Lee Min ho sebagai Dokter Minho Gackt
sebagai Dokter Kamui
“Heeeh.. Jadi Yumi chan.. sekarang akan
tinggal di hakone??,” pagi-pagi sekali Shiori ditelepon teman lamanya sewaktu
SMA dari hokkaido.
“eeeh.. shinpai shinaide (jangan khawatir).. Yumi chan... bisa tinggal
ditempatku kalau mau.. hanya saja.. flat ku sempit dan banyak kakek dan nenek
terkadang disini, hehe,” kata Shiori lagi di teleponnya
“Jya
ne.. kabari aku segera kalau mau kesini ya.. aku tunggu,”
“bip,” telepon pun ditutup. Dia segera
keluar flat dan menuju rumah sakit, tugas kembali.
Para petugas medis dan paramedis pagi itu
sibuk sekali, ketika bertemu saling menyapa selamat pagi.
“Ohayou,
senpai (pagi, senior),” kata Shiori pada Minho, lalu dia duduk di kursinya,
menyalakan komputer untuk mengerjakan tugasnya.
Minho senyum padanya dan membalas
salamnya, lalu,”kamu mau kan.. temani aku?? Kita kan janji mau ngobrol sama
pasien soal kesediaan ini. Hari ini minimal harus dapat 10 loh.. tidak mudah
membujuk orang,”
“ya..aku janji akan bantu.. tapi mungkin
agak siang.. aku harus kerjakan metode ini dulu sebentar... Imae-sensei harus
membacanya hari ini, senpai,” balas Shiori, dia berdiri berhadapan dengan
Minho.
“dan.. aku harus berikan juga pada Kamui-sensei,”
lanjutnya
“okay.. aku pergi kontrol dulu.. sehabis makan
siang, baru kita mulai lagi,” kata Minho. Dia sedikit menunduk hormat, membawa
map record pasien lalu pergi keluar ruangan.
Shiori memperhatikannya ketika dia
keluar,” Benar kata Kamui-sensei.. sebenarnya, dia orang yang tidak terlalu
kaku.. hanya.. mungkin memang orang jarang sekali dekat padanya”
Dia jadi sedikit melamun, lalu menyadarkan
dirinya sendiri,” ah.. sudahlah.. aku harus kerjakan laporan”
Chiaki menelepon Shiori..
“Shiori chan... aku rasa.. aku harus
bicara pada mu,”
“Akimoto-sensei.. ada apa??,” tanya Shiori
heran. Dia menebak sendiri mungkin Chiaki akan membicarakan soal Minho dan
penelitian.
“Bisa kan.. nanti makan siang meluangkan
waktu bersama ku?? Ada yang ingin ku bicarakan,” kata Chiaki lagi
“ah.. makan siang ini?? Aku harus bersama
Lee-sensei.. dia ingin kami percepat membujuk para pasien,” jawab Shiori
“aiyaaa..
zannen da ne (aduh..
sayang sekali).. kamu sibuk sekali??,” tanya Chiaki
“begitulah, Akimoto-sensei.. semakin dekat
ke penelitian kami, hehe,”
“ Di cafe saja nanti malam kalau begitu..
bisa kan??,” pinta Chiaki lagi
“nanti sore.. aku hubungi lagi
Akimoto-sensei,” balas Shiori
Chiaki lalu mengerti kesibukan Shiori dan
dia akan menunggu jawabannya nanti sore.
“soal apalagi ya?? Apa masih soal bisnis
atau hubungan Akimoto-sensei dengan Minho-senpai??,” tanya hatinya Shiori.
“ah.. sudahlah,” dia melanjutkan kerjanya,
harus selesai siang ini.
Siangnya, Minho santai makan di kantin.
Tak sengaja, dia bertemu dengan Chiaki, tapi Minho tetap mengambil duduk
terpisah darinya. Kamui baru saja memberikannya tugas untuk membantunya
mengoperasi kanker getah bening yang harus dilakukan sehabis makan siang ini, sehingga
dia tidak mau diganggu dengan perasaan dalam bentuk apapun.
Dilihatnya juga Shiori makan dikantin
bersama dengan dokter Fujiwara, Minho langsung menghampiri mereka.
“hai.. boleh duduk??,” pintanya pada kedua
orang wanita itu
Fujiwara mempersilahkan, begitu juga Shiori.
Minho membuka sesachet gula untuk dituang
ke dalam gelas jus jeruk.
“Bagaimana kabarnya Lee-sensei?? Lama kita
gak ngobrol ya??,” sapa Fujiwara
“baik dan sehat,” senyum tipis Minho pada
Fujiwara dan gantian dia bertanya bagaimana kabar dokter cewek itu
Sementara Chiaki makan dengan santainya
sendirian.
Fujiwara menjawab kalau dia baik, lalu dia
menyikut sedikit pinggang Shiori
“ada Akimoto-sensei.. kamu juga kenal
kan??,”
Shiori mengangguk, Fujiwara lalu
mengangkat tangannya, setengah teriak.
“Akimoto-sensei.. ayo bergabung kesini!,”
Chiaki heran dia dipanggil oleh Fujiwara.
Minho berusaha bersikap biasa ketika akhirnya Chiaki bergabung dengan mereka.
“sudah lama tidak ngobrol juga dengan
Akimoto-sensei,” kata Fujiwara ramah
Chiaki menjawab keramahan Fujiwara dengan
senyum,”ya.. aku sibuk sekali akhir-akhir ini, Fujiwara-sensei.. rasanya kok
banyak sekali penderita kelainan reproduksi sekarang ya? Apa manusia sudah
berubah? Atau kita semua akan jadi monster? Hahaha”, katanya dengan tawa.
Shiori dan Fujiwara tertawa keras, Minho
hanya senyum kalem dengan candaan Chiaki.
“ah.. by
the way, Akimoto-sensei.. kita sedang mencari pasien tumor dan kanker.. apa
ada banyak disana??,” tanya Shiori pada Chiaki
“Aku tidak menangani banyak.. mungkin ada
pada Maeda-sensei.. nanti aku hubungi beliau,” jawab Chiaki dengan senyum
“wah..
hontou ni arigatou,” jawab Shiori dengan wajah sumringah berterimakasih.
Dia lalu berkata pada Chiaki kalau memang mereka butuh cepat agar bisa langsung
memformulasikan tersendiri dengan rentang khusus bagi setiap kelompok umur.
“Ini riset baru ya? Membujuk pasien tidak
mudah,” senyum Chiaki
“ya.. aku dan Lee-sensei akan berusaha..
Mungkin kalau Maeda-sensei memang bisa membantu.. kami masih banyak
kekurangannya.. sehabis ini, aku dan Lee-sensei akan cari lagi pasien,” jawab Shiori
masih dengan semangat
“Nanti aku informasikan pada Maeda-sensei
secepatnya, karena pasti dia mempunyai data, kebetulan dia memang bagian
penanganan pasien dengan tumor dan kanker di divisi kami,” senyum Chiaki lagi
“Lee-sensei juga bisa nanti bertemu dengan
Maeda-sensei,” lanjutnya, menoleh pada Minho.
“Aku tidak banyak bicara dengan
Maeda-sensei.. tapi kalau ada rekomendasi dari Akimoto-sensei.. segera setelah
ini, akan kami hubungi,” jawab Minho dengan ekspresi kalem dan agak datar.
“Asumsi kalau kita mendapatkan 20 pasien..
berarti kita hanya membutuhkan 25 pasien lagi kan??,” tanya Shiori pada Minho
Minho mengangguk,”Ya.. mempermudah dan
mempercepat kerja kita.. lagipula, Takahashi-sensei dan pihak Maru chem juga
ingin secepatnya.. jangan sampai menunggu waktu pasien semakin parah. Rencananya
formulasi baik inject atau oral, akan disesuaikan dengan kondisi per pasien,
itu sebab, kami butuh medical record
mereka selain persetujuan keluarga,”
“Maeda-sensei pasti akan membantu kalian,”
senyum Chiaki
“hontou
ni arigatou, Akimoto-sensei,” balas Minho dengan senyum tipis. Kelihatan
sekali dari warna suaranya, Minho sangat menjaga jarak dengan Chiaki, mantan
pacarnya waktu kuliah dulu. Fujiwara cukup perhatian dengan tindakan Minho yang
seperti itu.
“aku doakan kalian sukses penelitiannya
nanti,” kata Chiaki basa basi.
Mereka makan seperti biasa dan hanya
mengobrol soal pasien saja.
“Lee-sensei kalau begitu akan semakin
sibuk.. saya malah semakin jarang melihat sensei ngobrol antar ruangan,” kata
Fujiwara, memancing pertemanan mereka yang dulu memang sempat sama-sama di IGD
sebelum ditarik ke bagian bedah.
Minho menjawab dengan senyumnya,”Semakin
banyak pekerjaan, Fujiwara-sensei.. maafkan kalau saya terkesan tidak ramah”
“Lee-sensei semakin dipercaya
Kamui-sensei, Fujiwara-sensei.. untuk riset ini, secara tehnik memang ada
dipimpinnya,” kata Shiori
“Lee-sensei semakin berkibar saja ya?? Yokatta na,” senyum Fujiwara pada
semuanya
“Begitulah.. saya bersyukur.. kehidupan
lebih baik lagi,” senyum Minho. Mereka sudah selesai makan, tinggal istirahat
sebentar lagi.
“Semestinya Lee-sensei sudah bisa menjadi
kepala divisi.. ,” kata Fujiwara lagi,”sayang sekali kalau kemampuan sensei
tidak sejalan dengan karir,”
Minho hanya senyum tipis lagi, dia tidak
mau urusan dengan karir, lagipula, di depannya ada Chiaki, dia jadi teringat
masa lalunya ketika di Kenzai Med Uni.
“Bagi saya.. sudah bisa bekerjasama dengan
Kamui-sensei itu sudah sebuah kesempatan yang besar.. Kamui-sensei memberikan
saya banyak peluang untuk maju,” balas Minho kalem
“Aku pun merasakan.. memang Kamui-sensei
seorang rekan yang baik,” ujar Shiori.
“Kamui-sensei memang dikenal dokter yang
tidak membedakan siapapun.. dia banyak fans nya, hahaha,” tawa Fujiwara, dia
mulai menggosip lagi.
“wooh.. Fujiwara-sensei mulai menggosip
lagi,” canda Shiori padanya.
Fujiwara hanya tertawa,“tapi memang
benar.. banyak yang patah hati pada Kamui-sensei ketika dia menikah dengan
wanita yang bukan dari Universitas ini, hehe,”
Minho tidak suka menggosip, jadi dia hanya
dengarkan saja 3 orang perempuan itu saling menggosip tentang atasannya, Kamui.
“dan sampai sekarang.. kita tidak tahu
lagi hubungan antara Kamui-sensei dengan isterinya itu,” lanjut Fujiwara dalam
gossipnya
“eeeh.. Fujiwara-sensei ini,” kata Shiori
tertawa kecil. Dia memang tahu kalau Fujiwara suka menggosip, hanya saja,
dilihatnya sepertinya ada dua orang yang tidak suka menggosip: Minho dan
Chiaki.
Chiaki ikutan tertawa saja, dia tidak
banyak komen, juga ketika Fujiwara menggosip tentang rekan yang lain.
Sampai jam istirahat habis, barulah mereka
berpisah.. Chiaki memandang Minho dan Shiori yang berjalan bersama menuju
ruangan lain, bersama mencari persetujuan pasien dan juga keluarga yang akan
dijadikan relawan riset itu..
“Minho sepertinya semakin jauh dariku,”
kata hatinya Chiaki ketika memandang mereka sudah memunggunginya, berjalan
jauh. Fujiwara melihat ekspresi Chiaki, mengambil kesimpulan sendiri kalau
perempuan itu memang sepertinya masih cinta pada Minho.
“ah.. aku permisi dulu, Akimoto-sensei... shitsurei shimasu.,” kata Fujiwara
sedikit menunduk hormat. Chiaki sadar dari lamunannya,”ah.. gomen.. silahkan..,” senyumnya pada
Fujiwara.
Minho dan Shiori pergi ke ruangan besar
kanker anak..
“Sore nanti.. kita harus bertemu dengan
Maeda-sensei,” kata Minho dilorong menuju ruangan besar itu.
“Siapa yang akan kesana? Aku atau
senpai??”, tawar Shiori padanya
Minho menoleh lalu senyum sampai matanya
lebih kecil lagi,”Kamu saja,”
“Ya.. okay,” jawab Shiori ringan. Dalam
hatinya dia berfikir, pasti karena ada hubungannya dengan Chiaki, makanya dia
tidak ingin meneruskannya.
Lalu mereka masuk ke sebuah ruangan.
Dilihatnya anak kecil berusia 6 tahun mengalami kanker paru.
“Tidak terlalu tinggi.. rasanya kita
kesulitan mencari pasien yang benar-benar sesuai dengan apa yang Maru chem
harapkan,” kata Minho. Dalam proposal mereka, memang yang dicari adalah kanker
payudara, kanker paru.
“Mungkin senpai bisa menghubungi dulu
Kamui-sensei.. bicara ulang tentang data ini.. kalau memang ternyata kita tidak
bisa mendapatkan sesuai apa yang diinginkan pihak mereka”
Minho jadi berfikir lagi. Dia lalu
menghubungi Kamui untuk kejelasannya.
“Kamui-sensei bilang: data tidak mengapa
bercampur..asalkan kita tidak mendapatkan kurang dari 15 pasien dengan kasus
sama,”
“haaah.. yokatta naaa.. senpai.. aku enggak bisa bayangkan kalau kita
terlalu campur baur pasiennya.. boleh aku lihat datamu??,” jawab Shiori sambil
melihat map yang dipegang Minho.
Minho membuka dan memperlihatkan map
medical record nya. Mereka malah jadi menumpang duduk di ruang tunggu pasien.
“Yang ini baik.. sudah lima lebih pasien
kanker paru,” kata Shiori melihat data Minho
“kodomotachi
(anak-anak),” balas Minho
“Tetapi.. bukankah kalian kemarin
sepakat.. memang anak-anak tidak mengapa??,” tanya Shiori lagi
“Ya.. begitulah,” balas Minho singkat
“Lalu.. kenapa Shin Mabuchi dimasukkan
juga??,”
Minho diam sejenak.. lalu,”kankernya..
sudah menyebar sampai ke paru”, membalas Shiori dengan suara datar
“Masaka
(ah..),” Shiori kaget dengan perkataan Minho barusan
Minho mengangguk,”ya..sudah menyebar..
hanya saja, aku belum beritahukan dia soal ini.. aku tidak ingin pikirannya
semakin sedih”
“ya.. aku mengerti,” balas Shiori biasa
saja
“Ayo semangat! Kita cari lagi!,” lanjut
nya dengan wajah ceria.
Minho senyum saja. Mereka lalu masuk ke
ruangan kanker anak.
“Saburo-kun memang sudah lama suka
batuk-batuk, Lee-sensei, Fujita-sensei.. kami tidak menyangka ternyata dia
mengindap penyakit kanker,” tangis seorang nenek terhadap cucunya yang sedang
dirawat. Selang kemoterapi sedang dihadapi anak itu dalam 4 jam ke depan.
“Shinpai
shinaide kudasai, Obaasan.. Saburo-kun wa sugu ni kouka saremasu.. kare wa
tsuyoi otoko no ko desunode, soshite watashi tachi wa kakushin shitemasu... ne,
Saburo kun?? (jangan khawatir, Nek.. saburo akan segera sembuh, dia anak
lelaki yang kuat, itu sebabnya kami yakin.. benar kan.. saburo??),” Shiori
memegang tangan satu lagi Saburo, anak kecil 7 tahun itu yang sedang tertidur
karena kemoterapi. Untuk menahan sakitnya, Saburo diberikan penenang.
Minho berbicara dengan Neneknya Saburo
dengan sabar,”Saburo-kun masih beruntung bisa ketahuan ketika kankernya sudah
memasuki tahapan kedua, Obaasan.. dan kami sebenarnya ingin sekali dia sembuh..
agar tetap bisa bersekolah dan bermain dengan teman-temannya...”
“terima kasih, sensei.. sensei berdua baik
sekali,” jawab Neneknya Saburo,”Maafkan Saburo sudah membuat repot sensei
berdua”
Shiori berdiri, lalu senyum pada orangtua
itu,”tidak mengapa, Nek.. mungkin.. sehabis ini.. kita akan berupaya mengobati
Saburo-kun dengan cara yang lebih nyaman.. hal seperti ini untuk Saburo-kun
bisa jadi sangat menyakitkan.. “
Minho lalu mengajak nenek itu duduk, dia
menjelaskan padanya tentang apa itu tehnik silver yang akan digunakan sebagai
alat dan obat kemoterapi baru.
“Silver ini sebenarnya sudah lama
digunakan sebagai obat.. tetapi untuk Saburo kun..kemungkinan akan menggunakan
silver saja.. tidak emas sebagai perantaranya”
“apa.. hal ini akan membuat Saburo kun
lelah dan sakit? Apa akan mengalami hal yang sama dengan sekarang?,” tanya
Nenek itu dengan sedikit ragu
“Iie,
Obaasan.. pada dasarnya, bahan ini sangat aman.. dengan percepatan masuk ke
dalam darah Saburo-kun lalu kemudian menuju sel kankernya.. diharapkan hanya
dalam 1 seri kemoterapi atau paling banyak sekitar 6 minggu, Saburo kun sudah
mengalami pengurangan sel kanker di parunya sampai dengan 80%.. itu yang kami
harapkan,” balas Minho lagi.
“Apa.. kalau sudah dinyatakan sembuh..
Saburo-kun bisa terus bertahan hidup??,”
Minho tersenyum,”Untuk bisa bertahan..
tahapan pertama, dalam 3 bulan ke depan jika ditanyatakan sembuh.. Nenek sebaiknya
membawa Saburo-kun kesini lagi untuk mengecek darahnya, lalu berikunya dihitung
lagi 6 bulan setelah pengecekan pertama.. lalu jika bagus, Saburo-kun boleh
mengecek darahnya lagi selang 1 tahun berikutnya”
“Obaasan harus tetap semangat.. kami
berusaha berikan yang terbaik,” Shiori malah memegang tangan nenek tua itu
“Aku sedih.. karena dia satu-satunya cucu
ku yang suka menemaniku.. sementara cucu yang lain seperti melupakanku,”
ternyata nenek itu menangis.
“Kalau Nenek mengijinkan.. ijinkan kami
memberikan pengobatan ini kepada Saburo-kun.. prosedurnya sama dengan
kemoterapi ini.. silahkan dibaca,” Minho menyodorkan lembar kesediaan
“Apakah.. Saburo-kun akan bertambah baik
dan sembuh nantinya?,” harap Nenek itu
“kami berusaha yang terbaik, Obaasan,” senyum
Minho.
Nenek itu lalu melihat dan membaca lembar
persetujuan kemoterapi. Shiori memperhatikannya. Tak berapa lama.. ternyata dia
menandatangani juga.
“Tolong bantu saya dan Saburo-kun..
Lee-sensei,” kata Nenek itu berharap.
“Kami akan berusaha yang terbaik untuk
kebaikan Saburo-kun,” Minho menunduk hormat pada nenek itu.
Nenek itu berdiri dan membalas
penghormatan Minho,” Terima kasih sekali, Lee-sensei.. Anda begitu baik pada
kami”
Minho senyum lalu berbicara dengan suster
dan juga dokter pendamping Saburo. Setelah itu, dia dan Shiori pamit pergi ke
ruangan lain.
Tapi mendadak, ketika di lorong.. ada
telepon darinya..
“Nami?? Ada apa dia telepon??,” Minho
heran.. adiknya yang no 2 telepon.
Dia lalu agak menyingkir sebentar dari Shiori
setelah permisi pada cewek itu.
“sepertinya serius sekali,” kata hatinya Shiori,
ketika melihat Minho berlari ke pojok lorong, seperti tidak mau didengar
pembicaraannya oleh siapapun
“Moeus??
Akira kecelakaan??,” Minho sangat kaget dan shocked dengan telepon adiknya
“Ye..
apa yang harus kita lakukan, Oppa?,”
Nami menangis
“dimana sekarang??,” tanya Minho panik.
“Rumah sakit.. tempat Oppa bekerja,” jawab
Nami. Ternyata dia sedang di ruangan IGD.
Minho langsung tanpa ba bi bu lagi menutup
telepon dari Nami dan berlari ke IGD. Shiori tidak tahu apa yang telah terjadi
“Senpai..
Matte kudasai yo!!
Tunggu!,” teriaknya pada Minho
Minho tidak peduli pada teriakan rekan
kerjanya itu, dia berlari saja menuju IGD.
Shiori mengikuti Minho,”senpai.. apa yang
terjadi? Kenapa kamu sedih dan panik?”, katanya dalam hati
Minho sampai di IGD, dia langsung membuka
tirai. Ditemukannya, Fujiwara sedang menangani Akira. Darah berceceran di
lantai.. kepala Akira terluka berat
“Trauma.. sepertinya jatuh di aspal,” kata
Fujiwara, dia berusaha santai tetap bekerja dengan beberapa suster.
“Aku tidak bisa tangani.. harus langsung
dibawa ke ruang bedah,” Fujiwara sudah menyuntikkan di infus Akira pengurang
rasa sakit, tapi itu saja tidak perlu, sebab ada bagian otaknya yang ternyata
parah dan harus dibedah sedikit untuk diperbaiki letak tulang tempurungnya.
Tanpa banyak bicara, Fujiwara langsung
menyuruh 3 orang suster lelaki dan perempuan membawa Akira ke ruang bedah.
Minho tidak bisa membantu, sebab bukan bagiannya, akan ditangani dokter lain.
Minho langsung stress melihat dan
mendengar itu. Lalu di pojokan kursi tunggu operasi, dia melihat Nami terisak.
Minho duduk disamping adiknya lain ibu
itu.. lalu memeluknya
Nami menangis di pelukan Minho. Mata Minho
juga sudah mulai sembab. Dia takut adiknya meninggal walau Akira memang suka
membantah perkataannya.
Shiori hanya bisa memandang mereka dari
jauh..
“Akira ani.. kecelakaan, Oppa,” kata Nami
dengan terisak.
Minho berusaha menahan tangisnya,”Tidak
apa.. nanti akan ditangani dokter.. Akira bisa bertahan”, dia masih saja
mengelus kepala adiknya supaya tenang.
Shiori menghampiri mereka.
“Adikku kecelakaan.. ,” kata Minho datar.
Shiori lalu duduk disamping Nami dan
membelai tangan anak perempuan itu.
“Dokter akan berusaha yang terbaik untuk
kakak mu.. “, katanya.
“Pencarian pasien harus tetap lanjut..kamu
mau kan.. membantuku??,” kata Minho, senyum datar.
Shiori mengangguk,” aku saja yang
tangani.. tidak mengapa.. senpai tunggu saja disini bersamanya.. aku turut
sedih”
“terima kasih,” jawab Minho datar.
Shiori berdiri lalu meninggalkan mereka.
Dia harus tetap mencari pasien untuk riset mereka. Dari kejauhan, Shiori sempat
lagi melihat Minho dan adiknya, dia masih melihat Minho sibuk menenangkan
adiknya itu.
“Seperti apa keluarga Minho senpai??
Kenapa sepertinya kalian tidak memiliki orangtua??,” tanya hatinya Shiori. Dia
membalikkan badannya lagi lalu menuju lorong ke ruangan lain.. ke ruangan
Chiaki..
“Kenapa Minho tidak kesini??,” tanya
Chiaki heran.
“Adiknya kecelakaan.. sekarang sedang
dioperasi,” jawab Shiori.
“ah.. kasihan sekali.. ,” ujar Chiaki. Dia
lalu mempertemukan Shiori dengan Maeda.
“sebenarnya.. Lee-sensei yang semestinya
kesini.. tapi sedang ada halangan dan tidak mengapa saya yang mewakili,
Maeda-sensei,” kata Shiori menunduk hormat pada Maeda sambil berdiri ketika
dipertemukan dengan dokter senior itu yang bertanggung-jawab tentang data
pasien di bagian ginekologi dan reproduksi.
Maeda ramah pada Shiori dan lalu langsung
mengarahkannya menuju ruangannya dan sekaligus meminta observasi data serta
mendatangi para pasien.
Sementara Minho dan Nami masih berada di
ruang tunggu..
Tak berapa lama, para dokter keluar..
“Lee-sensei.. kami turut berduka..,” kata
Ikeda, dokter bedah
Minho langsung tahu, air matanya tidak
terbendung lagi, tapi tetap dia tahan. Sementara Nami langsung menangis
histeris dan memeluk pinggang Minho, kakaknya.
“Kami minta maaf,” Ikeda dan tiga orang
rekan yang membantu mengoperasinya menunduk hormat dalam-dalam pada Minho.
Minho membalas dengan menunduk
hormat,”Terima kasih, Ikeda sensei..dan semuanya.. sudah membantu kami yang
terbaik”
Minho melihat jamnya,”Hari selasa, jam
15.00,” yang artinya, Akira sudah tidak ada lagi di dunia ini pada waktu itu.
“Akira Aniii!!,” teriak Nami ketika Akira
dibawa keluar dari ruangan operasi tapi wajahnya sudah ditutup kain putih. Dia
menangis dan sangat sedih melihat kakaknya tidak dapat diselamatkan. Akira
dibawa ke kamar mayat.
Minho dan Nami mengikuti saja Akira dibawa
oleh dua orang suster ke kamar mayat. Nami sangat sedih dan menangis sepanjang
menuju kamar mayat. Air mata Minho tergenang dipipinya, tapi tangisnya tidak
sanggup bersuara.
Mereka berdua diam di kamar mayat. Minho
memberanikan diri membuka kain putih penutup wajah Akira.
Nami mengguncang tubuh kakaknya yang sudah
meninggal itu.
“Sudahlah, Nami.. moo ii yo.. sudah,” kata Minho, berusaha mencegah adik tirinya itu
supaya tidak terlalu sedih dan keras menangis.
Terakhir pagi itu, dia memang ribut dengan
Akira yang masih minta Minho membelikannya motor balap. Minho tidak menyangka,
hari itu adalah hari terakhir dia bicara dengan adik tirinya itu.
“Aku tidak punya uang sebanyak itu, Akira!
Kamu pikir menjadi dokter dinegeri ini bisa cepat kaya??!!,” Teriak Minho pada
Akira pagi itu sebelum mereka masing-masing pergi beraktivitas
“ITU KARENA ANI TIDAK MAU BERUBAH! ANI
HANYA SENANG KITA TETAP MISKIN!,” Akira balas teriak yang tidak mengenakkan
pada Minho.
Minho sangat tertusuk hatinya dengan
perkataan adik tirinya itu, dia lalu menggerakkan tangannya dan ingin
menggampar Akira
“AYO PUKUL, ANI.. AKU TIDAK TAKUT! BENAR KAN..
ANI MEMANG BETAH DENGAN KEMISKINAN?? KITA INI MISKIN KAN??,” teriak Akira lagi,
malah menantang Minho.
“Minho Oppa.. Akira Ani.. sudah!!,” teriak
Nami melerai mereka berdua. Sementara adik mereka yang kecil menangis melihat
itu, ketakutan.
Minho mengepalkan tangannya, tidak jadi
menggampar atau menonjok adiknya, dia malah menonjok dinding karena kesal.
“BUK!,” suara jari jemarinya beradu dengan
tembok. Minho kesal sekali, adiknya sama sekali tidak menghargai dirinya yang
membantu keseharian mereka, mulai dari makan sampai biaya sekolah.
“AKU BENCI KELUARGA INI! KALAU AKU MATI..
AKU TIDAK MAU BERTEMU KALIAN LAGI!!,” teriak Akira pada semuanya, lalu dia
membanting pintu luar flat dan pergi sekolah.
Ternyata dia tidak pergi sekolah.. tetapi
bolos malah bermain motor track illegal..dan kecelakaan yang merenggut nyawanya
itu pun terjadi juga.
Minho akhirnya menangis mengingat kejadian
itu. Suara segukannya terdengar lemah.
“Aku minta maaf, Akira.. aku tidak bisa
memenuhi permintaanmu,” suara Minho serak, menahan tangisnya.
“Kita harus segera membawa Akira pulang,”
kata Minho pada Nami.
Mereka lalu keluar ruangan. Minho meminta
tolong pada pihak RS untuk mengurus surat sehingga bisa dengan mudah
mengkremasi Akira. Nami disuruhnya ikut ambulance mengantarkan Akira ke rumah
duka. Sementara Minho masih ada pekerjaan dan harus menunggu Shiori selesai.
Nami menurut saja apa kata kakaknya itu.
Minho duduk saja termenung dan tertunduk
di depan kursi nya.
Shiori lalu masuk dengan wajah
ceria,”senpai! Kita sudah dapatkan sampai 13 pasien.. aku bisa bekerja tanpa
bantuanmu lagi.. aku bisa sendiri sekarang,”
Minho tidak menoleh, sebenarnya, dia
menahan air mata supaya tidak jatuh.
“Senpai??,” tanya Shiori, lalu dia duduk
menggeser kursi di sebelah Minho.
“Ada apa.. dengan Akira-kun??,”
Minho lalu menegakkan kepalanya, berani
menatap Shiori, senyum walau pahit,”Akira kun.. sudah tidak ada lagi..
adikku..sudah meninggal,”
Medical record yang dipegang Shiori juga
beserta surat kesediaan kemoterapi bagi para pasien, jatuh..
“Akira-kun,” kata Shiori pelan.
Minho mengangguk, dia menyeka air matanya
sendiri.
Shiori memang belum pernah bertemu sama
sekali dengan ketiga adiknya Minho. Dia hanya tahu dari Kamui kalau Minho punya
3 adik dari orangtua yang berbeda alias tiri.
“Senpai.. semua sudah terjadi..,” kata Shiori
pelan. Tanpa disadari, dia memegang tangan Minho, berusaha menenangkan cowok
itu.
“Aku sudah banyak kehilangan.. dan
sekarang.. aku kehilangan lagi orang yang dekat denganku.. ,” kata Minho. Dia
menahan air matanya.
“Kami disini bersama mu.. aku..
Kamui-sensei.. Akimoto-sensei.. Fujiwara-sensei.. semua bisa jadi temanmu,”
kata Shiori, mencoba menghiburnya.
“Setiap orang.. akan datang dan pergi,”
kata Minho. Dia mencoba sabar dengan kenyataan hidupnya.
“Senpai sanggup melalui ini semuanya.. ,”
kata Shiori, masih menggenggam tangan Minho.
“Tangannya begitu dingin.. dia sangat
sedih..,” kata hatinya Shiori.
“Terima kasih.. kamu teman tim ku yang
baik,” balas Minho
Shiori senyum padanya,”Jangan khawatir,
Senpai.. kita semua teman mu”
Minho lalu bangun, Shiori melepaskan
tangannya dari tangan cowok itu
“Aku minta maaf.. aku hanya ingin
menghibur Senpai,” ujar Shiori, melepaskan tangannya.
“Aku tidak bisa berlama-lama disini.. aku
harus segera mengurus Akira.. aku sudah katakan pada Kamui-sensei”, kata Minho
dengan suara agak serak.
“Aku mengerti,” balas Shiori pelan,”aku
turut berduka”
Minho lalu memakai jaket dan tas
ranselnya, pamit pada Shiori.
“Kasihan sekali Minho senpai,” kata
hatinya Shiori, yang melihat Minho keluar ruangan.
Esoknya, Minho sama sekali tidak masuk.
Malam sebelumnya, dia mengurus kremasi Akira sampai selesai. Altar berdiri di
depan tengah ruangan flatnya, dimana ada kotak abu Akira beserta foto nya
terpampang.
Kamui datang dengan wajah berduka, dia
kemarin tidak ada di RS karena sedang ada acara mengisi seminar di kota lain.
Minho berterima kasih pada Kamui yang mau datang untuk menghiburnya.
“Aku minta maaf.. baru bisa datang agak
siang.. mungkin.. Fujita-sensei pun agak siang.. dia harus segera meneruskan
tugas mu,” kata Kamui
Minho menunduk hormat pada atasannya
itu,”Saya berterima kasih, Sensei mau datang kesini..”
Nami dan si kecil Ran Rin masih sedih
menangis. Kamui mengelus kepala mereka, berusaha menghiburnya dengan senyum.
“Kalian harus kuat.. Akira kun pasti
melihat kalian dari surga,” senyum Kamui pada mereka.
Ran Rin yang paling kecil hanya mengangguk
saja.
“Tidak perlu kamu pikirkan sampai 3 hari
kedepan.. Fujita-sensei pasti bisa menyelesaikannya,” kata Kamui pada Minho.
Minho menunduk hormat pada Kamui,”terima
kasih, Sensei”
Kamui lalu pamit.
Sementara, di RS, Shiori terburu-buru
menyelesaikan tugasnya, dia juga ingin pergi ke flat Minho walau hanya sekedar
untuk mengucapkan rasa belasungkawa.
Chiaki menemukannya masih berlari dan
memakai jas dokternya.
“nan
desu ka?,” kata Chiaki menghentikan larinya Shiori
“Ah.. adiknya Lee-sensei.. meninggal
kemarin.. Kamui-sensei sudah ke flatnya.. aku harus segera ke sana juga,” kata Shiori
agak terburu-buru pada Chiaki
“apa.. masih tinggal di flat yang sama??,”
tanya Chiaki. Dia lalu menyebutkan alamatnya pada Shiori dan Shiori mengangguk
mengiyakan.
“Aku menyusul.. selepas ini..aku akan
pergi juga.. sampaikan maaf ku terlambat kesana,” senyum Chiaki
Shiori mengangguk lalu lekas melarikan
mobilnya ke flat Minho.
Disana, di dalam flat Minho, hanya ada dia
dan kedua adiknya. Semua orang yang sudah melawat sudah pergi.
Shiori memberikan penghormatan 3 kali
kepada abu mayat Akira.
“Terima kasih sudah mau datang demi
Akira,” kata Minho, senyum datar sekali. Wajahnya masih berselimut duka.
“Tidak mengapa, Senpai.. maaf aku datang
terlambat.. menyelesaikan sisa pekerjaan,” jawab Shiori
Minho sedikit menunduk hormat padanya,
berterima kasih Shiori mau membantunya.
Rasanya waktu terhenti, diantara mereka
tidak ada pembicaraan. Nami dan Ran Rin masih saja hanya melihat abu kotak
mayat kakaknya itu.
“Aku tidak bisa lama.. aku harus pulang,”
kata Shiori, memecah kensunyian saling diam diantara semuanya.
Minho mencoba senyum dalam kepedihannya.
“Terima kasih,” katanya
“aku permisi dulu..,” kata Shiori.
Mereka lalu keluar flat, Minho
mengantarkan sampai depan.
“sampai disini saja.. tidak perlu antar
aku sampai bawah,” kata Shiori.
“Aku tidak tahu.. ,” kata Minho mendadak
bicara yang kurang dimengerti Shiori.
“Kenapa? Tentang kehidupan ini??,” tanya Shiori
Minho diam, lalu,”Terima kasih sudah
menjadi temanku selama kita bertemu dan satu tim”
“Tidak usah sungkan, Senpai.. tapi aku
belum bisa jadi teman yang baik.. hehe,” tawa kecil Shiori.
Minho malah membalas dengan senyum, lalu
dia berdiri mendekat pada Shiori.. dan memeluknya.
“Senpai,” kata Shiori heran, kenapa
mendadak Minho melakukan itu.
“Jadilah temanku, Fujita-sensei... aku
kesepian,” kata Minho, memeluk Shiori dengan erat.
Cewek itu merasa bingung dengan tingkah
Minho..
Chiaki naik ke lantai 3 flat.. jauh di
depan, beberapa meter, dia melihat Minho memeluk rekan kerja yang juga
sekaligus temannya itu.
“Minho-kun... suka dengan Shiori chan??,”
tanya hatinya Chiaki.
Dia hanya melihat saja. Sementara Shiori
masih bingung dengan perkataan dan hatinya Minho, sebab dia hanya menganggap
cowok itu sebagai Senpai (senior) nya di Rumah Sakit itu..
“aku mohon.. tetaplah menjadi temanku..
jangan pergi,” kata Minho
Shiori hanya mengangguk saja, dia masih
tidak habis pikir..
Sementara, Chiaki puas memandang mereka
dari kejauhan. Rasa cintanya pada Minho yang berusaha dia kubur, ternyata
kembali muncul.. dia begitu tersiksa perasaannya melihat itu...
Minho masih terus memeluk Shiori, sampai
kemudian, Chiaki membalikkan badannya, kembali turun ke lantai satu.. tidak
ingin bertemu mereka berdua...
Bersambung ke part 14...