Kohashi berbicara dengan besannya
ditelepon. Dia menyinggung soal Min ho, menantunya yang ingin sekali jadi model.
“saya mengerti, Lee san..anda merasa berat
dengan anak anda yang tidak sesuai jalan hidupnya dengan anda sendiri sebagai
orangtuanya... saya pun begitu terhadap anak saya....saya kesal sekali
ketika dia memutuskan menikah dengan Min
ho kun,” kata Kohashi.
“Min ho sudah keterlaluan, jadi dia minta
dukungan anda untuk jadi model??”, suara Lee disana jadi bergetar dan dia emosi
dengan anaknya sendiri.
“jangan dulu emosi, Lee san...mereka masih
anak muda,” jawab Kohashi,”bukannya waktu kita muda juga, mungkin kita tidak
sama cita-citanya dengan orangtua kita sendiri??”
“Anda orang militer tapi kenapa tidak bisa
keras dengan anak sendiri??,”
“saya bisa keras, tapi bisa juga
demokratis... Minho dan Aiko harus belajar menentukan hidupnya sendiri, mereka
sudah punya tanggung jawab. Saya katakan pada Min ho kun, jika dia ingin jadi
model, maka jalan hidupnya silahkan dia tanggung sendiri, karena berarti dia
harus melepas kerja nya yang sekarang,”
“kalau perlu..saya akan stop semuanya
aliran keuangan,” balas Lee
“itu semua terserah Anda, Lee san..,” kata
Kohashi.
“aku tidak yakin ayahku masih memberikan
ijin,” kata Minho dikamar mereka
“lalu.. kalau ayahmu tidak ijinkan...
bagaimana??,”
“aku tetap mau jadi model,” Minho cemberut
“ah.. mulai lagi deh.. Min ho kun,” kata
hatinya Aiko. Aslinya dia agak malas lihat pasangannya kalau sudah cemberut,
tandanya keras kepalanya mulai dan mesti dituruti.
“aku dukung saja Otto.. pada dasarnya..aku
juga suka bingung kalau Otto sudah pulang kerja malam hari.. aku capek
nunggunya,” kata Aiko
“capek apa kangen sama aku.. sehari gak
ketemu??,” Min ho malah senyum genit.
“dua-duanya.. habisnya.. Otto kalau tidak
dikangen nin.. nanti direbut yang lain,” canda balik Aiko
Min ho merangkul Aiko,”eh.. dukung aku ya?
Kalau aku mau yang baik-baik??”
Aiko mengangguk,”iya.. tapi..enggak pake
cemberut lagi”
“memang aku suka cemberut ya??,”
“ih..suka banget.. Otto kalau sudah enggak
suka sesuatu langsung cemberut,”
Min ho malah tertawa kecil. Sifat
anak-anaknya memang muncul kalau sudah cemberut, dan dia bisa mendiamkan orang
berhari-hari.
“aku tidak suka Otto mendiamkan aku kalau
marah.. aku jadi bingung,” kata Aiko lagi.
“terus..aku harus merubah??,” tanya Min
ho.
“setidaknya.. jangan diamkan aku
berhari-hari,”
“huff..iya deh...aku usahakan,”
“kalau ada masalah, apapun itu, tolong
diceritakan padaku,”
“iya..iya,” balas Min ho, sudah mulai agak
kesal dinasehati.
“musim semi sudah hampir mau lewat nih..
sebentar lagi musim dingin.. jadi liburan??,” tanya Min ho.
“itu semua terserah Otto,”
“yang ini..bisa dibawa jalan-jalan kan??,”
katanya memeluk Aiko sambil memegang perutnya.
“aku tidak pusing lagi kok,” balas
Aiko,”masuk musim dingin..sudah masuk enam bulan, sudah bisa kemana-mana”
“senangnya.. aku ingin banget liburan lagi
sama kamu,” Min ho merangkulnya.
“eh hehehe.. apa..kita sudah punya cukup
uang??,” tanya Aiko
“ummm,” Min ho mikir,”kalau memang jadi
model.. ya cukup,”
“aku belum pernah lihat Seoul,”
“makanya..nanti kita liburan.. ya??,” kata
Min ho lagi
“eh.. kuliahmu makin padat saja, Aiko
chan.. kalau memang kamu kelelahan banget..sepertinya sih, kamu harus bilang
sama dosen tertentu yang kuliahnya panjang,” lanjut Min ho lagi
“yang lelah kalau praktek..aku harus
berdiri lama.. kaki ku jadi bengkak,” keluh Aiko.
“nanti aku belikan oil massage dari Jeju
deh.. minta Eomma kirimkan,” senyum Min ho.
“makasih ya,” senyum Aiko
“aku malas dirumah nih.. masak minggu di
rumah terus sih??,” tanya Min ho
“kita main ke kost an yang lain yuk??,”
lanjutnya lagi,”aku telepon yang lain dulu”
“cheers!!!,”
seperti biasa, kalau mereka kumpul, suka angkat kaleng minuman.
“eh.. kemarin aku dapat bocoran dari
salahsatu juri.. katanya kamu lulus loh, Min ho kun,” cengar cengir Makoto.
Min ho menepuk dahinya.
Makoto heran,”loh, kenapa?? Jarang banget
ada orang langsung diterima gitu.. katanya, wajah asia mu lumayan buat jadi
objek foto.. kamu bakalan dapat kontrak dari merk baju terkenal itu loh.. “
“sudah.. terima saja, Min ho kun,” kata
Sakura
“eh..bukan begitu.. orangtuaku marah,”
balas Min ho.
“ya..kalau marah dan gak
ijinkan..kesempatan hilang,” balas Makoto, santai
“duit dari jadi model itu banyak
banget..dan kontrak produk itu minimal 1 tahun.. punya body model kok gak
dipake,” sindir Makoto lagi
“Makoto kun.. kalau Min ho Otto gak mau..
ya sudah dong,” bela Aiko ke pasangannya.
“kalau aku jadi kamu..aku ambil.. kapan
lagi?? Kamu kan sudah pernah kerja beberapa kali..nanti kerja yang ini jadi
pengalaman tuh,” kata Ichirou
“tuh.. dengerin apa kata Ichirou kun..
best friend mu,” sindir Makoto lagi.
Min ho garuk-garuk kepalanya, dia bete
berat dengan sindiran kedua temannya itu.
“kamu pertimbangkan lah, Min ho kun,” kata
Ken.
“aku sudah mau.. tapi harus bujuk
orangtuaku.. kalau memang aku diterima besok.. aku juga bingung,” kata Min ho.
“nekat dong ah.. masak gak berani?? Sudah
mau punya anak kok,” kata Ken lagi.
“aku malas dengar omelan orangtuaku,” kata
Min ho.
“ish.. masak iya sih??,” lagi lagi Makoto
bicara,”aku juga dulu begitu.. tapi malah akhirnya orangtuaku suka”
“kalau gitu.. Aiko chan saja yang bicara
sama orangtuamu.. ,” kata Makoto lagi
“umm.. harus aku ya?,” tanya Aiko
Makoto mengangguk,”ya.. barangkali
orangtua Min ho kun sayang sama kamu”
“dicoba aja dulu.. sayang banget
kesempatan ini, Aiko chan.. kapan lagi Min ho kun bisa dapat banyak uang??,”
tanya Rin
“umm,” balas Aiko. Lalu tak berapa
lama,”baiklah”
Ken menepuk-nepuk pundak Min ho,”nah..
sudah didukung.. ayo terima besok!”
“berani..kamu telepon Eomma.. bilang kalau
aku sebenarnya mau jadi model??,” tanya Min ho di ruangan depan.
Aiko mengangguk,”aku telepon sekarang saja
ya.. gak apa kan??,”
Min ho memberikan Hp padanya.
“oh.. Aiko.. ada apa telepon ibu, nak??,”
tanya ibunya Min ho, ramah
“ibu dan ayah.. baik??,” kata Aiko basa
basi
“kami baik.. bagaimana kalian??,” jawab
ibunya Min ho, dengan suara yang ramah.
“baik, ibu.. adik kecil juga baik.. ini
sudah mulai menedang-nendang, hehe,” Aiko mencoba ramah dengan ibu mertuanya
“ada yang ingin aku bicarakan tentang Min
ho Nampyeon dan aku,” katanya lagi
“oh..tentang apa?? Min ho tidak nakal
dengan mu kan??,” heran ibunya Minho
“tidak, ibu.. berhubungan dengan keinginan
Nampyeon menjadi model.. aku berharap.. ibu dan ayah mengijinkannya,”
Ibunya Minho berfikir,”umm... apa ini yang
kalian inginkan??”
“aku mendukung sepenuhnya, ibu... itu
sebabnya aku minta ijin pada ayah dan ibu.. ijinkan Nampyeon menjadi dirinya..
termasuk saat mencari kerja,”
“nampyeon akan diterima jadi model, ibu..
kalau ayah dan ibu ijinkan.. kami bisa liburan akhir tahun di Seoul,” kata Aiko
lagi.
“bukannya ibu tidak mengijinkan..ayahnya
yang sangat keras dan besan sempat telepon suamiku,” jawab ibunya
“ayahku telepon ayah??,” tanya Aiko
“iya.. ayahmu telepon kami.. “
“ah..mungkin Nampyeon cerita pada ayah
tentang keinginannya.. ayah ku biasa saja menanggapinya, kalau memang bisa,
lakukan saja,”
“apakah ayah dan ibu di Seoul juga
mengijinkan Minho nampyeon sebagai model?,” lanjut Aiko lagi
“semua tergantung pada ayahnya Minho,”
balas ibunya
“bolehkah aku bicara dengan ayah??,” pinta
Aiko
Min ho hanya memperhatikan Aiko.
“kamu mau bicara dengan ayah??,” kata
Minho agak berbisik pada Aiko
Aiko mengangguk.
Tak berapa lama, ibunya Min ho memberikan
teleponnya pada Aiko.
Aiko pun berbasa basi dengan ayah
mertuanya itu sejenak.
“Besan sudah telepon saya.. bertanya hal
yang sama,” jawab ayahnya Min ho.
“jadi..kalian mendukung Min ho menjadi
model?? Bagaimana kalau dia ternyata tidak bisa menghasilkan banyak uang dengan
jadi model untuk kamu dan keluarga kalian, Aiko?? Ayah hanya minta jawaban itu
saja dari kamu,”
“aku yakin saja.. kalau apa yang
pasanganku pilih..akan jadi hal baik untuknya.. kalau memang Min ho nampyeon
merasa bisa menjadi model.. kenapa tidak??,” balas Aiko
“ah.. kalian ini tidak realistis..
harusnya ketika kondisi menikah seperti ini.. kalian realistis,”
“aku tidak bisa selalu melanggar apa yang
dipikirkannya, Ayah..lagipula, kami masih baik-baik saja,”
“apa seterusnya..yakin akan baik?? Aku
lebih tahu sifat anakku dibanding kamu yang baru beberapa bulan hidup
bersamanya,”
Dibilang begitu, Aiko cukup ngeper juga,
dia agak sedikit terdiam.
“ah...ayah..aku hanya yakin, Min ho
Nampyeon bisa lakukan yang terbaik dalam hidupnya,” sambil senyum
Min ho heran dengan apa ucapan ayahnya
pada pasangannya itu sehingga dia mendengar Aiko menjawab seperti itu.
“baiklah..itu terserah kalian. Tapi saya
tidak semudah itu. Saya hanya bisa menngirimkan uang jika Min ho bekerja biasa.
Dengan dia akan sebagai model, berarti saya harus stop aliran uang untuk kalian
setiap bulannya, jadi pikirkanlah,”
Aiko diam sejenak, lalu,”akan aku
bicarakan dengan Nampyeon, ayah...terima kasih”
“bagaimana??,” mata Min ho berbinar duluan
“ayah bilang...tidak apa,” balas Aiko
dengan suara pelan
“tapi kok suaramu seperti itu??,”
“ya..ayah bilang lagi, kalau dia akan
menyetop total kiriman uang kalau Nampyeon beneran jadi model,”
“APA? Kok Appa sampai segitunya dengan
aku??,” dia kaget
Aiko mengangguk,”begitulah yang ayah
bilang. Jadi...harus bagaimana??”
“uh.. Appa menyebalkan!!”, Min ho kesal
sendiri. Dia membanting buku nya yang ada di depannya dengan keras, sampai
sampul depannya robek.
Aiko buru-buru bangun dan mengelus
punggunya,”sabar... Appa cuma ingin menguji saja”
“Appa gak pernah seperti itu!,” suara Min
ho masih tinggi.
“mungkin Ayah ingin kita lebih mandiri,”
kata Aiko lagi, masih berusaha menenangkannya.
“gak..aku tahu Appa menghukum kita,” suara
Min ho jutek.
“besok lagi keputusannya, huh!,” dia malah
menendang meja rendah
“Min ho Nampyeon...tahan amarah dong. Aku
gak bisa kamu seperti ini,” Aiko jadi sensitif juga.
Min ho langsung masuk kamar kerjanya,
pintu ditutup dengan keras.
“uh...mulai lagi....mulai lagi,” keluh
Aiko
Min ho masih mengurung diri di kamar
kerjanya, waktu makan tiba.
“Nampyeon...aku sudah masak, mari makan,”
ketuk Aiko ke pintu kamar kerjanya.
Min ho malas menjawab, tapi Aiko mencoba
mengetuk pintu lagi dan mengajaknya makan.
“Makan aja sendiri, malas,” balas Min ho
dari dalam ruangan.
“umm...ya sudah deh..aku makan
sendiri..aku gak tahan lapar,” kata Aiko, dia lantas makan sendiri.
“okaasan,aku baru tahu kalau Min ho kun
marah, jelek sekali sih sifatnya,” keluh Aiko sambil makan.
Dia tetap makan sendirian. Lalu
mengerjakan tugasnya untuk besok kuliah.
2 jam kemudian, Min ho baru keluar kamar.
“aku lapar,” katanya.
Aiko cuma senyum,”sebentar ya,aku siapkan
dulu,”
Min ho diam, lalu dia duduk. Aiko
membereskan meja tempat dia belajar dan lalu menyiapkan makanan untuknya.
Min ho makan dengan wajah masih cemberut.
“sudah dong, Nampyeon, jangan cemberut
terus,”
“suka suka aku,” balas Min ho, jutek.
Aiko diam lagi, dalam hatinya dia cuma
bisa bilang,”ya deh...terserah kamu..paling aku akan didiamkan berhari-hari lagi”.
Tampaknya dia sudah tahu benar tabiat jelek Min ho, kalau gak menggerutu, ya
diam berhari-hari.
Dan.. benar saja, Min ho diam malam itu,
gak ngomong sama sekali.
“lama-lama aku bisa tersiksa juga nih,”
keluh hatinya Aiko. Dia mengintip kamar tempat Min ho suka bekerja atau
mengutak-atik tugasnya. Dilihatnya, dia memang sedang mengerjakan tugas animasi
desain.
Aiko berani menghampirinya pelan-pelan,
lalu memeluk leher Min ho.
“sedang buat apa?,” katanya memulai
pembicaraan.
“tugas,”balas Min ho, singkat.
Lalu Aiko menarik kursi dan duduk
disampingnya, memperhatikan Min ho kerja, sampai cukup lama juga.
Min ho menoleh padanya,”ada yang perlu
kita obrolin lagi gak??”
Aiko jadi sensitif,”kenapa bicara nya
begitu sih?? Aku ingin terkadang ada di samping Nampyeon kalau lagi kerjakan
tugas atau bekerja.. “
“aku lagi sensitif,” balas Min ho.
“ya.. tapi enggak perlu sensitif
terhadapku dan perutku,” balas Aiko, dia malah senyum.
“Min ho Nampyeon.. kalau cemberut manis..
tapi lebih manis kalau senyum deh..,” katanya lagi
Min ho masih diam. Dia masih kutak-katik
tugasnya.
“memang kamu gak ada tugas kuliah??,”
katanya, masih agak sedikit jutek pada Aiko.
Aiko menggeleng,”enggak.. minggu ini aku
agak ringan.. tapi minggu besok aku ujian”
“lebih baik belajar kalau begitu,” ujar
Min ho, ringan
“aku gak mau belajar kalau gak
bareng-bareng,” senyum Aiko.
“manjanya kumat deh,” balas Min ho.
“yang minta bukan aku... tapi ini,” jawab
Aiko, menunjuk perutnya yang sudah semakin besar.
“trus... minta es krim delima lagi??,” Min
ho baru menoleh.
Aiko menggeleng,”enggak.. “
“trus??”
“tapi minta dipeluk,”
Min ho menoleh lagi, baru dia bisa senyum
sedikit.
“sini,” katanya. Lalu Aiko mendekat
padanya, Min ho memeluknya.
“kalau aku lagi kesal.. agak jauh
denganku.. nanti bisa-bisa kumarahi kamu habis-habisan loh..mengerti aku ya?,”
kata Min ho.
“tapi..aku tuh sebenarnya sedih kalau Otto
cemberut terus..kenapa sih??kenapa semua suka dibebankan sendirian aja??,”
Min ho mikir,”umm..gimana ya??aku suka
malas cerita”
“lebih baik kan..enggak begitu.. cerita
aja apa adanya.. kan kita sepasang,” balas Aiko lagi.
“kadang..aku suka merasa butuh waktu,”
kata Min ho.
“umm.. baik deh,” ujar Aiko,”tapi..untuk
yang tadi.. kalau memang Nampyeon suka..kenapa sih..kita enggak ambil
keputusan, pekerjaan itu diambil saja??aku gak keberatan kok,”
“aku paling takut kalau ayahku marah,”
“aku juga..apalagi Otoosan tentara,” balas
Aiko,”tapi kan..kita punya pilihan sendiri..kalau Otto suka..kenapa
enggak??kita tanggung sama-sama”
Min ho melepas pelukannya,”jadi.. kamu
dukung aku??”
Aiko mengangguk senyum,”iya.. jadi, kalau
ayah Lee marahin Nampyeon..Ayah Lee harus marahi juga aku”
“eh..masak iya kamu gak salah..harus
dimarahi Appa??”
“gak apa..kan sudah janji..semua ditanggung
bersama,” senyum Aiko lagi,”jadi..jangan cemberut lama-lama lagi ya?? Aku sedih
loh”
Min ho senyum, lalu dia mencium
pasangannya itu.
“ke kamar sebelah yuk? Hehe,” katanya,
menarik tangan Aiko.
“well.. Lee san.. kamu diterima..omedettou,” kata salahseorang juri
“wah.. aku gak nyangka diterima jadi
model,” balas Min ho, basa basi.
“benar kan?? Aku sudah bilang,” kata
seorang juri cewek yang waktu lalu memfotonya
“ini kontraknya..silahkan dibaca dahulu..
pemotretan tidak di jepang.. tapi di china,” kata juri cowok
“jadi..aku harus ke china??,” tanya Min
ho.
Juri cewek mengangguk,”ya.. memang ke
sana.. semua akomodasi kami sudah tanggung”
“aduh.. bakalan meninggalkan Aiko chan
ini,” kata Minho dalam hati
“maaf.. berapa lama??,” dia bertanya pada
juri lagi
“sekitar 1 minggu..karena akan ada di
beberapa daerah.. sudah pernah ke china sebelumnya?,” tanya juri cowok
“eh..belum.. mau banget pastinya kesana,”
jawab Min ho, basa basi.
“ya..kalau gitu, segera kita persiapkan
visa dan passport..karena kamu masih kuliah, kamu harus ijin universitas. Ini
produk terkenal 3 bangsa: korea, jepang dan china. Pabriknya memang dichina,
tapi kualitas mahal. Khusus hanya produksi pakaian pria.. dan mereka bilang,
wajahmu pas sekali untuk jadi model mereka, terutama pakaian musim dingin dan
pakaian tahun depan untuk musim panas,” kata juri cowok lagi.
“aduh..aku tinggalkan Aiko chan 1 minggu
deh,” kata Minho dalam hatinya lagi.
“segera ya.. kita urus dan kamu urus
akademik mu,” kata juri cowok itu
“ah..iya..baik, terima kasih,” Min ho
menunduk hormat. Gak berapa lama dia membaca kontrak dan tanda tangan, dia pun
pamit.
“Aiko chan..aku diterima,” Minho kembali
ke kampus dan menjemput Aiko
“eh..beneran??,” wajah Aiko senang sekali.
“tapi..aku harus pergi ke china..katanya
sih.. 1 minggu loh,” Min ho mulai cemberut lagi,”nanti aku tinggalin kamu dan
anak kita deh..”
Aiko bukan kesal dengan cemberutnya Min
ho, tapi malah tertawa kecil,”pasti menangnya bukan karena Nampyeon berfoto
cemberut..iya kan?hihi”
“mulai deh..godain,” keluh Min ho.
“terus..gimana nih?? Apa kamu gak masalah
ditinggal 1minggu lebih??”, katanya lagi
Aiko mengangguk,”un.. daijyoubu.. (gak masalah-red)..aku bisa pulang ke rumah”
“apa nanti ayah dan ibu mertua gak marah,
kamu pulang ke rumah??,” tanya Min ho lagi.
“enggak kalau aku pikir,” senyum Aiko.
“tapi..aku dibawakan oleh-oleh ya??baju
dress yang cantik”, tambahnya lagi
“pasti.. aku juga mau belikan baju buat
dia.. anak perempuan pastinya cantik,” senyum Min ho.
“lalu..untuk kuliah..bagaimana?,” tanya
Aiko
“itu tuh..aku bingung..aku harus ijin dong??,”
Min ho cemberut lagi
“ijin saja.. gak apa.. namanya juga
bekerja..gak masalah dengan pengurangan absen beasiswa kan??”, jawab Aiko
“enggak kok...kalau soal absen,” balas Min
ho.
“umm..nanti..kalau disana ketemu
cewek-cewek cantik..jangan melirik ya??,” goda Aiko.
“umm..memangnya aku gak setia ya?,” Min ho
jadi sensi.
“idih..bukan begitu.. cuma bercanda,”
jawab Aiko.
“iya deh..aku juga tahu kok..cuma
bercanda,” balas Minho.
“jalan yuk??,” katanya lagi
“kemana??,”
“beli es krim, hehehe,” Minho cengengesan.
“gak ah.. beli kue coklat aja,” balas
Aiko.
“eh..kita besok main ke rumah kamu yuk?
Gak capek kan??,”
Aiko mengangguk,”gak.. Min ho Nampyeon..
jadi suka dengan rumahku ya?hihihi”
“iya.. habisnya.. ibu mertua baik
sih..masakannya enak, hehe”
“uhh..memang masakanku gak enak ya??,”
keluh Aiko, manja padanya.
“enak sihhh... tapiiiiiiiiiiii.....,”
canda Minho
“tapi apa??”
“tapi masak Kimchi kok bisa rasa durian
ya?hehehe,” Minho bercanda padanya
“mana ada.. ih?? Bilang aja mau ngeledek..
dasar,” Aiko memencet hidung Minho sampai merah
“aduh.. jangan dipencet dong.. nanti aku
disangka badut sama orang-orang dijalan..tega deh,” keluh Min ho.
Aiko cekikikan. Minho berdiri, memegang
tangan Aiko
“pulang yuk..tapi..kita makan enak dulu di
kedai makanan korea yang biasa.. ,” senyumnya pada Aiko
“aku mau bulgogi,” jawab Aiko
Min ho menggenggam tangannya,”mau makan 5
piring juga gak apa..biar anak ku kenyang, hehe”
“ih..memangnya aku gentong,” balas Aiko.
Min ho tertawa.. mereka pulang kuliah
langsung ke kedai makanan korea...
Bersambung ke part 17...