This is me....

Kamis, Mei 14, 2015

My 3 Supernatural Beloved Kids (Part 14: Aku Tidak Suka Kamu Percaya Dia)

Starring: Lee Minho, Park Minseo, Lee Jin Ho, Lee Young Joon, Lee Hana.

Cerita ini cuma iseng aja kok.. jangan dimasukin ke hati banget..

Malam itu, Minho pulang ke rumah dengan kepala pusing. Nam yang dia pikir partner bisnis yang baik ternyata mencuranginya, mengirimkannya kualitas kain yang buruk dan membuat dirinya marah. Sampai depan rumah, Minseo yang menyambutnya dengan ramah, dia cuekin saja.
Minseo mencoba membuka pikirannya Minho tanpa disadari lelaki itu.
“Kalau dipikirkan lagi dirumah.. dan anak-anak tahu kamu cemberut saja.. mereka tidak akan ceria sampai besok lagi”, katanya sambil membantu melepaskan dasi yang dipakai Minho.

Minho diam saja, dia kesal sekali. Ketika dia sampai di rumah peramal Kang juga, peramal itu mengatakan kalau hidupnya dalam satu minggu ke depan akan sial.
Dia menceritakan itu pada Minseo sambil mulutnya cemberut terus.
“Kamu tidak perlu percaya itu, Minho sayang... jujur saja.. aku malas sekali kalau kamu berbicara terus tentang peramal itu.. pikiranmu jadi kacau dan kerja mu bisa berantakan esok hari...,”  
Minseo mengidangkannya teh untuk menenangkan diri.
Minho meminum teh itu pelan-pelan. Lalu dia bicara lagi kalau kelakuan Nam kali ini tidak bisa dibiarkan dan akhirnya dia membatalkan kerjasama itu.

“aku mengerti kekecewaanmu... lalu.. kalau kamu menuruti apa kata Kang-ssi itu... bagaimana kamu bisa percaya aku, Minho??,” tanya Minseo, menatap mata Minho dengan lembut.
Minho menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
“kalau aku tidak ke peramal Kang.. aku tidak tahu apa yang akan ku lakukan”
Minseo menghela nafas. Dia kesal sebenarnya dengan daridulu apa yang dilakukan Minho. Keras kepalanya belum sembuh juga.
“lalu... tetap saja.. semuanya tidak selesai juga kan??? Sementara Nam-ssi tetap saja curang padamu.. mengecewakan kamu.. dan dia buat kamu marah,”
“aku mengerti,” jawab Minho, datar. Dia sedang malas dinasehati. Dia berdiri lalu meninggalkan Minseo dan teh nya, menuju ruangan anak-anak mereka.
Minseo mengeluh dalam hatinya. Hanya satu kekurangan Minho yang tidak dia pahami: terlalu percaya dengan ramalan. Dia ingin menyingkirkan rasa percaya lelakinya itu agar tidak terlalu bergantung menghabiskan uangnya untuk jasa ramalan.
                                                ...................................

Dilihatnya dari jauh, Minho memang asik bercanda dengan anak mereka. Lalu Minseo menghampiri, mencoba ramah lagi dengannya, tidak lagi membicarakan soal Nam dan juga peramal Kang, namun berbicara tentang perkembangan ketiga anak mereka.
Minseo masih berdiri di depan pintu, dia coba membuka pembicaraan lagi dengan Minho yang sedang asik bercanda dengan Hana, anak perempuan mereka.
“Hana makin pintar loh... hari ini, dia sudah bisa duduk tanpa harus bersandar lagi.. aku bangga sekali dengannya,”
Minho diam saja, tidak terlalu menanggapi perkataan Minseo. Dia malah asik bermain menggendong-gendong Hana diatas kepalanya. Kalau sudah begitu, Minseo memang lebih baik mendiamkannya saja, sampai Minho akan bicara sendiri dengannya.

“sepertinya masalah kali ini di bisnisnya berat sekali.. ,” kata Minseo dalam hatinya, sekilas dia memandang wajah Minho.
Minho mengajak Hana keluar kamar, sedang dua yang lainnya sedang asik tidur. Sama sekali Minseo tidak mau menganggu keasyikan mereka berdua. Dia melanjutkan pekerjaannya di kamar mandi, karena harus menyiapkan air panas untuk Minho membersihkan badan.

Minseo jadi berdiri di dapur saja, termenung.
“aku tidak berani membuka pikiranku pada Minho.. jika dia tahu bahwa aku bisa mengetahui permasalahannya... dan dia berfikir buruk tentang ku... itu akan membuat Minho semakin tidak percaya lagi padaku”
Dagunya berpangku pada telapak tangannya. Pikirannya melayang-layang bagaimana caranya dia bisa membantu suaminya itu menyelesaikan masalahnya.
Minho mendadak berteriak dari luar dapur.
“aku mau mandi!,”
Dia memang tidak suka memakai pemanas air, dia lebih suka minta dimasakkan saja air panas.
Minseo langsung berdiri dan menghampirinya.
“ya.. air panasnya sudah siap.. biar aku bantu”, katanya dengan senyum pada Minho, mencoba tidak sama-sama bete, supaya mood Minho tidak makin berantakan.
Minho berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
                                    .......................................................
Minseo berbicara dengan Hana yang masih belum tidur juga.
Appa (ayah) mu dalam kesulitan, sayang.. Eomma (ibu) berfikir.. sejak kami pacaran.. Appa mu tidak suka kalau Eomma berbicara soal peramal Kang itu...dan Appa mu tidak suka memiliki pasangan yang terlihat aneh... “
Hana hanya menatap tajam mata Minseo, tanpa dia bisa berkata atau mengoceh apapun ala bayi.
“Appa mu membuang banyak uang untuk peramal itu,” keluh Minseo lagi.
Hana masih saja menatap mata Minseo dengan tatapannya yang tajam dan seperti ingin mengatakan sesuatu, kalau suatu hari nanti, ingin sekali anak itu membantu kedua orangtuanya.
Minseo senyum pada anaknya sendiri.
“cara menatap matamu.. terkadang seperti Appa mu...walau sinarnya seperti aku”, senyumnya pada Hana.
Barulah Hana mengeluarkan ocehannya sebagai bayi.
Minho selesai mandi. Dia senang melihat anaknya bertingkah cerewet. Tanpa ragu, dia langsung meminta Hana dari tangan Minseo.

“Hana.. anak Appa pintar sekali... kata peramal Kang.. suatu hari nanti.. kamu banggakan Appa... ,” Minho mengangkat tubuh Hana tinggi tinggi sampai anak itu berteriak tertawa kegirangan.
Minseo sudah gerah sekali kalau dia mendengar kata “peramal Kang”. Minho tidak pernah lepas dari sosok lelaki itu.
“Hana memang pintar...,” kata Minseo, membuka pembicaraan lagi.
Hana sibuk ber bubbling dengan Minho yang menanggapinya dengan canda dan tawa. Minseo memperhatikan saja ayah dan anak itu berkomunikasi. Mendadak smartphone Minho berdering. Dia minta tolong Minseo mengangkatnya. Ternyata.. itu dari peramal Kang.
“ah.. lagi-lagi,” keluh hatinya Minseo.
Dia tidak ingin mendengarkan percakapan antar keduanya.
Minho memberikan Hana padanya, lalu dia berbicara dengan Kang.

Tak berapa lama, Minho menutup lagi teleponnya, berjalan menuju isteri dan anaknya.
“aku harus pergi ke Kang-ssi,” kata Minho, singkat. Dia yang masih memakai handuk melingkar di pinggangnya lalu mencium Hana dan menuju kamar.
Minseo mengikutinya.
“ini kan sudah malam, sayang.. besok saja.. lagipula.. Hana masih kangen padamu,” bujuk Minseo padanya, supaya tidak keluar rumah malam itu.
Hana ikut bicara gaya bayi.
Minho tetap memakai baju dan tetap ingin pergi. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan berkaitan dengan urusan ramalan bisnisnya.

“aku tidak suka itu.. aku tidak suka kamu terlalu menuruti apa kata Kang itu,” mendadak Minseo membuka suara ketidaksetujuan tentang Minho yang dari dulu terlalu bergantung pada orang itu.
“ini penting... aku harus lekas pergi,” balas Minho yang menyemprotkan parfume di badannya, di depan kaca rias, tanpa melihat wajah Minseo.
“Batalkan saja.. ini sudah malam.. apa tidak bisa esok hari??,” tanya Minseo lagi.
“Kenapa sih.. selalu mengikuti apa kata orang itu??,”
Minho langsung menoleh pada Minseo dan tatapan matanya berubah jadi tajam pada isterinya itu.
“bukan urusanmu,” kata Minho, mendadak datar dan dingin.
“Ini urusanku.. kamu kan suamiku, Minho.. jadi.. aku berhak tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan usaha kita, masalahmu... bukan si peramal Kang itu yang sok tahu!,” nada bicara Minseo jadi tinggi.
Dia menganggap bahwa peramal Kang hanya mengambil keuntungan dari sikap Minho yang memang percaya sekali dengan ramalan, membuat Minseo gerah sedari awal dulu mereka pacaran.

“kenapa kamu jadi aneh sekali sih?? Bukannya sedari kita pacaran.. memang aku percaya dengan orang itu???,” tanya Minho, dia jadi mulai sengit karena Minseo dianggapnya melawan dia duluan.
“lama kelamaan aku gerah, Minho.. aku tidak suka!,” balas Minseo. Dia masih menggendong Hana.
“bukannya kamu diam saja selama ini.. kalau aku suka pergi kesana?,” suara Minho jadi tinggi.
Minseo diam sejenak.
Lalu,” ya.. aku memang diam.. sedari pacaran..aku membiarkan saja kamu percaya padanya.. tetapi.. lama-lama aku capek dengan caramu
“aku bilang... bukan urusanmu.. dan kamu tidak akan sanggup hadapi ini,” balas Minho, sama sekali tidak membentak, tapi suaranya datar dan dingin.
Dia main berjalan ke ruang tamu dan mengambil kunci mobilnya, pergi tanpa pamit pada Minseo dan Hana.
“Minho.. tunggu!,” teriak Minseo, berlari ke ruang depan. Tapi Minho sama sekali tidak mendengar apa kata Minseo, dia langsung saja melarikan mobilnya ke kediaman Kang.
Minseo menangis dengan peperangan kecil yang baru saja terjadi. Hana sibuk bubbling padanya, seolah-olah menghibur ibunya sendiri yang sedang sedih. Minho meninggalkan mereka begitu saja.
                                    ..........................................................
“jadi.. menurut Kang-ssi... usahaku bisa bangkit lagi kalau aku kerjasama dengan Nam dan Bong itu?? bagaimana bisa?? Nam baru saja berbuat curang padaku,” tanya Minho, di depan Kang si peramal.
Ruangan ramah itu terlihat lebih senyap dan temaram. Hari memang sudah malam dan Minho malah nekat pergi ke rumah orang itu. Di ruangan itu yang berukuran sekitar 10x10 meter persegi terdapat banyak sekali pernak pernik supernatural mulai dari bola kristal sampai banyak mantera dalam kertas-kertas.
“ini yang aku lihat,” kata Kang. Lalu dia membuka satu per satu kartu tarot.
“kartu ini melambangkan.. kalau kamu memutuskan hubungan bisnis mu sekarang... kamu malah akan rugi,”
Minho mendecak dan menaruh badannya bersandar sedikit pada kursi. Dia sebenarnya tidak percaya, bagaimana bisa kedua orang yang sudah melanggar perjanjian kerjasama bisnis dengannya, malah disuruh berkerjasama lagi.
“eh.. tapi.. mereka benar-benar baru saja menghancurkan kerjasama bisnis ku, Kang-ssi.. aku tidak habis pikir”, balas Minho.
“kamu salah langkah,” ujar Kang.

Minho berfikir berat. Rasanya, mendadak tiba-tiba dia malah jadi ingat pada Minseo. Sepertinya isterinya itu ada di dalam pikirannya, sedang membimbingnya untuk segera pulang ke rumah. Minho sedikit menggoyangkan kepalanya. Dia bingung, bayangan Minseo makin menjadi saat Kang terus berbicara tentang masa depan bisnis dan kehidupannya.
“eh.. kenapa yang terbayang olehku malah Minseo??,” katanya dalam hati. Dia goyangkan sedikit kepalanya dengan telapak tangannya.
“ada apa, Lee-ssi??,” tanya Kang, dia memotong sendiri obrolannya ke Minho.
“tidak.. teruskan saja,” balas Minho.
Makin Kang menjelaskan perkataan ramalannya, makin Minho melihat wajah Minseo di pandangannya. Dia jadi tidak berkonsentrasi mendengarkan segala perkataan Kang. Kang menyadari client nya sedang mengalami masalah, dia lalu menghentikan penjelasannya.
“apa sama sekali kata-kata ku tidak didengar??,” tanya Kang.
Minho menggeleng saja.
“tidak.. aku mendengar,”
“Lalu.. ?? apakah Lee-ssi mau mendengar sesuatu yang baru..??,” tanya Kang.
“tentang apa??,” balas Minho.
“Isteri Anda..,” senyum Kang.

Minho kaget, kenapa tiba-tiba mendadak Kang seperti tahu.. dia sedang memikirkan Minseo??
“ada apa sebenarnya??,” tanya Minho.
Kang masih tersenyum pada Minho.
“isteri Anda.. sebenarnya adalah seorang supernaturalis.. orang yang sedari dulu sebenarnya tidak Anda sukai..,”
Minho kaget. Dia memang pernah menemukan Minseo berlaku aneh sewaktu mereka pacaran, misalnya berbicara sendiri atau bahkan menebak hubungan mereka. Tapi dia tidak pernah berfikir sampai sejauh itu. Dia salut dengan prediksi isterinya itu, tapi menurutnya bukan karena Minseo seorang yang memiliki kemampuan supernatural.
“aku tidak percaya..,” kata Minho.
“dia tidak pernah menunjukkan hal-hal aneh padaku”
Kang tersenyum lagi. Kali ini, senyumnya licik.
“anda sudah berbohong pada saya, Lee-ssi... karena Anda sebenarnya pernah melihat keanehan pada isteri ketika masih pacaran.”

Minho sadar dia berbohong pada peramal di depannya.
“ya.. aku memang pernah melihat dia aneh... tapi...aku menganggapnya waktu itu biasa saja”
“itu tidak biasa, Lee-ssi.. isteri Anda.. adalah seorang supernaturalis,” senyum Kang.
“ti.. tidak mungkin.. aku tidak yakin itu!,” balas Minho, dengan nada suara yang tinggi. Dia tidak percaya bahwa Minseo akan membohonginya.
Dia lalu berdiri.
“saya bisa membuktikannya Lee-ssi... isteri Anda sudah berbohong puluhan kali,” balas Kang, santai.
“Tidak mungkin!,” balas Minho.
Lalu dia main meninggalkan Kang begitu saja. Kang menunduk hormat sedikit pada Minho yang meninggalkan ruangan, mengijinkannya pergi.
Minho tersinggung dengan apa yang peramal itu katakan. Dia pulang dengan hati kesal.                            `                                              
............................................

Minho pulang seperti dalam keadaan ling-lung. Dia main masuk saja ke rumah. Dilihatnya, rumah sudah gelap, semua lampu dimatikan. Dia tidak langsung menuju kamarnya, tetapi malah pergi ke kamar anak-anaknya, lalu dia nyalakan lampu kamar mereka, mengambil kursi dan duduk di tengah diantara ketiga tempat tidur bayi, tepat di depan tempat tidur Young Joon, anak kembar tengah.
“Kenapa.. setiap kali Appa (ayah) berbicara atau mendatangi Kang-ssi... selalu saja sepertinya bayangan ibu kalian ada di mataku?? Apa benar dulu yang dikatakan Kang-ssi.. bahwa ibu kalian memiliki kemampuan supernatural??”
Terang saja ketiga bayi nya sama sekali tidak menjawab, mereka tertidur lelap. Tapi Minho masih mencoba berbicara dengan mereka.
“kalian tahu tidak?? Hari ini.. Appa dikhianati dalam berbisnis.. “
Dia lalu senyum pada ketiganya, dengan lembut mengelus pipi mereka pelan-pelan agar tidak ada yang terbangun.

Dia teringat pertama kali sewaktu SMA, ketika dia mulai berpacaran dengan Minseo dan mendatangi Kang, lelaki itu terkesan tidak suka dengan Minseo. Minho sempat menangkap raut wajah Kang yang berbeda saat itu, namun digubrisnya.
“sepertinya memang hubungan kalian akan panjang.. hanya saja.. akan ada halangan dari sisi kamu, Nona Park,” begitu kata Kang pertama kali Minho mengajak Minseo padanya.
Minseo memang berusaha memblokir jalan pikiran Kang agar tidak mempengaruhinya. Ya, benar.. bahwa Minseo memang memiliki kemampuan supernatural, tetapi dia tidak suka hal-hal yang bebau ramalan atau cenayang dan sebagainya. Dia mengingkari dirinya sendiri untuk kemampuan supernaturalnya. Dia ingin Minho tidak tahu. Dia yang trauma sejak kecil dan berpacaran selalu gagal karena kemampuan supernaturalnya itu, menjadi tidak ingin Minho tahu, bahwa dia perempuan yang berbeda dengan yang lainnya. Ditambah lagi, memang Minho tidak suka memiliki pasangan yang aneh. Dia begitu mencintai Minho, tidak ingin kehilangan lelaki itu, jadi, dia bertekad selalu menyembunyikannya, kecuali di hadapan keluarga kecilnya, yaitu kedua orangtua dan adiknya.
Dalam hatinya, Kang berkata,”perempuan ini sebenarnya punya kemampuan supernatural... dia memblokir apa yang aku pikirkan tentangnya”.
“Jadi.. apa hubunganku tidak bisa bertahan lama dengan Minseo??,” tanya Minho, dia harap-harap cemas. Minho juga mencintai Minseo karena dia pikir, perempuan ini sederhana, pintar dan mampu mengerti perasaan dan pikirannya.

Minseo menatap mata Kang dengan sedikit tajam. Kang seperti cemas.
“ah.. tidak begitu, Lee-ssi.. hanya.. cobaan akan datang bertubi-tubi,” jawab Kang.
Minho sedikit menghela nafas dan dia bertanya, kenapa hal itu akan terjadi??
Minseo tersenyum pada Minho, dia hanya mengatakan,” namanya juga hubungan.. kadang ada damai.. kadang ada perang... “
“ya.. tapi ini penting untukku, sayang.. aku ingin kamu ada bersama ku terus,” balas Minho, menoleh pada Minseo.
“Lalu... bisakah Anda katakan, Kang-ssi... apa yang akan menyebabkan masalah suatu hari nanti??”, lanjut Minho lagi.
Minseo seperti mengeluarkan aura tidak nyamannya untuk Kang. Kang merasakan dingin sekali diseputar badannya.
“ah... itu... karena akan ada perempuan lain..,” jawab Kang. Dia terkunci untuk jawaban: karena Minseo memiliki kemampuan supernatural yang akan membuatnya susah.
“perempuan lain?? Aku kan tidak cinta pada siapapun lagi selain dia...,” ujar Minho.
“ya.. perempuan lain,” jawab Kang lagi, dengan sedikit terbata-bata.
Minho heran,” ah.. apa iya?? Apa kita akan putus??”, dia menoleh pada Minseo lagi.
“aku tidak tahu itu, Minho.. aku bukan peramal,” balas Minseo, santai. Lalu dia menatap mata Kang lagi.
“kamu benar-benar peramal licik.. kamu manfaatkan uang Minho dan keluarganya,” dalam hati Minseo pada Kang.
Dia sebenarnya tidak ingin merusuh di dalam ruangan itu. Hanya saja, dia tidak ingin Minho terlalu percaya pada orang itu, yang lebih banyak memanfaatkan keluarga Minho daripada berlaku jujurnya.

“dulu.. waktu 10 tahun lebih yang lalu... Eomma (ibu) kalian sangat tidak suka ketika aku pergi ke peramal Kang,” kata Minho lagi pada ketiga anak kembarnya yang masih tertidur.
“dan lagi-lagi... tadi sepertinya ibu kalian memperingatkan ku...,” lanjutnya.
Minho diam sejenak. Lalu dia mendengar langkah kaki menuju kamar ketiga anak mereka. Dia menoleh dan dilihatnya Minseo menghampirinya.
“aku pikir.. kamu tidak akan pulang sama sekali malam ini,” kata Minseo dengan suara lembut.
Minho diam sejenak.
“aku pulang,” jawabnya, singkat.
Minseo lalu mengambil kursi dan duduk di sebelah Minho.
“apa.. masih mau makan malam?? Nanti akan ku hangatkan makanannya,” senyumnya pada Minho.
Dia pelan-pelan mengenggam lembut tangan Minho. Dia melihat wajah Minho yang tampaknya kusut.
Minho menoleh padanya.
“hari ini.. kepala ku pusing sekali,” keluhnya.

Minseo tanpa ragu memeluknya.
“aku minta maaf.. jika tadi aku marah padamu, Nampyeon (suamiku)... tapi.. memang aku ingin kamu tahu.. aku gundah jika kamu mempercayai peramal itu”
Kepala Minho bersandar di pundak Minseo.
“aku.. seperti melihatmu tadi ketika Kang-ssi berbicara padaku”.
“kamu seperti mengatakan padaku... kamu seperti benar-benar ada disana...”
Minseo senyum pada Minho.
“yang ada adalah doa ku.. bukan fisikku”
Minho lalu meminta Minseo melepaskan pelukannya. Dia menatap mata Minseo.
“tolong jujur padaku....,” katanya.
Minseo heran, dia berusaha untuk tenang.
“tentang apa??,”
“apa... kamu sebenarnya... adalah seorang supernaturalis??,” tanya Minho dengan suara dalam.
Minseo diam.
“jawab pertanyaanku, Minseo...,” kata Minho.
Minseo tetap diam... dia tidak ingin Minho mengetahuinya... atau... habislah riwayat percintaan dan rumahtangga mereka...

Bersambung ke part 15....