This is me....

Senin, Januari 13, 2014

Aku Bukan Bang Thoyib (Part 20: Aku Tidak Bersalah)

Semua kegiatan harus berjalan lancar walau Kwon yun benar benar marah dengan kejadian ini. Dia memaki maki Minho pagi itu dengan bahasa Korea nya dan lalu menelepon orangtua Minho. Dia enggak mau urusan karir dan perusahaan keluarga jadi hancur karena masalah ini.
Minho habis dimaki maki ayahnya pagi itu. Ayahnya gak nyangka juga anaknya bisa berbuat seperti itu, dan bukan hal yang begitu yang diharapkan keluarganya. Minho benar benar membela diri dan dia benar benar tidak meniduri sekretarisnya itu. Maki makian berakhir dengan Minho harus memecat Rima cepat cepat, sebelum ada yang tahu dengan kejadian itu. Mereka sampai takut kalau Rima suatu hari nanti hamil dan ketahuan oleh para staff yang lain.
Kwon yun masih memaki maki juga, sementara akhirnya dia meninggalkan Minho di ruangannya.
”tapi..kenapa Rima menyesal??bukannya kalau suka dan suka..tidak menyesal??,” Kwon yun sempat bingung


Waktu sudah menunjukkan jam 8 pagi, tapi Rima belum keluar kamar juga. Dia masih menyesali diri. Wajahnya benar benar sembab menangis.
”eh..kemana si bu Rima..kok gak makan disini?? Apa dia emang gak biasa sarapan?,”tanya seorang supervisor kepada Yudha. Dia penanggung jawab staff kalau lagi ada acara seperti ini.
”ntar deh gue lihat... mungkin emang bukan orang yang bisa sarapan,”jawab Yudha.
”hehe..liatin aja lu, cewek muna.. karir sama hidup lo dah ancur.. kasian dah lu..makanya, jadi cewek jangan sok suci gitu.. hahahaha,” Tina tertawa tawa dalam hatinya, dia benar benar menang.

Kwon mengetuk pintu bungalow yang Rima tempati.. Rima membuka pintu dan dilihatnya mata cewek itu sembab sekali..
”ijinkan aku masuk...aku ingin bicara,” kata Kwon yun, dengan nada yang terkesan dingin.
Rima mempersilahkannya masuk, mereka pun duduk di ruang tamu.
”aku sungguh tidak menyangka kalian bisa berbuat seperti ini,” kata kwon membuka pembicaraan
”i swear by God.. saya dan Minho tidak berbuat hal buruk seperti itu, Mr Kwon.. Minho sudah mengatakan yang sejujurnya,” balas Rima
”bagaimanapun juga.. hal ini memalukan,” balas Kwon,”segeralah berkemas.. aku akan mengantarkanmu pulang.. Ayah Minho sepakat.. kamu di pecat”
Tanpa basa basi lagi, dia lalu berdiri dan keluar bungalow yang Rima tempati.
Rima menunduk hormat pada Kwon.
”30 menit lagi aku tunggu, segeralah berkemas,” kata Kwon yun lagi, mengingatkan

Kwon lalu ke kamar Minho lagi..
”Rima will go home.. I’ll take her home,” katanya datar pada Minho.
“lemme carry her,” kata Minho, dia minta dia saja yang mengantarkan ceweknya pulang.
“you cant… just stay here and lead the meeting.. anyway, soon I’ll be back here again, perhaps it wont be traffic jam,” balas Kwon. Dia sendiri yang akan mengantarkan Rima dan kembali lagi untuk tetap menyelesaikan kerjaannya.
“I’ll say sorry to her,” kata Minho lagi.dia berjalan keluar bungalownya, tapi Kwon mencegah. Dia tidak ingin Rima tambah sakit. Kwon menceritakan kalau kondisi Rima sepertinya sangat terpukul atas kejadian itu, wajah dan matanya bengkak karena menagis.

“but.. we didn’t do anything, Kwon.. I swear.. I cant fire her!,” Minho masih saja membela diri.
“stop defending yourself, Minho,”Kwon masih sensitive, kenapa Minho selalu membela dirinya bahwa dia tidak melakukan apa apa dengan Rima, padahal jelas jelas kwon yun melihat hal yang membelalakkan matanya. Walau sebenarnya, dalam hati, Kwon juga sedikit ragu, apa hal itu benar benar terjadi?
“at least.. let me say goodbye to her,” kata Minho
“just stay here, pimpin meeting.. ,” balas Kwon lagi. Dia lalu keluar ruangan Minho dan menunggu Rima di dalam mobil nya.

Tanpa sengaja, Sheilla yang lagi iseng jalan jalan di taman sebelum jam kerja dimulai itu melihat Rima sedang membawa kopernya untuk pulang di antar Kwon.
”loh.. bu Rima kenapa?? Kok bawa koper??,” tanya Sheilla, dia menghampiri Rima.
”saya minta maaf, bu.. saya harus pulang.. saya sakit,” Rima mengelak pada Sheilla.
”oh,” balas Sheilla,”lalu nanti Mr Lee.. siapa yang urus laporannya? Sebentar lagi rapat dimulai”
”muka mu pucat sekali, Bu,” lanjutnya lagi
Rima senyum,”iya, bu...saya sakit daritadi malam.. jadi, saya minta ijin sama Mr Lee untuk pulang. Saya sudah sediakan semua filenya dan tinggal digabungkan saja dengan punya divisi lain. Begitu juga sama rencana kerja tahunannya”
”aduh..sayang banget sih sakit.. moga lekas sembuh ya, bu.. jangan kelamaan sakit.. kasian loh, Mr Lee nya.. nanti ikutan sakit loh.. kalian kan.. mirip banget suami isteri, hehe,”Sheilla malah bercanda.
”bu Sheilla bisa aja,” jawab Rima, senyum,”saya pamit ya, bu..terima kasih”
Sheilla gak nyangka kalau itu adalah hari kerja terakhir Rima.

Rima pulang diantar Kwon. Kwon yun lebih banyak diam di jalan, yang biasanya dia sangat talkative dengannya.
”aku minta maaf.. ini adalah keputusan akhir kami,” kata Kwon membuka pembicaraan ketika di tengah perjalanan
”saya tahu, Mr Kwon.. saya siap menerima resikonya..,” Rima suaranya lemah menjawab perkataan Kwon
”dalam tradisi kami.. jika sudah begini.. kalian harus menikah.. tapi.. kami dan kalian berbeda..kami akan bicarakan dengan pak hamid segera,” balas Kwon lagi
Rima kaget.. bisa bisa dia beneran bakalan di bunuh ayahnya kalau ayahnya tahu apa yang telah terjadi.
Rima menunduk, dia menangis,”saya dan Minho.. tidak melakukan apa apa, Mr Kwon.. aku membantunya berbaring karena dia mengeluh sakit kepala hebat.. lalu, tiba tiba.. saya pun jatuh dan tidak ingat apa apa lagi,”
”umm,”Kwon bergumam,”jika memang begitu.. kenapa Minho tidak pakai baju dan baju mu juga berantakan?? Apa bisa semuanya terjadi sendiri seperti hantu?”
”saya tidak ingin ayah saya tahu, Mr Kwon.. tolong simpan saja cerita ini,” Rima menghiba padanya, dia benar benar bingung, sedih, kalut.
”Mr Lee senior tidak suka anaknya tidak bertanggung jawab. Hal kemarin malam sudah seperti nasi menjadi bubur. Tolong jangan membuat keluarga Lee menjadi lebih buruk dengan menjadikan anaknya Mr Lee tidak bertanggung jawab.. kamu memang dipecat, tetapi kami akan membicarakan hal lain agar keluarga Lee tidak menanggung malu”, balas Kwon sambil lurus tetap menyetir
”ayah saya.. akan menghukum saya caranya kalau begini, Mr Kwon,” Rima masih menangis terisak
”nasi sudah menjadi bubur..aku akan ceritakan jujur apa adanya pada Pak hamid,” balas Kwon. Mereka lalu saling diam sampai di rumah beh Hamid.

Mereka sampai di rumah beh Hamid. Sampai di depan rumah, beh Hamid bingung, kenapa anaknya kok pulang cepat, katanya 3 hari 2 malam disana.
Tiba tiba Rima menangis dan minta ampun di kaki ayahnya
”beh.. maafin aye, beh.. bunuh aja aye daripada keluarga kite malu,” katanya menangis memeluk kaki ayahnya
”apa apaan eni??,” beh hamid heran lihat anaknya mendadak nangis kencang
Kwon berdiri di depan beh hamid, dia menunduk hormat pada orangtua itu.
”pak hamid..aku datang ke sini mengantarkan Rima ..untuk tidak lagi bekerja di perusahaan kami,”
”apaan sih??lu kenape sampe begini?? Eh Kwon, lu ceritain ame gue..kenape anak gue mpe mewek kejer begini,” kata beh Hamid penasaran
Lalu Kwon meminta beh Hamid bicara dalam bahasa Indonesia, sebab dia hanya mengerti bahasa itu
Rima malah memohon Kwon supaya gak cerita. Beh Hamid marah.
”Lu mau ngumpetin apa apa di depan gue?? Jangan jadi anak durhake lu!”, bentak beh Hamid pada anaknya.
“Pak Hamid.. sabar..akan aku jelaskan,” kata Kwon
“jelasin..gua mau tau,” balas beh Hamid.
Rima masih menangis. Dia lalu duduk.. semuanya duduk..termasuk juga Salma, isteri beh Hamid.

”Minho dan Rima..sudah melakukan sesuatu yang diluar kewajaran,” kata Kwon memulai pembicaraan.
”Maksud lu?,” tanya beh Hamid.
Rima tidak tahan mendengarnya, dia menjerit, nangis lalu langsung masuk kamar.
Beh Hamid berdiri dan ingin masuk kamar anaknya, supaya Rima ditarik kembali ke ruang tamu.. tapi Kwon mencegah..biar dia menangis saja dikamarnya..
Beh Hamid duduk lagi..
”tadi malam...mereka sudah tidur bersama..,”Kwon menghela nafas mengatakannya,”aku..menemukan mereka paginya..dalam satu selimut”
Beh Hamid syok..kaget berat,”APE??KURANG AJAR TU ANAK BEDUE..!!”
Dia lalu bangun dari duduknya dan pergi ke kamar Rima..dia tarik tarik anak nya sendiri..di seretnya di depan Kwon, lalu dia pukul anak nya itu pakai gagang sapu
Rima mengaduh kesakitan, dia menangis, meraung raung minta maaf pada ayahnya..
”Beh...maafin aye, beehh... bukan salah aye,” katanya, dia memegang kaki ayahnya, tapi beh Hamid terus memukulnya pakai gagang sapu, walau dia sudah menangis minta maaf berkali kali.
Kwon sangat kasihan melihat itu..minta jangan beh Hamid memukul anaknya sendiri.

”GUE BILANG JUGA APE?? JANGAN LU DEKET DEKET BANGET AME SI MUKE KOTAK NTU! SEKARANG LU UDEH MELANGGAR PERINTAH TUHAN.. LU ANAK BANGOR.. PEGI LU DARI SINI!!,” beh Hamid kembali memukul anaknya dengan gagang sapu berkali kali sampai badan Rima biru biru.
Kwon akhirnya mencegah beh Hamid dengan memegang gagang sapu itu,”sudah, Pak.. sudah! Ini tidak baik.. jangan dipukul lagi!”
”beh..udah beh..,” Salma memohon mohon anaknya tidak dipukul lagi
”apaan?? Anak lu dah bezine.. malu gue punya anak macem gini.. mendingan gue usir! Mendingan gue keilangan anak satu daripade malu maluin keluarge! Pegi lu dari sini.. pegi!,” beh Hamid menendang anaknya sendiri.

Badan Rima biru biru dipukul gagang sapu oleh beh Hamid. Kwon berjongkok di depannya,”kamu..baik baik kan??”, dia cukup khawatir juga melihat Rima sudah kesakitan digebukin,”habis ini..kita ke Rumah sakit,” kata Kwon lagi.
Rima Cuma menggeleng, menolak.
”PEGI LU DARI SINI! LU BUKAN ANAK GUE LAGI!!,” beh Hamid menendangnya sekali lagi.
Rima diam saja ditendang, dia gak melawan. Badannya sudah sakit, biru biru dipukulin ayahnya sendiri. Dia meringis ringis kesakitan sambil tetap minta ampun sama ayahnya.
Kwon jadi membela Rima,”SUDAH, PAK HAMID..SUDAH!”
Hamid jadi marah juga dengan Kwon,”apa apaan lu ikutan ngebelain anak gue?? Kayak begituan udah budaya lu..bukan budaya keluarga gue.. jadi pantes kalo gue usir anak kayak begini!”
Salma nangis,”udah, beh.. kali..die kagak sengaje!”
”Kagak sengaje dari Korea!! Awas lu ngebela anak lu kendiri..gue usir lu bedue!,” beh Hamid masih sangat marah. Dia menendang meja. Tumpah semua minuman dan kue yang tadi disediakan Salma untuk Kwon.
Kwon benar benar kaget dengan marahnya beh Hamid.
Rima terus dipukul pakai gagang sapu, ditendang, badannya benar benar babak belur, biru biru, mukanya sembab digamparin, dan ujung bibirnya luka karena digampar.

”Pak hamid..saya mohon..cukup! saya tetap akan membela anak bapak, Rima..karena saya fikir..dia tidak bersalah..dia orang baik.. mungkin sepupu saya, Minho yang salah,” Kwon menunduk hormat pada beh Hamid, memohon supaya Rima tidak dihukum lagi.
”simpen nunduk nunduk lu..gue kagak peduli!,” balas beh Hamid, kasar.
Lalu dia masuk kamar Rima, mengeluarkan semua baju baju, dilemparnya ke luar kamar..
Dia bawa beberapa potong baju ke depan Rima dan dilempar ke mukanya,”PEGI LU! JANGAN NONGOL LAGI DEPAN MATA GUE! ANAK DURHAKE!”
Dia benar benar mengusir Rima, anaknya sendiri.
Salma nangis,”Beh..udah, beh..anak kite mau kemane kalo diusir??,”
”Jangan lu pernah bela pezine..walo anak lu kendiri!,” beh Hamid gantian bentak isterinya sendiri.
”PEGI LU! GUE KAGAK MAU LAGI LIAT MUKE LU! DIKELUARGE GUE KAGAK ADE PEZINE MACEM LU!,” beh Hamid teriak mengusir Rima.

Salma nangis, mohon mohon suaminya jangan usir anak perempuan satu satunya itu.
”mendingan gue kagak punya anak perempuan daripade kayak die..!,” beh Hamid marah pada isterinya,”jangan lu bela bela die!!”
”buruan lu pegi!,” lalu dia bentak Rima.
Rima masih biru biru dan luka, dia memungut baju baju yang tadi dilempar ke mukanya,dia lalu masuk kamar. Kwon yun sedih melihat pemandangan itu.
”kalau dia benar diusir... biarlah dia tinggal di rumah sewa ku saja, bersama Mulyani”, kata Kwon dalam hatinya. Mulyani adalah pembantunya.

”bilang sama si Minho.. sekali lagi die kesini.. gue gibeng tu bocah! Gue patahin lehernye! Kagak ada tanggung jawabnye!!,” dia marah pada Kwon yun
Kwon Yun menunduk hormat,”akan saya selesaikan urusan ini dengan Minho, pak Hamid.. saya sudah katakan bahwa Minho harus bertanggung jawab,” balas Kwon kalem.
”mane tanggung jawabnye?? Sialan tu bocah!,” beh Hamid maki maki Minho. Kwon yun yang jadi bemper nya Minho Cuma menunduk saja. Dia tahu sepupunya salah, tapi juga harus menghadapi pekerjaannya.

Salma masuk ke dalam kamar Rima. Dia mengelus elus kepala anaknya
”kenape lu jadi gini sama si mister?? Emang lu ngapain ame die??,” dia nangis di depan anaknya
”aye kagak ngapa ngapain, Nyak..aye juga kaget.. pas bangun, Minho udah ade di samping aye.. kagak bebaju”, Rima masih nangis dan berusaha bicara, sambil dia masuk masukin baju bajunya ke tas
”lu kenape gak bilang ame babeh lu.. kalo lu kagak salah??,” Salma sedih bener anaknya di gebukin abis abisan sama suaminya sendiri.
”aye gak bisa ngelawan babeh, Nyak,” balas Rima. Dia pun cepat cepat pergi
”lu jangan pegi... lu mau pegi kemane??,” Salma sesegukan, dia peluk anaknya
Rima senyum pahit sambil masih meringis kesakitan akibat digebukin tadi,”gak tau, Nyak.. aye pergi aja dulu..aye pamit, Nyak,” lalu dia cium tangan ibunya.

Dia berdiri dan membawa tas nya keluar. Salma nangis, dia mencegah anaknya pergi.
”lu jangan pegi, Rima.. gue ama sape?? Lu perempuan..gue takut lu kenape nape dijalan,” salma pegang tangan anaknya
”aye pegi, Beh.. Nyak.. maafin aye, gak bise jadi anak babeh dan nyak nyang baek..,” Rima menunduk mencium tangan ayahnya, tapi beh Hamid langsung menepis tangannya sendiri, tidak mau dicium anaknya.
Kwon masih berdiri di depan mereka, dia ikut sedih.
Rima tanpa ba bi bu pada Kwon dan tanpa melihatnya lagi, langsung pergi meninggalkan rumah.
Beh Hamid diam aja, dia masih marah. Salma nangis lihat anaknya pergi.
”Lu tega ma anak kendiri!! Kalo anak lu diapa apain orang di jalan gimane??,” dia teriak ke suaminya sendiri, beh Hamid
Kwon diam saja. Dia masih disitu, Rima sudah pergi.
Salma lari keluar, dia panggil panggil anaknya
”RIMEEEEE... LU MAU KEMANE???”, dia kejar anaknya, tapi Rima sama sekali tidak menoleh.
Para tetangga bingung lihat Rima babak belur
”ntu kenape si Rime?? ,” kata ibunya Ipul
”eh.. ngapain juge si Salme ngejar ngejar??,” lanjutnya lagi
Rima terus menunduk sambil jalan, lalu dia mencegah angkot... dan pergi..
Salma nangis di jalan anaknya pergi... Ibunya ipul dan para tetangga bingung..
”kenape, Mpok? Si Rime kenape??,” ibunya Ipul berusaha menenangkan
Salma sesegukan,”anak gue.. diusir laki gue kendiri, huhuhuhu”
Ibunya ipul istighfar,”astaghfirulloh.. kenape, Mpok?? Udah.. masup dulu ke rumah aye..tenangin diri dulu,”
Ibunya Ipul merangkul salma, mengajak masuk ke rumahnya.

Kwon pamit,”saya.. undur diri.. akan saya selesaikan urusan ini antar keluarga.. saya atas nama keluarga Lee minta maaf,”
”pegi lu,” balas beh Hamid, singkat.
Kwon menunduk hormat dan pergi..

Dia langsung jalan cepat ke mobil.. beberapa tetangga Rima yang melihat kejadian Rima babak belur dan jalan masuk angkot, langsung dia tanya, nomor angkot berapa yang Rima naiki.. dia pun langsung ngebut begitu tahu jalurnya.. mengejar angkot tersebut.
Dia mengikuti jalur angkot yang dibilang..sampai ke terminal terakhir. Lalu dia sibuk mencari cari Rima, bertanya tanya dengan orang orang, apa mereka melihat seorang wanita berjilbab yang babak belur dan dia menunjukkan foto Rima yang asli. Beberapa orang yang dia tanya menggeleng.
”kasihan Rima..aku harus temukan dia,” kata Kwon dalam hatinya, dia khawatir
Dia lalu telepon Minho dan mengomel ngomel dalam bahasa korea pada sepupunya itu. Dia bilang Rima habis digebukin orangtuanya sendiri, lalu diusir dan sekarang dia sedang mencari cewek itu.
Minho gusar, galau mengetahui apa yang dikabarkan kwon. Dia merasa bersalah dan ingin buru buru menyelesaikan tugasnya. Kwon melarangnya, Minho harus tetap kerja, sementara Kwon akan mencarinya di seputar terminal ini.

Tiba tiba ada beberapa orang perempuan teriak teriak dekat warung di pinggiran terminal,”Tolong!! ada cewek pingsan!”
Orang orang langsung berkumpul.
Kwon langsung sadar diri dan dia menuju kerumunan itu.
”Rima!,” dia langsung menyerobot banyak orang, masuk dalam kerumunan dan menghampiri Rima yang pingsan.
”dia pacar saya.. saya harus bawa pulang.. kakak.. tolong bantu saya bawa tas nya,” Kwon minta tolong pada cewek tadi yang teriak
Kwon langsung membopong Rima ke parkiran terminal, dimana dia parkir mobilnya, sementara tas nya di bawa cewek yang tadi teriak.
”terima kasih, kakak... mau membantu,” Kwon menunduk hormat pada cewek itu
Cewek itu kritik dia,”kalo punya cewek.. di jaga dong.. kasian lagi.. babak belur gitu,” ternyata cewek itu penjual minuman dingin di warung kecil itu dan Rima belum bayar minumannya, sudah keburu pingsan.
Kwon mengeluarkan uang 50 ribu an,”ini..saya bayar minum nya dia.. terima kasih”
Dia pun langsung keluar dari terminal dan pergi ke rumah sewanya.

Ditengah jalan, Kwon menghela nafas berkali kali, melihat Rima yang masih pingsan,dia duduk kan disebelahnya.
Kwon lalu mengelus elus kepala Rima yang ditutupi jilbab,”Kasihan kamu.. aku harus buat Minho bertanggung jawab pada kamu.. atau.. aku juga bersedia menjadi suami mu.. kamu perempuan baik.. aku akan benci Minho kalau dia tidak bertanggung jawab pada mu.”
Sampai di rumah sewanya, Mulyani, pembantunya kaget, kenapa Kwon bawa cewek pingsan. Kwon menjelaskan kalau Rima temannya dan tolong Mulyani membersihkan kamar kosong yang ada di sebelah kamar Kwon.
Mulyani langsung sigap membersihkan kamar itu, Rima pun dipindahkan dari kamar Kwon ke kamar yang sudah disediakan.
”kasihan sekali mbak ini ya, Mr Kwon..,” Mulyani membersihkan luka luka memarnya
Kwon mengangguk,”iya.. kamu..bisa bantu aku bersihkan badannya kan? Aku keluar dulu.. aku harus kembali ke puncak.. ”
”sebaiknya Mr jangan pergi dulu.. nanti Mbak Rima bingung.. tunggu sampai sadar,” senyum Mulyani. Dia memang pembantu yang baik.
”ya.. baiklah..sekarang.. aku minta tolong bersihkan badan dan luka luka memarnya, kasihan. Kalau perlu, aku bawa saja ke rumah sakit atau panggil dokter ke sini...tolong telepon dokter,” jawab Kwon
Mulyani mengangguk, Kwon keluar kamar yang di gunakan Rima. Dia lalu duduk di ruang keluarga yang sepi.
Dia sandarkan kepalanya di sofa, kepalanya menengadah ke langit langit,”haaaa... hidup.. selalu ada saja hal menyesakkan,”

”lelah,” keluh Kwon,”tapi.. aku benar benar cinta sama Rima.. aku yang akan ada disampingnya kalau Minho menolak”
Dia pun ketiduran karena capek ngurusin masalah ini.
Tak berapa lama, Mulyani membangunkannya.
Kwon yun kaget, karena di depannya sudah ada seorang dokter.
”Ini dokternya, Mr Kwon,” kata Mulyani ramah
Kwon bangun dari setengah sadarnya karena ketiduran, dia ramah menyambut dokter perempuan yang kebetulan berjilbab pula. Mereka pun masuk kamar Rima yang masih pingsan.
”aduh.. kasian sekali.. memar memar.. ,” kata dokter itu, duduk di samping Rima
Dia lalu memasang stetoskopnya dan mengukur nadi Rima.
”shock, Tuan.. ibu Rima mengalami shock hebat,” kata dokter itu
”iya.. dia baru saja dianiaya ayahnya sendiri,” jawab kwon yun
”kasian sekali,” balas dokter itu, dia lalu menulis resep.
”ini saya berikan antibiotik dan obat penenang. Luka memarnya juga bisa dikompres, lalu, tolong berikan banyak cairan juga buah buahan.. biar tidak dehidrasi.. dan.. tolong dijaga perasaannya,” senyum bu dokter yang ramah itu
Kwon menunduk hormat padanya,”baik.. terima kasih, bu dokter”
”jika ada bantuan, bisa menghubungi klinik saya,” senyum bu dokter itu ramah
Kwon menunduk hormat, dokter itu pun pergi.

Kwon memandang Rima yang sudah dibersihkan dan diganti bajunya oleh Mulyani.
”Mul.. kamu disini saja ya.. jika kamu tidak ada waktu memasak, kamu pergi saja beli diluar.. ,” kata nya pada pembantunya
”saya.. bisa masak kok, Mr.. ini lagi sambil masak,” jawab Mulyani.
Kwon lalu menyuruh pembantunya masak, dia akan menemani Rima di kamar itu.
Kwon sibuk memandangnya, lalu memberanikan diri mengelus elus kepala Rima yang dia diam saja.. belum sadar juga.
Lalu dia pun memegang tangan Rima
”tangannya dingin sekali.. dia benar benar trauma, shocked,” kata Kwon dalam hatinya
”aku minta maaf memegang tanganmu.. aku cinta kamu, Rima,” kata Kwon lembut

Tak berapa lama, dia pun menelepon Minho.
Dia kembali mengomel ketika Minho lama tidak mengangkat teleponnya.
”pacarmu pingsan,” katanya ngomel,”kamu benar benar tidak peduli lagi padanya,”
”aku tidak begitu,” balas Minho,”aku akan cepat ke sana malam ini... karena besok mereka pulang”
”cepat kesini..atau kamu tidak akan pernah lagi bisa melihatnya,” balas kwon yun, judes. Dia langsung tutup teleponnya lagi.

Ayah Minho tak berapa lama menelepon dirinya (ceritanya dalam bahasa Korea.. maaf pemirsa, bahasa korea ku payah.. hehehehe)
”Appa.. aku minta maaf,” kata Minho menyesal,”aku benar benar tidak melakukannya”
”kamu harus bertanggung jawab.. jangan membuat malu keluarga,” jawab ayahnya
Minho bertanya pada ayahnya, apa yang harus dia lakukan, karena dia sudah memecat sekretarisnya itu. Dia pun mengadu kalau sekretarisnya itu diusir lalu dipukuli orangtuanya. Ayahnya terlihat biasa saja.
”kalau kamu masih suka dengannya, kamu harus berani hidup bersama dia,”kata ayahnya,”tapi itu tidak mudah,”lanjut ayahnya lagi.
”aku akan menikahi dia, Appa.. ,”kata Minho,”aku sudah janji”
”menikah tidak semudah itu,” balas ayahnya datar,”bagaimanapun.. aku tetap lebih setuju dengan orang yang sebangsa”
”Appa.. ini keterlaluan..jika memang aku harus bertanggung jawab... menikahi dia jadi tanggung jawabku untuk dia,” balas Minho
”akan kami pertimbangkan,” balas Ayahnya.
Minho kecewa. Tapi dia berusaha untuk awal menerima pertimbangan ayahnya.

Kwon mendatangi lagi kamar tempat Rima. Mulyani masih menemaninya.
”sudah bangun?,” tanya Kwon, dia membuka pintu
Ternyata Rima sudah sadar. Kwon menghampirinya dan senyum.
”Cuma diam saja, Mr,” kata mulyani
”mau makan?,” tanya Kwon pada pembantunya itu
”iya.. tapi sedikit,” jawab Mulyani lagi, sambil berusaha menyuapinya.
Rima duduk bersandar bantal. Dia pelan pelan disuapi Mulyani. Tatapannya kosong.
Kwon mengelus pipinya,”kamu harus kuat ya”
”kasian ya.. ayahnya tega sekali,” kata Mulyani
”sebenarnya ayah yang baik..dia tidak suka anaknya berbuat buruk.. tapi..aku yakin dia tidak seburuk ini,” kata Kwon
”aku harus kembali.. kamu jaga dia ya,” lanjutnya
Mulyani mengangguk, melanjutkan menyuapi Rima yang terlihat kosong.

”you should know her condition, she’s stressed, depressed, she cant talk, just keeps quiet, it’s because of you, Minho!! (kamu harus tahu kondisinya.. dia depresi, stress sama sekali tidak mau bicara..Cuma diam saja..kamu yang salah!-red),” Kwon langsung menuduh Minho ketika dia kembali ke bungalow. Mereka bicara di bungalow nya Minho. Sementara staff lain di bungalow besar.
”I am not guilty, i’ve told you before that i didnt do anything to her! (aku tidak salah..aku bilang.. aku tidak tahu apa apa!-red),” Minho lagi lagi membela dirinya
”we must go back to the city to night, our job is well done, right??(nanti malam harus langsung kembali.. pekerjaan sudah selesai bukan?-red),” tanya Kwon
Minho mengangguk.
”Tell Tina and Yudha that they must join all the reports, and it must be presented, the did it, right??,” tanya Kwon lagi
Minho mengangguk.
”good.. kalau begitu. Kita pulang malam ini..biar mereka bekerja sampai besok pagi baru pulang,” lanjut Kwon, dia lalu keluar lagi
”can i meet her?,” tanya Minho pada kwon
”tidak tahu,” balas Kwon, tanpa memperhatikannya, karena sudah membelakangi Minho, menuju pintu luar

”I must go back home to night,” kata Minho pada Yudha,”tolong bantu saya selesaikan sisanya,”
Yudha mengangguk
“ah.. this is my secretary’s future plans, she’s sick so she couldn’t continue.. perhaps Tina already informed you”, Minho berdalih bahwa Rima sakit dan minta tolong Yudha membantu menggabungkan laporannya bersama yang lain.
Minho dan Kwon meninggalkan puncak malam itu juga..dia naik mobil Kwon, tidak naik mobil nya, Sur disuruhnya pulang besok.

Minho dan Kwon sampai di rumah Kwon…
Minho langsung menuju kamar disebelah Kwon yang dipakai untuk Rima istirahat.
Dia melihat Rima yang hanya diam saja seperti orang bingung.. Minho sedih sekali..
Dia memegang tangan Rima,”Rima.. i am sorry,”
Tapi Rima diam saja..
”sudah mau bicara?,” tanya Kwon pada Mulyani
Mulyani menggeleng,”tidak mau, Mister.. ini saja saya paksa makan malam”
Minho duduk berjongkok di depannya,”aku minta maaf,” dia menunduk sambil memegang tangan Rima
”see? She’s depressed.. you see her face and body.. bruised. Doc gave her some antibiotics and also anti depressant drugs,” kata Kwon. Dia kesal dengan sepupunya sendiri.

“Rima?? It’s me.. Minho..,” Minho berharap Rima mendengar suaranya
Tapi Rima diam saja.. tatapan matanya masih kosong..seolah olah tidak ada Minho yang berjongkok di depannya, hanya ada dia sendiri di ruangan itu.
Minho mengelus elus kepalanya.. dia sudah berkaca kaca..
Minho berkali kali memanggil Rima, tapi dia diam saja..
Akhirnya Minho memeluknya..”aku minta maaf,”
Kwon ingin memisahkannya, tetapi ternyata, Minho menangis..
Kwon pun tidak jadi memisahkannya. Dia memandang terus Minho yang menangis tanpa sesegukan.. sambil memeluk pacarnya itu..
”you must heal her, Minho.. no matter what.. she’s depressed,” kata Kwon
Minho diam.. air matanya masih menetes sampai membasahi pundak Rima.
“ah.. sudah lah.. nanti saja,” kwon yun mencolek pembantunya, supaya meninggalkan mereka.

Minho keluar kamar dengan mata sudah berkantung..
Dia lalu duduk disamping Kwon yang sedang merebahkan kepalanya.
”I am gonna marry her,” kata Minho datar
“are you sure your father allows it?,” Tanya Kwon, tanpa menoleh padanya, matanya masih terpejam
“I don’t care..,” balas Minho,”I’ll go to her father’s home tomorrow,”
“it’s dangerous.. don’t you see her? She’s bruised, black and blue,” kata Kwon. Dia menyuruh Minho hati hati karena melihat Rima dipukul babak belur sama ayahnya sendiri. Jadi dia takut sepupunya juga bakalan habis dihajar beh Hamid.
”think twice,” lanjutnya lagi. Menyuruh Minho berfikir dua kali. Dia bilang lebih baik sembuhkan dulu depresi pacarnya, baru nanti menghadap beh Hamid.
”she’s driven out from home.. his father will never accept her nomore.. she’s accused to commit adultery with you,” lanjut Kwon lagi, menjelaskan pada Minho kalau pacarnya itu dituduh ayahnya sendiri berbuat zina dengan Minho, itu sebabnya dia dihajar habis habisan.

“is it.. because you told him that we did wrong right??,” Tanya Minho balik
“I never thought her father would be so cruel.. would persecute her so bad.. I am sorry,” Kwon menoleh pada Minho, tatapan matanya menyesal
Minho mengangkat Kwon lalu menonjoknya.
“buk!,”suara tonjokan Minho
“you are really bastard, kwon!!,” Minho memaki sambil menonjok Kwon kencang.
Kwon yun jatuh, Minho masih memaksanya berdiri, mengangkat bajunya dan menonjoknya lagi.
Kwon melawan,”I am not guilty!”, dia gantian menonjok Minho.
Mereka berkelahi…
Mulyani panic.. dia teriak teriak..
”Mister.. udah mister!,” dia berusaha menarik Kwon yang menonjok Minho berkali kali.
Kwon masih menonjoknya.. Mulyani menarik terus baju Kwon..akhirnya, emosi Kwon redam juga.. dia mengendor kendorkan tangannya.. pegal total habis menonjok Minho.
Mulut Minho berdarah,”i saekki ya!”, katanya pelan tapi memaki maki pada Kwon.
”sudah, Mister.. jangan ribut... nanti Mbak Rima nya tambah setres,” kata Mulyani
Kwon menurut juga kata pembantunya itu,”sialan kau, Minho!”
Minho menjaga jarak dengannya. Mereka duduk berjauh jauhan.

Mulyani memberikan keduanya minum air dingin.
Mereka masih diam diaman..
Akhirnya Minho baru buka suaranya..,”I’ll bring her to my home,”
Kwon diam saja..
Minho berkata lagi yang sama.
”up to you,” jawab Kwon,”but if you cant take care of her, I’ll bring her here again”
“and oh..dont forget.. better tomorrow you don’t go there.. just take care of her and make her healthy 1st.. then, you go to her parent’s house”, lanjut Kwon
Minho pun mikir, walau dia masih kesal dengan sepupunya itu, dia pertimbangkan untuk mengurus Rima dulu, tanpa bilang beh Hamid, dimana anaknya berada sekarang.

Hari sudah larut malam.. Minho pun membawa Rima ke rumahnya, dengan mobil Kwon.
Suminah kaget dengan kondisi Rima yang seperti itu, dia buru buru membantu Minho.
”tolong... jaga dia,” kata Minho pada suminah
”iya, Mister,” jawab Suminah. Dia membaringkan Rima. Rima sama sekali tidak bicara, matanya terbuka tapi diam saja.
”aduh mbak.. kasian banget dirimu..,” kata Suminah pelan
”tidur ya, mbak.. ,” Suminah menarik selimut untuk Rima.
Minho masuk lagi ke kamar itu,”suminah..just leave us,” dia minta suminah meninggalkannya dan Rima.
Suminah pun keluar.

Minho menarik tangan Rima keluar dari selimut, dia memegang tangan pacarnya itu.
”Rima.. it’s me, Minho..,” katanya tetap memegang tangannya.
Rima tetap berbaring, tapi matanya tetap terbuka,tetap diam, menatap kosong.
Minho keluar lagi air matanya, dia menengadahkan kepalanya supaya tidak menangis, lalu dia senyum pada Rima.
”you must be healthy, Rima.. and then.. I will make you happy,” senyumnya pada pacarnya itu
Dia terus terusan mengelus elus kepala Rima yang berbalut kerudung.
Minho ngobrol dengan Rima yang diam saja. Dia cerita hubungan mereka dari awal dia kerja di perusahaannya, gimana dia senang punya sekretaris sepertinya, semua dia ceritakan, supaya Rima mendengarnya.
Tapi tetap saja Rima menatap kosong tanpa ekspresi.
Minho sudah lelah..dia pun tertidur duduk yang kursinya ada di samping tempat tidur Rima..dengan masih menggenggam tangannya..

Hari hari berlalu..
Setiap pagi, Minho sudah rajin bicara ramah dengan Rima, walau Rima diam saja, Minho tetap manis padanya.
Begitu juga saat mau berangkat kerja, dia masih ramah. Seolah olah Rima bicara padanya.
”aku pergi dulu, Rima sayang,” Minho mengelus kepalanya. Rima ditemani Suminah yang mendorongnya duduk berjemur matahari di halaman.
Rima tetap diam saja
”Mbak.. Mr Lee berangkat kerja dulu ya,” kata Suminah.
Sur dan Minho pergi kerja..

”hahahaha..akhirnya .. gue bisa juga jadi sekretarisnya si Minho!,” Tina pagi pagi sudah telepon pacarnya, raffi
”weeehhh... hebaaatttt.. trus.. tu cewek muna kemana??,” tanya raffi
meneketempe (mana aku tahu-red),” balas Tina enteng
”mampus tu cewek.. jadi..lu berhasil dong?? Cekeeep,” Raffi senang dengan kelakuan jahat pacarnya itu
”iya dong.. gue gitchu loh,” balas Tina,”kasiaan dah tu cewek muna”
Tina sama sekali enggak tahu kalau Rima depresi dan tinggal di rumah Minho. Dirawat oleh Suminah, isteri suryanto, supir Minho. Minho berkata pada Sur supaya menyembunyikan peristiwa ini, agar Sur tutup mulut.
Kwon yun pun punya sekretaris baru lagi, karena Minho butuh sekretaris segera, maka dia menarik Tina.
”lu ..apa bisa sabar sama ngomelnya tu cowok?? Bukannya si Minho itu cerewet dan maunya super cepat?,” tanya Raffi
”yang penting pedekate dulu, boss.. urusan berikutnya beda lagi, hahaha,” Tina tertawa
”terserah lu dah,” balas Raffi. Mereka ngobrol ngobrol malam minggu mau ketemu dimana.
Setelah itu, percakapan selesai, tapi Tina malah senyum licik lagi,”gue dah males banget sama lu, Raffi.. kalo gue bisa dapetin si Minho.. why not?? Lu bakalan gue buang jadi pacar, hohoho”

Salma sedih, dia nangis terus mikirin anaknya yang sekarang entah dimana..sudah berhari hari Rima enggak kembali ke rumahnya. Kakak kakaknya Rima yang lelaki pun pada panik dan membantu mencari. Beh hamid gak sempat terfikir kalau Kwon mungkin menampung anaknya.
Beh hamid diam aja di bangsal depan, di teras.
”kenape..idup gue jadi begini??,” katanya berkeluh kesah
”dimane si Rime sekarang??,” ternyata dia masih kangen juga sama anaknya yang dia usir sendiri beberapa hari lalu.
”hampir seminggu..gue kagak dapet kabar anak gue..,” ternyata diam diam beh Hamid nangis.
Lalu anaknya, taufiq pulang..
”kagak ada, beh..aye dah cari seputaran terminal bekasi.. seputaran deket deket sono..kagak ade..,” kata taufiq, kakaknya Rima.
Salma keluar, dia tanya gimana hasil pencariannya, tapi taufiq menggeleng, belum temukan adiknya.
Salma nangis lagi,”eni semua gara gara elu! Gue kagak pernah mikir anak gue bakalan sedosa ntu!,” dia marah sama suaminya sendiri, beh hamid.
”sabar,Nyak..sabar.. aye lapor polisi aja besok.. dah malem ini..aye kudu pulang, ntar bini dirumah tanya,” kata taufiq. Taufiq pun cium tangan kedua orangtuanya dan pulang ke rumahnya, bertemu anak isterinya.
”Rime..lu dimane?? Maafin babeh ye??,” beh Hamid nangis.

”Rima.. aku pulang, sayang!,” Teriak Minho, dia masuk ke rumah sewanya, ditemukannya, Rima duduk di sofa ditemani Suminah. Tetap dia diam saja, walau diajak Sum menonton tivi.
Minho memegang tangannya, duduk berjongkok di depannya,”today.. our baby product company is grand opening.. it’s because of your effort, Rima sayang,” Minho lalu mengelus kepalanya dengan lembut. Perusahaan makanan dan minuman bayi nya sudah mulai beroperasi, semua dulu berkat bantuan pacarnya itu di hadapan para komisaris di Korea.
Minho lalu bercerita bahwa dia senang sekali dengan usaha barunya ini.
Dia lalu mengajak Rima duduk di meja makan, dan Minho menyuapinya pelan pelan.
”how’s her eating, Sum?,” Minho tanya, apa pacarnya itu mau makan atau tidak.
Suminah menjawab tadi siang Rima makan pelan pelan dan dimakan pula obatnya.
”kamu pintar, sayang ku,” Minho senyum pada Rima yang diam saja. Dia lalu menyuapinya makan malam.
”her drugs will be up,Mister..harus membeli yang baru,” kata Sum. Obatnya habis dan minta Minho membelikan untuknya.
”tomorrow...i’ll bring her to psychiatry with Sur,” jawab Minho.dia besok ingin membawa pacarnya itu ke psikiater.

Selesai makan malam, Suminah membawanya ke tempat tidur.
Seperti biasa, Sum akan meninggalkan Minho dan Rima, supaya Minho bisa ngobrol dengan Rima.
Minho bercerita lagi panjang lebar tentang nostalgia mereka pacaran. Walau Rima diam saja,Minho terus cerita. Seperti mereka ngobrol bersama.
Minho mengelus elus tangannya, kepalanya. Cerita ketawa ketawa supaya Rima bisa ikut merasakannya.
”I know you can hear me, sayang.. ,” senyum Minho padanya
Air mata Rima tiba tiba keluar, mengalir ke pipinya. Minho mengusapnya pelan pelan.
”you are getting to know me,” Minho sedikit lega.. dia sudah mulai merasa, Rima sudah mulai sadar dengan sekelilingnya.

Bersambung ke part 21...