This is me....

Rabu, Mei 13, 2015

Doctor’s Heart (Part 15: Apalagi?? Siapa Dia?)

Lee Minho sebagai Dokter Minho               Gackt sebagai Dokter Kamui

Namanya juga cerita imajinasi.. jangan dimasukin hati banget...

Pagi begitu cerahnya. Hari pertama di bulan juli yang panas. Matahari naik terlalu pagi, namun tidak menyurutkan hati pada tenaga medis dan paramedis untuk tetap bertugas. Jam 6 pagi sudah seperti siang hari. Rumah sakit Yutaka sudah terlihat ramai di luar. Banyak perawat membantu para pasien sekedar menikmati pagi hari, menatap matahari, mengambil sinarnya untuk kesehatan tubuh.
Minho berjalan menuju depan rumah sakit. Beberapa pekerja medis dan paramedis menyapanya dengan ramah. Dia pun membalas dengan ramah juga pada mereka. Lalu, dia langsung masuk ke gedung khusus bagian kanker.

“Lee sensei.. selamat pagi,” kata Arimura seorang perawat di depan lobby besar. Perempuan perawat itu menunduk hormat pada Minho, lalu memberikan beberapa data pasien untuk dikunjungi.
Minho langsung membalas sapaannya dengan ramah dan memeriksa beberapa data.
Tanpa menegakkan kepalanya, dia bertanya pada perawat Arimura, apa Shiori Fujita sudah datang meminta data pasien yang lain atau belum.
“mohon maaf, sensei.. sepertinya Fujita sensei belum kesini... ,” jawab Arimura.
Minho diam saja, dia masih konsentrasi memeriksa, apakah dokter sebelum dia sudah memeriksa para pasien atau belum. Sebab ada dua kali pemeriksaan kesehatan setiap harinya jika diperlukan. Semenjak dia ditarik oleh Kamui menjadi dokter peneliti, sudah ada satu orang dokter yang bisa membantu dia untuk memeriksa sore.
Lalu, barulah dia menegakkan kepalanya.
“Okay kalau belum datang juga.. saya akan bawa data ini.. pasti Fujita sensei juga akan mencari yang sama,” katanya pada Arimura.
Arimura menunduk hormat dan setelah Minho mengucapkan terima kasih, dia meninggalkan perawat itu dengan membawa data tersebut.
                                                ....................................
Uisa Lee!,” seseorang berteriak memanggil Minho.
Minho menoleh, dia mengenyitkan satu alisnya.
Seorang perempuan berlari menghampirinya. Dia berwajah cantik sekali, berkulit putih pucat, berwajah tirus dan bertubuh tinggi semampai.
“Jang Yi-Kyung ??,” tanya Minho, heran. Dia memang mengenal perempuan yang sekarang berdiri di depannya, adik kelasnya dahulu.
Perempuan itu berwajah ceria sudah berdiri di hadapan Minho.
“ya.. aku Yi-Kyung... Olenmanieyo...masih ingat aku kan??,”
Semua gigi putih perempuan itu kelihatan. Dia begitu senang bertemu Minho.
Minho agak tertawa kecil dengan perempuan itu, dia menutup mulutnya.
“Tentu saja aku ingat... masak tidak ingat adik kelas sendiri?? Hehe”
“Heeeehh... lama sekali kita tidak bertemu sih?? Apa kabar??,” Yi Kyung menunduk hormat pada Minho.
“ aku baik.. kamu sendiri??... aku sibuk. Hari ini.. aku memulai sebuah riset baru,” senyum dan balas Minho.
“aku baik sekali... dan.. hari ini aku senang.. bisa bertemu dengan seniorku.. lama sekali.. lima tahun lebih, kan???”
Minho mengangguk, lalu mempersilahkan Yi-Kyung berjalan disampingnya.

“jadi.. sekarang.. Oppa Minho... sudah sukses jadi dokter disini??,” tanya Yi-Kyung.
Mereka berdua berjalan lurus disepanjang lorong. Beberapa petugas paramedis menyapa mereka ketika mereka lewat. Minho membalas sapaan mereka dengan ramah.
Dia berbicara bahasa Korea dengan Yi-Kyung dan tampaknya semua orang yang mereka lewati tidak mengerti.
“Aku baru lima tahun disini.. mana bisa dibilang sukses..,” jawab Minho, senyum tipis dan santai pada Yi Kyung. Tangannya masih memegang berkas data para pasien.
“sudah lama juga.. semenjak keluar dari Kenzai,” ujar Yi Kyung.
Minho mengangguk saja,”aku baru saja 3 tahun di bagian bedah... masih baru juga”

Yi Kyung bergumam saja. Lalu Minho bertanya, ingin bertemu siapa juniornya itu dirumah sakit ini.
“Kamui sensei,” jawab Yi Kyung dengan ceria.
Minho langsung menoleh padanya dan matanya sedikit terbelalak keheranan.
“Kamui sensei?? Jadi... kamu akan dibawah Kamui-sensei???”
Ye.. uisa kamui gamdog alaeida (ya.. aku dibawah pengawasan dokter Kamui),”
Geu reo ku na (o gitu),” balas Minho, wajahnya berkekspresi santai, namun dia berpikir: ada apa juniornya ini masuk ke RS Yutaka?? Bukankah dia sama-sama tamatan Kenzai?
“sekarang.. jadi.. kamu sudah mendapatkan spesialis bedah?,” tanya Minho.
Yi Kyung mengangguk, namun, dia tidak melanjutkan studinya itu di Kenzai, tapi di rumah sakit lain.
“lalu.. kenapa kamu tidak kembali saja ke korea?? Kenapa masih betah disini? Hehe,” canda Minho pada juniornya itu, ketika tahu, bahwa dia pernah kembali lagi ke Korea namun malah nekat balik lagi ke jepang.

Yi Kyung menjawab, kalau dia mendapatkan kesempatan ini dari universitas terakhirnya, bukan dari Kenzai.
Minho hanya menjawab “oo” saja, kecurigaannya jadi dihilangkannya. Awalnya dia merasa curiga karena memang Kenzai yang dipimpin Takeo memang musuh mereka sedari dulu. Jadi, siapapun yang datang dari sana, Minho berhak curiga, apalagi ini bertepatan dengan hari pertama penelitian mereka.
Mereka masih menelusuri lorong, menuju ruangan Kamui. Ditengah jalan, Shiori muncul berlari menuju ruangan lain.
Minho yang melihatnya langsung menghampiri dan menyapanya.

“ah.. aku lupa.. bangunku kesiangan!,” tunduk Shiori sedikit, minta maaf pada Minho.
Minho senyum saja, lalu dia memberikan beberapa berkas.
“ini untukmu.. sudah aku siapkan,”
Shiori lekas mengambil kumpulan berkas itu dari tangan Minho.
Dia melihat Yi Kyung yang berdiri disamping Minho.
kanojyo wa.. dare? (siapa cewek ini?),”
Yi Kyung yang mengerti bahasa jepang, langsung menjawab.
watashi wa Jang Yi Kyung.. Lee sensei no tomo desu...hajimemashite... yoroshiku onegaishimasu,” jawabnya dengan fasih dan bersuara ceria, memperkenalkan dirinya kepada Shiori.
Shiori menjawab dengan senyum dan membalas menunduk hormat.
Fujita Shiori desu.. hajimemashite,”
“ah.. dulu dia junior ku di Kenzai,” ujar Minho pada Shiori.
Shiori hanya mengangguk saja, tetapi Minho malah jadi terkesan salah tingkah, dia menggaruk-garuk sendiri kupingnya. Dan hal itu dilihat oleh Yi Kyung.
“kebiasaan Oppa.. masih seperti yang dulu ya? Hihihi,” sikap Yi Kyung malah jadi terlalu ramah pada Minho.
Minho masih salah tingkah, dia lekas memberikan file pada Shiori untuk menutupi perasaannya pada perempuan itu.
“ini.. kita harus segera bertemu Kamui sensei sebelum pukul 7.30.. lima menit lagi.. pasti Yamaoka sensei dan Imae sensei bersama yang lain sudah ada di ruangan beliau”
Shiori mengangguk saja. Dalam hatinya, sesuka apapun Minho padanya, walau tadi malam dia berfikir tentang perasaan Minho dan perasaannya, dia ingin menunda semuanya. Sebab, dia lah pewaris manajemen rumah sakit milih ayahnya.. dan dia harus bekerja keras layaknya seorang dokter yang memulai pendidikannya dari bawah, agar bisa bertahan di dunia kesehatan kelak. Dia tidak ingin mengembangkan perasaannya pada Minho, atau pada siapapun di rumah sakit ini.
Sepanjang lorong menuju ruangan Kamui, Yi Kyung terlihat sangat ceria sekali berbicara dengan Minho dan Shiori. Minho terlihat agak kaku menanggapi segala topik pembicaraan Yi Kyung, sementara Shiori berusaha untuk ramah melayani nya sebagai tamu.

“oh.. jadi nanti... Jang sensei.. akan berada di bawah supervisi Kamui sensei? Wah.. kita akan bekerjasama kalau begitu,” senyum Shiori.
Yi Kyung mengangguk mantap.
“Tentu.. dan Oppa Minho.. eh.. maksudku.. Lee sensei.. akan jadi seniorku lagi! Hehe,”
Shiori tersenyum.
“selamat datang kalau begitu, Jang sensei... “
Minho malah melihat wajah Shiori. Pikirannya jadi aneh sendiri, melayang tidak karuan. Tadi malam, dia genggam tangan kanan perempuan itu demi perasaan sukanya. Namun, yang dia pikirkan, dia takut Shiori cemburu.
Jang sedikit cengengesan menanggapi Shiori yang sedikit kaku dengan tingkahnya.
“Apa.. Kamui sensei itu... termasuk orang yang sibuk??,” tanya Jang pada Shiori.
Shiori menggeleng,”aku pikir tidak terlalu... hanya saja.. bisa dibilang sibuk... tapi tidak hari ini.. karena kami akan memulai riset”
Dia senyum pada Yi Kyung.
Minho diam saja mendengar percakapan ramah mereka berdua. Tampaknya Shiori memang tidak mempermasalahkan apapun tentang hubungan senior-junior Minho dengan Yi Kyung. Hanya Minho saja yang perasaannya sensitif.
                                                ..................................
“Jadi sekarang kamu pindah dari Shigen ke sini?? Ada rekomendasi apa dari Yamanaka sensei?,” tanya Kamui, menyambut Yi Kyung. Dia berbasa basi pada dokter muda itu.
Yi Kyung menyerahkan sebuah surat kepada Kamui, lalu dia membacanya.
naruhodo (saya mengerti)...,” ujar Kamui, ketika dia selesai membaca surat itu.
Minho dan yang lain belum memasuki ruangan Kamui, mereka masih di luar, diruangan Minho.
“sebenarnya.. tanggung jawabmu ada di bawah Yamada sensei.. dibagian anak.. aku sama sekali tidak berperan disini.. Yamanaka sensei memang kenal aku dibandingkan dengan sensei (dokter) yang lain..,” kata Kamui lagi.
Jang menunduk hormat pada Kamui.
“Yamanaka sensei.. memang merekomendasikan saya juga untuk kemudian di serahkan kepada Yamada sensei,”
“Tidak masalah.. ,” ujar Kamui. Lantas dia menelepon Yamada dan dokter itu pun datang.
Mereka berbincang tentang perpindahan Jang Yi Kyung dari Shigen ke Yutaka ini. Yamada pun menyetujui dan mereka keluar ruangan.

Minho dan Shiori melihat Jang keluar dari ruangan Kamui.
“wah.. ternyata aku salah divisi, Lee sensei.. aku ada di divisi anak,” ujar Yi Kyung dengan suara cerianya.
Minho senyum padanya,” beberapa anak yang berada di bawah tanggung jawab tim Yamada sensei.. ada dalam pengawasanku juga...”
Yi Kyung mengangguk mantap dan senyum.
“Kalau begitu... sampai jumpa lagi nanti, Lee sensei!,”
Wajah cerianya membuat ruangan itu jadi terasa hangat.
Minho senyum padanya. Yi Kyung dan Yamada lalu pamit, keluar dari ruangan besar itu.
                                    ......................................................
“Jam 8 pagi ini.. kita akan mulai riset kita.... dan... yang pertama kali akan menjadi voluntir kita adalah Mabuchi Shin.... kankernya sudah metastasis luas... dan dia mendapatkan prioritas perawatan,” kata Minho, membuka daftar susunan pasien.
“lalu.. kedua.. Kabuto Itoh.. 8 tahun.. kanker paru stadium 2B,” lanjutnya lagi.
“apa... Itoh kun.. sudah mendapatkan formula khusus..??,” tanya Kamui. Sebab Maruyama berjanji.. dosis anak dan dewasa jelas akan berbeda. Sehingga setiap kantung infus intravena yang sudah diperlakukan sedemikian rupa dari teknologi nano nya sesuai dengan identitas dan status tiap pasien.
“Itoh kun akan mendapatkan hanya kemoterapi biasa,” balas Minho.
Sebenarnya, dalam hati Shiori.. dia merasa tidak cocok menjadi seorang dokter peneliti saat ini. Membayangkan anak-anak itu menjadi bahan percobaan penelitian membuat dia sensitive. Namun, hal itu tidak bisa dibiarkan.... tugas tetaplah tugas.
Membayangkan seorang anak kecil mendapatkan metode baru, bisa saja terjadi kegagalan. Namun, hal itu wajib ditepiskan.
“jadi... hari ini.. ada 5 orang pertama dari masing-masing kelompok yang akan mendapatkan kemoterapi... besok pihak Maruyama baru akan melengkapi sisanya,” terakhir Minho menjelaskan.
“baik.. itu tugas kita hari ini... jangan membuat para pasien panik... tetap santai,” kata Kamui.
Mereka semua menunduk hormat, mengangguk dengan apa yang diarahkan Kamui. Semuanya lalu mengambil tugas masing-masing.

Ketika bubar, Minho berjalan bersama dengan Yamaoka dan 2 orang perawat yang akan membantunya, lalu Shiori berjalan bersama dengan Imae dan 2 orang perawat yang akan membantunya. Mereka mengobrol antar tim untuk saling menguatkan diri. Shiori berjalan menuju laboratorium. Minho melihatnya sebentar.
Pikiran Minho bergelut. Dia seperti tidak bisa membedakan, mana waktu untuk bekerja, mana waktu untuk memikirkan Shiori. Rasa kesukaannya pada perempuan itu sudah menjadi-jadi. Yamaoka menegur dan mencolek pundaknya ketika dia tahu, atasannya itu melamun memandang perempuan itu berlalu, berlawanan arah dengan dirinya. Tapi Minho hanya berkilah.
Shiori masuk ke dalam laboratorium makanan. Dia bersama Imae akan membuat makanan mentah tetapi mengandung fitokimia tinggi dan panas rendah.
“alat ini khusus aku siapkan.. lihat bentuknya, Fujita sensei,” kata Imae, membuka pembicaraan di lab dapur. Mereka dibantu oleh 2 orang ahli gizi khusus bagian masak.
Dilihatnya mereka, ada semacam wajan yang bentuk alumuniumnya berbeda, sementara disampingnya ada semacam alat untuk menembak sinar. Alat itulah yang akan menembakkan sinar infra merah panas rendah tetapi tidak membuat makanan layu. Sengaja makanan akan dibuat mentah untuk dewasa dan setengah matang untuk anak-anak dibawah 18 tahun dan akan dibuat dari tumbuhan saja, tidak hewani. Makanan bersifat hewani diberikan berbeda dan melalui pemasakan biasa.
“hal ini baru untukku... semestinya Imae sensei yang menjadi ketuanya,” senyum Shiori. Dia menyesali mengapa masih ada sikap hierarki dan feodalisme dalam penentuan dirinya menjadi pemimpin untuk soal makanan, padahal dia sendiri bukan lulusan dari gizi dan tentulah Imae yang lebih tahu dibanding dirinya. Tetapi karena posisi ayahnya cukup disegani, jadilah dia yang memimpin.

Mereka melakukan proses pemanasan dan pelapisan makanan dengan sinar infra merah itu. Ketika di luar tungku, makanan masih dalam keadaan segar.
Shiori terperangah dengan tehnik itu.
“Sugoii... aku berfikir .... sebenarnya... memang harus begini makanan kita setiap hari... iya kan??,”
Imae mengangguk, tetapi mungkin tidak semua orang bisa memakan makanan seperti itu. agak siang, baru mereka bisa menghidangkan untuk semua, 45 pasien yang sudah dituju. Perawat yang akan membantu mereka memberikan makanan itu.
                                    ..................................................
Saat makan siang, baik Shiori dan Imae melakukan tugasnya untuk mengontrol. Siang itu Minho dan Shiori bertemu lagi di ruangan Shin Mabuchi, teman sekolah Minho.
Setelah menyapa lelaki itu dengan ramah, Shiori memberikannya langsung menu makanan dengan menggunakan tray walau ada seorang perawat membantunya.
konnichiwa Mabuchi san... apa kabarnya?,” sapanya dengan ramah, berbasa-basi pada Mabuchi.
Waktu sudah menunjukkan masuk jam ke 4 bagi Mabuchi untuk menjalani kemoterapi hari itu. Sebentar lagi akan ada pergantian infus.
“terasa lebih menyegarkan.. apalagi.. Minho kun yang ternyata membantu merawat ku,” senyum Mabuchi. Dia memang lelaki yang mencintai lelaki, dan yang dia cintai Minho.
Minho senyum saja, tetap ramah dengan temannya itu.
“Kemoterapi mu... hari ini..sebentar lagi selesai... 15 menit lagi.. harap bersabar, Mabuchi kun.. ,”
“sama sekali... tidak sakit, kan??,” tanya Minho.
Mabuchi mengangguk.
Shiori penasaran, apa benar, hal itu tidak membuatnya nyeri.
Mabuchi mengangguk lagi.
“sama sekali tidak, Fujita sensei”
sugoi ne...padahal.. biasanya.. dalam proses saja.. sudah menimbulkan rasa nyeri.. ,” sebenarnya.. dia membayangkan, bagaimana nanti nasib anak-anak yang hanya diberikan kemoterapi murni, tidak berbasis teknologi nano itu.
Minho tersenyum.
“kalau ini bisa berhasil...dan kamu bisa sembuh, Mabuchi kun...aku senang sekali...”
“kamu seorang dokter yang hebat, Minho kun... cita cita mu benar-benar tercapai ya??,” ujar Mabuchi. Dia malah mengenang masa-masa SMA dulu.

Shiori memintanya untuk makan. Dia menjelaskan apa saja yang dimakan, kenapa dibuat mentah dan ada lagi makanan lain pendamping makanan istimewa tersebut.
Minho melihat Shiori menjelaskan, dengan tatapan yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
“jadi.. Mabuchi san.. kami berharap.. Anda hanya akan mendapatkan satu seri saja..,” senyum Shiori.
Setelah selesai, Minho dibantu perawat mengganti selang infus dan perawat membantu Mabuchi makan.
“apa... makanannya enak??,” tanya Shiori dengan mata berbinar.
Mabuchi mengangguk.
“ya... tapi mentah, hehe,”
Shiori tertawa kecil menanggapi tawa pasiennya itu.
“bersabar sedikit, Mabuchi san... ini makanan khusus kami... semoga bisa membantu mempercepat penyembuhan,”
Minho hanya berdiri memperhatikan mereka berbicara. Tanpa dia sadari, tatapan, pupil matanya besar dan terlihat berbinar memandang Shiori.

Setelah semuanya usai di ruangan Mabuchi, saatnya mereka menuju ruangan lain.
Mereka berjalan berdua di lorong, menuju bangsal anak-anak.
                                    .........................................
Di ruangan depan menuju bangsal anak, ternyata mereka bertemu lagi dengan Yi Kyung.
“sehabis ini.. kita makan siang, kan???,” tanya Yi Kyung pada Minho.
Minho hanya mengangguk saja, dia katakan itu kalau tidak sibuk, dia akan menunda makannya.
“memang sibuk sekali ya... di rumah sakit ini.. ,” keluh Yi Kyung. Dia baru saja beberapa jam disini, tapi juga sudah menangani beberapa anak di bawahnya.
“memang seperti itu... sebenarnya.. kami kekurangan tenaga medis.. tapi... sepertinya Takahashi sensei menyatakan cukup jumlah kami seperti ini.. semuanya bekerja,” balas Minho.
“dan.. sepertinya memang berbeda dengan Rumah sakit Shigen,” lanjutnya lagi.
“benar-benar rumah sakit idealis ya??,” sindir Yi Kyung sambil dia tertawa kecil.
Minho menoleh, bertanya pada juniornya itu, apa dia sudah bertemu Takahashi atau belum. Yi Kyung menjawab sudah dan hanya sebentar, karena Takahashi sudah sibuk lagi dengan agendanya.
“ah... Fujita sensei.. sudah berapa lama bekerjasama dengan Lee sensei??,” tanya Yi Kyung.
“baru akan masuk 3 bulan.. ,” toleh dan senyum Shiori.
i see...,” balas Yi Kyung.
“aku lima tahun lebih bersamanya... Lee sensei.. senior yang menyenangkan,” senyum Yi Kyung lagi, langsung di depan Minho juga.
Shiori mengangguk saja, tanpa melanjutkan pembicaraannya lagi. Mereka lalu masuk ke bangsal anak yang khusus penderita kanker.

“halo, Saburo-kun... lama tidak bertemu ya??,” sapa Shiori dengan ramah, pada anak 6 tahun yang bernama Saburo.
“perkenalkan.. ini dokter Jang Yi Kyung.. tapi kamu boleh panggil dengan sebutan Dokter Maeda,” lanjutnya lagi.
Yi Kyung melambaikan tangan untuk Saburo dan mengeluarkan suara kekanak-kanakannya.
“hi... hajimemashite, Saburo kun...yoroshiku ne,”
Lalu menyalami anak itu dengan semangat.
yoroshiku ne, Maeda sensei,” balas Saburo.
Minho lalu dibantu perawat, memasang keperluan kemoterapi. Mereka berusaha menghibur Saburo agar anak itu tetap semangat untuk hidup.

“Nenek.. sedang keluar, Sensei.. tapi nanti mungkin datang,” kata Saburo, pada Yi Kyung.
“kalau 5 hari lagi kamu sehat... aku janji..kita keluar berkeliling rumah sakit ini... udara cerah sekali akhir akhir ini loh... ,” senyum Yi Kyung padanya.
Saburo mengangguk.
“aku janji.. aku akan sehat.......... aku pasti sehat, sensei”
Yi Kyung mendekatkan wajahnya pada Saburo, senyum lebar.
“Nah, begitu... jadi.. kamu bisa bermain lagi dengan nenekmu... dia sayang banget sama kamu loh...”
Saburo mengangguk. Dia tidak sadar, kalau obat kemoterapinya perlahan-lahan sudah masuk ke badannya. Yi Kyung berusaha mengalihkan pikirannya agar tidak stress.
Yi Kyung berbicara ramah pada Saburo. Minho memperhatikan setahap demi setahap proses masuknya cairan yang tidak terlihat berwarna emas, tetapi pada dasarnya mengandung emas yang bercampur dengan obat kemoterapi. Ya, Saburo mendapatkan perlakuan kelompok ke 2. Untuk tidak membuat anak itu menunggu lama dia menyuntikkan obat tidur.
“tolong hubungi kami 4 jam kemudian, perawat Tanaka,” senyum Minho.
Dia lalu menandatangani sebuah kartu tanda perawatan Saburo. Tanaka mengangguk, menunduk hormat. Lalu Minho dan lainnya meninggalkan ruangan.

Semua mereka kerjakan sampai selesai. Sampai akhirnya malam pun tiba, lebih dari 12 jam mereka bekerja.
                                                ......................................
Minho duduk di ruangannya, memanjangkan kakinya. Malam itu, Kamui pulang lebih cepat karena ada acara yang tidak dapat dia tinggalkan. Shiori baru akhirnya masuk ruangan.
Minho membuatkan teh untuknya, lalu memberikan padanya dengan senyum.
“terima kasih,” balas Shiori.
Mereka minum teh bersama, saling berhadapan.
“melelahkan sekali hari ini ya??,” basa basi Minho di malam itu. Dia memegang gelas teh nya yang hangat sambil sedikit meniup.
Shiori mengangguk saja.
“aku heran... kenapa Yi Kyung mendadak datang ke rumah sakit ini untuk bertugas.... padahal.. Rumah sakit tempat dia bekerja kemarin itu kan bagus sekali,” kata Minho.
“aku tidak tahu.. mungkin ada pertimbangan khusus dari kepala rumah sakit... lagipula.. rumah sakit ini kan senior dibanding Shigen.. lebih di hormati kalau yang lebih tua,” balas Shiori.
Minho tertawa dengan perkataan Shiori baru saja. Menurutnya, hal itu lucu.
Shiori malah aneh melihat cara tertawa Minho yang begitu lepasnya.
Minho malah jadi bingung juga.
“Kenapa??,”
“eh.. tertawa Lee sensei.. lepas sekali loh,” ujar Shiori. Dia senyum pada Minho.
“oh... enggak.. biasa aja,” Minho malah jadi malu dan dia buru-buru minum teh nya lagi.

“Yi Kyung itu... dulu.. orang yang mengetahui hubungan ku dengan Akimoto kun... mirip ketika kamu menemukanku bersama dengan Akimoto,” lanjut Minho.
Shiori bergumam.
“umm... itu sebabnya.. dia akrab sekali dengan sensei...,”
Minho mengangguk.
“ya.. akrab... bahkan termasuk menjatuhkan hubunganku dengan Akimoto kun,”
“Hieh??,” Shiori heran dan kaget. Dia tidak menyangka itu.
Minho sudah mulai membuka dirinya pada Shiori. Dia bercerita, kalau orang lain yang tahu hubungannya dengan Chiaki adalah Jang Yi Kyung. Cewek itu memergoki Minho dan Chiaki pernah berjalan bersama dan sepertinya dari dia lah Takeo akhirnya mengetahuinya. Sehabis peristiwa itu Takeo mendesaknya untuk mundur dan keluar dari Kenzai.
“tapi.. sama sekali.. sepertinya Lee sensei tidak marah lagi dengan dia kan?? Itu sudah lima tahun lebih...,”
Minho senyum saja.
“sepertinya.. aku mulai sadar.. marah dengan masa lalu.. sama sekali tidak ada gunanya”
“orang seperti aku dan Yi Kyung.. dalam dunia hierarki seperti ini.. kalau banyak melawan.. hanya akan cari mati”
Shiori mengangguk membenarkan.
“memang... tidak ada yang bisa kita bawa dari masa lalu... baik buruk masa lalu... tetap masa lalu... aku tidak habis pikir.. kenapa ada orang seperti Yi Kyung.. jika memang Lee sensei mengatakan seperti itu”
“Yi Kyung... mungkin saja.. dia tidak bersalah... itu karena dulu kami memang akrab... bisa jadi.. Takeo lah yang memaksanya,” ujar Minho.

“lantas.. aku sendiri terpikir.. kalau sekarang...... apa aku masih patut curiga padanya??,” tanya Minho.
Shiori jadi bergumam.
“aku tidak tahu... tapi.. mungkin saja.. tetap perlu,” dia menoleh dan tersenyum pada Minho.
Minho katakan, kalau sebenarnya sedari pagi, dia berpikir, apa maksud kedatangan kembali Yi Kyung ke rumah sakit ini. Apakah ada hubungan antara Yamanaka dengan Takeo Akimoto.
Shiori sama sekali tidak tahu itu.
“tapi... Lee sensei..sama sekali tidak marah dengan dia kan???,”
“waktu itu.. aku marah sekali.. aku kecewa padanya..,” balas Minho.
“aku mengerti...,” balas Shiori.

Minho senyum saja.
“eh.. bagaimana kalau kita jalan-jalan??,” tanya Minho.
Shiori malah jadi tertawa kecil pada Minho.
“baik.. tapi.. aku sama sekali tidak ingin sensei tertidur lagi seperti kemarin malam”
hontou?? Gomen.. hontou ni rikai shitenakatta (beneran?? Maaf..aku gak sadar itu),” balas Minho, malu-malu. Wajahnya malah jadi sedikit merah.
Shiori mengangguk senyum.
ee (iya)... kemarin malam.. sensei ketiduran.. jadi.. aku biarkan saja sampai bangun sendiri,”
Minho jadi tidak enak hati. Shiori pun tidak bercerita, kalau Minho bersandar di bahunya saat tertidur.
“ah.. aku minta maaf,” kata Minho lagi, sambil menggaruk kupingnya.
“tapi... boleh kan... kita jalan??,” pintanya lagi.
Shiori mengangguk.
Lagi-lagi, Minho merasa jadi malu lagi. Dia berdiri, tapi tangannya masih sibuk menggaruk kupingnya yang tentu saja tidak gatal.
“mau tidak....,” katanya dengan ragu.
“ya??,” jawab Shiori.
“anoo... mau tidak... kalau.. kita pergi dengan motorku?? Ah... eh.. motorku.. biasa sih, hehe,” pinta Minho dengan terbata-bata dan ragu.
Shiori mengangguk.
sore wa daijyoubu desu... (gak apa),”
Minho lalu mengambil jaket dan helm dari lokernya. Shiori bingung, sebab dia sama sekali tidak membawa helm, tapi, Matsuda, penjaga parkir bisa saja meminjamkan satu untuk Shiori.
                                                ..................................
“aku belum pernah keluar jauh dari lingkunganku,” kata Shiori. Dia berjalan santai diantara beberapa tanaman di sebuah taman yang besar.
“belum pernah ke taman ini kan??,” tanya Minho.
Shiori menggangguk.
“belum.. yang ini.. lebih indah.. kalau tahu begini.. aku bisa lama-lama disini... mungkin akan sering kesini...”
“apa.. Lee sensei juga sering kesini??”
Minho mengangguk.
“kalau kepalaku penat.. aku kesini.. hanya sekedar untuk melihat langit dan pepohonan... atau anak-anak yang sedang bermain,”
Mereka berjalan di paving blok taman itu. Angin berhembus semilir. Daun-daun bergerak seiring dengan datangnya angin.
“ah.. aku lupa,” kata Minho. Dia lalu melepas jaketnya dan malah memakaikan pada Shiori.
“nanti bisa masuk angin.. cuaca walau sudah masuk musim panas.. masih dingin saja anginnya,” lanjutnya.
arigatou,” kata Shiori, dengan suara pelan, membenarkan letak jaket Minho yang dia pakai.
“dingin sekali.. nanti kamu sakit,” senyum Minho.
Shiori mengangguk saja.
Mereka masih berjalan menyusuri taman itu. Senyap, lampu taman ada yang kelap kelip dan menerangi jalan mereka.

“Fujita kun...,” kata Minho, membuka pembicaraan lagi.
Tapi akhirnya dia grogi sendiri pada Shiori, meminta maaf kalau dia memanggil perempuan itu dengan “kun”.
“Lee sensei ini.. kaku sekali, hehe,” balas Shiori juga, dengan kaku.
Minho mendadak memeluknya.
“aku suka kamu, Fujita kun....,”
Ini adalah pelukan Minho kedua kalinya untuk Shiori, yang dia tidak bisa menolaknya. Padahal, baru berselang beberapa hari saja.
Shiori diam. Sepertinya memang Minho sungguh-sungguh suka padanya seiring perjalanan mereka berteman.
Suasana senyap. Minho menunggu jawaban Shiori. Hal ini membingungkan hati perempuan itu.
“kenapa tidak menjawab??,” tanya Minho, masih memeluknya.
“ungg,” balas Shiori.
Suasana senyap kembali.... cukup lama.
“apa.. kamu menerima rasa suka ku??,” tanya Minho lagi.
Shiori mengangguk dalam pelukan Minho.
anata o aishiteru.... naega dangsin eul salanghae... anata ga watashi o suki da, shiawase da, Fujita kun... (aku cinta kamu dan aku bahagia kamu menyukaiku)”, kata Minho.
Dia lalu melepas pelukannya pada Shiori dan mencium keningnya.
“tidak apa kan??,” tanya Minho dengan suara lembutnya.
Shiori mengangguk. Minho lalu menggenggam tangannya, mengantarkannya pulang, kembali ke flat Shiori.

Bersambung ke part 16...