This is me....

Rabu, April 02, 2014

Pernikahan ½ (Part 11: Jangan-jangan....)

Paginya, wajah Minho ceria sekali, dia ditelepon orangtuanya dari Korsel.
“baik, Eomma.. aku senang banget pagi ini,” katanya pada ibunya
“Aiko.. bagaimana kabarnya??,” tanya ibunya
“baik, Eomma.. kami baru rayakan ulang tahun ku kemarin malam sama teman-teman,” senyum Minho pada ibunya disana
Minho bicara pada Aiko dengan tidak bersuara,”Eomma tanya kabarmu”
Aiko tersenyum pada Minho sambil siapkan makan pagi mereka,”titip salam untuk Okaasan (ibu-red),”
“Aiko chan.. titip salam untuk Eomma,” kata Minho pada ibunya
Dari sana, ibunya senyum,”Eomma kangen dengan Minho.. bagaimana kehidupan rumahtangga kalian?? Appa mu.. masih kirim uang kan??”
Minho mengangguk,”baik-baik saja, Eomma.. aku kan juga sudah kerja.. cuma.. nanti akan bingung di awal tahun.. uang ujian, uang tahun baru akademik, dan lainnya”, keluh Minho
“Apa.. keluarga Aiko tidak sama sekali membantu kamu??,”
Minho menggeleng,”tidak.. untungnya, komikus tempat aku kerja sangat baik, Eomma.. aku bisa ambil uang di depan.. dia sudah percaya padaku,”
Minho jadi manyun lagi. Keluarga baru dia memang tidak mendapatkan subsidi uang dari keluarga Kohashi, sesuai dengan kesepakatan tertulis.
“apa.. Aiko bekerja??,”
Minho menggeleng,”mana bisa, Eomma.. kedokteran itu sibuk, jadi.. aku yang bekerja”
“berarti.. Appa mu tidak cukup mengirimkan uang bulanan kalian.. nanti akan Eomma bicarakan”
“tidak begitu juga sih, Eomma.. yang pusing kalau kita ada kebutuhan uang kuliah mendadak.. keseharian kami baik-baik saja kok.. makan ku cukup,”
“Minho..sebenarnya Eomma masih kesal dan menyesal kamu mengambil keputusan seperti ini.. “
“dengan bilang seperti itu.. kayaknya Eomma sangat tidak percaya dengan anak sendiri,” Minho sensi lagi dengan perkataan ibunya sendiri
“Eomma tidak seperti itu, Minho... kamu ini masih terlalu muda.. mungkin dengan pacaran beberapa tahun lagi, baru kamu bisa memikirkan sebuah kehidupan rumahtangga,” balas ibunya
“ah.. Eomma terlalu tidak percaya denganku,” balas Minho enteng, tapi judes. Dia memang tipe gak mau dinasehatin kalau memang sudah apa yang dia mau, dia anggap benar.
“memang Eomma dan Appa masih tidak setuju dengan aku dan Aiko chan??,” tanya dia lagi, memastikan
Ibunya diam saja..,”Appa mungkin yang lebih tidak setuju,”
“aku tidak bisa begitu, Eomma.. lagipula.. ini kan sudah keputusanku”
Lalu,”kalau misalnya.. Aiko chan hamil sekarang.. bagaimana?? Mau bubar rumahtanggaku??”, dia terkesan mengancam orangtuanya lagi
“Eomma apa gak akan sayang cucu??,”
Ibunya benar-benar dia cecar dengan pertanyaan.
“Minho.. kamu benar-benar keras kepala,” balas ibunya
Minho diam.. lalu,”tapi.. aku benar-benar ingin menentukan nasibku sendiri, Eomma”
“apa kamu bisa?? Sementara kalian masih sangat kecil.. tidakkah kamu tahu.. disini Eomma sangat khawatir dengan kehidupanmu.. tampaknya kamu tidak mempertimbangkan perasaan Eomma, Minho..,”
Minho diam saja, dia merasa tertonjok dan bersalah dengan perkataan ibunya itu.

“bukan aku tidak mempertimbangkan perasaan Eomma dan Appa.. aku juga ingin punya kehidupan sendiri,” balas Minho
Ibunya akhirnya berusaha mengalihkan pembicaraan,”kapan kamu punya waktu liburan?? Naik pesawat ke Seoul tidak lebih dari sehari bukan??,”
“Semua tergantung jadwal kuliahnya Aiko chan, Eomma...nanti aku kabarkan kembali,”
“Eomma kangen Minho,” balas Ibunya
“aku juga,”
“kalau kamu ada masalah, ceritalah ke Eomma,”
Minho senyum,”baik, Eomma...kirim salam untuk Appa..i miss Eomma dan Appa”

“Eomma menyuruh aku pulang akhir tahun,” kata Minho pada Aiko
“jadi....kita harus menabung..aku harus cari uang lagi nih,” lanjutnya
“aku minta bantuan ayah saja,” balas Aiko, maksudnya pada Kohashi, ayahnya
Minho langsung menoleh dan setengah cemberut padanya,”mulai lagi merendahkanku”. Dia sensitif sekali.
“enggak kok.. siapa yang merendahkan?? Kalau memang kita uangnya kurang, Ibu ku bisa mempertimbangkan kita dibantu beliau,” balas Aiko
“gak mau.. gak usah tidur sama aku kalau minta dibantu ibu mu,” Minho mengancam.
“ih.. capek deh,” balas Aiko dalam hatinya. Dia sebenarnya sebel juga sama Minho kalau sudah kumat sensitifnya, tapi dia tahan-tahan.
“Memang.. mau bekerja apa lagi??,” tanya Aiko
Minho malah nyengir kuda,”belum tahu, hehe”
“nanti tambah capek lagi,”
“gak deh.. daripada aku habis-habisan nanti dimarahi orangtua ku dan orangtua kamu,” balas Minho, masih sensi.
Aiko menopang dagunya,”aku.. ingin banget kerja bantu kamu”
“gak boleh... gak.. bo.. leh,” Minho tambah manyun
“tapi nanti Nampyeon terlalu capek.. aku gak bisa kalau gak bantu.. ya.. please??,” pinta Aiko lagi
Mereka yang sedang ada dalam ruangan tengah yang sekaligus ruang makan suasananya jadi agak “panas”.
“aku gak suka kalau kamu gak nurut denganku,” kata Minho, jutek lagi
“tapi...,” balas Aiko. Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya, Minho menarik tangannya lalu memaksannya berdiri.
Minho mendorong dorongnya masuk kamar tidur, menguncinya dari luar.

“Minho Nampyeon.. tolong buka,” Aiko menggedor gedor dari dalam ruangan
“Gak.. kamu gak mau nurut dengan ku.. aku memang harusnya pergi cari kerja.. bukan kamu,” balas Minho judes. Dia ternyata mengunci Aiko dari luar.
Nampyeon.. bukain dong..,” Aiko memelas.
“gak,” Minho berdiri di depan pintu kamar mereka.
Dia lalu pergi ke ruangan sebelah dan menghempaskan badannya ke kursi depan komputer, menyalakan komputernya, mulai bekerja
Sementara Aiko masih teriak-teriak dari kamar sebelah
“Minho nampyeon.. tolong keluarkan aku,” katanya memelas
“gak.. tunggu sampai aku selesai kerja!,” bentak Minho
Aiko duduk di atas tempat tidur,”dia begitu sekali.. egois.. aku gak bisa apa-apa..cuma bisa dirumah ini, kuliah, ke markas.. rumah..kuliah..markas.. Minho kun.. jahat”. Dia akhirnya mengeluh juga. Dia mencari-cari hp, ingin curhat dengan kakaknya, ternyata Hp nya tertinggal di luar.
Lama sekali Minho bekerja di ruangan sebelah dari pagi sampai sore, dia benar-benar lupa waktu, sampai akhirnya dia capek sendiri dan keluar dari kamar kerjanya.

“hoaaahmmm,” dia menguap, ngantuk, lalu duduk di meja rendah, mengambil minum.
Dia lupa kalau mengunci Aiko lebih dari 7 jam dikamar tidur.
“eh.. Aiko chan,” lantas dia buru-buru membuka pintunya.
Dilihatnya Aiko kedinginan, menggigil,”Minho.. Nampyeon
Minho kaget, dia langsung merasa berdosa,”kamu kenapa?? Sakit??”. Dia memegang dahi Aiko.
“dingin,” jawab Aiko. Ternyata dia demam.
“aduh.. aku minta maaf.. kita belum makan,” balas Minho. Dia memeluk Aiko yang menggigil.
“aku masak ya?? Sebentar,” katanya lagi. Minho melebarkan selimut diatas tubuh Aiko.
Lalu dia pergi ke dapur.

“aduh.. gawat aku.. bisa-bisa aku digantung ayahnya kalau dia sakit begini,” keluh Minho ketika masak.
Sekitar 30 menit dia masak..jadi juga dan siap dimakan. Dia membawa seluruh masakannya dengan meja ke dalam kamar tidur.
Dia mengusap lembut rambut Aiko,”Aiko chan... okiyo.. tabemashou (ayo bangun..kita makan-red)”
Aiko pelan pelan membuka matanya,”dingin”
Minho senyum,”aku minta maaf ya, Aiko chan.. ayo makan dulu.. nanti kita tidur lagi”
Lalu Minho membantunya duduk. Aiko masih lemas.
“mau aku suapi tidak??,” tawar Minho
Aiko menggeleng,”tidak mau..aku makan sendiri”. Ternyata dia ngambek juga sama Minho.
“aku minta maaf,” kata Minho dengan suara sedikit manja. Aiko masih berusaha makan pelan-pelan, badannya dingin kurang makan. Hari sudah masuk musim panas.
Minho mengambil sendok dari tangannya Aiko pelan pelan,”aku suapi ya.. aku minta maaf, Aiko chan”

Aiko diam saja. Dia kesal dengan tingkah suaminya sendiri yang tega mengurung dirinya sampai lama sekali, sampai kelaparan.
Minho berusaha menyuapinya. Aiko makan juga, tapi pelan-pelan.
“sudah dong...senyum sekarang..aku kan sudah minta maaf,” kata Minho lagi
“aku lemas,” jawab Aiko
“aku minta maaf.. habis ini.. kamu tidur ya, Aiko chan,” senyum Minho.
Minho terus menyuapi, dia malahan tidak makan. Sampai makanannya sudah habis, akhirnya Aiko tidur lagi, Minho keluar kamar dan baru dia makan.
“ah.. masak dikurung 7 jam saja langsung sakit ya?? Ada apa ya??,” Minho heran sendiri di depan meja rendah, sambil makan. Dia berfikir.
“harus telepon Kumiko Ane,” katanya lagi dalam hati.

Selesai makan, dia telepon kakak iparnya,Kumiko yang memang dokter juga.
“berapa kali kalian hubungan dalam dua bulan terakhir ini??,” tanya Kumiko
Minho agak malu menjawab, lalu dipaksa Kumiko.
“eh... tergantung sih.. ya.. mungkin.. hampir setiap hari, hehe,” dia cengengesan.
“oo,” balas Kumiko singkat,”besok kalau dia lemas lagi dan muntah... ya.. beli test pack ya”
“maksud Ane.. dia hamil begitu??,” Minho kaget.
“aduh gawat.. nanti Appa sama Eomma bisa tambah marah,” katanya dalam hati
“bisa jadi.. kenapa??,” tanya Kumiko
iie.. nandemonai (gak...gak apa-apa-red),” balas Minho.
Minho malah jadi galau.. mau sih, dia punya anak.. tapi halangannya takut di orangtuanya lagi.. apa mau membantunya soal keuangan jika butuh biaya tambahan. Sementara dia melihat ayahnya kesal padanya dengan pernikahannya.
“kamu khawatir ya.. kalau adikku hamil??,” tanya Kumiko
Minho diam.
“hello.. Minho kun?? Kamu masih disana??,”
“eh ... jujur saja.. iya, Ane,” jawab Minho
“kenapa?? Takut kamu tidak bisa kerja keras ya??,”
“aku...belum siap, Ane.. jujur.. aku belum siap,” balas Minho
“kalau belum siap..kenapa gak pake penghalang kemarin-kemarin, eh??,” tanya Kumiko agak ketus

Minho malah jadi garuk-garuk kepalanya, pusing.
“uh.. seperti dia tidak tahu saja... yang seperti itu merepotkan,” gerutunya pelan sekali, tapi terdengar oleh Kumiko di telepon
“ooo... ya.. aku faham,” tiba-tiba Kumiko berkata seperti itu.
“tidak usah diperpanjang... besok.. beli alat test,” kata Kumiko
“baik, Ane,”
“kalau memang benar.. kamu harus lebih bertanggung jawab,”
“baik, Ane,” jawab Minho. Tampaknya dia memang nurut dengan kakak iparnya itu walau menggerutu

Dia duduk saja di depan meja rendah, mikir berat
“ah....payah nih,” dia malah garuk-garuk kepala, lalu pergi ke bawah, ke swalayan
Tak berapa lama...dia kembali dengan alat test pack
“suruh sekarang aja deh...,” katanya dalam hati, dia ke kamar lagi
Dilihatnya, Aiko sedang tidur. Dia membangunkannya
Dengan terpaksa Aiko bangun lagi,”badanku masih dingin sekali”
Minho senyum,”aku disuruh ini oleh Kumiko Ane”
“test pack??,” Aiko heran
“iya... kamu...gak dapet-dapet ya??,” tanya Minho ramah.
Aiko mengangguk,”iya...sejak pertama kali”
“umm,” Minho bergumam
“kayaknya bener nih,”katanya dalam hati
“ini bisa kapan saja kok........test ya??,” dia bujuk Aiko
Dengan malas, dia ke kamar mandi di gendong Minho,”aku gendong saja deh, hehehe,” Minho jadi merasa bersalah padanya

“kamu....masih marah denganku ya??,” tanya Minho
Aiko mengangguk.
“jangan begitu dong, Aiko chan..kan aku sudah gak marah lagi sama kamu,” balas Minho, manja
Aiko lalu masuk ke kamar mandi...tak berapa lama..dia keluar lagi dengan menunjukkan pada Minho
“eh.......beneran,”kata Minho
Dia peluk Aiko,”aku minta maaf ya...ternyata yang kedinginan bukan cuma kamu..tapi anak kita juga...aku minta maaf,”
“aku istirahat dulu, Nampyeon,” kata Aiko, dia kembali ke kamar, buru-buru tidur lagi,sebab besok harus kuliah lagi

Minho menopang dagunya di atas meja
“bilang....enggak....bilang...enggak,” dia kebingungan...mau bilang orangtuanya atau tidak.
Setelah berapa lama..dia menghubungi orangtuannya lagi
“Iya.. hamil, Eomma..,” katanya
Ibunya biasa saja,”syukurlah kalau begitu...tapi...terlalu kecil, masih 18tahun,”
“Eomma tidak suka??,”tanya Minho
“bukan begitu..lagi-lagi...harus Eomma bicarakan dengan Appamu...apa tidak mau makanan anakmu terpenuhi???,”
“ya, Eomma...aku tahu,” jawab Minho agak memelas,dia takut anaknya gak dapat makanan dan minuman bagus kalau misalnya uangnya kurang, takut dianggap tidak bertanggung jawab oleh keluarga Kohashi.
“Eomma suka tidak??,”tanya dia lagi
Ibunya tahu sifat kekanak-kanakan anaknya yang berusaha disembunyikannya,”iya..Eomma suka..tapi..kamu harus lebih bertanggungjawab...artinya..sebentar lagi, kamu jadi orangtua”
“berat juga ya, Eomma??,” Minho malah mengeluh di telepon
“dijalani saja...semua ada resikonya,” jawab Ibunya,”nanti akan Eomma diskusikan dengan Appa mu..kamu  disana baik-baik saja...”
Setelah bicara panjang lebar, Minho pun menutup telepon ke ibunya, lalu gantian telepon Kumiko.

“beneran...,” kata Minho
“ya..kalau begitu...mungkin sudah sekitar 2 bulan,” jawab Kumiko
“hey Minho kun...kamu ini..kurang uang atau gimana sih???,”
“sebenarnya..bisa jadi kurang, Kumiko Ane,”
“aku akan bicarakan dengan otoosan ku,” kata Kumiko,”bagaimanapun...itu cucunya..kalau kalian kurang uang, apalagi nanti untuk membeli makanan bergizi..katakan saja.. aku yakin...otoosan ku tidak setega itu”
“aku cuma akan minta kalau sangat kurang saja,” balas Minho, dia tetap keras kepala
“ya sudah..itu terserah kamu...aku tetap akan bilang okaasan ku..hal ini tetap harus dibicarakan,” kata Kumiko

Minho melamun lagi di depan meja rendah.
“uh....nanti didikte lagi,” dia mengeluh lagi. Dia memang tipikal cowok yang gak mau hidupnya banyak diatur-atur. Pikirannya sudah kemana-mana, menebak-nebak sendiri.
Lalu dia masuk kamarnya, berbaring disamping Aiko yang sudah tidur duluan.
Dia cuma melihat wajah Aiko, cukup lama dia menatap wajahnya.
“wah..aku bakalan jadi orang tua deh...sanggup gak ya?? Kayaknya berat banget.. kayaknya aku salah langkah di hidupku,” keluh Minho. Dia baru mengeluh, padahal sebelum-sebelumnya dia juga yang mau dengan rencananya itu sedari beberapa bulan lalu. Lalu dia tidur.

Paginya, hari-hari berjalan seperti biasa. Mereka kuliah, pergi sama-sama. Tapi kelakukan Minho jadi agak berbeda, dia malah jadi protektif sekali. Tidak biasanya dia bisa pegang tangan didepan banyak orang, tapi dia malah pegang tangan Aiko erat sekali. Aiko melihat tingkahnya.
“kenapa... enggak mau dipegang tangannya??,” tanya Minho
Karena Aiko takut Minho jadi sensi, dia malah mengelak,”ah..enggak apa-apa”
“tadi malam aku sudah telepon Kumiko Ane,” kata Minho, membuka pembicaraan di bus.
“ah.. permisi, adik.. boleh aku minta kursinya buat isteriku duduk?? Dia sedang hamil.. maaf ya??,” Minho meminta tolong seorang anak sekolah memberikan Aiko duduk untuknya
“maaf ya, paman supir,” katanya juga minta tolong pada supir
Pak supir senyum saja,”isterimu masih muda sekali ya? Kalian pasangan muda ya??”
Minho cengengesan,”eh iya.. sumimasen deshita (aku minta maaf-red)”, dalam bahasa yang sopan dengan dialeknya yang masih ber korea.
Pak supir meminta tolong anak sekolah itu berdiri, karena memang ada kursi prioritas.
“aku kan.. masih sanggup berdiri, Nampyeon..,” kata Aiko
“gak boleh..duduk saja,” balas Minho singkat
“Minho kun ini...kadang menyebalkan.. kadang menyenangkan.. mood nya naik turun,” kata hatinya Aiko
“terima kasih,” jawab Aiko, senyum pada anak sekolah itu. Anak sekolah itu menunduk hormat.
Bus terus melaju sampai depan kampus.

“bisa jalan enggak?? Capek gak kalau jalan??,” tanya Minho
Aiko menggeleng,”enggak.. kan tadi duduk”
“aku antar dulu ya.. sampai fakultas kamu,”
“enggak usah, Nampyeon.. aku bisa sendiri,”
“gak usah gitu deh.. jangan nolak permintaan suami sendiri,” balas Minho
Aiko malas kalau nanti Minho manyun lagi, jadi dia nurut lagi apa katanya. Mereka pun jalan sampai depan ruangan kuliah jam pertama.
“sudah ya.. nanti aku jemput lagi..,” senyum Minho.
Aiko mengangguk,”belajar yang keras ya, Nampyeon”, dia senyum juga.
“kalau enggak kuat berdiri praktikum.. bilang pada dosen mu ya.. kalau kamu lagi hamil,” kata Minho lagi
Aiko mengangguk, Minho mencium nya cepat. Sementara ternyata Myo melihat dari beberapa meter.
“hai hai.. kalian.. pengantin baru.. mesra amat sih pagi-pagi!,” teriak Myo dari beberapa meter
Minho menyapa Myo dengan ramah,”hi, Myo chan.. ohayou! (pagi-red)”
ohisashiburi desu, Minho kun.. (LTNS-red)..wah...romantis banget deh pagi-pagi.. mengantar isteri,” goda Myo ke Minho

Minho langsung mendekati Myo,”eh.. tolong jagain Aiko chan untukku ya.. dia lagi hamil, takut capek... tolong ya”
“eh.. beneran??,” Myo agak kaget
Minho senyum mengangguk,”iya, hehe”
“wah.. baik deh... eh.. omedettou (selamat ya-red),” balas Myo
“terima kasih,” kata Aiko
“tolong jaga ya, Myo chan.. nanti jam 5 sore aku jemput ke sini ya, Aiko chan,” Minho pergi melambaikan tangannya

“eh.. romantis sekali Minho kun ya?? Kamu rakki (untung-red) banget, Aiko chan,” goda Myo
“kalau aku tidak dikurung dikamar kemarin dan kedinginan..aku dan Minho kun enggak tahu kalau aku hamil..karena..aku belum morning sickness,” balas Aiko
Myo kaget,”apa?? Kamu dikurung?? Kenapa??”
Lalu mereka duduk di taman depan ruangan.
“iya..aku dikurung..Minho kun..enggak setuju banget aku bekerja.. aku bilang, aku mau bantu dia..supaya enggak capek sekali setiap harinya...eh, dia maksa.. marah”
“wah... Minho kun itu... tega sekali,” Myo menutup mulutnya
“aku kedinginan, jadi gak mau makan.. aku dikurung dari pagi sampai sore dikamar..,” keluh Aiko
“eh.. kamu bisa lapor sama orangtuamu loh..,” balas Myo
“enggak ah.. nanti otoosan dan okaasan ku marah lagi..semua kan..sudah resiko,”
“eh..tapi kamu gak dipukul kan??,”
Aiko menggeleng,”enggak.. cuma.. Minho kun itu..apa-apa harus turut perintah dia”
“waahh... ternyata kehidupan rumahtangga kamu begitu ya??,” tanya Myo,”tapi..kamu enggak tersiksa kan??”
Aiko cemberut,”kadang sih.. kalau Minho kun sudah kumat cemberut dan maksa”
“yah.. dia cowok muda sih.. jadi mood nya masih berantakan deh,” Myo ikutan manyun.

“orangtuamu sudah tahu ini belum??,” tanya Myo lagi
“aku belum telepon okaasan ku,” balas Aiko,”tapi sepertinya Minho kun sudah telepon orangtuanya”
“gimana reaksi mereka??”, tanya Myo
“aku tidak tahu... aku tidak dekat dengan ibu dan ayahnya Minho kun,” balas Aiko
“aduh.. jadi gini kalau pernikahan jaman sekarang ya?? Sudah nikah muda, gak dekat dengan mertua, semua apa-apa harus sendiri, keuangan juga sendiri.. aduh..enggak deh.. aku enggak mau nikah muda kayak kamu, Aiko chan... berat”
“umm..semua bisa mengalami kok,” jawab Aiko

Minho masuk ruangan, di dalam ada Ichirou yang duduk iseng sambil bikin gambar animasi di kertasnya.
“oi.. Aiko chan hamil,” katanya pada ichirou, lalu dia menarik kursi dan duduk di depan Ichirou
“wah.. selamat deh,” jawab Ichirou senang
“tambah pusing nih,aku...,”keluh Minho
“minta saja bantuan orangtua dan mertua kamu..,”
“eh.. mana bisa?? Harga diriku jatuh,”
“wooh.. dasar cowok pecinta harga diri..,” keluh Ichirou,”memang bayi kalian nanti gak butuh makan.. kalau gak cukup.. gimana??”
“terpaksa cari proyek tambahan nih,” Minho menaruh dagunya di sandaran kursi yang dia buat jadi duduk terbalik.
“Nanti aku bantu carikan deh... kasian banget sih, kamu.. Minho kun.. kecil kecil sudah harus kerja keras,”
“salahku sendiri sih..,” keluh Minho.
“eh?? Kok begitu bilangnya?? Aku rasa enggak.. kalau sudah ambil keputusan.. jangan pernah nyesel,” balas Ichirou
“nanti.. kalau Aiko chan tahu.. gimana perasaannya?? Kamu ini.. ,” tambahnya lagi
“belum tahu ini lah,” balas Minho.
“ya.. namanya hidup kan.. ada berjuangnya.. kamu sih.. awalnya juga terlalu anggap enteng masalah begini,” balas Ichirou.
“eh.. tapi aku memang perlu ikat dia.. entah kenapa.. perasaan cinta,” balas Minho
“cinta mu.. terlalu terburu-buru.. jadi begini dah tuh,”
“cerewet ah.. kamu beneran masih suka sama isteriku ya??,” Minho malah jadi sensi.
Ichirou menggerakkan tangannya,”ah enggak.. kata siapa?? Aku bisa dihajar habis-habisan nanti sama kamu.. sembarangan kamu, Minho kun”
Minho menopang dagu,” eh.. perasaan ku sih gitu..awas loh”
“percaya deeeehhh... masak cowok main perasaan terus?? Aneh deh,” kata Ichirou


Bersambung ke part 12...