Cerita ini hanya fiksi imajinasi belaka... Nama, tempat, semuanya cuma
khayalan aja..Kalau masih serius juga.. tanggung sendiri deh.. 18+...
“Jadi.. Kalian berdua tinggal di negeri
Joseon??,” Tanya Yu YongIe.
Minho menunduk hormat padanya, mengiyakan.
Ternyata Zhu berasal dari kelompok Lotus putih
yang merupakan musuh dari Angsa merah, kelompok yang dibentuk oleh YongIe.
Minho jadi berpikir, kenapa ada banyak
kelompok yang ingin menguasai Ming?? YongIe menjawab kalau tujuan dia jelas
berbeda dengan Zhu lotus putih itu. Walau mereka orang yang termasuk beragama,
ternyata sama saja: ingin memberontak dari pemerintah agar bisa menduduki
wilayah sendiri yang sejatinya milik leluhur mereka.
”Kami seperti tuan tanah yang tidak
memiliki hak tanah lagi,” kata YongIe.
Minho
berpikir, baginya tidak mungkin seorang lelaki setengah baya mendadak bercerita
tentang masalah wilayahnya kepada orang asing seperti dirinya dan juga Sim.
Soal berontak memberontak semestinya menjadi rahasia.
Lantas, Minho bersandiwara, apakah dia
mengenal Tuan Lim seorang Joseon yang terkenal ahli dagang, karena lelaki paruh
baya ini fasih berbahasa Joseon. Minho berbohong pada lelaki itu, kalau dia
mengenal Lim di perjalanan dari sungai Yalu.
YongIe ternyata memang pernah mengenali
Lim. Dia dan Lim pernah
bicara tentang masa depan perbatasan.
“Kami, Manchuria, hanya akan berdiri
sendiri tanpa Ming atau Joseon,” kata YongIe, tegas.
Minho tersenyum basa-basi. Di perbatasan
ternyata memang runcing. Raja sendiri pernah bicara padanya yang sepertinya
bernafsu ingin kembali meluaskan kekuasaannya seperti di jaman Balhae atau
Goryeo, dimana Jurchena alias Manchuria juga menjadi kekuasaan mereka, bahkan
melebihi daerah yang tidak terbayang oleh mereka. Di masa Joseon ini, wilayah
kekuasaan mereka semakin sempit dan Ming seperti berusaha untuk memasukkan
Jurchen ke dalam wilayah mereka.
Tapi, kalau sudah begini... apakah akan
menjadi hal mudah... ketika justru pemberontakan di wakili oleh pemilik tanah??
Yang sudah-sudah terjadi, malah penduduk
setempat bisa saja mendukung mereka dan jadilah kekuasaan baru.
Sikap pemerintahan Ming sendiri sebenarnya
sudah cukup bagus dengan membangun daerah perbatasan lebih baik dari sisi sarana
dan prasarana dibandingkan daerah dalam, agar mereka tidak berniat memberontak.
Terlebih lagi, daerah perbatasan memang rawan terjadi konflik sosial. Namun,
tidak semudah itu. Rasa kesukuan bisa timbul menjadi sebuah pemberontakan, atau
ketidakpuasan akan selalu tetap ada. Wilayah Ming yang luas dan masa lalu
pemerintahan juga bisa menjadi sumber konflik.
YongIe tidak banyak bicara soal daerahnya.
“Sebenarnya.. tujuan Tuan Lee ini kemana??,” tanya YongIe.
Minho jelas mengelak, jangan sampai ada
yang tahu bahwa dia adalah suruhan Raja Joseon.
”Aku dan temanku ini.. kami akan mengunjungi saudara di Nan
Jing,” balas Minho dengan ramah.
Sim mengangguk-angguk saja, mengiyakan.
”Tapi.. ilmu beladiri dan ilmu pedang Tuan
Lee sangat hebat,” puji XiaoQi.
Minho hanya tersenyum dengan pujian itu. Dia
menjawab basa basi kalau dia tidak seberapa dibandingkan dengan kepandaian
XiaoQi.
”Saya bisa pastikan kalau Nona mungkin
sedari kecil memang sudah sangat giat berlatih bela diri... terlihat dari cara
Nona bertarung kemarin dengan ilmu pedang Nona.”
XiaoQi memang termasuk lumayan hebat dari
segi ilmu pedang. Keluarga besar Yu memiliki ilmu pedang turun menurun selain
sebagai pemilik tanah, juga sebagai penjaga wilayah.
Minho memperkirakan kekuatan keluarga Yu
dan juga penduduk yang berada dibawah kekuasannya, dapat untuk memberontak dan
akan cukup membuat repot Ming. Wilayahnya juga luas, hampir menduduki sebuah
pegunungan. Belum lagi, kalau dilihat, wilayah itu tidak hanya terlihat dari
padang safanah rumput saja yang dapat dijadikan sebagai lahan ternak, namun
juga ada ratusan hektar lahan yang dipakai untuk pertanian. Tentu saja, Ming pasti bernafsu dan begitu
pula dengan Joseon. Dan pantas pula jika Yu YongIe begitu dihormati di tanah
itu.
“Apa yang pernah disampaikan Yang Mulia
Raja memang benar.. daerah
ini subur dan pantas untuk dimiliki Joseon,” kata hatinya Minho.
Lantas dia berbasa basi kalau daerah itu
memang sangat subur, sangat berpotensi banyak dan bisa memperkaya banyak orang.
”Mungkin itu sebabnya, baik Ming dan
Joseon menginginkannya,” kata Minho.
YongIe tidak lantas curiga dengan
pembicaraan itu, dan ketika dia bertanya, siapa sanak saudara Minho yang berada
di Nan Jing, dia menjawab posisi saudaranya itu hanya seorang pedagang di
pinggiran sungai Nan Jing yang biasa digunakan untuk wisata. YongIe memang
tahu, daerah itu ada banyak daerah wisata, terutama daerah pinggiran sungai
yang begitu indah, lengkap dengan para pedagangnya yang berasal dari wilayah
manapun.
”Sepupu saya itu sangat dirindukan
keluarganya.. dia terpisah dengan keluarga di Joseon..dan sekarang adiknya akan
menikah.. jadi..saya harus menyampaikan berita bahagia ini,” kata Minho,
berbohong.
Sim hanya ikut saja alur pembicaraan
mereka, dia tahu Jendralnya itu berbohong. Minho dan Sim berpikir, semua yang sedang
berada di hadapan mereka belum diketahui perannya bagi Joseon atau Ming. Tidak
akan pernah boleh membuka identitas atau cerita untuk orang yang baru mereka
kenal.
”Memang ada banyak juga orang Joseon yang
berada di Nan Jing,” kata YongIe.
”dan mereka menjadi pedagang,” lanjutnya.
Minho mengangguk. Lantas dia bercerita
sedikit bagaimana pentingnya keluarga dalam tataran budaya Joseon sehingga dia
dan Sim, yang dia anggap sebagai temannya, rela pergi jauh ke negeri orang,
demi menyusul saudaranya itu.
YongIe tidak begitu saja percaya,
mengingat cerita sebelumnya dari anaknya sendiri yang curiga dengan Minho,
kalau lelaki ini bukan orang biasa. Terbukti dia bisa berhadapan dengan Zhu
yang dalam dunia bela diri bukan lelaki sembarangan yang mudah sekali dikalahkan,
apalagi, mereka baru terlihat sekali bertemu. Anak perempuannya itu sebelumnya
bercerita, kalau dia mendengar sekilas kalau Minho ini seorang Jendral negeri
Joseon, dari teriakan Zhu dalam bahasa mereka.
YongIe berbasa basi sambil menyelidik, apakah
di Nan Jing, Minho akan melakukan kunjungan lain karena kota itu sangat terkenal dengan kemajuan teknologinya
saat itu. Kota yang sudah maju dari banyak sisi kehidupan. Seperti yang sudah
YongIe duga, jawaban Minho kembali ke semula, dia hanya ingin menjenguk satu
dari keluarganya yang mengaku pedagang kaya di Nan Jing.
YongIe hanya berbasa-basi, bahwa memang
ada beberapa orang Joseon yang dia kenal memiliki nasib baik menjadi saudagar
kaya dinegeri Ming. Mereka masih terus bicara tentang perkembangan dunia,
filosofi dan bela diri.
XiaoQi masih memperhatikan Minho dari
kejauhan. Sementara pesta, saling bercerita dan minum masih berlangsung
diantara mereka.
------------------------
Malam itu, Minho tidak banyak bicara
dengan Sim. Biasanya kalau sudah begitu, Sim juga berusaha menyadari, bahwa
mereka tidak perlu mengumbar banyak pembicaraan yang bisa membuka rahasia diri
mereka. Dia hanya berkata pada Sim, ingin membeli kuda untuk mereka berdua,
karena tidak tahu lagi kemana kendaraan mereka setelah kasus dengan Zhu. Sim
paham dengan kode yang disampaikan Minho. Mereka belum mengenal orang-orang
itu, jadi tidak perlu banyak membuka suara.
Malam itu, mereka makan bersama-sama
dengan api unggun, membakar daging hewan-hewan hasil buruan di hutan dekat lingkungan
mereka tinggal. Beberapa perempuan desa malah bernyanyi tarian tradisional
wilayah itu. Sim sangat senang dan dia bertepuk-tepuk tangan, ikut bernyanyi dan
menari dengan bahasa yang dimengertinya itu.
”Ayo lanjutttt!!!,”” katanya teriak-teriak
senang sambil minum arak.
Minho hanya bertepuk tangan dan melihat
anak buahnya itu menari-nari senang bersama dengan para perempuan di pinggiran
api unggun itu. Dia memang bukan tipe lelaki yang terlalu gampang pesta.
XiaoQi memperhatikan Minho dalam-dalam, tanpa
lelaki itu sadari. Tanpa dia sadari pula, beberapa lelaki senyum-senyum dengan
tingkahlaku anak tuan tanah mereka itu.
”Sepertinya Nona XiaoQi senang dengan
orang asing yang tinggi itu,” bisik seorang lelaki, tentu saja yang dimaksud
adalah Minho.
”Tuan Lee maksudmu?? Tapi... bukannya Nona
XiaoQi mudah menolong orang??,” bisik yang satu lagi.
Semua lelaki di lingkaran itu mengangguk.
” Ah.. tapi masak iya... Nona XiaoQi
segitu mudahnya jatuh cinta sih?? Dengan yang lain enggak begitu deh,” bisik
yang lain.
”Mana aku tahu,” timpal yang lain.
XiaoQi memang dilihat beberapa kali
seperti mencuri pandang pada Minho. YongIe memang membiarkan Minho dan Sim
tinggal malam itu di kediamannya, dan memang Minho belum mempersiapkan diri,
dan ternyata dia dan Sim sudah dibawa jauh dari Fengtian menuju Heilongjiang
oleh Zhu dan gerombolannya, sangat jauh, membutuhkan berkuda 2 hari lebih.
XiaoQi menghampiri Minho, lalu duduk di
sebelahnya. Mereka duduk diatas tanah.
XiaoQi menyapanya dengan ramah.
”Kehidupan kami memang seperti ini..
begitu tenangnya,” kata perempuan itu pada Minho, berbasa-basi.
Minho juga membalas basa basi perempuan
itu dengan berkata, kalau sebenarnya dibeberapa daerah dia pun sama saja,
kebersamaan sangat diutamakan untuk pertahanan wilayah.
Minho jadi berpikir, kenapa kelompok ini
juga mau melepaskan diri dari Ming: Apa Ming terlalu buruk dimata mereka? Dia
hanya pernah mendengar, kalau perbatasan banyak sekali ego masing-masing
semacam tuan tanah yang mereka banyak mendapatkan dukungan dari penduduk
wilayahnya sendiri.
”Sejak kapan disini ada konflik?,” tanya
Minho, santai.
”Tidak ada konflik.... yang kami inginkan
hanya Ming tidak ketat dalam mengatur wilayah, yang diperlakukan berbeda dengan
wilayah terdekatnya,” balas XiaoQi, santai.
”Mungkin kamu akan melihatnya nanti,”
lanjutnya.
”Nan Jing.. perjalananku masih jauh,
hehe,” canda Minho. Dia tidak ingin menceritakan soal kota itu. Waktunya sudah
sangat terlambat untuk menemui Raja Ming.
Dia lalu bertanya pada perempuan itu,
kenapa bermusuhan dengan Zhu. Apakah diantara para tuan tanah memang ada
peperangan? Sementara, Ming terlihat sudah sangat aman. XiaoQi seperti
menyembunyikan apa yang dipikirkannya. Minho hanya bisa meraba, kemana arah
pembicaraan yang justru sudah menyinggung perpolitikan dua kerajaan besar.
Minho hanya bisa tertawa mendengar apa
yang diucapkan oleh XiaoQi yang mengira dirinya adalah seorang pembesar
kerajaan Joseon. Minho menutupi semuanya. Dia pikir, penyamaran dia sukses
karena sama sekali tidak memakai atribut kerajaan, dan cap pangkatnya dia
sembunyikan di saku paling dalam. Pedang yang biasa dia bawa pun seperti tidak menandakan milik seorang
pembesar kerajaan.
”Ternyata Tuan Lee bisa bercanda juga,
hehe,” gurau XiaoQi dengan ramah.
”Umm.. mungkin kalian memang sangat
ramah...dan sudah menyelamatkan aku dan temanku,” jawab Minho dengan ramah
pula.
XiaoQi tersenyum pada Minho dengan
manisnya. Minho masih curiga dengannya walau ada kebaikan yang sudah mereka
tonjolkan.
”Kalau nanti setibanya di Nan Jing..
jangan lupa makan bebek panggang yang enak milik tuan Yang, di pinggiran sungai
kuning... semua orang tahu kedainya,”
Minho tertawa saja, dia bilang, tidak
menyukai bebek karena aromanya yang menurutnya tidak enak.
”Bebek itu lambang makanan enak,” kata
XiaoQi yang juga tertawa.
”Agak mengherankan juga untukku.. walau
Tuan Lee bilang, akan mengunjungi keluarga.. kadang untuk perjalanan yang jauh
sekali.. terasa mustahil.”
Minho mengatakan kalau dia memang baru
pertama kali menuju Nan Jing. Perjalanan ini memang melelahkan dan berharap dia
bisa kembali selamat ke Joseon secepatnya dari Nan Jing.
XiaoQi dari awal mengira, bahwa Minho
bukan orang biasa. Pasti
Minho memiliki sesuatu dan juga tujuan ke kota itu.
”Sampaikan salam kami dari keluarga Yu
kepada Tuan Yang si penjual bebek panggang,” kata XiaoQi.
Malam semakin larut, api unggun sudah
semakin padam. Satu persatu para warga yang ikut acara malam itu pun pulang ke
kediamannya masing-masing.
Minho juga berdiri, menunduk hormat dan
meminta ijin kepada XiaoQi untuk masuk ruangannya, dia sudah merasa lelah.
Sim yang melihat
Minho undur diri, ikut pula mengakhiri senang-senangnya itu bersama yang lain. Mereka
undur diri, masuk ke dalam ruangan yang sudah disediakan.
”Jendral.. kita disini.. sampai besok saja
kan?? Perjalanan kita masih jauh,” suara Sim sangat kecil untuk menjaga, agar
orang lain tidak sibuk mengintip mereka.
Minho mengangguk, tidak banyak bicara,
rasa curiganya masih terkesan tinggi pada orang yang menolong mereka. Namun, dia lekas membaringkan badan dan
mencoba tidur. Sim juga akhirnya tertidur.
Minho sebenarnya tidak tidur. Ketika
dilihatnya Sim sudah tidur, dia malah bangun dan menyempatkan membuka kotak
kecil yang dia bawa, berisi gulungan kertas dan tinta untuk menulis
perkembangan terakhir yang dialaminya. Pikirannya tertuju kepada istana dan
juga keluarga kecilnya.
”Kalau nanti waktuku disini semakin
panjang, mungkin Yang Mulia akan berusaha mengirimkan utusannya lagi. Berharap, besok bisa mencari kuda lalu
meneruskan perjalanan lagi ke Nan Jing. Waktu nya semakin dekat,” katanya dalam
tulisan.
Dia lalu menulis tentang hari ini soal Yu
YongIe, tuan tanah kelompok angsa merah dan juga keadaan daerah ini. Ketika
mungkin dia dan Sim akan sampai di Nan Jing dan bertemu Raja Ming, dia mungkin
saja tidak ingin menceritakan tentang kelompok ini karena sudah menolongnya.
Hanya dia berpikir lain, apakah hal ini juga bisa terjadi kepada Joseon suatu
hari nanti jika para tuan tanah tidak puas dengan banyak keputusan Raja? Tuan
tanah juga memiliki tempat baik dalam posisi sosial di Joseon, seperti seorang
bangsawan.
Di tanah kekuasaan YongIe, dia belum
bertemu dengan seorang Joseon pun, sehingga pikirannya jauh dan positif, tidak
mungkin ditanah yang jaraknya ratusan kilometer dari perbatasan Joseon dan Ming,
akan ada perebutan wilayah Ming ke Joseon. Dia terus saja menulis dan ketika
selesai, dia renungi lagi.
”Dalam dua-tiga hari ke depan.. aku harus
tiba sampai Nan Jing... rasanya begitu kangen dengan keluarga ku”.
Pikirannya tertuju pada Taeyoung. Sudah
seminggu lebih dia meninggalkan isterinya itu dan dia belum mendapatkan surat
balasan. Para mata-mata kerajaan mungkin saja sudah mengirimkan surat, namun
karena dia dan Sim berada di wilayah yang tidak terpikirkan oleh mereka, semuanya
terkesan mundur. Dia sangat berharap, Joseon akan mencarinya begitu berita
terakhir dia kabarkan kecurigaan investigasi terhadap Pejabat Geum.
Antara yakin dan sedikit cemas, dia
memikirkan Taeyoung. Lagi-lagi pikirannya tertuju dengan peristiwa terakhir
sebelum mereka menikah lagi ala Joseon.
”Pejabat Geum.. Geum Hee Kyung.. apa ada
hubungannya dengan kamu??,” mendadak dia bergumam seperti itu.
Akan terasa sulit baginya jika semua pada
akhirnya benar bahwa keluarga pejabat Geum berkhianat pada kerajaan. Dia tidak
ingin menjadi seseorang yang kembali ikut dalam mengeksekusi orang-orang yang
dikenalnya baik, apalagi dengan Hee Kyung.
Dia diam sebentar, lalu mematikan lampu.
Ruangan menjadi gelap.
-------------------------------------------------
”Apakah menurutmu.. aku sebaiknya pergi
menyusul dan mencari Jendral Lee??,” tanya Taeyoung pada Han Hye.
Minho sudah tidak diketahui lagi rimbanya
di wilayah Ming. Namun
begitu, beberapa mata-mata tetap disebar dan bertugas mencarinya. Raja berharap
bisa menemukan sepupunya itu dalam keadaan hidup, karena waktu yang telah
disepakati sedikit lagi akan selesai.
“Belum ada kabar sama sekali kan.. apakah
suamiku selamat atau tidak??,” tatap Taeyoung, serius pada Han Hye.
“Nyonya tidak dapat bertindak gegabah
begitu saja.. Yang Mulia tidak memerintahkan siapapun pergi mencari Jendral Lee
kecuali kepada orang-orang yang sudah beliau perintahkan,” balas Han Hye.
Taeyoung rasanya gemas sekali dengan
peristiwa ini. Tidak hanya itu, kekhawatirannya dia rasakan sebagai seseorang
yang menjadi kunoichi (ninja perempuan) tentu saja hanya untuk berangkat hampir
dua minggu terasa sangat lambat untuk sampai tempat yang dituju.
Dia berjalan bolak-balik berpikir, apakah
perlu untuk segera pergi?? Lebih baik dia menyusul, walau ada satu resiko:
tidak bertemu di titik manapun. Semuanya tergantung pada keputusan Raja.
”Apa kamu belum mendapatkan informasi..
kalau Yang Mulia Raja akan memanggil Pejabat Geum dan keluarganya itu??”.
Han Hye hanya menggeleng.
Taeyoung bergumam,” Sepertinya... aku
harus segera menyusul ke Nan Jing... surat terakhir bahwa urusan di Liao Ning
sudah selesai dan langsung menuju Nan Jing, benar-benar membuatku khawatir, Han
Hye.. jadi.. jika Yang Mulia Raja tidak bertindak cepat.. aku akan pergi
mencari.. dan meminta pertolongan kepada orangtuaku untuk mengirim beberapa
samurai mendampingiku sampai Nan Jing,”
Han Hye tidak ingin isteri tuannya itu
celaka. Bagaimanapun, tidak mudah bagi wanita hamil ingin pergi jauh untuk
mencari kepastian bagi pasangannya.
”Lebih baik, kita tunggu saja Jendral Lee,
Nyonya.. aku tidak ingin Nyonya celaka”.
Tidak berapa lama, beberapa pengawal
kerajaan datang ke rumah Minho. Raja meminta bertemu mereka dan mereka pun pergi menuju istana, ke ruang
pertemuan.
Dalam ruangan yang cukup besar itu telah
hadir Raja beserta isteri dan seorang pencatat administrasi. Taeyoung dan Han Hye langsung memberikan
penghormatan ketika sampai di hadapan Raja.
Raja menerima penghormatan mereka. Tidak
berapa lama, dari ujung pintu pertemuan, ada tiga orang datang.
Taeyoung mengingat kembali wajah salah
satu dari mereka.. itulah wajah Geum Hee Kyung.. ternyata, dia datang ke
istana, dipanggil untuk membicarakan soal Minho dan beberapa mata-mata yang
ternyata tidak jelas rimbanya.
”Sembah kami kepada Yang Mulia Raja,” kata
pejabat Geum.
Seorang perwira dan Geun Hee Kyung
mengikuti pejabat Geum, menghormati Raja.
Mereka lalu menegakkan punggung nya
setelah diperintahkan bangun oleh Raja. Hee Kyung melirik pada Taeyoung, dengan
tatapan yang sedikit tidak suka.
”Mendengar Jendral Lee belum bisa
ditemukan bersama pengawal setianya dan juga beberapa mata-mata yang kami tidak
tahu rimbanya.. apakah Pejabat Geum memiliki keterangan lain?,” tanya Jeong
Seok.
Hee Kyung menunduk hormat kepada Raja,” Maaf Yang Mulia
Raja, Ayahanda kami sama sekali tidak dilibatkan oleh Jendral Kwon.”
”Tidak mungkin Jendral Kwon mengingkari
tugas yang telah diberikannya,” kata Sang Raja.
Taeyoung segera berdiri di tengah-tengah
antara Raja di depannya dan mereka semua yang diundang disamping kiri dan
kanan, lalu menunduk hormat.
”Mohon maafkan hamba, Yang Mulia.. Jendral
Kwon sama sekali tidak melibatkan ayahku,” tambah Hee Kyung lagi.
Pejabat Geum langsung bersujud di hadapan Raja.
Dengan mimik yang penuh takut, dia membenarkan perkataan puterinya itu dan
berharap, sang Raja tidak menghukumnya. Namun mempertimbangkan kembali untuk
memanggil Jendral Kwon.
”Pejabat Geum pasti sudah tahu.. bahwa
Jendral Kwon sedang aku tugaskan ke luar wilayah istana.. dia sedang menghadapi
pasukan perompak dari laut kuning,” balas Sang Raja.
Taeyoung lantas berpikir..apakah Jendral
Kwon sedang menyerang Zhang Yue ... bajak laut wanita yang pernah
diceritakannya kepada Raja? Ternyata, jawaban Raja memang iya. Sehingga,
kecurigaan Raja terhadap pejabat Geum sirna sudah.
Namun, Taeyoung berpikir tetap mencurigai
pejabat Geum itu.
”Aku percaya.. bahwa kamu memang perjabat
yang setua dan berdedikasi tinggi,” kata Raja,mendekati Pejabat Geum.
Hee Kyung dan Geum serta beberapa
pengikutnya langsung bersujud, berterima kasih karena Raja telah memberikan
kebaikan hati kepada mereka, agar tidak dihukum berdasarkan keterangan yang
mereka buat sendiri. Tak berapa lama, ada seorang pengawal kerajaan memasuki
ruang pertemuan itu.
”Maaf Yang Mulia Raja... mata-mata Jendral
Kwon, Song Ki Ho, diberitakan dibunuh orang tidak dikenal,” kata pengawal itu,
menunduk hormat.
Jeong begitu kaget, mereka baru saja
membicarakan salah satu jendral muda nya, tapi malah mendapatkan berita buruk.
”Tidak ada sama sekali tanda
penganiayaan.. sepertinya dia diracun, Yang Mulia Raja,” jawab pengawal itu.
Taeyoung jadi lebih khawatir, hal itu
jelas akan memperpanjang konflik , jika memang benar, Kwon bermaksud menjahati
suaminya.
Taeyoung dengan tergesa lantas menunduk
hormat kepada Raja,” Mohon maaf, Yang Mulia..sekiranya hamba dapat mengajukan
pertanyaan... siapa di kerajaan ini yang bisa menentukan apakah seseorang
diracun atau tidak???,”
Jeong tersenyum, dan menjawab, kalau orang
itu ada di ruangan ini. Dia lalu menunjuk pada Geum Hee Kyung.
”Dia???,” tanya hatinya Taeyoung.
Bagaimanapun, dia masih memiliki rasa cemburu, takut Hee Kyung akan merebut
Minho dari tangannya. Terlebih lagi, jika perempuan itu akan dilibatkan di
kasus ini. Namun, sepertinya Raja Jeong memang tidak tahu hubungan sebelumnya
antara Minho dan Hee Kyung.
”Maka aku perintahkan puterimu, Pejabat
Geum, untuk bisa menyelidiki kasus kematian Song Ki Ho,” perintah Raja.
”Apa-apaan Raja Jeong?? Apa tidak ada
orang lain yang lebih pintar dari dia??,” sifat kekana-kanakan Taeyoung muncul
lagi walau hanya disuarakan dalam hati.
Pejabat Geum setuju saja akan hal itu,
malah senang puterinya bisa berguna bagi kerajaan.
”Mungkin Nyonya Lee belum tahu... kalau
puteri Pejabat Geum ini ahli dalam penentuan racun dan juga penyelidikan,” Raja
Jeong malah memuji.
Tentu saja Taeyoung mesti berbasa-basi
dengan hal ini, padahal hatinya gundah gulana total. Raja pastinya sudah tidak
ingin mengetahui lagi apapun tentang masa lalu sepupunya itu sendiri terhadap
perempuan yang sedang berdiri disampingnya.
” Tentunya Yang Mulia Raja memiliki
pertimbangan sendiri... yang hamba tidak bisa melakukannya...,” balas Taeyoung,
merendah.
Dalam hatinya memang dia berfikir.. kemana
Minho?? Apakah hanya sekedar kesulitan menghadapi orang di perjalanan, atau
bahkan hilang tak tahu rimbanya??
”Tentang Song Ki Ho.. Maaf Yang Mulia
Raja... Prajurit bawahan Jendral Kwon ini... meninggal diracun,” kata Hee
Kyung.
Raja hanya bergumam. Permainan sepertinya
sudah dimulai, menghantui para Jendral Muda dibawah kekuasaannya. Kwon Seung Hun
sedang ditugaskan menjaga perairan laut kuning, yang juga belum mendapatkan
laporan.
” Song Ki Ho...dibunuh seseorang dengan
racun batu hitam yang dicampurkan dengan bumbu masakan,” kata Hee Kyung sambil
menunduk hormat.
”Apa? Bagaimana bisa??? Racun batu hitam
itu.. ,” kata Jeong Seok.
”Apa tidak berubah warnanya??,”
Geum Hee Kyung menggeleng. Dia menjelaskan
jika bubuk racun itu disatukan dengan bawang, maka aroma dan rasanya jadi
mengikuti bawang putih itu.
Jeong Seok dan semuanya yang di ruangan itu
mendengarkan penjelasan perempuan itu.
”Tentunya, jika sudah menyatu dengan
bawang, dia akan berubah menjadi warna putih kekuningan, dan aroma nya pun
sama.. Tuan Song tidak merasakan ada keanehan aroma,” kata Hee Kyung lagi.
”Racun ini sepertinya takarannya tinggi...
karena bawang sendiri sedikit bisa menetralkannya,”
”Bubuk hitam ini.. ketika dia bercampur
dengan bawang, bawang hanya akan sedikit berwarna kekuningan saja, Yang Mulia
Raja... dan aroma bawang tidak banyak terpengaruh,” kata Hee Kyung lagi.
”Melihat tubuh Song Ki Ho dibeberapa
tempat yang menghitam atau biru tua.. hamba yakin, dia diracun bubuk hitam
itu.”
”Apa..semua ini ada hubungannya dengan
sepupuku??,” tanya Jeong Seok. Begitu juga dengan Taeyoung, yang mempertanyakan
kasus ini dalam hati, apakah ini semua ada hubungannya dengan hilangnya Minho.
”Hamba belum menyelidiki sampai sejauh
itu,” balas Hee Kyung.
Lalu Taeyoung meminta ijin memotong dan
mengungkapkan pikirannya.
” Maaf Yang Mulia Raja.. Song Ki Ho
sendiri tinggal diseputar istana ini.. hamba hanya berfikir, boleh jadi.. Yang Mulia Raja juga diincar ... mulai
dari kasus belum kembalinya Jendral Lee.. membuat hamba berpikir... Kerajaan
sudah tersusupi.”
“Aku bisa melihat itu... akan kuputuskan
siapa siapa yang akan berkerja denganku dalam hal ini,” jawab Jeong Seok dengan
cepat.
Hee Kyung lantas juga cepat memotong
pembicaraan. Dia berjanji pada Raja akan mengurus ini segera, membantu Raja
mencari tahu, siapa yang membunuh mata-mata Jendral Kwon itu.
Raja setuju dengan keputusan itu semua. Pertemuan
bubar, dia tidak ingin bicara dengan siapapun lagi kecuali berpikir keras untuk
rencana selanjutnya.
Di lorong istana, Taeyoung berjalan
bersama Han Hye.
”Menurutmu.. apakah suamiku akan segera
kembali?? Kekhawatiranku semakin menjadi.. apakah Song Ki Ho itu.. sama dengan
mu terhadap suamiku??,”
Han Hye mengangguk. Song Ki Ho mungkin
setara dengan Sim Hwang dan dirinya, yang memang menjadi mata-mata pribadi.
”Tapi..mengapa pembunuh itu mengincar
dia?? Jendral Kwon sendiri...tidak terlibat langsung dalam perjalanan ke
kerajaan Ming, bukan??,” tanya Taeyoung.
Han Hye berpikir. Memang akhirnya Raja
memutuskan tidak melibatkan Kwon dalam hal itu. Mereka tetap berjalan diantara
lorong, menuju luar istana.
Namun... mendadak Han Hye berhenti..
Taeyoung menoleh padanya.
”Ada apa??,” tanya Taeyoung, heran.
Han Hye menunduk hormat pada tuannya.
”Maafkan aku, Nyonya... Song Ki
Ho..sebenarnya pernah mengantarkan surat Jendral Lee untuk Nyonya... aku
benar-benar lupa,” balas Han Hye.
Taeyoung diam sejenak.
”Jadi.. menurutmu... siapa saja yang
berhubungan dengan Jendral Lee... akan mati??? Walau dia sendiri bukan prajurit
didikan suamiku???.”
Han Hye mengangguk,” mungkin.”
Taeyoung diam sejenak.
Sementara, ternyata di lorong lain menuju
lorong yang dilewati Taeyoung dan Han Hye, berjalanlah Hee Kyung dengan dua
orang pengawal wanita nya.
Taeyoung menunduk hormat sedikit, ketika
mereka bertemu. Hee Kyung pun membalas.
”Agak sedikit heran..mengapa sepertinya
Kerajaan terusik setelah peristiwa Joseon bekerja sama dengan Ashikaga
terjadi,” senyum Hee Kyung, agak dingin dan tipis.
Taeyoung diam, lalu ,” Aku sendiri tidak
tahu... mungkin saja tidak berhubungan dengan Jendral Lee.. memang posisi Raja
rentan sekali untuk digulingkan.. walau Jendral Lee bukan sepupunya
sekalipun... tidak perlu sebenarnya menghancurkan keluarga Lee.”
Hee Kyung tertawa kecil. Dia lalu minta
maaf, karena menurutnya, mungkin itu hanya perasaan sensitifnya saja dengan
masa lalu.
”Aku memaafkan,” balas Taeyoung, dengan
sedikit senyum.
”Aku menyadari.. bahwa aku telah merebut
Jendral Lee dari tanganmu, Nona Geum.. tapi itu bukan mauku.. suka tidak suka..
jika memang keluarga suamiku akan dihancurkan.. aku sendiri juga akan turun
tangan.. sebagai bagian dari Joseon...”.
”Bagi kami... orang Tsushima, jika seorang
perempuan sudah menjadi seorang isteri.. maka dia mengikuti jalan suaminya...”
Taeyoung lalu menunduk hormat, sebagai
penghormatan dirinya atas Minho dan juga kerajaan.
”Aku mengerti,” balas Hee Kyung.
Lalu dia pun pergi, tetap didampingi oleh
kedua pengawal wanita nya.
”Aku minta maaf, Geum Hee Kyung... telah
mengambil Minho dari tanganmu... itu bukan mauku.. aku pun masih berusaha
mencintainya... walau Ryuhei masih ada di benakku,” kata Taeyoung dalam
hatinya, memandang Hee Kyung yang terus berjalan menjauhi dia dan Han Hye,
sambil mengusap perutnya. Dia sedikit melamun, terus memandang sosok Hee Kyung
sampai menghilang dibelokan lorong selanjutnya.
Han Hye membuyarkan lamunannya,” Apa
Nyonya sakit perut??,”
Tae Young menoleh pada Han Hye dan tertawa
kecil,” Ah tidak... Bayi ku dan Jendral Lee mungkin lelah.. masakan mu terlalu
enak untuk tidak aku makan, Han Hye.. aku mau makanan ringan yang kamu buat
kemarin sore, hehe.. ”.
Han Hye membuatkannya buah dengan gula
manis sehingga bentuknya menyerupai syrup yang dicampur dengan tepung beras.
”Harap Nyonya tidak terlalu memasukkan
perkataan Nona Geum ke dalam hati,” kata Han Hye.
”Tidak, Han Hye.. tapi Geum Hee Kyung
benar.. akulah yang merebut Jendral Lee dari tangannya...,”
”Sudahlah, Nyonya... mari kita pulang,”
senyum Han Hye.
Taeyoung merangkul tangan Han Hye, yang
sudah dia jadikan sahabat baiknya di negeri itu.
”Mungkin.. jika dalam beberapa hari..
Minho tidak juga kembali.. aku akan pergi mencarinya..,” kata Taeyoung dalam
hatinya...
Bersambung ke part 17...