This is me....

Senin, Mei 25, 2015

Pernikahan ½ (Part 37: Apa... Kabur?!?)

Namanya juga cerita imajinasi... jangan pernah dimasukkan ke hati..

Pagi berlalu. Suara kicauan burung terdengar dipinggiran kota Tokyo. Minho membuka matanya, melihat Aiko yang tidur di pangkuannya, kelelahan menangis tadi malam. Dia melihat mata isterinya itu bengkak. Dia ingat lagi, apa yang dibicarakan tadi malam. Dia tidak ingin kehilangan Aiko dan juga anak mereka. Rasanya, dia ingin membangunkan Aiko, namun dilihatnya perempuan itu sangat lelah. Minho menundukkan sekali badannya, mencium isterinya itu. Dia menahan air matanya supaya tidak tepat jatuh diatas wajah Aiko, lekasnya dia usap air matanya sendiri.

”besok.. apa aku harus menghadapi pengadilan?? Apa kamu rela.. suami mu ini masuk penjara?? Perjalanan hidup kita masih panjang, Aiko chan,” keluh dan tanya Minho pada Aiko yang masih terlelap. Dia menundukkan wajahnya, melihat wajah isterinya dengan dalam dan sendu.
Minho terus mengusap pipi Aiko dengan lembut dan pelan, agar perempuan itu tidak terbangun.
Sinar matahari hangat yang mulai menerangi wajah Aiko lah, yang membuat perempuan itu terbangun. Pelan dia membuka matanya, ternyata dia masih berada di pangkuan Minho.
Nampyeon... ?? sudah bangun dari tadi??,”
Minho senyum dan mengangguk.
Aiko lekas bangun dari pangkuan Minho. Minho membantunya.
”aku minta maaf... aku lupa kalau aku tidur dipangkuanmu,” kata Aiko. Dia mencoba berdiri. Sudah tugas paginya harus mempersiapkan segala keperluan Minho, misalnya untuk mandi dan makan pagi.

Minho ikut berdiri, lantas menarik tangan Aiko dan memeluknya.
”apa.. hari ini.. semuanya akan berubah??,” tanya dia, galau.
Aiko diam saja dipeluk Minho dari belakang. Sebenarnya, pikiran dan perasaannya lebih kacau dari Minho. Bagaimanapun, emosi yang dihadapinya banyak sekali, mulai dari kuliah sampai masalah rumahtangga mereka, termasuk dia takut dengan banyak pikiran, kesehatan anak mereka akan terganggu. 
”aku sama sekali tidak ingin semuanya lebih buruk.. tetapi... ayah tetap memaksa..kita tak bisa melawan,” balas Aiko.
Minho sudah pasrah kalau begitu. Dia harus mempertahankan pendapat dan argumennya nanti dipengadilan.
”jadi.. aku harus menghadapi ayah??,” tanya Minho, masih memeluknya.
Aiko mengangguk saja.
”apapun itu... aku ingin tak ada perpisahan... aku pun akan berusaha yang terbaik...,” ujarnya.
Minho katakan kalau dia benar-benar gundah dengan semua ini. Orangtuanya sama sekali belum mengetahui sampai sejauh ini, apa yang akan dialami anaknya. Minho berpikiran seperti itu... namun sebenarnya, saat dia berfikir seperti itu.. Kohashi sedang menelepon kedua orangtuanya!

Aiko mencoba menenangkan Minho. Dia katakan berkali-kali kepada pasangannya itu, dia akan berusaha meyakinkan ayahnya sendiri tentang kehidupan rumahtangganya.
”sebenarnya.. aku sedih sekali beberapa kali kamu sama sekali tidak mendengar perkataan dan tidak membaca perasaanku, Nampyeon.. tapi.. aku juga tidak ingin semua berlarut-larut yang membuat hancur hidup kita,”
Semua sudah nasi menjadi bubur....
                                                ............................
”sudah ku katakan sebelumnya kan.. kalau kamu sama sekali tidak pantas menikah dengan perempuan anak keluarga Kohashi itu.. tapi kamu benar-benar keras kepala dan sama sekali tidak dewasa!!,” bentak Lee kepada Minho, anaknya sendiri.
Minho diam saja mendengar bentakan ayahnya bertubi-tubi setelah makan di pagi hari itu, dia pasrah. Memang semuanya akan terjadi dan dia harus bisa menjalani itu semua dengan kelapangan hati.
”aku tidak ingin lagi membantumu.. berusahalah sendiri!”.
Kalimat dari ayahnya itu membuat dunianya runtuh... terasa seperti tidak ada lagi orang menolongnya. Yang dia harapkan dari orangtuanya adalah berusaha sebaik mungkin melindungi dirinya agar tidak mendapatkan kemungkinan buruk. Tapi... apadaya.. ternyata mereka berlepas diri.
Appa (ayah).... tolong dengar aku dulu... tolong aku... aku tidak sepenuhnya bersalah,” Minho begitu memelas memohon pada sang ayah. Sementara dari jauh, dia mendengar suara isak tangis ibunya via telepon.
”bertahanlah sendiri.. kami tidak dapat membantu lagi,” kata ayahnya. Dia lalu menutup telepon Minho.
Minho duduk, lalu tanpa sadar, air matanya keluar.
Aiko yang baru saja masuk kembali ke kamarnya, melihat Minho menundukkan kepalanya dan meneteskan air mata, mendekatinya pelan-pelan dan memeluknya.
” kita hadapi ayah dengan berani... aku tidak ingin kita berpisah,”
Minho mengangguk saja. Namun... hari itu adalah hari pertamanya menghadapi keluarga Kohashi.
                                                .........................................

Ruang pengadilan cukup besar. Minho duduk bersebrangan dengan Aiko yang sudah juga ternyata disiapkan pengacara. Minho pun berhadapan dengan pengacara. Mereka jadi seperti musuh, padahal sama sekali keduanya tidak ingin seperti itu.
Aiko dan Minho sama –sama sedih, kenapa mereka harus mengalami itu. Pengacara mereka, terutama keluarga Kohashi sepertinya sangat getol mencecar Minho ketika dia ditanya soal beberapa peristiwa yang berkaitan dengan rendahnya tanggung jawab dia kepada Aiko.

”peristiwa pertama... tahun lalu di bulan Juli.. Lee san pergi ke luar negeri untuk menjadi seorang model.. dan kembali lagi... tidak berapa lama.. Lee san berhenti bekerja lalu menjadi seorang editor biasa.. Kohashi san (Aiko) sama sekali tidak mendapatkan uang perawatan harian.. apakah itu benar?”, tanya pengacara keluarga Aiko ke Minho.
”Tidak,” jawab Minho singkat dengan berusaha percaya diri.
Dia tidak ingin disalahkan karena memang setelah dia pulang dari China, malah memberikan hadiah untuk Aiko.
Aiko melihat wajah Minho dengan harapan, dia menjawab dengan berani sehingga desakan-desakan dari pihak pengacara keluarganya justru akan membuat Minho tetap tegar.

”aku sempat memberikannya 120.000 ¥ sebagai uang tabungan,” jawab Minho lagi.
”dan aku rasa.. itu uang pertama kali.. belum termasuk uang kontrak kerja keduaku,” lanjutnya.
”disini tidak dikatakan kalau kamu memberikan uang kontrak kedua... hanya pertama,” jawab pengacara keluarga Kohashi.
”dia memberikannya... tapi tidak banyak,” mendadak Aiko yang menyanggah pernyataan pengacara keluarganya itu.
”Tahan dulu, Kohashi-san.. Anda tidak berhak menjawab, terima kasih,” ujar Hakim.
Aiko menunduk hormat lalu duduk lagi, meminta maaf pada sang Hakim. Dia lalu melihat Minho dengan tatapan cemas. Takut Minho tidak bisa mengelak sana-sini dan mendapatkan hukuman, sesuai perjanjian yang disepakati.

”apa benar yang dikatakan Kohashi-san.. Lee san?,” tanya pengacara Aiko.
Minho mengangguk mengiyakan. Lantas pengacara itu masih mendesak Minho yang memang berdasarkan surat perjanjian pernikahan, uang yang diberikan tiap bulan saja terbilang kurang.
”bukannya yang penting aku memberikan uang hasil gajiku?? Kohashi san sendiri yang menyatakan bisa saja beliau membantu aku dan Aiko chan,” Minho malah jadi sedikit emosi ketika ditanyakan soal itu.
”aku hanya bisa memberikan sejumlah itu.. habis itu.. kami harus pergi ke Seoul.. mengunjungi kedua orangtuaku,”

”setelah itu.. anda pun menggunakan uang..tidak sesuai dengan peruntukannya kan?? Yang membuat Kohashi san marah ..karena ternyata Anda menggunakannya untuk diberikan kepada mantan kekasih??,” tanya pengacara Kohashi lagi, mendesak Minho.
Minho otomatis tidak dapat menolak. Dia mengatakan yang sebenarnya, bahwa uang memang digunakan untuk membayar hutang ayah mantan pacarnya.
”disini tidak bisa dielakkan bukan.. Hakim ketua?,” tanya pengacara Kohashi.
”Jika Anda melihat lagi perjanjian awal pernikahan kalian.. maka sebenarnya Lee san harus sudah ada dipenjara dengan 2 kasus: tidak bisa memberi uang sesuai dengan jumlah yang tercantum disini, menggunakan uang tidak semestinya”

Aiko berdiri, dia main memotong pembicaraan pengacara keluarganya sendiri.
”aku sudah memaafkannya.. jadi.. lebih baik tidak diteruskan kasus ini... aku mohon”.
Semua termasuk Minho menoleh padanya.
Aiko lalu menunduk hormat pada hakim ketua.
”aku mohon... rasanya.. aku tidak ingin meneruskan hal ini.. sama sekali aku tidak menganggap Minho kun mengkhianati ku... ”
”aku tahu.. uang yang dia tidak cari dan berikan padaku tidak cukup... tetapi... aku yakin.. dia bisa menyadarkan dirinya untuk lebih baik setelah ini”
Minho hanya sanggup mengucap nama pasangannya itu.
”Aiko chan... ternyata masih mempertahankanku...”

”semua tidak bisa begitu saja terjadi, Kohashi san..”, kata pengacaranya sendiri.
Aiko menunduk hormat pada hakim ketua.
”aku mohon.. aku ingin membatalkan semuanya...”.
Hakim memanggil kedua pengacara ke depan. Mereka berbicara. Sementara Minho masih memandang Aiko. Dia memang berharap perempuan itu akan membantunya.
”aku lelah dengan semua ini,” keluh Aiko sambil duduk. Kohashi yang berada disebelahnya sebenarnya sama sekali tidak puas dengan apa sudah dikatakan anaknya yang justru membela Minho.
Kedua pengacara dan hakim pun selesai berbicara. Lalu pengacara keluarga Kohashi mengatakan kalau sidang akan ditunda dua minggu lagi. Hakim pun membacakan keputusannya untuk menunda persidangan.
                                                ...........................................
Minho keluar dari ruang sidang. Dia sama sekali tidak bersemangat hidup. Dia menghampiri Kohashi dan menunduk hormat pada orangtua itu.
”Bukan maksudku untuk melanggar kesepakatan yang ada,”
Kohashi berdiri dengan tegak dan sedikit menengadahkan kepala di depan Minho. Watak kerasnya keluar lagi.
”kalau semuanya berjalan lancar dan kamu mematuhi kesepakatan pernikahan yang sudah keluarga mu dan kami tandatangani.. semestinya kamu tahu... sama sekali tidak boleh melanggarnya”
Minho langsung menunduk hormat lebih dalam lagi kepada mertuanya itu. Dia benar-benar menghadapi pengadilan sendirian, tanpa didampingi orangtua. Perasaannya galau karena mereka sudah naik tingkat dua dan menghadapi ujian. Namun, sepertinya Kohashi sama sekali tidak peduli dengan kondisi menantunya itu.
”kamu harus belajar!”, bentak Kohashi padanya.

Minho masih menunduk hormat, dia memohon agar Kohashi mencabut tuntutannya.
”aku berjanji.. aku berjanji akan menjadikan Aiko chan sebagai pasanganku yang terakhir.. aku tidak akan lagi menelantarkan dia..”
”aku sudah berjanji pada kedua orangtuaku.. itu sebabnya mereka tidak menemaniku disini”, katanya lagi.
Kohashi tidak mau tahu. Baginya semua ada batasnya. Dia berlalu saja, sama sekali tidak mendengar penjelasan Minho.
Aiko berada di belakang ayahnya. Minho menarik tangannya, lalu kemudian, Kohashi melihat mereka. Minho pun melepaskan tangannya, membiarkan pasangannya itu pergi bersama ayahnya. Minho hanya sanggup melihat Aiko pergi di belakang ayahnya, tanpa dia dapat berkata apapun lagi.
                                                            .......................
”Eomma.. kalau begini caranya.. rasanya aku tidak ingin kuliah disini.. aku ingin berhenti saja dan kembali ke Seoul,” keluh Minho di telepon.
”ayahmu sama sekali tidak mengijinkan, Minho..lagipula.. kamu mestinya ingat, kalau sampai berhenti ditengah jalan, semua biaya sekolah dari tahun pertama dan seterusnya harus dibayar.. apa kamu tidak kasihan dengan ayahmu??,” jawab ibunya.
Minho membela dirinya, kalau dia ingin memperbaiki dirinya kembali ke rumah kedua orangtuanya saja. Namun ibunya telah membicarakan ini dengan suaminya maka hal itu tidak boleh terjadi.
”aku minta maaf, Eomma.. aku seperti salah jalan menghadapi ini semua,” keluh Minho. Rasanya, dia mau menangis kalau tidak bisa mengatur diri dan keluarganya sendiri, sehingga kepercayaan ayahnya pada dirinya menjadi sangat rendah.
”Ayahmu sepertinya sudah bingung dengan jalan hidupmu, Minho.. dan Eomma harap..kamu tidak mungkin kembali dulu kesini,” kata ibunya.
”aku butuh support Eomma sekarang... aku tidak tahu lagi.. apakah Aiko masih akan mencintaiku setelah ini,” balas Minho.
Dia memang sedih berat.. kebayang baginya hidup di negeri bukan kelahirannya, sendirian.. apakah dia bisa?? Atau dia benar-benar harus menyerah tetapi sama sekali tidak bisa berdamai dengan orangtua, terutama ayahnya. Lalu di negeri dia belajar pun dia bisa saja sendiri karena berpisah dengan Aiko... bagaimana dia bisa bertahan??
”kamu sudah besar, Minho.. Eomma hanya pastikan.. kamu bisa dewasa menghadapi ini semua.. membuat mu belajar..,” kata ibunya.
Bagi Minho, jelas semua ini adalah pelajaran. Walau terlambat, ketika dia bicara dengan ibunya, maka dia memutuskan sendiri tetap melanjutkan belajarnya sampai selesai. Ibunya berharap, semua akan baik-baik saja dan ayah Minho akan memaafkan dirinya.
                                    ...............................................................
Hari-hari berikutnya.. saat sidang ditunda 2 minggu kemudian.. Aiko tidak diijinkan untuk tinggal dengan Minho. Jadi mereka bertemu di kampus, ditempat seperti biasa.
Mereka duduk di kursi taman. Suasana menjadi hening di sore itu. Minho menggenggam saja tangan Aiko.
”apa..kita benar-benar akan berpisah?? Aku takut sekali,” kata Minho, masih menggenggam tangan Aiko, tapi belum menatap wajahnya.
Anata.. watashi ni mite kudasai (suamiku..tolong lihat aku),” kata Aiko.
Minho menoleh padanya.... ternyata.. matanya sembab... dia menangis dalam diamnya.
”aku tetap percaya padamu.. aku tahu.. otoosan (ayah) sangat keras pada kita.. tapi... aku percaya.. aku tetap akan jadi pendampingmu,” senyum Aiko padanya.
Minho memeluknya.
”aku minta maaf... aku katakan pada ibuku.. kalau aku tidak bisa meninggalkan Jepang begitu saja.. aku tetap ingin kuliah dengan rajin.. tetap ingin bersama kamu dan anak kita..aku ingin belajar dari Tachibana san tentang semua ini”
Aiko tersenyum dalam pelukan Minho. Dia tahu...saat ini.. dialah yang mengerti tentang Minho. Mereka melewati hari bersama walau dalam ketidakdewasaan.. hal ini diharapkan dapat menjadikan mereka lebih dewasa.

”aku tidak akan pergi kok...aku janji tidak akan meninggalkanmu,” senyum Aiko dalam pelukan Minho.
”aku menyadari...saat begini..yang kuperlukan dukungan dari mu.. nilai prestasi ku ambruk.. aku tidak bisa menahan emosi ku.. orangtua ku, terutama ayah.. marah padaku... dan... hanya kamu yang faham kondisi ku..,” ujar Minho. Sampai air matanya jatuh membasahi pundak Aiko.
”aku akan berusaha....agar ayah tidak memisahkan kita,” kata Aiko lagi.
Minho hanya mengangguk..
”tetapi...aku ingin satu permintaan,” lanjut Aiko.
Minho melepaskan pelukannya.
”apa itu?? Aku akan berusaha jadi lebih baik lagi”
”kita pergi entah kemana..sampai waktu persidangan berikutnya,” senyum Aiko.

”APA?,” Minho malah jadi kaget. Terang saja, dia tidak pernah menyangka kalau Aiko bisa berpikiran nekat seperti itu.
”apa kamu sudah berpikir panjang?? Nanti ..ayah akan semakin marah kepadaku”, lanjut Minho.
Tapi Aiko katakan, dia tidak peduli. Minho khawatir karena sebentar lagi memang pasangannya itu akan melahirkan.
”ini gila..nanti mereka akan marah padaku, Aiko chan... pertimbangkan lagi,” bujuk Minho. Kalau ketahuan kabur, Minho memang bisa dipenjara atau diberi sanksi karena tidak ada dalam pengadilan berikutnya.
”siapa yang mau menahanmu?? Berarti..bukannya harus menahanku juga..karena kita sama-sama tidak ada dipengadilan??”, tanya Aiko.
Dia lalu menyandarkan kepalanya di pundak Minho.
”kita pergi bersama.. jauh.. lagipula..ini liburan... aku tidak ingin tinggal bersama ayah.. aku cinta Minho kun”
Minho diam..dia berfikir lama.. semakin lama dia berfikir, maka Kumiko atau Akira akan menjemput adik mereka, isterinya ini.
Aiko berusaha berdiri. Dia malah tersenyum.
”aku enggak mau menunggu lama.. ayo kita pergi!”. Dia malah menarik tangan Minho.

”akan kemana kita pergi, Aiko chan??,” tanya Minho, keheranan.
Aiko berhenti, lalu dia berdiri berhadapan dengan Minho.
”ke villa yang dimiliki Tachibana san.. tidak mengapa..aku menjadi tukang membersihkan villa itu...asalkan aku bisa bersama Minho kun,”
Minho tertegun dengan perkataan Aiko baru saja. Entah...apakah baginya hal ini gila karena cinta..atau karena sudah sama-sama berputus asa??
”ayahmu..bisa menggantungku, Aiko chan...sadarlah,” bujuk Minho.
”aku akan tetap berusaha mempertahankanmu dalam pengadilan.. tapi..tidak seperti ini caranya”.
”aku ingin kamu menuruti permintaanku, Minho kun.. sekali saja,” ucap Aiko dan dia berjalan menuju halte bus.
Minho mengikutinya.
”jadi..apa kita mau pergi ke apartment Tachibana san??,” tanya Minho, masih berjalan dibelakang Aiko.
Aiko menoleh,”mochiron! (tentu saja).. aku lebih memilih kabur dan tetap bersama Minho kun.. suamiku!”
Minho mendahului langkah Aiko saat mereka melihat bus sudah semakin dekat. Bus berhenti, pintu terbuka, lalu Minho menggenggam tangan Aiko dan mereka naik bus, menuju apartment milik Tachibana Banri.
Dijalan, perasaan Aiko malah jadi tenang, ketika dia menyandarkan kepalanya dipundak Minho, lalu menggenggam tangan lelaki itu. Dia kangen dengan suasana seperti itu. Minho pun ingin tetap bersamanya. Mereka menjadi sepasang dewasa muda yang belajar hidup berumahtangga.
Disepanjang jalan menuju apartment Tachibana, sesekali Minho menoleh pada Aiko dan tersenyum manis, mengelus pipi pasangannya itu dengan lembut.


Bersambung ke part 38....