This is me....

Selasa, April 22, 2014

Terperangkap jiwa (Part 10: Mereka bilang aku indigo)

Kata orang, di dunia ini ada "batas tipis" antara dunia kasat mata dan tidak kasat mata, dan itu hanya bisa dilihat oleh beberapa orang yang memang ditakdirkan punya kemampuan khusus. Bisa jadi datang dari lahir, atau bahkan sudah besar. Tapi aku tidak peduli, aku tidak mau berurusan dengan dunia yang tidak aku mengerti.
Katanya mereka juga, orang yang bisa melihat seperti itu secara alami termasuk kategori anak/dewasa Indigo. Indigo itu warna kan ya?Kalau indonesia, warna nila. Mejikubiniu: Merah, Jingga, Kuning, Biru, Nila, Ungu. Jadi, waktu kecil pun, aku sudah beberapa kali di cap orang sebagai Indigo, tapi sekali lagi.. aku gak ngerti, aku tidak peduli bagaimana aku bisa berinteraksi dengan batas tipis itu. Aku hanya ingat, seorang bapak tua di sebuah toko buku ternama mengatakan aku memiliki seorang pelindung (protector) dari Dewa Langit (mungkin maksudnya: Allah/Tuhan), itu sebabnya batas tipis itu bisa kulihat terbuka. Aku hanya senyum sama dia dan gak bisa bilang apa-apa.



Sebenarnya, aku baru kenal istilah itu tahun 2005, tatkala aku stress sendiri melihat banyak kejadian yang belum dialami tiba-tiba terjadi juga. Kejadian-kejadian lain sebelumnya terjadi ketika aku kecil, yang akhirnya membuat seorang guru bimbingan penyuluhan ketika SMA tertarik bicara pada ku dan ngobrol apa adanya mengorek-korek diriku. Aku gak pernah mempermasalahkan dia mengorek pikiran, ide dan perasaanku, aku menghormatinya sebagai seorang guru, teman dan juga orang yang baik tempat curhat ketika hampir tidak ada orang yang percaya dengan yang aku lihat.

Bagaimana perasaanmu ketika kamu bisa melihat hantu seperti kamu melihat orang biasa? Bagaimana jika kamu tahu sesuatu lantas orang malah mengatakan kamu orang stress?? mungkin itu kali yang harus dinikmati seorang Indigo?? Berharap ada orang yang mau mengerti keadaan ku saat aku curhat, dan sepertinya ketika SMA itu, bu Guru lah yang mengerti. Bahkan orangtua sendiri aja enggak mengerti, kenapa anaknya bisa beda dengan mereka.

Masuk penghujung 2004, stress pikiran makin menggila. Pada siapa kamu bisa bilang kalau besok ada tsunami di Aceh?? Mungkin hanya orang gila yang bisa percaya, hahahahaha! Pada akhirnya, kantor tahu kalau aku bisa "meraba" sesuatu yang tidak terlihat mata, mereka pun mengirimkan ku pada psikolog (seperti orang gila aja gw jadinya). Pertimbangan mereka sih, katanya Intuisi ku yang tinggi bisa digunakan sebagai patokan manajerisasi pekerjaan alias aku bukan orang yang sifatnya tehnikal/bekerja manual.
Dan.. aku diikutkan training dengan peserta kurang lebih 500 orang. Termasuk training kepribadian yang mahal kala itu, sekitar Rp 2 juta rupiah hanya dalam beberapa hari. Apa yang menarik dari training itu adalah: disitu aku tahu, apa arti indigo buat diriku sendiri. Awalnya tidak ada rasa kecurigaan dengan hasil test Intuitive murni hampir 100% dan hanya satu (aku sendiri) yang duduk di kursi bertuliskan: Intuitive, sementara yang lain mengelompok menjadi Thinking, Sensing, Feeling, Instink. Psikolog nya senyum-senyum dan sementara aku masih ingat "wah.. ketemu nih.. intuitive murni", kala itu aku gak tahu apa maksudnya.

Ternyata seorang psikolog itu juga sama dengan ku, beraura indigo. Maka, dari 3 orang, hanya dia yang berada di depanku, sementara yang lainnya sibuk menghadapi orang-orang dengan tipe yang lain. Aku bisa membaca arah pikirannya kalau dia mau mengorek-ngorek pikiran ku dengan apa yang dia tanya. Ternyata lucunya, dia juga bisa membaca pikiranku, apa yang aku tebak atasnya. Pertama, dia malah jadi tertawa keras dan bilang "dah bisa baca pikiran saya ya.. mau tanya apa?? eh.. kamu tahu tidak.. orang seperti kamu waktu kecil dianggapnya autis.. hehehe". Saya tidak heran dengan itu karena bu guru waktu SMA juga bilang yang sama.
Lantas dia membuka hasil test ku,"hebat.. almost 100% Intuitive.. presentasi mu 95%, mungkin hampir saya belum pernah bertemu selama jadi trainer", dan.. again.. aku cuma bisa senyum.
"mau test yang lain??," tawarnya
Tentu aku penasaran.. walau aku tahu, aku bakal jadi mainan psikologi dia. but that's OK.
Katanya, test itu untuk mengetahui kepribadian ku yang lain di balik intuitive. Aku jadi spesial ditangani sendiri, sementara beberapa pasang mata peserta yang lain melihatku. Sang trainer cuma tertawa sama mereka-para peserta itu- dan bilang "Mbak ini unik loh.. kalian semua sama kan?? dia beda sendiri".
Finally.. aku dikasih test dalam 2 bahasa dan harus dijawab dengan sangat cepat: tidak lebih dari 30 menit dalam 2 bahasa. Awalnya aku gak tahu... ini test apaan sih?? aneh banget.. pakai ada acara "apakah kamu merasa kamu bukan hidup di masa kini? apa pernah merasa melintasi waktu? apa pandanganmu terhadap pemerintahan yang buruk.. apa masih mau mengikuti aturan mereka?? dsb nya dsbnya.. dalam dua bahasa. Otakku berfikir: ini test apa ya?? tapi menarik. Ternyata.. itu test untuk mengetahui apakah diriku indigo atau bukan. Menyebalkan juga. Istilah itu saja aku belum tahu saat itu.

Mereka juga suruh aku pergi ke sebuah tempat dan difoto dengan sebuah alat, ternyata namanya Kirlian Photography atau disebut dengan foto aura. Aku melihat dalam pantulan cermin bagaimana atas kepalaku berwarna ungu dan badanku diliputi warna Nila. Ternyata aku sama dengan satu dari 3 psikolog yang dia spesial men-treat ku.
Finally.. sang psikolog berkata "you are an indigo". Aku cuma bisa jawab"apaan tuh? aku gak tahu, pak"
Lantas dia membuka hasilku dan.. towew.. aku menjawab hampir 100% hasil kuisioner itu sesuai dengan petunjuk yang ada disana. Rasanya gila, hahahahaha!
Lantas dia bercerita apa dari indigo, apa itu cakrawala mata ke-3 sehingga aku bisa melihat "batas tipis" itu, kenapa aku seperti orang stress, tidak suka dengan pemerintahan yang terlalu parah aturan nya, mudah terkena stress/depresi ketika segalanya berjalan tidak beres, sering de ja voo, sensitif terhadap perasaan dsbnya dsbnya.
Satu hal yang dia suruh terhadapku: "sabar". Rasanya sudah banyak bersabar deh.. hahahahaha!
Lantas aku cerita bagaimana stress nya menghadapi "batas tipis" itu.. dia senyum saja dan bilang "that's a gift.. itu sebuah karunia.. Allah tidak sia sia menciptakan" (kebetulan dia muslim). Kamu lihat?? dari 500 orang, kamu yang paling perfect menggambar orang dengan mata tertutup, kamu bisa jalan dengan mata tertutup tanpa tersasar.. itu karunia.. "
Tapi aku curhat sambil nangis.. aku stress dengan karunia itu... karena.. akan ada banyak musuh...
Besoknya.. di kantor lama.. aku cuma senyum senyum dan bingung sama hasil.. dan aku mencari-cari buku tentang indigo.. pantas saja aku dianggap gila.. semua karena "batas tipis" itu sih.. entah apa itu namanya karunia atau bencana?? sampai juga mereka bilang aku bersekutu pada setan... kuatkan hati saja...

bersambung ke part 11...