Lee Minho sebagai dokter Minho Kazuki Kitamura sebagai dokter Choi Hyeon
Jun Gackt sebagai dokter Roh Seung Won
“tolong aku, Min Suh..aku benar-benar
harus pergi dari rumahku,” keluh Shin Young pada temannya Jang Min Suh. Spontan
saja Min Suh kaget, karena dia tidak pernah mendapatkan teman baiknya itu nekat
ingin kabur dari rumahnya.
“aku tidak ingin menyakiti banyak
orang...aku ingin pergi supaya kakak ku bisa bahagia dengan calon tunangannya
itu”.
“kenapa kamu tidak berusaha mempertahankan
cinta dia untuk kamu, Shin Young?? Kalau memang dia cowok yang baik,” tanya Min
Suh, dia penasaran, karena memang tidak biasanya Shin Young bertindak ceroboh.
“aku tidak ingin menyakiti Eonni Hye Rim,”
jawab Shin Young lagi
Min Suh menghela nafasnya,”ya, baiklah,
jika memang itu keputusan terbaikmu. Lagipula, apa kamu sanggup jika berpisah
dengan mereka?? Pikirkan baik-baik sekali lagi, Shin Young,”
“aku sudah bertekat ingin membahagiakan
Eonni Hye Rim dengan tidak mengganggu hubungannya lagi dengan calon tunangannya
itu, Min Suh.. “, balas Shin Young menghiba pada temannya.
“jadi...kamu mau bekerja cuma jadi penjaga
toko bunga di tempatku??,” tanya Min Suh lagi,”gajinya tidak seberapa, aku baru
memulai usaha ini”
“tidak apa, Min Suh..yang penting aku bisa
menjauh dari mereka.. sudah saatnya aku pergi,” jawab Shin Young. Min Suh
menyetujuinya. Dia lalu bertanya kapan Shin Young bisa ke kotanya.
“aku akan cari waktu yang tepat, Min Suh..
maaf sekali aku sudah merepotkanmu,” balas Shin Young.
Min Suh hanya bisa tersenyum dengan apa
yang dialami Shin Young, mungkin jika dia juga jadi cewek itu, akan melakukan
hal yang sama.
“Rasanya aku makin malas saja dengan dunia
ini, Ji Hwan,” keluh Minho pada teman sejawatnya, Seoul Ji Hwan di ruangan
temannya itu
“mau tunangan saja kok dipaksa sama yang
lain,” tambahnya lagi
“jadi... kamu beneran gak lagi sama cewek
itu?,” tanya Ji Hwan
“yaaaa... gitu deeehhh,” Minho malah jadi
malas melakukan apapun sejak ayah dan ibunya jadi repot membuat list para
undangan pertunangan
“how
poor you are,” kata Ji Hwan,”tapi kalau memang orangtuamu ingin begitu..
mungkin mereka punya alasan khusus,”
“ya..alasan seperti di cerita cerita
sinetron itu: bisnis”, keluh Minho
“kamu tidak berusaha melawan??,”
Minho menggeleng,”kakakku bilang: belum
saatnya”
“lalu..cewek inceranmu itu bagaimana??,”
Ji Hwan jadi penasaran juga
“dia seperti menghilang. Dalam beberapa
hari ini sebenarnya aku sudah beberapa kali mencoba menghubungi, tetapi selalu
tidak ada jawaban,”
Ji Hwan sedikit menghela nafas,”kamu
cerita bukan.. kalau dia itu anak adopsi teman bisnis ayahmu?? Mungkin dia
tidak enak hati dengan orangtua angkatnya itu”
“tebakanmu tepat sekali,” balas
Minho,”tapi bukan itu yang aku harapkan dari dia..aku gak ingin dia pergi dari
siapapun”
“kamu terlalu memaksa cintamu deh, Minho..
enak untukmu, tidak enak buat dia,” kata Ji Hwan dengan nada sedikit sinis
“aku merasa susah ditinggal dia..apa aku
bisa.. mencari yang seperti dia lagi??,” keluh Minho lagi
“pikiranmu masih seperti
anak-anak..bukannya cinta itu sifatnya gak bisa memaksa??,” tanya Ji Hwan,
sepertinya dia ingin rekan nya itu pasrah dan tidak berusaha memaksakan hatinya
Minho kepada Shin Young.
“aku hanya mau berikan yang terbaik untuk
dia,” Minho membela dirinya sendiri
Ji Hwan berdiri dan menepuk-nepuk pundak
Minho yang masih duduk,”Chigwauisa
Lee .. tidak seperti itu caranya.. itu namanya maksa.. kalau dia enggak cinta
kamu.. masak mau dipaksa?? Kasihan juga dia nanti”
Minho memelas,”masih lebih kasihan aku..
aku seperti gak punya power apapun untuk memilih pasangan hidup”, dia menunduk
saja.
Selesai dia curhat dengan temannya itu,
pulang dia tunjukkan wajah lesunya di dalam apartmentnya.
“Rasanya aku malas pulang,” keluhnya
sembari menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Minho membuka dasinya sambil masih
berbaring, dia lemparkan ke lantai, dia buka juga kaus kakinya sambil tiduran,
lalu dilempar ke lantai, entah kemana saja, sampai hanya tinggal kaus dalamnya
saja.
“Gosh.. rasanya semakin tercekik,”
keluhnya berkali-kali. Dalam hatinya, dia mencari cara untuk memaksa Shin Young
mencintainya dan hidup bersamanya.
“Ini benar-benar gila.. aku sudah cinta
mati padanya,”
“bip...bip..,” smartphone nya berbunyi,
ternyata panggilan dari kakaknya, Hye Gyo.
“Noona??
Museun il-iya??,” Minho mencoba bangun dan duduk
“sedang apa?? Pusing??,” tanya kakaknya
Minho mengangguk,”Ye.. rasanya mau mati,”keluhnya.
“Mati tidak menyelesaikan masalah, Lee
Minho... jangan mudah nyerah jadi cowok,” Hye Gyo jadi ketus dengan adiknya sendiri
itu
“habis..aku bagaimana lagi.. Eomma dan
Appa sedang senang-senangnya menyusun list undangan, aku menderita,” Minho
cemberut habis-habisan..
“aku tahu kamu pasti lagi cemberut
disana.. dasar masih anak-anak,” kata Hye Gyo lagi
“aku harus bagaimana??,” tanya Minho,”aku
benar-benar tidak suka Hye Rim”
“bawa kabur saja dia,” kata Hye Gyo
“huh?? Kenapa jadi berantakan begini??,”
Minho malah semakin bingung
“dia itu tidak enak dengan keluarganya,
itu sebabnya dia memaksa memilih pergi,” katanya lagi
Hye Gyo bergumam dari sudut telepon
sana,”umm... kalian berdua sama-sama menderita. Aku bisa lihat dia memang
perempuan manis dan baik, tapi dia bukan orang yang tega menyakiti orang lain”
“begitulah.. aku menyerah padanya dari
sisi itu,” balas Minho
“kamu tahu no teleponnya?? Biar aku bicara
padanya,” pinta Hye Gyo
“akhirnya, Noona mengerti juga apa
maksudku,” Minho memang terkadang terlalu berharap kakaknya itu sedari kecil
membantunya kalau ada masalah pelik yang dia bingung bagaimana
menyelesaikannya. Minho lalu dengan sangat senang hati memberikan nomor telepon
Shin Young pada kakaknya itu. Hatinya jadi berbung-bunga lagi, berharap
kakaknya itu akan menolongnya.
Benar saja, Hye Gyo benar-benar
menghubungi Shin Young. Awalnya Shin Young sangat menolak bertemu dengan kakak
cowok yang sudah mengejar-ngejarnya itu, tapi akhirnya dia mencoba berbaik
sangka dan mau bertemu dengan Hye Gyo. Mereka lalu janjian di sebuah
restaurant. Sengaja Hye Gyo meminta bertemu ditempat yang tidak banyak orang
akan tahu pembicaraan mereka.
“aku sudah pesan sebuah restaurant, kamu
harus stand by disana,” kata Hye Gyo
ketika menelepon Minho lagi
Wajah Minho senang sekali, dia
membayangkan akan bertemu lagi dengan Shin Young setelah hampir dua minggu
tidak bertemu.
“ya..aku akan ikuti apa katamu, Noona...
terima kasih..sudah mau bantu aku,” Minho benar benar senang, dia sangat kangen
dengan Shin Young
“simpan dulu senangmu itu, Minho..sebab
aku harus berfikir bagaimana caranya dia akan cinta kamu habis-habisan tanpa
berfikir tentang Hye Rim dan orangtua angkatnya itu,” balas Hye Gyo
“aku ikuti saran Noona.. yang penting aku
bisa bertemu dengan Shin Young,” kata Minho dengan senang hati
Sementara disana, Shin Young dikamarnya
mencari akal, bagaimana dia bisa menghindar dari Minho. Sebenarnya dia juga
ingin bertemu, dia tidak bisa berbohong pada hatinya sendiri kalau dia memang
suka dengan cowok itu, tetapi, rasa takutnya mengalahkan rasa sukanya itu.
Minho senang sekali, lantas dia nekat
pergi ke toko perhiasan membeli cincin.
“aku tidak boleh salah langkah lagi...aku
tidak mau nikah dengan Hye Rim,” kata hatinya Minho, entah kenapa dia sangat
yakin kalau Shin Young akan menerimanya.
“Aku minta maaf memanggilmu ke sini, Shin
Young.. ,” senyum Hye Gyo pada cewek inceran adiknya itu
“aku mengerti apa yang akan dibahas
sekarang,” kata Shin Young dengan suaranya yang lembut
“ya..tentu kamu tahu.. semua tentang cinta
Minho padamu,” kata Hye Gyo dengan senyum
“aku tidak bisa mencintainya walau aku
suka padanya...kasihan Eonni Hye Rim dan orangtua angkatku.. mereka sangat
mengharapkan Minho bisa menikah dengan Eonni Hye Rim,” balas Shin Young masih
dengan suara lembutnya
“jangan keras kepala, Shin Young.. adikku
tulus cinta sama kamu... dia terpesona dengan kebaikan hatimu,” Hye Gyo jadi
panas juga dengan keras hatinya Shin Young. Dia tahu konflik batin yang
diderita cewek itu yang ingin mencintai adiknya, tapi terhalang oleh keluarga
angkatnya itu
“Eonni pasti sudah tahu apa permasalahan
kami.. aku ingin menjadi anak yang baik dan tidak menyusahkan keluarga Min..
tentu saja, kalau aku meneriman cinta Chigwauisa
Lee.. tandanya aku melemparkan semua kebaikan keluarga Min,” jawab Shin Young.
“ah.. ternyata kamu keras kepala juga,
Shin Young...apa kamu tidak sedih kalau nanti Minho akan menikah dengan kakakmu
itu? Padahal..aku tahu kalian suka sama suka.. aku tahu Minho sama sekali tidak
suka, bahkan benci dengan Hye Rim...tapi kamu malah menghindar, lama-lama Minho
bisa sakit hati denganmu,” Hye Gyo menghela nafas, dia bersandar ke kursi lalu
asik meminum air mineral yang dia pesan sedari tadi.
“Rasanya kamu tidak adil dengan Minho,”
katanya lagi
Shin Young menunduk... Hye Gyo
membiarkannya berfikir.. tak berapa lama, dia melihat Shin Young menangis tanpa
suara.
“kamu... benar-benar pada kenyataannya...
cinta dengan Minho bukan?? Kenapa kamu mengelak??,” tanya Hye Gyo setelah
kesunyian berusaha dipecahkan.
Shin Young masih diam... Hye Gyo ikutan
diam juga.
“ya, baiklah....,” kata Hye Gyo, lalu dia
memencet HP nya
Tak berapa lama, Minho muncul di depan
mereka.
Shin Young nenengadahkan
kepalanya,”Minho...”, wajahnya masih basah dengan air mata.
“jangan lagi menolakku, Shin Young,” ujar
Minho. Dia langsung berjongkok di hadapannya. Dia memegang jari manis kiri
cewek itu dan langsung mengeluarkan cincin yang sudah dibelinya dari kemarin.
“aku sudah mengikatmu..tidak perduli
siapapun akan memisahkan kita,”
“nan
dulyeowo..eonjenga elineun hamkke hal su-eobs-seubnida,” wajah Shin Young
justru terkesan takut ketika Minho memakaikan cincin dijarinya, dia tidak ingin
mengecewakan Minho.
“nan
nawa hammke dangsin-i silmanghagehago sipji anh-a,” ujar Shin Young lagi
“hajiman..uliga
hammke hal su-issda.. naneun hwagsin”, Minho membalas rasa tidak percaya diri Shin Young dengan keyakinannya,
bahwa mereka bisa bersama.
“aku tidak bisa,” Shin Young mendadak
berdiri dan meninggalkan mereka
Hye Gyo ikutan berdiri dan mencegahnya,
tetapi kemudian dia sendiri yang melepaskan tangannya dari Shin Young
“aku minta maaf,” Shin Young senyum pahit,
lalu pergi
Minho berdiri menyaksikan itu semua, dia
sedih.
Shin Young pulang dengan wajah lesu, dia
langsung menuju ke kamarnya. Di antara ruangan, dia melihat ibu angkatnya dan
Hye Rim bercanda-canda.
“Jadi Eomma sudah susun semua undangan??,”
Hye Rim wajahnya sangat ceria sekali.
Ibunya mengangguk,”tinggal mungkin 5-10
orang lagi teman ayahmu.. sisanya sudah disebar.. anak Eomma bahagia sekali”
“tentu dong... aku daridulu suka dengan
Minho.. akhirnya...empat tahun menunggu..bisa juga Minho jadi milikku,” Hye Rim
sangat berwajah ceria ketika bicara dengan ibunya.
Ibunya tentu saja sangat senang anaknya
bisa bahagia dengan siapa yang dia pilih.
Shin Young menyandarkan dirinya di dinding
antar ruangan. Dia melihat kembali cincin yang tadi tidak sempat dikembalikan
lagi dari Minho. Air matanya jatuh.
“mian
haeyo, Minho...,” katanya
dengan sedih berurai air mata. Lalu, dia meninggalkan tempat itu, menuju
kamarnya.
Minho berjalan gontai menuju apartmentnya,
kakaknya menyusul dibelakangnya.
Mereka lalu duduk. Minho menengadahkan
kepalanya di atas sofa.
“tampaknya dia memang tidak bisa lagi
diharapkan untukmu.. dia begitu merasa bersalah..dan kalau kamu menikah dengan
Hye Rim.. itu cara dia membebaskan dirinya,” kata Hye Gyo, duduk disamping
Minho
Minho diam saja, dia masih menengadahkan
kepalanya.
Hye Gyo jadi menarik nafas panjang, ikutan
menengadahkan kepalanya ke langit-langit.
Mereka diam. Butiran air mata menetes dari
ujung mata Minho.
“berat...aku benar-benar tidak ingin
dengan Hye Rim,” katanya datar.
“aku pikir.. sebaiknya jalani saja..
mungkin dengan seiring waktu kamu akan bisa cinta padanya,” balas Hye Gyo.
Lalu dia duduk seperti biasa,”kamu
nangis??”, katanya pada Minho.
“aku sudah berkhayal hidupku akan indah
dan bahagia dengan Shin Young, Noona.. ternyata dia menghindar dan tidak ingin
lagi dengan ku,” jawab Minho, masih dengan kepala menengadah ke langit.
“Kadang takdir tidak bisa dielak.. jadi..
ya sudah.. aku cuma yakin, kamu lama kelamaan akan bisa menerima Hye Rim,” ujar
Hye Gyo
Minho diam saja, dia memejamkan matanya.
Hye Gyo kasihan juga lihat adiknya tidak bisa menentukan garis hidupnya
sendiri.
Dia lalu berdiri,”sampai kapan kamu mau
seperti ini terus, Minho??Mungkin ada harapan Hye Rim berubah sifatnya”
Minho masih memejamkan mata,”aku pikir
tidak”, katanya pelan.
Hye Gyo menuju pintu,”baiklah..aku
pulang.. kalau kamu ada apa-apa lagi..telepon aku..jangan kamu bagi lagi
sendirian masalahmu”
“take care, Noona,” balas Minho singkat.
Hye Gyo pergi dari apartment Minho.
Mata Minho masih terus terpejam...sampai
pagi kembali datang..
“aduh..kamu gimana kalau begini?? Matamu
bengkak banget.. memang kamu gak tidur-tidur apa???,” tanya Han, seorang perias
model
“aaa..
mian.. mian...akhir ini aku banyak dapat operasi rahang.. ya.. jadi mataku
bengkak..,” balas Minho sambil masih diberikan eyes rolling cream oleh Han.
“aduuuh.. laku sekali deh cinta jadi
dokter gigi,” puji Han yang agak banci,”jadi.. Chigwauisa Minho...kapan nikah dengan Hye Rim si cerewet itu??”
Minho kaget, dia lalu memegang tangan Han
supaya tidak meriasnya lagi,”tahu darimana??”
“loh... Hye Rim sudah kasih undangan ke
kita kita... kamyu gak tahu??,” tanya
Han, centil mengerling,”aduh...ini pasti gegara
deg-degan deh... jadi lupita (lupa-red)
sama teman-teman disini”
Minho menggerutu dalam hatinya,”Hye Rim
brengsek..menyebalkan”
Han lalu meneruskan pekerjaannya merias
Minho sambil selesai. Dia cerewet sekali merasa senang Minho bisa dengan Hye
Rim, ternyata Hye Rim sesumbar sana-sini kalau mereka memang sudah saling cinta
dan memang lebih baik semuanya dipercepat saja.
Minho aslinya sangat kesal, tapi dia
berusaha diam dan tetap profesional bekerja.
“Jadi..kamu mau bertunangan juga dengan
Hye Rim, Minho??,” senyum Song Yi. Minho mengajaknya makan siang minggu itu
selepas mereka berfoto bersama untuk sebuah model iklan baju.
“jika aku berkata sebuah kemungkinan...
lebih baik aku denganmu, Noona Song Yi,” senyum kecut Minho pada teman kerjanya
itu, yang pernah Hye Rim gampar.
“ah, hehe...nanti aku digampar dia lagi,”
Song Yi kembali teringat hal itu diparkiran.
“dengan dirinya saja dia tidak respect..apalagi dengan oranglain,” ujar
Minho,”aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku dengannya.. aku akan
berhenti saja jadi model di agent
ini”
“umm..,” gumam Song Yi,”jangan sampai
hidupmu terhambat karena kamu menikah dengan dia.. gak ada salahnya kok tetap
terus jadi model,”
“ya...mungkin..tapi tidak di agent
ini..aku putus kontrak saja...atau..kalau memang tidak ada agent yang mau
terima aku..ya..aku berhenti saja..jadi dokter sudah cukup buatku,”
“kamu seperti putus asa sekali dengan
hidupmu akhir-akhir ini Minho...apa..sebenarnya kamu sedang jatuh cinta??,”
tanya Song Yi,”aku hanya menebak saja”
“memang..aslinya aku cinta dengan adiknya
Hye Rim,” balas Minho dengan malas. Dia malah menopang dagu.
“aduh.. gawat sekali.. kenapa bisa
begitu??,” tanya Song Yi, matanya menatap Minho dengan penarasan.
“cinta kan gak bisa dipaksa dengan si
ini...dengan si itu,” jawab Minho, cemberutnya mulai lagi
Song Yi tersenyum,”kalau begitu.. kejar
dong cintamu.. “
“aku sudah memberikannya cincin..eh dia
malah kabur..aku kehabisan akal,” balas Minho masih dengan wajah cemberut
“kasihan kalau begitu pacarmu
itu...mungkin dia memang sedang dirundung duka juga,”
Minho mengangguk saja, dia cerita pada
Song Yi kalau dia memang sudah putus harapan soal cinta dan mungkin dia akan
terima saja takdir itu apa adanya tanpa melawan, sambil mencari cara lain
supaya tetap bisa mendapatkan cintanya kembali suatu hari nanti. Song Yi
sebagai teman kerja tetap menyemangatinya supaya tidak cepat putus asa.
Minho makan malam dengan Hye Rim. Orangtua
mereka sengaja menyuruh mereka melakukan itu supaya makin dekat saja.
Hye Rim senyum dan senang sekali malam
itu, tapi Minho bete sekali dengan kelakuan cewek itu. Sedari dia menjemput Hye
Rim, dia diam saja. Dia sangat tertusuk hatinya ketika menjemput, dilihatnya
Shin Young ada di depan rumah dan tersenyum padanya.
“kami jalan dulu, Shin Young!,” Hye Rim
senyum sinis pada adik angkatnya itu.
Shin Young membalas dengan
ceria,”hati-hati, Eonni... selamat bersenang-senang ya..”
Minho menatap Shin Young dengan tatapan
berharap, walau sekilas saja.
“aku cinta kamu, Shin Young.. walau
mungkin kita saat ini tidak bisa bersama..aku yakin pasti kita akan bertemu dan
bersatu lagi,” kata hatinya Minho ketika sekilas melihat Shin Young
Shin Young menunduk hormat pada
Minho,”jaga kakakku ya”, seperti merasa tidak pernah ada sesuatu apapun yang
pernah terjadi diantara mereka. Hye Rim membawa koper. Habis makan malam,
ternyata dia ingin menginap di apartment Minho. Sudah biasa disana terkadang
pasangan hidup bersama begitu saja sebelum tunangan.
“semua sudah dipersiapkan loh... kamu
jangan cemberut begitu, Minho,” kata Hye Rim dalam mobil ketika mereka habis
makam malam bersama, menuju apartment Minho.
“I
dont care,” balas Minho sinis. Dia memang dari awal sudah tidak suka dengan
proses itu.
Hye Rim malah tertawa,”jangan begitu dong,
sayang.. nanti kan juga kamu akan jadi suami ku”
“I
dont love you,” balas Minho singkat, dia cuek saja, tetap menyetir sampai
ke apartmentnya.
Sampai masuk ke dalam apartment pun, Minho
diam saja.
Saat Minho masuk ke kamarnya mengganti
baju, Hye Rim ikutan masuk ke dalam, dia memeluk Minho.
“lepasin..aku gak suka,” ujar Minho sinis
Hye Rim emosi,”sinis sekali padaku!”
“Brak!”, dia menendang lemari pakaian
Minho. Minho hanya menoleh, dengan ekspresi datar, santai, tidak menanggapi
emosi cewek itu, lalu keluar kamarnya, menuju ruang tamu dan nonton tv.
Dia terus menonton tv, walau tidak tahu
apa yang ditontonnya. Sampai larut malam. Hye Rim hanya berbaring saja di kamar
Minho.
Lama sekali akhirnya dia keluar juga.
“kamu tidak mau tidur??,” katanya pada
Minho, dia berdiri di depan pintu kamar. Minho diam saja, sama sekali tidak
menjawab pertanyaan Hye Rim.
Hye Rim menghampiri dan menarik tangannya.
“apa apaan sih kamu, eh??,” Minho marah
padanya,”sama sekali tidak lucu!”
“lalu..buat apa aku disini kalau tidak
tidur denganmu??,” tantang Hye Rim
“tidur saja sendiri..,” Minho duduk lagi,
lalu dia tiduran diatas sofa.
“menyebalkan.. sudah mau tunangan saja
masih menyebalkan!,” Hye Rim masuk kamar Minho dan membanting pintu kamar
dengan keras, sampai terdengar “blam!”.
Minho santai saja, walau hatinya gusar.
Dia lebih memilih tidur di sofa depan tv.
Waktu-waktu berlalu, dia melihat jam. Lalu
mengambil HP nya dari tas yang dia taruh diatas meja.
Ternyata, dia mencoba menelepon Shin
Young...tetapi..tidak diangkat-angkat..
Malam itu, Shin Young diam-diam pergi ke
Busan..tanpa sepengetahuan kedua orangtua angkatnya.. menuju rumah Jang Min
Suh..
“selamat tinggal, Appa.. Eomma.. aku minta
maaf..aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan Eonni Hye Rim bersama Minho..
jadi..aku pergi saja,” dia mengendap endap keluar dari rumah dini hari itu..
untuk tiba dibandara dengan pesawat paling pagi ke Busan..
Ditengah perjalanan, dia mencoba tidak
menangis, walau air matanya keluar. Dia hanya bisa melihat cincin yang Minho
pakai dijarinya..
“Mian
haeyo, Minho... salanghae...hajiman ulineun deo isang hammke hal su eobsda”,
akhirnya, dia terisak..
Sementara Minho bingung..kenapa dia tidak
bisa lagi menghubungi Shin Young..
Bersambung ke part 11...