Lee Minho sebagai Dokter Minho Gackt
sebagai Dokter Kamui
Namanya juga cerita imajinasi.. jangan dimasukin
hati banget...
Pagi begitu cerahnya. Hari pertama di
bulan juli yang panas. Matahari naik terlalu pagi, namun tidak menyurutkan hati
pada tenaga medis dan paramedis untuk tetap bertugas. Jam 6 pagi sudah seperti
siang hari. Rumah sakit Yutaka sudah terlihat ramai di luar. Banyak perawat
membantu para pasien sekedar menikmati pagi hari, menatap matahari, mengambil
sinarnya untuk kesehatan tubuh.
Minho berjalan menuju depan rumah sakit.
Beberapa pekerja medis dan paramedis menyapanya dengan ramah. Dia pun membalas
dengan ramah juga pada mereka. Lalu, dia langsung masuk ke gedung khusus bagian
kanker.
“Lee sensei.. selamat pagi,” kata Arimura
seorang perawat di depan lobby besar. Perempuan perawat itu menunduk hormat
pada Minho, lalu memberikan beberapa data pasien untuk dikunjungi.
Minho langsung membalas sapaannya dengan
ramah dan memeriksa beberapa data.
Tanpa menegakkan kepalanya, dia bertanya
pada perawat Arimura, apa Shiori Fujita sudah datang meminta data pasien yang
lain atau belum.
“mohon maaf, sensei.. sepertinya Fujita
sensei belum kesini... ,” jawab Arimura.
Minho diam saja, dia masih konsentrasi
memeriksa, apakah dokter sebelum dia sudah memeriksa para pasien atau belum.
Sebab ada dua kali pemeriksaan kesehatan setiap harinya jika diperlukan.
Semenjak dia ditarik oleh Kamui menjadi dokter peneliti, sudah ada satu orang
dokter yang bisa membantu dia untuk memeriksa sore.
Lalu, barulah dia menegakkan kepalanya.
“Okay kalau belum datang juga.. saya akan
bawa data ini.. pasti Fujita sensei juga akan mencari yang sama,” katanya pada
Arimura.
Arimura menunduk hormat dan setelah Minho
mengucapkan terima kasih, dia meninggalkan perawat itu dengan membawa data
tersebut.
....................................
“Uisa
Lee!,” seseorang berteriak memanggil Minho.
Minho menoleh, dia mengenyitkan satu
alisnya.
Seorang perempuan berlari menghampirinya.
Dia berwajah cantik sekali, berkulit putih pucat, berwajah tirus dan bertubuh
tinggi semampai.
“Jang Yi-Kyung ??,” tanya Minho, heran.
Dia memang mengenal perempuan yang sekarang berdiri di depannya, adik kelasnya
dahulu.
Perempuan itu berwajah ceria sudah berdiri
di hadapan Minho.
“ya.. aku Yi-Kyung... Olenmanieyo...masih ingat aku kan??,”
Semua gigi putih perempuan itu kelihatan.
Dia begitu senang bertemu Minho.
Minho agak tertawa kecil dengan perempuan
itu, dia menutup mulutnya.
“Tentu saja aku ingat... masak tidak ingat
adik kelas sendiri?? Hehe”
“Heeeehh... lama sekali kita tidak bertemu
sih?? Apa kabar??,” Yi Kyung menunduk hormat pada Minho.
“ aku baik.. kamu sendiri??... aku sibuk.
Hari ini.. aku memulai sebuah riset baru,” senyum dan balas Minho.
“aku baik sekali... dan.. hari ini aku
senang.. bisa bertemu dengan seniorku.. lama sekali.. lima tahun lebih, kan???”
Minho mengangguk, lalu mempersilahkan
Yi-Kyung berjalan disampingnya.
“jadi.. sekarang.. Oppa Minho... sudah sukses jadi dokter disini??,” tanya Yi-Kyung.
Mereka berdua berjalan lurus disepanjang
lorong. Beberapa petugas paramedis menyapa mereka ketika mereka lewat. Minho
membalas sapaan mereka dengan ramah.
Dia berbicara bahasa Korea dengan Yi-Kyung
dan tampaknya semua orang yang mereka lewati tidak mengerti.
“Aku baru lima tahun disini.. mana bisa
dibilang sukses..,” jawab Minho, senyum tipis dan santai pada Yi Kyung.
Tangannya masih memegang berkas data para pasien.
“sudah lama juga.. semenjak keluar dari
Kenzai,” ujar Yi Kyung.
Minho mengangguk saja,”aku baru saja 3
tahun di bagian bedah... masih baru juga”
Yi Kyung bergumam saja. Lalu Minho
bertanya, ingin bertemu siapa juniornya itu dirumah sakit ini.
“Kamui sensei,” jawab Yi Kyung dengan
ceria.
Minho langsung menoleh padanya dan matanya
sedikit terbelalak keheranan.
“Kamui sensei?? Jadi... kamu akan dibawah
Kamui-sensei???”
“Ye..
uisa kamui gamdog alaeida (ya.. aku dibawah pengawasan dokter Kamui),”
“Geu
reo ku na (o gitu),” balas Minho, wajahnya berkekspresi santai, namun dia
berpikir: ada apa juniornya ini masuk ke RS Yutaka?? Bukankah dia sama-sama
tamatan Kenzai?
“sekarang.. jadi.. kamu sudah mendapatkan
spesialis bedah?,” tanya Minho.
Yi Kyung mengangguk, namun, dia tidak
melanjutkan studinya itu di Kenzai, tapi di rumah sakit lain.
“lalu.. kenapa kamu tidak kembali saja ke
korea?? Kenapa masih betah disini? Hehe,” canda Minho pada juniornya itu,
ketika tahu, bahwa dia pernah kembali lagi ke Korea namun malah nekat balik
lagi ke jepang.
Yi Kyung menjawab, kalau dia mendapatkan kesempatan
ini dari universitas terakhirnya, bukan dari Kenzai.
Minho hanya menjawab “oo” saja,
kecurigaannya jadi dihilangkannya. Awalnya dia merasa curiga karena memang
Kenzai yang dipimpin Takeo memang musuh mereka sedari dulu. Jadi, siapapun yang
datang dari sana, Minho berhak curiga, apalagi ini bertepatan dengan hari
pertama penelitian mereka.
Mereka masih menelusuri lorong, menuju
ruangan Kamui. Ditengah jalan, Shiori muncul berlari menuju ruangan lain.
Minho yang melihatnya langsung menghampiri
dan menyapanya.
“ah.. aku lupa.. bangunku kesiangan!,”
tunduk Shiori sedikit, minta maaf pada Minho.
Minho senyum saja, lalu dia memberikan
beberapa berkas.
“ini untukmu.. sudah aku siapkan,”
Shiori lekas mengambil kumpulan berkas itu
dari tangan Minho.
Dia melihat Yi Kyung yang berdiri
disamping Minho.
“kanojyo
wa.. dare? (siapa cewek ini?),”
Yi Kyung yang mengerti bahasa jepang,
langsung menjawab.
“watashi
wa Jang Yi Kyung.. Lee sensei no tomo desu...hajimemashite... yoroshiku
onegaishimasu,” jawabnya dengan fasih dan bersuara ceria, memperkenalkan
dirinya kepada Shiori.
Shiori menjawab dengan senyum dan membalas
menunduk hormat.
“Fujita
Shiori desu.. hajimemashite,”
“ah.. dulu dia junior ku di Kenzai,” ujar
Minho pada Shiori.
Shiori hanya mengangguk saja, tetapi Minho
malah jadi terkesan salah tingkah, dia menggaruk-garuk sendiri kupingnya. Dan
hal itu dilihat oleh Yi Kyung.
“kebiasaan Oppa.. masih seperti yang dulu
ya? Hihihi,” sikap Yi Kyung malah jadi terlalu ramah pada Minho.
Minho masih salah tingkah, dia lekas
memberikan file pada Shiori untuk menutupi perasaannya pada perempuan itu.
“ini.. kita harus segera bertemu Kamui
sensei sebelum pukul 7.30.. lima menit lagi.. pasti Yamaoka sensei dan Imae
sensei bersama yang lain sudah ada di ruangan beliau”
Shiori mengangguk saja. Dalam hatinya,
sesuka apapun Minho padanya, walau tadi malam dia berfikir tentang perasaan
Minho dan perasaannya, dia ingin menunda semuanya. Sebab, dia lah pewaris
manajemen rumah sakit milih ayahnya.. dan dia harus bekerja keras layaknya seorang
dokter yang memulai pendidikannya dari bawah, agar bisa bertahan di dunia
kesehatan kelak. Dia tidak ingin mengembangkan perasaannya pada Minho, atau
pada siapapun di rumah sakit ini.
Sepanjang lorong menuju ruangan Kamui, Yi
Kyung terlihat sangat ceria sekali berbicara dengan Minho dan Shiori. Minho
terlihat agak kaku menanggapi segala topik pembicaraan Yi Kyung, sementara
Shiori berusaha untuk ramah melayani nya sebagai tamu.
“oh.. jadi nanti... Jang sensei.. akan
berada di bawah supervisi Kamui sensei? Wah.. kita akan bekerjasama kalau
begitu,” senyum Shiori.
Yi Kyung mengangguk mantap.
“Tentu.. dan Oppa Minho.. eh.. maksudku..
Lee sensei.. akan jadi seniorku lagi! Hehe,”
Shiori tersenyum.
“selamat datang kalau begitu, Jang
sensei... “
Minho malah melihat wajah Shiori.
Pikirannya jadi aneh sendiri, melayang tidak karuan. Tadi malam, dia genggam
tangan kanan perempuan itu demi perasaan sukanya. Namun, yang dia pikirkan, dia
takut Shiori cemburu.
Jang sedikit cengengesan menanggapi Shiori yang sedikit kaku dengan tingkahnya.
“Apa.. Kamui sensei itu... termasuk orang
yang sibuk??,” tanya Jang pada Shiori.
Shiori menggeleng,”aku pikir tidak
terlalu... hanya saja.. bisa dibilang sibuk... tapi tidak hari ini.. karena
kami akan memulai riset”
Dia senyum pada Yi Kyung.
Minho diam saja mendengar percakapan ramah
mereka berdua. Tampaknya Shiori memang tidak mempermasalahkan apapun tentang
hubungan senior-junior Minho dengan Yi Kyung. Hanya Minho saja yang perasaannya
sensitif.
..................................
“Jadi sekarang kamu pindah dari Shigen ke
sini?? Ada rekomendasi apa dari Yamanaka sensei?,” tanya Kamui, menyambut Yi
Kyung. Dia berbasa basi pada dokter muda itu.
Yi Kyung menyerahkan sebuah surat kepada
Kamui, lalu dia membacanya.
“naruhodo
(saya mengerti)...,” ujar Kamui, ketika dia selesai membaca surat itu.
Minho dan yang lain belum memasuki ruangan
Kamui, mereka masih di luar, diruangan Minho.
“sebenarnya.. tanggung jawabmu ada di
bawah Yamada sensei.. dibagian anak.. aku sama sekali tidak berperan disini..
Yamanaka sensei memang kenal aku dibandingkan dengan sensei (dokter) yang
lain..,” kata Kamui lagi.
Jang menunduk hormat pada Kamui.
“Yamanaka sensei.. memang merekomendasikan
saya juga untuk kemudian di serahkan kepada Yamada sensei,”
“Tidak masalah.. ,” ujar Kamui. Lantas dia
menelepon Yamada dan dokter itu pun datang.
Mereka berbincang tentang perpindahan Jang
Yi Kyung dari Shigen ke Yutaka ini. Yamada pun menyetujui dan mereka keluar
ruangan.
Minho dan Shiori melihat Jang keluar dari
ruangan Kamui.
“wah.. ternyata aku salah divisi, Lee
sensei.. aku ada di divisi anak,” ujar Yi Kyung dengan suara cerianya.
Minho senyum padanya,” beberapa anak yang
berada di bawah tanggung jawab tim Yamada sensei.. ada dalam pengawasanku
juga...”
Yi Kyung mengangguk mantap dan senyum.
“Kalau begitu... sampai jumpa lagi nanti,
Lee sensei!,”
Wajah cerianya membuat ruangan itu jadi
terasa hangat.
Minho senyum padanya. Yi Kyung dan Yamada
lalu pamit, keluar dari ruangan besar itu.
......................................................
“Jam 8 pagi ini.. kita akan mulai riset
kita.... dan... yang pertama kali akan menjadi voluntir kita adalah Mabuchi
Shin.... kankernya sudah metastasis luas... dan dia mendapatkan prioritas
perawatan,” kata Minho, membuka daftar susunan pasien.
“lalu.. kedua.. Kabuto Itoh.. 8 tahun..
kanker paru stadium 2B,” lanjutnya lagi.
“apa... Itoh kun.. sudah mendapatkan
formula khusus..??,” tanya Kamui. Sebab Maruyama berjanji.. dosis anak dan
dewasa jelas akan berbeda. Sehingga setiap kantung infus intravena yang sudah
diperlakukan sedemikian rupa dari teknologi nano nya sesuai dengan identitas
dan status tiap pasien.
“Itoh kun akan mendapatkan hanya
kemoterapi biasa,” balas Minho.
Sebenarnya, dalam hati Shiori.. dia merasa
tidak cocok menjadi seorang dokter peneliti saat ini. Membayangkan anak-anak
itu menjadi bahan percobaan penelitian membuat dia sensitive. Namun, hal itu
tidak bisa dibiarkan.... tugas tetaplah tugas.
Membayangkan seorang anak kecil
mendapatkan metode baru, bisa saja terjadi kegagalan. Namun, hal itu wajib
ditepiskan.
“jadi... hari ini.. ada 5 orang pertama
dari masing-masing kelompok yang akan mendapatkan kemoterapi... besok pihak
Maruyama baru akan melengkapi sisanya,” terakhir Minho menjelaskan.
“baik.. itu tugas kita hari ini... jangan
membuat para pasien panik... tetap santai,” kata Kamui.
Mereka semua menunduk hormat, mengangguk
dengan apa yang diarahkan Kamui. Semuanya lalu mengambil tugas masing-masing.
Ketika bubar, Minho berjalan bersama
dengan Yamaoka dan 2 orang perawat yang akan membantunya, lalu Shiori berjalan
bersama dengan Imae dan 2 orang perawat yang akan membantunya. Mereka mengobrol
antar tim untuk saling menguatkan diri. Shiori berjalan menuju laboratorium.
Minho melihatnya sebentar.
Pikiran Minho bergelut. Dia seperti tidak
bisa membedakan, mana waktu untuk bekerja, mana waktu untuk memikirkan Shiori.
Rasa kesukaannya pada perempuan itu sudah menjadi-jadi. Yamaoka menegur dan
mencolek pundaknya ketika dia tahu, atasannya itu melamun memandang perempuan
itu berlalu, berlawanan arah dengan dirinya. Tapi Minho hanya berkilah.
Shiori masuk ke dalam laboratorium
makanan. Dia bersama Imae akan membuat makanan mentah tetapi mengandung
fitokimia tinggi dan panas rendah.
“alat ini khusus aku siapkan.. lihat bentuknya,
Fujita sensei,” kata Imae, membuka pembicaraan di lab dapur. Mereka dibantu
oleh 2 orang ahli gizi khusus bagian masak.
Dilihatnya mereka, ada semacam wajan yang
bentuk alumuniumnya berbeda, sementara disampingnya ada semacam alat untuk
menembak sinar. Alat itulah yang akan menembakkan sinar infra merah panas
rendah tetapi tidak membuat makanan layu. Sengaja makanan akan dibuat mentah
untuk dewasa dan setengah matang untuk anak-anak dibawah 18 tahun dan akan
dibuat dari tumbuhan saja, tidak hewani. Makanan bersifat hewani diberikan
berbeda dan melalui pemasakan biasa.
“hal ini baru untukku... semestinya Imae
sensei yang menjadi ketuanya,” senyum Shiori. Dia menyesali mengapa masih ada
sikap hierarki dan feodalisme dalam penentuan dirinya menjadi pemimpin untuk
soal makanan, padahal dia sendiri bukan lulusan dari gizi dan tentulah Imae
yang lebih tahu dibanding dirinya. Tetapi karena posisi ayahnya cukup disegani,
jadilah dia yang memimpin.
Mereka melakukan proses pemanasan dan
pelapisan makanan dengan sinar infra merah itu. Ketika di luar tungku, makanan
masih dalam keadaan segar.
Shiori terperangah dengan tehnik itu.
“Sugoii... aku berfikir .... sebenarnya...
memang harus begini makanan kita setiap hari... iya kan??,”
Imae mengangguk, tetapi mungkin tidak
semua orang bisa memakan makanan seperti itu. agak siang, baru mereka bisa
menghidangkan untuk semua, 45 pasien yang sudah dituju. Perawat yang akan
membantu mereka memberikan makanan itu.
..................................................
Saat makan siang, baik Shiori dan Imae
melakukan tugasnya untuk mengontrol. Siang itu Minho dan Shiori bertemu lagi di
ruangan Shin Mabuchi, teman sekolah Minho.
Setelah menyapa lelaki itu dengan ramah,
Shiori memberikannya langsung menu makanan dengan menggunakan tray walau ada
seorang perawat membantunya.
“konnichiwa
Mabuchi san... apa kabarnya?,” sapanya dengan ramah, berbasa-basi pada Mabuchi.
Waktu sudah menunjukkan masuk jam ke 4
bagi Mabuchi untuk menjalani kemoterapi hari itu. Sebentar lagi akan ada pergantian
infus.
“terasa lebih menyegarkan.. apalagi..
Minho kun yang ternyata membantu merawat ku,” senyum Mabuchi. Dia memang lelaki
yang mencintai lelaki, dan yang dia cintai Minho.
Minho senyum saja, tetap ramah dengan
temannya itu.
“Kemoterapi mu... hari ini..sebentar lagi
selesai... 15 menit lagi.. harap bersabar, Mabuchi kun.. ,”
“sama sekali... tidak sakit, kan??,” tanya
Minho.
Mabuchi mengangguk.
Shiori penasaran, apa benar, hal itu tidak
membuatnya nyeri.
Mabuchi mengangguk lagi.
“sama sekali tidak, Fujita sensei”
“sugoi
ne...padahal.. biasanya.. dalam proses saja.. sudah menimbulkan rasa
nyeri.. ,” sebenarnya.. dia membayangkan, bagaimana nanti nasib anak-anak yang
hanya diberikan kemoterapi murni, tidak berbasis teknologi nano itu.
Minho tersenyum.
“kalau ini bisa berhasil...dan kamu bisa
sembuh, Mabuchi kun...aku senang sekali...”
“kamu seorang dokter yang hebat, Minho
kun... cita cita mu benar-benar tercapai ya??,” ujar Mabuchi. Dia malah
mengenang masa-masa SMA dulu.
Shiori memintanya untuk makan. Dia
menjelaskan apa saja yang dimakan, kenapa dibuat mentah dan ada lagi makanan
lain pendamping makanan istimewa tersebut.
Minho melihat Shiori menjelaskan, dengan
tatapan yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
“jadi.. Mabuchi san.. kami berharap.. Anda
hanya akan mendapatkan satu seri saja..,” senyum Shiori.
Setelah selesai, Minho dibantu perawat
mengganti selang infus dan perawat membantu Mabuchi makan.
“apa... makanannya enak??,” tanya Shiori
dengan mata berbinar.
Mabuchi mengangguk.
“ya... tapi mentah, hehe,”
Shiori tertawa kecil menanggapi tawa
pasiennya itu.
“bersabar sedikit, Mabuchi san... ini
makanan khusus kami... semoga bisa membantu mempercepat penyembuhan,”
Minho hanya berdiri memperhatikan mereka
berbicara. Tanpa dia sadari, tatapan, pupil matanya besar dan terlihat berbinar
memandang Shiori.
Setelah semuanya usai di ruangan Mabuchi,
saatnya mereka menuju ruangan lain.
Mereka berjalan berdua di lorong, menuju
bangsal anak-anak.
.........................................
Di ruangan depan menuju bangsal anak,
ternyata mereka bertemu lagi dengan Yi Kyung.
“sehabis ini.. kita makan siang, kan???,”
tanya Yi Kyung pada Minho.
Minho hanya mengangguk saja, dia katakan
itu kalau tidak sibuk, dia akan menunda makannya.
“memang sibuk sekali ya... di rumah sakit
ini.. ,” keluh Yi Kyung. Dia baru saja beberapa jam disini, tapi juga sudah
menangani beberapa anak di bawahnya.
“memang seperti itu... sebenarnya.. kami
kekurangan tenaga medis.. tapi... sepertinya Takahashi sensei menyatakan cukup jumlah
kami seperti ini.. semuanya bekerja,” balas Minho.
“dan.. sepertinya memang berbeda dengan
Rumah sakit Shigen,” lanjutnya lagi.
“benar-benar rumah sakit idealis ya??,”
sindir Yi Kyung sambil dia tertawa kecil.
Minho menoleh, bertanya pada juniornya
itu, apa dia sudah bertemu Takahashi atau belum. Yi Kyung menjawab sudah dan
hanya sebentar, karena Takahashi sudah sibuk lagi dengan agendanya.
“ah... Fujita sensei.. sudah berapa lama
bekerjasama dengan Lee sensei??,” tanya Yi Kyung.
“baru akan masuk 3 bulan.. ,” toleh dan
senyum Shiori.
“i
see...,” balas Yi Kyung.
“aku lima tahun lebih bersamanya... Lee
sensei.. senior yang menyenangkan,” senyum Yi Kyung lagi, langsung di depan
Minho juga.
Shiori mengangguk saja, tanpa melanjutkan
pembicaraannya lagi. Mereka lalu masuk ke bangsal anak yang khusus penderita
kanker.
“halo, Saburo-kun... lama tidak bertemu
ya??,” sapa Shiori dengan ramah, pada anak 6 tahun yang bernama Saburo.
“perkenalkan.. ini dokter Jang Yi Kyung..
tapi kamu boleh panggil dengan sebutan Dokter Maeda,” lanjutnya lagi.
Yi Kyung melambaikan tangan untuk Saburo
dan mengeluarkan suara kekanak-kanakannya.
“hi... hajimemashite,
Saburo kun...yoroshiku ne,”
Lalu menyalami anak itu dengan semangat.
“yoroshiku
ne, Maeda sensei,” balas Saburo.
Minho lalu dibantu perawat, memasang
keperluan kemoterapi. Mereka berusaha menghibur Saburo agar anak itu tetap
semangat untuk hidup.
“Nenek.. sedang keluar, Sensei.. tapi
nanti mungkin datang,” kata Saburo, pada Yi Kyung.
“kalau 5 hari lagi kamu sehat... aku
janji..kita keluar berkeliling rumah sakit ini... udara cerah sekali akhir
akhir ini loh... ,” senyum Yi Kyung padanya.
Saburo mengangguk.
“aku janji.. aku akan sehat.......... aku
pasti sehat, sensei”
Yi Kyung mendekatkan wajahnya pada Saburo,
senyum lebar.
“Nah, begitu... jadi.. kamu bisa bermain
lagi dengan nenekmu... dia sayang banget sama kamu loh...”
Saburo mengangguk. Dia tidak sadar, kalau
obat kemoterapinya perlahan-lahan sudah masuk ke badannya. Yi Kyung berusaha
mengalihkan pikirannya agar tidak stress.
Yi Kyung berbicara ramah pada Saburo.
Minho memperhatikan setahap demi setahap proses masuknya cairan yang tidak
terlihat berwarna emas, tetapi pada dasarnya mengandung emas yang bercampur
dengan obat kemoterapi. Ya, Saburo mendapatkan perlakuan kelompok ke 2. Untuk
tidak membuat anak itu menunggu lama dia menyuntikkan obat tidur.
“tolong hubungi kami 4 jam kemudian, perawat
Tanaka,” senyum Minho.
Dia lalu menandatangani sebuah kartu tanda
perawatan Saburo. Tanaka mengangguk, menunduk hormat. Lalu Minho dan lainnya
meninggalkan ruangan.
Semua mereka kerjakan sampai selesai.
Sampai akhirnya malam pun tiba, lebih dari 12 jam mereka bekerja.
......................................
Minho duduk di ruangannya, memanjangkan
kakinya. Malam itu, Kamui pulang lebih cepat karena ada acara yang tidak dapat
dia tinggalkan. Shiori baru akhirnya masuk ruangan.
Minho membuatkan teh untuknya, lalu
memberikan padanya dengan senyum.
“terima kasih,” balas Shiori.
Mereka minum teh bersama, saling
berhadapan.
“melelahkan sekali hari ini ya??,” basa
basi Minho di malam itu. Dia memegang gelas teh nya yang hangat sambil sedikit
meniup.
Shiori mengangguk saja.
“aku heran... kenapa Yi Kyung mendadak
datang ke rumah sakit ini untuk bertugas.... padahal.. Rumah sakit tempat dia
bekerja kemarin itu kan bagus sekali,” kata Minho.
“aku tidak tahu.. mungkin ada pertimbangan
khusus dari kepala rumah sakit... lagipula.. rumah sakit ini kan senior
dibanding Shigen.. lebih di hormati kalau yang lebih tua,” balas Shiori.
Minho tertawa dengan perkataan Shiori baru
saja. Menurutnya, hal itu lucu.
Shiori malah aneh melihat cara tertawa
Minho yang begitu lepasnya.
Minho malah jadi bingung juga.
“Kenapa??,”
“eh.. tertawa Lee sensei.. lepas sekali
loh,” ujar Shiori. Dia senyum pada Minho.
“oh... enggak.. biasa aja,” Minho malah
jadi malu dan dia buru-buru minum teh nya lagi.
“Yi Kyung itu... dulu.. orang yang
mengetahui hubungan ku dengan Akimoto kun... mirip ketika kamu menemukanku
bersama dengan Akimoto,” lanjut Minho.
Shiori bergumam.
“umm... itu sebabnya.. dia akrab sekali
dengan sensei...,”
Minho mengangguk.
“ya.. akrab... bahkan termasuk menjatuhkan
hubunganku dengan Akimoto kun,”
“Hieh??,” Shiori heran dan kaget. Dia
tidak menyangka itu.
Minho sudah mulai membuka dirinya pada
Shiori. Dia bercerita, kalau orang lain yang tahu hubungannya dengan Chiaki
adalah Jang Yi Kyung. Cewek itu memergoki Minho dan Chiaki pernah berjalan
bersama dan sepertinya dari dia lah Takeo akhirnya mengetahuinya. Sehabis
peristiwa itu Takeo mendesaknya untuk mundur dan keluar dari Kenzai.
“tapi.. sama sekali.. sepertinya Lee
sensei tidak marah lagi dengan dia kan?? Itu sudah lima tahun lebih...,”
Minho senyum saja.
“sepertinya.. aku mulai sadar.. marah
dengan masa lalu.. sama sekali tidak ada gunanya”
“orang seperti aku dan Yi Kyung.. dalam
dunia hierarki seperti ini.. kalau banyak melawan.. hanya akan cari mati”
Shiori mengangguk membenarkan.
“memang... tidak ada yang bisa kita bawa
dari masa lalu... baik buruk masa lalu... tetap masa lalu... aku tidak habis
pikir.. kenapa ada orang seperti Yi Kyung.. jika memang Lee sensei mengatakan
seperti itu”
“Yi Kyung... mungkin saja.. dia tidak
bersalah... itu karena dulu kami memang akrab... bisa jadi.. Takeo lah yang
memaksanya,” ujar Minho.
“lantas.. aku sendiri terpikir.. kalau
sekarang...... apa aku masih patut curiga padanya??,” tanya Minho.
Shiori jadi bergumam.
“aku tidak tahu... tapi.. mungkin saja..
tetap perlu,” dia menoleh dan tersenyum pada Minho.
Minho katakan, kalau sebenarnya sedari
pagi, dia berpikir, apa maksud kedatangan kembali Yi Kyung ke rumah sakit ini.
Apakah ada hubungan antara Yamanaka dengan Takeo Akimoto.
Shiori sama sekali tidak tahu itu.
“tapi... Lee sensei..sama sekali tidak
marah dengan dia kan???,”
“waktu itu.. aku marah sekali.. aku kecewa
padanya..,” balas Minho.
“aku mengerti...,” balas Shiori.
Minho senyum saja.
“eh.. bagaimana kalau kita jalan-jalan??,”
tanya Minho.
Shiori malah jadi tertawa kecil pada
Minho.
“baik.. tapi.. aku sama sekali tidak ingin
sensei tertidur lagi seperti kemarin malam”
“hontou??
Gomen.. hontou ni rikai shitenakatta (beneran?? Maaf..aku gak sadar itu),”
balas Minho, malu-malu. Wajahnya malah jadi sedikit merah.
Shiori mengangguk senyum.
“ee
(iya)... kemarin malam.. sensei ketiduran.. jadi.. aku biarkan saja sampai
bangun sendiri,”
Minho jadi tidak enak hati. Shiori pun
tidak bercerita, kalau Minho bersandar di bahunya saat tertidur.
“ah.. aku minta maaf,” kata Minho lagi,
sambil menggaruk kupingnya.
“tapi... boleh kan... kita jalan??,”
pintanya lagi.
Shiori mengangguk.
Lagi-lagi, Minho merasa jadi malu lagi.
Dia berdiri, tapi tangannya masih sibuk menggaruk kupingnya yang tentu saja
tidak gatal.
“mau tidak....,” katanya dengan ragu.
“ya??,” jawab Shiori.
“anoo... mau tidak... kalau.. kita pergi
dengan motorku?? Ah... eh.. motorku.. biasa sih, hehe,” pinta Minho dengan terbata-bata
dan ragu.
Shiori mengangguk.
“sore
wa daijyoubu desu... (gak apa),”
Minho lalu mengambil jaket dan helm dari
lokernya. Shiori bingung, sebab dia sama sekali tidak membawa helm, tapi,
Matsuda, penjaga parkir bisa saja meminjamkan satu untuk Shiori.
..................................
“aku belum pernah keluar jauh dari
lingkunganku,” kata Shiori. Dia berjalan santai diantara beberapa tanaman di
sebuah taman yang besar.
“belum pernah ke taman ini kan??,” tanya
Minho.
Shiori menggangguk.
“belum.. yang ini.. lebih indah.. kalau
tahu begini.. aku bisa lama-lama disini... mungkin akan sering kesini...”
“apa.. Lee sensei juga sering kesini??”
Minho mengangguk.
“kalau kepalaku penat.. aku kesini.. hanya
sekedar untuk melihat langit dan pepohonan... atau anak-anak yang sedang
bermain,”
Mereka berjalan di paving blok taman itu.
Angin berhembus semilir. Daun-daun bergerak seiring dengan datangnya angin.
“ah.. aku lupa,” kata Minho. Dia lalu melepas
jaketnya dan malah memakaikan pada Shiori.
“nanti bisa masuk angin.. cuaca walau
sudah masuk musim panas.. masih dingin saja anginnya,” lanjutnya.
“arigatou,”
kata Shiori, dengan suara pelan, membenarkan letak jaket Minho yang dia pakai.
“dingin sekali.. nanti kamu sakit,” senyum
Minho.
Shiori mengangguk saja.
Mereka masih berjalan menyusuri taman itu.
Senyap, lampu taman ada yang kelap kelip dan menerangi jalan mereka.
“Fujita kun...,” kata Minho, membuka
pembicaraan lagi.
Tapi akhirnya dia grogi sendiri pada
Shiori, meminta maaf kalau dia memanggil perempuan itu dengan “kun”.
“Lee sensei ini.. kaku sekali, hehe,”
balas Shiori juga, dengan kaku.
Minho mendadak memeluknya.
“aku suka kamu, Fujita kun....,”
Ini adalah pelukan Minho kedua kalinya
untuk Shiori, yang dia tidak bisa menolaknya. Padahal, baru berselang beberapa
hari saja.
Shiori diam. Sepertinya memang Minho
sungguh-sungguh suka padanya seiring perjalanan mereka berteman.
Suasana senyap. Minho menunggu jawaban
Shiori. Hal ini membingungkan hati perempuan itu.
“kenapa tidak menjawab??,” tanya Minho,
masih memeluknya.
“ungg,” balas Shiori.
Suasana senyap kembali.... cukup lama.
“apa.. kamu menerima rasa suka ku??,”
tanya Minho lagi.
Shiori mengangguk dalam pelukan Minho.
“anata
o aishiteru.... naega dangsin eul salanghae... anata ga watashi o suki da,
shiawase da, Fujita kun... (aku cinta kamu dan aku bahagia kamu
menyukaiku)”, kata Minho.
Dia lalu melepas pelukannya pada Shiori
dan mencium keningnya.
“tidak apa kan??,” tanya Minho dengan suara
lembutnya.
Shiori mengangguk. Minho lalu menggenggam
tangannya, mengantarkannya pulang, kembali ke flat Shiori.
Bersambung ke part 16...