Lee Minho sebagai dokter Minho, Kazuki Kitamura
sebagai dokter Choi Hyeon Jun, Gackt sebagai dokter Roh Seung Won
Cerita ini hanya imajinasi saja... jangan terlalu
serius...
Perasaan Minho antara senang dan sedih.
Senang ketika dia tahu bahwa temannya memposting foto Shin Young di jejaring
sosial, sedih karena dia belum tahu, dimana cewek itu berada, hannya sebatas
foto yang dia tahu. Antara harapan dan kebingungan, dia tetap bertekad ingin
mencari cewek itu sebelum pernikahannya dengan Min Hye Rim terjadi.
“aku harus tetap berfikir jernih.. sampai
Shin Young berhasil kutemukan kembali,” pikirnya dalam hati ketika dia bangun
dipagi itu. Dia lalu berdiri, melihat kaca, matanya bengkak.
“kacau sekali... padahal hari ini ada fashion show.. catwalk lagi,” katanya
sambil mengusap bawah matanya yang agak bengkak dan menghitam sedikit.
Lalu dia keluar kamarnya dan bertemu kedua
orangtuanya dipagi itu.
Ruang makan pagi itu memang suasananya
cukup asri. Semalam hujan sedikit turun
sehingga terasa sekali kesejukan udara
pagi yang menghantarkan embun jatuh di rerumputan, termasuk di ruang makan
rumah besar keluarga Lee yang memang berada di ruangan terbuka.
“pagi, Appa..
Eomma,” senyum Minho setelah dia mandi dan sudah segar kembali. Dia lalu
mencium pipi kedua orangtuanya, lalu duduk di kursi posisi biasa dia makan.
“Pagi, Minho... tidurmu nyenyak?,” tanya
ibunya dengan lembut.
Minho senyum mengangguk dan memulai pagi
itu dengan minum segelas jus jeruk.
“Ada berita buruk...,” kata Lee
Minho menoleh pada ayahnya, dia berfikir,
pasti Hye Rim mengadu lagi soal pertengkaran mereka kemarin. Apa yang
dipikirkan Minho benar. Lee bercerita kalau pagi-pagi sekali, Hye Rim sudah
meneleponnya dan mengatakan kalau Minho berulah dengan bertengkar lagi.
Minho membela dirinya,” aku rasa aku tidak
salah, Appa.. aku hanya tidak ingin sikapnya seperti anak-anak.. dia sudah
dewasa, kami kan sudah sama-sama 28 tahun ini.. kenapa dia masih seperti anak
12 tahun?”, santai sekali Minho berucap sambil makan pagi.
“apa benar.. kamu masih mencari Shin Young
itu??,” tanya ibunya
Minho kaget, ternyata Hye Rim sampai
mengadu sejauh itu.
“sama sekali aku tidak mencarinya, Appa..
Eomma.. ,” balas Minho, berbohong.
Lee meletakkan sendok garpunya diatas
piring, makannya selesai.
“kamu tidak bisa seperti itu, Minho.. sama
sekali tidak menghargai keluarga Min kalau kamu masih mengejar-kejar perempuan
itu... ,”
Minho diam.
“tidak baik seperti itu, Minho.. kami
mengerti kamu masih cinta dengan Shin Young... tapi di satu sisi kamu juga
sebaiknya memahami semua ini yang terbaik untukmu... dengan kamu menikahi Hye
Rim.. kami ingin kamu bahagia dengan memilih calon yang tepat,” kata ibunya,
ganti bicara.
Lee mengangguk.
Minho diam saja. Dia tidak ingin menikah
dengan Hye Rim, baginya cewek itu sama sekali tidak dewasa dan hanya akan
menghancurkan hidupnya. Dia tetap bersikeras kepada orangtuanya kalau yang
terbaik menurutnya adalah Park Shin Young.
“kamu tidak bisa se keras kepala itu,
Minho.. semuanya sudah diatur.. kamu hanya akan membuat kami malu kalau
menentangnya. Lagipula, aku berfikir, Hye Rim itu bukan perempuan yangsama
sekali tidak bisa apa-apa dan tidak bisa dicintai... dia bisa hidup denganmu,
kalau kamu ramah padanya,” kata ayahnya
Minho tidak suka mendengar itu. Bukan
berarti dia tidak patuh terhadap orangtuanya, dia memang tidak bisa.
Namun, pagi itu kedua orangtuanya memaksa
untuk belajar mencintai tunangannya itu dan melupakan Shin Young. Minho hanya
bisa diam dinasehati, tidak berani membantah. Pikirannya tetap melayang-layang
mencari Shin Young, dambaan hatinya. Setelah makan pagi, dia pun berangkat
kerja sambilannya, sebagai model.
......................................
“Harus cepat... harus cepat... ayo!,”
teriak asisten pengarah model bertepuk tangan mengarahkan para model supaya
cepat ganti baju
Minho lekas membuka kausnya di depan semua
model, dia cuek saja bertindak cepat karena dalam waktu kurang dari 5 menit
sesinya harus maju lagi memperagakan model baju musim berikutnya.
“Ayo.. Hwaiting,
Minho.. jangan wajahmu sedih begitu!,” Song Yu, kakak modelnya menyemangati.
Minho hanya senyum sedikit lalu dia siap
dengan baju peragaannya itu.
“aku keluar dulu,”
Song Yu menepuk pundaknya,” semangat! Aku
tahu.. ini pasti karena Hye Rim.. kamu bisa melaluinya.. ayo!,” dia mendorong
pundak Minho meuju stage.
Sementara pengarah model sudah sibuk
berteriak di belakang stage.
Minho mengerling pada Song Yu, mencoba
menyemangati dirinya sendiri.
Siang itu sesi acara sebuah brand baju terkenal. Minho dan beberapa
model dari agent tempat dia bekerja diminta berjalan diatas cat walk untuk baju pria dan wanita di
musim berikutnya.
Minho berusaha tetap profesional. Dia
tetap berjalan diatas cat walk dengan santainya, mengikuti alur para model lain
serta konsep yang mereka terjunkan siang itu.
Ketika satu persatu peragaan selesai, sang
desainer berdiri ditengah-tengah para model. Riuh rendah tepuk tangan untuk
para desainer, siang itu sukses mengadakan acara fashion show, kebetulan Minho yang bertugas memberikan karangan
bunga kepada desainer yang membuat baju untuk para model, termasuk untuknya.
Mereka saling bertepuk tangan. Berakhirnya
acara tersebut, semua kumpul di back stage.
“Wah.. kalian tahu tidak?? Waktu muncul
satu persatu.. aku lihat Minho banyak sekali dapat tepuk tangan,” kata pengarah
gaya, si banci Jong.
Minho hanya tertawa,” padahal aku lagi galau soal pekerjaan, hahaha!”, dia
berkilah.
Song Yu memperhatikan sorot mata Minho.
Lalu,” tapi aku berterima kasih... dapat
hadiah ini,”
Minho mengangkat sebuah tropi kecil.
Ternyata dalam acara itu ada pula pemilihan model khusus pria terbaik tahun
itu.
“aku enggak nyangka aja.. ternyata dapat..
ini semua berkat dukungan teman semuanya disini,” senyumnya lagi.
“Kamu dokter gigi, tapi malah berbakat
sekali menjadi model.. hebat!,” tepuk fotografer Nam
“Gomawo
(terima kasih), semuanya.. “, senyum Minho lagi.
“eh.. kemana tunanganmu, Hye Rim? Kok
enggak datang??,” tanya pengarah gaya
“wah..aku enggak tahu soal itu.. Hye Rim
tidak bilang apa-apa padaku...sepertinya desainer gak mau pakai dia,” balas
Minho santai. Dia memasukkan tropi penghargaan itu ke dalam kotaknya.
“Kalian ini kok sepertinya kaku sekali
walau sudah bertunangan sih.. heran,” ujar Nam. Seorang fotografi yang biasa
lebih dari 5 tahun bekerja di agent model yang Minho dan lainnya tekuni, wajar
saja dia melihat kekakuan itu. Biasanya memang Minho dipasang dengan Hye Rim
untuk pemotretan couple (sepasang),
tetapi sudah 3 bulan terakhir ini tidak lagi, karena Minho meminta untuk berganti
pasangan supaya dia bisa lebih menjiwai karakter modelnya bersama dengan model
lain.
“Ah.. aku dan Hye Rim tidak banyak ngobrol
soal karir... biasa saja,” kilah Minho, santai. Dia selesai berganti baju dan
memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas.
“Hari ini.. Oppa memang beruntung sekali,”
senyum Mina.
Minho gantian menyemangati Mina,” kamu pun
pasti bisa, Mina.. kamu juga berbakat kalau aku lihat”
Song Yu yang berada disitu lalu disapa
Minho lagi. Dia ingin berbicara dengan wanita itu. Mereka lalu pergi ke sebuah
cafe, bersantai sambil ngobrol.
........................
“Jadi.. kemarin itu teman-temanmu
mengambil foto Shin Young ada di Busan??,” tanya Song Yu dengan serius
Minho mengangguk,” Ya.. aku sudah cukup
senang, Eonni.. hanya saja.. bagaimana aku menemukannya?? Aku yakin itu dia..
mirip sekali semuanya ketika aku melihat foto itu.. walau dari samping”
“wah... bagus sekali.. ada peluang bertemu
lagi,” Song Yu jadi ikut senang, ekspresi matanya dengan pupil melebar.
Minho mengangguk. Dia bilang kalau dia
akan mencari waktu khusus pergi ke sana.
“apa Shin Young itu punya teman di seputar
kota itu? kamu harus pikirkan itu...sehingga kamu tidak terlalu sulit
mencarinya nanti”
Song Yu memang tempat curhat Minho sebagai rekan model dan dia anggap kakaknya. Kalau
Song Yu membutuhkan Minho dalam nasehat kesehatan anaknya, Minho pun akan
membantunya. Mereka seperti adik kakak, walau Hye Rim juga tidak suka dengan
cewek 35 tahun itu.
“aku harus mencarinya sebelum pernikahanku
dengan Hye Rim,” kata Minho lagi.
“yang aku khawatirkan sebenarnya Hye Rim,
bukan Shin Young itu, Minho,” ujar Song Yu.
Minho mengangguk. Mereka tahu watak Hye
Rim yang diluar dugaan. Mereka ingat bagaimana Song Yu digampar dengan keras
oleh Hye Rim. Untungnya, Song Yu bukan orang yang cepat panas. Belum lagi Minho
bercerita kalau Hye Rim mudah sekali membanting apapun yang dekat dengannya,
lalu kebiasaan mabuknya kalau ada masalah.
“Orangtuaku memang tidak terlalu banyak
tahu tentang Hye Rim. Mereka hanya tahu Tuan Min memang orang yang baik,” ujar
Minho, memandang gelas di depannya
Song Yu senyum,” dan yang memikat hatimu
malah anak tiri Tuan Min”
“Tetapi Minho.. sebenarnya cintamu itu
penuh resiko. Aku memahami jika orang sedang jatuh cinta memang akan cenderung
buta... tetapi... aku membayangkan jika kamu berani dan nekat mencari dimana
Shin Young lalu memaksanya untuk menikah dan meninggalkan Hye Rim begitu
saja... keluarga nya dan keluarga mu akan malu sekali,”
“aku mengerti, Eonni,” katanya pada Song
Yu
“Aku akan berusaha sendiri jika memang
tidak ada yang membantuku,” lanjutnya lagi. Wajahnya berubah, dia membayangkan
kehilangan masa depannya dengan Shin Young
Song Yu melihat wajah adik modelnya itu
jadi sedikit terkekeh,” ayo..kamu harus semangat.. kamu pasti bisa.. atau...aku
juga bisa meminta temanku mungkin yang ada di Busan untuk mencarinya..”
“benar bisa??,” tanya Minho dengan penuh
harap.
“aku memang sungguh cinta dia, Eonni...
aku berharap semuanya akan bisa diselesaikan.. aku tidak mau hidupku sia-sia
begitu saja mencintai orang yang salah,”
“aku akan coba hubungi temanku.. ,” ujar
Song Yu, senyum. Dia tahu, Minho mengharapkan bantuannya.
“Tapi.. kenapa kamu tidak melaporkan Shin
Young saja sebagai orang hilang??,”
Minho kaget, dia memang tidak pernah terfikir
seperti itu. Kalaupun ya, sudah pasti kedua keluarga akan sangat ribut.
Sementara, sepertinya keluarga Min tidak memperdulikan lagi kemana perginya
anak tiri mereka.
Song Yu menghela nafasnya, keheranan, apa
benar sampai setega itu keluarga Min pada anak tiri mereka?
Minho sendiri mengatakan, ketika dia
membicarakan kemana Shin Young, dengan menyingkirkan rasa malunya, tampaknya
keluarga Min tidak lagi ingin membahas itu. Entah apakah menutupi, atau memang
sudah tidak peduli lagi.
“Kasihan kalau begitu Shin Young itu,”
ujar Song Yu
Minho hanya mengangguk saja,“Kalau dia
bersama temannya... itu tidak mengapa.. bagaimana kalau dia tidak tentu
arah??,”
Song Yu tersenyum dengan kekhawatiran
Minho,” Kamu cowok yang baik dan bertanggung jawab.. “
Minho malah cemberut dengan perkataan
kakak modelnya itu baru saja. Dia pusing memikirkan bagaimana mewujudkan
keinginannya.
Ternyata Song Yu menelepon salah seorang
temannya. Mereka berbicara tentang Shin Young. Temannya itu berjanji akan
membantu Song Yu asalkan ada foto cewek itu.
Minho heran, kenapa Song Yu bisa seperti
itu.
“Boleh dikatakan.. temanku adalah mafia?
Hahaha,” Song Yu malah tertawa terbahak-bahak dengan keheranan Minho.
“Eonni bercanda,” keluh Minho, kepalanya
sudah mulai pusing mencari cara
Song Yu tersenyum, dia meminta Minho
mengirimkan foto Shin Young ke smartphone nya. Minho pun melakukannya.
“Teman ku itu luas sekali wilayah
kekuasaannya,” ujar Song Yu.
Minho tidak mengerti apa maksud kakak
modelnya itu.
Song Yu hanya berkata, kalau temannya itu
memiliki beberapa bar dan juga usaha yang berhubungan dengan hiburan dan banyak
sekali anak buahnya berkeliaran.
“Ah.. aku tidak mau Shin Young berurusan
dengan orang seperti itu, Eonni.. berbahaya,”
Minho kaget.. ternyata memang, teman Song
Yu itu ibaratnya “mafia kecil”.
“jangan khawatir, Minho.. mereka tidak
sejahat yang kamu bayangkan.. aku janji,” Song Yu senyum pada Minho
“jangan menolak bantuanku.. siapa tahu..
dia cepat ditemukan lewat mereka,” lanjutnya.
Minho sudah pasrah dengan apapun yang dilaluinya.
Song Yu tertawa-tawa saja ketika
mengetahui curhatan cowok muda itu. Selama ini dia merasa Minho banyak
membantunya dan saatnya dia membantu cowok itu untuk keluar dari masalahnya.
Song Yu menarik nafasnya sedikit,”
haaaa... iya juga ya, Minho.. aku enggak kebayang banget kalau kamu menikah
dengan cewek seperti Hye Rim.. aku masih bisa merasakan tamparannya kalau
mengingat itu lagi”
Minho ternyata minta maaf lagi dengan
kejadian itu.
Song Yu tidak mempermasalahkannya sebab
itu memang bukan kemauan Minho, tapi memang sikap buruk Hye Rim yang dia juga
sudah tahu sedari dulu. Di kalangan agent model sesama cewek pun, sikap Hye Rim
sebenarnya sudah dikenal kurang baik, walau begitu, dia tetap profesional,
sehingga tidak ada masalah dengan manajemen, hanya masalah personal to personal.
“Kita tunggu saja kabar dari teman-temanku
di Busan... kalau berhasil.. kamu harus lekas pergi kesana.. jangan tunggu
lama,” senyum Song Yu pada Minho.
.............................................
Sore nya, Minho sengaja main bertemu
dengan Hyeon. Hyeon malah bercerita tentang perkembangan Ae Cha. Minho malah
jadi menganalisis berbeda.
“sepertinya kamu jatuh cinta lagi
dengannya, Hyeon,” kata Minho serius.
Hyeon tertawa, dia mengakui bahwa rasa itu
muncul lagi. Hanya saja, dia memikirkan bagaimana tanggung jawab Seung Won.
Tidak bisa lepas begitu saja kalau belum ada kejelasan.
“Seung itu... jadi seperti pengecut,”
gerutu Minho, sambil mengaduk-aduk gelas tinggi berisi bir ringan.
“aku kasihan dengan Ae Cha,” kata Hyeon
singkat. Di depan gelasnya, ada smartphone yang ternyata bergetar.
Hyeon mengangkat alat itu di depan Minho.
Minho melihatnya, ternyata ada call
dari Ae Cha.
Hyeon mendiamkan saja, tidak mengangkat.
“Dia jadi bergantung padamu?,” tanya Minho
Hyeon mengangguk,” aku sepertinya tidak
bisa lepas juga darinya... “
Minho senyum padanya,” Cinta lama bersemi
kembali... dan dia benar-benar butuh kamu”
“Kasihan Im, hehe,” Minho mencoba bercanda
tentang anak perempuan Hyeon.
Hyeon senyum pada Minho.
“Aku tidak mempermasalahkan itu, bodoh..
aku minta tanggungjawab Seung,”
Minho minum sebentar, dia taruh lagi
gelasnya.
“Ya.. aku mengerti.. tapi seharusnya kamu
juga tahu, kalau Seung itu keras kepala..siapa orang yang bisa
menjatuhkannya?,”
“aku akan mendesaknya,” timpal Hyeon
singkat.
Minho bergumam. Baginya, cara itu bisa
saja dilakukan, dengan pertimbangan, Seung sama sekali tidak akan bete dengan karirnya. Seung tipe lelaki
yang tidak bisa diganggu gugat soal pekerjaan.
“Kalau dia sampai bunuh diri.. gawat sekali,”
Minho malah jadi aneh pikirannya.
Hyeon menyergahnya supaya tidak bicara
sembarangan. Sebab dia sudah mendapati perempuan itu sudah mulai stress dan
banyak pikiran.
“Pikiranmu bahaya sekali,” kata Hyeon
“apa kamu juga enggak berpikiran begitu
walau sekilas?? Tanpa diketahui, bisa saja dia akhirnya depresi dan bunuh
diri.. kandungannya semakin membesar,” jawab Minho
“aku tunggu sampai 2 bulan lagi...,” kata
Hyeon dengan mimik muka serius.
“lalu??,” Minho jadi penasaran.
“Lalu... aku akan nekat menikahinya...,”
Hyeon menjawab dengan wajah yang serius.
Minho kaget juga,” what?? Kamu serius??”
Hyeon tertawa melihat ekspresi Minho yang
kaget sampai seperti dia melepar gelasnya.
“kamu sendiri baru saja bilang kalau Im
membutuhkan seorang ibu.. lalu.. aku pikir..siapa lagi??”
Minho sedikit berdecak,” ah... masak iya
kamu mau merebut Ae Cha dari Seung? Biarkan dia bertanggung jawab”
Hyeon diam sejenak. Kemudian dia katakan
pada Minho, baginya, psikologis Ae Cha saat ini membutuhkan seseorang yang
sudah dia kenal dekat dan tidak menjatuhkannya. Sementara mereka melihat Seung
terlalu bertele-tele dalam menyelesaikan masalah.
“Ah.. semakin runyam nanti,” kata Minho
serius, dia menyisir rambutnya dengan jari tangan kanannya.
Hyeon bukan kalut, tetapi dia malah tersenyum
pada Minho
“Kamu pikir.. aku tidak kalut?? Aku hanya
membangkitkan lagi cintaku padanya”
“kita sama kok,” lanjut Hyeon lagi.
Ya, mereka sama. Mereka berdua memimpikan
hidup bersama dengan perempuan yang mereka anggap dapat memahami diri mereka.
Diantara keduanya juga terdapat kebingungan perasaan.
Minho malah jadi tertawa, namun tidak
keras.
“Ya, kita sama, haha,” katanya singkat
Hyeon bilang dia akan menghubungi Ae Cha
setelah ketegasan Seung tidak terjadi juga. Dia berjanji akan menikahi wanita
itu baik-baik, sementara dia akan bicarakan dulu dengan ibunya.
............................
Hari-hari berlalu... Minho sama sekali
tidak menghubungi Hye Rim. Walau cewek itu meneleponnya dan mengirimkannya
pesan, sama sekali dia tidak mengangkat atau membacanya. Minho hanya sibuk
berfikir bagaimana dia bisa mendapatkan kembali Shin Young.
“Dia ada di Busan,” begitu suara Song Yu
ketika dia menelepon Minho, tepat dihari ke 10 mereka berdua membicarakan
perempuan itu.
Minho langsung senang,” apa?? Eonni tidak
bercanda kan??,”
Song Yu senyum,” apa aku bercanda dalam
soal ini?? Aku berikan alamatnya kepadamu setelah ini..”
Minho sangat berterima kasih atas bantuan
Song Yu. Hatinya berbunga-bunga membayangkan dia akan bertemu Shin Young.
...............................
Hari hari semakin berlalu. Kekakuan
hubungan Minho dan Hye Rim makin menjadi-jadi. Hari itu, Hye Rim menuju
apartment Minho.
“Ibuku mengatakan aku harus tinggal
disini,” kata Hye Rim dengan nada sedikit ketus pada Minho. Dia duduk di atas
tempat tidur Minho.
Minho santai pergi ke ruang bar kecil, dia
lalu duduk dan minum.
“Tidak masalah,” katanya singkat
Hye Rim bangun, lalu berjalan menghampiri
Minho, berdiri di hadapannya.
“apa kamu memang sengaja memusuhi aku??
Sudah beberapa kali aku menelepon, kirim pesan.. sama sekali tidak dibalas,
tidak diangkat.... aku ini rasanya seperti tidak ada dimatamu, Minho!!”,
lanjutnya lagi, setengah teriak.
Minho diam saja, dia tidak menanggapinya.
Hye Rim benar-benar emosi.
“Kamu sungguh memancing emosiku, Minho..
kamu memang memusuhiku!”
Minho meletakkan gelas nya. Dia lalu
memandang Hye Rim dengan dalam dan tidak suka.
“aku bukan memusuhi mu...aku hanya tidak
suka dengan hubungan ini... faham???!!??”
Hye Rim bukannya diam, dia malah membentak
Minho.
“ALASAN SAJA!,”
Dia lalu merebut gelas kecil silinder dari
tangan Minho dan membantingnya.
“PYAR!,” gelas pun jatuh ... pecah... Hye
Rim benar-benar emosi.
“Ini alasanku tidak suka padamu, Hye
Rim...!,” Minho gantian marah dengannya, dia tidak terima apartment nya dibuat
untuk keributan.
Minho lalu marah, dia mengeluarkan semua
kekesalannya pada cewek itu yang menurutnya kekanak-kanakan, sangat egois,
tidak mengerti perasaannya. Beda sekali dengan Shin Young.
Hye Rim marah dibanding-bandingkan dengan
adik tirinya.
“Dia sudah tidak ada dikota ini dan kamu
masih saja mengungkit-ungkitnya!”
Dia berkacak pinggang di depan Minho.
Minho hanya berdiri santai, sama sekali
tidak ikut berkacak pinggang dan berusaha menurunkan emosinya agar tidak juga
meledak dan memukul.
Minho memang jelas membanding-bandingkan
antar mereka. Hal itu dia lakukan agar Hye Rim lekas pergi, keluar dari
apartment nya.
Hye Rim lalu mengambil satu botol bir.
Ingin membanting botol itu. Minho dengan sigap langsung menggenggam tangannya,
mencegahnya.
“Hentikan Hye Rim.. tingkahmu benar-benar
memuakkan ku,” kata Minho dengan tegas. Suaranya berat dan dia marah.
Hye Rim meminta Minho melepaskan genggaman
tangannya yang sangat erat. Minho sama sekali tidak menuruti kemauannya.
“Lepaskan! Apa kamu pikir lelaki hanya
kamu saja, huh??!”
Minho diam, lalu dia melepaskan
genggamannya dari tangan Hye Rim. Tersenyum.
“Memang lelaki di dunia ini bukan aku
saja, kan?? Lantas kenapa kamu masih mengharapkan ku??”
Hye Rim diam. Matanya menatap tajam Minho.
Minho membalasnya dengan senyum sinis,”
kamu sendiri yang menginginkan..jadi..sebaiknya kamu sendiri yang
memutuskannya...”
Minho merebut botol bir itu dari
tangannya, lalu diletakkan diatas meja bar.
Mata Hye Rim terlanjur merah, marah.
“SIALAN... KAMU BENAR-BENAR SIALAN,
MINHO!!”
Dia berteriak-teriak, mengacak-acak
rambutnya.
Minho santai saja, sama sekali dia tidak
merasa bersalah, lalu kembali ke kamar tidurnya, beristirahat malam itu.
“Besok aku harus kerja... tolong jangan
berisik!,” katanya, setengah teriak pada Hye Rim dari dalam kamar.
Hye Rim mengamuk, melempar bantal sofa ke
pintu kamar Minho.
Minho tidak peduli apa yang dilakukan Hye
Rim diluar kamar apartment nya itu. Dia harus istirahat supaya besok bisa
bekerja dengan baik.
Paginya, saat Minho bangun, dia sudah
tidak menemukan Hye Rim di dalam apartmentnya. Ternyata cewek itu sudah pergi,
entah kemana, mungkin ke rumahnya sendiri. Minho santai saja menghadapi pagi
itu dengan aktivitas seperti biasanya, menjadi dokter gigi.
................................................
“Kamu..sama sekali tidak dihubungi Minho
kan??,” tanya Hye Rim, ternyata dia menelepon Shin Young lagi, tanpa siapapun
tahu.
Shin Young menggeleng,” Tidak, Eonni..
percaya padaku”, katanya dengan cemas.
“Sama sekali dia tidak menghubungiku...
kalau pun aku menghubunginya..dia tidak menganggapku ada,” keluh Hye Rim
Shin Young masih ketakutan dengan kakak
tirinya itu.
“Sama sekali aku tidak bicara apapun...
aku benar-benar tidak tahu lagi Minho, Eonni.. tolong percaya aku,”
Hye Rim lagi-lagi bernada seperti
meremehkannya,” ya, baiklah... aku percaya saja kamu”
Lalu, dia mengakhiri teleponya tanpa salam
perpisahan.
Min Suh, sahabat Shin Young
menghampirinya.
“Apa..kamu ada masalah lagi??”
Shin Young menoleh padanya, lalu tersenyum,”
ah... enggak”
“Minho menghubungi mu lagi??”, tanya Min
Suh lagi
Shin Young menggeleng. Dia menjawab selama
dia di Busan, sama sekali Minho tidak tahu dan tidak menghubunginya. Dia lalu
ijin pada temannya itu untuk pergi ke swalayan, giliran memasak. Min Suh
mengijinkannya dan Shin Young berjalan keluar toko.
Shin Young berjalan santai dengan wajah
lembutnya. Dia melihat-lihat sekeliling yang ramai, sebentar lagi sampai di
sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai keperluan. Di jalan, dia berfikir,
apakah Minho masih berusaha mencarinya, sehingga kakak tirinya itu masih
menanyakan perihal itu??
“Jika memang benar Minho masih
mencariku... aku mohon, Minho...jangan lakukan itu...berbahagialah dengan Eonni
Hye Rim...,” lirihnya dalam hati.
Dia mengingat kejadian itu, mengingat
lagi....saat tidur bersama Minho dan bagaimana cowok itu berjanji akan tetap
mencintainya. Tetapi, dia tidak sanggup mengkhianati keluarga Min yang sudah
mengasuhnya.
Shin Young berusaha menghilangkan
bayang-bayang Minho dari dirinya. Namun, sepertinya semua itu menyakitkan dan
tidak mudah. Setiap malam, masih saja dia mendadak teringat senyum manisnya
Minho, candanya saat di panti jompo
bersama dengan para kakek-nenek, kebaikan hatinya untuk mengantar para jompo
itu, semua hal baik yang dia ingat tentang Minho.
“ah, sudahlah....,”
Dia berusaha menepis bayangan Minho dalam
pikirannya. Dia terus saja berjalan. Untuk mempersingkat waktu, dia pun
melewati sebuah gang yang sepi diantara himpitan rumah di kiri dan kanan gang
itu.
Sampai di gang yang panjang itu, dia
merasa diikuti langkahnya oleh seorang lelaki yang memakai jaket panjang. Shin
Young mempercepat langkahnya, dia takut lelaki dibelakang itu menghampirinya.
Namun, semakin dia mempercepat langkahnya, lelaki itu pun ternyata memang
membuntutinya... dan juga mempercepat langkahnya!
Shin Young menoleh, dia ketakutan.
Dilihatnya memang ada seorang lelaki membuntutinya dengan memakai topi yang
menutupi wajahnya.
Dia berlari ketakutan, dikejar oleh lelaki
itu.
“Tuhan.. mau apa orang ini??,” katanya
dalam hati, terus berlari.
Lelaki itu semakin cepat larinya dan
berhasil menangkap pergelangan tangan Shin Young.
“LEPASKAN AKU! AKU TIDAK KENAL SIAPA
KAMU!!,” teriak Shin Young lantang.
Tapi sayang, gang itu sedang sepi, sama sekali
tidak ada orang diluar lewat.
Lelaki itu tersenyum licik, lalu
mengeluarkan senjata.
“Diam,” kata lelaki itu
Wajah Shin Young pucat pasi, dia tak tahu
harus berkata apa. Mendadak dari mulutnya hanya keluar kata,” Minho...tolong
aku”
Lelaki itu tersenyum.
“klik,” bunyi senjata. Ternyata dia
memutar peluru.
Shin Young menahan nafasnya, dia sudah
pasrah akan mati.
Sebelum lelaki itu memutar lagi peluru di
dalam senjata itu, yang memang sudah tidak kosong, terdengar suara lain.
“Klik,” ternyata suara senjata juga.
“Jatuhkan pistolmu itu...atau kepalamu
yang hancur,” kata seorang lelaki yang berdiri di belakang lelaki yang
menodongkan pistolnya di depan Shin Young. Dia menempelkan pistolnya tepat di
kepala belakang lelaki itu.
“Jatuhkan... tak sampai hitungan ke tiga,”
kata lelaki itu lagi
Shin Young terkesima, tidak dapat berkata
apapun. Wajahnya tegang.
“satu,” lelaki yang menodong pistol ke
lelaki yang menodong Shin Young pun menhitung.
“dua,”
Lelaki yang ditodong meletakkan pistolnya
di tanah, pelan-pelan.
Lelaki yang menodongnya yang hanya
menggunakan jaket panjang, tidak bertopi dan tinggi itu lalu menendang lelaki
yang menodongkan pistolnya ke Shin Young.
“BUG!”
“PERGI KAMU! I SAEKKI YA (sialan)!,” kata lelaki berjaket panjang tanpa topi
itu, puas menendang lelaki yang menodong pistol tadi ke Shin Young.
Lelaki yang ditendang itu tidak sempat
menoleh, lalu dia kabur.
Wajah Shin Young pucat sekali, dia
langsung ingin dari lelaki yang menolongnya itu.
“Tunggu, Nona... aku bukan orang jahat!,”
teriak lelaki itu, dia menarik tangan Shin Young
“Tolong lepaskan aku,” Shin Young memelas,
dia takut dibunuh lelaki itu.
Lelaki itu tersenyum padanya,” aku bukan
pembunuh... lelaki itu yang akan membunuhmu... dia pembunuh bayaran seseorang”
Wajah Shin Young masih pucat, dia serasa
tidak percaya.
Lelaki itu hanya senyum. Wajahnya memang
belum pernah dilihat oleh Shin Young.
“Seseorang meminta ku melindungi mu,”
“Aku...tidak akan kau bunuh, kan??,” suara
Shin Young bergetar.
Lelaki itu tertawa kencang. Lalu dia
pamit, tanpa bertanya ini itu.
Shin Young hanya menunduk hormat ketika
lelaki itu berpaling dan meninggalkannya, walau badannya masih gemetar dan
lemas karena peristiwa barusan. Ia lalu melanjutkan jalan kakinya tetap pergi
ke pasar.
“Aku sudah tahu dimana letak dia tinggal..
disebuah toko bunga, Song Yu,” kata lelaki itu. Ternyata dia teman Song Yu.
Dari kejauhan, Song Yu berterima kasih
pada lelaki itu.
Lelaki itu hanya tersenyum, lalu berjalan.
“Toko Min Flowery”
Dia mengirimkan sebuah foto pada Song Yu.
Tak berapa lama, Minho yang sedang praktek
mendapatkan sebuah pesan bergambar.
Dia senang. Hari itu.. dia semangat
bekerja walau harus sampai malam karena menggantikan rekannya, Seol Ji Hwan....
Bersambung ke part 15...