Starring: Lee Minho, Park Minseo, Lee Jin Ho, Lee
Young Joon, Lee Hana.
“Aku senang akhirnya kita menikah juga,”
Lee Minho, cowok usia 30 tahun, hari itu menikah dengan seorang cewek berusia
37 tahun, Park Minseo. Mereka liburan honeymoon
di pulau Jeju yang indah.
“harus punya anak segera.. usia mu kan
mendekati 40 tahun, Minseo..,” Minho manja, manyun dengan isterinya itu
“hey.. siapa suruh kamu menikah dengan
yang lebih tua??,” canda Minseo, dia menuangkan jus tomat ke dalam gelas Minho
“harus bisa.. 3 bulan ke depan harus ada
anak diperutmu!,” Minho menciumnya
“euh.. genitnya Nampyeon ku,” Minseo membalas dengan mengelus pipi Minho
Minho berdiri,”ayo.. ronde berikutnya,”
dia membopong Minseo ke kamar
“aah.. Minho nakal!,” balas Minseo
Hari dan dan bulan-bulan berlalu...
“ya.. Nyonya Lee hamil 2 bulan, Tuan Lee..
Chughaeyo,” kata dokter kandungan
“Hananim
gamsahabnida.. gambsahabnida, Uisa..,”
Minho senang sekali dengar berita isterinya akhirnya mengandung
“hati hati ya.. Nyonya sudah berusia
diatas 35 tahun loh,” senyum dokter kandungan
Mereka pulang dengan hati senang
“usia 35 tahun lebih itu terbilang rawan dalam
sebuah kehamilan. Tapi Nyonya tidak perlu khawatir kalau memang melaksanakan
hidup sehat. Sebaiknya Nyonya makan makanan yang bergizi, cukup istirahat,
tidak banyak pikiran, dan olahraga ringan,” dokter menasehati
“baik... saya coba lakukan, dokter,”
senyum Minseo.
Minseo melewati hari harinya dengan
berhenti bekerja, pekerjaannya sebagai manager dia putuskan dan berhenti
konsentrasi mengurus kehamilannya saja.
“kamu tidak capek kan, sayang??,” kata
Minho senang ditelepon kepada isterinya
Minseo menggerakkan panci kecil yang dia
ambil dari lemari atas dengan matanya..
“syuut,” panci kecil bergagang itu keluar
dari lemari yang tinggi, yang Minseo biasanya minta tolong Minho mengambilkan
untuknya, lalu dengan kekuatan mata nya, dia juga menyalakan pematik api kompor
gas lalu menggeser panci kecil itu ke kran dan merebus air untuk merebus sayur,
sementara dia hanya duduk di kursi makan.
Dia tertawa sendiri cekikikan, Minho heran
“kenapa, sayang? Kok senang sekali??,”
tanya Minho dari jauh
“ah.. enggak apa, Nampyeon.. aku sedang masak”, jawab Minseo santai
“Masak?? Tidak capek??,” tanya Minho
“Ani..
aku suka memasak..aku belajar masak,” balas Minseo
“Masakanmu sudah lezat kok, sayang...hati
hati ya.. kandungannya.. jangan sampai capek..aku pulang malam ini.. bisnis
bagus.. ini berkat anak kita,” senyum Minho
“hwaiting,
heoni Minho.. salanghae.. i love
you,honey,” goda Minseo, memanjakan suaminya dengan kata kata
“tunggu aku malam ini ya.. aku bawa oleh
oleh spesial untuk kamu,” kata Minho lagi
“pasti.. cepat pulang ya, honey,” balas
Minseo
Minseo masak dengan hanya duduk saja, dia
fokus menggerakkan segala barang barang dengan matanya.
Malamnya, Minho pulang..
“Aku pulang...eodi gyeseyo, Minseo..heoni??,”
dia gembira pulang ke rumah, membawa sebuah kotak
Minseo tidak mendengar suara Minho..
ternyata dia sedang asik bermain catur sendirian tapi mengangkat bidak bidak
dengan matanya..
“Minseo.. Heoni.. eodi gyeseyooo??,” Minho teriak, Minseo baru sadar
“ah.. suami ku pulang,” dia main
menghentikan permainannya, beberapa bidak catur jatuh ke lantai
“heoni..
nan yeogie! Aku disini sayang...,” Minseo datang padanya lalu memeluknya.
Minho mengangkat badan Minseo,”Hup!! Wah..
isteriku berat sekarang.. biasanya ringan sekali,”
Minho melihat beberapa bidak catur
dilantai
“main catur?? Memang bisa main catur
sendirian??,” senyum Minho. Dia lalu mencium mesra isterinya
“iya.. aku kangen main catur sama kamu..
jadi main sendiri deh,” keluh Minseo, tapi manja
Minho menurunkan Minseo, lalu mengambil
beberapa bidak catur dilantai,”besok aku mau libur sebentar.. kita puas puasin
main caturnya,”
Dia mengerling pada Minseo.
“perutmu besar sekali ya.. padahal baru 2
bulan lebih sedikit loh,” Minho mengelus elus perut Minseo
“uhmm... jangan jangan kembar??,” pikir
Minseo, dia memutar mutar bola matanya, Minho cekikikan melihat ekspresi Minseo
“kamu ini seperti lebih muda dari aku deh,
sayang..,” Minho menggendongnya lalu masuk kamar
“hey.. ah... Minho nakal sekali!!,” teriak
Minseo
Disebuah rumah fortune atau peruntungan...
tepat hari ke 100 perhitungan kehamilan Minseo..
“Kalau dilihat dari sini.. yang anehnya
adalah: ini ada malaikat dan ada raja bersamaan dengan sisi kartu anak anak
kalian,”
Mereka datang ke seorang peramal yang
cukup terkenal di kota Seoul
“maksudnya bagaimana, Kang-ssi??,” Minho heran. Minseo santai saja
mengikuti alurnya sang peramal
“disini terlihat.. mari saya buka satu
persatu.. disamping kiri ada iblis yang akan berusaha menyerang raja.. ini ada
di kartu anak kalian nanti,”
Minho memperhatikan dengan serius, Minseo
masih santai saja.
“Iblis ini adalah semacam cobaan hebat..
kemungkinan anak Anda berdua akan mengalami cobaan hebat dari berbagai pihak
yang akan jahat pada mereka... lalu ini Raja berdampingan dengan Malaikat..
anak Anda akan dikaruniai sebuah bakat hebat,”
“wow.. Anak kita, sayang.. aku bersyukur
sekali,” Minho senang
“tetapi.. akan banyak membawa masalah pada
kalian,” lanjut tuan Kang
“munje-ui
eotteon jonglyuui??,”
Minho malah jadi kepikiran
“jinjeong
haseyo, honey.. dont worry,” kata Minseo menenangkan hati Minho. Minho
memang tipikal cowok moody, panik
“ah, sayangku.. ini penting,” balas
Minho,”jadi.. maksudnya.. cobaan apa... masalah apa, Kang-ssi??”
“masalah ini akan berhubungan dengan Anda
juga, Tuan Lee,” jawab Kang
“Anda dan anak anda akan saling membawa
masalah,” lanjut Kang, wajahnya serius
“aduh.. masalah apa, Kang-ssi??,” Minho makin panik
“tenang, sayang.. ini kan hanya ramalan
saja,” kata Minseo, menangkan suaminya itu
“tidak bisa, sayang.. ini penting,” balas
Minho,”jelaskan pada kami apa yang akan terjadi.. dan kami harus apa, Kang-ssi,”
“Minho ini.. panik sekali,” keluh hatinya
Minseo.
“anak anda akan mempunyai kekuatan yang
berasal dari alam,” kata Kang mulai menjelaskan,”namun.. kalau kita buka kartu
Anda, Tuan Lee.. anda akan menemukan masalah dengan kekuatan mereka”
“Apa.. artinya ini kutukan untuk keluargaku??,”
Minho sudah mulai berpikir yang tidak tidak.
“Ani,
Tuan Lee.. tetapi kekuatan ini akan memberikan perlawanan pada Anda,” balas
Kang, serius.
“apa mereka akan membahayakan jiwa ku??,”
tanya Minho lagi
Kang membuka kartu di baris ke dua yang ada
orang dengan membawa pedang dan kuda, seperti ksatria tapi dibelakangnya ada
bayangan gelap
“jadi.. aku harus bagaimana nanti, Kang-ssi?? Kalau mereka sudah lahir??,” Minho
jadi kepo..tanya terus..
“heoni..
kamu tidak perlu sampai sepanik ini, sayang,” Minseo mencoba mengingatkan Minho
lagi
“suatu hari... Anda akan dibantu anak
sendiri dalam menyelesaikan masalah.. tetapi..anak anak Anda akan juga
menciptakan masalah,” kata Kang lagi
“lalu...untuk bisa menangkalnya..
bagaimana??,” tanya Minho lagi, dia penasaran dan khawatiran.
“Anda sebaiknya mencari bunga anggrek ungu
lalu ditaruh di kamar anda selama kehamilan isteri,” nasehat Kang si peramal
“baik, Kang-ssi.. selepas ini aku akan cari,” jawab Minho
“Minho.. sayang.. kamu terlalu panik
dengan penjelasan peramal Kang,” keluh Minseo di dalam kamar mereka
Disana sudah ada vas bunga beserta anggrek
ungu, sesuai dengan nasehat dari si peramal tersebut
“ini kan hanya anggrek saja, sayang.. ,”
balas Minho
“tapi kamu terlalu khawatir.. hanya sebuah
ramalan saja.. jangan terlalu dipercaya, Nampyeon,” bujuk Minseo.
“ingat tidak.. waktu kita mau menikah..
lalu kita pergi ke peramal?? Katanya aku bakalan menyusahkan mu.. tapi???,”
lanjut Minseo lagi
Minho menoleh,”tapi.. kamu menyusahkanku
kok,” dia cemberut
“di mana aku menyusahkanmu??,” Minseo
heran
“disini.. ummm..chu,” Minho malah
menciumnya, lalu tertawa
“ih..menyebalkan,” balas Minseo, memencet
hidungnya Minho sampai Minho mengaduh.
Minho lalu melipat tangannya,”eh.. beneran
aku khawatir sekali.. tapi.. yang aku herankan.. kenapa peramal Kang menceritakan
bahwa anak kita bakalan diberikan kekuatan dari alam?? Apa maksudnya??”
“umm... mungkin.. semacam punya kekuatan
supranatural begitu??,” kata Minho lagi
Minseo berfikir,”Minho tidak boleh tahu,”
katanya dalam hati
“ah... maksud mu.. anak kita akan jadi
anak indigo..seperti di tivi begitu??”
“ah.. masak iya bisa begitu??,” Minho
heran, menoleh pada Minseo
“tapi... kan tidak ada yang dari kita
punya kekuatan aneh aneh macam itu,” Minseo senyum manis pada Minho
“siapa yang tahu?? Mungkin dari garis
keluargamu??,” tanya Minho sambil cemberut
“Rasanya keluarga ku tidak punya yang
seperti itu,” jawab Minseo
“yakin?? Kalau dikeluarga ku sih.. memang
tidak ada.. semua biasa saja..,” balas Minho..
“yakin... yagsog... aku janji,” balas Minseo berjanji
Hari minggu.. keluarga Minho datang ke
rumah mungil mereka..
“kyaaa... Minseo... menantu Eomma yang
cantik,” ibunya Minho kecentilan memeluk menantunya yang sedang hamil itu
“sudah empat bulan ini.. tapi kok besar
sekali ya??,” kata ibu mertuanya lagi setelah selesai memeluknya
“iya, Eomma.. aku juga tidak tahu.. kami
belum USG,” senyum Minseo
“harus segera loh.. jaman sekarang, banyak
banget tantangan hamil.. apalagi kamu sudah mau 40 tahun..harus pandai pandai
jaga kesehatan,” bujuk ibunya Minho
“iya, Eomma.. besok mau diperiksa,” senyum
Minseo
“Minho..kamu sudah datang ke peramal Kang
kan??,” kata ibunya lagi, mereka makan siang sama sama
“kamu percaya banget dengan ramalan sih,
Bu??,” kata ayahnya Minho, ke isterinya sendiri,”jangan dipercaya hal seperti
itu... jaman sudah modern begini”
Minseo nyengir kuda, dia sebenarnya setuju
dengan ayah mertuanya yang tidak terlalu berfikir banget hal-hal seperti itu,
biar dia perempuan, dia termasuk yang memakai logika untuk menyelesaikan
masalah.
“tidak bisa begitu, suamiku.. Ramalan tuan
Kang itu banyak yang benar,” balas isterinya
“ah.. mana?? Dua tahun lalu dia meramal
Minho katanya akan mendapatkan masalah dengan menikah dengan Minseo, menantu
kita.. sampai sekarang tidak ada buktinya,” jawab ayahnya Minho
“kamu ini..selalu ada cara untuk mengelak
apa yang aku katakan,” balas ibunya
“ah.. Eomma..sudah biarkan saja..
lagipula..aku kan sudah menaruh bunga setiap waktu untuk menghalau kejadian
sial selama kehamilan Minseo,” balas Minho
“itu syarat dari peramal Kang pada
keluargamu??,”
Minho mengangguk menjawab pertanyaan
ibunya.
“menurut mu, Minseo.. apa peramal Kang itu
sakti??,” kata ibunya Minho
“umm.. menurutku biasa saja, ibu... dan..
aku tidak terlalu percaya kalau nanti anak anakku akan menyusahkan aku dan
Minho,” jawab Minseo, pede
“harus jadi cucu pertama yang manis,”
senyum ibunya Minho,”waktu kecil.. Minho manis sekali.. banyak yang suka
dengannya”
“itu kan karena kamu sering sekali ajak
Minho jalan jalan pagi dan sore ke playground.. sampai kamu rasanya tidak punya
waktu memasak untukku,” keluh ayahnya Minho, mengenang kembali rumahtangga nya
yang sudah terbina lama
Minseo tertawa kecil,”ah.. Eomma ternyata
terlalu memanjakan Minho.. pantas saja sekarang dia juga manja, hehehe”
Ayahnya Minho tertawa,”Eomma mu itu anggap
Minho sudah sebagai raja di rumah..”
“tapi Minho mandiri.. aku tidak salah
mendidiknya bukan??,” bela Ibunya Minho untuk dia dan anaknya
Minseo senyum,”iya, Eomma.. aku bersyukur
dapat Minho”
Minggu berikutnya, Minho dan Minseo datang
lagi ke dokter..
“Tuan dan Nyonya Lee.. ini sebuah hal yang
menakjubkan,” kata dokter kandungan
Minho melihat USG bayi mereka yang sedang
bergerak,”wow.. kembar 3”
Minseo senyum,dia gembira sekali,”wah..
padahal dikeluarga ku tidak ada yang kembar.. pantas saja perutku sudah besar
sekali”
“Makanmu juga jadi gila.. seperti
pegulat,” canda Minho
Dokter kandungan tertawa kecil,”belum
terlihat jenis kelaminnya.. menunggu 1 bulan lagi.. tapi ukurannya memang lebih
kecil dari bayi tunggal,”
“apa berarti harus caesar ya??,” tanya
Minho
“pasti.. Lee-ssi.. karena kembar 3 butuh waktu lama untuk melahirkan normal..dan
Nyonya Lee juga wajib sehat”
Sampai di rumah, Minho mengabarkan berita
penting pada ibunya, sementara Minseo sedang memasak makan malam mereka.
Minseo menoleh kanan kiri.. dia seperti
ingin melakukan sesuatu tapi tidak ingin Minho tahu.
“set set set..,” ternyata dia masak dengan
gerakan super cepat yang susah sekali diikuti oleh mata biasa, sementara Minho
masih tetap menelepon ibunya tanpa menoleh pada Minseo
“iya, Eomma.. kembar tiga.. wah.. ini
berat enggak ya??,” kata Minho, dia sudah khawatir duluan
“kamu ini.. kamu harus tetap semangat,
Minho.. enggak kebayang.. Eomma punya cucu sekaligus tiga.. membahagiakan
sekali. Oh! Eomma enggak sabar deh,” Ibunya kumat lebay nya
“Eomma dan Appa.. mau bantu aku kan..
persiapan kelahiran Minseo??,” pinta Minho
Sementara Minseo mengintip dari
dapur,”ah.. Minho masih telepon..aman”, katanya dalam hati
Semua benda dia gerakkan dengan cepat,
termasuk api saat memasak
Minho terus bicara dengan ibunya, sampai
akhirnya selesai.
“Minseo..sudah selesai masaknya??,” teriak
Minho dari ruang tamu
Minseo langsung memberhentikan kegiatan
super cepatnya itu,”ah.. iya Nampyeon..sebentar lagi.. tunggu”
Minho ke dapur,”wah.. cepat sekali
masaknya.. masak apa saja sih??,” dia mencium tiga masakan yang ada di depannya
“umm... ini,” Minseo menunjukkan satu lagi
“wah.. pudding manis buah kiwi..aku suka,”
Minho memeluk isterinya dari belakang
“ayo makan..aku lapar sekali,” senyum
Minseo
“eh..tapi sayang.. kamu kan masak tepat
pas aku telepon ya.. 15 menit yang lalu?? Hebat sekali kamu bisa masak semua
ini dengan cepat.. pakai resep apa??,” Minho agak bingung dengan kecepatan
kerja isterinya
Minseo jadi sedikit panik,”ah..enggak kok,
Heoni...ini biasa kok..”
Minho gak pikir panjang lagi, dia mencium
isterinya,”aelasseo.. ayo makan...
nanti bayi kita lapar loh...”
“kamu kuat sekali makan 3 porsi lebih??,”
Minho melotot kaget lihat makan isterinya
Minseo makan dengan lahap,”Ye.. aku lapar
sekali,”
Dia hanya sedikit menyisakan pudding nya,
Minho manyun.
“lalu.. masak aku cuma kebagian 2 iris
pudding??,” keluhnya
Minseo tertawa,”aku lapar, Minho, hahaha”
Minho malah jadi topang dagu melihat
isterinya makan,”hai, Minseo.. kamu kepikiran gak sih.. soal apa yang dikatakan
peramal Kang??”
“yang mana??,” tanya Minseo santai.. dia
malah menyuapi Minho pudding yang ada di piring kecilnya
“aamm,” balas Minho,”itu loh.. yang
katanya anak kita bakalan punya bakat hebat alami”
“Ah..enggak percaya.. peramal Kang kan
hanya menebak satu anak.. padahal anak kita akan kembar.. dia salah lagi dong??
Hehe”, balas Minseo enteng. Dia malah memainkan sendoknya ke mulut Minho
“eh.. aku minta.. kamu jahil sekali,
Minseo.. itu bagianku,” balas Minho, ketika dia ingin memakai pudding dari
suapan Minseo, tapi malah ditarik kembali oleh isterinya itu.
“ah.. hahahaha.. habisnya.. kamu ini
terlalu khawatir sekali, Heoni Minho.. santai saja,” balas Minseo
“aku selalu khawatir akan masa depan keluarga,”
kata Minho,”kamu kenapa tidak??”
“aku khawatir juga kok.. tapi kan.. aku
tidak ingin kita terlalu heboh,” jawab Minseo,”Eomma ku tidak masalah aku nikah
dengan mu yang lebih muda.. Eomma kan anggapnya kamu dewasa.. eh.. kalau nanti
Eomma tahu kamu khawatiran dan seperti anak-anak..aku bisa diceramahi deh”
“aku kepikiran sekali perkataan peramal
Kang,”
Minseo mengusap usap poni Minho,”dont worry.. biasa saja.. kan aku yang
akan urus mereka..kamu cari uang saja yang banyak untuk sekolah mereka”
“jadi..aku gak bisa gendong anak
anakku??,” Minho jadi agak sensitif
Minseo menggeleng,”Anieyo.. bukan itu maksudku, heoni..
tapi.. soal pendidikan.. aku yang paling utama”
Minho menolak,”eh..enggak bisa.. aku akan
jadi Appa buat mereka.. jadi aku juga
bisa dong.. asuh mereka?? Tentukan mereka sekolah dimana??”
Dia merasa tersaingi dengan isterinya
sendiri,”gak bisa dong.. aku kan ayah mereka..aku juga harus pikirkan nasib
mereka”
Minseo mengusap usap poni
Minho,”umm..semua kan belum muncul di dunia ini”, dia mencium Minho.
“semoga saja perkataan peramal Kang enggak
bikin aku stress,” kata Minho.
“enggak deh.. percaya aku,” senyum Minseo
“aku khawatir kan..dengan masa depan anak
anak,” balas Minho lagi
“enggak deh.. percaya aku.. jadikan saja
ramalan itu buat hati-hati..,” kata Minseo lagi
“aku masih bingung.. apa diantara leluhur
kita..ada yang punya kekuatan alam??,” tanya Minho lagi,”terus..”
Sebelum Minho selesai bicara, Minseo iseng
memasukkan sendok yang berisi pudding ke mulut Minho
“ih.. nakal sekali,” goda Minho,”aku belum
selesai bicara”
Minseo tertawa,”eh..suamiku seperti anak
anak...”
Minseo diam di depan Minho, memberikan
piring yang berisi pudding,”untukmu saja.. aku sudah kenyang”
Minho makan pudding yang diberikan
isterinya, Minseo melihatnya.
“jangan sampai Minho tahu kalau aku dan
beberapa keluargaku sangat berbeda dengan kebanyakan orang”, gumam hatinya
Minseo
Minho kembali melihatnya,”kok bengong?,”
katanya pada Minseo
“ah...enggak.. aku senang kalau Heoni suka
dengan masakanku,” jawab Minseo cepat
“terpesona dengan cakepnya aku ya??,”
Minho malah menggoda lagi
“eh.. bisa saja deh,” Minseo mengalihkan
pandangannya, lalu menarik tangan Minho ke kamar.
Pintu kamar masih terbuka ketika mereka
sedang asik pacaran..
Minho terus mencium wajah isterinya...
Minseo senyum senyum saja..
Minho menariknya ke tempat tidur.. lalu
Minseo diam diam menggerakkan sedikit tangannya..
“brakk...kreett,” pintu tertutup, Minho
malah berhenti mencium isterinya dan kaget
“eh.. pintu bergerak??,” katanya, aneh
“oh.. itu... tadi ada angin.. masak sih
kamu gak rasa, sayang??,” tanya Minseo
Minho menggeleng,”Anieyo.. sepertinya tidak ada angin sama sekali.. apa jendela dapur
terbuka??,”
“ah.. mungkin,” kata Minseo, dia menuju
pintu.. ingin membuka kembali pintu kamar
“eh..gak usah.. biar.. hehe,” Minho
menarik lagi tangan isterinya..
Mereka mesra mesraan lagi di kamar..
