This is me....

Sabtu, September 17, 2016

Aku Isteri Jendral Lee! (Part 16: Menyusul atau Tidak??)

Cerita ini hanya fiksi imajinasi belaka... Nama, tempat, semuanya cuma khayalan aja..Kalau masih serius juga.. tanggung sendiri deh.. 18+...

“Jadi.. Kalian berdua tinggal di negeri Joseon??,” Tanya Yu YongIe.
Minho menunduk hormat padanya, mengiyakan.
Ternyata Zhu berasal dari kelompok Lotus putih yang merupakan musuh dari Angsa merah, kelompok yang dibentuk oleh YongIe.
Minho jadi berpikir, kenapa ada banyak kelompok yang ingin menguasai Ming?? YongIe menjawab kalau tujuan dia jelas berbeda dengan Zhu lotus putih itu. Walau mereka orang yang termasuk beragama, ternyata sama saja: ingin memberontak dari pemerintah agar bisa menduduki wilayah sendiri yang sejatinya milik leluhur mereka.

”Kami seperti tuan tanah yang tidak memiliki hak tanah lagi,” kata YongIe.
 Minho berpikir, baginya tidak mungkin seorang lelaki setengah baya mendadak bercerita tentang masalah wilayahnya kepada orang asing seperti dirinya dan juga Sim. Soal berontak memberontak semestinya menjadi rahasia.
Lantas, Minho bersandiwara, apakah dia mengenal Tuan Lim seorang Joseon yang terkenal ahli dagang, karena lelaki paruh baya ini fasih berbahasa Joseon. Minho berbohong pada lelaki itu, kalau dia mengenal Lim di perjalanan dari sungai Yalu.
YongIe ternyata memang pernah mengenali Lim. Dia dan Lim pernah bicara tentang masa depan perbatasan.
“Kami, Manchuria, hanya akan berdiri sendiri tanpa Ming atau Joseon,” kata YongIe, tegas.
Minho tersenyum basa-basi. Di perbatasan ternyata memang runcing. Raja sendiri pernah bicara padanya yang sepertinya bernafsu ingin kembali meluaskan kekuasaannya seperti di jaman Balhae atau Goryeo, dimana Jurchena alias Manchuria juga menjadi kekuasaan mereka, bahkan melebihi daerah yang tidak terbayang oleh mereka. Di masa Joseon ini, wilayah kekuasaan mereka semakin sempit dan Ming seperti berusaha untuk memasukkan Jurchen ke dalam wilayah mereka.
Tapi, kalau sudah begini... apakah akan menjadi hal mudah... ketika justru pemberontakan di wakili oleh pemilik tanah??
Yang sudah-sudah terjadi, malah penduduk setempat bisa saja mendukung mereka dan jadilah kekuasaan baru.

Sikap pemerintahan Ming sendiri sebenarnya sudah cukup bagus dengan membangun daerah perbatasan lebih baik dari sisi sarana dan prasarana dibandingkan daerah dalam, agar mereka tidak berniat memberontak. Terlebih lagi, daerah perbatasan memang rawan terjadi konflik sosial. Namun, tidak semudah itu. Rasa kesukuan bisa timbul menjadi sebuah pemberontakan, atau ketidakpuasan akan selalu tetap ada. Wilayah Ming yang luas dan masa lalu pemerintahan juga bisa menjadi sumber konflik.
YongIe tidak banyak bicara soal daerahnya.
“Sebenarnya.. tujuan Tuan Lee ini kemana??,” tanya YongIe.
Minho jelas mengelak, jangan sampai ada yang tahu bahwa dia adalah suruhan Raja Joseon.
”Aku dan temanku ini.. kami akan mengunjungi saudara di Nan Jing,” balas Minho dengan ramah.
Sim mengangguk-angguk saja, mengiyakan.
”Tapi.. ilmu beladiri dan ilmu pedang Tuan Lee sangat hebat,” puji XiaoQi.
Minho hanya tersenyum dengan pujian itu. Dia menjawab basa basi kalau dia tidak seberapa dibandingkan dengan kepandaian XiaoQi.
”Saya bisa pastikan kalau Nona mungkin sedari kecil memang sudah sangat giat berlatih bela diri... terlihat dari cara Nona bertarung kemarin dengan ilmu pedang Nona.”
XiaoQi memang termasuk lumayan hebat dari segi ilmu pedang. Keluarga besar Yu memiliki ilmu pedang turun menurun selain sebagai pemilik tanah, juga sebagai penjaga wilayah.
Minho memperkirakan kekuatan keluarga Yu dan juga penduduk yang berada dibawah kekuasannya, dapat untuk memberontak dan akan cukup membuat repot Ming. Wilayahnya juga luas, hampir menduduki sebuah pegunungan. Belum lagi, kalau dilihat, wilayah itu tidak hanya terlihat dari padang safanah rumput saja yang dapat dijadikan sebagai lahan ternak, namun juga ada ratusan hektar lahan yang dipakai untuk pertanian. Tentu saja, Ming pasti bernafsu dan begitu pula dengan Joseon. Dan pantas pula jika Yu YongIe begitu dihormati di tanah itu.

“Apa yang pernah disampaikan Yang Mulia Raja memang benar.. daerah ini subur dan pantas untuk dimiliki Joseon,” kata hatinya Minho.
Lantas dia berbasa basi kalau daerah itu memang sangat subur, sangat berpotensi banyak dan bisa memperkaya banyak orang.
”Mungkin itu sebabnya, baik Ming dan Joseon menginginkannya,” kata Minho.
YongIe tidak lantas curiga dengan pembicaraan itu, dan ketika dia bertanya, siapa sanak saudara Minho yang berada di Nan Jing, dia menjawab posisi saudaranya itu hanya seorang pedagang di pinggiran sungai Nan Jing yang biasa digunakan untuk wisata. YongIe memang tahu, daerah itu ada banyak daerah wisata, terutama daerah pinggiran sungai yang begitu indah, lengkap dengan para pedagangnya yang berasal dari wilayah manapun.
”Sepupu saya itu sangat dirindukan keluarganya.. dia terpisah dengan keluarga di Joseon..dan sekarang adiknya akan menikah.. jadi..saya harus menyampaikan berita bahagia ini,” kata Minho, berbohong.
Sim hanya ikut saja alur pembicaraan mereka, dia tahu Jendralnya itu berbohong. Minho dan Sim berpikir, semua yang sedang berada di hadapan mereka belum diketahui perannya bagi Joseon atau Ming. Tidak akan pernah boleh membuka identitas atau cerita untuk orang yang baru mereka kenal.
”Memang ada banyak juga orang Joseon yang berada di Nan Jing,” kata YongIe.
”dan mereka menjadi pedagang,” lanjutnya.
Minho mengangguk. Lantas dia bercerita sedikit bagaimana pentingnya keluarga dalam tataran budaya Joseon sehingga dia dan Sim, yang dia anggap sebagai temannya, rela pergi jauh ke negeri orang, demi menyusul saudaranya itu.

YongIe tidak begitu saja percaya, mengingat cerita sebelumnya dari anaknya sendiri yang curiga dengan Minho, kalau lelaki ini bukan orang biasa. Terbukti dia bisa berhadapan dengan Zhu yang dalam dunia bela diri bukan lelaki sembarangan yang mudah sekali dikalahkan, apalagi, mereka baru terlihat sekali bertemu. Anak perempuannya itu sebelumnya bercerita, kalau dia mendengar sekilas kalau Minho ini seorang Jendral negeri Joseon, dari teriakan Zhu dalam bahasa mereka.
YongIe berbasa basi sambil menyelidik, apakah di Nan Jing, Minho akan melakukan kunjungan lain karena kota  itu sangat terkenal dengan kemajuan teknologinya saat itu. Kota yang sudah maju dari banyak sisi kehidupan. Seperti yang sudah YongIe duga, jawaban Minho kembali ke semula, dia hanya ingin menjenguk satu dari keluarganya yang mengaku pedagang kaya di Nan Jing.
YongIe hanya berbasa-basi, bahwa memang ada beberapa orang Joseon yang dia kenal memiliki nasib baik menjadi saudagar kaya dinegeri Ming. Mereka masih terus bicara tentang perkembangan dunia, filosofi dan bela diri.
XiaoQi masih memperhatikan Minho dari kejauhan. Sementara pesta, saling bercerita dan minum masih berlangsung diantara mereka.
                                                ------------------------
Malam itu, Minho tidak banyak bicara dengan Sim. Biasanya kalau sudah begitu, Sim juga berusaha menyadari, bahwa mereka tidak perlu mengumbar banyak pembicaraan yang bisa membuka rahasia diri mereka. Dia hanya berkata pada Sim, ingin membeli kuda untuk mereka berdua, karena tidak tahu lagi kemana kendaraan mereka setelah kasus dengan Zhu. Sim paham dengan kode yang disampaikan Minho. Mereka belum mengenal orang-orang itu, jadi tidak perlu banyak membuka suara.

Malam itu, mereka makan bersama-sama dengan api unggun, membakar daging hewan-hewan hasil buruan di hutan dekat lingkungan mereka tinggal. Beberapa perempuan desa malah bernyanyi tarian tradisional wilayah itu. Sim sangat senang dan dia bertepuk-tepuk tangan, ikut bernyanyi dan menari dengan bahasa yang dimengertinya itu.
”Ayo lanjutttt!!!,”” katanya teriak-teriak senang sambil minum arak.
Minho hanya bertepuk tangan dan melihat anak buahnya itu menari-nari senang bersama dengan para perempuan di pinggiran api unggun itu. Dia memang bukan tipe lelaki yang terlalu gampang pesta.
XiaoQi memperhatikan Minho dalam-dalam, tanpa lelaki itu sadari. Tanpa dia sadari pula, beberapa lelaki senyum-senyum dengan tingkahlaku anak tuan tanah mereka itu.
”Sepertinya Nona XiaoQi senang dengan orang asing yang tinggi itu,” bisik seorang lelaki, tentu saja yang dimaksud adalah Minho.
”Tuan Lee maksudmu?? Tapi... bukannya Nona XiaoQi mudah menolong orang??,” bisik yang satu lagi.
Semua lelaki di lingkaran itu mengangguk.
” Ah.. tapi masak iya... Nona XiaoQi segitu mudahnya jatuh cinta sih?? Dengan yang lain enggak begitu deh,” bisik yang lain.
”Mana aku tahu,” timpal yang lain.
XiaoQi memang dilihat beberapa kali seperti mencuri pandang pada Minho. YongIe memang membiarkan Minho dan Sim tinggal malam itu di kediamannya, dan memang Minho belum mempersiapkan diri, dan ternyata dia dan Sim sudah dibawa jauh dari Fengtian menuju Heilongjiang oleh Zhu dan gerombolannya, sangat jauh, membutuhkan berkuda 2 hari lebih.

XiaoQi menghampiri Minho, lalu duduk di sebelahnya. Mereka duduk diatas tanah.
XiaoQi menyapanya dengan ramah.
”Kehidupan kami memang seperti ini.. begitu tenangnya,” kata perempuan itu pada Minho, berbasa-basi.
Minho juga membalas basa basi perempuan itu dengan berkata, kalau sebenarnya dibeberapa daerah dia pun sama saja, kebersamaan sangat diutamakan untuk pertahanan wilayah.
Minho jadi berpikir, kenapa kelompok ini juga mau melepaskan diri dari Ming: Apa Ming terlalu buruk dimata mereka? Dia hanya pernah mendengar, kalau perbatasan banyak sekali ego masing-masing semacam tuan tanah yang mereka banyak mendapatkan dukungan dari penduduk wilayahnya sendiri.
”Sejak kapan disini ada konflik?,” tanya Minho, santai.
”Tidak ada konflik.... yang kami inginkan hanya Ming tidak ketat dalam mengatur wilayah, yang diperlakukan berbeda dengan wilayah terdekatnya,” balas XiaoQi, santai.
”Mungkin kamu akan melihatnya nanti,” lanjutnya.
”Nan Jing.. perjalananku masih jauh, hehe,” canda Minho. Dia tidak ingin menceritakan soal kota itu. Waktunya sudah sangat terlambat untuk menemui Raja Ming.
Dia lalu bertanya pada perempuan itu, kenapa bermusuhan dengan Zhu. Apakah diantara para tuan tanah memang ada peperangan? Sementara, Ming terlihat sudah sangat aman. XiaoQi seperti menyembunyikan apa yang dipikirkannya. Minho hanya bisa meraba, kemana arah pembicaraan yang justru sudah menyinggung perpolitikan dua kerajaan besar.
Minho hanya bisa tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh XiaoQi yang mengira dirinya adalah seorang pembesar kerajaan Joseon. Minho menutupi semuanya. Dia pikir, penyamaran dia sukses karena sama sekali tidak memakai atribut kerajaan, dan cap pangkatnya dia sembunyikan di saku paling dalam. Pedang yang biasa dia bawa pun seperti tidak menandakan milik seorang pembesar kerajaan.
”Ternyata Tuan Lee bisa bercanda juga, hehe,” gurau XiaoQi dengan ramah.
”Umm.. mungkin kalian memang sangat ramah...dan sudah menyelamatkan aku dan temanku,” jawab Minho dengan ramah pula.
XiaoQi tersenyum pada Minho dengan manisnya. Minho masih curiga dengannya walau ada kebaikan yang sudah mereka tonjolkan.
”Kalau nanti setibanya di Nan Jing.. jangan lupa makan bebek panggang yang enak milik tuan Yang, di pinggiran sungai kuning... semua orang tahu kedainya,”
Minho tertawa saja, dia bilang, tidak menyukai bebek karena aromanya yang menurutnya tidak enak.
”Bebek itu lambang makanan enak,” kata XiaoQi yang juga tertawa.
”Agak mengherankan juga untukku.. walau Tuan Lee bilang, akan mengunjungi keluarga.. kadang untuk perjalanan yang jauh sekali.. terasa mustahil.”
Minho mengatakan kalau dia memang baru pertama kali menuju Nan Jing. Perjalanan ini memang melelahkan dan berharap dia bisa kembali selamat ke Joseon secepatnya dari Nan Jing.
XiaoQi dari awal mengira, bahwa Minho bukan orang biasa. Pasti Minho memiliki sesuatu dan juga tujuan ke kota itu.
”Sampaikan salam kami dari keluarga Yu kepada Tuan Yang si penjual bebek panggang,” kata XiaoQi.
Malam semakin larut, api unggun sudah semakin padam. Satu persatu para warga yang ikut acara malam itu pun pulang ke kediamannya masing-masing.
Minho juga berdiri, menunduk hormat dan meminta ijin kepada XiaoQi untuk masuk ruangannya, dia sudah merasa lelah.
Sim yang melihat Minho undur diri, ikut pula mengakhiri senang-senangnya itu bersama yang lain. Mereka undur diri, masuk ke dalam ruangan yang sudah disediakan.

”Jendral.. kita disini.. sampai besok saja kan?? Perjalanan kita masih jauh,” suara Sim sangat kecil untuk menjaga, agar orang lain tidak sibuk mengintip mereka.
Minho mengangguk, tidak banyak bicara, rasa curiganya masih terkesan tinggi pada orang yang menolong mereka. Namun, dia lekas membaringkan badan dan mencoba tidur. Sim juga akhirnya tertidur.
Minho sebenarnya tidak tidur. Ketika dilihatnya Sim sudah tidur, dia malah bangun dan menyempatkan membuka kotak kecil yang dia bawa, berisi gulungan kertas dan tinta untuk menulis perkembangan terakhir yang dialaminya. Pikirannya tertuju kepada istana dan juga keluarga kecilnya.

”Kalau nanti waktuku disini semakin panjang, mungkin Yang Mulia akan berusaha mengirimkan utusannya lagi. Berharap, besok bisa mencari kuda lalu meneruskan perjalanan lagi ke Nan Jing. Waktu nya semakin dekat,” katanya dalam tulisan.
Dia lalu menulis tentang hari ini soal Yu YongIe, tuan tanah kelompok angsa merah dan juga keadaan daerah ini. Ketika mungkin dia dan Sim akan sampai di Nan Jing dan bertemu Raja Ming, dia mungkin saja tidak ingin menceritakan tentang kelompok ini karena sudah menolongnya. Hanya dia berpikir lain, apakah hal ini juga bisa terjadi kepada Joseon suatu hari nanti jika para tuan tanah tidak puas dengan banyak keputusan Raja? Tuan tanah juga memiliki tempat baik dalam posisi sosial di Joseon, seperti seorang bangsawan.
Di tanah kekuasaan YongIe, dia belum bertemu dengan seorang Joseon pun, sehingga pikirannya jauh dan positif, tidak mungkin ditanah yang jaraknya ratusan kilometer dari perbatasan Joseon dan Ming, akan ada perebutan wilayah Ming ke Joseon. Dia terus saja menulis dan ketika selesai, dia renungi lagi.

”Dalam dua-tiga hari ke depan.. aku harus tiba sampai Nan Jing... rasanya begitu kangen dengan keluarga ku”.
Pikirannya tertuju pada Taeyoung. Sudah seminggu lebih dia meninggalkan isterinya itu dan dia belum mendapatkan surat balasan. Para mata-mata kerajaan mungkin saja sudah mengirimkan surat, namun karena dia dan Sim berada di wilayah yang tidak terpikirkan oleh mereka, semuanya terkesan mundur. Dia sangat berharap, Joseon akan mencarinya begitu berita terakhir dia kabarkan kecurigaan investigasi terhadap Pejabat Geum.
Antara yakin dan sedikit cemas, dia memikirkan Taeyoung. Lagi-lagi pikirannya tertuju dengan peristiwa terakhir sebelum mereka menikah lagi ala Joseon.
”Pejabat Geum.. Geum Hee Kyung.. apa ada hubungannya dengan kamu??,” mendadak dia bergumam seperti itu.
Akan terasa sulit baginya jika semua pada akhirnya benar bahwa keluarga pejabat Geum berkhianat pada kerajaan. Dia tidak ingin menjadi seseorang yang kembali ikut dalam mengeksekusi orang-orang yang dikenalnya baik, apalagi dengan Hee Kyung.
Dia diam sebentar, lalu mematikan lampu. Ruangan menjadi gelap.
                                    -------------------------------------------------
”Apakah menurutmu.. aku sebaiknya pergi menyusul dan mencari Jendral Lee??,” tanya Taeyoung pada Han Hye.
Minho sudah tidak diketahui lagi rimbanya di wilayah Ming. Namun begitu, beberapa mata-mata tetap disebar dan bertugas mencarinya. Raja berharap bisa menemukan sepupunya itu dalam keadaan hidup, karena waktu yang telah disepakati sedikit lagi akan selesai.
“Belum ada kabar sama sekali kan.. apakah suamiku selamat atau tidak??,” tatap Taeyoung, serius pada Han Hye.
“Nyonya tidak dapat bertindak gegabah begitu saja.. Yang Mulia tidak memerintahkan siapapun pergi mencari Jendral Lee kecuali kepada orang-orang yang sudah beliau perintahkan,” balas Han Hye.
Taeyoung rasanya gemas sekali dengan peristiwa ini. Tidak hanya itu, kekhawatirannya dia rasakan sebagai seseorang yang menjadi kunoichi (ninja perempuan) tentu saja hanya untuk berangkat hampir dua minggu terasa sangat lambat untuk sampai tempat yang dituju.
Dia berjalan bolak-balik berpikir, apakah perlu untuk segera pergi?? Lebih baik dia menyusul, walau ada satu resiko: tidak bertemu di titik manapun. Semuanya tergantung pada keputusan Raja.
”Apa kamu belum mendapatkan informasi.. kalau Yang Mulia Raja akan memanggil Pejabat Geum dan keluarganya itu??”.
Han Hye hanya menggeleng.
Taeyoung bergumam,” Sepertinya... aku harus segera menyusul ke Nan Jing... surat terakhir bahwa urusan di Liao Ning sudah selesai dan langsung menuju Nan Jing, benar-benar membuatku khawatir, Han Hye.. jadi.. jika Yang Mulia Raja tidak bertindak cepat.. aku akan pergi mencari.. dan meminta pertolongan kepada orangtuaku untuk mengirim beberapa samurai mendampingiku sampai Nan Jing,”
Han Hye tidak ingin isteri tuannya itu celaka. Bagaimanapun, tidak mudah bagi wanita hamil ingin pergi jauh untuk mencari kepastian bagi pasangannya.
”Lebih baik, kita tunggu saja Jendral Lee, Nyonya.. aku tidak ingin Nyonya celaka”.

Tidak berapa lama, beberapa pengawal kerajaan datang ke rumah Minho. Raja meminta bertemu mereka dan mereka pun pergi menuju istana, ke ruang pertemuan.
Dalam ruangan yang cukup besar itu telah hadir Raja beserta isteri dan seorang pencatat administrasi. Taeyoung dan Han Hye langsung memberikan penghormatan ketika sampai di hadapan Raja.
Raja menerima penghormatan mereka. Tidak berapa lama, dari ujung pintu pertemuan, ada tiga orang datang.
Taeyoung mengingat kembali wajah salah satu dari mereka.. itulah wajah Geum Hee Kyung.. ternyata, dia datang ke istana, dipanggil untuk membicarakan soal Minho dan beberapa mata-mata yang ternyata tidak jelas rimbanya.
”Sembah kami kepada Yang Mulia Raja,” kata pejabat Geum.
Seorang perwira dan Geun Hee Kyung mengikuti pejabat Geum, menghormati Raja.
Mereka lalu menegakkan punggung nya setelah diperintahkan bangun oleh Raja. Hee Kyung melirik pada Taeyoung, dengan tatapan yang sedikit tidak suka.
”Mendengar Jendral Lee belum bisa ditemukan bersama pengawal setianya dan juga beberapa mata-mata yang kami tidak tahu rimbanya.. apakah Pejabat Geum memiliki keterangan lain?,” tanya Jeong Seok.
Hee Kyung  menunduk hormat kepada Raja,” Maaf Yang Mulia Raja, Ayahanda kami sama sekali tidak dilibatkan oleh Jendral Kwon.”
”Tidak mungkin Jendral Kwon mengingkari tugas yang telah diberikannya,” kata Sang Raja.
Taeyoung segera berdiri di tengah-tengah antara Raja di depannya dan mereka semua yang diundang disamping kiri dan kanan, lalu menunduk hormat.
”Mohon maafkan hamba, Yang Mulia.. Jendral Kwon sama sekali tidak melibatkan ayahku,” tambah Hee Kyung lagi.
Pejabat Geum langsung bersujud di hadapan Raja. Dengan mimik yang penuh takut, dia membenarkan perkataan puterinya itu dan berharap, sang Raja tidak menghukumnya. Namun mempertimbangkan kembali untuk memanggil Jendral Kwon.
”Pejabat Geum pasti sudah tahu.. bahwa Jendral Kwon sedang aku tugaskan ke luar wilayah istana.. dia sedang menghadapi pasukan perompak dari laut kuning,” balas Sang Raja.
Taeyoung lantas berpikir..apakah Jendral Kwon sedang menyerang Zhang Yue ... bajak laut wanita yang pernah diceritakannya kepada Raja? Ternyata, jawaban Raja memang iya. Sehingga, kecurigaan Raja terhadap pejabat Geum sirna sudah.
Namun, Taeyoung berpikir tetap mencurigai pejabat Geum itu.
”Aku percaya.. bahwa kamu memang perjabat yang setua dan berdedikasi tinggi,” kata Raja,mendekati Pejabat Geum.
Hee Kyung dan Geum serta beberapa pengikutnya langsung bersujud, berterima kasih karena Raja telah memberikan kebaikan hati kepada mereka, agar tidak dihukum berdasarkan keterangan yang mereka buat sendiri. Tak berapa lama, ada seorang pengawal kerajaan memasuki ruang pertemuan itu.

”Maaf Yang Mulia Raja... mata-mata Jendral Kwon, Song Ki Ho, diberitakan dibunuh orang tidak dikenal,” kata pengawal itu, menunduk hormat.
Jeong begitu kaget, mereka baru saja membicarakan salah satu jendral muda nya, tapi malah mendapatkan berita buruk.
”Tidak ada sama sekali tanda penganiayaan.. sepertinya dia diracun, Yang Mulia Raja,” jawab pengawal itu.
Taeyoung jadi lebih khawatir, hal itu jelas akan memperpanjang konflik , jika memang benar, Kwon bermaksud menjahati suaminya.
Taeyoung dengan tergesa lantas menunduk hormat kepada Raja,” Mohon maaf, Yang Mulia..sekiranya hamba dapat mengajukan pertanyaan... siapa di kerajaan ini yang bisa menentukan apakah seseorang diracun atau tidak???,”
Jeong tersenyum, dan menjawab, kalau orang itu ada di ruangan ini. Dia lalu menunjuk pada Geum Hee Kyung.
”Dia???,” tanya hatinya Taeyoung. Bagaimanapun, dia masih memiliki rasa cemburu, takut Hee Kyung akan merebut Minho dari tangannya. Terlebih lagi, jika perempuan itu akan dilibatkan di kasus ini. Namun, sepertinya Raja Jeong memang tidak tahu hubungan sebelumnya antara Minho dan Hee Kyung.
”Maka aku perintahkan puterimu, Pejabat Geum, untuk bisa menyelidiki kasus kematian Song Ki Ho,” perintah Raja.
”Apa-apaan Raja Jeong?? Apa tidak ada orang lain yang lebih pintar dari dia??,” sifat kekana-kanakan Taeyoung muncul lagi walau hanya disuarakan dalam hati.
Pejabat Geum setuju saja akan hal itu, malah senang puterinya bisa berguna bagi kerajaan.
”Mungkin Nyonya Lee belum tahu... kalau puteri Pejabat Geum ini ahli dalam penentuan racun dan juga penyelidikan,” Raja Jeong malah memuji.
Tentu saja Taeyoung mesti berbasa-basi dengan hal ini, padahal hatinya gundah gulana total. Raja pastinya sudah tidak ingin mengetahui lagi apapun tentang masa lalu sepupunya itu sendiri terhadap perempuan yang sedang berdiri disampingnya.
” Tentunya Yang Mulia Raja memiliki pertimbangan sendiri... yang hamba tidak bisa melakukannya...,” balas Taeyoung, merendah.
Dalam hatinya memang dia berfikir.. kemana Minho?? Apakah hanya sekedar kesulitan menghadapi orang di perjalanan, atau bahkan hilang tak tahu rimbanya??

”Tentang Song Ki Ho.. Maaf Yang Mulia Raja... Prajurit bawahan Jendral Kwon ini... meninggal diracun,” kata Hee Kyung.
Raja hanya bergumam. Permainan sepertinya sudah dimulai, menghantui para Jendral Muda dibawah kekuasaannya. Kwon Seung Hun sedang ditugaskan menjaga perairan laut kuning, yang juga belum mendapatkan laporan.
” Song Ki Ho...dibunuh seseorang dengan racun batu hitam yang dicampurkan dengan bumbu masakan,” kata Hee Kyung sambil menunduk hormat.
”Apa? Bagaimana bisa??? Racun batu hitam itu.. ,” kata Jeong Seok.
”Apa tidak berubah warnanya??,”
Geum Hee Kyung menggeleng. Dia menjelaskan jika bubuk racun itu disatukan dengan bawang, maka aroma dan rasanya jadi mengikuti bawang putih itu.
Jeong Seok dan semuanya yang di ruangan itu mendengarkan penjelasan perempuan itu.
”Tentunya, jika sudah menyatu dengan bawang, dia akan berubah menjadi warna putih kekuningan, dan aroma nya pun sama.. Tuan Song tidak merasakan ada keanehan aroma,” kata Hee Kyung lagi.
”Racun ini sepertinya takarannya tinggi... karena bawang sendiri sedikit bisa menetralkannya,”
”Bubuk hitam ini.. ketika dia bercampur dengan bawang, bawang hanya akan sedikit berwarna kekuningan saja, Yang Mulia Raja... dan aroma bawang tidak banyak terpengaruh,” kata Hee Kyung lagi.
”Melihat tubuh Song Ki Ho dibeberapa tempat yang menghitam atau biru tua.. hamba yakin, dia diracun bubuk hitam itu.”
”Apa..semua ini ada hubungannya dengan sepupuku??,” tanya Jeong Seok. Begitu juga dengan Taeyoung, yang mempertanyakan kasus ini dalam hati, apakah ini semua ada hubungannya dengan hilangnya Minho.
”Hamba belum menyelidiki sampai sejauh itu,” balas Hee Kyung.
Lalu Taeyoung meminta ijin memotong dan mengungkapkan pikirannya.
” Maaf Yang Mulia Raja.. Song Ki Ho sendiri tinggal diseputar istana ini.. hamba hanya berfikir, boleh jadi.. Yang Mulia Raja juga diincar ... mulai dari kasus belum kembalinya Jendral Lee.. membuat hamba berpikir... Kerajaan sudah tersusupi.”
“Aku bisa melihat itu... akan kuputuskan siapa siapa yang akan berkerja denganku dalam hal ini,” jawab Jeong Seok dengan cepat.
Hee Kyung lantas juga cepat memotong pembicaraan. Dia berjanji pada Raja akan mengurus ini segera, membantu Raja mencari tahu, siapa yang membunuh mata-mata Jendral Kwon itu.
Raja setuju dengan keputusan itu semua. Pertemuan bubar, dia tidak ingin bicara dengan siapapun lagi kecuali berpikir keras untuk rencana selanjutnya.

Di lorong istana, Taeyoung berjalan bersama Han Hye.
”Menurutmu.. apakah suamiku akan segera kembali?? Kekhawatiranku semakin menjadi.. apakah Song Ki Ho itu.. sama dengan mu terhadap suamiku??,”
Han Hye mengangguk. Song Ki Ho mungkin setara dengan Sim Hwang dan dirinya, yang memang menjadi mata-mata pribadi.
”Tapi..mengapa pembunuh itu mengincar dia?? Jendral Kwon sendiri...tidak terlibat langsung dalam perjalanan ke kerajaan Ming, bukan??,” tanya Taeyoung.
Han Hye berpikir. Memang akhirnya Raja memutuskan tidak melibatkan Kwon dalam hal itu. Mereka tetap berjalan diantara lorong, menuju luar istana.
Namun... mendadak Han Hye berhenti..
Taeyoung menoleh padanya.
”Ada apa??,” tanya Taeyoung, heran.
Han Hye menunduk hormat pada tuannya.
”Maafkan aku, Nyonya... Song Ki Ho..sebenarnya pernah mengantarkan surat Jendral Lee untuk Nyonya... aku benar-benar lupa,” balas Han Hye.
Taeyoung diam sejenak.
”Jadi.. menurutmu... siapa saja yang berhubungan dengan Jendral Lee... akan mati??? Walau dia sendiri bukan prajurit didikan suamiku???.”
Han Hye mengangguk,” mungkin.”
Taeyoung diam sejenak.
Sementara, ternyata di lorong lain menuju lorong yang dilewati Taeyoung dan Han Hye, berjalanlah Hee Kyung dengan dua orang pengawal wanita nya.

Taeyoung menunduk hormat sedikit, ketika mereka bertemu. Hee Kyung pun membalas.
”Agak sedikit heran..mengapa sepertinya Kerajaan terusik setelah peristiwa Joseon bekerja sama dengan Ashikaga terjadi,” senyum Hee Kyung, agak dingin dan tipis.
Taeyoung diam, lalu ,” Aku sendiri tidak tahu... mungkin saja tidak berhubungan dengan Jendral Lee.. memang posisi Raja rentan sekali untuk digulingkan.. walau Jendral Lee bukan sepupunya sekalipun... tidak perlu sebenarnya menghancurkan keluarga Lee.”
Hee Kyung tertawa kecil. Dia lalu minta maaf, karena menurutnya, mungkin itu hanya perasaan sensitifnya saja dengan masa lalu.
”Aku memaafkan,” balas Taeyoung, dengan sedikit senyum.
”Aku menyadari.. bahwa aku telah merebut Jendral Lee dari tanganmu, Nona Geum.. tapi itu bukan mauku.. suka tidak suka.. jika memang keluarga suamiku akan dihancurkan.. aku sendiri juga akan turun tangan.. sebagai bagian dari Joseon...”.
”Bagi kami... orang Tsushima, jika seorang perempuan sudah menjadi seorang isteri.. maka dia mengikuti jalan suaminya...”
Taeyoung lalu menunduk hormat, sebagai penghormatan dirinya atas Minho dan juga kerajaan.
”Aku mengerti,” balas Hee Kyung.
Lalu dia pun pergi, tetap didampingi oleh kedua pengawal wanita nya.
”Aku minta maaf, Geum Hee Kyung... telah mengambil Minho dari tanganmu... itu bukan mauku.. aku pun masih berusaha mencintainya... walau Ryuhei masih ada di benakku,” kata Taeyoung dalam hatinya, memandang Hee Kyung yang terus berjalan menjauhi dia dan Han Hye, sambil mengusap perutnya. Dia sedikit melamun, terus memandang sosok Hee Kyung sampai menghilang dibelokan lorong selanjutnya.
Han Hye membuyarkan lamunannya,” Apa Nyonya sakit perut??,”
Tae Young menoleh pada Han Hye dan tertawa kecil,” Ah tidak... Bayi ku dan Jendral Lee mungkin lelah.. masakan mu terlalu enak untuk tidak aku makan, Han Hye.. aku mau makanan ringan yang kamu buat kemarin sore, hehe.. ”.
Han Hye membuatkannya buah dengan gula manis sehingga bentuknya menyerupai syrup yang dicampur dengan tepung beras.
”Harap Nyonya tidak terlalu memasukkan perkataan Nona Geum ke dalam hati,” kata Han Hye.
”Tidak, Han Hye.. tapi Geum Hee Kyung benar.. akulah yang merebut Jendral Lee dari tangannya...,”
”Sudahlah, Nyonya... mari kita pulang,” senyum Han Hye.
Taeyoung merangkul tangan Han Hye, yang sudah dia jadikan sahabat baiknya di negeri itu.
”Mungkin.. jika dalam beberapa hari.. Minho tidak juga kembali.. aku akan pergi mencarinya..,” kata Taeyoung dalam hatinya...

Bersambung ke part 17...