This is me....

Rabu, April 16, 2014

Pernikahan ½ (Part 16: Jadi Model Jangan Cemberut Ya?)

Kohashi berbicara dengan besannya ditelepon. Dia menyinggung soal Min ho, menantunya yang ingin sekali jadi model.
“saya mengerti, Lee san..anda merasa berat dengan anak anda yang tidak sesuai jalan hidupnya dengan anda sendiri sebagai orangtuanya... saya pun begitu terhadap anak saya....saya kesal sekali ketika  dia memutuskan menikah dengan Min ho kun,” kata Kohashi.
“Min ho sudah keterlaluan, jadi dia minta dukungan anda untuk jadi model??”, suara Lee disana jadi bergetar dan dia emosi dengan anaknya sendiri.
“jangan dulu emosi, Lee san...mereka masih anak muda,” jawab Kohashi,”bukannya waktu kita muda juga, mungkin kita tidak sama cita-citanya dengan orangtua kita sendiri??”
“Anda orang militer tapi kenapa tidak bisa keras dengan anak sendiri??,”
“saya bisa keras, tapi bisa juga demokratis... Minho dan Aiko harus belajar menentukan hidupnya sendiri, mereka sudah punya tanggung jawab. Saya katakan pada Min ho kun, jika dia ingin jadi model, maka jalan hidupnya silahkan dia tanggung sendiri, karena berarti dia harus melepas kerja nya yang sekarang,”
“kalau perlu..saya akan stop semuanya aliran keuangan,” balas Lee
“itu semua terserah Anda, Lee san..,” kata Kohashi.


“aku tidak yakin ayahku masih memberikan ijin,” kata Minho dikamar mereka
“lalu.. kalau ayahmu tidak ijinkan... bagaimana??,”
“aku tetap mau jadi model,” Minho cemberut
“ah.. mulai lagi deh.. Min ho kun,” kata hatinya Aiko. Aslinya dia agak malas lihat pasangannya kalau sudah cemberut, tandanya keras kepalanya mulai dan mesti dituruti.
“aku dukung saja Otto.. pada dasarnya..aku juga suka bingung kalau Otto sudah pulang kerja malam hari.. aku capek nunggunya,” kata Aiko
“capek apa kangen sama aku.. sehari gak ketemu??,” Min ho malah senyum genit.
“dua-duanya.. habisnya.. Otto kalau tidak dikangen nin.. nanti direbut yang lain,” canda balik Aiko
Min ho merangkul Aiko,”eh.. dukung aku ya? Kalau aku mau yang baik-baik??”
Aiko mengangguk,”iya.. tapi..enggak pake cemberut lagi”
“memang aku suka cemberut ya??,”
“ih..suka banget.. Otto kalau sudah enggak suka sesuatu langsung cemberut,”
Min ho malah tertawa kecil. Sifat anak-anaknya memang muncul kalau sudah cemberut, dan dia bisa mendiamkan orang berhari-hari.
“aku tidak suka Otto mendiamkan aku kalau marah.. aku jadi bingung,” kata Aiko lagi.
“terus..aku harus merubah??,” tanya Min ho.
“setidaknya.. jangan diamkan aku berhari-hari,”
“huff..iya deh...aku usahakan,”
“kalau ada masalah, apapun itu, tolong diceritakan padaku,”
“iya..iya,” balas Min ho, sudah mulai agak kesal dinasehati.
“musim semi sudah hampir mau lewat nih.. sebentar lagi musim dingin.. jadi liburan??,” tanya Min ho.
“itu semua terserah Otto,”
“yang ini..bisa dibawa jalan-jalan kan??,” katanya memeluk Aiko sambil memegang perutnya.
“aku tidak pusing lagi kok,” balas Aiko,”masuk musim dingin..sudah masuk enam bulan, sudah bisa kemana-mana”
“senangnya.. aku ingin banget liburan lagi sama kamu,” Min ho merangkulnya.
“eh hehehe.. apa..kita sudah punya cukup uang??,” tanya Aiko
“ummm,” Min ho mikir,”kalau memang jadi model.. ya cukup,”
“aku belum pernah lihat Seoul,”
“makanya..nanti kita liburan.. ya??,” kata Min ho lagi
“eh.. kuliahmu makin padat saja, Aiko chan.. kalau memang kamu kelelahan banget..sepertinya sih, kamu harus bilang sama dosen tertentu yang kuliahnya panjang,” lanjut Min ho lagi
“yang lelah kalau praktek..aku harus berdiri lama.. kaki ku jadi bengkak,” keluh Aiko.
“nanti aku belikan oil massage dari Jeju deh.. minta Eomma kirimkan,” senyum Min ho.
“makasih ya,” senyum Aiko
“aku malas dirumah nih.. masak minggu di rumah terus sih??,” tanya Min ho
“kita main ke kost an yang lain yuk??,” lanjutnya lagi,”aku telepon yang lain dulu”

cheers!!!,” seperti biasa, kalau mereka kumpul, suka angkat kaleng minuman.
“eh.. kemarin aku dapat bocoran dari salahsatu juri.. katanya kamu lulus loh, Min ho kun,” cengar cengir Makoto.
Min ho menepuk dahinya.
Makoto heran,”loh, kenapa?? Jarang banget ada orang langsung diterima gitu.. katanya, wajah asia mu lumayan buat jadi objek foto.. kamu bakalan dapat kontrak dari merk baju terkenal itu loh.. “
“sudah.. terima saja, Min ho kun,” kata Sakura
“eh..bukan begitu.. orangtuaku marah,” balas Min ho.
“ya..kalau marah dan gak ijinkan..kesempatan hilang,” balas Makoto, santai
“duit dari jadi model itu banyak banget..dan kontrak produk itu minimal 1 tahun.. punya body model kok gak dipake,” sindir Makoto lagi
“Makoto kun.. kalau Min ho Otto gak mau.. ya sudah dong,” bela Aiko ke pasangannya.
“kalau aku jadi kamu..aku ambil.. kapan lagi?? Kamu kan sudah pernah kerja beberapa kali..nanti kerja yang ini jadi pengalaman tuh,” kata Ichirou
“tuh.. dengerin apa kata Ichirou kun.. best friend mu,” sindir Makoto lagi.
Min ho garuk-garuk kepalanya, dia bete berat dengan sindiran kedua temannya itu.
“kamu pertimbangkan lah, Min ho kun,” kata Ken.
“aku sudah mau.. tapi harus bujuk orangtuaku.. kalau memang aku diterima besok.. aku juga bingung,” kata Min ho.
“nekat dong ah.. masak gak berani?? Sudah mau punya anak kok,” kata Ken lagi.
“aku malas dengar omelan orangtuaku,” kata Min ho.
“ish.. masak iya sih??,” lagi lagi Makoto bicara,”aku juga dulu begitu.. tapi malah akhirnya orangtuaku suka”
“kalau gitu.. Aiko chan saja yang bicara sama orangtuamu.. ,” kata Makoto lagi
“umm.. harus aku ya?,” tanya Aiko
Makoto mengangguk,”ya.. barangkali orangtua Min ho kun sayang sama kamu”
“dicoba aja dulu.. sayang banget kesempatan ini, Aiko chan.. kapan lagi Min ho kun bisa dapat banyak uang??,” tanya Rin
“umm,” balas Aiko. Lalu tak berapa lama,”baiklah”
Ken menepuk-nepuk pundak Min ho,”nah.. sudah didukung.. ayo terima besok!”

“berani..kamu telepon Eomma.. bilang kalau aku sebenarnya mau jadi model??,” tanya Min ho di ruangan depan.
Aiko mengangguk,”aku telepon sekarang saja ya.. gak apa kan??,”
Min ho memberikan Hp padanya.
“oh.. Aiko.. ada apa telepon ibu, nak??,” tanya ibunya Min ho, ramah
“ibu dan ayah.. baik??,” kata Aiko basa basi
“kami baik.. bagaimana kalian??,” jawab ibunya Min ho, dengan suara yang ramah.
“baik, ibu.. adik kecil juga baik.. ini sudah mulai menedang-nendang, hehe,” Aiko mencoba ramah dengan ibu mertuanya
“ada yang ingin aku bicarakan tentang Min ho Nampyeon dan aku,” katanya lagi
“oh..tentang apa?? Min ho tidak nakal dengan mu kan??,” heran ibunya Minho
“tidak, ibu.. berhubungan dengan keinginan Nampyeon menjadi model.. aku berharap.. ibu dan ayah mengijinkannya,”
Ibunya Minho berfikir,”umm... apa ini yang kalian inginkan??”
“aku mendukung sepenuhnya, ibu... itu sebabnya aku minta ijin pada ayah dan ibu.. ijinkan Nampyeon menjadi dirinya.. termasuk saat mencari kerja,”
“nampyeon akan diterima jadi model, ibu.. kalau ayah dan ibu ijinkan.. kami bisa liburan akhir tahun di Seoul,” kata Aiko lagi.
“bukannya ibu tidak mengijinkan..ayahnya yang sangat keras dan besan sempat telepon suamiku,” jawab ibunya
“ayahku telepon ayah??,” tanya Aiko
“iya.. ayahmu telepon kami.. “
“ah..mungkin Nampyeon cerita pada ayah tentang keinginannya.. ayah ku biasa saja menanggapinya, kalau memang bisa, lakukan saja,”
“apakah ayah dan ibu di Seoul juga mengijinkan Minho nampyeon sebagai model?,” lanjut Aiko lagi
“semua tergantung pada ayahnya Minho,” balas ibunya
“bolehkah aku bicara dengan ayah??,” pinta Aiko
Min ho hanya memperhatikan Aiko.
“kamu mau bicara dengan ayah??,” kata Minho agak berbisik pada Aiko
Aiko mengangguk.
Tak berapa lama, ibunya Min ho memberikan teleponnya pada Aiko.
Aiko pun berbasa basi dengan ayah mertuanya itu sejenak.

“Besan sudah telepon saya.. bertanya hal yang sama,” jawab ayahnya Min ho.
“jadi..kalian mendukung Min ho menjadi model?? Bagaimana kalau dia ternyata tidak bisa menghasilkan banyak uang dengan jadi model untuk kamu dan keluarga kalian, Aiko?? Ayah hanya minta jawaban itu saja dari kamu,”
“aku yakin saja.. kalau apa yang pasanganku pilih..akan jadi hal baik untuknya.. kalau memang Min ho nampyeon merasa bisa menjadi model.. kenapa tidak??,” balas Aiko
“ah.. kalian ini tidak realistis.. harusnya ketika kondisi menikah seperti ini.. kalian realistis,”
“aku tidak bisa selalu melanggar apa yang dipikirkannya, Ayah..lagipula, kami masih baik-baik saja,”
“apa seterusnya..yakin akan baik?? Aku lebih tahu sifat anakku dibanding kamu yang baru beberapa bulan hidup bersamanya,”
Dibilang begitu, Aiko cukup ngeper juga, dia agak sedikit terdiam.
“ah...ayah..aku hanya yakin, Min ho Nampyeon bisa lakukan yang terbaik dalam hidupnya,” sambil senyum
Min ho heran dengan apa ucapan ayahnya pada pasangannya itu sehingga dia mendengar Aiko menjawab seperti itu.
“baiklah..itu terserah kalian. Tapi saya tidak semudah itu. Saya hanya bisa menngirimkan uang jika Min ho bekerja biasa. Dengan dia akan sebagai model, berarti saya harus stop aliran uang untuk kalian setiap bulannya, jadi pikirkanlah,”
Aiko diam sejenak, lalu,”akan aku bicarakan dengan Nampyeon, ayah...terima kasih”

“bagaimana??,” mata Min ho berbinar duluan
“ayah bilang...tidak apa,” balas Aiko dengan suara pelan
“tapi kok suaramu seperti itu??,”
“ya..ayah bilang lagi, kalau dia akan menyetop total kiriman uang kalau Nampyeon beneran jadi model,”
“APA? Kok Appa sampai segitunya dengan aku??,” dia kaget
Aiko mengangguk,”begitulah yang ayah bilang. Jadi...harus bagaimana??”
“uh.. Appa menyebalkan!!”, Min ho kesal sendiri. Dia membanting buku nya yang ada di depannya dengan keras, sampai sampul depannya robek.
Aiko buru-buru bangun dan mengelus punggunya,”sabar... Appa cuma ingin menguji saja”
“Appa gak pernah seperti itu!,” suara Min ho masih tinggi.
“mungkin Ayah ingin kita lebih mandiri,” kata Aiko lagi, masih berusaha menenangkannya.
“gak..aku tahu Appa menghukum kita,” suara Min ho jutek.
“besok lagi keputusannya, huh!,” dia malah menendang meja rendah
“Min ho Nampyeon...tahan amarah dong. Aku gak bisa kamu seperti ini,” Aiko jadi sensitif juga.
Min ho langsung masuk kamar kerjanya, pintu ditutup dengan keras.
“uh...mulai lagi....mulai lagi,” keluh Aiko

Min ho masih mengurung diri di kamar kerjanya, waktu makan tiba.
“Nampyeon...aku sudah masak, mari makan,” ketuk Aiko ke pintu kamar kerjanya.
Min ho malas menjawab, tapi Aiko mencoba mengetuk pintu lagi dan mengajaknya makan.
“Makan aja sendiri, malas,” balas Min ho dari dalam ruangan.
“umm...ya sudah deh..aku makan sendiri..aku gak tahan lapar,” kata Aiko, dia lantas makan sendiri.
“okaasan,aku baru tahu kalau Min ho kun marah, jelek sekali sih sifatnya,” keluh Aiko sambil makan.
Dia tetap makan sendirian. Lalu mengerjakan tugasnya untuk besok kuliah.
2 jam kemudian, Min ho baru keluar kamar.
“aku lapar,” katanya.
Aiko cuma senyum,”sebentar ya,aku siapkan dulu,”
Min ho diam, lalu dia duduk. Aiko membereskan meja tempat dia belajar dan lalu menyiapkan makanan untuknya.
Min ho makan dengan wajah masih cemberut.
“sudah dong, Nampyeon, jangan cemberut terus,”
“suka suka aku,” balas Min ho, jutek.
Aiko diam lagi, dalam hatinya dia cuma bisa bilang,”ya deh...terserah kamu..paling aku akan didiamkan berhari-hari lagi”. Tampaknya dia sudah tahu benar tabiat jelek Min ho, kalau gak menggerutu, ya diam berhari-hari.

Dan.. benar saja, Min ho diam malam itu, gak ngomong sama sekali.
“lama-lama aku bisa tersiksa juga nih,” keluh hatinya Aiko. Dia mengintip kamar tempat Min ho suka bekerja atau mengutak-atik tugasnya. Dilihatnya, dia memang sedang mengerjakan tugas animasi desain.
Aiko berani menghampirinya pelan-pelan, lalu memeluk leher Min ho.
“sedang buat apa?,” katanya memulai pembicaraan.
“tugas,”balas Min ho, singkat.

Lalu Aiko menarik kursi dan duduk disampingnya, memperhatikan Min ho kerja, sampai cukup lama juga.
Min ho menoleh padanya,”ada yang perlu kita obrolin lagi gak??”
Aiko jadi sensitif,”kenapa bicara nya begitu sih?? Aku ingin terkadang ada di samping Nampyeon kalau lagi kerjakan tugas atau bekerja.. “
“aku lagi sensitif,” balas Min ho.
“ya.. tapi enggak perlu sensitif terhadapku dan perutku,” balas Aiko, dia malah senyum.
“Min ho Nampyeon.. kalau cemberut manis.. tapi lebih manis kalau senyum deh..,” katanya lagi
Min ho masih diam. Dia masih kutak-katik tugasnya.
“memang kamu gak ada tugas kuliah??,” katanya, masih agak sedikit jutek pada Aiko.
Aiko menggeleng,”enggak.. minggu ini aku agak ringan.. tapi minggu besok aku ujian”
“lebih baik belajar kalau begitu,” ujar Min ho, ringan
“aku gak mau belajar kalau gak bareng-bareng,” senyum Aiko.
“manjanya kumat deh,” balas Min ho.
“yang minta bukan aku... tapi ini,” jawab Aiko, menunjuk perutnya yang sudah semakin besar.
“trus... minta es krim delima lagi??,” Min ho baru menoleh.
Aiko menggeleng,”enggak.. “
“trus??”
“tapi minta dipeluk,”
Min ho menoleh lagi, baru dia bisa senyum sedikit.
“sini,” katanya. Lalu Aiko mendekat padanya, Min ho memeluknya.
“kalau aku lagi kesal.. agak jauh denganku.. nanti bisa-bisa kumarahi kamu habis-habisan loh..mengerti aku ya?,” kata Min ho.
“tapi..aku tuh sebenarnya sedih kalau Otto cemberut terus..kenapa sih??kenapa semua suka dibebankan sendirian aja??,”
Min ho mikir,”umm..gimana ya??aku suka malas cerita”
“lebih baik kan..enggak begitu.. cerita aja apa adanya.. kan kita sepasang,” balas Aiko lagi.
“kadang..aku suka merasa butuh waktu,” kata Min ho.
“umm.. baik deh,” ujar Aiko,”tapi..untuk yang tadi.. kalau memang Nampyeon suka..kenapa sih..kita enggak ambil keputusan, pekerjaan itu diambil saja??aku gak keberatan kok,”
“aku paling takut kalau ayahku marah,”
“aku juga..apalagi Otoosan tentara,” balas Aiko,”tapi kan..kita punya pilihan sendiri..kalau Otto suka..kenapa enggak??kita tanggung sama-sama”
Min ho melepas pelukannya,”jadi.. kamu dukung aku??”
Aiko mengangguk senyum,”iya.. jadi, kalau ayah Lee marahin Nampyeon..Ayah Lee harus marahi juga aku”
“eh..masak iya kamu gak salah..harus dimarahi Appa??”
“gak apa..kan sudah janji..semua ditanggung bersama,” senyum Aiko lagi,”jadi..jangan cemberut lama-lama lagi ya?? Aku sedih loh”
Min ho senyum, lalu dia mencium pasangannya itu.
“ke kamar sebelah yuk? Hehe,” katanya, menarik tangan Aiko.

“well.. Lee san.. kamu diterima..omedettou,” kata salahseorang juri
“wah.. aku gak nyangka diterima jadi model,” balas Min ho, basa basi.
“benar kan?? Aku sudah bilang,” kata seorang juri cewek yang waktu lalu memfotonya
“ini kontraknya..silahkan dibaca dahulu.. pemotretan tidak di jepang.. tapi di china,” kata juri cowok
“jadi..aku harus ke china??,” tanya Min ho.
Juri cewek mengangguk,”ya.. memang ke sana.. semua akomodasi kami sudah tanggung”
“aduh.. bakalan meninggalkan Aiko chan ini,” kata Minho dalam hati
“maaf.. berapa lama??,” dia bertanya pada juri lagi
“sekitar 1 minggu..karena akan ada di beberapa daerah.. sudah pernah ke china sebelumnya?,” tanya juri cowok
“eh..belum.. mau banget pastinya kesana,” jawab Min ho, basa basi.
“ya..kalau gitu, segera kita persiapkan visa dan passport..karena kamu masih kuliah, kamu harus ijin universitas. Ini produk terkenal 3 bangsa: korea, jepang dan china. Pabriknya memang dichina, tapi kualitas mahal. Khusus hanya produksi pakaian pria.. dan mereka bilang, wajahmu pas sekali untuk jadi model mereka, terutama pakaian musim dingin dan pakaian tahun depan untuk musim panas,” kata juri cowok lagi.
“aduh..aku tinggalkan Aiko chan 1 minggu deh,” kata Minho dalam hatinya lagi.
“segera ya.. kita urus dan kamu urus akademik mu,” kata juri cowok itu
“ah..iya..baik, terima kasih,” Min ho menunduk hormat. Gak berapa lama dia membaca kontrak dan tanda tangan, dia pun pamit.

“Aiko chan..aku diterima,” Minho kembali ke kampus dan menjemput Aiko
“eh..beneran??,” wajah Aiko senang sekali.
“tapi..aku harus pergi ke china..katanya sih.. 1 minggu loh,” Min ho mulai cemberut lagi,”nanti aku tinggalin kamu dan anak kita deh..”
Aiko bukan kesal dengan cemberutnya Min ho, tapi malah tertawa kecil,”pasti menangnya bukan karena Nampyeon berfoto cemberut..iya kan?hihi”
“mulai deh..godain,” keluh Min ho.
“terus..gimana nih?? Apa kamu gak masalah ditinggal 1minggu lebih??”, katanya lagi
Aiko mengangguk,”un.. daijyoubu.. (gak masalah-red)..aku bisa pulang ke rumah”
“apa nanti ayah dan ibu mertua gak marah, kamu pulang ke rumah??,” tanya Min ho lagi.
“enggak kalau aku pikir,” senyum Aiko.
“tapi..aku dibawakan oleh-oleh ya??baju dress yang cantik”, tambahnya lagi
“pasti.. aku juga mau belikan baju buat dia.. anak perempuan pastinya cantik,” senyum Min ho.
“lalu..untuk kuliah..bagaimana?,” tanya Aiko
“itu tuh..aku bingung..aku harus ijin dong??,” Min ho cemberut lagi
“ijin saja.. gak apa.. namanya juga bekerja..gak masalah dengan pengurangan absen beasiswa kan??”, jawab Aiko
“enggak kok...kalau soal absen,” balas Min ho.
“umm..nanti..kalau disana ketemu cewek-cewek cantik..jangan melirik ya??,” goda Aiko.
“umm..memangnya aku gak setia ya?,” Min ho jadi sensi.
“idih..bukan begitu.. cuma bercanda,” jawab Aiko.
“iya deh..aku juga tahu kok..cuma bercanda,” balas Minho.
“jalan yuk??,” katanya lagi
“kemana??,”
“beli es krim, hehehe,” Minho cengengesan.
“gak ah.. beli kue coklat aja,” balas Aiko.
“eh..kita besok main ke rumah kamu yuk? Gak capek kan??,”
Aiko mengangguk,”gak.. Min ho Nampyeon.. jadi suka dengan rumahku ya?hihihi”
“iya.. habisnya.. ibu mertua baik sih..masakannya enak, hehe”
“uhh..memang masakanku gak enak ya??,” keluh Aiko, manja padanya.
“enak sihhh... tapiiiiiiiiiiii.....,” canda Minho
“tapi apa??”
“tapi masak Kimchi kok bisa rasa durian ya?hehehe,” Minho bercanda padanya
“mana ada.. ih?? Bilang aja mau ngeledek.. dasar,” Aiko memencet hidung Minho sampai merah
“aduh.. jangan dipencet dong.. nanti aku disangka badut sama orang-orang dijalan..tega deh,” keluh Min ho.
Aiko cekikikan. Minho berdiri, memegang tangan Aiko
“pulang yuk..tapi..kita makan enak dulu di kedai makanan korea yang biasa.. ,” senyumnya pada Aiko
“aku mau bulgogi,” jawab Aiko
Min ho menggenggam tangannya,”mau makan 5 piring juga gak apa..biar anak ku kenyang, hehe”
“ih..memangnya aku gentong,” balas Aiko.
Min ho tertawa.. mereka pulang kuliah langsung ke kedai makanan korea...

Bersambung ke part 17...