This is me....

Minggu, Maret 16, 2014

Sepeda Kita (part 2: Mulai Mencari Kerja)

Malam tiba.. bibi Hwang kembali mengantarkan makanan pada mereka..
”sekolah kalian.. bagaimana??,” tanya Bibi Hwang
”baik, bibi..,” balas Minho
Chin Ho mengangguk.
”apa.. kalian akan ada ujian??,”
Chin Ho menggeleng,”Ujiannya, bulan depan, bibi”
”sama,” balas Minho
”sudah seminggu lebih kalian ditinggalkan.. ,” kenang bibi Hwang. Mereka memang bertetangga baik, sehingga bibi Hwang yang tidak punya anak menganggap mereka sebagai anak anaknya juga.
”Kyung Soon.. tinggal bersama bibi saja ya??,” senyumnya
”aku.. tidak mau.. aku biasa tidur mendengar dongeng Oppa Minho,” jawab Kyung Soon polos
”Maafkan kami, bibi..,” balas Minho
Bibi Hwang senyum saja. Dia faham, anak kecil memang tidak bisa dipaksa.
”bagaimanapun.. Kyung Soon butuh orangtua.. Bibi bersedia kalau dia akan bibi asuh.. bibi akan sekolahkan dia.. sebentar lagi.. dia akan sekolah TK bukan??,”
Minho mengangguk.
”biaya sekolah tidak kecil, Minho.. jadi.. tolong biarkan bibi bantu salahsatu adikmu,” tambah bibi Hwang lagi
”bibi tidak punya anak sama sekali.. bibi ingin kalian jadi anak anak bibi,” lanjutnya lagi
Kyung Soon berdiri mendekat pada bibi Hwang, dibalas senyum oleh bibi Hwang
”besok.. temani bibi belanja ya?? Nanti kita bikin bulgogi yang enak lagi,”
Kyung Soon mengangguk,”iya.. aku suka bulgogi buatan bibi Hwang,” katanya polos
Minho senyum,”kalau Oppa sedang sekolah.. atau nanti Oppa kerja.. Kyung Soon baik baik dengan Bibi Hwang ya??,”
Kyung Soon mengangguk,”iya, Oppa.. aku gak akan nakal dengan bibi”
Bibi Hwang mengusap-usap kepala Kyung Soon

”kalau..bibi akan mengambil Kyung Soon menjadi anak.. apa.. aku akan kehilangan kepemilikan atas Kyung Soon??,” tanya Minho di depan rumah.
Adik adiknya sudah terlebih dahulu masuk kamar.
”kamu khawatir.. bibi akan mengambil Kyung soon??,”senyum bibi Hwang
Minho mengangguk,”aku sudah tidak punya orangtua lagi..aku harus bertanggung jawab pada kedua adikku,”
”bagaimana kalau kalian bertiga malah akan jadi anak bibi??,”
Minho menoleh,”aku..belum bisa menjawab, bibi Hwang.. aku paling tidak bisa menyusahkan orang lain”
”ya.. bibi mengerti, Minho... akan tetapi..bagaimanapun.. anak kecil seperti Kyung soon..ditinggal orangtuanya belum lagi lima tahun.. pastilah merindukan sosok orangtua”, bibi Hwang menatap Minho
”dan.. yang pasti.. walau bibi tidak bisa menggantikan posisi orangtua kalian.. setidaknya, bibi bisa menjadi orangtua pengganti..,”
Minho berusaha menengadahkan kepalanya.. tapi.. akhirnya malah air matanya menetes, dia menghapus sendiri air matanya
”rasanya.. berat sekali ditinggal orangtua,” keluhnya
Bibi Hwang yang beda tingginya jauh di bawah Minho, mengusap-usap punggungnya
”bibi mengerti.. itu sebabnya.. ijinkan bibi jadi orangtua angkat kalian..”
”aku masih sangat sedih.. rasanya masih terasa orangtua ku duduk di ruang keluarga.. ngobrol sambil nonton tivi bersama,”kenang Minho lagi
”semua tidak bisa kembali lagi, Minho.. kamu dan kedua adikmu butuh dukungan,”
”ya.. bibi Hwang... aku merasa takut menghadapi hidup tanpa mereka,”
Bibi Hwang kembali mengusap punggungnya,”sudahlah... itu sebabnya, bibi ingin menjadi orangtua kalian”
”terima kasih, bibi... bibi baik sekali,” Minho menunduk hormat, tapi matanya masih basah dengan air mata
”tidurlah.. sudah malam.. besok kalian harus sekolah”

Minho membuka pintu kamar Kyung soon, dia lihat adiknya sudah tidur. Lalu dia melihat ke kamar Chin Ho, sudah tidur juga.
Dia lalu kembali ke kamarnya, termenung sendiri
”biasanya.. eomma suka ngobrol dengan ku kalau Appa belum pulang kerja,” kenangnya
Eomma.. Appa.. aku benar benar kangen kalian.. kenapa kami ditinggalkan begitu cepat??,” Minho menangis, dia sesegukan pelan sekali..supaya tidak terdengar oleh kedua adiknya
”siapa lagi keluarga kita??,” katanya sembab. Dia mencoba mengingat ingat keluarganya disebuah desa.. berharap, bisa mendapatkan dukungan mental agar tidak merasa sendirian. Dia masih kaku dengan bibi dan paman Hwang, karena memang bukan bagian keluarga mereka.
”paman Song gi,” dia mencoba mengingat salah satu adik ibunya
”ya..yang terdekat hanya paman.. tapi.. tidak ada kemarin yang hadir ,” dia sedih lagi. Tidak ada sama sekali anggota keluarga baik dari ayah atau ibunya yang datang
Minho ingat, waktu kecil, dia pernah diajak keluar kota, tidak jauh dari tempat tinggalnya, dimana Song Gi tinggal
”aku harus kabarkan tentang eomma dan appa ke paman.. aku harus pergi,”
Dia lalu bangun dan pergi ke kamar orangtuanya, membuka laci, mencari cari alamat keluarga kedua orangtuanya

”Paman Song Gi.. bibi In Suk...,” dia bergumam..dapat alamat kedua paman dan bibinya
”apa..mereka masih tinggal disana??,” pikirnya lagi
Dia lalu keluar dari kamar orangtuanya, bermaksud ingin telepon.. tapi..
”ah.. aku lupa..sudah dicabut,”
Dia menunduk lemas.
”telepon sudah dicabut.. besok..apalagi yang bisa dicabut?? Mudah mudahan listrik, gas dan air tidak”
Dia langsung menuju kamarnya, mengetik surat lamaran
”aku harus kerja...supaya kebutuhan harian bisa ditanggung,”gumamnya

Besoknya, mereka pergi sekolah lagi, sementara Kyung Soon dititipkan pada bibi Hwang.
”Minho.. ibu ingin bicara dengan kamu di jam istirahat ini,” kata perwakilan kelas, ibu Kwang
Minho jadi agak was was.. dia berfikir duluan, “uang administrasi apa yang belum dia bayar??”

Minho mengetuk ruang guru ibu Kwang, lalu dia masuk
”duduklah..,”senyum Ibu Kwang
Minho menunduk hormat lalu duduk
”ada kabar untukmu,”
”apa...aku belum melunasi administrasi sekolah, bu??,”
Ibu Kwang senyum,”bukan.. aku akan mengajukan kamu untuk beasiswa.. kamu pintar, Minho.. nilai mu bagus bagus... rajin belajar..tidak nakal.. kamu pantas mendapatkan beasiswa..sayang sekali kalau ibu tidak mengajukannnya untuk kamu”
Mata Minho sedikit berbinar, dia berharap dengan beasiswa dia kan berhemat anggaran sekolah dan sisa uang orangtuanya bisa untuk sekolah dua adiknya
”kamu senang kan??,” tanya ibu Kwang lagi
Minho menunduk hormat,”terima kasih, bu”
”iya.. tapi..ada syaratnya,”
”apa itu.. kalau aku boleh tahu??”
”kamu.. harus bersaing dengan anak kelas lain dan itu kelas dua..jadi, kamu bersaing nilai dengan kakak kelas mu”
Minho berfikir.. tapi dalam hatinya dia berkata, tidak ada salahnya dicoba..siapa tahu keberuntungan untuknya
”bersedia bersaing dengan senior??,” senyum Ibu Kang
Minho mengangguk optimis,”bersedia bu.. tolong dibantu”
Ibu Kang senyum. Dia lalu menerangkan persyaratan nilai yang harus dipenuhi. Walau Minho sudah masuk di semester ke dua dan sebentar lagi dia akan masuk kelas 11, nilainya sebentar lagi di kelas 10 akan sangat dipertimbangkan untuk pengajuan beasiswa, termasuk nilai budi pekerti
”semoga ini bisa jadi kebaikan buat kamu,” kata ibu Kwang lagi
”terima kasih, ibu.. ibu sangat baik padaku,” Minho berdiri dan menunduk hormat
”Ibu hanya mencoba membantu.. jangan lupa.. belajar yang rajin dan tidak nakal,” Ibu Kwang berdiri
Minho mengangguk dan dia pamit keluar ruangan dengan wajah ceria

Yu Ri berpapasan dengan nya
”hi, Minho.. kamu senang banget kelihatannya,” sapa Yu Ri ramah
Mereka akhirnya berdiri saling berhadapan,’iya.. ibu Kwang meminta aku mengisi formulir beasiswa,”. Dia menunjukkannya pada Yu Ri
”wah.. keren.. hwaiting! Semangat ya!,” balas Yu Ri
Minho mengangguk,”terima kasih.. aku..masuk kelas dulu ya”
Dia lalu berjalan ke ruangan kelasnya
Yu Ri memandang punggung Minho yang sedang berjalan
”kasian sekali, Minho.. padahal, dia anak pintar.. sayang orangtuanya sudah meninggal”
Mereka lalu masuk kelas masing masing

Pulangnya, Minho sangat bersemangat sore itu. Selain dia membawa formulir beasiswa, dia juga membawa berkas lamaran kerja untuk kerja part time di swalayan dekat tempat tinggalnya
Di tengah jalan, Yu Ri melihatnya lagi Minho mengayuh sepeda. Dia pun membuka jendela kaca mobil, menyuruh supir pribadi ayahnya menyetir agak lambat agar bisa berdampingan berjalan dengan kecepatan kayuh sepedanya Minho
”hai, Minho.. mau langsung pulang??,” teriaknya dari samping
”tidak.. aku mau melamar kerja,” senyum Minho, setengah teriak sambil terus mengayuh sepedanya
”memang bisa?? Mau kerja apa??”
”jadi kasir part time.. di Jae San retail,”
“Jae san?? Itu kan.. retail milik Appa,” kata hatinya Yu Ri
”memang.. buka lowongan part time??,”
Minho mengangguk, lalu,”doakan ya.. aku butuh pekerjaan”
Yu Ri mengacungkan jempolnya,”pasti… semangat ya, Minho!”
Dia lalu melambaikan tangannya, tanda berpisah, karena beda jalur dengan Minho
Dilihatnya, Minho berbelok, dan dibelokan sana.. ada retail cabang milik usaha ayahnya

Appa.. aku minta tolong,” kata Yu Ri menelepon ayahnya
”Ada temanku yang akan melamar kerja part time jadi kasir di Jae san .. Namanya Minho Lee.. tolong Appa terima.. dia baik..dia suka membantuku mengerjakan PR.. yang sering aku ceritakan pada Appa,”
Ayahnya menyanggupinya dari jauh. Dia akan mengatakan pada supervisor nya supaya bisa menerima Minho bekerja.
gamsahabnida, Appa.. Appa saranghae,” kata Yu Ri. Dia pun menutup teleponnya

Minho sampai di depan Jae San One Stop Retail... dia memarkirkan sepedanya, lalu bicara dengan kasir kalau dia mau menyerahkan surat lamaran kerja part time sebagai kasir
Kasir cewek itu lalu menelepon seseorang, yang ternyata supervisor
Minho langsung dipersilahkan masuk.
Dia pun berhadapan dengan supervisor, Bo Seung Won

”Jadi..kamu mau melamar kerja part time sebagai kasir disini???,”
Minho menunduk hormat,”Iya, pak.. ini surat lamarannya”
Dia memberikannya pada Bo
”saya harus test kamu dulu ya.. berhitung dan mengingat barang.. karena kalau jadi kasir, kamu harus tanggung jawab terhadap barang yang dibeli customer... tapi.. kamu masih sekolah ya? Kelas berapa?? Kapan kamu pulang sekolah??,”
”aku.. masih kelas 1, pak.. dan pulang jam 3 sore,”
”loh... orangtuamu mengijinkan kamu bekerja??,”
Bo Seung Won tahu dari atasannya kalau Minho yatim piatu, dia ingin mengetes kejujuran nya
”Orangtua ku.. sudah meninggal.. bulan ini”, balas Minho
”oh.. saya turut berduka,” kata Bo,”kalau begitu.. sudah siap dengan pulpennya?? Kita langsung test saja.. kebetulan.. baru kamu yang mengajukan lamaran,” senyumnya pada Minho
”terima kasih,” jawab Minho
Bo pun lalu pergi ke lacinya dan mengambil berkas psikotest kerja
”ini harus kamu isi semuanya, waktunya 1 jam dari sekarang, tidak lebih.. saya tinggalkan,” kata Bo sambil menyerahkan berkas
Minho menunduk hormat dan menerimanya,”terima kasih”
Dia lalu mengerjakan test itu dengan teliti

Bo memperhatikannya dari meja yang lain
”tampaknya dia memang anak yang pintar, Tuan Hwang,” ternyata dia mengirimkan messenger kepada Boss nya, Hwang Ki Nam, ayahnya Yu Ri
”anakku juga cerita begitu,” balas Hwang,”jadi.. kalau memang dia lulus test.. langsung besok bekerja dan beri dia seragam”
”Kalau tidak lulus??,” tanya Bo
”ini permintaan anak ku..,” balas Hwang. Bo mengerti apa maksud atasannya itu, artinya, test itu hanya formalitas saja.

Satu jam berlalu, Minho menghampiri Bo
”sudah selesai, Pak.. ,” dia menunduk hormat sambil menyerahkan hasil test nya
”tunggu sebentar ya.. habis ini, kamu harus menghafal harga barang dan mengetik angka dengan cepat.. karena, biasanya di jam jam sepulang kerja, orang lebih banyak berbelanja,” kata Bo sambil mengambil hasil test Minho
”baik,” balas Minho dengan menunduk hormat
Bo pun mempersilahkan Minho keluar ruangan bersamanya
”semoga..aku bisa diterima kerja disini.. doakan ya, Chin Ho.. Kyung Soon,” kata hatinya Minho. Dia membayangkan wajah kedua adiknya

Mereka berdiri ditengah gang antara beberapa barang
”saya meminta kamu menghafal jenis barang yang ada disini, misalnya di pojok sana bagian alat rumahtangga, lalu sebelahnya bagian bayi dan seterusnya, sampai di sebelah kananmu.. aku beri waktu 20 menit dari sekarang.. tidak membawa catatan.. lalu laporkan secara lisan padaku urutan urutannya.. siap??,” perintah Bo
”baik, Pak,” balas Minho. Dia langsung ke pojokan kiri dan mulai menghafal jenis urutan barang
Dia terus melihat dan menghafal, dia lihat jam tangan pula..
Menit ke 20.. dia benar benar kembali ke hadapan Bo
Dia lalu menyebutkan satu persatu,”alat rumah tangga berupa obeng, palu, kir dan sebagainya, lalu peralatan bayi berupa popok dan sebagainya, lalu alat rumahtangga misalnya piring, sendok, garpu dan sebagainya,” dia terus menyebutkan satu persatu sampai ke kanan pojok dan selesai
”bagus.. hal ini.. kamu lulus.. sekarang..satu lagi..siap??,” perintah Bo
Minho lalu bersama Bo ke kasir..
”aku umpamakan aku akan belanja.. dan kamu memasukkan harga harga ke mesin ini dengan cepat.. ,”
Bo pun lalu mengambil kereta dorong dan dia mengambil barang apa saja, sampai kereta dorong penuh
Kasir menunjukkan cara menggunakan mesin hitung pada Minho ketika Bo mengambil barang
Minho memperhatikan dengan seksama, dia juga melihat kasir lain disebelah kasir itu bekerja melayani pembeli
”semoga aku bisa,” senyum Minho pada kasir perempuan itu

Bo kembali dengan membawa barang barang penuh satu kereta keranjang
”sekarang..coba dihitung dengan cermat... jangan langsung memakai barcode sensor.. tapi hitung satu satu.. sebagai test,” perintah Bo
”baik,” balas Minho
Lalu dia berusaha cepat mengetik satu persatu item belanja Bo
Bo menghitung dengan stopwatch nya
”heeeh.. dia pekerja keras dan cepat juga,” gumam hati Bo
”tampaknya dia diluluskan saja,” tambahnya lagi
”selesai,’ senyum Minho. Lalu kasir perempuan membantunya mengeluarkan print dan dicocokkan
”wah.. hanya salah satu.. ini bagus untuk permulaan.. tetapi.. kalau bekerja besok..tidak boleh salah,” kata Bo
Minho menunduk hormat,”baiklah, Pak..”
”kamu.. tidak ada pekerjaan lain kan?? Silahkan tunggu disini dulu..saya akan memeriksa hasil mu,” lanjut Bo lagi
”aku..akan tunggu diluar,” balas Minho

Minho menunggu diluar dan Bo memeriksa hasil testnya
Bo lalu menyampaikan hasilnya pada Hwang, ayahnya Yu Ri
”bagus, Tuan.. aku rasa.. memang apa yang dikatakan anak Tuan memang benar..dia pintar,”
”ya.. kalau begitu.. besok dia bekerja, terima kasih,” balas Hwang dalam mesengernya
”baik..,” balas Bo

Setelah itu, Bo menyuruhnya masuk lagi ke ruangannya
”selamat ya.. kamu diterima,” senyumnya, lalu menjabat tangan Minho
Minho membalas jabatan tangannya dan menunduk hormat padanya,”terima kasih,”
”kamu besok bekerja sekitar jam 4 sore..sampai dengan 11 malam.. sanggup kan??,”
”baik, pak...,” balas Minho
”dan seterusnya..begitu,”
Minho menunduk hormat, dia berterima kasih karena dia diterima kerja. Dia pun mendapatkan seragam.

Dia mengayuh sepedanya pulang ke rumah dengan hati senang
Chin Ho yang sedang duduk di depan rumah, heran
”aku diterima kerja.. jadi.. kita bisa jalan jalan atau makan enak dan bayar listrik,” kata Minho
”benarkah??,” tanya Chin Ho, dia ikut senang
Minho mengangguk,”ya.. tapi kita harus tetap hemat... bagaimanapun.. aku cuma kerja part time..,”
”nanti..aku belikan Kyung Soon coklat ya??,” dia mengelus kepala adiknya
Kyung soon kegirangan dia akan dapat coklat dari kakaknya, dia sudah lama tidak makan coklat.
”Gom juga makan coklatnya, Oppa,” balas nya pada Minho
Chin Ho tertawa,”Gom gak bisa makan, Kyung soon”
”kamu..ada PR??,” tanya Minho pada Chin Ho
”tidak.. hari ini aku kerjakan PR nya di perpustakaan, Oppa.. tapi..besok aku ada acara rapat orangtua,” balas Chin Ho
”besok..aku mulai kerja.. aku akan minta tolong bibi Hwang menjadi wali mu,”
Chin Ho mengangguk. Minho bertanya apa mereka sudah makan atau belum?? Dia melihat kulkas dan hanya ada sayuran dan beras
”Kita makan ini saja.. jangan terlalu merepotkan bibi Hwang,” kata Minho
Chin Ho dan Kyung Soon mengangguk

”aku minta tolong bibi menjadi wali untuk Chin Ho besok ke sekolah,” kata Minho ketika bertandang ke rumah bibi Hwang di depannya, bersama Chin Ho
”ini suratnya, bibi.. tidak ada yang bisa kami harapkan jadi wali, kecuali bibi,” lanjutnya lagi
Wanita paruh baya itu lalu membuka surat dari skeolah Chin Ho
”oh.. ini tentang rapat perkembangan sementara masing masing siswa.. Chin Ho bulan depan mau ujian kan??,” tanya bibi Hwang
Chin Ho mengangguk.
”baik..aku besok akan usahakan datang,” lanjutnya
”terima kasih, bibi..,” Minho menunduk hormat
”lalu..aku ada berita baik.. aku akan mengajukan beasiswa.. rekomendasi dari ibu Kwang, wali kelas ku...dan.. besok aku sudah mulai kerja part time sepulang sekolah sampai malam jam 11..,”
Bibi Hwang senang dengan berita itu,”aku senang saja.. tapi..apa kamu tidak lelah kalau nanti harus bekerja begitu, Minho??”
Minho menggeleng,”tidak, Bibi.. lagipula.. ini untuk tambahan makanan dan iuran listrik,”
”Bibi kan sudah bilang.. kalian bisa makan disini,” balas Bibi Hwang
Minho senyum saja.. dia benar benar tidak mau merepotkan bibi Hwang..orang lain yang sudah seperti orangtuanya sendiri

Minho berbaring ditempat tidurnya, memandang langit langit
Appa.. Eomma.. besok aku kerja.. tolong kalian doakan aku dari langit,” senyumnya
Air matanya kembali menetes.
”walau kalian sudah pergi.. aku yakin.. Appa dan Eomma melihatku..,” katanya lagi
Dia lalu melihat jam.. sudah jam 10 malam lebih.. lalu dia pun mencoba tidur

Sementara, Chin Ho justru malah gak bisa tidur..
”kasian Oppa Minho.. Oppa begitu keras ingin bekerja untuk aku dan Kyung soon..Oppa baik sekali.. aku tidak boleh membantah apa perintah dan kata kata oppa,” katanya. Dia membuka album kenangan keluarga nya ketika tamasya ke sebuah pulau yang indah di ujung Korea selatan.
”Appa.. Eomma.. aku kangen kalian.. kenapa pergi begitu cepat??,” Chin Ho menangis memeluk album foto kenangan itu, lalu tertidur..

Bersambung ke part 3........