Setelah
Minho pergi ke Singapura selama 3 hari, dia kembali lagi dengan panggilan dari
beberapa dosen mata kuliah.
“kalau begini, Lee san.. nilaimu bisa
turun,” kata Yamada, guru tehnik gambar animasi yang sekaligus dosen bimbingan
belajarnya.
”Sumimasen
deshita, Sensei.. tapi,saya memang membutuhkan pekerjaan untuk anak dan
isteri saya,sebentar lagi isteri saya melahirkan. Untuk alasan kemarin ke
singapura, saya sudah coba katakan pada Takeuchi san.. yang mengurus soal
manajemen model supaya saya tidak lagi jauh-jauh sampai ke luar negeri
bekerjanya,” Minho masih berdiri dan menunduk hormat pada Yamada.
”aku sebagai dosen pembimbing juga
sebaiknya tahu masalah yang sedang menimpamu..tidak semudah itu, Lee san,”
balas Yamada
”wakarimashita,”
balas Minho,”saya berterimakasih Sensei sangat banyak membantu,”
”lagipula kamu tidak menyusahkan...kamu
pintar...aku masih beruntung punya anak bimbingan kamu,”
”terima kasih...saya akan berusaha yang
terbaik,” Minho menunduk hormat lagi
”kalau kamu gagal dalam studi yang baru 2
semester ini...rasanya disayangkan sekali,”
”saya akan berusaha, Yamada san...mohon
bimbingannya,”
”aku kebingungan apakah habis dari
singapura, akan berhenti saja??,” tanya Minho ke Aiko
”kenapa?? Apa...nanti enggak akan membebani
lagi??aku sudah tidak apa Otto mau
kerja jadi model,” Aiko merangkul Minho yang sedang duduk, dia hentikan
mengerjakan tugasnya
”lama lama aku harus berfikir jauh,” balas
Minho
”dou
itu koto?? Apa.. sudah menyerah??,” tanya Aiko, bingung
Minho menggeleng,”memikirkan waktuku
bersama anak nanti...kalau aku tinggalkan dia..rasanya khawatir”
Aiko malah memeluk Minho,”aku cinta
kamu..,”
”eh hehehe... enggak usah begini..aku lagi
sibuk,”
”tapi benar..aku sungguh cinta Otto.. rasanya..Otto sempurna untukku,”
”apa.. ayah dan ibu sudah gak sabar lihat
dia??,” masih kata Aiko, membicarakan orangtua mertuanya
Minho mengangguk,”pertama untuk mereka,”
lalu dia senyum
Minho malah melepas pelukannya, lalu
berdiri.
”loh..mau kemana??,” Aiko bingung.
Minho memberikan tangannya,”ke kamar..mau
apa lagi??hehehe”
”sudah 6 bulan ya... 1 bulan lagi kita ke
Seoul..dia sehat kan??,” Minho memegang perut Aiko
”ee..sehat
sekali..aku senang,” jawab Aiko
”ada hal yang aku bingung...tentang teman
teman kita,”
”apa itu?,”
Minho memang suka juga memikirkan nasib
teman-temannya sesama gang.
”Ichi kun...tampaknya dia semakin kurus,”
balas Minho
”uhmm...bukannya.. Otto juga makin kurus ya??mungkin dia
kebanyakan tugas,” balas Aiko. Dia menyamakan kondisi Ichirou dengan Minho yang
sama sama mulai kurus karena kebanyakan pekerjaan.
”aku kan kurus karena memang harus
menguruskan sedikit, aku kan harus tetap fit dengan baju...tapi aku mau kamu
dekat dan biar dia curhat sama kamu,” ujar Minho
Aiko menoleh,”apa??enggak salah??”
”kenapa?? Takut kejadian seperti dulu
lagi??,”
Aiko mengangguk,”aku gak sangka.. Ichi kun bisa sampai segitunya”
Minho mengelus elus rambutnya Aiko,”shikashi.. ano toki wa anta o mamotta..bujidatta
you ni...saat itu kan..aku melindungimu..jadi kamu safe...aku hanya merasa
aneh dengan Ichi kun akhir akhir ini”
”curhat saja dimarkas..seperti
biasa..sepertinya dia hanya bisa cerita denganmu ,” lanjut Minho lagi
Aiko bergumam. Dia takut kejadian kemarin
terulang lagi dan lalu Minho dan Ichirou bisa saja saling berantem lagi
”aku usahakan..aku akan hubungi segera
Ichi kun,” balas Aiko
”Ichi kun memang akhir akhir ini mendadak
jadi pendiam,” kata Ken, mereka semua kumpul dimarkas tanpa Ichirou dan sakura,
pacarnya
”apa Sakura chan tahu kondisi terakhir
pacarnya??,” tanya Minho
”buruknya, Ichi kun itu terkadang
menyimpan apapun sendirian,” keluh Aiko.
”sewaktu aku masih satu sekolah dengannya,
dia begitu ceria, dia bisa buat teman temannya tertawa.. tapi dia enggak pernah
cerita tentang dirinya sendiri,” lanjut Aiko
”bahaya kalau begitu,” gumam Minho, dia
berfikir
”apa.. dia jangan jangan coba drugs??,”
kata Rin, menebak nebak
Mereka semua menoleh bersamaan pada Rin,”Nani?? Hontou??”
”aaahh.. enggak enggak.. aku cuma tebak
tebakan aja kok..,” Rin jadi tengsin dengan perkataan teman temannya yang
terkesan kompak sama sama bilang ”Apa?? Beneran??”
”Tapi..memang itu bisa ditakutkan loh,”
gumam Makoto,”lebih baik kita tarik Sakura chan.. kita paksa ngobrol sama dia..
”
”ah...Sakurachan saja tidak mengerti jalan
pikirannya,” Minho cemberut,”padahal..aku juga pikir.. dia teman baikku.. tapi
aku juga gak bisa membantunya”
”kalau begitu..kita datang saja
kerumahnya,” kata Aiko
”kamu tahu??,” tanya Makoto dan yang lain
mengangguk
Aiko mengangguk,”tahu.. kapan kita mau
kesana?? Jangan sampai kita gak tahu nasib teman kita ini”
Mereka mencari cari waktu yang tepat
sampai akhirnya diputuskan minggu depan akan pergi diam diam tanpa
memberitahukan Ichirou terlebih dahulu.
Musim semester kuliah sebentar lagi
datang. Biasanya para mahasiswa malah mendapatkan banyak tugas dan begitu pula
dengan pasangan muda ini. Mereka
jadi tambah sibuk, terutama Aiko.
”kamu.. beneran sama sekali tidak akan
capek, sayang??,” Minho memeluk dan menciumnya dari belakang, mereka duduk di
ruang depan sambil mengerjakan tugas sama-sama.
Aiko menggeleng,”tidak sih.. lagipula kan
bukan kerja kelompok.. Otto sendiri.. bagaimana?? ”
Minho melepas pelukannya,”baruselesai
tugas..”, dia merenggangkan kakinya dipanjangkan ,”haaaaahhhhhhhhh... asik
sudah selesai!”, lalu berdiri dan lari lari kecil.
Aiko tertawa kecil lihat tingkah
pasangannya,”asik ya.. sudah selesai tugasnya”
Lalu Minho duduk lagi di depan Aiko,”Aiko
chan.. boku ni okora nai de kure.. jangan marah dengan ku ya, please”
Aiko heran, ada apa dengan suaminya
itu,”kenapa??”
”aku..berhenti kerja jadi model,” Minho
menatap tajam mata Aiko
Aiko kaget,”naze ka?? Bukannya Otto sudah janji mau jadi model saja?? Nanti..
bagaimana uang untuk pergi liburan ke Seoul dan kelahiran ini??”
Minho duduk lalu memainkan jari jari
kakinya,”aku capek.. malas sekali jalan jalan kesana kemari.. sudah beberapa
kali aku bolos dan Yamada sensei memperingatkanku.. ini,”
Dia mengeluarkan surat, ternyata surat
peringatan soal bolos kuliah
”Ya ampun, Otto.. ini kan harus diberikan pada ayah dan ibu mertua,”
Aiko kaget dengan menutup mulutnya
Minho mengangguk,”iya.. makanya..aku takut..aku
kan anak beasiswa lagi.. huff”
Aiko membaca surat peringatan itu..
dilihatnya memang Minho sudah banyak sekali bolosnya, kalau terhitung hari,
sampai 30 hari atau satu bulan.. mestinya tidak ada ampun dari akademisi.
”Aduh..
dicabut tidak nih.. uang
beasiswanya??,” Aiko jadi malah panic
”belum sih,” Minho cemberut,”itu makanya..
aku berhenti saja deh jadi model”
”kamu harus tetap bilang ayah dan ibu,”
kata Aiko, maksudnya adalah orangtua Minho
”nanti aku dimarahi.. kamu saja yang
bilang ya??,” Minho malah minta bantuan pasangannya itu. Dia memang malas
mendengar ayahnya mengoceh.
”Tapi.. ini sungguh beasiswa tidak dicabut
kan?? Ya ampun.. kenapa sih..
ini gak kita bicarakan, Otto?? Otto mulai sembunyikan sesuatu lagi dariku,
uh!,” Aiko cemberut juga dengan pasangannya itu. Mood nya jadi ikutan
berantakan.
”maaf deh.. aku takut nanti kamu ngambek
lagi,” jawab Minho
”kan.. kamu belum lihat aku ngambek atau
gak??,”
Minho diam saja, lalu..,”tolong dong..
telepon Appa dan Eomma,” dia memberikan Hp nya pada Aiko.
”uh.. sini,” Aiko mengambil Hp dari tangan
Minho dengan nada agak ketus
”lalu..aku harus bilang apa pada ayah dan
ibu mertua??,” lanjutnya lagi
”huff..bilang apa ya??”, Minho malah jadi
bingung sendiri, sikap anak anaknya langsung muncul lagi.
”basa basi dulu deh.. kalau kita janji mau
kesana,”
”trus?? Nanti kalau ditanya soal kuliah..
aku jawab apa?.,” tanya Aiko
”ungg..,” Minho malah mikir sambil
cemberut
”Otto sih, ah.. dari awal aku kan bilang..
aku gak setuju kamu jadi model.. aku cemberut.. kamu gak peduli dengan kata
kataku.. sekarang malah jadi
dapat peringatan kuliah..,” lama lama Aiko jadi kesal juga dengan keegoisan
Minho
”Otto egois... sekarang ketika dapat
kesulitan.. aku juga yang harus bicara dengan orangtuamu,” lanjutnya lagi
Minho jadi tambah cemberut diceramahi dan
dianggap apa yang kemarin dia lalukan tidak berharga dimata pasangannya itu.
Dia lalu berdiri, diam, masuk kamar dan membanting pintu.
”BLAM!,” suara pintu dibanting keras oleh
Minho.
”TERSERAH.. AKU CAPEK!,” kata Minho,
teriak dari dalam kamar
”AKU JUGA CAPEK DENGAN KAMU, OTTO.. KAMU MASIH SEPERTI ANAK ANAK,” Aiko balas
teriak. Dia lalu mengerjakan
tugasnya sampai selesai.
Minho benar benar mengurung diri dalam
kamar sampai malam.
Aiko tidur di kamar sebelah, kamar yang
suka dipakai Minho bekerja.
Hampir tengah malam, akhirnya Minho keluar
kamar juga, dia lapar.
Dia lalu menuju dapur mereka yang kecil.
”umm.. masih ada makanan,” ternyata walau
Aiko ngambek dengannya, dia tetap berusaha masak.
Minho lalu makan seadanya yang disediakan.
Ketika dia sedang makan, ternyata Aiko juga bangun, lalu dia menuju kulkas dan
mengambil minum
Minho cuek makan. Aiko dengan masih
mengantuk sambil minum duduk di depannya, matanya masih agak agak terpejam.
Lalu setelah selesai minum, dia masuk lagi
ke kamar mereka biasa tidur bersama.
Minho cuma menoleh ketika Aiko masih
setengah sadar, masuk kamar.
”sama sekali dia enggak marah denganku??,”
gumam Minho
Dia lihat buku dan kertas tugas isterinya
itu berantakan di lantai.
”kasian juga.. banyak tugasnya tapi masih
sempat masak makan malam,” gumamnya lagi
Selesai makan, Minho masuk kamar,
diintipnya dari pintu Aiko yang tidur duluan.
Minho menghampirinya, memandangnya sambil
berjongkok.
”kasian sekali.. kayaknya kamu capek
banget ya, sayang,” diam diam dia mengelus pipi Aiko lalu menciumnya
Aiko ternyata bangun ketika Minho
menciumnya,”ada apa??”
Minho senyum padanya,”nan demo nai.. aku mau minta maaf lagi”
Aiko bangun dengan perut yang sudah berat,
Minho menolongnya,”masih banyak tugas ya??,”
Aiko mengangguk,”aku lupa.. satu lagi”
Dia lalu pelan pelan bangun menuju ruang
depan lagi.
Minho melihatnya dari dalam kamar, lalu
menghampiri nya yang sedang mengerjakan tugas, sibuk membaca. Minho berjongkok
dan memeluknya dari belakang.
”aku temani ya?? Biar gak cepat
mengantuk,” senyum nya
Aiko mengangguk saja, membiarkan Minho
memeluknya, tapi dia tetap membaca buku yang sangat tebal sambil mengerjakan
tugasnya.
Minho terus saja memeluknya sampai
berjam-jam, betah dengan kondisi seperti itu. Dia meletakkan wajahnya di pundak Aiko. Lama
kelamaan, Aiko merasakan pundaknya berat sebelah.. ternyata Minho sudah
ketiduran lagi
Aiko malah tertawa kecil, tangannya
berusaha meraih kepala Minho dan mengelus elusnya.
”Terkadang aku kesal banget dengan kamu,
Otto.. tapi..aku juga enggak bisa melepaskan kamu,” senyum Aiko pada wajahnya
Minho yang sudah tertidur.
Aiko berusaha mengerjakan tugasnya sampai
pagi. Sampai Minho bangun sendiri.
Mereka sibuk berjalan pagi itu, rencana
ingin pergi makan ke sebuah pantai di musim semi itu.
”Musim seminya sebentar lagi selesai..
bulan depan kita sudah persiapan lagi deh ke Seoul.. senang kan??,” Minho senyum pada Aiko, mereka
duduk di pinggiran pantai
”Eh..soal tadi malam.. biar aku saja yang
telepon Appa dan Eomma.. biar deh.. dimarahin,” kata Minho lagi
Aiko tersenyum lebar,”benar nih.. tidak
takut lagi dengan ayah??”, maksudnya adalah ayah mertua.
”gak deh.. nanti kalau seperti tadi malam
lagi.. lama lama kita bisa bosan bosanan deh,” Minho memandang pantai tapi
mengusap usap salah satu pundak Aiko
”eh..?,” ujar Aiko
Minho menoleh, Aiko malah
menciumnya,”chu.. Aku cinta Otto..”, lalu senyum
Minho menoleh kanan kiri dan belakang,
lalu berbisik,”banyak orang loh.. kok berani sekali sekarang??”
Aiko tersenyum dan terkekeh,”ki ni shinai.. i dont care.. namanya
juga cinta”
”terus.. masalah aku berhenti jadi
model??,” tanya Minho
”minta saja pekerjaan sama Tachibana san,”
jawab Aiko
”serius..tidak apa gajinya tidak banyak
seperti waktu jadi model??,”
Aiko menggeleng,”nan demo nai.. it’s okay”
”eh??,” kata Minho
Aiko menoleh, Minho malah menciumnya lebih
mesra dari Aiko tadi lakukan.
”cinta deh.. nyesel loh.. Ichirou kun gak
dapat kamu, hihihi,” Minho peluk Aiko sambil cekikikan
Aiko mencubit pinggang Minho
pelan,”eh..ternyata lebih genit dari aku”
Minho melepas pelukannya lalu tertawa
kencang
”tapi..gajinya kecil loh.. gak apa kan???,” tanya Minho lagi
Aiko menggeleng,”daijyoubu.. gak apa.. yang penting, kamu bisa dekat dengan ku.. dan
ini”, menunjuk perutnya
”Minho.. kamu harus segera ke rumah sakit,”
Makoto tiba tiba meneleponnya
Minho kaget dengan pemberitaan Ichirou.. ternyata
Ichirou mencoba bunuh diri!
Mereka semua segera pergi ke rumah sakit.
Dilihatnya, Ichirou memang sudah sadar, tapi ada balutan di nadi kanannya. Dia
malah tertawa ketika teman temannya datang
”bakayarou.. kalau kamu mati..
bagaimana??,” Minho kesal, mengomel dan memukul kepala Ichirou
”kamu bikin kitakhawatir, Ichi kun,” kata
Sakura, pacarnya
”ada masalah apa, Ichi kun..? cerita saja.. beberapa minggu ini memang
kamu sering menyendiri.. kami
sudah bicarakan.. kenapa kamu jadi seperti ini.. ,” Aiko berani memegang tangan
Ichirou. Minho melihat itu mencoba tidak marah, mencoba mengerti kalau
pasangannya itu ingin menenangkan Ichirou
”aku stress, bu Dokter.. banyak pikiran,”
Ichirou malah jawab bercanda pada Aiko
”tidak bisa begitu, Ichi kun.. kalau kamu punya masalah, ceritakan pada
kami,” kata Aiko lagi
”ah.. biasa.. masalah anak muda,” jawab
Ichirou lagi,”tapi aku memang lemah sih.. itu sebabnya ingin bunuh diri”
”jangan berkata itu lagi, Ichi kun.. kami
semua temanmu,” kata Ken
Minho bergumam dalam hatinya,”kok..aku
punya firasat.. Ichirou tidak akan lama??”
Lalu,”lain kali.. kalau punya masalah,
cerita.. okay? Bagaimanapun.. gak akan lengkap kalau kita gak sama sama,” kata
Minho pada Ichirou
”siap, boss... ,” jawab Ichirou bercanda
lagi
Mereka lalu ngobrol terus tertawa tawa
bersama di kamar Ichirou. Sampai pulang lagi.
”kalau nanti dia bisa berbuat nekat lagi..
ini bahaya,” kata Makoto, semuanya menngangguk
”jadi.. waktu orangtuanya temukan.. dia memang mengiris nadinya??,” tanya
Minho
Makoto mengangguk,”kata dokter tadi.. dalam darah Ichi kun.. banyak zat kimia
narkoba...shabu”
”Hananim..
O God,” Minho merasa kesal tapi sedih.
”Aku sedih...dia seperti tidak
menganggapku ada,” kata Sakura, pacarnya Ichirou. Aiko merangkulnya,
menghiburnya,”kita semua akan dekati Ichi kun.. supaya dia tidak begitu lagi”
”dia harus dibawa ke rehabilitasi mental,”
kata Minho,”nanti dia jadi addicted”
”tergantung orangtuanya dong.. apa mau
atau tidak anaknya direhab mental,” kata Ken.
”entah.. ketika tadi kita semua diruangan
itu.. aku merasa... ichi kun akan berpisah dari kita,” gumam Minho
”Otto.. jangan bicara seperti itu.. jangan membayangkan
yang tidak tidak,” kata Aiko. Yang lain juga jadi berfikir.
”Lalu.. harus bagaimana??,” kata Minho
”apapun yang dilakukan orangtuanya padanya
untuk perawatan Ichi kun.. harus kita dukung,” kata Ken. Semuanya mengangguk.
Keputusan orangtuanya Ichirou akhirnya
membawa dia ke pusat rehabilitasi. Orangtuanya sama sekali tidak memperhatikan
tingkah dan perbedaan anaknya saat menjadi pecandu shabu. Memang Ichirou menipu
diri dan orangorang sekelilingnya dengan menjadi orang yang ceria dan tampak
tidak punya masalah.
Ichirou tidak sampai harus menginap di
Rumah sakit rehabilitasi.. dia meminta berobat jalan saja. Dia berusaha
menjalaninya dengan dukungan dari teman temannya.
Sementer berlangsung. Ujian berjalan..
lalu.. waktu berlalu dengan cepat.
”Yeee... kita ke Seoul!,” Minho teriak
senang di dalam rumahsusun mereka, dia memeluk Aiko dan mengangkatnya
”eh... jangan angkat aku tinggi tinggi,
takut,” teriak Aiko
”besok loh.. kita siap kesana ya.. kamu
harus happy,” senyum Minho, dia masih menggendong Aiko
”sudah telepon ayah dan ibu kan??,” tanya
Minho, yang dimaksud adalah orangtuanya Aiko
Aiko mengangguk,”iya.. mereka kirim salam
untuk ayah dan ibu”
”Mudah mudahan mereka senang kita ke Seoul
loh,” senyum Minho lagi
Mereka lalu masuk ke kamar, berbaring,
saling menghadapkan wajah mereka ke langit langit
”sudah hampir satu tahun loh.. kita
menikah,” kata Minho,”gak terasa ya??,”
”ya,” jawab Aiko singkat,”lalu.. kita bisa
lewati ini semua.. umm..
rasanya cepat juga..”
”kecil kecil.. kita sudah nikah ya? Hehe,”
kata Minho cengengesan
Aiko menoleh pada Minho, lalu senyum,”yang
salah siapa ayooo??,” candanya
”kamu,” balas Minho,”kamu kan.. yang bikin
aku gak tahan.. takut direbut cowok lain”, dia merangkul leher Aiko dan
setengah tiduran.
”chu,” suara ciumannya pada pasangannya.
Wajah Aiko memerah.
”eh.. kebiasaan deh.. suka banget malu
malu,” goda Minho
Aiko merangkul Minho yang juga berbaring.
Minho mengenggam tangan pasangannya itu.
”Besok.. kamu pergi ke negara yang belum
pernah kamu lihat kan?? Seru loh.. nanti kita bisa jalan jalan ke Hanseong
river,” kata Minho dengan memandang langit langit, dia mengankat tangan nya dan
tangan Aiko yang dia genggam, lalu sikapnya seperti anak kecil, tangannya itu
seolah olah menjadi pesawat
”Ngenggggg.. lalu nanti si baby juga
terbang kesana,” katanya dengan ceria
Aiko cekikikan dengan sikap Minho yang
seperti anak anak.
”awas ya.. kalau nanti tiba tiba Otto
cemberut lagi,” dia malah seperti menyindir Minho
Minho melepas genggaman tangannya, lalu
menoleh dan dia bersikap cemberut,”seperti ini ya??”, lalu tertawa
Aiko malah tertawa,”iya.. sexy.. lucu.. tapi Otto menyebalkan kalau sedang cemberut”
Minho tertawa lebar, dia lalu duduk, dan
membangunkan Aiko pelan pelan supaya duduk juga.
”nyebelin ya?? Biasanya malah banyak cewek
bilang aku menyenangkan.. tapi kamu malah bilang aku nyebelin..jujur sekali,”
Minho memeluknya, menyandarkan wajahnya di bahu nya
”jadi.. aku jujur dong??,” senyum Aiko sambil
mengelus pipi Minho
Minho mengangguk,”iya.. eh tapi.. jangan
terlalu jujur dong”
”loh.. kenapa?? Bukan nya penting jujur
itu?? ,”
”iya sih.. tapi.. aku tahu kok.. kalau
orang berbohong atau enggak padaku, termasuk waktu beberapa cewek dekat dengan
ku,” Minho masih meletakkan dagunya di bahu Aiko
”kembali minggu depan ya.. Aiko chan..
Minho kun..!!!,” teman teman mereka mengantar sampai pintu keberangkatan
bandara
Aiko dan Minho melambaikan tangan pada
mereka
”jangan lupa oleh olehnya!!,” teriak Ken
Minho tertawa dari jauh,”Mochiron! Mata ne!!! (pasti.. sampai
ketemu lagi-red)”
”Ichi kun tidak mengantar kita,” kata
Aiko, mereka check in
”Makoto kun bilang.. dia sedang tidak enak
badan,” balas Minho
”semoga dia baik baik saja.. aku terkadang khawatir memikirkan teman
baikku itu,” kata Aiko
Minho senyum,”semua bisa baik baik saja
kok”. Minho menggandeng tangan Aiko, berjalan masuk ke waiting room. Mereka
tertawa tawa senang karena ingin bertemu orangtua Minho.
Ichirou duduk di kursi nya, memandang jendela
yang terbuka, sinar matahari pagi masuk dengan lembut
Ditangannya terasa ada tetesan cairan..
dia mendiamkan saja.. lalu, dia minum setumpukan obat yang ada di atas meja..
Dia pun tertidur sambil duduk.. sinar
matahari terus bersinar..
Bersambung ke part 21...