
“bagaimana mereka tidak akan tahu kalau sekarang kamu disini?? Mereka besok pasti akan tahu juga,” kata Kumiko.


Aiko masih menangis, dia benar-benar buntu dengan ide Minho dan juga kecemburuannya yang dianggap seperti anak-anak.
“Aku bisa apa? Jika jalan terakhir kalian memang perceraian.. hal ini harus dibicarakan dengan kedua belah pihak..,” kata Kumiko lagi
“Tapi..apa kalian tidak ingat perjanjian sebelumnya.. kalau saja Minho itu berbuat tidak baik padamu.. Otoosan berjanji akan membawa kasus ini ke pengadilan.. apa kalian tidak ingat?” lanjutnya lagi
Aiko diam lagi. Dia masih cinta pada Minho, dia tidak ingin lelaki itu masuk dalam perangkap pengadilan, bagaimanapun ada anak mereka dalam kandungannya.
Kumiko menasehati kalau besok saja dibicarakan semuanya saat ayah mereka pulang. Kalau tidak begitu, berlarut-larut, Minho bisa saja tidak bertanggungjawab. Aiko lalu disuruh tidur oleh Kumiko karena besok dia harus tetap kuliah.

Pagi....
Minho bangun langsung memanggil Aiko dari dalam kamar. Dia memanggil beberapa kali tetapi sama sekali tidak ada suara menyahut dari luar kamar. Jelas saja Minho bingung, sebab mereka harus berangkat bersama kuliah lagi. Dia lalu membuka pintu dan menemukan tidak ada sama sekali Aiko di depan, di dapur maupun kamar mandi.
Dia lalu duduk di depan meja rendah, gusar, menggaruk kepalanya.” Pasti kabur lagi ke rumahnya, huh”
Dia santai saja, sama sekali tidak meneleponnya. Dia mempersiapkan diri untuk kuliah, masak sendiri seadanya. Setelah makan, lalu berangkat.
“sama sekali Minho kun itu tidak menghubungimu??,” tanya Kumiko. Akhirnya dia sendiri yang memancing pembicaraan di depan ibu dan Akira, selain ada Aiko.
Terang saja Ibunya mereka dan Akira kaget mendengar berita itu. Akira jadi emosi lagi.
“Minho kun itu sama sekali tidak menghargai kita, Okaasan,”
Ibunya meminta untuk menahan diri, jangan sampai terlalu emosi.
“kalian berdua sama sekali belum dewasa.. apalagi yang bisa dilakukan?? ,” tanya ibunya pada Aiko.
“aku akan hubungi orangtua Minho kun itu jika mereka sama sekali juga tidak peduli dengan masalah ini,” lanjut ibunya lagi.
Mereka semua diam. Ibunya akan berjanji membicarakan ini segera dengan suaminya-Kohashi- jika dia sudah kembali ke rumah dari tugasnya.
Aiko tetap berusaha pergi kuliah, dia harus tetap melanjutkan kuliahnya dalam kondisi apapun.
                                                .........................................
Di kampus....
Sorenya, dia bicara lagi dengan Myo. Myo kaget dengan penjabaran teman baiknya itu.
“ya ampun.. aku sungguh enggak habis pikir,” Myo menepuk dahinya sendiri, lalu dia memeluk Aiko.
“aku berharap yang terbaik untuk kalian... ternyata... ini semua bisa saja terjadi,” katanya lagi. Dia terus memeluk Aiko, berusaha menenangkan diri perempuan itu.
“Kamu sebaiknya tenang, Aiko-chan.. supaya nanti anak mu sehat,”
Myo terus saja menghiburnya, menenangkan hatinya.
Tak berapa lama, Minho dilihatnya datang menghampiri mereka. Myo hanya berbisik pada Aiko yang masih memeluknya, kalau Minho datang.
Aiko lalu melepas pelukannya, dia melihat Minho berjalan menghampiri mereka, lalu berdiri di depan tempat duduk mereka.
“kenapa kamu pulang ke rumah orangtua tanpa beritahu aku, Aiko chan??,” tanya Minho, tepat berdiri di depannya.
Aiko memandang Minho sebentar, lalu dia berbicara seolah-olah Minho tidak ada di depannya,” aku ingin pulang ke rumahku”
“sama sekali kamu tidak menghargai aku, Aiko-chan.. kabur tanpa bilang apapun,” balas Minho dengan nada sedikit judes.
Myo langsung berdiri, dia benar-benar sebal dengan Minho,” mana ada sih... kabur pakai bilang-bilang??”

Minho langsung sensitif dengan perkataan Myo, tapi dia mencoba cuek dan tidak menanggapi, malah menoleh pada Aiko lagi, memegang tangan perempuan itu.
“Ayo pulang.. kuliahmu.. sudah selesai kan??,”
Aiko menggeleng saja.
“Ayo pulang, Aiko-chan.. aku tidak ingin kesal,” kata Minho lagi, tegas. Berusaha membangunkan isterinya itu
“Aku tidak mau pulang... aku mau tinggal saja dirumah orangtuaku,” jawab Aiko, dengan nada sedikit bergetar. Sebenarnya dia mau menangis, tapi coba ditahannya.
Myo melarangnya, menepis tangan Minho,” jangan kasar dengan Aiko-chan.. dia temanku”, sergahnya.
“dan dia isteriku.. aku lebih berhak mengatur hidupnya daripada kamu,” jawab Minho dengan ketus sambil menatap tajam wajah Myo.
Myo makin menantang, dia naikkan pundaknya sedikit, menantang Minho yang jauh lebih tinggi darinya.
“Kamu tidak berhak menyakiti Aiko-chan.. walau dia isterimu,”
“apa urusanmu??,” tanya Minho, dia naikkan alisnya, langsung wajahnya berubah jadi jutek.
“Aiko-chan.. kamu sudah cerita apa saja ke dia??,” tanya Minho
Aiko diam saja.. Minho bertanya padanya sekali lagi.
“Kamu.. jahat .. padaku!,” kata Aiko cepat berdiri. Dia tidak peduli ketika itu, perutnya mendadak jadi sakit karena berdiri secepat itu. Dia langsung berbalik arah dan berlari meninggalkan Minho, dengan perutnya yang sakit karena terpaksa jalan cepat.
“Aiko-chan.. matte yo.. jangan lari begitu!,” Minho mengejarnya. Myo jadi ikutan berlari di belakang mereka.
Aiko sama sekali tidak menoleh pada Minho, dia sebenarnya sudah lelah berlari, tapi dia paksakan dirinya. Minho masih kalah cepat berlari dibanding dia. Tepat di depan jalan dekat halte, sebuah bus menurunkan penumpang, dia langsung naik tanpa menoleh sedikitpun pada Minho.

Minho ngos-ngosan mengejarnya, karena dia memang tidak tahan berlari.
Aiko duduk di dekat jendela, dia hanya bisa memandang Minho saja diluar. Dia hanya bisa menangis. Sementara Myo berada beberapa meter di belakang Minho.
Minho menekuk kedua tangannya di lutut, dia berusaha mengatur nafas karena berlari. Nafasnya ngos-ngosan.
“LIHAT KAN, MINHO-KUN..KAMU PUAS BUAT AIKO-CHAN MENANGIS??!!??,” teriak Myo di belakang Minho
Minho berdiri, dia menoleh, masih mengolah nafasnya supaya tidak ngos-ngosan lagi.
“Jadi.. kamu menyalahkanku, Myo kun??,” tanya Minho
“Siapa lagi?? Kamu tidak tahu kan.. apa yang sudah selama ini Aiko-chan ceritakan padaku? Kamu sudah menyiksa perasaannya berkali-kali, Minho-kun!!,” teriak Myo lagi.
Minho berdiri mematung. Dia tidak sangka kalau Myo berani mencampuri urusan rumahtangganya karena ternyata Aiko-chan sering cerita padanya
“Kenapa?? Kamu kaget?? Aku sudah berteman lama dengan Aiko-chan.. jadi.. apa yang sudah dia rasakan.. aku juga bisa rasakan..,” ujar Myo lagi, dengan suara yang sinis padanya
Minho sungguh tersinggung dengan perkataan Myo,” sama sekali bukan urusanmu”
“Ini urusanku! Aku tidak ingin temanku menderita... Aiko-chan itu sangat mencintaimu ..dan kamu sama sekali tidak punya pikiran.. kamu hanya mementingkan dirimu saja.. egois... kamu egois, Minho-kun!”, balas Myo.

Minho diam. Dia marah, tapi diam. Ego nya sebagai lelaki muncul, tetapi dia tidak tahu bagaimana harus melawan perkataan Myo.
Minho dan Myo saling diam di halte itu, berdiri saling berhadapan. Lama mereka saling memandang, aura mereka saling beradu dan dingin, sedingin gunung es yang ada di kutub selatan.
Minho lalu meninggalkan Myo untuk menghindari pertengkaran.
Myo hanya bisa memandang, ketika Minho sudah jauh darinya, dia berteriak,”I swear.. aku gak akan buat Aiko-chan sedih karena ulahmu, Minho-kun.. dia teman baikku!!”
Minho kesal dengan hal ini, serasa dia diinjak-injak harga dirinya oleh seorang perempuan. Dia meninggalkan Myo begitu saja. Cukup lama Myo memandang Minho sampai cowok itu tidak lagi terlihat di ujung jalan.
                                                ........................................
Aiko pulang ke rumahnya dengan menangis... ternyata ayahnya pulang tugas dan memergoki dia di depan rumah masuk sambil menangis. Dia tidak peduli pada situasi, langsung memeluk ayahnya.
“ada apa?,”tanya ayahnya dengan tegas.
Aiko lalu melepaskan pelukannya dan duduk di depan Kohashi
“Minho-kun.. kejam padaku,” jawabnya
“Ceritakan.. aku tidak ingin setengah-setengah,” kata Kohashi dengan tegas. Isteri Kohashi, Kumiko pun masuk ke ruang tamu ketika mendengar suara tangis Aiko.
Mereka semua diam, hanya Aiko yang bercerita, sampai selesai.
Kohashi sedikit menghela nafas,” kalian benar-benar tidak dewasa dan hanya menghancurkan diri... kalian ingat bukan..dengan perjanjian yang sudah ada??”
Aiko malah menghiba pada ayahnya itu,” aku tidak ingin Minho-kun dihukum, Otoosan.. onegaishimasu (aku mohon)”
“Kalian harus belajar,” jawab Kohashi singkat, dia lalu mengambil handphonenya, ternyata ingin berbicara dengan orangtua Minho.
Aiko menghiba-hiba, memeluk kakinya Kohashi,”Otoosan.. aku mohon.. selesaikan saja antar keluarga.. jangan bawa Minho-kun ke pengadilan.. “
“DIAM!,” teriak Kohashi.
Ibunya Aiko lalu menghampirinya dan menyuruhnya melepaskan pelukan kaki ayahnya itu.

Aiko sudah pasrah, dia menangis tetapi tidak dapat melawan. Kohashi menelepon Minho.
“Aku hanya berkata, kenapa Ichi-kun memeluk dia dan membiarkan dia bilang jatuh cinta pada Aiko-chan...jelas aku marah,” jawab Minho pada Kohashi ditelepon
“tidakkah kamu pertimbangkan psikologis nya?? Kamu tidak dewasa, Minho-kun! Aku ingatkan lagi tentang perjanjian itu,” Kohashi bersuara benar-benar tegas.
“sh*t,” dalam hati Minho. Dia lupa dengan hal itu.
“pikirkan hal itu dan aku akan bicara dengan kedua orangtuamu,” kata Kohashi dan dia tutup teleponnya.
Minho pun duduk, dia pusing, menggaruk-garuk kepalanya sendiri,”ARGHHHHHHHHH!!!!!!!”, teriaknya di dalam rumah susunnya, lalu dia banting mobile phone nya ke tembok.
“MENYEBALKAN! SEMUANYA MENYEBALKAN!!!,”
Dia lalu meletakkan kedua tangannya diatas meja rendah, menekuknya dan menaruh wajahnya diatas tangannya itu... menangis...
“menyebalkan,” keluhnya dalam tangis.
                                                ............................................
Kohashi begitu kesal dengan perlakuan Minho pada anaknya. Dia menelepon kedua orangtua Minho dan marah dengan mereka.
“kalian tidak bisa mendidik anak,” kata Kohashi pada keluarga Lee.
Kohashi memarahi panjang lebar apa yang telah terjadi hubungan antara anaknya dan anak mereka. Lee bingung, sebab dia tidak pernah merasa dicurhati anaknya sendiri tentang rumahtangga mereka. Lee minta maaf atas kejadian ini dan berjanji akan cepat dibahas.
“Jika kalian tidak membahas masalah ini secepatnya.. pengadilan menunggu.. sesuai dengan kesepakatan kita,” ancam Kohashi.
Lee hanya mengangguk-angguk saja, menuruti perintah besannya itu. Tanpa bicara panjang lebar, Kohashi pun menutup teleponnya.

Minho  ditelepon kedua orangtuanya. Lee langsung marah besar dengan anaknya itu.
“tidak puas kamu menyusahkan kedua orangtuamu? Berhenti kuliah dan kembali ke Seoul!”
Minho mendengar itu bagai petir disiang bolong. Dia tidak ingin kembali, dia hanya butuh waktu berfikir. Dia minta maaf pada ayahnya dan akan berusaha menyelesaikan sendiri persoalan itu.
“aku tidak ingin bercerai..aku hanya ingin berfikir dan merenggangkan dulu semuanya, Appa..”
“kamu berkilah, Minho...tidak pernah aku temukan kamu berkilah seperti ini,” ujar Lee dengan nada marah.
“Appa...aku mohon waktu untuk berfikir..,” balas Minho.
Ayahnya bersikeras kalau anak itu memang salah. Dia tidak ingin nama baik keluarganya tercoreng.
“sama sekali tidak ada kedewasaan hidup!,” bentak Lee
Minho meneteskan air matanya, dia minta maaf.
Lee diam, dia kesal, lalu,” selesaikan sendiri masalahmu...aku tidak ingin ikut campur lagi...tidak akan kubantu,”
Lalu...dia tutup telepon itu.
Minho diam. Dia makin termenung. Dia menyisir rambut dengan tangannya, berfikir. Dia tidak ingin semua yang dia sudah usahakan jadi hancur dengan dia kembali pulang. Dia lalu berjalan..... ke rumah Aiko.
                                                            ............................
Sampai di depan rumah besar itu, Minho terdiam, antara ingin masuk atau hanya bisa memandang dari luar. Ibunya Aiko yang sedang berada di depan, memergokinya.
“silahkan masuk,” kata ibunya Aiko.
Minho menunduk hormat padanya dan berterima kasih. Dia lalu membuka pagar kayu yang bercat putih itu, menunduk hormat sekali lagi pada ibu mertuanya.
Minho mengikuti ibu mertuanya masuk ruang tamu. Ibu mertuanya mempersilahkan duduk. Tak berapa lama, ibu mertuanya itu kembali dengan Kohashi.
Minho takut sekali menghadapi itu.
Kohashi duduk tegas dihadapannya,” kalau kamu ingin mengakhirinya... selesaikan segera di pengadilan,”
Minho menunduk,”aku tidak menginginkannya...aku ingin berfikir”
“berfikir untuk menyakiti hati anakku?? Tahu.. bayi siapa yang ada diperut anakku??,” tanya Kohashi.
Minho mengangguk,”aku dan dia”
“Lalu... kenapa kamu lari dari tanggungjawabmu?,”
Minho terbata-bata,”tidak... aku..ingin..”

Belum sampai Minho pada perkataannya dengan lengkap, Kohashi menggerakkan tangannya, mengangkat kerah baju Minho.... dan menggamparnya dengan keras!
“PLAK!!!!!!!!!!,”
Isteri Kohashi kaget,”Anata.. shinaide kudasai! (mohon jangan lakukan),” teriaknya, takut sesuatu hal akan terjadi.
Kohashi tidak mendengar perkataan isterinya sendiri, dia tetap menggampar Minho untuk kedua kalinya..
“PLAK!! MENANTU KURANG AJAR.... BAKA JYA NE! (jangan bodoh),” teriak Kohashi, menggampar Minho berkali-kali.
Minho sama sekali tidak melawan, dia malah meminta maaf berkali-kali sambil terus menunduk menghormat pada Kohashi.
Ibunya Aiko menjerit, terdengar oleh Aiko dan Kumiko. Aiko kaget ketika menemukan Minho sedang ditampar berkali-kali tanpa melawan pada ayahnya.
“Otoosan.. yamete kudasai..!,” teriak Aiko, dia memegang tangan ayahnya supaya tidak menggampar Minho.
Kohasi mengeluarkan tenaganya dengan keras, Aiko hampir jatuh terjerembab, untung saja dia berhasil berpegangan pada Kumiko.
“Otoosan.. tolong hentikan!,” teriak Kumiko pada ayahnya.

Akhirnya, Kohashi memberhentikan juga tamparannya bertubi-tubi pada Minho. Ujung bibir kiri dan kanan Minho berdarah. Dia mengelap pelan-pelan bibirnya sendiri.. tetapi Aiko langsung mencoba berdiri dan membantunya.
“kamu tidak apa-apa??,” Aiko malah mengeluarkan sapu tangan dari saku baju long dress nya dan mengelap pelan-pelan ujung bibir Minho yang berdarah.
Minho mengeluh kesakitan,” perih sekali, euh....ssshh”
“Kenapa masih saja kamu bela dia??,” kata Kohashi.
Minho langsung menunduk hormat,”maafkan aku, ayah mertua.. aku”
“Sama sekali aku tidak ingin Aiko tinggal lagi bersamamu.. jadi.. pergi.. pikirkan tingkah laku mu sendiri pada anakku selama ini!,” kata Kohashi lagi dengan suaranya yang tegas.
“Minho-kun..aku minta maaf...,” kata Aiko. Dia antara bingung. Satu sisi dia menghargai Minho sebagai pasangannya, satu sisi dia menderita tinggal dengan Minho yang belum dewasa dan kerjaannya ngambek terus.

“Mungkin.. kita harus pisah rumah sementara, Aiko-chan.. aku harus berfikir kembali tentang hubungan ini,” kata Minho, memegang telapak tangan Aiko yang masih mengelus ujung bibir Minho yang tadi berdarah.
Aiko mengeluarkan air matanya, dia mencoba menahan tangisnya, tetapi tidak bisa.
“Apa..kita akan berpisah?? Kenapa, Minho-kun??,”
Minho diam saja.
“Jawab, Minho-kun.. aku pikir.. kamu mencintaiku apa adanya..seperti janji kamu dulu... makanya aku tidak berfikir panjang untuk mau menikah denganmu,” kata aiko lagi
Minho masih diam saja. Dia masih mencintai perempuan itu, tetapi pikirannya kacau dengan kewajiban dan tanggungjawabnya sebagai kepala rumahtangga.
“Aku mencintaimu, Aiko-chan... tetapi.. aku harus pergi .. aku ingin berfikir ulang..semua hubungan kita”
Kumiko, Ibunya hanya memandang mereka. Sementara Kohashi memalingkan tubuhnya dari Minho.
Aiko akhirnya menangis kencang tersedu-seduh juga. Dia membayangkan, perceraian bisa saja terjadi sementara anak mereka masih ada dalam kandungan.
“Kamu jahat, Minho-kun... kamu jahat! Sampai kapan kamu mau mengerti aku??!!,” teriak Aiko

Minho memeluknya, dia menangis,”Aku sepertinya gagal mencintaimu..walau masih ingin selalu mencintaimu..dan anak kita”
“kamu tidak semestinya bersikap seperti itu, Minho-kun.. pergilah,” kata Kumiko.
Aiko masih menangis di pelukan Minho. Minho mencium mahkota kepalanya.. lalu dia melepaskan pelukannya.
“aku minta maaf... aku harus pergi..,” katanya masih berkaca-kaca
Aiko memandangnya, lalu Minho membalikkan tubuhnya, berjalan keluar dari ruang tamu dengan sangat cepat.
Aiko berusaha mengejar dan menangkap tangannya, tetapi Kumiko melarangnya.
“Sudah, Aiko-chan.. biarkan Minho-kun berfikir lagi.. sudah.. kalian sebaiknya menenangkan diri dulu,”
Aiko memberontak dari pegangan tangan Kumiko yang kencang,”TIDAK..AKU TETAP INGIN BERSAMA MINHO-KUN!!”
Minho sudah keluar rumah, dia cepat berlari keluar rumah itu, langsung mencegat taxi yang lewat di depan jalan.
Aiko menepis dengan kencang genggaman tangan Kumiko dan berlari menuju Minho yang sudah masuk taxi.
Taxi sudah terlanjur berjalan jauh.. di depan pagar rumahnya, Aiko berteriak teriak.. dia tidak ingin Minho meninggalkannya. Dia menangis kencang, air matanya deras mengalir. Sementara didalam taxi, Minho menitikkan air matanya juga...

Bersambung ke part 32....