This is me....

Senin, Februari 09, 2015

Cinta Dokter Cute (Part 14: Tanggungjawab Cinta)

Lee Minho sebagai dokter Minho, Kazuki Kitamura sebagai dokter Choi Hyeon Jun, Gackt sebagai dokter Roh Seung Won

Cerita ini hanya imajinasi saja... jangan terlalu serius...

Perasaan Minho antara senang dan sedih. Senang ketika dia tahu bahwa temannya memposting foto Shin Young di jejaring sosial, sedih karena dia belum tahu, dimana cewek itu berada, hannya sebatas foto yang dia tahu. Antara harapan dan kebingungan, dia tetap bertekad ingin mencari cewek itu sebelum pernikahannya dengan Min Hye Rim terjadi.
“aku harus tetap berfikir jernih.. sampai Shin Young berhasil kutemukan kembali,” pikirnya dalam hati ketika dia bangun dipagi itu. Dia lalu berdiri, melihat kaca, matanya bengkak.
“kacau sekali... padahal hari ini ada fashion show.. catwalk lagi,” katanya sambil mengusap bawah matanya yang agak bengkak dan menghitam sedikit.
Lalu dia keluar kamarnya dan bertemu kedua orangtuanya dipagi itu.


Ruang makan pagi itu memang suasananya cukup asri. Semalam hujan sedikit turun
sehingga terasa sekali kesejukan udara pagi yang menghantarkan embun jatuh di rerumputan, termasuk di ruang makan rumah besar keluarga Lee yang memang berada di ruangan terbuka.
“pagi, Appa.. Eomma,” senyum Minho setelah dia mandi dan sudah segar kembali. Dia lalu mencium pipi kedua orangtuanya, lalu duduk di kursi posisi biasa dia makan.
“Pagi, Minho... tidurmu nyenyak?,” tanya ibunya dengan lembut.
Minho senyum mengangguk dan memulai pagi itu dengan minum segelas jus jeruk.
“Ada berita buruk...,” kata Lee
Minho menoleh pada ayahnya, dia berfikir, pasti Hye Rim mengadu lagi soal pertengkaran mereka kemarin. Apa yang dipikirkan Minho benar. Lee bercerita kalau pagi-pagi sekali, Hye Rim sudah meneleponnya dan mengatakan kalau Minho berulah dengan bertengkar lagi.
Minho membela dirinya,” aku rasa aku tidak salah, Appa.. aku hanya tidak ingin sikapnya seperti anak-anak.. dia sudah dewasa, kami kan sudah sama-sama 28 tahun ini.. kenapa dia masih seperti anak 12 tahun?”, santai sekali Minho berucap sambil makan pagi.
“apa benar.. kamu masih mencari Shin Young itu??,” tanya ibunya
Minho kaget, ternyata Hye Rim sampai mengadu sejauh itu.
“sama sekali aku tidak mencarinya, Appa.. Eomma.. ,” balas Minho, berbohong.

Lee meletakkan sendok garpunya diatas piring, makannya selesai.
“kamu tidak bisa seperti itu, Minho.. sama sekali tidak menghargai keluarga Min kalau kamu masih mengejar-kejar perempuan itu... ,”
Minho diam.
“tidak baik seperti itu, Minho.. kami mengerti kamu masih cinta dengan Shin Young... tapi di satu sisi kamu juga sebaiknya memahami semua ini yang terbaik untukmu... dengan kamu menikahi Hye Rim.. kami ingin kamu bahagia dengan memilih calon yang tepat,” kata ibunya, ganti bicara.
Lee mengangguk.
Minho diam saja. Dia tidak ingin menikah dengan Hye Rim, baginya cewek itu sama sekali tidak dewasa dan hanya akan menghancurkan hidupnya. Dia tetap bersikeras kepada orangtuanya kalau yang terbaik menurutnya adalah Park Shin Young.
“kamu tidak bisa se keras kepala itu, Minho.. semuanya sudah diatur.. kamu hanya akan membuat kami malu kalau menentangnya. Lagipula, aku berfikir, Hye Rim itu bukan perempuan yangsama sekali tidak bisa apa-apa dan tidak bisa dicintai... dia bisa hidup denganmu, kalau kamu ramah padanya,” kata ayahnya
Minho tidak suka mendengar itu. Bukan berarti dia tidak patuh terhadap orangtuanya, dia memang tidak bisa.
Namun, pagi itu kedua orangtuanya memaksa untuk belajar mencintai tunangannya itu dan melupakan Shin Young. Minho hanya bisa diam dinasehati, tidak berani membantah. Pikirannya tetap melayang-layang mencari Shin Young, dambaan hatinya. Setelah makan pagi, dia pun berangkat kerja sambilannya, sebagai model.                     
                                                ......................................
“Harus cepat... harus cepat... ayo!,” teriak asisten pengarah model bertepuk tangan mengarahkan para model supaya cepat ganti baju
Minho lekas membuka kausnya di depan semua model, dia cuek saja bertindak cepat karena dalam waktu kurang dari 5 menit sesinya harus maju lagi memperagakan model baju musim berikutnya.
“Ayo.. Hwaiting, Minho.. jangan wajahmu sedih begitu!,” Song Yu, kakak modelnya menyemangati.
Minho hanya senyum sedikit lalu dia siap dengan baju peragaannya itu.
“aku keluar dulu,”
Song Yu menepuk pundaknya,” semangat! Aku tahu.. ini pasti karena Hye Rim.. kamu bisa melaluinya.. ayo!,” dia mendorong pundak Minho meuju stage.
Sementara pengarah model sudah sibuk berteriak di belakang stage.
Minho mengerling pada Song Yu, mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Siang itu sesi acara sebuah brand baju terkenal. Minho dan beberapa model dari agent tempat dia bekerja diminta berjalan diatas cat walk untuk baju pria dan wanita di musim berikutnya.
Minho berusaha tetap profesional. Dia tetap berjalan diatas cat walk dengan santainya, mengikuti alur para model lain serta konsep yang mereka terjunkan siang itu.
Ketika satu persatu peragaan selesai, sang desainer berdiri ditengah-tengah para model. Riuh rendah tepuk tangan untuk para desainer, siang itu sukses mengadakan acara fashion show, kebetulan Minho yang bertugas memberikan karangan bunga kepada desainer yang membuat baju untuk para model, termasuk untuknya.
Mereka saling bertepuk tangan. Berakhirnya acara tersebut, semua kumpul di back stage.

“Wah.. kalian tahu tidak?? Waktu muncul satu persatu.. aku lihat Minho banyak sekali dapat tepuk tangan,” kata pengarah gaya, si banci Jong.
Minho hanya tertawa,” padahal aku lagi galau soal pekerjaan, hahaha!”, dia berkilah.
Song Yu memperhatikan sorot mata Minho.
Lalu,” tapi aku berterima kasih... dapat hadiah ini,”
Minho mengangkat sebuah tropi kecil. Ternyata dalam acara itu ada pula pemilihan model khusus pria terbaik tahun itu.
“aku enggak nyangka aja.. ternyata dapat.. ini semua berkat dukungan teman semuanya disini,” senyumnya lagi.
“Kamu dokter gigi, tapi malah berbakat sekali menjadi model.. hebat!,” tepuk fotografer Nam
Gomawo (terima kasih), semuanya.. “, senyum Minho lagi.
“eh.. kemana tunanganmu, Hye Rim? Kok enggak datang??,” tanya pengarah gaya
“wah..aku enggak tahu soal itu.. Hye Rim tidak bilang apa-apa padaku...sepertinya desainer gak mau pakai dia,” balas Minho santai. Dia memasukkan tropi penghargaan itu ke dalam kotaknya.
“Kalian ini kok sepertinya kaku sekali walau sudah bertunangan sih.. heran,” ujar Nam. Seorang fotografi yang biasa lebih dari 5 tahun bekerja di agent model yang Minho dan lainnya tekuni, wajar saja dia melihat kekakuan itu. Biasanya memang Minho dipasang dengan Hye Rim untuk pemotretan couple (sepasang), tetapi sudah 3 bulan terakhir ini tidak lagi, karena Minho meminta untuk berganti pasangan supaya dia bisa lebih menjiwai karakter modelnya bersama dengan model lain.

“Ah.. aku dan Hye Rim tidak banyak ngobrol soal karir... biasa saja,” kilah Minho, santai. Dia selesai berganti baju dan memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas.
“Hari ini.. Oppa memang beruntung sekali,” senyum Mina.
Minho gantian menyemangati Mina,” kamu pun pasti bisa, Mina.. kamu juga berbakat kalau aku lihat”
Song Yu yang berada disitu lalu disapa Minho lagi. Dia ingin berbicara dengan wanita itu. Mereka lalu pergi ke sebuah cafe, bersantai sambil ngobrol.
                                                ........................
“Jadi.. kemarin itu teman-temanmu mengambil foto Shin Young ada di Busan??,” tanya Song Yu dengan serius
Minho mengangguk,” Ya.. aku sudah cukup senang, Eonni.. hanya saja.. bagaimana aku menemukannya?? Aku yakin itu dia.. mirip sekali semuanya ketika aku melihat foto itu.. walau dari samping”
“wah... bagus sekali.. ada peluang bertemu lagi,” Song Yu jadi ikut senang, ekspresi matanya dengan pupil melebar.
Minho mengangguk. Dia bilang kalau dia akan mencari waktu khusus pergi ke sana.
“apa Shin Young itu punya teman di seputar kota itu? kamu harus pikirkan itu...sehingga kamu tidak terlalu sulit mencarinya nanti”
Song Yu memang tempat curhat Minho sebagai rekan model dan dia anggap kakaknya. Kalau Song Yu membutuhkan Minho dalam nasehat kesehatan anaknya, Minho pun akan membantunya. Mereka seperti adik kakak, walau Hye Rim juga tidak suka dengan cewek 35 tahun itu.

“aku harus mencarinya sebelum pernikahanku dengan Hye Rim,” kata Minho lagi.
“yang aku khawatirkan sebenarnya Hye Rim, bukan Shin Young itu, Minho,” ujar Song Yu.
Minho mengangguk. Mereka tahu watak Hye Rim yang diluar dugaan. Mereka ingat bagaimana Song Yu digampar dengan keras oleh Hye Rim. Untungnya, Song Yu bukan orang yang cepat panas. Belum lagi Minho bercerita kalau Hye Rim mudah sekali membanting apapun yang dekat dengannya, lalu kebiasaan mabuknya kalau ada masalah.

“Orangtuaku memang tidak terlalu banyak tahu tentang Hye Rim. Mereka hanya tahu Tuan Min memang orang yang baik,” ujar Minho, memandang gelas di depannya
Song Yu senyum,” dan yang memikat hatimu malah anak tiri Tuan Min”
“Tetapi Minho.. sebenarnya cintamu itu penuh resiko. Aku memahami jika orang sedang jatuh cinta memang akan cenderung buta... tetapi... aku membayangkan jika kamu berani dan nekat mencari dimana Shin Young lalu memaksanya untuk menikah dan meninggalkan Hye Rim begitu saja... keluarga nya dan keluarga mu akan malu sekali,”
“aku mengerti, Eonni,” katanya pada Song Yu
“Aku akan berusaha sendiri jika memang tidak ada yang membantuku,” lanjutnya lagi. Wajahnya berubah, dia membayangkan kehilangan masa depannya dengan Shin Young

Song Yu melihat wajah adik modelnya itu jadi sedikit terkekeh,” ayo..kamu harus semangat.. kamu pasti bisa.. atau...aku juga bisa meminta temanku mungkin yang ada di Busan untuk mencarinya..”
“benar bisa??,” tanya Minho dengan penuh harap.
“aku memang sungguh cinta dia, Eonni... aku berharap semuanya akan bisa diselesaikan.. aku tidak mau hidupku sia-sia begitu saja mencintai orang yang salah,”
“aku akan coba hubungi temanku.. ,” ujar Song Yu, senyum. Dia tahu, Minho mengharapkan bantuannya.
“Tapi.. kenapa kamu tidak melaporkan Shin Young saja sebagai orang hilang??,”
Minho kaget, dia memang tidak pernah terfikir seperti itu. Kalaupun ya, sudah pasti kedua keluarga akan sangat ribut. Sementara, sepertinya keluarga Min tidak memperdulikan lagi kemana perginya anak tiri mereka.

Song Yu menghela nafasnya, keheranan, apa benar sampai setega itu keluarga Min pada anak tiri mereka?
Minho sendiri mengatakan, ketika dia membicarakan kemana Shin Young, dengan menyingkirkan rasa malunya, tampaknya keluarga Min tidak lagi ingin membahas itu. Entah apakah menutupi, atau memang sudah tidak peduli lagi.
“Kasihan kalau begitu Shin Young itu,” ujar Song Yu
Minho hanya mengangguk saja,“Kalau dia bersama temannya... itu tidak mengapa.. bagaimana kalau dia tidak tentu arah??,”
Song Yu tersenyum dengan kekhawatiran Minho,” Kamu cowok yang baik dan bertanggung jawab.. “
Minho malah cemberut dengan perkataan kakak modelnya itu baru saja. Dia pusing memikirkan bagaimana mewujudkan keinginannya.
Ternyata Song Yu menelepon salah seorang temannya. Mereka berbicara tentang Shin Young. Temannya itu berjanji akan membantu Song Yu asalkan ada foto cewek itu.

Minho heran, kenapa Song Yu bisa seperti itu.
“Boleh dikatakan.. temanku adalah mafia? Hahaha,” Song Yu malah tertawa terbahak-bahak dengan keheranan Minho.
“Eonni bercanda,” keluh Minho, kepalanya sudah mulai pusing mencari cara
Song Yu tersenyum, dia meminta Minho mengirimkan foto Shin Young ke smartphone nya. Minho pun melakukannya.
“Teman ku itu luas sekali wilayah kekuasaannya,” ujar Song Yu.
Minho tidak mengerti apa maksud kakak modelnya itu.
Song Yu hanya berkata, kalau temannya itu memiliki beberapa bar dan juga usaha yang berhubungan dengan hiburan dan banyak sekali anak buahnya berkeliaran.
“Ah.. aku tidak mau Shin Young berurusan dengan orang seperti itu, Eonni.. berbahaya,”
Minho kaget.. ternyata memang, teman Song Yu itu ibaratnya “mafia kecil”.
“jangan khawatir, Minho.. mereka tidak sejahat yang kamu bayangkan.. aku janji,” Song Yu senyum pada Minho
“jangan menolak bantuanku.. siapa tahu.. dia cepat ditemukan lewat mereka,” lanjutnya.
Minho sudah pasrah dengan apapun yang dilaluinya.
Song Yu tertawa-tawa saja ketika mengetahui curhatan cowok muda itu. Selama ini dia merasa Minho banyak membantunya dan saatnya dia membantu cowok itu untuk keluar dari masalahnya.

Song Yu menarik nafasnya sedikit,” haaaa... iya juga ya, Minho.. aku enggak kebayang banget kalau kamu menikah dengan cewek seperti Hye Rim.. aku masih bisa merasakan tamparannya kalau mengingat itu lagi”
Minho ternyata minta maaf lagi dengan kejadian itu.
Song Yu tidak mempermasalahkannya sebab itu memang bukan kemauan Minho, tapi memang sikap buruk Hye Rim yang dia juga sudah tahu sedari dulu. Di kalangan agent model sesama cewek pun, sikap Hye Rim sebenarnya sudah dikenal kurang baik, walau begitu, dia tetap profesional, sehingga tidak ada masalah dengan manajemen, hanya masalah personal to personal.
“Kita tunggu saja kabar dari teman-temanku di Busan... kalau berhasil.. kamu harus lekas pergi kesana.. jangan tunggu lama,” senyum Song Yu pada Minho.
                                    .............................................
Sore nya, Minho sengaja main bertemu dengan Hyeon. Hyeon malah bercerita tentang perkembangan Ae Cha. Minho malah jadi menganalisis berbeda.
“sepertinya kamu jatuh cinta lagi dengannya, Hyeon,” kata Minho serius.
Hyeon tertawa, dia mengakui bahwa rasa itu muncul lagi. Hanya saja, dia memikirkan bagaimana tanggung jawab Seung Won. Tidak bisa lepas begitu saja kalau belum ada kejelasan.
“Seung itu... jadi seperti pengecut,” gerutu Minho, sambil mengaduk-aduk gelas tinggi berisi bir ringan.
“aku kasihan dengan Ae Cha,” kata Hyeon singkat. Di depan gelasnya, ada smartphone yang ternyata bergetar.
Hyeon mengangkat alat itu di depan Minho. Minho melihatnya, ternyata ada call dari Ae Cha.
Hyeon mendiamkan saja, tidak mengangkat.
“Dia jadi bergantung padamu?,” tanya Minho
Hyeon mengangguk,” aku sepertinya tidak bisa lepas juga darinya... “
Minho senyum padanya,” Cinta lama bersemi kembali... dan dia benar-benar butuh kamu”
“Kasihan Im, hehe,” Minho mencoba bercanda tentang anak perempuan Hyeon.

Hyeon senyum pada Minho.
“Aku tidak mempermasalahkan itu, bodoh.. aku minta tanggungjawab Seung,”
Minho minum sebentar, dia taruh lagi gelasnya.
“Ya.. aku mengerti.. tapi seharusnya kamu juga tahu, kalau Seung itu keras kepala..siapa orang yang bisa menjatuhkannya?,”
“aku akan mendesaknya,” timpal Hyeon singkat.
Minho bergumam. Baginya, cara itu bisa saja dilakukan, dengan pertimbangan, Seung sama sekali tidak akan bete dengan karirnya. Seung tipe lelaki yang tidak bisa diganggu gugat soal pekerjaan.
“Kalau dia sampai bunuh diri.. gawat sekali,” Minho malah jadi aneh pikirannya.
Hyeon menyergahnya supaya tidak bicara sembarangan. Sebab dia sudah mendapati perempuan itu sudah mulai stress dan banyak pikiran.
“Pikiranmu bahaya sekali,” kata Hyeon
“apa kamu juga enggak berpikiran begitu walau sekilas?? Tanpa diketahui, bisa saja dia akhirnya depresi dan bunuh diri.. kandungannya semakin membesar,” jawab Minho
“aku tunggu sampai 2 bulan lagi...,” kata Hyeon dengan mimik muka serius.
“lalu??,” Minho jadi penasaran.

“Lalu... aku akan nekat menikahinya...,” Hyeon menjawab dengan wajah yang serius.
Minho kaget juga,” what?? Kamu serius??”
Hyeon tertawa melihat ekspresi Minho yang kaget sampai seperti dia melepar gelasnya.
“kamu sendiri baru saja bilang kalau Im membutuhkan seorang ibu.. lalu.. aku pikir..siapa lagi??”
Minho sedikit berdecak,” ah... masak iya kamu mau merebut Ae Cha dari Seung? Biarkan dia bertanggung jawab”
Hyeon diam sejenak. Kemudian dia katakan pada Minho, baginya, psikologis Ae Cha saat ini membutuhkan seseorang yang sudah dia kenal dekat dan tidak menjatuhkannya. Sementara mereka melihat Seung terlalu bertele-tele dalam menyelesaikan masalah.
“Ah.. semakin runyam nanti,” kata Minho serius, dia menyisir rambutnya dengan jari tangan kanannya.
Hyeon bukan kalut, tetapi dia malah tersenyum pada Minho
“Kamu pikir.. aku tidak kalut?? Aku hanya membangkitkan lagi cintaku padanya”
“kita sama kok,” lanjut Hyeon lagi.
Ya, mereka sama. Mereka berdua memimpikan hidup bersama dengan perempuan yang mereka anggap dapat memahami diri mereka. Diantara keduanya juga terdapat kebingungan perasaan.
Minho malah jadi tertawa, namun tidak keras.
“Ya, kita sama, haha,” katanya singkat
Hyeon bilang dia akan menghubungi Ae Cha setelah ketegasan Seung tidak terjadi juga. Dia berjanji akan menikahi wanita itu baik-baik, sementara dia akan bicarakan dulu dengan ibunya.
                                                ............................

Hari-hari berlalu... Minho sama sekali tidak menghubungi Hye Rim. Walau cewek itu meneleponnya dan mengirimkannya pesan, sama sekali dia tidak mengangkat atau membacanya. Minho hanya sibuk berfikir bagaimana dia bisa mendapatkan kembali Shin Young.
“Dia ada di Busan,” begitu suara Song Yu ketika dia menelepon Minho, tepat dihari ke 10 mereka berdua membicarakan perempuan itu.
Minho langsung senang,” apa?? Eonni tidak bercanda kan??,”
Song Yu senyum,” apa aku bercanda dalam soal ini?? Aku berikan alamatnya kepadamu setelah ini..”
Minho sangat berterima kasih atas bantuan Song Yu. Hatinya berbunga-bunga membayangkan dia akan bertemu Shin Young.
                                                ...............................
Hari hari semakin berlalu. Kekakuan hubungan Minho dan Hye Rim makin menjadi-jadi. Hari itu, Hye Rim menuju apartment Minho.
“Ibuku mengatakan aku harus tinggal disini,” kata Hye Rim dengan nada sedikit ketus pada Minho. Dia duduk di atas tempat tidur Minho.
Minho santai pergi ke ruang bar kecil, dia lalu duduk dan minum.
“Tidak masalah,” katanya singkat
Hye Rim bangun, lalu berjalan menghampiri Minho, berdiri di hadapannya.
“apa kamu memang sengaja memusuhi aku?? Sudah beberapa kali aku menelepon, kirim pesan.. sama sekali tidak dibalas, tidak diangkat.... aku ini rasanya seperti tidak ada dimatamu, Minho!!”, lanjutnya lagi, setengah teriak.

Minho diam saja, dia tidak menanggapinya.
Hye Rim benar-benar emosi.
“Kamu sungguh memancing emosiku, Minho.. kamu memang memusuhiku!”
Minho meletakkan gelas nya. Dia lalu memandang Hye Rim dengan dalam dan tidak suka.
“aku bukan memusuhi mu...aku hanya tidak suka dengan hubungan ini... faham???!!??”
Hye Rim bukannya diam, dia malah membentak Minho.
“ALASAN SAJA!,”
Dia lalu merebut gelas kecil silinder dari tangan Minho dan membantingnya.
“PYAR!,” gelas pun jatuh ... pecah... Hye Rim benar-benar emosi.

“Ini alasanku tidak suka padamu, Hye Rim...!,” Minho gantian marah dengannya, dia tidak terima apartment nya dibuat untuk keributan.
Minho lalu marah, dia mengeluarkan semua kekesalannya pada cewek itu yang menurutnya kekanak-kanakan, sangat egois, tidak mengerti perasaannya. Beda sekali dengan Shin Young.
Hye Rim marah dibanding-bandingkan dengan adik tirinya.
“Dia sudah tidak ada dikota ini dan kamu masih saja mengungkit-ungkitnya!”
Dia berkacak pinggang di depan Minho.
Minho hanya berdiri santai, sama sekali tidak ikut berkacak pinggang dan berusaha menurunkan emosinya agar tidak juga meledak dan memukul.
Minho memang jelas membanding-bandingkan antar mereka. Hal itu dia lakukan agar Hye Rim lekas pergi, keluar dari apartment nya.

Hye Rim lalu mengambil satu botol bir. Ingin membanting botol itu. Minho dengan sigap langsung menggenggam tangannya, mencegahnya.
“Hentikan Hye Rim.. tingkahmu benar-benar memuakkan ku,” kata Minho dengan tegas. Suaranya berat dan dia marah.
Hye Rim meminta Minho melepaskan genggaman tangannya yang sangat erat. Minho sama sekali tidak menuruti kemauannya.
“Lepaskan! Apa kamu pikir lelaki hanya kamu saja, huh??!”

Minho diam, lalu dia melepaskan genggamannya dari tangan Hye Rim. Tersenyum.
“Memang lelaki di dunia ini bukan aku saja, kan?? Lantas kenapa kamu masih mengharapkan ku??”
Hye Rim diam. Matanya menatap tajam Minho.
Minho membalasnya dengan senyum sinis,” kamu sendiri yang menginginkan..jadi..sebaiknya kamu sendiri yang memutuskannya...”
Minho merebut botol bir itu dari tangannya, lalu diletakkan diatas meja bar.
Mata Hye Rim terlanjur merah, marah.
“SIALAN... KAMU BENAR-BENAR SIALAN, MINHO!!”
Dia berteriak-teriak, mengacak-acak rambutnya.
Minho santai saja, sama sekali dia tidak merasa bersalah, lalu kembali ke kamar tidurnya, beristirahat malam itu.
“Besok aku harus kerja... tolong jangan berisik!,” katanya, setengah teriak pada Hye Rim dari dalam kamar.
Hye Rim mengamuk, melempar bantal sofa ke pintu kamar Minho.
Minho tidak peduli apa yang dilakukan Hye Rim diluar kamar apartment nya itu. Dia harus istirahat supaya besok bisa bekerja dengan baik.
Paginya, saat Minho bangun, dia sudah tidak menemukan Hye Rim di dalam apartmentnya. Ternyata cewek itu sudah pergi, entah kemana, mungkin ke rumahnya sendiri. Minho santai saja menghadapi pagi itu dengan aktivitas seperti biasanya, menjadi dokter gigi.
                                                ................................................

“Kamu..sama sekali tidak dihubungi Minho kan??,” tanya Hye Rim, ternyata dia menelepon Shin Young lagi, tanpa siapapun tahu.
Shin Young menggeleng,” Tidak, Eonni.. percaya padaku”, katanya dengan cemas.
“Sama sekali dia tidak menghubungiku... kalau pun aku menghubunginya..dia tidak menganggapku ada,” keluh Hye Rim
Shin Young masih ketakutan dengan kakak tirinya itu.
“Sama sekali aku tidak bicara apapun... aku benar-benar tidak tahu lagi Minho, Eonni.. tolong percaya aku,”
Hye Rim lagi-lagi bernada seperti meremehkannya,” ya, baiklah... aku percaya saja kamu”
Lalu, dia mengakhiri teleponya tanpa salam perpisahan.

Min Suh, sahabat Shin Young menghampirinya.
“Apa..kamu ada masalah lagi??”
Shin Young menoleh padanya, lalu tersenyum,” ah... enggak”
“Minho menghubungi mu lagi??”, tanya Min Suh lagi
Shin Young menggeleng. Dia menjawab selama dia di Busan, sama sekali Minho tidak tahu dan tidak menghubunginya. Dia lalu ijin pada temannya itu untuk pergi ke swalayan, giliran memasak. Min Suh mengijinkannya dan Shin Young berjalan keluar toko.

Shin Young berjalan santai dengan wajah lembutnya. Dia melihat-lihat sekeliling yang ramai, sebentar lagi sampai di sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai keperluan. Di jalan, dia berfikir, apakah Minho masih berusaha mencarinya, sehingga kakak tirinya itu masih menanyakan perihal itu??
“Jika memang benar Minho masih mencariku... aku mohon, Minho...jangan lakukan itu...berbahagialah dengan Eonni Hye Rim...,” lirihnya dalam hati.
Dia mengingat kejadian itu, mengingat lagi....saat tidur bersama Minho dan bagaimana cowok itu berjanji akan tetap mencintainya. Tetapi, dia tidak sanggup mengkhianati keluarga Min yang sudah mengasuhnya.
Shin Young berusaha menghilangkan bayang-bayang Minho dari dirinya. Namun, sepertinya semua itu menyakitkan dan tidak mudah. Setiap malam, masih saja dia mendadak teringat senyum manisnya Minho,  candanya saat di panti jompo bersama dengan para kakek-nenek, kebaikan hatinya untuk mengantar para jompo itu, semua hal baik yang dia ingat tentang Minho.
“ah, sudahlah....,”
Dia berusaha menepis bayangan Minho dalam pikirannya. Dia terus saja berjalan. Untuk mempersingkat waktu, dia pun melewati sebuah gang yang sepi diantara himpitan rumah di kiri dan kanan gang itu.

Sampai di gang yang panjang itu, dia merasa diikuti langkahnya oleh seorang lelaki yang memakai jaket panjang. Shin Young mempercepat langkahnya, dia takut lelaki dibelakang itu menghampirinya. Namun, semakin dia mempercepat langkahnya, lelaki itu pun ternyata memang membuntutinya... dan juga mempercepat langkahnya!
Shin Young menoleh, dia ketakutan. Dilihatnya memang ada seorang lelaki membuntutinya dengan memakai topi yang menutupi wajahnya.
Dia berlari ketakutan, dikejar oleh lelaki itu.
“Tuhan.. mau apa orang ini??,” katanya dalam hati, terus berlari.
Lelaki itu semakin cepat larinya dan berhasil menangkap pergelangan tangan Shin Young.
“LEPASKAN AKU! AKU TIDAK KENAL SIAPA KAMU!!,” teriak Shin Young lantang.
Tapi sayang, gang itu sedang sepi, sama sekali tidak ada orang diluar lewat.
Lelaki itu tersenyum licik, lalu mengeluarkan senjata.
“Diam,” kata lelaki itu
Wajah Shin Young pucat pasi, dia tak tahu harus berkata apa. Mendadak dari mulutnya hanya keluar kata,” Minho...tolong aku”
Lelaki itu tersenyum.
“klik,” bunyi senjata. Ternyata dia memutar peluru.
Shin Young menahan nafasnya, dia sudah pasrah akan mati.
Sebelum lelaki itu memutar lagi peluru di dalam senjata itu, yang memang sudah tidak kosong, terdengar suara lain.
“Klik,” ternyata suara senjata juga.
“Jatuhkan pistolmu itu...atau kepalamu yang hancur,” kata seorang lelaki yang berdiri di belakang lelaki yang menodongkan pistolnya di depan Shin Young. Dia menempelkan pistolnya tepat di kepala belakang lelaki itu.
“Jatuhkan... tak sampai hitungan ke tiga,” kata lelaki itu lagi
Shin Young terkesima, tidak dapat berkata apapun. Wajahnya tegang.

“satu,” lelaki yang menodong pistol ke lelaki yang menodong Shin Young pun menhitung.
“dua,”
Lelaki yang ditodong meletakkan pistolnya di tanah, pelan-pelan.
Lelaki yang menodongnya yang hanya menggunakan jaket panjang, tidak bertopi dan tinggi itu lalu menendang lelaki yang menodongkan pistolnya ke Shin Young.
“BUG!”
“PERGI KAMU! I SAEKKI YA (sialan)!,” kata lelaki berjaket panjang tanpa topi itu, puas menendang lelaki yang menodong pistol tadi ke Shin Young.
Lelaki yang ditendang itu tidak sempat menoleh, lalu dia kabur.
Wajah Shin Young pucat sekali, dia langsung ingin dari lelaki yang menolongnya itu.
“Tunggu, Nona... aku bukan orang jahat!,” teriak lelaki itu, dia menarik tangan Shin Young
“Tolong lepaskan aku,” Shin Young memelas, dia takut dibunuh lelaki itu.
Lelaki itu tersenyum padanya,” aku bukan pembunuh... lelaki itu yang akan membunuhmu... dia pembunuh bayaran seseorang”
Wajah Shin Young masih pucat, dia serasa tidak percaya.
Lelaki itu hanya senyum. Wajahnya memang belum pernah dilihat oleh Shin Young.
“Seseorang meminta ku melindungi mu,”
“Aku...tidak akan kau bunuh, kan??,” suara Shin Young bergetar.
Lelaki itu tertawa kencang. Lalu dia pamit, tanpa bertanya ini itu.
Shin Young hanya menunduk hormat ketika lelaki itu berpaling dan meninggalkannya, walau badannya masih gemetar dan lemas karena peristiwa barusan. Ia lalu melanjutkan jalan kakinya tetap pergi ke pasar.

“Aku sudah tahu dimana letak dia tinggal.. disebuah toko bunga, Song Yu,” kata lelaki itu. Ternyata dia teman Song Yu.
Dari kejauhan, Song Yu berterima kasih pada lelaki itu.
Lelaki itu hanya tersenyum, lalu berjalan.
“Toko Min Flowery”
Dia mengirimkan sebuah foto pada Song Yu.

Tak berapa lama, Minho yang sedang praktek mendapatkan sebuah pesan bergambar.
Dia senang. Hari itu.. dia semangat bekerja walau harus sampai malam karena menggantikan rekannya, Seol Ji Hwan....

Bersambung ke part 15...