This is me....

Minggu, Februari 14, 2016

Nampyeon Ku Cowok Cantik (Part 17: Aku Yang Rapuh..)

Cerita ini hanya fiksi imajinasi belaka.. Kalau masih serius juga.. tanggung sendiri deh..

Minho yang berpisah dari Areum, merasa sangat kesepian. Jarak memang bukan halangan, dunia sudah terlampau dekat. Walau begitu, perasaan tetaplah perasaan, yang berbeda dengan sebuah alat.
“rasanya aku kesepian banget,” keluhnya pada Areum dari percakapan jarak jauh.
“akhir pekan ini.. aku dan ayah berencana pergi ke kota,” balas Areum. Berharap, dia juga bisa bertemu Minho yang sudah dua bulan lebih tidak ditemuinya.

Pacaran jarak jauh memang melelahkan bagi keduanya. Ditambah, Areum yang memang sudah tidak lagi sibuk urusan iklan, namun sibuk dengan membantu usaha ayahnya yang peternak sapi dan pengusaha susu serta permen susu sapi organik. Keduanya, baik Minho maupun Areum, sama-sama makin sibuk saja. Iklan Minho bertambah banyak, sementara perkembangan bisnis ayahnya Areum juga bertambah.
“Hi, Minho..aku memang berharap.. kita bisa bertemu...,” kata Areum, bersikap ceria.
Minho galau. Dia memang cowok tukang galau. Dekat dia galau, jauh apalagi. Hanya, dia memang pandai menyembunyikan ke-galau-annya pada orang lain.
Namun Areum membaca kegalauannya itu. Ia membaca, kalau dia sebaiknya memberikan lebih banyak perhatian, perasaan, namun tidak juga mengekang gerak Minho.
“aku berharap.. kamu memiliki waktu.. sebab.. aku merasa perlu memesan makanan disebuah restaurant,” ujar Minho padanya.
“waktuku sempit..ah,” keluh Minho.
“aku akan berusaha punya banyak waktu untukmu, Minho,” senyum Areum.
“kebetulan.. ayah memang sedang ada pelatihan lagi.. dan iya sih.. bisnis kami semakin maju... tapi, enggak usah khawatir kok.. kita punya waktu banyak,” lanjutnya lagi.
Lalu, Nyonya Choe yang centil, ibunya Areum, menyapa Minho dengan ramah melalui video call itu. Mereka memang akan kembali ke Seoul dalam waktu dekat. Dia juga berharap bisa bertemu pacar anaknya itu.
“okay.. sampai jumpa lagi,” kata Areum, mengakhiri percakapan mereka.
Minho membanting smartphone nya ke atas tempat tidur, lalu dia juga melemparkan dirinya ke atas tempat tidur.
“huff.. berharap hubunganku dengan Areum tidak cepat berakhir,” keluhnya.
                                                ---------------------------
Pemberitaan Yonghwa dengan Yu Ri semakin pudar saja. Walau satu sama lain sibuk, ternyata tidak menghalangi mereka untuk saling mendukung profesi masing-masing, diluar dari pemberitaan media.
Memang, di hadapan media, tidak ada cerita lagi diantara mereka. Mereka dianggap putus. Yonghwa mengambil ide Minho untuk pura-pura putus, sama sekali tidak lagi menggunakan simbol-simbol pacaran mereka pada umumnya, misalnya cincin. Semua terkesan mereka berdua sudah single abis. Tapi dibalik itu, mereka masih berhubungan dengan pacar-pacar mereka.
Sebagai orang-orang yang sudah mulai terkenal, baik Yonghwa dan Minho akan menghadapi masalah yang sama: kesulitan mendapatkan pasangan. Yonghwa yang terkesan pemalu, tertutup memang lebih bisa menahan rahasia. Jika mereka ingin bertemu, Yonghwa tidak sama sekali melapor pada manager nya dan hanya bilang: “aku ada urusan dengan teman”. Bahkan, dia masih setia jika keluar rumah, memakai semacam hoodie dan kacamata hitam untuk menyembunyikan wajahnya.
Dan.. mereka pun kencan lagi, makan disebuah restaurant.

“Jadi.. kamu kembali bisa mengajar di TK??,” tanya Yonghwa dengan senyumnya pada Yu Ri.
Yu Ri mengangguk. Mereka selesai makan malam itu. Supaya bisa penyamaran Yonghwa tidak diketahui banyak orang, dia sengaja membawa uang cash sehingga tidak merepotkan membayar yang memerlukan tanda tangan.
Dia senang pacarnya sudah mulai mendapatkan pekerjaan seperti yang lalu, tidak lagi diombang-ambing kegamangan karena kejadian kemarin menolongnya.
“apa sekolah tempat bekerja mu tahu soal itu??,” tanya Yonghwa, penasaran.
Yu Ri mengangguk,” Namun.. seperti apa yang kamu katakan.. “, yang dimaksud adalah, Yu Ri menceritakan kalau mereka putus.
Yonghwa senyum. Dalam pikirannya, dia tidak ingin seperti itu. Kisah cinta mereka memang tidak ingin banyak diketahui orang, karena menyangkut karir dan profesi.
Yuri berpikir dalam hatinya: kenapa tidak menunda saja dan membiarkan semua berlalu? Hubungan yang sulit dipertahankan jika semakin karir Yonghwa berkibar. Akan ada terlalu keras perjuangan emosi yang akan dihadapi. Jika semua bisa dilalui, aman.. namun jika tidak, siap-siap saja berakhir ditengah jalan.
Yonghwa lalu bertanya, bagaimana anak-anak yang dia ajarkan.
“ceria banget.. aku suka mereka..,” jawab Yuri dengan semangat.
Yuri memang suka dengan anak-anak, itu juga yang membuat Yonghwa berpikir, perempuan ini memang punya sifat yang lembut dibalik tingkahnya yang memang bisa diatas lelaki.

“mungkin sementara.. kita belum bisa bertemu kedua orangtua,” senyum Yonghwa. Dia berniat akan mempertemukan kekasihnya itu dengan kedua orangtuanya, supaya bisa lebih dekat.
Dalam hati Yuri, dia tidak berharap banyak semua bisa dijalankan dengan menuju satu titik, ikatan perkawinan. Dia lebih merasakan, mereka agak kecil kemungkinan bersatu.
Rasanya, Yuri mesti menyadari, bahwa semuanya tidak mudah. Dalam kebanyakan keluarga, biasanya memang pertemuan antar orangtua sudah pasti penting. Namun, untuk hubungannya kali ini, sepertinya tidak mudah. Sebenarnya, dia merasa lelah menjalani hidup dengan perasaan seperti terlunta-lunta. Namun di saat ini, sepertinya sulit menemukan orang yang segalanya pasti. Jadi, dia memilih belajar menunggu.
“orangtuaku memang, terutama ayahku.. dia sibuk sekali,” ujar Yonghwa.
Yuri membalas dengan senyum. Baru beberapa bulan mereka dekat, bukan berarti tanpa masalah. Mengikuti alur hidup Yonghwa tidaklah mudah, apalagi ditambah mereka seperti hidup dalam kepura-puraan cinta. Keduanya memiliki sifat yang hampir mirip: tidak menyukai hubungan terlalu dilihat banyak orang.
“asalkan kita bisa selalu bicara, bagiku semua bisa diselesaikan,” kata Yuri.
Tipenya memang perempuan dewasa sehingga disukai Yonghwa.

“semuanya berjalan terkesan lambat sekali,” kata Yonghwa, memulai pembicaraanya ketika mereka sama-sama saling diam, malam itu, dipinggiran sungai yang indah.
“mendadak...aku seperti diam saja didepan kamu, hehe,” lanjutnya.
Komunikasi mereka mendadak gamang. Dengan kesibukan masing-masing, seperti tidak tahu akan apa yang dibicarakan. Mungkin hanya pekerjaan mereka saja yang bisa menjadi topik.
“aku...,” kata mereka, kompak, mencoba berbicara pertama kali untuk memecah kesunyian.
Yonghwa tertawa, disusul oleh Yuri. Yonghwa menyuruhnya berbicara dahulu.
“aku merasa.. aku bahagia kok.. bersama mu,” kata Yuri, memulai pembicaraan, disusul dengan senyumnya.
“sepertinya sih.. kita masih sulit aja menyesuaikan diri dengan masing-masing pekerjaan kita... yeah.. aku pikirnya begitu,” kata Yonghwa. Dia meluruskan kakinya, lalu menggeliat di atas tempat duduk, dipinggiran sungai itu.
Lalu dia menoleh pada Yuri.
“aku yakin kok.. kita bisa terus bersama,”
Lalu dia memeluk kekasihnya itu.
“tidak semua lelaki sanggup berjalan sendirian,” katanya dengan tenang pada Yuri.
Dia memang membutuhkan sosok perempuan lembut seperti Yuri. Namun, perempuan itu juga punya sisi yang sanggup meletakkan posisi diri nya masing-masing. Yuri mengerti benar bagaimana kerja Yonghwa, seseorang yang tidak banyak meminta. Dalam hati lelaki itu, dia masih ada rasa gamang, berfikir bagaimana terus melanjutkan hubungan, jangan sampai ada kebosanan. Keseriusannya tetap ingin dia terus jaga, tidak ingin lepas dari perempuan yang telah menyelamatkan hidupnya.
                                    --------------------------------------
Siang itu, Areum dan keluarganya datang ke Seoul. Dia tidak ingin tinggal di apartment yang dimiliki Minho, lebih memilih tinggal dalam hotel bersama keluarganya. Minho menggerutu karena dia pikir, itu akan menghemat biaya.
“jadi kan.. makan malamnya??,” katanya, di telepon pada Areum.
Areum menyanggupi, mereka memang janji akan makan malam bersama antar keluarga. Hanya disebuah restauran sederhana.
Malam itu, semua berkumpul disana. Orangtua Minho dan orangtua Areum saling beramah tamah.
“Yah.. maklum saja kalau memang Minho masih seperti anak kecil.. kami minta maaf.. kalau dipikir, memang Areum ini dewasa.. berani ambil keputusan untuk berhenti jadi model.. dan malah membantu keluarga,” ujar Ny Lee.
“ya.. tipe anak mulia,” basa basi Lee.
Areum memang anak kampung, tinggal di desa. Bertemu dengan Minho tanpa sengaja berawal dari keisengan cowok itu yang sebel, merasa tingkah Areum norak ketika mereka bertemu dalam gelap. Namun, ternyata justru Minho melihat sisi lain perempuan itu yang dianggapnya bisa dekat dengannya.
Mereka asik ngobrol perkembangan bisnis keluarga Shin yang sedari dulu memang sudah beternak sapi turun temurun.
“ah.. aku sudah pernah bilang pada Ny Choe kalau nanti perkumpulan para nyonya yang aku pegang akan pergi melihat usaha permennya itu, suamiku,” ujar Ny Lee dengan penuh semangat.
Minho merasa nyaman dengan percakapan antar dua anggota keluarga itu.
Ny Choe, ibunya Areum juga wanita yang mudah bergaul dan akrab dengan orang lain. 
“Ny Lee tidak perlu khawatir.. kapan Ny dan teman-teman akan datang.. kami siap menjamu dan mengajarkan cara membuat permen,”
Mereka semua tertawa, berjanji akan pergi ke kampung tempat keluarga Shin tinggal dan belajar tentang susu.

Sementara, Minho dan Areum meminta ngobrol diluar, terpisah dari kedua orangtua mereka. Mereka saling berpegangan tangan, berada di sebuah tempat tidak jauh dari restauran, namun tidak banyak orang lewat.
“aku senang, kita bisa bertemu lagi.. sudah berapa bulan ya.. kita pisah??,” tanya Minho. Dia masih menggenggam tangan pacarnya itu.
“ah... baru dua bulan, hehe,” tawa kecil Areum padanya.
Minho mengajaknya berhenti, lalu menggenggam kedua tangan cewek itu. Dia sedikit berjingkat, memikirkan ingin berkata sesuatu pada pacarnya.
“umm.. aku.. kangen banget sama kamu loh... rasanya kesepian kalau kita enggak bersama,”
“aku sibuk, Minho.. maafkan aku,” kata Areum. Sekarang, sikapnya mulai lebih lembut dibandingkan pertama kali mereka bertemu.
Minho pun semakin sibuk. Jadwal foto dan syuting iklannya makin padat. Dia termasuk cowok yang tidak bisa diganggu dengan urusan lain kala bekerja. Dia harus totalitas atau persaingan dengan artis lain akan mengalahkannya. Itu sebabnya, dia jarang sekali bicara dengan Areum kecuali ada hal penting di bahasnya.
“kadang.. aku merasa bingung untuk mengerti pikiran dan perasaanmu, Minho,” kata hatinya Areum.

Minho memang tipe cowok sukar ditelusuri perasaan dan pikirannya. Jika tidak mengerti dirinya, maka dengan mudahnya hubungan akan cepat putus. Kalau salah sedikit saja dan dia sensitif, diamnya itu akan mengalahkan segalanya dan bisa membuat Areum kebingungan. Namun jika dia ceria, segalanya bisa saja diceritakan cowok itu. Minho menyukai Areum yang baik, berlatar belakang keluarga yang baik dan tidak banyak masalah, serta bisa mandiri. Dia terbilang tidak suka perempuan yang banyak kelakuan.
“cincin .. masih dipakai juga,” senyumnya pada Areum.
Cewek itu mengangguk saja dan akhirnya tertawa.
“bagaimanapun.. aku susah melepas cincin ini,”
“manajemen memang benar-benar tahunya kita putus,” senyum Minho.
Areum mengangguk, dia memang melihat semuanya, bagaimana dimedia kalau mereka dikabarkan putus karena berpisah manajemen, Areum memutuskan kontrak. Baginya, yang terpenting adalah: dia tidak bisa masuk dalam dunia keartisan, dia sebaiknya keluar dari sana dan berkonsentrasi pada usaha yang sudah dikembangkan ayahnya. Baginya, hal itu sudah membuatnya senang.
“itu semua karena aku ya? Hehe,” canda Minho, mengingat semuanya. Awalnya dia terlebih dahulu yang memulai, menjadikan cewek itu sebagai partner modelnya.
Mereka terus berpegangan tangan, menelusuri daerah itu, dimalam yang cerah, tidak terlalu dingin. Semuanya berawal dari mati lampu. Minho yang punya ketakutan dalam gelap memang terkesan dengan Areum yang cewek pemberani, apa adanya, tidak ada yang dibuat-buat dalam hidupnya. Sikapnya pada cewek itu juga murni, membuat Minho memang menemukan dunianya, walau penuh tantangan.

“dengan karirmu yang sukses, semakin menanjak.. kamu semakin matang saja, Minho,” kata Areum.
Mereka masih berjalan-jalan saling berpegangan tangan.
Minho merasa bersyukur atas pekerjaannya sekarang. Baginya, dunia yang ditekuni bukanlah mudah. Namun, dia bercerita pada Areum, kalau rasanya dia kesepian. Dia mengingat lagi sewaktu mereka masih bersama dalam iklan, bagaimana Minho ngerjain dia.
Minho jadi tertawa lepas ketika mengingat itu. Areum terkekeh juga mengingatnya.
“pada saat itu.. perasaanku antara sebal dan senang,” kata Minho, dengan suara lembutnya.
“aku malah begitu kesal padamu, Minho.. kamu buat aku nangis di dalam kamar hotel,” timpal Areum.
Minho tertawa keras, ternyata sifat manipulasinya ngerjain ceweknya itu berhasil.
“salah sendiri.. kenapa mengenalku,” katanya, sambil tertawa lepas.
Areum bercanda dengan menutup mulutnya.
Minho menangkap tangannya.. lalu.. dia dengan cueknya mencium Areum dengan lembut... dan memeluknya.
Di tengah taman yang sudah sepi itu.. Minho tidak merasa kesepian saat memeluk Areum.
“aku memang butuh kamu... aku merasa rapuh beberapa waktu kemarin berpisah,” kata Minho, jujur.
Areum menepati janjinya dengan rajin menghubunginya walau jauh. Dia percaya seburuk apapun, Minho tidak meninggalkannya.
“aku juga kangen Minho...,” kata Areum.
Mereka hanya bertemu malam itu... untuk esoknya, berpisah kembali.
Minho melepaskan pelukan kangennya kepada cewek itu, lalu dia cemberut.
“besok... kita masih punya waktu enggak sih??,” keluhnya.
Areum mengangguk. Ternyata, dia membatalkan pulang bersama kedua orangtua dan adiknya.
Minho gembira sekali dengan berita itu. Rasa kangennya pada Areum seperti terbayar jika besok dia belum pulang. Dia ingin sekali lagi, mereka berdua makan malam bersama.
Minho merenggangkan kedua tangannya ke atas, tanda kelegaan.
“haaahhh... akhirnya! Kenapa daritadi enggak bilang-bilang sih?? Aku kan kacau sekali dari kemarin..,” katanya.
“aku pikir.. kamu mau pergi secepat ini,”
Areum menggeleng.
“tidak kok.. aku bilang sama kedua orangtuaku.. kalau masih banyak hal yang perlu ngobrol bersama,”
Minho menggenggam kedua tangan Areum lagi, lalu mencium keningnya.
“hai, Areum si cewek pemberani... aku cinta kamu!,” katanya dengan teriak di depan cewek itu.
Areum tersenyum.
“hai... jawab dong???!! Masak perkataanku yang tadi.. di diamkan saja??,” pinta Minho.
Areum mengangguk mantap.
“ya... aku juga cinta Minho,”
Tapi Minho kurang puas. Dia lalu mengajak cewek itu lebih mendekati sebuah pinggiran.. ternyata, pinggiran sungai.
“ayo kita teriakkan nama mu dan nama ku keras-keras disini!,” pinta Minho.
Areum mengangguk mantap.
“AKU CINTA MINHOOOO!!,”
“AKU CINTA AREUMMMM.... CEWEK BERANI YANG BIKIN AKU SEMPURNA!,”
Minho lalu tertawa keras, sangat bahagia.
                                                -------------------------------------------
Yonghwa duduk sambil memegang dan memainkan beberapa nada gitar. Dia begitu serius, ternyata sedang menulis lagu yang akan dirilis sebentar lagi, bulan depan sudah harus jadi. Dia memang dituntut oleh manajemennya untuk bisa mengisi sebuah reality show tentang kehidupan keseharian artis dan dia meminta sendiri akan membawakan satu atau dua buah lagu, sehingga dia diburu waktu.
Karena sudah capek, dia pun menghempaskan dirinya diatas sofa. Terbayang lagi apa yang dibicarakan dirinya dengan Yuri soal hubungan mereka.
“kalau ngumpet-ngumpet begini setiap waktu.. memang melelahkan juga”.
Dia beranggapan, Yuri juga sebenarnya lelah. Terakhir, mereka ribut soal kelelahan perasaan ceweknya itu karena beberapa minggu mereka tidak bisa bertemu, tidak ada yang dapat dibicarakan, komunikasi renggang.  
Menjadi pacar seorang super star memang tidak gampang. Banyak anggapan miring yang sudah berkali-kali ditujukan, terutama pada Yuri, sampai detik ini akhirnya mereka memutuskan untuk menyembunyikan hubungan itu. Suka atau tidak suka, Yonghwa harus pandai melakukan itu. Dan di sisi Yuri, hanya Hee Sun yang tahu soal mereka.
Yonghwa termenung, menopang dagu, mencoba mengimajinasikan hubungannya menjadi sebuah lagu.
“aku bergitu rapuh tanpamu”
“ketika semua berjalan hanya sendiri”
“aku lebih sendiri lagi”
“hanya genggaman tangan dan tatapan matamu yang ku ingat”
“segala rasa ini..”
“hanya engkau yang dapat memahami”
Lalu dia mencari-cari nada gitar bait itu untuk dirangkai menjadi sebuah lagu. Dan.. direkamnya..

Tak berapa lama, dia membuka chat voice, terhubung dengan Yuri.
“hai.. aku punya sesuatu untukmu,” katanya dengan suara ceria.
“Apa itu??,” senyum Yuri padanya.
Lalu Yonghwa menekan tombol voice, dan Yuri mendengarkannya.
Cewek itu berterima kasih, kalau dia dijadikan inspirasi untuk membuat sebuah lagu. Tetapi, dalam hatinya diliputi rasa gundah..akankah hubungan mereka akan berjalan terus sampai pada apa yang mereka inginkan???
Dia menunjukkan suara dan rasa sukanya akan lagu itu. Yonghwa senang sekali bisa menghadiahkan lagu khusus untuk pacarnya itu.
“terima kasih, Yonghwa.. ,”
Rasanya Yuri ingin menangis, antara bahagia tapi juga sedih. Yonghwa memang mencintai dan menyayanginya, hanya saja, sepertinya itu tidak cukup. Mereka hanya mencoba menjalani bersama, berharap, akan ada kemajuan yang berarti.
                                                ------------------------------
Sore itu, Areum akan kembali ke kampungnya. Minho menyempatkan diri mengantar dia dan keluarganya. Suasanya sore itu agak sedikit dingin, akan memasuki musim dingin.
“aku jangan ditinggal terlalu lama...pasti kangen kamu,”
Areum mengangguk sambil senyum. Dia tahu, kalau sifat Minho memang terkadang kekanak-kanakan soal hati.
“seperti biasa... segera aku ada dirumah..aku kabari lagi”.
Minho memeluknya dengan erat, tidak perduli ada banyak orang disana. Dia merasa takut melepas cewek itu.
“rasanya seperti ketakutan, hehe,” candanya dalam galau.
Areum tersenyum saja. Dia juga menyadari hal yang sama... hubungan mereka bisa selesai dengan cepat....

Bersambung ke part 18....