Cerita ini hanya fiksi imajinasi belaka.. Kalau masih serius juga.. tanggung
sendiri deh..
Minho yang berpisah dari Areum, merasa sangat
kesepian. Jarak memang bukan halangan, dunia sudah terlampau dekat. Walau
begitu, perasaan tetaplah perasaan, yang berbeda dengan sebuah alat.
“rasanya aku kesepian banget,” keluhnya
pada Areum dari percakapan jarak jauh.
“akhir pekan ini.. aku dan ayah berencana
pergi ke kota,” balas Areum. Berharap, dia juga bisa bertemu Minho yang sudah
dua bulan lebih tidak ditemuinya.
Pacaran jarak jauh memang melelahkan bagi
keduanya. Ditambah, Areum yang memang sudah tidak lagi sibuk urusan iklan,
namun sibuk dengan membantu usaha ayahnya yang peternak sapi dan pengusaha susu
serta permen susu sapi organik. Keduanya, baik Minho maupun Areum, sama-sama
makin sibuk saja. Iklan Minho bertambah banyak, sementara perkembangan bisnis
ayahnya Areum juga bertambah.
“Hi, Minho..aku memang berharap.. kita
bisa bertemu...,” kata Areum, bersikap ceria.
Minho galau.
Dia memang cowok tukang galau. Dekat dia galau, jauh apalagi. Hanya, dia memang
pandai menyembunyikan ke-galau-annya pada orang lain.
Namun Areum membaca kegalauannya itu. Ia
membaca, kalau dia sebaiknya memberikan lebih banyak perhatian, perasaan, namun
tidak juga mengekang gerak Minho.
“aku berharap.. kamu memiliki waktu..
sebab.. aku merasa perlu memesan makanan disebuah restaurant,” ujar Minho
padanya.
“waktuku sempit..ah,” keluh Minho.
“aku akan berusaha punya banyak waktu
untukmu, Minho,” senyum Areum.
“kebetulan.. ayah memang sedang ada
pelatihan lagi.. dan iya sih.. bisnis kami semakin maju... tapi, enggak usah
khawatir kok.. kita punya waktu banyak,” lanjutnya lagi.
Lalu, Nyonya Choe yang centil, ibunya
Areum, menyapa Minho dengan ramah melalui video
call itu. Mereka memang akan kembali ke Seoul dalam waktu dekat. Dia juga
berharap bisa bertemu pacar anaknya itu.
“okay.. sampai jumpa lagi,” kata Areum,
mengakhiri percakapan mereka.
Minho membanting smartphone nya ke atas
tempat tidur, lalu dia juga melemparkan dirinya ke atas tempat tidur.
“huff.. berharap hubunganku dengan Areum
tidak cepat berakhir,” keluhnya.
---------------------------
Pemberitaan Yonghwa dengan Yu Ri semakin pudar
saja. Walau satu sama lain sibuk, ternyata tidak menghalangi mereka untuk
saling mendukung profesi masing-masing, diluar dari pemberitaan media.
Memang, di hadapan media, tidak ada cerita
lagi diantara mereka. Mereka dianggap putus. Yonghwa mengambil ide Minho untuk
pura-pura putus, sama sekali tidak lagi menggunakan simbol-simbol pacaran
mereka pada umumnya, misalnya cincin. Semua terkesan mereka berdua sudah single
abis. Tapi dibalik itu, mereka masih berhubungan dengan pacar-pacar mereka.
Sebagai orang-orang yang sudah mulai
terkenal, baik Yonghwa dan Minho akan menghadapi masalah yang sama: kesulitan
mendapatkan pasangan. Yonghwa yang terkesan pemalu, tertutup memang lebih bisa
menahan rahasia. Jika mereka ingin bertemu, Yonghwa tidak sama sekali melapor
pada manager nya dan hanya bilang: “aku ada urusan dengan teman”. Bahkan, dia
masih setia jika keluar rumah, memakai semacam hoodie dan kacamata hitam untuk
menyembunyikan wajahnya.
Dan.. mereka pun kencan lagi, makan
disebuah restaurant.
“Jadi.. kamu kembali bisa mengajar di
TK??,” tanya Yonghwa dengan senyumnya pada Yu Ri.
Yu Ri mengangguk. Mereka selesai makan
malam itu. Supaya bisa penyamaran Yonghwa tidak diketahui banyak orang, dia
sengaja membawa uang cash sehingga tidak merepotkan membayar yang memerlukan
tanda tangan.
Dia senang pacarnya sudah mulai
mendapatkan pekerjaan seperti yang lalu, tidak lagi diombang-ambing kegamangan
karena kejadian kemarin menolongnya.
“apa sekolah tempat bekerja mu tahu soal
itu??,” tanya Yonghwa, penasaran.
Yu Ri mengangguk,” Namun.. seperti apa yang
kamu katakan.. “, yang dimaksud adalah, Yu Ri menceritakan kalau mereka putus.
Yonghwa senyum. Dalam pikirannya, dia
tidak ingin seperti itu. Kisah cinta mereka memang tidak ingin banyak diketahui
orang, karena menyangkut karir dan profesi.
Yuri berpikir dalam hatinya: kenapa tidak
menunda saja dan membiarkan semua berlalu? Hubungan yang sulit dipertahankan
jika semakin karir Yonghwa berkibar. Akan ada terlalu keras perjuangan emosi
yang akan dihadapi. Jika semua bisa dilalui, aman.. namun jika tidak, siap-siap
saja berakhir ditengah jalan.
Yonghwa lalu bertanya, bagaimana anak-anak
yang dia ajarkan.
“ceria banget.. aku suka mereka..,” jawab
Yuri dengan semangat.
Yuri memang suka dengan anak-anak, itu
juga yang membuat Yonghwa berpikir, perempuan ini memang punya sifat yang
lembut dibalik tingkahnya yang memang bisa diatas lelaki.
“mungkin sementara.. kita belum bisa
bertemu kedua orangtua,” senyum Yonghwa. Dia berniat akan mempertemukan
kekasihnya itu dengan kedua orangtuanya, supaya bisa lebih dekat.
Dalam hati Yuri, dia tidak berharap banyak
semua bisa dijalankan dengan menuju satu titik, ikatan perkawinan. Dia lebih
merasakan, mereka agak kecil kemungkinan bersatu.
Rasanya, Yuri mesti menyadari, bahwa
semuanya tidak mudah. Dalam kebanyakan keluarga, biasanya memang pertemuan
antar orangtua sudah pasti penting. Namun, untuk hubungannya kali ini,
sepertinya tidak mudah. Sebenarnya, dia merasa lelah menjalani hidup dengan
perasaan seperti terlunta-lunta. Namun di saat ini, sepertinya sulit menemukan
orang yang segalanya pasti. Jadi, dia memilih belajar menunggu.
“orangtuaku memang, terutama ayahku.. dia
sibuk sekali,” ujar Yonghwa.
Yuri membalas dengan senyum. Baru beberapa
bulan mereka dekat, bukan berarti tanpa masalah. Mengikuti alur hidup Yonghwa
tidaklah mudah, apalagi ditambah mereka seperti hidup dalam kepura-puraan
cinta. Keduanya memiliki sifat yang hampir mirip: tidak menyukai hubungan
terlalu dilihat banyak orang.
“asalkan kita bisa selalu bicara, bagiku
semua bisa diselesaikan,” kata Yuri.
Tipenya memang perempuan dewasa sehingga
disukai Yonghwa.
“semuanya berjalan terkesan lambat
sekali,” kata Yonghwa, memulai pembicaraanya ketika mereka sama-sama saling
diam, malam itu, dipinggiran sungai yang indah.
“mendadak...aku seperti diam saja didepan
kamu, hehe,” lanjutnya.
Komunikasi mereka mendadak gamang. Dengan
kesibukan masing-masing, seperti tidak tahu akan apa yang dibicarakan. Mungkin
hanya pekerjaan mereka saja yang bisa menjadi topik.
“aku...,” kata mereka, kompak, mencoba
berbicara pertama kali untuk memecah kesunyian.
Yonghwa tertawa, disusul oleh Yuri.
Yonghwa menyuruhnya berbicara dahulu.
“aku merasa.. aku bahagia kok.. bersama
mu,” kata Yuri, memulai pembicaraan, disusul dengan senyumnya.
“sepertinya sih.. kita masih sulit aja
menyesuaikan diri dengan masing-masing pekerjaan kita... yeah.. aku pikirnya
begitu,” kata Yonghwa. Dia meluruskan kakinya, lalu menggeliat di atas tempat
duduk, dipinggiran sungai itu.
Lalu dia menoleh pada Yuri.
“aku yakin kok.. kita bisa terus bersama,”
Lalu dia memeluk kekasihnya itu.
“tidak semua lelaki sanggup berjalan
sendirian,” katanya dengan tenang pada Yuri.
Dia memang membutuhkan sosok perempuan
lembut seperti Yuri. Namun, perempuan itu juga punya sisi yang sanggup
meletakkan posisi diri nya masing-masing. Yuri mengerti benar bagaimana kerja
Yonghwa, seseorang yang tidak banyak meminta. Dalam hati lelaki itu, dia masih
ada rasa gamang, berfikir bagaimana terus melanjutkan hubungan, jangan sampai
ada kebosanan. Keseriusannya tetap ingin dia terus jaga, tidak ingin lepas dari
perempuan yang telah menyelamatkan hidupnya.
--------------------------------------
Siang itu, Areum dan keluarganya datang ke
Seoul. Dia tidak ingin tinggal di apartment yang dimiliki Minho, lebih memilih
tinggal dalam hotel bersama keluarganya. Minho menggerutu karena dia pikir, itu
akan menghemat biaya.
“jadi kan.. makan malamnya??,” katanya, di
telepon pada Areum.
Areum menyanggupi, mereka memang janji
akan makan malam bersama antar keluarga. Hanya disebuah restauran sederhana.
Malam itu, semua berkumpul disana.
Orangtua Minho dan orangtua Areum saling beramah tamah.
“Yah.. maklum saja kalau memang Minho
masih seperti anak kecil.. kami minta maaf.. kalau dipikir, memang Areum ini
dewasa.. berani ambil keputusan untuk berhenti jadi model.. dan malah membantu
keluarga,” ujar Ny Lee.
“ya.. tipe anak mulia,” basa basi Lee.
Areum memang anak kampung, tinggal di
desa. Bertemu dengan Minho tanpa sengaja berawal dari keisengan cowok itu yang
sebel, merasa tingkah Areum norak ketika mereka bertemu dalam gelap. Namun,
ternyata justru Minho melihat sisi lain perempuan itu yang dianggapnya bisa
dekat dengannya.
Mereka asik ngobrol perkembangan bisnis
keluarga Shin yang sedari dulu memang sudah beternak sapi turun temurun.
“ah.. aku sudah pernah bilang pada Ny Choe
kalau nanti perkumpulan para nyonya yang aku pegang akan pergi melihat usaha
permennya itu, suamiku,” ujar Ny Lee dengan penuh semangat.
Minho merasa nyaman dengan percakapan
antar dua anggota keluarga itu.
Ny Choe, ibunya Areum juga wanita yang
mudah bergaul dan akrab dengan orang lain.
“Ny Lee tidak perlu khawatir.. kapan Ny
dan teman-teman akan datang.. kami siap menjamu dan mengajarkan cara membuat
permen,”
Mereka semua tertawa, berjanji akan pergi
ke kampung tempat keluarga Shin tinggal dan belajar tentang susu.
Sementara, Minho dan Areum meminta ngobrol
diluar, terpisah dari kedua orangtua mereka. Mereka saling berpegangan tangan,
berada di sebuah tempat tidak jauh dari restauran, namun tidak banyak orang
lewat.
“aku senang, kita bisa bertemu lagi..
sudah berapa bulan ya.. kita pisah??,” tanya Minho. Dia masih menggenggam
tangan pacarnya itu.
“ah... baru dua bulan, hehe,” tawa kecil
Areum padanya.
Minho mengajaknya berhenti, lalu
menggenggam kedua tangan cewek itu. Dia sedikit berjingkat, memikirkan ingin
berkata sesuatu pada pacarnya.
“umm.. aku.. kangen banget sama kamu
loh... rasanya kesepian kalau kita enggak bersama,”
“aku sibuk, Minho.. maafkan aku,” kata
Areum. Sekarang, sikapnya mulai lebih lembut dibandingkan pertama kali mereka
bertemu.
Minho pun semakin sibuk. Jadwal foto dan
syuting iklannya makin padat. Dia termasuk cowok yang tidak bisa diganggu
dengan urusan lain kala bekerja. Dia harus totalitas atau persaingan dengan
artis lain akan mengalahkannya. Itu sebabnya, dia jarang sekali bicara dengan
Areum kecuali ada hal penting di bahasnya.
“kadang.. aku merasa bingung untuk
mengerti pikiran dan perasaanmu, Minho,” kata hatinya Areum.
Minho memang tipe cowok sukar ditelusuri
perasaan dan pikirannya. Jika tidak mengerti dirinya, maka dengan mudahnya
hubungan akan cepat putus. Kalau salah sedikit saja dan dia sensitif, diamnya
itu akan mengalahkan segalanya dan bisa membuat Areum kebingungan. Namun jika
dia ceria, segalanya bisa saja diceritakan cowok itu. Minho menyukai Areum yang
baik, berlatar belakang keluarga yang baik dan tidak banyak masalah, serta bisa
mandiri. Dia terbilang tidak suka perempuan yang banyak kelakuan.
“cincin .. masih dipakai juga,” senyumnya
pada Areum.
Cewek itu mengangguk saja dan akhirnya
tertawa.
“bagaimanapun.. aku susah melepas cincin
ini,”
“manajemen memang benar-benar tahunya kita
putus,” senyum Minho.
Areum mengangguk, dia memang melihat
semuanya, bagaimana dimedia kalau mereka dikabarkan putus karena berpisah
manajemen, Areum memutuskan kontrak. Baginya, yang terpenting adalah: dia tidak
bisa masuk dalam dunia keartisan, dia sebaiknya keluar dari sana dan
berkonsentrasi pada usaha yang sudah dikembangkan ayahnya. Baginya, hal itu
sudah membuatnya senang.
“itu semua karena aku ya? Hehe,” canda
Minho, mengingat semuanya. Awalnya dia terlebih dahulu yang memulai, menjadikan
cewek itu sebagai partner modelnya.
Mereka terus berpegangan tangan,
menelusuri daerah itu, dimalam yang cerah, tidak terlalu dingin. Semuanya
berawal dari mati lampu. Minho yang punya ketakutan dalam gelap memang terkesan
dengan Areum yang cewek pemberani, apa adanya, tidak ada yang dibuat-buat dalam
hidupnya. Sikapnya pada cewek itu juga murni, membuat Minho memang menemukan
dunianya, walau penuh tantangan.
“dengan karirmu yang sukses, semakin
menanjak.. kamu semakin matang saja, Minho,” kata Areum.
Mereka masih berjalan-jalan saling
berpegangan tangan.
Minho merasa bersyukur atas pekerjaannya
sekarang. Baginya, dunia yang ditekuni bukanlah mudah. Namun, dia bercerita
pada Areum, kalau rasanya dia kesepian. Dia mengingat lagi sewaktu mereka masih
bersama dalam iklan, bagaimana Minho ngerjain dia.
Minho jadi tertawa lepas ketika mengingat
itu. Areum terkekeh juga mengingatnya.
“pada saat itu.. perasaanku antara sebal
dan senang,” kata Minho, dengan suara lembutnya.
“aku malah begitu kesal padamu, Minho..
kamu buat aku nangis di dalam kamar hotel,” timpal Areum.
Minho tertawa keras, ternyata sifat
manipulasinya ngerjain ceweknya itu berhasil.
“salah sendiri.. kenapa mengenalku,”
katanya, sambil tertawa lepas.
Areum bercanda dengan menutup mulutnya.
Minho menangkap tangannya.. lalu.. dia
dengan cueknya mencium Areum dengan lembut... dan memeluknya.
Di tengah taman yang sudah sepi itu..
Minho tidak merasa kesepian saat memeluk Areum.
“aku memang butuh kamu... aku merasa rapuh
beberapa waktu kemarin berpisah,” kata Minho, jujur.
Areum menepati janjinya dengan rajin
menghubunginya walau jauh. Dia percaya seburuk apapun, Minho tidak
meninggalkannya.
“aku juga kangen Minho...,” kata Areum.
Mereka hanya bertemu malam itu... untuk
esoknya, berpisah kembali.
Minho melepaskan pelukan kangennya kepada
cewek itu, lalu dia cemberut.
“besok... kita masih punya waktu enggak
sih??,” keluhnya.
Areum mengangguk. Ternyata, dia
membatalkan pulang bersama kedua orangtua dan adiknya.
Minho gembira sekali dengan berita itu.
Rasa kangennya pada Areum seperti terbayar jika besok dia belum pulang. Dia
ingin sekali lagi, mereka berdua makan malam bersama.
Minho merenggangkan kedua tangannya ke atas,
tanda kelegaan.
“haaahhh... akhirnya! Kenapa daritadi
enggak bilang-bilang sih?? Aku kan kacau sekali dari kemarin..,” katanya.
“aku pikir.. kamu mau pergi secepat ini,”
Areum menggeleng.
“tidak kok.. aku bilang sama kedua
orangtuaku.. kalau masih banyak hal yang perlu ngobrol bersama,”
Minho menggenggam kedua tangan Areum lagi,
lalu mencium keningnya.
“hai, Areum si cewek pemberani... aku
cinta kamu!,” katanya dengan teriak di depan cewek itu.
Areum tersenyum.
“hai... jawab dong???!! Masak perkataanku yang
tadi.. di diamkan saja??,” pinta Minho.
Areum mengangguk mantap.
“ya... aku juga cinta Minho,”
Tapi Minho kurang puas. Dia lalu mengajak
cewek itu lebih mendekati sebuah pinggiran.. ternyata, pinggiran sungai.
“ayo kita teriakkan nama mu dan nama ku keras-keras
disini!,” pinta Minho.
Areum mengangguk mantap.
“AKU CINTA MINHOOOO!!,”
“AKU CINTA AREUMMMM.... CEWEK BERANI YANG
BIKIN AKU SEMPURNA!,”
Minho lalu tertawa keras, sangat bahagia.
-------------------------------------------
Yonghwa duduk sambil memegang dan
memainkan beberapa nada gitar. Dia begitu serius, ternyata sedang menulis lagu
yang akan dirilis sebentar lagi, bulan depan sudah harus jadi. Dia memang
dituntut oleh manajemennya untuk bisa mengisi sebuah reality show tentang
kehidupan keseharian artis dan dia meminta sendiri akan membawakan satu atau
dua buah lagu, sehingga dia diburu waktu.
Karena sudah capek, dia pun menghempaskan
dirinya diatas sofa. Terbayang lagi apa yang dibicarakan dirinya dengan Yuri
soal hubungan mereka.
“kalau ngumpet-ngumpet begini setiap
waktu.. memang melelahkan juga”.
Dia beranggapan, Yuri juga sebenarnya
lelah. Terakhir, mereka ribut soal kelelahan perasaan ceweknya itu karena
beberapa minggu mereka tidak bisa bertemu, tidak ada yang dapat dibicarakan,
komunikasi renggang.
Menjadi pacar seorang super star memang
tidak gampang. Banyak anggapan miring yang sudah berkali-kali ditujukan,
terutama pada Yuri, sampai detik ini akhirnya mereka memutuskan untuk menyembunyikan
hubungan itu. Suka atau tidak suka, Yonghwa harus pandai melakukan itu. Dan di
sisi Yuri, hanya Hee Sun yang tahu soal mereka.
Yonghwa termenung, menopang dagu, mencoba
mengimajinasikan hubungannya menjadi sebuah lagu.
“aku bergitu rapuh tanpamu”
“ketika semua berjalan hanya sendiri”
“aku lebih sendiri lagi”
“hanya genggaman tangan dan tatapan matamu
yang ku ingat”
“segala rasa ini..”
“hanya engkau yang dapat memahami”
Lalu dia mencari-cari nada gitar bait itu
untuk dirangkai menjadi sebuah lagu. Dan.. direkamnya..
Tak berapa lama, dia membuka chat voice,
terhubung dengan Yuri.
“hai.. aku punya sesuatu untukmu,” katanya
dengan suara ceria.
“Apa itu??,” senyum Yuri padanya.
Lalu Yonghwa menekan tombol voice, dan Yuri
mendengarkannya.
Cewek itu berterima kasih, kalau dia
dijadikan inspirasi untuk membuat sebuah lagu. Tetapi, dalam hatinya diliputi
rasa gundah..akankah hubungan mereka akan berjalan terus sampai pada apa yang
mereka inginkan???
Dia menunjukkan suara dan rasa sukanya
akan lagu itu. Yonghwa senang sekali bisa menghadiahkan lagu khusus untuk
pacarnya itu.
“terima kasih, Yonghwa.. ,”
Rasanya Yuri ingin menangis, antara
bahagia tapi juga sedih. Yonghwa memang mencintai dan menyayanginya, hanya
saja, sepertinya itu tidak cukup. Mereka hanya mencoba menjalani bersama,
berharap, akan ada kemajuan yang berarti.
------------------------------
Sore itu, Areum akan kembali ke
kampungnya. Minho menyempatkan diri mengantar dia dan keluarganya. Suasanya
sore itu agak sedikit dingin, akan memasuki musim dingin.
“aku jangan ditinggal terlalu lama...pasti
kangen kamu,”
Areum mengangguk sambil senyum. Dia tahu,
kalau sifat Minho memang terkadang kekanak-kanakan soal hati.
“seperti biasa... segera aku ada
dirumah..aku kabari lagi”.
Minho memeluknya dengan erat, tidak
perduli ada banyak orang disana. Dia merasa takut melepas cewek itu.
“rasanya seperti ketakutan, hehe,”
candanya dalam galau.
Areum tersenyum saja. Dia juga menyadari
hal yang sama... hubungan mereka bisa selesai dengan cepat....
Bersambung ke part 18....