Cerita ini cuma iseng saja, jangan dimasukin ke hati.. kalau masih serius
juga.. tanggung sendiri deh..
Minho makan bersama Takako, Gubernur Choe
dan Panglima Go di pagi itu.
”ini makanan enak yang aku suka juga,”
kata Takako senang, dia disuguhkan semacam ikan laut dengan rumput laut.
Gubernur Choe senyum padanya,” tentunya
Anda akan merindukan Jeju nanti, Puteri Takako”
Takako menjawab dengan mantap dan mata
berbinar,” pasti.. aku akan meminta Minho membawa ku ke sini lagi nanti kalau
dia sedang punya waktu liburan”
”Minho?,” tanya Panglima Go
”oh.. maksud ku: suamiku... maaf, hehe,”
Takako cengengesan. Dia
memang perempuan cuek dan terkesan serampangan.
Minho diam saja. Dia belajar mengerti
watak, sifat dan karakter Takako yang memang berbeda dari kebanyakan perempuan.
”ah.. Gubernur Choe.. aku harap, Anda bisa
menghubungkan ku dengan Yang Mulia Raja Joseon tentang Chang Yue itu.. aku gak
sabar ingin ikut patroli bersama Minho,” katanya dengan mantap, memberhentikan
makannya, menaruh sumpitnya dan berbinar-binar bicara dengan Choe
”aduh.. maksud ku: suami ku, begitu.. ”
Minho baru senyum padanya,”dasar puteri
manja,” katanya dalam hati.
”Memang pendapat Puteri Takako termasuk
yang bagus.. aku sudah menulis bersama dengan petugas Kwon kemarin,” jawab Choe
”terima kasih sekali.. aku menghargai
sekali.. aku ingin bisa membantu Yang Mulia Raja Joseon,” ujar Takako
”Terima kasih juga kami sampaikan kepada
Daimyo Sadamori yang sangat membantu Jeju dan Joseon,” senyum Choe
Lagi-lagi Takako menepuk-nepuk pundak Choe
dengan santainya,”tidak apa, Gubernur Choe.. itu sudah biasa bagi kami..”
Minho melihat lagi, buru-buru Takako
melepas tangannya,” gomen, hehe”
Choe
dan Go malah tertawa,”Puteri Takako ini.. sungguh ceria dan cerdas ya? Pasti Jendral Lee bahagia punya isteri
Anda, Puteri Takako”, kata Choe.
Minho dan Takako lalu menumpang kereta
kuda milik Choe sampai ke pelabuhan.
Takako membuka tirai kereta kuda, dia
menjejakkan lagi kakinya di pelabuhan.
Gubernur Choe serta Nyonya melepas
kepergian mereka, begitu juga dengan Panglima Go.
Takako menunduk hormat pada mereka,
”Terima kasih banyak untuk semuanya... semoga suatu hari nanti.. kita bertemu lagi”
”Kami berterima kasih mendapatkan kunjungan
terhormat wakil dari Tsushima..,” jawab Nyonya Choe dengan membalas tundukan
hormat juga.
Minho dan Takako lalu naik ke kapal.
”Sampai jumpa lagiiiiiiiiii.......... aku
senang kalian baik padakuuuuuuuu!!,” teriak Takako kepada mereka ketika sauh
kapal sudah dilepas dari darmaga.
Gubernur Choe, Nyonya Choe, panglima Go
dan beberapa pengawal membalas lambaian tangan Minho dan Takako, sampai kapal
menjauh.
Takako mengangkat tangannya, menggeliat,”
Haaaaaaahhhhhhhhhhhh......... segar banget udara lautnya!,” katanya di depan
Minho.
Minho hanya senyum saja, padahal, aslinya
dia berfikir, dia akan pusing nanti berhadapan dengan dua wanita: Takako dan
Hee Kyung.
Minho menggenggam tangannya,” sepertinya..
kamu tidak pernah lelah dalam hidup ini, Hime-sama,”
”Masih panggil aku Hime-sama??,” tanya
Takako heran.
”kamu marah kalau aku panggil Minho.. jadi.. aku juga marah kalau kamu panggil Hime-sama,”
lanjutnya lagi dengan wajah cemberut.
”kamu tahu kan.. artinya itu??,”
Minho mengangguk.
”lalu.. kenapa masih kamu panggil aku
seperti itu?,” tanya Takako lagi.
”jadi.. aku harus panggil kamu apa??,”
Minho malah bertanya balik.
”isteriku.. terutama kalau di depan Hee
Kyung nanti,” kata Takako dengan ekspresi bangga, dia melipat tangannya,
menaikkan sedikit dagunya.
Minho diam sejenak, lalu senyum tipis.
”kok hanya senyum saja.. kenapa??,” tanya
Takako lagi.
Minho menggeleng,”nan demo arimasen.. gwaenchanh a.. tapi..”
”Tapi apa? Aku kan sudah janji pada diriku
sendiri.. kalau aku akan panggil Minho: suami ku..,” jawab Takako tegas, dia
tunjuk dadanya Minho.
”takut dengan Hee Kyung??,” tanya Takako
lagi
Minho menggeleng, aslinya dia tidak mau
menyakiti hati Hee Kyung. Takako memang tipe perempuan manja dan kalau tidak
dituruti, tidak yakin dia tidak berbuat ulah.
”Ya.. baik.. aku akan panggil kamu: Anae..”, jawab Minho senyum tipis
”Janji.. dan di depan Hee Kyung juga,”
ujar Takako lagi, senyumnya jadi terlihat licik
”Ye...
yagsog,” balas Minho
”Janji.. nanti ketika tiba di Hanyang.. mau tetap lindungi aku??,” pinta Takako
lagi
Minho mengangguk lagi,”Ye... aku janji”
”nah.. begitu.. aku cinta kamu,” jawab
Takako, dia cuek berjingkat dan mencium pipi Minho.
”tidak malu dilihat banyak orang??,” kata
Minho dengan wajah tidak enak hati. Memang orang-orang yang sedang lalu-lalang
dalam kapal itu ada yang tertegun ketika melihat Takako dengan kimono, yang
memang hampir tidak pernah mereka lihat, berani pula mencium seorang lelaki di
depan umum.
Tapi Takako malah tertawa cekikikan pada
Minho,”Ki ni shinai yo.. aku cinta
Minho (aku tidak peduli),”
Minho hanya senyum saja, dia terus
berfikir dan berfikir.. bagaimana kalau nanti datang ke Hanyang, tidak melukai
hati Hee Kyung.
Hee Kyung datang pada Park Dong Il
disebuah barak prajurit. Park kaget, karena tidak biasanya seorang cewek masuk
ke dalam barak.
”Nona Geum.. ada apa?,” tanya Park heran
”aku ingin bicara denganmu,” Hee Kyung lalu
mengambil tempat duduk di ruangan besar. Beberapa prajurit yang sedang bersama
Park langsung keluar dari ruangan itu, tidak ingin mendengar percakapan antara
atasannya dengan cewek itu.
”Kapan Jendral Lee kembali??,” tanya Hee
Kyung
Park tidak ingin memberitahu apa yang
sudah terjadi pada Minho di Tsushima, dia menjawab kalau Minho kemungkinan akan
pulang dalam 2-3 hari ke depan.
”Perasaan ku tidak enak terhadap Jendral
Lee,” kata Hee Kyung
”Tapi dia baik-baik saja.. bahkan dia
termasuk yang menangkap ketua perompak itu dan memaksanya bunuh diri.. dia
sukses.. Yang Mulia Raja senang dan akan menyambut kedatangannya,” ujar Park.
Wajah Hee Kyung senang mendengar
penjelasan teman semiliter Minho itu.
”Apa.. dia akan mendapatkan banyak
kehormatan lagi??,” tanya Hee Kyung berbinar
”Yang Mulia Raja memuji kerjanya.. tapi
aku belum tahu apa Jendral Lee akan
ditugaskan lagi berikutnya atau akan mendapatkan penghargaan dan hadiah dari
Yang Mulia,” balas Park.
”Aku senang dan bahagia, Jendral Park..
Akhirnya Jendral Lee selamat dan akan kembali lagi kesini,” kata Hee Kyung
dengan wajah masih senang dan bangga
Park tidak ingin bercerita, kalau Minho
akan pulang membawa seorang isteri.
Dia melayani saja obrolan Hee Kyung yang
curhat, kalau Minho cinta padanya. Park tidak tahu harus bagaimana bercerita
yang sebenarnya, dia sembunyikan saja kisah Minho di Tsushima.
Dua hari berikutnya, Minho dan Takako
menginjakkan kaki di pelabuhan Inche’on.
”Ini.. Joseon yang sebenarnya??,” tanya
Takako pada Minho
Inche’on sangat besar dan pelabuhan yang
sangat ramai. Orang banyak berlalu-lalang membawa barang, penumpang, dan
pelabuhan yang sangat sibuk.
Minho memberikan kuda Takako padanya dan
mengangguk,”Ya.. selamat datang di Joseon.. kita masih jauh untuk sampai ke
Hanyang... ada sungai yang sangat indah disana.. pasti kamu suka”, katanya
dengan senyum
”Benarkah?? Apa itu dekat rumahmu??,”
tanya Takako senang
Minho mengangguk,”Tidak terlalu dekat..
tapi kamu bisa menikmati suasananya sampai malam menjelang,”
Takako belum mengambil kekang kuda nya,
dia malah bergayut ditangan Minho,”Jadi.. kalau sudah sampai ke sana.. bawa aku jalan-jalan dengan
perahu disungai itu ya??”
Minho mengangguk senyum.
”Janji,” kata Takako
”ya.. aku janji.. setelah urusanku beres
dengan Yang Mulia,” jawab Minho. Minho lalu memberikan tangannya supaya kaki
Takako menaiki kedua telapak tangannya itu untuk naik kuda.
Minho lalu menyusul naik kudanya sendiri.
”Hiyaaaaaahhh!!,” dia pacu kudanya menuju
pusat kerajaan Joseon, yang disusul oleh kudanya Takako.
”JENDRAL LEE DATANG DARI TSUSHIMA,” teriak
seorang pegawai administrasi kerajaan.
Minho dan Takako masuk dalam ruangan
pertemuan kerajaan. Ruangan
besar yang bisa memuat sampai 300 orang lebih. Pilar-pilar tinggi ruangan
pertemuan menyambut mereka.
Takako melihat sekeliling ruangan itu
dengan takjub,”wah.. besar sekali Gyeongbok ini.. whoaaahhh..Shogun Kyouto
mungkin kalah besarnya!,”
Dia memegang-pegang pilar ruangan besar
itu, tanpa memperdulikan Minho yang sudah berjalan lebih dulu dengan tegap.
”Hai Minho.. tunggu dulu.. aku suka ini!,” katanya dengan lantang.
Beberapa prajurit dan pegawai kerajaan
bengong saja dengan sikap Takako yang cuek, memanggil Minho bukan dengan
sebutan Jendral atau nama keluarga, padahal beberapa ratus meter pula dari
mereka sudah duduk sang Raja Jeong Seok.
Minho lalu menoleh, dia menarik tangan
Takako, menyuruhnya diam dan mengikuti dia berjalan.
Di depan sang Raja...
”Jendral Lee datang untuk Yang Mulia dan
Agung Raja Joseon,” Minho menunduk hormat dengan dalam, hampir 90º.
Jeong Seok yang tadinya duduk, lalu
berdiri. Semua yang ada disana menunduk hormat padanya sebagai Raja sampai 90º.
Isterinya lalu berdiri juga.
Takako melihat gaya Minho menghormati
rajanya, lalu dia meniru saja.
”Apakah ini Takako Gongju dari Klan Sadamori dari Tsushima.. isteri Jendral Lee??,”
senyum Jeong Seok. Isterinya ikut tersenyum melihat suaminya senyum pada Minho
dan Takako.
Takako menunduk hormat. Dia berusaha sopan
dengan Raja dan juga menghormati Minho sebagai seorang petinggi kerajaan.
Dengan sigap, malah dia duduk dan
menghormati Raja sampai seperti bersujud, mengikuti gaya kebanyakan orang
jepang ketika berhadapan dengan yang lebih tinggi kedudukannya.
”Saya Sadamori Takako dari kepulauan
Tsushima.. senang bisa berada di Joseon.. menghaturkan terima kasih karena Yang
Mulia dan Agung, Raja Jeong Seok menerima saya disini.. sebagai perwakilan
negeri shogun Kyouto dan Tsushima,”
Isteri raja kaget dengan model
penghormatan seperti itu. Dia malah berjongkok lalu menyuruh Takako bangun.
Minho tidak menyangka kalau Takako bisa sesopan itu. Padahal dengan Gubernur
Choe saja, isterinya ini dia anggap tidak sopan.
”Silahkan bangun, Takako Gongju..tidak perlu
seperti itu,” kata isterinya Jeong Seok
”terima kasih, baginda Ratu,” jawab
Takako, lalu dia berdiri.
Minho menunduk hormat,”terima kasih mau
menerima isteri saya dalam keluarga kerajaan”
Minho belum menyadari, hari itu adalah
pertemuan antar beberapa kepala daerah dan ayahnya Hee Kyung ada disana.
”Minho.. membawa isteri dari Tsushima..
mau dikemanakan anakku??,” kata hatinya Geum Jae Sung.
Jeong Seok lalu duduk lagi di
singgasananya.
”Kita sudah bekerjasama dengan shogun di
Kyouto untuk menyelesaikan peperangan dengan para perompak di seputar Jeju dan
laut kuning,” kata Jeong Seok
Minho lalu memberikan dua pucuk
surat,”Daimyo Tsushima dan Gubernur Choe memberikan masing-masing sepucuk surat
untuk Yang Mulia Raja”
Jeong Seok sendiri yang mengambil dari
tangan Minho. Dia membaca
surat pertama dari Tsushima.
”Takako Gongju akan menjadi wanita
kehormatan dari Tsushima bagi Joseon dan Jendral Lee serta Jendral Park
mendapatkan penghargaan tambahan dan fasilitas atas keberanian dalam menumpas
perompak dari tanah ilbon,” kata
Jeong Seok
Minho dan Dong Il menunduk hormat,
mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati raja mereka.
Para petinggi kerajaan yang hadir juga
menunduk hormat, menghormati keputusan Raja mereka atas pengangkatan gelar dan
juga fasilitas kepada kedua jendral muda itu.
Takako senang,”wah... Minho.. jadi.. kamu nanti tidak tinggal di barak
lagi bukan??,” katanya senang, tapi cuek lagi memanggil nama, bukan nama
keluarga atau gelar jabatan.
Minho jadi tidak enak hati lagi dengan
semuanya, tetapi Jeong Seok biasa saja.
”Bukankah Takako Gongju juga ikut dalam
operasi ini? Saya sungguh berterima kasih sudah mengorbankan waktu dan
tenaganya demi keamanan Jeju serta Tsushima,” lanjutnya lagi
”oh.. tidak seberapa.. tetap Minho yang
paling hebat, Yang Mulia Raja!,” Takako malah menjawab santai sambil
menepuk-nepuk pundak Minho.
Minho makin gak enak hati dengan Rajanya
sendiri, tapi Dong Il malah ingin tertawa, tapi dia tutup mulutnya untuk
menahan tawa, melihat ekspresi Takako yang berani dan santai.
”Kalau Yang Mulia tahu, dia dan juga
Jendral Park sangat hebat! Kedua orang ini berani membabat banyak para
perompak! Anda sungguh beruntung punya dua Jendral ini.. aku yakin.. Joseon
akan menjadi kerajaan hebat!,” lanjut Takako lagi, malah lebih ekspresif
”dan juga Panglima Go.. lebih baik Anda
juga memberikan hadiah untuknya.. menaikkan pangkatnya.. dia juga lelaki
pemberani tak takut mati,”
Jeong Seok bukan marah, malah senyum dan
akhirnya tertawa dengan apa yang dikatakan Takako. Lelaki hampir 40 tahun itu
tidak bisa berusaha menahan tawanya dengan sikap Takako yang menepuk-nepuk
pundak Minho dengan santai, tanpa Minho bisa menolaknya.
Takako lalu memberikan pedang emas untuk
hadiah bagi kerajaan dari Tsushima. Jeong Seok dan isteri berterima kasih atas
semuanya.
”Takako Gongju ini.. pasti wanita
pemberani.. iya kan,
isteriku??,” tanya Jeong Seok pada isterinya yang berdiri di belakangnya
Isteri Raja itu pun tersenyum,” Takako
Gongju harus kita berikan rumah yang bagus dan juga perayaan pernikahan yang hebat”
”Terima kasih, baginda Ratu.. tapi..ini
semua berkat jasa Minho..,” balas Takako menunduk hormat pada Ratu.
”Aku juga mempertimbangkan saran-saranmu
yang ditulis ulang oleh Gubernur Choe.. itu hal yang bagus,” kata Jeong Seok
Minho menunduk hormat,”terima kasih, Yang
Mulia Raja. Maafkan kalau isteri saya tidak sopan”
Jeong Seok malah tertawa senang,” Minggu
depan... kita akan rayakan pesta meriah untuk Jendral Lee dan juga Takako
Gongju..aku perintahkan para juru masak kerajaan membantu perayaan ini”
”dengan mengirimkan 1000 prajurit adalah
usaha kami supaya perompak itu dapat cepat ditumpas. Untuk Chang Yue, akan dibicarakan segera dengan
Jendral Lee dan Jendral Kwon,” lanjutnya
Minho dan Jendral Kwon yang ditunjuk
langsung menunduk hormat dalam-dalam, menerima keputusan raja mereka.
Jeong Seok lalu meneruskan pertemuannya
dengan para kepala daerah dan juga para Jendral. Takako langsung dibawa Isteri Raja, Maharani Seon
ke salahsatu ruangan istana kerajaan untuk beristirahat.
”Minho itu...apa sibuk sekali?? Apakah dia
berasal dari keluarga disiplin?,” tanya Takako, cuek pada Maharani Seon
Maharani Seon yang lembut menjawab,” dia
termasuk Jendral muda yang hebat dan selalu suamiku suka padanya”
Takako mengetuk-ketuk pipinya,”Ya.. ya.. sewaktu perang saja, dia garang
sekali.. aku tidak sangka..cowok yang wajahnya kelihatan lembut bisa seperti
itu”
”Bukankah... Takako Gongju juga hebat??,”
senyum Maharani Seon
”Ah...aku tidak sehebat itu..aku tidak
punya ilmu pedang naga halilintar seperti dia,” Takako malah tertawa dan
menepuk-nepuk pundak Maharani
Beberapa pengawal wanita ingin
melarangnya, tapi Maharani Seon malah tidak mengapa diperlakukan akrab dan dia
melarang para pengawal wanitanya menahan Takako untuk menyentuhnya.
”Minho marah padaku kalau seperti ini..
katanya aku tidak sopan,” keluhnya pada Maharani ketika mereka sudah sampai
diruangan dan duduk.
Dua pelayan wanita istana mengeluarkan
sebuah kotak yang ternyata isinya baju hanbok yang sangat indah.
”whoaaaaa... apa ini? Baju negeri kalian??
Indah sekali!!!,” Takako takjub dengan bentuk dan warna hanbok yang dilihatnya
cerah dan cocok untuk kulitnya
Maharani Seon berdiri di depannya,”ya.. cantik sekali.. cocok untuk Anda.. kami
memberikannya.. tinggal menunggu Jendral Lee melihat Anda cantik dengan ini”
”wah... gambsahabnida.. aku senang sekali!
Negeri kalian memang hebat.. kulihat kemarin aku bersama Gubernur Choe
mengunjungi para nelayan, mereka bahagia,” kata Takako dengan mata berbinar
Maharani Seon senyum padanya dengan lembut
dan meminta kedua pembantu kerajaan membantu Takako mengganti kimono nya dengan
hanbok.
Setelah dua jam berdandan, Takako dan
kedua pembantu keluar dari ruang ganti, dia sudah cantik sekali.
”Lihat.. cantik bukan??,” Maharani Seon
menyuruhnya melihat cermin bersama.
”Atashi
wa kirei ni naru...... ureshiiii (aku jadi cantik..senangnya),” kata Takako
manja. Dia mencubit kedua pipinya, teriak kesakitan sendiri, tak percaya kalau
dia jadi cantik dengan memakai Hanbok khusus memang hadiah dari istana dengan hiasan
yang mahal.
Maharani Seon tidak mengerti bahasa jepang
Takako, tapi dia jadi tertawa kecil,” Jendral Lee pasti makin cinta padamu,
Takako gongju, hihi”
”ee..
itu pasti..,” kata Takako penuh semangat. Dia berdiri lalu berputar-putar dengan Hanboknya.
”Nyonya cantik sekali,” kata salahseorang
pembantu kerajaan
Tapi lalu dia duduk lagi di hadapan
Maharani Seon,”Tapi, Ratu... setahu aku.. Minho sudah punya pacar disini...
benarkah??”
”Ya... sepertinya begitu...aku pernah
dengar.. namanya Geum Hee Kyung... anak kepala daerah Geum,” jawab Maharani
Seon
”apa dia cantik??,” tanya Takako sambil
cemberut
”Takako Gongju juga cantik dan pemberani..
Jendral Lee juga pasti suka dengan Anda.. Anda hebat bertarung..aku sama sekali
tidak,” senyum dan jawab Seon
”Aku takut kalau Minho akan meliriknya
lagi,” kata Takako lagi, masih cemberut.
Seon tersenyum padanya,” Lelaki..bukannya
biasa punya selir?”
”aah.. aku tidak suka! Aku bukan anak Raja
di sana.. aku hanya anak Daimyo dan memang ayahku punya 3 isteri.. tetapi aku lahir dari isteri pertama dan
ibuku sangat mengabdi pada ayahku.. jadi aku tidak suka kalau Minho suatu saat
akan melirik pada Hee Kyung,” kata Takako lagi, masih pasang wajah cemberut.
”Apa Ratu tahu.. sejauh mana cantiknya Hee
Kyung itu??,” dia masih penasaran
” Aku hanya berjumpa dia sekali..sewaktu
perayaan keluarga di musim semi,” jawab Seon lembut
Takako berdiri lagi,” Aaah.. bagaimana
kalau nanti Minho bertemu dia lagi?? Aku tidak suka”
” Kalau memang Jendral Lee lelaki yang
setia, tentu dia tidak akan berusaha bertemu dengan Nona Geum itu.. dia akan
sibuk dengan pekerjaannya,” balas Seon
”ya.. baiklah.. hanya.. kalau Geum Hee
Kyung itu menganggunya..aku gak akan segan bertarung dengannya,” kata Takako,
seperti mengancam.
Lalu,”Ah.. iya, Ratu.. Aku bisa ajarkan
satu dua jurus dari Tsushima kalau Ratu mau!,” kata Takako lagi dengan ekspresi
semangat, menjentikkan jarinya
”Begitukah??,” tanya Ratu dengan senyumnya
”Ya.. akan aku ajarkan Ratu cara
menggunakan pisau untuk membela diri... ,” semangat Takako
”Minho saja mungkin kalah denganku kalau
bertarung dengan pisau kecil,” lanjutnya lagi.
”Mungkin lain waktu aku katakan pada
suamiku, kalau aku ingin berlatih denganmu,” senyum Seon
”nah, begitu..aku juga akan katakan pada
Minho, kalau dia harus membiarkanku mengajarkanmu,” balas Takako dengan nada
suara ceria.
Dia lalu berdiri dan menghadap jendela,
melihat keluar.
”aku jauh dari kedua orangtuaku...aku
berharap.. disini aku akan dilindungi Minho dan semua orang baik padaku,”
katanya menerawang keluar jendela.
”Dan..sepertinya Anda memang Ratu yang
baik sekali..,” senyumnya pada Maharani Seon.
”Aku yakin Minho akan membela Anda ketika
suatu saat mungkin negeri ini genting... dia lelaki hebat,” lanjutnya lagi
” loyalitas Jendral Lee tidak perlu
diragukan lagi..dia sudah berani menjadi prajurit sejak usia 16 tahun,” balas
dan senyum Seon
”Benarkah?? Wah.. Minho ternyata lelaki
yang keras bekerja,” Takako duduk lagi di depan Maharani Seon dan dia senang
mendengar cerita tentang Minho dari mulut Sang Ratu
Maharani Seon bercerita terus tentang
karir Minho yang dia tahu, karena Minho memang anak seorang Jendral. Matanya
berbinar-binar mendengar cerita tersebut.
” Jadi..Minho sudah 10 tahun lebih
mengabdi pada Raja?? Sugeeeee
(hebat),” Takako jadi setengah teriak,” Aku bangga pada Minho!”
Kedua pembantu kerajaan senyum-senyum saja
melihat ekspresi Takako yang memang dia ekspresif sekali.
” Jadi..aku harap.. Takako gongju akan
bahagia tinggal disini..,” senyum Maharani Seon
”Pasti! Aku akan senang menjadi bagian
dari Joseon..,”jawabnya semangat.
Mereka terus mengobrol sampai
berlarut-larut, sampai Minho dan yang lain selesai pertemuannya.
Minho melihat Takako berjalan di lorong
kerajaan mencari dirinya, didampingi dua pengawal wanita. Ketika mereka sudah dekat, Takako berlari menuju
Minho.
Minho terpesona padanya, ” wah.. cantik sekali memakai Hanbok”
Takako berlari dan langsung memeluk Minho,
manja padanya. Kedua pengawal wanita hanya senyum saja dan menunduk hormat pada
Minho.
”Naega
anaeuneun hanboggwa maeu aleumdabseubnida,” senyum Minho padanya,
mengatakan kalau Takako sangat cantik memakai hanbok itu
” Ratu Seon yang memberikannya untukku,”
jawab Takako, dia berputar-putar di depan Minho.
”cantik,” senyum Minho
Kedua pengawal memberikan kotak yang
isinya kimono Takako dan beberapa Hanbok pemberian Ratu pada Minho. Mereka lalu
ijin pamit.
”aku ingin mengajak kamu jalan ke pembuat
baju... aku harus membeli beberapa baju untukmu,” senyum Minho
” o ya?? Nae wonhaneun!,” balas Takako dengan semangat
”Apa disini ada semacam pasar begitu??,”
tanya Takako ketika melewati lorong kerajaan menuju gerbang luar istana,
tangannya tanpa ragu menggenggam tangan Minho. Beberapa pengawal kerajaan yang
berjaga-jaga disudut-sudut lorong menghormat pada mereka. Beberapa berani
tersenyum karena mereka lihat tingkah Takako manja pada atasan mereka.
Minho mengangguk, tapi untuk memesan baju,
dia tidak mau pergi ke pasar, dia maunya memesan khusus, sebab sesuai dengan gelar
yang dia dapat. Dia akan memakai juga semacam tanda ornamen di dadanya sebagai
bagian dari kehormatan kerajaan.
” Jadi..kita ke penjahit baju kerajaan,”
kata Minho senyum
”Aku mau!,” teriak Takako.
Minho menyentuh bibirnya,” jangan
berisik.. kasihan para pengawal”
Tak disangka.. Geum Jae Sang lewat di
depan mereka. Minho menunduk
hormat. Takako yang melihat Minho seperti itu pun ikut saja.
”maaf tidak menyapa Kepala Daerah Geum
sedari tadi.. bagaimana kabarnya, Tuan??,” senyum Minho padanya.
Geum melihat Takako dengan tatapan tegas
dan agak sinis.
”dangsin-ui
anaeneun sseusima-eseo??,” tanya Geum
”ye..
dangsin-ui ttal nae salang-e daehan yugam... naneun geugeos-e daehae
yaegihabnida..,” Minho menunduk hormat dalam pada Geum. Dia tidak enak hati
ketika Geum bertanya, ternyata Takako adalah isteri diplomatik nya Minho dan
Minho berjanji akan membicarakan masalah cintanya pada Hee Kyung, anak Geum.
”Chughahabnida,”
kata Geum datar, lalu berlalu dari hadapan Minho dan Takako.
Minho menunduk hormat padanya walau Geum
berlalu,” daedanhi gambsahabnida,
Geum-ssi,”
Minho tahu, Geum kecewa dengannya. Takako
tidak mengerti.
”kenapa orangtua itu? Siapa dia??,” tanya
Takako
” ayah Hee Kyung,” jawab Minho singkat
”oh,” balas Takako
”Lalu..apa kamu mau bertemu Hee Kyung,
Minho??,” lanjutnya lagi. Tatapan matanya berubah kosong. Dia memang berharap
Minho melupakan cewek itu selamanya.
”ye..
naneun geunyeoleul ij-jihalyeogohabnida.. geuleona naega na saie munjuleul
chwiso geunyeowa iyagihaja geunyeoui (ya.. aku akan berusaha melupakannya..
tapi aku ingin bicara dulu dengannya, menyelesaikan masalah antara aku dan
dia),” jawab Minho dengan suara lembutnya. Dia tidak ingin menyakiti hati
Takako. Bagaimanapun sudah janjinya pada Klan Sadamori kalau dia harus menjaga
perempuan itu di negerinya.
Takako lalu diam, berjongkok dan menangis.
”atashi..
hontou ni kowai.. Minho wa yori kanojo o aishite baai (aku takut kalau
Minho lebih cinta dia dibanding aku),”
”kanojo
wa anata no mukashi no koibito da no ni (dia kan mantan pacarmu),”
lanjutnya lagi
” atashi
wa anta ga kanojo o aishite..shitakunai (aku gak mau kamu cinta padanya),”
Minho tertegun dengan perkataan isteri
diplomatik nya itu baru saja. Dia sadar, sebenarnya Dia lalu ikut berjongkok
”museun-il
issdeolado... Takako salanghae (apapun yang terjadi, aku cinta Takako),”
senyum Minho padanya, mengangkat wajahnya lalu mengusap air mata di pipinya.
”Nan
dangsin-i geunyeoleul salanghabnida dulyeobda (aku takut kamu cinta dia),”
kata Takako terbata-bata
Minho senyum,” Ani.. watashi wa anata o aishite dake.. nan geunyang salanghabnida (tidak..aku hanya akan cinta kamu)”
Lalu dia mencoba membangunkan Takako dari
duduknya, memeluknya. Tidak
peduli disana ada beberapa pengawal di depan gerbang istana yang melihat
mereka.
”Aku sudah berjanji..dan tidak boleh
ingkari janjiku,” kata Minho memeluk Takako
”Aku sudah merasa bahagia Minho akhirnya
bisa cinta padaku,” jawab Takako.
”sudah ya? Kita harus pergi ke penjahit
Yeon... ,” senyum Minho padanya. Lalu mereka ke tempat kuda ditambatkan dan
pergi dari istana
Malamnya, mereka kembali ke rumah tugas
Minho. Para pengawal dan
pembantu Minho menyapa Takako dengan ramah.
Mereka duduk di ruang tamu. Takako
langsung bisa ramah dengan mereka
”Jadi.. kamu sudah ikut suamiku sejak
umurmu 15 tahun??,” tanya Takako pada Sim Hwang, salah seorang prajurit
”Ya.. Daejang mengambil ku jadi penjaga
disini,” senyum Sim Hwang, lelaki 20 tahun
”Tapi.. kamu sudah pernah ikutan
bertempur?,” tanya Takako lagi
”aku mata-mata,” jawab Sim Hwang
Takako menepuk pundak lelaki itu sampai
tubuh Sim Hwang terguncang,” Suge...
kamu hebat!!”
Minho senyum dengan tingkah Takako yang
mudah akrab dengan para prajurit dan pembantunya.
”lalu.. kamu kenapa bekerja dengan
Minho??,” tanya Takako pada seorang pembantu perempuan
”Aku harus membayar hutang kedua
orangtuaku,” kata perempuan yang juga usianya tidak tua, mungkin baru sekitar
17-18 tahun
”heeeehhh... kejamnya.. ,” balas Takako
Perempuan itu tersenyum,” Kalau nyonya
memiliki kesulitan.. bisa
bertanya padaku”
Mereka ngobrol sambil minum-minum,
tertawa-tawa.
”hahahaha!,” tawa Takako keras pada yang
lain, saling mengangkat gelas. Dia ceria sekali dengan mereka.
Minho meninggalkan mereka tanpa banyak
bicara, ternyata dia bertemu Hee Kyung.
”Mian,
Hee Kyung.. aku benar-benar tidak bisa melanggar titah Yang Mulia Raja,” Minho
benar-benar merasa bersalah.
Hee Kyung termenung,” katamu.. sehabis
kamu pergi dari Tsushima.. kamu janji akan menikahiku.. ternyata”
”Aku minta maaf.. aku tidak menyangka
semua ini akan terjadi,” kata Minho. Dia menunduk.
”aku berharap.. kita lupakan semuanya,”
katanya lagi.
”Mana bisa aku lupakan begitu saja,
Minho?? Huh??,” Hee Kyung
berteriak, dia sakit hati. Dia sudah membayangkan akan bahagia menikah dengan
cowok itu, ternyata Minho kembali justru membawa perempuan lain jadi isterinya.
”KAMU MENGKHIANATIKU, MINHO!,” teriak Hee
Kyung
”aku minta maaf,” Minho menunduk di
depannya, menunduk dalam sekali, tidak berani menatap wajah mantan kekasihnya
itu.
Hee Kyung menangis.. Minho malah akhirnya
memeluknya..
Takako berlari mencari Minho, bersama
dengan Sim Hwang. Sim Hwang memberitahu dimana rumah Hee Kyung. Sampai di depan
gerbang, pengawal mengijinkan mereka masuk.
Takako melihat pemandangan itu.. Minho
sedang memeluk Hee Kyung..
Dia terpana saja.. sementara Sim Hwang yang juga melihat terdiam,
tidak berkomentar apapun..
”aku minta maaf sekali, Hee Kyung.. aku
sama sekali tidak bermaksud menyakitimu.. tapi..aku harus berusaha mencintai
Takako dan tidak bisa berkhianat padanya.. aku sudah janji pada Klan Sadamori, kalau aku
harus menjaga nya.. termasuk menjaga hatinya,” kata Minho
”kenapa semua ini terjadi, Minho?? Aku
sudah senang kamu berjanji ingin menikahiku,” jawab Hee Kyung dengan terisak.
”Minho...,” kata Takako pelan. Dia
mematung dan masih melihat pemandangan itu.
”apa.. Minho cinta padanya.. lebih dari
aku??,” katanya lagi.
”Maafkan aku.. aku harus melepas cinta ku
pada mu...dan belajar mencintai Takako,” kata Minho
Dia lalu melepas pelukannya pada Hee
Kyung. Dari jauh, dia melihat Takako yang berdiri disamping Sim Hwang.. air
mata perempuan Tsushima itu mengalir, tapi tanpa suara.
”aku harus pergi.. Takako sudah menunggu,”
senyum datar Minho pada Hee Kyung
Hee Kyung menoleh, dilihatnya memang ada
seorang perempuan berambut panjang dengan Hanbok warna kuning ceria dan ber
ornamen phoenix di dadanya. Yang dia lihat adalah Takako.
”aku pergi... sekali lagi.. maafkan aku,”
Minho menunduk hormat dalam-dalam pada Hee Kyung dan melepas genggaman tangan
Hee Kyung.
Lalu dia berjalan menuju Takako dan
senyum..
”aku sudah menyelesaikan urusanku... hanya
Takako yang aku cinta,”
Wajah Takako masih berlinang air mata, dia
diam saja.
Minho mengusap air matanya,”kita harus
pulang.. kamu pasti lelah”, dia genggam tangan Takako. Sim Hwang mengikuti
mereka dari belakang, setelah menunduk hormat pada Hee Kyung.
Sampai di rumah Minho, Takako diam. Minho
memeluknya diatas tempat tidur
”aku minta maaf.. tapi..semua rasa cintaku
sudah selesai dengan Hee Kyung.. ,”
”Minho..,” balas Takako pelan. Dia masih
berlinang air mata
”aku janji.. aku akan jaga kamu... jangan khawatir lagi.. aku
tidak ingin apa yang aku ucapkan akan ku langgar,” kata Minho lagi. Dia
mengusap-usap rambut Takako yang panjang sekali
”aku hanya mau dipelukanmu malam ini,
Minho.. aku takut,” kata
Takako
Minho terus memebelai rambutnya yang hitam
tergerai panjang. Takako berusaha tidur dalam pelukan Minho.
”Minho hangat sekali,” kata Takako
Minho senyum saja dengan isteri hubungan
diplomasi itu.
”Hee Kyung.. aku harus memilih Takako,”
katanya dalam hati.
’Minho.. jangan pernah tinggalkan aku..,”
kata Takako
”Ya.. aku janji,” senyum Minho padanya,
mencium matanya Takako. Dia memeluk isterinya itu erat-erat, lalu menarik
selimutnya.
Bulan purnama di malam itu menandakan hari
pertama Takako tidur di dalam rumah Minho...dalam pelukannya.. dalam keresahan
hati, ketakutannya suatu hari Minho masih mencintai Hee Kyung..
Bersambung ke part 7....