This is me....

Jumat, Agustus 19, 2016

Part VII, 100 Years of Love (Jangan Sampai…..)

Cerita ini hanya imajinasi saja…jangan dimasukkan ke hati…

Jepang akhirnya mulai turut campur dalam dunia pendidikan. Mereka dengan kementrian pendidikannya bagi daerah yang dijajah lalu berusaha memasukkan budaya mereka melalui pelajaran, bahkan melalui perbahan nama. Beberapa nama keluarga Jepang dimasukkan ke dalam Korea. Pelajaran bahasa wajib dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan wilayah yang dijajah. Ada beberapa aturan yang sudah mereka ubah. Hal ini membuat banyak pengajar sebenarnya gusar, apakah namun posisi mereka lemah sebagai bangsa yang dijajah

”Semakin hari memang semakin gawat,” keluh Minho.
Dia berani berkata seperti itu karena dia sudah terlanjur banyak membaca sejarah penjajahan itu.
”Dan... kamu akan membawa Sungmi ke duniamu??,” tanya McWright.
Minho mengangguk. Itu memang sudah menjadi tekad bulatnya.
”Aku bisa mengerti, kenapa kamu khawatir dengan semua ini. Tidak ada seorang manusia pun yang ingin di jajah,” ujar McWright.
”Mereka begitu kejam menjajah, seperti tidak ada yang tersisa. Aku khawatir Sungmi akan dijadikan wanita penghibur. Selama ini, permasalahan politik di 2013 juga seperti itu, Bapa,” balas Minho.
McWright jadi berfikir. Jika memang Sungmi bisa masuk ke dunia jaman Minho, dia akan relakan anak angkatnya itu pergi, daripada menderita.
Minho menceritakan kembali kehidupan 2013 yang menurutnya akan sangat aman bagi perempuan itu. Sementara, McWright juga tidak mungkin membawa anak angkatnya itu ke dunia nya, dimana peperangan masih sangat terjadi dan posisi perempuan masih rendah. Di jamannya, dunia eropa masih masuk dalam abad kegelapan. Bisa saja itu membahayakan anak angkatnya tersebut. Entah mungkin akan diperlakukan rendah, atau bahkan dihukum mati karena dianggap mempunyai ilmu sihir jika ketahuan bisa melewati ruang dan waktu.

”Aku tidak ingin melihat ini semua sebenarnya, Bapa.. entah mengapa, aku tidak habis pikir.. mengapa aku bisa memasuki jaman ini,” kata Minho.
Semuanya memang terkesan tidak sengaja. Dia yang awalnya hanya memandang air mancur dan mencoba meraba udara disekitarnya, mendadak bisa terlempar ke waktu 1910-1911. Hal yang sama sekali tidak dia pikirkan: masuk ke jaman penjajahan!
Minho sudah mengganti namanya. Wajahnya yang sedikit beda pola hidungnya dan juga belum banyak orang korea yang setinggi dirinya, menjadikan McWright membuat keterangan palsu, bahwa Minho, adalah percampuran antara bangsa Korea dengan bangsa yang sama dengannya, scotlandia. Kependudukan yang saat itu sudah mulai dikuasai Jepang, mereka percaya saja akan hal itu. Dan Minho pun memakai nama McWright sebagai nama keluarga.
”Semua sudah menjadi bubur. Kita memang manusia yang tidak biasa... namun hidup di kehidupan yang memaksa kita untuk berbuat sesuatu,” kata McWright.
Minho bertanya, apa lelaki itu pernah menyesali apa yang telah dialaminya. Dia hanya mengingat saja isi diary yang ditulisnya.
”Apapun yang dikehendaki Tuhan kepadamu.. itulah yang terbaik,” jawaban diplomatis lelaki itu kepada Minho, sambil tersenyum.
Di jaman itu, yang menjadi kekhawatiran adalah masalah jiwa. Jiwa yang terkekang, harus menuruti langkah Jepang sebagai penjajah.
Minho memang baru saja menulis kecil tentang pentingnya pendidikan asimilasi, percampuran budaya yang bisa saja menciptakan banyak sisi positif dalam perkembangan dunia pendidikan dan sosial. Tulisannya belum dianggap membahayakan bagi penjajah. Malah, ketika tulisan itu dicetak dan disebarkan, mendapat respon yang baik. Bagaimana jepang merasa kesulitan dengan kerasnya beberapa orang terpelajar korea yang menolak adanya percampuran budaya, dengan dalih bahwa Jepang adalah bangsa penjajah. Beberapa mahasiswa yang menentang keras, tidak memakai strategi, satu persatu sudah mulai ditangkap. Jika Minho salah sedikit saja menulis, dia juga bisa mengalami nasib serupa mereka.
”Aku hanya bisa menulis, menunggu waktu sampai aku bisa kembali.. tiga minggu lagi..,” katanya pada McWright.
Mereka mempunyai dua sisi berbeda. McWright bisa kembali kapan saja dia mau, namun dia tidak bisa masuk ke jaman 2013. Sedang Minho hanya bisa masuk ke jaman 1911 dan menunggu waktu yang tepat, kapan bisa kembali.
Selama tiga minggu ini, dia akan berusaha berjuang dengan mahasiswa lain yang juga berkeyakinan yang sama dengannya, untuk bisa mendobrak sisi pemikiran sebagai negara terjajah.

”Kalau Sungmi tidak bisa mengikuti mu... apa yang akan kamu lakukan.. apa tetap akan disini.. walau kamu bisa kembali ke 2013, tiga minggu lagi??,” tanya McWright, serius.
Minho sempat diam sejenak. Apakah semua yang dia pikirkan akan menjadi kenyataan?? Akankah dia bisa membawa perempuan itu?? Atau.. jika memang tidak bisa.. apakah dia akan meninggalkan perempuan itu begitu saja?? Sementara.. dia tidak yakin apa bisa bertahan dalam jaman penjajahan.
”Jika Sungmi tidak dapat mengikuti ku... aku meminta Bapa melindunginya.. ”, jawab Minho.
Dia menunduk hormat dengan sangat kepada lelaki itu.
”Tentunya aku sudah bisa menebak itu... aku membayangkan dia bisa bahagia di jamanmu, jika memang hal itu bisa terjadi,” balas McWright.
”Bayanganku tentang kejamnya penjajahan ini, dari apa yang aku terima, membuatku takut.. kalau dia akan disakiti,” kata Minho.
McWright mengerti. Sungmi sendiri memiliki ketakutan yang sama. McWright menulis surat kepada pemerintahan Inggris, bahwa dirinya merasa khawatir dengan penjajahan ini. Dia dan seluruh orang yang  berada di bawah perlindungannya hanya ingin mendapatkan keselamatan dari pihak Inggris. Namun, jawaban itu tidak pasti. Inggris akan berusaha menyurati Jepang, agar bisa melindungi orang-orang yang berada di bawah administrasi mereka, apalagi jika mereka hanyalah sekelompok pemuka agama.

”Namun.. apa kami yang bangsa Korea juga bisa mendapatkan perlindungan itu?? Sebab, konsulat Inggris kemungkinan hanya akan melindungi orang Inggris saja, Bapa,” kata seorang guru di saat mereka sedang rapat kondisi perkembangan pendidikan.
Santer terdengar, bahkan Jepang sudah mulai menggunakan mata-mata dari orang Korea sendiri untuk mendapatkan banyak info, dan bisa saja menangkap mereka, jika ada satu diantara mereka sekarang.
Sudah tidak asing lagi bagi mereka, membaca koran, atau beredar pengumuman, siapa orang Korea yang dipenjara dan dihukum karena membangkang pemerintahan aneksasi ini.
Hanya melindungi orang Inggris saja, itulah yang dikhawatirkan Minho. Sebab, Sungmi bukan orang dan berkewarganegaraan Inggris... begitu juga dengan dirinya.
”Rasanya.. aku mulai khawatir, Jepang akan lebih membuat kita menderita.. atau bahkan membunuh kita semua,” keluh seorang guru.
Guru-guru yang lain mengangguk. Bagaimana tidak menderita?? Selain pendidikan, kehidupan mereka misalnya pertanian, pertanahan, sudah mulai dikendalikan mereka. Hasil bumi diawasi, begitu juga soal pembagian lahan perumahan dan kepemilikannya. Bahkan Jepang sudah mulai tidak ragu lagi, untuk membagi lahan seorang tuan tanah Korea kepada orang Jepang sendiri yang datang. Hal ini sudah membuat beberapa orang marah, namun juga tidak bisa membuat banyak.
”Apa.. mereka akan menghabisi bangsa ini??,” kata Guru Nam, dengan wajahnya yang cemas, ketakutan.
Mereka benar-benar merasakan, bahwa bangsa Korea sudah tidak bisa lagi membela dirinya.
                                                --------------------------------------
Di tahun 2013...

Shinshi hanya duduk di dalam kamarnya. Dia merenungi lagi apa kata teman cowoknya itu tadi pagi di universitas. Lalu, dia juga berpikir, apakah dia akan memberitahukan rahasia Minho kepada keluarga Minho.
Sedari tadi, dia hanya mengetuk-ketuk pulpen ke ujung meja, sampai ujung pulpen itu pecah.
”Ah.. nyebelin,” gerutunya dalam hati.
Lalu dia mengambil handphone dan ternyata menghubungi kakaknya Minho, meminta untuk bertemu.
Malam itu, mereka pun bertemu di sebuah cafe yang tenang.

”Jadi.. Minho tetap di Seoul.. tapi.. pindah waktu???,” mata SoHee terbelalak.
Masak iya ada manusia berpindah waktu dan itu dialami oleh adiknya sendiri?? Setahu dia, itu hanya ada di film-film. Dia bertanya berkali-kali kepada Shinshi, apakah mungkin Minho berbohong dan hanya ingin membuat mereka tertawa saja.
”Harap Eonni tidak menceritakan ini kepada siapapun.. Oppa Minho.. mungkin baru akan pulang tiga minggu lagi,” balas Shinshi.
”Kenapa kamu tidak bilang pada kami dari kemarin, Shinshi?? Kami jadi bisa mencegah dia,” sesal SoHee.
Shinshi menggaruk kepalanya. Dia sendiri bingung, kenapa bisa seperti itu. Baginya, mustahil juga ada orang berpindah tempat dan waktu.
”Aku juga percaya enggak percaya, Eonni.. tapi kenyataannya sekarang Oppa Minho menghilang.. apa.. dia tinggalkan handphonenya??,”
So Hee mengangguk. Memang, dikamar, Minho hanya meninggalkan smartphone nya begitu saja. Tentu saja kalau di jaman ini, smartphone menjadi penghubung nomor satu, tetapi malah ditinggalkannya.
So Hee bertanya, di tahun berapa Minho pindah, dan apa motivasinya.
“Katanya sih.. ke tahun 1910.. 1911.. ya begitu deh... aku sendiri bingung... dia sepertinya sedang kenal seseorang di jaman itu,”

”Perempuan??,” tanya So Hee.
Shinshi mengangguk,” Nama keluarganya seperti namaku: Park.. dan aku merasa mengenal nama itu… Park Sungmi… ”.
So Hee jadi berpikir, mungkin mereka harus mencari nama Park Sungmi itu? Perempuan itu, jika masih hidup, mungkin saja sudah tua sekarang.
”Bahkan mungkin sudah tidak ada. Perhitungan umurnya saja, ku perkirakan mencapai 120 tahun,” kata Shinshi lagi.
”Apa kita harus mencari perempuan itu di kota ini juga??,” tanya So Hee.
Shinshi hanya menggeleng. Ada banyak nama keluarga Park dan juga mungkin Sungmi.
Shinshi berkata kepada SoHee kalau sebaiknya hal ini tidak dibicarakan dulu dengan kedua orangtua mereka. Dipendam saja dulu, sampai Minho akan benar-benar kembali di 2013, tiga minggu lagi.
”Tapi.. bagaimanapun juga, Shinshi.. saat itu, Jepang sudah mulai keras menjajah Korea.. apa Minho bisa kembali?? Aku jadi khawatir.. kita sebaiknya mencari nama Park Sungmi itu di kependudukan.. mungkin memang ada.. kalau dia sudah dewasa di tahun 1910-1911, mungkin dia sudah berusia 100 tahun lebih... dan tidak mungkin dia masih hidup,” ujar So Hee.
Shinshi menyeruput minuman dinginnya. Dia ikut berpikir.
”Ada di keluargaku bernama Sungmi juga, Eonni.. tapi dia meninggal di tahun 1911,”
So Hee mengenyitkan dahinya, lalu dia hanya berkata, kalau dia akan menyimpan rahasia ini, tidak ingin membuat kedua orangtuanya semakin khawatir dan merasa tidak masuk akal dengan apa yang dialami adiknya itu.
”Jadi.. kita hanya bisa menunggu tiga minggu lagi, Eonni.. ditempat yang sama.. di air mancur universitas”, kata Shinshi.
So Hee akan mencari tahu, bangunan apa dahulunya air mancur itu.
                                    ------------------------------------
1911...

Minho menulis tentang perkembangan pendidikan beberapa negara eropa yang dianggapnya bisa menjadi perintis perkembangan pendidikan Korea. Dia melihat, kala itu sepertinya jepang cenderung pemerintahannya condong seperti jerman, sehingga dia mencoba mengingat kembali dalam sejarah, apa-apa yang akan dialami jerman ditahun-tahun itu yang masih menjadi sebuah kerajaan besar dan cukup berpengaruh di Eropa karena kemajuan teknologi barunya.
Minho berpikir, bahwa pemerintahan Jepang saat itu sangat gila teknologi untuk kepentingan kejayaan negara dan wilayah jajahannya, termasuk Korea, yang ingin mereka ”perbaiki”. Tulisannya sudah tiga minggu dianggap tidak membahayakan Jepang. McWright sempat memberikan kritik kepadanya, seolah Minho memihak kepada penjajah.

”Aku masih belum berpikir panjang untuk membangkang pada mereka, Bapa... rasanya masih belum tepat,” jawabnya, diplomatis.
Sementara, kejadian pengambilan sistem pertanahan dan juga ”perbaikan” administrasi pertanahan mengambil dua sisi: pro dan kontra. Walau banyak tuan tanah yang tidak setuju dengan sistem baru, namun ada juga yang setuju dan mendukung.
”Tapi.. tidak dengan pendidikan, Minho.. kami sudah mulai tergencet,” kata guru Nam.
Sistem sudah mendesak mereka, kemerdekaan berpikir sudah terkekang. Begitu juga dengan kemerdekaan fisik.

Lagi, Minho termenung di dalam kamarnya... akankah dia bisa membawa pergi Sungmi ke jamannya, dimana korea selatan terkesan damai?
”Sudah ada banyak perempuan dikirim ke China... ,” pikirnya.
Jelas saja, dia tidak ingin Sungmi menjadi sasaran penjajah itu.
Dia kembali lagi keluar ruangan dan meraba udara sekeliling air mancur.
” Getarannya sudah terasa lebih kencang lagi.. seperti pusaran udara,” katanya dalam hati.
Dia mencoba menggerakkan telapak tangannya, mungkin saja, dia sudah bisa masuk ke alam 2013. Namun ternyata, belum bisa juga.
Lalu dia pun duduk di lingkaran semen air mancur itu. Mendadak dia ingat kedua orangtuanya dan juga Shinshi.
” Apa Shinshi bercerita tentang aku?? Tadi malam bermimpi, rasanya dia cerita semuanya pada kakakku,” katanya lagi, dalam hati.
Suasana malam semakin gelap dan dingin, namun Minho tetap berada diluar, menggunakan baju dinginnya, memeluk kedua tangannya sendiri.
”Ini memang cinta... rasanya aku sudah gila kalau ingin membawa Sungmi ke dunia ku,”
”Tapi.. kasihan dia kalau sampai dijadikan wanita penghibur.. mereka itu jahat.”
Sampai saat 2013 pun, perseteruan antara Jepang dan Korea selatan soal wanita penghibur masih berlanjut. Dia melihat sendiri, bagaimana perasaan kalutnya ketika Sungmi dilihat beberapa tentara jepang yang lewat, beberapa waktu lalu. Sekali lagi dia berpikir.. dia tidak ingin semua hal buruk di jaman ini terjadi pada perempuan itu.
Dia lalu memandang langit sebentar.. dan beranjak ke sebuah ruangan... ternyata, ke ruangan tempat Sungmi tinggal.

”Aku tidak tahu, bagaimana nanti terjadi... kalau memang kamu tidak bisa masuk ke jamanku,” kata Minho kepada Sungmi.
Mereka duduk berhadapan di depan ruangan perempuan itu.
” Kadang aku berpikir.. kenapa hidupku menderita sejak kecil, Minho... kedua orangtuaku tidak mengurusku.. hanya Bapa yang memperhatikanku,” balas Sungmi.
Wajahnya memang sayu, tampaknya dia memang banyak terbeban masalah sejak kecil.
Korea selepas jaman keruntuhan Joseon dan peralihan ke aneksasi Jepang memang tidak mengenakkan. Korupsi menjalar, memudahkan Jepang masuk menjajah negara itu. Dan sekarang... penderitaan dimulai.
Hasil bumi sudah mulai dikuasai pula. Panen dipaksa ditingkatkan demi kebutuhan perang dan pemuasan pangan negara penjajah.
Jawaban dari konsulat Inggris terhadap surat McWright masih sedikit melegakan, bahwa mereka akan berusaha melindungi orang-orang yang bekerja di bawah pimpinan lelaki itu.
”Semoga Bapa bisa melindungi kita.. aku mulai khawatir.. enggak pernah terbayang olehku meloncat ke jaman seperti ini,” kata Minho.
”Rasanya..aku memang sudah mulai takut, Minho.. ,” ujar Sungmi.
Wajahnya menunjukkan ekspresi khawatir. Bagaimana tidak.. memang sudah banyak perempuan korea dipaksa menjadi wanita penghibur. Jika tidak mau, keluarga mereka juga bisa dikirim menjadi tentara, demi perluasan kekuasaan penjajahan jepang ke wilayah lain di asia... atau bekerja paksa untuk mereka.
”Mereka mimpi buruk buat kita.. walau akan kalah.. banyak mimpi buruk yang ku baca dalam sejarah,” kata Minho.
Setiap malam, dia yang awalnya merasa tidak agamis, menjadi selalu berdoa agar ketakutannya tentang pengiriman para perempuan korea menjadi wanita penghibur paksa tidak terjadi sebelum dia berhasil membawa Sungmi ke dunianya.

Malam itu, dia berpikir keras.. apakah dia akan menulis hal ekstrim mengenai posisi perempuan dalam dunia penjajahan...ataukah dia akan mengundurkan itu?? Sebab bisa saja tulisannya itu menjadi senjata untuk gereja ini.
”kalau aku tidak bisa berpikir jernih.. semua bisa celaka.”
Minho membuka jendela kamarnya, memandang langit.
”Sedang apa Appa dan Eomma di 2013 sana?? ”.
”Shinshi.. apa kamu cerita ke mereka soal kemana aku??”.
                                                -------------------------------
Shinshi membuka kembali buku catatan Korea sebelum kemerdekaan yang berasal dari ibu neneknya.
”Hebat sekali lelaki yang namanya sama dengan Oppa ini.. hanya, dia tidak terlalu terkenal,”
”McWright mempunyai keponakan, yang dia seorang mahasiswa, namun menulis setiap hari tentang perlunya pendidikan tinggi bagi rakyat korea, agar mereka tidak buta pendidikan dan teknologi. Aku menganggap ini adalah sebuah pertentangan yang tidak ingin jepang tahu. Aku suka dengan pikiran Oppa ini...walau dia sepertinya tidak murni orang korea, karena rambutnya yang berwarna cokelat dan tubuhnya tinggi sekali... saat kami bersama bicara di depan rumah ibadah, rasanya dia hidup dari masa depan... yang kami tidak tahu, kenapa pandangan pemikiran dan pembicaraannya terkesan bisa menyemangati pemuda disini...”.
Shinshi termenung dengan diary/catatan harian mendiang neneknya itu.
”Lantas... kami juga bicara tentang perasaan kekhawatiran sosial soal wanita penghibur... kami tidak ingin para wanita korea jadi korban nafsu... kami ketakutan.. begitu pula dia”.
Shinshi bergumam.
”Dan.. aku merasa sangat terkesan ketika dia bicara di depanku... tapi..sepertinya adikku menyukainya.. dan dia pun suka adikku..”
Shinshi jadi tersenyum,” ah..sepertinya mendiang ibunya nenek jatuh cinta dengan lelaki blasteran ini..”.
Dia malah jadi membayangkan bagaimana kisah cinta mendiang buyutnya itu.
Dia belum membuka lembar berikutnya, karena kertas itu sudah lusuh. Dia berusaha menutup buku itu dengan baik, agar lembarnya tidak robek, karena dia sudah merasa mengantuk. Mendiang buyutnya menulis diary itu dalam keterbatasan waktu, karena ketika Shinshi mendengar cerita dari nenek dan juga kedua orangtuanya, kalau penjajahan itu sangat mengerikan, banyak rakyat korea yang dibunuh, lelaki dipaksa untuk bekerja diluar korea, menjadi tentara atau kerja paksa, banyak yang meninggal dan tidak tahu kemana rimbanya, mereka hilang tidak kembali lagi. Sedangkan yang perempuan banyak yang dipaksa menanam hasil pertanian, atau dijadikan budak seks, bahkan ada yang dibunuh jika kabur dari perbudakan itu. Sungguh dia merasa, kalau dia hidup dijaman itu, pastinya tidak akan kuat mengalaminya.
”Aku jadi membayangkan.. Minho McWright itu seperti apa.. kenapa aku membayangkan.. dia itu Oppa Minho banget??,” kata Shinshi, sambil menopang dagu.
”Ah.. buyutku ternyata jatuh cinta dengan blasteran Inggeris-Korea.. pasti romantis banget mungkin jaman itu, hehe,”
Dia malah jadi membayangkan hal-hal romantis percintaan jaman dahulu. Namun, lagi-lagi pikirannya malah jadi membayangkan Minho.
Ditengah lamunannya itu, dia kembali sadar dan membuka pelan-pelan lagi buku lusuh itu.
”1911... Juni 1911...”, katanya dengan takjub..


Bersambung ke part viii...