Cerita ini cuma iseng saja, jangan dimasukin ke hati.. kalau masih serius
juga.. tanggung sendiri deh..
Dua hari dalam perjalanan dari Tsushima ke
Jeju dengan menumpang kapal laut biasa, Takako merasa senang sekali. Manjanya
keluar lagi. Sepanjang dua hari wajahnya berseri-seri. Minho menganggapnya
masih seperti anak-anak, yang terkadang dia sibuk bercanda dengannya. Ketika menginjakkan kaki di pelabuhan
pulau Jeju, Takako sangat senang sekali, menarik-narik tangan Minho. Minho hanya senyum saja dengan tingkah
laku isterinya yang kekanak-kanakan itu. Mereka menurunkan kuda.
”Kyaaaa...
koko wa Jeju??.. hontou ni utsukushii
da neee.. Minho!,” teriaknya manja, begitu turun dari kapal, berteriak-teriak
kalau menurutnya, pemandangan di Jeju indah sekali. Dia berputar-putar dengan
kimono berbahan sutera emasnya, menghirup udara pelabuhan yang masih sangat
segar di musim semi itu.
”hieeeeeeeehhhhhhhhhh... hontou ni shinsen’naaa... ,” teriaknya lagi
Minho senyum saja, menepuk-nepuk pundak
kudanya. Dia melihat beberapa orang yang lalu-lalang dipelabuhan berbisik-bisik
melihat ekspresi Takako.
”siapa sih perempuan itu?? Norak sekali,”
bisik seseorang
Temannya berbisik lagi,”sepertinya bukan
orang sini.. pakaiannya aneh banget..”
Minho menjawab bisikan mereka,” naega anae... ilbon-eo.. sseusima seom”,
lalu senyum pada mereka.
”Hime-sama.. kita harus lekas ke kediaman
gubernur Choe!,” teriak Minho pada Takako yang masih sibuk berputar-putar.
Minho menghampirinya dengan kedua kuda. Mereka
lalu naik kuda menuju kediaman Gubernur Choe.
Sampai di depan gerbang, Minho bertemu
dengan prajurit penjaga rumah dan langsung mereka dipersilahkan masuk
Takako tercengang dengan bagusnya rumah
besar itu. Dia dan Minho
berjalan menyelusuri lorong panjang
”whoa.. besar sekali rumah ini, Minho!,” katanya teriak,
dia sibuk meraba-raba dinding dan juga pilar rumah besar itu, yang jelas
dekorasinya berbeda dengan negeri nya.
Minho hanya menggenggam tangannya,
mengajaknya tetap berjalan
”Gubernur Choe.. maaf mengganggu,” Minho
menunduk hormat pada Gubernur
Takako melihat cara Minho dan dia
mengikuti.
”Kami sangat senang sekali bisa kedatangan
tamu kehormatan dari Tsushima,” kata Choe ramah
Minho masih menunduk hormat, dia agak
sedikit khawatir juga, takut Takako tidak bisa mengikuti adat setempat.
”aku juga senang..ini pertama kali aku ke
negeri lain,” kata Takako ramah dengan bahasanya sendiri
”ah tapi.. kenapa tadi ada beberapa orang
melihatku aneh?? Apa mereka lihat bajuku? Aku memang begini sih...kalau pertama
kali datang ke sebuah tempat menyenangkan.. rasanya ingin menjelajahi seluruh
sudut pulau ini”, lanjutnya lagi dengan ekspresi semangat
Minho tetap tenang dan mencoba
menerjemahkan bahasanya.
Choe malah tertawa dengan blak-blakannya Takako
”hahahaha.. mungkin harus ada hari khusus
dimana Jendral Lee dan Nyonya berada disini,”
”Maafkan saya,” Minho menunduk hormat,
merasa segan dan tidak enak.
”Itu benar, Minho! Kamu harus bawa aku
jalan-jalan keliling pulau ini.. iya kan Gubernur Choe??,” tanya Takako dengan
semangat
Minho malah jadi tambah tidak enak hati,
isterinya itu sok kenal sok dekat sekali dengan sang Gubernur.
Choe mempersilahkan Takako berkeliling
beberapa tempat Jeju yang menyenangkan, termasuk melihat atraksi para penyelam
mengambil mutiara, rumput laut dan bermain dengan beluga (sejenis paus jinak).
Mata Takako berbinar,”Ah..sungguh?? wahh..
kamu benar-benar baik, gubernur Choe!,” dia malah berdiri, menghampiri Choe
lalu menepuk-nepuk pundaknya dengan santai
Minho dan beberapa prajurit serta pegawai
penerjemah kaget Takako bisa sampai sebegitu santainya dengan seorang pejabat tinggi
pemerintahan.
”Hime-sama..
itu tidak sopan...shinaide kudasai,”
kata Minho memohon supaya tidak melakukan itu
”aaa.. gomen..
gomen.. mian,” jawab Takako santai, lalu dia mundur lagi dan Minho menarik
tangannya
”itu tidak sopan,” keluh Minho, menarik
tangan Takako.
”tidak mengapa, Jendral Lee, hahahaha,”
kata Gubernur Choe, santai
Takako lalu menepis tangan Minho,” dia
bilang juga tidak apa.. kenapa kamu yang marah??”
”urushite
kudasai,” jawab Minho
tegas. Dia tidak suka isterinya tidak sopan dengan Choe.
Takako menghentakkan kakinya, tanda tidak
suka. Minho cuek saja.
”ada yang harus saya bicarakan dengan
anda, Gubernur Choe.. tentang penjagaan pulau dan perairan untuk berikutnya,”
kata Minho pada Choe, dia menunduk hormat pada Choe.
Choe lalu memanggil dua orang pengawal
perempuan untuk mengajak Takako keluar, melihat sekeliling rumah besarnya itu
”Kenapa aku tidak diijinkan bicara dengan
kalian?? Bukannya aku ini juga bagian dari kalian??,”
Minho diam saja, dia lalu menyuruh kedua
pengawal itu mengajak Takako
”menyebalkan,” gerutu Takako. Dia menepis
tangan kedua pengawal Choe.
”aku bisa jalan sendiri,” katanya, keluar
dari ruangan besar itu tanpa permisi pada Choe dan Minho.
”Mian
habnida,” kata Minho duduk menunduk hormat pada Choe, meminta maaf atas
kelakuan Takako
Choe malah tertawa,” gwaenchanh seubnida. Geunyeoneun haengboghan yeoja boinda,”
”geunyeoneun
beoleus sonyeo,” keluh Minho yang berkata kalau Takako cewek manja.
”semoga dia tidak membebani Anda, Jendral
Lee,” jawab Choe
Minho lalu duduk dan membicarakan langkah
penting selanjutnya untuk menjaga kalau-kalau ada pasukan perompak lagi
memasuki perairan mereka.
”kami memang sudah menghabisi seluruh
perompak dipulau gersang itu.. tapi kami belum yakin sepenuhnya apakah mereka
sudah habis semuanya?? Bisa juga para perompak tidak hanya datang dari ilbon (jepang), tapi juga dari negeri Han (China)... aku dengar, ada seorang
pemimpin perompak perempuan dari negeri Han,”
Choe bergumam,”ummm... kalau begitu, perlu
ada tambahan pasukan.. apa.. Lee Daejang hanya sampai besok saja disini??,”
”Ya, saya.... saya harus segera membawa
Sadamori Takako ke hadapan Yang Mulia Raja,” jawab Minho.
”Singgahlah dulu sampai lusa..
membicarakan hal ini dengan Panglima Go Kwang Jo. Pasukan yang kami miliki
tidaklah cukup.. aku menginginkan Yang Mulia Raja menambahkannya,” ujar Choe
masih dengan sedikit bergumam
”Kita lihat dulu dalam satu minggu ke
depan.. apakah ada peristiwa pembajakan lagi atau tidak.. jika memang ada,
barulah kita caritahu.. apakah
dari Ilbon lagi.. atau Han,” balas Minho.
”Apa.. isterimu juga ikut dengan penyerangan
kemarin, Daejang??,” tanya Choe
Minho senyum dan mengangguk,” dia seorang kunoichi (ninja perempuan),”
”manja seperti itu? Hahaha,” Choe malah
tertawa
Minho jadi ikutan tertawa,”Inilah nasib
saya, Gubernur Choe, hahahaha... tapi.. bagaimanapun Yang Mulia Raja
menginginkan ini semua.. kami telah membuat kesepakatan panjang.. salahsatunya,
bahwa Shogun dalam keadaan damai akan membantu kita menjaga perairan,”
Minho menyerahkan lembar perjanjian pada
Choe untuk dibacanya.
Choe berfikir,”apakah Sadamori itu juga
menginginkan kami datang ke mereka?”
”Ninja akan melakukannya untuk kita,
Gubernur Choe. Untuk segala yang sifatnya mata-mata lingkungan itu tugas para
Ninja,” jawab Minho.
”Kita bisa mengirimkan seorang prajurit
untuk mengirimkan informasi,” katanya lagi
”kami sudah membuat sandi.. dan pihak Klan Sadamori akan mengerti,”
Choe menyetujui hal itu. Dia berjanji pada
Minho akan mengawasi dan juga rajin mengirimkan informasi tentang keamanan
wilayah. Dia juga akan menitahkan para prajurit armada untuk saling bekerjasama
operasi dengan Sadamori, sesuai dengan apa yang sudah disepakati.
” Sadamori akan melakukannya setiap
minggu,” kata Minho.
Choe meminta Minho menceritakan bagaimana
peristiwa kerjasama dan juga penyerbuan kemarin ke pulau gersang itu.
”kita semua berharap tidak akan ada lagi
perompak yang bisa mengacaukan wilayah kita dan mereka,” kata Choe
”Perjanjian tetap perjanjian... maka
penjagaan tetap dilaksanakan.. saya pribadi sudah membicarakan pada Sadamori,
kalau kita hanya melanjutkan patroli dan pengawasan saja,” kata Minho.
”Heran sekali.. kenapa juga Yang Mulia
Raja menginginkan kerjasama ini sampai
harus menikahkan kalian??,” Choe memang heran, dia menganggap kelakuan raja
mereka terlalu berlebihan.
Minho merasa pasrah dan senyum saja,” Kita
harus melaksanakan segala titah Yang Mulia Raja”
”Jendral Park bingung sekali ketika
mengetahui ini,” kata Choe lagi,” Sempat dia berfikir.. apakah ada kelanjutan
hubungan politik lagi antara Tsushima-Shogun Ashikaga dengan Joseon??”
”Sepertinya begitu... Ilbon bukan tidak
tertarik dengan Joseon... terbukti para perompaknya saja sangat bernafsu..
boleh jadi, secara tidak langsung.. Joseon menjadi sasaran tidak aman dari
mereka”, kata Minho
”Tetapi justru menurut pandanganku... kita
harus berhati-hati dengan manchuria dan mongol,” kata Choe.
”Manchuria...umm... itu akan dibicarakan
lagi dengan Yang Mulia Raja.. terutama wilayah Jurchen,” jawab Minho
”banyak bangsa kita disana,” lanjutnya
lagi,”setidaknya... kita membiarkan mereka tidak semena-mena.. orang Joseon
hanya tinggal dan berdagang di Jurchen,”
”Mungkin Yang Mulia Raja juga memasang
mata-mata..sehingga Jurchen ingin menyerbu tanah kita,” kata Choe.
”Semua nanti akan dibicarakan dengan Yang
Mulia Raja setelah ini... saya hanya bisa bicara dengan Gubernur untuk
pelaksanaan patroli perairan saja... saya berfikir, kemungkinan juga Yang Mulia
Raja akan menitahkan satu atau dua dari para Jendral untuk ke negeri Han...
jika memang tetap ada perompak wanita itu menguasai laut kuning atau bahkan
sampai Jeju-do,” ujar Minho.
”Aku akan menulis surat kepada Yang Mulia
Raja.. dan mohon disampaikan
segera setelah Jendral Lee sampai,” kata Gubernur Choe
Minho senyum dan menunduk hormat,”Baik”
Dua orang wanita yang tadi mengawal Takako
untuk berjalan-jalan mendadak berlari dan melapor pada Choe.
Minho kaget ketika mendengarkan laporan
itu... Takako merusuh disebuah kedai!
Minho langsung berlari segera setelah dia
meminta salahsatu pengawal wanita pergi bersamanya. Dia dan pengawal itu pun
berlari keluar kompleks rumah besar itu, menuju tempat dimana Takako merusuh.
“Aigoo..
menyusahkan!,” keluh hatinya Minho.
“BRAK!!!,” seorang lelaki mabuk keluar
terlempar dari kedai
Dari dalam terdengar suara teriakan
perempuan,”AYO.. SIAPA BERANI MELAWANKU, HUH??!!”
“TAKAKO-HIME.. BERHENTI!!,” teriak Minho
masuk ke dalam kedai itu yang sudah rusak pintunya diterjang lemparan tubuh
lelaki tadi, kemudian disusul dengan pengawal wanita itu
Dilihatnya, Takako sedang bersiaga dengan Tantou (pisau kecil) nya, cewek itu
sedang dikelilingi beberapa lelaki mabuk yang mengeluarkan golok dan pedang.
“OI MINHO.. APA LELAKI DINEGERI MU SEPERTI
INI KASARNYA PADAKU??,” teriak Takako masih bersiaga.
“Hentikan, Hime-sama!,” teriak Minho lagi,
dia langsung berani masuk ke tengah beberapa lelaki yang sudah bersiap dengan
golok dan pedangnya itu dan berada disamping Takako.
“Museun
il-iya??,” tanya Minho pada kelompok lelaki itu.
Sementara Takako hanya berkata,”Mereka
kasar sekali... masak mau memegang dagu ku.. memalukan!”
“hai.. aku ini isteri Jendral Lee.. kalian
harus tahu itu!!,” tambahnya lagi
“apa itu benar.. kalian menganggu
isteriku??,” tanya Minho pada mereka
Karena mabuk, mereka malah ngomong
ngaco,”isterimu yang memang bagus untuk dipegang-pegang”
“I
saekki ya.. isteriku wanita terhormat!!,” kata Minho kesal.
Para lelaki itu tertawa, Takako tidak
mengerti apa pembicaraan mereka, Minho makin kesal karena mereka berkata
menghina dan meledek Takako.
“tidur saja denganku, hai Nona.. dia bukan
Jendral.. lihat saja pakaiannya,” igau salahsatu lelaki yang mabuk. Minho
memang sedang memakai pakaian biasa hari itu.
“ya.. kita bisa bawa Nona ke surga,
hahahahaha!”, igau salahseorang pemabuk yang lain
Minho menaikkan alisnya, wajahnya langsung
terlihat marah walau tidak mengomel.
Dia lalu menendang salahsatu pemabuk
sampai mental
“BRAK!!,” tubuh salahseorang pemabuk
terlempar sampai menabrak deretan kursi dan beberapa orang tertimpa. Botol
minuman dan juga piring serta mangkuk berantakan di meja dan kursi itu.
Suasana makin ricuh. Beberapa lelaki yang
tidak mengeroyok Takako menyingkir, takut terkena tendangan dan pukulan serta
sabetan pedang dan golok.
“Kalau berani.. maju!,” kata Minho, dia
ternyata emosi sekali.
“Kenapa harus kamu yang menghadapi mereka
sih?? Aku saja,” ujar Takako.
Minho tidak banyak bicara, “Jangan bunuh
mereka.. berbahaya.. simpan saja pisau mu itu,” kata Minho, bersiaga, memasang
kuda-kuda jurus tangan kosong. Beberapa orang yang mabuk itu menyerang dia dan
Takako.
“HEAAAAAAAA!!!!!,” teriak mereka
ramai-ramai..
“Hiat!,” Takako mengelak lalu membalas
serangan mereka dengan menjadikan tantou sebagai tangkisan serangan pedang dan
golok mereka. Sementara, Minho benar-benar menggunakan tangan kosong. Pengawal
perempuan yang tadi mengikuti Minho juga
membela dirinya.
“BRUK!!,” seorang jatuh tertendang oleh
Minho, terseret beberapa meter.
Suasana kedai besar itu jadi amat sangat
rusuh. Orang-orang lalu keluar semua. Berantakan sekali.
“ARGH! BUK!,” seorang pemabuk berhasil
ditendang perutnya oleh Takako.
“UH!,” teriak yang lain.
“Hiat!,” teriak Minho ketika menendang
seorang yang lain... dan jatuh..
Satu persatu lawan bisa mereka tundukkan,
sampai akhirnya... diantara mereka yang tersisa hanya seorang. Dia melihat
teman-temannya yang lain sudah tumbang.
“ayo sini maju!,” kata Takako
“Cukup, Takako...jangan diteruskan,” kata
Minho
“Aku belum puas,” balas dingin Takako
Mereka semua yang sudah tumbang akhirnya
lari tunggang-langgang.
Minho malah menarik tangannya lalu
berjalan ke seseorang yang tampaknya pemilik kedai
“ih... belum semuanya tertendang olehku..
lepas, Minho!,” Takako cerewet berteriak-teriak supaya Minho melepaskan
tangannya
“Mian
habnida.. Anda pemilik kedai ini??,” tanya Minho menunduk hormat
“i..i..iya,” jawab lelaki setengah baya
itu dengan nada agak ketakutan
Takako meminta Minho melepaskan genggaman
tangannya.
“berapa kerugiannya?? Saya ganti.. saya
mohon maaf.. isteri saya menyusahkan Anda,” Minho malah menunduk hormat dengan
dalam kepada pemilik kedai itu, tangan satunya masih menggenggam tangan Takako.
“Kenapa harus diganti?? Harusnya
mereka-mereka itu yang mengganti.. bukan kamu, Anata,” keluh Takako dengan suara tinggi
“urushite
kudasai, Takako,” kata Minho singkat, menyuruh Takako diam.
Pemilik kedai lalu menyebutkan angkanya,
Minho mengeluarkan pundi-pundi uangnya.
“heeehhh... ooku no okane wo motte ite,
anata (uangmu banyak sekali, suamiku),” mata Takako terbelalak melihat uang
perak dan emas dari dalam pundi.
“i
nae jeol-yag-ibnida.. uliui gyeolhonsig-eul chughahagi (ini tabunganku..sebenarnya untuk pesta pernikahan
kita),” kata Minho agak kesal dengan isterinya itu. Takako tidak mengerti apa
maksud dan bahasa Minho.
Tidak sengaja, cap posisi Minho jadi
Jendral di kerajaan terjatuh.. si pemilik kedai malah jadi tambah takut.
“Tidak usah diganti.. Dae .. jang,” kata pemilik kedai itu melihat cap pangkat Minho yang
terjatuh
Minho senyum, dia mengambil cap pangkat
dia di kerajaan yang jatuh lalu kembali menghitung
“Gwaenchanh
seubnika..tidak mengapa.. ini tetap harus diganti,” jawab Minho.
“Isteri Anda tidak salah, Daejang.. mereka yang duluan menggoda
isteri Anda.. isteri Anda masuk ingin membeli makanan,” kata pemilik kedai itu
Minho tidak banyak bicara, dia lalu
memberikan sejumlah uang perak sejumlah yang sudah tadi disebut si pemilik.
“semoga bisa mengganti,” senyum Minho
Si pemilik kedai menunduk hormat
dalam-dalam pada Minho,”Gambsahabnida,
Dae Jang”
Minho langsung pamit dan menarik tangan
Takako, lalu diikuti pengawal perempuan di belakang mereka.
“Sebaiknya kamu tidak terlalu emosi
menanggapi setiap orang disini, Hime-sama,” kata Minho menarik tangannya tapi
tidak menatap matanya Takako, lanjut jalan.
“Mereka mengangguku.. aku penasaran dengan
makanan di kedai itu.. kata pengawal perempuan ini..makanan di kedai itu enak..
bul.. apa??,” tanya Takako bingung dengan masakan wilayah itu
“bulgogi,” jawab Minho santai
“ya.. itu!,” satu tangan Takako yang lain menepuk
pundak Minho sambil tersenyum lebar dan senang.
Minho baru menoleh pada Takako,”nanti aku
belikan.. tapi.. tolong jangan seperti tadi lagi... uang ku nanti habis,”
“aku bawa uang,” kata Takako.
“tidak berlaku disini.. harus ditukar,”
jawab Minho cepat
“Puteri Takako.. tadi memang tidak
bersalah, Lee Daejang,” kata pengawal perempuan menunduk hormat
“tetap saja tidak boleh mengganggu di muka
umum,” jawab Minho singkat dan tegas
Pengawal perempuan itu menunduk hormat
lagi.
“tapi Minho.. aku belum jalan-jalan semua
di pulau ini.. aku masih mau jalan-jalan,” Takako masih ditarik tangannya oleh
Minho menuju rumah besar Gubernur Choe lagi.
“nanti saja bersamaku.. sekarang.. aku
harus kembali.. ada pembicaraan dengan Gubernur Choe soal perompak dari Han,”
balas Minho
“Chang Yue??,” tanya Takako
Minho baru menoleh padanya,”Jadi.. kamu
tahu namanya??,”
Takako mengangguk,”Tapi.. aku belum pernah
berhadapan dengan perempuan itu.. katanya.. umurnya sekitar 25 tahun dan ilmu
goloknya sangat hebat,”
Minho bergumam,”Umm.. jadi.. hanya katanya
ya??”
“aku tidak tahu,” balas Takako lagi,”suruh
saja orang Gubernur Choe menyelidikinya”
Mereka lalu masuk kembali ke rumah besar
itu, di dalam sudah kembali menunggu Gubernur Choe di ruang pertemuan.
“Haa.. sayang sekali mereka belum bisa aku
tendang semuanya, Gubernur Choe! Minho ini dan pengawal tadi keburu datang
padaku,” kata Takako dengan nada tidak semangat, bicara dalam bahasa jepang dan
ada seorang pegawai istana yang menterjemahkannya
Choe tertawa dengan perkataan Takako
sampai gigi putihnya terlihat semua.
“Hahahaha! Puteri Takako pasti hebat
sekali!”
Minho malah menggerutu,”seperti itu
namanya anak-anak sekali, Hime-sama,”
“kita masih tetap akan bicarakan Chang
Yue. Aku sudah mendapatkan informasi kalau perompak wanita itu memang berasal
dari sebuah desa miskin di negeri Han,” kata Choe.
Minho lalu bertanya, sampai mana wilayah
kekuasaan Chang Yue itu dalam membajak. Choe menunjukkan sebuah peta yang
diberikan oleh salahseorang pengawalnya.
Mereka berempat, bersama dengan panglima
Go Kwang Jo berfikir keras.
“lebih luas dari kekuasaan perompak ilbon kemarin,” gumam Minho
“samudera Han di selatan.. Champa pun dikuasai mereka??,”
tanya Go
Minho mengangguk,” Jadi... Laut kuning
bukan apa-apa bagi dia dan pasukannya”
“mungkin pasukan mu juga bukan apa-apa
baginya,” celetuk Takako
Minho, Guberur Choe dan Panglima Go
menoleh bersamaan.
Takako malah cekikikan,”gomen ne (maaf), hihihi”
Minho menatapnya dengan mata tajam, Takako
langsung menoleh ke arah lain, dia merasa bersalah nyeletuk yang tidak-tidak.
Panglima Go dan Gubernur Choe hanya senyum
lebar melihat Minho bersikap tegas pada isterinya yang memang terkesan kekanak-kanakan
itu.
“Jika tidak bisa memberikan masukan, lebih
baik keluar saja dari ruangan ini,” kata Minho tegas, dia tidak peduli sama
sekali kalau Takako adalah isterinya. Dia memang serius kalau sudah ada
hubungan dengan pekerjaannya, apalagi ini demi otoritas wilayah dan juga
keamanan para pedagang dan juga penumpang kapal diperairan kekuasaan Joseon
walau kapal dagang dan penumpang itu datangnya dari wilayah manapun.
Gubernur Choe menenangkan suasana,”Aigooo.. sudah.. tidak mengapa, Jendral
Lee.. aku mengerti.. dan jika Puteri Takako memiliki pemikiran sendiri tentang
Perompak perempuan, Chang Yue ini.. aku bersedia mendengar”
Mata Takako berbinar Choe akan
mendengarkan ide nya,”dangsin-eul
jeongmal naega saeng-gag-eul deugo sip-eo??” kata Takako pada Choe dengan
bahasa yang terbata-bata
Choe mengangguk,”Ye.. danji uliege malhanda.. kami akan mendengarkannya”
“Yosh...
baik!,” wajah Takako semangat kembali.
“Chang Yue.. aku mendengarnya kalau dia
memang menguasai wilayah para bajak laut yang lain. Wilayah Han selatan
perairannya sebenarnya dikuasai oleh seorang Champa, bernama Inderalaya, tapi
aku berfikir.. kenapa sama sekali mereka tidak pernah bentrok dalam wilayah
kekuasaan? Itu karena Inderalaya berada di bawah kekuasaan Chang Yue. Perempuan
itu berhasil memikat beberapa perompak dengan strategi pembagian wilayah dan
juga pembagian hasil.. Jadi.. kalau bisa, bernegosiasilah dahulu, carilah
dahulu, dengan kelompok perompak mana di laut kuning dan juga sepanjang Jeju
ini.. Chang Yue itu bekerja sama... baru kemudian kita melawan perompak wanita
itu,”
Minho, Choe dan Go bergumam tak sengaja
secara bersamaan.
Takako meneruskan perkataannya,”Chang Yue
pasti memiliki kelompok yang dia percaya di perairan ini,” dia menunjuk pada deretan
daratan di sepanjang Laut kuning yang memang berbatasan antara Han (China) sampai
dengan Joseon.
“ummm,” gumam Minho
“Lalu.. bagaimana kita tahu siapa-siapa
saja kelompok perompak yang dibawahnya?? Pasti diantara kelompok itu juga
saling berebut wilayah,”
“kirim saja seorang mata-mata perempuan ke
sepanjang pelabuhan,” jawab Takako
“sampai kapan hal itu bisa efektif?,”
gumam Kwang Jo
“aku memang belum pasti.. tapi kalau
kalian kirimkan beberapa mata-mata
perempuan yang ahli bahkan bisa menyusup ke dalam.. dan, oh.. harus
mengerti bahasa mereka juga.. pasti akan lebih cepat.. kurang dari satu minggu
kalian sudah bisa dapat jawaban,” lanjut Takako lagi
Choe bergumam,”umm.. bisa jadi.. kita
harus mencari beberapa orang wanita yang memang bisa bahasa sepanjang aliran
Han,”
“aku akan menulis surat pada Yang Mulia
Raja tentang kondisi ini... kalau Yang Mulia Raja sudah mengetahuinya..
syukurlah.. tetapi kalau belum.. ada baiknya Yang Mulia Raja juga konsentrasi
dengan kekuatan maritim,” kata Choe lagi
Minho dan Kwang Jo mengangguk.
“Panglima Go mungkin akan tetap disini..
sebagaimana perjanjian bahwa hanya akan menjaga perairan antara Jeju dan
Tsushima.. ,” kata Minho
“ya.. mungkin nanti Minho.. eh anata yang akan bertanggung jawab,”
balas Takako enteng. Dia merasa puas pemikirannya diterima 3 orang besar itu.
Choe mengangguk,”sepertinya begitu Takako Gongju... masukan Anda akan aku tulis
bersamaan dengan surat yang akan ku berikan pada Yang Mulia Raja”
“terima kasih... gambsahabnida, Gubernur Choe,” kata Takako senang, lagi-lagi dia tidak
sopan, malah menepuk-nepuk pundak Choe
Minho langsung menatapnya lagi dengan
tajam, Takako langsung melepaskan telapak tangannya dari pundak Choe
“Gomen..
gomen... mian haeyo, Minho....
jangan marah dong,” jawab Takako dengan cengengesan.
Panglima Go lagi-lagi senyum lebar sampai
kelihatan gigi putihnya.
Sore itu, Minho, Takako dan Gubernur Choe
berjalan disebuah taman alami didampingi beberapa pengawal lelaki dan
perempuan.
“Aku gak sangka banget kalau pulau ini
indah sekali,” kata Takako, ekspresinya senang, matanya berbinar pada Gubernur
Choe.
“kita bisa pergi ke tempat dimana rumput
laut ada banyak disana.. ditanam para nelayan,” kata Choe
“wah.. beneran??,” mata Takako malah makin
berbinar.
Choe mengangguk,”bahkan Puteri Takako
dapat melihat beluga jika beruntung,”
Takako sangat gembira, dia membayangkan
pengembaraannya ke negeri Joseon akan semakin asik. Mereka lalu naik kereta
kuda menuju perkampungan nelayan.
Sampai disana, dia benar-benar melihat
banyak hamparan rumput laut yang dipelihara para nelayan.
“Rumput laut ini bagus untuk
kesehatanmu...jadi, kamu juga sebaiknya makan,” katanya pada sebuah keluarga
nelayan.
Minho senyum melihat Takako menasehati
keluarga nelayan itu. Dia berfikir terkadang isterinya memang dewasa.
Lalu mereka ke pantai dan memancing beluga
muncul.
Agak lama, sebab mahluk air itu memang
tipe pemalu, ketika mereka memancing dengan rumput laut yang banyak, seekor
muncul.
“Lihat, Minho.. besar sekali!,” katanya
teriak kegirangan.
Minho senyum saja, dia senang lihat Takako
gembira.
“jarang sekali kita bisa lihat beluga
dimusim semi.. makanan belum banyak,” kata Choe.
“tapi dia besar sekali... aku jadi mau
menyelam,” balas Takako. Minho melarangnya.
Mereka menghabiskan waktu melihat-lihat
pemandangan Jeju sampai malam.
Minho dan Takako kembali ke kamar yang
disediakan..
“haaaaahhh........ hari ini sungguh
melelahkan, Minho.. tapi aku senang!,” dia menggerak-gerakkan tangannya dengan
sigap
Minho menyuruhnya duduk.
“yang tadi siang itu.. mohon jangan
dilakukan lagi,” katanya pada isterinya itu
“siapa suruh mereka mau pegang-pegang
aku?? Aku bukan perempuan murahan.. jadi aku melawan.. aku tidak suka cara para
lelaki itu memperlakukan aku,” jawab Takako.
Minho duduk lalu menyuruh Takako duduk.
“Aku tidak suka gaya mu ketika tadi
berbicara dengan Gubernur Choe.. itu tidak sopan,” kata Minho dengan suara
tegas
“Itu sudah biasa untukku.. lagipula, dia
setara dengan ku,” balas Takako cuek
Minho melihatnya dengan wajah serius,”apa
bisa... dalam beberapa hari ke depan menghadap Yang Mulia Raja seperti itu..
tidak bukan?? “
“tentu saja tidak akan! Aku tahu.. aku
harus apa,” jawab Takako dengan sedikit sewot.
Minho khawatir, dia memang tipe cowok yang
dalam situasi menghadap Raja nya, dia harus serius dan kadang hampir tidak ada
bercandanya.
“kamu terlalu khawatir aku akan
mengacaukan suasana.. iya kan??,” tanya Takako, berani mengungkapkan hatinya
“aku tidak suka.. lagipula.. siapa suruh
Raja mu itu menikahkan aku dengan kamu?? Kamu sok ngatur,”
“seharusnya.. kalau memang ada perjanjian
diplomatis.. seharusnya aku dinikahkan dengan anak raja mu bukan??,”
Minho masih mendengar Takako selesai
bicara.
“kenapa dengan kamu??,” tanya Takako lagi.
Minho santai menjawab sambil minum arak
soju,”tidak tahu.. itu urusan mereka.. aku hanya melaksanakan”
“Kembali saja kalau begitu sama pacarmu
itu.. si Hee Kyung..,” balas Takako dengan nada mengentengkan Minho,” aku bisa
hidup sendiri di negeri ini..”
“Mana bisa?? Mau membuat aku merendahkan
diriku sendiri??,” tatap Minho dengan tegas pada Takako.
“Lalu.. kenapa melarang ku ini-itu??,”
tantang Takako, dia merebut gelas seperti cangkir itu dari tangan Minho, lalu
menuang arak dan minum sendiri.
Minho hanya berdecak, tidak habis pikir
dengan kelakuan isterinya itu.
Lalu,” aku.. melarang mu berbuat tidak sopan..
karena kamu isteriku”
Takako malah tidak menjawab, dia malah
menenggak terus cangkir demi cangkir arak itu, yang asalnya dari kendi agak
besar.
“hentikan.. nanti mabuk.. ini bukan untuk
perempuan,” Minho memegang tangan Takako dan merebut cangkir yang ada di
tangannya.
Takako memandang Minho... ternyata dia
sudah mabuk..
“kamu jahat... hiks,” kata Takako sambil
cegukan.
Minho mendiamkan saja, dia tahu isterinya
itu mulai mabuk. Santai dia mendengar ocehan Takako, malah sambil
senyum-senyum.
“maunya kamu.. nanti di Hanyang.. kamu
akan ke pacarmu lagi bukan?? Hiks,” kata Takako lagi.
Minho senyum tipis saja. Dia ingin
tertawa, tapi ditahannya.
“sudah pasti.. kamu hanya mau lemparkan
aku.. setelah kita disana.. hiks,” oceh Takako lagi.
Minho masih senyum saja,”mabuk.. ngaco..
siapa yang mau lempar kamu?”, katanya pelan.
“Nanti kamu pasti juga akan membawa ku ke
rumah yang kecil.. lalu aku hanya jadi budakmu saja.. iya kan?? Hiks,” tanya
Takako lagi.
Dia lalu menaruh kepalanya di atas salah
satu tangannya, di atas meja, sudah mabuk berat.
“Ngaco.. dasar perempuan manja,” balas
Minho dengan ekspresi agak datar tapi senyum. Dia mengguncang-guncang bahu
Takako.
“mabuk.. payah,” kata Minho lagi.
Dia lalu bangkit dari duduknya dan ingin
menggendong Takako ke tempat tidur. Tapi malah cewek itu meracau.
“emmmwwww...,” Takako malah memeluk leher
Minho, mencium dia.
“eh.. bau minuman, ah,” elak Minho.
Takako malah tertawa cekikikan dalam
mabuknya,”ewww.. hihihihi... “, lalu mencium Minho lagi dengan nafsu.
“gawat sekali dia kalau lagi mabuk.. harus
diawasi,” keluh hatinya Minho
“ya.. sebentar.. kamu tidak boleh mabuk
begini, Anae,” balas Minho. Dia lalu
menggendong Takako paksa ke atas tempat tidur.
“ayo tidur.. kamu bahaya kalau mabuk,”
kata Minho, membaringkan Takako dan membentangkan selimut untuknya
Takako malah masih ketawa cekikikan saja
walau sudah berbaring, menarik-narik tubuh Minho.
“ufhhhhh..........iya.. nanti dulu,” keluh
Minho ketika Takako kembali menarik tubuhnya langsung berhadapan wajah ke wajah
dan cewek itu menciumnya.
“kita bikin anak banyak ya.. Minho
sayang... hiks,” ujar Takako ngaco dalam mabuknya.
Minho melepas baju luarnya, lalu dia
berbaring disamping Takako. Sementara cewek itu menciuminya saja berkali-kali.
Minho mendiamkannya saja, dia hanya
membayangkan, besok dia dan Takako kembali ke Hanyang.. 3 hari perjalanan akan
ditempuh dan... kemungkinan akan bertemu dengan Hee Kyung..
Bersambung ke part 6...