This is me....

Sabtu, November 15, 2014

Aku Isteri Jendral Lee! (Part 5: Hari Pertama Rusuh Di Negeri Joseon)

Cerita ini cuma iseng saja, jangan dimasukin ke hati.. kalau masih serius juga.. tanggung sendiri deh..

Dua hari dalam perjalanan dari Tsushima ke Jeju dengan menumpang kapal laut biasa, Takako merasa senang sekali. Manjanya keluar lagi. Sepanjang dua hari wajahnya berseri-seri. Minho menganggapnya masih seperti anak-anak, yang terkadang dia sibuk bercanda dengannya. Ketika menginjakkan kaki di pelabuhan pulau Jeju, Takako sangat senang sekali, menarik-narik tangan Minho. Minho hanya senyum saja dengan tingkah laku isterinya yang kekanak-kanakan itu. Mereka menurunkan kuda.
Kyaaaa... koko wa Jeju??.. hontou ni utsukushii da neee.. Minho!,” teriaknya manja, begitu turun dari kapal, berteriak-teriak kalau menurutnya, pemandangan di Jeju indah sekali. Dia berputar-putar dengan kimono berbahan sutera emasnya, menghirup udara pelabuhan yang masih sangat segar di musim semi itu.
”hieeeeeeeehhhhhhhhhh... hontou ni shinsen’naaa... ,” teriaknya lagi
Minho senyum saja, menepuk-nepuk pundak kudanya. Dia melihat beberapa orang yang lalu-lalang dipelabuhan berbisik-bisik melihat ekspresi Takako.
”siapa sih perempuan itu?? Norak sekali,” bisik seseorang
Temannya berbisik lagi,”sepertinya bukan orang sini.. pakaiannya aneh banget..”
Minho menjawab bisikan mereka,” naega anae... ilbon-eo.. sseusima seom”, lalu senyum pada mereka.
Dua orang itu memandang Minho dengan tatapan agak sinis dan berlalu.
”Hime-sama.. kita harus lekas ke kediaman gubernur Choe!,” teriak Minho pada Takako yang masih sibuk berputar-putar.
Minho menghampirinya dengan kedua kuda. Mereka lalu naik kuda menuju kediaman Gubernur Choe.


Sampai di depan gerbang, Minho bertemu dengan prajurit penjaga rumah dan langsung mereka dipersilahkan masuk
Takako tercengang dengan bagusnya rumah besar itu. Dia dan Minho berjalan menyelusuri lorong panjang
”whoa.. besar sekali rumah ini, Minho!,” katanya teriak, dia sibuk meraba-raba dinding dan juga pilar rumah besar itu, yang jelas dekorasinya berbeda dengan negeri nya.
Minho hanya menggenggam tangannya, mengajaknya tetap berjalan
”Gubernur Choe.. maaf mengganggu,” Minho menunduk hormat pada Gubernur
Takako melihat cara Minho dan dia mengikuti.
”Kami sangat senang sekali bisa kedatangan tamu kehormatan dari Tsushima,” kata Choe ramah
Minho masih menunduk hormat, dia agak sedikit khawatir juga, takut Takako tidak bisa mengikuti adat setempat.
”aku juga senang..ini pertama kali aku ke negeri lain,” kata Takako ramah dengan bahasanya sendiri
”ah tapi.. kenapa tadi ada beberapa orang melihatku aneh?? Apa mereka lihat bajuku? Aku memang begini sih...kalau pertama kali datang ke sebuah tempat menyenangkan.. rasanya ingin menjelajahi seluruh sudut pulau ini”, lanjutnya lagi dengan ekspresi semangat
Minho tetap tenang dan mencoba menerjemahkan bahasanya.
Choe malah tertawa dengan blak-blakannya Takako
”hahahaha.. mungkin harus ada hari khusus dimana Jendral Lee dan Nyonya berada disini,”
”Maafkan saya,” Minho menunduk hormat, merasa segan dan tidak enak.
”Itu benar, Minho! Kamu harus bawa aku jalan-jalan keliling pulau ini.. iya kan Gubernur Choe??,” tanya Takako dengan semangat
Minho malah jadi tambah tidak enak hati, isterinya itu sok kenal sok dekat sekali dengan sang Gubernur.
Choe mempersilahkan Takako berkeliling beberapa tempat Jeju yang menyenangkan, termasuk melihat atraksi para penyelam mengambil mutiara, rumput laut dan bermain dengan beluga (sejenis paus jinak).
Mata Takako berbinar,”Ah..sungguh?? wahh.. kamu benar-benar baik, gubernur Choe!,” dia malah berdiri, menghampiri Choe lalu menepuk-nepuk pundaknya dengan santai
Minho dan beberapa prajurit serta pegawai penerjemah kaget Takako bisa sampai sebegitu santainya dengan seorang pejabat tinggi pemerintahan.
Hime-sama.. itu tidak sopan...shinaide kudasai,” kata Minho memohon supaya tidak melakukan itu
”aaa.. gomen.. gomen.. mian,” jawab Takako santai, lalu dia mundur lagi dan Minho menarik tangannya
”itu tidak sopan,” keluh Minho, menarik tangan Takako.
”tidak mengapa, Jendral Lee, hahahaha,” kata Gubernur Choe, santai
Takako lalu menepis tangan Minho,” dia bilang juga tidak apa.. kenapa kamu yang marah??”
”urushite kudasai,” jawab Minho tegas. Dia tidak suka isterinya tidak sopan dengan Choe.
Takako menghentakkan kakinya, tanda tidak suka. Minho cuek saja.

”ada yang harus saya bicarakan dengan anda, Gubernur Choe.. tentang penjagaan pulau dan perairan untuk berikutnya,” kata Minho pada Choe, dia menunduk hormat pada Choe.
Choe lalu memanggil dua orang pengawal perempuan untuk mengajak Takako keluar, melihat sekeliling rumah besarnya itu
”Kenapa aku tidak diijinkan bicara dengan kalian?? Bukannya aku ini juga bagian dari kalian??,”
Minho diam saja, dia lalu menyuruh kedua pengawal itu mengajak Takako
”menyebalkan,” gerutu Takako. Dia menepis tangan kedua pengawal Choe.
”aku bisa jalan sendiri,” katanya, keluar dari ruangan besar itu tanpa permisi pada Choe dan Minho.

Mian habnida,” kata Minho duduk menunduk hormat pada Choe, meminta maaf atas kelakuan Takako
Choe malah tertawa,” gwaenchanh seubnida. Geunyeoneun haengboghan yeoja boinda,”
geunyeoneun beoleus sonyeo,” keluh Minho yang berkata kalau Takako cewek manja.
”semoga dia tidak membebani Anda, Jendral Lee,” jawab Choe
Minho lalu duduk dan membicarakan langkah penting selanjutnya untuk menjaga kalau-kalau ada pasukan perompak lagi memasuki perairan mereka.
”kami memang sudah menghabisi seluruh perompak dipulau gersang itu.. tapi kami belum yakin sepenuhnya apakah mereka sudah habis semuanya?? Bisa juga para perompak tidak hanya datang dari ilbon (jepang), tapi juga dari negeri Han (China)... aku dengar, ada seorang pemimpin perompak perempuan dari negeri Han,”
Choe bergumam,”ummm... kalau begitu, perlu ada tambahan pasukan.. apa.. Lee Daejang hanya sampai besok saja disini??,”
”Ya, saya.... saya harus segera membawa Sadamori Takako ke hadapan Yang Mulia Raja,” jawab Minho.
”Singgahlah dulu sampai lusa.. membicarakan hal ini dengan Panglima Go Kwang Jo. Pasukan yang kami miliki tidaklah cukup.. aku menginginkan Yang Mulia Raja menambahkannya,” ujar Choe masih dengan sedikit bergumam
”Kita lihat dulu dalam satu minggu ke depan.. apakah ada peristiwa pembajakan lagi atau tidak.. jika memang ada, barulah kita caritahu.. apakah dari Ilbon lagi.. atau Han,” balas Minho.
”Apa.. isterimu juga ikut dengan penyerangan kemarin, Daejang??,” tanya Choe
Minho senyum dan mengangguk,” dia seorang kunoichi (ninja perempuan),”
”manja seperti itu? Hahaha,” Choe malah tertawa
Minho jadi ikutan tertawa,”Inilah nasib saya, Gubernur Choe, hahahaha... tapi.. bagaimanapun Yang Mulia Raja menginginkan ini semua.. kami telah membuat kesepakatan panjang.. salahsatunya, bahwa Shogun dalam keadaan damai akan membantu kita menjaga perairan,”
Minho menyerahkan lembar perjanjian pada Choe untuk dibacanya.
Choe berfikir,”apakah Sadamori itu juga menginginkan kami datang ke mereka?”
”Ninja akan melakukannya untuk kita, Gubernur Choe. Untuk segala yang sifatnya mata-mata lingkungan itu tugas para Ninja,” jawab Minho.
”Kita bisa mengirimkan seorang prajurit untuk mengirimkan informasi,” katanya lagi
”kami sudah membuat sandi.. dan pihak Klan Sadamori akan mengerti,”
Choe menyetujui hal itu. Dia berjanji pada Minho akan mengawasi dan juga rajin mengirimkan informasi tentang keamanan wilayah. Dia juga akan menitahkan para prajurit armada untuk saling bekerjasama operasi dengan Sadamori, sesuai dengan apa yang sudah disepakati.
” Sadamori akan melakukannya setiap minggu,” kata Minho.
Choe meminta Minho menceritakan bagaimana peristiwa kerjasama dan juga penyerbuan kemarin ke pulau gersang itu.
”kita semua berharap tidak akan ada lagi perompak yang bisa mengacaukan wilayah kita dan mereka,” kata Choe
”Perjanjian tetap perjanjian... maka penjagaan tetap dilaksanakan.. saya pribadi sudah membicarakan pada Sadamori, kalau kita hanya melanjutkan patroli dan pengawasan saja,” kata Minho.

”Heran sekali.. kenapa juga Yang Mulia Raja  menginginkan kerjasama ini sampai harus menikahkan kalian??,” Choe memang heran, dia menganggap kelakuan raja mereka terlalu berlebihan.
Minho merasa pasrah dan senyum saja,” Kita harus melaksanakan segala titah Yang Mulia Raja”
”Jendral Park bingung sekali ketika mengetahui ini,” kata Choe lagi,” Sempat dia berfikir.. apakah ada kelanjutan hubungan politik lagi antara Tsushima-Shogun Ashikaga dengan Joseon??”
”Sepertinya begitu... Ilbon bukan tidak tertarik dengan Joseon... terbukti para perompaknya saja sangat bernafsu.. boleh jadi, secara tidak langsung.. Joseon menjadi sasaran tidak aman dari mereka”, kata Minho
”Tetapi justru menurut pandanganku... kita harus berhati-hati dengan manchuria dan mongol,” kata Choe.
”Manchuria...umm... itu akan dibicarakan lagi dengan Yang Mulia Raja.. terutama wilayah Jurchen,” jawab Minho
”banyak bangsa kita disana,” lanjutnya lagi,”setidaknya... kita membiarkan mereka tidak semena-mena.. orang Joseon hanya tinggal dan berdagang di Jurchen,”
”Mungkin Yang Mulia Raja juga memasang mata-mata..sehingga Jurchen ingin menyerbu tanah kita,” kata Choe.
”Semua nanti akan dibicarakan dengan Yang Mulia Raja setelah ini... saya hanya bisa bicara dengan Gubernur untuk pelaksanaan patroli perairan saja... saya berfikir, kemungkinan juga Yang Mulia Raja akan menitahkan satu atau dua dari para Jendral untuk ke negeri Han... jika memang tetap ada perompak wanita itu menguasai laut kuning atau bahkan sampai Jeju-do,” ujar Minho.
”Aku akan menulis surat kepada Yang Mulia Raja.. dan mohon disampaikan segera setelah Jendral Lee sampai,” kata Gubernur Choe
Minho senyum dan menunduk hormat,”Baik”

Dua orang wanita yang tadi mengawal Takako untuk berjalan-jalan mendadak berlari dan melapor pada Choe. 
Minho kaget ketika mendengarkan laporan itu... Takako merusuh disebuah kedai!
Minho langsung berlari segera setelah dia meminta salahsatu pengawal wanita pergi bersamanya. Dia dan pengawal itu pun berlari keluar kompleks rumah besar itu, menuju tempat dimana Takako merusuh.
Aigoo.. menyusahkan!,” keluh hatinya Minho.
“BRAK!!!,” seorang lelaki mabuk keluar terlempar dari kedai
Dari dalam terdengar suara teriakan perempuan,”AYO.. SIAPA BERANI MELAWANKU, HUH??!!”
“TAKAKO-HIME.. BERHENTI!!,” teriak Minho masuk ke dalam kedai itu yang sudah rusak pintunya diterjang lemparan tubuh lelaki tadi, kemudian disusul dengan pengawal wanita itu
Dilihatnya, Takako sedang bersiaga dengan Tantou (pisau kecil) nya, cewek itu sedang dikelilingi beberapa lelaki mabuk yang mengeluarkan golok dan pedang.
“OI MINHO.. APA LELAKI DINEGERI MU SEPERTI INI KASARNYA PADAKU??,” teriak Takako masih bersiaga.
“Hentikan, Hime-sama!,” teriak Minho lagi, dia langsung berani masuk ke tengah beberapa lelaki yang sudah bersiap dengan golok dan pedangnya itu dan berada disamping Takako.
Museun il-iya??,” tanya Minho pada kelompok lelaki itu.
Sementara Takako hanya berkata,”Mereka kasar sekali... masak mau memegang dagu ku.. memalukan!”
“hai.. aku ini isteri Jendral Lee.. kalian harus tahu itu!!,” tambahnya lagi
“apa itu benar.. kalian menganggu isteriku??,” tanya Minho pada mereka
Karena mabuk, mereka malah ngomong ngaco,”isterimu yang memang bagus untuk dipegang-pegang”
I saekki ya.. isteriku wanita terhormat!!,” kata Minho kesal.
Para lelaki itu tertawa, Takako tidak mengerti apa pembicaraan mereka, Minho makin kesal karena mereka berkata menghina dan meledek Takako.
“tidur saja denganku, hai Nona.. dia bukan Jendral.. lihat saja pakaiannya,” igau salahsatu lelaki yang mabuk. Minho memang sedang memakai pakaian biasa hari itu.
“ya.. kita bisa bawa Nona ke surga, hahahahaha!”, igau salahseorang pemabuk yang lain
Minho menaikkan alisnya, wajahnya langsung terlihat marah walau tidak mengomel.
Dia lalu menendang salahsatu pemabuk sampai mental

“BRAK!!,” tubuh salahseorang pemabuk terlempar sampai menabrak deretan kursi dan beberapa orang tertimpa. Botol minuman dan juga piring serta mangkuk berantakan di meja dan kursi itu.
Suasana makin ricuh. Beberapa lelaki yang tidak mengeroyok Takako menyingkir, takut terkena tendangan dan pukulan serta sabetan pedang dan golok.
“Kalau berani.. maju!,” kata Minho, dia ternyata emosi sekali.
“Kenapa harus kamu yang menghadapi mereka sih?? Aku saja,” ujar Takako.
Minho tidak banyak bicara, “Jangan bunuh mereka.. berbahaya.. simpan saja pisau mu itu,” kata Minho, bersiaga, memasang kuda-kuda jurus tangan kosong. Beberapa orang yang mabuk itu menyerang dia dan Takako.
“HEAAAAAAAA!!!!!,” teriak mereka ramai-ramai..
“Hiat!,” Takako mengelak lalu membalas serangan mereka dengan menjadikan tantou sebagai tangkisan serangan pedang dan golok mereka. Sementara, Minho benar-benar menggunakan tangan kosong. Pengawal perempuan yang tadi mengikuti  Minho juga membela dirinya.
“BRUK!!,” seorang jatuh tertendang oleh Minho, terseret beberapa meter.
Suasana kedai besar itu jadi amat sangat rusuh. Orang-orang lalu keluar semua. Berantakan sekali.

“ARGH! BUK!,” seorang pemabuk berhasil ditendang perutnya oleh Takako.
“UH!,” teriak yang lain.
“Hiat!,” teriak Minho ketika menendang seorang yang lain... dan jatuh..
Satu persatu lawan bisa mereka tundukkan, sampai akhirnya... diantara mereka yang tersisa hanya seorang. Dia melihat teman-temannya yang lain sudah tumbang.
“ayo sini maju!,” kata Takako
“Cukup, Takako...jangan diteruskan,” kata Minho
“Aku belum puas,” balas dingin Takako
Mereka semua yang sudah tumbang akhirnya lari tunggang-langgang.
Minho malah menarik tangannya lalu berjalan ke seseorang yang tampaknya pemilik kedai
“ih... belum semuanya tertendang olehku.. lepas, Minho!,” Takako cerewet berteriak-teriak supaya Minho melepaskan tangannya
Mian habnida.. Anda pemilik kedai ini??,” tanya Minho menunduk hormat
“i..i..iya,” jawab lelaki setengah baya itu dengan nada agak ketakutan
Takako meminta Minho melepaskan genggaman tangannya.
“berapa kerugiannya?? Saya ganti.. saya mohon maaf.. isteri saya menyusahkan Anda,” Minho malah menunduk hormat dengan dalam kepada pemilik kedai itu, tangan satunya masih menggenggam tangan Takako.
“Kenapa harus diganti?? Harusnya mereka-mereka itu yang mengganti.. bukan kamu, Anata,” keluh Takako dengan suara tinggi
urushite kudasai, Takako,” kata Minho singkat, menyuruh Takako diam.
Pemilik kedai lalu menyebutkan angkanya, Minho mengeluarkan pundi-pundi uangnya.
“heeehhh... ooku no okane wo motte ite, anata (uangmu banyak sekali, suamiku),” mata Takako terbelalak melihat uang perak dan emas dari dalam pundi.
“i nae jeol-yag-ibnida.. uliui gyeolhonsig-eul chughahagi (ini tabunganku..sebenarnya untuk pesta pernikahan kita),” kata Minho agak kesal dengan isterinya itu. Takako tidak mengerti apa maksud dan bahasa Minho.
Tidak sengaja, cap posisi Minho jadi Jendral di kerajaan terjatuh.. si pemilik kedai malah jadi tambah takut.
“Tidak usah diganti.. Dae .. jang,” kata pemilik kedai itu melihat cap pangkat Minho yang terjatuh
Minho senyum, dia mengambil cap pangkat dia di kerajaan yang jatuh lalu kembali menghitung
Gwaenchanh seubnika..tidak mengapa.. ini tetap harus diganti,” jawab Minho.
“Isteri Anda tidak salah, Daejang.. mereka yang duluan menggoda isteri Anda.. isteri Anda masuk ingin membeli makanan,” kata pemilik kedai itu
Minho tidak banyak bicara, dia lalu memberikan sejumlah uang perak sejumlah yang sudah tadi disebut si pemilik.
“semoga bisa mengganti,” senyum Minho
Si pemilik kedai menunduk hormat dalam-dalam pada Minho,”Gambsahabnida, Dae Jang”
Minho langsung pamit dan menarik tangan Takako, lalu diikuti pengawal perempuan di belakang mereka.

“Sebaiknya kamu tidak terlalu emosi menanggapi setiap orang disini, Hime-sama,” kata Minho menarik tangannya tapi tidak menatap matanya Takako, lanjut jalan.
“Mereka mengangguku.. aku penasaran dengan makanan di kedai itu.. kata pengawal perempuan ini..makanan di kedai itu enak.. bul.. apa??,” tanya Takako bingung dengan masakan wilayah itu
“bulgogi,” jawab Minho santai
“ya.. itu!,” satu tangan Takako yang lain menepuk pundak Minho sambil tersenyum lebar dan senang.
Minho baru menoleh pada Takako,”nanti aku belikan.. tapi.. tolong jangan seperti tadi lagi... uang ku nanti habis,”
“aku bawa uang,” kata Takako.
“tidak berlaku disini.. harus ditukar,” jawab Minho cepat
“Puteri Takako.. tadi memang tidak bersalah, Lee Daejang,” kata pengawal perempuan menunduk hormat
“tetap saja tidak boleh mengganggu di muka umum,” jawab Minho singkat dan tegas
Pengawal perempuan itu menunduk hormat lagi.

“tapi Minho.. aku belum jalan-jalan semua di pulau ini.. aku masih mau jalan-jalan,” Takako masih ditarik tangannya oleh Minho menuju rumah besar Gubernur Choe lagi.
“nanti saja bersamaku.. sekarang.. aku harus kembali.. ada pembicaraan dengan Gubernur Choe soal perompak dari Han,” balas Minho
“Chang Yue??,” tanya Takako
Minho baru menoleh padanya,”Jadi.. kamu tahu namanya??,”
Takako mengangguk,”Tapi.. aku belum pernah berhadapan dengan perempuan itu.. katanya.. umurnya sekitar 25 tahun dan ilmu goloknya sangat hebat,”
Minho bergumam,”Umm.. jadi.. hanya katanya ya??”
“aku tidak tahu,” balas Takako lagi,”suruh saja orang Gubernur Choe menyelidikinya”
Mereka lalu masuk kembali ke rumah besar itu, di dalam sudah kembali menunggu Gubernur Choe di ruang pertemuan.

“Haa.. sayang sekali mereka belum bisa aku tendang semuanya, Gubernur Choe! Minho ini dan pengawal tadi keburu datang padaku,” kata Takako dengan nada tidak semangat, bicara dalam bahasa jepang dan ada seorang pegawai istana yang menterjemahkannya
Choe tertawa dengan perkataan Takako sampai gigi putihnya terlihat semua.
“Hahahaha! Puteri Takako pasti hebat sekali!”
Minho malah menggerutu,”seperti itu namanya anak-anak sekali, Hime-sama,”
“kita masih tetap akan bicarakan Chang Yue. Aku sudah mendapatkan informasi kalau perompak wanita itu memang berasal dari sebuah desa miskin di negeri Han,” kata Choe.
Minho lalu bertanya, sampai mana wilayah kekuasaan Chang Yue itu dalam membajak. Choe menunjukkan sebuah peta yang diberikan oleh salahseorang pengawalnya.
Mereka berempat, bersama dengan panglima Go Kwang Jo berfikir keras.
“lebih luas dari kekuasaan perompak ilbon kemarin,” gumam Minho
“samudera Han  di selatan.. Champa pun dikuasai mereka??,” tanya Go
Minho mengangguk,” Jadi... Laut kuning bukan apa-apa bagi dia dan pasukannya”

“mungkin pasukan mu juga bukan apa-apa baginya,” celetuk Takako
Minho, Guberur Choe dan Panglima Go menoleh bersamaan.
Takako malah cekikikan,”gomen ne (maaf), hihihi”
Minho menatapnya dengan mata tajam, Takako langsung menoleh ke arah lain, dia merasa bersalah nyeletuk yang tidak-tidak.
Panglima Go dan Gubernur Choe hanya senyum lebar melihat Minho bersikap tegas pada isterinya yang memang terkesan kekanak-kanakan itu.
“Jika tidak bisa memberikan masukan, lebih baik keluar saja dari ruangan ini,” kata Minho tegas, dia tidak peduli sama sekali kalau Takako adalah isterinya. Dia memang serius kalau sudah ada hubungan dengan pekerjaannya, apalagi ini demi otoritas wilayah dan juga keamanan para pedagang dan juga penumpang kapal diperairan kekuasaan Joseon walau kapal dagang dan penumpang itu datangnya dari wilayah manapun.
Gubernur Choe menenangkan suasana,”Aigooo.. sudah.. tidak mengapa, Jendral Lee.. aku mengerti.. dan jika Puteri Takako memiliki pemikiran sendiri tentang Perompak perempuan, Chang Yue ini.. aku bersedia mendengar”
Mata Takako berbinar Choe akan mendengarkan ide nya,”dangsin-eul jeongmal naega saeng-gag-eul deugo sip-eo??” kata Takako pada Choe dengan bahasa yang terbata-bata
Choe mengangguk,”Ye.. danji uliege malhanda.. kami akan mendengarkannya”
Yosh... baik!,” wajah Takako semangat kembali.
“Chang Yue.. aku mendengarnya kalau dia memang menguasai wilayah para bajak laut yang lain. Wilayah Han selatan perairannya sebenarnya dikuasai oleh seorang Champa, bernama Inderalaya, tapi aku berfikir.. kenapa sama sekali mereka tidak pernah bentrok dalam wilayah kekuasaan? Itu karena Inderalaya berada di bawah kekuasaan Chang Yue. Perempuan itu berhasil memikat beberapa perompak dengan strategi pembagian wilayah dan juga pembagian hasil.. Jadi.. kalau bisa, bernegosiasilah dahulu, carilah dahulu, dengan kelompok perompak mana di laut kuning dan juga sepanjang Jeju ini.. Chang Yue itu bekerja sama... baru kemudian kita melawan perompak wanita itu,”
Minho, Choe dan Go bergumam tak sengaja secara bersamaan.
Takako meneruskan perkataannya,”Chang Yue pasti memiliki kelompok yang dia percaya di perairan ini,” dia menunjuk pada deretan daratan di sepanjang Laut kuning yang memang berbatasan antara Han (China) sampai dengan Joseon.
“ummm,” gumam Minho
“Lalu.. bagaimana kita tahu siapa-siapa saja kelompok perompak yang dibawahnya?? Pasti diantara kelompok itu juga saling berebut wilayah,”
“kirim saja seorang mata-mata perempuan ke sepanjang pelabuhan,” jawab Takako
“sampai kapan hal itu bisa efektif?,” gumam Kwang Jo
“aku memang belum pasti.. tapi kalau kalian kirimkan beberapa mata-mata  perempuan yang ahli bahkan bisa menyusup ke dalam.. dan, oh.. harus mengerti bahasa mereka juga.. pasti akan lebih cepat.. kurang dari satu minggu kalian sudah bisa dapat jawaban,” lanjut Takako lagi
Choe bergumam,”umm.. bisa jadi.. kita harus mencari beberapa orang wanita yang memang bisa bahasa sepanjang aliran Han,”
“aku akan menulis surat pada Yang Mulia Raja tentang kondisi ini... kalau Yang Mulia Raja sudah mengetahuinya.. syukurlah.. tetapi kalau belum.. ada baiknya Yang Mulia Raja juga konsentrasi dengan kekuatan maritim,” kata Choe lagi
Minho dan Kwang Jo mengangguk.
“Panglima Go mungkin akan tetap disini.. sebagaimana perjanjian bahwa hanya akan menjaga perairan antara Jeju dan Tsushima.. ,” kata Minho
“ya.. mungkin nanti Minho.. eh anata yang akan bertanggung jawab,” balas Takako enteng. Dia merasa puas pemikirannya diterima 3 orang besar itu.
Choe mengangguk,”sepertinya begitu Takako Gongju... masukan Anda akan aku tulis bersamaan dengan surat yang akan ku berikan pada Yang Mulia Raja”
“terima kasih... gambsahabnida, Gubernur Choe,” kata Takako senang, lagi-lagi dia tidak sopan, malah menepuk-nepuk pundak Choe
Minho langsung menatapnya lagi dengan tajam, Takako langsung melepaskan telapak tangannya dari pundak Choe
Gomen.. gomen... mian haeyo, Minho.... jangan marah dong,” jawab Takako dengan cengengesan.
Panglima Go lagi-lagi senyum lebar sampai kelihatan gigi putihnya.

Sore itu, Minho, Takako dan Gubernur Choe berjalan disebuah taman alami didampingi beberapa pengawal lelaki dan perempuan.
“Aku gak sangka banget kalau pulau ini indah sekali,” kata Takako, ekspresinya senang, matanya berbinar pada Gubernur Choe.
“kita bisa pergi ke tempat dimana rumput laut ada banyak disana.. ditanam para nelayan,” kata Choe
“wah.. beneran??,” mata Takako malah makin berbinar.
Choe mengangguk,”bahkan Puteri Takako dapat melihat beluga jika beruntung,”
Takako sangat gembira, dia membayangkan pengembaraannya ke negeri Joseon akan semakin asik. Mereka lalu naik kereta kuda menuju perkampungan nelayan.
Sampai disana, dia benar-benar melihat banyak hamparan rumput laut yang dipelihara para nelayan.
“Rumput laut ini bagus untuk kesehatanmu...jadi, kamu juga sebaiknya makan,” katanya pada sebuah keluarga nelayan.
Minho senyum melihat Takako menasehati keluarga nelayan itu. Dia berfikir terkadang isterinya memang dewasa.
Lalu mereka ke pantai dan memancing beluga muncul.
Agak lama, sebab mahluk air itu memang tipe pemalu, ketika mereka memancing dengan rumput laut yang banyak, seekor muncul.
“Lihat, Minho.. besar sekali!,” katanya teriak kegirangan.
Minho senyum saja, dia senang lihat Takako gembira.
“jarang sekali kita bisa lihat beluga dimusim semi.. makanan belum banyak,” kata Choe.
“tapi dia besar sekali... aku jadi mau menyelam,” balas Takako. Minho melarangnya.
Mereka menghabiskan waktu melihat-lihat pemandangan Jeju sampai malam.

Minho dan Takako kembali ke kamar yang disediakan..
“haaaaahhh........ hari ini sungguh melelahkan, Minho.. tapi aku senang!,” dia menggerak-gerakkan tangannya dengan sigap
Minho menyuruhnya duduk.
“yang tadi siang itu.. mohon jangan dilakukan lagi,” katanya pada isterinya itu
“siapa suruh mereka mau pegang-pegang aku?? Aku bukan perempuan murahan.. jadi aku melawan.. aku tidak suka cara para lelaki itu memperlakukan aku,” jawab Takako.
Minho duduk lalu menyuruh Takako duduk.
“Aku tidak suka gaya mu ketika tadi berbicara dengan Gubernur Choe.. itu tidak sopan,” kata Minho dengan suara tegas
“Itu sudah biasa untukku.. lagipula, dia setara dengan ku,” balas Takako cuek
Minho melihatnya dengan wajah serius,”apa bisa... dalam beberapa hari ke depan menghadap Yang Mulia Raja seperti itu.. tidak bukan?? “
“tentu saja tidak akan! Aku tahu.. aku harus apa,” jawab Takako dengan sedikit sewot.
Minho khawatir, dia memang tipe cowok yang dalam situasi menghadap Raja nya, dia harus serius dan kadang hampir tidak ada bercandanya.
“kamu terlalu khawatir aku akan mengacaukan suasana.. iya kan??,” tanya Takako, berani mengungkapkan hatinya
“aku tidak suka.. lagipula.. siapa suruh Raja mu itu menikahkan aku dengan kamu?? Kamu sok ngatur,”
“seharusnya.. kalau memang ada perjanjian diplomatis.. seharusnya aku dinikahkan dengan anak raja mu bukan??,”
Minho masih mendengar Takako selesai bicara.
“kenapa dengan kamu??,” tanya Takako lagi.
Minho santai menjawab sambil minum arak soju,”tidak tahu.. itu urusan mereka.. aku hanya melaksanakan”
“Kembali saja kalau begitu sama pacarmu itu.. si Hee Kyung..,” balas Takako dengan nada mengentengkan Minho,” aku bisa hidup sendiri di negeri ini..”
“Mana bisa?? Mau membuat aku merendahkan diriku sendiri??,” tatap Minho dengan tegas pada Takako.
“Lalu.. kenapa melarang ku ini-itu??,” tantang Takako, dia merebut gelas seperti cangkir itu dari tangan Minho, lalu menuang arak dan minum sendiri.
Minho hanya berdecak, tidak habis pikir dengan kelakuan isterinya itu.
Lalu,” aku.. melarang mu berbuat tidak sopan.. karena kamu isteriku”
Takako malah tidak menjawab, dia malah menenggak terus cangkir demi cangkir arak itu, yang asalnya dari kendi agak besar.
“hentikan.. nanti mabuk.. ini bukan untuk perempuan,” Minho memegang tangan Takako dan merebut cangkir yang ada di tangannya.

Takako memandang Minho... ternyata dia sudah mabuk..
“kamu jahat... hiks,” kata Takako sambil cegukan.
Minho mendiamkan saja, dia tahu isterinya itu mulai mabuk. Santai dia mendengar ocehan Takako, malah sambil senyum-senyum.
“maunya kamu.. nanti di Hanyang.. kamu akan ke pacarmu lagi bukan?? Hiks,” kata Takako lagi.
Minho senyum tipis saja. Dia ingin tertawa, tapi ditahannya.
“sudah pasti.. kamu hanya mau lemparkan aku.. setelah kita disana.. hiks,” oceh Takako lagi.
Minho masih senyum saja,”mabuk.. ngaco.. siapa yang mau lempar kamu?”, katanya pelan.
“Nanti kamu pasti juga akan membawa ku ke rumah yang kecil.. lalu aku hanya jadi budakmu saja.. iya kan?? Hiks,” tanya Takako lagi.
Dia lalu menaruh kepalanya di atas salah satu tangannya, di atas meja, sudah mabuk berat.
“Ngaco.. dasar perempuan manja,” balas Minho dengan ekspresi agak datar tapi senyum. Dia mengguncang-guncang bahu Takako.
“mabuk.. payah,” kata Minho lagi.

Dia lalu bangkit dari duduknya dan ingin menggendong Takako ke tempat tidur. Tapi malah cewek itu meracau.
“emmmwwww...,” Takako malah memeluk leher Minho, mencium dia.
“eh.. bau minuman, ah,” elak Minho.
Takako malah tertawa cekikikan dalam mabuknya,”ewww.. hihihihi... “, lalu mencium Minho lagi dengan nafsu.
“gawat sekali dia kalau lagi mabuk.. harus diawasi,” keluh hatinya Minho
“ya.. sebentar.. kamu tidak boleh mabuk begini, Anae,” balas Minho. Dia lalu menggendong Takako paksa ke atas tempat tidur.
“ayo tidur.. kamu bahaya kalau mabuk,” kata Minho, membaringkan Takako dan membentangkan selimut untuknya
Takako malah masih ketawa cekikikan saja walau sudah berbaring, menarik-narik tubuh Minho.
“ufhhhhh..........iya.. nanti dulu,” keluh Minho ketika Takako kembali menarik tubuhnya langsung berhadapan wajah ke wajah dan cewek itu menciumnya.
“kita bikin anak banyak ya.. Minho sayang... hiks,” ujar Takako ngaco dalam mabuknya.
Minho melepas baju luarnya, lalu dia berbaring disamping Takako. Sementara cewek itu menciuminya saja berkali-kali.
Minho mendiamkannya saja, dia hanya membayangkan, besok dia dan Takako kembali ke Hanyang.. 3 hari perjalanan akan ditempuh dan... kemungkinan akan bertemu dengan Hee Kyung..

Bersambung ke part 6...