This is me....

Sabtu, Mei 07, 2016

Doctor’s Heart (Part 18: Rasa Hati)

Lee Minho sebagai Dokter Minho               Gackt sebagai Dokter Kamui

Cerita ini hanya fiksi imajinasi belaka...Kalau masih serius juga.. tanggung sendiri deh..

Pagi itu, semua berjalan detik demi detik terlewati. Minho meminta Shiori menyembunyikan peristiwa dirinya dilukai seseorang tadi malam. Dia tidak ingin Kamui atau siapapun tahu, karena memang mereka belum mengetahui, siapa pelaku atau dalang dari peristiwa kemarin.
”ya baiklah.. aku enggak akan cerita,” kata Shiori, singkat, sambil mereka makan pagi bersama.
Minho menjawab dengan senyum.
”aku tidak ingin semua urusan jadi panjang,” katanya pada Shiori.
”Jika aku jadi kamu.. tentunya aku enggak akan membiarkan ini.. sudah keterlaluan”, balas Shiori.
”andai kamu tidak mengelak...entah apa yang terjadi tadi malam,” lanjutnya.

Memang sepatutnya tidak seperti itu. Diam-diam, dia akan membicarakan kejadian tadi malam itu dengan ayahnya di lain waktu. Setidaknya, itu yang dia pikirkan dan tidak perlu Minho mengetahuinya.
”aku ingin semua pekerjaan kita lancar,” kata Minho lagi.
”aku mengerti,” balas Shiori.

Minho malah tertawa-tawa kecil padanya. Shiori memandangnya dengan sedikit heran.
”rasanya.. aku memang mulai berubah,” kata Minho, meletakkan sumpitnya dan menatap pada perempuan itu.
Shiori seperti salah tingkah dengan perilaku Minho. Dia memang masih meraba-raba hubungannya dengan cowok itu. Apalagi, dia memang sudah lama tidak disukai oleh cowok lain setelah hubungannya dengan seseorang dokter juga, kandas.
Dia mengelak pandangan Minho dan hanya berkata kalau mereka harus lekas pergi, takut terlambat bekerja.
Minho mendapatkan pesan dari Kamui agar segera datang karena dia harus membantu Kamui menyelesaikan urusan bedah. Mereka segera ingin pergi. Namun, sesampainya Shiori membuka pintu, dilihat mereka, seorang setengah baya lebih berdiri di depan pintu.

Otoo san??,” kata Shiori, heran, melihat ayahnya sudah berdiri tepat di depan pintu.
Biasanya ayahnya jika ingin datang, terlebih dahulu mengabarkannya. Tapi, kali ini tidak, dan tepat berdiri di depannya.
Minho juga kaget, namun dia berusaha menyembunyikan kekagetannya, dan ketika melihat wajah Daisuke, dia langsung menunduk hormat pada dokter senior itu.
ohayou gozaimasu, Fujita sensei,” katanya pada Daisuke.
Daisuke hanya membalasnya dengan ucapan selamat pagi.
”aku sengaja datang kesini.. karena ku pikir, sayang sekali tidak melewatkan waktu bersama anak sendiri.. sekaligus membicarakan soal proyek,” kata Daisuke.
Shiori yang tidak enak hati bertemu ayahnya, namun dia bersama Minho di ruangan rumah susun nya itu, tersenyum sedikit kaku. Dia tahu perkataan ayahnya hanya sekedar basa basi.
”ayah semestinya bilang dulu padaku kalau mau kesini.. ruangannya semua berantakan,” katanya, membalas juga dengan basa basi.
Mereka masih bicara di depan pintu.
Daisuke bersikap biasa saja, dia lalu masuk ke rumah susun Shiori. Shiori mengikuti ayah nya, sementara Minho masih berdiri di depan pintu. Perasaannya justru malah campur aduk. Dia berusaha menyembunyikan itu dengan diamnya.
”kalau ayah mau makan.. aku hanya memasak nasi dan sayuran,” kata Shiori, masih berbasa-basi.
”ayah hanya mau istirahat disini sebelum nanti pergi ke rumah sakit,” balas Daisuke.
”masih ada yang harus ku bahas dengan Kamui sensei dan Takahashi sensei,” lanjutnya.
Shiori sedikit menunduk hormat pada ayahnya. Dia katakan, kalau dia tidak ingin terlambat karena harus memonitor penelitian mereka. Tepat hari itu sudah berusia seminggu berjalan. Daisuke mengijinkannya lekas pergi agar tidak terlambat dan tidak memberatkan Kamui.
Shiori menunduk hormat sekali lagi kepada ayahnya. Minho mengikuti juga. Mereka minta ijin pamit dan menuju ke bawah, ke tempat dimana Shiori memarkirkan mobilnya.

”semoga ayah mu tidak marah tadi melihat kita berdua,” kata Minho sambil menyetir.
Shiori mengangguk,” semoga”.
Dia memang tidak ingin ayahnya berpikiran aneh-aneh dulu melihat Minho bersamanya. Tadi malam, dia memang hanya membantu membersihkan luka Minho tergores pisau orang tak dikenal.
”aku memang belum katakan apapun pada orangtuaku..,”
”tentang hubungan kita,” katanya pada Minho, dengan suara yang lembut.
Minho senyum saja. Dia memang sedari tadi sebenarnya galau, kenapa kejadian ini datang? Di dalam dirinya sudah terpikirkan tentang penolakan hubungan, jika Daisuke tahu, siapa sebenarnya dirinya. Takut kejadian seperti hubungannya dengan Chiaki terulang kembali. Minho memang tidak pernah bercanda untuk hubungan kedekatan dengan lawan jenis. Dia akan berpikir berat untuk mengambil kesimpulan, apakah perempuan yang disukainya pantas untuk didekati dan diseriusi, atau tidak. Dia jadi diam sepanjang jalan. Shiori seperti mengetahui jalan pikirannya.
”eh..enggak usah terlalu khawatir tentang yang tadi,” katanya, berusaha menyemangati Minho.
Sekali lagi, Minho hanya membalas dengan senyuman. Dan.. mereka saling diam sampai rumah sakit.
                                                -----------------------------------------
Chiaki duduk diruangannya. Tadi malam, dia bertengkar dengan suaminya soal perusahaan yang mereka kelola. Tapi... bagaimana mungkin kala mereka ribut.. tiba-tiba bayangan Minho kembali ada di lintasan pikirannya??
Dia tidak mungkin merokok di rumah sakit, padahal semenjak dia berpisah dengan Minho, jadi sering minum dan merokok.
Dia belum berbicara apapun kepada ayahnya tentang permintaan Shiori, untuk tidak menganggu mereka lagi. Chiaki akhirnya tahu ambisi apa yang ayahnya masih kejar. Sebenarnya, dia sudah tidak mau ikut campur dengan semua ini, namun jika tidak bicara juga dengan orangtuanya itu, maka urusan penelitian rumah sakit akan sangat berantakan.
Sambil menunggu jam pemeriksaan selanjutnya, dia masih tetap termenung, lalu memberanikan diri berbicara juga dengan ayahnya, Takeo.
”kalau mau berbicara banyak denganku.. tidak saat ini,” jawab Takeo dengan nada pedas.
Chiaki tidak bisa berbuat banyak jika begitu. Akhirnya dia memutus sendiri teleponnya. Dan.. dia berpikir: apa lagi yang akan dilakukan ayahnya?? Dia bisa dipecat di rumah sakit ini, dan itu adalah hal yang gampang sekali dilakukan Takahashi. Sekali seorang dokter dipecat dari sebuah rumah sakit dengan tidak hormat, sulit sekali berhasil baginya mendapatkan pekerjaan di rumah sakit lain. Dan hal itulah yang pernah dialami Minho, yang dilakukan oleh ayahnya sendiri.
“ah...,” akhirnya dia berdiri, memandang keluar jendela.
Matahari sudah mulai panas. Musim panas sedang berlangsung, terik. Cahaya nya masuk ke dalam ruangannya.
Pikirannya sebenarnya terganggu tentang pembicaraannya dengan Shiori. Rasa cemburunya dia sembunyikan di hadapan perempuan itu... padahal dia sangat kesal.. kenapa harus bertemu dengan perempuan yang tidak disangka-sangkanya, malah disukai Minho.

”jadi.. kalian pacaran.. buat aku iri saja,” katanya pada Shiori, sambil dia tertawa kecil pada perempuan itu, aslinya cemburu.
Shiori membalas dengan tawa kecil yang terkesan miris. Dia tidak ingin menjadi masalah bagi keduanya. Namun Chiaki juga sadar, kalau dia tidak bisa melarang Minho untuk berhubungan atau suka dengan siapapun. Keduanya sudah menjalani kehidupan masing-masing.
”aku baru merasa nyaman dekat dengannya,” kata Shiori.
Chiaki tersenyum tipis.
”dia dapat jadi lelaki yang nyaman untuk mu... aku pastikan itu,” balasnya.
Mereka diam sejenak. Lalu..
”sebenarnya.. tidak semua perempuan bisa menerima lelaki masa lalunya bersama yang lain,”
Dan Shiori membalas dengan bergumam. Sudah pasti, Chiaki ternyata bukan perempuan yang mudah melupakan seseorang.
”aku ..bisa saja menghindarinya,” mendadak Shiori seperti tidak berminat berhubungan dekat dengan Minho.
Chiaki menoleh padanya, lalu tersenyum.
”jangan kecewakan dia untuk kedua kalinya.. itu yang aku tahu,”
Dan... Shiori menghela nafas pelan mendengar kata-kata barusan.

”Ayahmu tidak akan pernah menyetujui kalau usaha ini tidak masuk ke dalam rumah sakit itu,” kata Soijirou Itou.
Chiaki langsung berdiri, yang awalnya duduk. Dia memprotes ayah dan suaminya nekat untuk bermain di dalam Yutaka.
”sudah pasti Takahashi san tidak akan setuju..,” katanya, melawan.
”tidak butuh persetujuan siapapun soal bisnis,” balas Itou dengan entengnya.
Mereka tetap akan memperluas bisnisnya. Jepang sedang dilanda sepi ekonomi hampir di semua bidang, tidak hanya otomotif, termasuk juga industri obat.
”kita bisa saja promosi ke luar negeri.. why not??,” sanggah Chiaki lagi. Dalam pikirannya, mati saja jika hal ini tetap dilanjutkan.
“aku tidak memintamu mengurusi bisnis! Ayah mu sendiri yang menyerahkan padaku!,” bentak Itou.
Akhir-akhir ini mereka memang sering ribut soal bisnis. Jika tidak diberitahu sama sekali oleh Shiori, apa yang kira-kira ayahnya inginkan, bisa saja dia membela kepentingan orangtuanya itu.
”dan pandanganmu masih saja naif tentang ini,” lanjut Itou dengan intonasi dingin.
Sama sekali Chiaki tidak ingin ribut. Itou menjelaskan berkali-kali, jika mereka bisa menguasai bahan dari penelitian itu dan bisa menduplikasi bahan tersebut, dan jika terbukti penelitian itu akan sukses, mereka bisa meniru dan mempromosikan obat yang mereka paten sendiri.
”aku sama sekali tidak setuju tentang itu,” kata Chiaki, tegas.
Itou juga seorang lelaki yang ambisius, itu sebab, menantu dan mertua hampir mirip perilakunya. Sedang Chiaki bukan orang yang sebenarnya suka sekali dengan kompetisi. Itou pun mencapnya sebagai perempuan yang lemah yang tidak ingin menguasai bisnis kesehatan, sedangkan hari semakin hari, bisnis ini sudah banyak saingan dan juga mesti siap menjadi no satu.
Suka tidak suka, Takahashi juga sebenarnya memiliki saham di Maru chem dan Chiaki tidak mengetahui itu. Terang saja dia kaget... sebenarnya.. semua tentang penelitian ini tidak lebih dari persaingan bisnis.
”masih mau mengelak dan tidak ingin menghancurkan Takahashi san?? Dia sebenarnya bukan orang yang baik. Hanya saja, ayahmu berani menyerbu kandangnya,”
”berpikirkan, Chiaki Akimoto,”
Chiaki jadi diam. Itou tersenyum sinis padanya. Dia panjang lebar membongkar bisnis industri kesehatan milik Takahashi, tentang Maru chem, tentang menggunakan profesinya untuk bisnis, dan sebagainya.
Chiaki masih terdiam, berfikir.. apa iya Takahashi seburuk itu?? Sementara, jika memang bisnisnya dan ayahnya bersaing.. kenapa tidak lekas orang itu melemparnya keluar dari Yutaka??
”Baiklah... pembicaraan selesai,” kata Chiaki.
”maksudmu???”, Itou bertanya balik, heran.
”jika itu mau kalian.. aku tidak ingin lagi membahas ini,” jawab Chiaki.
”aku tidak pernah yakin... Takahashi san sejahat itu,” lanjutnya lagi. Lalu dia menunduk hormat pada suaminya sendiri dan keluar ruangan.
Itou hanya bisa mengomel, menggerutu sendiri.
                                                --------------------------------
Kamui sudah menunggu Minho pagi itu sekitar jam 7.00 untuk segera mempersiapkan diri membantunya membedah liver seorang pasien.
“hari ini jangan terlalu berpikir serius tentang penelitian kita. Kamu harus membantu ku sampai siang.. lalu berlanjut lagi sampai sore.. semua urusan perkembangan serahkan saja pada asisten mu,” kata Kamui dengan santainya.
Minho menunduk hormat, mengikuti saja perintah dokter senior pembimbingnya itu.
Kamui melihat perubahan kecil pada diri Minho.
”sejak kapan kamu pakai jaket di dalam ruangan begini?,” tanya dia dengan santai.
Minho sedikit gugup, dia memang belum sempat ganti baju yang kemarin dan tidak enak dengan Kamui. Namun, lelaki senior nya itu malah hanya tertawa.
”kamu dan Fujita sensei.. pasti menghabiskan waktu kemarin malam, kan? Makanya tidak sempat ganti baju, Hahaha!,” tawa Kamui menggema di ruangannya.
”tidak, sensei.. tidak seperti itu,” balas Minho dengan menunduk hormat.
Tapi Kamui malah menepuk samping pundak Minho, yang tidak sengaja terkena luka gores pisau tadi malam. Minho berusaha menahan sakit, tidak ingin lelaki itu tahu kejadian semalam.
Minho lalu minta ijin untuk segera berganti baju dan mempersiapkan diri. Kamui mengijinkannya saja pergi, tanpa tahu apa yang telah terjadi.

”luka ini pedih sekali.. menyebalkan..,”
”takut menganggu kelancaran operasi,” gerutu Minho di dalam kamar ganti rumah sakit itu.
Di depan kaca, dia melihat lagi seberapa panjang jahitan lukanya, jangan sampai nanti menyusahkan dirinya ketika membantu Kamui.
Di pegangnya lagi luka yang cukup dalam dan memang perih itu. Untung saja Shiori memiliki alat bedah ringan di dalam flat nya. Dia masih berpikir, siapa yang melukainya? Sedikit wajah di balik helm hitam itu, seperti seorang perempuan.
”Kamui sensei tidak boleh tahu,” katanya dalam hati.
Di ruang itu, dia kembali mengingat kejadian lebih dari 5 tahun lalu terhadap salah seorang rekan sejawatnya, yang meregang nyawa di depannya, seperti keracunan bahan kimia tertentu. Tidak tahu apa penyebab kematiannya waktu itu, sampai akhirnya terbuka juga melalui surat yang disimpan di laci Minho, oleh temannya itu, masalah apa yang terjadi yang diungkapkan rekannya itu. Namun, Minho tidak bisa berbuat banyak, dia harus tutup mulut atau semua apa yang dimilikinya akan habis binasa. Dia tidak menginginkan itu. Namun, kejadian kemarin malam mengingatkan lagi memori itu: adakah orang yang berniat membunuhnya? Untuk sementara, dia coba singkirkan rasa kekhawatirannya, karena harus membantu Kamui. Dia kembali ke ruang biasa lalu pergi bersama Kamui ke ruang operasi, setelah rapi dengan baju yang disisakannya dalam loker. Sejenak semua dilupakannya.
                                                ---------------------------------------
Yi Kyung duduk di ruangannya yang kecil, sementara dia menunggu pasien sehabis makan siang itu, akan buka praktek. Sambil melihat-lihat beberapa medical records anak-anak yang berada di bawah pengawasannya, ternyata Yamada masuk. Lekas dia berdiri menghormat kepada dokter yang direkomendasikan menjadi pengawasnya itu.
”bagaimana dengan para pasien disini.. apa mereka menyusahkanmu??,” basa basi Yamada padanya.
“mereka menyenangkan sekali... mudah diajak bekerjasama,” tunduk hormat Maeda alias Yi Kyung pada Yamada.
Dalam hatinya, Yi Kyung bergumam, mengapa Yamada mengunjunginya. Seminggu lebih dia sudah berada disini, setelah dia dipindahkan dari bagian bedah ke bagian anak, dengan catatan dari Kamui, Yamada belum berbicara lagi padanya.
“begitulah dunia anak-anak.. mereka dapat sangat kita percayai,” basa basi Yamada.
Lantas mereka duduk saling berhadapan. Yamada bertanya apa terakhir dari Shingen University ada yang menghubunginya. Yi Kyung menjawab tidak ada. Shingen memang universitas terakhir Yi Kyung belajar dan tempat pertama adalah Kenzai.
“Jadi.. Maeda sensei.. sama sekali tidak berminat meneruskan lagi spesialisasi nya jenjang berikutnya? Memang hanya ingin jadi dokter anak biasa??,”
Maeda alias Yi Kyung tertawa renyah dengan basa basi Yamada. Memang untuk spesialisasi lebih mendalam lagi tentang anak, Kenzai atau Shigen adalah jagonya, Yutaka belum memiliki dosen pengajar yang lebih kompeten dibanding mereka.

Pertanyaan ini sebenarnya menjebak Yi Kyung.
“pelajaran itu.. bisa di dapat dari mana saja, Yamada sensei.. dan saya bersyukur bisa ada disini.. termasuk mendampingi penelitian yang diadakan oleh Lee sensei,” jawab Yi Kyung, diplomatis.
Agak mengherankan juga kenapa mendadak Kamui meminta Yi Kyung membantu mengawasi para pasien anak yang menjadi partisipan dalam penelitian itu. Sementara, sebenarnya masih ada beberapa dokter lain yang bisa melakukannya. Kamui memiliki rasa menyelidik yang tinggi pada diri perempuan ini. Dia memang curiga, semuanya bisa terjadi secara bersamaan alumni Kenzai masuk ke dalam universitas mereka. Sementara, Daisuke juga menganggapnya kecurigaan Kamui adalah hal normal.
“sebuah hal yang menyenangkan dengan Kamui sensei yang langsung mempercayai saya membantu riset ini,” balas Yi Kyung lagi.
Yamada tersenyum. Menurut pikirannya, pastilah sebenarnya Yi Kyung juga waspada dengan apa yang dibicarakannya.
“apa ada kesulitan yang mendalam tentang riset??,” tanya Yamada.
Yi Kyung menggeleng. Dia hanya sebatas menenangkan para pasien kecil Minho dan kawan-kawannya, lalu mengecek apakah dosis obat mereka tepat ketika diberikan oleh para suster, begitu pula dengan makanan yang sudah diformulasikan.
”berada di dalam universitas ini.. seperti keluarga sendiri,” kata Yi Kyung dengan semangat.
Dia adalah blasteran Jepang dan Korea, dan keluarganya lebih memilih tinggal di Korea. Tapi, dia membuka peluang dirinya untuk aktif dan bekerja di Jepang.
Mereka lalu berbicara kondisi masing-masing anak, bagaimana peluang harapan hidup mereka. Yi Kyung begitu serius berbicara panjang lebar pada Yamada, sehingga pikiran orangtua itu sedikit berubah: apa iya... perempuan muda ini akan berbahaya buat institusinya? Sementara memang dari hari pertama Yi Kyung sudah disini, dia terlihat sangat antusias dan serius bekerja.
Lama pembahasan, akhirnya Yamada pamit juga. Yi Kyung menunduk hormat sampai Yamada keluar dari ruangannya.
“sepertinya.. dia curiga padaku.. kalau aku suruhan Kenzai,” kata hatinya Yi Kyung.
                                                ------------------------------
Detik demi detik terus berlalu di hari itu. Shiori tidak bertemu Minho sampai waktu mereka selesai. Dan Minho pun hanya mengirimkan pesan bahwa ia sibuk sampai dengan pulang nanti. Daisuke meminta dia lekas pulang jika sudah selesai pekerjaannya dan Shiori menuruti saja perintah ayahnya.
”jadi.. dia itu pacar barumu??,” tanya Daisuke dengan tenang, duduk diatas tatami (tikar jepang), sambil mereka menikmati teh malam itu menjelang tidur.
Shiori mengangguk, menjawab perkataan ayahnya. Lantas Daisuke meminta anaknya menceritakan, siapa dan sejauh mana sebenarnya Minho yang diketahui anaknya. Shiori pun melakukannya sejauh yang dia ketahui tentang Minho.
”jadi.. dia bukanlah seorang anak dokter terkenal atau siapapun,” kata Daisuke, berusaha tenang.
Di dunia modern ini, Jepang masih memiliki aturan ketat dalam pemilihan anggota keluarga jika memang hubungan berjalan serius. Bahkan orangtua sebuah keluarga bisa saja menyewa seorang suruhan untuk memata-matai orang yang disukai anak mereka. Biasanya entah itu mulai dari nama orangtua, riwayat keluarga orangtua, profesi sang pacar sampai pada status sosialnya. Apalagi buat keluarga yang memang dianggap dari keluarga berada, termasuk keluarga Fujita.

”sepertinya kamu belum mengetahui banyak tentang keluarga Lee sensei,” kata Daisuke pada anaknya itu.
Shiori berusaha tenang dengan perkataan ayahnya. Dia katakan memang baru saja memulai hubungan dan belum terlalu dalam. Lagipula, dia datang ke kota ini ingin meneruskan sekolahnya, bukan pacaran dengan rekan sejawat siapapun.
”Tapi kamu sudah memulainya.. ,” balas Daisuke.
Shiori menunduk hormat pada ayahnya, mengakui hal itu. Namun, dia berjanji, studi dan riset nya lah yang akan dia dahulukan, sebab dia pewaris sebuah rumah sakit di kota kecil Hokkaido, milik ayahnya sendiri, Daisuke.
”perasaanku tidak akan terlalu dalam dengan Lee sensei, ayah.. sampai aku selesai dan kembali pulang ke Hokkaido.”
”dan kemungkinan.. Kamui sensei sangat menyukai Lee sensei sebagai penggantinya,” kata Daisuke. Dia sudah cukup banyak mengetahui tentang Minho dibanding anaknya sendiri, dari Kamui.
”dia yang akan dipromosikan sebagai kepala divisi bedah berikutnya.. sebab Kamui sensei akan pindah ke rumah sakit lain yang sudah lama memintanya,”
Shiori duduk menunduk hormat lagi pada ayahnya. Dia tidak bisa menolak keputusan ayahnya itu, sebab semua itu sudah janjinya, menggantikan posisi ayahnya sebagai pemilik. Dan siap-siap saja... jika ke depannya Daisuke tidak menyukai Minho.. dirinya akan dijodohkan dengan dokter atau pengusaha atau siapapun yang profesinya dianggap seimbang berdasarkan status sosial keluarga.
”aku berjanji akan menyelesaikan studi dan riset ku dengan sempurna... sesuai keinginan ayah,”
Daisuke akan menagih janji anak tunggalnya itu. Sebab, bagaimanapun, hal ini juga terkait dengan perkembangan rumah sakit dan juga bisnis industri kesehatan yang dimilikinya. Shiori harus menerima itu.
                                                ----------------------------------
Malam berlalu, Minho baru saja pulang dari rumah sakit. Dia menemukan kedua adiknya sedang asik belajar untuk tugas sekolah esok.
Ran Rin kecil yang melihat kakak tirinya itu tampak lelah, mendatangi dan menyapanya dengan ramah.
dangsin apeun, Oppa??,” tanya dia dengan suara anak-anaknya, apa Minho sakit?.
Wajah Minho memang terlihat sangat lelah, dua operasi harus di jalankan hari itu.
gwaenchanh a.. nan geongang haeyo,” jawab Minho dengan ramah pula, mengusap kepala adiknya itu, dia katakan kalau dirinya sehat. Padahal, kepalanya sangat berat.
Dia harus terlihat ceria dan tanpa masalah di hadapan kedua adik tirinya itu.
Lalu dia meminta Nami untuk mengajarkan Ran, mata pelajaran yang menjadi PR nya malam itu.
Di kamar mandi, dia merenung, mengingat lagi peristiwa tadi pagi, Daisuke datang ke flat anaknya sendiri dan bertemu dengannya. Dia tidak bisa menebak bagaimana pikiran orangtua itu pada dirinya.
Siangnya, dia hanya berbicara singkat dengan Shiori di telepon. Lantas perempuan itu hanya menjawab, tidak ada hal penting yang dibahas dengan ayahnya.
Dia masih meraba lukanya, membasuhnya dan masih terasa perih. Setelah selesai mandi, dia membalut lukanya dan sengaja tidak memakai bajunya di luar kamar mandi, tapi di dalam. Masih tidak ingin kedua adik nya itu tahu apa yang terjadi kemarin.
Dengan handuk yang masih membalut pinggangnya dan memakai kaus lengan panjang, dia lalu menghampiri kedua adiknya lagi, duduk di depan mereka.
“Apa.. PR kamu susah sekali, Ran??,”
Ran menggeleng dengan semangat, dia katakan mudah dan tidak perlu Minho mengajarinya. Dengan semangat, malah dia seolah-olah mengajari Minho bagaimana caranya membuat sebuah origami berbentuk gajah.
Minho tertawa keras sampai gigi geliginya yang putih terlihat. Dia memang merasakan waktu kecil kesulitan membuat origami, hal yang tidak disangka-sangka dengan polos adiknya menawarkannya.
”jadi.. Oppa memang tidak bisa membuat origami??,” tanya Nami, heran.
Minho mengangguk mengiyakan, bahwa dia pernah menangis karena gagal membuat origami di sekolah, waktu TK dulu.
Nami dan Minho satu ayah, tapi beda ibu. Sedang dengan Ran Rin benar-benar beda ayah dan ibu.
Dua adik perempuan Minho itu mentertawakan nasib kakaknya yang sampai sekarang masih kesulitan membuat origami.
Sejenak Minho melupakan kejadian kemarin dan hari itu. Sampai kemudian, handphone nya berbunyi. Ternyata Shiori meneleponnya.
Dia lalu keluar dan menerima panggilan itu. Shiori pun sengaja berada di luar juga.

”bagaimana operasinya hari ini... sukses??,” tanya Shiori, berbasa-basi dengan Minho, membuka pembicaraan.
”hai’.. yoku shimashita.. yokatta naa.. Kamui sensei wa sugoi sensei desu,” kata Minho, bangga memuji dokter pembimbingnya itu dan mengatakan kalau operasinya sukses.
”ah.. yokatta.. jadi.. peringkatmu bisa cepat naik kalau Kamui sensei yang mengajarimu,” balas Shiori.
Mereka mendadak jadi diam-diaman. Waktu serasa terhenti, bingung ingin berbicara apa.
Lantas Minho memulai duluan berbicara lagi...
anta ga missu (I miss you),” katanya dengan sedikit malu.
Shiori bukan bingung dengan perkataan Minho baru saja, tapi dia malah tertawa kecil. Minho memang bukan lelaki yang gampang bilang sesuatu yang membuat pacarnya terbang tinggi. Dia lebih suka bertindak daripada sekedar perkataan.
”kenapa??,” tanya Minho, heran.
Shiori diam, tidak menjawab. Dia ingin sekali bercerita tentang hasil pembicaraannya tadi sore mendekati malam dengan ayahnya... namun akhirnya dia lekas urungkan.
”ah.. tadi itu ada banyak pasien anak mencari mu.. mereka kangen dengan keramahan mu.. kata Saburo-kun : ” Lee sensei wa.. doko ka?? Isogashi desu ka (dokter Lee kemana.. apa dia sibuk??)??”... begitu”.
”oh, haha.. hari ini memang melelahkan banget.. ,” balas Minho dengan ramah.
”operasi kanker liver dan kanker paru tidak mudah.. Kamui sensei mengajariku micro surgery...itu makanya aku serahkan saja urusan hari ini kepada Kazuki sensei.. apa dokter satu itu nakal dengan anak-anak??”.
Shiori menggeleng,” Tidak.. Kazuki sensei ramah dengan mereka”.
”Shiori chan...,” kata Minho.
”ya??,” balas Shiori, singkat.
”apa.. ayahmu berkata buruk tentang ku???,” tanya Minho, suaranya datar.
Shiori mendadak diam. Ayahnya tidak berkata atau tidak berprasangka buruk dengan Minho, namun memang hubungan ini mesti dibatasi demi masa depan dirinya.
”tidak sama sekali.. ,” balas Shiori.
Minho bergumam disana... dia ketakutan akan nasib hubungannya ke depan. Yang dia sukai adalah anak berkedudukan sosial cukup tinggi dan diakui di Hokkaido. Terbayang lagi dia akan mengalami penolakan seperti kasus hubungannya dengan Chiaki Akimoto.
”besok.. masih masuk kan?? Tidak mengambil libur??,” tanya Minho.
”kita kan harus memastikan laporan mingguan...,” balas Shiori.
”ada hal yang ingin aku sampaikan kepadamu...,” kata Minho.
”tentang... hubungan kita??,” tanya Shiori.
”tidak hanya itu,” balas Minho, singkat.
Shiori menyetujuinya. Sepulang kerja, mereka akan makan di sebuah restaurant dan ngobrol bersama.
Minho tidak berkata banyak, dia sendiri yang mengakhiri percakapan malam itu.
Sampai di kamar masing-masing... keduanya saling berpikir.. apa yang ingin disampaikan rasa hati masing-masing esok..


Bersambung ke part 19....