This is me....

Minggu, November 30, 2014

Doctor's Heart (Part 13 : Aku Ingin Kita Berteman Baik)

Lee Min ho sebagai Dokter Minho              Gackt sebagai Dokter Kamui

“Heeeh.. Jadi Yumi chan.. sekarang akan tinggal di hakone??,” pagi-pagi sekali Shiori ditelepon teman lamanya sewaktu SMA dari hokkaido.
“eeeh.. shinpai shinaide (jangan khawatir).. Yumi chan... bisa tinggal ditempatku kalau mau.. hanya saja.. flat ku sempit dan banyak kakek dan nenek terkadang disini, hehe,” kata Shiori lagi di teleponnya
Jya ne.. kabari aku segera kalau mau kesini ya.. aku tunggu,”
“bip,” telepon pun ditutup. Dia segera keluar flat dan menuju rumah sakit, tugas kembali.


Para petugas medis dan paramedis pagi itu sibuk sekali, ketika bertemu saling menyapa selamat pagi.
Ohayou, senpai (pagi, senior),” kata Shiori pada Minho, lalu dia duduk di kursinya, menyalakan komputer untuk mengerjakan tugasnya.
Minho senyum padanya dan membalas salamnya, lalu,”kamu mau kan.. temani aku?? Kita kan janji mau ngobrol sama pasien soal kesediaan ini. Hari ini minimal harus dapat 10 loh.. tidak mudah membujuk orang,”
“ya..aku janji akan bantu.. tapi mungkin agak siang.. aku harus kerjakan metode ini dulu sebentar... Imae-sensei harus membacanya hari ini, senpai,” balas Shiori, dia berdiri berhadapan dengan Minho.
“dan.. aku harus berikan juga pada Kamui-sensei,” lanjutnya
“okay.. aku pergi kontrol dulu.. sehabis makan siang, baru kita mulai lagi,” kata Minho. Dia sedikit menunduk hormat, membawa map record pasien lalu pergi keluar ruangan.
Shiori memperhatikannya ketika dia keluar,” Benar kata Kamui-sensei.. sebenarnya, dia orang yang tidak terlalu kaku.. hanya.. mungkin memang orang jarang sekali dekat padanya”
Dia jadi sedikit melamun, lalu menyadarkan dirinya sendiri,” ah.. sudahlah.. aku harus kerjakan laporan”

Chiaki menelepon Shiori..
“Shiori chan... aku rasa.. aku harus bicara pada mu,”
“Akimoto-sensei.. ada apa??,” tanya Shiori heran. Dia menebak sendiri mungkin Chiaki akan membicarakan soal Minho dan penelitian.
“Bisa kan.. nanti makan siang meluangkan waktu bersama ku?? Ada yang ingin ku bicarakan,” kata Chiaki lagi
“ah.. makan siang ini?? Aku harus bersama Lee-sensei.. dia ingin kami percepat membujuk para pasien,” jawab Shiori
“aiyaaa.. zannen da ne (aduh.. sayang sekali).. kamu sibuk sekali??,” tanya Chiaki
“begitulah, Akimoto-sensei.. semakin dekat ke penelitian kami, hehe,”
“ Di cafe saja nanti malam kalau begitu.. bisa kan??,” pinta Chiaki lagi
“nanti sore.. aku hubungi lagi Akimoto-sensei,” balas Shiori
Chiaki lalu mengerti kesibukan Shiori dan dia akan menunggu jawabannya nanti sore.
“soal apalagi ya?? Apa masih soal bisnis atau hubungan Akimoto-sensei dengan Minho-senpai??,” tanya hatinya Shiori.
“ah.. sudahlah,” dia melanjutkan kerjanya, harus selesai siang ini.

Siangnya, Minho santai makan di kantin. Tak sengaja, dia bertemu dengan Chiaki, tapi Minho tetap mengambil duduk terpisah darinya. Kamui baru saja memberikannya tugas untuk membantunya mengoperasi kanker getah bening yang harus dilakukan sehabis makan siang ini, sehingga dia tidak mau diganggu dengan perasaan dalam bentuk apapun.
Dilihatnya juga Shiori makan dikantin bersama dengan dokter Fujiwara, Minho langsung menghampiri mereka.
“hai.. boleh duduk??,” pintanya pada kedua orang wanita itu
Fujiwara mempersilahkan, begitu juga Shiori.
Minho membuka sesachet gula untuk dituang ke dalam gelas jus jeruk.
“Bagaimana kabarnya Lee-sensei?? Lama kita gak ngobrol ya??,” sapa Fujiwara
“baik dan sehat,” senyum tipis Minho pada Fujiwara dan gantian dia bertanya bagaimana kabar dokter cewek itu
Sementara Chiaki makan dengan santainya sendirian.
Fujiwara menjawab kalau dia baik, lalu dia menyikut sedikit pinggang Shiori
“ada Akimoto-sensei.. kamu juga kenal kan??,”
Shiori mengangguk, Fujiwara lalu mengangkat tangannya, setengah teriak.
“Akimoto-sensei.. ayo bergabung kesini!,”
Chiaki heran dia dipanggil oleh Fujiwara. Minho berusaha bersikap biasa ketika akhirnya Chiaki bergabung dengan mereka.
“sudah lama tidak ngobrol juga dengan Akimoto-sensei,” kata Fujiwara ramah
Chiaki menjawab keramahan Fujiwara dengan senyum,”ya.. aku sibuk sekali akhir-akhir ini, Fujiwara-sensei.. rasanya kok banyak sekali penderita kelainan reproduksi sekarang ya? Apa manusia sudah berubah? Atau kita semua akan jadi monster? Hahaha”, katanya dengan tawa.
Shiori dan Fujiwara tertawa keras, Minho hanya senyum kalem dengan candaan Chiaki.

“ah.. by the way, Akimoto-sensei.. kita sedang mencari pasien tumor dan kanker.. apa ada banyak disana??,” tanya Shiori pada Chiaki
“Aku tidak menangani banyak.. mungkin ada pada Maeda-sensei.. nanti aku hubungi beliau,” jawab Chiaki dengan senyum
wah.. hontou ni arigatou,” jawab Shiori dengan wajah sumringah berterimakasih. Dia lalu berkata pada Chiaki kalau memang mereka butuh cepat agar bisa langsung memformulasikan tersendiri dengan rentang khusus bagi setiap kelompok umur.
“Ini riset baru ya? Membujuk pasien tidak mudah,” senyum Chiaki
“ya.. aku dan Lee-sensei akan berusaha.. Mungkin kalau Maeda-sensei memang bisa membantu.. kami masih banyak kekurangannya.. sehabis ini, aku dan Lee-sensei akan cari lagi pasien,” jawab Shiori masih dengan semangat
“Nanti aku informasikan pada Maeda-sensei secepatnya, karena pasti dia mempunyai data, kebetulan dia memang bagian penanganan pasien dengan tumor dan kanker di divisi kami,” senyum Chiaki lagi
“Lee-sensei juga bisa nanti bertemu dengan Maeda-sensei,” lanjutnya, menoleh pada Minho.
“Aku tidak banyak bicara dengan Maeda-sensei.. tapi kalau ada rekomendasi dari Akimoto-sensei.. segera setelah ini, akan kami hubungi,” jawab Minho dengan ekspresi kalem dan agak datar.
“Asumsi kalau kita mendapatkan 20 pasien.. berarti kita hanya membutuhkan 25 pasien lagi kan??,” tanya Shiori pada Minho
Minho mengangguk,”Ya.. mempermudah dan mempercepat kerja kita.. lagipula, Takahashi-sensei dan pihak Maru chem juga ingin secepatnya.. jangan sampai menunggu waktu pasien semakin parah. Rencananya formulasi baik inject atau oral, akan disesuaikan dengan kondisi per pasien, itu sebab, kami butuh medical record mereka selain persetujuan keluarga,”
“Maeda-sensei pasti akan membantu kalian,” senyum Chiaki
hontou ni arigatou, Akimoto-sensei,” balas Minho dengan senyum tipis. Kelihatan sekali dari warna suaranya, Minho sangat menjaga jarak dengan Chiaki, mantan pacarnya waktu kuliah dulu. Fujiwara cukup perhatian dengan tindakan Minho yang seperti itu.
“aku doakan kalian sukses penelitiannya nanti,” kata Chiaki basa basi.
Mereka makan seperti biasa dan hanya mengobrol soal pasien saja.

“Lee-sensei kalau begitu akan semakin sibuk.. saya malah semakin jarang melihat sensei ngobrol antar ruangan,” kata Fujiwara, memancing pertemanan mereka yang dulu memang sempat sama-sama di IGD sebelum ditarik ke bagian bedah.
Minho menjawab dengan senyumnya,”Semakin banyak pekerjaan, Fujiwara-sensei.. maafkan kalau saya terkesan tidak ramah”
“Lee-sensei semakin dipercaya Kamui-sensei, Fujiwara-sensei.. untuk riset ini, secara tehnik memang ada dipimpinnya,” kata Shiori
“Lee-sensei semakin berkibar saja ya?? Yokatta na,” senyum Fujiwara pada semuanya
“Begitulah.. saya bersyukur.. kehidupan lebih baik lagi,” senyum Minho. Mereka sudah selesai makan, tinggal istirahat sebentar lagi.
“Semestinya Lee-sensei sudah bisa menjadi kepala divisi.. ,” kata Fujiwara lagi,”sayang sekali kalau kemampuan sensei tidak sejalan dengan karir,”
Minho hanya senyum tipis lagi, dia tidak mau urusan dengan karir, lagipula, di depannya ada Chiaki, dia jadi teringat masa lalunya ketika di Kenzai Med Uni.
“Bagi saya.. sudah bisa bekerjasama dengan Kamui-sensei itu sudah sebuah kesempatan yang besar.. Kamui-sensei memberikan saya banyak peluang untuk maju,” balas Minho kalem
“Aku pun merasakan.. memang Kamui-sensei seorang rekan yang baik,” ujar Shiori.
“Kamui-sensei memang dikenal dokter yang tidak membedakan siapapun.. dia banyak fans nya, hahaha,” tawa Fujiwara, dia mulai menggosip lagi.
“wooh.. Fujiwara-sensei mulai menggosip lagi,” canda Shiori padanya.
Fujiwara hanya tertawa,“tapi memang benar.. banyak yang patah hati pada Kamui-sensei ketika dia menikah dengan wanita yang bukan dari Universitas ini, hehe,”
Minho tidak suka menggosip, jadi dia hanya dengarkan saja 3 orang perempuan itu saling menggosip tentang atasannya, Kamui.
“dan sampai sekarang.. kita tidak tahu lagi hubungan antara Kamui-sensei dengan isterinya itu,” lanjut Fujiwara dalam gossipnya
“eeeh.. Fujiwara-sensei ini,” kata Shiori tertawa kecil. Dia memang tahu kalau Fujiwara suka menggosip, hanya saja, dilihatnya sepertinya ada dua orang yang tidak suka menggosip: Minho dan Chiaki.
Chiaki ikutan tertawa saja, dia tidak banyak komen, juga ketika Fujiwara menggosip tentang rekan yang lain.

Sampai jam istirahat habis, barulah mereka berpisah.. Chiaki memandang Minho dan Shiori yang berjalan bersama menuju ruangan lain, bersama mencari persetujuan pasien dan juga keluarga yang akan dijadikan relawan riset itu..
“Minho sepertinya semakin jauh dariku,” kata hatinya Chiaki ketika memandang mereka sudah memunggunginya, berjalan jauh. Fujiwara melihat ekspresi Chiaki, mengambil kesimpulan sendiri kalau perempuan itu memang sepertinya masih cinta pada Minho.
“ah.. aku permisi dulu, Akimoto-sensei... shitsurei shimasu.,” kata Fujiwara sedikit menunduk hormat. Chiaki sadar dari lamunannya,”ah.. gomen.. silahkan..,” senyumnya pada Fujiwara.

Minho dan Shiori pergi ke ruangan besar kanker anak..
“Sore nanti.. kita harus bertemu dengan Maeda-sensei,” kata Minho dilorong menuju ruangan besar itu.
“Siapa yang akan kesana? Aku atau senpai??”, tawar Shiori padanya
Minho menoleh lalu senyum sampai matanya lebih kecil lagi,”Kamu saja,”
“Ya.. okay,” jawab Shiori ringan. Dalam hatinya dia berfikir, pasti karena ada hubungannya dengan Chiaki, makanya dia tidak ingin meneruskannya.
Lalu mereka masuk ke sebuah ruangan. Dilihatnya anak kecil berusia 6 tahun mengalami kanker paru.
“Tidak terlalu tinggi.. rasanya kita kesulitan mencari pasien yang benar-benar sesuai dengan apa yang Maru chem harapkan,” kata Minho. Dalam proposal mereka, memang yang dicari adalah kanker payudara, kanker paru.
“Mungkin senpai bisa menghubungi dulu Kamui-sensei.. bicara ulang tentang data ini.. kalau memang ternyata kita tidak bisa mendapatkan sesuai apa yang diinginkan pihak mereka”
Minho jadi berfikir lagi. Dia lalu menghubungi Kamui untuk kejelasannya.
“Kamui-sensei bilang: data tidak mengapa bercampur..asalkan kita tidak mendapatkan kurang dari 15 pasien dengan kasus sama,”
“haaah.. yokatta naaa.. senpai.. aku enggak bisa bayangkan kalau kita terlalu campur baur pasiennya.. boleh aku lihat datamu??,” jawab Shiori sambil melihat map yang dipegang Minho.

Minho membuka dan memperlihatkan map medical record nya. Mereka malah jadi menumpang duduk di ruang tunggu pasien.
“Yang ini baik.. sudah lima lebih pasien kanker paru,” kata Shiori melihat data Minho
kodomotachi (anak-anak),” balas Minho
“Tetapi.. bukankah kalian kemarin sepakat.. memang anak-anak tidak mengapa??,” tanya Shiori lagi
“Ya.. begitulah,” balas Minho singkat
“Lalu.. kenapa Shin Mabuchi dimasukkan juga??,”
Minho diam sejenak.. lalu,”kankernya.. sudah menyebar sampai ke paru”, membalas Shiori dengan suara datar
Masaka (ah..),” Shiori kaget dengan perkataan Minho barusan
Minho mengangguk,”ya..sudah menyebar.. hanya saja, aku belum beritahukan dia soal ini.. aku tidak ingin pikirannya semakin sedih”
“ya.. aku mengerti,” balas Shiori biasa saja
“Ayo semangat! Kita cari lagi!,” lanjut nya dengan wajah ceria.
Minho senyum saja. Mereka lalu masuk ke ruangan kanker anak.

“Saburo-kun memang sudah lama suka batuk-batuk, Lee-sensei, Fujita-sensei.. kami tidak menyangka ternyata dia mengindap penyakit kanker,” tangis seorang nenek terhadap cucunya yang sedang dirawat. Selang kemoterapi sedang dihadapi anak itu dalam 4 jam ke depan.
Shinpai shinaide kudasai, Obaasan.. Saburo-kun wa sugu ni kouka saremasu.. kare wa tsuyoi otoko no ko desunode, soshite watashi tachi wa kakushin shitemasu... ne, Saburo kun?? (jangan khawatir, Nek.. saburo akan segera sembuh, dia anak lelaki yang kuat, itu sebabnya kami yakin.. benar kan.. saburo??),” Shiori memegang tangan satu lagi Saburo, anak kecil 7 tahun itu yang sedang tertidur karena kemoterapi. Untuk menahan sakitnya, Saburo diberikan penenang.
Minho berbicara dengan Neneknya Saburo dengan sabar,”Saburo-kun masih beruntung bisa ketahuan ketika kankernya sudah memasuki tahapan kedua, Obaasan.. dan kami sebenarnya ingin sekali dia sembuh.. agar tetap bisa bersekolah dan bermain dengan teman-temannya...”
“terima kasih, sensei.. sensei berdua baik sekali,” jawab Neneknya Saburo,”Maafkan Saburo sudah membuat repot sensei berdua”
Shiori berdiri, lalu senyum pada orangtua itu,”tidak mengapa, Nek.. mungkin.. sehabis ini.. kita akan berupaya mengobati Saburo-kun dengan cara yang lebih nyaman.. hal seperti ini untuk Saburo-kun bisa jadi sangat menyakitkan.. “

Minho lalu mengajak nenek itu duduk, dia menjelaskan padanya tentang apa itu tehnik silver yang akan digunakan sebagai alat dan obat kemoterapi baru.
“Silver ini sebenarnya sudah lama digunakan sebagai obat.. tetapi untuk Saburo kun..kemungkinan akan menggunakan silver saja.. tidak emas sebagai perantaranya”
“apa.. hal ini akan membuat Saburo kun lelah dan sakit? Apa akan mengalami hal yang sama dengan sekarang?,” tanya Nenek itu dengan sedikit ragu
Iie, Obaasan.. pada dasarnya, bahan ini sangat aman.. dengan percepatan masuk ke dalam darah Saburo-kun lalu kemudian menuju sel kankernya.. diharapkan hanya dalam 1 seri kemoterapi atau paling banyak sekitar 6 minggu, Saburo kun sudah mengalami pengurangan sel kanker di parunya sampai dengan 80%.. itu yang kami harapkan,” balas Minho lagi.
“Apa.. kalau sudah dinyatakan sembuh.. Saburo-kun bisa terus bertahan hidup??,”
Minho tersenyum,”Untuk bisa bertahan.. tahapan pertama, dalam 3 bulan ke depan jika ditanyatakan sembuh.. Nenek sebaiknya membawa Saburo-kun kesini lagi untuk mengecek darahnya, lalu berikunya dihitung lagi 6 bulan setelah pengecekan pertama.. lalu jika bagus, Saburo-kun boleh mengecek darahnya lagi selang 1 tahun berikutnya”
“Obaasan harus tetap semangat.. kami berusaha berikan yang terbaik,” Shiori malah memegang tangan nenek tua itu
“Aku sedih.. karena dia satu-satunya cucu ku yang suka menemaniku.. sementara cucu yang lain seperti melupakanku,” ternyata nenek itu menangis.
“Kalau Nenek mengijinkan.. ijinkan kami memberikan pengobatan ini kepada Saburo-kun.. prosedurnya sama dengan kemoterapi ini.. silahkan dibaca,” Minho menyodorkan lembar kesediaan
“Apakah.. Saburo-kun akan bertambah baik dan sembuh nantinya?,” harap Nenek itu
“kami berusaha yang terbaik, Obaasan,” senyum Minho.
Nenek itu lalu melihat dan membaca lembar persetujuan kemoterapi. Shiori memperhatikannya. Tak berapa lama.. ternyata dia menandatangani juga.
“Tolong bantu saya dan Saburo-kun.. Lee-sensei,” kata Nenek itu berharap.
“Kami akan berusaha yang terbaik untuk kebaikan Saburo-kun,” Minho menunduk hormat pada nenek itu.
Nenek itu berdiri dan membalas penghormatan Minho,” Terima kasih sekali, Lee-sensei.. Anda begitu baik pada kami”
Minho senyum lalu berbicara dengan suster dan juga dokter pendamping Saburo. Setelah itu, dia dan Shiori pamit pergi ke ruangan lain.

Tapi mendadak, ketika di lorong.. ada telepon darinya..
“Nami?? Ada apa dia telepon??,” Minho heran.. adiknya yang no 2 telepon.
Dia lalu agak menyingkir sebentar dari Shiori setelah permisi pada cewek itu.
“sepertinya serius sekali,” kata hatinya Shiori, ketika melihat Minho berlari ke pojok lorong, seperti tidak mau didengar pembicaraannya oleh siapapun
Moeus?? Akira kecelakaan??,” Minho sangat kaget dan shocked dengan telepon adiknya
Ye.. apa yang harus kita lakukan, Oppa?,” Nami menangis
“dimana sekarang??,” tanya Minho panik.
“Rumah sakit.. tempat Oppa bekerja,” jawab Nami. Ternyata dia sedang di ruangan IGD.
Minho langsung tanpa ba bi bu lagi menutup telepon dari Nami dan berlari ke IGD. Shiori tidak tahu apa yang telah terjadi
“Senpai.. Matte kudasai yo!! Tunggu!,” teriaknya pada Minho
Minho tidak peduli pada teriakan rekan kerjanya itu, dia berlari saja menuju IGD.
Shiori mengikuti Minho,”senpai.. apa yang terjadi? Kenapa kamu sedih dan panik?”, katanya dalam hati

Minho sampai di IGD, dia langsung membuka tirai. Ditemukannya, Fujiwara sedang menangani Akira. Darah berceceran di lantai.. kepala Akira terluka berat
“Trauma.. sepertinya jatuh di aspal,” kata Fujiwara, dia berusaha santai tetap bekerja dengan beberapa suster.
“Aku tidak bisa tangani.. harus langsung dibawa ke ruang bedah,” Fujiwara sudah menyuntikkan di infus Akira pengurang rasa sakit, tapi itu saja tidak perlu, sebab ada bagian otaknya yang ternyata parah dan harus dibedah sedikit untuk diperbaiki letak tulang tempurungnya.
Tanpa banyak bicara, Fujiwara langsung menyuruh 3 orang suster lelaki dan perempuan membawa Akira ke ruang bedah. Minho tidak bisa membantu, sebab bukan bagiannya, akan ditangani dokter lain.
Minho langsung stress melihat dan mendengar itu. Lalu di pojokan kursi tunggu operasi, dia melihat Nami terisak.
Minho duduk disamping adiknya lain ibu itu.. lalu memeluknya
Nami menangis di pelukan Minho. Mata Minho juga sudah mulai sembab. Dia takut adiknya meninggal walau Akira memang suka membantah perkataannya.
Shiori hanya bisa memandang mereka dari jauh..

“Akira ani.. kecelakaan, Oppa,” kata Nami dengan terisak.
Minho berusaha menahan tangisnya,”Tidak apa.. nanti akan ditangani dokter.. Akira bisa bertahan”, dia masih saja mengelus kepala adiknya supaya tenang.
Shiori menghampiri mereka.
“Adikku kecelakaan.. ,” kata Minho datar.
Shiori lalu duduk disamping Nami dan membelai tangan anak perempuan itu.
“Dokter akan berusaha yang terbaik untuk kakak mu.. “, katanya.
“Pencarian pasien harus tetap lanjut..kamu mau kan.. membantuku??,” kata Minho, senyum datar.
Shiori mengangguk,” aku saja yang tangani.. tidak mengapa.. senpai tunggu saja disini bersamanya.. aku turut sedih”
“terima kasih,” jawab Minho datar.
Shiori berdiri lalu meninggalkan mereka. Dia harus tetap mencari pasien untuk riset mereka. Dari kejauhan, Shiori sempat lagi melihat Minho dan adiknya, dia masih melihat Minho sibuk menenangkan adiknya itu.
“Seperti apa keluarga Minho senpai?? Kenapa sepertinya kalian tidak memiliki orangtua??,” tanya hatinya Shiori. Dia membalikkan badannya lagi lalu menuju lorong ke ruangan lain.. ke ruangan Chiaki..

“Kenapa Minho tidak kesini??,” tanya Chiaki heran.
“Adiknya kecelakaan.. sekarang sedang dioperasi,” jawab Shiori.
“ah.. kasihan sekali.. ,” ujar Chiaki. Dia lalu mempertemukan Shiori dengan Maeda.
“sebenarnya.. Lee-sensei yang semestinya kesini.. tapi sedang ada halangan dan tidak mengapa saya yang mewakili, Maeda-sensei,” kata Shiori menunduk hormat pada Maeda sambil berdiri ketika dipertemukan dengan dokter senior itu yang bertanggung-jawab tentang data pasien di bagian ginekologi dan reproduksi.
Maeda ramah pada Shiori dan lalu langsung mengarahkannya menuju ruangannya dan sekaligus meminta observasi data serta mendatangi para pasien.

Sementara Minho dan Nami masih berada di ruang tunggu..
Tak berapa lama, para dokter keluar..
“Lee-sensei.. kami turut berduka..,” kata Ikeda, dokter bedah
Minho langsung tahu, air matanya tidak terbendung lagi, tapi tetap dia tahan. Sementara Nami langsung menangis histeris dan memeluk pinggang Minho, kakaknya.
“Kami minta maaf,” Ikeda dan tiga orang rekan yang membantu mengoperasinya menunduk hormat dalam-dalam pada Minho.
Minho membalas dengan menunduk hormat,”Terima kasih, Ikeda sensei..dan semuanya.. sudah membantu kami yang terbaik”
Minho melihat jamnya,”Hari selasa, jam 15.00,” yang artinya, Akira sudah tidak ada lagi di dunia ini pada waktu itu.
“Akira Aniii!!,” teriak Nami ketika Akira dibawa keluar dari ruangan operasi tapi wajahnya sudah ditutup kain putih. Dia menangis dan sangat sedih melihat kakaknya tidak dapat diselamatkan. Akira dibawa ke kamar mayat.
Minho dan Nami mengikuti saja Akira dibawa oleh dua orang suster ke kamar mayat. Nami sangat sedih dan menangis sepanjang menuju kamar mayat. Air mata Minho tergenang dipipinya, tapi tangisnya tidak sanggup bersuara.

Mereka berdua diam di kamar mayat. Minho memberanikan diri membuka kain putih penutup wajah Akira.
Nami mengguncang tubuh kakaknya yang sudah meninggal itu.
“Sudahlah, Nami.. moo ii yo.. sudah,” kata Minho, berusaha mencegah adik tirinya itu supaya tidak terlalu sedih dan keras menangis.
Terakhir pagi itu, dia memang ribut dengan Akira yang masih minta Minho membelikannya motor balap. Minho tidak menyangka, hari itu adalah hari terakhir dia bicara dengan adik tirinya itu.
“Aku tidak punya uang sebanyak itu, Akira! Kamu pikir menjadi dokter dinegeri ini bisa cepat kaya??!!,” Teriak Minho pada Akira pagi itu sebelum mereka masing-masing pergi beraktivitas
“ITU KARENA ANI TIDAK MAU BERUBAH! ANI HANYA SENANG KITA TETAP MISKIN!,” Akira balas teriak yang tidak mengenakkan pada Minho.
Minho sangat tertusuk hatinya dengan perkataan adik tirinya itu, dia lalu menggerakkan tangannya dan ingin menggampar Akira
“AYO PUKUL, ANI.. AKU TIDAK TAKUT! BENAR KAN.. ANI MEMANG BETAH DENGAN KEMISKINAN?? KITA INI MISKIN KAN??,” teriak Akira lagi, malah menantang Minho.
“Minho Oppa.. Akira Ani.. sudah!!,” teriak Nami melerai mereka berdua. Sementara adik mereka yang kecil menangis melihat itu, ketakutan.
Minho mengepalkan tangannya, tidak jadi menggampar atau menonjok adiknya, dia malah menonjok dinding karena kesal.
“BUK!,” suara jari jemarinya beradu dengan tembok. Minho kesal sekali, adiknya sama sekali tidak menghargai dirinya yang membantu keseharian mereka, mulai dari makan sampai biaya sekolah.
“AKU BENCI KELUARGA INI! KALAU AKU MATI.. AKU TIDAK MAU BERTEMU KALIAN LAGI!!,” teriak Akira pada semuanya, lalu dia membanting pintu luar flat dan pergi sekolah.
Ternyata dia tidak pergi sekolah.. tetapi bolos malah bermain motor track illegal..dan kecelakaan yang merenggut nyawanya itu pun terjadi juga.
Minho akhirnya menangis mengingat kejadian itu. Suara segukannya terdengar lemah.
“Aku minta maaf, Akira.. aku tidak bisa memenuhi permintaanmu,” suara Minho serak, menahan tangisnya.
“Kita harus segera membawa Akira pulang,” kata Minho pada Nami.
Mereka lalu keluar ruangan. Minho meminta tolong pada pihak RS untuk mengurus surat sehingga bisa dengan mudah mengkremasi Akira. Nami disuruhnya ikut ambulance mengantarkan Akira ke rumah duka. Sementara Minho masih ada pekerjaan dan harus menunggu Shiori selesai. Nami menurut saja apa kata kakaknya itu.

Minho duduk saja termenung dan tertunduk di depan kursi nya.
Shiori lalu masuk dengan wajah ceria,”senpai! Kita sudah dapatkan sampai 13 pasien.. aku bisa bekerja tanpa bantuanmu lagi.. aku bisa sendiri sekarang,”
Minho tidak menoleh, sebenarnya, dia menahan air mata supaya tidak jatuh.
“Senpai??,” tanya Shiori, lalu dia duduk menggeser kursi di sebelah Minho.
“Ada apa.. dengan Akira-kun??,”
Minho lalu menegakkan kepalanya, berani menatap Shiori, senyum walau pahit,”Akira kun.. sudah tidak ada lagi.. adikku..sudah meninggal,”
Medical record yang dipegang Shiori juga beserta surat kesediaan kemoterapi bagi para pasien, jatuh..
“Akira-kun,” kata Shiori pelan.
Minho mengangguk, dia menyeka air matanya sendiri.
Shiori memang belum pernah bertemu sama sekali dengan ketiga adiknya Minho. Dia hanya tahu dari Kamui kalau Minho punya 3 adik dari orangtua yang berbeda alias tiri.
“Senpai.. semua sudah terjadi..,” kata Shiori pelan. Tanpa disadari, dia memegang tangan Minho, berusaha menenangkan cowok itu.
“Aku sudah banyak kehilangan.. dan sekarang.. aku kehilangan lagi orang yang dekat denganku.. ,” kata Minho. Dia menahan air matanya.
“Kami disini bersama mu.. aku.. Kamui-sensei.. Akimoto-sensei.. Fujiwara-sensei.. semua bisa jadi temanmu,” kata Shiori, mencoba menghiburnya.
“Setiap orang.. akan datang dan pergi,” kata Minho. Dia mencoba sabar dengan kenyataan hidupnya.
“Senpai sanggup melalui ini semuanya.. ,” kata Shiori, masih menggenggam tangan Minho.
“Tangannya begitu dingin.. dia sangat sedih..,” kata hatinya Shiori.
“Terima kasih.. kamu teman tim ku yang baik,” balas Minho
Shiori senyum padanya,”Jangan khawatir, Senpai.. kita semua teman mu”
Minho lalu bangun, Shiori melepaskan tangannya dari tangan cowok itu
“Aku minta maaf.. aku hanya ingin menghibur Senpai,” ujar Shiori, melepaskan tangannya.
“Aku tidak bisa berlama-lama disini.. aku harus segera mengurus Akira.. aku sudah katakan pada Kamui-sensei”, kata Minho dengan suara agak serak.
“Aku mengerti,” balas Shiori pelan,”aku turut berduka”
Minho lalu memakai jaket dan tas ranselnya, pamit pada Shiori.
“Kasihan sekali Minho senpai,” kata hatinya Shiori, yang melihat Minho keluar ruangan.

Esoknya, Minho sama sekali tidak masuk. Malam sebelumnya, dia mengurus kremasi Akira sampai selesai. Altar berdiri di depan tengah ruangan flatnya, dimana ada kotak abu Akira beserta foto nya terpampang.
Kamui datang dengan wajah berduka, dia kemarin tidak ada di RS karena sedang ada acara mengisi seminar di kota lain. Minho berterima kasih pada Kamui yang mau datang untuk menghiburnya.
“Aku minta maaf.. baru bisa datang agak siang.. mungkin.. Fujita-sensei pun agak siang.. dia harus segera meneruskan tugas mu,” kata Kamui
Minho menunduk hormat pada atasannya itu,”Saya berterima kasih, Sensei mau datang kesini..”
Nami dan si kecil Ran Rin masih sedih menangis. Kamui mengelus kepala mereka, berusaha menghiburnya dengan senyum.
“Kalian harus kuat.. Akira kun pasti melihat kalian dari surga,” senyum Kamui pada mereka.
Ran Rin yang paling kecil hanya mengangguk saja.
“Tidak perlu kamu pikirkan sampai 3 hari kedepan.. Fujita-sensei pasti bisa menyelesaikannya,” kata Kamui pada Minho.
Minho menunduk hormat pada Kamui,”terima kasih, Sensei”
Kamui lalu pamit.

Sementara, di RS, Shiori terburu-buru menyelesaikan tugasnya, dia juga ingin pergi ke flat Minho walau hanya sekedar untuk mengucapkan rasa belasungkawa.
Chiaki menemukannya masih berlari dan memakai jas dokternya.
nan desu ka?,” kata Chiaki menghentikan larinya Shiori
“Ah.. adiknya Lee-sensei.. meninggal kemarin.. Kamui-sensei sudah ke flatnya.. aku harus segera ke sana juga,” kata Shiori agak terburu-buru pada Chiaki
“apa.. masih tinggal di flat yang sama??,” tanya Chiaki. Dia lalu menyebutkan alamatnya pada Shiori dan Shiori mengangguk mengiyakan.
“Aku menyusul.. selepas ini..aku akan pergi juga.. sampaikan maaf ku terlambat kesana,” senyum Chiaki
Shiori mengangguk lalu lekas melarikan mobilnya ke flat Minho.

Disana, di dalam flat Minho, hanya ada dia dan kedua adiknya. Semua orang yang sudah melawat sudah pergi.
Shiori memberikan penghormatan 3 kali kepada abu mayat Akira.
“Terima kasih sudah mau datang demi Akira,” kata Minho, senyum datar sekali. Wajahnya masih berselimut duka.
“Tidak mengapa, Senpai.. maaf aku datang terlambat.. menyelesaikan sisa pekerjaan,” jawab Shiori
Minho sedikit menunduk hormat padanya, berterima kasih Shiori mau membantunya.
Rasanya waktu terhenti, diantara mereka tidak ada pembicaraan. Nami dan Ran Rin masih saja hanya melihat abu kotak mayat kakaknya itu.
“Aku tidak bisa lama.. aku harus pulang,” kata Shiori, memecah kensunyian saling diam diantara semuanya.
Minho mencoba senyum dalam kepedihannya.
“Terima kasih,” katanya
“aku permisi dulu..,” kata Shiori.
Mereka lalu keluar flat, Minho mengantarkan sampai depan.

“sampai disini saja.. tidak perlu antar aku sampai bawah,” kata Shiori.
“Aku tidak tahu.. ,” kata Minho mendadak bicara yang kurang dimengerti Shiori.
“Kenapa? Tentang kehidupan ini??,” tanya Shiori
Minho diam, lalu,”Terima kasih sudah menjadi temanku selama kita bertemu dan satu tim”
“Tidak usah sungkan, Senpai.. tapi aku belum bisa jadi teman yang baik.. hehe,” tawa kecil Shiori.
Minho malah membalas dengan senyum, lalu dia berdiri mendekat pada Shiori.. dan memeluknya.
“Senpai,” kata Shiori heran, kenapa mendadak Minho melakukan itu.
“Jadilah temanku, Fujita-sensei... aku kesepian,” kata Minho, memeluk Shiori dengan erat.
Cewek itu merasa bingung dengan tingkah Minho..
Chiaki naik ke lantai 3 flat.. jauh di depan, beberapa meter, dia melihat Minho memeluk rekan kerja yang juga sekaligus temannya itu.
“Minho-kun... suka dengan Shiori chan??,” tanya hatinya Chiaki.
Dia hanya melihat saja. Sementara Shiori masih bingung dengan perkataan dan hatinya Minho, sebab dia hanya menganggap cowok itu sebagai Senpai (senior) nya di Rumah Sakit itu..
“aku mohon.. tetaplah menjadi temanku.. jangan pergi,” kata Minho
Shiori hanya mengangguk saja, dia masih tidak habis pikir..
Sementara, Chiaki puas memandang mereka dari kejauhan. Rasa cintanya pada Minho yang berusaha dia kubur, ternyata kembali muncul.. dia begitu tersiksa perasaannya melihat itu...
Minho masih terus memeluk Shiori, sampai kemudian, Chiaki membalikkan badannya, kembali turun ke lantai satu.. tidak ingin bertemu mereka berdua...

Bersambung ke part 14...