Namanya juga cerita imajinasi... jangan pernah dimasukkan ke hati..
Pagi
berlalu. Suara kicauan burung terdengar dipinggiran kota
Tokyo . Minho membuka matanya, melihat Aiko yang
tidur di pangkuannya, kelelahan menangis tadi malam. Dia melihat mata isterinya
itu bengkak. Dia ingat lagi, apa yang dibicarakan tadi malam. Dia tidak ingin
kehilangan Aiko dan juga anak mereka. Rasanya, dia ingin membangunkan Aiko,
namun dilihatnya perempuan itu sangat lelah. Minho menundukkan sekali badannya,
mencium isterinya itu. Dia menahan air matanya supaya tidak tepat jatuh diatas
wajah Aiko, lekasnya dia usap air matanya sendiri.
”besok.. apa aku harus menghadapi
pengadilan?? Apa kamu rela.. suami mu ini masuk penjara?? Perjalanan hidup kita masih panjang, Aiko chan,”
keluh dan tanya Minho pada Aiko yang masih terlelap. Dia menundukkan wajahnya, melihat wajah isterinya
dengan dalam dan sendu.
Minho terus mengusap pipi Aiko dengan
lembut dan pelan, agar perempuan itu tidak terbangun.
Sinar matahari hangat yang mulai menerangi
wajah Aiko lah, yang membuat perempuan itu terbangun. Pelan dia membuka
matanya, ternyata dia masih berada di pangkuan Minho.
”Nampyeon...
?? sudah bangun dari tadi??,”
Minho senyum dan mengangguk.
Aiko lekas bangun dari pangkuan Minho. Minho membantunya.
”aku minta maaf... aku lupa kalau aku
tidur dipangkuanmu,” kata Aiko. Dia mencoba berdiri. Sudah tugas paginya harus
mempersiapkan segala keperluan Minho, misalnya untuk mandi dan makan pagi.
Minho ikut berdiri, lantas menarik tangan
Aiko dan memeluknya.
”apa.. hari ini.. semuanya akan
berubah??,” tanya dia, galau.
Aiko diam saja dipeluk Minho dari
belakang. Sebenarnya, pikiran dan perasaannya lebih kacau dari Minho.
Bagaimanapun, emosi yang dihadapinya banyak sekali, mulai dari kuliah sampai
masalah rumahtangga mereka, termasuk dia takut dengan banyak pikiran, kesehatan
anak mereka akan terganggu.
”aku sama sekali tidak ingin semuanya
lebih buruk.. tetapi... ayah tetap memaksa..kita tak bisa melawan,” balas Aiko.
Minho sudah pasrah kalau begitu. Dia harus
mempertahankan pendapat dan argumennya nanti dipengadilan.
”jadi.. aku harus menghadapi ayah??,”
tanya Minho, masih memeluknya.
Aiko mengangguk saja.
”apapun itu... aku ingin tak ada
perpisahan... aku pun akan berusaha yang terbaik...,” ujarnya.
Minho katakan kalau dia benar-benar gundah
dengan semua ini. Orangtuanya sama sekali belum mengetahui sampai sejauh ini,
apa yang akan dialami anaknya. Minho berpikiran seperti itu... namun
sebenarnya, saat dia berfikir seperti itu.. Kohashi sedang menelepon kedua
orangtuanya!
Aiko mencoba menenangkan Minho. Dia
katakan berkali-kali kepada pasangannya itu, dia akan berusaha meyakinkan
ayahnya sendiri tentang kehidupan rumahtangganya.
”sebenarnya.. aku sedih sekali beberapa
kali kamu sama sekali tidak mendengar perkataan dan tidak membaca perasaanku,
Nampyeon.. tapi.. aku juga tidak ingin semua berlarut-larut yang membuat hancur
hidup kita,”
Semua sudah nasi menjadi bubur....
............................
”sudah ku katakan sebelumnya kan.. kalau kamu sama sekali tidak pantas
menikah dengan perempuan anak keluarga Kohashi itu.. tapi kamu benar-benar
keras kepala dan sama sekali tidak dewasa!!,” bentak Lee kepada Minho, anaknya
sendiri.
Minho diam saja mendengar bentakan ayahnya
bertubi-tubi setelah makan di pagi hari itu, dia pasrah. Memang semuanya akan terjadi dan dia harus bisa
menjalani itu semua dengan kelapangan hati.
”aku tidak ingin lagi membantumu..
berusahalah sendiri!”.
Kalimat dari ayahnya itu membuat dunianya runtuh...
terasa seperti tidak ada lagi orang menolongnya. Yang dia harapkan dari
orangtuanya adalah berusaha sebaik mungkin melindungi dirinya agar tidak
mendapatkan kemungkinan buruk. Tapi... apadaya.. ternyata mereka berlepas diri.
”Appa
(ayah).... tolong dengar aku dulu... tolong aku... aku tidak sepenuhnya
bersalah,” Minho begitu memelas memohon pada sang ayah. Sementara dari jauh,
dia mendengar suara isak tangis ibunya via telepon.
”bertahanlah sendiri.. kami tidak dapat
membantu lagi,” kata ayahnya. Dia lalu menutup telepon Minho.
Minho duduk, lalu tanpa sadar, air matanya
keluar.
Aiko yang baru saja masuk kembali ke
kamarnya, melihat Minho menundukkan kepalanya dan meneteskan air mata,
mendekatinya pelan-pelan dan memeluknya.
” kita hadapi ayah dengan berani... aku
tidak ingin kita berpisah,”
Minho mengangguk saja. Namun... hari itu
adalah hari pertamanya menghadapi keluarga Kohashi.
.........................................
Ruang pengadilan cukup besar. Minho duduk
bersebrangan dengan Aiko yang sudah juga ternyata disiapkan pengacara. Minho
pun berhadapan dengan pengacara. Mereka jadi seperti musuh, padahal sama sekali
keduanya tidak ingin seperti itu.
Aiko dan Minho sama –sama sedih, kenapa
mereka harus mengalami itu. Pengacara mereka, terutama keluarga Kohashi
sepertinya sangat getol mencecar Minho ketika dia ditanya soal beberapa
peristiwa yang berkaitan dengan rendahnya tanggung jawab dia kepada Aiko.
”peristiwa pertama... tahun lalu di bulan
Juli.. Lee san pergi ke luar
negeri untuk menjadi seorang model.. dan kembali lagi... tidak berapa lama..
Lee san berhenti bekerja lalu menjadi seorang editor biasa.. Kohashi san (Aiko) sama sekali tidak
mendapatkan uang perawatan harian.. apakah itu benar?”, tanya pengacara
keluarga Aiko ke Minho.
”Tidak,” jawab Minho singkat dengan
berusaha percaya diri.
Dia tidak ingin disalahkan karena memang
setelah dia pulang dari China, malah memberikan hadiah untuk Aiko.
Aiko melihat wajah Minho dengan harapan,
dia menjawab dengan berani sehingga desakan-desakan dari pihak pengacara
keluarganya justru akan membuat Minho tetap tegar.
”aku sempat memberikannya 120.000 ¥
sebagai uang tabungan,” jawab Minho lagi.
”dan aku rasa.. itu uang pertama kali.. belum termasuk uang kontrak kerja keduaku,”
lanjutnya.
”disini tidak dikatakan kalau kamu
memberikan uang kontrak kedua... hanya pertama,” jawab pengacara keluarga
Kohashi.
”dia memberikannya... tapi tidak banyak,”
mendadak Aiko yang menyanggah pernyataan pengacara keluarganya itu.
”Tahan dulu, Kohashi-san.. Anda tidak berhak
menjawab, terima kasih,” ujar Hakim.
Aiko menunduk hormat lalu duduk lagi,
meminta maaf pada sang Hakim. Dia lalu melihat Minho dengan tatapan cemas.
Takut Minho tidak bisa mengelak sana-sini dan mendapatkan hukuman, sesuai
perjanjian yang disepakati.
”apa benar yang dikatakan Kohashi-san..
Lee san?,” tanya pengacara Aiko.
Minho mengangguk mengiyakan. Lantas
pengacara itu masih mendesak Minho yang memang berdasarkan surat perjanjian
pernikahan, uang yang diberikan tiap bulan saja terbilang kurang.
”bukannya yang penting aku memberikan uang
hasil gajiku?? Kohashi san sendiri yang menyatakan bisa saja beliau membantu
aku dan Aiko chan,” Minho malah jadi sedikit emosi ketika ditanyakan soal itu.
”aku hanya bisa memberikan sejumlah itu.. habis itu.. kami harus pergi ke Seoul..
mengunjungi kedua orangtuaku,”
”setelah itu.. anda pun menggunakan
uang..tidak sesuai dengan peruntukannya kan?? Yang membuat Kohashi san marah
..karena ternyata Anda menggunakannya untuk diberikan kepada mantan kekasih??,”
tanya pengacara Kohashi lagi, mendesak Minho.
Minho otomatis tidak dapat menolak. Dia
mengatakan yang sebenarnya, bahwa uang memang digunakan untuk membayar hutang
ayah mantan pacarnya.
”disini tidak bisa dielakkan bukan.. Hakim
ketua?,” tanya pengacara Kohashi.
”Jika Anda melihat lagi perjanjian awal
pernikahan kalian.. maka sebenarnya Lee san harus sudah ada dipenjara dengan 2
kasus: tidak bisa memberi uang sesuai dengan jumlah yang tercantum disini,
menggunakan uang tidak semestinya”
Aiko berdiri, dia main memotong pembicaraan
pengacara keluarganya sendiri.
”aku sudah memaafkannya.. jadi.. lebih baik tidak diteruskan kasus ini...
aku mohon”.
Semua termasuk Minho menoleh padanya.
Aiko lalu menunduk hormat pada hakim
ketua.
”aku mohon... rasanya.. aku tidak ingin
meneruskan hal ini.. sama sekali aku tidak menganggap Minho kun mengkhianati
ku... ”
”aku tahu.. uang yang dia tidak cari dan
berikan padaku tidak cukup... tetapi... aku yakin.. dia bisa menyadarkan
dirinya untuk lebih baik setelah ini”
Minho hanya sanggup mengucap nama
pasangannya itu.
”Aiko chan... ternyata masih
mempertahankanku...”
”semua tidak bisa begitu saja terjadi,
Kohashi san..”, kata pengacaranya sendiri.
Aiko menunduk hormat pada hakim ketua.
”aku mohon.. aku ingin membatalkan
semuanya...”.
Hakim memanggil kedua pengacara ke depan. Mereka berbicara. Sementara Minho masih
memandang Aiko. Dia memang berharap perempuan itu akan membantunya.
”aku lelah dengan semua ini,” keluh Aiko
sambil duduk. Kohashi yang
berada disebelahnya sebenarnya sama sekali tidak puas dengan apa sudah dikatakan
anaknya yang justru membela Minho.
Kedua pengacara dan hakim pun selesai
berbicara. Lalu pengacara keluarga Kohashi mengatakan kalau sidang akan ditunda
dua minggu lagi. Hakim pun membacakan keputusannya untuk menunda persidangan.
...........................................
Minho keluar dari ruang sidang. Dia sama sekali tidak bersemangat hidup. Dia
menghampiri Kohashi dan menunduk hormat pada orangtua itu.
”Bukan maksudku untuk melanggar
kesepakatan yang ada,”
Kohashi berdiri dengan tegak dan sedikit
menengadahkan kepala di depan Minho. Watak kerasnya keluar lagi.
”kalau semuanya berjalan lancar dan kamu
mematuhi kesepakatan pernikahan yang sudah keluarga mu dan kami tandatangani..
semestinya kamu tahu... sama sekali tidak boleh melanggarnya”
Minho langsung menunduk hormat lebih dalam
lagi kepada mertuanya itu. Dia benar-benar menghadapi pengadilan sendirian,
tanpa didampingi orangtua. Perasaannya galau
karena mereka sudah naik tingkat dua dan menghadapi ujian. Namun, sepertinya
Kohashi sama sekali tidak peduli dengan kondisi menantunya itu.
”kamu harus belajar!”, bentak Kohashi
padanya.
Minho masih menunduk hormat, dia memohon
agar Kohashi mencabut tuntutannya.
”aku berjanji.. aku berjanji akan
menjadikan Aiko chan sebagai pasanganku yang terakhir.. aku tidak akan lagi
menelantarkan dia..”
”aku sudah berjanji pada kedua
orangtuaku.. itu sebabnya mereka tidak menemaniku disini”, katanya lagi.
Kohashi tidak mau tahu. Baginya semua ada
batasnya. Dia berlalu saja, sama sekali tidak mendengar penjelasan Minho.
Aiko berada di belakang ayahnya. Minho menarik tangannya, lalu kemudian,
Kohashi melihat mereka. Minho pun melepaskan tangannya, membiarkan pasangannya
itu pergi bersama ayahnya. Minho hanya sanggup melihat Aiko pergi di belakang
ayahnya, tanpa dia dapat berkata apapun lagi.
.......................
”Eomma.. kalau begini caranya.. rasanya
aku tidak ingin kuliah disini.. aku ingin berhenti saja dan kembali ke Seoul,”
keluh Minho di telepon.
”ayahmu sama sekali tidak mengijinkan,
Minho..lagipula.. kamu mestinya ingat, kalau sampai berhenti ditengah jalan,
semua biaya sekolah dari tahun pertama dan seterusnya harus dibayar.. apa kamu
tidak kasihan dengan ayahmu??,” jawab ibunya.
Minho membela dirinya, kalau dia ingin
memperbaiki dirinya kembali ke rumah kedua orangtuanya saja. Namun ibunya telah
membicarakan ini dengan suaminya maka hal itu tidak boleh terjadi.
”aku minta maaf, Eomma.. aku seperti salah
jalan menghadapi ini semua,” keluh Minho. Rasanya, dia mau menangis kalau tidak
bisa mengatur diri dan keluarganya sendiri, sehingga kepercayaan ayahnya pada
dirinya menjadi sangat rendah.
”Ayahmu sepertinya sudah bingung dengan
jalan hidupmu, Minho.. dan
Eomma harap..kamu tidak mungkin kembali dulu kesini,” kata ibunya.
”aku butuh support Eomma sekarang... aku
tidak tahu lagi.. apakah Aiko
masih akan mencintaiku setelah ini,” balas Minho.
Dia memang sedih berat.. kebayang baginya
hidup di negeri bukan kelahirannya, sendirian.. apakah dia bisa?? Atau dia benar-benar harus
menyerah tetapi sama sekali tidak bisa berdamai dengan orangtua, terutama
ayahnya. Lalu di negeri dia belajar pun dia bisa saja sendiri karena berpisah
dengan Aiko... bagaimana dia bisa bertahan??
”kamu sudah besar, Minho.. Eomma hanya
pastikan.. kamu bisa dewasa menghadapi ini semua.. membuat mu belajar..,” kata
ibunya.
Bagi Minho, jelas semua ini adalah
pelajaran. Walau terlambat, ketika dia bicara dengan ibunya, maka dia
memutuskan sendiri tetap melanjutkan belajarnya sampai selesai. Ibunya berharap,
semua akan baik-baik saja dan ayah Minho akan memaafkan dirinya.
...............................................................
Hari-hari berikutnya.. saat sidang ditunda
2 minggu kemudian.. Aiko tidak diijinkan untuk tinggal dengan Minho. Jadi
mereka bertemu di kampus, ditempat seperti biasa.
Mereka duduk di kursi taman. Suasana
menjadi hening di sore itu. Minho menggenggam saja tangan Aiko.
”apa..kita benar-benar akan berpisah?? Aku takut sekali,” kata Minho, masih
menggenggam tangan Aiko, tapi belum menatap wajahnya.
”Anata..
watashi ni mite kudasai (suamiku..tolong lihat aku),” kata Aiko.
Minho menoleh padanya.... ternyata..
matanya sembab... dia menangis dalam diamnya.
”aku tetap percaya padamu.. aku tahu.. otoosan (ayah) sangat keras pada kita.. tapi...
aku percaya.. aku tetap akan jadi pendampingmu,” senyum Aiko padanya.
Minho memeluknya.
”aku minta maaf... aku katakan pada
ibuku.. kalau aku tidak bisa
meninggalkan Jepang begitu saja.. aku tetap ingin kuliah dengan rajin.. tetap
ingin bersama kamu dan anak kita..aku ingin belajar dari Tachibana san tentang
semua ini”
Aiko tersenyum dalam pelukan Minho. Dia tahu...saat ini.. dialah yang mengerti
tentang Minho. Mereka melewati hari bersama walau dalam ketidakdewasaan.. hal
ini diharapkan dapat menjadikan mereka lebih dewasa.
”aku tidak akan pergi kok...aku janji
tidak akan meninggalkanmu,” senyum Aiko dalam pelukan Minho.
”aku menyadari...saat begini..yang
kuperlukan dukungan dari mu.. nilai prestasi ku ambruk.. aku tidak bisa menahan emosi ku.. orangtua ku,
terutama ayah.. marah padaku... dan... hanya kamu yang faham kondisi ku..,”
ujar Minho. Sampai air matanya jatuh membasahi pundak Aiko.
”aku akan berusaha....agar ayah tidak
memisahkan kita,” kata Aiko lagi.
Minho hanya mengangguk..
”tetapi...aku ingin satu permintaan,”
lanjut Aiko.
Minho melepaskan pelukannya.
”apa itu?? Aku akan berusaha jadi lebih baik lagi”
”kita pergi entah kemana..sampai waktu
persidangan berikutnya,” senyum Aiko.
”APA?,” Minho malah jadi kaget. Terang
saja, dia tidak pernah menyangka kalau Aiko bisa berpikiran nekat seperti itu.
”apa kamu sudah berpikir panjang?? Nanti
..ayah akan semakin marah kepadaku”, lanjut Minho.
Tapi Aiko katakan, dia tidak peduli. Minho khawatir karena sebentar lagi memang
pasangannya itu akan melahirkan.
”ini gila..nanti mereka akan marah padaku,
Aiko chan... pertimbangkan lagi,” bujuk Minho. Kalau ketahuan kabur, Minho
memang bisa dipenjara atau diberi sanksi karena tidak ada dalam pengadilan
berikutnya.
”siapa yang mau menahanmu?? Berarti..bukannya
harus menahanku juga..karena kita sama-sama tidak ada dipengadilan??”, tanya
Aiko.
Dia lalu menyandarkan kepalanya di pundak
Minho.
”kita pergi bersama.. jauh.. lagipula..ini
liburan... aku tidak ingin tinggal bersama ayah.. aku cinta Minho kun”
Minho diam..dia berfikir lama.. semakin
lama dia berfikir, maka Kumiko atau Akira akan menjemput adik mereka, isterinya
ini.
Aiko berusaha berdiri. Dia malah
tersenyum.
”aku enggak mau menunggu lama.. ayo kita
pergi!”. Dia malah menarik tangan Minho.
”akan kemana kita pergi, Aiko chan??,”
tanya Minho, keheranan.
Aiko berhenti, lalu dia berdiri berhadapan
dengan Minho.
”ke villa yang dimiliki Tachibana san.. tidak mengapa..aku menjadi tukang
membersihkan villa itu...asalkan aku bisa bersama Minho kun,”
Minho tertegun dengan perkataan Aiko baru
saja. Entah...apakah baginya hal ini gila karena cinta..atau karena sudah
sama-sama berputus asa??
”ayahmu..bisa menggantungku, Aiko
chan...sadarlah,” bujuk Minho.
”aku akan tetap berusaha mempertahankanmu
dalam pengadilan.. tapi..tidak
seperti ini caranya”.
”aku ingin kamu menuruti permintaanku,
Minho kun.. sekali saja,” ucap Aiko dan dia berjalan menuju halte bus.
Minho mengikutinya.
”jadi..apa kita mau pergi ke apartment
Tachibana san??,” tanya Minho, masih berjalan dibelakang Aiko.
Aiko menoleh,”mochiron! (tentu saja).. aku lebih memilih kabur dan tetap bersama
Minho kun.. suamiku!”
Minho mendahului langkah Aiko saat mereka
melihat bus sudah semakin dekat. Bus berhenti, pintu terbuka, lalu Minho
menggenggam tangan Aiko dan mereka naik bus, menuju apartment milik Tachibana
Banri.
Dijalan, perasaan Aiko malah jadi tenang,
ketika dia menyandarkan kepalanya dipundak Minho, lalu menggenggam tangan
lelaki itu. Dia kangen dengan suasana seperti itu. Minho pun ingin tetap bersamanya.
Mereka menjadi sepasang dewasa muda yang belajar hidup berumahtangga.
Disepanjang jalan menuju apartment
Tachibana, sesekali Minho menoleh pada Aiko dan tersenyum manis, mengelus pipi
pasangannya itu dengan lembut.
Bersambung ke part 38....