This is me....

Senin, November 17, 2014

Aku Isteri Jendral Lee! (Part 6: Hatiku Untuk Hee Kyung atau Takako?)

Cerita ini cuma iseng saja, jangan dimasukin ke hati.. kalau masih serius juga.. tanggung sendiri deh..

Minho makan bersama Takako, Gubernur Choe dan Panglima Go di pagi itu.
”ini makanan enak yang aku suka juga,” kata Takako senang, dia disuguhkan semacam ikan laut dengan rumput laut.
Gubernur Choe senyum padanya,” tentunya Anda akan merindukan Jeju nanti, Puteri Takako”
Takako menjawab dengan mantap dan mata berbinar,” pasti.. aku akan meminta Minho membawa ku ke sini lagi nanti kalau dia sedang punya waktu liburan”
”Minho?,” tanya Panglima Go
”oh.. maksud ku: suamiku... maaf, hehe,” Takako cengengesan. Dia memang perempuan cuek dan terkesan serampangan.
Minho diam saja. Dia belajar mengerti watak, sifat dan karakter Takako yang memang berbeda dari kebanyakan perempuan.
”ah.. Gubernur Choe.. aku harap, Anda bisa menghubungkan ku dengan Yang Mulia Raja Joseon tentang Chang Yue itu.. aku gak sabar ingin ikut patroli bersama Minho,” katanya dengan mantap, memberhentikan makannya, menaruh sumpitnya dan berbinar-binar bicara dengan Choe
”aduh.. maksud ku: suami ku, begitu.. ”
Minho baru senyum padanya,”dasar puteri manja,” katanya dalam hati.
”Memang pendapat Puteri Takako termasuk yang bagus.. aku sudah menulis bersama dengan petugas Kwon kemarin,” jawab Choe
”terima kasih sekali.. aku menghargai sekali.. aku ingin bisa membantu Yang Mulia Raja Joseon,” ujar Takako
”Terima kasih juga kami sampaikan kepada Daimyo Sadamori yang sangat membantu Jeju dan Joseon,” senyum Choe
Lagi-lagi Takako menepuk-nepuk pundak Choe dengan santainya,”tidak apa, Gubernur Choe.. itu sudah biasa bagi kami..”
Minho melihat lagi, buru-buru Takako melepas tangannya,” gomen, hehe
Choe dan Go malah tertawa,”Puteri Takako ini.. sungguh ceria dan cerdas ya? Pasti Jendral Lee bahagia punya isteri Anda, Puteri Takako”, kata Choe.


Minho dan Takako lalu menumpang kereta kuda milik Choe sampai ke pelabuhan.
Takako membuka tirai kereta kuda, dia menjejakkan lagi kakinya di pelabuhan.
Gubernur Choe serta Nyonya melepas kepergian mereka, begitu juga dengan Panglima Go.
Takako menunduk hormat pada mereka, ”Terima kasih banyak untuk semuanya... semoga suatu hari nanti.. kita bertemu lagi”
”Kami berterima kasih mendapatkan kunjungan terhormat wakil dari Tsushima..,” jawab Nyonya Choe dengan membalas tundukan hormat juga.
Minho dan Takako lalu naik ke kapal.
”Sampai jumpa lagiiiiiiiiii.......... aku senang kalian baik padakuuuuuuuu!!,” teriak Takako kepada mereka ketika sauh kapal sudah dilepas dari darmaga.
Gubernur Choe, Nyonya Choe, panglima Go dan beberapa pengawal membalas lambaian tangan Minho dan Takako, sampai kapal menjauh.

Takako mengangkat tangannya, menggeliat,” Haaaaaaahhhhhhhhhhhh......... segar banget udara lautnya!,” katanya di depan Minho.
Minho hanya senyum saja, padahal, aslinya dia berfikir, dia akan pusing nanti berhadapan dengan dua wanita: Takako dan Hee Kyung.
Minho menggenggam tangannya,” sepertinya.. kamu tidak pernah lelah dalam hidup ini, Hime-sama,”
”Masih panggil aku Hime-sama??,” tanya Takako heran.
”kamu marah kalau aku panggil Minho.. jadi.. aku juga marah kalau kamu panggil Hime-sama,” lanjutnya lagi dengan wajah cemberut.
”kamu tahu kan.. artinya itu??,”
Minho mengangguk.
”lalu.. kenapa masih kamu panggil aku seperti itu?,” tanya Takako lagi.
”jadi.. aku harus panggil kamu apa??,” Minho malah bertanya balik.
”isteriku.. terutama kalau di depan Hee Kyung nanti,” kata Takako dengan ekspresi bangga, dia melipat tangannya, menaikkan sedikit dagunya.
Minho diam sejenak, lalu senyum tipis.
”kok hanya senyum saja.. kenapa??,” tanya Takako lagi.
Minho menggeleng,”nan demo arimasen.. gwaenchanh a.. tapi..”
”Tapi apa? Aku kan sudah janji pada diriku sendiri.. kalau aku akan panggil Minho: suami ku..,” jawab Takako tegas, dia tunjuk dadanya Minho.
”takut dengan Hee Kyung??,” tanya Takako lagi
Minho menggeleng, aslinya dia tidak mau menyakiti hati Hee Kyung. Takako memang tipe perempuan manja dan kalau tidak dituruti, tidak yakin dia tidak berbuat ulah.
”Ya.. baik.. aku akan panggil kamu: Anae..”, jawab Minho senyum tipis
”Janji.. dan di depan Hee Kyung juga,” ujar Takako lagi, senyumnya jadi terlihat licik
Ye... yagsog,” balas Minho
”Janji.. nanti ketika tiba di Hanyang.. mau tetap lindungi aku??,” pinta Takako lagi
Minho mengangguk lagi,”Ye... aku janji”
”nah.. begitu.. aku cinta kamu,” jawab Takako, dia cuek berjingkat dan mencium pipi Minho.
”tidak malu dilihat banyak orang??,” kata Minho dengan wajah tidak enak hati. Memang orang-orang yang sedang lalu-lalang dalam kapal itu ada yang tertegun ketika melihat Takako dengan kimono, yang memang hampir tidak pernah mereka lihat, berani pula mencium seorang lelaki di depan umum.
Tapi Takako malah tertawa cekikikan pada Minho,”Ki ni shinai yo.. aku cinta Minho (aku tidak peduli),”
Minho hanya senyum saja, dia terus berfikir dan berfikir.. bagaimana kalau nanti datang ke Hanyang, tidak melukai hati Hee Kyung.

Hee Kyung datang pada Park Dong Il disebuah barak prajurit. Park kaget, karena tidak biasanya seorang cewek masuk ke dalam barak.
”Nona Geum.. ada apa?,” tanya Park heran
”aku ingin bicara denganmu,” Hee Kyung lalu mengambil tempat duduk di ruangan besar. Beberapa prajurit yang sedang bersama Park langsung keluar dari ruangan itu, tidak ingin mendengar percakapan antara atasannya dengan cewek itu.
”Kapan Jendral Lee kembali??,” tanya Hee Kyung
Park tidak ingin memberitahu apa yang sudah terjadi pada Minho di Tsushima, dia menjawab kalau Minho kemungkinan akan pulang dalam 2-3 hari ke depan.
”Perasaan ku tidak enak terhadap Jendral Lee,” kata Hee Kyung
”Tapi dia baik-baik saja.. bahkan dia termasuk yang menangkap ketua perompak itu dan memaksanya bunuh diri.. dia sukses.. Yang Mulia Raja senang dan akan menyambut kedatangannya,” ujar Park.
Wajah Hee Kyung senang mendengar penjelasan teman semiliter Minho itu.
”Apa.. dia akan mendapatkan banyak kehormatan lagi??,” tanya Hee Kyung berbinar
”Yang Mulia Raja memuji kerjanya.. tapi aku belum tahu apa Jendral Lee  akan ditugaskan lagi berikutnya atau akan mendapatkan penghargaan dan hadiah dari Yang Mulia,” balas Park.
”Aku senang dan bahagia, Jendral Park.. Akhirnya Jendral Lee selamat dan akan kembali lagi kesini,” kata Hee Kyung dengan wajah masih senang dan bangga
Park tidak ingin bercerita, kalau Minho akan pulang membawa seorang isteri.
Dia melayani saja obrolan Hee Kyung yang curhat, kalau Minho cinta padanya. Park tidak tahu harus bagaimana bercerita yang sebenarnya, dia sembunyikan saja kisah Minho di Tsushima.

Dua hari berikutnya, Minho dan Takako menginjakkan kaki di pelabuhan Inche’on.
”Ini.. Joseon yang sebenarnya??,” tanya Takako pada Minho
Inche’on sangat besar dan pelabuhan yang sangat ramai. Orang banyak berlalu-lalang membawa barang, penumpang, dan pelabuhan yang sangat sibuk.
Minho memberikan kuda Takako padanya dan mengangguk,”Ya.. selamat datang di Joseon.. kita masih jauh untuk sampai ke Hanyang... ada sungai yang sangat indah disana.. pasti kamu suka”, katanya dengan senyum
”Benarkah?? Apa itu dekat rumahmu??,” tanya Takako senang
Minho mengangguk,”Tidak terlalu dekat.. tapi kamu bisa menikmati suasananya sampai malam menjelang,”
Takako belum mengambil kekang kuda nya, dia malah bergayut ditangan Minho,”Jadi.. kalau sudah sampai ke sana.. bawa aku jalan-jalan dengan perahu disungai itu ya??”
Minho mengangguk senyum.
”Janji,” kata Takako
”ya.. aku janji.. setelah urusanku beres dengan Yang Mulia,” jawab Minho. Minho lalu memberikan tangannya supaya kaki Takako menaiki kedua telapak tangannya itu untuk naik kuda.
Minho lalu menyusul naik kudanya sendiri.
”Hiyaaaaaahhh!!,” dia pacu kudanya menuju pusat kerajaan Joseon, yang disusul oleh kudanya Takako.

”JENDRAL LEE DATANG DARI TSUSHIMA,” teriak seorang pegawai administrasi kerajaan.
Minho dan Takako masuk dalam ruangan pertemuan kerajaan. Ruangan besar yang bisa memuat sampai 300 orang lebih. Pilar-pilar tinggi ruangan pertemuan menyambut mereka.
Takako melihat sekeliling ruangan itu dengan takjub,”wah.. besar sekali Gyeongbok ini.. whoaaahhh..Shogun Kyouto mungkin kalah besarnya!,”
Dia memegang-pegang pilar ruangan besar itu, tanpa memperdulikan Minho yang sudah berjalan lebih dulu dengan tegap.
”Hai Minho.. tunggu dulu.. aku suka ini!,” katanya dengan lantang.
Beberapa prajurit dan pegawai kerajaan bengong saja dengan sikap Takako yang cuek, memanggil Minho bukan dengan sebutan Jendral atau nama keluarga, padahal beberapa ratus meter pula dari mereka sudah duduk sang Raja Jeong Seok.
Minho lalu menoleh, dia menarik tangan Takako, menyuruhnya diam dan mengikuti dia berjalan.
Di depan sang Raja...
”Jendral Lee datang untuk Yang Mulia dan Agung Raja Joseon,” Minho menunduk hormat dengan dalam, hampir 90º.
Jeong Seok yang tadinya duduk, lalu berdiri. Semua yang ada disana menunduk hormat padanya sebagai Raja sampai 90º. Isterinya lalu berdiri juga.
Takako melihat gaya Minho menghormati rajanya, lalu dia meniru saja.

”Apakah ini Takako Gongju dari Klan Sadamori dari Tsushima.. isteri Jendral Lee??,” senyum Jeong Seok. Isterinya ikut tersenyum melihat suaminya senyum pada Minho dan Takako.
Takako menunduk hormat. Dia berusaha sopan dengan Raja dan juga menghormati Minho sebagai seorang petinggi kerajaan.
Dengan sigap, malah dia duduk dan menghormati Raja sampai seperti bersujud, mengikuti gaya kebanyakan orang jepang ketika berhadapan dengan yang lebih tinggi kedudukannya.
”Saya Sadamori Takako dari kepulauan Tsushima.. senang bisa berada di Joseon.. menghaturkan terima kasih karena Yang Mulia dan Agung, Raja Jeong Seok menerima saya disini.. sebagai perwakilan negeri shogun Kyouto dan Tsushima,”
Isteri raja kaget dengan model penghormatan seperti itu. Dia malah berjongkok lalu menyuruh Takako bangun. Minho tidak menyangka kalau Takako bisa sesopan itu. Padahal dengan Gubernur Choe saja, isterinya ini dia anggap tidak sopan.
”Silahkan bangun, Takako Gongju..tidak perlu seperti itu,” kata isterinya Jeong Seok
”terima kasih, baginda Ratu,” jawab Takako, lalu dia berdiri.
Minho menunduk hormat,”terima kasih mau menerima isteri saya dalam keluarga kerajaan”

Minho belum menyadari, hari itu adalah pertemuan antar beberapa kepala daerah dan ayahnya Hee Kyung ada disana.
”Minho.. membawa isteri dari Tsushima.. mau dikemanakan anakku??,” kata hatinya Geum Jae Sung.
Jeong Seok lalu duduk lagi di singgasananya.
”Kita sudah bekerjasama dengan shogun di Kyouto untuk menyelesaikan peperangan dengan para perompak di seputar Jeju dan laut kuning,” kata Jeong Seok
Minho lalu memberikan dua pucuk surat,”Daimyo Tsushima dan Gubernur Choe memberikan masing-masing sepucuk surat untuk Yang Mulia Raja”
Jeong Seok sendiri yang mengambil dari tangan Minho. Dia membaca surat pertama dari Tsushima.
”Takako Gongju akan menjadi wanita kehormatan dari Tsushima bagi Joseon dan Jendral Lee serta Jendral Park mendapatkan penghargaan tambahan dan fasilitas atas keberanian dalam menumpas perompak dari tanah ilbon,” kata Jeong Seok
Minho dan Dong Il menunduk hormat, mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati raja mereka.
Para petinggi kerajaan yang hadir juga menunduk hormat, menghormati keputusan Raja mereka atas pengangkatan gelar dan juga fasilitas kepada kedua jendral muda itu.
Takako senang,”wah... Minho.. jadi.. kamu nanti tidak tinggal di barak lagi bukan??,” katanya senang, tapi cuek lagi memanggil nama, bukan nama keluarga atau gelar jabatan.
Minho jadi tidak enak hati lagi dengan semuanya, tetapi Jeong Seok biasa saja.
”Bukankah Takako Gongju juga ikut dalam operasi ini? Saya sungguh berterima kasih sudah mengorbankan waktu dan tenaganya demi keamanan Jeju serta Tsushima,” lanjutnya lagi
”oh.. tidak seberapa.. tetap Minho yang paling hebat, Yang Mulia Raja!,” Takako malah menjawab santai sambil menepuk-nepuk pundak Minho.
Minho makin gak enak hati dengan Rajanya sendiri, tapi Dong Il malah ingin tertawa, tapi dia tutup mulutnya untuk menahan tawa, melihat ekspresi Takako yang berani dan santai.
”Kalau Yang Mulia tahu, dia dan juga Jendral Park sangat hebat! Kedua orang ini berani membabat banyak para perompak! Anda sungguh beruntung punya dua Jendral ini.. aku yakin.. Joseon akan menjadi kerajaan hebat!,” lanjut Takako lagi, malah lebih ekspresif
”dan juga Panglima Go.. lebih baik Anda juga memberikan hadiah untuknya.. menaikkan pangkatnya.. dia juga lelaki pemberani tak takut mati,”
Jeong Seok bukan marah, malah senyum dan akhirnya tertawa dengan apa yang dikatakan Takako. Lelaki hampir 40 tahun itu tidak bisa berusaha menahan tawanya dengan sikap Takako yang menepuk-nepuk pundak Minho dengan santai, tanpa Minho bisa menolaknya.
Takako lalu memberikan pedang emas untuk hadiah bagi kerajaan dari Tsushima. Jeong Seok dan isteri berterima kasih atas semuanya.

”Takako Gongju ini.. pasti wanita pemberani.. iya kan, isteriku??,” tanya Jeong Seok pada isterinya yang berdiri di belakangnya
Isteri Raja itu pun tersenyum,” Takako Gongju harus kita berikan rumah yang bagus dan juga perayaan pernikahan yang hebat”
”Terima kasih, baginda Ratu.. tapi..ini semua berkat jasa Minho..,” balas Takako menunduk hormat pada Ratu.
”Aku juga mempertimbangkan saran-saranmu yang ditulis ulang oleh Gubernur Choe.. itu hal yang bagus,” kata Jeong Seok
Minho menunduk hormat,”terima kasih, Yang Mulia Raja. Maafkan kalau isteri saya tidak sopan”
Jeong Seok malah tertawa senang,” Minggu depan... kita akan rayakan pesta meriah untuk Jendral Lee dan juga Takako Gongju..aku perintahkan para juru masak kerajaan membantu perayaan ini”
”dengan mengirimkan 1000 prajurit adalah usaha kami supaya perompak itu dapat cepat ditumpas. Untuk Chang Yue, akan dibicarakan segera dengan Jendral Lee dan Jendral Kwon,” lanjutnya
Minho dan Jendral Kwon yang ditunjuk langsung menunduk hormat dalam-dalam, menerima keputusan raja mereka.
Jeong Seok lalu meneruskan pertemuannya dengan para kepala daerah dan juga para Jendral. Takako langsung dibawa Isteri Raja, Maharani Seon ke salahsatu ruangan istana kerajaan untuk beristirahat.

”Minho itu...apa sibuk sekali?? Apakah dia berasal dari keluarga disiplin?,” tanya Takako, cuek pada Maharani Seon
Maharani Seon yang lembut menjawab,” dia termasuk Jendral muda yang hebat dan selalu suamiku suka padanya”
Takako mengetuk-ketuk pipinya,”Ya.. ya.. sewaktu perang saja, dia garang sekali.. aku tidak sangka..cowok yang wajahnya kelihatan lembut bisa seperti itu”
”Bukankah... Takako Gongju juga hebat??,” senyum Maharani Seon
”Ah...aku tidak sehebat itu..aku tidak punya ilmu pedang naga halilintar seperti dia,” Takako malah tertawa dan menepuk-nepuk pundak Maharani
Beberapa pengawal wanita ingin melarangnya, tapi Maharani Seon malah tidak mengapa diperlakukan akrab dan dia melarang para pengawal wanitanya menahan Takako untuk menyentuhnya.
”Minho marah padaku kalau seperti ini.. katanya aku tidak sopan,” keluhnya pada Maharani ketika mereka sudah sampai diruangan dan duduk.

Dua pelayan wanita istana mengeluarkan sebuah kotak yang ternyata isinya baju hanbok yang sangat indah.
”whoaaaaa... apa ini? Baju negeri kalian?? Indah sekali!!!,” Takako takjub dengan bentuk dan warna hanbok yang dilihatnya cerah dan cocok untuk kulitnya
Maharani Seon berdiri di depannya,”ya.. cantik sekali.. cocok untuk Anda.. kami memberikannya.. tinggal menunggu Jendral Lee melihat Anda cantik dengan ini”
”wah... gambsahabnida.. aku senang sekali! Negeri kalian memang hebat.. kulihat kemarin aku bersama Gubernur Choe mengunjungi para nelayan, mereka bahagia,” kata Takako dengan mata berbinar
Maharani Seon senyum padanya dengan lembut dan meminta kedua pembantu kerajaan membantu Takako mengganti kimono nya dengan hanbok.
Setelah dua jam berdandan, Takako dan kedua pembantu keluar dari ruang ganti, dia sudah cantik sekali.
”Lihat.. cantik bukan??,” Maharani Seon menyuruhnya melihat cermin bersama.
Atashi wa kirei ni naru...... ureshiiii (aku jadi cantik..senangnya),” kata Takako manja. Dia mencubit kedua pipinya, teriak kesakitan sendiri, tak percaya kalau dia jadi cantik dengan memakai Hanbok khusus memang hadiah dari istana dengan hiasan yang mahal.
Maharani Seon tidak mengerti bahasa jepang Takako, tapi dia jadi tertawa kecil,” Jendral Lee pasti makin cinta padamu, Takako gongju, hihi”
ee.. itu pasti..,” kata Takako penuh semangat. Dia berdiri lalu berputar-putar dengan Hanboknya.
”Nyonya cantik sekali,” kata salahseorang pembantu kerajaan

Tapi lalu dia duduk lagi di hadapan Maharani Seon,”Tapi, Ratu... setahu aku.. Minho sudah punya pacar disini... benarkah??”
”Ya... sepertinya begitu...aku pernah dengar.. namanya Geum Hee Kyung... anak kepala daerah Geum,” jawab Maharani Seon
”apa dia cantik??,” tanya Takako sambil cemberut
”Takako Gongju juga cantik dan pemberani.. Jendral Lee juga pasti suka dengan Anda.. Anda hebat bertarung..aku sama sekali tidak,” senyum dan jawab Seon
”Aku takut kalau Minho akan meliriknya lagi,” kata Takako lagi, masih cemberut.
Seon tersenyum padanya,” Lelaki..bukannya biasa punya selir?”
”aah.. aku tidak suka! Aku bukan anak Raja di sana.. aku hanya anak Daimyo dan memang ayahku punya 3 isteri.. tetapi aku lahir dari isteri pertama dan ibuku sangat mengabdi pada ayahku.. jadi aku tidak suka kalau Minho suatu saat akan melirik pada Hee Kyung,” kata Takako lagi, masih pasang wajah cemberut.
”Apa Ratu tahu.. sejauh mana cantiknya Hee Kyung itu??,” dia masih penasaran
” Aku hanya berjumpa dia sekali..sewaktu perayaan keluarga di musim semi,” jawab Seon lembut
Takako berdiri lagi,” Aaah.. bagaimana kalau nanti Minho bertemu dia lagi?? Aku tidak suka”
” Kalau memang Jendral Lee lelaki yang setia, tentu dia tidak akan berusaha bertemu dengan Nona Geum itu.. dia akan sibuk dengan pekerjaannya,” balas Seon

”ya.. baiklah.. hanya.. kalau Geum Hee Kyung itu menganggunya..aku gak akan segan bertarung dengannya,” kata Takako, seperti mengancam.
Lalu,”Ah.. iya, Ratu.. Aku bisa ajarkan satu dua jurus dari Tsushima kalau Ratu mau!,” kata Takako lagi dengan ekspresi semangat, menjentikkan jarinya
”Begitukah??,” tanya Ratu dengan senyumnya
”Ya.. akan aku ajarkan Ratu cara menggunakan pisau untuk membela diri... ,” semangat Takako
”Minho saja mungkin kalah denganku kalau bertarung dengan pisau kecil,” lanjutnya lagi.
”Mungkin lain waktu aku katakan pada suamiku, kalau aku ingin berlatih denganmu,” senyum Seon
”nah, begitu..aku juga akan katakan pada Minho, kalau dia harus membiarkanku mengajarkanmu,” balas Takako dengan nada suara ceria.
Dia lalu berdiri dan menghadap jendela, melihat keluar.
”aku jauh dari kedua orangtuaku...aku berharap.. disini aku akan dilindungi Minho dan semua orang baik padaku,” katanya menerawang keluar jendela.
”Dan..sepertinya Anda memang Ratu yang baik sekali..,” senyumnya pada Maharani Seon.
”Aku yakin Minho akan membela Anda ketika suatu saat mungkin negeri ini genting... dia lelaki hebat,” lanjutnya lagi
” loyalitas Jendral Lee tidak perlu diragukan lagi..dia sudah berani menjadi prajurit sejak usia 16 tahun,” balas dan senyum Seon

”Benarkah?? Wah.. Minho ternyata lelaki yang keras bekerja,” Takako duduk lagi di depan Maharani Seon dan dia senang mendengar cerita tentang Minho dari mulut Sang Ratu
Maharani Seon bercerita terus tentang karir Minho yang dia tahu, karena Minho memang anak seorang Jendral. Matanya berbinar-binar mendengar cerita tersebut.
” Jadi..Minho sudah 10 tahun lebih mengabdi pada Raja?? Sugeeeee (hebat),” Takako jadi setengah teriak,” Aku bangga pada Minho!”
Kedua pembantu kerajaan senyum-senyum saja melihat ekspresi Takako yang memang dia ekspresif sekali.
” Jadi..aku harap.. Takako gongju akan bahagia tinggal disini..,” senyum Maharani Seon
”Pasti! Aku akan senang menjadi bagian dari Joseon..,”jawabnya semangat.
Mereka terus mengobrol sampai berlarut-larut, sampai Minho dan yang lain selesai pertemuannya.

Minho melihat Takako berjalan di lorong kerajaan mencari dirinya, didampingi dua pengawal wanita. Ketika mereka sudah dekat, Takako berlari menuju Minho.
Minho terpesona padanya, ” wah.. cantik sekali memakai Hanbok”
Takako berlari dan langsung memeluk Minho, manja padanya. Kedua pengawal wanita hanya senyum saja dan menunduk hormat pada Minho.
Naega anaeuneun hanboggwa maeu aleumdabseubnida,” senyum Minho padanya, mengatakan kalau Takako sangat cantik memakai hanbok itu
” Ratu Seon yang memberikannya untukku,” jawab Takako, dia berputar-putar di depan Minho.
”cantik,” senyum Minho
Kedua pengawal memberikan kotak yang isinya kimono Takako dan beberapa Hanbok pemberian Ratu pada Minho. Mereka lalu ijin pamit.
”aku ingin mengajak kamu jalan ke pembuat baju... aku harus membeli beberapa baju untukmu,” senyum Minho
” o ya?? Nae wonhaneun!,” balas Takako dengan semangat

”Apa disini ada semacam pasar begitu??,” tanya Takako ketika melewati lorong kerajaan menuju gerbang luar istana, tangannya tanpa ragu menggenggam tangan Minho. Beberapa pengawal kerajaan yang berjaga-jaga disudut-sudut lorong menghormat pada mereka. Beberapa berani tersenyum karena mereka lihat tingkah Takako manja pada atasan mereka.
Minho mengangguk, tapi untuk memesan baju, dia tidak mau pergi ke pasar, dia maunya memesan khusus, sebab sesuai dengan gelar yang dia dapat. Dia akan memakai juga semacam tanda ornamen di dadanya sebagai bagian dari kehormatan kerajaan.
” Jadi..kita ke penjahit baju kerajaan,” kata Minho senyum
”Aku mau!,” teriak Takako.
Minho menyentuh bibirnya,” jangan berisik.. kasihan para pengawal”
Tak disangka.. Geum Jae Sang lewat di depan mereka. Minho menunduk hormat. Takako yang melihat Minho seperti itu pun ikut saja.

”maaf tidak menyapa Kepala Daerah Geum sedari tadi.. bagaimana kabarnya, Tuan??,” senyum Minho padanya.
Geum melihat Takako dengan tatapan tegas dan agak sinis.
dangsin-ui anaeneun sseusima-eseo??,” tanya Geum
ye.. dangsin-ui ttal nae salang-e daehan yugam... naneun geugeos-e daehae yaegihabnida..,” Minho menunduk hormat dalam pada Geum. Dia tidak enak hati ketika Geum bertanya, ternyata Takako adalah isteri diplomatik nya Minho dan Minho berjanji akan membicarakan masalah cintanya pada Hee Kyung, anak Geum.
Chughahabnida,” kata Geum datar, lalu berlalu dari hadapan Minho dan Takako.
Minho menunduk hormat padanya walau Geum berlalu,” daedanhi gambsahabnida, Geum-ssi,”
Minho tahu, Geum kecewa dengannya. Takako tidak mengerti.
”kenapa orangtua itu? Siapa dia??,” tanya Takako
” ayah Hee Kyung,” jawab Minho singkat
”oh,” balas Takako
”Lalu..apa kamu mau bertemu Hee Kyung, Minho??,” lanjutnya lagi. Tatapan matanya berubah kosong. Dia memang berharap Minho melupakan cewek itu selamanya.
ye.. naneun geunyeoleul ij-jihalyeogohabnida.. geuleona naega na saie munjuleul chwiso geunyeowa iyagihaja geunyeoui (ya.. aku akan berusaha melupakannya.. tapi aku ingin bicara dulu dengannya, menyelesaikan masalah antara aku dan dia),” jawab Minho dengan suara lembutnya. Dia tidak ingin menyakiti hati Takako. Bagaimanapun sudah janjinya pada Klan Sadamori kalau dia harus menjaga perempuan itu di negerinya.
Takako lalu diam, berjongkok dan menangis.
atashi.. hontou ni kowai.. Minho wa yori kanojo o aishite baai (aku takut kalau Minho lebih cinta dia dibanding aku),”
kanojo wa anata no mukashi no koibito da no ni (dia kan mantan pacarmu),” lanjutnya lagi
atashi wa anta ga kanojo o aishite..shitakunai (aku gak mau kamu cinta padanya),”
Minho tertegun dengan perkataan isteri diplomatik nya itu baru saja. Dia sadar, sebenarnya Dia lalu ikut berjongkok
museun-il issdeolado... Takako salanghae (apapun yang terjadi, aku cinta Takako),” senyum Minho padanya, mengangkat wajahnya lalu mengusap  air mata di pipinya.
Nan dangsin-i geunyeoleul salanghabnida dulyeobda (aku takut kamu cinta dia),” kata Takako terbata-bata
Minho senyum,” Ani.. watashi wa anata o aishite dake.. nan geunyang salanghabnida (tidak..aku hanya akan cinta kamu)”
Lalu dia mencoba membangunkan Takako dari duduknya, memeluknya. Tidak peduli disana ada beberapa pengawal di depan gerbang istana yang melihat mereka.
”Aku sudah berjanji..dan tidak boleh ingkari janjiku,” kata Minho memeluk Takako
”Aku sudah merasa bahagia Minho akhirnya bisa cinta padaku,” jawab Takako.
”sudah ya? Kita harus pergi ke penjahit Yeon... ,” senyum Minho padanya. Lalu mereka ke tempat kuda ditambatkan dan pergi dari istana

Malamnya, mereka kembali ke rumah tugas Minho. Para pengawal dan pembantu Minho menyapa Takako dengan ramah.
Mereka duduk di ruang tamu. Takako langsung bisa ramah dengan mereka
”Jadi.. kamu sudah ikut suamiku sejak umurmu 15 tahun??,” tanya Takako pada Sim Hwang, salah seorang prajurit
”Ya.. Daejang mengambil ku jadi penjaga disini,” senyum Sim Hwang, lelaki 20 tahun
”Tapi.. kamu sudah pernah ikutan bertempur?,” tanya Takako lagi
”aku mata-mata,” jawab Sim Hwang
Takako menepuk pundak lelaki itu sampai tubuh Sim Hwang terguncang,” Suge... kamu hebat!!”
Minho senyum dengan tingkah Takako yang mudah akrab dengan para prajurit dan pembantunya.
”lalu.. kamu kenapa bekerja dengan Minho??,” tanya Takako pada seorang pembantu perempuan
”Aku harus membayar hutang kedua orangtuaku,” kata perempuan yang juga usianya tidak tua, mungkin baru sekitar 17-18 tahun
”heeeehhh... kejamnya.. ,” balas Takako
Perempuan itu tersenyum,” Kalau nyonya memiliki kesulitan.. bisa bertanya padaku”
Mereka ngobrol sambil minum-minum, tertawa-tawa.
”hahahaha!,” tawa Takako keras pada yang lain, saling mengangkat gelas. Dia ceria sekali dengan mereka.

Minho meninggalkan mereka tanpa banyak bicara, ternyata dia bertemu Hee Kyung.
Mian, Hee Kyung.. aku benar-benar tidak bisa melanggar titah Yang Mulia Raja,” Minho benar-benar merasa bersalah.
Hee Kyung termenung,” katamu.. sehabis kamu pergi dari Tsushima.. kamu janji akan menikahiku.. ternyata”
”Aku minta maaf.. aku tidak menyangka semua ini akan terjadi,” kata Minho. Dia menunduk.
”aku berharap.. kita lupakan semuanya,” katanya lagi.
”Mana bisa aku lupakan begitu saja, Minho?? Huh??,” Hee Kyung berteriak, dia sakit hati. Dia sudah membayangkan akan bahagia menikah dengan cowok itu, ternyata Minho kembali justru membawa perempuan lain jadi isterinya.
”KAMU MENGKHIANATIKU, MINHO!,” teriak Hee Kyung
”aku minta maaf,” Minho menunduk di depannya, menunduk dalam sekali, tidak berani menatap wajah mantan kekasihnya itu.
Hee Kyung menangis.. Minho malah akhirnya memeluknya..

Takako berlari mencari Minho, bersama dengan Sim Hwang. Sim Hwang memberitahu dimana rumah Hee Kyung. Sampai di depan gerbang, pengawal mengijinkan mereka masuk.
Takako melihat pemandangan itu.. Minho sedang memeluk Hee Kyung..
Dia terpana saja.. sementara Sim Hwang yang juga melihat terdiam, tidak berkomentar apapun..
”aku minta maaf sekali, Hee Kyung.. aku sama sekali tidak bermaksud menyakitimu.. tapi..aku harus berusaha mencintai Takako dan tidak bisa berkhianat padanya.. aku sudah janji pada Klan Sadamori, kalau aku harus menjaga nya.. termasuk menjaga hatinya,” kata Minho
”kenapa semua ini terjadi, Minho?? Aku sudah senang kamu berjanji ingin menikahiku,” jawab Hee Kyung dengan terisak.
”Minho...,” kata Takako pelan. Dia mematung dan masih melihat pemandangan itu.
”apa.. Minho cinta padanya.. lebih dari aku??,” katanya lagi.
”Maafkan aku.. aku harus melepas cinta ku pada mu...dan belajar mencintai Takako,” kata Minho
Dia lalu melepas pelukannya pada Hee Kyung. Dari jauh, dia melihat Takako yang berdiri disamping Sim Hwang.. air mata perempuan Tsushima itu mengalir, tapi tanpa suara.
”aku harus pergi.. Takako sudah menunggu,” senyum datar Minho pada Hee Kyung
Hee Kyung menoleh, dilihatnya memang ada seorang perempuan berambut panjang dengan Hanbok warna kuning ceria dan ber ornamen phoenix di dadanya. Yang dia lihat adalah Takako.
”aku pergi... sekali lagi.. maafkan aku,” Minho menunduk hormat dalam-dalam pada Hee Kyung dan melepas genggaman tangan Hee Kyung.
Lalu dia berjalan menuju Takako dan senyum..
”aku sudah menyelesaikan urusanku... hanya Takako yang aku cinta,”
Wajah Takako masih berlinang air mata, dia diam saja.
Minho mengusap air matanya,”kita harus pulang.. kamu pasti lelah”, dia genggam tangan Takako. Sim Hwang mengikuti mereka dari belakang, setelah menunduk hormat pada Hee Kyung.

Sampai di rumah Minho, Takako diam. Minho memeluknya diatas tempat tidur
”aku minta maaf.. tapi..semua rasa cintaku sudah selesai dengan Hee Kyung.. ,”
”Minho..,” balas Takako pelan. Dia masih berlinang air mata
”aku janji.. aku akan jaga kamu... jangan khawatir lagi.. aku tidak ingin apa yang aku ucapkan akan ku langgar,” kata Minho lagi. Dia mengusap-usap rambut Takako yang panjang sekali
”aku hanya mau dipelukanmu malam ini, Minho.. aku takut,” kata Takako
Minho terus memebelai rambutnya yang hitam tergerai panjang. Takako berusaha tidur dalam pelukan Minho.
”Minho hangat sekali,” kata Takako
Minho senyum saja dengan isteri hubungan diplomasi itu.
”Hee Kyung.. aku harus memilih Takako,” katanya dalam hati.
’Minho.. jangan pernah tinggalkan aku..,” kata Takako
”Ya.. aku janji,” senyum Minho padanya, mencium matanya Takako. Dia memeluk isterinya itu erat-erat, lalu menarik selimutnya.
Bulan purnama di malam itu menandakan hari pertama Takako tidur di dalam rumah Minho...dalam pelukannya.. dalam keresahan hati, ketakutannya suatu hari Minho masih mencintai Hee Kyung..


Bersambung ke part 7....