Cerita ini cuma iseng saja, jangan dimasukin ke hati.. kalau masih serius
juga.. tanggung sendiri deh..
Kumiko kaget ketika membuka pintu malam
itu, Aiko adiknya sudah berdiri di depannya. Kumiko tidak ingin membuatnya
sedih, dia tetap mempersilahkan adiknya itu masuk rumah. Aiko langsung menubruk
kakaknya dan menangis.
“Minho-kun.. jahat sekali.. rasanya..aku
ingin bercerai saja dengannya,” katanya menangis tersedu-sedu sambil memeluk
Kumiko.
Kumiko mengajaknya masuk ke kamar dia
dahulu. Sambil berjalan menuju kamar, Aiko masih saja menangis.
Mereka lalu duduk diatas tempat tidur.
Kumiko meminta Aiko menceritakan apa yang sudah terjadi dalam kehidupan
rumahtangga mereka akhir-akhir ini. Aiko menceritakan saja peristiwa terakhir
hari ini ketika Minho membicarakan rencana perpisahan dan sangat cemburu
padanya, padahal dia hanya merasa kasihan dengan Ichirou yang sakitnya sudah
semakin parah.
Kumiko menghela nafasnya, dia melihat baik
Minho atau Aiko memang masih belum bisa menjalankan pernikahan yang serius..
alias masih “pernikahan ½”.
“Ini akibat kalian terlalu cepat
memutuskan sebuah pernikahan... yang kasihan adalah bayi kalian.. bagaimana
sih??,” kata Kumiko, kesal dengan keduanya
Aiko tidak ingin kedua orangtuanya tahu,
bisa-bisa mereka berdua dimarahi habis-habisan, terutama oleh sang ayah.
“bagaimana mereka tidak akan tahu kalau
sekarang kamu disini?? Mereka besok pasti akan tahu juga,” kata Kumiko.
Aiko masih menangis, dia benar-benar buntu
dengan ide Minho dan juga kecemburuannya yang dianggap seperti anak-anak.
“Aku bisa apa? Jika jalan terakhir kalian
memang perceraian.. hal ini harus dibicarakan dengan kedua belah pihak..,” kata
Kumiko lagi
“Tapi..apa kalian tidak ingat perjanjian
sebelumnya.. kalau saja Minho itu berbuat tidak baik padamu.. Otoosan berjanji akan
membawa kasus ini ke pengadilan.. apa kalian tidak ingat?” lanjutnya lagi
Aiko diam lagi. Dia masih cinta pada
Minho, dia tidak ingin lelaki itu masuk dalam perangkap pengadilan,
bagaimanapun ada anak mereka dalam kandungannya.
Kumiko menasehati kalau besok saja
dibicarakan semuanya saat ayah mereka pulang. Kalau tidak begitu,
berlarut-larut, Minho bisa saja tidak bertanggungjawab. Aiko lalu disuruh tidur
oleh Kumiko karena besok dia harus tetap kuliah.
Pagi....
Minho bangun langsung memanggil Aiko dari
dalam kamar. Dia memanggil beberapa kali tetapi sama sekali tidak ada suara
menyahut dari luar kamar. Jelas saja Minho bingung, sebab mereka harus
berangkat bersama kuliah lagi. Dia lalu membuka pintu dan menemukan tidak ada
sama sekali Aiko di depan, di dapur maupun kamar mandi.
Dia lalu duduk di depan meja rendah,
gusar, menggaruk kepalanya.” Pasti kabur lagi ke rumahnya, huh”
Dia santai saja, sama sekali tidak
meneleponnya. Dia mempersiapkan diri untuk kuliah, masak sendiri seadanya.
Setelah makan, lalu berangkat.
“sama sekali Minho kun itu tidak
menghubungimu??,” tanya Kumiko. Akhirnya dia sendiri yang memancing pembicaraan
di depan ibu dan Akira, selain ada Aiko.
Terang saja Ibunya mereka dan Akira kaget
mendengar berita itu. Akira jadi emosi lagi.
“Minho kun itu sama sekali tidak
menghargai kita, Okaasan,”
Ibunya meminta untuk menahan diri, jangan
sampai terlalu emosi.
“kalian berdua sama sekali belum dewasa..
apalagi yang bisa dilakukan?? ,” tanya ibunya pada Aiko.
“aku akan hubungi orangtua Minho kun itu
jika mereka sama sekali juga tidak peduli dengan masalah ini,” lanjut ibunya
lagi.
Mereka semua diam. Ibunya akan berjanji
membicarakan ini segera dengan suaminya-Kohashi- jika dia sudah kembali ke
rumah dari tugasnya.
Aiko tetap berusaha pergi kuliah, dia
harus tetap melanjutkan kuliahnya dalam kondisi apapun.
.........................................
Di kampus....
Sorenya, dia bicara lagi dengan Myo. Myo
kaget dengan penjabaran teman baiknya itu.
“ya ampun.. aku sungguh enggak habis pikir,”
Myo menepuk dahinya sendiri, lalu dia memeluk Aiko.
“aku berharap yang terbaik untuk kalian...
ternyata... ini semua bisa saja terjadi,” katanya lagi. Dia terus memeluk Aiko,
berusaha menenangkan diri perempuan itu.
“Kamu sebaiknya tenang, Aiko-chan.. supaya
nanti anak mu sehat,”
Myo terus saja menghiburnya, menenangkan
hatinya.
Tak berapa lama, Minho dilihatnya datang
menghampiri mereka. Myo hanya berbisik pada Aiko yang masih memeluknya, kalau
Minho datang.
Aiko lalu melepas pelukannya, dia melihat
Minho berjalan menghampiri mereka, lalu berdiri di depan tempat duduk mereka.
“kenapa kamu pulang ke rumah orangtua
tanpa beritahu aku, Aiko chan??,” tanya Minho, tepat berdiri di depannya.
Aiko memandang Minho sebentar, lalu dia
berbicara seolah-olah Minho tidak ada di depannya,” aku ingin pulang ke
rumahku”
“sama sekali kamu tidak menghargai aku,
Aiko-chan.. kabur tanpa bilang apapun,” balas Minho dengan nada sedikit judes.
Myo langsung berdiri, dia benar-benar
sebal dengan Minho,” mana ada sih... kabur pakai bilang-bilang??”
Minho langsung sensitif dengan perkataan
Myo, tapi dia mencoba cuek dan tidak menanggapi, malah menoleh pada Aiko lagi,
memegang tangan perempuan itu.
“Ayo pulang.. kuliahmu.. sudah selesai
kan??,”
Aiko menggeleng saja.
“Ayo pulang, Aiko-chan.. aku tidak ingin
kesal,” kata Minho lagi, tegas. Berusaha membangunkan isterinya itu
“Aku tidak mau pulang... aku mau tinggal
saja dirumah orangtuaku,” jawab Aiko, dengan nada sedikit bergetar. Sebenarnya
dia mau menangis, tapi coba ditahannya.
Myo melarangnya, menepis tangan Minho,”
jangan kasar dengan Aiko-chan.. dia temanku”, sergahnya.
“dan dia isteriku.. aku lebih berhak
mengatur hidupnya daripada kamu,” jawab Minho dengan ketus sambil menatap tajam
wajah Myo.
Myo makin menantang, dia naikkan pundaknya
sedikit, menantang Minho yang jauh lebih tinggi darinya.
“Kamu tidak berhak menyakiti Aiko-chan..
walau dia isterimu,”
“apa urusanmu??,” tanya Minho, dia naikkan
alisnya, langsung wajahnya berubah jadi jutek.
“Aiko-chan.. kamu sudah cerita apa saja ke
dia??,” tanya Minho
Aiko diam saja.. Minho bertanya padanya
sekali lagi.
“Kamu.. jahat .. padaku!,” kata Aiko cepat
berdiri. Dia tidak peduli ketika itu, perutnya mendadak jadi sakit karena
berdiri secepat itu. Dia langsung berbalik arah dan berlari meninggalkan Minho,
dengan perutnya yang sakit karena terpaksa jalan cepat.
“Aiko-chan.. matte yo.. jangan lari begitu!,” Minho mengejarnya. Myo jadi ikutan
berlari di belakang mereka.
Aiko sama sekali tidak menoleh pada Minho,
dia sebenarnya sudah lelah berlari, tapi dia paksakan dirinya. Minho masih
kalah cepat berlari dibanding dia. Tepat di depan jalan dekat halte, sebuah bus
menurunkan penumpang, dia langsung naik tanpa menoleh sedikitpun pada Minho.
Minho ngos-ngosan mengejarnya, karena dia
memang tidak tahan berlari.
Aiko duduk di dekat jendela, dia hanya
bisa memandang Minho saja diluar. Dia hanya bisa menangis. Sementara Myo berada
beberapa meter di belakang Minho.
Minho menekuk kedua tangannya di lutut,
dia berusaha mengatur nafas karena berlari. Nafasnya ngos-ngosan.
“LIHAT KAN, MINHO-KUN..KAMU PUAS BUAT
AIKO-CHAN MENANGIS??!!??,” teriak Myo di belakang Minho
Minho berdiri, dia menoleh, masih mengolah
nafasnya supaya tidak ngos-ngosan lagi.
“Jadi.. kamu menyalahkanku, Myo kun??,”
tanya Minho
“Siapa lagi?? Kamu tidak tahu kan.. apa
yang sudah selama ini Aiko-chan ceritakan padaku? Kamu sudah menyiksa
perasaannya berkali-kali, Minho-kun!!,” teriak Myo lagi.
Minho berdiri mematung. Dia tidak sangka kalau
Myo berani mencampuri urusan rumahtangganya karena ternyata Aiko-chan sering
cerita padanya
“Kenapa?? Kamu kaget?? Aku sudah berteman
lama dengan Aiko-chan.. jadi.. apa yang sudah dia rasakan.. aku juga bisa
rasakan..,” ujar Myo lagi, dengan suara yang sinis padanya
Minho sungguh tersinggung dengan perkataan
Myo,” sama sekali bukan urusanmu”
“Ini urusanku! Aku tidak ingin temanku
menderita... Aiko-chan itu sangat mencintaimu ..dan kamu sama sekali tidak
punya pikiran.. kamu hanya mementingkan dirimu saja.. egois... kamu egois,
Minho-kun!”, balas Myo.
Minho diam. Dia marah, tapi diam. Ego nya
sebagai lelaki muncul, tetapi dia tidak tahu bagaimana harus melawan perkataan
Myo.
Minho dan Myo saling diam di halte itu,
berdiri saling berhadapan. Lama mereka saling memandang, aura mereka saling
beradu dan dingin, sedingin gunung es yang ada di kutub selatan.
Minho lalu meninggalkan Myo untuk
menghindari pertengkaran.
Myo hanya bisa memandang, ketika Minho
sudah jauh darinya, dia berteriak,”I
swear.. aku gak akan buat Aiko-chan sedih karena ulahmu, Minho-kun.. dia
teman baikku!!”
Minho kesal dengan hal ini, serasa dia
diinjak-injak harga dirinya oleh seorang perempuan. Dia meninggalkan Myo begitu
saja. Cukup lama Myo memandang Minho sampai cowok itu tidak lagi terlihat di
ujung jalan.
........................................
Aiko pulang ke rumahnya dengan menangis...
ternyata ayahnya pulang tugas dan memergoki dia di depan rumah masuk sambil
menangis. Dia tidak peduli pada situasi, langsung memeluk ayahnya.
“ada apa?,”tanya ayahnya dengan tegas.
Aiko lalu melepaskan pelukannya dan duduk
di depan Kohashi
“Minho-kun.. kejam padaku,” jawabnya
“Ceritakan.. aku tidak ingin
setengah-setengah,” kata Kohashi dengan tegas. Isteri Kohashi, Kumiko pun masuk
ke ruang tamu ketika mendengar suara tangis Aiko.
Mereka semua diam, hanya Aiko yang
bercerita, sampai selesai.
Kohashi sedikit menghela nafas,” kalian
benar-benar tidak dewasa dan hanya menghancurkan diri... kalian ingat
bukan..dengan perjanjian yang sudah ada??”
Aiko malah menghiba pada ayahnya itu,” aku
tidak ingin Minho-kun dihukum, Otoosan.. onegaishimasu
(aku mohon)”
“Kalian harus belajar,” jawab Kohashi
singkat, dia lalu mengambil handphonenya, ternyata ingin berbicara dengan
orangtua Minho.
Aiko menghiba-hiba, memeluk kakinya
Kohashi,”Otoosan.. aku mohon.. selesaikan saja antar keluarga.. jangan bawa
Minho-kun ke pengadilan.. “
“DIAM!,” teriak Kohashi.
Ibunya Aiko lalu menghampirinya dan
menyuruhnya melepaskan pelukan kaki ayahnya itu.
Aiko sudah pasrah, dia menangis tetapi
tidak dapat melawan. Kohashi menelepon Minho.
“Aku hanya berkata, kenapa Ichi-kun
memeluk dia dan membiarkan dia bilang jatuh cinta pada Aiko-chan...jelas aku
marah,” jawab Minho pada Kohashi ditelepon
“tidakkah kamu pertimbangkan psikologis nya??
Kamu tidak dewasa, Minho-kun! Aku ingatkan lagi tentang perjanjian itu,”
Kohashi bersuara benar-benar tegas.
“sh*t,” dalam hati Minho. Dia lupa dengan
hal itu.
“pikirkan hal itu dan aku akan bicara
dengan kedua orangtuamu,” kata Kohashi dan dia tutup teleponnya.
Minho pun duduk, dia pusing,
menggaruk-garuk kepalanya sendiri,”ARGHHHHHHHHH!!!!!!!”, teriaknya di dalam
rumah susunnya, lalu dia banting mobile
phone nya ke tembok.
“MENYEBALKAN! SEMUANYA MENYEBALKAN!!!,”
Dia lalu meletakkan kedua tangannya diatas
meja rendah, menekuknya dan menaruh wajahnya diatas tangannya itu...
menangis...
“menyebalkan,” keluhnya dalam tangis.
............................................
Kohashi begitu kesal dengan perlakuan
Minho pada anaknya. Dia menelepon kedua orangtua Minho dan marah dengan mereka.
“kalian tidak bisa mendidik anak,” kata
Kohashi pada keluarga Lee.
Kohashi memarahi panjang lebar apa yang
telah terjadi hubungan antara anaknya dan anak mereka. Lee bingung, sebab dia
tidak pernah merasa dicurhati anaknya sendiri tentang rumahtangga mereka. Lee
minta maaf atas kejadian ini dan berjanji akan cepat dibahas.
“Jika kalian tidak membahas masalah ini
secepatnya.. pengadilan menunggu.. sesuai dengan kesepakatan kita,” ancam
Kohashi.
Lee hanya mengangguk-angguk saja, menuruti
perintah besannya itu. Tanpa bicara panjang lebar, Kohashi pun menutup
teleponnya.
Minho
ditelepon kedua orangtuanya. Lee langsung marah besar dengan anaknya
itu.
“tidak puas kamu menyusahkan kedua
orangtuamu? Berhenti kuliah dan kembali ke Seoul!”
Minho mendengar itu bagai petir disiang
bolong. Dia tidak ingin kembali, dia hanya butuh waktu berfikir. Dia minta maaf
pada ayahnya dan akan berusaha menyelesaikan sendiri persoalan itu.
“aku tidak ingin bercerai..aku hanya ingin
berfikir dan merenggangkan dulu semuanya, Appa..”
“kamu berkilah, Minho...tidak pernah aku
temukan kamu berkilah seperti ini,” ujar Lee dengan nada marah.
“Appa...aku mohon waktu untuk berfikir..,”
balas Minho.
Ayahnya bersikeras kalau anak itu memang
salah. Dia tidak ingin nama baik keluarganya tercoreng.
“sama sekali tidak ada kedewasaan hidup!,”
bentak Lee
Minho meneteskan air matanya, dia minta
maaf.
Lee diam, dia kesal, lalu,” selesaikan
sendiri masalahmu...aku tidak ingin ikut campur lagi...tidak akan kubantu,”
Lalu...dia tutup telepon itu.
Minho diam. Dia makin termenung. Dia
menyisir rambut dengan tangannya, berfikir. Dia tidak ingin semua yang dia
sudah usahakan jadi hancur dengan dia kembali pulang. Dia lalu berjalan..... ke
rumah Aiko.
............................
Sampai di depan rumah besar itu, Minho
terdiam, antara ingin masuk atau hanya bisa memandang dari luar. Ibunya Aiko
yang sedang berada di depan, memergokinya.
“silahkan masuk,” kata ibunya Aiko.
Minho menunduk hormat padanya dan
berterima kasih. Dia lalu membuka pagar kayu yang bercat putih itu, menunduk
hormat sekali lagi pada ibu mertuanya.
Minho mengikuti ibu mertuanya masuk ruang
tamu. Ibu mertuanya mempersilahkan duduk. Tak berapa lama, ibu mertuanya itu
kembali dengan Kohashi.
Minho takut sekali menghadapi itu.
Kohashi duduk tegas dihadapannya,” kalau
kamu ingin mengakhirinya... selesaikan segera di pengadilan,”
Minho menunduk,”aku tidak
menginginkannya...aku ingin berfikir”
“berfikir untuk menyakiti hati anakku??
Tahu.. bayi siapa yang ada diperut anakku??,” tanya Kohashi.
Minho mengangguk,”aku dan dia”
“Lalu... kenapa kamu lari dari
tanggungjawabmu?,”
Minho terbata-bata,”tidak... aku..ingin..”
Belum sampai Minho pada perkataannya
dengan lengkap, Kohashi menggerakkan tangannya, mengangkat kerah baju Minho....
dan menggamparnya dengan keras!
“PLAK!!!!!!!!!!,”
Isteri Kohashi kaget,”Anata.. shinaide kudasai! (mohon jangan lakukan),” teriaknya, takut
sesuatu hal akan terjadi.
Kohashi tidak mendengar perkataan
isterinya sendiri, dia tetap menggampar Minho untuk kedua kalinya..
“PLAK!! MENANTU KURANG AJAR.... BAKA JYA NE! (jangan bodoh),” teriak
Kohashi, menggampar Minho berkali-kali.
Minho sama sekali tidak melawan, dia malah
meminta maaf berkali-kali sambil terus menunduk menghormat pada Kohashi.
Ibunya Aiko menjerit, terdengar oleh Aiko
dan Kumiko. Aiko kaget ketika menemukan Minho sedang ditampar berkali-kali
tanpa melawan pada ayahnya.
“Otoosan..
yamete kudasai..!,”
teriak Aiko, dia memegang tangan ayahnya supaya tidak menggampar Minho.
Kohasi mengeluarkan tenaganya dengan
keras, Aiko hampir jatuh terjerembab, untung saja dia berhasil berpegangan pada
Kumiko.
“Otoosan.. tolong hentikan!,” teriak
Kumiko pada ayahnya.
Akhirnya, Kohashi memberhentikan juga
tamparannya bertubi-tubi pada Minho. Ujung bibir kiri dan kanan Minho berdarah.
Dia mengelap pelan-pelan bibirnya sendiri.. tetapi Aiko langsung mencoba
berdiri dan membantunya.
“kamu tidak apa-apa??,” Aiko malah
mengeluarkan sapu tangan dari saku baju long dress nya dan mengelap pelan-pelan
ujung bibir Minho yang berdarah.
Minho mengeluh kesakitan,” perih sekali,
euh....ssshh”
“Kenapa masih saja kamu bela dia??,” kata
Kohashi.
Minho langsung menunduk hormat,”maafkan
aku, ayah mertua.. aku”
“Sama sekali aku tidak ingin Aiko tinggal
lagi bersamamu.. jadi.. pergi.. pikirkan tingkah laku mu sendiri pada anakku
selama ini!,” kata Kohashi lagi dengan suaranya yang tegas.
“Minho-kun..aku minta maaf...,” kata Aiko.
Dia antara bingung. Satu sisi dia menghargai Minho sebagai pasangannya, satu
sisi dia menderita tinggal dengan Minho yang belum dewasa dan kerjaannya ngambek terus.
“Mungkin.. kita harus pisah rumah
sementara, Aiko-chan.. aku harus berfikir kembali tentang hubungan ini,” kata
Minho, memegang telapak tangan Aiko yang masih mengelus ujung bibir Minho yang
tadi berdarah.
Aiko mengeluarkan air matanya, dia mencoba
menahan tangisnya, tetapi tidak bisa.
“Apa..kita akan berpisah?? Kenapa,
Minho-kun??,”
Minho diam saja.
“Jawab, Minho-kun.. aku pikir.. kamu
mencintaiku apa adanya..seperti janji kamu dulu... makanya aku tidak berfikir
panjang untuk mau menikah denganmu,” kata aiko lagi
Minho masih diam saja. Dia masih mencintai
perempuan itu, tetapi pikirannya kacau dengan kewajiban dan tanggungjawabnya
sebagai kepala rumahtangga.
“Aku mencintaimu, Aiko-chan... tetapi..
aku harus pergi .. aku ingin berfikir ulang..semua hubungan kita”
Kumiko, Ibunya hanya memandang mereka.
Sementara Kohashi memalingkan tubuhnya dari Minho.
Aiko akhirnya menangis kencang
tersedu-seduh juga. Dia membayangkan, perceraian bisa saja terjadi sementara
anak mereka masih ada dalam kandungan.
“Kamu jahat, Minho-kun... kamu jahat!
Sampai kapan kamu mau mengerti aku??!!,” teriak Aiko
Minho memeluknya, dia menangis,”Aku
sepertinya gagal mencintaimu..walau masih ingin selalu mencintaimu..dan anak
kita”
“kamu tidak semestinya bersikap seperti
itu, Minho-kun.. pergilah,” kata Kumiko.
Aiko masih menangis di pelukan Minho.
Minho mencium mahkota kepalanya.. lalu dia melepaskan pelukannya.
“aku minta maaf... aku harus pergi..,”
katanya masih berkaca-kaca
Aiko memandangnya, lalu Minho membalikkan
tubuhnya, berjalan keluar dari ruang tamu dengan sangat cepat.
Aiko berusaha mengejar dan menangkap
tangannya, tetapi Kumiko melarangnya.
“Sudah, Aiko-chan.. biarkan Minho-kun
berfikir lagi.. sudah.. kalian sebaiknya menenangkan diri dulu,”
Aiko memberontak dari pegangan tangan
Kumiko yang kencang,”TIDAK..AKU TETAP INGIN BERSAMA MINHO-KUN!!”
Minho sudah keluar rumah, dia cepat
berlari keluar rumah itu, langsung mencegat taxi yang lewat di depan jalan.
Aiko menepis dengan kencang genggaman
tangan Kumiko dan berlari menuju Minho yang sudah masuk taxi.
Taxi sudah terlanjur berjalan jauh.. di
depan pagar rumahnya, Aiko berteriak teriak.. dia tidak ingin Minho
meninggalkannya. Dia menangis kencang, air matanya deras mengalir. Sementara
didalam taxi, Minho menitikkan air matanya juga...
Bersambung ke part 32....