Rima makin panik karena teleponnya sama
sekali tidak dibalas Min ho. Dia gusar bolak balik ruang tamu.
”kenape Min ho??aduh, aye makin panik aje
eni,” katanya sambil bolak balik, bingung.
Hari sudah mendekati malam, dia tidak
berani akhirnnya menghubungi Min ho lagi.
Sementara, Min ho cuma tinggal diam saja
di kamarnya.
Min ho curhat pada Il Sung dengan mesenger
nya
”sama sekali orangtuaku tidak setuju,
paman,” keluhnya
”bagaimana sih ayahmu itu?? Hal ini bisa
memalukan untuk keluarga Lee,” jawab Il Sung
”aku tidak tahu lagi, paman....aku tidak
tahu lagi,” balas Min ho
”besok akan aku bicarakan dengan
ayahmu...dia harus tahu apa yang terjadi sebenarnya antara kalian dan juga
dengan keluarga pacarmu itu..jangan sampai kita mempermalukan diri sendiri,”
”apa...Appa bisa setuju? Paman kan tahu
sifatnya Appa??,”
”ya...ya...aku tahu itu...setidaknnya, aku
akan berusaha membantumu, mendapatkan apa yang kamu inginkan...ini juga akan
pengaruh ke kerja mu nanti...aku akan terbebani juga, bodoh,”
”aku tidak tahu lagi kalau Appa tidak
setuju lagi,”
”hush...sudah...aku kan belum langsung
turun tangan bicara dengan ayahmu itu,”
”tanggapan cewekmu sendiri seperti apa??,”
lanjut Il Sung lagi
”dia tadi telepon, tapi aku tidak lama
menjawabnya, paman,” suara Min ho benar-benar lemas, akhirnya dia telepon juga
pamannya itu.
”memelas sekali suaramu...menyebalkan,”
kata Il Sung, dia memang tahu keponakannya itu aslinya manja berat dan kalau
sudah ingin sesuatu tapi tidak terlaksana, bisa sampai terkesan dendam dan
penuh penyesalan.
”aku akan membantumu...tenang
saja...sudah, sana tidur...ini sudah malam,” Il Sung sedang berada di sebuah
kafe dengan pacarnya.
”ya..baiklah, paman...terima kasih,” balas
Min ho.
Il Sung menutup teleponnya.
”siapa??,” tanya pacarnya.
”keponakanku...direktur perusahaan
disini..dia punya pacar orang indonesia, sama seperti aku dan kamu..tapi
orangtuanya tidak setuju.. besok, kita enggak bisa ketemu, karena aku harus
selesaikan masalah dia, bantu dia,” katanya pada pacarnya dengan bahasa
indonesia yang lancar.
Paginya, Min ho memberanikan diri
menelepon Rima lagi.
”Min ho..aku khawatir banget kamu
kenapa-napa tadi malam,” kata Rima dengan bahasa Inggris bicara padanya
”aku baik,” balas Min ho singkat
”ayah dan ibu ingin kesana,” lanjutnya
lagi
”kapan??,” tanya Rima
”sore ini..,” balas Min ho
”Min ho.. kamu baik-baik saja kan??,” Rima
benar-benar khawatir kondisinya.
”aku baik,” balas Min ho singkat.
Tapi kemudian,”aku mau kita bertemu sebelum
ayah dan ibu ku ke rumahmu”
”ya, baik, dimana??,” senyum Rima, dia
memang berniat menghibur Min ho.
Min ho pun menyebut tempat dan Rima pergi
dijemput nya di suatu tempat.
”eh...lu mau kemane??bukannya eni ari
enyak babenye si Min ho mau nyambang kesini??,” tanya beh Hamid pada anaknya
yang kelihatan bawa tas kecil dan mau keluar rumah.
”beh...aye mau nemuin Min ho dulu
bentaran...ada perlu,” balasnya
”jangan lame-lame,” balas beh Hamid
Rima mengangguk dan pergi..
Min ho berusaha senyum ketika mereka
bertemu disebuah restaurant.
”apa ayah dan ibu mu tidak menyuruhmu
kerja??,” senyum Rima
Min ho menggeleng.
”ya, baiklah...apa yang mau
dibicarakan??,” senyum Rima lagi
Min ho diam sejenak, lalu dia malah
mendekati pacarnya itu...mendadak memeluknya, Rima kaget
”stop, Min ho...kamu tidak boleh begini,”
dia minta dilepaskan
”aku tidak ingin kehilanganmu,” kata Min
ho
”tidak akan ada yang kehilangan...jadi,
tolong lepaskan aku,” jawab Rima
”tidak mau...aku takut kehilangan mu,”
balas Min ho lagi, tabiat anak kecilnya keluar lagi.
”aduh...gimana dong nih lepasinnye??,”
Rima benar-benar kaku dipeluk Min ho.
”sudah, Min ho....aku yakin semua akan
baik-baik saja...jadi, kita akan lalui bersama,” Rima berusaha menenangkannya.
Min ho malah masih diam saja. Lalu,”kamu
yakin??”, katanya
”ya..aku yakin..tolong lepaskan aku,”
jawab Rima
”enggak,” balas Min ho,”aku gak mau
lepasin kamu”
”Min ho, please...kita pasti bisa lalui
semua bersama..bukan seperti ini caranya,”
”ya...aku tahu..tapi aku tidak ingin
lepaskan pelukanku,”
”cape deh, anak anak banget,” keluh Rima
lagi dalam hatinya
Rima
ribut sendiri dalam hatinya,”aduh...gimane dong nih ah?”
“apa yang mau kita bicarakan??,” Tanya
Rima lagi
“tidak ada,” balas Min ho, masih
memeluknya,”aku hanya ingin begini”
”aduh...kacau eni,” kata hatinya Rima lagi
Tiba-tiba, pelayan restaurant masuk bilik
mereka. Rima makin gak enak hati.
”silahkan, tuan...nyonya,” kata pelayan
itu ramah
Min ho cuek banget, dia benar-benar gak
perhatikan pelayan itu, cuek saja peluk Rima, tapi si pelayan tetap
menghidangkan makanan yang sudah mereka pesan.
Pelayan lalu keluar ruangan yang dipesan
khusus itu.
”lagi pacaran,” bisik pelayan itu pada
yang satunya lagi, dibalik bilik. Rima mendengarnya dan makin gak enak.
”Min ho..kalau begini terus.. masalah kita
tidak akan pernah selesai,” kata Rima, pelan.
”aku ingin waktu melambat.. supaya
orangtuaku tidak menolakmu,” balas Min ho.
”tolong.. lepaskan aku dulu,” ujar Rima.
Min ho lama diam..,”aku lelah”
”ya...aku mengerti,” balas Rima singkat
”aku akan kembali pulang ke korea jika aku
tidak bisa bersama mu,”
Rima senyum,”Min ho lelaki yang baik...aku
cinta kamu”
”tapi kalau kita nanti berpisah..bagaimana
aku??,” tanya Minho lagi
”masih banyak cara untuk bertemu.. selalu
ada,” balas Rima lagi dengan senyum
Tapi ternyata Min ho malah mengeluarkan
air mata.
”ya ampun..die nangis,” kata hatinya Rima,
dia malah jadi ikutan galau.
”aku tidak sangka kamu bisa menangis untuk
ku,” senyum Rima.
”aku sudah terlalu cinta kamu, Rima.. aku
tidak tahu bagaimana kalau nanti kita tidak bisa bersama,”
”kita..selesaikan ini sambil makan??,”
senyum Rima padanya lagi. Dia melihat masakan yang dihidangkan sudah mulai
dingin.
Minho makan pelan sekali, seperti tidak
nafsu makan.
”cobalah makan seperti biasa.. semuanya
akan segera selesai,” ujar Rima, membantu menuangkan sayur dan juga lauk pada
mangkuk Minho.
”terima kasih,” jawabnya datar lalu
melanjutkan makan.
Rima makan sambil memperhatikan dia.
”bagaimana lagi, Min ho?? Kalu emang kite
gak bisa bersama.. ya sudahlah.. aye gak bisa maksa juge..walau aye juge cinta
Min ho,” kata hatinya Rima.
Rima sempat melamun memperhatikan Min ho
makan pelan sekali.
”Biasanya.. makan mu cepat
sekali..atau..memang masih kenyang??,” senyum Rima lagi, dia menuangkan lagi
lauknya ke mangkuk Min ho.
”umm..sudah, cukup,” balas Min ho.
”eh.. mau aku ceritakan hal lucu tidak??,”
ajak Rima, dia berharap Min ho akan tertawa kalau dia cerita dongeng betawi
yang lucu-lucu.
Tapi Min ho malah menggeleng sambil makan,
dia menolak.
”yah..gimane lagi nih?? Daridulu die
sukanye gitu..di lenongin baru ketawa ketawa.. ,” keluh Rima dalam hatinya.
Rima menghabiskan makanannya. Sementara
dia lihat Min ho masih terus makan pelan-pelan, seperti memperlambat waktu.
Dilihatnya, jam sudah menunjukkan pukul 12
lebih.
”ayah dan ibu kamu.. jam berapa akan
datang??,” senyum Rima padanya.
”jam 3,” balas Min ho singkat, tanpa
melihat wajah Rima
”oh, baik..kalau begitu.. aku telepon
Bapak babeh dulu ya??,”
Min ho hanya mengangguk mempersilahkan.
”lu kenapa belom pulang juga??,” tanya beh
Hamid ditelepon pada anaknya.
”lagi makan siang bareng Min ho, beh,”
jawab Rima, kalem.
Beh Hamid malah godain anaknya,”jeeeee...
yang makan siang barengan”,dia enggak tahu apa yang sudah terjadi dengan Min
ho.
”enggak, beh.. ada yang harus dibahas
antara aye dan Min ho,”
Beh Hamid akhirnya jadi heran,”weh.. kenape??si Minho minta putus dari lu
lagi???”
”kagak, Beh.. urusan lain,” Rima berusaha
menyembunyikannya.
”buruan.. jangan kelamaan lu pulang.. eni
dah jam berape??,”
”iye,
Beh.. nanti.. aye ke sana
langsung sama Min ho”
“iye..
gue tunggu lu pade,” ujar beh Hamid lagi, lalu dia tutup teleponnya.
“bapak
babeh mau tunggu kita,” kata Rima dalam bahasa inggris ke Minho .
“sudah
jam 1,” balas Min ho singkat, maksudnya, dia ingin keluar dari restaurant itu
dan pulang.
“kita akan ke rumahku sama-sama??,” senyum
Rima
Min ho mengangguk saja.
Mereka keluar restaurant berjalan
disepanjang jejeran counter di dalam mall.
Min ho berjalan lurus saja, Rima
memandangnya dari samping.
Ketika Min ho menoleh, Rima senyum
padanya, Min ho malah memegang tangan kirinya.
”Jika memang hubungan kita tidak disetujui
kedua orang tuaku.. mungkin ini genggaman tanganku yang terakhir,” kata Min ho,
tanpa melihat wajah Rima dan berjalan lurus.
Dalam hati, sebenarnya Rima sedih juga,
tapi dia mencoba tahan. Dia sudah pasrah akan apa yang terjadi.
Min ho malah menoleh lagi,”aku ingin
membelikan kamu sesuatu.. ”
Rima coba senyum dan menoleh padanya,”apa
itu??”
”ikut aku saja, ya??,” Min ho mencoba
senyum. Ternyata mereka ke toko perhiasan.
”I want a set of gold or pearl for her
(aku mencari 1 set perhiasan emas atau mutiara untuk dia-red) ,” katanya pada
sales counter dalam bahasa inggris, lalu menunjuk pada Rima. Sales counter lalu
mencarikan untuknya.
“this is gonna be my last present if we cant
be together (ini akan jadi hadiah terakhirku jika kita tidak bisa
bersama-red),” kata Min ho, dia senyum tapi terkesan pahit.
“you don’t have to be like this, Min ho.. we
are gonna be okay (kamu gak seharusnya kayak begini, Min ho.. kita akan
baik-baik saja-red),” balas Rima, pelan. Dia juga ikut sedih dengan kejadian
seperti ini.
Min
ho senyum lagi, dia memasukkan kedua telapak tangannya di saku celana,”well… I still will stand you up.. but if my
parents insist their will.. I cant do nothing (aku akan tetap
mempertahankanmu, tapi jika ortuku terus memaksa.. aku tidak bisa apa-apa-red)”
“and.. let me buy you something that I will
remember you always (dan biarkan aku belikan sesuatu yang membuat aku ingat
kamu terus-red),”
“Min ho..,” Rima benar-benar tidak bisa
berkata apa apa lagi, dia berfikir mungkin hubungannya dengan Min ho akan
benar-benar berakhir.
”Tuan dan Nyonya.. ini model-modelnya,”
Sales counter membawa beberapa model di hadapan mereka berdua.
Min ho berfikir, dia melihat-lihat mana
yang cocok untuk Rima. Ternyata dia mengambil mutiara 1 set.
”how much?,” katanya pada sales counter,
bertanya harga
Sales
itu menyebut harga yang fantastis, tapi Min ho tetap mengambilnya,”I want this.. wrap it well (saya mau
ini,bungkus bagus-red),” pinta Min ho.
Rima
begitu bingung Min ho memberikan dia perhiasan yang mahal, tapi dia tahu, Min
ho anti ditolak, apalagi kalau di depan banyak orang, jadi dia terima saja.
Mereka
lalu keluar dari mall itu dan pulang ke rumah Rima.
Di dalam taxi, Min ho masih diam,
tampaknya dia berfikir sesuatu..
”apa kita bisa melewati semua ini??,” Min
ho bertanya kembali pada Rima.
”aku yakin bisa,” jawab Rima, dia senyum
lagi pada Min ho.
”rasanya ingin tidur panjang kalau tidak
bisa,” ujar Min ho lagi
”harus tetap semangat dalam hidup, kan??,”
senyum Rima
Min ho mengangguk,”aku berusaha”
Mereka sampai duluan di depan rumah. Min ho menunduk hormat pada beh Hamid dan
keluarga.
”kemane orangtue lu?,” kata beh Hamid
”belum dateng, beh.. nyusul nanti,” jawab
Rima.
”aye ke belakang dulu, beh.. Bang Hasan
tolong temenin Min ho ngobrol ye??,” tambahnya lagi
Min ho ramah pada mereka dan Hasan jadi
penerjemah diantara obrolan dia dengan keluarga beh Hamid. Dia seperti
menyembunyikan masalahnya di depan mereka.
Rima tiba-tiba memanggil ayahnya dan
memintanya masuk
”Beh...aye enggak tahu gimana kelanjutan hubungan
aye dengan Min ho,”
Beh Hamid duduk di dalam,”kenape??dia
putusin lu??”
Rima menggeleng,”enggak, Beh...tapi
orangtuanya,”
”kenape...gak setuju??,” tanya Beh Hamid
Rima mengangguk,”begitulah, Beh”
”terserah lu berdua deh..gue bingung...,”
kata Beh Hamid
”Maafin ya, Beh...,”
”kagak ape..semua keputusan ada ditangan
lu berdua,”
Beh Hamid keluar lagi, dia tetap ajak Min
ho ngobrol seperti biasa walau dia sudah tahu jawaban keputusan orangtua Min ho
dari anaknya sendiri.
Jam 3 sore, sebuah mobil metalik berhenti
di depan teras.
”Kwon,” kata Min ho pelan, ternyata
orangtuanya datang dengan Kwon Yun dan Il Sung, pamannya Minho.
Beh Hamid ramah pada mereka dengan bahasa
betawi yang khas.
”nyok, mari masup..maklum ye..rumahnye
kecil pisan, Pak,” kata Beh Hamid, ramah..memanggil ayahnya Min ho dengan
sebutan Bapak.
”tidak mengapa,” Lee menunduk hormat dan
senyum, setelah diterjemabkan oleh Kwon.
”eh...Babehnye si Minho eni keliatannya
baek juga..tapi kenapa anak gue bilang die kagak setuju??,” kata hatinya Beh
Hamid.
Mereka semua duduk di ruang tamu,tidak di
teras.
Min ho mengambil tempat duduk justru agak
berjarak dengan kedua orangtuanya sendiri. Kwon menariknya, menyuruhnya duduk
disamping kedua orangtuanya.
”Kami senang sekali bisa berkenalan dan
bertandang ke rumah bapak Hamid dan keluarga,” kata Lee dengan bahasa Indonesia
yang baik.
”Aye, eh...saye juga seneng, pak Lee,”
balas beh Hamid, ramah..mencoba pula berbahasa Indonesia. Kwon dan Il Sung
senyum saja.
”pembicaraan kita..akan dimulai dari
mana??,” senyum Lee.
Min ho sudah mulai deg-degan dalam hatinya
dia sangat ingin memperlambat waktu supaya tidak ada penolakan dari kedua
orangtuanya atas hubungannya dengan Rima.
Rima malah santai saja,dia sudah pasrah
dan tidak perduli lagi apakah mau diteruskan atau tidak.
”Apa Appa menyetujui hubunganku dengan
Rima??,” Minho tiba-tiba bertanya itu di depan ayahnya dalam bahasa indonesia
yang terbata-bata. Ayahnya jadi bingung ditembak seperti itu untuk dirinya.
”ayah belum selesai berbicara,” balas
ayahnya.
”aku ingin kepastian hubunganku dengan
nya...apa aku harus melakukan hal seperti kemarin??”
Ibunya berbicara dalam bahasa Korea
dengannya,”jangan kurang ajar dengan ayahmu disini, Min ho...berbuat sopan
dengannya”
”aku hanya meminta, Eomma,” balasnya
Il Sung lagsung menimpali,”tidak
semestinya kita ribut dalam suasana begini”
”jadi..biarkan aku bicara,menumpahkan
semua perasaanku,” kata Min ho,masih dalam bahasa nya.
Min ho berdiri, lalu dia menggeser
kursinya dan.....kembali bersujud!
Ayah dan ibunya sangat kaget, begitu juga
semuanya..
Kwon berdiri dan berjongkok,”kamu kenapa,
Min ho??ayo bangun”
”tidak...aku tahu Appa dan Eomma tidak
setuju hubunganku dengan Rima,jadi aku memohon dua kali dengan cara yang
sama...aku mohon” katanya dalam bahasa negaranya sendiri.
Rima ikutan berjongkok menghampirinya,”Min
ho.. please stop it.. i understand
that we might be hurt, but.. we must respect their decision (tolong
hentikan..mungkin kita bisa sakit dengan keputusan mereka, tapi harus
dihormati-red),”
“I insist on… my journey must be ended
(aku tetap bersikeras..perjalanan ku harus berhenti disini-red),” balas Min ho,
masih bersimpuh seperti bersujud kepada orangtuanya.
Beh Hamid, Salma isterinya dan Hasan cuma
bengong dengan tingkah Min ho.
”Appa seharusnya tahu... aku orang yang
sulit ditolak jika sudah meminta..aku rasa, permintaan ku baik,” kata Min ho
lagi.
”Min ho.. get up,” kata Kwon.
Il Sung malah jadi ribut juga,”kenapa kamu
melarang, Kak?? Bukannya itu memang sudah pilihan dia??,” katanya pada kakaknya
sendiri, ayah Min ho.
”aku sudah katakan pada Appa dan Eomma..
kalau aku tidak menemukan jiwa ku di diri Min Seo.. hanya di diri Rima aku
menemukannya,” balas Min ho lagi.
Beh Hamid bertanya pada anaknya sendiri,
Hasan.. apa maksud dari
perkataan Min ho, lalu diterjemahkan oleh Hasan.
”kalau emang Min ho suka dengan anak aye..
kenape dilarang-larang?? Cinte mah kagak butuh penjelasan, Pak.. semuanye juga
pasti bilang begitu,” kata Beh Hamid.
”maafkan ayah saya, ” kata Hasan. Lalu
Hasan menterjemahkan perkataan beh Hamid.
”Memang seperti itulah, Oppa (kakak-red),”
kata Il Sung pada ayahnya Minho.
”ini hanya cinta karena jasa,” kata
ayahnya Min ho.
”tidak, Appa.. tidak sama sekali,” balas
Min ho, sambil masih bersimpuh.
”sudahlah.. jangan sampai seperti cerita
yang ada di drama itu.. ini bukan drama,” kata Il Sung lagi.
”tetap saja sepertinya mereka tidak setara
dengan kita,” kata ibunya Min ho dalam bahasa mereka.
”pada ngomong apaan sih? Gue kagak
ngerti,” kata Beh Hamid.
Kwon Yun menunduk hormat pada keluarga
Rima,”Maafkan keluarga kami”
”gue
kagak tau masalah sebenernye ape.. kalu
emang dah pada kagak setuju..udah, bubaran aje.. gue juga kagak
kenape-nape..anak gue juga bilang gitu,” balas beh Hamid pada Kwon.
Hasan menterjemahkan lagi dalam bahasa
Indonesia.
”Tidak seperti itu, Pak Hamid.. Minho
sangat cinta kepada Rima,” balas Il Sung,”saya hafal sifat Min ho jika sudah
menginginkan sesuatu hal”
”ada satu hal yang mungkin pak Hamid tidak
tahu ,” kata Il Sung lagi
”apaan?? Si Minho kenape??,” kata beh
Hamid.
”Pak Il Sung..,” Rima sudah merasa, Il
Sung akan berbohong pada ayahnya
”Min ho harus menerima Rima..,” kata Il
Sung
”kenapa ini?? Kenapa harus begini, Min ho??,” ibu nya kesal
dengan anaknya sendiri.
”Aku mohon, Eomma.. aku mohon..,” kata Min
ho sambil masih bersimpuh
”anak keras kepala!,” bentak ibunya.
Tapi Min ho diam saja.. dia tetap posisi seperti itu.
”sudahlah, Bibi.. tidak ada gunanya lagi
melarang.. kalau memang hati yang sudah bicara,” kata Kwon Yun.
”lagipula, Bibi sudah tahu apa yang
terjadi.. Min ho yang memulai lebih dulu semua ini,” kata Kwon lagi.
”kita bisa dicap sebagai keluarga yang
tidak bertanggung jawab atas peristiwa beberapa bulan yang lalu,” kata Kwon
lagi,”aku yang menyaksikan hal itu... semestinya, kita yang bisa malu,”
Perkataan Kwon kepada bibinya tidak bisa
dimengerti Hasan karena mereka bicara dalam bahasa mereka sendiri.
”baru kali ini anakku benar-benar lepas
dari pengawasan ku,” jawab ibunya Min ho.
”Eomma tidak akan kecewa jika menerima
keluarga ini...aku mohon, Eomma,” balas Min ho.
Kwon melihat air mata Min ho jatuh di
lantai. Min ho masih menunduk
bersimpuh di depan orangtuanya.
”aku akan terus begini disini,” kata Min
ho..suaranya sudah mulai serak.
”sudahlah, Min ho,” kata Kwon, mencoba
membangunkannya.
”Shut
up, Kwon!!,” balas Min ho membentak sepupunya itu, dan tetap terus menunduk
bersimpuh
”sudahlah, Kak.. bagaimanapun..ini semua
awalnya dari Min ho juga,” kata Il Sung pada ayah Minho.
Ayah Min ho berdiri mematung,
lalu,”Maafkan.. kami tidak setuju Min ho berhubungan dengan anak Anda,” dia
menunduk hormat pada Beh Hamid.
”sudah.. mari kita pulang,” kata Lee
kepada semuanya.
Beh hamid tadinya kecewa.. tapi kemudian
dia sadar benar kalau hal seperti itu dipaksakan hanya akan membuat anaknya
sengsara.
”pegimane bise dia tinggalin anak kite,
Bang?? Anak kite dah hamil ame si Minho!,” tiba-tiba Salma-isterinya beh Hamid
teriak gak terima.
Rima menutup mulutnya,”Nyak..”
Beh Hamid menoleh,”ape kate lu??,” matanya
melotot, kaget.
”iye.. mau anak lu ditelantarin ma tu
anak??,” balas Salma
”apa-apaan eni?? Beneran??,” beh Hamid kaget, gak percaya.
Belum sempat Rima menjawab, Min ho
langsung berdiri,”benar..”
”Ya ampun lu, Rimeeee......... kenape
sih??,” beh Hamid terduduk, dia seakan gak percaya anaknya sudah
hancur-hancuran
”apakah harus berbohong lagi??,” kata
hatinya Kwon yun.
”aku juga cinta perempuan ini.. padahal,
ini bisa jadi kesempatanku untuk merebut dia dari Min ho,” lanjut hatinya lagi.
”Lu kudu tanggung jawab, Min ho.. !,”
teriak Salma, dia jadi berani.
”Nyak, beh... ini semua..,” kata Rima,
belum selesai lagi, Min ho langsung memotong,”saya harus menikah dengannya,”
kata nya dengan terbata bata.
”Jelas.. lu kudu nikah sama anak gue.. cari perkare lu!!,” beh Hamid bangun dan
membentak Min ho.
Hasan berbicara pada Il Sung dan Kwon
Yun,”dalam hal ini.. saya harus menagih janji tanggung jawab keluarga kalian
terhadap adik saya.. atau kami akan malu,”
”saya faham,” balas Il Sung menunduk
hormat.
”Tanggung jawab lu semuanye..!,” teriak
beh Hamid.
”beh.. tenang, Beh.. aye yakin semua ada
penyelesaiannye,” ujar Rima
Beh Hamid menoleh pada anak perempuannya
itu,”lu pikir kalo lu dah kayak begini.. eni muka kotak bisa lepas aje begitu??
Belom pernah lu semua berantem ame gue kan??!!”. dia mau ambil golok dari
kamarnya, Hasan buru-buru mencegah.
”beh.. Udah Beh.. gak bakalan selesai kalu
pake berantem!,” teriak Hasan.
Min ho menunduk hormat, dia masih
ngarep-ngarep ayahnya mau mengabulkan permohonannya.
”Min ho..sudah sangat serius dengan anak
Bapak,” kata Il Sung.
”kalau sudah begini..apa kita tidak malu,
Appa?,” kata Min ho.
”kenapa.. kamu jadi begini, Min ho??,”
tanya ibu nya.
”semua..salah yang tidak sengaja,” jawab
Min ho.
”tidak ada yang seperti itu.. kalaupun aku
setuju dengan hubungan kalian.. aku masih menangguhkan untuk pernikahan,” balas
ayahnya.
Il Sung berusaha menjelaskan pada Hasan
apa yang dimaksud ayahnya Min ho.
”apa..Appa menyetujui??,” tanya Min ho,
meminta kepastian.
”aku menangguhkan pernikahan
kalian..silahkan kamu berjalan sesuai keinginanmu,” balas ayahnya.
Ayahnya Min ho menunduk hormat pada beh
Hamid,”maafkan kami”
”apa..Appa setuju hubunganku dilanjutkan??
Apa.. Eomma juga setuju??,” Min ho masih menunduk hormat pada kedua
orangtuanya.
”masih belum menangkap apa maksud ku??,”
tanya ayahnya.
”baik.. terima kasih, Appa,” balas Min ho.
”Kami permisi, pak Hamid.. maaf kalau
kedatangan kami tidak berkesan,” balas ayahnya Min ho.
Dia pamit lalu pulang. Il Sung menyulnya.
Dia memerintahkan Min ho tetap tinggal dengan Kwon, sementara dia mengantarkan
kedua orangtuanya Min ho.
”Min ho..ini,” kata Rima, dia benar-benar
tidak ingin ada kebohongan dalam hubungan.
”Let
me marry her, bapak Babeh,” kata Min ho pada beh Hamid.
”ngomong inggeris melulu lu..gua bingung,”
ketus beh Hamid
”die minta nikah ame si Rima, behhhh... ,”
kata Hasan.
”lu emang bocah bangor,” beh Hamid
mengeplak kepala Min ho.
”eh muka kotak.. gue kagak mau lama-lama
ye.. awas.. lu dah bikin anak gue jadi begini,” katanya lagi.
Kwon bicara dalam bahasa mereka dengan Min
ho,”kamu berbohong begini.. pernikahan harus segera..tidak bisa ditunda..
aslinya, dia tidak hamil kan??”
”aku memakai caramu,” balas Min ho,”Appa
dan Eomma akhirnya setuju bukan??”
”kamu
tidak mau paman dan bibi akan tahu segalanya bukan??,” tanya Kwon lagi. Minho
menganguk.
”kalau begitu.. ya cepatlah,” Kwon
mengeplak kepala Min ho.
Dia lalu senyum pada Rima dan bicara
bahasa indonesia,”calon suami mu ini.. ya keras kepala, tapi terkadang peragu..dan
super minta tolong pada siapa yang dia anggap bisa dan kuat..melelahkan sekali”
Rima senyum kaku.
”kita harus berbicara banyak,” kata Minho
pada mereka.
”agak membingungkan karena sebenarnya
tidak bisa secepat itu, Min ho,” balas Hasan.
”ya..saya berusaha mengerti,” balas Min
ho.
”babeh bingung ame cara mikir ni bocah..,”
tukas beh Hamid pada Hasan.
”kamu harus bisa memperhitungkan semuanya,
Min ho.. ini harus cepat,” kata Kwon lagi dalam bahasa mereka
”sedang aku pikirkan,” balas Min ho.
”aku sedang berfikir hari baik,” kata Min
ho pada beh Hamid.
”apaan? Emang ade juga nyang begituan??,”
beh Hamid heran.
”ada, Pak Hamid,” balas Kwon,”tapi..kami
harus pergi ke rumah ibadah kami..secara tradisional”
Beh Hamid enggak suka,”halah..lu pade,
percaye ame nyang begituan, musrik tau.. ”
”beh.. mane tau mereka??,” timpal Hasan.
Rima cuma tertawa kecil,”ih babeh..
rasain, hehe”
Beh Hamid malah jadi godain
anaknya,”jeeee.. lu kalu ada si Min ho berbunge bunge ati lu..jatuh cinte bener
lu romannye ma ni bocah korea”
Rima malah jadi malu. Kwon malah godain
dia,”kamu manis loh, Rima..kalau sudah dekat dekat sepupu saya”
Min ho memukul kepala Kwon yun, dia tahu,
sepupunya itu godain pacarnya.
”dont do it,” katanya pada Kwon.
”kami..harus tentukan semuanya, pak
Hamid.. kami akan hubungi pak Hamid,” kata Kwon setelah dia mengaduh dipukul
kepalanya oleh Min ho.
Salma menarik tangan Rima, ngobrol
dikamar.
”Nyak kenape??,” tanya Rima
”sebenernye..lu beneran hamil atawa
kagak??,” Salma duduk di depan anaknya di atas tempat tidur Rima
Rima menggeleng,”kagak,Nyak.. Minho boong
ame orangtuanye, aye tadi sempet mau bilang..”
”sukurlah..enyak juga yakin.. lu kagak
begitu sebenernye..,” kata ibunya
”trus.. ntar si Min ho beneran serius ame
lu??,”
”udah dua kali aye liat Min ho nangis,
nyak... tadi di restoran juga dia nangis,”
Salma heran,”e buset..masak iye lelaki
nangis??”
Rima mengangguk,”iye, Nyak.. Min
ho..ternyata cengeng, hehe”
”trus..lu bisa idup ame laki macem
begitu??”
”aye yakin bisa, Nyak,” jawab Rima mantap.
”kite udah ngobrolin.. si Minho ame si
Kwon Yun minta dicepetin bulan depan,” kata beh Hamid ketika Rima dan Salma
keluar kamar dan ke ruang tamu lagi.
Rima senyum saja sama Minho. Min ho balas dengan senyum manis.
”Manis sekali senyum mu,”sindir Kwon.
”Lu sirik aje, ”yang jawab malah beh
Hamid.
”saya bahagia, bapak Babeh,” kata Min ho.
”lu pulang sono, minta maaf ame nyak dan
babeh lu, Min ho.. gue bingung tadi ame mereka bedua,”
Hasan menterjemahkan lagi.
Min ho menjawab kalau dia merasa pantas
saja meminta itu, supaya orangtuanya tidak banyak bicara.
”aku sudah lelah,” katanya singkat
”you’ve
done all best, Min ho (kamu sudah berbuat yang terbaik-red),” kata Hasan
Mereka ngobrol sebentar soal perayaan,
Rima mencatat semua kebutuhan.
Akhirnya, sekitar jam 9 malam lebih, baru
mereka pulang.
Kwon dan Min ho berdiri di depan mobil.
”I’m
impatient to wait (gak sabar nunggu nih-red),” kata Min ho pada Rima.
”you’ve
lied to your parents about my condition (kamu sudah bohong tentang
kondisiku-red),” balas Rima
Min ho manyun,”like I care (suka aku dong-red).. tapi kan.. itu untuk kebaikan kita juga.. aku lelah dengan orangtua ku yang keras
kepala”
Rima malah menggodanya,”Min ho.. manis
ya.. kalau cemberut??”
Min ho jadi senyum.. dia coba
mencium Rima.
”no..
tidak boleh,” kata Rima, memalingkan wajahnya Minho .
“kamu…
cantik,” rayu Min ho.
Kwon
menariknya buru-buru,”get in the car
(masuk ah-red)”
“ya.. ya,” balas Min ho, dia masuk juga
dalam mobil.
”see
ya.. honey,” Min ho senyum genit ke Rima
“genit sekali,” Kwon mengeplak kepala
Minho.
”bye, Rima.. sampai jumpa besok ya,”
senyum Kwon
Rima melambaikan tangannya. Mobil pun
berlalu.
”sekarang gue makin bingung aja deh.. apa
gue ini emang beneran naksir sama si Minho ya??,” gumam Tina diatas tempat
tidur
”Min ho itu boss lu bukan??,” kata Rani,
temannya yang ditelepon
”iya... gue sampe sakit hati banget pas
kemarin si Rima, mantan sekretaris sok suci itu punya cincin dari boss gue”
”udah lah.. ntar lu terobsesi loh.. bahaya banget,”
”tapi..gue beneran pengen ngancurin
mereka, say..,”
”lu dah terobsesi, Tin.. bahaya ... lagian lu pikir..emang dia
cinta sama lu apa??”
”who
knows??,” balas Tina, kepedean.
“kepedean
lu, Tin… gue gak yakin banget,”
“ah..kan gue
sekretarisnye..bisa aja tu cowok gue kerjain abis,”
“terserah lu deh, Tin.. kan lu bilang
sendiri.. tu cowok lagi deket sama mjantan skeretarisnya”
”ah.. cewek breng-sek itu bikin gue sakit
hati…dari pertama dia masuk, gue udah gak suka,”
”dan .. lu pun tega-teganya pecat Raffi
jadi pacar lu demi angan lu itu?? Gila lu”
”kalau gue berhasil.. gue bawa boss gue ke
depan lu, hahahaha,” Tina malah tertawa keras.
Sampai di rumah sewanya, ayah dan ibunya
Min ho sudah menunggu di depan rumah.
”jadi.. bagaimana keputusan mu?? Tetap
mencintai perempuan itu??,” tanya Ibunya.
Min ho menunduk hormat,”aku tetap akan
menikah dengannya, Eomma..mohon jangan halangi aku”
”terserah.. Eomma sudah capek
mendengarnya.. tentukan sendiri.. Eomma tidak akan hadir”, balas Ibunya,
langsung masuk kamar
Tinggal Min ho dan ayahnya.
”ayah kecewa,” kata ayahnya
Min ho masih berdiri di depannya,”Maafkan
aku..”
”mungkin kami akan menerima dia dan
keluarganya.. tapi tidak
secepat ini,” balas ayahnya
”lusa kami pulang.. setelah itu.. kamu
bebas bicarakan semuanya bersama mereka,” lanjutnya
Min ho sadar.. ornagtuanya tidak akan
berpanjang lebar lagi membicarakan itu..dan boleh jadi, mereka tidak akan
pernah datang untuk moment penting dan berharganya bersama Rima.
”baiklah,” ujar Min ho, menunduk hormat.
Ayahnya berdiri lalu masuk kamar, menyusul isterinya.
”sepertinya.. kedua orangtua ku tidak akan
hadir dalam upacara,” kata Min ho mengetik msn nya ke Kwon dan Il Sung.
”seperti itulah ayahmu,” balas Il
Sung,”tapi..aku kan bisa hadir jadi wakil mu”
”terima kasih, paman.. ,” balas Min ho.
”segera urus dalam bulan ini.. hal ini
tidak mudah walau sederhana,” kata Kwon
Min ho menutup messejer nya dengan rencana
konsep tentang masa depannya kepada Il Sung dan Kwon Yun.
Di dalam kamarnya, Kwon termenung
sendirian,”akhirnya.. Min ho yang dapat sekretaris itu.. ah...menyebalkan
sekali sih”
Il Sung menelepon Kwon,”sepertinya ada
yang perlu aku bahas”, mereka asik ngobrol dalam bahasa mereka, tentang
perusahaan.
”kamu pikir, nanti Min ho akan ditarik
kembali pulang ke Seoul??,” tanya Il Sung pada keponakannya itu.
”aku rasa sih.. tidak, paman.. Min ho
sudah mulai diandalkan ayahnya,” jawab Kwon.
”aku sebenarnya agak sedikit cemas juga
perusahaan bisa dipengaruhi emosinya.. penjualan naik-turun..naik-turun..,”
kata Il Sung.
”naik turun itu tergantung banyak
faktor..walau Minho menjadi salah satunya,” jawab Kwon,”segera setelah dia
selesaikan masalah pribadinya kita bisa susun marketing plan yang baru”
”Kamu tampaknya hari ini agak kusut,” kata
Il Sung,”kamu sendiri apa ada masalah??”
”tidak ada, paman.. relax,” Kwon ngeles.
”yakin?? Aku melihatnya tidak..apa ada
hubungan dengan pabrik??,” tanya Il Sung lagi.
”ewww.. tidak..,” balas Kwon.
”kenapa?? Jangan bohong padaku deh.. ,”
”aku cuma iri pada Minho, hahahaha,” Kwon
tiba-tiba tertawa
”kenapa..?? biar aku tebak,” canda Il Sung
”wah.. enggak apa.. aku baik baik aja
kok,” kilah Kwon.
”kamu..suka juga dengan Rima bukan??,”
tembak Il Sung
”wooh.. paman Il Sung ada-ada saja,
hehehe,” kilah Kwon lagi
”jangan berkilah..begini aku juga lulusan
universitas bidang psikologi, walau aku juga kuliah manajemen bisnis”
”ayo jawab.. ,” lanjut Il Sung lagi.
”eh, hehehe... sejak setengah tahun lebih
yang lalu.. aku memang mulai suka dan ingin merebut dia.. tapi gak bisa juga,”
”oh..triangle
love (cinta segi tiga-red),” kata Il Sung datar
Kwon malah tertawa.
”sudah lah.. kamu bisa cari cewek
lain..masih banyak,” kata Il sung mencoba menghibur
”aku sudah dapat pacar kok, hehe,” Kwon
masih berusaha menghibur dirinya.
”besok kita ke pub..biar si Minho sibuk
dengan pacarnya itu,” kata Il sung. Kwon mengangguk..
”cari pacar setia dong ya??,” gumam Kwon
setelah dia menutup teleponnya dari Il Sung.
Bersambung ke part 28....