This is me....

Sabtu, Mei 03, 2014

Pernikahan ½ (Part 19: Harus Dewasa?)

“2 minggu lagi ke singapura,” kata Minho ke Makoto
“wah..aku saja cuma seputar Tokyo, hebat kamu Minho kun,” puji Makoto
“masalahnyaaaaaaaa...aku takut kuliahku mandek,” lagi-lagi Minho cemberut.
“sering banget kamu cemberut...kayaknya cepat gak puas banget sama hidup deh,”
“takut kuliah berantakan,” balas Minho, masih cemberut.
“ah....bagaimana lagi??kan memang bekerja full semestinya begitu,” jawab Makoto
“aduh...lama kelamaan aku berhenti saja deh..merepotkan..harus konsentrasi kuliah dulu.. kan ini sudah kontrak,” keluh Minho
“memang kamu mau kemana lagi selain ke singapura??,”
“singapura aja.. belum yang lain,”
“berapa hari??,”
Minho menunjukkan jarinya,”3 hari”
“ah..sebentar...bolos lagi aja,” balas Makoto, enteng...,”tapi habis itu kamu bilang pada Takeuchi kalau kamu minta yang dekat-dekat saja”
“enak banget masak kerja bisa seperti itu,” Minho masih mengeluh.
“aku juga lagi takut nih,”
“ketakutan terus..kenapa lagi??,” Makoto heran
“kemarin itu kan belum sempat baca script iklan..ternyata...huff,”
“ternyata apa??hot gitu??,” Makoto malah tertawa
Minho mengangguk,”iya..siap-siap deh ribut lagi”

“memang Aiko chan berani ribut sama kamu?? Membentak misalnya??,” Makoto penasaran, sebab dia tahunya Aiko banyak diam daripada bicara
“kan kita sudah pernah ribut,” balas Minho
Makoto mengangkat alisnya,”kamu kali..yang membentak dia? Aku gak yakin tuh.. Aiko chan bisa galak sama kamu”
“selalu tuduh aku,” Minho cemberut lagi,”mentang-mentang aku ini moody”
Makoto mengangkat kedua tangannya,”bagaimana lagi??aku tahunya begitu sih.. lalu.. sekarang mau apa??aku sih..masih ada job di seputar jepang aja, gak bikin repot”
“berhadapan lagi dengan masing-masing dosen..bilang minta ijin lagi”, balas Minho, memelas.
“bisa kacau juga kuliahmu nanti,” ujar Makoto. Minho mengangguk dan memelas.
“tapi ya mau bagaimana lagi, kamu kan sudah tandatangan kontrak...nanti kalau gak ke singapura malah kamu di berhentikan,” kata Makoto lagi
“repot banget ternyata,” keluh Minho
“ah.. jalani saja dulu.. kamu usahakan bisa bolos lagi, hehe,” ujar Makoto, ringan
Minho mengetuk-ketuk meja kantin, bete sendiri, dia mikir...
“bolos lagi... bolos lagi..bisa dimarahi Appa dan Eomma nanti,” gerutunya, dengan suara pelan.

Hari itu Minho pulang kerumah mertuanya bersama Aiko, dia berjanji bertemu dengan ayah dan ibu mertua serta kakak-kakak iparnya. Dia membawa oleh-oleh dari china untuk semuanya.
“jadi.. kamu benar serius sudah ambil pekerjaan jadi model, Minho kun??,” kata Kohashi, ayah Aiko.
“iya, ayah mertua.. perjalanan pekerjaan kemarin di China menyenangkan,” balas Minho, menunduk hormat.
“Minho Otto.. memberikan aku dress, Otoo chan.. bagus,” manja Aiko pada ayahnya.
Kohashi senyum saja dengan perkataan anaknya, lalu,”tapi ayah dengar.. kamu sampai melarang Minho kun jauh-jauh ya?? Menyuruh dia lekas pulang?”
“pasti Otoochan tahu dari okaasan ya??,” balas Aiko lagi
Minho nyengir kuda, dia tahu, kebiasaan Aiko yang dekat dengan ibunya dan terkadang cerita ini-itu.
Aiko mengangguk saja. Ayahnya malah tertawa.
“kalian belum cukup dewasa.. padahal sebentar lagi jadi orangtua,” balas Kohashi sambil tertawa.
“otoochan.. aku memang takut kalau Minho otto diambil orang,” Aiko cemberut
“ah.. kalian ini sama saja,” ujar Kumiko,”rasanya.. aku seperti aneh dengan cara hidup kalian”
“tapi mereka bagus... biar mereka berantem sesekali.. supaya kalian tetap langgeng... asal jangan terlalu terus-terusan berantem.. bahaya.. apalagi buat kamu, Minho kun,” kata Kohashi
Minho menunduk hormat,”sumimasen, ayah mertua...aku memang masih moody dan kadang suka merasa kesal dengan Aiko chan kalau tidak menurut apa kataku”
“ah...wajar itu.. egoisme lelaki,” ujar Kohashi
“tapi..aku enggak suka Otto chan kalau ngambek, Otoo chan,” timpal Aiko
“wah..mulai lagi dia pengadu,” keluh hatinya Minho.
“bukannya.. ibu mu bilang..kemarin malah kamu yang enggak dewasa ya??,” tanya Kohashi ke anaknya
Kumiko cekikikan.

“aku enggak mau Otto direbut cewek lain,” keluh Aiko
“enggak ada yang merebut.. dia memang terlalu sensitif, Ayah mertua,” balas Minho.
Kohashi tertawa,”anakku cinta sekali dengan suaminya”
“biasa, Otto.. bawaan bayi,” ujar ibunya Aiko, kalem.
Kumiko cekikikan,”aku enggak bisa bayangkan bagaimana nanti kalian kalau punya anak”
Minho jadi salting,” tidak tahu ya, hehe”, katanya sambil garuk kepalanya
“tugas mu semakin berat, Minho kun,” kata Kohashi
Minho menunduk hormat pada ayah mertuanya,”iya, ayah.. aku sadar itu..”
“sebaiknya kalian banyak bicara tentang masa depan bersama.. ingin menjadi apa,”
“aku tidak ingin Aiko chan bekerja... tetapi karena dia calon dokter.. silahkan bekerja pada sebuah klinik atau rumah sakit jika memang mau,” balas Minho pada ayah mertuanya.
“dia memang harus mengabdi.. itu kalau kamu siap,” balas Kohashi.
“ya.. saya harus siap, ayah mertua,” balas Minho
“aduh... bisa enggak ya?? Aku kan gak suka kalau dia banyak keluar main,” keluh hatinya Minho sambil memandang Aiko.
“lantas kuliahmu?? Apa kamu tidak semakin sibuk??,” tanya ibu mertuanya
“saya..akan ijin lagi 3 hari untuk ke singapura,” jawab Minho

Aiko kaget,”Otto..tidak bilang padaku?? Nanti kuliahnya??”, dia bingung
“ya... aku belum bilang, maaf... tetapi setiap dosen tanggung jawab kuliah mengijinkanku.. tapi.. besok jika ada lagi..aku terpaksa negoisiasi dengan dosen kepala jurusan..aku sudah tidak dapat kompensasi bolos lagi,” jawab Minho
“tuh kan.. aduh..nanti kalau beasiswanya dicabut, bagaimana??,” Aiko khawatir lagi
“gak usah khawatir deh..aku bisa atasi,” Minho menimpal

“anakku memang orangnya khawatiran...tapi bukan berarti dia mau kamu marah padanya..memang sifatnya seperti itu,” jawab Kohashi
“iya, ayah mertua..aku berusaha mengerti,” balas Minho
“otoo chan..justru sifat Minho Otto yang aku enggak tahan,” kata Aiko, polos.
“Otto chan terlalu moody..aku bingung,” lanjutnya lagi
Minho menoleh,”wah..jujur sekali sih..dia di depan orangtuanya?”, katanya dalam hati.
Kohashi malah tertawa,”loh..kamu menikah dengannya.. kamu harus terima dia begitu...jangan mau enaknya saja kalian ciuman..tetapi ketika tahu sifat jelek masing-masing..kalian menolaknya”
Minho menunduk hormat,”iya, ayah mertua”
“lalu kamu??,” Kohashi menoleh pada anaknya
“iya, otoochan,” balas Aiko, menunduk hormat
“hormati suami mu, walau misal dia punya sifat buruk...manusia itu tidak ada yang sempurna, harus ingat itu,” kata Kohashi lagi
“Otto chan.. manja sekali, Otoo chan,” balas Aiko
“eh.. kumat deh pengaduannya,” keluh hatinya Minho lagi
Kohashi malah tertawa terbahak-bahak,”tidak manja.. bukan lelaki namanya, Aiko chan.. ingat itu.. iya kan, Minho kun?”
Minho menunduk hormat, cengengesan,”eh iya, hehe...” sambil garuk kepalanya

“dalam rumah tangga itu segalanya tidak seperti membalikkan telapak tangan... ketika kamu sudah putuskan mau hidup dengan siapa..harus diterima segala konsekuensinya,” kata Kohashi
Minho menunduk hormat, mendengar nasihat ayah mertuanya.
“kalau kalian pikir semua hanya enaknya saja...terus tidak puas sedikit pada cemberut...lalu diam-diaman..lalu berantem.. rumah tangga kalian bubar cepat. Rumahtangga itu butuh orang-orang dewasa pengambil keputusan. Kalian memang masih jadi anak-anakku disini.. tapi kalau sudah dirumah susun sendiri.. kalian sepasang suami isteri dan jadi orangtua nanti,”
Minho menunduk hormat,”iya ayah mertua”
“dan kamu, Aiko chan.. ayah tidak suka kamu terlalu manja... kasian suami mu.. biar dia mencari kerja, biar dia berteman dengan siapa saja.. lelaki memang ingin bebas.. tidak semua lelaki suka di kekang dalam pekerjaan,”
“tapi nanti Minho Otto..tidak akan selingkuh kan??,”
“tanya suamimu,” balas Kohashi

“aku tidak selingkuh, Aiko chan..disana saja aku memikirkan kamu dan anak kita, huff,” Minho langsung cemberut
Kohashi tetawa,”tidak begitu caranya kamu membalas cemburunya, Minho kun...jangan sedikit sedikit cemberut”
“cemburunya terlalu sekali, ayah mertua...,” keluh Minho
“coba kalian kurangi,” ujar Kohashi,”kalau ada perasaan seperti itu tapi belum terbukti, lewatkan saja”
wakarimashita (saya mengerti-red),” jawab Minho
“aku sempat mengkhawatirkan pernikahan kalian...jujur saja..apa bisa bertahan atau tidak..sementara kalian masih sangat muda..plus pastinya emosi belum stabil,” kata Kohashi
“iya..ibu pun begitu.. ibu khawatir Minho kun akan menelantarkan Aiko chan..,” tambah ibunya Aiko
“sumimasen, Ibu..ayah mertua..semuanya memang terkesan asal..tapi aku memang tidak ingin Aiko chan dimiliki yang lain,” jawab Minho
“sepertinya kamu masih sangat manja, Minho kun.. semuanya terlihat,”ujar Kohashi
“aduh.. aku kan memang manja pada Appa dan Eomma ku sendiri aja..bukan sama yang lain.. ,” keluh hatinya Minho
“saya akan berusaha mengurangi, ayah,ibu,” jawab Minho

“eh..coba cerita pengalaman pertamamu jadi model, Minho kun,” kata Kumiko
“Asik, Ane.. aku bisa lihat dunia luar..enggak kebayang deh,” balas Minho senang
“tapi begitu banget ya.. iklannya,” ujar Kumiko
“maksud Ane??,” Minho sedikit bingung
“ya... aku lihat di jalan.. hot,” balas Kumiko polos
Aiko langsung menoleh,”Apa, Ane??”
“aduh.. mati deh.. Aiko chan tahu,” Minho sudah malas aja.. pikirannya pasti Aiko bakalan ngambek dan mengurung diri di kamar nya
“apa posenya Ane??,” benar saja, Aiko langsung seperti mengintrogasi kakaknya sendiri.
“eh.. enggak sih.. biasa aja,” balas Kumiko
“Ane tidak jujur padaku,” keluh Aiko,”Minho Otto pasti ciuman ya??”
“eh?? Enggak.. aku gak cium cewek model itu,” kata Minho, membela dirinya
“sudah.. baru segitu saja, sudah mau mulai lagi perangnya,” kata Kohashi
“aku tidak suka Minho jadi model kalau begini!,” Aiko berdiri langsung lari ke kamarnya
“enggak berubah-berubah,” kata Akira, kakak lelakinya, kalem.
“memang.. tidak ada pemberitahuan sebelumnya harus bagaimana-bagaimana??,” tanya Akira pada Minho
“enggak, Ani.. aku memang harus menyelesaikan dengan cepat.. Walnut&Nut minta cepat audisi model..aku saja bingung.. baru dikasih script secepat itu dan aku baru belajar saat malamnya, sebelum paginya bekerja,” jawab Minho
“ah..sudah.. biarkan.. nanti juga dia hampiri kamu lagi, Minho kun,” kata Kohashi
“cemburunya besar sekali.. kalau dijalan..dia suka mengeluh..terkadang aku kesal.. maaf,” Minho menunduk pada mertuanya
“seperti sudah pernah kami katakan padamu: kamu sebaiknya bimbing dia.. begitulah tabiat anak bungsu,” jawab Kohashi
“saya pun anak bungsu,” balas Minho pada ayahnya Aiko
“lelaki walau bungsu semestinya dewasa, Minho kun..,” kata Akira
“sudah..susul lagi dia.. pasti lagi berurai air mata, hahahaa,” Akira malah tertawa
“enggak berubah-berubah sejak kecil..heran”, lanjutnya lagi
Minho pamit permisi.

“Aiko chan...buka pintunya..apa mau aku pulang sendirian??,” tanya Minho didepan pintu kamar Aiko
“Minho Otto jahat! Enggak usah aja jadi model!,” teriak Aiko dalam kamar
Ibunya menghampiri Minho,”heeeehhhh... lagi-lagi.. bagaimana nanti kalau kalian sudah jadi orangtua??”
sumimasen, ibu mertua,” kata Minho sedikit menunduk hormat
“Aiko chan.. buka pintunya, Nak.. Minho kun mau minta maaf padamu..,” Ibunya Aiko mengetuk ngetuk pintu kamar anaknya
hoshikunai.. Minho otto.. hidoi!,” dia masih teriak dari dalam kamar, tidak mau membuka pintu
“manja sekali,” keluh Minho
Ibunya Aiko menoleh lalu senyum pada menantunya itu,”beginilah”
“eh...maaf, ibu,” Minho jadi gak enak hati sendiri.
“Aiko chan..buka pintunya..tidak baik begitu sama Minho kun,” bujuk ibunya lagi
Mereka menunggu sekitar 15 menit, baru Aiko keluar

“pasti kamu ciuman dengan model itu, kan??,” kata Aiko langsung bertanya pada Minho begitu pintu dia buka
“enggak, sayang.. aku beneran enggak gitu,” balas Minho
“kalau memang Minho kun bilang begitu, sebaiknya kamu percaya,” kata Ibunya Aiko
Aiko cemberut.
“sudah.. kalian selesaikan sendiri,” Ibunya langsung berjalan kembali ke ruangan lain

Minho diam, dia berdiri di hadapan Aiko, tapi langsung malah menarik tangan Aiko dan masuk kamar.
“duduk,” katanya dengan suara tegas
Aiko masih berdiri.
“duduk,” kata Minho lagi.
Aiko diam dulu, baru akhirnya dia duduk. Minho malah berjongkok di depannya.
“aku kemarin itu kerja, Aiko chan.. untuk kita,”
Aiko diam saja.
Lalu,”aku memang foto dengan cewek itu.. tapi enggak ciuman, sumpah”
Aiko masih diam saja.
“ayo dong..ngomong,” kata Minho
“ungg,” jawabnya
“ah.. menyebalkan deh,” keluh Minho, dia malah membaringkan Aiko paksa
“eeh...mau apa??..jangan kasar!”, Aiko memberontak
“ummm.....chu,” Minho menciumnya manis sekali..
“kamu itu... menyebalkan banget.. aku sudah berusaha enggak moody dan gak manja..ternyata kamu lebih manja dari aku... kalau aku tinggalkan kamu..aku takut sekali... itu perasaan ku padamu, tau... dasar Aiko chan jelek,”
Aiko menatapnya dengan aneh.
“apa?? Masih enggak percaya padaku??,” Minho memandangnya dengan lembut.

“aku cemburu,” keluh Aiko
“ya... ya.. itu juga karena si baby bukan?? Banyak alasan,” balas Minho. Dia berbarinng disamping Aiko.
“nanti.. kalau misalnya ada adegan aneh-aneh di foto atau shooting iklan.. bagaimana??,” Minho malah bertanya hal yang bikin pasangannya jadi cemburu
“berhenti saja,” balas Aiko,”aku gak bisa, Otto.. aku gak bisa lihat Otto begitu...nanti kamu selingkuh,”
Minho lalu menoleh padanya,”kepercayaan mu pada ku rendah.. entah aku harus cerewet atau diam?? Kalaupun aku memang ternyata harus cium atau peluk dia..aku enggak punya perasaan sama cewek cewek itu,”. Dia mengangkat alisnya.
“kamu.. marah padaku??,” tanya Aiko. Mereka duduk.
“kamu pasti tahu sendiri marahku seperti apa,” jawab Minho, jadi sedikit judes
“aku tidak bisa dilarang.. entah apa jadinya kalau misalnya aku sudah sangat marah dan enggak mau lagi bicara sama kamu,” lanjutnya lagi
Aiko diam.., lalu,”kenapa??bukannya aku boleh saja cemburu??”
“sudah ku katakan...aku kalau kerja akan total dan aku enggak akan punya perasaan pada mereka.. aku sayang kamu dan anak ku.. tapi..aku cuma mau satu dari kamu: kepercayaan,”
Aiko diam lagi, dalam hatinya dia berkata,”apa aku harus mengalah?? Aku enggak mau tiba-tiba, suatu hari nanti, Minho kun direbut cewek lain”
“aku takut kamu curangi aku,” kata Aiko
Minho menoleh,”begitukah?? Masak sih??apa aku sejahat itu??”
“tidak tahu,” balas Aiko
“jadi??,” tanya Minho lagi,”apa aku harus mendiamkanmu terus??”
Aiko menggeleng.
“lalu??,” tanya Minho lagi,”apa harus membubarkan rumahtangga kita??”
Aiko menggeleng lagi
“jadi?? Aku harus bagaimana??,” tanya Minho lagi
Aiko diam lagi sampai agak lama.
“aku tunggu jawabannya,” kata Minho lagi.

Aiko menangis, lalu dia memeluk Minho,”rasanya..ketakukan kehilanganku lebih tinggi darimu, Otto...aku gak tahan ketika lihat kamu dekat dengan siapapun perempuan”
“aku tidak suka begitu.. aku memang mungkin berteman dengan mereka.. tapi aku ingin kamu percaya aku juga,” balas Minho, dia membalas pelukannya.
“kadang aku merasa ingin pulang ke sini.. apa .. aku menyesal??,” tanya Aiko lagi
“ada banyak ketakutan di hatiku,” kata Minho,”salah satunya..aku takut kehilangan... tapi aku bingung mau berkata apa.. lalu yang muncul jadi emosiku,”
“Minho Otto...aku berfikir....terkadang kamu menyiksa perasaanku....aku jadi punya banyak tumpukan emosi padamu,”
“kamu tidak menyakitiku sama sekali, Aiko chan... aku minta maaf,”
Aiko tetap memeluk Minho, matanya masih basah terus, dia memang sangat takut kehilangan orang yang sebenarnya juga dia suka waktu mereka orientasi kampus.

“ikanaide..dont leave me,” kata Aiko lagi
“harusnya yang berkata itu aku...bukan kamu, Aiko chan,” balas Minho, mengelus rambut pasangannya dengan lembut
“pokoknya, aku tidak mau ditinggalkan,” ujar Aiko lagi
“iya..enggak akan,” balas Minho lagi
“aku ditendang,” Aiko melepaskan pelukannya dari Minho
Minho panik,”sama siapa?? Apanya yang luka??”
Aiko senyum,”anak kita...tendang aku,”
Minho tertawa,”oh, hehehehe...pasti dia kesal karena Eomma nya selalu nakal sama Appa nya...selalu ngambek dan cemburu sama Appa nya”
“ih...jahat,” keluh Aiko
“kita harus dewasa loh, Aiko chan...sebentar lagi dia muncul di dunia ini,” Minho peluk dia lagi
“bagaimana rasanya jadi Okaachan ya??,” tanya Aiko
“akan makin sibuk...sebenarnya aku khawatir dengan studi mu,” balas Minho
“selama ini baik-baik saja...Otto sendiri??,”
“aku mengeluhkan bolos...aku bingung...model besar gajinya...tapi akhirnya harus bolos...ketika kerja dengan Tachibana san..aku biasa saja..tapi capek duduk berlama-lama,”
“aku harusnya memang tidak menghalangi kamu mau jadi apa saja,” balas Aiko
“itu yang aku mau darimu, Aiko chan...sebab aku juga akan berusaha memberi keluarga kita yang terbaik,”
“jadi, kalau misalnya aku punya sebuah kontrak...aku juga akan mempertimbangkan skrip nya seperti apa...tidak perlu khawatir...aku hanya bisa sebagai model, gak bisa acting dan yang lainnya..,” lanjut Minho lagi
“dari sini saja..nanti aku bisa pergi kemana-mana..aku juga kangen kalian loh, ketika kerja,”
“kalau tidak sanggup, lebih baik jadi editor komik saja,” balas Aiko
Minho malah bercanda padanya,”iya...supaya aku tidak dilirik model yang lain kan?hehe”
“itazura da ne!,” cubit Aiko padanya
“eh, hahahahaha....ih, lucu sekali Aiko chan kalau cemburu...umm...chu,” Minho menciumnya lagi sampai lama... sampai pasangannya itu malu-malu padanya.


Bersambung ke part 20...