This is me....

Sabtu, Februari 21, 2015

Aku Bukan Bang Thoyib (Part 36: Minho.. Ada Apa Denganmu?)

Cerita ini hanya imajinasi saja .. Kalau serius banget, tanggung sendiri...

Sorenya, Minho dan Rima kembali pulang. Setelah lepas waktu magrib, mereka membicarakan lagi soal kedatangan Young  Sam dan kepulangan Minho, kembali ke Korea.
”lebih baik bapak Babeh berbicara dengan ayahku,” kata Minho, ditengah pembicaraan mereka, karena hari sebelumnya, Minho bilang pada Rima, kalau ayahnya berat sekali meminta bantuan pada Rima soal menantunya itu menjadi direktur pengganti Kwon Yun.
”Mikir gue... kalu eni ntaran makin ribet.. lu bisa-bisa bakalan dipecat jadi bini,” beh Hamid malah jadi merubah pikirannya.
”Babeh sih... eni si Minho udah mikirin begitu juge.. ah... malahan jadi tambah ribet bae,” keluh Rima, dia jadi sibuk menggaruk-garuk kepalanya dan berfikir keras.
Beh Hamid jadi sensitif, dia mau juga akhirnya bicara dengan besannya itu.


”Gue mesti ngomong ape??,” tanya beh Hamid lagi, sewaktu Minho men-dial no Hp ayahnya sendiri.
”Babeh.. makin aneh aje.. ah,” gerutu Rima.
Minho menyerahkan Hp nya kepada beh Hamid, ternyata mereka melakukan confrence video call.
”Sepertinya bapak babeh sedang bingung,” bisik Minho kepada Rima, melihat wajah mertuanya itu.
Rima hanya mengangguk.
”Ayah... ayah Rima ingin bicara denganmu,” Minho membuka pembicaraan dengan ayahnya, Lee Hyeon.
Hyeon membalas dengan senyuman dan menyapa ramah pada beh Hamid.

”Gue pengen ngobrol ame lu, Hyeon... pertama-tama.. pegimane kabar lu ame harim (isteri).. sehat??,” dengan cueknya beh Hamid memberanikan diri menyapa juga dengan ramah, dengan bahasanya sendiri.
Minho bukan serius tapi malah tertawa cekikikan melihat ekspresi beh Hamid yang kesannya dipaksa ramah terhadap ayahnya sendiri. Rima jadi ikutan cekikikan juga, sambil dia juga menterjemahkan menjadi bahasa indonesia yang baku untuk Hyeon.

Hyeon menjawab kalau kabar dia dan isteri serta keluarga semuanya sehat dan tidak kurang suatu apapun.
”Gini Hyeon.. gue mau ngomong ame lu... pan si Minho bilang ke gue.. katanye lu kagak setuju si Rime gantiin posisi mendiang Kwon buat bentaran aje… lantaran ntar si Minho pan mau balik dulu ke sono bentaran,” ekspresi beh Hamid jadi serius.
“Nyang eni gue omongin bukan sembarang omong… pulisi aje udah nyetujuin.. supaye anak lu kagak jadi sasaran berikutnye…,” lanjutnya lagi.
Memang beh Hamid khawatir sekali kalau menantunya itu jadi sasaran berikutnya, dia merasa harus bertanggungjawab menjaganya.

Hyeon mengucapkan terima kasih atas perhatian beh Hamid kepada anaknya yang jauh dimata, namun diperhatikan oleh keluarga beh Hamid.
“Sebenarnya, saya bukan tidak setuju dengan apa yang Bapak Hamid sampaikan tentang ide ini… ini semua berhubungan dengan Dewan komisaris. Minho harus lekas pulang, tetapi kami belum pastikan, kapan dia harus kembali lagi”
”Ya dah.. sana pulang aje die.. asal ntaran balik lagi... ”, kata beh Hamid
”eh.. Tapi begimane Hyeon.. persoalan si Rime pegang perusahaan ente semuanye?? Kagak marah kan lu??,” lanjutnya lagi

Hyeon berfikir, seharusnya tidak seperti itu. Itu melanggar apa yang telah disepakati oleh para dewan.
”lu mikirnye anak gue bakalan ngejatohin perusahaan lu?? Kagak bakalan, Hyeon.. tenang aje...nyang beginian mah gue udah sering ngelakonin,” beh Hamid jadi sensitif dengan besannya itu. Maksud hatinya hanya ingin menolong keluarga itu, terutama Minho.
”saya harus tetap pikirkan ini bersama, Bapak Hamid.. dan kami pikir, Minho harus membicarakan ini semuanya.. jika tidak bisa.. Young Sam memang akan menggantikan Minho,” jawab Hyeon.
”paling cepat lusa, dia harus pulang dan lusa pula, Young Sam akan ke sana,” lanjut Hyeon lagi.

”kagak ngerti gue ame pikiran babeh lu, Minho,” kata beh Hamid, agak ngedumel, setelah menutup pembicaraan mereka.
Setelah diterjemahkan oleh Rima, Minho jadi berfikir lagi. Young Sam memang pamannya yang pengusaha retail disana.
”kalau begitu, ayah... aku tidak perlu kembali,” kata Minho, dia menggantikan beh Hamid melanjutkan pembicaraan itu.
”Tidak bisa seperti itu, kamu tetap harus kembali ke sini, pertahankan argumentasi mu di depan mereka,” jawab Hyeon
Kalau sudah begitu, aslinya Minho malas sekali. Dia membayangkan akan di stir lagi oleh kedua orangtuanya, sementara sebenarnya dia mempercayai keluarga beh Hamid sebagai kumpulan orang-orang yang baik dan rela membantunya.

Minho mencoba menuruti dulu apa kata ayahnya. Hyeon sudah pasti bisa menebak apa langkah anaknya.
”aku akan menunggu Young Sam samchon (paman) ke sini, lalu akan aku bicarakan dengannya, ayah,”
Hyeon menyetujuinya. Ayah dan anak saling curiga. Minho ingin Rima masuk ke dalam keluarga mereka, karena dia merasa dan berfikir, wanita ini sama sekali tidak ada niat merongrong keluarga mereka. Sementara Hyeon masih berfikir, tidak akan pernah bisa orang lain masuk ke dalam keluarga mereka untuk turut campur dalam usaha. Mereka sepakat untuk saling menunggu Young Sam datang.
                                    ..................................................
”Kalau Kwon ada, tentu tidak begini jadinya,” keluh Minho di depan Rima. Beh Hamid dan Salma, isterinya, sengaja meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
”kamu kan tidak sendiri, Minho... kami semua disini mendukung kamu yang terbaik,” jawab Rima dengan lembut.
Baik minho atau Rima tahu, halangan ada di keluarga Minho. Sama sekali tidak ada kecurigaan pada keluarga beh Hamid, keluarga yang polos, menerima orang apa adanya dan siap membantu jika ada kesulitan. Minho berterima kasih memiliki satu keluarga lain yang menurutnya tidak ditemukan sisi kebaikan itu pada keluarganya.

Appa (ayah) terlalu curiga kepada mu dan bapak babeh,” keluhnya lagi.
Rima tersenyum. Dalam hatinya, dia juga merasa itu. Dia tidak ingin melukai hati Minho jika bicara yang sesungguhnya.
”kami tidak curiga dengan ayahmu,” senyum Rima padanya.
”ayo dong, Minho.. tersenyum.. apapun yang terjadi, kita pasti bisa lalui bersama”

Minho memejamkan matanya. Dulu dia anak lelaki manja yang semuanya harus dituruti oleh kedua orangtuanya. Semenjak dia lulus kuliah, lalu belajar bekerja dan membanting stir, mendapatkan amanat dari kedua orangtuanya untuk mengatur perusahaan yang langsung jauh dari keluarga, membuatnya berfikir keras dan memaksakan diri hidup mandiri. Kehidupannya yang biasa menjadi luar biasa untuk seorang manja seperti dia.
”Aku terpaksa harus pulang kalau begitu... aku janji.. akan kesini lagi... tidak akan lama,” mendadak dia memeluk Rima.

Sekuat-kuatnya Rima sebagai seorang perempuan yang tidak cengeng sedari kecil, akhirnya dia menitikkan air mata juga. Kondisinya bukan dalam keadaan biasa. Dalam kehamilannya, sejatinya seorang perempuan mendapatkan kasih sayang lebih dari pasangannya, dimanja, senang-senang, tetapi, dia malah harus membantu Minho menyelesaikan masalah keluarga mereka. Dia hanya mencoba untuk kuat menghadapi ini semua.
”Pulanglah, Minho... aku pastikan dan aku percaya.. kalau kamu bisa selesaikan semuanya dengan baik di hadapan para dewan komisaris,” katanya, sambil mengelus punggung Minho.

”aku tidak akan menyerah kalah dari Appa... kalau Appa memaksaku untuk tidak kembali ke sini.. aku akan tetap kembali... aku akan bangun perusahaan ini menjadi besar, tentu saja dengan kamu cinta aku di dalamnya,” balas Minho. Dia memejamkan matanya memeluk Rima.
Mata Rima sudah sedikit sembab, dia tidak ingin Minho tahu kalau aslinya dia juga sedih, membayangkan... bagaimana jadinya jika anak mereka ditinggalkan?? Jangan sampai terjadi.
Dia masih mengelus-elus punggung Minho, lalu mencoba tertawa kecil.
hey. you are not crying, are you?? (kamu tidak menangis, kan??),” katanya pada Minho.

Minho menggigit bibirnya, menahan sedih. Dia lalu melepaskan pelukannya. Kalau sudah begitu, rasanya dia mau curhat panjang lebar dengan Rima yang menurutnya memang bisa mengerti perasaannya.
”Kalau aku pulang.. aku tidak ingin kamu sedih,” katanya pada Rima.
”aku pastikan paman Young Sam, paman Il-Sung akan membantu mu mengatur perusahaan ini. Ayahku terlalu tergesa-gesa keputusannya tidak mempercayai kamu dan keluarga ini... padahal, aku sendiri yang tahu, bagaimana kalian begitu masuk dalam kehidupanku yang sekarang”

Rima tersenyum saja, memandang Minho dengan tatapan mata yang teduh.
”kalau kami memang begini... kami tidak pernah menganggap mu dan juga keluarga mu sebagai orang asing,”
Jurang antara hubungan Minho dan Rima sudah jelas sedari waktu lalu terlihat. Hanya saja, Minho memang memaksakan memendekkan jurang itu sehingga jadi mudah untuk dilompati. Baginya, dia merasa hanya seorang yang hidupnya butuh dukungan, butuh saling pengertian, butuh saling usaha bersama. Tindakan-tindakan keseharian orang biasa, tidak ada hebatnya.

”orangtuaku pencipta jurang itu,” kata Minho.
”kita tidak bisa sembarangan menuduh orangtuamu.. bagaimanapun, aku mencoba mengerti kekhawatiran mereka sebagai orang tua, ketika anak kesayangannya memutuskan hidup dalam ruang yang berbeda dengan mereka. Jika ruang mereka bulat, ruang mu yang ku rasakan tanpa batas, Minho,” senyum Rima.
Minho memang perasa,”lalu.. apa yang harus aku lakukan.. jika Ayah tidak mau lagi aku ke sini dan mengelola semuanya?? Bagaimana nanti jika aku tidak bisa lagi bersama mu??”
Rima kembali tersenyum padanya,” kita usahakan bersama.. aku akan berusaha membantu kedua pamanmu disini.. sementara... kamu harus membantuku untuk mengusahakan yang terbaik disana.. Ayah lama-kelamaan akan lunak pemikirannya terhadap kita.. aku percaya itu”
”Kita tunggu saja paman Young Sam datang. Sementara, aku pikir, sebaiknya kita kerjakan saja laporan perkembangan tiga usaha ini.. aku berani katakan, sebenarnya kita bisa maju.. seperti janjiku tadi.. aku akan bantu sekuatku”
Rima berusaha menenangkan hati Minho malam itu. Esoknya, mereka harus bekerja kembali dan bicara panjang lebar di hadapan Il-Sung tentang rencana ayah Minho pada mereka.
                                                ..................................
”Kadang aku tidak habis pikir dengan kakakku sendiri yang menurutku, dia egois dan terkesan bodoh,” Il Sung menggerutu pagi itu di depan Minho dan Rima di ruangan kerja Minho.
Minho diam saja, tidak melawan gerutuan pamannya itu terhadap ayahnya. Ya, memang kendali usaha mereka ada ditangan ayahnya Minho sebagai anak pertama.
”Young Sam akan kesini?? Dia pikir lelaki itu lebih hebat dari kamu... aku lebih percaya mendiang Kwon daripada dia,” gerutunya lagi.
Young Sam adik Hyeon yang nomor tiga. Il-Sung yang lebih tahu tentang adiknya itu dibanding Minho.

”Jadi.. paman sebenarnya tidak setuju kalau paman Young ke sini??,” tanya Minho.
Ekpresi Il-Sung jadi terkesan cuek, dia hanya mencibirkan bibirnya pada Minho dan Rima, lalu mengangkat tangannya sebahu.
”dia itu pernah buat usaha ayahmu bangkrut.. masak iya ayahmu itu mau kena dua kali??”

”oh,” ujar Minho, singkat.
Il-Sung masih ekspresi yang sama, menanggapi jawaban singkat Minho baru saja.
”aku rasa... ayahmu itu cemburu.. kamu lebih dekat dengan keluarga Rima,”
Minho jadi menaikkan satu alisnya, berfikir.
”aku sebenarnya tidak perduli siapa saja yang datang kesini, paman... dengan kematian Kwon Yun yang masih misteri.. rasanya aku tetap harus kesini dan hanya sementara saja disana.. aku merasa .. perusahaan ini terancam orang dalam yang sedang merongrong kita,” 

”perasaanmu bisa saja tepat.. lagipula.. polisi masih tidak melepas kasus ini bukan?? Bukan aku tidak sedih dengan kematian Kwon Yun.. tetapi sekarang kita berfikir tentang perusahaan ini”, balas Il Sung
”kamu harus tahu kelemahan pamanmu yang satu itu... perempuan”

Minho mengeluh, dia menunduk lemas, lalu meledek baik Il Sung maupun Young Sam, yang sebenarnya sama-sama genit pada perempuan.
Rima hanya memperhatikan saja mereka berbicara, walau tidak mengerti karena memakai bahasa mereka.
Il Sung lalu menoleh pada Rima,” tapi tenang saja... aku rasa, dia tidak berani mengganggu isterimu, Minho”
Minho menegakkan kepalanya dan menjawab serius perkataan pamannya barusan,” aku penggal kepalanya kalau paman Young Sam berani ganggu Rima”
Il Sung hanya tertawa.

lately I’ve been thinking about snake in the grass in our companies (akhir akhir ini aku berfikir tentang musuh dalam selimut dalam perusahaan kita),” kata Minho dalam bahasa inggeris. Dia baru akan membawa Rima dalam percakapan ini.
Il Sung mengangkat alisnya, pastilah ini tetap nyambung dengan kasus kematian Kwon Yun.
“sudahlah, Minho.. aku pikir, tidak ada musuh dalam selimut.. ini murni penurunan penjualan saja.. kamu terlalu sensitive,”
”Tapi..aku sudah lebih sensitif sebelum kematian Kwon bukan??,” tanya Minho, untuk meyakinkan pada pamannya bahwa semua apa yang telah dia bicarakan dengan mendiang Kwon, bisa saja benar.

Il-Sung bergumam saja. Minho lalu menceritakan hasil dia tadi malam bicara dengan ayahnya.
”Ayahmu ada benarnya juga.. dan pak Hamid katakan juga benar..kamu lekas harus pulang...,”
”semua demi keselamatanmu sendiri sebagai direktur utama”

Minho masih takut ayahnya akan menahannya di Seoul lebih lama dari perkiraannya. Il-Sung hanya berkata, dia akan berusaha membantunya menyelesaikan laporan dan memberikan hasil terbaiknya supaya Minho bisa segera kembali lagi ke sini. Logikanya, jika kerjanya baik, justru para dewan akan tetap membiarkannya mengembangkan usaha dan tinggal kembali ke sini.
”kamu harus membantunya membuat laporan. Dalam dua hari ini, aku akan bekerja keras bersama sekretarisku,” lanjut Il-Sung, pada Rima.
”sebaiknya siang ini kamu pergi mengawasi pabrik baby product... kamu tidak lelah kan??,”
Rima mengangguk, dia menyanggupi dan akan bicara dengan orang bagian keuangan untuk meminta mereka membantu membuat segala laporan perkembangan usaha.
                                                ...........................
”APA? Kenapa bisa begitu?,” Il-Sung mendapatkan telepon yang bikin dia kaget.
”panggil bagian marketing.. semuanya!,”
Dia langsung pergi ke ruangan Minho yang berada di sebelahnya.
Minho kaget, apa yang sebenarnya terjadi. Il-Sung bercerita kalau mendadak tiga buah showroom membatalkan kerjasama penjualan dengan perusahaan mereka.

Damn! (si-alan),” Minho menggerutu dan menendang meja
”apa sebabnya??,” tanya dia lagi, wajahnya memerah, marah.
”Marketing bilang, mereka tidak mendapatkan alasan yang jelas. Kerjasama ini dianggap merugikan pihak showroom dan mereka bilang, pembelian kemarin ada masalah dengan mesinnnya”
Minho kaget, bagaimana bisa? Bukannya kontrol kualitas mesin tetap ada ditangan perusahaannya??

”Safina katakan... salahsatu konsumen mobil kita, mengalami kecelakaan...dan ternyata, itu kesalahan mesin”, kata Il-Sung, dia juga jadi pusing.
”Apa?? Bagaimana bisa??,” Minho jadi panik juga.
”ya... dan akhirnya sekarang kita menghadapi masalah,” balas Il-Sung
Minho geram, bingung. Dia katakan selama ini tidak pernah ada masalah dengan mesin atau karoseri. Dan lagi, kenapa bisa ada laporan seperti itu?? Mereka bisa diseret ke pengadilan kalau begini caranya. Sebab, mesin memang tanggung jawab mereka.
”mesin yang dipakai konsumen itu... mendadak terbakar.. padahal mereka masih didalam,” kata Il-Sung
Hananim (Tuhan).. bahaya sekali!,” Minho menggaruk kepalanya, kepusingan. Jelas, akan jadi masalah besar.
”tidak mungkin kesalahan pabrik.. aku sudah bilang pada insinyur Lee Joong kalau kita harus membuat mesin yang perfect... kenyataannya.. pada test drive tidak ada masalah” kata Minho lagi.
Mereka langsung mengadakan rapat dengan marketing dan juga pihak showroom yang dirugikan.

”Mereka tidak mau datang, Mr Lee.. jadi.. mereka yang meminta Mr Lee datang untuk menjelaskan semuanya,” kata Safina, menunduk hormat. Dia juga deg-degan dengan kejadian itu.
”Apa polisi sudah memanggil kita??,” tanya Il-Sung.
Di ruangan itu ada pula Insinyur Joong. Dia juga tidak menyangka hal ini akan terjadi.
”berapa produksi kita untuk nomor mesin yang sama??,” tanya Minho.
”1000 unit,” jawab Lee Joong sambil menunduk hormat.
”Damn!,” gerutu Minho spontan. Artinya, dia harus siap menarik 1000 unit... akan ada kerugian besar-besaran jika terpaksa ditarik.

Il-Sung juga jadi ikutan pusing. Hal ini belum bisa dibicarakan dengan Hyeon, kakaknya, atau Hyeon akan marah dan kecewa.
”Bagaimana bisa??,” tanya Il-Sung lagi pada Lee Joong.
”setiap unit selalu kami test drive.. ,” jawab Lee Joong.
“jadi rasanya tidak mungkin ada kesalahan sampai fatal begini,” lanjutnya lagi.

”dan.. laporan ini jelas akan memanggil Mr Lee ke kantor polisi,” kata Safina.
Minho sudah panik, sama sekali hal ini tidak disangka-sangka.
”aku harus bicara dengan pihak showroom.. aku sendiri yang akan pergi kesana,”
”Joong harus ikut denganmu,” kata Il-Sung.
                                                ...............................
”Pak Suryanto.. aku rasa.. aku tidak bisa lama-lama disini.. semua laporan sudah selesai,” kata Rima di pabrik desa Jambe. Dia sudah bicara dan meminta manager keuangan disana memberikan laporan penjualan, untuk kemudian dia segera kembali ke kantor pusat, bertemu kembali dengan Minho.
Suryanto hanya mengangguk mengiyakan, menuruti perintah majikannya. Lalu dia mengantarkan Rima kembali ke pusat.

Ketika di jalan, Minho meneleponnya, sambil dia masih di dalam kendaraan menuju pusat kota, pergi bersama Lee Joong dan juga Safina.
”what a bad... ada masalah dengan penjualan kita,” kata Minho memulai pembicaraan.
Rima heran, apa yang sebenarnya terjadi, lalu Minho menceritakan ulang tentang kejadian di showroom dan juga kecelakaan itu.
”kenapa bisa??,” kata Rima spontan.

”Joong mengaku tidak ada kesalahan mesin.. dan aku sendiri sekarang sedang menuju tempat showroom itu, bertemu dengan direkturnya,” balas Minho.
Rima merasa aneh, sudah lebih dari satu dekade perusahaan ayah Minho memproduksi mesin mobil, baru sekarang menghadapi kasus seperti ini, dan sudah di blow up oleh media.
”aku juga tidak mengerti... ini membuat aku stress,” kata Minho.
Suasana jalan masuk ke dalam tol menuju tol dalam kota. Minho masih berbicara dengan Rima, kalau soal ini jangan sampai banyak media tahu dan menjatuhkan perusahaan otomotifnya. Bagaimanapun, hal ini memang tidak bisa terjadi. Satu atau dua unit pun jika ada kesalahan mesin, dapat berakibat fatal.
Minho pun menutup teleponnya. Rima disana tidak habis pikir, dia hanya bisa mendorong Minho agar menyelesaikan masalah sesuai dengan aturan yang berlaku, supaya semuanya lancar.

”sampai jam berapa kita akan segera sampai?? Sudah waktunya jam padat kendaraan,” kata Minho pada Joong dan juga Safina.
”sebentar lagi, Mr Lee.. kita sudah masuk tol dalam kota..semoga tidak macet,” jawab Safina yang menjadi supir mereka semua.
Minho melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 14.30, setengah jam lagi saja mereka terlambat, tol dalam kota bisa sangat macet. Dia meminta Safina untuk meningkatkan kecepatan mobil.

Safina pun melakukannya. Minho memasang sabuk pengaman nya walau dia duduk dibelakang bersama Joong.
”kamu harus bisa menjelaskan pada direktur tiga showroom itu, kenapa ini semua terjadi.. polisi juga ada disana.. itu yang membuatku resah,” kata Minho pada Joong dengan bahasa mereka.
”Baik, Tuan Lee tidak perlu khawatir... aku sudah mempersiapkan perkiraan jawaban apa untuk mereka,” kata Joong menoleh pada Minho, lalu sedikit menunduk hormat walau duduk.
Safina melajukan kecepatan mobilnya sampai 100km/jam.

”Goyang??,” Minho merasakan ada yang aneh dengan mobil yang mereka kendarai.
”Turunkan kecepatan.. kenapa mobil ini bisa goyang??,” tanya dia pada Safina.
Safina berusaha menurunkan kecepatan.. dia salah jalur, masuk ke sisi kanan dimana kecepatan memang rata-rata tinggi. Dibelakang mereka ada mobil yang ternyata melebihi kecepatan mereka. Safina mencoba untuk masuk jalur tengah dan ke jalur kiri untuk melambatkan kecepatannya. Tetapi ... ketika dia mengurangi kecepatan.. sama sekali dia tidak bisa melakukannya..

Dia panik. Minho yang melihatnya jadi panik.
”ada apa??,” tanya Minho.
”mobilnya.. tidak bisa diturunkan kecepatannya, Mr Lee.. kita tetap di 100km/jam,” keluh Safina, wajahnya sudah pucat.
”Stop!,” teriak Minho.
Safina berusaha menghentikan mobil yang dikendarainya, ternyata tidak bisa.
”Tidak bisa, Mr Lee.. aku harus mengalihkan mobil yang ada di depan dan belakang,”
Staff Minho itu jadi bingung. Dia tetap berusaha santai.
“Astaga… rem blong,” kata Safina, ketika dia berusaha mengurangi kecepatan yang tidak bisa dan dia berusaha mengerem pelan-pelan.

”Joong.. bagaimana ini??,” Minho jadi panik.
Safina mengambil tindakan dengan tetap tenang dan berusaha memepet ke kiri agar dia bisa ke bahu jalan.
Dia bisa melewati sebuah mobil, walau harus di klakson kencang dan mobil tersebut marah besar, kenapa mau masuk jalur lambat tapi dengan kecepatan tinggi.
”tetap tenang, Miss,” kata Joong,” tetap berusaha ke bahu jalan”
”ya.. aku usahakan,” balas Safina.
Dia berhasil masuk ke jalur tengah, tinggal satu jalur lagi, maka dia bisa masuk ke bahu jalan.
Minho sudah mulai panik, tadi sebelum mereka pergi, tidak ada masalah dengan mobil yang sebenarnya milik Rima dulu sebelum akhirnya Rima memberikan kembali pada Minho dan kemudian dipakai Il-Sung.

Mobil tetap melaju kencang dan tidak bisa direm. Di depan mobil mereka, ternyata ada mobil yang kecepatannya tidak sampai 100km/jam. Safina panik, mobil mereka sudah mulai mendekat belakang mobil tersebut, siap menabrak mobil di depannya.
”Banting stirnya ke kiri!,” teriak Joong. Berharap ketika Safina membanting stir ke kiri, hanya akan menabrak pembatas tol saja, Minho masih akan selamat karena dia duduk tepat di belakang Safina.
”Sreeettttttttttt,” Safina membanting stir ke kiri. Tanpa mereka duga, ternyata bantingan malah berubah jadi bergeser, sehingga mobil malah berputar putar ditengah tol.
”BRAK!!,” mobil Il-Sung menyenggol, lalu menabrak mobil di depannya, berputar.. dan mobil di belakang mereka yang tidak sempat mengerem melihat kejadian itu jadi menabrak mobil yang mereka tumpangi.
”BRAK!!”, dua kali mobil Minho ditabrak.
”ARGH!!”
”SREEETTTT!!!,” mobil Minho berputar-putar setelah ditabrak dua mobil di belakang mereka dan terhempas ke pinggiran tol, lalu terseret lagi.

”TEEEETTTTT!!,” suara klakson mobil berbunyi.
Suryanto mengerem mendadak, Rima kaget karena badannya terdorong ke depan.
”ada apa, Pak??,” tanya Rima, sambil mengelus dadanya
”Kucing, Bu... haduh... untung aja enggak kelindas.. bisa sial hidup kita,” jawab Suryanto.
”Kamu melamun ya, Pak Sur..,” senyum Rima.
Suryanto cengengesan,” iya, Bu.. kan biasanya saya yang bantu supirin Mr Lee.. eh malah Bu Safina yang nyupir.. takut Mr Lee ada apa-apa dijalan”
Rima membalas lagi dengan senyum,” Gak apa kok, Pak Sur.. tadi kan aku baru telepon Mr Lee.. dia sedang dijalan.. bareng sama bu Safina dan Mr Lee Joong...mau ada pertemuan penting katanya”
”Tumbenan aja gitu, Bu.. ndak biasanya,” balas Suryanto lagi.
Suryanto masih memberhentikan mobilnya, lalu membiarkan kucing yang panik itu menyebrang jalan.
Setelah itu, dia pun lanjut menyetir.

Bersambung ke part 37...