Starring: Lee Minho, Park Minseo, Lee Jin Ho, Lee
Young Joon, Lee Hana.
Aku, Park Minseo, sebenarnya dari kecil
memang berbeda dengan yang lain. Di usia 4 tahun, aku sudah merasakan keanehan
pada diri sendiri. Sementara banyak anak di Seoul mungkin tidak berfikir
bagaimana seharusnya anak usia 4 tahun berfikir tentang dunia, aku sudah
melakukannya.
Ada banyak sekali pikiran di otakku sejak
kecil tentang kedamaian dunia, konflik antar negara atau orang, kenapa kita
tidak bisa damai, apa yang seharusnya kita berikan, mengapa aku bisa merasakan
penderitaan banyak orang sebelum mereka bercerita, mengapa aku bisa
menggerakkan sesuatu dengan mata ku-tapi tidak dengan tanganku, mengapa aku
bisa menebak kejadian masa depan.. aku tidak tahu. Tapi aku-Park Minseo-
menjadi sedih ketika sedari kecil aku berbeda.
Aku sering sekali termenung memikirkan,
apakah aku akan bertemu pangeran tampan yang benar-benar mengerti keganjilan
diriku ketika aku dewasa nanti. Pernah suatu kali, saat aku dan Choi Nam
menjadi teman kala SD, dia melihatku menolong seekor anak kucing yang ingin
tertabrak mobil.
“aku kaget ketika kamu bisa melempar
kucing yang hampir tertabrak motor yang ngebut itu, Minseo.. ,” kata Choi Nam saat
itu memulai pembicaraan, mereka pulang bersama karena satu arah ke rumah.
“tolong jangan cerita sama siapa-siapa
ya.. Choi Nam? Aku takut nanti mereka anggap aku aneh,” Minseo menghentikan
langkahnya lalu melihat Choi.
“kenapa kamu bisa aneh begitu?? Memang
kamu makan apa dari kecil, Minseo??,” tanya Choi polos
“aku enggak makan apa-apa.. ibu ku tetap
kasih aku kimchi, bulgogi, sayur rebus, lainnya biasa saja,” jawab Minseo.
Jalan itu memang sepi, mereka hanya
sekitar berduaan saja di gang itu.
“nanti.. kamu bisa lempar aku dong.. kalau
begitu? Kamu bisa jahat dong??”, Choi Nam jadi ketakutan, wajahnya jadi berubah
cemas, dia membenarkan letak kacamatanya
“kamu gak usah takut...aku gak akan
jahatin kamu...daridulu kan kita teman,” Minseo mencoba memegang tangan Choi
Nam, cowok gendut berkacamata itu
“gak ah...kamu jauh-jauh saja dari
aku..aku takut..kamu juga bisa lihat hantu..siapa cowok yang mau deket-deket
cewek aneh??,” kata Choi lagi
“kamu kok jadi berubah begini, Choi?? Kita
kan teman dari kelas 1 SD. Bukannya kita sudah janji..akan jadi teman terus??,”
tanya Minseo keheranan, tidak biasanya memang Choi bertanya soal itu. Waktu
Choi dibully teman-temannya karena badan gendutnya itu, Minseo diam-diam
bersembunyi dibalik tembok, lalu membelanya dan menjatuhkan anak-anak kelas
lain yang membullynya. Mereka lalu berteman dan Minseo selalu membea Choi Nama
kalau-kalau dia di bully lagi.
“kata teman-teman..kamu ini manusia aneh,”
kata Choi dengan polosnya
“aku kan sama dengan kamu juga, Choi...aku
punya tangan kaki yang sama, aku juga punya mata,hidung, rambut...sama semua
dengan kamu,” Minseo mencoba membujuknya supaya tetap berteman
“gak... aku kan gak punya hal-hal aneh
yang kamu punya. Temanmu cuma aku aja kan, Minseo??,”
Minseo mengangguk.
“aku gak mau lagi berteman sama kamu,
Minseo... aku jadi gak punya teman lagi..mereka gak mau berteman denganku
gara-gara kamu yang aneh,” Choi Nam menekuk wajahnya, pipi gembilnya jadi
tambah gembil
Minseo sedih, air matanya keluar di depan
Choi Nam,”kamu terlalu percaya sama teman teman yang lain.. “
“aku harus ninggalin kamu.. kalau enggak..
nanti aku gak punya teman..,” jawab Choi,”jadi.. mulai besok..kita gak usah
lagi barengan jalan ke sekolah..”
Dia langsung meninggalkan Minseo yang
masih berdiri menangis.
Pulang sekolah, ibunya kaget melihat mata
Minseo, anaknya itu sembab.
“Museun
il-i iss eosseubnikka??”, tanya ibunya
Minseo mengucek ngucek matanya yang masih
sembab,”aku sedih”
“wae??,” kata ibunya lagi dengan lembut, dia
menyuruh anaknya duduk lalu mengelus rambutnya yang dikuncir dua
“Choi Nam tidak lagi mau berteman
denganku, Eomma....katanya aku aneh,” Minseo jadi terisak lagi, mengingat
temannya itu meninggalkannya begitu saja
Ibunya mengelus rambut panjang anaknya
yang duduk dibawah itu dengan lembut,”kamu anak baik kok.. nanti juga dapat
teman yang lain selain Choi Nam”
“mereka bilang aku aneh, Eomma.. apa aku
ini memang aneh?,” Minseo menutupi wajahnya yang menangis di lutut ibunya
“sudahlah Minseo.. ini juga bukan
salahmu.. nanti kamu pasti bisa dapat teman lagi,” ibunya mencoba menghiburnya
“kenapa keluarga kita banyak yang aneh??,”
tanya dia lagi pada ibunya
“bukan aneh.. hanya saja.. Tuhan mungkin
memang berikan kita yang berbeda dengan yang lain, Minseo ku sayang,” jawab
ibunya dengan lembut
“apa aku bisa punya pangeran tampan
seperti apa yang pernah aku lihat pertama kali??,” Minseo tidak lagi
menyembunyikan wajahnya dari lutut ibunya, dia menengadahkan wajahnya melihat
ibunya
Ibunya dengan lembut mengusap air
matanya,”jangan khawatir.. kamu pasti bisa jadi perempuan yang manis dan
bertemu pangeranmu nanti”
“Eomma janji padaku??,” katanya dengan
memelas
Ibunya mengangguk,”ya...Eomma yakin itu,
Minseo sayang”
Semasa SMA...
“aku...sebenarnya cinta kamu banget,
Minseo...tapi..kenapa kamu bisa sih... melihat hal yang seperti itu??,” kata
seorang cowok SMA berseragam sekolah
“aku tidak melihat apapun yang
aneh-aneh..kata siapa kamu tahu itu, Kim Shin??”
“Min Jyu bilang padaku..katanya...kamu
membantu dia mengusir hantu,” kata Kim Shin dengan wajah datar
“aku tidak bisa melihat hantu,” Minseo
berbohong, dia takut Kim tidak suka dan akan memecat dia jadi pacarnya
“aku kan sudah bilang padamu...lama
kelamaan aku capek dengan segala keanehanmu itu, Minseo,” jawab Kim datar
Minseo menunduk,dia sudah membayangkan
memang sebelumnya bahwa Kim akan memutuskannya menjadi pacar
“jadi..apa aku masih bisa jadi pacarmu,
Shin??,” pinta Minseo masih menunduk
“sepertinya hubungan kita sampai sini
saja, Minseo,” jawab Kim Shin
Minseo sudah mengira, dia menegakkan
kepalanya,”ya sudah..aku minta maaf kalau memang aku aneh padamu”
“aku sudah bilang padamu sebelumnya..aku
memang tidak bisa pacaran dengan cewek aneh yang punya kemampuan aneh,” ujar
Kim Shin
“dan kamu aneh ...walau aku cinta
kamu..tapi aku jadi aneh dan asing dihadapan teman-temanku ketika aku jaln
denganmu, Minseo,” tambah Kim lagi
“mian
haeyo..aku tidak bermaksud menghina mu dihadapan teman-teman,” kata Minseo
menunduk lagi
“lebih baik kita putus saja sampai
disini..lagipula..aku juga akan pindah ke kota lain, ikut orangtuaku,”
Minseo hanya bisa menunduk ketika Kim Shin
berkata “goodbye”
Pulang ke rumah, dia menangis diatas
tempat tidur,”jadi...pangeranku bukanlah Kim Shin...dia menyakitiku...
Tuhan...kenapa kamu kasih aku keanehan ini, sehingga Kim Shin malah akhirnya
memutuskanku??”
Semasa kuliah, sama sekali Minseo tidak
ingin mengenal seorang lelakipun dalam hidupnya. Temannya hanya sedikit dan
itupun perempuan semua.
“kamu tuh hebat banget loh, Minseo.. kamu
bisa tebak semua rencana masa depanku.. kamu.. bisa baca pikiran ku ya??,” kata
Song Yu pada Minseo di depan ruangan kelas kuliah
Minseo mengelak lagi, dia memang sudah
sangat trauma dengan kehilangan teman dan pacar karena kemampuan supernatural
nya itu
“ah..enggak kok, Song Yu.. aku hanya
menebak nebak saja,” katanya agak malu dengan cewek itu
“eh.. tapi kamu unik sekali loh.. bantu
aku dong,” bujuk Song Yu
“bantu apa??,” senyum Minseo
“ummm,” Song Yu mengetuk ketuk pipinya
dengan jari telunjuknya
“kamu.. bisa baca pikiran cowok yang
namanya Lee Minho terhadapku gak??,” lanjutnya
“Lee Minho.. anak jurusan apa??,” tanya
Minseo,”aku tidak kenal Lee Minho itu”
“oh.. hahahaha.. ummm... gimana ya???,” kilah
Song Yu
“kenapa??,” tanya Minseo pura-pura tidak
tahu. Dia bisa membaca pikiran Song Yu kalau Lee Minho itu sebenarnya cowok
SMA, bukan cowok kuliahan seperti mereka. Jadi.. Song Yu suka dengan cowok yang
lebih muda
“gimana ya?? Kasih tahu gak ya??,” ujar
Song yu malu-malu lagi
“memang kenapa?? Aku memang enggak tahu,”
kilah Minseo
“tapi kamu jangan bilang siapa siapa ya..
janji loh, Minseo,” kata Song Yu dengan semangat
Minseo mengangguk, lalu Song Yu
membisikinya
“Lee Minho itu masih SMA.. tapi dia tinggi
dan cakep banget..aku suka,” kata Song Yu
Minseo pura pura kaget lalu dia tertawa
kecil,”jadi.. kamu suka Lee Minho itu yang masih muda ya??”
“cakep sih,” Song Yu ikutan tertawa
“kalau kita tingkat empat begini.. berarti
Lee Minho itu.. baru kelas 1 SMA??,” pikir Minseo
Song Yu mengangguk,”iya, hihihi...
gimana?? Kita ketemuan sama cowok itu.. mau??”
“eeeh... kok kita jadi seperti tante tante
genit begini sih??,” Minseo berusaha mengalihkan pembicaraan Song Yu
“habis gimana dong?? Aku memang suka dia
sih.. anaknya ramah tapi ya.. pendiam juga sih, kalau aku tebak,” kata Song Yu
Minseo senyum, mereka lalu duduk ditaman
kampus,”jadi.. gimana??”
“bantu aku pedekate in ke Lee Minho
itu..,” kata song Yu dengan semangat
Minseo mengangguk saja.
“oo.. jadi kalian mahasiswi universitas
Seoul ya?? Wah.. nanti juga kalau aku sudah lulus SMA, mau masuk sana... aku
minat di jurusan bisnis,” kata Minho Lee, cowok inceran Song Yu. Song Yu,
Minseo dan Minho duduk di sebuah cafe kecil.
Minseo sedikit melihat Minho,”dia seperti
wajah pangeran yang pernah aku lihat... ah.. tapi mungkin aku salah.. tidak
mungkin dia jauh lebih muda dari aku”, katanya dalam hati
Tapi Minho malah juga melihat ke
Minseo,”nama kamu tadi siapa??”, katanya ramah
“Park.. Minseo,” jawab Minseo dengan
sedikit senyum. Dia mencoba membaca pikiran Minho
“kalian sebentar lagi lulus dong ya??
Kasih aku informasi dong.. tentang jurusanmu, Song Yu,” dengan santainya Minho
panggil Song Yu yang lebih tua cukup dengan nama.
Mereka lalu ngobrol tentang jurusan
jurusan yang ada di universitas itu, termasuk yang memang didalami oleh Song
Yu. Song Yu dengan semangatnya cerita panjang lebar soal keistimewaan
jurusannya yang memang Minho minati
Minseo hanya memperhatikan mereka
berbicara, dia lebih banyak diam.
Minho malah akhirnya yang bicara sama
Minseo,”kalau kamu jurusan nya sama juga??”, katanya dengan polos
Minseo mengangguk,”Ye.. begitulah.. aku dan Song Yu satu kelas”
“oo.. jadi kalian ini memang satu kelas
ya?,” tanya ulang Minho lagi
“Appa ku mau aku teruskan usaha dia..
jadi.. aku harus ambil jurusan bisnis.. ,” lanjutnya lagi
“Appamu.. usaha apa??,” tanya Minseo, dia
sebenarnya sudah tahu, ayahnya Minho usaha tekstil dan juga sekaligus produksi
baju
“garmen,” senyum Minho
“senyum cowok ini memang seperti pangeran
yang pernah aku temui di mimpi sebelum sebelumnya,” kata hatinya Minseo, tapi
dia masih berusaha tidak diambilhati.
“waahh..kamu pasti anak lelaki sendiri
dikeluarga ya, Minho??,” Song Yu malah berbinar-binar. Dia malah membayangkan
kalau misalnya mereka pacaran, dia akan dimanja Minho.
“uh.. kenapa Song Yu mengkhayal yang
tidak-tidak sih??,” kata hatinya Minseo ketika memperhatikan mata temannya itu
yang sedang berbinar binar
“iya..aku punya adik perempuan satu.. Appa
ku gak ingin dia yang urus bisnis nanti,” jawab Minho polos
“anak ini memang aslinya baik,” kata
hatinya Minseo lagi
“Minseo.. kamu cantik loh.. sepertinya
kalau kamu pakai baju koleksi garmen Appa ku.. pantas deh,” Minho malah jadi
memuji Minseo di depan Song Yu.
“kamu kayaknya cocok loh..jadi modelnya,”
lanjut Minho lagi
“ah..enggak bisa..aku gak pede an,” Minseo
malah jadi salahtingkah
“aku saja, Minho..aku malah yang suka
difoto loh,” kata Song Yu
Minseo mengangguk,”iya..Song Yu
benar...aku sebenarnya malah lebih suka memfoto daripada di foto”
“nanti deh..aku kenalin sama Appa ku ya??
Dia memang sedang cari model foto buat garmen buatan kami,” kata Minho serius
“kamu serius, Minho??,” mata Song Yu malah
yang terbelalak berbinar juga
Minho mengangguk..
“eh.. tapi aku harus pulang.. gimana ya?
Kapan-kapan kita ngobrol lagi.. boleh kan.. minta no kamu, Minseo??,”
“eehh??,” Minseo malah heran, malah jadi
dia yang diperhatikan Minho
“kenapa?? Buat Appa ku,” balas Minho,”kan
aku sudah bilang... Appa cari model”
Song Yu menyikut Minseo,”sudah.. kasih
aja”
Minseo memberikannya no mobile
nya,”ini..aku bluetooth saja ya??”
Minho mengangguk.
Tak berapa lama,”aku pulang dulu ya...
maaf gak bisa lama-lama, besok ada test matematika,”
Mereka lalu saling pamit pulang..
“kok malah jadi Minseo yang diberikan no
Hp nya Minho??,” tanya Song Yu dalam hatinya
Sambil berjalan, sebenarnya Minseo membaca
pikiran temannya itu,”aduh...aku jadi gak enak hati dengannya”
Mereka diam-diaman saja berjalan,
lalu,”kita sampai disini saja ya?? Aku mau pergi dulu berbelanja, Eomma ku
titip pesan minta dibelikan bumbu,” kata Minseo, dia mencari alasan.
“ok deh... take care ya,” senyum Song Yu
Minseo lalu berjalan menyusuri trotoar dan
masuk dalam sebuah supermarket.
Dia memilih milih bumbu instant untuk
masak ibunya, tapi tiba-tiba seseorang menyapanya
“hai, Minseo!”
Minseo menoleh,”Minho??”, dia ketemu lagi
dengan Minho
Minho menghampirinya,”iya.. ketemu lagi
deh, hehe... kalau tahu begini.. tadi kita belanja bareng aja ya??”
“eh iya, hehe,” Minseo malah balas dengan
agak gak enak
“belanja apa?,” basa basi Minho, dia
melihat bawang putih yang sudah dikemas per 250mg
“bumbu instant, Eomma ku tadi pesan,” kata
Minseo, dia melihat beberapa jenis bumbu instant bungkus dan memilih-milih
“iya.. tadi sebenarnya aku buru buru
karena memang mau belanja dulu,” kata Minho
“kamu memang gak malu... kalau belanja
seperti ini??,” Minseo jadi mencoba ramah padanya
Minho menggeleng,”ah, enggak... aku bisa
masak kok”, katanya memasukkan bawang putih dalam keranjang belanja.
“Minseo.. kamu kan temannya Song Yu.. ada
yang ingin aku tanyakan,” kata Minho sambil masih sibuk memilih bahan makanan yang
lain
“tentang??,”
“kok aku aneh ya?? Sepertinya dia ngejar
ngejar aku banget,” ujar Minho polos
Minseo menoleh,”ah.. masak sih.. memang
sudah berapa kali bertemu??”
Minho menunjukkan dengan jarinya dengan
angka 4.
“ooh.. lalu..apa yang mau kamu tanyakan ke
aku??,” tanya Minseo polos.
“memang dia suka aku ya??,” Minho seperti
agak pede dengan bertanya itu.
“aku enggak tahu,” jawab Minseo
Minho malah jadi serius bahas itu,”ah..
masak sih? Sepertinya dia begitu deh... aku bukan GR sih.. tapi kelihatannya
gitu”
“terus.. sebenarnya kalian tadi ketemu
denganku buat apa??,” lanjutnya lagi
Minseo mengelak,”aa.. aku gak tahu sih..
kamu tanya saja Song Yu”
“aneh.. aku gak suka perempuan aneh,” kata
Minho serius lagi
“trus.. kalau kamu nanti ditelepon ayahku
untuk jadi model, mau ya??,” tawar Minho
Minseo bingung, pada dasarnya dia tidak
ingin jadi pengacau hubungan Minho dengan Song Yu, atau nanti mereka bisa
bermusuhan
“aku enggak enak dengan Song Yu nanti,”
kata Minseo pelan
“memang kamu gak punya teman ya.. selain
dia?? Kok ketakutan banget??,”
Minseo menggeleng,”aku memang tidak punya
banyak teman”, dia mengambil buah cherry kalengan
Minho malah ikut-ikutan mengambil juga.
“tapi..aku rasa sih...lebih baik kamu yang
jadi modelnya.. aku serius nih..nanti aku hubungi ayahku,”
“Song Yu saja,” kata Minseo lagi
“ah.. kamu terlalu takut dengan dia..
aneh,” kata Minho, menatap Minseo dengan tatapan dari atas ke bawah
Mereka lalu menuju kasir... sampai
hituangan dan membayar selesai.. dan keluar dari supermarket itu
“nanti malam aku telepon ya... aku tanya
ayahku dulu..tto bwayo,” kata Minho
serius.
Minseo masih ragu dengan apa yang
dikatakan Minho,”eh.. euh.. ah.. gwaenchanh
ayo... tto bwayo,”
Minho senyum lalu dia melarikan mobilnya,
kembali ke rumahnya.
“ah..aku harus bagaimana ini?? Nanti Song
Yu bisa marah padaku,” Minseo dalam kamarnya bolak-balik saja berkali-kali.
“bip..bip..bip,” bunyi telepon
“wah... Minho!,” dia panik sendiri dan
melempar Hp nya ke atas tempat tidur
Dia lalu melihat hati-hati.. apa Minho masih
mencoba meneleponnya
Beberapa kali dia lihat-lihat saja..
“angkat..enggak..angkat..enggak,” katanya
dalam hati, padahal aslinya dia melihat duluan memang Minho akan membahas
seputar rencana dia menjadikan Minseo model baju nya
Dia bolak balik saja jalan-jalan melihat
lihat Hp nya terus berdering. Setelah beberapa lama, akhirnya dia memberanikan
diri mengangkat telepon dari cowok itu,”annyeong
haseyo, Minho”, katanya dengan agak terbata-bata
“kamu Minseo bukan??,” tanya Minho
“Ye...naneun
Minseo ibnida,” jawab Minseo dengan masih agak terbata-bata
Minho malah tertawa di ujung sana,”wah..
kamu manis banget deh, Minseo.. masak ditelepon cowok malu-malu sih??”
“ah..enggak ..jadi..apa yang mau kita
bicarakan??,” tanya Minseo untuk mengalihkan rasa gugupnya
“kamu mau kan.. jadi model untuk usaha
ayahku?? Tadi sudah aku bicarakan dan beliau setuju,” kata Minho
“Ayahmu....setuju???,” Minseo malah tetap
jadi tanya balik
Minho mengangguk disana,”iya.. setuju...
memang kenapa.. kok malah gak mau jadi terkenal??”
“ah.,...enggak...kan sudah aku bilang,
Minho..aku takut Song Yu marah padaku,” jawab Minseo
“ah...kamu terlalu deh... kan belum tahu
apa dia akan marah sama kamu atau enggak... iya kan??,”
Minseo memang sudah melihat sebuah
kejadian duluan, kalau nanti Song Yu akan marah, akan menyangka dia merebut
Minho darinya. Tapi, dia ingat lagi, dia ingin orang lain tidak boleh tahu
dengan kemampuannya yang terkadang bisa melihat kejadian ke depan.
“mau kan??,” tawar dan tanya Minho lagi
“aku pertimbangkan,” jawab Minseo ,singkat
“eh Minseo...kamu aneh deh... dimana-mana
yang namanya kalau sudah dapat tawaran jadi model itu pasti banyak yang mau.. memang kamu
kenapa sih?? Kamu cewek aneh ya??,” Minho malah jadi menebak-nebak sendiri
pribadi Minseo
“memang kamu gak mau uangnya??,”
“aku bukannya tidak mau... aku.. nanti
kalau Song Yu marah padaku.. dan kami tidak lagi berteman.. bagaimana???,”
Minseo kebingungan
Minho tertawa,”sok jadi peramal deh...
Song Yu kan juga belum marah sama kamu”
“tapi itu akan terjadi,” tiba-tiba Minseo
malah jadi keceplosan.
“eh??memangnya kamu peramal
ya??wah...seperti peramal Kang deh,”
“enggak...aku bukan peramal kok,” Minseo
ngeles
“kalau bukan peramal, lalu kenapa kamu
ketakutan sekali kalau Song Yu akan memusuhi mu?? Kamu ini aneh,” balas Minho
“besok kamu ada jadwal kuliah tidak??,”
“tidak ada...sebenarnya aku hanya menunggu
kelulusan saja,” balas Minseo.
“besok kita ngobrol di cafe yang tadi
ya...aku akan ajak kamu ke rumahku, bertemu ayahku,”
Minseo makin jadi tidak enak hati, kemudian
tanpa sengaja dia bergumam,”sehabis itu...aku akan berpisah dengan Song Yu,”
katanya dan itu terdengar Minho
“kamu aneh deh...sudah ya...besok aku
tunggu seperti jam tadi..di cafe yang sama..okay??”
Minseo hanya bisa membalas dengan
perkataan “ya”, lalu Minho menutup teleponnya
Esoknya...mereka bertemu di cafe yang sama
dan jam yang sama..
“jadi..mau kan, jadi modenya usaha Appa
ku??,” tanya Minho lagi, memastikan Minseo
“atau..kamu pasti masih takut mikir kalau
Song Yu itu bisa musuhin kamu??,”
Minseo diam saja, dia memang berfikir
begitu dan itu yang dia takutkan: kehilangan teman yang selama ini dianggap
mengerti dia.
“Minum dulu sebentar, lalu kita ke
rumahku,” kata Minho lagi
“kok diam saja sih...memang kamu pendiam
begini ya??,” tanya Minho lagi ketika di dalam mobil
“enggak kok,” balas Minseo singkat
“pasti ketakutan deh,” tebak Minho lagi
Minseo malah senyum,”kamu suka banget
nebak-nebak sesuatu berdasar asumsi sendiri ya??”
“kok tahu??trus, apa lagi??,” sambil
menyetir Minho malah jadi minta ditebak sifatnya
“kamu pintar, kadang terlalu serius,
sensitif, super hemat,” jawab Minseo
Minho tertawa keras,”eh...kok kamu bener
sih??mirip dengan apa yang dibilang peramal Kang”
“peramal Kang??,” tanya Minseo, sepertinya
mereka sudah bisa saling membuka diri
Minho mengangguk, sambil tetap
pandangannya lurus menyetir,”ya...aku suka pergi ke peramal, supaya tahu
peruntungan usaha ayahku bagaimana, hehe”
“wah..memang hari gini masih harus percaya
ramalan ya??,” tanya Minseo heran
“iya...memang kamu enggak??,”
Minseo menggeleng,”enggak...buat apa?? Dan
lagi, mahal...aku gak punya uang hehe”
“kapan kapan nanti aku ajak ke sana,” kata
Minho basa basi sebelum mereka sampai di rumah Minho
Minseo melihat lihat rumah bergaya
minimalis desain sederhana itu sambil duduk, sementara Minho masuk ke dalam
bicara dengan ayahnya
“kamu, kenapa lama disini??,” tiba-tiba
Minseo berbicara sendiri
“oh...kamu ternyata memang sejak dulu
tinggal disini??,” katanya lagi sambil masih bicara sendirian,”aku harap kamu
tidak mengganggu yang punya rumah ini”
Dia tidak sadar Minho dan ayahnya
menghampiri.
“Minseo...ini ayahku,” kata Minho
tiba-tiba
Minseo sadar, lalu dia bangun dari
duduknya,”ah...mian habnida..jeoneun Park
Minseo-eyo....mannaseo bangabhabnida,”
Tuan Lee ramah padanya,”silahkan duduk”
“aku bilang pada ayahku kalau kamu bisa
jadi model. Iya kan, Appa??,” kata Minho memulai pembicaraan mereka
“apa sudah pernah jadi model sebelumnya,
Nona Park??,” tanya Tuan Lee
“aku seperti pernah bertemu orang ini,”
kata hatinya Minseo
“ah...belum pernah, Lee ssi, itu makanya aku bingung, kenapa
Minho membawaku kesini,” jawab Minseo dengan menunduk hormat
“ah...mungkin intuisinya yang bermain,”
jawab Tuan Lee,”tidak sesulit yang Anda bayangkan, Nona Park, hanya berfoto
saja”
“saya coba, Lee ssi..,” Minseo jadi gak enak hati juga
“eh...aku foto aja sekarang, biar Appa
lihat..kamu mau gak??,”
Minho menunjukkan kamera nya yang cukup
bagus.
“ya kan, Appa??,” katanya lagi. Ayahnya
mengangguk saja.
“yuk, kita foto-foto di belakang rumahku,”
tawar Minho, dia langsung mengajak Minseo ke belakang rumahnya.
Belakang rumah cukup bagus, terkesan asri
walau dikota besar, dirancang dengan halaman berumput, beberapa jenis bunga dan
pohon besar.
“kamu disitu deh.. nanti aku yang arahkan
gaya nya.. eh tunggu sebentar..aku ambil salahsatu baju koleksi Appa untuk
wanita, sebentar ya,” dia lalu masuk rumah lagi dan meninggalkan Minseo yang
berdiri ditengah kebun kecil itu
Minseo melihat-lihat seputar halaman itu,
dia lalu senyum dan berjongkok.
“eh.. kamu ada lagi disini.. kenapa ikut
aku??,” katanya ngobrol sendirian
“oh.. kamu sudah berapa lama dirumah
Minho??,” katanya lagi, ternyata dia mengobrol dengan hantu anak kecil
“jadi kamu dulunya bekas anak seorang tuan
tanah yang tinggal disini??oo...kasian banget. Tapi kan keluarga disini enggak
jahat sama kamu..jadi kamu jangan ganggu Minho dan lainnya ya? yagsog,” senyum Minseo
Minho ternyata berdiri di belakangnya!
“kamu sedang apa berjongkok disitu,
Minseo?? Apa aku gak salah lihat, kamu ngobrol sendirian??,”
Minseo jadi berdiri lagi dan dia
terkejut,”ah....enggak..aku cuma suka bunga yang ini”, dia berpura-pura melihat
dan memegang bunga kecil warna kuning yang ada di depannya
“oh..itu chrisantemum.. tapi masih kecil,”
jawab Minho,dia sudah memegang sebuah gantungan dengan bajunya,”kamu ganti di
sana ya...ini sudah lengkap bajunya,”
Minseo lalu ganti baju dan tidak berapa
lama, dia kembali lagi sudah berada di depan Minho
“wah....pantas kan, kamu pakai baju dari
produk Appaku?? Nanti aku panggil Appa dulu deh,” kata Minho senang, dia lalu
berlari lagi ke dalam
“lihat deh Appa..pantas kan, Minseo pakai
baju ini??,” kata Minho setelah kembali bersama ayahnya
“kalau begitu, besok kamu sudah bisa foto
loh, Nona Park,” ujar Tuan Lee
“ya...terima kasih, Tuan Lee,” jawab
Minseo, menunduk, menghormati ayahnya Minho
“ayo kita foto-foto!,” Minho senang sekali
“sudah, kalian saja yang berfoto, nanti
Appa yang ambil gaya kalian,”
Minho malah senang,”apa? Beneran nih,
Appa??”, matanya bersinar, dia memang suka banget difoto
“lekas ganti baju mu,” balas ayahnya
Minho langsung berlari ke dalam rumahnya
dan kembali lagi dengan model baju dari usaha ayahnya.
“anggap saja Nona Park ini teman foto mu..
ayo kalian gaya,” seru Tuan Lee
“okay!,” Minho senang banget malah disuruh
gaya. Dia langsung dekat-dekat Minseo dan mengambil gaya foto memegang pundak
Minseo.
Minseo jadi kaku sendiri dengan cowok yang
7 tahun lebih muda darinya itu. Kekakuannya itu terbaca oleh ayahnya Minho
“sepertinya Nona Park kurang suka dengan
gaya itu,” kata tuan Lee
“aaa.. Mian..
mian.. ubah gaya deh, hehe,” Minho langsung spontan ganti gaya
“lucu juga dia.. hobi nya berfoto,” senyum
Minseo dalam hatinya
Mereka lalu bergaya ini-itu dan lebih
banyak Minho yang menguasai kamera.
“tampaknya Nona Park masih kaku ya??,”
tanya tuan Lee
“ah.. mian habnida.. saya memang terbiasa
memfoto, tapi bukan difoto,” jawab Minseo diplomatis
Minho bisik-bisik ke ayahnya,”jadi gak?
Daripada temannya yang satu lagi, Appa..aku gak suka”
Ayahnya cuma mengangguk.
“ini alamat perusahaan garmen ku, Nona
Park.. besok datang kesana ya?,” tuan Lee memberikan kartu namanya
Minseo menerima dengan menunduk
hormat,”terima kasih, Tuan Lee, besok saya akan datang ke alamat ini”
“kami tunggu,” senyum Lee
“kamu tepati janji loh, Minseo.. aku sepertinya
cocok berfoto sama kamu,” senyum Minho di dalam mobil lagi, ternyata dia
mengantarkan Minseo ke rumahnya.
“malah tadi aku merasa kaku, Minho,” balas
Minseo kalem
“eh.. kamu tadi enggak ngobrol sama hantu
kan?? Dirumahku??,” Minho malah mengalihkan perhatiannya ke hal tadi ketika dia
melihat Minseo seperti ngobrol sendirian.
“ah.. kata siapa? Kan aku berjongkok
sambil memegang bunga.. apa itu?aku lupa..,” kilah Minseo, menoleh pada Minho
“chrisantemum,” jawab Minho singkat
“ya.. kan aku melihat itu.. kamu kali yang
salah?? Aku memang suka ngobrol dengan benda-benda, termasuk bunga,” Minseo
benar-benar berkilah, dia tidak mau kemampuannya ketahuan orang lain. Kemampuan
supernatural nya itulah yang membuat dia sengsara, sedikit atau sulit mempunya
teman, apalagi pacar.
“aku sih pikir..aku gak salah lihat.. tapi
hebat loh.. kamu mau ngobrol dengan bunga.. hewan dan tumbuhan kan memang
bernyawa,” ujar Minho
“Ye..
kamu benar,” balas Minseo
“tapi... nanti kamu dianggap aneh loh,
Minseo.. kalau suka begitu.. aku saja langsung anggap kamu aneh tadi loh,”
“ah.. habis bagaimana lagi? Sudah jadi
kebiasaanku,”
Minho bergumam,”umm.. mungkin kurangi saja
kali ya?? Kalau kamu punya pacar.. nanti pacarmu anggap kamu aneh loh”
“kamu sudah punya pacar??,” tanya Minho lagi
Minseo cuma tersenyum menggeleng.
“mungkin cowok-cowok lihat kamu aneh,
makanya jadi takut sama kamu, hehe,”
Minseo malah jadi tertawa kecil,”darimana
kamu tahu?ternyata kamu benar suka tebak-tebakan juga ya??”
“iya, hehe..,”balas Minho,”tapi memang..
aku juga kurang suka dengan cewek aneh..gak kebayang”
“aku pernah lihat cewek yang bisa lihat
hantu.. eh dia seperti cewek aneh..bicara sendiri..,”
Minho lalu menoleh sedikit pada Minseo dan
senyum,”aku gak suka cewek aneh”
Minseo bercanda padanya,”untung yang suka
kamu bukan aku.. tapi Song Yu, hehe”
Minho jadi ikutan tertawa juga.
“Eomma.. bahkan cowok yang jauh jauh lebih
muda dariku saja bilang..dia tidak suka cewek aneh yang bisa berbicara dengan
hantu,” Minseo curhat dengan kedua orangtuanya dimakan malam
Ayahnya senyum,”sedari kecil kamu usahakan
hilang..tidak bisa hilang juga bukan??”
Minseo mengangguk, ibunya juga.
“sudahlah, Minseo..tidak perlu
disesali..,” kata ibunya
“Appa akan terus jaga kamu.. jangan sampai
lelaki tahu ini.. tapi kamu juga baiknya jaga dirimu jangan sampai ketahuan
sama mereka,” kata ayahnya
“ini semua karena keluargamu banyak yang
begitu,” ujar ibunya
Ayahnya Minseo menoleh pada isterinya,”mau
bagaimana lagi??tapi kan kamu akhirnya terima aku juga, iya kan??”
Ayahnya Minseo lalu mengangkat gelas yang
diujung meja dengan matanya, lalu dia menangkap gelas itu setelah sudah
tertuang air putih.
“tuh kan..ayahmu begitu,” kata ibunya
“tapi kan hanya di depanmu dan
keluargaku,” balas ayahnya Minseo
“waktu itu..apa yang buat Eomma suka
dengan Appa??,” tanya Minseo
Ibunya senyum,”anehnya itu”
Minseo malah tertawa kecil,”ah.... Eomma
juga aneh kalau begitu”
Ayahnya malah tertawa keras,”Eomma mu itu
cinta mati denganku”
“hush... Nampyeon....jangan buka kartu,
hehehe,” jawab ibunya agak malu-malu, memukul pundak suaminya sendiri
Minseo tertawa,”ah..ternyata.. Eomma aneh
juga hehehe”
Minseo termenung dikamarnya sendiri, duduk
di meja belajar.
“kalau aku aneh..apa masih ada cowok yang
suka aku??,” dia menopang dagunya sampai lama.
Dia lalu ketiduran, wajahnya diatas meja
Dalam mimpinya, dia malah bertemu dengan
Minho... yang menciumnya...
“bukannya kamu anggap aku aneh, Minho??,”
kata Minseo dalam mimpinya pada Minho
Dalam mimpi itu, Minho hanya senyum saja
sambil mengelus pipinya
Minseo bangun, dia kaget,”ah.. asal
sekali.. uhhh...”, dia mengucek matanya sendiri..
Bersambung ke part 5...