Lee Minho sebagai Dokter Minho Gackt
sebagai Dokter Kamui
Namanya juga cerita imajinasi.. jangan dimasukin
hati banget...
Shiori pulang dari flat Minho dengan
perasaan bingung. Sama sekali dia tidak menyangka, kalau Minho berani
memeluknya dan berkata agar dia jadi temannya, dan jangan pergi. Dia tidak
habis pikir, kenapa itu semua terjadi. Awal dia menjadikan Minho senpai (senior) nya, dan ketika pertama
kali Shiori bercanda pada Minho di sepanjang lorong, lalu Minho mengantarkannya
ke ruangan antar divisi, itu hanya sebagai bagian responnya ketika Minho
terlalu kaku menanggapinya. Tidak lebih dari itu.
Dia selesai memarkirkan mobilnya di bawah
flat. Lalu berjalan pelan saja menuju tangga flat nya, masih berfikir.
Ketika sampai tangga ke dua, dia melihat
seorang nenek yang menyapanya.
“Apa Fujita sensei sedang ada masalah??,”
tanya nenek itu, ramah.
Shiori menjawabnya dengan sedikit salah
tingkat,” ah.. Iie (tidak), obaasan (nenek).. aku hanya sedikit
bingung tentang pekerjaan ku,”
Nenek itu malah tertawa kecil,” bingung
pekerjaan atau urusan cinta, Fujita-sensei?? Anoo.. sepertinya sensei sangat cocok sekali dengan sensei yang
waktu itu datang kesini membantu Anda,”
(Anoo adalah sebuah ekspresi, semisal
dengan: umm).
Shiori membalas nenek tersebut dengan
bercanda,”nenek ini.. aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Lee-sensei..
lagipula, dia itu senpai (senior)
ku... aku menghormatinya ketika dia bilang mau membantuku”, lalu dia senyum
pada nenek itu.
Nenek itu lagi-lagi terkekeh.
“sepertinya akan lebih dari teman, Fujita-sensei,
hihihi”
Yeah, nenek itu benar.. bagaimanapun,
kejadian tadi sudahlah sebagai tanda, Minho meminta lebih dari sekedar teman
pada Shiori.
Shiori masih menjawab candaan nenek itu dengan
biasa saja, ngeles.. baginya, Minho
sekedar teman kerjanya saja.
..........................
Shiori masuk ke dalam flat sederhananya,
lalu melempar tas ke atas tempat tidur. Dia merebahkan dirinya di atas tempat
tidur.
“haaah.. menyebalkan! Semoga tidak ada
yang tahu kejadian tadi,” keluhnya, menarik nafas panjang.
Sama sekali baik dia dan Minho tidak tahu,
kalau Chiaki Akimoto memperhatikan mereka saat itu.
Lalu, telepon berdering. Shiori masih
berbaring, pelan-pelan meraba tas disampingnya dan menaikkan Hp nya, melihat,
misscall dari siapakah?
“Akimoto kun??,” katanya heran. Ada apa
Chiaki telepon dia sudah diatas jam 10 malam.
Dia cuek saja memanggil Chiaki dengan
sebutan “kun”, walau lebih tua dan terkesan lebih senior darinya, sebagai
seorang teman.
“moshi-moshi..
Akimoto sensei??,” jawab Shiori pada Chiaki.
“Shiori kun.. apa kamu sudah pergi ke flat
nya Minho kun??,” tanya Chiaki, basa basi.
Shiori mengangguk, menjawab iya.
“ah.. aku belum.. semoga Minho kun tidak
marah denganku,” tawa Chiaki padanya.
“Tapi Lee senpai.. besok sudah masuk
lagi,” ujar Shiori. Sebab, mereka harus memulai meeting pagi pagi dengan Kamui
dan Takahashi serta dari pihak Maru chemical.
Chiaki bilang kalau dia belum bisa datang
ke flat nya Minho karena sibuk sekali, padahal sebenarnya dia sudah berada
disana, tetapi pulang terlebih dahulu.
“Apa kabarnya Minho kun disana.. apa dia
baik-baik saja??,” tanya Chiaki.
Tanpa curiga sama sekali, Shiori
menceritakan apa yang tadi dialaminya, kecuali soal Minho memeluknya.
Chiaki turut berduka, dia tidak menyangka
Minho memiliki adik yang “menyusahkan” nya. Dia berbohong lagi pada Shiori,
kalau seolah-olah dia sama sekali tidak tahu bagaimana kehidupan keluarga
Minho. Shiori tahu itu. sama sekali tidak tidak ingin ikut campur urusan
mereka. Bagi dia, nomor satu adalah penelitian mereka dan dia sudah ditekan
ayahnya agar berusaha, bersungguh-sungguh supaya bisa menjadi seorang kepala
dokter di rumah sakit yang dipunyai ayahnya.
Dan.. Chiaki sendiri merasakan, ketika dia
ngobrol dengan Shiori, perempuan itu menyembunyikan kisah yang tadi dia lihat.
Chiaki masih mengingat itu.. mengingat melihat bagaimana mata Minho memandang
Shiori dengan penuh harap dan Chiaki sebenarnya cemburu.
“ah.. besok saja aku bertemu Minho kun
pagi sekali.. terima kasih, Shiori kun,” katanya, menutup pembicaraan.
Shiori tidak banyak berkomentar. Dia lalu
membanting Hp nya lagi ke samping dirinya yang tadi duduk, lalu tiduran lagi.
Dia merasa kelelahan dan esok harus bangun pagi sekali.
Tetapi.. ketika dia ingin menaruh Hp nya
dimeja samping tempat tidur, dilihatnya ada sms masuk.. dan ternyata dari
Minho!
“konbanwa
(selamat malam), Fujita kun..oyasuminasai
(selamat tidur),”
Shiori heran dengan sms itu, apa itu sms
yang salah kirim?? Tapi ada tulisan nama keluarganya.
“kenapa Lee senpai jadi manis sekali??”,
tanya hatinya, keheranan sendiri.
Tapi Shiori masih menghargai Minho sebagai
seniornya, dan dia membalas dengan rasa terima kasih lalu kembali tidur. Sama
sekali dia tidak ingin berpikir macam-macam soal kejadian pelukan tadi.
..........................
Pagi kembali datang. Shiori menyiapkan
segala berkas yang dia simpan di flatnya untuk segera di bawa ke rumah sakit.
Pagi itu dengan rajinnya Kamui meng sms Minho dan Shiori untuk bersemangat
kerja.. karena mulai hari itu.. mereka bisa langsung melakukan penelitian!
Dan Daisuke sudah meng sms anaknya sendiri
bahwa dia akan hadir juga dalam meeting yang pagi itu akan berlangsung. Tentu
saja Shiori senang dia bisa bertemu ayahnya kembali.
Semua yang ada di rumah sakit itu saling
menyapa ketika bertemu. Begitu juga ketika pagi itu, Minho dan Shiori ada
bersamaan disatu ruang meeting.
“Ohayou
(selamat pagi), Lee senpai,” sapa Shiori dengan ramah. Baru ada mereka berdua
di ruangan itu, sepertinya mereka datang terlalu pagi.
Minho membalas dengan senyum.
“Ohayou...,”
balasnya dengan ramah.
“apa tidurmu nyenyak tadi malam??,”
lanjutnya.
Shiori langsung menoleh pada Minho, dia
heran, kenapa seniornya itu mendadak manis padanya... apa karena pernyataan
tadi malam itu??
Minho sibuk mengatur laporan yang sudah
dia susun diatas meja masing-masing. Sambil dia menyusun, dia mengajak ngobrol
Shiori.
“Kenapa tidak balas pertanyaanku??”
Shiori
menoleh padanya, dia sebenarnya tidak ingin mencampurkan antara profesinya yang
sedang berhubungan dengan riset dengan cinta. Sewaktu dia tahu hubungan masa
lalu Minho dengan Chiaki dan bagaimana riwayat Minho di rumah sakit sebelumnya,
baginya itu semua hanya untuk melindungi Minho sebagai teman se profesi dan
rekan kerja, terlebih ketika mereka berhadapan dengan Takeo Akimoto, ayah
Chiaki.
“ah..iya.. aku nyenyak..mungkin lelah..
kemarin itu capek sekali,” jawab Shiori.
Minho tersenyum. Dia selesai membereskan
kopian file. Sebentar lagi, Kamui dan yang lainnya datang.
“apa.. kamu marah soal kita kemarin
malam?,”
Shiori menggeleng.
“tidak, senpai.. aku hanya ingin semua pekerjaan beres”
“sou
desu ne (o gitu),” balas Minho, jadi datar lagi.
Kamui pun masuk ruangan. Dia menyapa semua
dengan ramah.
“jadi..kalian sudah siap presentasi yang
terakhir sebelum akhirnya riset??”
Shiori dan Minho mengangguk mantap.
“Very
good!,” ujar Kamui.
Lalu.. masuklah Takahashi, Daisuke,
Maruyama dari Maru chemical dan dua orang dokter asisten yang nanti akan
membantu Shiori dan Minho.
......................................................
Di ruangan rapat direktur Takahashi...
“aku dengar.. Takeo berulah kemarin.. dia
memang tidak langsung menembak padaku tujuannya apa.. tetapi...aku sudah tahu,”
kata Maruyama dari Maru chem.
Kamui hanya senyum tipis saja.
“Kami tidak ada masalah dengan dia..
hanya.. memang dia sendiri yang sengaja cari masalah.”
“kami bersedia membantu Yutaka karena
memang ini sebenarnya kajian lama yang harusnya sudah dimulai di negeri ini..
mekanismenya terlihat baru dan sulit dipercaya dunia kedokteran... mungkin...
tapi kami yakin.. proyek ini ada hasilnya,” balas Maruyama dengan mimik santai.
“tidak mungkin kami memajukan negara lain
jika memang Jepang sudah ada teknologinya,” kata Takahashi, sang kepala rumah
sakit.
Shiori dan Minho diam saja, memperhatikan
mereka bicara, begitu juga dengan dua orang asisten mereka.
Takahashi memberikan sinyal bahwa
sebaiknya mereka memulai saja meeting ini.
“Ohayou
gozaimasu, mina san (selamat pagi semuanya).....untuk materi presentasi tentang
makanan, maka dokter Fujita Shiori lah yang bertanggung jawab dibantu dengan
asistennya, dokter Imae bersama yang lain.. sedangkan untuk percobaan dengan
teknologi nano gold dan gold, maka dokter Lee Minho yang bertanggung jawab,
dibantu oleh dokter Yamaoka bersama yang lain, sedangkan saya, memimpin kedua
penelitian ini,” kata Kamui, dia berdiri lalu menunduk hormat pada semua yang
duduk diruangan itu.
“Kami akan membuka meeting ini sekali lagi
dengan pemaparan dari Lee sensei tentang apa yang akan dilakukannya, lalu
kemudian apakah akan ada revisi atau tetap pada rencana kita sebelumnya,” kata
Kamui lagi.
Minho berdiri dan menunduk hormat pada
semua yang hadir. Kamui lalu mempersilahkan Minho memulai presentasi awal.
Minho pun menyiapkan laptop dan materi
presentasi. Dia memulai memberikan penjelasan pada semuanya yang berada disitu.
“kita sudah mengetahui bersama, kalau
trend dunia tentang penyembuhan penyakit kanker sudah mulai bergeser. Saat
kemoterapi semakin menjadikan sel kanker tetap terus berkembang tanpa ampun,
kita sebaiknya mencari tehnik lain yang menjanjikan. Saat ini, perkembangan
dunia pada teknologi nano semakin meningkat. Nano teknologi jika kita ketahui
menjadikan ukuran sebuah molekul 1 per milyar kali lebih kecil dan bisa lebih kecil
lagi. Obat-obatan pada penyakit tertentu sudah berkembang dengan teknologi
ini.. lalu.. kenapa tidak untuk kemoterapi??”
Lalu dia melanjutkan lagi kata-katanya
itu.
“seperti pula pada tehnik bedah, tujuan
kita menghilangkan sel kanker untuk tidak menyebar ke sel tetangga. Begitu juga
dengan nano teknologi, kita dapat menciptakan tehnik kanker yang secara
langsung dan selektif menembak sel tujuan. Ini ilustrasi yang diharapkan dapat
terjadi...”
Lalu dia membuka sebuah materi yang berisi
video flash rekayasanya, bagaimana jika sebuah kanker dikemoterapi dengan teknologi
nano. Dalam video itu diharapkan ketika diberikan cairan infus berupa gold nano
yang sebenarnya dalam dunia kedokteran kuno digunakan untuk menghambat penyakit
melali tehnik akupunktur, sekarang secara hipotesa dapat digunakan untuk tehnik
penghambat bahkan pembunuh sel kanker.
Maruyama, Takahashi, Daisuke, Kamui,
Shiori, Imae dan yang lainnya melihat video ilustrasi yang dibuat Minho dengan
sangat kagum. Shiori sendiri tidak menyangka Minho bisa membuat hipotesa itu,
kapan dia mengerjakannya??
Takahashi berbisik pada Maruyama dan
Daisuke Fujita-ayah Shiori- yang membantu untuk menggolkan proyek ini.
“Kamui sensei
... tidak salah memilih seorang dokter.. padahal.. dokter ini ditendang
oleh Akimoto Takeo dari rumahsakitnya,” katanya pada Maruyama.
Daisuke tersenyum pada Takahashi, lalu
berbisik.
“kita lihat saja.. apakah Takeo itu bisa
melangkahi ku atau tidak dengan proyek ini... sama sekali aku tidak suka dengan
sikap kekanak-kanakan orang itu”
“kemoterapi konvensional mengenal obat
yang dianggap efektif untuk membunuh sel kanker, namun pada kenyataannya juga bersifat
sitotoksik (meracuni sel), menjadi pembunuh sel sehat justru yang bisa
menyebabkan perkembangan tumor berubah menjadi kanker, belum lagi jika kita
melihat perkembangan efek samping pasien: mual, muntah, kebotakan, neuropati,
fatigue (kelelahan berkepanjangan), atau bahkan turunnya jumlah sel darah putih
yang menyebabkan sistem imun yang dapat saja mendadak rendah. Kita seperti memberikan
tambahan penderitaan kepada mereka. Ketika tadi rekan sejawat semua melihat apa
yang kami pikirkan tentang tehnik kemoterapi teknologi nano ini, harapan kami
adalah tingkat kesembuhan diatas 85% dan juga minimalisasi efek samping bagi
para pasien. Dunia semakin membutuhkan tehnik pengobatan yang aman dan meningkatkan
kualitas hidup pasien, terutama bagi mereka yang pernah menjalankan kemoterapi
atau pembedahan, lalu kemudian gagal dan perlu diulang.”
“kami menjelaskan disini, kenapa tidak
menggunakan kombinasi antara gold sebagai perantara bagi obat kemoterapi.. atau
bahkan gold sendiri bisa sebagai obat kemoterapi. Kami memilih pasien dengan
penyakit kanker payudara dan juga paru karena kedua jenis kanker tersebut
memiliki metastasis yang terbilang cepat dibandingkan dengan kanker lain, juga
prevalensinya tinggi di negeri ini,” sambil dia menunjukkan jumlah angka
penderita kedua penyakit itu pada setiap yang hadir disitu.
“kita semua menyadari, walaupun efek
samping kemoterapi bisa saja terjadi saat itu setelahnya, misalnya dengan
pemberian paclitaxel selama 4 minggu, tetap saja selalu ada kejadian tidak
mengenakkan, terjadi dalam waktu jangka panjang.. dan.. begitu juga dengan
harapan hidup yang cenderung tidak meningkat dalam 1 dekade terakhir ini,”
Minho juga menyajikan data tentang jumlah
penderita di beberapa rumah sakit yang dapat bertahan hidup 3-5 tahun terakhir
dan yang akhirnya meninggal. Jumlahnya lebih tinggi yang meninggal dibandingkan
yang bertahan.
“kami sudah menyajikan data ini. Kami
mendapatkan 45 orang pasien kanker paru yang dibagi dengan tiga perlakuan:
pertama, dengan obat kemoterapi biasa, yaitu paclitaxel 4 minggu bagi 15 orang
yang kami anggap sebagai plasebo tanpa teknologi nano, paclitaxel dan gold dengan
teknologi nano pada 15 orang serta paclitaxel saja berteknologi nano dengan
waktu yang sama 15 orang dengan tehnik intravena. Lalu kemudian Fujita sensei
akan melanjutkan dengan pola makan yang nanti akan beliau jelaskan. Kemudian,
kami juga tetap membagi 3 dari 45 pasien penderita kanker payudara dengan juga
3 perlakuan yang berbeda, dalam waktu yang sama, yaitu pencampuran antara
paclitaxel dengan avastin sebagai plasebo tanpa teknologi nano pada 15 pasien,
lalu kedua penggabungan keduanya dengan gold dan menggunakan nano teknologi dan
terakhir hanya penggunaan keduanya dengan teknologi nano. Semua pasien adalah
pasien lanjutan pada stage minimal II bahkan sudah pernah mengalami kegagalan
dengan proses kemoterapi sebelumnya. Semua diberikan secara intravena”.
“Keberhasilan akan dinilai jika terjadi
pengurangan sel kanker untuk 2 minggu pertama kemoterapi sebesar 85% dan dua
minggu berikutnya menjadi 100%.. hanya dalam satu seri saja... berbeda dengan
tehnik sebelumnya yang bisa mencapai 2-3 seri walau pada kategori kanker yang
menyebar dan besar luasannya”, ujar Minho dengan suara tegas dan semangat.
“juga untuk meminimalisasi adanya efek
samping jangka panjang, terutama jika terjadi neuropati dan penurunan jumlah
sel darah putih.”
Maruyama, Takahashi dan Daisuke malah bertepuk
tangan dengan penjelasan Minho, yang menurut mereka dapat menjadi peluang baru
dan bisa membuat Yutaka Medical University menjadi terkenal, mengalahkan
Kenzai, jika penelitian ini memang berhasil dan berguna, sebuah kemajuan
teknologi yang tidak akan diragukan lagi.
Kamui mengangguk senang dengan penjabaran
dokter latihannya itu.
“lihat saja, Akimoto...kami akan selangkah
lebih maju dari yang kamu bayangkan,” ujar hatinya Kamui.
Ya, Kamui lah yang hampir 5 tahun lalu
mengajak Minho bergabung dari klinik kecil ke universitas besar itu setelah
Minho ditendang oleh Takeo Akimoto. Kamui sama sekali bukan dendam soal itu,
dia dendam dengan sikap kekanak-kanakan Takeo yang juga mencoba untuk
memenangkan bisnis ini sebagai tender awal dan pastinya akan mungkin saja
menendang Minho yang sudah dia siapkan sebagai dokter pengganti baginya. Kamui
tahu, dia kalah hierarki dengan Takeo, namun tidak semudah itu, lelaki itu akan
menguasai dirinya dengan semena-mena.
“Target ada dua hal: bersifat pasif dan
aktif. Kebanyakan kita tahu, penggabungan antar dua atau bahkan tiga obat
kemoterapi pun kurang bisa menembus sasaran dengan tepat, sehingga kemungkinan
terjadi adalah ketidakefektifan obat bekerja. Dengan menggabungkan gold dalam
ukuran yang sangat kecil sebagai selaput dalam cairan kemoterapi lalu dengan mudahnya
menembus sel kanker, mengunci cairan, mengunci sel kanker dan mematikan mereka,
meredam aktivitas inflamasi (peradangan) yang mungkin saja ditimbulkan oleh
reaksi antara obat dengan sel pembunuh kanker seperti NK atau NFT-α maka sudah
jelas, diharapkan sitotoksik semakin kecil saja luasannya, lalu sel-sel sehat
akan terlindungi. Dan begitu juga dengan sasaran aktif, diharapkan sel kanker
akan tertipu dengan menganggap nano sebagai bahan penerima perkembangan sel.
Dari sini, selanjutnya, pemberian obat oral pendamping setelah kemoterapi juga
diharapkan berdosis rendah, karena sudah diketahui perkembangan hasilnya dari penelitian
kemoterapi yang lalu”.
Maruyama mendecak kagum dengan penjelasan
Minho. Dia sudah membayangkan jika hal ini berhasil, dia akan mendapatkan
lisensi dari pemerintah untuk menyebarkan bisnisnya. Baginya, penjelasan dari
Minho sudah cukup bisa mewakili, apa yang akan dia dapat dari penelitian ini.
“Kami sepakat.. akan menggunakan ukuran
100 nanometer, ukuran yang sekaligus dapat menembus peredaran darah di seluruh
tubuh,” kata Minho.
Dia lalu menutup hasil presentasinya
dengan penjabaran dari beberapa perkembangan teknologi yang sudah ada di luar
negeri.
Minho mendapatkan tepuk tangan langsung
dari Maruyama yang puas dengan penjelasan itu.
“Namun.. apa yang kita pakai sebagai
perantara masuknya gold ini adalah AgNO3.. bukankah zat itu juga bisa dikatakan
sebagai perantara yang juga mungkin saja sebagai alat bantu kemoterapi?? Dokter
Lee sebaiknya pertimbangkan zat lain yang mungkin saja mengacaukan hasil penelitian
nanti...dan kenapa diambil sangat kecil sekali.. hanya 6 μgram/kg berat badan??,”
ujar Imae, sang dokter pendamping bagi Shiori.
“Kami belum bisa memberikan dosis yang
besar, karena dapat saja jika lebih dari 15mg/kg berat badan, dapat menjadi
racun yang mematikan bagi sel sehat, walau target ada pada sel kanker,” jawab
Minho.
“penelitian terdahulu, nano teknologi gold
tidak dapat bermanfaat pada ukuran 20 mikro gram.. apakah kita dapat lebih kecil
lagi?? Mungkin saja, karena terakhir kami mendapatkan hanya dengan 8,5 μgram/
kg berat badan dapat teratasi, walau ada efek sampingnya.. yaitu warna kulit
sedikit berubah jadi seperti keemasan.. dan.. kami menginginkan hal itu tidak
ada, dengan cara merendahkan dosis,” lanjutnya lagi.
“Tentunya, dengan perpaduan antara gold
dan obat kemoterapi, efek samping obat kemoterapi lebih kecil lagi, waktu bisa
dipercepat dan sel pembunuh tumor atau kanker tidak ikut terbunuh seperti kita
menggunakan tehnik konvensional,”
“toksisitas sel sekeliling menjadi rendah,
serta organ yang bekerja untuk mendetoks yaitu pada liver, sistem limfe dan
ginjal menjadi tidak lebih berat”
“Lee sensei benar, Imae sensei,” ujar
Kamui, memotong perkataan Minho.
Minho menunduk hormat pada Kamui.
“begitulah harapan kami, Imae sensei.. jika
ini sesuai dengan target yang kita harapkan, maka kita akan resmi menggunakan
gold sebagai nano shells.. mempercepat pengiriman obat kemoterapi,”
“untuk AgNO3.. jika kami bisa mengganti
dengan sulfur.. maka akan kami usahakan yang terbaik dan menekan biaya,” lanjut
Minho lagi.
“sulfur memang baik.. tetapi bukankah dia
lebih utama sebagai agen untuk silver, Lee sensei??,” tanya Maruyama. Dia yang
membutuhkan informasi ini, sebab dia yang akan menentukan zat yang akan segera
di produksi.
“gold yang berikatan dengan sulfur juga
sama baiknya, Maruyama san.. dan kemungkinan kita dapat memangkas 50%
pembiayaan,” balas dan tunduk hormat Minho pada Maruyama.
Maruyama lalu mengatakan, kalau begitu,
proposal sebaiknya sekali lagi diperbaiki dan esok harus diserahkan padanya
dalam waktu secepatnya.
Minho berjanji secepatnya dia dan tim nya
akan memperbaiki proposal tersebut.
Maruyama meminta maaf kalau waktu diundur
sedikit. Tim tidak mempermasalahkan karena ternyata pemikiran pengurangan
anggaran baru terpikirkan ulang dan sebaiknya mempertimbangkan biaya yang bisa
lebih murah lagi.
Minho menyelesaikan presentasinya dengan
menjawab pertanyaan dari Daisuke tentang lethal
dose (batas dosis membahayakan) yang bisa diterima oleh tubuh. Sebab, semua
akan langsung dicobakan pada manusia, sama sekali tidak pada hewan percobaan.
“Tidak ada waktu lagi.. untuk itu kami
mempercepat dengan langsung pada manusia,” terang Daisuke pada semuanya.
Ternyata, dia juga menginginkan itu selain Maruyama.
Shiori jadi berpikir tentang ayahnya
sendiri, ternyata dalam pikirannya, sang ayah tidak menyetujui ini, ternyata,
tepat seperti apa yang sudah dikatakan Kamui sebelumnya, ayahnya memang setuju
dengan hal itu.
Dia jadi membayangkan lagi, bahwa pasien
yang mereka cobakan adalah kebanyakan anak-anak. Kekhawatirannya ingin dia
sampaikan, tetapi Minho sudah terlanjur menutup diskusi, lalu dia sendiri harus
menyampaikan proposalnya di hadapan mereka.
..................................
Sesi Minho sudah selesai, saatnya Shiori
menyampaikan proposal yang dibuatnya. Minho senyum di depannya manis sekali,
tidak seperti waktu-waktu sebelumnya. Shiori tidak ingin menanggapi, namun dia
membalas senyuman manis Minho dengan senyum tipisnya, sebagai seorang teman
kerja.
Dia berdiri di depan semuanya, memulai
menjelaskan.
“Dari Tim, kami sebenarnya membantu kerja
Lee sensei dalam soal perawatan makanan. Kami membagi menjadi tiga perlakuan
kepada dua kelompok tersebut, yaitu plasebo berupa makanan yang diberikan
secara biasa terdiri dari 5 jenis antioksidan umum yang secara in vivo dapat
membantu menurunkan kanker yaitu superoxide dismutase dalam mangan dan zink,
selenium, asam folat, beta karoten dan vitamin E. Yang kedua, pemberian makanan
yang mengandung lima antioksidan tersebut yang sebelumnya diradiasi dengan
sinar infra merah untuk meningkatkan kerja makanan dalam mitokondria (bagian
kecil dalam sel yang berfungsi untuk mengolah ATP/adenosine tri phospate, bagian pengelola energi setiap sel)
yang seiring dengan pemberian obat kemoterapi bercampur dengan gold colloidal
nano shells. Lalu yang terakhir adalah, pemberian vitamin dan mineral dalam
bentuk suplemen yang dikombinasikan dengan makanan. Pemberian makanan yang
menggunakan tehnik radiasi ini diharapkan dapat meningkatkan dukungan terapi adjuvant (tambahan setelah atau sesaat
dengan pemberian obat kemoterapi) untuk mengoptimalkan penyerapan makanan bagi
dukungan kesehatan”
“kebetulan, Imae sensei adalah seorang
dokter gizi.. jadi pasti kami dapat meminta bantuan beliau untuk penentuan
takaran gizi yang pas bagi para pasien,” senyum Shiori pada Imae dan dia
menunduk hormat sedikit pada dokter itu.
Lalu dia melanjutkannya.
“berdasarkan konsultasi dengan Imae
sensei.. kami sepakat tidak menggunakan tehnik pemanasan atau heating untuk
penembakan sinar infra merah dalam makanan... kami menggunakan gelombang paling
rendah tetapi makanan bisa berfungsi baik untuk penyerapan antioksidannya,
sebagaimana tehnik penyinaran matahari untuk mematangkan buah”
“Hipotesa yang kami ingin dapatkan adalah,
proses terapi pada dua jenis penderita kanker ini akan dipercepat dengan
bantuan makanan yang mengandung antioksidan tinggi dengan tingkat daya serap
dalam sel untuk membentengi dirinya dari peningkatan ROS atau oksigen radikal
bebas sebesar minimal 80% sehingga membantu percepatan penyembuhan dengan
kombinasi obat dan pemberian gizi. Selain itu, diharapkan, makanan ini tidak
mempengaruhi reaksi pada pemberian obat yang akan dinilai dari kandungan
antioksidan darah pasien”
“wow.. kalau begitu.. hal ini bisa
membuktikan sebuah pekerjaan baru.. bisa saja tehnik ini dikembangkan dalam
suplementasi,” bisik Maruyama pada Daisuke.
“mungkin saja bisa, Tuan,” balas Daisuke.
Penjabaran panjang lebar terus diterangkan
oleh Shiori dan tanya jawab dari yang hadir disitu. Dia dibantu Imae sebagai
dokter gizi menguatkan pendapat dan hipotesis mereka, jika keduanya dapat
dikendalikan antara obat dan makanan, maka efektivitas kecepatan waktu
penyembuhan dapat saja mencapai 50% dan memangkas biaya bagi rumah sakit atau
jika memang pasien ingin di rawat di rumah saja.
Dokter Yamaoka, dokter baru asisten Minho
bertanya, apakah nanti tidak ada saling reaksi kontradiksi antara obat
kemoterapi dan makanan ini karena sama-sama berisi bahan yang menghadang
perkembangan kanker.
Imae pun sebagai dokter gizi membantu
Shiori.
“kami memahami, bahwa tidak cukup
perawatan penderita kanker hanya dengan kemoterapi. Sedari dulu kami percaya,
kalau makanan bisa dijadikan obat. Kami menggunakan basis tumbuhan karena
disanalah banyak sekali yang dapat menghambat perkembangan dan diferensiasi sel
kanker, mengaktifkan perkembangan dan diferensiasi sel tubuh yang sehat,
peningkatan apoptosis
(lisis/peluruhan sel kanker secara otomatis sehingga sel kanker mati sendiri), angiogenesis (proses penting dalam
pertumbuhan dan perkembangan, termasuk diantaranya untuk masa pemulihan,
termasuk juga dalam pertumbuhan dan perkembangan sel kanker, yang dapat berubah
dari tumor menjadi kanker ganas. Sehingga diperlukan proses penghambatan
angiogenesis untuk terapi pada kanker, terutama pada pembuluh darah), autofagi,
penghambat metastasis (penyebaran sel
kanker ke jaringan atau organ sebelahnya)”.
“Kami berikan ini sebagai adjuvant.. tambahan dengan tehnik yang
sudah juga kami pikirkan,”
Lalu ternyata Imae juga mempersilahkan
semua yang ada di situ menyimak sebuah video proses pengolahan makanan yang
ditembak dengan sinar infra merah pada gelombang khusus yang diharapkan ketika
dicobakan dengan metode laboratorium, maka makanan tersebut dapat menembus sel
sehat yang terdiri dari membran berlemak.
“Ketika tembusan beberapa jenis
antioksidan misalnya glutathione, katalase, mangan super oksid dismutase, zink
super oksid dismutase, beta karoten, flavonoid, polifenol dari lima makanan
ini: ryu cha, algae, kedelai, brokoli, beras fermentasi... mereka selain
sebagai antioksidan, juga sebagai penghambat hormon, perangsang enzim dan
berharap mengubah DNA.. lalu berujung pada dapat membantu percepat
penyembuhan”, tambah Imae.
“Tehnik penyinaran dan pelapisan makanan
dengan minyak esensial ini kami cobakan karena untuk menembus sebuah sel,
diperlukan makanan yang mengandung asam lemak esensial... dan sedikit proses
panas dari sinar infra merah dapat membuat lemak esensial (lemak yang tidak bisa di dapatkan dari dalam tubuh, harus
dari luar tubuh) dari zaitun ini bisa membantu menembus daya serap antioksidan
ke dalam DNA sebagai bagian dari proses genetika”, tambah Imae lagi.
“wah... ini bagus sekali.. coba lihat..
kalau memang benar yang namanya infra merah bisa dipraktekkan untuk menyinari
makanan para pasien dan dalam tubuh memang bisa menembus sampai pada proses
meruntuhkan ROS baik di permukaan sel maupun sampai pada tingkat DNA... ini
ladang baru kita juga... tehnik ini tidak bisa diketahui universitas lain..
atau kita patenkan saja,” bisik Takahashi kepada Kamui.
Kamui hanya menoleh dan senyum tipis.
Kalau memang akan dipatenkan, tentu saja rumah sakit ini akan semakin terkenal.
“Tim mu bagus sekali, Kamui sensei,”
lanjut Takahashi lagi.
Minho seperti mendengar apa yang dua orang
itu bisik-bisik. Tapi dia tidak ikutan nimbrung.
Dia menyimak saja pemaparan Imae.
“Kureiji..
sore wa yappari hontou sugoi mono darou to omou (gila. Aku berfikir, ini
bisa jadi yang hebat),” gumam Maruyama pada Daisuke.
“Dan Takeo bisa tidak berkutik,” balas
Daisuke.
Shiori dan Imae saling membantu
menjelaskan, sampai akhirnya selesai juga pemaparan tersebut.
Maruyama berdiri dan bertepuk tangan untuk
mereka. Dia lah yang mensponsori semua penelitian ini.
Semua tim pun berdiri dan menunduk hormat
pada Maruyama.
“hebat.. aku berpikir.. jika kita bisa
mengembangkan ini dan sukses untuk hasilnya... aku tidak akan membiarkan
Universitas ini jatuh dan kalah pamor begitu saja dibandingkan universitas
medis lainnya.. aku bisa jamin itu,” kata Maruyama.
Mereka lalu berbasa-basi sebentar dan
akhirnya semua keluar ruangan.
-----------------------------------------
Minho, Shiori, Imae dan Yamaoka berjalan
di lorong untuk masuk ke ruangan tempat Minho.
“Imae sensei... hebat sekali untuk tehnik
ini... aku tidak menyangka.. sebab kalau kita mempelajari lagi untuk infra
merah, fitokimia jarang sekali yang bisa bertahan dengan panas,” kata Minho,
membuka pembicaraan.
“aku mempelajari ini dari seorang profesor
di Amerika, Lee sensei... dan aku pikir, walaupun fitokimia ini bisa bekerja
sampai pada permukaan sel, sama sekali mereka tidak bisa terkena panas.. itu
sebabnya.. kita hidangkan semua makanan ini dalam bentuk mentah... tapi kita
panaskan dengan sinar infra merah,” balas Imae.
“sugoii
nee (hebat sekali),” kata Yamaoka, asisten Minho.
“aku berterima kasih Imae sensei mau
membantu menjelaskan semuanya,” senyum Shiori pada Imae.
Imae seorang dokter gizi muda yang giat. Dia
ikut dalam proyek itu karena baru saja pulang dari luar negeri dan diharapkan
bisa membantu tim nya Kamui. Kamui menariknya, karena dia berfikir, Imae memang
pantas untuk menjadi pendamping penasehat bagi Shiori. Tentu saja, Kamui belum
bisa menjadikan Imae langsung kepala perwakilan penelitian ini, namun
pengetahuannya sangat membantu kesuksesan penelitian nanti.
“hanya saja, Lee sensei... teori ini
sebenarnya baru dibuktikan pada tikus, belum pada manusia,” lanjut Imae.
Shiori jadi berfikir.... kenapa mereka
nekat sekali... langsung membuat manusia sebagai bahan percobaan? Dia sangat tidak
setuju dari awal.
“resiko kita adalah: sukses... atau
benar-benar gagal,” ujar Imae lagi.
“Tidak perlu menyerah,” kata Minho.
Mereka duduk di ruangan Minho sambil minum
kopi.
“lagipula.. untuk nano teknologi ini..
kita sudah mendapatkan pendahuluannya dari Amerika juga.. jadi... kalau
dukungan dari makanan ini tidak berhasil... setidaknya... kita bisa memberikan
hasil dari teknologi lain,” lanjutnya lagi.
“aku rasanya deg-degan sekali dengan hal
ini, Lee sensei... aku baru pertama kali dilibatkan dalam proyek... ,” kata
Yamaoka, sambil menggaruk kepalanya. Dia juga termasuk dokter muda di RS itu.
Minho tertawa dengan ekspresi Yamaoka. Dia
memang belum lama kenal cowok muda itu. Kamui dan Takahashi merekomendasikan
Yamaoka karena dia lulusan terkenal dari sebuah universitas dan dalam pikiran
kedua seniornya itu, Yamaoka Kazuki termasuk dokter yang cocok sebagai dokter
peneliti atau pengajar di masa depannya.
Minho menepuk pundak Yamaoka.
“shinpai
shinai de kudasai (jangan khawatir)... kita semua disini punya peluang yang
sama.. ketika aku mendengar tentang Yamaoka sensei dari Kamui sensei.. aku
pikir... Yamaoka sensei rekan sejawat yang hebat...,”
“aku belajar dari Kamui sensei tentang
kesetaraan kesempatan,” senyum Minho pada Kazuki.
“arigatou,
senpai (senior), hehehehe,” canda Kazuki.
Mereka berbicara, menunggu keputusan Kamui
dan yang lainnya.
“Tidak ada revisi apapun... Maruyama san
sepakat.. dia akan lebih setuju jika AgNO3 diganti dengan sulfur sebagai gold suphate bond (emas berikatan
sulfur),” kata Kamui, ketika bertemu dengan Tim nya.
“kalau begitu.. nanti malam kita rayakan..
karena besok.. pihak Maruyama sudah bersiap mengirimkan segala bahannya,”
Kazuki yang tadinya sempat deg-degan malah
jadi bersemangat.
“Yes!,”
Kamui dan yang lainnya tertawa melihat
ekspresi Kazuki, yang paling muda diantara mereka.
Lalu mereka bubar, fokus pada pekerjaannya
masing-masing.
...................................
Shiori kembali ke ruangan IGD. Dia
menemukan beberapa dokter muda disana dan juga Fujiwara yang tidak terlalu
sibuk.
“sepertinya kalian akan sukses banget...
syukurlah,” kata Fujiwara memulai pembicaraan di ruangannya.
“Begitulah... akhirnya.. aku bisa berguna
juga di RS ini, Fujiwara sensei... terkadang aku bingung dengan pekerjaan ku
sendiri.. karena sensei sendiri sudah sibuk,” balas Shiori.
Fujiwara tertawa saja dengan perkataan
Shiori. Lalu dia bertanya, apa tadi Akimoto Chiaki menelepon ke ruangannya,
karena perempuan itu menelepon Shiori di ruangan Fujiwara.
“tidak sama sekali, sensei.. kenapa??,”
tanya Shiori pada Fujiwara.
Fujiwara juga tidak tahu, ada apa, karena
setelah itu, Chiaki sama sekali tidak meninggalkan pesan apapun.
“Tapi aku dengar... kalau penelitian kita
ini mendapat penentangan tender dari ayahnya Akimoto sensei.. apa benar??,”
tanya Fujiwara. Dia memang dokter tukang gosip dan selalu saja ada mulut yang
bisa dia dapatkan informasi apapun tentang berita di seputar rumah sakit.
Shiori mengangguk, namun dia katakan, itu
semua akan baik-baik saja dan tidak ada masalah. Lalu, Fujiwara menyinggung
lagi ternyata kisah tentang Minho dan Chiaki.
“aku curiga, kalau ini semua terjadi
karena masih ada dendam lama antara Takeo dengan Lee sensei itu,” katanya pada
Shiori.
“ah... Fujiwara sensei.. sebaiknya kita
enggak bicarakan itu dulu... lagipula.. kalau hal itu benar... aku tidak yakin
Lee sensei masih suka dengan Akimoto sensei... dan.. bukankah dalam kedewasaan
kita.. tidak patut mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan?? Aku tidak
suka itu,” balas Shiori. Sambil dia berdiri lalu melihat lihat jejeran obat
yang ada di sebuah lemari di dalam ruangan Fujiwara.
Fujiwara menghampirinya, pikiran gossipnya
mulai lagi.
“sudah dua bulan lebih, Fujita sensei dan
Lee sensei terlihat akrab berjalan suka berduaan kemana-mana... apa kalian pacaran??,”
Shiori langsung menoleh pada Fujiwara,
kaget.
“Hieh?? Itu enggak benar, Fujiwara
sensei... kata siapa?? Aku dan Lee sensei.. kami cuma teman kok,”
Fujiwara malah terkekeh.
“lebih dari sekedar teman, juga tidak
mengapa, Fujita sensei.. kami maklum.. sore
wa ii ne (itu tidak mengapa)”
“Heeeehh.. tidak begitu dong, Fujiwara
sensei.. aku tidak bisa buat urusan pekerjaan bercampur dengan masalah hati..
dan memang.. kami tidak ada hubungan apa-apa kok,” balas Shiori lagi.
Fujiwara lalu malah duduk dan terkesan dia
sedikit mengeluh.
“Lee sensei itu.. apa hidupnya sama sekali
tidak mau berwarna ya??”
“Kenapa??,” tanya Shiori, masih berdiri.
“sewaktu aku bekerja sama dengan dia..
sering kali melihat wajahnya datar tanpa ekspresi.. dan sepertinya, dia memendam
sesuatu,” ujar Fujiwara.
“sama sekali.. aku hanya tahu kehidupannya
dari kata rekan sejawat yang lain.. tidak dari mulutnya sendiri.. dia hampir
tidak pernah bercerita padaku.. walau kami satu tim dulu,”
“Mungkin dia orangnya tertutup... ,” balas
Shiori singkat.
“dia sebenarnya dokter yang baik... sedih
juga mendengar adiknya meninggal kecelakaan,” kata Fujiwara.
Shiori mengangguk. Baginya, Minho adalah
sesosok senior yang menurutnya memang pandai, dingin, tidak banyak bicara. Fujiwara
menceritakan masa-masa dia bekerjasama dengan Minho.
“malah sepertinya.. Fujiwara sensei yang
jatuh cinta dengan Lee sensei, hehehe,” canda Shiori pada seniornya itu.
Fujiwara terkekeh.
“mana bisa Lee sensei itu jatuh cinta
padaku?? Kerjanya dia kaku sekali”
“tidak pernah dengar dia punya pacar
disini, sensei??,” tanya Shiori. Tanpa dia sadari, dia jadi kepo sendiri, ingin tahu kehidupan
Minho, walau sudah tahu sedikit dari Kamui.
“ah..aku hanya tahu... dulu pacarnya itu
Akimoto sensei... lalu semuanya kacau... ketika disini..sama sekali dia tidak
dekat dengan siapapun.. kecuali dengan Kamui sensei,” balas Fujiwara.
“eh tapi.. kenapa Fujita sensei.... ahhh..
kok.. jadi ingin tahu tentang Lee sensei??,”
Shiori hanya tertawa, dia katakan kalau
dia memang cuma mau tahu aja.
Fujiwara mengangkat satu alisnya sedikit,
penasaran.
“ah.. aku curiga.. ada sesuatu yang
disembunyikan kalian”, genit Fujiwara.
Shiori masih saja mengelak, tidak mungkin
dia menceritakan apa yang sudah terjadi antara dia dan Minho.
“Cowok yang ganteng, pendiam, pintar,
walau misteri,” kata Fujiwara, malah dia jadi membayangkan sosok Minho ada di
depannya.
“Fujiwara sensei pintar sekali
membayangkan seseorang, hehe,” canda Shiori.
Fujiwara yang awalnya duduk, lalu berdiri.
“saking dia tertutup.. aku sama sekali
sebenarnya tidak bisa ngobrol banyak dengannya,”
“tapi.. ah sudahlah,” dia jadi
menggerakkan tangannya.
“aku berharap.. dia berubah sikap pada
siapapun jadi tidak terlalu kaku,”
Tetapi... hari ini.. Shiori menemukan
Minho semangat sekali. Pupil matanya beberapa dilihatnya berbinar.
................................
Malam hari.. disebuah Bar dengan musik santai...
“Kanpaiiiiiiiiiii!!!
(Cheers!),” teriak semua yang ada di depan sebuah meja. Kamui dan timnya sedang
merayakan keberhasilan tembusnya proyek mereka dan besok penelitian akan
dimulai.
“kita harus tetap semangat.. jaga semangat
ini sampai proyek selesai..,” kata Kamui.
Mereka lalu minum dan mengangkat gelasnya
beberapa kali.
“hai, Lee sensei.. Fujita sensei.. kalian
besok sudah mulai memimpin mereka.. dan jangan ribut ya.. aku harus bersantai
tinggal menunggu hasil dari kalian,” canda Kamui pada mereka.
Mereka semua tertawa keras, kecuali Shiori
yang tertawanya tidak terlalu keras.
“Lee sensei... kalau sudah begini.. bisa
loh.. pacaran dengan Fujita sensei, hahaha!,” canda Kazuki.
Minho santai saja senyum, mengangkat gelas
dekat mulutnya lalu minum. Sama sekali dia tidak berkomentar atau marah dengan
candaan juniornya itu.
Imae memukul kepala Kazuki sampai cowok
muda itu mengaduh.
“gaya mu..,” kata Imae, dengan ekspresi
santai.
Kazuki mulutnya langsung cemberut pada
Imae.
“tidak mengapa juga kan??? Memangnya aku
salah??”
Kamui malah tertawa melihat ekspresi
dokter yang di tim nya itu paling muda diantara mereka.
“aku tidak pernah ada masalah kalau kalian
ada yang saling jatuh cinta.. santai saja..”
Kazuki gantian iseng dengan seniornya,
memukul kepala Imae itu.
“lihat saja... Kamui sensei sendiri tidak
pernah mempermasalahkannya.. iya kan?? Hehehe”
Lalu dia menoleh pada Shiori.
“Ne..
Fujita senpai.. kalau diantara kami.. memang.. siapa yang kamu sukai?? Tidak
termasuk Kamui sensei loh ya, hehehe,”
Kazuki jadi genit, dia mengerling pada
Shiori.
“aiyooo...
aku tidak tahu.. kamu ini.. ribut sekali,” jawab Shiori dengan cepat.
Kamui tertawa dengan pertanyaan Kazuki.
“Fujita sensei.. memang paling manis
diantara tim kita, hahaha... tapi mungkin yang paling bisa berpacaran
dengannya.. ya Lee sensei,”
Kazuki dan Kamui malah jadi menggoda
Shiori.
Shiori jadi salah tingkah, lagi lagi.. dia
ingat kejadian beberapa hari lalu. Tapi Minho tetap santai, menanggapi candaan
3 orang rekan sejawatnya itu dengan senyum tipis.
“Kalau aku dan Fujita sensei pacaran..
tentunya nanti yang akan iri Imae sensei dan yamaoka sensei... atau mungkin..
akan ada persaingan antara kita, Yamaoka sensei,” balas Minho, santai.
Kazuki Yamaoka langsung kaget lebay dan sok heboh dengan pernyataan Minho baru saja.
“Hieh... mana bisa itu, Lee sensei!! Aku
tidak mungkin suka dengan Fujita sensei... heeeh!!”
Yang lain akhirnya jadi tertawa, gantian
mem-bully Kazuki.
“Tapi.. ada satu hal yang aku ingatkan
pada kalian semua.. lakukan penelitian ini dengan sepenuh hati,” kata Kamui.
Mereka semua mengangguk dengan semangat.
“Aku katakan suatu hal.. sebenarnya.. kita
sedang bersaing dengan rumah sakit Kenzai,” kata Kamui lagi. Dengan santai dia
menaruh gelas minumannya diatas meja.
Dia lalu akhirnya mengatakan apa yang
telah terjadi antar kedua universitas medis ini. Persaingan antar universitas
dalam penelitian, untuk mendapatkan proyek dan juga dana dengan mengambil hati
pemerintah memang kadang terjadi. Tetapi untuk saat ini, justru yang bergerak
adalah non-pemerintah, dengan biaya sponsor dari pihak swasta. Kamui akhirnya
membicarakan lagi apa yang terjadi antara mereka, terutama personal dengan
Takeo. Tetap saja, dia merahasiakan kasus Minho, dia hanya katakan, bahwa Takeo
sedari dulu memang kelihatannya tidak suka dengan Takahashi yang menjadi
direktur di RS tempat mereka bekerja. Persaingan antar hierarki kadang memang
menyakitkan. Yutaka bukan terbilang baru dalam manajemen rumah sakit,
setidaknya menjadi contoh bagi pemerintah dalam menjalankan RS nasional yang
mengandalkan asuransi dan non-asuransi. Saat ini, Kenzai tidak ingin
mengandalkan dari asuransi karena dianggap bisa membuat bangkrut negara.
“asuransi sangat sulit diambil
keuntungannya.. sedang Takahashi-san... bukan tipe orang yang tergila-gila
dengan uang... yah.. kalau boleh aku katakan.. setengah gila uang,” kata Kamui
dengan ekspresi terkesan cuek.
“Namun.. kesulitan yang sedang dialami
pemerintah dalam pembiayaan kesehatan, sebenarnya jika kita masih bisa
mengakali.. tidak akan bangkrut RS ini.. ,”
“Kenzai.. ah.. aku sama sekali tidak suka
berada di universitas itu... banyak kelicikan yang membuat aku keluar,” lanjut
Kamui lagi.
Minho terbelalak kaget. Selama lima tahun
dia bekerja sama dengan Kamui, bahkan lelaki itu yang membawanya ke Yutaka,
sama sekali dia tidak tahu, kalau Kamui juga pernah bertugas disana.
“Naze
bikkuri shita ka?Gen ni.. Ori kara boku wa sono daigaku de hataraite ita koto o
shita.. mada shiranai ka?? (kenapa kaget... tidak pernah tahu.. kalau aku
sebenarnya pernah bertugas disana),” kata Kamui, santai.
“Iie..
hontou ni choudo sore o shitte iru (tidak.. baru saja tahu),” jawab Minho.
“Yare
yare (ah..), “ balas Kamui, dia menghela nafas. Yang lain jadi ikut
memperhatikan.
“Jika tadi tidak ku katakan... bisa-bisa
aku dianggap terlalu naive,” ujar Kamui.
“Tapi.. kami memang belum tahu sama sekali
kalau Kamui sensei.. memang pernah betugas disana,” kata Minho.
“apalagi aku,” timpal Shiori.
“Jangan pernah berurusan dengan Takeo
Akimoto.. kita hanya akan mencari masalah... ,” kata Kamui.
“Umm... bukannya.. sama sekali kita tidak
ada urusan dengan dia kan, sensei??,” tanya Kazuki.
Kamui dengan santai memukul kepala Kazuki
sampai terdengar suara pukulannya itu dan Kazuki pun mengaduh.
“kamu bisa saja berurusan dengannya kalau
kamu tidak menuruti kemauannya.. dia itu iblis,”
Kazuki kembali mengelus kepalanya yang
sudah beberapa kali tadi kena keplak.
Pembicaraan jadi serius walau kesan pukulan kepala Kamui padanya seperti
bercanda.
“aiyooo, sensei... aku memang enggak tahu
kalau sifat orang itu sebegitu iblisnya,” kata Kazuki, sambil memegang
kepalanya.
“ya.. karena kamu baru lulus dan kamu
bukan lulusan Kenzai... dia lulusan Kenzai,” Kamui menunjuk pada Minho.
Kazuki langsung menoleh heran pada Minho.
“Jadi.. sensei??”
Minho mengangguk saja.
“jadi.. tugas kalian adalah.. jika
mendapatkan tekanan dari pihak Takeo.. jangan ragu untuk bilang padaku...”,
kata Kamui.
“enggak sangka,” kata Kazuki.
Kamui mengangguk. Dia keluar dari Kenzai
karena bersebrangan dengan pemikiran Takeo dulunya tentang sebuah penelitian,
padahal waktu itu, Kamui juga mengepalai penelitian itu dan hal itu berhubungan
dengan dana dan sponsor.
“Maksud Kamui sensei.. Akimoto itu...
menggelapkan dana.. begitu??,” tanya Imae.
Kamui menyandarkan badannya di kursi.
“sayangnya.. aku tidak bisa membungkam
itu... aku sudah ditendang duluan”
“parah sekali,” kata Kazuki dan Imae,
kompak.
Minho sama sekali tidak bercerita, kalau
selain masalah cinta, dia juga di depak Takeo Akimoto karena mengetahui juga
aliran dana dan sponsor yang justru melibatkan departemen kesehatan di Kenzai,
tetapi juga akhirnya ditendang oleh Takeo. Minho tidak ingin membuka masa
lalunya di depan mereka. Lagipula, Kamui memang tidak menginginkan Minho
menceritakan itu di depan siapapun.
...........................................
Setelah puas mereka merayakan pesta kecil
malam itu, semuanya pulang ke tempat masing-masing. Shiori dan Minho berjalan
menuju parkir. Sementara Kamui, Imae dan Yamaoka pulang pada jalur yang
berbeda.
“Tidak merasa tersinggung kan... dengan
perkataan Yamaoka-kun tadi??,” kata Minho. Mereka berjalan bersampingan.
Shiori menghentikan langkahnya, Minho lalu
ikut berhenti. Mereka saling berhadapan.
“yang mana??,” tanya Shiori.
Minho tertawa kecil, seperti antara segan
dan malu dengan perempuan itu. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“ah, eh.. hehe.. yang tadi.. ketika
candaan kemungkinan kita saling suka”
Shiori tersenyum pada Minho dan
mengangguk.
“sama sekali aku tidak marah.. itu semua
hanya candaan saja, kan??”
Minho memasukkan kedua telapak tangannya
ke saku celana panjang. Dia berdiri sedikit berjingkat dan menapakkan kakinya
lagi, seperti tanda orang ragu untuk mengatakan sesuatu.
Shiori malah membalikkan badannya dan
berjalan lagi. Minho mengikuti langkahnya, berjalan lagi disampingnya.
Mereka sampai disebuah taman sebelum
parkir.
Minho malah berjalan mendekati kursi
taman, lalu dia duduk.
Shiori heran,”apa.. ada yang harus kita
bicarakan??”
Minho mengangguk, memintanya untuk duduk.
Lalu, perempuan itu pun duduk di samping Minho.
“tidak terasa.. kita sudah dua bulan
saling bekerja sama,” senyum Minho, namun dia tidak menatap wajah Shiori. Tatapannya
lurus searah dengan taman.
Shiori malah menoleh pada Minho,
mengangguk mengiyakan.
“aku pikir.. senpai dulu orang yang judes,
kaku, tidak ramah.. ternyata.. tidak seperti itu juga..”
Minho menoleh padanya, lalu tersenyum.
“tentang pelukanku kemarin... “
Waktu diam sejenak, Minho tidak meneruskan
kata-katanya lagi. Shiori juga ikut diam. Dia menunggu Minho meneruskan
kata-katanya yang belum selesai.
“aku.. memang suka dengan kamu..
Fujita-kun,” Minho menoleh dan senyum pada Shiori.
Shiori hanya membelalakkan matanya.. sama
sekali dia tidak dapat berkata apa-apa.. tidak dapat membalas perkataan Minho
baru saja.
Waktu diam lagi, senyap. Mereka berdua
diam lagi. Hari semakin malam.
“Tapi... Akimoto kun.. bagaimana??,” tanya
Shiori.
Yang dimaksud adalah Chiaki Akimoto. Satu
bulan yang lalu, dia baru saja melihat Chiaki mencium Minho di tempat karaoke.
Dia masih ingat peristiwa itu.
“Akimoto-kun.. sudah jadi masa lalu
ku...,” jawab Minho. Dia senyum lagi pada Shiori.
Rasanya, Shiori sangat kaku menghadapi
Minho. Dia diam lagi.
Minho meluruskan lagi pandangannya,
menatap beberapa pepohonan seperti semak dan bunga di depan mereka.
“apa.. aku salah?,”
“eh... maksudnya apa??,” tanya Shiori,
terpecah dari lamunannya.
Minho malah menyandarkan kepalanya ke
kursi taman, membiarkan wajahnya menatap langit, lalu meluruskan kedua kakinya
yang panjang.
“Kehilangan kedua orangtua, dendam dengan
orangtua tiri... baru saja ditinggal adik lelaki, walau dia juga tiri.. dunia
ku rasanya sempit,”
Dia lalu memejamkan matanya.
Shiori melihat wajah Minho yang terpejam.
Bulu mata lelaki itu sangat panjang, tetapi, jika dilihat dari dekat, rasanya,
ada butiran halus air mata tertahan diantara lembut dan panjangnya bulu-bulu
mata itu.
Dunia kehidupan Minho memang berbeda
dengan dirinya. Rasanya, dunia lelaki ini kelam walau tidak terikat sebuah
kejahatan apapun, namun, hatinya terampas karena masa lalu keluarganya. Beda
dengan Shiori, yang terlahir dari keluarga beruntung, seperti keluarga yang
sempurna dengan kasih sayang dari kedua orangtuanya dan juga banyaknya
kelimpahan harta yang dia terima.
“tidak ada yang salah dengan kehidupan
ini, Lee senpai (senior),” kata
Shiori dengan lembut.
Minho masih memejamkan matanya dan Shiori
masih memandangnya. Langit hari itu cerah, banyak bintang bergantungan di
angkasa.
“senpai..
memang terlihat lelah sekali..,” kata hatinya Shiori.
Shiori tidak tahu, apakah Minho mendengar
perkataannya yang terakhir.. atau memang sudah tertidur saking lelahnya memang
hari itu. Minho memang setelah presentasi penelitian mereka, dia lalu membantu
Kamui mengoperasi seorang pasien kanker ginjal.
“mungkin.. dia masih berpikir tentang
kehilangan Akira kun,” kata hatinya Shiori lagi.
Shiori tidak meninggalkan Minho begitu
saja. Walau cuaca malam sudah mulai dingin, dia tetap saja menemani Minho yang
matanya masih terpejam. Dia lalu mengibas-kibas tangannya di depan wajah Minho.
“heeehh.. ternyata, Lee senpai ini.. tidur
ya??,”
Shiori sama sekali tidak marah, dia malah
senyum melihat Minho yang lelah.
Cukup lama dia memandang Minho yang
tertidur. Sampai akhirnya, dia meluruskan pandangannya kembali, melihat taman
yang sudah mulai senyap, tidak ada lagi orang lewat sama sekali.
“Tidak mungkin aku meninggalkan Lee senpai
disini sendirian,” kata Shiori lagi, setelah dia puas melihat sekeliling sambil
duduk.
Dia membiarkan saja Minho tertidur. Kepala
Minho pelan bergeser yang awalnya menengadah, menjadi bergerak ke kanan, tepat
bersandar di bahunya.
Shiori membiarkan saja pundaknya diberikan
untuk Minho. Sama sekali dia tidak bergerak, agar Minho tidak terbangun.
Malam semakin dingin. Tangan Shiori
gemetaran, dia sudah mulai kedinginan. Dia gerakkan kedua tangannya untuk
menghindari udara yang memang semakin malam semakin dingin. Dia melihat kedua
tangan Minho sudah mulai bergerak. Ternyata, cowok itu bangun.
Minho membuka matanya, lalu melihat tangan
Shiori yang mulai gemetaran kedinginan.
“Maaf... aku ketiduran,” kata Minho,
pelan, tanpa dia sadar, kalau kepalanya tadi bersandar di pundak Shiori.
Shiori menggelengkan kepalanya,”eeh..
tidak apa..”, dia mulai menggesek-gesekkan kedua tangannya, menghindari dingin.
Pelan tapi pasti, Minho menggerakkan
tangannya, lalu menggenggam kedua tangan Shiori dengan lembut.
“kita pulang... aku minta maaf.. membuatmu
menunggu,” kata Minho, tanpa senyum, ekspresi yang terlihat datar.
Shiori mengangguk saja. Minho lalu
berdiri, menaruh ransel dipunggungnya dan menarik tangan kanan Shiori.
Shiori pun berdiri, lalu berjalan di
belakang Minho yang masih menarik dan menggenggam tangan kanannya. Sementara
tangan kiri perempuan itu memegang tas tangan.
Langkah kaki Shiori mengikuti Minho.
Mereka diam saja, tetap berjalan menuju parkir. Dibelakang Minho, Shiori tidak
berfikir apapun, dia tidak berkata apapun, membiarkan Minho menggenggam tangannya
sambil tetap berjalan.
Mereka berjalan sampai di tempat parkir
dekat taman, barulah Minho melepas genggaman tangannya. Shiori membuka kunci
dan pintu mobilnya, lalu dia masuk.
“terima kasih.. mau menemani ku malam
ini,” kata Minho, di depan pintu mobil.
Shiori tersenyum,”tidak apa, senpai.. aku mengerti”
“jangan bangun kesiangan.. besok kita
harus semangat kerja.. hari pertama riset,” barulah Minho senyum padanya.
Shiori mengangguk mantap dan senyum.
“sampai jumpa besok, Fujita-kun...,”
senyum Minho lagi.
Shiori mengangguk, menutup kaca mobilnya, lalu
melaju meninggalkan taman.
Minho masih berdiri di samping motor
balapnya.
“salanghagi
sijaghaessda, Shiori-chan... naega insaeng –eseo chiaki leul ijgo sipji
(aku mulai mencintaimu, Shiori.. dan ingin melupakan Chiaki dalam hidupku),”
Sampai di flatnya yang sederhana, Shiori
merebahkan dirinya. Dia mulai memikirkan tentang Minho.
Bersambung ke part 15...