Lee Minho sebagai Dokter Minho Gackt
sebagai Dokter Kamui
Cerita ini hanya fiksi imajinasi belaka...Kalau masih serius juga.. tanggung sendiri deh..
Pagi itu, semua berjalan detik demi detik
terlewati. Minho meminta
Shiori menyembunyikan peristiwa dirinya dilukai seseorang tadi malam. Dia tidak
ingin Kamui atau siapapun tahu, karena memang mereka belum mengetahui, siapa
pelaku atau dalang dari peristiwa kemarin.
”ya baiklah.. aku enggak akan cerita,”
kata Shiori, singkat, sambil mereka makan pagi bersama.
Minho menjawab dengan senyum.
”aku tidak ingin semua urusan jadi
panjang,” katanya pada Shiori.
”Jika aku jadi kamu.. tentunya aku enggak
akan membiarkan ini.. sudah keterlaluan”, balas Shiori.
”andai kamu tidak mengelak...entah apa
yang terjadi tadi malam,” lanjutnya.
Memang sepatutnya tidak seperti itu.
Diam-diam, dia akan membicarakan kejadian tadi malam itu dengan ayahnya di lain
waktu. Setidaknya, itu yang dia pikirkan dan tidak perlu Minho mengetahuinya.
”aku ingin semua pekerjaan kita lancar,”
kata Minho lagi.
”aku mengerti,” balas Shiori.
Minho malah tertawa-tawa kecil padanya. Shiori
memandangnya dengan sedikit heran.
”rasanya.. aku memang mulai berubah,” kata Minho, meletakkan
sumpitnya dan menatap pada perempuan itu.
Shiori seperti salah tingkah dengan
perilaku Minho. Dia memang masih meraba-raba hubungannya dengan cowok itu. Apalagi,
dia memang sudah lama tidak disukai oleh cowok lain setelah hubungannya dengan
seseorang dokter juga, kandas.
Dia mengelak pandangan Minho dan hanya
berkata kalau mereka harus lekas pergi, takut terlambat bekerja.
Minho mendapatkan pesan dari Kamui agar
segera datang karena dia harus membantu Kamui menyelesaikan urusan bedah.
Mereka segera ingin pergi. Namun, sesampainya Shiori membuka pintu, dilihat
mereka, seorang setengah baya lebih berdiri di depan pintu.
”Otoo
san??,” kata Shiori, heran, melihat ayahnya sudah berdiri tepat di depan
pintu.
Biasanya ayahnya jika ingin datang,
terlebih dahulu mengabarkannya. Tapi, kali ini tidak, dan tepat berdiri di
depannya.
Minho juga kaget, namun dia berusaha
menyembunyikan kekagetannya, dan ketika melihat wajah Daisuke, dia langsung
menunduk hormat pada dokter senior itu.
”ohayou
gozaimasu, Fujita sensei,” katanya pada Daisuke.
Daisuke hanya membalasnya dengan ucapan
selamat pagi.
”aku sengaja datang kesini.. karena ku
pikir, sayang sekali tidak melewatkan waktu bersama anak sendiri.. sekaligus
membicarakan soal proyek,” kata Daisuke.
Shiori yang tidak enak hati bertemu
ayahnya, namun dia bersama Minho di ruangan rumah susun nya itu, tersenyum
sedikit kaku. Dia tahu perkataan ayahnya hanya sekedar basa basi.
”ayah semestinya bilang dulu padaku kalau
mau kesini.. ruangannya semua
berantakan,” katanya, membalas juga dengan basa basi.
Mereka masih bicara di depan pintu.
Daisuke bersikap biasa saja, dia lalu
masuk ke rumah susun Shiori. Shiori mengikuti ayah nya, sementara Minho masih
berdiri di depan pintu. Perasaannya
justru malah campur aduk. Dia berusaha menyembunyikan itu dengan diamnya.
”kalau ayah mau makan.. aku hanya memasak
nasi dan sayuran,” kata Shiori, masih berbasa-basi.
”ayah hanya mau istirahat disini sebelum
nanti pergi ke rumah sakit,” balas Daisuke.
”masih ada yang harus ku bahas dengan
Kamui sensei dan Takahashi sensei,” lanjutnya.
Shiori sedikit menunduk hormat pada
ayahnya. Dia katakan, kalau dia tidak ingin terlambat karena harus memonitor
penelitian mereka. Tepat hari itu sudah berusia seminggu berjalan. Daisuke
mengijinkannya lekas pergi agar tidak terlambat dan tidak memberatkan Kamui.
Shiori menunduk hormat sekali lagi kepada
ayahnya. Minho mengikuti juga. Mereka minta ijin pamit dan menuju ke bawah, ke
tempat dimana Shiori memarkirkan mobilnya.
”semoga ayah mu tidak marah tadi melihat
kita berdua,” kata Minho sambil menyetir.
Shiori mengangguk,” semoga”.
Dia memang tidak ingin ayahnya berpikiran
aneh-aneh dulu melihat Minho bersamanya. Tadi malam, dia memang hanya membantu
membersihkan luka Minho tergores pisau orang tak dikenal.
”aku memang belum katakan apapun pada
orangtuaku..,”
”tentang hubungan kita,” katanya pada
Minho, dengan suara yang lembut.
Minho senyum saja. Dia memang sedari tadi
sebenarnya galau, kenapa kejadian ini
datang? Di dalam dirinya sudah terpikirkan tentang penolakan hubungan, jika
Daisuke tahu, siapa sebenarnya dirinya. Takut kejadian seperti hubungannya
dengan Chiaki terulang kembali. Minho memang tidak pernah bercanda untuk
hubungan kedekatan dengan lawan jenis. Dia akan berpikir berat untuk mengambil
kesimpulan, apakah perempuan yang disukainya pantas untuk didekati dan
diseriusi, atau tidak. Dia
jadi diam sepanjang jalan. Shiori seperti mengetahui jalan pikirannya.
”eh..enggak usah terlalu khawatir tentang
yang tadi,” katanya, berusaha menyemangati Minho.
Sekali lagi, Minho hanya membalas dengan
senyuman. Dan.. mereka saling diam sampai rumah sakit.
-----------------------------------------
Chiaki duduk diruangannya. Tadi malam, dia
bertengkar dengan suaminya soal perusahaan yang mereka kelola. Tapi... bagaimana mungkin kala mereka ribut..
tiba-tiba bayangan Minho kembali ada di lintasan pikirannya??
Dia tidak mungkin merokok di rumah sakit,
padahal semenjak dia berpisah dengan Minho, jadi sering minum dan merokok.
Dia belum berbicara apapun kepada ayahnya
tentang permintaan Shiori, untuk tidak menganggu mereka lagi. Chiaki akhirnya
tahu ambisi apa yang ayahnya masih kejar. Sebenarnya, dia sudah tidak mau ikut
campur dengan semua ini, namun jika tidak bicara juga dengan orangtuanya itu, maka
urusan penelitian rumah sakit akan sangat berantakan.
Sambil menunggu jam pemeriksaan
selanjutnya, dia masih tetap termenung, lalu memberanikan diri berbicara juga
dengan ayahnya, Takeo.
”kalau mau berbicara banyak denganku..
tidak saat ini,” jawab Takeo dengan nada pedas.
Chiaki tidak bisa berbuat banyak jika
begitu. Akhirnya dia memutus
sendiri teleponnya. Dan.. dia berpikir: apa lagi yang akan dilakukan ayahnya??
Dia bisa dipecat di rumah sakit ini, dan itu adalah hal yang gampang sekali
dilakukan Takahashi. Sekali seorang dokter dipecat dari sebuah rumah sakit
dengan tidak hormat, sulit sekali berhasil baginya mendapatkan pekerjaan di
rumah sakit lain. Dan hal itulah yang pernah dialami Minho, yang dilakukan oleh
ayahnya sendiri.
“ah...,” akhirnya dia berdiri, memandang
keluar jendela.
Matahari sudah mulai panas. Musim panas
sedang berlangsung, terik. Cahaya nya masuk ke dalam ruangannya.
Pikirannya sebenarnya terganggu tentang
pembicaraannya dengan Shiori. Rasa cemburunya dia sembunyikan di hadapan
perempuan itu... padahal dia sangat kesal.. kenapa harus bertemu dengan
perempuan yang tidak disangka-sangkanya, malah disukai Minho.
”jadi.. kalian pacaran.. buat aku iri
saja,” katanya pada Shiori, sambil dia tertawa kecil pada perempuan itu,
aslinya cemburu.
Shiori membalas dengan tawa kecil yang
terkesan miris. Dia tidak ingin menjadi masalah bagi keduanya. Namun Chiaki
juga sadar, kalau dia tidak bisa melarang Minho untuk berhubungan atau suka
dengan siapapun. Keduanya sudah menjalani kehidupan masing-masing.
”aku baru merasa nyaman dekat dengannya,”
kata Shiori.
Chiaki tersenyum tipis.
”dia dapat jadi lelaki yang nyaman untuk
mu... aku pastikan itu,” balasnya.
Mereka diam sejenak. Lalu..
”sebenarnya.. tidak semua perempuan bisa menerima lelaki masa
lalunya bersama yang lain,”
Dan Shiori membalas dengan bergumam. Sudah
pasti, Chiaki ternyata bukan perempuan yang mudah melupakan seseorang.
”aku ..bisa saja menghindarinya,” mendadak
Shiori seperti tidak berminat berhubungan dekat dengan Minho.
Chiaki menoleh padanya, lalu tersenyum.
”jangan kecewakan dia untuk kedua
kalinya.. itu yang aku tahu,”
Dan... Shiori menghela nafas pelan
mendengar kata-kata barusan.
”Ayahmu tidak akan pernah menyetujui kalau
usaha ini tidak masuk ke dalam rumah sakit itu,” kata Soijirou Itou.
Chiaki langsung berdiri, yang awalnya
duduk. Dia memprotes ayah dan suaminya nekat untuk bermain di dalam Yutaka.
”sudah pasti Takahashi san tidak akan
setuju..,” katanya, melawan.
”tidak butuh persetujuan siapapun soal
bisnis,” balas Itou dengan entengnya.
Mereka tetap akan memperluas bisnisnya.
Jepang sedang dilanda sepi ekonomi hampir di semua bidang, tidak hanya
otomotif, termasuk juga industri obat.
”kita bisa saja promosi ke luar negeri.. why not??,” sanggah Chiaki lagi. Dalam
pikirannya, mati saja jika hal ini tetap dilanjutkan.
“aku
tidak memintamu mengurusi bisnis! Ayah mu sendiri yang menyerahkan padaku!,”
bentak Itou.
Akhir-akhir ini mereka memang sering ribut
soal bisnis. Jika tidak diberitahu sama sekali oleh Shiori, apa yang kira-kira
ayahnya inginkan, bisa saja dia membela kepentingan orangtuanya itu.
”dan pandanganmu masih saja naif tentang
ini,” lanjut Itou dengan intonasi dingin.
Sama sekali Chiaki tidak ingin ribut. Itou
menjelaskan berkali-kali, jika mereka bisa menguasai bahan dari penelitian itu
dan bisa menduplikasi bahan tersebut, dan jika terbukti penelitian itu akan
sukses, mereka bisa meniru dan mempromosikan obat yang mereka paten sendiri.
”aku sama sekali tidak setuju tentang itu,”
kata Chiaki, tegas.
Itou juga seorang lelaki yang ambisius,
itu sebab, menantu dan mertua hampir mirip perilakunya. Sedang Chiaki bukan orang yang sebenarnya suka
sekali dengan kompetisi. Itou pun mencapnya sebagai perempuan yang lemah yang
tidak ingin menguasai bisnis kesehatan, sedangkan hari semakin hari, bisnis ini
sudah banyak saingan dan juga mesti siap menjadi no satu.
Suka tidak suka, Takahashi juga sebenarnya
memiliki saham di Maru chem dan Chiaki tidak mengetahui itu. Terang saja dia
kaget... sebenarnya.. semua tentang penelitian ini tidak lebih dari persaingan
bisnis.
”masih mau mengelak dan tidak ingin
menghancurkan Takahashi san?? Dia sebenarnya bukan orang yang baik. Hanya saja,
ayahmu berani menyerbu kandangnya,”
”berpikirkan, Chiaki Akimoto,”
Chiaki jadi diam. Itou tersenyum sinis
padanya. Dia panjang lebar membongkar bisnis industri kesehatan milik
Takahashi, tentang Maru chem, tentang menggunakan profesinya untuk bisnis, dan
sebagainya.
Chiaki masih terdiam, berfikir.. apa iya
Takahashi seburuk itu?? Sementara, jika memang bisnisnya dan ayahnya bersaing..
kenapa tidak lekas orang itu melemparnya keluar dari Yutaka??
”Baiklah... pembicaraan selesai,” kata
Chiaki.
”maksudmu???”, Itou bertanya balik, heran.
”jika itu mau kalian.. aku tidak ingin
lagi membahas ini,” jawab Chiaki.
”aku tidak pernah yakin... Takahashi san sejahat itu,” lanjutnya
lagi. Lalu dia menunduk
hormat pada suaminya sendiri dan keluar ruangan.
Itou hanya bisa mengomel, menggerutu
sendiri.
--------------------------------
Kamui sudah menunggu Minho pagi itu
sekitar jam 7.00 untuk segera mempersiapkan diri membantunya membedah liver
seorang pasien.
“hari ini jangan terlalu berpikir serius
tentang penelitian kita. Kamu harus membantu ku sampai siang.. lalu berlanjut
lagi sampai sore.. semua urusan perkembangan serahkan saja pada asisten mu,”
kata Kamui dengan santainya.
Minho menunduk hormat, mengikuti saja
perintah dokter senior pembimbingnya itu.
Kamui melihat perubahan kecil pada diri
Minho.
”sejak kapan kamu pakai jaket di dalam
ruangan begini?,” tanya dia dengan santai.
Minho sedikit gugup, dia memang belum
sempat ganti baju yang kemarin dan tidak enak dengan Kamui. Namun, lelaki
senior nya itu malah hanya tertawa.
”kamu dan Fujita sensei.. pasti
menghabiskan waktu kemarin malam, kan? Makanya tidak sempat ganti baju, Hahaha!,”
tawa Kamui menggema di ruangannya.
”tidak, sensei.. tidak seperti itu,” balas
Minho dengan menunduk hormat.
Tapi Kamui malah menepuk samping pundak
Minho, yang tidak sengaja terkena luka gores pisau tadi malam. Minho berusaha menahan sakit, tidak ingin
lelaki itu tahu kejadian semalam.
Minho lalu minta ijin untuk segera
berganti baju dan mempersiapkan diri. Kamui mengijinkannya saja pergi, tanpa
tahu apa yang telah terjadi.
”luka ini pedih sekali.. menyebalkan..,”
”takut menganggu kelancaran operasi,”
gerutu Minho di dalam kamar ganti rumah sakit itu.
Di depan kaca, dia melihat lagi seberapa
panjang jahitan lukanya, jangan sampai nanti menyusahkan dirinya ketika
membantu Kamui.
Di pegangnya lagi luka yang cukup dalam
dan memang perih itu. Untung saja Shiori memiliki alat bedah ringan di dalam
flat nya. Dia masih berpikir, siapa yang melukainya? Sedikit wajah di balik
helm hitam itu, seperti seorang perempuan.
”Kamui sensei tidak boleh tahu,” katanya
dalam hati.
Di ruang itu, dia kembali mengingat
kejadian lebih dari 5 tahun lalu terhadap salah seorang rekan sejawatnya, yang
meregang nyawa di depannya, seperti keracunan bahan kimia tertentu. Tidak tahu
apa penyebab kematiannya waktu itu, sampai akhirnya terbuka juga melalui surat
yang disimpan di laci Minho, oleh temannya itu, masalah apa yang terjadi yang
diungkapkan rekannya itu. Namun, Minho tidak bisa berbuat banyak, dia harus
tutup mulut atau semua apa yang dimilikinya akan habis binasa. Dia tidak
menginginkan itu. Namun, kejadian kemarin malam mengingatkan lagi memori itu:
adakah orang yang berniat membunuhnya? Untuk sementara, dia coba singkirkan rasa kekhawatirannya, karena harus
membantu Kamui. Dia kembali ke ruang biasa lalu pergi bersama Kamui ke ruang
operasi, setelah rapi dengan baju yang disisakannya dalam loker. Sejenak semua
dilupakannya.
---------------------------------------
Yi Kyung duduk di ruangannya yang kecil,
sementara dia menunggu pasien sehabis makan siang itu, akan buka praktek. Sambil
melihat-lihat beberapa medical records anak-anak yang berada di bawah pengawasannya,
ternyata Yamada masuk. Lekas
dia berdiri menghormat kepada dokter yang direkomendasikan menjadi pengawasnya
itu.
”bagaimana dengan para pasien disini.. apa
mereka menyusahkanmu??,” basa basi Yamada padanya.
“mereka menyenangkan sekali... mudah
diajak bekerjasama,” tunduk hormat Maeda alias Yi Kyung pada Yamada.
Dalam hatinya, Yi Kyung bergumam, mengapa
Yamada mengunjunginya. Seminggu lebih dia sudah berada disini, setelah dia
dipindahkan dari bagian bedah ke bagian anak, dengan catatan dari Kamui, Yamada
belum berbicara lagi padanya.
“begitulah dunia anak-anak.. mereka dapat
sangat kita percayai,” basa basi Yamada.
Lantas mereka duduk saling berhadapan.
Yamada bertanya apa terakhir dari Shingen University ada yang menghubunginya.
Yi Kyung menjawab tidak ada. Shingen memang universitas terakhir Yi Kyung
belajar dan tempat pertama adalah Kenzai.
“Jadi.. Maeda sensei.. sama sekali tidak
berminat meneruskan lagi spesialisasi nya jenjang berikutnya? Memang hanya
ingin jadi dokter anak biasa??,”
Maeda alias Yi Kyung tertawa renyah dengan
basa basi Yamada. Memang untuk spesialisasi lebih mendalam lagi tentang anak,
Kenzai atau Shigen adalah jagonya, Yutaka belum memiliki dosen pengajar yang
lebih kompeten dibanding mereka.
Pertanyaan ini sebenarnya menjebak Yi
Kyung.
“pelajaran itu.. bisa di dapat dari mana
saja, Yamada sensei.. dan saya bersyukur bisa ada disini.. termasuk mendampingi
penelitian yang diadakan oleh Lee sensei,” jawab Yi Kyung, diplomatis.
Agak mengherankan juga kenapa mendadak
Kamui meminta Yi Kyung membantu mengawasi para pasien anak yang menjadi
partisipan dalam penelitian itu. Sementara, sebenarnya masih ada beberapa
dokter lain yang bisa melakukannya. Kamui memiliki rasa menyelidik yang tinggi
pada diri perempuan ini. Dia memang curiga, semuanya bisa terjadi secara
bersamaan alumni Kenzai masuk ke dalam universitas mereka. Sementara, Daisuke
juga menganggapnya kecurigaan Kamui adalah hal normal.
“sebuah hal yang menyenangkan dengan Kamui
sensei yang langsung mempercayai saya membantu riset ini,” balas Yi Kyung lagi.
Yamada tersenyum. Menurut pikirannya,
pastilah sebenarnya Yi Kyung juga waspada dengan apa yang dibicarakannya.
“apa ada kesulitan yang mendalam tentang
riset??,” tanya Yamada.
Yi Kyung menggeleng. Dia hanya sebatas
menenangkan para pasien kecil Minho dan kawan-kawannya, lalu mengecek apakah
dosis obat mereka tepat ketika diberikan oleh para suster, begitu pula dengan
makanan yang sudah diformulasikan.
”berada di dalam universitas ini.. seperti keluarga sendiri,” kata Yi Kyung
dengan semangat.
Dia adalah blasteran Jepang dan Korea, dan
keluarganya lebih memilih tinggal di Korea. Tapi, dia membuka peluang dirinya
untuk aktif dan bekerja di Jepang.
Mereka lalu berbicara kondisi masing-masing
anak, bagaimana peluang harapan hidup mereka. Yi Kyung begitu serius berbicara
panjang lebar pada Yamada, sehingga pikiran orangtua itu sedikit berubah: apa
iya... perempuan muda ini akan berbahaya buat institusinya? Sementara memang
dari hari pertama Yi Kyung sudah disini, dia terlihat sangat antusias dan
serius bekerja.
Lama pembahasan, akhirnya Yamada pamit
juga. Yi Kyung menunduk hormat sampai Yamada keluar dari ruangannya.
“sepertinya.. dia curiga padaku.. kalau
aku suruhan Kenzai,” kata hatinya Yi Kyung.
------------------------------
Detik demi detik terus berlalu di hari
itu. Shiori tidak bertemu Minho sampai waktu mereka selesai. Dan Minho pun
hanya mengirimkan pesan bahwa ia sibuk sampai dengan pulang nanti. Daisuke
meminta dia lekas pulang jika sudah selesai pekerjaannya dan Shiori menuruti
saja perintah ayahnya.
”jadi.. dia itu pacar barumu??,” tanya
Daisuke dengan tenang, duduk diatas tatami
(tikar jepang), sambil mereka menikmati teh malam itu menjelang tidur.
Shiori mengangguk, menjawab perkataan
ayahnya. Lantas Daisuke meminta anaknya menceritakan, siapa dan sejauh mana
sebenarnya Minho yang diketahui anaknya. Shiori pun melakukannya sejauh yang
dia ketahui tentang Minho.
”jadi.. dia bukanlah seorang anak dokter
terkenal atau siapapun,” kata Daisuke, berusaha tenang.
Di dunia modern ini, Jepang masih memiliki
aturan ketat dalam pemilihan anggota keluarga jika memang hubungan berjalan
serius. Bahkan orangtua sebuah keluarga bisa saja menyewa seorang suruhan untuk
memata-matai orang yang disukai anak mereka. Biasanya entah itu mulai dari nama
orangtua, riwayat keluarga orangtua, profesi sang pacar sampai pada status
sosialnya. Apalagi buat keluarga yang memang dianggap dari keluarga berada,
termasuk keluarga Fujita.
”sepertinya kamu belum mengetahui banyak
tentang keluarga Lee sensei,” kata Daisuke pada anaknya itu.
Shiori berusaha tenang dengan perkataan
ayahnya. Dia katakan memang baru saja memulai hubungan dan belum terlalu dalam.
Lagipula, dia datang ke kota ini ingin meneruskan sekolahnya, bukan pacaran
dengan rekan sejawat siapapun.
”Tapi kamu sudah memulainya.. ,” balas
Daisuke.
Shiori menunduk hormat pada ayahnya,
mengakui hal itu. Namun, dia berjanji, studi dan riset nya lah yang akan dia
dahulukan, sebab dia pewaris sebuah rumah sakit di kota kecil Hokkaido, milik
ayahnya sendiri, Daisuke.
”perasaanku tidak akan terlalu dalam
dengan Lee sensei, ayah.. sampai
aku selesai dan kembali pulang ke Hokkaido.”
”dan kemungkinan.. Kamui sensei sangat
menyukai Lee sensei sebagai penggantinya,” kata Daisuke. Dia sudah cukup banyak
mengetahui tentang Minho dibanding anaknya sendiri, dari Kamui.
”dia yang akan dipromosikan sebagai kepala
divisi bedah berikutnya.. sebab Kamui sensei akan pindah ke rumah sakit lain
yang sudah lama memintanya,”
Shiori duduk menunduk hormat lagi pada ayahnya.
Dia tidak bisa menolak keputusan ayahnya itu, sebab semua itu sudah janjinya,
menggantikan posisi ayahnya sebagai pemilik. Dan siap-siap saja... jika ke
depannya Daisuke tidak menyukai Minho.. dirinya akan dijodohkan dengan dokter
atau pengusaha atau siapapun yang profesinya dianggap seimbang berdasarkan
status sosial keluarga.
”aku berjanji akan menyelesaikan studi dan
riset ku dengan sempurna... sesuai keinginan ayah,”
Daisuke akan menagih janji anak tunggalnya
itu. Sebab, bagaimanapun, hal ini juga terkait dengan perkembangan rumah sakit
dan juga bisnis industri kesehatan yang dimilikinya. Shiori harus menerima itu.
----------------------------------
Malam berlalu, Minho baru saja pulang dari
rumah sakit. Dia menemukan kedua adiknya sedang asik belajar untuk tugas
sekolah esok.
Ran Rin kecil yang melihat kakak tirinya
itu tampak lelah, mendatangi dan menyapanya dengan ramah.
”dangsin
apeun, Oppa??,” tanya dia dengan suara anak-anaknya, apa Minho sakit?.
Wajah Minho memang terlihat sangat lelah, dua
operasi harus di jalankan hari itu.
”gwaenchanh
a.. nan geongang haeyo,” jawab Minho dengan ramah pula, mengusap kepala
adiknya itu, dia katakan kalau dirinya sehat. Padahal, kepalanya sangat berat.
Dia harus terlihat ceria dan tanpa masalah
di hadapan kedua adik tirinya itu.
Lalu dia meminta Nami untuk mengajarkan
Ran, mata pelajaran yang menjadi PR nya malam itu.
Di kamar mandi, dia merenung, mengingat
lagi peristiwa tadi pagi, Daisuke datang ke flat anaknya sendiri dan bertemu
dengannya. Dia tidak bisa
menebak bagaimana pikiran orangtua itu pada dirinya.
Siangnya, dia hanya berbicara singkat
dengan Shiori di telepon. Lantas perempuan itu hanya menjawab, tidak ada hal
penting yang dibahas dengan ayahnya.
Dia masih meraba lukanya, membasuhnya dan
masih terasa perih. Setelah selesai mandi, dia membalut lukanya dan sengaja
tidak memakai bajunya di luar kamar mandi, tapi di dalam. Masih tidak ingin
kedua adik nya itu tahu apa yang terjadi kemarin.
Dengan handuk yang masih membalut
pinggangnya dan memakai kaus lengan panjang, dia lalu menghampiri kedua adiknya
lagi, duduk di depan mereka.
“Apa.. PR kamu susah sekali, Ran??,”
Ran menggeleng dengan semangat, dia
katakan mudah dan tidak perlu Minho mengajarinya. Dengan semangat, malah dia
seolah-olah mengajari Minho bagaimana caranya membuat sebuah origami berbentuk
gajah.
Minho tertawa keras sampai gigi geliginya
yang putih terlihat. Dia memang merasakan waktu kecil kesulitan membuat
origami, hal yang tidak disangka-sangka dengan polos adiknya menawarkannya.
”jadi.. Oppa memang tidak bisa membuat
origami??,” tanya Nami, heran.
Minho mengangguk mengiyakan, bahwa dia
pernah menangis karena gagal membuat origami di sekolah, waktu TK dulu.
Nami dan Minho satu ayah, tapi beda ibu.
Sedang dengan Ran Rin benar-benar beda ayah dan ibu.
Dua adik perempuan Minho itu mentertawakan
nasib kakaknya yang sampai sekarang masih kesulitan membuat origami.
Sejenak Minho melupakan kejadian kemarin
dan hari itu. Sampai
kemudian, handphone nya berbunyi. Ternyata Shiori meneleponnya.
Dia lalu keluar dan menerima panggilan
itu. Shiori pun sengaja berada di luar juga.
”bagaimana operasinya hari ini...
sukses??,” tanya Shiori, berbasa-basi dengan Minho, membuka pembicaraan.
”hai’..
yoku shimashita.. yokatta naa.. Kamui sensei wa sugoi sensei
desu,” kata Minho, bangga memuji dokter pembimbingnya itu dan mengatakan
kalau operasinya sukses.
”ah.. yokatta..
jadi.. peringkatmu bisa cepat naik kalau Kamui sensei yang mengajarimu,” balas
Shiori.
Mereka mendadak jadi diam-diaman. Waktu
serasa terhenti, bingung ingin berbicara apa.
Lantas Minho memulai duluan berbicara
lagi...
“anta
ga missu (I miss you),”
katanya dengan sedikit malu.
Shiori bukan bingung dengan perkataan
Minho baru saja, tapi dia malah tertawa kecil. Minho memang bukan lelaki yang
gampang bilang sesuatu yang membuat pacarnya terbang tinggi. Dia lebih suka
bertindak daripada sekedar perkataan.
”kenapa??,” tanya Minho, heran.
Shiori diam, tidak menjawab. Dia ingin
sekali bercerita tentang hasil pembicaraannya tadi sore mendekati malam dengan
ayahnya... namun akhirnya dia lekas urungkan.
”ah.. tadi itu ada banyak pasien anak
mencari mu.. mereka kangen dengan keramahan mu.. kata Saburo-kun : ” Lee sensei wa.. doko ka?? Isogashi desu ka (dokter Lee kemana.. apa
dia sibuk??)??”... begitu”.
”oh, haha.. hari ini memang melelahkan
banget.. ,” balas Minho dengan ramah.
”operasi kanker liver dan kanker paru
tidak mudah.. Kamui sensei mengajariku micro
surgery...itu makanya aku serahkan saja urusan hari ini kepada Kazuki
sensei.. apa dokter satu itu nakal dengan anak-anak??”.
Shiori menggeleng,” Tidak.. Kazuki sensei
ramah dengan mereka”.
”Shiori chan...,” kata Minho.
”ya??,” balas Shiori, singkat.
”apa.. ayahmu berkata buruk tentang
ku???,” tanya Minho, suaranya datar.
Shiori mendadak diam. Ayahnya tidak
berkata atau tidak berprasangka buruk dengan Minho, namun memang hubungan ini
mesti dibatasi demi masa depan dirinya.
”tidak sama sekali.. ,” balas Shiori.
Minho bergumam disana... dia ketakutan
akan nasib hubungannya ke depan. Yang dia sukai adalah anak berkedudukan sosial
cukup tinggi dan diakui di Hokkaido. Terbayang lagi dia akan mengalami
penolakan seperti kasus hubungannya dengan Chiaki Akimoto.
”besok.. masih masuk kan?? Tidak mengambil
libur??,” tanya Minho.
”kita kan harus memastikan laporan
mingguan...,” balas Shiori.
”ada hal yang ingin aku sampaikan
kepadamu...,” kata Minho.
”tentang... hubungan kita??,” tanya
Shiori.
”tidak hanya itu,” balas Minho, singkat.
Shiori menyetujuinya. Sepulang kerja,
mereka akan makan di sebuah restaurant dan ngobrol bersama.
Minho tidak berkata banyak, dia sendiri
yang mengakhiri percakapan malam itu.
Sampai di kamar masing-masing... keduanya
saling berpikir.. apa yang ingin disampaikan rasa hati masing-masing esok..
Bersambung ke part 19....