“2 minggu lagi ke singapura,” kata Minho
ke Makoto
“wah..aku saja cuma seputar Tokyo, hebat
kamu Minho kun,” puji Makoto
“masalahnyaaaaaaaa...aku takut kuliahku
mandek,” lagi-lagi Minho cemberut.
“sering banget kamu cemberut...kayaknya
cepat gak puas banget sama hidup deh,”
“takut kuliah berantakan,” balas Minho,
masih cemberut.
“ah....bagaimana lagi??kan memang bekerja
full semestinya begitu,” jawab Makoto
“aduh...lama kelamaan aku berhenti saja
deh..merepotkan..harus konsentrasi kuliah dulu.. kan ini sudah kontrak,” keluh
Minho
“memang kamu mau kemana lagi selain ke
singapura??,”
“singapura aja.. belum yang lain,”
“berapa hari??,”
Minho menunjukkan jarinya,”3 hari”
“ah..sebentar...bolos lagi aja,” balas
Makoto, enteng...,”tapi habis itu kamu bilang pada Takeuchi kalau kamu minta
yang dekat-dekat saja”
“enak banget masak kerja bisa seperti
itu,” Minho masih mengeluh.
“aku juga lagi takut nih,”
“ketakutan terus..kenapa lagi??,” Makoto
heran
“kemarin itu kan belum sempat baca script
iklan..ternyata...huff,”
“ternyata apa??hot gitu??,” Makoto malah
tertawa
“memang Aiko chan berani ribut sama kamu??
Membentak misalnya??,” Makoto penasaran, sebab dia tahunya Aiko banyak diam
daripada bicara
“kan kita sudah pernah ribut,” balas Minho
Makoto mengangkat alisnya,”kamu kali..yang
membentak dia? Aku gak yakin tuh.. Aiko chan bisa galak sama kamu”
“selalu tuduh aku,” Minho cemberut
lagi,”mentang-mentang aku ini moody”
Makoto mengangkat kedua
tangannya,”bagaimana lagi??aku tahunya begitu sih.. lalu.. sekarang mau
apa??aku sih..masih ada job di seputar jepang aja, gak bikin repot”
“berhadapan lagi dengan masing-masing
dosen..bilang minta ijin lagi”, balas Minho, memelas.
“bisa kacau juga kuliahmu nanti,” ujar
Makoto. Minho mengangguk dan memelas.
“tapi ya mau bagaimana lagi, kamu kan
sudah tandatangan kontrak...nanti kalau gak ke singapura malah kamu di
berhentikan,” kata Makoto lagi
“repot banget ternyata,” keluh Minho
“ah.. jalani saja dulu.. kamu usahakan
bisa bolos lagi, hehe,” ujar Makoto, ringan
Minho mengetuk-ketuk meja kantin, bete sendiri, dia mikir...
“bolos lagi... bolos lagi..bisa dimarahi
Appa dan Eomma nanti,” gerutunya, dengan suara pelan.
Hari itu Minho pulang kerumah mertuanya
bersama Aiko, dia berjanji bertemu dengan ayah dan ibu mertua serta kakak-kakak
iparnya. Dia membawa oleh-oleh dari china untuk semuanya.
“jadi.. kamu benar serius sudah ambil
pekerjaan jadi model, Minho kun??,” kata Kohashi, ayah Aiko.
“iya, ayah mertua.. perjalanan pekerjaan
kemarin di China menyenangkan,” balas Minho, menunduk hormat.
“Minho Otto.. memberikan aku dress, Otoo
chan.. bagus,” manja Aiko pada ayahnya.
Kohashi senyum saja dengan perkataan
anaknya, lalu,”tapi ayah dengar.. kamu sampai melarang Minho kun jauh-jauh ya??
Menyuruh dia lekas pulang?”
“pasti Otoochan tahu dari okaasan ya??,”
balas Aiko lagi
Minho nyengir kuda, dia tahu, kebiasaan
Aiko yang dekat dengan ibunya dan terkadang cerita ini-itu.
Aiko mengangguk saja. Ayahnya malah tertawa.
“kalian belum cukup dewasa.. padahal
sebentar lagi jadi orangtua,” balas Kohashi sambil tertawa.
“otoochan.. aku memang takut kalau Minho
otto diambil orang,” Aiko cemberut
“ah.. kalian ini sama saja,” ujar
Kumiko,”rasanya.. aku seperti aneh dengan cara hidup kalian”
“tapi mereka bagus... biar mereka berantem
sesekali.. supaya kalian tetap langgeng... asal jangan terlalu terus-terusan
berantem.. bahaya.. apalagi buat kamu, Minho kun,” kata Kohashi
Minho menunduk hormat,”sumimasen, ayah mertua...aku memang
masih moody dan kadang suka merasa kesal dengan Aiko chan kalau tidak menurut
apa kataku”
“ah...wajar itu.. egoisme lelaki,” ujar
Kohashi
“tapi..aku enggak suka Otto chan kalau
ngambek, Otoo chan,” timpal Aiko
“wah..mulai lagi dia pengadu,” keluh hatinya
Minho.
“bukannya.. ibu mu bilang..kemarin malah
kamu yang enggak dewasa ya??,” tanya Kohashi ke anaknya
Kumiko cekikikan.
“aku enggak mau Otto direbut cewek lain,”
keluh Aiko
“enggak ada yang merebut.. dia memang
terlalu sensitif, Ayah mertua,” balas Minho.
Kohashi tertawa,”anakku cinta sekali
dengan suaminya”
“biasa, Otto.. bawaan bayi,” ujar ibunya
Aiko, kalem.
Kumiko cekikikan,”aku enggak bisa
bayangkan bagaimana nanti kalian kalau punya anak”
Minho jadi salting,” tidak tahu ya, hehe”,
katanya sambil garuk kepalanya
“tugas mu semakin berat, Minho kun,” kata
Kohashi
Minho menunduk hormat pada ayah
mertuanya,”iya, ayah.. aku sadar itu..”
“sebaiknya kalian banyak bicara tentang
masa depan bersama.. ingin menjadi apa,”
“aku tidak ingin Aiko chan bekerja...
tetapi karena dia calon dokter.. silahkan bekerja pada sebuah klinik atau rumah
sakit jika memang mau,” balas Minho pada ayah mertuanya.
“dia memang harus mengabdi.. itu kalau
kamu siap,” balas Kohashi.
“ya.. saya harus siap, ayah mertua,” balas
Minho
“aduh... bisa enggak ya?? Aku kan gak suka
kalau dia banyak keluar main,” keluh hatinya Minho sambil memandang Aiko.
“lantas kuliahmu?? Apa kamu tidak semakin
sibuk??,” tanya ibu mertuanya
“saya..akan ijin lagi 3 hari untuk ke
singapura,” jawab Minho
Aiko kaget,”Otto..tidak bilang padaku??
Nanti kuliahnya??”, dia bingung
“ya... aku belum bilang, maaf... tetapi
setiap dosen tanggung jawab kuliah mengijinkanku.. tapi.. besok jika ada
lagi..aku terpaksa negoisiasi dengan dosen kepala jurusan..aku sudah tidak
dapat kompensasi bolos lagi,” jawab Minho
“tuh kan.. aduh..nanti kalau beasiswanya
dicabut, bagaimana??,” Aiko khawatir lagi
“gak usah khawatir deh..aku bisa atasi,”
Minho menimpal
“anakku memang orangnya khawatiran...tapi
bukan berarti dia mau kamu marah padanya..memang sifatnya seperti itu,” jawab
Kohashi
“iya, ayah mertua..aku berusaha mengerti,”
balas Minho
“otoo chan..justru sifat Minho Otto yang
aku enggak tahan,” kata Aiko, polos.
“Otto chan terlalu moody..aku bingung,”
lanjutnya lagi
Minho menoleh,”wah..jujur sekali sih..dia
di depan orangtuanya?”, katanya dalam hati.
Kohashi malah tertawa,”loh..kamu menikah
dengannya.. kamu harus terima dia begitu...jangan mau enaknya saja kalian
ciuman..tetapi ketika tahu sifat jelek masing-masing..kalian menolaknya”
Minho menunduk hormat,”iya, ayah mertua”
“lalu kamu??,” Kohashi menoleh pada
anaknya
“iya, otoochan,” balas Aiko, menunduk
hormat
“hormati suami mu, walau misal dia punya
sifat buruk...manusia itu tidak ada yang sempurna, harus ingat itu,” kata
Kohashi lagi
“Otto chan.. manja sekali, Otoo chan,”
balas Aiko
“eh.. kumat deh pengaduannya,” keluh
hatinya Minho lagi
Kohashi malah tertawa
terbahak-bahak,”tidak manja.. bukan lelaki namanya, Aiko chan.. ingat itu.. iya
kan, Minho kun?”
Minho menunduk hormat, cengengesan,”eh
iya, hehe...” sambil garuk kepalanya
“dalam rumah tangga itu segalanya tidak
seperti membalikkan telapak tangan... ketika kamu sudah putuskan mau hidup
dengan siapa..harus diterima segala konsekuensinya,” kata Kohashi
Minho menunduk hormat, mendengar nasihat
ayah mertuanya.
“kalau kalian pikir semua hanya enaknya
saja...terus tidak puas sedikit pada cemberut...lalu diam-diaman..lalu
berantem.. rumah tangga kalian bubar cepat. Rumahtangga itu butuh orang-orang
dewasa pengambil keputusan. Kalian memang masih jadi anak-anakku disini.. tapi
kalau sudah dirumah susun sendiri.. kalian sepasang suami isteri dan jadi
orangtua nanti,”
Minho menunduk hormat,”iya ayah mertua”
“dan kamu, Aiko chan.. ayah tidak suka
kamu terlalu manja... kasian suami mu.. biar dia mencari kerja, biar dia
berteman dengan siapa saja.. lelaki memang ingin bebas.. tidak semua lelaki
suka di kekang dalam pekerjaan,”
“tapi nanti Minho Otto..tidak akan
selingkuh kan??,”
“tanya suamimu,” balas Kohashi
“aku tidak selingkuh, Aiko chan..disana
saja aku memikirkan kamu dan anak kita, huff,” Minho langsung cemberut
Kohashi tetawa,”tidak begitu caranya kamu
membalas cemburunya, Minho kun...jangan sedikit sedikit cemberut”
“cemburunya terlalu sekali, ayah
mertua...,” keluh Minho
“coba kalian kurangi,” ujar Kohashi,”kalau
ada perasaan seperti itu tapi belum terbukti, lewatkan saja”
“wakarimashita
(saya mengerti-red),” jawab Minho
“aku sempat mengkhawatirkan pernikahan
kalian...jujur saja..apa bisa bertahan atau tidak..sementara kalian masih
sangat muda..plus pastinya emosi belum stabil,” kata Kohashi
“iya..ibu pun begitu.. ibu khawatir Minho
kun akan menelantarkan Aiko chan..,” tambah ibunya Aiko
“sumimasen, Ibu..ayah mertua..semuanya memang
terkesan asal..tapi aku memang tidak ingin Aiko chan dimiliki yang lain,” jawab
Minho
“sepertinya kamu masih sangat manja, Minho
kun.. semuanya terlihat,”ujar Kohashi
“aduh.. aku kan memang manja pada Appa dan
Eomma ku sendiri aja..bukan sama yang lain.. ,” keluh hatinya Minho
“saya akan berusaha mengurangi, ayah,ibu,”
jawab Minho
“eh..coba cerita pengalaman pertamamu jadi
model, Minho kun,” kata Kumiko
“Asik, Ane.. aku bisa lihat dunia
luar..enggak kebayang deh,” balas Minho senang
“tapi begitu banget ya.. iklannya,” ujar
Kumiko
“maksud Ane??,” Minho sedikit bingung
“ya... aku lihat di jalan.. hot,” balas
Kumiko polos
Aiko langsung menoleh,”Apa, Ane??”
“aduh.. mati deh.. Aiko chan tahu,” Minho
sudah malas aja.. pikirannya pasti Aiko bakalan ngambek dan mengurung diri di
kamar nya
“apa posenya Ane??,” benar saja, Aiko
langsung seperti mengintrogasi kakaknya sendiri.
“eh.. enggak sih.. biasa aja,” balas
Kumiko
“Ane tidak jujur padaku,” keluh
Aiko,”Minho Otto pasti ciuman ya??”
“eh?? Enggak.. aku gak cium cewek model
itu,” kata Minho, membela dirinya
“sudah.. baru segitu saja, sudah mau mulai
lagi perangnya,” kata Kohashi
“aku tidak suka Minho jadi model kalau
begini!,” Aiko berdiri langsung lari ke kamarnya
“enggak berubah-berubah,” kata Akira,
kakak lelakinya, kalem.
“memang.. tidak ada pemberitahuan sebelumnya
harus bagaimana-bagaimana??,” tanya Akira pada Minho
“enggak, Ani.. aku memang harus
menyelesaikan dengan cepat.. Walnut&Nut minta cepat audisi model..aku saja
bingung.. baru dikasih script secepat itu dan aku baru belajar saat malamnya,
sebelum paginya bekerja,” jawab Minho
“ah..sudah.. biarkan.. nanti juga dia
hampiri kamu lagi, Minho kun,” kata Kohashi
“cemburunya besar sekali.. kalau
dijalan..dia suka mengeluh..terkadang aku kesal.. maaf,” Minho menunduk pada
mertuanya
“seperti sudah pernah kami katakan padamu:
kamu sebaiknya bimbing dia.. begitulah tabiat anak bungsu,” jawab Kohashi
“saya pun anak bungsu,” balas Minho pada
ayahnya Aiko
“lelaki walau bungsu semestinya dewasa,
Minho kun..,” kata Akira
“sudah..susul lagi dia.. pasti lagi
berurai air mata, hahahaa,” Akira malah tertawa
“enggak berubah-berubah sejak
kecil..heran”, lanjutnya lagi
Minho pamit permisi.
“Aiko chan...buka pintunya..apa mau aku
pulang sendirian??,” tanya Minho didepan pintu kamar Aiko
“Minho Otto jahat! Enggak usah aja jadi model!,”
teriak Aiko dalam kamar
Ibunya menghampiri Minho,”heeeehhhh...
lagi-lagi.. bagaimana nanti kalau kalian sudah jadi orangtua??”
“sumimasen,
ibu mertua,” kata Minho sedikit menunduk hormat
“Aiko chan.. buka pintunya, Nak.. Minho
kun mau minta maaf padamu..,” Ibunya Aiko mengetuk ngetuk pintu kamar anaknya
“hoshikunai..
Minho otto.. hidoi!,” dia masih
teriak dari dalam kamar, tidak mau membuka pintu
“manja sekali,” keluh Minho
Ibunya Aiko menoleh lalu senyum pada
menantunya itu,”beginilah”
“eh...maaf, ibu,” Minho jadi gak enak hati
sendiri.
“Aiko chan..buka pintunya..tidak baik
begitu sama Minho kun,” bujuk ibunya lagi
Mereka menunggu sekitar 15 menit, baru
Aiko keluar
“pasti kamu ciuman dengan model itu,
kan??,” kata Aiko langsung bertanya pada Minho begitu pintu dia buka
“enggak, sayang.. aku beneran enggak
gitu,” balas Minho
“kalau memang Minho kun bilang begitu,
sebaiknya kamu percaya,” kata Ibunya Aiko
Aiko cemberut.
“sudah.. kalian selesaikan sendiri,”
Ibunya langsung berjalan kembali ke ruangan lain
Minho diam, dia berdiri di hadapan Aiko,
tapi langsung malah menarik tangan Aiko dan masuk kamar.
“duduk,” katanya dengan suara tegas
Aiko masih berdiri.
“duduk,” kata Minho lagi.
Aiko diam dulu, baru akhirnya dia duduk.
Minho malah berjongkok di depannya.
“aku kemarin itu kerja, Aiko chan.. untuk
kita,”
Aiko diam saja.
Lalu,”aku memang foto dengan cewek itu..
tapi enggak ciuman, sumpah”
Aiko masih diam saja.
“ayo dong..ngomong,” kata Minho
“ungg,” jawabnya
“ah.. menyebalkan deh,” keluh Minho, dia
malah membaringkan Aiko paksa
“eeh...mau apa??..jangan kasar!”, Aiko
memberontak
“ummm.....chu,” Minho menciumnya manis
sekali..
“kamu itu... menyebalkan banget.. aku
sudah berusaha enggak moody dan gak manja..ternyata kamu lebih manja dari
aku... kalau aku tinggalkan kamu..aku takut sekali... itu perasaan ku padamu,
tau... dasar Aiko chan jelek,”
Aiko menatapnya dengan aneh.
“apa?? Masih enggak percaya padaku??,”
Minho memandangnya dengan lembut.
“aku cemburu,” keluh Aiko
“ya... ya.. itu juga karena si baby
bukan?? Banyak alasan,” balas Minho. Dia berbarinng disamping Aiko.
“nanti.. kalau misalnya ada adegan
aneh-aneh di foto atau shooting iklan.. bagaimana??,” Minho malah bertanya hal
yang bikin pasangannya jadi cemburu
“berhenti saja,” balas Aiko,”aku gak bisa,
Otto.. aku gak bisa lihat Otto begitu...nanti kamu selingkuh,”
Minho lalu menoleh padanya,”kepercayaan mu
pada ku rendah.. entah aku harus cerewet atau diam?? Kalaupun aku memang
ternyata harus cium atau peluk dia..aku enggak punya perasaan sama cewek cewek
itu,”. Dia mengangkat alisnya.
“kamu.. marah padaku??,” tanya Aiko.
Mereka duduk.
“kamu pasti tahu sendiri marahku seperti
apa,” jawab Minho, jadi sedikit judes
“aku tidak bisa dilarang.. entah apa
jadinya kalau misalnya aku sudah sangat marah dan enggak mau lagi bicara sama
kamu,” lanjutnya lagi
Aiko diam.., lalu,”kenapa??bukannya aku
boleh saja cemburu??”
“sudah ku katakan...aku kalau kerja akan
total dan aku enggak akan punya perasaan pada mereka.. aku sayang kamu dan anak
ku.. tapi..aku cuma mau satu dari kamu: kepercayaan,”
Aiko diam lagi, dalam hatinya dia
berkata,”apa aku harus mengalah?? Aku enggak mau tiba-tiba, suatu hari nanti,
Minho kun direbut cewek lain”
“aku takut kamu curangi aku,” kata Aiko
Minho menoleh,”begitukah?? Masak sih??apa
aku sejahat itu??”
“tidak tahu,” balas Aiko
“jadi??,” tanya Minho lagi,”apa aku harus
mendiamkanmu terus??”
Aiko menggeleng.
“lalu??,” tanya Minho lagi,”apa harus
membubarkan rumahtangga kita??”
Aiko menggeleng lagi
“jadi?? Aku harus bagaimana??,” tanya
Minho lagi
Aiko diam lagi sampai agak lama.
“aku tunggu jawabannya,” kata Minho lagi.
Aiko menangis, lalu dia memeluk
Minho,”rasanya..ketakukan kehilanganku lebih tinggi darimu, Otto...aku gak
tahan ketika lihat kamu dekat dengan siapapun perempuan”
“aku tidak suka begitu.. aku memang
mungkin berteman dengan mereka.. tapi aku ingin kamu percaya aku juga,” balas
Minho, dia membalas pelukannya.
“kadang aku merasa ingin pulang ke sini..
apa .. aku menyesal??,” tanya Aiko lagi
“ada banyak ketakutan di hatiku,” kata
Minho,”salah satunya..aku takut kehilangan... tapi aku bingung mau berkata
apa.. lalu yang muncul jadi emosiku,”
“Minho Otto...aku berfikir....terkadang
kamu menyiksa perasaanku....aku jadi punya banyak tumpukan emosi padamu,”
“kamu tidak menyakitiku sama sekali, Aiko
chan... aku minta maaf,”
Aiko tetap memeluk Minho, matanya masih
basah terus, dia memang sangat takut kehilangan orang yang sebenarnya juga dia
suka waktu mereka orientasi kampus.
“ikanaide..dont leave me,” kata Aiko lagi
“harusnya yang berkata itu aku...bukan
kamu, Aiko chan,” balas Minho, mengelus rambut pasangannya dengan lembut
“pokoknya, aku tidak mau ditinggalkan,”
ujar Aiko lagi
“iya..enggak akan,” balas Minho lagi
“aku ditendang,” Aiko melepaskan
pelukannya dari Minho
Minho panik,”sama siapa?? Apanya yang
luka??”
Aiko senyum,”anak kita...tendang aku,”
Minho tertawa,”oh, hehehehe...pasti dia
kesal karena Eomma nya selalu nakal sama Appa nya...selalu ngambek dan cemburu
sama Appa nya”
“ih...jahat,” keluh Aiko
“kita harus dewasa loh, Aiko
chan...sebentar lagi dia muncul di dunia ini,” Minho peluk dia lagi
“bagaimana rasanya jadi Okaachan ya??,”
tanya Aiko
“akan makin sibuk...sebenarnya aku
khawatir dengan studi mu,” balas Minho
“selama ini baik-baik saja...Otto
sendiri??,”
“aku mengeluhkan bolos...aku
bingung...model besar gajinya...tapi akhirnya harus bolos...ketika kerja dengan
Tachibana san..aku biasa saja..tapi capek duduk berlama-lama,”
“aku harusnya memang tidak menghalangi
kamu mau jadi apa saja,” balas Aiko
“itu yang aku mau darimu, Aiko
chan...sebab aku juga akan berusaha memberi keluarga kita yang terbaik,”
“jadi, kalau misalnya aku punya sebuah
kontrak...aku juga akan mempertimbangkan skrip nya seperti apa...tidak perlu
khawatir...aku hanya bisa sebagai model, gak bisa acting dan yang lainnya..,”
lanjut Minho lagi
“dari sini saja..nanti aku bisa pergi
kemana-mana..aku juga kangen kalian loh, ketika kerja,”
“kalau tidak sanggup, lebih baik jadi
editor komik saja,” balas Aiko
Minho malah bercanda padanya,”iya...supaya
aku tidak dilirik model yang lain kan?hehe”
“itazura
da ne!,” cubit Aiko
padanya
“eh, hahahahaha....ih, lucu sekali Aiko
chan kalau cemburu...umm...chu,” Minho menciumnya lagi sampai lama... sampai
pasangannya itu malu-malu padanya.
Bersambung ke part 20...