Namanya juga cerita imajinasi... jangan pernah dimasukkan ke hati..
Musim semi jadi musim penuh kesedihan.
Seharusnya mereka- Minho, Aiko, Makoto,Ken (dan Myo)- berkumpul bersama Ichirou
dimarkas mereka, sebuah ruangan yang tidak terpakai lagi di kampus... tapi...
hari ini.. mereka berkumpul
di sebuah makam. Di depan mereka, sudah tertera sebuah nisan dengan nama
Ichirou. Aiko jelas yang paling sedih, dia yang melihat bagaimana teman akrabnya
itu meninggalkan dunia ini.
Orangtua Ichirou malah diam saja, terutama
sang ayah. Dia hanya diam terpaku di depan makam anaknya, sementara isterinya
terisak, masih menangisi kenapa anaknya pergi dalam usia muda.
Ichirou meninggal dalam usia 19 tahun..
waktu yang sebenarnya masih bisa panjang di dunia ini.
Semua menunduk hormat 3x pada makamnya. Suasana
hening. Masing-masing mengenang kebersamaan dengan Ichirou semasa hidupnya.
Sejak kemarin Minho melihat bagaimana
temannya itu meninggal, dadanya sesak sekali. Dia redam emosinya, mencoba diam,
tak banyak bicara dan bertindak, berfikir jernih. Walau, dalam hatinya, dia
ingin sekali bertanya kepada Aiko, bagaimana perasaan pasangannya itu terhadap
Ichirou. Masa ini baginya masih masa perenungan, dia tidak ingin juga
perasaannya mengalahkan logikanya.
Dia diam saja, memandang makam Ichirou
cukup lama. Begitu juga yang lain. Sampai akhirnya mereka memutuskan pulang dan
berkumpul di markas mereka.
............................................
Di markas ...
Ken berdiri, sementara yang lain duduk.
Mereka bingung, mau bicara apa, sementara sebenarnya sebagai teman, dengan baru
saja kehilangan Ichirou, lalu masalah persahabatan mereka ditambah lagi
hubungan renggang rumahtangga Minho dan Aiko, membuat anggota yang lain juga
jadi berfikir, akankah semuanya ini akan bubar?
Minho sebenarnya juga malas sekali kalau
urusan pribadinya diganggu atau dibicarakan bersama. Dia seperti sudah pasang
barikade sendiri untuk menolak membicarakan hal itu. Dan... benar saja...
”Aku memang sedang berpisah rumah dengan
Aiko-chan.. tapi bukan berarti aku tidak sayang sama sekali padanya”, bela dia
pada dirinya sendiri di hadapan semua temannya.
”Bukan kami mau turut campur dengan
semuanya, Minho kun.. kami hanya berfikir... apa kalian tidak terlalu cepat,
terutama kamu...tuk memutuskan ini semua??,” Ken angkat bicara.
”Kita baru saja kehilangan Ichi kun.. mendadak semua rasanya akan bubar,”
lanjutnya lagi. Ken begitu kesal, kecewa dengan apa yang Minho lakukan pada
pertemanan mereka. Ken memang menganggap dirinya terlalu lancang ketika ingin
tahu masalah dalam rumahtangga temannya itu, tetapi.. hal ini jika tidak
diselesaikan akan bubar.
”Jadi.. kalian pikir.. sama sekali aku dan
Aiko tidak bisa menyelesaikan ini semua?,” Minho jadi defensif terhadap
teman-temannya itu.
”Bukan begitu, Minho-kun.. jangan salah
kira,” ujar Makoto, kalem.
Minho benar-benar tidak suka dengan ini
semua. Mendadak dia menendang meja piano.
”BUG!,” suara kakinya menendang kaki meja.
Semuanya jadi kaget, Minho bisa sampai semarah itu.
Lalu dia menggeser tubuh Ken yang dekat
dengannya, ingin menonjok cowok itu.
Belum sampai tangannya bersarang di wajah
Ken, Makoto keburu menangkap tangan Minho.
”OE.. HENTIKAN MINHO-KUN!!!,” teriak
Makoto.
Minho masih cuek, dia masih ingin menonjok
Ken. Makoto jadi menarik-narik tangan Minho, agar cowok itu tidak mengamuk dan
memukul sesama teman.
”HENTIKAN MINHO-KUN!!,”
Ternyata, Aiko yang berteriak. Dia tidak
lagi menggunakan kata untuk menghormati Minho sebagai pasangannya, hanya
menggunakan ”kun”, seperti selayaknya teman.
Teriakan Aiko tidak digubris Minho. Dia dan Makoto masih saling menarik
tangan, sementara Ken juga menghindari dari Minho.
”AKU MOHON.. HENTIKAN!!,”
Aiko berteriak lebih kencang lagi, suaranya
bergetar.
Myo yang melihat itu memegang pundak
sahabatnya, berusaha menenangkannya.
Minho langsung berhenti dan menoleh pada
Aiko.
Mata cewek itu berkaca-kaca melihat Minho.
”Kenapa.. kamu sama sekali tidak dewasa,
Minho kun?? Aku sudah berikan kesempatan, menurut padamu... aku rela berpisah,
ketika kamu minta untuk berpisah.. kenapa kamu seperti anak kecil?? Sama
sekali... jauh dari apa yang aku harapkan dari seorang Minho,”
Suaranya masih bergetar.
Myo berusaha menenangkannya.
”sudahlah, Aiko-chan... kamu harus
tenang.. kasihan anakmu”
”aku tidak bisa tenang...,” jawab Aiko
dengan sedih.
”apa lagi yang kamu inginkan dari ini
semua, Minho kun??,” lanjutnya lagi, pada Minho.
Minho diam. Dia emosi, tetapi dia tidak
mau menyakiti perasaan dan fisik pasangannya itu. Dia hanya bisa mengepalkan
tangannya.
Myo masih membujuk Aiko agar tenang.
”aku sudah penuhi keinginanmu untuk
berpisah.. lalu..apa lagi??,” masih tanya Aiko pada Minho.
Suasana hening... Minho tidak bisa
menjawabnya.
”JAWAB PERTANYAANKU, MINHO-KUN...
JAWAB!!,” teriak Aiko.
Minho tidak bisa menjawabnya.. dia
sebenarnya tidak bisa meninggalkan Aiko begitu saja... dia tidak tahu bagaimana
mengendalikan perasaan, kepelikannya, terutama kondisi ekonomi keluarga kecil
mereka.
Dia malah lalu menghampiri Aiko dan nekat
mencium bibirnya di depan teman-temannya.
”aku mencintaimu, Aiko chan..,” jawabnya,
pelan.
Aiko diam, menatap mata Minho. Lalu...
”slap!,” ternyata... balasan ciuman itu
adalah tamparan.. pada pipi kanan Minho!
”Kamu tidak mencintaiku, Minho kun...
kalau kamu cinta padaku...tidak akan perasaanku sakit seperti sekarang!,” balas
Aiko.
”Aiko-chan.. kendalikan perasaanmu,” ujar
Myo, berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Aiko langsung pergi meninggalkan mereka
dengan wajah yang basah air mata.
”Aiko chan... tunggu!,”
Ken berusaha menarik tangannya, tapi
dicegah oleh Makoto.
”Tidak perlu, Ken... biarkan saja,”
Ken menoleh pada Makoto.
”Tapi, Makoto kun..”
”biarkan saja...,” balas Makoto, cepat.
\
Minho hanya sanggup memandang Aiko yang
sudah terlanjur keluar ruangan dan pergi entah kemana.
”kamu baru tahu kan... sakit hatinya dia
sama kamu???,” tanya Myo dengan nada menyindir.
Aiko memang lebih banyak cerita kepada
cewek itu yang sudah dianggapnya sebagai best
friend... termasuk semua tentang rumahtangganya. Myo memang termasuk
sahabat yang baik dan mau membagi pengetahuan dan pandangannya pada Aiko. Itu
sebab, dia pun merasakan apa yang Aiko rasakan, karena persahabatan itu.
”Aiko chan.. memang tidak pernah cerita.. dia
hanya marah dan emosi..,” kata Minho dengan datar, masih memegang pipinya,
kesakitan digampar.
”itu karena aku berfikir.. kamu tidak mau
mendengarkan perasaannya, Minho kun,” balas Myo.
Minho ingin berbalik arah, mengejarnya,
walau tidak tahu, kemana Aiko sekarang sedang pergi.
Ketika dia mau keluar ruangan, tanpa
pamit.. Ken berkata padanya.
”Kami menyerah dengan hidupmu, Minho
kun... dan jika memang kelompok kita bubar... aku pun akan bubar,”
Ken, Makoto, Myo, tidak melarang Minho
keluar ruangan.
Minho menoleh pada mereka. Dia sudah di
depan pintu.
”Jika kalian memang tidak lagi ingin
menjadi temanku... terima kasih atas persahabatan selama ini”
Dia lalu menunduk hormat sedikit kepada
ketiganya dan berlalu.
”Apa kita salah.. terlalu memaksa dia
untuk selesaikan masalahnya??,” Ken bertanya pada Makoto dan Myo.
Mereka berdua hanya menggeleng, tanda
tidak tahu..
..........................................................
Ternyata, Aiko tidak pulang ke rumahnya
sendiri atau ke flat yang ditempati
Myo. Dia berada di taman fakultas kedokteran. Pikiran dan perasaannya kalut dan
sedih. Dia tidak perduli lagi pada sekelilingnya, banyak mahasiswa lalu lalang
ditaman itu. Dia hanya menunduk sedih.
”Apa kamu masih mencintai ku dan anak
kita, Minho kun?? Aku membayangkan kita bisa hidup bahagia.. ternyata sulit...
aku salah membayangkan itu,”
Aiko bergumam saja sendirian, seperti
menyesali pernikahannya yang sudah berjalan 1 tahun lebih bersama Minho.
Sementara, Minho berusaha mencari kemana
perginya Aiko. Dia ingin minta maaf. Egonya memang masih besar. Semalam dia baru saja mendapatkan telepon
dari orangtuanya tentang masalah hidupnya. Ternyata, Kohashi sudah terlebih
dahulu menelepon orangtua Minho.
Lee sangat marah dengan anaknya itu. Dia
mengomel apa Minho tidak ingat dengan perjanjian kalau perpisahan itu bisa
membawa dia ke pengadilan. Lee bicara dengan Minho kalau Kohashi meneleponnya
seperti mengancam, mengungkit lagi perjanjian itu.
”Saya tidak ingin seperti perjanjian
terjadi, Pak Lee.. itu sebabnya, saya harapkan semua tidak terjadi.. saya masih
mempertimbangkan anak Anda sebagai menantu saya,” kata Kohashi.
Terang saja Lee ketakutan anak sulungnya akan
dipenjara. Perjanjian pra nikah memang bisa berlaku di negeri ini. Maka, dia
pun membayangkan anaknya bisa masuk hotel prodeo jika besannya memang akan
bersikeras menarik Minho ke pengadilan.
”apa kamu mau hidupmu hancur karena
persoalan ini?? Kuliahmu memang tidak berantakan, Minho... tapi keseharianmu
berantakan... apa nanti yang akan dikatakan semua orang disini kalau kamu
dipenjara?? Kamu memalukan orangtua mu sendiri!”, kata Lee, mengomel.
Minho pusing, dia hanya menjawab kalau dia
sedang membujuk Aiko untuk tinggal lagi bersamanya. Dia memang bersalah,
awalnya menginginkan perpisahan. Tapi, dalam seminggu ini, pikirannya berubah.
Kegalauannya membuat dia tambah pusing kalau tidak ada pasangannya di
sampingnya.
...................................
Minho terus mencari Aiko. Berjalan
menyusuri berbagai tempat untuk menemukannya. Sementara Aiko masih duduk di
taman, agak mojok sedikit, untuk menyembunyikan dirinya karena dia masih
berurai air mata dan tidak ingin orang tahu. Dia belum ingin kembali ke flat
nya Myo. Walau Myo juga mencoba menghubunginya, sama sekali dia tidak angkat
panggilan dari sahabat terbaiknya itu.
Suara panggilan dari Myo terus bergetar. Aiko
masih saja cuek, dia hanya menunduk memikirkan nasibnya yang dia duga akan
bahagia, di sayang oleh Minho, di manja, seperti kehidupan di negeri dogeng...
ternyata.. semua jauh panggang dari api...
Minho masih terus berjalan mencari-cari,
berkeliling sudut fakultas kedokteran. Dia tahu, pasti Aiko tidak akan pergi ke fakultas manapun. Dia pun akhirnya
sampai pada taman fakultas. Benar saja.. di pojokan taman, di tempat duduk yang
terbuat dari semen, Aiko terlihat Minho, duduk disana, menundukkan wajahnya.
Minho memandangnya dahulu, berhenti, tidak langsung menghampirinya. Dia melihat
air mata Aiko jatuh tetes demi tetes di atas perut hamilnya.
”Aiko-chan.. aku minta maaf,” katanya
dalam hati.
Dia lalu menghampiri Aiko juga akhirnya.
”Aiko-chan...,” sapanya dengan suara
lembut.
Aiko diam saja, masih menundukkan
wajahnya. Sama sekali dia
tidak mau mendengar suara Minho. Baginya, Minho tidak mengerti perasaan
hatinya.
Minho masih berdiri, diam. Dia mengambil waktu untuk mengetahui, apa
Aiko akan menegakkan kepala dan memandangnya.
Tetapi.. masih saja perempuan itu
menunduk..
Minho yang awalnya berdiri di sampingnya
sekitar kurang dari dua meter, akhirnya mendekat juga padanya, lalu duduk
disampingnya.
Dia diam sejenak, memperhatikan saja..
mencari celah memulai pembicaraan.
Suasana sunyi... sepi.. hanya semilir
angin yang tetap berlalu diantara mereka berdua. Sama sekali Aiko belum
mengadahkan kepalanya, sementara Minho masih saja diam duduk disampingnya.
Lalu.. Minho memberanikan dirinya
menggenggam lembut tangan Aiko.
Aiko menolaknya, dia menepis pelan
genggaman tangan Minho.
”aku tahu.. kamu marah padaku,” ujar
Minho, dengan nada suara yang sama sekali tidak tinggi, malah lembut.
Aiko diam saja, sama sekali tidak
berkomentar apapun. Apakah
Minho benar-benar masih sayang padanya dengan mencoba menggenggam tangannya?? Jika iya.. kenapa dia yang menginginkan
perpisahan ini kemarin-kemarin??
Minho mencoba menggenggam tangan Aiko
untuk kedua kalinya.
”Aiko-chan... aku minta maaf..”
Aiko berusaha mengepalkan tangannya, walau
digenggam Minho, sehingga cowok itu hanya dapat memegang punggung tangannya.
Minho sadar, perempuan itu sedang tidak
suka dengan dirinya.
Tanpa berpanjang lebar, Minho memeluknya.
”Apa..aku tidak boleh memeluk kamu dan
anak kita?? Sehari saja aku
tidak melihat kalian.. aku kangen kamu dan dia,” peluk Minho pada Aiko.
Aiko sama sekali datar, tidak merespon apa
yang dikatakan Minho.
Minho memeluknya jadi sedikit erat.
”Aku kangen,” katanya lagi.
Padahal, hari ini dia digampar oleh Aiko. Dia berusaha melupakan sakitnya tamparan
itu. Dia ingat lagi apa kata ayahnya, dia harus berusaha berbaikan kembali,
agar mertuanya tidak menyeretnya ke pengadilan. Bagaimana masa depan dia, kuliahnya, jika sampai berurusan
dengan pengadilan.
Aiko masih tidak merespon dengan
perlukannya. Perempuan itu capek dengan emosi yang dimainkan Minho pada
hidupnya. Rasanya dia memang harus rela melepas Minho jika memang sudah tidak
dapat lagi lelaki itu memahami kehidupannya. Sebuah pernikahan yang hambar dan
masih terlalu dini.
”Aiko chan.. tolong jangan marah
padaku...,” Minho masih memeluknya. Sadar sekali, dia sudah mulai dibenci Aiko.
Aiko diam, tapi Minho tetap memeluknya.
Malam itu, angin sudah mulai dingin. Pelukan Minho terasa hangat ditubuh Aiko
yang sudah mulai menggigil.
Aiko mengeluarkan air matanya tanpa
bicara. Dia tidak ingin kehidupan rumahtangganya gagal, tetapi, dia ingin Minho
menjadi lebih dewasa.
”kalau kamu masih marah padaku...
bagaimana aku bisa berfikir jernih, Aiko chan??”
”aku minta maaf.. karena aku yang
mempunyai ide berpisah sebelumnya.. sehingga ayahmu marah dan keluargamu
menganggap aku salah...”
Aiko masih diam saja. Dia merasakan
hangatnya pelukan Minho. Itu yang dia rindukan selama ini.
”Aku tahu.. kamu sama sekali tidak
membenciku.. aku ingin
belajar dewasa.. aku sendiri sudah lelah dengan semua ini.. lelah dengan
emosiku sendiri, Aiko chan,”
Suasana hening setelah Minho berkata itu.
Aiko yang awalnya sama sekali tidak merespon pelukan Minho, tangannya mulai
memegang tubuh Minho.
Minho senyum perasaannya benar, kalau
memang perempuan itu masih cinta padanya.
”malam ini.. jangan menginap di flat Myo..
aku ingin kamu disampingku,” ujar Minho dengan senyumnya.
”ayo dong, Aiko chan.. jangan diam saja...
aku tahu.. kita saling cinta... ,” tambahnya lagi.
Aiko bingung dengan perasaannya...
bagaimana nanti kalau Minho kembali ke pikiran awal... berbicara lagi tentang
perpisahan mereka?? Hal itu akan tambah menyakitkan hatinya.
Dia lalu melepaskan pelukan Minho darinya,
berdiri. Ekspresinya datar pada Minho, tetapi cowok itu malah tersenyum.
Ternyata, Aiko sama sekali tidak menyapa
Minho, tapi berjalan meninggalkannya. Minho kaget, kenapa Aiko berubah.
”Aiko-chan... tunggu aku!,” teriaknya.
Tapi Aiko cuek saja. Dia benar-benar
berlalu meninggalkan Minho. Tanpa menoleh sedikitpun pada cowok itu.
Minho terduduk. Dia ingin menangis dengan
kejadian ini, hanya berusaha di tahannya.
”Aiko-chan.. tidakkah kamu tahu...aku
tidak ingin berpisah denganmu... kamu juga tidak ingin itu, kan???”
”Aku takut kehilanganmu.. jiwa ku ..takut
kehilanganmu...”
.......................................................
Aiko ternyata tidak pulang ke flat nya
Myo, tetapi ke rumahnya. Saat di kereta, dia hanya duduk, diam, termenung saja.
Dia harus membicarakan hal ini lagi dengan kedua orangtuanya atau kedua
kakaknya. Perasaannya semakin kusut dengan kata-kata Minho tadi.
”Jadi.. dia masih mau kembali padamu??,”
tanya ibunya.
Aiko mengangguk dan menceritakan semuanya.
”Kamu harus tegas, Aiko-chan... jangan
sampai Minho itu mempermainkan perasaan dan emosi mu terus,” ujar Kumiko. Dia
sudah kesal sekali, apalagi Akira.
”cowok itu benar-benar enggak pantas
dicintai,” kata Akira.
”sudahlah.. kalian tidak perlu seperti itu..
ayahmu sudah bicara dengan orangtuanya.. dan sesuai dengan perjanjian...kali
ini ayahmu tidak ingin melonggarkan apa yang sudah ditetapkan, Aiko chan..
terpaksa Minho kun kami seret ke pengadilan.. tidak bertanggung jawab,” ujar
ibunya dengan nada tegas.
Sekali lagi, Aiko sebenarnya galau...
bagaimana nanti jika memang Minho dipenjara?? Bagaimana dengan anak mereka??
Dia tidak ingin masa depan anaknya gelap!
Penjara hal yang tabu di negeri ini...
Bersambung ke part 35....