“ya...aku besok pulang, Okaasan,” kata Aiko
yang berbicara pada ibunya ditelepon malam itu
“Okaasan sempat sedikit cemas denganmu
makanya menelepon. Kamu sehat saja kan disana?,”
Aiko jadi bingung kenapa ibunya begitu
cemas, dia menanyakan dan ternyata ada kekhawatiran sendiri ketika anaknya jauh
“shinpai
shinaide kudasai, Okaasan... semua keluarga Minho baik padaku,” katanya,
dia menyembunyikan masalahnya pada ibunya sendiri, tidak ingin ibunya tahu
kalau sebenarnya dia masih belum bisa diterima dan hubungannya dengan keluarga
Minho masih sangat kaku.
“lekaslah pulang.. ada yang perlu kamu
tahu dari teman-temanmu,” ujar ibunya lagi
“nan
desu ka??subete ga daijyoubu desu ka??,” katanya jadi mulai sedikit gak
enak hati.
“ibu tidak bisa ceritakan... kamu pulang
saja kesini... dan langsung berkumpul dengan teman-temanmu,”
Dia jadi kepikiran apa kata
ibunya,”berkaitan dengan siapa?? Ichirou kun??”
Minho yang mendengar kata Ichirou langsung
mendekati Aiko,”ada apa??”
Aiko menggerakkan tangannya, supaya Minho
jangan bertanya banyak dulu padanya. Minho mengangguk saja, dia lalu duduk
iseng-iseng memainkan remote mobil balap dikamarnya.
“ibu tidak bisa bercerita banyak, biar
teman kamu saja yang bercerita nanti.. Makoto kun menelepon beberapa hari yang
lalu dan mereka pikir, kalian sudah pulang,”
Aiko jadi cemas dengan Ichirou, memang
beberapa hari sebelum mereka pergi, Ichirou sepertinya aneh dan terkesan garing bercanda dengan mereka, itu semua
karena dia mendadak sakit.
“besok, aku akan bilang pada Minho Otto,
supaya segera pergi ke rumah Ichi kun... hontou
ni arigatou, Okaasan,”
Minho masih bingung dengan pembicaraan
mereka, walau dia santai saja masih bermain mobil remote dalam track, mainannya
sewaktu SMA.
“ada apa??,” dia lalu menoleh pada Aiko
“sepertinya ada berita buruk tentang Ichi
kun,” kata Aiko datar, dia seperti melamun, duduk disamping Minho, wajahnya
mendadak jadi sedih
“kenapa Ichi kun??,” tanya Minho lagi
“Okaasan tidak bilang pada ku, tapi
selepas kita pulang esok, kita harus segera pergi ke rumahnya... itu pesan
Okaasan dari Makoto kun,”
Minho merangkulnya,”sudahlah...mungkin
mereka kangen kita”
Tiba-tiba Hp Minho berbunyi lagi...
Aiko malah menghampiri itu,”denwa”, katanya pada Minho
“biarkan saja... aku malas,” jawab Minho,
dia asik saja main mobil balap remote control itu
Aiko hanya memperhatikan saja Hp Minho
berbunyi berkali-kali..
“sepertinya penting.. dia menelepon
terus,” Aiko akhirnya yang mengangkat
“Halo, Minho,” kata suara ditelepon itu,
ternyata suara cewek
“to
whom am i speaking??,” Aiko tidak bisa berbahasa korea, jadi dia berbicara
inggris
“ah... sorry..
I am Minho’s friend, Eun Ha,” ternyata mantan pacarnya Minho yang telepon
lagi
“aa.. Eun Ha.. wanna talk with Minho? Wait,” Aiko tanpa curiga memberikan Minho
teleponnya,”dari Eun Ha... “
“aigoo...
najung-e munje,” Minho menerima telepon tapi menggerutu, Aiko hanya bisa
melihat ekspresinya ketika mengambil Hp nya sendiri.
“sepertinya dia menggerutu,” kata hatinya
Aiko, menebak sendiri.
Minho lekas menjauhkan dirinya dari Aiko,
cewek itu tidak komentar apa-apa, hanya memandang Minho yang berdiri di sudut
kamar
“naega
dangsin ege yaegihago sip-eo, Minho,” kata Eun Ha dengan suaranya yang lembut
“e
daehan tto mwoga?” tanya Minho
Aiko masih hanya melihat Minho. Rasanya
ada yang aneh, tapi dia tidak ingin mengganggu pembicaraan itu, dia malah
memegang-megang mainan kecil Minho dan mencoba nya.
“aku masih ingin bertemu
denganmu...mungkin untuk terakhir kalinya,” kata Eun Ha
“jangan berkata seperti itu...aku tidak
suka,” balas Minho,”memang..ada masalah apa lagi dengan keluargamu??”
“tidak ada..tetapi aku ingin bertemu
denganmu,”
“aku tidak enak dengan Aiko chan...
lagipula..aku membayangkan sesuatu tidak enak tentang yang terakhir,” balas
Minho dengan mimik serius
Entah mengapa, ketika Minho berwajah
serius itu, Aiko memperhatikannya dari tempat dia duduk ke jendela, tempat
Minho sedang berbicara.
Matahari pagi menyinari wajah Minho, Aiko
memandangnya dengan senyum
“wajahnya serius sekali.. mungkin temannya
lagi ada masalah,” kata hatinya Aiko.
“kenapa, Minho?? Aku hanya ingin
bertemu..,” kata Eun Ha
“kemarin aku sudah membantumu... aku
membayangkan wajah Aiko chan ketika kejadian kemarin.. rasanya aku bersalah
kalau berkhianat. Kita memang punya masa lalu, tetapi sudah saatnya masa lalu
itu dilupakan,” balas Minho, lagi dengan mimik serius
“aku semakin gelisah.. aku minta maaf..
karena cintaku dalam padamu,” kata Eun Ha
Minho menghela nafas sejenak, dia memang
tidak ingin terjerumus lagi.
“sepertinya memang pembicaraan serius
sekali,” kata hatinya Aiko
Kepala Minho mendadak pusing, lalu Aiko
menghampirinya.
“daijyoubu??
Memai no??,” tanya dia pada Minho
Minho mengangguk saja.
“osuwatte
kudasai,” Aiko memintanya dengan sopan untuk duduk, sementara Minho masih
memegang Hp nya, dia menggantung pembicaraannya dengan Eun Ha
Disana, Eun Ha hanya berkata,”hi, Minho..
kamu masih disana??”
Aiko sigap mengambil Hp nya Minho yang
hampir jatuh terlepas dari tangannya Minho.
“ah.. Eun Ha.. i am so sorry.. he gets headache..,” katanya pada Eun Ha
“oh..aku minta maaf... selamat pagi,”
jawab Eun Ha langsung menutup teleponnya
“sebentar..aku ambilkan minyak,” kata Aiko
pada Minho yang duduk di sisi tempat tidur
Minho mencegahnya, memegang
tangannya,”tidak usah..disini saja”
Aiko pelan-pelan berjongkok di
depannya,”kenapa?? Apa yang terjadi tadi??”
Minho menyuruhnya duduk disampingnya, lalu
dia memeluknya.
“aku minta maaf,” katanya pada Aiko yang
dia peluk erat, erat sekali
Aiko tertawa kecil,”minta maaf kenapa??
Memang.. Nampyeon salah apa padaku??”
“Eun Ha..,” kata Minho
“umm...kenapa Eun Ha... kanojo wa.. anta no mukashi no gaarufurendo, ne??,” katanya pada Minho,
Aiko menebak...kalau sebenarnya Eun Ha itu mantan pacar Minho.
“Ye..
mian...gomen,” jawab Minho dengan masih memeluk dirinya
“oh,” jawab Aiko singkat
“kalau kamu mau marah... marah saja..aku
sudah salah,” kata Minho.
Aiko menggeleng dalam pelukan Minho,”iie.. okora nai..i am not angry at all”
“aku sudah merasakan itu...tetapi..aku
yakin, Nampyeon tidak akan berkhianat padaku,” katanya lagi
Lalu dia minta Minho melepaskan pelukannya
dan dia tertawa kecil pada Minho,”ih..cengeng deh.. masak nangis sih??”
Ternyata dia melihat Minho menitikkan air
mata.
“kanojo
wa kiseu shita,” Minho mengaku salah
Aiko cuma senyum,”lalu??”
“tapi..aku membayangkan wajahmu ketika
itu,” lanjut Minho
“dan??,” tanya Aiko lagi
“dan..aku bilang..kalau aku enggak bisa
begitu,” jawab Minho lagi
“kalau aku yang cium kamu...apa akan
terbayang Eun Ha lagi??,” senyum Aiko padanya, lalu dia berani mencium Minho
cukup lama.
Selepas itu, Minho hanya
menggeleng,”tidak.. aku cuma sayang kamu”
“gomawo,”
balas Aiko. Dia memeluk Minho.
“aku juga gak akan pernah mau
melepaskanmu,” kata Aiko padanya
Minho melepas pelukan Aiko, mencoba
senyum,”lalu..bagaimana??”
Aiko memutar mutar bola matanya, Minho
cekikikan sendiri.
“eh..dia menendang!,” teriak Aiko
“sakit?? Waktu kecil..aku jago main bola
loh,” canda Minho
“aiyoo.. pantas saja, huff,” keluh Aiko,
dia menjewer kuping Minho yang lebar,”seperti otoochan nya”
Minho tertawa-tawa, dia lalu berdiri dan
menarik Aiko keluar kamarnya.
Ternyata dia berteriak memanggil ibunya
sendiri,”Eomma!,” suaranya seperti anak kecil manja
“aduh..aku jangan ditarik tarik,
Nampyeon,” Aiko berjalan agak diseret karena berat badannya.
Ibunya menghampiri mereka,”kenapa??”
“aku mau Eomma meraba perutnya..dia
menendang beberapa kali,” kata Minho dengan senang
Ibunya senyum dengan tingkah anaknya
sendiri,”ayo kemari, Aiko”, lalu setelah Aiko mendekat, ibunya Minho meraba
perut anak menantunya itu
“heeeehh...dia memang bergerak.. anak
pintar,” senyum ibunya Minho
“Eomma senang kan??,” tanya Minho. Ibunya
mengangguk.
“besok kami sudah mau pulang, padahal
masih kangen disini,” Minho cemberut seperti anak kecil
“kami sudah belikan oleh-oleh untuk
keluarga Kohashi,” kata ayahnya Minho
“ah, tidak perlu repot, Ayah,” jawab Aiko
menunduk hormat
“tidak apa, lagipula mungkin kalian belum
pernah makan sayuran ini,” kata Ayahnya menunjuk pada sekotak sayuran yang
sudah dikemas rapi supaya besok diijinkan masuk dalam bagasi.
Mereka lalu bicara tentang keinginan
pulang besok dan keperluan tambahan apa yang perlu di bawa lagi
“hari ini kita jalan-jalan ke menara saja
ya...gak usah jauh-jauh,” ujar Minho
Aiko hanya mengangguk saja menuruti apa
katanya,”yang penting aku bisa tahu”
Sepanjang jalan ke menara, mereka terlihat
senang-senang saja. Tapi sebenarnya Minho masih merasa tidak enak dengan Aiko
soal kasus kemarin dan tadi pagi.
Begitu naik menara dan naik kereta
gantung, dia berbicara pada Aiko lagi,”seperti ada perasaan, hal yang ganjil
rasanya hari ini”
“bukannya masalah yang tadi sudah
selesai?? Aku sudah maafkan,” jawab Aiko
“enggak tahu kenapa, rasanya masih belum
selesai,” kata Minho lagi
“ah, sudahlah...gak usah terlalu
dipikirkan banget,”
“eh..pemandangannya indah sekali..!!,”
kata Aiko lagi, teriak senang pada Minho
Minho mendekat padanya, lalu menciumnya
“aku gak tahu deh...gimana jadinya kalau
kita waktu itu tidak bertemu dan tidak satu kelompok,” katanya mengenang
peristiwa pertama kali mereka satu kelompok pengenalan kampus.
Aiko hanya senyum saja dengan perkataan
Minho.
“kenapa senyum??,” tanya Minho, bingung.
“nan
demo arimasen (gak ada
apa-apa-red),” balas Aiko
“kata orang-orang....kalau pacaran disini
romantis loh,” ujar Minho iseng
“sou
desu ne,” jawab Aiko singkat
“sepertinya memang ada hal yang mesti kita
bahas...ada yang tidak. Kemarin itu, aku sempat curiga dengan mu...tapi aku
segera tepis itu..aku ingin kepercayaanku pada orang yang aku sayang jadi
penuh,” katanya lagi pada Minho dengan memandang pemandangan dibawah yang
berbukit-bukit.
Minho merangkulnya,”aku senang kamu ada
disampingku”
Mereka memandang sama-sama ke bawah, Minho
masih terus merangkulnya sampai kereta kembali ke tempat awal.
Sorenya, ketika mereka kembali ke rumah
Minho, mereka mendapatkan kabar buruk.
“temanmu...Eun Ha...bunuh diri siang ini,”
kata Ayahnya Minho dengan suara datar.
Minho hampir tidak percaya mendengar kata
itu,”kenapa?? Kenapa bisa??”, katanya dengan terbata-bata
“polisi menelepon nomor yang paling mereka
tahu dan terakhir banyak misscallnya untukmu,” lanjut ayahnya lagi.
Minho terduduk, dia memang sengaja
meninggalkan Hp nya dengan harapan tidak ada yang mengganggu liburannya dengan
Aiko. Padahal tadi pagi dia masih berbicara dengan mantan pacarnya
itu,”jadi...dia bilang untuk yang terakhir kalinya itu....”, wajahnya sedih
sekali.
Aiko mengelus punggungnya,”kita pergi saja
ke rumahnya”
Minho berdiri sore menjelang malam itu di
depan abu jenasah Eun Ha. Ayahnya meratapi anak satu satunya itu.
“aku jadi sendirian,” ratap ayahnya Eun Ha
pada Minho
Minho kesal pada orangtua yang bersifat
buruk itu, dia hampir mau memukul ayahnya Eun Ha, tapi ditarik tangannya oleh
Aiko.
“sudahlah Nampyeon...sudah!,” Aiko
menarik-tarik tangan dan tubuh Minho
“Ini semua gara-gara kamu... kamu memang
orangtua tidak tahu diri!!,” Minho memaki ayahnya Eun Ha
“kalau saja dia tidak pusing dan menderita
karena kebiasaan burukmu berjudi itu... dia sudah bahagia dengan hidupnya!!,”
teriak Minho lagi.
“Sudah, Nampyeon... sudah.. Eun Ha gak
akan kembali lagi..sudah!,” teriak Aiko
“Orangtua sialan! Sialan!!,” maki Minho
Ayahnya Eun Ha bersujud di depan abu
anaknya sendiri.
Minho juga jadi ikutan terduduk,”maafkan
aku, Eun Ha...aku gak bisa mengerti perasaanmu yang terakhir”
Dia jadi teringat masa pacarannya dengan
Eun Ha..
“Minho, kenapa hidupku selalu sengsara??,”
suatu hari, waktu SMA, Eun Ha bertanya itu padanya.
Minho menjawab dengan senyum, mereka jalan
sepulang sekolah,“aku akan lindungi kamu.. jangan merasa sedih,”
“aku membayangkan punya orangtua
sepertimu...tampaknya hidupmu bahagia sekali..aku iri. Sedari kecil keluargaku
susah, ayahku selalu main judi, kasihan ibuku yang bekerja”, Eun Ha hanya
menunduk di depan Minho
“suatu hari...semuanya akan segera
berlalu, kita harus yakin itu, Eun Ha...kamu akan bahagia”, balas Minho,
menenangkannya.
Minho menangis, dia menitikkan air mata,
cewek cinta pertamanya berakhir dengan hidup tragis.
Ketika polisi kembali datang, mereka
memberikan beberapa lembar surat yang ternyata ditulis Eun Ha hanya untuk
dibaca Minho.
Minho membawanya pulang ke rumahnya.
“hi, Minho...apa kabarmu hari ini??
Katanya kamu pulang besok? Sayang sekali aku hanya bisa melihatmu dua kali saja
yang terakhir dalam hidupku, tapi aku senang sekali. Hidupmu selalu beruntung,
Minho...aku iri padamu. Sampai detik ini aku menulis suratpun, aku masih
membayangkan menjadi milikmu. Ternyata cintaku tidak sampai padamu, walau kamu
pernah bilang padaku, aku ini cinta pertama mu. Aku sudah tidak tahan lagi
dengan hidupku, dia berjudi lagi, padahal 3 hari lalu kamu membantuku
membayarkan hutang-hutangnya. Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi
mencintai ayahku, Minho. Dia tidak berterima kasih pada ibuku dan juga aku.
Jadi, aku lebih baik meninggalkan dunia ini saja. Terima kasih atas kebaikanmu
membantuku kemarin itu. Sedari kita kenal, kamu selalu membantu dan
melindungiku, sehingga aku selalu merasa nyaman disampingmu... tapi, semua
bebanku sudah selesai sekarang. Aku ingin pergi dengan senyum, walau kamu tidak
berada disampingku..aku akan selalu ingat kisah cintaku padamu, karena itu yang
paling manis dalam hidupku. Tto bwayo,
sampai jumpa lagi, Minho... Minho salanghae”
Minho menangis membaca surat itu, Aiko
mengelus-elus punggungnya
“semuanya sudah berlalu...biarkan Eun Ha
tenang, beban hidupnya sudah berakhir,” katanya, mencoba menghibur Minho.
“aku enggak nyangka dia bisa senekat itu,”
jawab Minho
“aku ikut bersedih,” kata Aiko,”tapi
semuanya sudah terjadi...mungkin memang ini yang terbaik untuk kehidupan Eun
Ha”
Aiko memeluk Minho, menenangkannya.
“besok kita harus segera pulang...aku
berharap, semua akan terlupakan mulai di hari ini,” kata Aiko, Minho masih
tetap dipeluknya.
Dia membayangkan, bagaimana sebenarnya
Minho masih sayang pada cewek itu, sebab Eun Ha lah cinta pertama Minho, bukan
dirinya. Ada setitik kekecewaan pada dirinya terhadap Minho, tetapi dia juga
harus bisa menepis dan melupakan, karena Minho sudah jujur padanya.
“apa yang terjadi pada Ichi kun juga..kita
masih belum tahu,” Aiko mencoba tersenyum pada Minho setelah dia melepaskan
pelukannya pada Minho.
“semoga dia baik-baik saja,” balas Minho
dengan suara masih pelan
“ya...aku juga berharap seperti itu, aku
gak mau kehilangan teman-teman baik kita,” senyum Aiko.
“mereka teman terbaikku,” kata Minho.
Aiko senyum,”sudah tidak terlalu sedih
kan??ada banyak hal yang kita lewati beberapa waktu ini, entah apa maksud Tuhan
pada kita”
“semuanya aku harap segera selesai,”
katanya lagi
Esoknya, mereka pamit pulang. Masih
diperjalanan diatas pesawat, keduanya berfikir, apa yang sebenarnya terjadi
pada Ichirou. Keduanya berharap, semoga best
friend mereka akan baik-baik saja...tidak seperti nasib Eun Ha...
Bersambung ke part 26....