This is me....

Senin, Juli 07, 2014

Pernikahan ½ (Part 25: Nasib Mantan Pacar)


“ya...aku besok pulang, Okaasan,” kata Aiko yang berbicara pada ibunya ditelepon malam itu
“Okaasan sempat sedikit cemas denganmu makanya menelepon. Kamu sehat saja kan disana?,”
Aiko jadi bingung kenapa ibunya begitu cemas, dia menanyakan dan ternyata ada kekhawatiran sendiri ketika anaknya jauh
shinpai shinaide kudasai, Okaasan... semua keluarga Minho baik padaku,” katanya, dia menyembunyikan masalahnya pada ibunya sendiri, tidak ingin ibunya tahu kalau sebenarnya dia masih belum bisa diterima dan hubungannya dengan keluarga Minho masih sangat kaku.
“lekaslah pulang.. ada yang perlu kamu tahu dari teman-temanmu,” ujar ibunya lagi
nan desu ka??subete ga daijyoubu desu ka??,” katanya jadi mulai sedikit gak enak hati.
“ibu tidak bisa ceritakan... kamu pulang saja kesini... dan langsung berkumpul dengan teman-temanmu,”
Dia jadi kepikiran apa kata ibunya,”berkaitan dengan siapa?? Ichirou kun??”
Minho yang mendengar kata Ichirou langsung mendekati Aiko,”ada apa??”
Aiko menggerakkan tangannya, supaya Minho jangan bertanya banyak dulu padanya. Minho mengangguk saja, dia lalu duduk iseng-iseng memainkan remote mobil balap dikamarnya.
“ibu tidak bisa bercerita banyak, biar teman kamu saja yang bercerita nanti.. Makoto kun menelepon beberapa hari yang lalu dan mereka pikir, kalian sudah pulang,”
Aiko jadi cemas dengan Ichirou, memang beberapa hari sebelum mereka pergi, Ichirou sepertinya aneh dan terkesan garing bercanda dengan mereka, itu semua karena dia mendadak sakit.
“besok, aku akan bilang pada Minho Otto, supaya segera pergi ke rumah Ichi kun... hontou ni arigatou, Okaasan,”


Minho masih bingung dengan pembicaraan mereka, walau dia santai saja masih bermain mobil remote dalam track, mainannya sewaktu SMA.
“ada apa??,” dia lalu menoleh pada Aiko
“sepertinya ada berita buruk tentang Ichi kun,” kata Aiko datar, dia seperti melamun, duduk disamping Minho, wajahnya mendadak jadi sedih
“kenapa Ichi kun??,” tanya Minho lagi
“Okaasan tidak bilang pada ku, tapi selepas kita pulang esok, kita harus segera pergi ke rumahnya... itu pesan Okaasan dari Makoto kun,”
Minho merangkulnya,”sudahlah...mungkin mereka kangen kita”
Tiba-tiba Hp Minho berbunyi lagi...
Aiko malah menghampiri itu,”denwa”, katanya pada Minho
“biarkan saja... aku malas,” jawab Minho, dia asik saja main mobil balap remote control itu
Aiko hanya memperhatikan saja Hp Minho berbunyi berkali-kali..
“sepertinya penting.. dia menelepon terus,” Aiko akhirnya yang mengangkat
“Halo, Minho,” kata suara ditelepon itu, ternyata suara cewek
to whom am i speaking??,” Aiko tidak bisa berbahasa korea, jadi dia berbicara inggris
“ah... sorry.. I am Minho’s friend, Eun Ha,” ternyata mantan pacarnya Minho yang telepon lagi
“aa.. Eun Ha.. wanna talk with Minho? Wait,” Aiko tanpa curiga memberikan Minho teleponnya,”dari Eun Ha... “
aigoo... najung-e munje,” Minho menerima telepon tapi menggerutu, Aiko hanya bisa melihat ekspresinya ketika mengambil Hp nya sendiri.
“sepertinya dia menggerutu,” kata hatinya Aiko, menebak sendiri.

Minho lekas menjauhkan dirinya dari Aiko, cewek itu tidak komentar apa-apa, hanya memandang Minho yang berdiri di sudut kamar
“naega dangsin ege yaegihago sip-eo, Minho,” kata Eun Ha dengan suaranya yang lembut
e daehan tto mwoga?” tanya Minho
Aiko masih hanya melihat Minho. Rasanya ada yang aneh, tapi dia tidak ingin mengganggu pembicaraan itu, dia malah memegang-megang mainan kecil Minho dan mencoba nya.
“aku masih ingin bertemu denganmu...mungkin untuk terakhir kalinya,” kata Eun Ha
“jangan berkata seperti itu...aku tidak suka,” balas Minho,”memang..ada masalah apa lagi dengan keluargamu??”
“tidak ada..tetapi aku ingin bertemu denganmu,”
“aku tidak enak dengan Aiko chan... lagipula..aku membayangkan sesuatu tidak enak tentang yang terakhir,” balas Minho dengan mimik serius
Entah mengapa, ketika Minho berwajah serius itu, Aiko memperhatikannya dari tempat dia duduk ke jendela, tempat Minho sedang berbicara.
Matahari pagi menyinari wajah Minho, Aiko memandangnya dengan senyum
“wajahnya serius sekali.. mungkin temannya lagi ada masalah,” kata hatinya Aiko.

“kenapa, Minho?? Aku hanya ingin bertemu..,” kata Eun Ha
“kemarin aku sudah membantumu... aku membayangkan wajah Aiko chan ketika kejadian kemarin.. rasanya aku bersalah kalau berkhianat. Kita memang punya masa lalu, tetapi sudah saatnya masa lalu itu dilupakan,” balas Minho, lagi dengan mimik serius
“aku semakin gelisah.. aku minta maaf.. karena cintaku dalam padamu,” kata Eun Ha
Minho menghela nafas sejenak, dia memang tidak ingin terjerumus lagi.
“sepertinya memang pembicaraan serius sekali,” kata hatinya Aiko
Kepala Minho mendadak pusing, lalu Aiko menghampirinya.
daijyoubu?? Memai no??,” tanya dia pada Minho
Minho mengangguk saja.
osuwatte kudasai,” Aiko memintanya dengan sopan untuk duduk, sementara Minho masih memegang Hp nya, dia menggantung pembicaraannya dengan Eun Ha
Disana, Eun Ha hanya berkata,”hi, Minho.. kamu masih disana??”
Aiko sigap mengambil Hp nya Minho yang hampir jatuh terlepas dari tangannya Minho.
“ah.. Eun Ha.. i am so sorry.. he gets headache..,” katanya pada Eun Ha
“oh..aku minta maaf... selamat pagi,” jawab Eun Ha langsung menutup teleponnya

“sebentar..aku ambilkan minyak,” kata Aiko pada Minho yang duduk di sisi tempat tidur
Minho mencegahnya, memegang tangannya,”tidak usah..disini saja”
Aiko pelan-pelan berjongkok di depannya,”kenapa?? Apa yang terjadi tadi??”
Minho menyuruhnya duduk disampingnya, lalu dia memeluknya.
“aku minta maaf,” katanya pada Aiko yang dia peluk erat, erat sekali
Aiko tertawa kecil,”minta maaf kenapa?? Memang.. Nampyeon salah apa padaku??”
“Eun Ha..,” kata Minho
“umm...kenapa Eun Ha... kanojo wa.. anta no mukashi no gaarufurendo, ne??,” katanya pada Minho, Aiko menebak...kalau sebenarnya Eun Ha itu mantan pacar Minho.
Ye.. mian...gomen,” jawab Minho dengan masih memeluk dirinya
“oh,” jawab Aiko singkat
“kalau kamu mau marah... marah saja..aku sudah salah,” kata Minho.
Aiko menggeleng dalam pelukan Minho,”iie.. okora nai..i am not angry at all
“aku sudah merasakan itu...tetapi..aku yakin, Nampyeon tidak akan berkhianat padaku,” katanya lagi
Lalu dia minta Minho melepaskan pelukannya dan dia tertawa kecil pada Minho,”ih..cengeng deh.. masak nangis sih??”
Ternyata dia melihat Minho menitikkan air mata.
kanojo wa kiseu shita,” Minho mengaku salah
Aiko cuma senyum,”lalu??”
“tapi..aku membayangkan wajahmu ketika itu,” lanjut Minho
“dan??,” tanya Aiko lagi
“dan..aku bilang..kalau aku enggak bisa begitu,” jawab Minho lagi
“kalau aku yang cium kamu...apa akan terbayang Eun Ha lagi??,” senyum Aiko padanya, lalu dia berani mencium Minho cukup lama.
Selepas itu, Minho hanya menggeleng,”tidak.. aku cuma sayang kamu”
gomawo,” balas Aiko. Dia memeluk Minho.
“aku juga gak akan pernah mau melepaskanmu,” kata Aiko padanya
Minho melepas pelukan Aiko, mencoba senyum,”lalu..bagaimana??”
Aiko memutar mutar bola matanya, Minho cekikikan sendiri.
“eh..dia menendang!,” teriak Aiko
“sakit?? Waktu kecil..aku jago main bola loh,” canda Minho
“aiyoo.. pantas saja, huff,” keluh Aiko, dia menjewer kuping Minho yang lebar,”seperti otoochan nya”
Minho tertawa-tawa, dia lalu berdiri dan menarik Aiko keluar kamarnya.

Ternyata dia berteriak memanggil ibunya sendiri,”Eomma!,” suaranya seperti anak kecil manja
“aduh..aku jangan ditarik tarik, Nampyeon,” Aiko berjalan agak diseret karena berat badannya.
Ibunya menghampiri mereka,”kenapa??”
“aku mau Eomma meraba perutnya..dia menendang beberapa kali,” kata Minho dengan senang
Ibunya senyum dengan tingkah anaknya sendiri,”ayo kemari, Aiko”, lalu setelah Aiko mendekat, ibunya Minho meraba perut anak menantunya itu
“heeeehh...dia memang bergerak.. anak pintar,” senyum ibunya Minho
“Eomma senang kan??,” tanya Minho. Ibunya mengangguk.
“besok kami sudah mau pulang, padahal masih kangen disini,” Minho cemberut seperti anak kecil
“kami sudah belikan oleh-oleh untuk keluarga Kohashi,” kata ayahnya Minho
“ah, tidak perlu repot, Ayah,” jawab Aiko menunduk hormat
“tidak apa, lagipula mungkin kalian belum pernah makan sayuran ini,” kata Ayahnya menunjuk pada sekotak sayuran yang sudah dikemas rapi supaya besok diijinkan masuk dalam bagasi.
Mereka lalu bicara tentang keinginan pulang besok dan keperluan tambahan apa yang perlu di bawa lagi
“hari ini kita jalan-jalan ke menara saja ya...gak usah jauh-jauh,” ujar Minho
Aiko hanya mengangguk saja menuruti apa katanya,”yang penting aku bisa tahu”

Sepanjang jalan ke menara, mereka terlihat senang-senang saja. Tapi sebenarnya Minho masih merasa tidak enak dengan Aiko soal kasus kemarin dan tadi pagi.
Begitu naik menara dan naik kereta gantung, dia berbicara pada Aiko lagi,”seperti ada perasaan, hal yang ganjil rasanya hari ini”
“bukannya masalah yang tadi sudah selesai?? Aku sudah maafkan,” jawab Aiko
“enggak tahu kenapa, rasanya masih belum selesai,” kata Minho lagi
“ah, sudahlah...gak usah terlalu dipikirkan banget,”
“eh..pemandangannya indah sekali..!!,” kata Aiko lagi, teriak senang pada Minho
Minho mendekat padanya, lalu menciumnya
“aku gak tahu deh...gimana jadinya kalau kita waktu itu tidak bertemu dan tidak satu kelompok,” katanya mengenang peristiwa pertama kali mereka satu kelompok pengenalan kampus.
Aiko hanya senyum saja dengan perkataan Minho.
“kenapa senyum??,” tanya Minho, bingung.
“nan demo arimasen (gak ada apa-apa-red),” balas Aiko
“kata orang-orang....kalau pacaran disini romantis loh,” ujar Minho iseng
sou desu ne,” jawab Aiko singkat
“sepertinya memang ada hal yang mesti kita bahas...ada yang tidak. Kemarin itu, aku sempat curiga dengan mu...tapi aku segera tepis itu..aku ingin kepercayaanku pada orang yang aku sayang jadi penuh,” katanya lagi pada Minho dengan memandang pemandangan dibawah yang berbukit-bukit.
Minho merangkulnya,”aku senang kamu ada disampingku”
Mereka memandang sama-sama ke bawah, Minho masih terus merangkulnya sampai kereta kembali ke tempat awal.

Sorenya, ketika mereka kembali ke rumah Minho, mereka mendapatkan kabar buruk.
“temanmu...Eun Ha...bunuh diri siang ini,” kata Ayahnya Minho dengan suara datar.
Minho hampir tidak percaya mendengar kata itu,”kenapa?? Kenapa bisa??”, katanya dengan terbata-bata
“polisi menelepon nomor yang paling mereka tahu dan terakhir banyak misscallnya untukmu,” lanjut ayahnya lagi.
Minho terduduk, dia memang sengaja meninggalkan Hp nya dengan harapan tidak ada yang mengganggu liburannya dengan Aiko. Padahal tadi pagi dia masih berbicara dengan mantan pacarnya itu,”jadi...dia bilang untuk yang terakhir kalinya itu....”, wajahnya sedih sekali.
Aiko mengelus punggungnya,”kita pergi saja ke rumahnya”

Minho berdiri sore menjelang malam itu di depan abu jenasah Eun Ha. Ayahnya meratapi anak satu satunya itu.
“aku jadi sendirian,” ratap ayahnya Eun Ha pada Minho
Minho kesal pada orangtua yang bersifat buruk itu, dia hampir mau memukul ayahnya Eun Ha, tapi ditarik tangannya oleh Aiko.
“sudahlah Nampyeon...sudah!,” Aiko menarik-tarik tangan dan tubuh Minho
“Ini semua gara-gara kamu... kamu memang orangtua tidak tahu diri!!,” Minho memaki ayahnya Eun Ha
“kalau saja dia tidak pusing dan menderita karena kebiasaan burukmu berjudi itu... dia sudah bahagia dengan hidupnya!!,” teriak Minho lagi.
“Sudah, Nampyeon... sudah.. Eun Ha gak akan kembali lagi..sudah!,” teriak Aiko
“Orangtua sialan! Sialan!!,” maki Minho
Ayahnya Eun Ha bersujud di depan abu anaknya sendiri.
Minho juga jadi ikutan terduduk,”maafkan aku, Eun Ha...aku gak bisa mengerti perasaanmu yang terakhir”
Dia jadi teringat masa pacarannya dengan Eun Ha..
“Minho, kenapa hidupku selalu sengsara??,” suatu hari, waktu SMA, Eun Ha bertanya itu padanya.
Minho menjawab dengan senyum, mereka jalan sepulang sekolah,“aku akan lindungi kamu.. jangan merasa sedih,”
“aku membayangkan punya orangtua sepertimu...tampaknya hidupmu bahagia sekali..aku iri. Sedari kecil keluargaku susah, ayahku selalu main judi, kasihan ibuku yang bekerja”, Eun Ha hanya menunduk di depan Minho
“suatu hari...semuanya akan segera berlalu, kita harus yakin itu, Eun Ha...kamu akan bahagia”, balas Minho, menenangkannya.
Minho menangis, dia menitikkan air mata, cewek cinta pertamanya berakhir dengan hidup tragis.
Ketika polisi kembali datang, mereka memberikan beberapa lembar surat yang ternyata ditulis Eun Ha hanya untuk dibaca Minho.
Minho membawanya pulang ke rumahnya.

“hi, Minho...apa kabarmu hari ini?? Katanya kamu pulang besok? Sayang sekali aku hanya bisa melihatmu dua kali saja yang terakhir dalam hidupku, tapi aku senang sekali. Hidupmu selalu beruntung, Minho...aku iri padamu. Sampai detik ini aku menulis suratpun, aku masih membayangkan menjadi milikmu. Ternyata cintaku tidak sampai padamu, walau kamu pernah bilang padaku, aku ini cinta pertama mu. Aku sudah tidak tahan lagi dengan hidupku, dia berjudi lagi, padahal 3 hari lalu kamu membantuku membayarkan hutang-hutangnya. Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi mencintai ayahku, Minho. Dia tidak berterima kasih pada ibuku dan juga aku. Jadi, aku lebih baik meninggalkan dunia ini saja. Terima kasih atas kebaikanmu membantuku kemarin itu. Sedari kita kenal, kamu selalu membantu dan melindungiku, sehingga aku selalu merasa nyaman disampingmu... tapi, semua bebanku sudah selesai sekarang. Aku ingin pergi dengan senyum, walau kamu tidak berada disampingku..aku akan selalu ingat kisah cintaku padamu, karena itu yang paling manis dalam hidupku. Tto bwayo, sampai jumpa lagi, Minho... Minho salanghae
Minho menangis membaca surat itu, Aiko mengelus-elus punggungnya
“semuanya sudah berlalu...biarkan Eun Ha tenang, beban hidupnya sudah berakhir,” katanya, mencoba menghibur Minho.
“aku enggak nyangka dia bisa senekat itu,” jawab Minho
“aku ikut bersedih,” kata Aiko,”tapi semuanya sudah terjadi...mungkin memang ini yang terbaik untuk kehidupan Eun Ha”
Aiko memeluk Minho, menenangkannya.
“besok kita harus segera pulang...aku berharap, semua akan terlupakan mulai di hari ini,” kata Aiko, Minho masih tetap dipeluknya.
Dia membayangkan, bagaimana sebenarnya Minho masih sayang pada cewek itu, sebab Eun Ha lah cinta pertama Minho, bukan dirinya. Ada setitik kekecewaan pada dirinya terhadap Minho, tetapi dia juga harus bisa menepis dan melupakan, karena Minho sudah jujur padanya.

“apa yang terjadi pada Ichi kun juga..kita masih belum tahu,” Aiko mencoba tersenyum pada Minho setelah dia melepaskan pelukannya pada Minho.
“semoga dia baik-baik saja,” balas Minho dengan suara masih pelan
“ya...aku juga berharap seperti itu, aku gak mau kehilangan teman-teman baik kita,” senyum Aiko.
“mereka teman terbaikku,” kata Minho.
Aiko senyum,”sudah tidak terlalu sedih kan??ada banyak hal yang kita lewati beberapa waktu ini, entah apa maksud Tuhan pada kita”
“semuanya aku harap segera selesai,” katanya lagi
Esoknya, mereka pamit pulang. Masih diperjalanan diatas pesawat, keduanya berfikir, apa yang sebenarnya terjadi pada Ichirou. Keduanya berharap, semoga best friend mereka akan baik-baik saja...tidak seperti nasib Eun Ha...

Bersambung ke part 26....