This is me....

Minggu, Agustus 28, 2016

Salang Itu Cinta (Part 9: Perjanjian)


“ Dia sudah pulang, say?,” Tanya Risa pada Aisha
“ Belum.. masih lama,” jawab Aisha singkat.
Mereka seperti biasanya memang mengobrol di pantry lantai dua kantor saat makan siang.
“ Trus.. ngobrol apa lagi lu sama dia??,” Tanya Risa lagi
” Tentang isterinya lagi,” jawab Aisha, mencoba bersikap santai, padahal, dalam hatinya, dia merasa selalu khawatir dengan perkembangan hubungannya.
Risa kaget lebay,”what? Terus gimana jadinya??
Aisha bercerita kalau Shin memang akan cerita semuanya. Risa berfikir juga, bagaimana kalau nanti sama sekali isterinya tidak setuju?
“Dah pasti gak bakalan setuju.. gimana sih lu?,” tanya Aisha balik

“Ya.. gue ngerti.. trus semuanya bubar deh,” balas Risa
“Tapi.. apa lu dah siap kalau gitu??,”
“Siap.. gue udah pasrah kok.. gak akan ngoyo untuk hal ini.. dari awal gue bilang sama dia.. kalau ini hanya akan cari penyakit.. tapi dia memang ngotot sih.. lembut sih lembut.. tapi nyatanya sifat aslinya tetap keras dan ngotot... kepala batu banget,” kata Aisha.
“Maksa banget sih tu cowok...nyebelin juga,” malah jadi Risa juga ikutan sebel.

Aisha cuma bisa tertawa terbahak-bahak dengan apa yang barusan dikatakan Risa.  Pikirnya, dimana-mana kalau cowok lagi jatuh cinta memang begitu, apa saja rasanya logis juga kalau dipikir, padahal sebenarnya ada yang lebih logis dari itu. Apalagi, Aisha berfikir, kalau sebenarnya Shin ini aslinya cowok yang bermain perasaan.
Risa jadi bergumam,” Bisa hancur kalau gitu caranya, cyn.. gue bisa gak tahan lihat lu sakit hati nanti”
Aisha cuma menggerakkan tangannya dengan ekspresi bingung.
“Lihat aja nanti deh.. gue sendiri enggak ngarep banget... tapi gue tetap usahain yang terbaik buat kita”.
“Masalahnya.. dia emang tipe perfect banget ya.. menurut lu??,” tanya Risa lagi.
Aisha mengangguk,” sebenernya gue jadi ratu galau banget sama dia nih... galau nya takut bini nya dia tau, say..”
“wajar... dan udah pasti tu bini bakalan ngamuk tiada tara.. secara.. beda banget sama lu.. iya kan??,” jawab dan tanya Risa.
Aisha malah mikir, kalau nanti beneran hubungan itu bisa lama serius, jadi tidak tahu..apa yang akan terjadi dengan psikologis isteri cowok itu.
Risa memang asli heran dengan jalan hidup temannya yang satu ini, kalau enggak ditaksir brondong, kalau gak sama laki orang, rasanya gak ada yang selain itu.

“trus... hari ini.. lu mau ketemu dia?,” tanya Risa.
Aisha mengangguk mengiyakan. Lalu Risa bertanya, hal apa lagi yang mau dibicarakan mereka untuk ke depannya. Aisha jawab kalau yang akan dibicarakan jelas soal isterinya.
My God!,” Risa setengah teriak, dengan ekspresi khawatir yang sedikit lebay. Aisha hanya nyengir kuda dengan ekspresi Risa. Baginya juga tidak terbayangkan, apa yang akan terjadi.
“pasrahhhh,” kata Risa dengan menopang dagu.
Aisha bukan sedih malah tertawa melihat ekspresi temannya itu. Ya, baginya, dia memang sudah pasrah total, tapi bukan berarti tidak berusaha.
“apa enggak buang-buang waktu lu, say??,” tanya Risa lagi.
Aisha tertawa lagi,” yang pasti banget banget!”.
“Ah.. gue curiga.. pasti lu dah jatuh cinta sama cowok kulit halus itu... iya kan??,” tanya Risa, penasaran.
Aisha diam sejenak. Risa meminta jawaban atas pertanyaannya baru saja. Bagi Risa, dia tidak ingin sahabatnya ini tersiksa lagi perasaannya.
“Apa.. gue mesti berhenti secepat ini???,” dia malah balik bertanya.
Risa pikir, dia sama sekali tidak dapat mencegah itu semua, karena hanya mereka yang saling tahu perasaan masing-masing.

“Enggak ngerti sih.. sebenarnya.. gue cinta atau enggak sih.. sama dia??,”
Aisha jadi bingung sendiri. Dia memang bukan perempuan yang dengan mudah menyampaikan perasaannya sendiri kepada lawan jenis. Walau diluar dia bisa terlihat santai, berbicara ceria, seolah bisa menyelesaikan segalanya, padahal aslinya bagai cangkang telur yang mudah pecah.
“Tapi.. lu sedang enggak stress banget kan, cyn??,”
Aisha menggeleng, dia jujur mengatakan baik-baik saja.
Tapi, justru Risa melihat matanya mulai sayu, seperti mau menangis.
“Tuh.. gue enggak yakin banget.. pasti lu sedih banget, kebingungan.. iya kan??.”
Aisha diam lagi sejenak. Bayangannya, seperti menanti jawaban dari lelaki yang bernama Shin itu.
“Jadi.. lu pengen ketemu bini nya??,” mata Risa terbelalak.
Aisha mengangguk, baginya, itu adalah kesempatan menjelaskan semuanya. Termasuk jika semuanya tidak bisa lagi diselesaikan, dia akan minta maaf.
“Mau cari dimana?? Bukannya kayaknya memang lu enggak bakal bisa ketemu dia??,”
“Gue rasa..mendingan lu bubar deh sama dia..gue enggak mau lihat lu stress berat seperti tahun lalu.. rasanya gue pengen bunuh cowok pembohong itu..sumpah!,” malah jadi Risa yang tidak suka dengan semuanya.
Tahun lalu memang Aisha dirasanya sangat-sangat stress menghadapi lelaki yang menurutnya kurang ajar, womanizer, tukang mempermainkan perempuan, yang semestinya dikutuk mati saja cepat-cepat lelaki macam itu.
“Tapi.. sebenernya..lu suka gak sih sama itu cowok??,” Risa malah jadi penasaran.
Aisha mengangguk tapi sambil cemberut.
“Belum suka banget ya??,” tanya Risa lagi.
Dijawab lagi dengan anggukan oleh Aisha. Dia merasa bingung dengan semuanya, dari hal kecil sampai hal penting.
“Agama..penting banget.. karena lu bilang, itu cowok tanya ini-itu ke orang lain, enggak ada salahnya lu tanya lagi kesungguhannya.. sensi banget kan masalah beginian,”
Aisha mengangguk lagi,” Tapi.. dia setuju mau ikut gue, Ris.. apapun itu.. dia mau gue ajarin macam-macam deh.. soal agama.. pelan-pelan katanya.”
“Ribet enggak ribet cerita lu deh.. yang penting dia mesti jujur apa adanya.. gue sebel sama cowok pembohong, pecundang, de el el deh,” ujar Risa.
Aisha bilang, dia akan bertemu lagi dengan cowok itu hari ini. Katanya, Shin akan membicarakan sesuatu.. tentang perjanjian.

Risa tertawa dan heran dengan kata “perjanjian” itu. Baginya, benar-benar mirip dengan perjanjian pra nikah.
Aisha mendengar kata-kata itu, jadi memandang sahabatnya itu dalam-dalam. Terang aja bagi Risa tidak mengherankan, karena memang lebih mirip perjanjian pra nikah daripada perjanjian pacaran.
“Look.. lu perhatiin ya.. kadang lu jadi cewek itu gimaaanaaaa gitu ya... pinter-pinter gimanaa gitu,” canda Risa.
“Gue sih paham, karena elu “beda” dengan yang lain.. mungkin Shin membaca itu,” lanjutnya lagi.
Aisha mengangguk. Risa tertawa mengingat lagi isi perjanjian itu.
“Untung enggak pakai materai enam ribu ya.. gila tu si Shin, hahahaha!,” tawa Risa membahana di ruang pantry.
Perjanjian.. isinya simple, bahwa tidak boleh ada yang saling berkhianat, Aisha yang memang sering sekali galau dibanding Shin, justru malah lebih banyak mendapatkan perhatian sebenarnya, bahkan sampai perhatian emosi sekalipun.
“Trus.. medsos lu dipegang juga pass nya sama dia?? Jadi..dia tahu.. lu sedang ngobrol sama siapa aja.. gitu??,” tanya Risa.
Aisha mengangguk saja.

Shin memang pernah berkata padanya, kalau dia sayang dengannya dan dia memang tipe posesif yang ingin memperhatikan pacarnya. Walau begitu, dia sama sekali tidak mengutak atik pertemanan di media sosial, hanya dia tidak ingin Aisha banyak bicara dengan lelaki di medsos.
“Cemburuan dong tu cowok,” kata Risa.
Aisha mengangguk, “Banget.. belum sampe parah sih.. tapi dicemberutin..udah.”
Risa malah tertawa-tawa dengan kisah temannya itu. Dulu dia mantan cewek tukang gonta ganti pacar, dan belum pernah bertemu cowok posesif.
“Itu karena dia takut.. gue digangguin cowok,” kata Aisha.
“Dia begitu.. karena takut lu bisa direbut orang... lu ini terkadang enggak awas.. jalan aja lu suka nabrak orang, hehe,” canda Risa.
“Itu tandanya dia sayang... gue mana pernah diposesifin cowok... laki gue aja enggak segitunya waktu pacaran,” lanjut Risa lagi.
“Tapi menurut gue.. lu enggak usah khawatir deh... kalau lu minta ketemu bininya.. lu bilang aja.. enggak usah takut.”
Aisha mengangguk saja. Dia memang ingin katakan itu lagi pada Shin.
                                                ----------------------------------
Aisha dan Shin makan bersama lagi di sebuah restauran jepang. Shin memang terlihat suka senyum-senyum kalau berhadapan dengannya. Dia basa basi menanyakan pekerjaan Aisha dan akan kemana lain waktu. Pekerjaan mereka hampir mirip.
“Belum ada pergi lagi.. ,” senyum Aisha padanya.
Shin suka sekali bicara sambil menatap mata Aisha langsung tanpa ragu. Tapi, kebalikan sekali dengan perempuan itu.
“Hai..kamu tatap aku dong.. kalau sedang bicara.. aku faham dengan kepribadianmu..tapi berusahalah,”
Shin memang tahu kepribadian Aisha yang dia tebak ternyata benar. Semenjak tahu itulah, dia sengaja membuat perjanjian agar keduanya jadi terikat.
“Tidak ada yang ganggu kamu, kan?? Lihat messej inbox juga biasa saja kamu bicara dengan yang lain, biarpun laki-laki,” lanjutnya lagi.
“Kalau nanti kamu pulang.. aku bagaimana??,” mendadak Aisha bertanya itu.
Shin senyum dengan pertanyaan itu.
“Kalau aku pulang... kamu baik-baik disini.. tidak boleh selingkuh..aku benci,” katanya, sambil mengelus kepala Aisha.
“Aku janji.. kita tetap ngobrol seperti biasa,” lanjutnya.
“Aku setia, tahu...,” kata Aisha dengan sedikit kesal. Dia juga sebenarnya cewek posesif dan khawatiran, namun tampaknya Shin berhasil membuat pikirannya longgar dari keposesifannya itu, malah bertukar.
I know that you are a loyal girl.. tapi sekelilingmu bisa ada cowok brengsek,” balas Shin dengan santai.
Cowok brengsek.. hal yang Shin takutkan. Perjanjian yang mengatakan: jika salah satu ada yang selingkuh, tidak setia, semua hubungan bubar, tanpa basa basi apapun dan jangan saling menghubungi, karena pengkhianatan itu dianggap sangat buruk. Shin ingin sekali melakukan perjanjian itu semenjak dia melihat dalam sebuah inboks messej/pesan jejaring sosial Aisha, dia komunikasi dengan seorang cowok cukup akrab. Shin sempat mendiamkan Aisha beberapa jam sampai dijelaskan, bahwa cowok itu hanya bertanya sebuah hukum agama, tidak ada yang pribadi setelah diterjemahkan.

“Kamu..cinta kan..dengan ku??,” senyum Shin padanya.
Aisha menjawab dengan menggoyang-goyangkan kakinya, sampai sepatunya tanpa sengaja bertemu dengan sepatu Shin.
Shin jadi tertawa kecil, dia berasa menang berhak mengerjai pacarnya sebuah pertanyaan konyol sok romantis kala pacaran. Dia tahu, itu adalah tanda gugupnya beberapa orang dengan sindrom tertentu.
“Jawab dong,” lanjutnya lagi.
Aisha masih saja diam. Malah mengetuk ketuk sumpit kayu, jadi sedikit keras. Shin melarangnya supaya tidak terdengar ribut.
“aku tahu kok.. kamu cinta aku..,” dia menjawab sendiri pertanyaannya tadi.
Aisha malah cemberut, tidak suka dengan permainan perasaan itu. Tapi Shin malah tertawa lagi.
You know.. i am happy if i am with you,” katanya lagi.
Aisha hanya mengangguk saja.
“Bingung mau balas apa?? Tidak perlu...,” kata Shin. Dia iseng ingin memencet hidung Aisha dengan sumpit yang dipegangnya.
“Shin ah.. kamu jelek banget.. nanti kalau sakit, gimana tahu!!,” balas Aisha, mengelak, langsung marah.
Beberapa orang yang direstaurant itu jadi melihat mereka. Shin hanya melambaikan tangan pada mereka dan minta maaf.
“Ya.. aku mengerti.. kemarin aku banyak membaca dan cerita dengan rekan sejawat.. tentang autisme.. jadi.. maaf kalau tadi langsung buat kamu marah”.
Aisha memegang sumpit dengan kesal, dipegangnya dengan erat, sampai otot tangannya yang kecil jadi menonjol terlihat. Sumpit berada diatas meja sampai ditekan-tekan.
“Hush.. aku minta maaf.. jangan marah besar disini,” bisik Shin.
Aisha malah jadi berani memandang matanya.
“Aku kesal, tau,” gerutu Aisha.
Lantas, malah dibalas senyum oleh cowok itu.

“Pulang ke rumah.. jangan banyak makan manis ya, sayang,” balas Shin.
Shin memintanya makan sushi telur ikan miliknya. Perutnya sudah kenyang. Aisha memakan pelan-pelan dan menunduk saja.
Shin terus memperhatikannya makan. Aisha tahu diperhatikan, dia mengangkat kepalanya.
okay.. okay.. i wont see you while you are eating,” kata Shin, masih berusaha menenangkan, walau bercanda.
“Tapi..kamu harus tatap mata aku loh.. tidak sebegitu susahnya,” lanjutnya lagi.
Aisha makan saja. Shin meneruskan bicaranya.
“Kamu.. masih khawatir soal hubungan kan??.”
Shin malah mengambil sebagian kecil potongan sushi miliknya yang tadi.
“Aku mau..sedikit lagi,” katanya, santai.
Aisha mengangguk saja.
“Kalau kamu ragu membahas ditempat ramai begini.. kita bahas nanti,” kata Shin lagi.
Aisha baru mengangkat kepalanya setelah selesai makan.
“Disini juga enggak apa,” jawabnya.

“Aku..belum bicara apapun soal hubungan kita, dengan siapapun.. apalagi dengan isteriku,” katanya, memulai pembicaraan serius.
Aisha mulai lagi khawatirnya. Wajahnya berubah, langsung sudah bisa dibaca oleh Shin.
“Aisha..kamu tidak perlu khawatir..aku tidak akan pergi,” katanya dengan lembut.
“Kamu..pasti mau menangis deh,” lanjutnya.
Kalau sudah meltdown (perasaan krisis karena sedih atau tertekan) memang bisa lama traumanya bagi orang seperti Aisha, dan mengembalikan ke emosi semula tidaklah gampang walau terlihat di luarnya bisa saja, di dalam dirinya bisa sangat bergejolak seperti lahar gunung api.
Shin memang terbilang cukup bisa memendam rasa khawatir Aisha yang terkadang menurutnya terkesan berlebihan. Kalau sedang mood nya Aisha bagus, mau bicara panjang lebar apapun yang Aisha suka, Shin tidak akan melarangnya, walau tanpa titik koma, tertawa keras-keras sampai lama, walau tidak ada yang lucu sekalipun. Dia malah memperhatikan dengan sangat sampai menatap mata nya langsung kepada Aisha.
i wish i could hug you..and feel your worrisome ,” katanya.
“Kasihan..,” lanjutnya lagi.
You cant do it,” kata Aisha, ngotot.
Ya, I am sorry.. i wont touch you.. tapi kamu sebaiknya tenang dengan hubungan kita,” balas Shin.

Shin juga sebenarnya khawatir dengan sifat galau nya Aisha yang tinggi. Sedikit sedikit resah, takut ditinggal, takut tidak bisa memahami perasaan dirinya.
“Aku kan juga ingin perhatian sama kamu!,” bentak Aisha.
“Tidak begitu caranya, sayang... kalau aku bilang aku baik-baik saja..memang begitu,” balas Shin.
Mereka duduk di dalam apartemen yang disewa lelaki itu.
“Kalau aku tidak yakin kamu baik-baik ..gimana??,” balas Aisha, sedikit sengit.
Shin malah jadi tertawa. Sikap berlebihan yang kadang juga terlalu khawatir membuat dia malah jadi suka tertawa.
“Kalau kamu perhatian padaku..malah kesannya lucu, ya?? Waktu masih awal.. kamu malah yang tidak mau aku perhatikan,”
Aisha malah jadi malas bicara dengannya.
“Aku akan tunggu kamu disini biar bicara...sampai kamu mau bicara apa..semuanya bisa kita komunikasikan,” kata Shin, tetap semangat.
“Jangan sampai kepala mu pusing,” dia malah mengelus kepala Aisha.
Aisha menepis tangan Shin. Dia memang suka bingung ingin bicara apa kepada pacarnya itu. Tapi kadang yang dia pikirkan hanya canda dan mengerjai Shin.
“Eh.. aku merasa jadi seperti mengasuh adik kecil,” kata Shin, tertawa pada Aisha.
“Setiap hari aku dikerjai.. aku nanti pusing juga, Aisha.. kamu banyak akal.”
Hari itu rasanya dia tidak bisa bicara banyak. Banyak pekerjaan yang membuat dia pusing sehingga pikirannya berubah jadi seperti anak-anak.

“Kita sudah buat perjanjian.. kamu tidak boleh marah tanpa alasan,” kata Shin. Dia berdiri malah ke dapur, seperti membuat makanan.
Aisha masih diam saja. Cemberut saja tanpa sebab. Dalam pikirannya, dia ingin sekali banyak bercanda, maunya tertawa, namun Shin mengajaknya serius.
“Kamu boleh tertawa sesukanya.. mau keras disini..silahkan.. tapi..besok harus diperiksa darahnya,” lanjut Shin lagi. Sepertinya dia memasak.
“Tidak boleh juga makan kertas... aku tidak suka,” lanjutnya lagi.
Aisha lalu pergi juga ke dapur. Dia melihat Shin sedang memasak.
“Aku enggak bisa masak masakan korea,” katanya. Tapi dia malah merebut sodet yang ada ditangan Shin.
Shin mendiamkan saja Aisha melanjutkan masakannya. Tapi diawasi, apa ada rasa takut dengan api atau tidak. Dia pernah bercerita waktu dulu di sebuah daerah membantu orang yang kebakaran memadamkan api, jadi sempat ada luka dan seperti trauma kalau lihat api sudah mulai besar.
“Habis ini..sudah matang.. taruh dimana??,” tanya Aisha, cuek..sama sekali tidak memperhatikan Shin.
“Ini tidak pakai bumbu perasa aneh, jadi kamu tidak akan pusing,” kata Shin padanya.
Aisha mengangguk saja. Kalau sehari banyak makan makanan yang mengandung perasa buatan, kepalanya akan sakit berat, seperti mau menjenturkan ke tembok, dan sulit tidur.

Mereka makan bersama.  
“Kalau kamu mau memperhatikan aku.. maka... Layani aku makan..,”
“Ini....,” Shin menyodorkan mangkuk untuk diisi nasi khusus buatan korea, seperti nasi campur bijian.
“Aku mengerti banget.. kalau kamu punya kekasih.. kamu maunya melayani,” lanjutnya lagi.
“Kamu perempuan yang spesial, jadi aku cinta,” senyum Shin.
Aisha mengambil mangkuk dari tangannya, lalu menuangkan nasi dan memberikannya lagi pada Shin.
Thank you very much,” senyum Shin, lantas dia makan dengan semangat.
Tapi Aisha hanya memperhatikan saja dia makan sama sekali dia sendiri tidak makan. Shin akhirnya sadar juga kalau diperhatikan.
Why are you not eating??,” tanya dia, heran.
Tapi, Aisha malah jadi tertawa keras dengan pertanyaan itu. Shin santai saja.
“Kamu..salah makan ya?? Tadi dikantor.. makan apa?? Tidak ada yang lucu, Aisha sayang.”
“Enggak sih.. eh..lupa,” balas Aisha, masih tertawa.
“Tidak ada yang lucu.. aku masak enak loh.. ayo makan,” senyum Shin.
I just wanna see you eating.. that’s all,” balas Aisha.
Shin senyum lagi dan dia melanjutkan makannya. Begitu nasi dan lauk dimangkuk sudah habis, lekas Aisha merebut mangkok itu lagi dan menuangkan nasi.
“Ah.. aku sudah kenyang nih.. kamu saja yang makan,” kata Shin.
Aisha mengangguk saja, mengiyakan. Dia lalu main mengambil sumpit yang ada di tangan Shin dan makan melalui sumpit itu.
“Itu jorok.. ,” balas Shin.
Aisha malah menggeleng, baginya, itu tidak jorok.
Shin malah jadi tertawa lihat cara dia makan.
“Eh.. actually.. this is so romantic,” kata Shin.
“Besok.. aku mau begitu,” lanjutnya.
“Apa??,” tanya Aisha, dia menegakkan kepalanya.
Eating with your chopstick after you used it,” senyum Shin, manis sekali.
Aisha malah tertawa terbahak-bahak lagi, giginya kelihatan semua.
“Nanti sakit perut,” balas Aisha.
“But... that’s romantic,” ujar Shin.
Aisha malah memandang dia seperti tanpa ekspresi.
“Itu sakit perut nanti, Shin.. kamu orang korea.. kamu bersih,”
“Kalau menurutmu itu tidak romantis.. ya sudah..,” balas Shin dengan cepat. Ternyata, persepsi romantis pun berbeda.
“Kalau kamu sakit perut...kamu enggak bisa kerja, bahaya,” ujar Aisha.
“Ya..aku mengerti,” balas Shin.
“Padahal menurutku..itu romantis,” lanjutnya.
But i dont like it,” balas Aisha dengan cepat.
well.. okay.. that’s not fine,” balas Shin lagi, berusaha menuruti.
Aisha makan sampai habis, lalu dia minta ijin pulang.

“Tadi aku baru saja melihat jejaring sosialmu.. sepertinya lelaki itu masih suka cari masalah,” kata Shin.
“Enggak..dia cuma tanya-tanya sesuatu.. bahasa ku juga biasa,” balas Aisha, di lorong ke lift, turun keluar apartmen.
“Kalau dia ganggu kamu.. aku bisa marah,” kata Shin lagi.
“Aku janji.. ,” lanjutnya.
“Aku enggak melayani orang itu kok..kalau dia tanya, aku jawab,” balas Aisha.
Shin tampak tidak suka, dia cuma bilang,” Ok, fine..”.
Mereka keluar dari apartemen. Sekali lagi, Shin bilang kalau dia memang tidak suka Aisha banyak bicara yang bercanda dengan lelaki itu.
“Dia seperti lelaki kasar.. tidak punya sopan santun,” katanya.
Namun, Aisha hanya membalas, kalau dia tidak melayani candaan lelaki itu sama sekali dan dia tidak mengenal orang itu, hanya sebatas kenal di jejaring sosial.
Aisha bergitu kesal dengan beberapa kali perkataan Shin yang menegaskan tentang perasannya. Dia main pergi saja, meninggalkan lelaki itu.
Shin memanggilnya,” Hey.. aku serius tentang melabrak lelaki itu kalau dia sampai kurang ajar.”
Aisha menoleh, dia diam saja.. lalu main pergi.
Tak berapa lama di dalam bus, dia mendapatkan pesan dari Shin.
“Hai.. jangan marah, sayang.. tapi aku merasa, dia lelaki kurang ajar.”
Aisha membalas,” Aku hanya teman buat dia.. tidak lebih.”

Bersambung ke part 10...